Anda di halaman 1dari 15

TUGAS

DESAIN PENELITIAN EPIDEMIOLOGI DESKRIPTIF


Ditulis untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Epidemiologi Analitik

Oleh:
Kurnia Bend. Yunita Pellondou

PROGRAM STUDI ILMU KESEHATAN MASYARAKAT


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS NUSA CENDANA KUPANG
2017
BAB I
Pendahuluan

A. Latar Belakang
Telah diketahui bahwa untuk dapat memelihara dan meningkatkan derajat
kesehatan, mencegah, dan mengobati penyakti serta memulihkan kesehatan
masyarakat perlulah disediakan dan diselenggarakan pelayanan kesehatan
masyarakat (public health servies) yang sebaik-baiknya. Untuk dapat
menyediakan dan meyelenggarakan pelayanan kesehtan tersebut, banyak yang
harus diperhatikan, yang paling penting adalah pelayanan kesehatan yang
dimaksud harus sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Namun sekalipun terdapat
kesesuaian seperti ini telah menjadi kesepakatan semua pihak, namun dalam
praktek sehari-hari tidaklah mudah dalam menyediakan dan menyelenggarakan
pelayanan kesehatan yang dimaksud.
Untuk mengatasinya, telah diperoleh semacam kesepakatan bahwa
perumusan kebutuhan kesehatan dapat dilakukan jika diketahui masalah kesehatan
dimasyarakat. Dengan kesepakatan yang seperti ini diupayakanlah menemukan
masalah kesehatan yang ada dimasyarakat tersebut. Demikianlah, berpedoman
pada kesepakatan yang seperti ini, dilakukan berbagai upaya untuk menemukan
serta merumuskan masalah kesehatan dimasyarakat. Upaya tersebut dikaitakan
dengan menentukan frekuensi, peyebaran serta factor-faktor yang mempengaruhui
frekuensi dan penyebaran disuatu masalah kesehatan dimasyarakat tercakup dalam
suatu cabang ilmu khusus yang disebut dengan nama Epidemiologi.
Subjek dan objek epidemiologi adalah tentang masalah kesehatan.
Ditinjau dari sudut epidemiologi, pemahaman tentang masalah kesehatan berupa
penyakit sangatlah penting. Karena sebenarnya berbagai masalah kesehatan yang
bukan penyakit hanya akan mempunyai arti apabila ada hubungannya dengan soal
penyakit, maka pada lazimnya Masalah kesehatan tersebut tidak terlalu
diprioritaskan penanggulangannya. Demikianlah karena pentingnya soal penyakit
ini, maka perlulah dipahami dengan sebaik-baiknya hal ikhwal yang berkaitan
dengan penyakit tersebut. Kepentingan dalam epidemiologi paling tidak untuk
mengenal ada atau tidaknya suatu penyakit dimasyarat sedemikian rupa sehingga
ketika dilakukan pengukuran tidak ada yang sampai luput atau tercampur dengan
penyakit lainnya yang berbeda.
BAB II
TINJAUAN TEORI

Epidemiologi deskriptif mendeskripsikan distribusi penyakit pada populasi,


berdasarkan karakteristik dasar individu, seperti umur, jenis kelamin, pekerjaan, kelas
sosial, status perkawinan, tempat tinggal dan sebagainya, serta waktu. Epidemiologi
deskriptif juga dapat digunakan untuk mempelajari perjalanan alamiah penyakit
(Murti,1997). Dari komponen penting yang ada dalam epidemiologi yang termasuk
kedalam desain studi epidemiologi deskriptif yaitu frekuensi masalah Penyebaran
masalah kesehatan (Setyawan, 2008).
Desain penelitian mencakup semua proses yang diperlukan dalam
perencanaan dan pelaksanaan pada sebuah penelitian, sangat penting dalam riset
epidemiologi karena desain penelitian merupakan struktur konseptual yang diperlukan
peneliti untuk menjalankan riset dan merupakan blueprint yang diperlukan untuk
mengumpulkan, mengukur, dan menganalisis data dengan koefisien (Kothari, 1990).
Desain penelitian akan sangat membantu bagi peneliti untuk dapat menerjemahkan
hipotesis konseptual yang abstrak menjadi hipotesis operasional yang terinci, specifik,
terukur sehingga siap untuk diuji.
Tujuan epidemiologi deskriptif:
1) Memberikan informasi tentang distribusi penyakit, besarnya beban penyakit, dan
kecenderungan penyakit pada populasi, yang berguna dalam perencanaan dan
alokasi sumber daya untuk intervensi kesehatan.
2) Memberikan pengetahuan tentang riwayat alamiah penyakit.
3) Merumuskan hipotesis tentang paparan sebagai faktor risiko/ kausa penyakit
(Murti, 1997).
Ciri-ciri dari desain epidemiologi deskriptif:
a) Hanya ada 1 kelompok studi
b) Mengukur insidensi atau prevalensi
c) Menggambarkan distribusi penyakit menurut variabel tempat, orang dan waktu.
d) Tidak ada kesimpulan tentang hubungan antara ekposure dan outcome
e) Informasi yang diperoleh dapat mengarahkan suatu eksposure dengan outcome
tertentu.
f) Penyajian dilakukan dengan grafik, tabel, spot-map dan sebagainya (Pramono,
2011).
Upaya mencari frekuensi distribusi penyakit berdasarkan epidemiologi deskriptif
dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan :
a) Siapa yang terkena?
b) Bilamana hal tersebut terjadi?
c) Bagaimana terjadinya?
d) Dimana kejadian tersebut?
e) Berapa jumlah orang yang terkena?
f) Bagaimana penyebarannya?
g) Bagaimana ciri-ciri orang yang terkena?
Berdasarkan unit pengamatan/analisis epidemiologi deskriptif dibagi 2 kategori :
a) Populasi : Studi Korelasi Populasi, Rangkaian Berkala (time series).
b) Individu : Laporan Kasus (case report), Rangkaian Kasus (case series), Studi
Potong Lintang (Cross-sectional).
2.1 Laporan Kasus (case report)
Laporan kasus merupakan mata rantai yang esesnsial antara kedokteran
klinis dan kesehatan masyarakat. Pendidikan kedokteran klinis yang
berkesinambungan sering menggunakan format laporan kasus untuk
memudahkan komunikasi diantara penyedia layanan kesehatan atau untuk
pengajaran mahasiswa. Namun laporan kasus pada pendidikan kedokteran klinis
sedikit berbeda dengan laporan kasus di dalam epidemiologi deskriptif. Studi ini
bersifat observasional.
Pada metode epidemiologi, klinisi yang lihai mencatat yang ganjil
dalam kemunculan pasien tertentu atau adanya kalster kejadian yang tifak
biasa. Namun, apa yang mebuat sesuatu menjadi ganjil atau tidak biasa? Ada
beberapa petunjuk yang dapat menarik perhatian seseorang, yaitu :
1. Kehadiran penyakit pada populasi yang tidak biasa. Misalnya, PCP yang
menjangkit lansia, pasien luluh imun, tetapi jarang terlihat pada populasi
anak muda yang sehat
2. Kehadiran gejala atau penyakit yang tidak dikenal sebelumnya
3. Kehadiran penyakit yang lebih atau kurang para dari kejadian sebelumnya,
atau penyakit dengan karakteristik yang berbeda dari sebelumnya ( seperti
resistensi genetik terhadap obat, kegagalan penanganan dengan standar
terapi, perawatan, dll).
4. Kehadiran penyakit yang ditularkan dengan cara yang tidak umum atau
tidak diperkirakan sebelumnya
5. Klaster (temporal atau geospasial) penderita penyaikit yang tidak biasa
Laporan kasus sering dikomunikasikan dalam satu fasilitas, tetapi dapat
juga disebarluaskan melalui jurnal yang ditinjau oleh para ahli, Badan-
badan pemerintah yang mengawasi pelajanan klinis (miss; badan
peninjauan rumah sakit), atau lembaga pemerintah (mis; Centers for
Disaese Control and Prevention, depertemen kesehatan). Laporan
disebarkan, tergantung kebutuhan, dalam praktisi kedokteran dan lembaga
kesehatan masyarakat lain. Dari laporan kasus, dapat dilakukan
penelusuran kasus-kasus yang serupa dan rekomendasikan prosedur
diagnosisnya jika penyedia jasa pelayanan menemukan kasus tersebut
dikemudian hari. Hal itu membantu penyelenggaraan aksi kesehatan
masyarakat, jika diperlukan.

2.1.1 Kelebihan dan Kelemahan


Kelebihan
a) Langkah awal untuk mempelajari suatu penyakit
b) Jembatan antara penelitian klinis dan penelitian epidemilogi
c) Dasar penelitian lebih lanjut
Kelemahan
a) Hanya berdasarkan kasus-kasus yang dilaporkan saja.
b) Gambaran distribusi, frekuensi yang diperoleh tidak dapat mewakili populasi
2.1.2 Tujuan :
a) Diperoleh informasi tentang distribusi frekuensi penyakit/masalah kesehatan
yang diteliti.
b) Diperoleh informasi tentag kelompok yang berisiko tinggi terhadap penyakit
c) Dapat dipakai untuk membangun hipotesis baru
2.1.3 Ciri khas:
a) Satu kasus diteliti oleh beberapa pengamat, digali informasi secara mendalam
meliputi berbagai aspek yang cukup luas degan menggunakan berbagai tehnik
untuk mendapatkan karakteristik kasus
b) Biasanya dilakukan terhad kasus penyakit yang baru atau jarang
c) Hasil yang diharapkan berupa definisi kasus
2.1.4 Contoh Kasus laporan kasus (Case Report)
sebuah publikasi melaporkan seorang wanita muda mengkonsumsi kontrasepsi oral
dan menderita embolisme paru.
2.2 Studi Seri Waktu (case series)
Studi seri waktu disebut juga serial kasus, serial kasus sama seperti laporan
kasus, namun ada perbedaan dalam jumlah kasus yang diteliti. Serial kasus biasanya
meneliti lebih dari satu kasus, sedangkan laporan kasus biasanya hanya mengkaji satu
kasus.
2.2.1 Kelebihan dan Kekurangan
Kelebihan
a) Langkah awal untuk mempelajari suatu penyakit
b) Jembatan antara penelitian klinis dan penelitian epidemilogi
c) Dasar penelitian lebih lanjut :
- dengan melihat kelompok yang berisiko tinggi
- dengan membuktikan hipotesis yang dibangun
Kelemahan
a) Hanya berdasarkan kasus-kasus yang dilaporkan saja.
b) Gambaran distribusi, frekuensi yang diperoleh tidak dapat mewakili populasi
2.3 Studi Kolerasi Ekologis
Studi korelasi ekologis disebut juga penelitian ekologi. Penelitian ekologi berbeda
dari jenis epidemiologi deskriptif lainnya karena individu tidak menjadi unit analis. Pada
penelitian ekologi, penganalisisan dalam tingkat kelompok. Penelitian ini amat penting
karena :
1) Penelitian ekologi sering kali mengemukakan hipotesis penting yang perlu
dilanjutkan oleh penelitian analitik.
2) Penelitian ekologi membuat perbandingan antara sekelompok besar orang katakanlah,
penghuni negara yang berbeda beda yang terkadang tidak mungkin.
3) Penelitian ekologi dapat dilakukan tanpa menggunkan sumber daya dan substansial;
pelaksanaan, analis, dan interpretasi penelitian ekologi terkadang cukup dengan
menggunakan informasi yang tersedia secara umum.
Perbandingan geografis bisa dilakukan dalam penelitian ekologi, tetapi cara
itu bukanlah satu-satunya pendekatan. Perbandingan lain mencakup kelas sosial,
sekolah, jenis kelamin, ras, atau berbagai variable kelompok lainnya. Data yang
tersedia sering berupa gambaran tentang outcome atau pajanan, dan kemudian data
tersebut dihubungkan dengan data deskriptif tambahan penelitian yang berada
misalnya, seseorang dapat menghubungkan data tentang seks yang tidak aman dan
penjualan kondom untuk menyelidiki keterkaitannya (bukan hubungan sebab akibat).
2.3.2 Kelebihan dan Kelemahan Dari Studi Kolerasi ekologis
Kelebihan
a) Disain studi yang paling sering digunakan sebagai langkah awal untuk meneliti
kemungkinan adanya hubungan antara faktor risiko dan kejadian penyakit
b) Dapat dilakukan cepat dan tidak mahal karena data yang diperlukan biasanya telah
tersedia
c) Pemerintah atau instansi swasta biasanya secara rutin mengumpulkan data: demografi,
produksi pangan, pencatatan pelaporan mengenai morbiditas dan mortalitas, Industri
dan pabrik dsb.
Kelemahan
a) Tidak dapat melihat hubungan ditingkat individu.
b) Ada ecologic fallacy, yakni bias dalam menginterpretasikan (keliruan)
Contoh: ada hubungan antara angka cakupan imunisasi campak dengan angka
insidens campak (hubungan dalam tingkat agregat) belum berarti dalam tingkat
idividu ada hubungan antara imunisasi dengan kejadian penyakit campak pada
seseorang.
Untuk membuktikan adanya hubungan ditingkat individu : perlu memformulasikan
hipotesis baru studi epidemiologi analitik
Keterbatasan utama penelitian ekologi disebut ecologic fallacy ( keliruan
ekologis ). Kekeliruan itu terjadi karena kita tidak mengetahui apa hubungan yang
terlihat pada tingkat agregat (kelompok) juga dapat terjadi pada tingkat individu.
Misalnya, meskipun kita memiliki statik yang mengelompokan perilaku keompok,
kita sama sekali tidak mengetahui karakterstik setiap individu didalam kelompok.

2.4 Studi Cross-Sectional


Merupakan studi yang mempelajari prevalensi, distribusi, maupun hubungan
penyakit dan paparan (faktor penelitian) dengan cara mengamati status paparan, penyakit,
atau karakteristik terkait kesehatan lainnya secara serentak pada individu-individu dari
populasi pada satu saat.
Dalam penelitian kedokteran dan kesehatan, studi cross sectional merupakan salah
satu bentuk studi observasional (non eksperimental) yang paling sering dilakukan. Kira-
kira sepertiga artikel orisinil dalam jurnal kedokteran merupakan laporan studi cross
sectional.
2.4.1 Jenis Studi Cross Sectional :
1. Studi Cross Sectional Diskriptif
Meneliti prevalen penyakit atau paparan, atau kedua-duanya pada suatu populasi
tertentu. Prevalensi adalah proporsi kasus pada populasi pada suatu saat. Studi
prevalensi periode biasanya dilakukan untuk penyakit-penyakit kronis yang
gejalanya intermiten. Bukan studi longitudinal karena tidak melakukan follow up.
2. Studi Cross Sectional Analitik
Mengumpulkan data prevalens paparan dan penyakit untuk tujuan perbandingan
perbedaan-perbedaan penyakit antara kelompok terpapar dan kelompok tak terpapar
dalam rangka meneliti hubungan antara paparan dan penyakit.
Studi cross-sectional adalah metode penelitian yang menarik dan berharga. Studi
cross-sectional merupakan suatu gambaran penyakit, kesehatan, medis dan fenomena
psikososial yang terjadi pada satu kurun waktu. Dari sudut pandang praktis, satu
kurun waktu dapat berlangsung beberapa menit sampai maksimal dua sampai tiga
bulan. Kerangka waktu pada kurun waktu didasarkan pada kecepatan dan efesiensi
pengumpulan data. Penelitian studi cross-sectional mencangkup lingkup wilayah dan
merupakan metode yang penting bagi para epidemiologi. Desain ini termasuk desain
yang paling dikenal oleh kebanyakan oran dan paling sering dilakukan dalam bentuk
survey.
Studi cross-sectional juga disebut sebagai studi observasi. Studi observasi tidak
menggunakan metode klinis atau desain eksprimental. Hubungan, perbedaan variable,
dan perubahan karakteristik dan populasi penelitian yang intervensi atau penyebabnya
berasal dari ahli epidemiologi menjadi ciri studi observasi. Perubahan pada salah satu
karakteristik studi dibandingkan dan dikaji dalam hubungannya dengan perubahan
yang timbul pada karakter lain. Studi cross-sectional dapat mengkaji satu atau
beberapa variable sekaligus pada waktu yang sama. Asosiasi dan hubungan
antarvariabel dapat dengan mudah dievaluasi dalam studi ini. Studi ini juga dapat
mengkaji hubungan antar (atau diantara) kesehatan, penyakit, kondisi, cidera, atau
fenomena lain sebagaimana yang terjadi atau yang menang ada dalam populasi pada
satu kurun waktu tertentu.
Analisis dari studi ini yang dilakukan dapat bersifat:
a)distribusi frekuensi kejadian penyakit/ masalah kesehatan
b) berdasarkan orang - tempat - waktu
c. distribusi frekuensi variabel exposure dan outcome (angka prevalens)
Penelitian cross-sectional yang terperinci dapat tampak berbeda dari
penelitian cross-sectional biasa, karena pengambilan sampelnya tidak dilakukan
secara acak yang seadanya. Sampel seadanya (convenience sampling) adalah
sampel yang terdiri atas individu yang berada dilokasi tertentu pada saat
pengambilan sampel berlangsung, jenis pengambilan sampel ini merupakan jenis
sampling yang tidak representative. Namun, pendekatan pengambilan sampel
seadanya berguna ketika mengamati perilaku atau penggunaan jasa layanan. Cara
lain yang dapat digunakan adalah dengan mengukur para individu mengenai
pengetahuan yang mereka miliki, perilaku, dan presepsi mereka atau setiap jenis
perilaku lainnya
2.4.2 Cara Melakukan Penelitian Cross-Sectional
Metode umum yang diperlukan untuk melakukan penelitian cross-
sectional sulit untuk diragukan karena metode tersebut sangat bervariasi dari segi
tujuan spesifik penelitian dan metode yang dipilih. Namun, untuk semua tipe
metode, prinsip dasar yang telah didiskusikan tetap berlaku: menggunakan
definisi kasus yang solid, skema pengambilan sampel yang jelas, pengumpulan
data yang sistematik, dan melakukan metode tersamar pada staff penelitian jika
metode tersebut memang tepat dan mudah dilakukan. Untuk semua penelitian,
pengumpulan semua informasi yang detail mengenai perancu, dan perancu
potensial harus dilakukan pada saat pengumpulan data primer.
Pada penelitian cross-sectional, pengumpulan perancu dan perancu
potensial lebih penting untuk dilakukan dibandingkan dalam penelitian lainnya
( tentu saja, meskipun hal itu juga penting didesain penelitian lainnya) karena
tidak mungkin kita memiliki kesempatan kedua untuk mengajukan pertanyaan
kepada para partisipan untuk memberikan data mengenai perancu yang ingin
diteliti. Seluruh informasi harus diperoleh pada saat melakukan kontak dengan
klien atau sumber data, jika tidak, akan terjadi kehilangan data dan pertanyaan
yang penting serta hubungan yang terjadi dapat terlewat.
2.4.3 Langkah-langkah Studi Cross Sectional
Untuk melakukan penelitian dengan pendekatan cross sectional dibutuhkan
langkah-langkah sebagai berikut.
a) Identifikasi dan perumusan masalah dari variabel-variabel yang akan diteliti
dan kedudukkannnya masing-masing
Masalah yang akan diteliti harus diidentifikasi dan dirumuskan dengan jelas
agar dapat ditentukan tujuan penelitian dengan jelas
Identifikasi masalah dapat dilakukan dengan mengadakan penelaahan terhadap
insidensi dan prevalensi berdasarkan catatan yang lalu untuk mengetahui
secara jelas bahwa masalah yang sedang dihadapi merupakan masalah yang
penting untuk diatasi melalui suatu penelitian. Dari masalah tersebut dapat
diketahui lokasi masalah tersebut berada.
b) Menetukan tujuan penelitian untuk menetapakan studi penelitian atau populasi
dan sampelnya
Tujuan penelitian harus dinyatakan dengan jelas agar orang dapat mengetahui
apa yang akan dicari, dimana akan dicari, sasaran, berapa banyak dan kapan
dilakukan serta siapa yang melaksanakannya. Sebelum tujuan dapat
dinyatakan dengan jelas, hendaknya tidak melakukan tindakan lebih lanjut.
Tujuan penelitian merupakan hal yang sangat penting dalam suatu penelitian
karena dari tujuan ini dapat ditentukan metode yang akan digunakan.
c) Menentukan lokasi dan populasi, studi melakukan pengumpulan data,
observasi atau pengukuran terhadap variabel dependen dan independen (dalam
waktu yang sama)
Dari tujuan penelitian dapat diketahui lokasi penelitian dan ditentukan pula
populasi studinya. Biiasanya, penelitian cross sectional tdak dilakukan
terhadap semua subjek studi, tetapi dilakukan kepada sebagian populasi dan
hasilnya dapat diekstrapolasi pada populasi studi tersebut. Populasi studi dapat
berupa populasi umum dan dapat berupa kelompok populasi tertentu
tergantung dari apa yang diteliti dan di mana penelitian dilakukan Agar tidak
terjadi kesalahan dalam pengumpulan data, sasaran yang dituju yang disebut
subjek studi harus diberi criteria yang jelas, misalnya jenis kelamin, umur,
domisili, dan penyakit yang diderita. Hal ini penting untuk mengadakan
ekstrapolasi hasil penelitian yaitu kepada siapa hasil penelitian ini dilakukan
d) Menentukan cara dan besar sampel mengolah dan menganalisis data dengan
cara membandingkan
Pada penelitian cross sectional diperlukan perkiraan besarnya sampel dan cara
pengambilan sampel. Perkiraan besarnya sampel dapat dihitung dengan rumus
Snedecor dan Cochran berikut.
Untuk data deskrit
n= besar sampel
p= proporsi yang diinginkan
q= 1-p
Z= simpangan dari rata- rata distribusi normal standard
L= besarnya selisih antara hasil sampel dengan populasi yang masihh dapat
diterima
Cara pengambilan sampel sebaiknya dilakukan acak dan disesuaikan dengan
kondisi populasi studi, besarnya sampel, dan tersediannya sampling frame yaitu
daftar subjek studi pada populasi studi.
Instrument yang akan digunakan dalam penelitian harus disusun dan dilakukan
uji coba. Instrument ini dimaksudkan agar tidak terdapat variable yang terlewat
karena dalam instrument tersebut berisi semua variable yang hendak diteliti`
Instrument dapat berupa daftar pertanyaan atau pemeriksaan fisik atau
laboratorium atau radiologi dan lain- lain disesuaikan dengan tujuan penelitian.
Analisis data yang diperoleh harus sudah dirrencanakan sebelum penelitian
dilaksanakan agar diketahui perhitungan yang akan digunakan. Rancangan
analisis harus disesuaikan dengan tujuan penelitian agar hasil penelitian dapat
digunakan untuk menjawab tujuan tersebut.
2.4.4 Kelebihan dan Kelemahan Studi Cross-Sectional
a) Kelebihan Studi Cross-Sectional
1) Merupakan pengumpulan data sekali dalam satu waktu
(wawanacara/pemeriksaan/survey).
2) Lebih murah dan lebih praktis untuk dilaksanakan.
3) Memberikan banyak informasi dan data yang terbukti bermanfaat untuk
perencanaan pelayanan kesehatan dan program medis.
4) Memberikan gambaran sekilas tentang populasi studi, memperlibatkan
distribusi relative dari kondisi, penyakit, cidera, ketidakmampuan dalam
kelompok dan populasi . (dari konteks inilah studi cross-sectional dipandang
sebagai studi prevalensi).
5) Memberikan keterkaitan antar-atribut penyakit dan kondisi dalam kelompok
atau polpulasi missal umur, sex, ras maupun social ekonomi.
6) Bermanfaat untuk memprediksi penyebaran penyakit tertentu, seperti kolera,
di masa depan dalam populasi.
7) Memiliki satu kelebihan pokok, yaitu bahwa studi dilaksanakan pada sampel
populasi utama dan tidak bergantung pada individu yang ngajukan diri untuk
mendapat perlakuaan medis.
8) Memungkinkan penggunaan populasi dari masyarakat umum, tidak hanya
pasien yang mencari pengobatan, hingga generalisasinya cukup memadai.
9) Sangat bermanfaat bagi pengambil keputusan di bidang kesehatan masyarakat
dalam:
a) Mengukur status kesehatan
b) Kebutuhan atas pelayanan kesehatan
b) Kelemahan Studi Cross-Sectional
1) Tidak dapat memperlihatkan hubungan sebab akibat yang kuat jika jumlah
sampelnya yang sedikit.
2) Hanya mewakili individu yang mengisi kuesioner, mengisi survey, dan
berpatisipasi dalam studi.
3) Seperti yang dipakai dalam studi penyakit, hanya mewakili orang yang survey
dan/ terjangkit penyakit.
4) Jika digunakan sebagai suatu prevalensi dari pengkajian penyakit, tidakterlalu
efektif jika angka kasus penyakit sangat kecil.
5) Kondisi atau penyakit kambuhan atau variasi musiman penyakit itu tidak
terwakili dengan baik dalam studi cross-sectional karena saat studi dilakukan,
kondisi berada pada keadaan tetap atau tidak aktif atau pada puncaknya. Studi
insidensi lebih bermanfaat.
6) Seperti kebanyakan studi, studi ini kurang berguna jika dipakai untuk
memprediksi kejadian kondisi atau penyakit dimasa mendatang.
7) Lebih efektif pada penyakit kronis dan kondisi yang berkaitan dengan
perilaku, serta kurang efektif pada penyakit menular dengan masa inkubasi dan
durasi yang singkat.
8) Menunjukan presentasi tinggi suatu kondisi atau penyakit yang durasinya
panjang, seklaigus berpotensi untuk tidak memperlihatkan atau mempunyai
efek yang terbatas dari suatu penyakit dari serangkaian kasus insidensi.
2.4.6 Contoh Kasus Dari Studi Cross-Sectional
Contoh sederhana, ingin mengetahui hubungan antara anemia besi pada ibu hamil
dengan berat badan bayi lahir (BBL), dengan menggunakan rancangan atau pendekatan
cross sectional.
a. Tahap pertama: mengidentifikasi variabel-variabel yang akan diteliti dan
kedudukkannnya masing-masing:
Variabel dependen (efek): Berat badan bayi lahir
Variabel independen (resiko): Anemia besi
b. Tahap Kedua: menetapakan studi penelitian atau populasi dan sampelnya.
Subjek penelitian disini adalah ibu-ibu yang baru melahirkan, namun perlu dibatasi
dari daerah mana mereka ini dapat diambil, apakah lingkup di Rumah Sakit Umum,
Rumah Sakit Bersalin, atan Rumah Bersalin. Demikian pula batas waktunya juga
ditentukan. Kemudian cara pengambilan sampelnya, apakah bedasarkan teknik
random atau non random.
c. Tahap Ketiga: melakukan pengumpulan data, observasi atau pengukuran
terhadap variabel dependen dan independen (dalam waktu yang sama). Caranya,
mengukur berat badan bayi yang baru dilahirkan dan memeriksa Hb darah ibu.
d. Tahap Keempat: mengolah dan menganalisis data dengan cara
membandingkan anatara berat badan bayi lahir dengan Hb darah ibu. Dari analisis ini
akan diperoleh bukti adanya atau tidak adanya hubungan antara anemia besi dengan
berat badan bayi lahir.

BAB III

KESIMPULAN
Epidemiologi deskriptif mendeskripsikan distribusi penyakit pada populasi,
berdasarkan karakteristik dasar individu. Epidemiologi deskriptif juga dapat digunakan untuk
mempelajari perjalanan alamiah penyakit (Murti,1997). Dari komponen penting yang ada
dalam epidemiologi yang termasuk kedalam desain studi epidemiologi deskriptif yaitu
frekuensi masalah Penyebaran masalah kesehatan (Setyawan, 2008).
Desain epidemiologi deskriptif mempunyai ciri seperti hanya ada 1 kelompok studi,
mengukur insidensi atau prevalensi, menggambarkan distribusi penyakit menurut variabel
tempat, orang dan waktu, tidak ada kesimpulan tentang hubungan antara ekposure dan
outcome, Informasi yang diperoleh dapat mengarahkan suatu eksposure dengan outcome
tertentu.
Dalam desain epidemiologi deskriptif berdasarkan unit pengamatan/analisis
epidemiologi deskriptif dibagi 2 kategori atau metode :
a) Populasi : Studi Korelasi Populasi, Rangkaian Berkala (time series).
b) Individu : Laporan Kasus (case report), Rangkaian Kasus (case series), Studi Potong
Lintang (Cross-sectional).

DAFTAR PUSTAKA
Timmreck, Thomas C. 2004. Epidemiologi Suatu Pengatar Edisi 2. Jakarta: EGC.
Bustan, M. Nadjib. 2012. Pengantar Epidemiologi.
Jakarta: Rineka Cipta
Friedman, Gary D. 2008. Prinsip-prinsip Epidemiologi.
Yogyakarta: Graha Ilmu.