Anda di halaman 1dari 2

7 MALAIKAT PENJAGA LANGIT

Telah meriwayatkan Imam Ghozali rohimahullah di dalam Kitab Ihya Ullumuddiin, bahwa telah datang hadits dari Ibnu
Mubarak yang menceritakan bahwa Khalid bin Makdam berkata kepada Muadz, "Mohon ceritakanlah hadits Rasulullah
shallallahu alaihi wasallam yang engkau hafal dan yang engkau anggap paling berkesan?"
Jawab Muadz, "Baiklah, akan aku ceritakan."
Selanjutnya, sebelum bercerita, beliau menangis. Kemudian kata beliau: "hmmm, rindu sekali aku dengan Rasulullah
shallallahu alaihi wasallam, rasa-rasanya ingin segera bertemu".
Kata beliau selanjutnya:
"Tatkala aku menghadap Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, beliau menunggang unta dan menyuruhku agar naik di
belakang beliau.
Kemudian berangkatlah kami dengan berkendaraan unta itu.
Selanjutnya beliau menengadah ke langit dan bersabda: "Puji syukur kehadirat Allah yang berkehendak atas makhkuk-Nya,
ya Muadz!"
Jawabku, "Ya Sayyidina Mursalin".
Kata beliau selanjutnya: "Sekarang aku akan mengisahkan satu cerita kepadamu. Apabila engkau menghafalnya, akan
sangat berguna bagimu. Tetapi jika engkau anggap remeh, maka kelak di hadapan Allah engkau tidak mempunyai alasan
apapun.
Wahai Muadz! Sebelum menciptakan langit dan bumi Allah telah menciptakan tujuh malaikat. Pada setiap langit terdapat
satu malaikat penjaga pintu, menurut derajat pintu dan keagungannya.
Dengan demikian, malaikat-lah yang memelihara amal si hamba. Kemudian sang pencatat membawa amalan si hamba
kelangit dengan kemilau cahaya bak matahari. Sesampainya pada langit tingkat pertama, malaikat Hafadzah memuji
amalan-amalan itu.
Tetapi setibanya pada pintu langit pertama, malaikat penjaga pintu berkata kepada malaikat Hafadzah, "Tamparkan amal ini
ke muka pemiliknya. Aku adalah penjaga orang-orang yang suka mengumpat. Aku di perintahkan agar menolak amalan
orang yang suka mengumpat. Untuk mencapai langit berikutnya aku tidak mengizinkan ia melewatiku."
Keesokan harinya, kembali malaikat Hafadzah naik ke langit membawa amal shaleh yang berkilau, yang menurut malaikat
Hafadzah sangat banyak dan terpuji.
Sesampai ke langit kedua [ia lolos dari langit pertama, sebab pemiliknya bukan pengumpat], penjaga langit kedua berkata,
"Berhenti, dan tamparkan amalan itu ke muka pemiliknya. Sebab ia beramal dengan mengharap dunia. Allah
memerintahkan aku agar amalan ini tidak sampai ke langit berikutnya." Maka para malaikat melaknat orang itu.
Hari berikutnya, kembali malaikat Hafadzah naik ke langit membawa amalan seorang hamba yang sangat memuaskan,
penuh sedekah, puasa, dan berbagai kebaikan, yang oleh malaikat Hafadzah dianggap sangat mulia dan terpuji.
Sesampai di langit ketiga, malaikat penjaga berkata: "Berhenti! Tanparkan amal itu ke wajah pemiliknya. Aku malaikat
penjaga kibr [sombong]. Allah memerintahkan aku agar amalan semacam ini tidak melewati pintuku dan tidak sampai pada
langit berikutnya. Itu karena salahnya sendiri, ia takabur di dalam majelis."
Singkatnya, malaikat Hafadzah naik ke langit membawa amal hamba lainnya. Amalan itu bersifat bak bintang kejora,
mengeluarkan suara gemuruh, penuh dengan tasbih, puasa, shalat, ibadah haji, dan umrah.
Sesampainya pada langit keempat, malaikat penjaga langit berkata, "Berhenti! Lumatkan amal itu ke wajah pemiliknya. Aku
adalah malaikat penjaga ujub. Allah memerintahkan aku agar amal ini tidak melewatiku. Sebab amalnya selalu disertai
ujub."
Kembali malaikat Hafadzah naik ke langit membawa amal hamba yang lain. Amalan itu sangat baik dan mulia, jihad, ibadah
haji, ibadah umrah, sehingga berkilauan bak matahari.
Sesampainya di langit ke lima, malaikat penjaga mengatakan, "Aku malaikat penjaga sifat hasad. Meskipun amalannya
bagus, tetapi ia suka hasad kepada orang lain yang mendapatkan nikmat Allah subhanahu wata'ala. Berarti ia membenci
yang meridhai, yakni Allah. Aku diperintahkan Allah agar amalan semacam ini tidak melewati pintuku."
Lagi, malaikat Hafadzah naik ke langit membawa amal seorang hamba. Ia membawa amalan berupa wudhu' yang
sempurna, shalat yang banyak, puasa, haji, dan umrah.
Sesampai di langit keenam, malaikat penjaga berkata, "Aku malaikat penjaga rahmat. Amal yang kelihatan bagus ini
tamparkan ke mukanya. Selama hidup ia tidak pernah mengasihani orang lain, bahkan apabila ada orang ditimpa musibah
ia merasa senang. Aku diperintahkan Allah agar amal ini tidak melewatiku, dan agar tidak sampai ke langit berikutnya".
Bersambung...
Disadur dari Kitab Siarus Salikin Juz 3-Syekh Abdus Somad Palimbani rohimahullah.