Anda di halaman 1dari 2

177 Warga Aceh Terinveksi HIV/AIDS

RELATED NEWS

Quick Count
Sudah 94,86
Persen, KarSa
Tetap Unggul
KarSa Rajai
Suara di TPS
Pakde Karwo
Data Masuk
83,71 Persen,
KarSa Raup
47,31 Persen
Sementara KarSa
48,1 persen,
BerKah 37,44
persen
Udara di Riau
Sangat Tak Sehat

BANDA ACEH - Sebanyak 177 warga Aceh yang tersebar di 23 Kabupaten/Kota dinyatakan
positif terinveksi virus HIV/AIDS.

Dari jumlah total tersebut, Kabupaten Aceh Utara menempati posisi peringkat pertama
dengan kasus penderita HIV/AIDS tertinggi di Aceh.

"Ini berdasarkan data rekap yang kita terima dari bidang HIV/AIDS Dinkes Kabupaten/Kota
setiap bulannya, terhitung mulai tahun 2004 sampai hari ini," kata Staf Dinas Kesehatan
(Dinkes) Aceh Program HIV/AIDS, dr. Drh. Anwar kepada Rakyat Aceh (Grup JPNN),
Kamis (28/3), saat menyampaikan materi arah rujukan bagi pasien kepada Bides Langsa di
Aula Hotel Harmoni.

Dijelaskannya, pasien yang terinfeksi HIV/AIDS tersebut rata-rata berada pada usia
produktif, antara 24 - 48 tahun. Dan manyoritas penderitanya adalah kaum laki-laki dengan
berbagai sebab dan latar belakang yang dibawa sebelumnya.

Dari jumlah total tersebut, penderita laki-laki mencapai 107 orang, sementara sisanya
perempuan. Dari total 177 orang yang terinfeksi HIV/AIDS tersebut, 60 orang diantaranya
telah meninggal dunia.

"Ini berdasarkan data update yang masuk ke kita tiap periodenya," jelas Anwar lagi.
Disinggung penyebab penyebaran virus tersebut, Anwar mengatakan, dominannya
penyebaran virus penurun kekebalan tubuh pada 177 kasus HIV/AIDS ini adalah
Heteroseksual (gonta ganti pasangan/hubungan sex secara tidak sehat), Penasu (Penggunaan
Narkoba Suntik) dan ADU"s (Injected Drugs User).

Penyakit AIDS yang disebabkan virus HIV itu sendiri merupakan penyakit yang harus
dikontrol dan dikendalikan secara medis dan periodik bagi pasiennya. Karena ini adalah satu-
satunya penanganan yang dapat dilakukan saat ini untuk mencegah penyebaran infeksi pada
orang lain atau pasangan hidup.

"Seorang penderita HIV/AIDS tidak bisa dikenali oleh siapapun baik secara fisik maupun
fsikologinya. Karena ini sifatnya rahasia, maka penanganannya pun harus dilakukan tertutup
antara pasien dengan medis. Dan bagi penderita HIV/AIDS yang ingin bekeluarga atau
bercampur dengan pasangan sahnya, maka harus dibawah kontrol dan pengawasan medis,
supaya saat berhubungan tidak menularkan virus tersebut baik pada istri maupun anaknya
kelak," terang Anwar.

Untuk itu dirinya berharap kepada seluruh masyarakat Aceh, agar selalu menjaga diri agar
tidak terinfeksi virus tersebut. Dan bagi masyarakat yang sudah terinfeksi diharapkan dapat
berkonsultasi dengan dokter spesialis untuk penanganan dan kontrol. "Kerahasiaan data
korban dijamin," demikian Anwar.

Sementara itu, menurut Kabid Pelayanan Kesehatan Kabupaten Aceh Utara, dr Machroza,
kasus penderita AID/HIV di Aceh Utara mencapai 30 orang, sedangkan delapan diantaranya
meninggal dunia. (idr)