Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN PRAKTIKUM

TEKNIK TRANSMISI
LINE CODES

Disusun Oleh:

Afdholul Ihsan (151344002)

Kelas : 3NK1

Tanggal Praktikum : 18 September 2017


Tanggal Pengumpulan : 25 September 2017

TEKNIK TELEKOMUNIKASI
POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
LINE CODE

I. TUJUAN PERCOBAAN

Setelah melakukan percobaan ini, mahasiswa diharapkan mampu:

a. Membentuk pola-pola (kode-kode saluran atau line codes) dalam system transmisi
sinyal PCM, seperti NRZ, RZ, AMI, HDB-2 dan HDB-3
b. Memahami proses pembentukan kode-kode saluran serta tujuan pembentukan kode-
kode tersebut.

II. TEORI PENDAHULUAN

Pulsa-pulsa digital PCM ditransmisikan melalui saluran transmisi dalam bentuk kode-
kode digital yang dinamakan Line Codes. Beberapa pertimbangan dalam memilih jenis Line
Codes, adalah :

Self Synchronization (Clocking)


Sinkronisasi antara pengirim dan penerima dapat diperoleh dari kode-kode tersebut.
Probability of Error (Error Detection)
Line code memudahkan deteksi terhadap kesalahan transmisi bit dan memudahkan
proses decoding sehingga peluang terhadap kesalahan transmisi bit kecil.
Transmission Bandwidth
Ada beberapa line code yang dapat meningkatkan bandwidth transmisi, yaitu untuk
jenis-jenis line code dengan Bit Rate yang tinggi.
Signal interference and noise immunity
Ada beberapa jenis linecode yang handa lterhadap noise, biasanya kehandalan tersebut
dinyatakan dengan Bit Error Rate (peluang suatu bit diterima error).
Cost and complexity
Untuk meningkatkan bit rate diperlukan perangkat-perangkat yang lebih mahal dan
lebih kompleks.

Secara umum, Line Codes dibagi dalam jenis unipolar dan bipolar. Berikut ini beberapa
jenis Line Codes :
1. NRZ (Nonreturn to Zero)

Merupakan jenis line code yang paling umum dan termudah. Kode ini unipolar.
Tegangan positive atau negative dikodekan dengan bit 1 (pulsa positive) sedangkan
tegangan nol dikodekan dengan bit 0. Pada bit 1 yang mengkodekan level tegangan,
tidak ada transisi ke bit 0 dulu, yang artinya level tegangan dikodekan sebagai bit 1
(pulsa positive) selama satu interval clock penuh (satuperioda clock) atau durasi pulsa
100%.

2. RZ (Return to Zero)

Merupakan kode unipolar. Pada prinsipnya sama seperti NRZ, yaitu level tegangan
positive atau negative dikodekan dengan bit 1 dan tegangan nol dikodekan sebagai bit
0, hanya saja pada RZ, setengah perioda clock bit 1 ditekan ke nol (ada transisi ke
bit 0 pada setengah interval bit 1). Jadi, durasi pulsa kode ini adalah 50%.

3. AMI ( Alternate Mark Inversion )

Merupakan kode bipolar. Tegangan nol dikodekan sebagai bit 0, tegangan positive
atau negative dikodekan sebagai pulsa positif dan pulsa negative secara bergantian
(berselang-selang). Keuntungan dari kode ini adalah rata-rata tegangan dc-nya nol dan
dapat digunakan untuk mendeteksi kesalahan, jika terdapat rentetan dua bit 1 yang
ditransmisikan dengan polaritas sama.

4. HDB-2 (High Density Bipolar 2 Zeros)

Kode ini digunakan untuk mengatasi kesalahan persepsi pada penerima jika
ditransmisikan rentetan bit 0 yang panjang, yang memungkinkan loss sinkronisasi.
Transmisi rentetan bit 0 yang panjang memiliki dua pengertian pada penerima, yaitu
transmisi bit 0 atau tidak ada sinyal (transmisi selesai).

Aturannya adalah menambahkan kode-kode sisipan di setiap rentetan 3 bit 0 dari word
PCM. Jika terdapat deretan bit 0 berturut-turut lebih dari 2, maka pada bit 0 ke 3
ditempatkan satu kode violation. Kode violation adalah kode yang berpolaritas sama
denganpulsa (bit 1) sebelumnya pada kode bipolar (gambar 1.1).
DATA

VIOLATION AMI

CLOCK

Gambar 1. 1 Bipolar violation

Aturan Khusus untuk kode violation (V bit) :

Ditempatkan pada bit 0 yang ke-3, dengan polaritas sama dengan bit1 sebelumnya.
Antara V bit dengan V bit berikutnya, polaritasnya harus bergantian.
Antara V bit dengan V bit berikutnya, jika terdapat bit 1 genap atau tidak ada bit 1,
maka bit 0 yang pertama harus diganti dengan bit stuffing yang polaritasnya
berlawanan dengan bit 1 sebelumnya. Kode ini memiliki durasi 50%.

5. HDB-3 (High Density Bipolar 3 Zeros)

Aturannya sama seperti HDB-2, hanya saja kode-kode sisipan ditambahkan di setiap
rentetan 4 bit 0 dariword PCM. Jika terdapat deretan bit 0 berturut-turut lebihdari 3,
maka pada bit 0 ke 4 ditempatkan satu kode violation.
Proses pembentukan kode-kode NRZ, RZ, AMI, HDB-2 dan HDB-3 dapat dilihat pada
gambar 1.2.

III. PERALATAN YANG DIGUNAKAN


a. Pattern Generator 3780A 1 buah
b. Osiloskop 1 buah
c. BNC to BNC 75 ohm 1 buah
d. Frekuensi counter 1 buah
e. Konektor T 1 buah
IV. PROSEDUR PERCOBAAN

1. Menghubungkan clock O/P dan data dari bagian pemancar pattern generator ke
osiloskop dual kanal.
2. Memilih frekuensi clock yang dibangkitkan oleh patern generator apakah f1, f2 atau f3.
3. Menempatkan switch pattern generator ke norm.
4. Mengamati bentuk sinyal pada osiloskop untuk output format line code RNZ, RZ, AMI,
HDB-2 dan HDB-3 untuk masing-masing word PCM 0000, 1010, 1100, dan 1111.
5. Menggambar hasil pengamatan pada tabel.
6. Simpulkan hasil pengamatan.

V. HASIL PERCOBAAN

DATA 0000

RZ NRZ AMI

CODE HDB 2 CODE HDB 3


DATA 1000

NRZ RZ AMI

CODE HDB 2 CODE HDB 3

DATA 1010

RZ NRZ AMI

CODE HDB 2 CODE HDB 3


DATA 1100

NRZ RZ AMI

CODE HDB 2 CODE HDB 3

DATA 1111

RZ NRZ AMI

CODE HDB 2 CODE HDB 3


DATA 1100000 DATA 1100001

RZ AMI

DATA 1100002 DATA 1100002

CODE HDB 2 CODE HDB 3