Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA

PASIEN DENGAN ISCHIALGIA

OLEH :

NI KETUT AYU PRATIWI CATUR WAHYUNI


P07120214019
D-IV KEPERAWATAN TK.3, SEMESTER V

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR
JURUSAN KEPERAWATAN
2016
LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN
PADA PASIEN DENGAN ISCHIALGIA

A. KONSEP DASAR PENYAKIT


1. Definisi
Ischialgia merupakan salah satu manisfestasi dari nyeri punggung
bawah yang dikarenakan adanya penjepitan nerves ischiadicus. Ischialgia
adalah nyeri yang menjalar kebawah sepanjang perjalanan akar saraf
ischiadikus. Ischialgia itu sendiri adalah sebuah gejala yaitu bahwa
pasien merasakan nyeri pada tungkai yang menjalar dari akar saraf
kearah distal perjalanan nervus ischiadikus sampai tungkai bawah
(Cailliet,1994 cit Kurniawati 2010).
Ischialgia adalah rasa nyeri yang menjalar sepanjang perjalanan n.
Ischiadicus dan kedua cabangnya yaitu nervus peroneus comunis &
nervus tibialis. Keluhan yang khas adalah kram atau nyeri di pantat atau
di area otot hamstring, nyeri ischialgia di kaki tanpa nyeri punggung, dan
gangguan sensorik maupun motorik sesuai distribusi nervus ischiadicus.
Keluhan pasien dapat pula berupa nyeri yang semakin menjadi saat
membungkuk, berlama-lama duduk, bangun dari duduk, atau saat
merotasi internal paha, juga nyeri saat miksi/defekasi dan dispareunia.
Ischialgia dalam istilah kedokteran merujuk pada keadaan jaringan yang
abnormal pada saraf ischiadicus. Hal ini dapat terjadi karena proses
beberapa penyakit seperti trauma fisik, elektris, infeksi, dan masalah
metabolisme, dan autoimun. Ischialgia meningkat frekuensinya seiring
dengan banyaknya aktivitas yang dikerjakan. Orang awam pada
umumnya menginterpretasikan ischialgia dengan rasa sakit dan nyeri
pada pantat (Minaryanti, 2009).
Ischialgia merupakan suatu mono neuritis, dimana ada rasa nyeri yang
menjalar sepanjang perjalanan N. ischialgia dan kedua cabangnya yaitu
N.Peroneus Comunis dan N. Tibilais. Akibat terjadi penekanan pada
sarafnya diikuti adanya keterbatasan LGS pada trunk, adanya spasme
otot pada vertebara, adanya kelemahan otot yang disarafinya (Rois, 2007)
Ischialgia adalah nyeri redikular akibat iritasi pada radiks saraf yang
dirasakan sepanjang tungkai karena nyeri menjalar sepanjang perjalanan
n.ischiadikus dan lanjutnya ke perifer. Nyeri radikuler dirasakan sebagai
nyeri tumpul, rasa terbakar/ tajam, disertai dengan sensasi tajam seperti
tersengat listrik yang intermiten. sedangkan jika iritasi saraf terletak di
servikal disebut brachialgia karena nyeri dirasakan sepanjang lengan
(Sylvia, 2007).
Nyeri daerah pinggang pada dasarnya dapat berupa:
a. Nyeri radikuler (sering) Penderita dengan nyeri radikuler
memperlihatkan low back pain serta nyeri radikuler sepanjang
nervus ischiadicus.
b. Nyeri alih (referet pain)
c. Nyeri tidak menjalar

2. Penyebab/Faktor Predisposisi
Penyebab ischialgia adalah beberapa faktor yaitu kontraksi/ radang
otot-otot bokong, adanya perkapuran tulang belakang atau herniasi
nucleus pulposus (HNP) dan bisa juga oleh sindroma yang dikenal
dengan sindroma stenosis lumbal dan entrapment neuritis, dimana di
daerah paha n. ischiadicus mempersarafi otot-otot hamstring yaitu m.
semimembranosus, m.semitendinosus dan m. biceps femoris. Ischialgia
bisa timbul akibat perangsangan serabut-serabut sensorik yang berasal
dari radiks posterior L4, L5, S1, S2, S3dan dapat terjaadi pada setiap
bagian n. ischiadicus sebelum muncul pada permukaan belakang tungkai.
Penyebab ischialgia dapat dibagi dalam:
a. Ischialgia diskogenik, biasanya terjadi pada penderita hernia
nukleus pulposus (HNP).
b. Ischialgia mekanik terbagi atas :
1) Spondiloarthrosis defermans.
2) Spondilolistetik.
3) Tumor caud.
4) Metastasis carsinoma di corpus vertebrae lumbosakral.
5) Fraktur corpus lumbosakral.
6) Fraktur pelvis, radang atau neoplasma pada alat- alat dalam
rongga panggul sehingga menimbulkan tekanan pada pleksus
lumbosakralis.
c. Ischailgia non mekanik (medik) terbagi atas:
1) Radikulitis tuberkulosa
2) Radikulitas luetika
3) Adhesi dalam ruang subarachnoidal
4) Penyuntikan obat-obatan dalam nervus ischiadicus
5) Neuropati rematik, diabetik dan neuropati lainnya.
Penyebab terjepitnya saraf ini ada beberapa faktor, yaitu antara lain:
kontraksi/ radang otot-otot daerah bokong, adanya perkapuran tulang
belakang atau adanya keadaan yang disebut dengan Herniasi Nukleus
Pulposus (HNP). Untuk mengetahui penyebab pasti perlu dilakukan
pemeriksaan fisik secara seksama oleh dokter, jika perlu dilakukan
pemeriksaan tambahan radiologi/ Rontgen pada tulang belakang.

3. Patofisiologi
Vertebrae manusia terdiri dari cervikal, thorakal, lumbal, sakral, dan
koksigis. Bagian vertebrae yang membentuk punggung bagian bawah
adalah lumbal 1-5 denagn discus intervertebralis dan pleksus lumbalis
serta pleksus sakralis. Pleksus lumbalis keluar dari lumbal 1-4 yang
terdiri dari nervus iliohipogastrika, nervus ilioinguinalis, nervus
femoralis, nervus genitofemoralis, dan nervus obturatorius. Selanjutnya
pleksus sakralis keluar dari lumbal4-sakral4 yang terdiri dari nervus
gluteus superior, nervus gluteus inferior, nervus ischiadicus, nervus
kutaneus femoris superior, nervus pudendus, dan ramus muskularis.
Nervus ischiadicus adalah berkas saraf yang meninggalkan pleksus
lumbosakralis dan menuju foramen infrapiriformis dan keluar pada
permukaan tungkai di pertengahan lipatan pantat. Pada apeks spasium
poplitea nervus ischiadicus bercabang menjadi dua yaitu nervus perineus
komunis dan nervus tibialis. Ischialgia timbul akibat perangsangan
serabut-serabut sensorik yang berasal dari radiks posterior lumbal 4
sampai sakral 3, dan ini dapat terjadi pada setiap bagian nervus
ischiadicus sebelum sampai pada permukaan belakang tungkai.
Kesalahan postur dan sikap dapat menyebabkan cedera pada tulang
belakang yang lama-kelamaan akan menyebabkan proses penulangan,
oleh karena adanya proses degenerasi yang terus menerus maka nucleus
pulposus akan terhimpit, sehingga anolus fibrosus mengalami penekanan
dan sering menonjol ke bagian lateral. Penonjolan ini mengakibatkan
penekana pada medulla spinalis. Jika keadaan seperti ini tidak segera
diobati maka lamakelamaan akan mengakibatkan adanya nyeri menjalar
pada sepanjang tungkai oleh karena adanya penekanan pada nervus
ischiadicus (Ischialgia). Ischialgia yang disebakan oleh beberapa factor
etiologi dan sindroma yang biasanya dikenal sebagai sindroma stenois
lumbal dan entropmentneuritis, nyeri yang bertolak dari vertebra
lumbosakralis sesisi dan menjalar sepanjang tungkai sampai ujung kaki
harus dicurigai sebagai nyeri saraf akibat perangsangan di dalam Vertebra
Lumbosakralis.

Pathway
Defisiensi
pengetahuan

4. Klasifikasi
Menurut Sidharta (1999) dalam Hartanto Sumarno Ervan (2011),
ischialgia dibagi menjadi tiga yaitu:
a. Ischialgia sebagai perwujudan neuritis iskhiadikus primer
Ischialgia akibat neuritis iskhiadikus primer adalah ketika nervus
iskhiadikus terkena proses radang. Tanda dan gejala utama neuritis
iskhiadikus primer adalah nyeri yang dirasakan bertolak dari daerah
sakrum dan sendi panggul, tepatnya di foramen infra piriformis
atau incisura iskhiadika dan menjalar sepanjang perjalanan nervus
iskhiadikus dan lanjutannya pada nervus peroneus dan tibialis.
Nyeri tekan ditemukan pada incisura iskhiadika dan sepanjang
spasium poplitea pada tahap akut. Juga tendon archiles dan otot
tibialis anterior dan peroneus longus terasa nyeri pada penekanan.
Kelemahan otot tidak seberat nyeri sepanjang tungkai. Karena
nyeri itu maka tungkai di fleksikan, apabila diluruskan nyeri
bertambah hebat. Tanda-tanda skoliosis kompensatorik sering
dijumpai pada ischialgia jenis ini.
Diagnosa neuritis iskhiadikus primer ditetapkan apabila nyeri tekan
pada otot tibialis anterior dan peroneus longus. Dan pada neuritis
sekunder nyeri tekan disepanjang nervus iskhiadikus, tetapi di
dekat bagian nervus iskhiadikus yang terjebak saja. Timbul
nyerinya akut dan tidak disertai adanya nyeri pada punggung
bawah merupakan ciri neuritis primer berbeda dengan ischialgia
yang disebabkan oleh problem diskogenik. Reflek tendon archiles
dan tendon lutut biasanya tidak terganggu.
b. Ischialgia sebagai perwujudan entrapment radikulitis atau
radikulopati
Pada ischialgia radikulopati merupakan akibat dari jebakan oleh
tumor, nukleus pulposus yang menjebol ke dalam kanalis
vertebralis maupun osteofit atau peradangan (rematois spondilitis
angkilopoetika, herpes zoster, tuberkulosa) yang bersifat
menindihi, menjerat dan sebagainya terjadi radikulopati.
Pola umum ischialgia adalah nyeri seperti sakit gigi atau nyeri
hebat yang dirasakan bertolak dari vertebra lumbosakralis dan
menjalar menurut perjalanan nervus iskhiadikus dan lanjutannya
pada nervus peroneus atau nervus tibialis. Makin jauh ke tepi nyeri
makin tidak begitu hebat, namun parestesia atau hipoastesia sering
dirasakan.
Pada data anamnestik yang bersifat umum antara lain : nyeri pada
punggung bawah selalu mendahului ischialgia, kegiatan yang
menimbulkan peninggian tekanan intra spinal seperti batuk, bersin
dan mengejan memprofokasi adanya ischialgia, faktor trauma
hampir selamanya dapat ditelusuri, kecuali kalau proses
neoplasmik atau infeksi yang bertanggung jawab. Adapun data
diagnostik non fisik yang bersifat umum adalah : kurva lordosis
pada lumbosakral yang mendatar, vertebra lumbosakral
memperlihatkan fiksasi, nyeri tekan pada salah satu ruas vertebra
lumbosakralis hampir selalu ditemukan, test lasegue hampir selalu
positif pada derajat kurang dari 70, tesr naffziger dan valsava
hampir selalu positif. Data anamnestik dan diagnostik fisik yang
bersifat spesifik berarti informasi yang mengarahkan ke suatu jenis
proses patologik atau yang mengungkapkan lokasi di dalam
vertebra lumbosakralis atau topografi radiks terhadap lesi yang
merangsangnya.
c. Ischialgia sebagai perwujudan entrapment neuritis
Unsur-unsur nervus iskhiadikus yang dibawakan oleh nervi L4, L5,
S1, S2 dan S3 menyusun pleksus lumbosakralis yang berada di
fasies pelvina os sakri. Di situ pleksus melintasi garis sendi
sakroiliaka dan sedikit lebih distal membentuk nervus iskhiadikus,
yang merupakan saraf perifer terbesar. Selanjutnya dalam
perjalanannya ke tepi nervus iskhiadikus dapat terjebak dalam
bangunan-bangunan yang dilewatinya. Pada pleksus lumbosakral
dapat diinfiltrasi oleh sel-sel karsinoma ovarii, karsinoma uteri atau
sarkoma retroperineal. Di garis persendian sakroiliaka komponen-
komponen pleksus lumbosakralis sedang membentuk nervus
iskhiadikus dapat terlibat dalam proses radang (sakroilitis). Di
foramen infra piriformis nervus iskhiadikus dapat terjebak oleh
bursitis otot piriformis. Dalam trayek selanjutnya nervus
iskhiadikus dapat terlibat dalam bursitis di sekitar trochantor major
femoris. Dan pada trayek itu juga, nervus iskhiadikus dapat
terganggu oleh adanya penjalaran atau metastase karsinoma prostat
yang sudaj bersarang pada tuber iskhii. Simtomatologi entrapment
neuritis iskhiadika sebenarnya sederhana yaitu pada tempat proses
patologik yang bergandengan dengan iskhiagia

5. Gejala Klinis
Gejala yang sering timbul akibat ischialgia adalah :
a. Nyeri punggung bawah,
b. Nyeri daerah bokong,
c. Rasa kaku/tertarik pada daerah punggung bawah,
d. Nyeri bisa menjalar atau bisa seperti kesetrum yang dirasakan dari
bokong menjalar ke daerah paha, betis bahkan sampai kaki, dapat
digambarkan nyeri dari tulang belakang sekitar daerah
lumbosakral dan menjalar menurut perjalanan n. ischiadicus dan
lanjutannya pada n. peroneus komunis dan n. tibialis tergantung
bagian saraf mana yang terjepit.
e. Rasa nyeri sering timbul setelah melakukan aktivitas yang
berlebihan terutama banyak membungkukkan badan atau banyak
berdiri dan berjalan.
f. Rasa nyeri juga sering diprovokasi karena mengangkat barang
yang berat.

6. Pemeriksaan Diagnostik/Penunjang
a. Foto rontgen, sering terlihat normal atau kadang-kadang dijumpai
penyempitan ruangan intervertebral, spondilolistesis, perubahan
degenerative dan tumor spinal.
b. CT Scan adalah saran diagnostik yang efektif bila vertebra dan
level neurologis telah jelas dan kemungkinan kelainan tulang.
c. MRI biasanya sensitif pada HNP dan akan menunjukkan berbagai
prolaps.
d. Elektromielografi
e. Myelografi

7. Penatalaksanaan Medis
a. Medikamentosa:
1) Analgetik
2) NSAID
3) Pelumpuh otot
b. Program Rehabilitasi Medik
Fisioterapi meliputi terapi panas, terapi listrik, terapi latihan/
exercise, okupasi terapi, psikologi, social medik dan edukasi.
Program fisioterapi bertujuan untuk mengurangi rasa sakit dan
nyeri otot, mencapai gerak sendi yang normal, memperbaiki
koordinasi dan keseimbangan dalam bergerak.
Penguatan otot untuk mencegah pemendekan otot (kontraktur)
meluruskan otot yang spastic, memperlancar aliran darah serta
meningkatkan kemampuan hidup sehari-hari.
Psikologi bertujuan untuk membebaskan sesorang dari masalah
tertentu yang dianggap mengganggu kesehtan jiwa dan diharapkan
dapat memperkuat pasien dalam menghadapi kesulitan.
Sosial medik memiliki tujuan utama untuk membantu pasien dan
keluarganya dalam menjangkau sumber pelayanan yang optimal
dengan kondisi kemampuannya yang mengalami hambatan karena
sakit fisik.
Edukasi yang dapat diberikan kepada penderita ischialgia yaitu:
1) Hindari banyak membungkuk badan
2) Hindari sering mengangkat barang-barang berat
3) Segera istirahat jika merasakan nyeri saat berjalan atau berdiri
4) Saat duduk lama diusahakan kaki disila bergantian kanan dan
kiri atau menggunakan kursi kecil untuk menumpu dua kaki.
5) Saat menyapu atau mengepel lantai pergunakan gagang sapu
atau pel yang panjang, sehingga tidak membungkuk.
6) Jika hendak mengambil barang usahakan punggung tetap
lurus dan tekuk kedua lutut untuk menggapai barang tersebut.
7) Lakukan back exercise secara rutin untuk memperkuat otot
punggung sehingga mampu menyangga tulang belakang
secara baik dan maksimal.

c. Penalatalaksanaan dengan Terapi Komplementer :


Dipilih beberapa titik yang berhubungan dengan gangguan pada
saraf sciatica:
1. Titik Huantiao (GB 30)
Letak : Bila titik tertinggi dari tonjolan tulang paha yang besar
dihubungkan dengan ujung tulang ekor, maka Huantiao
berada di 1/3 garis tersebut arah dekat paha.
Khasiat : Menghilangkan nyeri lembab pada meridian.
2. Titik Chengfu/ Cen Fu (BL 50)
Letak : Lekukan garis pantat
Khasiat : Ambeien, syraf tulang kedudukan, pinggang,
sciatica, radang sendi, nyeri panggul.
3. Titik Yinmen/ In Men (BL 51)
Letak : Tengah paha belakang
Khasiat : Paha lelah linu, sakit pinggang, sakit pada pantat
4. Titik Chengsan / Ceng San (BL 57)
Letak : Pada batas perut betis
Khasiat : Sakit pada betis, sakit pinggang, nyeri tungkai
bawah.
5. Titik Yanglingquan/ Yang Ling Cuen (GB 34)
Letak : Pada lekukan di bawah lutut samping
Khasiat : Nyeri iga, radang sendi lutut, pegal-pegal di kaki,
muntah-muntah, mulut pahit.
6. Titik Zhibian/ Si Pien (BL 49)
Letak : Bulatan pantat tengah atau 3 cun sisi Yaoshu (DU 2)
Khasiat : Nyeri pinggul, radang sendi, sacrolitis, sciatica
7. Titik Dachangshu/ Ta Cang Su (BL 25)
Letak : dua jari (1 cun) dari tulang pinggang terletak di
antara tulang pinggang ke 4dan ke 5.
8. Titik Weizhong/ Wei Cang (BL 54)
Letak : Di tengah lipat lutut bagian dalam
Khasiat : Sendi lutut, sakit pinggang, kram kaki, radang, kaki
lumpuh, sakit perut.
d. Operasi: dilakukan pada kasus yang berat/ sangat mengganggu
aktivitas dimana dengan obat-obatan dan program rehabilitasi
medik tidak dapat membantu.

B. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN


1. Pengkajian Keperawatan
a. Identitas klien
Meliputi nama, umur ( kebanyakan terjadi pada usia tua), jenis kelamin,
pendidikan , alamat, pekerjaan, agama, suku bangsa, tanggal dan jam MRS,
nomor register dan diagnosa medis.
b. Keluhan utama, riwayat perawatan sekarang, riwayat kesehatan
dahulu, riwayat kesehatan keluarga.
Yang harus diperhatiakan dalam anamnesa antara lain:
1) Lokasi nyeri, sudah berapa lama, mula nyeri, jenis nyeri
(menyayat, menekan, dll), penjalaran nyeri, intensitas nyeri,
pinggang terfiksir, faktor pencetus, dan faktor yang
memperberat rasa nyeri.
2) Kegiatan yang menimbulkan peninggian tekanan didalam
subarachnoid seperti batuk, bersin dan mengedan memprivakasi
terasanya ischialgia diskogenik
3) Faktor trauma hampir selalu ditemukan kecuali pada proses
neoplasma atau infeksi
c. Pemeriksaan fisik
Untuk mengetahui seorang pasien mengalami ischialgia atau tidak
biasanya ahli fisioterapi memberikan beberapa tes salah satunya
terapis mengangkat kaki yang mengalami nyeri jika nyeri dirasakan
bertambah hebat pada sudut 6070 derajat orang tersebut dikatakan
positif ischialgia. Tes ini disebut Straight Leg Rising.
1) Inspeksi : Perhatikan keadan tulang belakang, misalnya
skoliosis, hiperlordosis atau lordosis lumbal yang mendatar.
2) Palpasi : Nyeri tekan pada tulang belakang atau pada otot-otot
di samping tulang belakang.
3) Perkusi : Rasa nyeri bila prosesus diketok.
4) Reflek :
KPR dan atau APR
Laseque, patrick, antipatrick, naffziger.
d. Pemeriksaan penunjang

2. Diagnosa Keperawatan
a. Nyeri akut/kronis berhubungan dengan kompresi saraf, spasme
otot.
b. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri, spasme
otot, terapi restriktif dan kerusakan neuromuskular.
c. Defisiensi pengetahuan berhubungan dengan kurang pajanan
informasi

3. Intervensi Keperawatan
No. Diagnosa Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi (NIC)
Keperawatan (NOC)
1. Nyeri akut/ kronis NOC NIC
1. Pain Level Pain Management
2. Pain Control 1. Lakukan pengkajian nyeri
3. Comfort Level secara komprehensif
Kriteria Hasil : termasuk lokasi,
1. Mampu mengontrol karakterisitik, durasi,
nyeri (tahu penyebab frekuensi, kualitas dari
nyeri, mampu faktor presipitasi
menggunakan teknik 2. Kaji kultur yang
nonfarmakologi untuk mempengaruhi respon nyeri
mengurangi nyeri, 3. Evaluasi pengalaman nyeri
mencari bantuan) masa lampau
2. Melaporkan bahwa 4. Evaluasi bersama pasien dan
nyeri berkurang dengan tim kesehatan lain tentang
menggunakan ketidakefektifan kontrol
manajemen nyeri nyeri masa lampau
3. Mampu mengenali nyeri 5. Akupressur
(skala, intensitas, 6. Terapi akupuntur
frekuensi, dan tanda 7. Kontrol lingkungan yang
nyeri) dapat mempengaruhi nyeri
4. Menyatakan rasa seperti suhu ruangan,
nyaman setelah nyeri pencahayaan dan kebisingan
berkurang 8. Kurangi faktor presipitasi
nyeri
9. Pilih dan lakukan
penanganan nyeri
(farmakologi,
nonfarmakologi, dan
interpersonal)
10. Kaji tipe dan sumber nyeri
untuk menentukan intervensi
11. Ajarkan tentang teknik
nonfarmakologi
12. Evaluasi keefektifan kontrol
nyeri
13. Tingkatkan istirahat
14. Kolaborasikan dengan
dokter jika ada keluhan dan
tindakan nyeri tidak berhasil
15. Monitor penerimaan pasien
tentang manajemen nyeri

Analagesic Administration
1. Tentukan lokasi,
karakteristik, kualitas, dan
derajat nyeri sebelum
pemberian obat.
2. Cek instruksi dokter tentang
jenis obat, dosis, dan
frekuensi.
3. Pilih analgesik yang
diperlukan atau kombinasi
dari analgesik ketika
pemberian lebih dari satu
4. Tentukan pilihan analgesik
tergantung tipe dan beratnya
nyeri
5. Tentukan analgesik pilihan,
rute pemberian, dan dosis
optimal.
6. Pilih rute pemberian secara
IV, IM untuk pengobatan
nyeri secara teratur
7. Monitor vital sign sebelum
dan sesudah pemberian
analgesik pertama kali.
8. Berikan analgesik tepat
waktu terutama saat nyeri
hebat
9. Evaluasi efektivitas
analgesik, tanda dan gejala.
2. Hambatan NOC NIC
mobilitas fisik 1. Joint Movement: active Exercise Therapy : Joint
2. Mobility Level Mobility
3. Self Care : ADLs 1. Tentukan keterbatasan
4. Transfer performance gerakan sendi dan pengaruh
terhada fungsi
Kriteria Hasil: 2. Kolaborasikan dengan tim
1. Aktifitas fisik klien medis untuk
meningkat mengembangkan dan
2. Mengerti tujuan dari melaksanakan program
peningkatan mobilitas terapi
3. Memverbalisasikan 3. Jelaskan kepada
perasaan dalam pasien/keluarga pasien
meningkatkan kekuatan tntang tujuan dan rencana
dan kemampuan terapi
perpindahan 4. Manajemen energi
4. Memperagakan 5. Massage
penggunaan alat 6. Lindungi pasien dari trauma
5. Bantu untuk mobilisasi selama latihan
(walker) 7. Bantu pasien untuk
mengoptimalkan posisi
tubuh untuk melakukan
ROM pasif/aktif
8. Bantu pasien melakukan
ROM pssif/aktif
9. Ajarkan pasien/keluarga
pasien cara melakukan ROM
aktif/pasif
10. Dorong pasien untuk
memvisualisasikan gerak
tubuh sebelum memulai
gerakan
11. Anjurkan pasien untuk
duduk di atas tempat tidur, di
sisi tempat tidur, atau di atas
kursi
12. Bantu pasien melakukan
ambulasi
13. Berikan pujian terhadap
perkembangan kemampuan
latihan

3 Defisiensi NOC : NIC :


pengetahuan Knowledge : Disease Process Teaching : Disease Process
berhubungan Knowledge : Health 1. Berikan penilaian tentang
dengan kurangnya Behavior tingkat pengetahuan pasien
pajanan informasi Kriteria hasil : tentang proses penyakit yang
spesifik
1. Klien menyatakan
2. Jelaskan patofisiologi dari
pemahaman tentang
penyakit dan bagaimana hal
penyakit, kondisi,
ini berhubungan dengan
prognosis dan
anatomi dan fisiologi, dengan
program pengobatan
cara yang tepat.
2. Klien dan keluarga
3. Gambarkan tanda dan gejala
mampu melaksanakan
yang biasa muncul pada
prosedur yang
penyakit, dengan cara yang
dijelaskan secara
tepat
benar
4. Gambarkan proses penyakit,
3. Klien dan keluarga
dengan cara yang tepat
mampu menjelaskan
5. Identifikasi kemungkinan
kembali apa yang
penyebab, dengna cara yang
dijelaskan perawat/tim
tepat
kesehatan lainnya
6. Sediakan informasi pada
pasien tentang kondisi,
dengan cara yang tepat
7. Hindari harapan yang kosong
8. Sediakan bagi keluarga
informasi tentang kemajuan
pasien dengan cara yang tepat
9. Diskusikan perubahan gaya
hidup yang mungkin
diperlukan untuk mencegah
komplikasi di masa yang akan
datang dan atau proses
pengontrolan penyakit
10. Diskusikan pilihan terapi atau
penanganan
11. Dukung pasien untuk
mengeksplorasi atau
mendapatkan second opinion
dengan cara yang tepat atau
diindikasikan
12. Eksplorasi kemungkinan
sumber atau dukungan,
dengan cara yang tepat
13. Rujuk pasien pada grup atau
agensi di komunitas lokal,
dengan cara yang tepat
14. Instruksikan pasien mengenai
tanda dan gejala untuk
melaporkan pada pemberi
perawatan kesehatan, dengan
cara yang tepat
C. DAFTAR PUSTAKA
Anggraini, W. 2010. Penatalaksanaan Fisioterapi Pada Ischialgia Dekstra Di RS
Dr Ramelan Surabaya.Surkarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta
Carpenito, LJ. 2001. Buku Saku Diagnosa Keperawatan edisi 6 . Jakarta: EGC
Mahar Mardjono, Priguna Sidharta. Ischialgia dalam Neurologi Klinik
Dasar. Cetakan ke 12. Jakarta: Dian Rakyat. Hal 95-104.
Priguna Sidharta. Rasa Tidak Enak yang Menjalar di Tungkai dalam Buku Sakit
Neuromuskuloskeletal dalam Praktek Umum. Jakarta: Dian Rakyat. 1984.
Hal 235-254.
Rifqi Nurul Minaryanti. Penatalaksanaan Fisioterapi Pada Ischialgia Dengan
Short Wave Diathermy Dan Terapi Latihan Di Rsud Sragen.2009. Fakutas
Ilmu Kesehatan. Universitas Muhamadiyah Surakarta.
Mansjoer, A dkk. 2007. Kapita Selekta Kedokteran, Jilid 1 edisi 3. Jakarta: Media
Aesculapius
Mc Closkey, C.J., et all. 1996. Nursing Interventions Classification (NIC) Second
Edition. New Jersey: Upper Saddle River
Minaryanti, RN. 2009. Karya Tulis Ilmiah Penatalaksanaan Fisioterapi Pada
Ischialgia Dengan Short Wave Diathermy Dan Terapi Latihan Di RSUD
Sragen. Surkarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta
NANDA. 2016. Diagnosis Keperawatan NANDA : Definisi dan Klasifikasi 2015
2017. Jakarta: EGC
Nurarif & Kusuma. 2013. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosis
Medis & NANDA NIC NOC. Yogyakarta: Mediaction

Denpasar, Desember 2016

Mengetahui,

Pembimbing CI Mahasiswa
..................................... Ni Ketut Ayu Pratiwi Catur Wahyuni

NIP. NIM. P07120214019

Mengetahui,

Pembimbing CT

................................

NIP.