Anda di halaman 1dari 5

Kejang dalam kehamilan

Awitan kejang dalam kehamilan dapat dikelompokkan ke dalam dua kelompok :


Obstetrik-eklamsia dan
Non-obstetrik-kondisi medis: gangguan kejang primer, kejadian serebrovaskular, neoplasia,
infeksi dan keadaan yang jarang

Eklampsia

Eklampsia diartikan sebagai:


- Kejang Grand mal yang baru muncul pada perempuan dengan pre-eklampsia
- Kejang Grand mal yang baru muncul dan tidak bisa dikaikan dengan penyebab lain.
Eklampsia seharusnya menjadi diagnosis awal yang utama pada semua kasus kejang grand
mal yang terkait dengan kehamilan dan penderitanya harus ditatalaksana dengan tepat.
Morbiditas dan mortalitas maternal meningkat pada pasien pre-eklampsia yang mengalami
eklampsia, dan sudah ada pendekatan yang berhasil dan diterima secara luas mengenai
tatalaksana awal kejang eklamptik dengan magnesium sulfat. Ibu dengan eklampsia beresiko
untuk mengalami seksio plasenta, kougulopati intravaskular diseminata, edema paru, gagal
ginjal akut, pneumonia aspirasi, dan henti kardiopulmonal. Diagnosis eklampsia dapat
dipastikan dengan ditemukannya hipertensi dan proteinuria disertai waktu kemunculan yang
khas. Akan tetapi, tanda dan gejalanya bisa sangat bervariasi.

Hipertensi
Eklampsia lebih sering timbul pada hipertensi berat ( tekanan darah diastolik > 110 mmHg;
54%) ketimbang hipertensi ringan (tekanan darah diastolik sekitar 91-109 mmHg; 30%).
Namun, 16% penderita eklampsia awalnya memiliki tekanan darah yang normal. Eklampsia
yang timbul sebelum usia gestasi 32 minggu biasanya berkaitan dengan hipertensi berat.

Proteinuria
Proteinuria dalam berbagai derajat atau tingkatan biasanya akan dijumpai pada perempuan
yang menderita eklampsia. Jumlah proteinuria yang signifikan, yakni lebih besar atau sama
dengan +3, ditemukan pada hampir separuh (48%) kasus, meski bisa saja tidak dijumpai pada
sejumlah penderita (14%).
Edema
Edema umumnya tidak menunjang diagnosis karena sering kali dijumpai dalam kehamilan
dan bisa tidak ada pada seperempat kasus (26%).

Waktu kemunculan
Eklampsia dapat timbul antepartum (38-53%), intrapartum (18-19%), pasca partum (28-
44%). Terapi dalam masa antepartum saat ini dan pascapartum dini tampaknya menggeser
persentase kemunculan kasus eklampsia ke periode pascapartum lanjut. Dalam berbagai
penelitian baru-baru ini, ditemukan bahwa separuh kasus eklampsia pascapartum terjadi
setelah 48 jam pascapartum dan terdapat laporan beberapa kasus eklampsia yang baru muncul
23 hari setelah kelahiran. Pasien yang menderita kejang eklamptik yang tidak khas ini
umumnya datang ke dokter ahli kecelakaan dan gawat darurat yang umumnya kurang
menyadari masalah obstetrik ini. Sebagian besar kasus timbul setelah 28 minggu gestai (91%)
dan beberapa kasus terjadi sebelum 20 minggu (1,5%).

Tanda dan Gejala Klinis


Nyeri kepala oksipital atau frontal, perubahan penglihatan seperti tajam penglihatan
mengabur dan fotofobia, serta nyeri kuadran kanan atas dapat dialami sebelum eklampsi
timbul. Nyeri kepala merupakan gejala pendahulu yang paling sering terjadi; 50-70%
perempuan menggambarkan nyeri kepala ini dengan berbagai deskripsi. Perubahan
penglihatan dijumpai pada 59-75% penderita eklampsia. Penting diketahui bahwa sekitar
20% perempuan yang menderita eklampsia tidak merasakan adanya tanda atau gejala
sebelum kejang. Nyeri kepala berat yang tidak membaik umumnya digunakan untuk menilai
risiko eklampsia yang mengancam, sebagai kriteria untuk pre-eklampsia berat, dan dalam
merencanakan tata laksana seperti pemberian magnesium sulfat dan perlu tindakan
mempercepat pelahiran. Sayangnya, nyeri kepala hanya memiliki sedikit manfaat dalam
memperkirakan kemungkinan seorang penderita pre-eklampsia akan menjadi eklampsia.
Hiperrefleksia umum dijumpai pada perempuan yang menderita eklampsia sehingga harus
menjadi bagian dalam pemeriksaan pemantauan awal dan berkala pada seorang perempuan
penderita pre-eklampsia. Akan tetapi, perlu diingat bahwa kejang bisa saja timbul pada
perempuan tanpa hiperrefleksia dan kehamilan tanpa penyulit juga bisa disertai
hiperrefleksia. Oleh sebab itu, pemeriksaan refleks tendon dalam harus senantiasa dikerjakan
pada pemeriksaan penderita preeklampsia secara menyeluruh, tetapi manfaatnya dalam
memperkirakan eklampsia tetaplah terbatas.
Aktivitas kejang awalnya berupa kejang umum tonik-klonik; kebanyakan bersifat swasirna
dalam waktu sekitar 1 menit. Namun, jika tidak diobati, aktivitas kejang dapat timbul kembali
dengan cepat, dan terus berulang. Jarang ditemukan kelainan neurologis fokal, kecuali ada
komplikasi neurologis lain seperti ganggun serebrovaskular.

Pemeriksaan penunjang awal


Pemeriksaan penunjang awal diperlukan untuk membantu memastikan diagnosis, menilai
morbiditas maternal terkait dengan eklampsia, dan mempersiapkan pelahiran yang aman dan
cepat. Akan tetapi, karena eklampsia adalah suatu kegawatdaruratan, tatalaksana segera harus
dikerjakan sebaik-baiknya sebelum hasil pemeriksaan dapat diperoleh.

Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium harus meliputi:
Hemoglobin, hematokrit
Hitung trombosit dan uji koagulasi
Kreatinin
Asam urat serum
Kadar transaminase serum dan laktat dehidrogenase
Urea serum dan elektrolit, serta kadar glukosa.

Pengunaan pulse oksimetri harus dipertimbangkan untuk menilai pneumonia aspirasi atau
edema paru, yang dijumpai dalam 2-3% atau 3-5% kasus. Jika nilai pulse oxymetry di bawah
92%, diperlukan pemeriksaan gas darah arteri.

Radiologis
Rontgen dada mungkin perlu dikerjakan bila ada hipoksia maternal dan/atau pemeriksaan
paru menunjukkan adanya kelainan. Pencitraan saraf rutin belum dianjurkan pelaksanaannya
pada perempuan yang menderita eklampsia. Namun, dokter harus memiliki kecurigaan ada
merencanakan pencitraan saraf pada perempuan dengan kejang yang tidak khas serta bila
ada keraguan dalam menegakkan diagnosis.

Penilaian terhadap janin


Hipoksemia maternal terjadi sewaktu kejang muncul, dan ini dapat mengubah denyut jantung
janin, seperti bradikardi, deselerasi lambat transien, penurunan variabilitas, dan takikardia.
Pada kebanyakan kasus, perubahan DJJ ini hanya berlangsung singkat karena hipoksemia
materna akan pulih pasca kejang. Dalam kasus-kasus ketika perubahan DJJ tetap berlangsung
selama 15-20 menit setelah dilakukan terapi resusitasi terhadap ibu, diagnosis abrupsio
plasenta perlu dipertimbangkan.

Tatalaksana eklampsia
Eklampsi merupakan penyulit obstetrik yang memerlukan protokol tata laksana yang efisien
dan teratur. Tujuan tata laksana awal adalah menurunkan morbiditas maternal dan mencegah
kejang lebih lanjut. Prioritas utama adalah melakukan konsul ke tenaga ahli yang paling
senior, baik dokter, bidan, maupun perawat.

Jalan napas
Ibu perlu dilindungi agar tidak mencederai dirinya sendiri dan menghambat jalan napasnya.
Untuk mencapai tujuan ini, dan untuk menurunkan risiko aspirasi serta hipoksia berlebihan,
harus digunakan ranjang dengan pelindung samping dan pasien harus dibaringkan pada
sisinya (recovery position). Oksigen tambahan perlu diberikan melalui masker atau kanula
nasal. Pemasangan oropharyngeal airway untuk mencegah ibu mencederai dirinya sendiri
telah dianjurkan. Namun, banyak dokter enggan menggunakannya karena sering
mencetuskan refleks muntah, sulit dimasukkan pada saat kejang pertama kali, menyianyiakan
waktu untuk terapi primer lainnya, dan jarang mencegah cera oral yang terjadi saat awitan
kejang primer.

Kejang
The Collaborative Eclampsia Trial menunjukkan bahwa magnesium sulfat menurunkan
angka rekurensi kejang hingga >50% bila dibandingkan dengan diazepam dan phenytoin.
Dalam penilitian yang besar ini, sebagai tambahan, terdapat penurunan angka mortalitas ibu,
insiden pneumonia, kebutuhan akan ventilasi mekanis, dan perawatan di unit layanan intensif
yang signifikan.

Gangguan medis yang tidak disebabkan oleh eklampsia


Dokter harus mempertimbangkan gangguan medis non-obstetrik bila gambaran kejang primer
yang muncul tidak khas. Gambaran yang tidak khas ini meliputi kejang yang :
- Terjadi lebih dari 48 jam setelah persalinan
- Terjadi sebelum usia gestasi 24 minggu
- Terjadi tanpa ada hipertensi dan atau proteinuria
- Tidak berespon terhadap magnesium sulfat
- Menimbulkan dampak perubahan status mental yang berkepanjangan
- Menimbulkan gejala neurologis fokal
- Menyebabkan henti kardiopulmonal

Diagnosis banding
Diagnosis banding kejang non-eklampsia meliputi
- Gangguan kejang primer-episode pertama
- Gangguan serebrovaskular : perdarahan intrakranial, perdarahan subaarchnoid,
trombosis vena serebral, emboli atau trombosis arteri
- Ensefalopati hipertensif
- Ensefalopati hipoksik : singkop vasovagal neurogenik
- Massa neoplastik di kranium
- Infeksi : meningitis/ensefalitis bakteri arau viral ; malaria
- Penyakit langka : purpura trombositopenik trobotik, hipernatremia

Nyeri kepala sekunder


Kelainan vaskular
Hipertensi dalam kehamilan:
Nyeri kepala yang berkaitan dengan preeklampsia dan eklampsia diperkirakan timbul oleh
sebab vasospasme arteri serebral. Ini menyebabkan iskemia atau ensefalopati hipertensif, dan
keduanya dapat menimbukan nyeri kepala. Sifatnya biasanya bilateral, berdenyut dan
memburuk oleh aktivitas serta peningkatan tekanan darah. Nyeri juga dapat disertai kaburnya
penglihatan, kilatan cahaya dan/atau skotoma sehingga bisa jadi merupakan tanda eklampsia
yang mengancam, dan ini memerlukan profilaksis kejang segera.

Sumber :
Tony Hollingworth, Diagnosis Banding dalam Obstetri & Ginekologi A-Z. 2014. Jakarta:
EGC.