Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Istilah atresia berasal dari bahasa yunani yaitu a yang berarti tidak ada
dan trepsis yang berarti makanan atau nutrisi. Dalam istilah kedokteran,
atresia adalah suatu keadaan tidak adanya atau tertutupnya lubang badan
normal. Atresia ani adalah malformasi kongenital dimana rectum tidak
mempunyai lubang keluar (Walley. 1996).
Atresia ani adalah tidak lengkapnya perkembangan embrionik pada distal
anus atau tertutupnya anus secara abnormal (Suriadi. 2001).
Sumber lain menyebutkan atresia ani adalah kondisi dimana rektal terjadi
gangguan pemisahan kloaka selama pertumbuhan dalam kandungan.
Keadaan ini disebabkan oleh karena gangguan perkembangan embrional
berupa tidaksempurnanya kanalisasi saluran pencernaan bagian bawah, yaitu
gangguan pertumbuhan septum urorektal, dimana tidak terjadi perforasi
membran yang memisahkan bagian entodermal dengan bagian ektodermal.
Etiologi secara pasti atresia ani belum diketahui, namun ada sumber
mengatakan kelainan bawaan anus disebabkan oleh gangguan pertumbuhan,
fusi, dan pembentukan anus dari tonjolan embriogenik. Angka kejadian rata-
rata malformasi anorektal di seluruh dunia adalah 1 dalam 5000 kelahiran
(Grosfeld J, 2006).
Secara umum, atresia ani lebih banyak ditemukan pada laki-laki daripada
perempuan.
Oleh karena itu penting bagi seorang perawat memahami tentang atresia
ani ini, sehingga dapat melakukan tindakan keperawatan dengan baik dan
pasien yang mengalami atresia ani ini bisa mendapatkan perawatan yang
maksimal.

1
1.2. Tujuan
1.2.1. Tujuan umum
Mampu memberikan asuhan keperawatan pre dan post operatif pada
anak dengan atresia ani.
1.2.2. Tujuan khusus
1) Dapat memahami definisi dari atresia ani
2) Dapat memahami epidemiologi pada atresia ani
3) Dapat memahami etiologi pada atresia ani
4) Dapat memahami patofisiologi atresia ani
5) Dapat memahami pathway pada atresia ani
6) Dapat memahami klasifikasi yang ada pada atresia ani
7) Dapat memahami manifestasi klinis pada atresia ani
8) Dapat memahami pemeriksaan penunjang untuk atresia ani
9) Dapat memahami penatalaksanaan pada atresia ani
10) Dapat memahami asuhan keperawatan pada atresia ani
1.3. Rumusan Masalah
1.3.1. Apakah definisi dari atresia ani?
1.3.2. Bagaimana epidemiologi pada atresia ani?
1.3.3. Apakah etiologi pada atresia ani?
1.3.4. Apakah patofisiologi atresia ani?
1.3.5. Bagaimana pathway pada atresia ani?
1.3.6. Apa saja klasifikasi atresia ani?
1.3.7. Apakah manifestasi klinis yang terdapat pada atresia ani?
1.3.8. Apa saja pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan pada
Atresia ani?
1.3.9. Bagaimanakah penatalaksanaan pada atresia ani?
1.3.10. Apa saja prognosis yang ada pada atresia ani?
1.3.11. Bagaimana asuhan keperawatan pada atresia ani?

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Konsep dasar


2.1.1. Definisi
Menurut kamus kedokteran, Atresia berarti tidak adanya lubang pada
tempat yang seharusnya berlubang. Sehingga atresia ani berarti tidak
terbentuknya lubang pada anus (Nanda Nic-Noc, 2015).
Atresia Ani merupakan kelainan bawaan (kongenital), tidak adanya
lubang atau saluran anus (Donna L. Wong, 520 : 2003).
Klasifikasi :
1) Anomali bawah
Rektum mempunyai jalur desenden normal melalui otot
puborektalis, terdapat spingter internal dan eksternal yang
berkembang baik dengan fungsi normal, dan tidak terdapat
hubungan dengan saluran genitourinari.
2) Anomali intermediate
Rektum berada pada atau di bawah tingkat otot puborektalis, lesung
anal dan spinger eksternal berada pada posisi yang normal.
3) Anomali tinggi
Ujung rektum diatas otot puborektalis, dan spinger internal tidak
ada. Hal ini biasanya berhubungan dengan fistula genitourinarius
rektouretral (pria) atau rektovaginalis (wanita).
2.1.2. Etiologi
Atresia dapat disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain:
1) Putusnya saluran pencernaan dari atas dengan daerah dubur
sehingga bayi lahir tanpa lubang dubur
2) Kegagalan pertumbuhan saat bayi dalam kandungan berusia 12
minggu/3 bulan
3) Adanya gangguan atau berhentinya perkembangan embriologik
didaerah usus, rektum bagian distal serta traktus urogenitalis, yang
terjadi antara minggu keempat sampai keenam usia kehamilan.

3
2.1.3. Manifestasi klinis
1) Mekonium tidak keluar dalam 24 jam pertama setelah kelahiran.
2) Tidak dapat dilakukan pengukuran suhu rectal pada bayi
3) Mekonium keluar melalui sebuah fistula atau anus yang salah
letaknya
4) Distensi bertahap dan adanya tanda-tanda obstruksi usus (bila tidak
ada fistula).
5) Bayi muntah- muntah pada umur 24 - 48 jam
6) Pada pemeriksaan rectal touche terdapat adanya membran anal
7) Perut kembung

2.1.4. Pemeriksaan penunjang


1) X- ray, ini menunjukkan adanya gas dalam usus.
2) Pewarnaan radiopak dimasukkan kedalam traktus urinarius,
misalnya suatu sistrouretrogram mikturasi akan memperlihatkan
hubungan rektrourinarius dan kelainan urinarius.
3) Pemeriksaan urin, perlu dilakukan untuk mengetahui apakah
terdapat mekonium.

2.1.5. Patofisiologi
Atresia ani atau anus imperforate dapat disebabkan karena :
1) Kelainan ini terjadi karena kegagalan pembentukan septum
urorektal secara komplit karena gangguan pertumbuhan, fusi atau
pembentukan anus dari tonjolan embrionik.
2) Putusnya saluran pencernaan dari atas dengan daerah dubur,
sehingga bayi lahir tanpa lubang dubur.
3) Gangguan organogenesis dalam kandungan penyebab atresia ani,
karena ada kegagalan pertumbuhan saat bayi dalam kandungan
berusia 12 minggu atau tiga bulan
4) Berkaitan dengan down sindrome
5) Atresia ani adalah suatu kelainan bawaan
Atresia ani terjadi akibat kegagalan penurunan septum anorektal pada
kehidupan embrional. Manifestasi klinis diakibatkan adanya obstruksi

4
dan adanya fistula. Obstruksi ini mengakibatkan distensi abdomen,
sekuestrasi cairan, muntah dengan segala akibatnya. Apabila urin
mengalir melalui fistel menuju rektum, maka urin akan diabsorbsi
sehingga terjadi asidosis hiperkloremia, sebaliknya feses mengalir
kearah traktus urinarius menyebabkan infeksi berulang.
Pada keadaan ini biasanya akan terbentuk fistula antara rektum dengan
organ sekitarnya. Pada perempuan, 90% dengan fistula ke vagina
(rektovagina) atau perineum (rektovestibuler). Pada laki-laki
umumnya fistula menuju ke vesika urinaria atau ke prostat
(rektovesika) bila kelainan merupakan letak tinggi, pada letak rendah
fistula menuju ke uretra (rektouretralis) (Faradilla, 2009).

5
2.1.6. Patoflow diagram

- Gang. Pertumbuhan ATRESIA ANI Vistel rektovaginal,


- Fusi genitourinarius rektouretral
- Pembentukan anus dan Feses tidak keluar Feses masuk ke uretra
Tonjolan embriogenik
Feses menumpuk Mikroorganisme masuk
Kelainan kongenital ke saluran kemih

Reabsorbsi sisa Peningkatan tekanan Dysuria


Metabolisme oleh tubuh intrabdominal
Gangguan eliminasi urine

Keracunan Operasi Anoplasti

Mual, muntah Ansietas Perubahan defekasi :


Pengeluaran tidak
Resiko kerusakan
Ketidakseimbangan terkontrol, iritasi
integritas kulit
nutrisi kurang dari mukosa
kebutuhan tubuh

Abnormalitas spingter Trauma jaringan


rektal
Nyeri
Inkontinensia defekasi

Perawatan tidak adekuat

Resiko infeksi

Sumber : Nanda Nic-Noc, 2015

6
2.1.7. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan atresia ani tergantung klasifikasinya. Pada atresia
ani letak tinggi harus dilakukan kolostomi terlebih dahulu. Pada
beberapa waktu lalu penanganan atresia ani menggunakan prosedur
abdominoperineal pullthrough, tapi metode ini banyak menimbulkan
inkontinen feses dan prolaps mukosa usus yang lebih tinggi. Pena dan
Defries (1982) memperkenalkan metode operasi dengan pendekatan
postero sagital anoretoplasi (PSARP), yaitu dengan cara membelah
muskulus sfingter eksternus dan muskulus levator ani untuk
memudahkan mobilisasi kantong rektum dan pemotongan fistel.
Keberhasilan penatalaksanaan atresia ani di nilai dari fungsinya
secar jangka panjang, meliputi anatomisnya, fungsi fisiologisnya ,
bentuk kosmetik serta antisipasi trauma psikis. Untuk menangani
secara tepat, harus ditentukan ketinggian akhiran rektum yang dapat
ditentukan dengan berbagai cara antara lain dengan pemeriksaan fisik,
radiologi dan USG.
Dari berbagai klasifikasi, penatalaksanaanya berbeda tergantung
pada letak ketinggian akhiran rektum dan ada tidaknya fistula. Leape
(1987) menganjurkan :
1) Atresia ani letak tinggi dan intermediet dilakukan sigmoid
kolostomi atau TCD dahulu, setelah 6-12 bulan baru dikerjakan
tindakan definitif (PSARP).
2) Atresia ani letak rendah dilakukan perineal anoplasti, dimana
sebelumnya dengan stimulator otot untuk identifikasi batas otot
sfinger ani ekternus.
3) Bila terdapat fistula dilakukan cut back incicion
4) Pada stenosis ani cukup dilakukan dilatasi rutin, berbeda dengan
pena dimana dikerjakan minimal PSARP tanpa kolostomi.

7
2.2. Konsep dasar asuhan keperawatan
2.2.1. Pengkajian
1) Biodata klien
2) Riwayat keperawatan :
Riwayat keperawatan/kesehatan sekarang.
3) Riwayat psikologis
Koping keluarga dalam menghadapi masalah.
4) Riwayat tumbuh kembang BB lahir abnormal.
a) Kemampuan motorik halus, motorik kasar, kognitif dan tumbuh
kembang pernah mengalami trauma saat sakit.
b) Sakit kehamilan mengalami infeksi intrapartal.
c) Sakit kehamilan tidak keluar mekonium.
5) Riwayat sosial
6) Hubungan sosial
7) Pemeriksaan fisik.
Hasil pemeriksaan fisik yang didapatkan pada pasien atresia ani
adalah anus tampak merah, usus melebar, kadang-kadang tampak
ileus obstruksi, termometer yang dimasukkan melalui anus tertahan
oleh jaringan, pada auskultasi terdengar hiperperistaltik, tanpa
mekonium dalam 24 jam setelah bayi lahir, tinja dalam urin dan
vagina.
2.2.2. Diagnosis keperawatan
Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul :

1. Pre Operasi

a. Inkontinentia bowel berhubungan dengan tidak lengkapnya


pembentukan anus.

b. Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan


muntah.

c. Kecemasan orang tua berhubungan dengan kurang pengetahuan


tentang penyakit dan prosedur perawatan.

8
2. Post Operasi

a. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan insisi


pembedahan.

b. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan


dengan anoreksia.

c. Resiko infeksi berhubungan dengan prosedur pembedahan.

d. Kurangnya pengetahuan keluarga berhubungan dengan kebutuhan


perawatan dirumah.

2.2.3. Intervensi keperawatan


a. Pre Operasi

Dx Hasil yang Intervensi Rasional


diharapkan
Dx Pasien 1. Lakukan dilatasi anal sesuai program. 1. Meningkatkan
1 menunjukkan 2. Kaji bising usus dan abdomen setiap 4 kenyamanan pada anak.
konsistensi tinja jam. 2. Menyakinkan
lembek, 3. Ukur lingkar abdomen pasien. berfungsinya usus.
terbentuknya 4. Pertahankan puasa dan berikan terapi 3. Membantu mendeteksi
tinja, tidak ada hidrasi IV sampai fungsi usus normal. terjadinya distensi.
nyeri saat 4. Memulihkan dan
defekasi, dan mengembalikan fungsi
tidak terjadi usus.
perdarahan.

Dx Turgor kulit 1. Awasi masukan dan keluaran cairan. 1. Untuk memberikan


2 baik dan bibir 2. Kaji tanda-tanda vital seperti TD, informasi tentang
tidak kering , frekuensi jantung, dan nadi. keseimbangan cairan.
serta TTV 3. Observasi tanda-tanda perdarahan yang 2. Kekurangan cairan
dalam batas terjadi post operasi. meningkatkan frekuensi
normal. 4. Kolaborasi dalam pemberian cairan jantung, TD dan nadi
elektrolit sesuai indikasi. turun.
3. Penurunan volume
menyebabkan
kekeringan pada
jaringan.
4. Untuk pemenuhan
cairan yang hilang.
Dx Ansietas 1. Kaji status mental dan tingkat ansietas 1. Derajat ansietas akan
3 berkurang, dan dari pasien dan keluarga. dipengaruhi bagaimana
pasien tidak 2. Jelaskan dan persiapkan untuk tindakan informasi tersebut
prosedur sebelum dilakukan operasi. diterima.

9
gelisah. 3. Beri kesempatan pasien untuk 2. Dapat meringankan
mengungkapkan isi pikiran dan perasaan ansietas terutama ketika
takutnya. tindakan operasi
4. Ciptakan lingkungan yang tenang dan tersebut dilakukan.
nyaman. 3. Mengungkapkan rasa
takut secara terbuka
dimana rasa takut dapat
ditujukan.
4. Lingkungan yang
nyaman dapat
mengurangi ansietas.

b. Post Operasi

Dx Hasil yang Intervensi Rasional


diharapkan
Dx Pasien 1. Kaji karakteristik, lokasi, durasi, frekuensi, dan 1. Bantu pasien untuk
1 mengatakan nyeri kualitas nyeri. menilai nyeri dan sebagai
berkurang, skala 2. Ajarkan pasien manajemen nyeri dengan temuan dalam
nyeri 0-1, dan teknik relaksasi dan distraksi. pengkajian.
ekspresi wajah 3. Ciptakan lingkungan yang nyaman dan 2. Membantu dalam
terlihat rileks. anjurkan pasien untuk istirahat. menurukan atau
4. Kolaborasi untuk pemberian analgetik sesuai mengurangi persepsi atau
advis dokter. respon nyeri.
3. Memberikan kenyamanan
untuk pasien agar dapat
istirahat.
4. Untuk mengurangi rasa
nyeri.
Dx Tidak terjadi 1. Kaji kemampuan pasien untuk menelan dan 1. Menentukan pemilihan
2 penurunan BB, menguyah makanan. jenis makanan sehingga
dan pasien tidak 2. Timbang berat badan sesuai indikasi. mencegah terjadinya
mual dan muntah. 3. Jaga keamanan saat memberikan makan pasien aspirasi.
seperti kepala sedikit fleksi saat menelan. 2. Mengevaluasi
4. Berikan makanan lembut dalam porsi sedikit keadekuatan rencana
tapi sering. pemenuhan nutrisi.
3. Menurunkan resiko
terjadinya aspirasi dan
mengurangi rasa nyeri
pada saat menelan.
4. Meningkatkan
pemasukan dan
menurunkan distress
gaster.
Dx Tidak ada tanda- 1. Pantau suhu tubuh pasien (peningkatan suhu). 1. Demam dapat terjadi
3 tanda infeksi, 2. Ajarkan keluarga teknik mencuci tangan karena infeksi.
pemeriksaan dengan benar dan menggunakan sabun anti 2. Faktor ini paling
laboratorium mikroba. sederhana tetapi paling
tidak ditemukan 3. Pertahankan teknik aseptik pada perawatan penting untuk mencegah
peningkatan luka. infeksi di rumah sakit.
leukosit, dan luka 4. Kolaborasi dalam pemberian antibiotik. 3. Mencegah terjadinya
post operasi 5. Kolaborasi dalam pemeriksaan laboratorium. infeksi nosokomial.
bersih. 4. Mencegah terjadinya
infeksi luka.

10
5. Peningkatan leukosit
menunjukkan adanya
infeksi.
Dx Kelurga 1. Ajarkan perawatan kolostomi dan partisipasi 1. Agar keluarga dapat
4 menunjukkan dalam perawatan. melakukannya.
kemampuan 2. Ajarkan untuk mengenal tanda-tanda dan 2. Agar segera dilakukan
untuk gejala yang perlu dilaporkan perawat. tindakan.
memberikan 3. Ajarkan keluarga cara perawatan luka yang 3. Dapat memberikan
perawatan untuk tepat. pengetahuan keluarga.
bayi di rumah. 4. Latih keluarga untuk kebiasaan defekasi. 4. Untuk melatih pasien.
5. Ajarkan keluarga untuk memodifikasi diit 5. Membantu pasien
Keluarga tahu (misalnya serat). memperlancar defekasi.
dan memahami
dalam
memberikan
perawatan pada
pasien.

11
Asuhan keperawatan pada klien An. A
Dengan diagnosa medis Atresia Ani

A. Pengkajian
1. Identitas klien
Nama : An. A
Umur : 1 hari
Jenis kelamin : Perempuan
Diagnosa Medis : Atresia Ani
Identitas Penanggung Jawab (Orang Tua)
Nama : Ny. N
Umur : 25 thn
Alamat : Jl. Pasar Lama, Sentani

2. Riwayat kesehatan
a. Keluhan utama :
Orang tua klien mengatakan anaknya tidak mempunyai anus
b. Riwayat penyakit sekarang :
Klien lahir 1 hari SMRS bayi lahir di rumah dengan bantuan bidan,
bayi lahir cukup bulan, dengan berat badan 3500gr. Klien langsung
menangis saat dilahirkan. Saat lahir klien tidak mengelurkan
meconium dan saat diperiksa klien tidak memiliki anus, kemudian
klien juga mengalami perut kembung, muntah dan tidak mau menetek.
Ibu klien sangat khawatir dan sedih dengan anaknya yang baru lahir
namun tidak mempunyai anus.
c. Riwayat Kesehatan masa lalu
1) Prenatal
Ibu klien mengandung klien selama 9 bulan 10 hari dan rutin
melakukan pemeriksaan ANC ke bidan. Ibu klien juga minum obat
penambah darah 1x sehari sejak usia kehamilan 4 bulan.

12
2) Natal
Ibu klien melahirkan dengan usia kehamilan 38 minggu. Klien
melahirkan dengan persalinan normal dan spontan dibantu oleh
Bidan Desa dengan didampingi oleh suaminya.
3) Post Natal
Pada saat melahirkan, ibu klien tidak mengalami perdarahan dan
klien tidak mengalami asfiksia. Pada saat setelah lahir klien tidak
mau minumASI dan klien tidak mempunyai anus.
d. Riwayat kesehatan keluarga :
Orang tua klien mengatakan dalam keluarganya tidak ada yang pernah
mengalami penyakit sama seperti yang dialami klien dan keluarga
klien tidak ada riwayat penyakit turunan.

3. Tanda-tanda vital :
a. Kesadaran : Compos mentis
b. Suhu badan : 36,5C
c. Denyut nadi : 100 x/menit
d. Pernafasan : 30 x/menit
e. BBL : 3500gr
f. PBL : 45 cm

4. Pemeriksaan fisik pada organ tubuh:


a. Genitalia dan rektal
Rektal : klien tidak mempunyai anus.

13
5. Pemeriksaan penunjang :
a. Pemeriksaan Radiologi

6. Klasifikasi data
No. Data Subjektif Data Objektif
1. Orang tua klien mengatakan: Klien tampak:
- Anaknya tidak mempunyai - Tidak mempunyai anus
anus - Klien belum pernah BAB
- Saat lahir klien tidak - Klien tampak lemah dan
mengelurkan meconium dan gelisah
saat diperiksa klien tidak - Perut klien tampak kembung
memiliki anus - Klien tampak muntah setelah
- Klien mengalami perut disusui
kembung, muntah dan tidak - Orang tua klien tampak gelisah
mau menetek. dan sedih dengan keadaan
- Orang tua klien sangat anaknya
khawatir dan sedih dengan
anaknya yang baru lahir

14
namun tidak mempunyai
anus.

7. Analisa data
DS/DO Etiologi Problem
DS : Tidak lengkapnya Inkontinensia
Orang tua klien mengatakan: Bowel
pembentukan anus
- Anaknya tidak mempunyai
anus
- Saat lahir klien tidak
mengelurkan meconium
dan saat diperiksa klien
tidak memiliki anus
- Klien mengalami perut
kembung, muntah dan
tidak mau menetek.

DO :
Klien tampak:
- Tidak mempunyai anus
- Klien belum pernah BAB
- Klien tampak lemah dan
gelisah
- Perut klien tampak
kembung
- Klien muntah setelah
disusui

DS: Ketidakmampuan Risiko


- Klien mengalami perut mencerna makanan ketidakseimbangan
(mual, muntah) nutrisi kurang dari
kembung, muntah dan
kebutuhan tubuh
tidak mau menetek.
- Saat lahir klien tidak

15
mengelurkan meconium
dan saat diperiksa klien
tidak memiliki anus

DO :
- Klien muntah setelah
disusui
- Klien tampak lemah dan
gelisah
- Perut klien tampak
kembung
DS : kurang Kecemasan orang
- Orang tua klien sangat tua
pengetahuan
khawatir dan sedih dengan
tentang penyakit
anaknya yang baru lahir
dan prosedur
namun tidak mempunyai
perawatan.
anus.
DO :
- Orang tua klien tampak
gelisah dan sedih dengan
keadaan anaknya

8. Diagnosa Keperawatan
Pre Operasi
a. Inkontinentia bowel berhubungan dengan tidak lengkapnya
pembentukan anus
b. Risiko ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan Ketidakmampuan mencerna makanan (mual,
muntah)
c. Kecemasan orang tua berhubungan dengan kurang pengetahuan
tentang penyakit dan prosedur perawatan.

16
9. Intervensi Keperawatan dan Implementasi

Diagnosis Kep Tujuan dan KH Intervensi Keperawatan Rasional Implementasi


Dx 1 : Klien 1. Lakukan dilatasi anal 1. Meningkatkan kenyamanan pada 1. Melakukan dilatasi
Inkontinentia bowel menunjukkan sesuai program. anak. anal sesuai program.
berhubungan dengan konsistensi tinja2. Kaji bising usus dan 2. Menyakinkan berfungsinya usus. 2. Mengkaji bising usus
tidak lengkapnya lembek, abdomen setiap 4 jam. 3. Membantu mendeteksi terjadinya dan abdomen setiap 4
pembentukan anus terbentuknya 3. Ukur lingkar abdomen distensi. jam.
tinja, tidak ada klien. 4. Memulihkan dan mengembalikan 3. Mengukur lingkar
nyeri saat 4. Pertahankan puasa dan fungsi usus. abdomen klien.
defekasi, dan berikan terapi hidrasi IV 4. Mempertahankan puasa
tidak terjadi sampai fungsi usus dan berikan terapi
perdarahan. normal. hidrasi IV sampai
5. Kolaborasi dalam fungsi usus normal.
melakukan pembedahan 5. Melakukan
kolostomi pembedahan kolostomi
Dx 2 : Kebutuhan nutrisi 1. Monitor status nutrisi 1. Untuk mengetahui status nutrisi 1. Memonitor status
Risiko klien terpenuhi klien pasien nutrisi klien
ketidakseimbangan 2. Kaji kemampuan pasien 2. Mengetahui kemampuan pasien 2. Mengkaji kemampuan
nutrisi kurang dari untuk mendapatkan untuk mendapatkan nutrisi pasien untuk
kebutuhan tubuh nutrisi yang dibutuhkan 3. Mengetahui apakah ada penurunan mendapatkan nutrisi
berhubungan dengan 3. Monitor adanya berat badan pasien dan apakah yang dibutuhkan
Ketidakmampuan penurunan berat badan masukan nutrisi terpenuhi atau 3. Memonitor adanya
mencerna makanan tidak. penurunan berat badan
(mual, muntah)

17
Dx 3: Ansietas 5. Kaji status mental dan 5. Derajat ansietas akan dipengaruhi 1. Mengkaji status
Kecemasan orang berkurang, dan tingkat ansietas dari bagaimana informasi tersebut mental dan tingkat
tua berhubungan orang tua klien pasien dan keluarga. diterima. ansietas dari pasien
dengan kurang tidak gelisah. 6. Jelaskan dan persiapkan 6. Dapat meringankan ansietas dan keluarga.
pengetahuan tentang untuk tindakan prosedur terutama ketika tindakan operasi 2. Menjelaskan dan
penyakit dan sebelum dilakukan tersebut dilakukan. persiapkan untuk
prosedur perawatan. operasi. 7. Mengungkapkan rasa takut secara tindakan prosedur
7. Beri kesempatan pada terbuka dimana rasa takut dapat sebelum dilakukan
orang tua klien untuk ditujukan. operasi.
mengungkapkan isi 8. Lingkungan yang nyaman dapat 3. Memberikan
pikiran dan perasaan mengurangi ansietas. kesempatan pada
takutnya. orang tua klien untuk
8. Ciptakan lingkungan mengungkapkan isi
yang tenang dan pikiran dan perasaan
nyaman. takutnya.
4. menciptakan
lingkungan yang
tenang dan nyaman.

18
10. Evaluasi
Diagnosis Keperawatan Evaluasi
Dx 1 : S:
Inkontinentia bowel berhubungan - Orang tua klien mengatakan
dengan tidak lengkapnya pembentukan klien masih belum bias BAB
anus - Orang tua klien mengatakan
perut klien masih terlihat
membuncit
- Klien masih gelisah
O:
- Klien tampak belum BAB
- Klien tampak geliah dan perut
tampak membuncit
A: masalah belum teratasi
P: lanjutkan intervensi 1,2,3,4,5
Dx 2 : S: orang tua klien mengatakan
Risiko ketidakseimbangan nutrisi - Klien masih muntah setelah di
kurang dari kebutuhan tubuh susui
berhubungan dengan Ketidakmampuan - Klien kadang tidak mau di susui
mencerna makanan (mual, muntah) O: klien tampak masih muntah dan
belum mau disusui
A: masalah belum teratasi
P: lanjutkan intervensi 1,2,3
Dx 3: S:
Kecemasan orang tua berhubungan - orang tua klien mengatakan
dengan kurang pengetahuan tentang sudah sedikit mengerti dan tahu
penyakit dan prosedur perawatan. penyakit yang di derita anaknya
dan bersedia di lakukan
pembedahan
O:
- ansietas berkurang
- Tampak masih sedikit gelisah
sebelum dilakukan pembedahan
A: masalah belum teratasi
P: lanjutkan intervensi 3 dan 4

19
BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Atresia ani atau anus imperforata adalah suatu kelainan kongenital tanpa
anus atau tertutupnya lubang anus secara abnormal dengan beberapa
penyebab diantaranya adalah putusnya saluran pencernaan di atas dengan
daerah dubur, sehingga bayi lahir tanpa lubang dubur, gangguan organ
ogenesis dalam kandungan dan berkaitan dengan down syndrome.
Atresia ani biasanya jelas sehingga diagnosis sering dapat ditegakkan segera
setelah bayi lahir dengan melakukan inspeksi secara tepat dan cermat pada
daerah perineum.
3.2. Saran
Membekali diri dengan ilmu pengetahuan dan memperluas wawasan tentang
cacat/ kelainan kongenital pada bayi baru lahir dengan atresia ani.
Lebih komprehensif dalam melaksanakan asuhan keperawatan dan mampu
memberikan pelayanan keperawatan dengan menggunakan asuhan sesuai
prosedur.
Dapat meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan.
Dapat saling kerja sama antara petugas kesehatan untuk meningkatkan mutu
pelayanan.

20
DAFTAR PUSTAKA

Amin & Hardhi, (2015). Aplikasi Asuhan Keperawtan Berdasarkan Diagnosa


Medis dam Nanda Nic-Noc Jilid 1. Jogjakarta : Mediaction Jogja
Betz, Cealy L. & Linda A. Sowden. (2002). Buku Saku Keperawatan Pediatrik.
Edisi ke-3. Jakarta : EGC.
Wong, Donna L. (2003). Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik edisi ke-4.
Jakarta : EGC.

21