Anda di halaman 1dari 16

PERCOBAAN 3

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FISIKA II

ANGKA ANGKUT

Disusun Oleh :
Nama : Muhammad Irhamul Iqbal (150332602600)
Yoga Pratama (150332600362)**
Zaharul Azhar (150332607852)
Kelompok : 10

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENFETAHUAN
ALAM
JURUSAN KIMIA
2017-2018
ANGKA ANGKUT

A. TUJUAN PERCOBAAN
Menentukan angka angkut kation dan anion dengan cara Hittorf.

B. DASAR TEORI
Bagian arus yang diangkut oleh kation yang bergerak ke katoda dan oleh
anion yang bergerak ke anoda disebut angka ngkut. Banyaknya bagian arus yang
diangkut oleh kation dan anion tidak sama bergantung pada kecepatan gerak ion
itu dalam larutan. Ion yang bergerak lebih cepat akan mengangkut jumlah listrik
yang lebih banyak melalui larutan dalam satuan waktu tertentu atau ion tersebut
mengangkut bagian arus yang lebih banyak.
Untuk suatu elektrolit, jika ua dan uc masing-masing adalah mobilitas anion
dan kation, maka angkat kation dan anion dirumuskan sebagai berikut :
nc = uc / ( uc + ua ) dan na = ua/ ( uc + ua )
dimana, nc = angka angkut kation
na = angka angkut anion
uc = mobilitas kation
ua = mobilitas anion
Dengan demikian, diperoleh persamaan :
nc + na = 1
Ada beberapa cara untuk menentukan angka angkut anion dan angka angkut
kation, antara lain dengan cara batas gerak dan cara Hittorf. Pada percobaan
berikut akan dilakukan penentuan angka angkut Hittorf. Pada sel Hittorf
digunakan sel elektrolisis yang dibagi menjadi tiga bagian dengan menggunakan
penyekat berpori. Tiga bagian tersebut dalah, ruang anoda, ruang katoda, dan
ruang penghubung. Metode Hittorf didasarkan pada perubahan konsentrasi
elektrolit di sekitar elektroda-elektroda yang disebabkan oleh aliran listrik melalui
elektrolit. Pada proses elektrolisis jumlah ekuivalen kation yang terbentuk di
anoda sama dengan jumlah ekuivalen atom yang terbentuk di katoda, tetapi
konsentrasi kation di elektroda tidaklah tepat sama.
Sebagai contoh, elektrolisis CuSO4, jika x ekuivalen ion Cu2+ dilepaskan di
anoda, akan terjadi peningkatan jumlah ion Cu2+ x ekuivalen di sekitar anoda, bila
tidak terjadi migrasi ion Cu2+ ke katoda. Karena migrasi Cu2+ dalam ruang anoda,
maka hanya terjadi peningkatan jumlah ion Cu2+ sebesar z ekuivalen yang lebih
kecil dari x. Besarnya x dapat diketahui dengan cara menimbang berat anoda
sebelum dan sesudah elektrolisis atau menentukan jumlah muatan listrik yang
digunakan dalam elektrolisis, sedangkan besarnya z dapat diketahui dengan cara
titrasi larutan di sekitar anoda sebelum dan sesudah elektrolisis. Sehingga,
besarnya angka angkut ion Cu2+ dapat dihitung dengan menggunakan rumus
berikut :
nc = (x - z) / x
na = 1 nc
dimana, nc = angka angkut kation
na = angka angkut anion
x = ekuivalen Cu yang berasal dari oksidasi anoda
z = peningkatan jumlah ekuivalen ion Cu2+ di ruang anoda

Penghantaran arus listrik dalam larutan elektrolit dilakukan oleh ion-ion, baik
ion positif maupun ion negatif. Bagian arus total yang dibawa oleh kation disebut
bilangan angkut kation t+ atau nc, sedangkan yang dibawa oleh anion disebut
bilangan angkut anion t- atau na.
Banyaknya bagian arus yang diangkut oleh kation dan anion tidak sama
bergantung pada kecepatan gerak ion itu dalam larutan. Ion yang bergerak lebih
cepat akan mengangkut jumlah listrik yang lebih banyak melalui larutan dalam
satuan waktu tertentu atau ion tersebut mengangkut bagian arus yang lebih
banyak.
Jika penentuan bilangan angkut dengan cara Hittorf dengan didasarkan pada
penambahan kosentrasi larutan disekitar elektrodenya, maka cara gerak batas
(moving boundary method) didasarkan pada pergerakan ion-ion ketika beda
potensial diterapkan. Pergerakkan ion ini pada perbatasan dua larutan elektrolit
dapat langsung diamati.
Bilangan transpor dari setiap ion didefinisikan sebagai bagian dari arus total
yang dibawa oleh ion utama. Bilangan ini disebut juga Bilangan Penghantaran
atau angka angkut. Bilangan penghantaran dapat dihitung dengan cara berikut :
a) Metode Hittorf.
b) Metode pembatasan yang bergerak. Dalam metode pembatas yang
1000
bergerak, bilangan transpor dihitung oleh, =

Dimana, Ci adalah konsentasi ion i dalam equivalen dm-3, I adalah arus listrik
dalam ampere, V adalah volume melalui mana pembatas yang bergerak lewat,
dinyatakan dalam m3dan t adalah waktu dalam detik.

C. ALAT DAN BAHAN


Alat yang digunakan :
Sumber arus DC
Stopwatch
Buret
Corong
Pipettakar 5 mL
Erlenmeyer 100 mL
Wadah elektrolisis

Bahan yang digunakan :


Elektroda Cu
Larutan CuSO4 0,1 M
Larutan Na2S2O3 0,1 M
Larutan KI 0.1 M (baru)
Indikator amilum (baru)

D. PROSEDUR KERJA
Sepasang Elektroda Tembaga
Dibersihkan dengan kertas gosok
Dicucidengan air kemudian alkohol.
Ditimbanganodadenganketelitian 0,001 gram.
Diisikan larutan CuSO4 0,1 M ke dalam wadah untuk elektrolisis.
Ditentukan volume larutan dalam ruang anoda dengan mengukur tinggi,
panjang dan lebar larutan.
Dirangkai alat seperti pada gambar.

Rangkaian Alat Elektrolisis


untuk menentukan angka angkut cara Hittorf
Dialirkan listrik selama 30 menit, dicatat kuat arus tiap 1 menit. Kuat
arus dalam perhitungan adalah harga rata-rata kuat arus ini.
Diambilah 5 mL larutan disekitar anoda sebanyak tiga kali dan
tempatkan masing-masing dalam erlenmeyer.
Ditambahkan dalam masing-masing erlenmeyer, 15 mL larutan KI 0,1
M.
Dititrasi dengan larutan Na2S2O3 0,1 M sampai warna coklat hampir
hilang.
Ditambahkan indikator amilum, dan titrasi lagi sampai warna biru hilang.
Ditentukan juga konsentrasi larutan CuSO4 yang belum dielektrolisis
dengan cara titrasi seperti diatas.
Dibersihkan anoda dengan air (jangan digosok) kemudian dengan
alkohol.
Ditimbanglah anoda tersebut bila sudah kering benar.
Hasil
E. DATA HASIL PENGAMATAN

Data Pengamatan Hasil Pengamatan

Berat AnodaAwal 10,6740 gram


Berat Anoda Akhir 10,6721 gram
Tinggi larutan ruang anoda 3,8 cm
Panjang larutan ruang anoda 4,0 cm
Lebar larutan ruang anoda 2,7 cm
Lama elektrolisis 30 menit 8 detik
Kuatarus rata-rata 0,0113 A
Volume CuSO4 sebelum elektrolisis 5 mL
Volume Na2S2O3 0,1 M sebelum elektrolisis 6,0 mL
Volume CuSO4 setelah elektrolisis 5 mL
Volume Na2S2O3 0,1 M setelah elektrolisis 6,3 mL

F. ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN


Pada percobaan ini, didasarkan pada perubahan konsentrasi elektrolit di
sekitar elektroda-elektroda yang disebabkan oleh aliran listrik melalui elektrolit.
Pada proses elektrolisis jumlah ekuivalen kation yang terbentuk di anoda sama
dengan jumlah ekuivalen atom yang terbentuk di katoda, tetapi konsentrasi kation
di elektroda tidaklah tepat sama.
Dalam percobaan ini, larutan CuSO4 akan dielektrolisis dengan elektroda Cu
yang harus diamplas dan dibersihkan terlebih dahulu agar tidak ada sisa-sisa zat
lain yang menempel. Selanjutnya, berat elektroda yang digunakan sebagai anoda
harus diketahui sebelum melakukan elektrolisis karena reaksi redoks yang
mengakibatkan adanya penambahan dan pengurangan massa dari masing-masing
elektroda.
Konsentrasi ion Cu2+ dalam larutan CuSO4 sebelum elektrolisis harus
diketahui dengan pasti agar perhitungan angka angkut akurat. Karwna itulah,
perlu dilakukan standarisasi larutan CuSO4 dengan cara titrasi iodometri dengan
larutan Na2S2O3 0,1 M menggunakan indikator amilum sehingga diperoleh
konsentrasi awal ion Cu2+ sebelum elektrolisis.
Larutan CuSO4 sebelumnya ditambahkan dengan larutan KI 0,1 M, sehingga
warna larutan menjadi coklat. Setelah dititrasi dengan larutan Na2S2O3 0,1 M
warnanya berubah menjadi putih. Begitu pula keadaan larutan ini saat dititrasi
setelah dielektrolisis. Warna coklatnya saja yang lebih gelap.
Elektrolisis dilakukan selama 30 menit lebih 8 detik dengan mencatat kuat
arus tiap menitnya dan kuat arus yang digunakan merupakan kuat arus rata-rata
selama 30 menit 8 detik tersebut. Setelah proses elektrolisis selesai dilakukan,
anoda dibilas dengan aquades, lalu dikeringkan sebelum ditimbang. Kemudian,
larutan di ruang anoda diambil untuk dititrasi dengan larutan Na2S2O3 sehingga
diperoleh konsentrasi ion Cu2+ setelah elektrolisis.
Seperti elektrolisis pada umunya, terjadi reaksi redoks. Pada anoda sebagai
kutub positif (+) terjadi reaksi oksidasi sebagai berikut :

Cu(s) Cu2+(aq) + 2e

Elektroda Cu teroksidasi menjadi ion Cu2+, sehingga terjadi penurunan berat


pada elektroda Cu serta penambahan jumlah ion Cu2+ dalam larutan di ruang
anoda. Penambahan jumlah ion Cu2+ dalam anoda mengakibatkan konsentrasi
larutan dalam anoda akan mengalami kenaikan.
Sebaliknya, pada katoda sebagai kutub negatif (-) terjadi reaksi reduksi
sebagai berikut :

Cu2+(aq)+ 2e Cu(s)

Larutan yang mengandung ion Cu2+ tereduksi ke katoda sehingga terjadi


penambahan berat elektroda. Dengan penambahan ion Cu2+ pada larutan di ruang
anoda, maka ion Cu2+ pada larutan di daerah katoda akan berkurang karena
membentuk endapan Cu. Panambahan ion Cu2+ akibat reaksi oksidasi dan
pengurangan ion Cu2+ akibat reaksi reduksi. Migrasi ion-ion terjadi sedemikian
rupa menuju kearah elektroda yag saling berlawanan tanda dengan ion-ion
tersebut.
Besarnya angka angkut kation ditentukan dengan cara menghitung jumlah
ekuivalen atau mol dari ion Cu2+ yang diangkut dari ruang anoda ke katoda
dengan rumus berikut :
nc = (x - z) / x
dimana, nc = angka angkut kation
x = ekuivalen Cu yang berasal dari oksidasi anoda
z = peningkatan jumlah ekuivalen ion Cu2+ di ruang anoda
Sedangkan, angka angkut anion dihitung dengan cara mengurangkan angka
angkut kation terhadap angka satu, sebagai berikut :
na = 1 nc , dimana na = angka angkut anion
Besarnya x dapat diketahui dengan cara menimbang berat anoda sebelum dan
sesudah elektrolisis atau menentukan jumlah muatan listrik yang digunakan dalam
elektrolisis, sedangkan besarnya z dapat diketahui dengan cara titrasi larutan di
sekitar anoda sebelum dan sesudah elektrolisis. Volume larutan dalam ruang
anoda dapat dihitung dengan cara mengukur panjang, lebar dan tinggi ruang
anoda tersebut. Berdasarkan data hasil percobaan yang diperoleh, maka dapat
dilakukan analisis sebagai berikut.

1. Menghitung x
Cara 1:
Selisih berat anoda = berat anoda awal - berat anoda akhir
=10,6740 gram 10,6721 gram
=0,0019 gram
Mol Cu teroksidasi = 0,0019 gram / (63,54 gram/mol)
= 0,0000299 mol
Mol ekuivalen = 0,0000299 mol 2 ekuivalen
= 0,0000598 mol ekuivalen
Cara 2:
Q =It
= 0,0113 A 1808 detik
= 20,43 C
F = 20,43 C / (96500 C/F)
= 0,000212 mol
Ekivalen = 0,000212 = 0,000106 ekv

Jadi, x dengan cara 1 = 0,0000598 mol ekv atau 0,0000598 ekv


Dan, x dengan cara 2 = 0,000106 ekv

2. Menghitung z
Perhitungan sebelum menghitung z, perlu diperhatikan hal-hal berikut :
a. perhitungan konsentrasi CuSO4 sebelum elektrolisis.
b. perhitungan konsentrasi CuSO4 sesudah elektrolisis.
c. perhitungan volume ruang di anoda.
d. perhitungan peningkatan jumlah ekivalen ion Cu2+ di ruang anoda (z) .

Perhitungannya dijabarkan sebagai berikut.

a. Perhitungan Konsentrasi CuSO4 Sebelum Elektrolisis

Persamaan Reaksi :

2CuSO4(aq)+ 2KI(aq) 2Cu(s) + I2(g) + 2K+(aq) + 2SO42-(aq)

Reduksi : 2e + Cu2+(aq) Cu(s)


Oksidasi : 2I-(aq) I2(g)+ 2e

I2 (aq)+ 2Na2S2O3(aq) 2I-(aq)+ S4O62-(aq) + 4Na+ (aq)

Reduksi : 2e + I2(g) 2I-(aq)


Oksidasi : 2S2O32- (aq) S4O62-(aq)+ 2e

Diketahui :
Volume CuSO4 = 5 mL
Volume Na2S2O3 0,1 M = 6,0 mL
Volume KI 0,1 M = 15 mL
Normalitas KI = 0,1 N
mmol
Mol KI = 15 mL 0,1 = 1,5 mmol
mL

Normalitas I2 = 2 ekv 0,1 N = 0,2 N


Ekuivalen Na2S2O3 = Normalitas I2 6,0 mL
= 0,2 N 6,0 mL = 1,2 mekv

Ditanya : konsentrasi CuSO4 sebelum dielektrolisis?


Jawab :

Ekuivalen CuSO4 = ekuivalen Na2S2O3


Normalitas CuSO4 = 1,2 mkev / 5 mL = 0,24 N

b. Perhitungan Konsentrasi CuSO4 Setelah Elektrolisis

Persamaan Reaksi :

2CuSO4(aq)+ 2KI(aq) 2Cu(s) + I2(g) + 2K+(aq) + 2SO42-(aq)

Reduksi : 2e + Cu2+(aq) Cu(s)


Oksidasi : 2I-(aq) I2(g)+ 2e

I2 (aq)+ 2Na2S2O3(aq) 2I-(aq)+ S4O62-(aq) + 4Na+ (aq)

Reduksi : 2e + I2(g) 2I-(aq)


Oksidasi : 2S2O32- (aq) S4O62-(aq)+ 2e

Diketahui :
Volume CuSO4 = 5 mL
Volume Na2S2O3 0,1 M = 6,3 mL
Volume KI 0,1 M = 15 mL
Normalitas KI = 0,1 N
mmol
Mol KI = 15 mL 0,1 = 1,5 mmol
mL

Normalitas I2 = 2 ekv 0,1 N = 0,2 N


Ekivalen Na2S2O3 = Normalitas I2 6,3 mL
= 0,2 N 6,3 mL = 1,26 mekv

Ditanya : konsentrasi CuSO4 sebelum dielektrolisis?


Jawab :

Ekuivalen CuSO4 = ekuivalen Na2S2O3


Normalitas CuSO4 = 1,26 mkev / 5 mL = 0,252 N

c. Perhitungan Volume di Ruang Anoda


Tinggi larutan di Ruang Anoda = 3,8 cm
Panjang larutan di Ruang Anoda = 4,0 cm
Lebar larutan di Ruang Anoda = 2,7 cm
Volume ruang anoda = panjang lebar tinggi
= 4,0 cm 2,7 cm 3,8 cm
= 41,04 cm3
= 0,04104 L

d. Peningkatan Jumlah Ekuivalen Ion Cu2+ di Ruang Anoda (z)


Selisih konsentrasi CuSO4 = (0,252 N 0,24 N)
= 0,012 ekv/L

z = selisih konsentrasi CuSO4 Volume ruang anoda


= 0,012 ekv/L 0,04104 L
= 0,000049 ekv

3. Perhitungan Angka Angkut Kation dan Angka Angkut Anion


Dengan x dari cara 1 :
0,0000598 0,000049
Angka angkut kation (nc) = = 0,1806
0,0000598
Angka angkut anion (na) = 1nc
= 10,1806
= 0,8194

Pada perhitungan data yang diperoleh dari percobaan dengan x = ekuivalen


selisih berat, angka angkut anion sebesar 0,8194. Sedangkan, angka angkut kation
sebesar 0,1806. Berdasarkan data tersebut dapat diketahui bahwa kation
mengangkut jumlah listrik yang lebih sedikit atau arus yang lebih kecil melalui
larutan CuSO4 dalam waktu 30 menit 8 detik karena angka angkut yang diperoleh
kation lebih kecil daripada anion.

Dengan x dari cara 2:


0,000106 0,000049
Angka angkut kation (nc) = = 0,5377
0,000106
Angka angkut anion (na) = 1nc
= 10,5377
= 0,4623
Pada perhitungan data yang diperoleh dari percobaan dengan x = ekuivalen
dari muatan, angka angkut anion sebesar 0,4623. Sedangkan, angka angkut kation
sebesar 0,5377. Berdasarkan data tersebut dapat diketahui bahwa kation
mengangkut jumlah listrik yang lebih banyak atau arus yang lebih besar melalui
larutan CuSO4 dalam waktu 30 menit 8 detik karena angka angkut yang diperoleh
kation lebih besar daripada anion.

G. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil percobaan elektrolisis, larutan CuSO4 dengan elektroda
tembaga menggunakan cara Hittorf, harga angka angkut kation lebih besar
daripada angka angkut anion, baik menggunakan perhitungan x sebagai muatan
maupun sebagai berat perubahan anion. Harga angka angkut yang diperoleh yakni
sebagai berikut :
untuk x cara 1:
angka angkut kation = 0,1806
angka angkut anion = 0,8194

untuk x cara 2:
angka angkut kation = 0,5377
angka angkut anion = 0,4623

H. JAWABAN PERTANYAAN
1. Tuliskan reaksi elektrolisis larutan CuSO4 dengan elektrode Cu.
Reaksi di Anoda : Cu(s) Cu2+(aq) + 2e
Reaksi di Katoda : Cu2+(aq) + 2e Cu(s)

2. Tuliskan reaksi yang terjadi pada titrasi larutan CuSO4 pada percobaan ini.
2CuSO4(aq)+ 2KI(aq) 2Cu(s) + I2(g) + 2K+(aq) + 2SO42-(aq)
Reduksi : 2e + Cu2+ Cu
Oksidasi : 2I- I2 + 2e

I2 (aq)+ 2Na2S2O3(aq) 2I-(aq)+ S4O62-(aq) + 4Na+ (aq)


Reduksi : 2e + I2 2I-
Oksidasi : 2S2O32- S4O62- + 2e
I. DAFTAR PUSTAKA
Atkins, P.W. 1986. Physical Chemistry. 3rd edition. Oxford: Oxford
University Press.

Castelan, G.W. 1983. Physical Chemistry. 3rd edition. Amsterdam:


Addison Wesley Publishing Company.

Day, R.A. Jr and Underwood,A.L. , 1986, Kimia Analisis


Quantitatif, Jakarta: Erlangga.

Laidler, Keith, J., dan Meisler, John H. 1982. Physical Chemistry.


California: The Benjamin/Cuming Publishing Company, Inc.
LAMPIRAN

PERLAKUAN PENGAMATAN

Pengampelasan elektroda yang akan


digunakan.

Membersihkan elektroda dengan air


dan alkohol.

Menimbang massa awal eletroda.

Elektrolisis dengan cara Hittorf.

Titrasi larutan CuSO4 dengan


Na2S2O3.
Titrasi CuSO4 setelah ditambah
amilum.

Hasil titrasi larutan yang telah


ditambah amilum.

Penimbangan akhir elektroda yang


telah di elektrolisis cara Hittorf.

Anda mungkin juga menyukai