Anda di halaman 1dari 16

RMK MENKEU SAP 11

ANALISIS BIAYA MODAL

Oleh:

I Gde Sandita Nugraha 1406305040

I Putu Bayu Suyadnya Pratama 1406305035

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


UNIVERSITAS UDAYANA
2015
BIAYA MODAL
A. DEFINISI
Modal adalah dana yang digunakan untuk membayai aktiva dan oerasi perusahaan. Modal
terdiri dari hutang, saham biasa, saham preferen, dan laba ditahan. Perhitungan biaya
penggunaan modal sangatlah penting, dengan alasan:
Memaksimalkan nilai perusahaan mengharuskan biaya-biaya (termasuk biaya modal)
diminimumkan.
Keputusan penggagaran modal (capital budgetting) memerlukan suatu estimasi
tentang biaya modal.
Keputusam-keputusan lain seperti leasing, modal kerja juga memerlukan estimasi
biaya modal.
Biaya modal merupakan konsep penting dalam analisis investasikarena dapat menunjukkan
tingkat minimum laba investasi yang harus diproleh dari investasi tersebut. Jika investasi itu
tidak dapat menghasilkan laba investasi sekurang-kurangnya sebesar biaya yang ditanggung
maka investasi itu tidak perlu dilakukan. Lebih mudahnya, biaya modal merupakan rata-rata
biaya dana yang akan dihimpun untuk melakukan suatu investasi. Dapat pula diartikan bahwa
biaya modal suatu perusahaan adalah bagian (suku rate) yang harus dikeluarkan perusahaan
untuk memberi kepuasan pada para investornya pada tingkat risiko tertentu.
Biaya modal yang tepat untuk semua keputusan adalah rata-rata tertimbang dari seluruh
komponen modal (Weighted Cost of Capital atau WACC). Namun tidak semua komponen
modal diperhitungkan dalam menentukan WACC. Hutang dagang (accounts payable) tidak
dperhitungkan dalam perhitungan WACC. Hutang wesel (notes payable) ata hutang jangka
pendek yang berbunga (Short-term Interest-bearing debt) dimasukkan dalam perhitungan
WACC hanya jika hutang tersebut merupakan bagian dari pembelanjaan tetap perusahaan
bukan merupakan pembelanjaan sementara.
Pada umumnya hutang jangka panjang dari modal sendiri merupakan unsur untuk
menghitung WACC. Dengan demikian kita harus menghitung: 1) Biaya Hutang 2) Biaya
modal yang berasal dari hutang jangka panjang 3) Biaya Saham Preferen dan 4) Biaya
Modal yang Berasal dari Laba Ditahan 5) Biaya Modal yang Berasal dari Emisi Saham Biasa
Baru. Biaya modal harus dihitung berdasarkan suatu basis setelah pajak (after tax basis)
karena arus kas setelah pajak adalah yang paling relefan untuk keputusan investasi.
Analisis Biaya Modal
1. Biaya modal Individual
1.1 Biaya Modal yang berasal dari hutang jangka pendek
Hutang jangka pendek terdiri dari hutang dagang, hutang wesel dan kredit
jangka pendek dari bank.
a. Biaya hutang dagang
Biaya hutang dagang adalah eksplisit. Bila perusahaan kehilangan kesempatan
mendapatkan cash discount selama setahun maka biaya eksplisitnya dapat di hitung
dengan membandingkan cash discount yang hilang dengan jumlah rata - rata
hutang dagang selama setahun.
Contoh :
Cash discount yang hilang selama setahun sebesar Rp 5.000.000 dan hutang
dagang rata - rata sebesar Rp 50.000.000 maka biaya hutang dagang yang eksplisit

sebelum pajak adalah = 10%.

Biaya ini adalah "tax deductible expense" karena bunga modal diperhitungkan
sebelum terkena beban pajak, sehingga dengan adanya bunga maka keuntungan yang
terkena pajak menjadi lebih kecil.
Biaya penggunaan hutang setelah pajak (after-tax cost of debt) dapat dihitung
dengan cara : Biaya hutang setelah pajak = biaya hutang sebelum pajak x (1-tingkat
pajak).
Contoh sebagai berikut:
Tingkat pajak penghasilan 40% maka biaya hutang setelah pajak adalah Biaya
hutang setelah pajak
= 10 % x ( 1-0,4)
= 0,1 x 0,6
= 0,6 (6%)
Perusahaan yang dikelola dengan baik, umumnya membayar hutang dagang
dalam periode discount sehingga tidak memiliki beban eksplisit.
b. Hutang wesel
Hutang wesel mempunyai bunga yang tetap yang dihitung dari harga nominalnya.
Bunga yang dibayar harus dihubungkan dengan jumlah uang yang diterima atau
tersedia secara efektif untuk digunakan.
c. Kredit jangka pendek
Biasanya Bank langsung memotong bunga hutang di muka dari jumlah uang yang
diberikan sehingga penerima kredit menerima jumlah uang yang lebih kecil dari
hutang nominal.
Contoh:
Misalnya hutang wesel sebesar Rp 1.000.000 dengan bunga 15% per tahun
dengan umur satu tahun. Kita hanya menerima uang sebesar Rp 850.000 (Rp
1.000.000-150.000), sehingga tingkat bunga yang sebenarnya sebelum pajak adalah :

= 17,65%.

Bila tingkat pajak sebesar 40 % maka biaya setelah pajak adalah


17,65% x (1-0,4) = 10,50%
Prinsip ini juga diterapkan dalam menghitung biaya penggunaan hutang dari
kredit jangka pendek yang diberikan oleh bank.
Contoh :
Misalnya bank memberikan kredit jangka pendek sebesar Rp 1.000.000
dengan bunga 2% per bulan selama 8 bulan dengan syarat bahwa jaminan aktiva di
asuransikan selama umur kredit misalnya premi asuransi sebesar Rp 50.000. Jumlah
uang yang dibayarkan bank sebesar Rp 1.000.000bunga selama 8 bulan + premi
asuransi yaitu :
Rp 1.000.000-( 160.000-50.000) = Rp 790.00
Beban selama 8 bulan yang sesungguhnya ditanggung adalah Rp 210.000
( yaitu Rp 160.000+Rp 50.000), sehingga biaya penggunaan hutang sebelum pajak (
before-tax cost of debt ) selama 8 bulan adalah:

x 100% = 26,582 %

Biaya kredit sebelum pajak per bulan= = 3,323%

Misalnya pajak 50% maka biaya setelah pajak adalah : 3,323% (1-0,5)=
1,6615% .

1.2 Biaya modal yang berasal dari hutang jangka panjang


Umumnya bentuk hutang jangka panjang perusahaan adalah obligasi, perhitungan
biaya obligasi harus memperhitungkan jumlah dana bersih yang diterima dengan
pengeluaran kas karena penggunaan dana tersebut. Dalam menghitung biaya hutang
jangka panjang dalam bentuk obligasi dapat digunakan cara seperti perhitungan tingkat
pendapatan investasi dalam obligasi dengan rumus "shortcut"atau dengan menggunakan
tabel present value.
Contoh:
Obligasi dikeluarkan dengan harga nominal per lembar Rp.10.000 dengan
umur 10 tahun. Hasil penjualan obligasi bersih yang diterima sebesar Rp.9.700.
Bunga atau kupon obligasi per tahunnya 4%. Berapakah besarnya biaya obligasi
tersebut?
a. Dengan menggunakan rumus shortcut atau atas dasar kira-kira (approximate
method)
Ada 4 langkah dalam metode ini yaitu
1. Mengadakan estimasi jumlah rata-rata dari dana yang tersedia bagi kita selama
10 tahun
2. Menghitung biaya rata-rata tahunan dari penggunaan dana tersebut
3. Menghitung prosentase biaya rata-rata tahunan dari jumlah dana rata-rata yang
tersedia
4. Menyesuaikan biaya obligasi itu berdasarkan setelah pajak
Penyelesaian :
a. Dana rata rata yang tersedia yang akan digunakan selama 10 tahun :

= 9.850
b. Biaya ekstra sebesar Rp.300 ( yaitu selisih antara dana yang diterima dengan
jumlah dana yang harus dibayar setelah 10 tahun). Bila biaya ekstra tersebar

merata 10 tahun maka biaya per tahun adalah Rp 30 ditambahkan pada

bunga yang dibayar setiap tahun selama 10 tahun adalah sebesar Rp.400
( yaitu 4% x Rp.10.000 ) + Rp.30 (biaya ekstra) sehingga berjumlah Rp.430
c. Menghitung prosentase biaya tahunan rata rata dari jumlah dana rata rata yang

tersedia. Biaya bunga sebelum pajak : x100%= 4,36%


d. Biaya obligasi juga dapat dihitung dengan rumus pendapatan obligasi yaitu :

= = 4,36 %

e. Langkah terakhir adalah penyesuaian biaya obligasi dengan pajak. Bila tingkat
pajak sebesar 40% maka biaya setelah pajak : 4,36% ( 1 - 0,4) = 2,62%

b. Menggunakan tabel PV atau metode accurate


Metode ini mencari tingkat bunga yang menjadikan nilai sekarang dari
pembayaran bunga tahunan sebesar Rp.400 + pembayaran akhir sebesar Rp.10.000
sama dengan nilai sekarang dari penerimaan sebesar Rp.9.700 persamaannya adalah :

9700= + + + +

Gunakan tingkat bunga 4% dan 6% untuk interpolasi maka :


Tingkat bunga 4%
Biaya bunga tahunan selama 10 tahun
( Rp.400 x 8,11 ) Rp. 3.244
Pembayaran pokok pada akhir tahun ke-10
( Rp 10.000x0,676 ) Rp. 6.760
Rp 10.004
Tingkat bunga 6%
Biaya bunga tahunan selama 10 tahun
( Rp.400 x 7,360 ) Rp.2.944
Pembayaran pokok pada akhir tahun ke-10
( Rp 10.000x0,558 ) Rp. 5.580
Rp 8.524
Selisih bunga Selisih PV Selisih PV
outflows
dengan inflows
4% Rp.10.004 Rp.10.004
6% Rp.8.524 Rp.9700
selisih 2% Rp.1.480 Rp.304

r= 4%+0,4%= 4,4 %
Biaya obligasi sebelum pajak 4,4%
Biaya obligasi setelah pajak 4,4% (1-0,4) = 2,64%

1.3 Biaya Modal yang Berasal dari Saham Preferen


Saham preferen memiliki sifat antara hutang dengan saham biasa, bersifat hutang
karena mengandung kewajiban tetap untuk membayar dividen preferen dan dalam
likuidasi pemegang saham preferen memiliki hak mendahului dibanding saham biasa.
Namun tidak seperti hutang kegagalan membayar dividen preferen tidak
mengakibatkan pembubaran perusahaan. Risiko saham preferen lebih kecil dari hutang
tapi lebih besar dari saham biasa Biaya penggunaan dana yang berasal dari saham
preferen dapat dihitung dengan membagi dividen perlembar saham preferen ( Dp )
dengan harga bersih penjualan saham preferen ( Pn ).

Biaya Saham preferen =

Contoh :
Misalnya perusahaan mengeluarkan saham preferen baru dengan nilai nominal
Rp.10.000,00 per lembar dengan dividen sebesar Rp.600,00. Hawsil penjualan bersih
yang diterima dari saham preferen tersebut sebesar Rp.9.000

Biaya Saham preferen = = 6,667 %

Biaya saham preferen sudah berdasarkan atas dasar setelah pajak sehingga
tidak perlu disesuaikan dengan pajak.
1.4 Biaya Modal yang Berasal dari Laba Ditahan
Penggunaan laba ditahan juga memilki biaya, biaya penggunaan dana yang berasal
dari laba yang ditahan adalah sebesar tingkat pendapatan investasi dalam saham yang
diharapkan diterima oleh para investor atau biayanya sama dengan biaya penggunaan
dana yang berasal dari saham biasa.
Contoh :
Misalnya perusahaan mendapatkan keuntungan sebesar Rp.400 per lembar saham
dan dibayarkan sebagai dividen Rp.200. Hasil netto penjualan saham sebesar
Rp.4000 per lembarnya. Keuntungan, dividen dan harga saham mempunyai tingkat
pertumbuhan sebesar 5% setahun dan tingkat pertumbuhan diharapkan berlangsung
teru. Tingkat pendapatan investasi yang diharapkan dalam saham sebesar :

Karena besarnya biaya laba ditahan dalah sebesar tingkat pendapatan investasi
saham maka dalam contoh diatas biaya laba ditahan adalah sebesar 10% sama seperti
biaya saham preferen biaya laba ditahan juga sudah berdasarkan atas dasar setelah
pajak.

1.5 Biaya Modal yang Berasal dari Emisi Saham Biasa Baru
Biaya saham biasa baru adalah lebih tinggi dari biaya penggunaan dana yang
berasal dari laba ditahan karena emisi saham baru dibebani biaya emisi. Biaya saham
biasa baru dapat dihitung dengan cara

Contoh :
Suatu perusahaan mengadakan emisi saham biasa baru dengan harga jual per
lembar saham Rp.4000. Biaya emisi per lembar sebesar Rp.400 sehingga hasil
penjualan netto yang diterima sebesar Rp.3.600 per lembarnya. Rate of return atau
tingkat pendapatan yang diharapkan dari investasi daham adalah sebesar 10%.
Dari contoh tersebut biaya emisi adalah sebesar:

= 10 %
Berdasarkan rumus diatas maka besarnya cost of new common stock dapat
dihitung sebagi berikut:

Biaya saham baru = 11,1 %

Seperti biaya saham biasa baru juga sudah berdasarkan atas dasar setelah
pajak sehingga tidak perlu disesuaikan dengan pajak.
2. Biaya Modal Secara Keseluruhan
Tingkat biaya modal yang harus dihitung oleh perusahaan adalah tingkat biaya modal
perusahaan secara keseluruhan, karena masing masing biaya modal berbeda, maka
untuk menetapkan biaya modal secara keseluruhan perlu menghitung weighte average
dari berbagai sumber.
Penetapan weight atau bobot dapat berdasarkan:
1. Jumlah rupiah dari masing masing komponen struktur modal.
2. Proporsi modal dalam struktur modal dinyatakan dalam prosentase.
Dengan mengalikan masing masing komponen modal dengan biaya masing masing
komponen modal dapat dihitung besarnya biaya modal rata rata tertimbang (weighte
average cost of capital).
Contoh:
PT WISTAWAN memiliki struktur modal sebagai berikut: ( dalam jutaan )
Hutang jangka panjang Rp.60.000,00
Saham preferen Rp.10.000,00
Modal sendiri Rp.130.000,00
Jumlah Rp.200.000,00

Biaya penggunaan dana dari masing masing sumber tersebut adalah :


Hutang = 6% (sebelum pajak)
Saham Preferen = 7%
Modal Sendiri = 10%
Pajak = 50%
Jawab:
Langkah pertama adalah menyesuaikan pajak dengan biaya hutang yaitu:
6% (1 - 0,5) = 3%
Perhitungan Weighted average cost of capital dapat dihitung sebagai berikut:
1. Dengan menggunakan jumlah modal rupiah untuk menetapkan Weight

Weighted Average Cost of Capital =


2. Dengan menggunakan proporsi modal untuk menetapkan Weight

Weighted Average Cost of Capital = 7,75%


Biaya modal rata rata tertimbang akan berubah bila struktur modal berubah
bila struktur modal berubah. Biaya modal rata-rata tertimbang akan tidak berubah
meskipun ada tambahan modal yang digunakan bila pertimbangan modal sama dan
biaya modal juga tetap. Tetapi bila tambahan modal cukup besar dan harus
mengadakan emisi saham baru maka akan mengakibatkan kenaikan marginal cost of
capital karena biaya saham lebih besar daripada biaya laba ditahan.
Contoh :
PT IMASINDO memiliki neraca bagian pasiva pada sebagai berikut ( dalam jutaan ) :
Hutang dagang Rp 200,00
Hutang wesel Rp 200,00
Hutang lancar lainnya Rp 60,00
Rp 460,00
Hutang jangka panjang Rp 320,00 22%
Saham preferen Rp 14,00 15%
Saham biasa Rp1.120,00 77%
Rp1.454,00 100%
Jumlah hutang dan modal Rp1.914,00
Biaya penggunaan dana dari masing-masing komponen tersebut adalah
Hutang = 6% (sebelum pajak)
Saham preferen = 6%
Modal sendiri = 10%
Pajak = 50%
Biaya hutang setelah pajak = 6% (1-0,5)= 3%
Perhitungan biaya modal rata-rata tertimbang adalah sebagai berikut:

Weighted Average Cost of Capital = 8,42%


Dalam perhitungan biaya modal keseluruhan hutang jangka pendek tidak
dimasukkan karena perhitungan biaya modal rata-rata tertimbang digunakan terutama
untuk pengambilan keputusan mengenai investasi jangka panjang.
Misalnya tahun yang akan datang keuntungan netto perusahaan setelah pajak
adalah Rp 600 juta dan dibayarkan sebagai dividen sebesar Rp 200 juta dan ditahan
sebesar Rp 400 juta. Untuk mempertahankan biaya modal keseluruhan sebesar 8,42%
perusahaan harus menjaga agar tambahan dana sebesar Rp 400 juta tetap merupakan
bagian sebesar 77% dari keseluruhan modal. Jika laba ditahan sebesar Rp 400 juta dan
merupakan bagian sebesar 77% dari keseluruhan modal maka besarnya dana baru
keseluruhan yang diperlukan adalah sebesar :

dibulatkan menjadi Rp 519 juta

Sehingga tambahan modal baru untuk mempertahankan biaya modal


keseluruhan agar tetap 8,42% terdiri dari (dalam jutaan)
Hutang (22%) = Rp 114,00
Saham preferen (1%) = Rp 5,00
Modal sendiri (77%) = Rp 400,00
Rp 519,000
Hal ini dibuktikan dengan perhitungan sebagai berikut:

Weighted Average Cost of Capital = x 100 % = 8,42 %

Dari perhitungan diatas maka tambahan dan maksimal untuk mempertahankan


biaya modal rata rata tertimbang adalah sebesar Rp.519 juta dengan laba ditahan
sebesar Rp.14 juta, saham preferen sebesar Rp.400 juta. Bila kebutuhan dana lebih
besar dari 519 juta maka biaya modal akan meningkat menjadi lebih besar dari 8,42%
karena perusahaan terpaksa mengeluarkan saham biasa baru. Yang dibebani biaya
emisi, jika perusahaan menambah hutang jangka panjang maka solvabilitas
perusahaan akan turun.
Contoh :
Misalnya perusahaan membutuhkan tambahan dana lagi sebesar Rp.100 juta
untuk mempertahankan struktur modal optimum maka kebutuhan tersebut harus
dipenuhi dengan modal sendiri Rp.77 juta ( 77% ), saham preferen Rp.1 juta (1%)
dan hutang jangka penjang sebesar Rp.22 juta ( 22% ).
Biaya saham preferen 6%, biaya hutang 3% dan biaya saham biasa baru dihitung
dengan misalnya biaya emisi 10% dan biaya saham biasa adalah 10% sehingga biaya
saham baru adalah:

1,1 %

Berdasarkan biaya saham biasa baru maka biaya modal rata rata tertimbang
adalah :

Perhitungan biaya modal


(dalam jutaan rupiah)

Weighted Average Cost of Capital = x 100%=9,267%=9,3%

Dari perhitungan diatas dapat disimpulkan bahwa:


1. Selama kebutuhan tambahan dana tidak melampaui Rp.519 juta dan pemenuhannya
tetap dipertahankan atas dasar pertimbangan 77 : 1 : 22 yaitu laba ditahan, saham
preferen, dan hutang maka biaya modal keseluruhannya akan dapat dipertahankan
sebesar 8,42%.
2. Saat kebutuhan tambahan dana melebihi Rp.519 juta maka biaya modal rata rata
tertimbang akan meningkat menjadi 9,3%.
3. Biaya penggunaan dana yang berasal dari depresiasi.
Kita telah membicarakan biaya penggunaan dana yang berasal dari utang, saham
preferen, laba yang ditahan dan saham biasa baru. Bagaimana halnya dengan depresiasi?
Sebagaimana kita ketahui depresiasipun merupakan salah satu sumber dana. Kalau
perusahaan mau menggunakan dana yang berasal dari depresiasi apakah tanpa biaya?
Mengiangat bahwa dana yang berasal dari depresiasi itu dapat ditanamkan kembali
untuk menghasilkan "rate of return", maka perosahaan harus menentukan apakah dana
tersebut akan ditanamkan dalam perusahaan atau dibagikan kepada pemberi dana.
Keputusan tersebut adalah tergantung kepada persoalan apakah perusahaan akan
dapat menginvestasikan kembali dana tersebut dalam perusahaan dengan menghasilkan
"rate of return" yang lebih besar dari biayanya atau tidak. Besarnya biaya penggunaadana
yang berasal dari depresiasi (cost of depresiciation) adalah sama besarnya dengan biaya
modal rata-rata sebelum menggunakan dana yang bersumber dari emisi saham baru. Oleh
karena biaya penggunaan dana yang berasal dari depresiasi ini sama besarnya
dengan biaya modal rata-rata, maka biaya dana depresiasi itu tidak diikutkan dalam
perhitungan biaya modal rata-rata.
Perusahaan akan menggunakan dana yang berasal dari depresiasi itu hanya kalau
penggunaan dana tersebut akan menghasilkan "rate of return" lebih besar daripada biaya
modal rata-ratanya. Penggunaan dana yang berasal dari depresiasi akan mempunyai
pengaruh memperbesar batas jumlah meksimal kebutuhan tambahan dana yang akan
dapat mempertahankan biaya modal rata-rata sebelumnya. Kalau contoh 15.10. misalkan
perusahaan mempunyai dana yang berasal dari depresiasi sebesar Rp.40.000,00 maka
batas jumlah maksimum tambahan dana yang akan dapat mempertahankan biaya modal
rata-rata sebesar 8,42 % naik dari Rp.519.000.00 menjadi Rp559.000,00 (yaitu
Rp519.000,00 + Rp40.000,00), sehingga kebutuhan dana di atas Rp559.000,00 baru
menaikkan"marginal cost of capital"-nya.
DAFTAR REFERENSI

Wiagustini, Ni Luh Putu (2010), Dasar- Dasar Manajemen Keuangan, Denpasar : Udayana
University Press.
http://adewinata18.blogspot.co.id/2014_06_01_archive.html
http://ayuetikas.blogspot.co.id/2015/01/analisis-biaya-modal.html
http://ekonomister.blogspot.co.id/2010/10/biaya-modal.html