Anda di halaman 1dari 10

1. 2.

Demokrasi Terpimpin (1959-1965)


Penyimpangan-penyimpangan pada masa demokrasi terpimpin antara lain :

a.Pada tahun 1960 Presiden dengan penetapan Presiden membubarkan DPR hasil pemilu
pertama karena menolak untuk menyetujui RAPBN yang diajukan Presiden.
b.Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara telah mengangkat Ir. Soekarno sebagai Presiden
seumur hidup. Hal ini jelas bertentangan dengan UUD 45 Bab III pasal 7.
c.Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat dan Ketua Dewan Perwakilan rakyat Gotong Royong
diangkat sebagai menteri. Tindakan ini bertentangan dengan UUD 45, sebab kedudukan DPR
selaku lembaga legislatif sejajar dengan kedudukan Presiden selaku eksekutif. Dengan
diangkatnya Ketua MPRS dan DPRGR sebagai menteri, di mana dalam UUD 45 dinyatakan
bahwa kedudukan menteri adalah sebagai pembantu Presiden, maka tindakan tersebut secara
terang-terangan telah merendahkan martabat lembaga legislatif.
d.Membuat Poros Jakarta Peking Pyong Yang, jelas menyimpang dari Politik Luar Negeri RI yang
bebas aktif.

Di dalam pelaksanaan demokrasi terpimpin banyak mengalami penyimpangan


sebagai berikut:
2. Kaburnya sistem kepataian dan lemahnya peranan partai politik.
3. Jaminan hak-hak dasar warga negara masih lemah.
4. Terbatasnya kebebasan-kebebasan perssehingga banyak media massa yang gagal terbit.
5. Terjadinya sentralisasi kekuasaan pada hubungan pusat dan daerah. Pemerintah memiliki
kewenangan besar dalammengatur daerah.

2. Sejarah Pemilu 1955, Pemilu Pertama


Indonesia Yang Dianggap Paling Bersih
Diposting oleh aina fathiya di 05.58

Sejarah Pemilu 1955, Pemilu Pertama Indonesia Yang Dianggap Paling


Bersih - Di dalam sejarah pemilihan umum Indonesia, salah satu pemilihan
umum yang paling bersejarah adalah tentu saja Pemilu 1955. Pemilihan Umum
1955 ini dianggap sebagai Pemilu paling bersejarah karena Pemilu 1955 ini
adalah Pemilu Pertama Indonesia. Sampai sekarang pun, sejarah Pemilu 1955
masih sangat menarik untuk dijadikan sebagai sebuah bahasan. Baik bahasan
secara ilmiah, atau sekedar bahasan untuk bahan obrolan, karena di Indonesia
sendiri Pemilu adalah sebuah hajatan besar sebagai pesta demokarsi bagi rakyat
Indonesia.
Sejarah Pemilu 1955

Banyak yang mengupas dan mendalami sejarah Pemilu 1955, dari yang pelajar
SMU, mahasiswa dan bahkan juga sampai para pengamat sejarah Indonesia.
Jika kita amati dari beberapa referensi, pada masa setelah kemerdekaan pada
tahun 1945, stabilitas di Indonesia sangat sulit untuk didapatkan. Baik stabilitas,
ekonomi, stabilitas keamanan dan stabilitas yang lainnya. Keadaan seperti ini
jika terus dibiarkan, tentu akan sangat berbahaya dan mengancam
keberlangsungan dalam bebangsa dan bernegara. Setelah masa awal
kemerdekaan, kabinet baru pun segera dibentuk, namun sayang, dari beberapa
kabinet yang berhasil dibangun, kebanyakan berakhir dengan kegagalan dan
tidak bisa berkuasa selama lima tahun penuh.

Sejarah Pemilu 1955 ini pun memiliki peran sangat penting sebagai peletak
fondasi pemilu selanjutnya. Dan tentu saja sangat berperan dalam perjalanan
sistem tata negara Indonesia selanjutnya. Seperti kita ketahui bersama, bahwa
pada masa kekuasaan Soekarno, hanya ada satu atau hanya sekali digelar
Pemilu, yaitu Pemilu 1955 itu sendiri. Pemilihan Umum 1955sendiri, terjadi
pada masa pemerintahan Perdana Menteri Burhanuddin Harahap yang berasal
dari partai Masyumi. Untuk melandasi digelarnya Pemilu 1955 adalah Undang-
Undang Nomor 7 tahun 1953. Nah, undang-undang ini sebenarnya sudah
disusun pada masa pemerintahan Perdana Menteri Wilopo dari PNI yang masa
kekuasaannya adalah 30 Maret 1952 sampai 2 Juli 1953.

Latar Belakang Pemilu 1955

Dalam setiap penyelenggaraan even resmi dari sebuah negara, tentu ada katar
belakang yang menjadi alasan legal dan formal. Pada Pemilu 1955, latar
belakang Pemilu 1955 digelar adalah didasari oleh 3 hal pokok yaitu :

- Revolusi fisik/perang kemerdekaan, menuntut semua potensi bangsa untuk


memfokuskan diri pada usaha mempertahankan kemerdekaan.
- Pertikaian Internal, baik dalam lembaga politik maupun pemerintah cukup
menguras energi dan perhatian.
- Belum adanya UU pemilu yang mengatur tentang pelaksanaan pemilu ( UU
pemilu baru disahkan pada tanggal 4 april 1953 yang dirancang dan disahkan
oleh kabinet wilopo)

Tujuan Pemilu 1955

Pada era demokrasi seperti saat ini, Pemilihan Umum biasanya adalah untuk
memilih Presiden, kepala daerah atau juga untuk memilih anggota DPR. Pada
Pemilu 1955, tujuan pemilu 1955 adalah bukan untuk memilih nama-nama
Presiden Indonesia, melainkan bertujuan untuk memilih wakil rakyat yang
duduk di dalam parlemen dan dewan Konstituante. Pemilihan Umum 1955 ini
diikuti oleh partai-partai politik yang pada saat itu sudah terbentuk dan juga
diikuti oleh perorangan. Pemilu 1955 ini sebenarnya sudah dirancang sejak masa
Kabinet Ali Sastroamijoyo I namun sayang belum bisa dilaksanakan pada masa
Kabinet Ali Sastroamijoyo karena Kabinet Ali Sastroamijoyo jatuh terlebih
dahulu. Maka dari itu, Pemilu 1955 ini kemudian dilaksanakan oleh kabinet
sesudahnya yaitu Kabinet Burhanuddin Harahap.

Pelaksanaan Pemilu 1955 sendiri pada saat itu sangat menguras tenaga, energi
dan logistik bagi negara yang baru saja merdeka seperti Indonesia. Pada
Pemilihan Umum 1955 ini, terbagi ke dalam 16 daerah pemilihan yang meliputi
208 kabupaten, 2139 kecamatan dan 43.429 desa. Sedangkan pelaksaan Pemlu
1955, dibagi ke dalam dua tahap. Tahap pertama adalah Pemilihan Umum 1955
yang ditujukan untuk memilih anggota perlemen dan dilaksanakan pada tanggal
29 September 1955. Sedangkan Pemilihan Umum 1955 tahap ke dua, dilakukan
dengan tujuan untuk memilih anggota Konstituante atau badan pembuat
Undang-Undang Dasar yang dilaksanakan pada tanggal 15 Desember 1955.

Dalam proses pelaksanaan Pemilihan Umum Pertama Indonesia ini, terdapat 100
peserta yang terdiri dari partai besar dan kecil untuk mengajukan calon-calom
mereka untuk menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat. Peserta Pemilu 1955
juga masih ada lagi yaitu 82 partai besar dan kecil yang juga akan ikut Pemilu
1955 dan mengajukan calon untuk anggota Dewan Konstituante. Dalam
perkembangannya, Pemilu 1955 ini peserta yang mengikutinya tercatat tidak
kurang dari 60% penduduk Indonesia ikut mendaftarkan diri. Data ini tentu
merupakan angka yang cukup tinggi yang ikut serta dalam pesta demokrasi
Pemilihan Umum Pertama Indonesia. Dengan kondisi Indonesia yang bisa
dikatakan belum begitu stabil, angka keikutsertaan sebesar itu merupakan
angka yang sangat besar.

Untuk pemilu 1955 yang tahap pertama yaitu memilih anggota DPR,
dilaksanakan pada tanggal 29 September 1955. Kemudian hasil Pemilu
1955 tersebut diumumkan pada tanggal 1 Maret 1956. Sedangkan untuk hasil
perolehan pada Pemilu 1955 suara terbanyak dimenangkan oleh PNI, Masyumi,
Nahdlatul Ulama dan kemudian PKI. Sedangkan jumlah perolehan kursi yaitu
PNI 57 kursi, Masyumi 57 kursi, Nahdlatul Ulama 45 kursi dan PKI mendapatkan
39 kursi. Sedangkan untuk pemilihan umum 1955 yang memilih anggota
konstituante dilaksanakan pada tanggal 15 Desember 1955. Hasil Pemilu 1955
pada pemilihan anggota Konstituante ini hasilnya juga tidak jauh beda dengan
Pemilu 1955 tahap pertama. Parta-partai dengan basis masa besar masih
mendominasi, partai yang memiliki ikatan sosial, sejarah dan ideologi masih
merupakan partai yang bisa mendulang suara yang besar.

Berdasarkan hasil pemilihan tanggal 15 Desember 1955 dan diumumkan pada


16 Juli 1956 ini, hasil pemilu 1955 dimenangkan oleh PNI, Masyumi, NU dan
PKI. PNI mendapatkan 119 kursi, kemudian Masyumi mendapatkan 112 kursi,
Nahdlatul Ulama mendapatkan 91 kursi dan PKI mendapatkan 80 kursi. Pemilu
1955 ini tercatat sebagai Pemilihan Umum Pertama Indonesia dan dianggap
sebagai pemilu yang paling bersih dan jujur. Partisipasi pada Pemilu 1955 juga
banyak yang menyebut memiliki tingkat keikutsertaan yang sangat tinggi
sepanjang sejarah pelaksanaan pemilu di Indonesia. Tak berlebihan jika
Pemilihan Umum 1955 ini dikatakan sebagai pemilu terbaik Indonesia, jika
dilihat pada saat itu Indonesia belum mendapatkan stabilitas nasional yang
memadai.

Nah temen-temen, itulah sedikit gambaran mengenai Sejarah Pemilu 1955,


Pemilu Pertama Indonesia Yang Dianggap Paling Bersih yang bisa kami
sampaikan kepada kalian. Pemilu pertama Indonesia yang dilaksanakan pada
tahun 1955 ini adalah pemilu yang sangat penting keberadaannya untuk
perkembangan tata negara di Indonesia. Maka dari itu, bisa dikatkan Pemilu
1955 ini sebagai salah satu tonggak bersejarah dalam pelaksanaan tata negara
Indonesia.
Semoga sedikit informasi mengenai Sejarah Pemilu 1955, Pemilu Pertama
Indonesia Yang Dianggap Paling Bersih di atas bisa membuka dan menambah
pengetahuan kita terhadap Pemilu 1955 itu sendiri.
Tambahan Tahun 1955 ada 29 partai politik dan individu yang mengikuti pemilu. Zaman itu
aja sudah ada perseorangan atau independen yang mencalonkan diri sebagai caleg dan badan
konstituante.

Dilihat juga pada zaman itu, suasana sedang tidak kondusif akibat peperangan dan kabinet
yang jatuh bangun, namun partisipasi masyarakat tidak berkurang untuk melaksanakan
pemilu ini dan juga sama sekali tidak ada kecurangan dan tidak ada yang berpikir untuk
curang atau tepatnya benar-benar murni, tidak ada money politik dan lain sebagainya yang
marak di zama sekarang. Pemilihan berlangsung tertib dan pelaksanaan penghitungan suara
pun aman Maka dari itu tahun 1955 dianggap pemilu paling demokratis

3. KABINET ALI SASTROAMIJOYO I (31 Juli 1953 12


Agustus 1955)
Kabinet keempat adalah kabinet Ali Sastroamidjojo,yang terbentuk pada tanggal 31 juli 1953.
betapapun kabinet ini tanpa dukungan masyumi, namun kabinet Ali ini mendapat dukungan yang
cukup banyak dari berbagai partai yang diikutsertakan dalam kabinet, termasuk partai baru NU.
Kabinet Ali ini dengan Wakil perdana Menteri Mr. Wongsonegoro (partai Indonesia Raya PIR).
Program pokok dari Kabinet Ali Sastroamijoyo I adalah:
1. Meningkatkan keamanan dan kemakmuran serta segera menyelenggarakan Pemilu.
2. Pembebasan Irian Barat secepatnya.
3. Pelaksanaan politik bebas-aktif dan peninjauan kembali persetujuan KMB.
4. Penyelesaian Pertikaian politik.

Hasil atau prestasi yang berhasil dicapai oleh Kabinet Ali Sastroamijoyo I yaitu.
1. Persiapan Pemilihan Umum untuk memilih anggota parlemen yang akan diselenggarakan pada 29
September 1955.
2. Menyelenggarakan Konferensi Asia-Afrika tahun 1955.
3. Konferensi Asia-Afrika I ini disenggarakan di bandung pada tanggal 18-24 April 1955. Konferensi
dihadiri oleh 29 negara negara Asia Afrika,terdiri 5 negara pengundang dan 24 negara
yang diundang. KAA I itu ternyata memilikipengaruh dan arti penting dagi solidaritas dan
perjuangan kemerdekaan bangsa bangsa Asia Afrika dan juga membawa akibat yang
lain, seperti :
a. Berkurangnya ketegangan dunia.
b. Australia dan Amerika mulai berusaha menghapuskan politik rasdiskriminasi di negaranya.
c. Belanda mulai repot menghadapi blok afro- asia di PBB, karena belanda masih bertahan di Irian
Barat.

Konferensi Asia Afrika I ini menghasikan beberapa kesepakatan yaitu : Basic peper on Racial
Discrimination dan basic peper on Radio Activity. Kesepakatan yang lain terkenal dengan dasa sila
bandung, dengan terlaksananya Konferensi Asia Afrika I merupakan prestasi tersendiri
bagi bangsa indonesia.
Kendala/ Masalah yang dihadapi oleh kabinet ini sebagai berikut.
1. Menghadapi masalah keamanan di daerah yang belum juga dapat terselesaikan, seperti DI/TII di
Jawa Barat, Sulawesi Selatan, dan Aceh.
2. Terjadi peristiwa 27 Juni 1955 suatu peristiwa yang menunjukkan adanya kemelut dalam tubuh
TNI-AD. Masalah TNI AD yang merupakan kelanjutan dari Peristiwa 17 Oktober 1952.
Bambang Sugeng sebagai Kepala Staf AD mengajukan permohonan berhenti dan
disetujui oleh kabinet. Sebagai gantinya mentri pertahanan menunjuk Kolonel Bambang Utoyo tetapi
panglima AD menolak pemimpin baru tersebut karena proses pengangkatannya dianggap
tidak menghiraukan norma-norma yang berlaku di lingkungan TNI-AD. Bahkan ketika
terjadi upacara pelantikan pada 27 Juni 1955 tidak seorangpun panglima tinggi yang
hadir meskipun mereka berada di Jakarta. Wakil KSAD-pun menolak melakukan serah
terima dengan KSAD baru.
3. Keadaan ekonomi yang semakin memburuk, maraknya korupsi, dan inflasi yang menunjukkan
gejala membahayakan.
4. Memudarnya kepercayaan rakyat terhadap pemerintah.
5. Munculnya konflik antara PNI dan NU yang menyebabkkan, NU memutuskan untuk menarik
kembali menteri-mentrinya pada tanggal 20 Juli 1955 yang diikuti oleh partai lainnya.

Nu menarik dukungan dan menterinya dari kabinet sehingga keretakan dalam kabinetnya inilah yang
memaksa Ali harus mengembalikan mandatnya pada presiden pada tanggal 24 Juli 1955.

KABINET BURHANUDDIN HARAHAP (12 Agustus 1955 3 Maret 1956)


Kabinet Ali selanjutnya digantikan oleh Kabinet Burhanuddin Harahap. Burhanuddin Harahap berasal
dari Masyumi., sedangkan PNI membentuk oposisi.
Program pokok dari Kabinet Burhanuddin Harahap adalah:
1. Mengembalikan kewibawaan pemerintah, yaitu mengembalikan kepercayaan Angkatan Darat dan
masyarakat kepada pemerintah.
2. Melaksanakan pemilihan umum menurut rencana yang sudah ditetapkan dan mempercepat
terbentuknya parlemen baru
3. Masalah desentralisasi, inflasi, pemberantasan korupsi
4. Perjuangan pengembalian Irian Barat
5. Politik Kerjasama Asia-Afrika berdasarkan politik luar negeri bebas aktif. Hasil atau prestasi
yang berhasil dicapai oleh Kabinet Burhanuddin Harahap yaitu.
1. Penyelenggaraan pemilu pertama yang demokratis pada 29 September 1955 (memilih anggota
DPR) dan 15 Desember 1955 (memilih konstituante). Terdapat 70 partai politik yang
mendaftar tetapi hanya 27 partai yang lolos seleksi. Menghasilkan 4 partai politik besar
yang memperoleh suara terbanyak, yaitu PNI, NU, Masyumi, dan PKI.
2. Perjuangan Diplomasi Menyelesaikan masalah Irian Barat dengan pembubaran Uni Indonesia-
Belanda.
3. Pemberantasan korupsi dengan menangkap para pejabat tinggi yang dilakukan oleh polisi militer.
4. Terbinanya hubungan antara Angkatan Darat dengan Kabinet Burhanuddin.
5. Menyelesaikan masalah peristiwa 27 Juni 1955, yang mana menjadi penyebab kegagalan dari
kabinet Ali dengan mengangkat Kolonel AH Nasution sebagai Staf Angkatan Darat pada
28 Oktober 1955.
Kendala/ Masalah yang dihadapi oleh kabinet ini adalah banyaknya mutasi dalam lingkungan
pemerintahan dianggap menimbulkan ketidaktenangan.

Dengan berakhirnya pemilu maka tugas kabinet Burhanuddin dianggap selesai. Pemilu tidak
menghasilkan dukungan yang cukup terhadap kabinet sehingga kabinetpun jatuh. Akan dibentuk
kabinet baru yang harus bertanggungjawab pada parlemen yang baru pula.

4. Penyimpangan- Penyimpangan Pada Masa Demokrasi


Terpimpin
Dengan berlakunya kembali UUD 1945 mestinya sistem pemerinyahan yang berlaku
berdasarkan UUD 1945 adalah sistem pemerintahan Presidensial. Namun dalam
Pelaksanaanya terjadi penyimpangan-penyimpangan terhadap UUD 1945nsebagai berikut ;

Pada masa demokrasi terpimpin, tampak bahwa Presiden Soekarno menjadi pemimpin tunggal dan
sumber pedoman kehiduperjadinya penyimpanganpenyimpangan terhadap konstitusi. Dengan Dekrit
Presiden 5 Juli 1959, pada awalnya masyarakat Indonesia yakin bahwa dengan kembali kepada UUD
1945, bangsa dan negara Indonesia akan mengalami perubahan struktur politik yang lebih baik.
Masyarakat yang telah lama hidup dalam kekacauan politik merindukan suatu masan bernegara.
Konstitusi yang ada diabaikan. Oleh karena itu, terdapat kemungkinan berbagai penyimpangan pada
konstitusi yang berlaku. Pelaksananaan Demokrasi Terpimpin pada Periode 5 Juli 1959 - 11 Maret
1966 diwarnai banyak banyak penyimpangan tarhadap pancasila dan UUD 1945, yang ditandai
dengan kekuasaan Presiden Soekarno yang tak terbatas sehingga perode ini sering dijuluki " Orde
Lama" . Berbagai penyimpangan tersebut meliputi

1. Kekuasaan Presiden Tak Terbatas

Pada masa demokrasi terpimpin, Majelis Permusyaratan Rakyat Sementara (MPRS) melalui, Sidang
Umum MPRS tahun 1963 MPRS menetapkan bahwa Presiden Soekarno diangkat sebagai presiden
seumur hidup dengan Tap MPRS No. III/MPRS/p. Hal ini sangat bertentangan dengan UUD 1945
Bab III Pasal 7. Pembentukan peraturan perundang-undangan yang semestinya dibentuk
berdasarkan UU, namun diberi bentuk hukum Peraturan Presiden

Penetapan Pidato Presiden Menjadi Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN)

Pada tanggal 17 Agustus 1959 Presiden Soekarno berpidato. Pidatonya diberi judul Penemuan
Kembali Revolusi Kita. Pidato tersebut merupakan penjelasan dan pertanggungjawaban atas Dekrit 5
Juli 1959 dan merupakan kebijakan Presiden Soekarno pada umumnya dalam mencanangkan sistem
demokrasi terpimpin. Pidato ini kemudian dikenal dengan sebutan Manifesto Politik Republik
Indonesia (Manipol). DPAS dalam sidangnya pada bulan September 1959 mengusulkan kepada
pemerintah agar pidato Presiden Soekarno yang berjudul Penemuan Kembali Revolusi Kita
dijadikan Garis-garis Besar Haluan Negara dan dinamakan Manifesto Politik Republik Indonesia
(Manipol).Presiden Soekarno menerima baik usulan tersebut. Pada sidangnya tahun 1960, MPRS
dengan ketetapan MPRS No. 1/MPRS/1960 menetapkan Manifesto Politik menjadi Garis-garis Besar
Haluan Negara (GBHN). Ketetapan tersebut juga memutuskan bahwa pidato Presiden Soekarno pada
tanggal 7 Agustus 1960, yang berjudul Jalannya Revolusi Kita dan pidato di depan sidang Umum
PBB yang berjudul Membangun Dunia Kembali (To Build the World a New) merupakan Pedoman-
pedoman Pelaksanaan Manifesto Politik. Dalam pidato pembukaan Kongres Pemuda di Bandung pada
bulan Februari 1960, Presiden Soekarno menyatakan bahwa intisari Manipol ada lima. Lima intisari
itu adalah UUD 1945, Sosialisme Indonesia, Demokrasi Terpimpin, Ekonomi Terpimpin, dan
Kepribadian Indonesia (USDEK).

2.Pembentukan MPRSAda yang janggal saat pembentukan MPRS. Majelis Permusyawaratan


Rakyat yang seharusnya dipilih melalui Pemilu (Pemilihan Umum) malah dibentuk oleh presiden
sendiri melalui Penetapan Presiden No. 3 Tahun 1959. Hal ini sangat bertentangan dengan UUD
1945.

3. Pembubaran DPR dan Pembentukan DPR GR(Gotong Royong) oleh Presiden Soekarno

Pada 5 maret 1960 Soekarno membubarkan DPR ,karena berselisih pendapat mengenai penyusunan
RAPBN dengan DPR ,melalui Penpres No.3 1960. Setelah itu Soekarno mengatur kembali
membentuk dan menyusun kembali susunan DPR-GR melalui Keppres No.156 1960 dan Penpres
No.4 1960, adapun salah satu tugas DPR- GR adalah bahwa pimpinan DPR-GR memberikan laporan
pada waktu-waktu tertentu pada Presiden dan hal ini merupakan pelanggaran terhadap Pasal 5 ,20
,dan 21 UUD 1945. 4.Pembentukan DPAS (Dewan Pertimbangan Agung Sementara)Dewan
Pertimbangan Agung Sementara (DPAS) dibentuk berdasarkan Penetapan Presiden No.3 tahun 1959.
Lembaga ini diketuai oleh Presiden sendiri. Keanggotaan DPAS terdiri atas satu orang wakil ketua, 12
orang wakil partai politik, 8 orang utusan daerah, dan 24 orang wakil golongan. Tugas DPAS adalah
memberi jawaban atas pertanyaan presiden dan mengajukan usul kepada pemerintah. Padahal,
pemerintah dipegang sepenuhnya oleh Presiden. 5. Pembentukan Front Nasional

Front Nasional dibentuk berdasarkan Penetapan Presiden No.13 Tahun 1959. Front Nasional
merupakan sebuah organisasi massa yang memperjuangkan cita-cita proklamasi dan cita-cita yang
terkandung dalam UUD 1945.

6. Keterlibatan PKI dalam Nasakom (Nasio, Agama dan Komunis)

Konsep Nasakom yang diusung Presiden Soekarno dimanfaatkan oleh PKI untuk menyebar luaskan
pengaruhnya dalam kehidupan sosial dan politik bangsa Indonesia. Keterlibatan PKI tersebut
menyebarkan ajaran Nasakom menyimpang dari ajaran kehidupan berbangsa dan bernegara serta
mengeser kedudukan Pancasila dan UUD 1945 menjadi komunis. Konsep Nasakom yang
digunakanuntuk mencapai persatuan Nasional nyata-nyata bertentangan dengan Sistem konstitusi
Indonesia terutama Sila Pertama Pancasila dan Pasal 29 UUD 1945Selain itu PKI mengambil alih
kedudukan dan kekuasaan pemerintahan yang sah. PKI berhasil meyakinkan presiden bahwa Presiden
Sukarno tanpa PKI akan menjadi lemah terhadap Angkatan Darat yang saat itu tumbuh menjadi salah
satu kekuatan sosial politik disamping Soekarno dan PKI melalui konsep Dwi Fungsi ABRI-nya.7.
Pembentukan Kabinet Kerja

Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat dan Ketua Dewan Perwakilan rakyat Gotong Royong
diangkat sebagai menteri. Tindakan ini bertentangan dengan UUD 45, sebab kedudukan DPR selaku
lembaga legislatif sejajar dengan kedudukan Presiden selaku eksekutif. Dengan diangkatnya Ketua
MPRS dan DPRGR sebagai menteri, di mana dalam UUD 45 dinyatakan bahwa kedudukan menteri
adalah sebagai pembantu Presiden, maka tindakan tersebut secara terang-terangan telah merendahkan
martabat lembaga legislatif.

8. Adanya ajaran Resopim

Adanya ajaran RESOPIM. Tujuan adanya ajaran RESOPIM (Revolusi, Sosialisme Indonesia, dan
Pimpinan Nasional) adalah untuk memperkuat kedudukan Presiden Sukarno. Ajaran Resopim
diumumkan pada peringatan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia ke-16.

9. Peran ABRI

ABRI yang harusnya menjaga keamanan dan pertahanan negara, malah menjadi kekuatan politik yang
sangat kuat. Apalagi saat 1/3 menteri di kabinet kerja diisi oleh anggota ABRI.

10. Kehidupan Partai Politik

Penyederhanaan yang dimaksud adalah pembubaran partai-partai politik yang tidak sesuai dengan
Penpres no.7 tahun 1959. Partai yang tidak memenuhi syarat, akan dibubarkan sehingga dari 28 partai
yang ada hanya tinggal 11 partai. Kedudukan presiden yang kuat tersebut tampak dengan tindakannya
untuk membubarkan 2 partai politik yang pernah berjaya masa demokrasi Parlementer yaitu Masyumi
dan Partai Sosialis Indonesia (PSI). Alasan karena kedua partai tersebut terlibat dlm pemberontakan
PRRI & Permesta. Kedua Partai tersebut resmi dibubarkan pada tanggal 17 Agustus 1960

5 Syarat-syarat Negara demokrasi:


1. a. Perlindungan secara konstitusional atas hak-hak warga Negara, berarti hak-
hak warga Negara itu dilindungi oleh konstitusi atau UUD.
2. b. Badan kehakiman atau peradilan yang bebas dan tidak memihak, artinya
badan atau lembaga itu tidak dapat dicampurtangani oleh pemerintah dan
lembaga manapun. Tujuannya untuk mencapai keadilan.
3. c. Pemilu yang bebas, artinya pemilu yang dilakukan sesuai dengan hati nurani
tanpa tekanan atau paksaan dari pihak manapun.
4. d. Kebebasan untuk menyatakan pendapat, adalah kebebasan warga Negara
untuk menyatakan pendapatnya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara baik
secara lisan maupun tulisan.
5. e. Kebebasan untuk berorganisasi, adalah kebebasan warga Negara untuk
menjadi anggota organisasi politik atau organisasi kemasyarakatan. Kebebasan
beroposisi, adalah kebebasan untuk mengambil posisi diluar pemerintahan serta
melakukan control atau kritik terhadap kebijakan pemerintah.
6. f. Pendidikan kewarganegaraan, maksudnya agar warga Negara mengetahui apa
saja hak dan kewajibannya sebagai warga Negara, serta mampu menunjukkan
partisipasinya dalam kehidupan bernegara.
7. .