Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Osteoporosis dapat dijumpai tersebar di seluruh dunia dan sampai saat ini masih
merupakan masalah dalam kesehatan masyarakat terutama di negara berkembang. Di
Amerika Serikat osteoporosis menyerang 20-25 juta penduduk, 1 diantara 2-3 wanita
post-menopause dan lebih dari 50% penduduk di atas umur 75-80 tahun. Sekitar 80%
persen penderita penyakit osteoporosis adalah wanita, termasuk wanita muda yang
mengalami penghentian siklus menstruasi (amenorrhea). Hilangnya hormon estrogen
setelah menopause meningkatkan risiko terkena osteoporosis.
Penyakit osteoporosis lebih banyak menyerang wanita, pria tetap memiliki risiko
terkena penyakit osteoporosis. Sama seperti pada wanita, penyakit osteoporosis pada
pria juga dipengaruhi estrogen. Bedanya, laki-laki tidak mengalami menopause,
sehingga osteoporosis datang lebih lambat. Jumlah usia lanjut di Indonesia diperkirakan
akan naik 414 persen dalam kurun waktu 1990-2025, sedangkan perempuan menopause
yang tahun 2000 diperhitungkan 15,5 juta akan naik menjadi 24 juta pada tahun 2015.
Beberapa fakta seputar penyakit osteoporosis yang dapat meningkatkan kesadaran akan
ancaman osteoporosis berdasar Studi di Indonesia:
Prevalensi osteoporosis untuk umur kurang dari 70 tahun untuk wanita sebanyak
18-36%, sedangkan pria 20-27%, untuk umur di atas 70 tahun untuk wanita 53,6%, pria
38%. Lebih dari 50% keretakan osteoporosis pinggang di seluruh dunia kemungkinan
terjadi di Asia pada 2050. (Yayasan Osteoporosis Internasional) Mereka yang terserang
rata-rata berusia di atas 50 tahun. (Yayasan Osteoporosis Internasional) Satu dari tiga
perempuan dan satu dari lima pria di Indonesia terserang osteoporosis atau keretakan
tulang. (Yayasan Osteoporosis Internasional) Dua dari lima orang Indonesia memiliki
risiko terkena penyakit osteoporosis. (depkes, 2006).
Berdasar data Depkes, jumlah penderita osteoporosis di Indonesia jauh lebih
besar dan merupakan Negara dengan penderita osteoporosis terbesar ke 2 setelah
Negara Cina.Peran perawat adalah memberikan pengetahuan mengenai osteoporosis,
program pencegahan, pengobatan, cara mengurangi nyei dan mencegah terjadinya
faktur.

1| K o n s e p P e n y a a k i t O s t e o p o r o s i s
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa definisi dari osteoporosis ?
2. Apa sajakah jenis-jenis osteoporosis ?
3. Apa penyebab dari osteoporosis itu sendiri ?
4. Bagaimanakah proses terjadinya osteoporosis ?
5. Apa sajakah tanda dan gejala timbulnya osteoporosis ?
6. Apa komplikasi yang ditimbulkan dari osteoporosis ?
7. Apa saja pemeriksaan yang dapat dilakukan pada pasien dengan
osteoporosis ?
8. Bagaiamanakah penatalaksanaan osteoporosis ?

1.3 Tujuan Penulisan


1. Bisa memahami apa yang dimaksud dengan osteoporosis
2. Bisa mengetahui apa saja jenis-jenis dari osteoporosis itu sendiri
3. Bisa memahami apa saja yang dapat menyebabkan timbulnya
osteoporosis
4. Bisa mengetahui bagaimana proses terjadinya osteoporosis
5. Bisa mengetahui apa-apa saja tanda dan gejala yang ditimbulkan dari
osteoporosis itu sendiri
6. Bisa mengetahui apa saja komplikasi dari osteoporosis
7. Mengetahui pemeriksaan yang dapat dilakukan pada pasien osteoporosis
8. Bisa memahami penatalaksanaan pasien dengan osteoporosis.

1.4 Manfaat Penulisan


Penulis berharap bahwa makalah ini dapat bermanfaat bagi mahasiswa
keperawatan khususnya Fakultas Keperawatan Universitas Andalas dalam memahami
konsep penyakit osteoporosis.

2| K o n s e p P e n y a a k i t O s t e o p o r o s i s
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Definisi
Osteoporosis adalah kelainan di mana terjadi penurunan massa tulang total.
Terdapat perubahan pergantian tulang homeostasis normal, kecepatan resorpsi tulang
lebih besar dari kecepatan pembentukan tulang, pengakibatkan penurunan masa tulang
total. Tulang secara progresif menjadi porus, rapuh dan mudah patah; tulang menjadi
mudah fraktur dengan stres yang tidak akan menimbulkan pengaruh pada tulang normal
(Brunner&Suddarth, 2000).
Menurut WHO pada International Consensus Development Conference, di Roma,
Itali, 1992 Osteoporosis adalah penyakit dengan sifat-sifat khas berupa massa tulang
yang rendah, disertai perubahan mikroarsitektur tulang, dan penurunan kualitas jaringan
tulang, yang pada akhirnya menimbulkan akibat meningkatnya kerapuhan tulang
dengan resiko terjadinya patah tulang (Suryati, 2006).
Osteoporosis adalah gangguan metabolisme tulang sehingga masa tulang
berkurang. Resorpsi terjadi lebih cepat dari pada formasi tulang, sehingga tulang
menjadi tipis (Pusdiknakes, 1995). Jadi osteoporosis adalah kelainan atau gangguan
yang terjadi karena penurunan masa tulang total.

2.2 Jenis Jenis Osteoporosis


1. Osteoporosis primer adalah kehilangan massa tulang yang terjadi sesuai dengan
proses penuaan. Sampai saat ini osteoporosis primer masih menduduki tempat utama
karena lebih banyak ditemukan dibanding dengan osteoporosis sekunder. Proses
ketuaan pada wanita menopause dan usia lanjut merupakan contoh dari osteoporosis
primer.
2. Osteoporisis sekunder didefinisikan sebagai kehilangan massa tulang akibat hal
hal tertentu. mungkin berhubungan dengan kelainan patologis tertentu termasuk
kelainan endokrin, epek samping obat obatan, immobilisasi, Pada osteoporosis
sekunder, terjadi penurunan densitas tulang yang cukup berat untuk menimbulkan
fraktur traumatik akibat faktor ekstrinsik seperti kelebihan steroid, artritis reumatoid,

3| K o n s e p P e n y a a k i t O s t e o p o r o s i s
kelainan hati/ginjal kronis, sindrom malabsorbsi, mastositosis sistemik,
hiperparatiroidisme, hipertiroidisme, varian status hipogonade, dan lain-lain.

2.3Etiologi
Faktor-faktor yang mempengaruhi pengurangan massa tulang pada usialanjut:
a. Determinan Massa Tulang
Faktor genetik
Perbedaan genetik mempunyai pengaruh terhadap derajatkepadatan tulang.
Beberapa orang mempunyai tulang yang cukupbesar dan yang lain kecil. Sebagai
contoh, orang kulit hitam padaumumnya mempunyai struktur tulang lebih kuat/berat
dari paciabangsa Kaukasia. Jacii seseorang yang mempunyai tulang kuat(terutama kulit
Hitam Amerika), relatif imun terhadap fraktur karenaosteoporosis.
Faktor mekanis
Beban mekanis berpengaruh terhadap massa tulang di sampingfaktor genetk.
Bertambahnya beban akan menambah massa tulangdan berkurangnya beban akan
mengakibatkan berkurangnya massatulang. Dengan perkataan lain dapat disebutkan
bahwa adahubungan langsung dan nyata antara massa otot dan massa tulang.Kedua hal
tersebut menunjukkan respons terhadap kerja mekanikBeban mekanik yang berat akan
mengakibatkan massa otot besardan juga massa tulang yang besar. Sebagai contoh
adalah pemaintenis atau pengayuh becak, akan dijumpai adanya hipertrofi baikpada otot
maupun tulangnya terutama pada lengan atau tungkainya;sebaliknya atrofi baik pada
otot maupun tulangnya akan dijumpaipada pasien yang harus istrahat di tempat tidur
dalam waktu yanglama, poliomielitis atau pada penerbangan luar angkasa.
Walaupundemikian belum diketahui dengan pasti berapa besar beban mekanisyang
diperlukan dan berapa lama untuk meningkatkan massa tulangdi sampihg faktor
genetik.

Faktor makanan dan hormon


Pada seseorang dengan pertumbuhan hormon dengan nutrisi yangcukup (protein
dan mineral), pertumbuhan tulang akan mencapaimaksimal sesuai dengan pengaruh
genetik yang bersangkutan.Pemberian makanan yang berlebih (misainya kalsium) di

4| K o n s e p P e n y a a k i t O s t e o p o r o s i s
ataskebutuhan maksimal selama masa pertumbuhan, disangsikan dapatmenghasilkan
massa tulang yang melebihi kemampuanpertumbuhan tulang yang bersangkutan sesuai
dengan kemampuangenetiknya.
b. Determinan penurunan Massa Tulang
Faktor genetik
Faktor genetik berpengaruh terhadap risiko terjadinya fraktur. Padaseseorang
dengan tulang yang kecil akan lebih mudah mendapatrisiko fraktur dari pada seseorang
dengan tulang yang besar. Sampaisaat ini tidak ada ukuran universal yang dapat dipakai
sebagaiukuran tulang normal. Setiap individu mempunyai ketentuan normalsesuai
dengan sitat genetiknya serta beban mekanis den besarbadannya. Apabila individu
dengan tulang yang besar, kemudianterjadi proses penurunan massa tulang
(osteoporosis) sehubungandengan lanjutnya usia, maka individu tersebut relatif
masihmempunyai tulang tobih banyak dari pada individu yang mempunyaitulang kecil
pada usia yang sama.
Faktor mekanis
Di lain pihak, faktor mekanis mungkin merupakan faktor yangterpenting dalarn
proses penurunan massa tulang schubungandengan lanjutnya usia. Walaupun demikian
telah terbukti bahwa adainteraksi panting antara faktor mekanis dengan faktor
nutrisihormonal. Pada umumnya aktivitas fisis akan menurun denganbertambahnya
usia; dan karena massa tulang merupakan fungsibeban mekanis, massa tulang tersebut
pasti akan menurun denganbertambahnya usia.
Kalsium
Faktor makanan ternyata memegang peranan penting dalam prosespenurunan massa
tulang sehubungan dengan bertambahnya Lisia,terutama pada wanita post menopause.
Kalsium, merupakan nutrisiyang sangat penting. Wanita-wanita pada masa peri
menopause,dengan masukan kalsiumnya rendah dan absorbsinya tidak bak,akan
mengakibatkan keseimbangan kalsiumnya menjadi negatif,sedang mereka yang
masukan kalsiumnya baik dan absorbsinyajuga baik, menunjukkan keseimbangan
kalsium positif. Dari keadaanini jelas, bahwa pada wanita masa menopause ada
hubungan yangerat antara masukan kalsium dengan keseimbangan kalsium
dalamtubuhnya. Pada wanita dalam masa menopause keseimbangankalsiumnya akan

5| K o n s e p P e n y a a k i t O s t e o p o r o s i s
terganggu akibat masukan serta absorbsinyakurang serta eksresi melalui urin yang
bertambah. Hasil akhirkekurangan/kehilangan estrogen pada masa menopause
adalahpergeseran keseimbangan kalsium yang negatif, sejumiah 25 mgkalsium sehari.
Protein
Protein juga merupakan faktor yang penting dalam mempengaruhipenurunan massa
tulang. Makanan yang kaya protein akanmengakibatkan ekskresi asam amino yang
mengandung sulfatmelalui urin, hal ini akan meningkatkan ekskresi kalsium.Pada
umumnya protein tidak dimakan secara tersendiri, tetapibersama makanan lain. Apabila
makanan tersebut mengandungfosfor, maka fosfor tersebut akan mengurangi ekskresi
kalsiummelalui urin. Sayangnya fosfor tersebut akan mengubah pengeluarankalsium
melalui tinja. Hasil akhir dari makanan yang mengandungprotein berlebihan akan
mengakibatkan kecenderungan untuk terjadikeseimbangan kalsium yang negatif
Estrogen
Berkurangnya/hilangnya estrogen dari dalam tubuh akanmengakibatkan terjadinya
gangguan keseimbangan kalsium. Hal inidisebabkan oleh karena menurunnya eflsiensi
absorbsi kalsium darimakanan dan juga menurunnya konservasi kalsium di ginjal.
Rokok dan kopi
Merokok dan minum kopi dalam jumlah banyak cenderung akanmengakibatkan
penurunan massa tulang, lebih-lebih bila disertaimasukan kalsium yang rendah.
Mekanisme pengaruh merokokterhadap penurunan massa tulang tidak diketahui, akan
tetapi kafeindapat memperbanyak ekskresi kalsium melalui urin maupun tinja.
Alkohol
Alkoholisme akhir-akhir ini merupakan masalah yang seringditemukan. Individu
dengan alkoholisme mempunyai kecenderunganmasukan kalsium rendah, disertai
dengan ekskresi lewat urin yangmeningkat. Mekanisme yang jelas belum diketahui
dengan pasti .

2.4Patofisiologi
Dalam keadaan normal, tulang dalam keadaan seimbang antara proses
pembentukan dan penghancuran. Fungsi penghancuran (resorpsi) yang dilaksanakan
oleh osteoklas, dan fungsi pembentukan yang dijalankan oleh osteoblas senantiasa

6| K o n s e p P e n y a a k i t O s t e o p o r o s i s
berpasangan dengan baik. Fase yang satu akan merangsang terjadinya fase yang lain.
Dengan demikian tulang akan beregenerasi. Keseimbangan kalsium, antara yang masuk
dan keluar, juga memiliki peranan yang penting, bahkan merupakan faktor penentu
utama untuk terjadinya osteoporosis adalah kadar kalsium yang masih terdapat pada
tulang. Seseorang memiliki densitas tulang yang tinggi (tulang yang padat), mungkin
tidak akan sampai menderita osteoporosis. Kehilangan kalsium tidak akan mencapai
tingkat dimana terjadi osteoporosis. Lebih kurang 99% dari keseluruhan kalsium tubuh
berada di dalam tulang dan gigi. Apabila kadar kalsium darah turun di bawah normal,
tubuh akan mengambilnya dari tulang untuk mengisinya lagi.
Dengan bertambahnya usia, keseimbangan sistem mulai terganggu. Tulang
kehilangan kalsium lebih cepat dibanding kemampuannya untuk mengisi kembali.
Secara umum, osteoporosis terjadi saat fungsi penghancuran sel-sel tulang lebih
dominan dibanding fungsi pembentukan sel-sel tulang, karena pola pembentukan dan
resopsi tulang berbeda antar individu. Para ahli memperkirakan ada banyak faktor yang
berperan mempengaruhi keseimbangan tersebut. Kadar hormon tiroid dan paratiroid
yang berlebihan dapat mengakibatkan hilangnya kalsium dalam jumlah yang lebih
banyak. Obat-obat golongan steroid pun dapat mengakibatkan hilangnya kalsium dari
tulang.

Proses pembentukan dan penimbunan sel-sel tulang mencapai kepadatan


maksimal berjalan paling efisien sampai umur mencapai 30 tahun, dengan

7| K o n s e p P e n y a a k i t O s t e o p o r o s i s
bertambahnya usia, semakin sedikit jaringan tulang yang dibuat. Dengan usia yang
lanjut, jaringan tulang yang hilang semakin banyak. Penelitian memperlihatkan bahwa
setalah mencapai usia 40 tahun, akan kehilangan tulang sebesar 0,5% setiap tahunnya.
Pada wanita dalam masa pascamenopause, keseimbangan kalsium menjadi negatif
dengan tingkat 2 kali lipat dibanding sebelum menopause. Faktor hormonal menjadi
sebab mengapa wanita dalam masa pascamenopause mempunyai resiko lebih besar
untuk menderita osteoporosis. Pada masa menopause, terjadi penurunan kadar hormon
estrogen. Estrogen memang merupakan salah satu faktor terpenting dalam mencegah
hilangnya kalsium tulang. Selain itu, estrogen juga merangsang aktivitas osteoblas serta
menghambat kerja hormon paratiroid dalam merangsang osteoklas.

2.5Manifestasi Klinis
1. Nyeri dengan atau tanpa fraktur yang nyata. Ciri-ciri khas nyeri akibat
2. Fraktur kompressi pada vertebra (paling sering Th 11 dan 12 )
3. Nyeri timbul mendadak
4. Sakit hebat dan terlokalisasi pada vertebra yg terserang
5. Nyeri berkurang pada saat istirahat di tempat tidur
6. Nyeri ringan pada saat bangun tidur dan akan bertambahkarena melakukan
aktivitas
7. Deformitas vertebra thorakalis
8. Penurunan tinggi badan

2.6 Komplikasi
Osteoporosis mengakibatkan tulang secara progresif menjadi panas, rapuh dan
mudah patah. Osteoporosis sering mengakibatkan fraktur. Bisa terjadi fraktur kompresi
vertebra torakalis dan lumbalis, fraktur daerah kolum femoris dan daerah trokhanter,
dan fraktur colles pada pergelangan tangan

8| K o n s e p P e n y a a k i t O s t e o p o r o s i s
2.7Pemeriksaan Diagnostik
a. Pemeriksaan radiologik
Dilakukan untuk menilai densitas massa tulang sangat tidak sensitif. Gambaran
radiologik yang khas pada osteoporosis adalah penipisan korteks dan daerah trabekuler
yang lebih lusen.Hal ini akan tampak pada tulang-tulang vertebra yang memberikan
gambaran picture-frame vertebra.
b. Pemeriksaan densitas massa tulang (Densitometri)
Densitometri tulang merupakan pemeriksaan yang akurat dan untuk menilai
densitas massa tulang, seseorang dikatakan menderita osteoporosis apabila nilai BMD (
Bone Mineral Density ) berada dibawah -2,5 dan dikatakan mengalami osteopenia
(mulai menurunnya kepadatan tulang) bila nilai BMD berada antara -2,5 dan -1 dan
normal apabila nilai BMD berada diatas nilai -1.
Beberapa metode yang digunakan untuk menilai densitas massa tulang:
1. Single-Photon Absortiometry (SPA)
Pada SPA digunakan unsur radioisotop I yang mempunyai energi photon rendah
guna menghasilkan berkas radiasi kolimasi tinggi. SPA digunakan hanya untuk bagian
tulang yang mempunyai jaringan lunak yang tidak tebalseperti distal radius dan
kalkaneus.
2. Dual-Photon Absorptiometry (DPA)
Metode ini mempunyai cara yang sama dengan SPA. Perbedaannya berupa sumber
energi yang mempunyai photon dengan 2 tingkat energi yang berbeda guna mengatasi
tulang dan jaringan lunak yang cukup tebal sehingga dapat dipakai untuk evaluasi
bagian-bagian tubuh dan tulang yang mempunyai struktur geometri komplek seperti
pada daerah leher femur dan vetrebrata.
3. Quantitative Computer Tomography (QCT)
Merupakan densitometri yang paling ideal karena mengukur densitas tulang
secara volimetrik.
c. Sonodensitometri
Sebuah metode yang digunakan untuk menilai densitas perifer dengan
menggunakan gelombang suara dan tanpa adanya resiko radiasi.
d. Magnetic Resonance Imaging (MRI)

9| K o n s e p P e n y a a k i t O s t e o p o r o s i s
MRI dalam menilai densitas tulang trabekula melalui dua langkah yaitu pertama T2
sumsum tulang dapat digunakan untuk menilai densitas serta kualitas jaringan tulang
trabekula dan yang kedua untuk menilai arsitektur trabekula.
e. Biopsi tulang dan Histomorfometri
f. Merupakan pemeriksaan yang sangat penting untuk memeriksa kelainan
metabolisme tulang.
g. Radiologis
Gejala radiologis yang khas adalah densitas atau masa tulang yang menurun yang
dapat dilihat pada vertebra spinalis. Dinding dekat korpus vertebra biasanya merupakan
lokasi yang paling berat. Penipisa korteks dan hilangnya trabekula transfersal
merupakan kelainan yang sering ditemukan. Lemahnya korpus vertebra menyebabkan
penonjolan yang menggelembung dari nukleus pulposus ke dalam ruang intervertebral
dan menyebabkan deformitas bikonkaf.
h. CT-Scan
CT-Scan dapat mengukur densitas tulang secara kuantitatif yang mempunyai nilai
penting dalam diagnostik dan terapi follow up. Mineral vertebra diatas 110
mg/cm3baisanya tidak menimbulkan fraktur vetebra atau penonjolan, sedangkan mineral
vertebra dibawah 65 mg/cm3 ada pada hampir semua klien yang mengalami fraktur.
i. Pemeriksaan Laboratorium
1. Kadar Ca, P, Fosfatase alkali tidak menunjukkan kelainan yang nyata.
2. Kadar HPT (pada pascamenoupouse kadar HPT meningkat) dan Ct (terapi
ekstrogen merangsang pembentukkan Ct)
3. Kadar 1,25-(OH)2-D3 absorbsi Ca menurun.
4. Eksresi fosfat dan hidroksipolin terganggu sehingga meningkat kadarnya.

2.8Penatalaksanaan Medis
Adapun penatalaksanaan osteoporosis adalah sebagai berikut.
1.Prinsip Pengobatan
a. Meningkatkan pembentukan tulang, obat-obatan yg dapatmeningkatkan
pembentukan tulan adalah Na-fluorida dan steroidanabolik

10| K o n s e p P e n y a a k i t O s t e o p o r o s i s
b. Menghambat resobsi tulang, obat-obatan yang dapatmengahambat resorbsi
tulang adalah kalsium, kalsitonin, estrogendan difosfonat.
2. Pencegahan
Pencegahan sebaiknya dilakukan pada usia pertumbuhan/dewasa muda,hal ini
bertujuan:
a. Mencapai massa tulang dewasa Proses konsolidasi) yang optimal
b. Mengatur makanan dan life style yang menjadi seseorang tetap bugar, seperti:
1. Diet mengandung tinggi kalsium (1000 mg/hari)
2. Latihan teratur setiap hari
3. Hindari :
a. Makanan tinggi protein
b. Minum alkohol
c. Merokok
d. Minum kopi
e. Minum antasida yang mengandung aluminium.

11| K o n s e p P e n y a a k i t O s t e o p o r o s i s
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Osteoporosis adalah kelainan di mana terjadi penurunan massa tulang total.
Terdapat perubahan pergantian tulang homeostasis normal, kecepatan resorpsi tulang
lebih besar dari kecepatan pembentukan tulang, pengakibatkan penurunan masa tulang
total. Tulang secara progresif menjadi porus, rapuh dan mudah patah; tulang menjadi
mudah fraktur dengan stres yang tidak akan menimbulkan pengaruh pada tulang normal
(Brunner&Suddarth, 2000).
Osteoporosis disebabkanantara lain karenafaktor genetik, faktor mekanis, faktor
makanan dan hormon, faktor genetik, faktor mekanis, protein, estrogen, rokok, dan
kopi, sertaalkohol.
Jenis-jenis osteoporosis adadua, yaituosteoporosis primer adalah kehilangan
massa tulang yang terjadi sesuai dengan proses penuaan, dan osteoporosis
sekunder didefinisikan sebagai kehilangan massa tulang akibat hal hal tertentu. mungkin
berhubungan dengan kelainan patologis tertentu termasuk kelainan endokrin, efek
samping obat obatan, immobilisasi.

3.2 Saran
DenganmakalahinimahasiswakeperawatankhususnyamahasiswakeperawatanUni
versitasAndalasmemahamidanmengertitentangpenyakit yang
seingterjadipadausialanjutyaitu osteoporosis.

12| K o n s e p P e n y a a k i t O s t e o p o r o s i s
DAFTAR PUSTAKA

Kumar, Vinay, Abul K. Abbas dan Nelson Fausto. 2005. Robbins and Cotran
Pathologic Basis of Disease. Seventh Edition. Philadelphia : Elsevier Saunders.

Lewis, Sharon L. 2007. Medical Surgical Nursing : Assessment and Management


of Clinical Problems Volume 2. Seventh Edition. St.Louis : Mosby.

Price, Sylvia A dan Lorraine M. Wilson. Alih bahasa : Brahm U. Pendit. 2005.
Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-proses Penyakit Volume 1.Edisi 6.Jakarta : EGC.

Sherwood, Lauralee. Alih bahasa : Brahm U. Pendit. 2001. Fisiologi Manusia


Dari Sel ke Sistem. Edisi 2. Jakarta : EGC.

Tandra, H. 2009. Segala Sesuatu Yang Harus Anda Ketahui Tentang


Osteoporosis Mengenal, Mengatasi dan Mencegah Tulang Keropos. Jakarta : PT
Gramedia Pustaka Utama.

13| K o n s e p P e n y a a k i t O s t e o p o r o s i s