Anda di halaman 1dari 35

BAB II

TINJAUAN TEORI

2.1 KONSEP KEHAMILAN


2.1.1 Pengertian Kehamilan
Kehamilan merupakan proses alamiah untuk menjaga kelangsungan
peradaban manusia. Kehamilan baru bisa terjadi jika seseorang wanita
sudah mengalami pubertas yang ditandai dengan terjadinya menstruasi
(Marjati dkk., 2010).
Kehamilan dalah suatu mata rantai yang berkesinambungan yang
terdiri dari ovulasi (pematangan sel) lalu pertemuan ovum (sel telur)
dan spermatozoa (sperma) lalu terjadilah pembuahan dan
pertumbuhan. Zigot kemudian bernidasi (penanaman) pada uterus dan
pembentukan plasenta. Kemudian taha akhir adalah tumbuh kembang
hasil konepsi sampai aterm (Manuaba dkk., 2012).
Kehamilan merupakan proses alamiah untuk menjaga kelangsungan
peradaban manusia. Kehamilan baru bias terjadi jika seorang wanita
sudaah mengalami pubertas yang ditandai dengan terjadinya
menstruasi (Hani, 2010).
2.1.2 Proses Kehamilan
Proses kehamilan merupakan mata rantai yang berkesinambungan dan
terdiri dari:
a) Ovulasi
Ovulasi adalah proses pelepasan ovum yang dipengaruhi oleh hormon
yang kompleks.
2) Migrasi spermatozoa dan ovum
Ovum yang telah dilepaskan ditangkap oleh fimbrae, setelah itu ovum
yang tertangkap terus berjalan mengikuti tuba menuju uterus. Sebagian
spermatozoa mengalami kematian dan hanya beberapa ratus yang
dapat mencapai tuba. Spermatozoa yang masuk ke dalam alat genitalia
wanita hidup selama tiga hari.
3) Konsepsi dan pertumbuhan zigot
Pertemuan inti ovum dan inti spermatozoa disebut konsepsi atau
fertilisasi dan membentuk zigot.
4) Nidasi pada uterus
Proses penanaman blastula yang disebut nidasi atau implantasi terjadi
pada hari ke-6 sampai ke-7 setelah konsepsi.
5) Pembentukan plasenta
Pada Blastula, penyebaran sel trofoblas yang tumbuh tidak rata,
sehingga bagian dari blastula dengan inner cell mass akan tertanam ke
dalam endometrium. Sel trofoblas menghancurkan edometrium sampai
terjadi pembentukan plasenta yang berasal dari vili korealis.
6) Tumbuh kembang hasil konsepsi sampai aterm.
2.1.3 Tanda-tanda Kehamilan
Untuk dapat menegakkan diagnosis kehamilan ditetapkan dengan
melakukan penilaian terhadap beberapa tanda gejala hamil. Perubahan
fisiologis yang terjadi pada ibu hamil menyebabkan timbulnya perubahan-
perubahan yang menjadi tanda-tanda kehamilan. Tanda-tanda kehamilan
tersebut antara lain: tanda kemungkinan, tanda Tidak Pasti dan Tanda
Pasti.
1. Tanda-tanda Dugaan Hamil
a) Amenore (Terlambat Datang Bulan).
Konsepsi dan nidasi menyebabkan tidak terjadi
pembentukan folikel de graafdan ovulasi.
Mengetahui tanggal haid terakhir dengan perhitungan
rumus Naegle dapat ditentuka perkiraan persalinan.
b) Mual (Nausea) dan Muntah (Emesis).
Pengaruh esterogen dan progesterone terjadi pengeluaran asam
lambung yang berlebihan dan menimbulkan mual muntah yang
terjadi terutama pada pagi hari yang disebut morning sickness.
Dalam batas tertentu hal ini masih fisiologis, tetapi bila terlampau
sering dapat menyebabkan gangguan kesehatan yang disebut
dengan Hiperemesis Gravidarum.
c) Ngidam (mengingini makanan tertentu).
Wanita Hamil sering menginginkan makanan tertentu, keinginan
yang demikian disebut Ngidam, ngidam sering terjadi pada bulan-
bulan pertama kehamilan dan akan menghilang dengan makin
tuanya kehamilan.
d) Sinkope (Pingsan).
Terjadinya gangguan sirkulasi kedaerah kepala (sentral)
menyebabkan iskemia susunan saraf pusat dan
menimbulkan Sinkope atau pingsan. hal ini sering terjadi terutama
jika berada pada tempat yang ramai, biasanya akan hilang setelah 16
minggu.
e) Payudara Tegang
Pengaruh estrogen-progesteron dan somatomamotrofin
menimbulkan deposit lemak, air, dan garam pada
payudara.Payudara membesar dan tegang. Ujung saraf tertekan
menyebabkan rasa sakit terutama pada hamil pertama.
f) Sering Miksi.
Desakan Rahim kedepan menyebabkan kandung kemih cepat terasa
penuh dan sering miksi. Frekuensi miksi yang sering, terjadi pada
Triwulan pertama akibat desakan uterus terhadap kandung kemih.
Pada Triwulan kedua umumnya keluhan ini akan berkurang karena
uterus yang membesar keluar dari rongga panggul. Pada akhir
Triwulan, gejala bisa timbul karena janin mulai masuk kerongga
panggul dan menekan kandung kemih.
g) Kontipasi atau Obstipasi.
Progesterone dapat menghambat peristaltik usus (tonus otot
menurun) sehingga kesulitan untuk buang air besar.
h) Pigmentasi Kulit.
Pigmentasi terjadi pada usia kehamilan lebih dari 12 minggu.
Terjadi akibat pengaruh hormon kortikosteroid plasenta yang
merangsang melanofor dan kulit. Pigmentasi ini meliputi tempat-
tempat berikut ini:
Seperti disekitar Pipi : Cloasma gravidarum (Penghitaman pada
daerah dahi, hidung, pipi dan leher).
Sekitar Leher : Tampak lebih hitam
Dinding Perut : Striae Lividael Gravidarum (terdapat pada
seorang primigravida, warnanyamembiru), Striae Nigra, linea
Alba menjadi lebih hitam (Linea Griseal/Nigra).
Sekitar Payudara : Hiperpigmentasi areola mamae sehingga
terbentuknya areola sekunder. Pigmentasi areola ini berbeda pada
tiap wanita, ada yang merah muda pada wanita yang berkulit
putih, cokelat tua pada wanita yang berkulit coklat, dan hitam
pada wanita yang berkulit hitam. Selain itu, kelenjar Montgomeri
menonjol dan pembuluh darah menifes sekitar Payudara.
Sekitar Pantat dan paha atas, terdapat striae akibat pembesaran
bagian tersebut.
i) Epulis
Hipertropi papilla ginggivae/gusi, sering terjadi pada triwulan
pertama.
j) Varises atau penampakan pembuluh darah vena
Pengaruh Esterogen dan progesteron menyebabkan pelebaran
pembuluh darah terutama bagi wanita yang mempunyai bakat.
Varises dapat terjadi disekitar genitalia eksterna, kaki dan betis,
serta payudara. Penampakan pembuluh darah ini dapat hilang
setelah persalinan (Manuaba dkk., 2010).
2. Tanda Tidak Pasti
Tanda tidak pasti adalah Perubahan-perubahan fisiologis yang dapat
diketahui Oleh pemeriksa dengan melakukan pemeriksaan fisik kepada
wanita hamil. Tanda tidak pasti ini terdiri atas hal-hal berikut ini.
a. Pembesaran Perut.
Terjadi akibat pembesaran uterus, hal ini terjadi pada bulan keempat
kehamilan.
b. Tanda Hegar.
Pelunakan dan dapat ditekannya istmus uteri.
c. Tanda Goodel.
Pelunakan Serviks, pada wanita tidak hamil servik seperti ujung
hidung, sedangkan pada wanita hamil melunak seperti bibir.
d. Tanda Chadwicks
Perubahan warna menjadi keunguan pada vulva dan mukosa vagina
termasuk juga porsio dan serviks.
e. Tanda Piscaseck
Merupakan pembesaran uterus yang tidak simetris. Terjadi karena
ovum berimplantasi pada daerah dekat dengan kornu sehingga
daerah tersebut berkembang lebih dulu.
f. Kontaksi Braxton Hicks.
Merupakan Peregangan Sel-sel otot, akibat meningkatnya actomysin
didalam Otot uterus. Kontraksi ini tidak beritmik, sporadis, tidak
nyeri, biasanya timbul Pada kehamilan delapan minggu, tetapi baru
dapat diamati dari pemeriksaan abdominal pada trimester ketiga.
Kontraksi ini akan terus meningkat frekuensinya, lamanya, dan
kekuatannya sampai mendekati persalinan.
g. Teraba Ballottement.
Ketukan yang mendadak pada uterus menyebabkan janin bergerak
dalam cairan ketuban yang dapat dirasakan oleh tangan pemeriksa.
Hal ini harus ada Pada pemeriksaan kehamilan karena perabaan
bagian seperti bentuk janin saja tidak cukup karena dapat saja
merupakan Myoma Uteri (Manuaba dkk., 2010).

3. Tanda Pasti
Tanda pasti adalah tanda yang menunjukkan langsung keberadaan
janin, yang dapat dilihat langsung oleh Pemeriksa.
a) Gerakan janin dalam Rahim.
Gerakan janin pada Primigravida dapat dirasakan oleh ibunya pada
kehamilan 18 minggu. Sedangkan pada multigravida pada
kehamilan 16 minggu karena telah berpengalaman dari kehamilan
terdahulu (Jannah, 2012).
b) Denyut Jantung Janin.
Dapat didengar pada usia 12 minggu dengan menggunakan alat fetal
electrocardiograf (misalnya dopler). Dengan Stetoskop leanec, DJJ
baru dapat didengar pada usiakehamilan 18-20 minggu.
c) Teraba Bagian-bagian Janin.
Bagian-bagian janin secara objektif dapat diketahui oleh pemeriksa
dengan cara palpasi menurut leopold pada akhir trimester kedua.
d) Kerangka Janin.
Kerangka janin dapat dilihat dengan foto rontgen maupun
USG (Jannah, 2012).

2.1.4 Perubahan Fisiologis

1) Uterus
Uterus yang semula besarnya hanya sebesar jempol atau beratnya 30
gram akan mengalami hipertrofi dan hiperpla-sia, sehingga menjadi
seberat 1000 gram saat akhir kehamilan. Otot dalam rahim mengalami
hiperplasia dan hipertrofi menjadi lebih besar, lunak, dan dapat
mengikuti pembesaran rahim karena pertumbuhan janin
2) Ovarium
Dengan adanya kehamilan, indung telur yang mengan-dung korpus
luteum gravidarum akan meneruskan fungsinya sampai terbentuknya
plasenta yang sempurna pada usia 16 minggu (Manuaba, 2010).
3) Vagina dan Perineum
Perubahan yang terjadi pada vagina selama kehamilan antara lain
terjadinya peningkatan vaskularitas dan hiperemia (tekanan darah
meningkat) pada kulit dan otot perineum, vulva, pelunakan pasa
jaringan ikat, munculnya tanda chadwick yaitu warna kebiruan pada
daerah vulva dan vagina yang disebabkan hiperemia, serta adanya
keputihan karena sekresi serviks yang meningkat akibat stimulasi
estrogen (Aprillia, 2010).
4) Payudara
Pada awal kehamilan perempuan akan merasakan payudara menjadi
semakin lunak. Seletah bulan kedua payudara akan bertambah
ukurannya dan vena vena dibawah kulit akan lebih terlihat. Puting
payudara akan lebih besar, kehitaman, dan tegak. Areola akan lebih
besar dan kehitaman. Kelenjar sebasea dari areola akan membesar dan
cenderung menonjol keluar (Djusar, 2009).
5) Sirlukasi Darah
Volume darah semakin meningkat dan jumlah serum darah lebih besar
dari pertumbuhan sel darah, sehingga terjadi pengenceran darah
(hemodelusi). Sel darah merah semakin meningkat jumlahnya untuk
dapat mengimbangi pertumbuhan janin dalalm rahim, tetapi
pertambahan sel darah tidak seimbang dengan peningkatan volume
darah sehingga terjadi hemodelusi yang disertai anemia fisiologis
(Manuaba, 2010).
6) Sistem Respirasi
Kapasitas paru secara total menurun 4-5% dengan adanya elevasi
diafragma. Fungsi respirasi juga mengalami peru-bahan. Respirasi rate
50% mengalami peningkatan, 40% pada tidal volume dan peningkatan
konsumsi oksigen 1520% diatas kebutuhan perempuan tidak hamil
(Aprillia, 2010).
7) Sistem pencernaan
Seiring dengan makin membesarnya uterus, lambung, dan usus akan
tergeser. Perubahan yang nyata terjadi pada penurunan motilitas otot
polos pada traktus digestivus. Mual terjadi akibat penurunan asam
hidrokloroid dan penurunan motilitas, serta konstipasi akibat penurunan
motilitas usus besar.
Gusi akan menjadi lebih hiperemis dan lunak sehingga dengan trauma
sedang saja bisa menyebabkan perdarahan. Epulis selama kehamilan
akan muncul. Hemorroid juga merupakan suatu hal yang sering terjadi
akibat konstipasi dan peningkatan tekanan vena pada bagian bawah
karena pembesa-ran uterus (Djusar, 2009).
8) Sistem perkemihan
Karena pengaruh desakan hamil muda dan turunnya kepala bayi pada
hamil tua, terjadi gangguan miksi dalam bentuk sering berkemih.
Desakan tersebut menyebabkan kandung kemih cepat terasa penuh.
Hemodelusi menyebabkan metabo-lisme air makin lancar sehingga
pembentukan urine akan bertambah.
9) Kulit
Pada kulit terjadi perubahan deposit pigmen dan hiperpigmentasi karena
pengaruhmelanophore stimulating hor-mone lobus hipofisis anterior
dan pengaruh kelenjar suprarenalis. Hiperpigmentasi ini terjadi pada
striae gravidarum livide atau alba, areola mamae, papilla mamae, linea
nigra, pipi (khloasma gravidarum). Setelah persalinan hiperpigmentasi
ini akan meng-hilang (Manuaba, 2010).

2.1.5 Perubahan Psikologis

1) Trimester Pertama
Pada awal kehamilan, hormone progesterone dan estrogen dalam tubuh
akan meningkat dan ini menybabkan timbulnya rasa mual-mual pada
pagi hari, lemah, lelah dan membesarnya payudara. Ibu merasa tidak
sehat dan seringkali membenci kehamilannya dan juga sering muncul
perasaan seperti takut, penolakan terhadap kehamilan, kekecewaan,
kecemasan, dan kesedihan.
Pada trimester pertama ini seorang ibu akan selalu mencari tanda-tanda
untuk lebih meyakinkan dirinya memang hamil. Setiap perubahan yang
terjadi pada tubuhnya akan selalu diperhatikan dengan seksama. Hasrat
hubungan seks bagi wanita pada trimester pertama ini berbeda-beda.
Ada yang mengalami penurunan libido seks, namun ada juga yang
lebih.
2) Trimester Kedua
Pada masa ini biasanya merupakan saat ibu merasa sehat. Tubuh sudah
terbiasa dengan kadar hormone yang lebih tinggi. Perut ibu belum
terlalu besar sehingga belum dirasakan sebagai beban. Pada trimester
ini pula ibu dapat merasakan gerakan janinnya. Banyak ibu merasa
terlepas dari rasa kecemasan dan rasa tidak nyaman karena bu sudah
mulai merasakan kehadiran janinnya sebagai seseorang diluar dirinya
sendiri.
3) Trimester Ketiga
Pada trimester ini ibu merasa tidak sabar menunggu kelahiran janinnya.
Kadang-kadang ibu merasa khawatir bahwa janinnya akan lahir
sewaktu-waktu. Ini menyebabkan ibu meningkatkan kewaspadaannya
terhadap timbulnya tanda-tanda dan gejala persalinan. Ibu sering kali
merasa khawatir dan takut kalau-kalau janin yang dilahirkannya tidak
normal. Kebanyakan ibu juga akan bersikap melindungi janinnya dan
akan menghindari orang atau benda yang dianggap membahayakan
janinnya. Seorang ibu mungkin mulai merasa takut akan rasa sakit dan
bahaya fisik yang akan timbul pada waktu melahirkan. Pada waktu
inilah ibu memerlukan ketenangan dan dukungan dari suami, keluarga,
dan bidan.

2.1.6 Kebutuhan Dasar Ibu Hamil

1) Nutrisi
Anjurkanlah wanita hamil makan yang secukupnya saja, cukup
mengandung protein hewani dan nabati, karena kebutuhan kalori
selama kehamilan meningkat. Kenaikan berat badan wanita hamil
berkisar antara 6,5 16 kg selama kehamilan. Bila berat badan tetap
atau menurun, semua makan yang dianjurkan terutama yang
mengandung protein dan besi. Bila BB naik dari semestinya dianjurkan
mengurangi makanan yang mengandung karbohidrat, lemak jangan
dikurangi apalagi sayur dan buah.
Kebutuhan beberapa zat yang penting :
Tidak hamil Hamil Laktasi
Kalori Kal 2500 2500 2500
Protein gr 60 85 100
Calsium gr 0,8 1,5 2
Fernem mg 12 15 15
Vitamin A si 5000 6000 8000
Vitamin B mg 1,5 1,8 2,3
Vitamin C mg 70 100 150
Riboflavin mg 2,2 2,5 3
As. nikotitinat mg 15 10 23
Vitamin D si + 400-800 400-800
Sumber: Ari, 2009.
2) Pekerjaan rumah tangga
Jangan pernah menganggap enteng pekerjaan rumah tangga,
khususnya bagi kaum pria. Pekerjaan rutin rumah tangga seperti
mencuci, mengepel, memasak, menyetrika sering dianggap pekerjaan
yang tidak membutuhkan tenaga dan pikiran, pendapat seperti ini jelas
salah. Pekerjaan rumah tangga sama melelahkannya seperti pekerjaan
lainnya. Tanpa harus bekerja di luar rumah pun, pekerjaan rumah
tangga sudah menguras tenaga dan pikiran, apalagi kalau seorang
wanita masih harus bekerja di luar rumah, yang paling menyedihkan
lagi adalah pada waktu hamil. Jika anda seorang suami yang
bertanggung jawab dan memiliki rasa kemanusiaan dan budi pekerti
yang baik, maka anda pasti tidak akan membiarkan istri anda
melakukan pekerjaan rumah tangga sambil tetap bekerja di luar rumah
pada saat hamil.
Bicarakanlah segera dengan pasangan dan keluarga dekat anda
jika memang menghadapi masalah seperti ini. Karena jika dibiarkan
resikonya bukan hanya pada bayi anda tetapi juga diri anda sendiri.
Pada saat hamil, kurangilah pekerjaan rumah tangga yang biasa anda
lakukan. Kurangilah bersentuhan dengan bahan-bahan kimia dalam
rumah tangga, seperti cairan pembersih lantai,pestisida tanaman,dan
obat serangga lainnya.
3) Wanita pekerja diluar rumah
Wanita hamil boleh melakukan pekerjaan sehari hari, dikantor
ataupun di pabrik asal bersifat ringan. Di Indonesia wanita hamil diberi
cuti hamil selam 3 bulan yaitu 1,5bulan sebelum bersalin dan 1,5 bulan
sesudahnya, selama hamil berhati hati dan menjaga kehamilannya.
4) Hubungan seksual
Hubungan seksual selama hamil tidak dilarang,tetapi disarankan
dihentikan bila:
Terdapat tanda infeksi, yaitu pengeluaran cairan disertai nyeri dan
panas
Terjadi perdarahan saat hubungan seksual
Terdapat pengeluaran cairan mendadak saat hubungan
Adanya riwayat abortus, partus prematurus, IUFD.
5) Kunjugan Ulang
Pengawasan antenatal memberi manfaat dengan ditemukannya
berbagai kelaianan yang menyertai kehamilan secara dini sehingga
dapat diperhitungkan dan dipersiapkan langkah langkah pertolongan
persalinan. Ibu hamil dianjurkan untuk melakukan pengawasan
antenatal minimal sebanyak 4 kali, yaitu 1 kali pada trimester I, 1 kali
pada trimester II dan 2 kali pada trimester III.
Tujuan pelayanan kebidanan (WHO), yaitu:
Pengawasan serta penanganan wanita hamil dan pada saat
peralianan.
Perawatan dan pemeriksaan wanita sesudah persalinan.
Perawatan neonates bayi
Pemeliharaan dan pemberian laktasi.
Asuhan antenatal (antenatal care) adalah pengawasan sebelum
persalianan terutama ditujukan pada pertumbuhan dan perkembangan
janin dalam rahim. Secara khusus pengawasan antenatal bertujuan:
Mengenal dan menangani sendiri mungkin penyulit yang terdapat
saat kehamulan, persalinan, daan nifas.
Mengenal dan menangani penyakit yang menyertai kehamilan,
persalinan dan masa nifas.
Memberi nasehat dan peunjuk yang berkaitan dengan
kehamilan,persalinan, kala nifas, laktasi dan aspek keluarga
berencana.
Menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu pada perinatal.
Dengan memperhatikan batasan dan tujuan pengawasan
antenatal, dijadwalkan pemeriksaan sebagai beikut.
1. Pemeriksaan pertama
Pemeriksaan pertama dilakukan segera setelah diketahui
terlambat haid.
2. Pemeriksaan ulang
Setiap bulan sampai umur kehamilan 6 7 bulan.
Setiap 2 minggu sampai kehamilan berumur 8 bulan.
Setiap 1 minggu sejak umur kehamilan 8 bulan sampai
terjadi persalianan.
3. Pemeriksaan khusus jika terjadi keluhan keluhan tertentu
6) Pakaian
Pakaian yang baik untuk ibu hamil ialah yang enak dipakai,
tidak boleh menekan badan karena pakaian yang menekan badan
menyebabkan bendungan vene dan mempercepat timbulnnya varices.
7) Olahraga saat hamil
Yang dianjurkan adalah jalan jalan waktu pagi hari untuk
ketenangan dan mendapatkan udara segar.
8) Istirahat dan tidur
Jadwal istirahat dan tidur perlu diperhatikan dengan baik, karena
istirahat dan tidur secara teratur dapat meningkatkan kesehatan jasmani
dan rohani untuk kepentingan perkembangan dan pertumbuhan janin.
9) Personal hygiene
Kebersihan badan mengurangi infeksi, puting susu harus
dibersihakan kalau terbasahi oleh kolostrum. Perawatan gigi harus
dilakukan karena gig yang bersih menjamin pencernaan yang sempurna.
10) Bepergian (Travelling)
Sedang hamil tidak berarti Anda tidak dapat pergi berlibur untuk
seluruh 9 bulan Anda istilah, tetapi tidak berarti bahwa anda harus
melakukan sedikit ekstra hati-hati ketika membuat rencana, baik untuk
menjamin kenyamanan dan perlindungan Anda dan bayi yg belum lahir.
Disarankan ibu untuk tidak lama berkendaran jarak sendiri,
karena posisi mengemudi bisa jadi sangat tidak nyaman dan lama drive
dapat sangat melelahkan. Pastikan kursi dan seatbelt yang disesuaikan
dengan baik dan memakai pakaian longgar nyaman. Juga pastikan ibu
memiliki cukup untuk makan dan minum selama perjalanan jalan untuk
menjaga tingkat energi atas.
11) Imunisasi
Pada masa kehamilan ibu hamil diharuskan melakukan
imunisasi tetanus toksoid (TT). Gunanya pada antenatal dapat
menurunkan kemungkinan kematian bayi karena tetanus. Ia juga dapat
mencegah kematian ibu yang disebabkan oleh tetanus. Terutama
imunisasi tetanus untuk melindungi bayi terhadap penyakit tetanus
neonatorum. Imunisasi dilakukan pada trimester I / II pada kehamilan 3
5 bulan dengan interval minimal 4 minggu. Lakukan suntikan secara
IM (intramuscular) dengan dosis 0,5 mL. imunisasi yang lain dilakukan
dengan indikasi yang lain.
Menurut WHO seorang ibu tidak pernah diberikan imunisasi
tetanus, sedikitnya 2x injeksi selama kehamilan ( I pada saat kunjungan
antenatal I dan II pada 2 minggu kemudian )
Jadwal pemberian suntikan tetanus adalah :
TT 1 selama kunjungan antenatal I
TT 2 4 minggu setelah TT 1
TT 3 6 minggu setelah TT 2
TT 4 1 tahun setelah TT 3
TT 5 1 tahun setelah TT 4
Karena imunisasi ini sangat penting, maka setiap ibu hamil
hendaknya mengetahui dan mendapat informasi yang benar tentang
imunisasi TT. Petugas kesehatan harus berusaha program ini terlaksana
maksimal dan cepat.
12) Persiapan persalinan dan laktasi
Salah satu persiapan persalinan adalah meningkatkan kesehatan
optimal dan segera dapat memberikan laktasi. Untuk mempersiapkan
laktasi, peerlu dilakukan persiapan perawatan payudara untuk persiapan
laktasi. Persiapan mental dan fisik yang cukup membuat proses
menyusui menjadi mudah dan menyenangkan.
Payudara adalah sumber ASI yang merupakan makanan utama
bagi bayi, yang perlu diperhatikan dalam persiapan laktasi adalah :
Bra harus sesuai dengan pembesaran payudara yang sifatnya
menyokong payudara dari bawah, bukan menekan dari depan
Sebaliknya ibu hamil masuk dalam kelas bimbingan persiapan
menyusui.
Penyuluhan (audio-visual) tentang :
Keunggulan ASI dan kerugian susu botol
Manfaat rawat gabung
Perawatan bayi
Gizi ibu hamil dan menyusui
Keluarga berencana,dll
Dukungan psikologis pada ibu untuk menghadapi persalinan dan
keyakinan dalam keberhasilan menyusui
Pelayanan pemeriksaan payudara dan senam hamil
Persiapan psikologis untuk ibu menyusui berupa sikap ibu
dipengaruhi oleh faktor-faktor :
Adat istiadat / kebiasaan / kebiasaan menyusui di daerah masing-
masing
Pengalaman menyusui sebelumnya / pengalaman menyusui dalam
keluarga / tidak
Pengetahuan tentang manfaat ASI, kehamilan yang diinginkan atau
tidak
Dukungan dari tenaga kesehatan, teman atau kerabat dekat.
13) Perawatan gigi
Untuk mencegah caries selama hamil (selain pemeriksaan pada
awak kehamilan) yaitu dengan :
Menyikat gigi secara teratur
Melakukan flosi antara gigi-gigi
Membilas mulut dengan air sesudah makan atau minum
Gunakan pencuci mulut yang bersifat alkali/basa untuk
mengimbangi reaksi
saliva yang bersifat asam selama kehamilan yang menyuburkan
pertumbuhan bakteri penghancur dan email.
14) Support Emosional
Faktor yang berhubungan dengan ibu hamil:
Dukungan kepada bumil dan nifas
Dukungan dari tenaga kesehatan (nakes)
Menciptakan rasa aman dan nyaman selama hamil dan nifas
Persiapan menjadi orang tua
Mempersiapkan saudara (sibling)
Dukungan kepada ibu hamil dan nifas
Wanita yang telah/belum dianugerahi anak disaat menginginkan
hamil/dalam menghadapi kehamilan dan bersalin membutuhkan
dukungan, diantaranya dari:
Dukungan suami
Dukungan keluarga
Dukungan lingkungan (Ari, 2009).
2.2 KETUBAN PECAH DINI/PREMATURE RUPTURE OF MEMBRANE
(PROM)

2.2.1 Pengertian KPD/PROM

Ketuban pecah dini adalah pecahnya selaput ketuban sebelum ada


tanda-tanda persalinan (sudarti, 2014).
Ketuban pecah dini adalah keadaan pecahnya selaput ketuban
sebelum persalinan. Hal ini dapat terjadi pada akhir kehamilan maupun
jauh sebelum waktunya melahirkan. KPD preterm adalah KPD sebelum
usia kehamilan 37 minggu. KPD yang memanjang adalah KPD yang
terjadi lebih dari 12 jam sebelum waktunya melahirkan (Sarwono, 2014).
2.2.2 Faktor Predisposisi
Penyebab ketuban pecah dini adalah sebagai berikut:

1. Serviks inkompeten
Inkompetensia serviks adalah istilah untuk menyebut kelainan pada
otot-otot leher atau leher rahim (serviks) yang terlalu lunak dan lemah,
sehingga sedikit membuka ditengah-tengah kehamilan karena tidak
mampu menahan desakan janin yang semakin besar.Adalah serviks
dengan suatu kelainan anatomi yang nyata, disebabkanlaserasi
sebelumnya melalui ostium uteri atau merupakan suatu kelainan
congenital pada serviks yang memungkinkan terjadinya dilatasi
berlebihantanpa perasaan nyeri dan mules dalam masa kehamilan
trimester kedua atau awal trimester ketiga yang diikuti dengan
penonjolan dan robekan selaput janin serta keluarnya hasil konsepsi
2. Ketegangan Rahim berlebihan: kehamilan kembar, hidramnion
3. Kelainan letak janin dalam rahim: letak sungsang, letak lintang
4. Kemungkinan kesempitan panggul: perut gantung, bagian terendah
belum masuk PAP, disproporsi sefalopelvik
5. Kelainan bawaan dari selaput ketuban
6. Korioamniosis yaitu infeksi selaput ketuban. Biasanya disebabkan
oleh penyebaran organism vagina ke atas.
7. Riwayat ketuban pecah dini pada kehamilan sebelumnya
8. Karena trauma, karena jatuh, coitus atau alat-alat
9. Merokok (Yulaikhah, 2006).
2.2.3 Tanda dan gejala KPD
Tanda-tanda dan gejala ketuban pecah dini menurut Nugraha (2010),
antara lain :
1. Tanda yang terjadi adalah keluarnya cairan ketuban merembes melalui
vagina.
2. Aroma air ketuban berbau amis dan tidak seperti bau amoniak,
mungkin cairan tersebut masih merembes atau menetes, dengan ciri
pucat dan bergaris warna darah. Biasanya agak keruh dan bercampur
dengan lanugo (rambut halus pada janin) serta mengandung verniks
caseosa (lemak pada kulit bayi).
3. Cairan ini tidak akan berhenti atau kering karena terus diproduksi
sampai kelahiran. Tetapi bila ibu duduk atau berdiri, kepala janin yang
sudah terletak di bawah biasanya mengganjal atau menyumbat
kebocoran untuk sementara.
4. Bercak vagina banyak, nyeri perut, denyut jantung janin bertambah
cepat merupakan tanda-tanda infeksi yang terjadi.

2.2.4 Patofisiologis

Ketuban pecah dalam persalinan secara umum disebabkan oleh


kontraksi uterus dan peregangan berulang. Selaput ketuban pecah karena
pada daerah tertentu terjadi perubahan biokimia yang menyebabkan
selaput ketuban inferior rapuh, bukan karena seluruh selaput ketuban
rapuh. Terdapat keseimbangan antara sintesis dan degradasi ekstraselular
matriks. Perubahan struktur, jumlah sel, dan katabolisme kolagen
menyebabkan aktivitas kolagen berubah dan menyebabkan selaput ketuban
pecah.

Mendekati waktu persalinan, keseimbangan antara MMP dan


TIMP-1 mengarah pada degradasi proteolitik dari matriks ekstraseluler
dan membrane janin. Aktivitas degradasi proteolitik ini meningkat
menjelang persalinan. Pada penyakit periodonititis di mana terdapat
peningkatan MMP, cenderung terjadi Ketuban Pecah Dini.

Selaput ketuban sangat kuat pada kehamilan muda. Pada trimester


ketiga selaput ketuban mudah pecah. Melemahnya kekuatan selaput
ketuban ada hubungannya dengan pembesaran uterus, kontraksi rahim, dan
gerakan janin. Pada trimester terakhir terjadi perubahan biokimia pada
selaput ketuban. Pecahnya ketuban pada kehamilan secara aterm
merupakan hal fisiologis. Ketuban Pecah Dini pada kehamilan premature
disebabkan oleh adanya faktor-faktor eksternal, misalnya infeksi yang
menjalar dari vagina. Ketuban Pecah Dini premature sering terjadi pada
polihidramnion, inkompetenserviks. Solusio plasenta (Sarwono, 2014).

2.2.5 Diagnosis

Diagnosis ketuban pecah dini meragukan kita, apakah ketuban


benar sudah pecah atau belum. Apalagi bila pembukaan kanalis servikal
belum ada atau kecil. Penegakkan diagnosis KPD dapat dilakukan dengan
berbagai cara yang meliputi :

a. Menentukan pecahnya selaput ketuban dengan adanya cairan ketuban di


vagina.
b. Memeriksa adanya cairan yang berisi mekonium, vernik kaseosa,
rambut lanugo dan kadang-kadang bau kalau ada infeksi.
c. Dari pemeriksaan inspekulo terlihat keluar cairan ketuban dari cairan
servikalis.
d. Test nitrazin/lakmus, kertas lakmus merah berubah menjadi biru (basa)
bila ketuban sudah pecah.
e. Pemeriksan penunjang dengan menggunakan USG untuk membantu
dalam menentukan usia kehamilan, letak janin, berat janin, letak
plasenta serta jumlah air ketuban. Pemeriksaan air ketuban dengan tes
leukosit esterase, bila leukosit darah lebih dari 15.000/mm3 ,
kemungkinan adanya infeksi (Sarwono, 2014).
2.2.6 Pemeriksaan penunjang

a. Pemeriksaan laboratorium
Cairan yang keluar dari vagina perlu diperiksa warna, konsentrasi,
bau dan PHnya.
1. Tes lakmus (tes nitrazin), jika kertas lakmus merah berubah
menjadi biru ,menunjukkan adanya air ketuban (alkalis).
2. Mikroskopik (tes pakis), dengan meneteskan air ketuban pada
gelas objek dan dibiarkan kering, pemeriksaan mikroskopik
menunjukkan gambaran daun pakis.
b. Pemeriksaan ultrasonografi (USG)
Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk melihat jumlah cairan ketuban
dalam kavum uteri. Pada kasus KPD terlihat jumlah cairan ketuban
yang sedikit (Manuaba, 2012).
2.2.7 Komplikasi
Komplikasi yang biasa terjadi pada KPD meliputi :
a. Mudah terjadinya infeksi intra uterin
b. Partus premature
c. Prolaps bagian janin terutama tali pusat (Manuaba, 2012).

Menurut Sarwono (2012) terdapat tiga komplikasi utama yang terjadi


pada ketuban pecah dini yaitu:

a. Peningkatan morbiditas neonatal oleh karena prematuritas


b. Komplikasi selama persalinan dan kelahiran
c. Resiko infeksi baik pada ibu maupun janin, dimana resiko infeksi
karena ketuban yang utuh merupakan barrier atau penghalang
terhadap masuknya penyebab infeksi.
2.2.8 Penatalaksanaan
Penatalaksanaan KPD memerlukan pertimbangan usia kehamilan,
adanya infeksi pada komplikasi ibu dan janin dan adanya tanda-tanda
persalinan. Penanganan ketuban pecah dini menurut Sarwono (2010),
meliputi :
a) Konserfatif
1) Pengelolaan konserpatif dilakukan bila tidak ada penyulit (baik
pada ibu maupun pada janin) dan harus di rawat dirumah sakit.
2) Berikan antibiotika (ampicilin 4 x 500 mg atau eritromicin bila
tidak tahan ampicilin) dan metronidazol 2 x 500 mg selama 7
hari.
3) Jika umur kehamilan <32-34 minggu, dirawat selama air
ketuban masih keluar, atau sampai air ketuban tidak keluar lagi.
4) Jika usia kehamilan 32-27 minggu, belum in partu, tidak ada
infeksi, tes buss negative beri deksametason, observasi tanda-
tanda infeksi, dan kesejahteraan janin, terminasi pada
kehamilan 37 minggu.
5) Jika usia kehamilan 32-37 minggu, sudah inpartu, tidak ada
infeksi berikan tokolitik (salbutamol), deksametason, dan
induksi sesudah 24 jam.
6) Jika usia kehamilan 32-37 minggu, ada infeksi, beri antibiotik
dan lakukan induksi.
7) Nilai tanda-tanda infeksi (suhu, leukosit, tanda-tanda infeksi
intrauterin).
8) Pada usia kehamilan 32-34 minggu berikan steroid, untuk
memicu kematangan paru janin, dan kalau memungkinkan
periksa kadar lesitin dan spingomielin tiap minggu. Dosis
betametason 12 mg sehari dosis tunggal selama 2 hari,
deksametason IM 5 mg setiap 6 jam sebanyak 4 kali.
b) Aktif
1) Kehamilan >37 minggu, induksi dengan oksitosin, bila gagal
seksio sesarea. Dapat pula diberikan misoprostol 50 mg
intravaginal tiap 6 jam maksimal 4 kali.
2) Bila ada tanda-tanda infeksi berikan antibiotika dosis tinggi.
Dan persalinan diakhiri.
3) Bila skor pelvik < 5, lakukan pematangan servik, kemudian
induksi. Jika tidak berhasil, akhiri persalinan dengan seksio
sesarea
4) Bila skor pelvik > 5, induksi persalinan, partus pervaginam.

Penatalaksanaan KPD menurut Manuaba (2009) tentang


penatalaksanaan KPD adalah :

1) Mempertahankan kehamilan sampai cukup bulan khususnya


maturitas paru sehingga mengurangi kejadian kegagalan
perkembangan paru yang sehat.
2) Terjadi infeksi dalam rahim, yaitu korioamnionitis yang
menjadi pemicu sepsis, maningitis janin, dan persalinan
prematuritas.
3) Dengan perkiraan janin sudah cukup besar dan persalinan
diharapkan berlangsung dalam waktu 72 jam dapat diberikan
kortikosteroid, sehingga kematangan paru janin dapat terjamin.
4) Pada umur kehamilan 24-32 minggu yang menyebabkan
menunggu berat janin cukup, perlu dipertimbangkan untuk
melakukan induksi persalinan, dengan kemungkinan janin
tidak dapat diselamatkan.
5) Menghadapi KPD, diperlukan penjelasan terhadap ibu dan
keluarga sehingga terdapat pengertian bahwa tindakan
mendadak mungkin dilakukan dengan pertimbangan untuk
menyelamatkan ibu dan mungkin harus mengorbankan
janinnya.
6) Pemeriksaan yang penting dilakukan adalah USG untuk
mengukur biparietal dan perlu melakukan aspirasi air ketuban
untuk melakukan pemeriksaan kematangan paru.
7) Waktu terminasi pada kehamilan aterm dapat dianjurkan
selang waktu 6-24 jam bila tidak terjadi his spontan.
2.3 PRESENTASI BOKONG/LETAK SUNGSANG
2.3.1 Pengertian
Letak sungsang merupakan keadaan dimana janin terletak memanjang
dengan kepala di fundus uteri dan bokong berada di bagian bawah kavum
uteri (Sarwono, 2014).
Letak sungsang adalah janin yang letaknya memanjang (membujur) dalam
rahim, kepala berada di fundus dan bokong di bawah (Sofian, 2011).

2.3.2 Klasifikasi letak sungsang


1. Presentasi bokong murni (frank breech) Yaitu letak sungsang dimana
kedua kaki terangkat ke atas sehingga ujung kaki setinggi bahu atau
kepala janin.
2. Presentasi bokong kaki sempurna (complete breech) Yaitu letak
sungsang dimana kedua kaki dan tangan menyilang sempurna dan di
samping bokong dapat diraba kedua kaki.
3. Presentasi bokong kaki tidak sempurna (incomplete breech) Yaitu letak
sungsang dimana hanya satu kaki di samping bokong, sedangkan kaki
yang lain terangkat ke atas. (Kasdu, 2005).
2.3.2 Diagnosis
Diagnosis letak sungsang yaitu pada pemeriksaan luar kepala tidak
teraba di bagian bawah uterus melainkan teraba di fundus uteri. Kadang-
kadang bokong janin teraba bulat dan dapat memberi kesan seolah-olah
kepala, tetapi bokong tidak dapat digerakkan semudah kepala. Seringkali
wanita tersebut menyatakan bahwa kehamilannya terasa lain daripada
yang terdahulu, karena terasa penuh di bagian atas dan gerakan terasa
lebih banyak di bagian bawah. Denyut jantung janin pada umumnya
ditemukan setinggi atau sedikit lebih tinggi daripada umbilicus. Apabila
diagnosis letak sungsang dengan pemeriksaan luar tidak dapat dibuat,
karena misalnya dinding perut tebal, uterus mudah berkontraksi atau
banyaknya air ketuban, maka diagnosis ditegakkan berdasarkan
pemeriksaan dalam. Apabila masih ada keragu-raguan, harus
dipertimbangkan untuk melakukan pemeriksaan ultrasonografik.
Setelah ketuban pecah, dapat diraba lebih jelas adanya bokong
yang ditandai dengan adanya sacrum, kedua tuber ossis iskii, dan anus.
Bila dapat diraba kaki, maka harus dibedakan dengan tangan. Pada kaki
terdapat tumit, sedangkan pada tangan ditemukan ibu jari yang letaknya
tidak sejajar dengan jari-jari lain dan panjang jari kurang lebih sama
dengan panjang telapak tangan. Pada persalinan lama, bokong janin
mengalami edema, sehingga kadang-kadang sulit untuk membedakan
bokong dengan muka.
Pemeriksaan yang teliti dapat membedakan antara bokong dengan
muka karena jari yang akan dimasukkan ke dalam anus mengalami
rintangan otot, sedangkan jari yang dimasukkan ke dalam mulut akan
meraba tulang rahang dan alveola tanpa ada hambatan. Pada presentasi
bokong kaki sempurna, kedua kaki dapat diraba di samping bokong, 9
sedangkan pada presentasi bokong kaki tidak sempurna, hanya teraba satu
kaki di samping bokong (Sarwono, 2014).
2.3.3 Etiologi
Letak janin dalam uterus bergantung pada proses adaptasi janin
terhadap ruangan didalam uterus. Pada kehamilan sampai kurang lebih 32
minggu, jumlah air ketuban relative lebih banyak, sehingga
memungkinkan janin bergerak dengan leluasa. Dengan demikian janin
dapat menempatkan diri dalam presentasi kepala, letak sungsang, ataupun
letak lintang.
Pada kehamilan triwulan terakhir janin tumbuh dengan cepat dan
jumlah air ketuban relative berkurang. Karena bokong dengan kedua
tungkai yang terlipat lebih besar daripada kepala, maka bokong dipaksa
menempati ruang yang lebih luas di fundus uteri, sedangkan kepala berada
dalam ruangan yang lebih kecil di segmen bawah uterus. Dengan demikian
dapat dimengerti mengapa pada kehamilan belum cukup bulan, frekuensi
letak sungsang lebih tinggi, sedangkan pada kehamilan cukup bulan, janin
sebagian besar ditemukan dalam presentasi kepala.
Faktor-faktor lain yang memegang peranan dalam terjadinya letak
sungsang diantaranya adalah multiparitas, hamil kembar, hidramnion,
hidrosefalus, plasenta previa, dan panggul sempit. Kadang-kadang letak
sungsang disebabkan karena kelainan uterus dan kelainan bentuk uterus.
Plasenta yang terletak di daerah kornu fundus uteri dapat pula
menyebabkan letak sungsang karena plasenta mengurangi luas ruangan di
daerah fundus (Sarwono, 2014).
2.3.4 Cara Persalinan Sungsang
1) Pervaginam
Persalinan letak sungsang dengan pervaginam mempunyai syarat
yang harus dipenuhi yaitu pembukaan benar-benar lengkap, kulit
ketuban sudah pecah, his adekuat dan tafsiran berat badan janin < 3600
gram. Terdapat situasi-situasi tertentu yang membuat persalinan
pervaginam tidak dapat dihindarkan yaitu ibu memilih persalinan
pervaginam, direncanakan bedah sesar tetapi terjadi proses persalinan
yang sedemikian cepat, persalinan terjadi di fasilitas yang tidak
memungkinkan dilakukan bedah sesar, presentasi bokong yang tidak
terdiagnosis hingga kala II dan kelahiran janin kedua pada kehamilan
kembar.
Persalinan pervaginam tidak dilakukan apabila didapatkan kontra
indikasi persalinan pervaginam bagi ibu dan janin, presentasi kaki,
hiperekstensi kepala janin dan berat bayi > 3600 gram, tidak adanya
informed consent, dan tidak adanya petugas yang berpengalaman
dalam melakukan pertolongan persalinan (Sarwono, 2014).
a) Persalinan spontan (spontaneous breech)
Yaitu janin dilahirkan dengan kekuatan dan tenaga ibu sendiri (cara
bracht). Pada persalinan spontan bracht ada 3 tahapan yaitu tahapan
pertama yaitu fase lambat, fase cepat, dan fase lambat.
b) Manual aid (partial breech extraction)
Janin di lahirkan sebagian dengantenaga dan kekuatan ibu,
sebagian lagi dengan tenaga penolong. Cara melahirkan bahu
menurut : Muller, Klasik, Lovset, Bickenbach, Potter. Cara
melahirkan kepala menurut : Mariceau-Veit-Smellie, De Snoo,
Wigand-Martind-Winckel, Naujoks, Prague terbalik, forcep Pfiper.
c) Ekstraksi bokong (total breech extraction) Janin di lahirkan
seluruhnya dengan memakai tenaga penolong.
2) Perabdominam
Memperhatikan komplikasi persalinan letak sungsang melalui
pervaginam, maka sebagian besar pertolongan persalinan letak
sungsang dilakukan dengan seksio sesarea. Pada saat ini seksio sesarea
menduduki tempat yang sangat penting dalam menghadapi persalinan
letak sungsang. Seksio sesarea direkomendasikan pada presentasi kaki
ganda dan panggul sempit (Sarwono, 2014).
Seksio sesarea bisa dipertimbangkan pada keadaan ibu yang primi
tua, riwayat persalinan yang jelek, riwayat kematian perinatal, curiga
panggul sempit, ada indikasi janin untuk mengakhiri persalinan
(hipertensi, KPD >12 jam, fetal distress), kontraksi uterus tidak
adekuat, ingin steril, dan bekas SC. Sedangkan seksio sesarea bias
dipertimbangkan pada bayi yang prematuritas >26 minggu dalam fase
aktif atau perlu dilahirkan, IUGR berat, nilai social janin tinggi,
hiperekstensi kepala, presentasi kaki, dan janin >3500 gram (janin
besar) (Cunningham, 2005).
2.3.5 Penatalaksanaan Letak Sungsang

Dalam Kehamilan.
Pada umur kehamilan 28-30 minggu ,mencari kausa daripada letak
sungsang yakni dengan USG; seperti plasenta previa, kelainan kongenital,
kehamilan ganda, kelainan uterus. Jlka tidak ada kelainan pada hasil USG,
maka dilakukan knee chest position atau dengan versi luar (jika tidak ada
kontraindikasi) .
Versi luar sebaiknya dilakukan pada kehamilan 34-38 minggu.
Pada umumnya versi luar sebelum minggu ke 34 belum perlu dilakukan
karena kemungkinan besar janin masih dapat memutar sendiri, sedangkan
setelah minggu ke 38 versi luar sulit dilakukan karena janin sudah besar
dan jumlah air ketuban relatif telah berkurang.Sebelum melakukan versi
luar diagnosis letak janin harus pasti sedangkan denyut jantung janin harus
dalam keadaan baik. Kontraindikasi untuk melakukan versi luar; panggul
sempit, perdarahan antepartum, hipertensi, hamil kembar, plasenta previa
(1,2,4). Keberhasilan versi luar 35-86 % (rata-rata 58 %). Peningkatan
keberhasilan terjadi pada multiparitas, usia kehamilan, frank breech, letak
lintang. Newman membuat prediksi keberhasilan versi luar berdasarkan
penilaian seperti Bhisop skor (Manuaba, 2010).

2.6 Komplikasi letak sungsang


Selain berbagai kesulitan yang disebutkan, komplikasi lainnya
dapat terjadi, yang sebagian besar mempengaruhi janin. Banyak
komplikasi tersebut dapat dihindari apabila persalinan ditangani oleh
operator yang berpengalaman, atau pelajar yang diawasi dengan ketat,
untuk melahirkan bayi tersebut.
a. Impaksi bokong
Persalinan menjadi macet jika janin berukuran terlalu besar untuk
pelvis maternal.
b. Prolaps tali pusat
Hal ini sering terjadi pada presentasi bokong fleksi atau bokong kaki
karena presentasi ini memiliki bagian presentasi yang tidak pas.
c. Cedera lahir.
d. Hipoksia janin
Hal ini dapat terjadi akibat prolaps tali pusat atau kompresi tali pusat
atau plasenta terlepas sebelum waktunya.
a. Plasenta terlepas sebelum waktunya
Retraksi yang cukup kuat pada uterus terjadi pada saat kepala masih
berada di dalam vagina dan plasenta mulai terlepas. Keterlambatan
kelahiran kepala yang lama dapat menyebabkan hipoksia berat pada
janin.
b. Trauma maternal
Komplikasi maternal akibat kelahiran presentasi bokong sampai
dengan komplikasi pelahiran per vagina operatif lainnya (Fraser,
2009).
2.4 OLIGOHIDRAMNION
2.4.1 Pengertian
Oligohidramnion adalah suatu keadaan dimana air ketuban kurang
dari normal, yaitu kurang dari 500 cc (manuaba, 2012).
Oligohidramnion adalah berkurangnya volume cairan amnion
setelah gestasi 36 minggu dan jumlah yang tersisa mungkin hanya 100 ml
sampai 200 ml yaitu jika hasil pengukuran menggunakan indeks cairan
amnion di bawah batas normal (Cunningham, 2005).
Menurut Mark dan Divon (1992) mendefinisikan oligohidramnion
sebagai indeks cairan amnion sebesar 5 cm atau kurang pada 12 persen
dari 511 kehamilan berusia 41 minggu atau lebih.
2.4.2 Etiologi
Etiologi belum jelas, tetapi disangka ada kaitannya dengan renal
agenosis janin. Etiologi primer lainnya mungkin oleh karena amnion kurang
baik pertumbuhannya dan etiologi sekunder lainnya, misalnya pada ketuban
pecah dini. (Mochtar,1998)
Oligohidramnion berkaitan dengan kelainan ginjal janin, trisomi 21
atau 13, atau hipoksia janin. Penyebab rendahnya cairan ketuban seperti,
adalah:
- Adanya masalah dengan perkembangan ginjal atau saluran kemih bayi
(obstruksi orifisium uretra eksterna janin) yang menyebabkan produksi air
seninya sedikit, hal ini akan membuat volume cairan ketuban rendah.
- Adanya masalah pada plasenta, karena jika plasenta tidak memberikan
darah dan nutrisi yang cukup untuk bayi akan memungkinkan ia untuk
berhenti mendaur ulang cairan.
- Ada kebocoran atau pecahnya dinding ketuban yang membuat air ketuban
keluar dari rahim.
- Usia kehamilan sudah melewati batas, hal ini menyebabkan turunnya
fungsi plasenta yang membuat cairan ketuban berkurang.
- Adanya komplikasi pada sang ibu, misalnya dehidrasi, hipertensi, pre-
eklamsia, diabetes dan hipoksia kronis.
Selain itu, penyebab Oligohidramnion dapat dibagi menjadi empat,yaitu:
1. Janin
Kromosom
Anomali Kongenital
Hambatan pertumbuhan janin dalam rahim
Kematian
Kehamilan postterm
Premature ROM (Rupture of amniotic membranes) / Pecahnya
selaput ketuban
2. Plasenta
Solusio
Tranfusi antar - kembar
3. Ibu
Dehidrasi
Insufisiensi uteroplasental
Preeklamsia
Diabetes
Hypoxia kronis
Hipertensi
4. Induksi Obat :
Inhibitor prostaglandin Sintase
Inhibitor enzim pengubah angiostensin (Cunningham, 2005).

2.4.3 Tanda dan Gejala


Tanda
Janin dapat diraba dengan mudah
Tidak ada efek pantul(ballotement)
Penambahan tinggi fundus uteri berlangsung lambat
Uterus tampak lebih kecil dari usia kehamilan dan tidak ada
ballotemen.
Bunyi jantung anak sudah terdengar mulai bulan kelima dan terdengar
lebih jelas.
Persalinan berlangsung dalam waktu yang cukup lama.
Gejala
Ibu merasa nyeri di perut pada setiap pergerakan anak.
Sewaktu his akan sakit sekali.
Ibu yang sebelumnya pernah hamil dan normal, akan mengeluhkan
adanya penurunan gerakan janin

2.4.4 Patofisiologi
Fisiologi Normal :
Volume air ketuban meningkat secara bertahap pada kehamilan
dengan volume sekitar 30 mL pada kehamilan 10 minggu dan mencapai
puncaknya sekitar 1 L pada kehamilan 34-36 minggu. Volume air ketuban
menurun pada akhir trimester pertama dengan volume sekitar 800 mL pada
minggu ke-40. Berkurang lagi menjadi 350 ml pada kehamilan 42 minggu;
dan 250 ml pada kehamilan 43 minggu. Tingkat penurunan sekitar 150
mL/minggu pada kehamilan 38 - 43 minggu.
Pengaturan volume cairan amnion adalah proses dinamis yang
mencerminkan keseimbangan antara produksi dan absorbsi cairan. Cairan
amnion mengalami sirkulasi dengan tingkat pertukaran sekitar 3600
mL/jam.
Secara umum, oligohidramnion berhubungan dengan :
1. Ruptur membran amnion / Rupture of amniotic membranes (ROM)
2. Gangguan congenital dari jaringan fungsional ginjal atau obstructive
uropathy :
Keadaankeadaan yang mencegah pembentukan urin atau
masuknya urin ke kantung amnion
Fetal urinary tract malformations, seperti renal agenesis, cystic
dysplasia, dan atresia uretra
Reduksi kronis dari produksi urin fetus sehingga menyebabkan
penurunan perfusi renal
Sebagai konsekuensi dari hipoksemia yang menginduksi
redistribusi cardiac output fetal
Pada growth-restricted fetuse, hipoksia kronis menyebabkan
kebocoran aliran darah dari ginjal ke organ-organ vital lain
Anuria dan oliguria
3. Postterm gestation
Penurunan efisiensi fungsi plasenta, namun belum diketahui secara
pasti
Penurunan aliran darah ginjal fetus dan penurunan produksi urin
fetus
Oligohidramnion juga berhubungan dengan Sindroma Potter dan
Fenotip Potter yaitu suatu keadaan kompleks yang berhubungan dengan
gagal ginjal bawaan.
Fenotip Potter digambarkan sebagai suatu keadaan khas pada bayi
baru lahir, dimana cairan ketubannya sangat sedikit atau tidak ada.
Oligohidramnion menyebabkan bayi tidak memiliki bantalan terhadap
dinding rahim. Tekanan dari dinding rahim menyebabkan gambaran wajah
yang khas (wajah Potter). Selain itu, karena ruang di dalam rahim sempit,
maka anggota gerak tubuh menjadi abnormal atau mengalami kontraktur
dan terpaku pada posisi abnormal.
Oligohidramnion juga menyebabkan terhentinya perkembangan paru-
paru (paru-paru hipoplastik), sehingga pada saat lahir, paru-paru tidak
berfungsi sebagaimana mestinya. Pada sindroma Potter, kelainan yang
utama adalah gagal ginjal bawaan, baik karena kegagalan pembentukan
ginjal (agenesis ginjal bilateral) maupun karena penyakit lain pada ginjal
yang menyebabkan ginjal gagal berfungsi.

2.4.5 Diagnosis
Oligohidramnion harus dicurigai jika TFU lebih rendah secara
bermakna dibandingkan yang diharapkan pada usia gestasi tersebut.
Penyebab oligohidramnion adalah absobrsi atau kehilangan cairan yang
meningkat karena KPD sehingga menyebabkan 50% kasus
oligohidramnion
Diagnosa dibuat dengan pemeriksaan USG yaitu dengan mengukur
indeks cairan ketuban. Amniotic fluit index (AFI) tetapi secara klinis
(dengan pemeriksaan fisik) bisa di duga dengan : pengukuran tinggi
fundus uteri dan palpasi. Namun hal ini hanya berupa asumsi saja, tetapi
harus di konfirmasi melalui pemeriksaan USG. USG juga bisa melihat
anatomi janin untuk melihat kelainan seperti ginjal yang tidak tumbuh (
dengan tidak terlihatnya urin pada kandung kemih janin ) serta untuk
mengetahui adanya gangguan pertumbuhan janin. Pemeriksaan dengan
speculum dapat di lakukan guna mendeteksi adanya kebocoran air ketuban
akibat pecahnya air ketuban.
Jika terjadi oligohidramnion sebelum cukup bulan, dilakukan
secara ekspektatif tergantung kondisi bayi dan ibu, sedangkan jika terjadi
pada bumil cukup bulan, dilakukan pengakhiran kehamilan sesuai dengan
kondisi kematangan leher rahim, jika sudah matang di lakukan induksi
persalinan.
2.4.6 Pemeriksaan penunjang
Untuk mengetahui oligohidramnion dengan jelas dapat dilakukan
tindakan amnioskopi dengan alat khusus amnioskop.
Indikasi amnioskopi adalah :
Usia kehamilan sudah di atas 37 minggu
Terdapat preeclampsia-berat atau eklampsia
Bad obstetrics history
Terdapat kemungkinan IUGR
Kelainan ginjal
Kehamilan post date
Teknik diagnosis oligohidramnion dapat mempergunakan ultrasonografi
yang dapat menentukan :
Amniotic fluid index (AFI) kurang dari 5 cm
AFI kurang dari 3 cm disebut moderate oligohidramnion
AFI kurang dari 2-1 cm disebutnya severe oligohidramnion
Pemeriksaan yang biasa dilakukan:
USG ibu (menunjukkan oligohidramnion serta tidak adanya ginjal
janin atau ginjal yang sangat abnormal)
Rontgen perut bayi
Rontgen paru-paru bayi
Analisa gas darah (Manuaba, 2012).

2.4.7 Penatalaksanaan
1. Tindakan Konservatif :
Tirah baring.
Hidrasi.
Perbaikan nutrisi.
Pemantauan kesejahteraan janin ( hitung pergerakan janin, NST,
Bpp).
Pemeriksaan USG yang umum dari volume cairan amnion.
Induksi dan kelahiran
Amnion infusion.( Dilakukan oleh dokter )
Amnioinfusi adalah tindakan pemberian infus kristaloid untuk
menggantikan cairan amnion yang berkurang secara patologis
paling sering digunakan selama persalinan untuk mencegah
kompresi tali pusat. Hasil hasil amnioinfusi intrapartum untuk
mencegah morbiditas janin akibat air ketuban tercemar mekonium,
sering kali berkaitan dengan oligohidramnion (Cunningham, Obstetri
William Edisi 21 Volume 2, 2005)
2. Penatalaksanaan bergantung pada usia kehamilan
Preterm : Mengevaluasi dan memonitor keadaan fetal dan
maternal agar tetap dalam kondisi optimal.
Aterm : Persalinan
Post-term : Persalinan
2.4.8 Komplikasi
a) Oligohidramnion menyebabkan tekanan langsung pada janin:
Deformitas janin :
Leher terlalu menekuk miring
Bentuk tulang kepala janin tidak bulat
Deformitas ekstremitas
Talipes kaki terpelintir keluar
b) Kompresi tali pusat langsung sehingga dapat menimbulkan fetal
distress.
c) Fetal distres menyebabkan makin terangsangnya nevus vagus dengan
dikeluarkannya mekonium semakin mengentalkan air ketuban
d) Oligohidramnion makin menekan dada sehingga saat lahir terjadi
kesulitan bernafas karena paru mengalami hipoplasia sampai atelektase
paru.

2.5 KEHAMILAN DENGAN BEKAS OPERASI SECTIO CAESARIA


(KONSEP DASAR SECTIO CAESARIA)
2.5.1 Pengertian
Persalianan Sc adalah suatu persalinan buatan dimana janin
dilahirkan melalui suati insisi pada dinding perut dan dinding rahim
dengan syarat rahim dalam keadaan utuh serta berat janin diatas 500 gram
(Sarwono, 2014).
Persalinan Sc adalah persalinan melalui sayatan pada dinding
abdomendan uterus yang masih utuh dengan berat janin > 1000 gram atau
UK > 28 minggu ( Manuaba, 2012),
2.5.2 Indikasi
a. Indikasi pada ibu
panggul sempit absolute
tumor jalan lahir
stenosis serviks atau vagina
plasenta previa
CPD
Ruptura Uteri
b. Indikasi pada janin
kelainan letak
gawat janin
2.5.3 Perawatan setelah operasi
Observasi dan perawatan ibu post partum ini bertujuan agar dapat
mendeteksi kejadian lebih dini, observasinya meliputi :
a) Kesadaran penderita
Pada anestesi lumbal : kesadaran penderita baik, karena ibu dapat
mengetahui hampir semua proses persalinan
Pada anestesi umum : pulihnya kesadaran oleh ahli telah diatur
dengan memberikan O2 di akhir operasi
b) Pengukuran dan pemeriksaan
Pengukuran nadi, tekanan darah, temperature dan pernapasan
mengukur keseimbangan cairan melalui produksi urine dengan
perhitungan :
o Produksi urine normal : 500-600 cc
o Pernapasan : 500-600 cc
o Penguapan Badan : 900-1000 cc
Pemberian cairan pengganti sekitar 2000-2500 ccdengan
perhitungan 20 tetes/ menit ( 1 cc/ menit )
Infus setelah operasi diberikan 1x 24 jam pertama
Mengukur TFU dan kontraksi rahim untuk menutup pembuluh
darah
memeriksa paru untuk mengetahui kebersihan jalan napas dan
ronchi basal untuk mengetahui adanya edema paru
memeriksa bising usus yang menandakan berfungsinya usus
dengan adanya flatus
Perdarahan local pada luka operasi
Perdarahan pervaginam dengan
o evaluasi pengeluaran lochea rubra
o Atonia uteri meningkatkan perdarahan
o Perdarahan berkepanjangan
Payudara : putting susu, pembengkakan, pengeluaran ASI

c) Profilaksis Antibiotik
Infeksi selalu di perhitungkan dari adanya alat yang kurang steril,
sehingga pemberian antibiotika sangat penting untuk menghindari
terjadinya sepsis sampai kematian
d) Mobilisasi Penderita
Konsep mobilisasi dini tetap merupakan landasan dasar, karena
perawatan mobilisasi dini mempunyai keuntungan
melancarkan pengeluaran lochea, mengurangi infeksi nifas
mempercepat infolusi alat kandungan
melancarkan fungsi gastrointestinal dan alt perkemihan
meningkatkan kelancaran peredaran darah, sehingga mempercepat
fungsi ASI dan pengeluaran sisa metabolism
Setelah itu sadar, ibu boleh melakukan mobilisasi dini dengan
miring kanan kiri , dan apabila ibu tidak pusing dan kondisi ibu baik,
mobilisasi bisa dianjurkan dengan duduk, bhkan bisa jalan dengan
infuse (Manuaba, 2012).
e) Rawat Gabung
Perawatan ibu dan bayi dalam satu ruangan bersama-sama,
sehingga ibu lebih banyak memperhatikan bayinya, segera dapat
memberikan ASI ( kolostrum Pertama ) sehingga kelancaran
pengeluaran ASI lebih terjamin, sehingga ikatan kasih sayang semakin
terjalin.