Anda di halaman 1dari 4

Nama: Jo Che Yien

Nim : 1601025187

Prodi : Manajemen

Antara periode 2000-2004, pemulihan ekonomi terjadi dengan rata-rata pertumbuhan PDB pada
4,6% per tahun. Setelah itu, pertumbuhan PDB berakselerasi (dengan pengecualian pada tahun
2009 waktu, akibat guncangan dan ketidakjelasan finansial global, pertumbuhan PDB Indonesia
jatuh menjadi 4,6%, sebuah angka yang masih mengagumkan) dan memuncak pada 6,5% di
2011. Kendati begitu, setelah 2011 ekspansi perekonomian Indonesia mulai sangat melambat. Di
antara tahun 2011 dan 2015 pertumbuhan ekonomi Indonesia melambat dengan cukup tajam
(yang dijelaskan dengan lebih banyak detail di bawah).

Bagian ini mendiskusikan performa perekonomian Indonesia, negara dengan perekonomian


terbesar di Asia Tengagra, sejak akhir 2000-an dan menyorot dengan lebih spesifik pada
perlambatan perekonomian yang terjadi sejak 2011. Untuk analisisi pertumbuhan ekonomi
Indonesia pada Pemerintahan Orde Baru atau analisis sebab dan akibat Krisis Finansial Asia

Rata-rata
Pertumbuhan PDB (%)
1998 1999 - 6.65
2000 2004 4.60
2005 2009 5.62
2010 2015 5.63

2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016
PDB
432.2 510.2 539.6 755.0 893.0 918.0 915.0 891.0 861.0 933.0
(dalam milyar USD)
PDB
6.3 6.0 4.6 6.2 6.2 6.0 5.6 5.0 4.9 5.0
(perubahan % tahunan)
PDB per Kapita
1,861 2,168 2,263 3,167 3,688 3,741 3,528 3,442 3,329 3,603
(dalam USD)
Tampak dalam tabel di atas bahwa penurunan perekonomian global yang disebabkan oleh krisis
finansial global di akhir 2000-an memiliki dampak yang relatif kecil pada perekonomian
Indonesia dibandingkan dengan dampak yang dialami negara-negara lain. Pada tahun 2009,
pertumbuhan PDB Indonesia turun menjadi 4,6%, yang berarti bahwa performa pertumbuhan
PDB negara ini merupakan salah satu yang terbaik di seluruh dunia (dan memiliki peringkat
tertinggi ketiga di antara negara-negara dengan perekonomian besar yang tergabung di dalam
grup G-20).

Meskipun terjadi penurunan tajam harga-harga komoditi, turunnya pasar saham, yield obligasi
domestik dan internasional yang lebih tinggi, dan melemahnya nilai tukar rupiah, perekonomian
Indonesia masih dapat tumbuh dengan layak. Kesuksesan ini terutama disebabkan oleh pengaruh
ekspor Indonesia yang relatif terbatas terhadap perekonomian nasional, terjaganya kepercayaan
pasar yang tinggi, dan berlanjutnya konsumsi domestik yang subur. Konsumsi domestik di
Indonesia (terutama konsumsi pribadi) berkontribusi untuk sekitar 55% dari total pertumbuhan
ekonomi negara ini.

Pada tahun 2010, Bank Dunia melaporkan bahwa karena suburnya pertumbuhan ekonomi
Indonesia, setiap tahunnya sekitar 7 juta penduduk Indonesia masuk dalam kelas menengah
negara ini. Di 2012, jumlah penduduk kelas menengah Indonesia mencapai sekitar 75 juta orang
(dari total jumlah penduduk Indonesia sebesar 240 juta orang) dan perusahaan penelitian seperti
Boston Consulting Group (BCG) dan McKinsey menyatakan bahwa kelompok kelas menengah
ini akan bertambah kira-kira dua kali lipat pada tahun 2020-2030. Meskipun pertumbuhan
penduduk kelas menengah telah berkurang karena perlambatan perekonomian negara ini yang
terjadi di antara tahun 2011-2015, Indonesia memiliki kekuatan konsumen yang mendorong
perekonomian dan telah secara signifikan memicu pertumbuhan investasi domestik dan asing
sejak 2010.

Pertumbuhan PDB Indonesia per Kuartal 20092016 (perubahan % tahunan):

Tahun Quarter I Quarter II Quarter III Quarter IV


2017 5.01 5.01
2016 4.92 5.19 5.01 4.94
2015 4.71 4.66 4.74 5.04
2014 5.14 5.03 4.92 5.01
2013 6.03 5.81 5.62 5.72
2012 6.29 6.36 6.17 6.11
2011 6.45 6.52 6.49 6.50
2010 5.99 6.29 5.81 6.81
2009 4.60 4.37 4.31 4.58

Komposisi PDB Indonesia: Pertanian, Industri dan Jasa

Tabel di bawah ini menunjukkan perkembangan luar biasa komposisi PDB Indonesia. Indonesia
berubah dari negara yang perekonomiannya sangat bergantung pada pertanian menjadi negara
yang perekonomiannya lebih seimbang, di mana sektor manufaktur (sejenis industri) kini lebih
dominan daripada sektor pertanian. Hal ini juga menyiratkan bahwa Indonesia mengurangi
ketergantungan tradisionalnya pada sektor ekspor primer. Kendati begitu, perlu dicatat bahwa
semua sektor utama ini mengalamai ekspansi selama periode yang disebutkan.

1965 1980 1996 2010


Pertanian 51% 24% 16% 15%
Industri 13% 42% 43% 47%
Jasa 36% 34% 41% 38%

Diasumsikan bahwa sektor industri akan memperkuat bagiannya dalam PDB dengan mengurangi
bagian sektor agrikultur dan jasa karena manufaktur saat ini adalah sektor paling populer di
Indonesia dalam konteks investasi asing langsung. Terlebih lagi, untuk industri-industri inovatif
tertentu, Pemerintah Indonesia memberikan insentif-insentif pajak, sementara industri-industri
pengolahan hilir telah dikembangkan di sektor pertambangan melalui UU Pertambangan 2009.

Salah satu karakteristik yang menonjol dari Indonesia adalah bahwa bagian barat negara ini
memiliki kontribusi pertumbuhan PDB yang secara signifikan lebih besar. Jawa (terutama area
Jabodetabek) dan Sumatra, bersama-sama, berkontribusi untuk lebih dari 80% total PDB
Indonesia. Alasan utama untuk situasi ini adalah bagian barat Indonesia berlokasi dekat dengan
Singapura dan Malaysia. Ketiga negara ini dalam perjalanan sejarah telah berfungsi sebagai
pusat aktivitas ekonomi di Asia Tenggara. Sementara itu, bagian Timur Indonesia, terletak dalam
jalur perekonomian yang lebih sepi dan berpenduduk jauh lebih sedikit.
PDB Indonesia dalam Perspektif Global

Tabel di bawah ini menunjukkan PDB Indonesia per kapita dan PDB riil dan
membandingkannya dengan dua kekuatan ekonomi penting dunia: Amerika Serikat (AS) dan
Cina.

PDB per Kapita (USD) Pertumbuhan PDB Riil (%)


2012 2013 2014 2015 2012 2013 2014 2015
AS 51,384 52,608 54,375 55,868 2.2 1.5 2.4 2.4
Cina 6,260 7,037 7,569 7,808 7.8 7.7 7.3 6.9
Indonesia 3,764 3,685 3,541 3,379 6.0 5.6 5.0 4.8

Mengamati PDB per kapita segera tampak bahwa Indonesia masih memiliki perjalanan panjang
ke depan dibandingkan dengan negara-negara yang lebih berkembang. Bahkan, Indonesia
memiliki salah satu PDB per kapita terendah dibandingkan negara mana pun di dunia. Melalui
sejumlah rencana pembangunan Pemerintah, Pemerintah Indonesia bertujuan untuk
meningkatkan angka ini menjadi sekitar 14.250-15.500 dollar AS pada tahun 2025. Namun, tetap
diragukan apakah target ambisius ini akan dapat direalisasikan, apalagi - seperti yang disebutkan
di atas - indikator ini tidak merefleksikan distribusi (setara) dari pendapatan atau kekayaan dalam
masyarakat Indonesia. Dibutuhkan kebijakan Pemerintah yang efektif untuk menyediakan lebih
banyak pendidikan untuk anak-anak Indonesia dan lebih banyak kesempatan kerja untuk orang-
orang dewasa Indonesia.

Di beberapa tahun terakhir, aset-aset negara berkembang menjadi kesayangan para investor
(karena dollar AS murah dan aset-aset negara berkembang memiliki yield yang lebih tinggi).
Negara-negara berkembang memiliki potensi yang besar karena adanya sumberdaya alam yang
berlimpah, populasi yang besar dan cepat berkembang, biaya tenaga kerja dan produksi yang
murah dan, terakhir, kondisi politik yang relatif stabil. Kendati begitu, mulai dari semester kedua
tahun 2015, proyeksi-proyeksi untuk pertumbuhan ekonomi di negara-negara berkembang telah
berubah menjadi agak suram karena dampak dari perlambatan pertumbuhan ekonomi di RRT,
rendahnya harga-harga komoditi, dan nilai tukar mata uang negar-negara berkembang yang
sangat melemah karena ancaman pengetatan moneter di AS.

Juga menarik untuk menganalisis sampai tingkatan mana beberapa ciri kebudayaan-kebudayaan
Indonesia (misalnya budaya dominan Jawa) membatasi pertumbuhan PDB (dibandingkan
dengan pengaruh dari, contohnya, kebudayaan Tiongkok terhadap pertumbuhan PDB RRT.