Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Kesehatan gigi dan mulut merupakan bagian dari kesehatan tubuh secara umum yang
mana tidak hanya terkait dengan persoalan estetika, tetapi juga dapat menimbulkan masalah
kesehatan yang serius. Data dari The World Oral Health Report pada tahun 2008,
menyatakan penyakit yang berhubungan dengan gigi dan mulut merupakan penyakit
terbanyak di dunia. Ada dua penyakit pada gigi dan mulut yang umum terjadi di dunia, yaitu
karies gigi dan penyakit periodontal.
Gigi merupakan alah satu organ tubuh manusia yang berfungsi sebagai alat pencernaan,
pembantu dalam pengucapan kata, pembentukan wajah yang salah satu penunjang dalam
kecantikan. Manusia dapat kehilangan giginya akibat dari kerusakan dari pada gigi itu sendiri
atau kerusakan pada jaringan penyangganya sehingga gigi terlepas dari jaringan yang
menyangganya. Sedangkan kerusakan pada gigi dapat berupa keropos/karies atau (karena
trauma, misalnya benturan keras, jatuh). Dengan mengetahui macam-macam kerusakan gigi
diharapkan untuk menyadari akan pentingnya kesehatan gigi dan mulut dan melaksanakan
cara-cara pencegahannya dalam kehidupan sehari-hari.

B. Rumusan Masalah
1. Ingin mengetahui kelainan-kelainan pada jaringan lunak

2. Ingin menambah pengetahuan dan serta pentingnya menjaga kesehatan mulut dan gigi

C. Tujuan
Mengetahui kelainan-kelainan apa saja yang ada pada jaringan lunak
BAB II
PEMBAHASAN

1. Stomatitis (Sariawan)

Sariawan merupakan bahasa awam untuk berbagai macam lesi/benjolan yang timbul
dirongga mulut. (dalam istilah kedokteran gigi) adalah Stomatitis Aftosa Rekuren. Sariawan
atau stomatitis adalah radang yang terjadi pada mukosa mulut, biasanya berupa bercak putih
kekuningan. Bercak itu dapat berupa bercak tunggal maupun berkelompok. Sariawan dapat
menyerang selaput lendir pipi bagian dalam, bibir bagian dalam, lidah, gusi,serta langit-langit
dalam rongga mulut. Meskipun tidak tergolong berbahaya, namun sariawan sangat
mengganggu.

Berbagai klasifikasi SAR telah diajukan, tetapi secara klinis kondisi ini dapat dibagi
menjadi 3 subtipe; minor, mayor, dan hipetiformis. Semua tipe ulserasi dihubungkan dengan
rasa sakit dan presentasi klinis dari lesinya. Ulser minor memiliki diameter yang besarnya
kurang dari 1cm dan sembuh tanpa disertai pembentukan jaringan paut. Ulser mayor
memiliki diameter lebih besar dari 1cm dan akan membentuk jaringan parut pada
penyembuhannya. Ulser herpetiformis dianggap sebagi suatu gangguan klinis yang berbeda,
yang bermanifestasi dengan kumpulan ulser kecil yang rekuren pada mukosa mulut.

Gambar; Ulser minor (sariawan)


Gambar: Ulser mayor

Gambar: Ulser herpetiformis

Etiologi:

Sampai saat ini penyebab utama dari Sariawan belum diketahui. Namun para ahli telah
menduga banyak hal yang menjadi penyebab timbulnya sariawan ini, diantaranya adalah:
Penyebab yang berasal dari keadaan dalam mulut seperti :

- Kebersihan mulut yang kurang


- Letak susunan gigi/ kawat gigi
- Makanan /minuman yang panas dan pedas
- merokok
- Pasta gigi yang tidak cocok
- Infeksi jamur
- Luka pada bibir akibat tergigit/benturan.

Diagnosis Stomatitis

Gejala dan juga tanda nyatanya yaitu berupa rasa nyeri serta perih di sekitaran area lesi
atau luka sariawan dengan luka yang dapat terbuka kemerahan atau keputihan dan terkadang
hanyalah rasa terbakar saja atau burning mouth syndrome. Adapun stomatitis dapat muncul
sebagai lesi baik tunggal maupun banyak, biasanya sesuai dengan faktor-faktor penyebabnya.

Faktor Predisposisi

Sampai saat ini, etiologi SAR masih belum diketahui dengan pasti. Ulser pada SAR
bukan karena satu faktor saja tetapi multifaktorial yang memungkinkannya berkembang
menjadi ulser. Faktor - faktor ini terdiri dari pasta gigi dan obat kumur sodium lauryl
sulphate (SLS), trauma, genetik, gangguan immunologi, alergi dan sensitifitas, stres,
defisiensi nutrisi, hormonal, merokok, infeksi bakteri, penyakit sistemik, dan obat-obatan.

Gambaran Klinis

Gambaran klinis SAR penting untuk diketahui karena tidak ada metode diagnosa
laboratoriam spesifik yang dapat dilakukan untuk menegakkan diagnosa SAR. SAR diawali
gejala prodormal yang digambarkan dengan rasa sakit dan terbakar selama 24-48 jam
sebelum terjadi ulser. Ulser ini menyakitkan, berbatas jelas, dangkal, bulat atau oval, tertutup
selaput pseudomembran kuning keabu-abuan, dan dikelilingi pinggiran yang eritematus dan
dapat bertahan untuk beberapa hari atau bulan.

Diagnosa

Diagnosis SAR didasarkan pada anamnesa dan gambaran klinis dari ulser. Biasanya
pada anamnesa, pasien akan merasakan sakit dan terbakar pada mulutnya, lokasi ulser
berpindah-pindah dan sering berulang. Harus ditanyakan sejak dari umur berapa terjadi,
lama (durasi), serta frekuensi ulser. Setiap hubungan dengan faktor predisposisi juga harus
dicatat. Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan ulser pada bagian mukosa mulut dengan
bentuk yang oval dengan lesi 1 cm yang jumlahnya sekitar 2-6. Pemeriksaan tambahan
diperlukan seperti pemeriksaan sitologi, biopsi, dan kultur bila ulser tidak kunjung sembuh.

Perawatan

Dalam upaya melakukan perawatan terhadap pasien SAR, tahapannya adalah :

1. Edukasi: bertujuan untuk memberikan informasi mengenai penyakit yang dialami


yaitu SAR agar mereka mengetahui dan menyadarinya.
2. Instruksi bertujuan agar dapat dilakukan tindakan pencegahan dengan menghindari
faktor -faktor yang dapat memicu terjadinya SAR.
3. Pengobatan bertujuan untuk mengurangi gejala yang dihadapi agar pasien dapat
mendapatkan kualitas hidup yang menyenangkan.

Tindakan pencegahan timbulnya SAR dapat dilakukan diantaranya dengan menjaga


kebersihan rongga mulut, menghindari stres serta mengkonsumsi nutrisi yang cukup,
terutama yang mengandung vitamin B12 dan zat besi. Menjaga kebersihan rongga mulut
dapat juga dilakukan dengan berkumur-kumur menggunakan air garam hangat atau obat
kumur. SAR juga dapat dicegah dengan mengutamakan konsumsi makanan kaya serat
seperti sayur dan buah yang mengandung vitamin C, B12, dan mengandung zat besi.

Karena penyebab SAR sulit diketahui maka pengobatannya hanya untuk mengobati
keluhannya saja. Perawatan merupakan tindakan simtomatik dengan tujuan untuk
mengurangi gejala, mengurangi jumlah dan ukuran ulkus, dan meningkatkan periode
bebas penyakit.

Bagi pasien yang mengalami stomatitis aftosa rekuren mayor, perawatan diberikan
dengan pemberian obat untuk penyembuhan ulser dan diinstruksikan cara pencegahan. Bagi
pasien yang mengalami SAR akibat trauma pengobatan tidak diindikasikan.

Pasien yang menderita SAR dengan kesakitan yang sedang atau parah, dapat
diberikan obat kumur yang mengandung benzokain dan lidokain yang kental untuk
menghilangkan rasa sakit jangka pendek yang berlangsung sekitar 10-15 menit. Bagi
menghilangkan rasa sakit yang berlangsung sehingga enam jam, dapat diberikan zilactin
secara topikal. Zilactin dapat lengket pada ulser dan membentuk membran impermeabel
yang melindungi ulser dari trauma dan iritasi lanjut. Dapat juga diberikan ziladent yang juga
mengandung benzokain untuk topikal analgesia. Selain itu, dapat juga menggunakan larutan
betadyne secara topikal dengan efek yang sama. Dyclone digunakan sebagai obat kumur
tetapi hanya sebelum makan dan sebelum tidur. Aphthasol merupakan pasta oral amlexanox
yang mirip dengan zilactin yang digunakan untuk mengurangi rasa sakit dengan membentuk
lapisan pelindung pada ulser.

Bagi mempercepat penyembuhan ulser, glukokortikoid, baik secara oral atau topikal
adalah andalan terapi. Topikal betametason yang mengandung sirup dan fluocinonide
ointment dapat digunakan pada kasus SAR yang ringan. Pemberian prednison secara oral
(sampai 15 mg / hari) pada Kasus SAR yang lebih parah. Hasil terapeutik dalam dilihat dalam
satu minggu.

Thalidomide adalah obat hipnotis yang mengandung imunosupresif dan anti-


inflamasi. Obat ini telah digunakan dalam pengobatan stomatitis aftosa rekuren mayor,
sindrom Behcet, serta eritema nodosum. Namun, resiko pada teratogenesis telah membatasi
penggunaannya.
Klorheksidin adalah obat kumur antibakteri yang mempercepatkan penyembuhan
ulser dan mengurangi keparahan lesi SAR. Selain itu, tetrasiklin diberikan sesuai dengan efek
anti streptokokus, tetrasiklin 250mg dalam 10cc sirup direkomendasikan sebagai obat kumur,
satu kali sehari selama dua minggu.
Levamisol telah dianjurkan sebagai perawatan yang mungkin untuk SAR, namun
oleh karena efek samping immunostimulatornya, pemakaian obat ini kurang diindikasikan.
Pemberian obat-obatan tertentu yang tidak diperbolehkan hanya dapat merusak
jaringan normal disekeliling ulser dan bila pemakaiannya berlebihan maka akan mematikan
jaringan dan dapat memperluas ulser.
Prognosis stomatitis didasarkan pada masalah yang menyebabkan adannya gangguan
ini. Infeksi pada stomatitis biasanya dapat disebabkan karena pengobatan atau bila
masalahnya disebabkan oleh obat-obatan maka yang harus dilakukan adalah dengan
mengganti obat. Stomatitis yang disebabkan oleh iritasi lokal dapat diatasi dengan oral
hygene yang bagus, memeriksakan gigi secara teratur, diet yang bermutu, dan pengobatan.

2. Gingivitis
Gingivitis adalah peradangan gingiva, menyebabkan perdarahan disertai
pembengkakan, kemerahan, eksudat, perubahan kontur normal, gingivitis sering
terjadi dan bisa timbul kapan saja setelah timbulnya gigi, gingiva tampak merah.
Peradangan pada gusi dapat terjadi pada satu atau 2 gigi, tetapi juga dapat terjadi
pada seluruh gigi. Gingiva menjadi mudah berdarah karena rangsangan yang kecil
seperti saat menyikat gigi, atau bahkan tanpa rangsangan, pendarahan pada gusi
dapat terjadi kapan saja.
Gingivitis (keradangan gingiva) adalah bentuk paling umum dari kelainan
gingiva. Penyebab utama dari kelainan gingiva adalah penumpukan plak. Gingivitis
juga disebabkan oleh kebersihan mulut yang jelek, sehingga menyebabkan
terjadinya rasa sakit, sensitif terhadap makanan panas atau dingin dan terjadi
perdarahan pada margin gingiva.
Gingivitis adalah inflamasi pada gingiva, dimana gingiva terlihat kemerahan,
adanya pembengkakan dan mudah berdarah. Penyebab gingivitis adalah akumulasi
plak dalam waktu yang cukup lama yang mengelilingi gigi. Gingivitis palig sering
dijumpai dalam keadaan kronis dan tanpa sakit, tetapi episode akut dan sakit dapat
menutupi keadaan kronis tersebut. Keparahannya sering kali dinilai berdasarkan
perubahan-perubahan warna , kontur, konsistensi dan adanya perdarahan.
Gambar Gingivitis

Tanda klinis gingivitis


Tanda-tanda klinis dari gingivitis antara lain:
a. Perubahan bentuk gingiva
Perubahan bentuk biasanya dinyatakan menurut warna, bentuk, ukuran, konsistensi dan
karakteristik permukaan. Gingiva yang sehat berwarna merah muda pucat dan tepinya
setajam pisau serta Berbentuk scallop, papilanya ramping sering mempunyai groove karena
adanya sluice-way dan perlekatan gingivanya berstippling.
Karena embrasure interdental merupakan daerah stegnasi plak terbesar, infalamasi
gingiva biasanya dimulai pada papilla interdental dan menyebar ke daerah tepi. Karena
pembuluh darah terdilatasi jaringan akan menjadi merah, bengkak dengan eksudat inflamasi.
Tepi jaringan seperti pisau menjadi bulat sluice way interdental hilang dan permukaan
gingiva menjadi halus dan mengkilat. Karena bundle serabut gingiva rusak akibat proses
inflamasi, cuff gingiva akan kehilangan tonus dan terlepas dari permukaan gigi sehingga akan
terbentuk poket yang dalam. Bila inflamasi makin membesar dan menyebar ke perlekatan
gingiva dan mukosa alveolar, menghilangkan pertautan mukogingiva yang normalnya
berbatas tegas.
Biasanya pembengkakan inflamasi yang paling jelas adalah pada remaja dan dawasa
muda sehingga akan terbentuk poket palsu. Poket disebut palsu karena berlawanan dengan
poket asli atau poket periodontal yang terbentuk akibat pergeseran ke apical epitelium
krevikular bila ligamentum periodontal rusak akibat inflamasi. Bila beberapa faktor etiologi
saling berkombinasi misalnya deposit plak, kurangnya seal bibir ditambah perubahan
endokrin akibat pubertas, pembengkakan gingiva dan terutama pembengkakan papilla
menjadi sangat besar. Bila iritasi plak sudah berlangsung lama dan ringan, reaksi jaringan
utama adalah berupa produksi jaringan fibrosa sehingga gingiva akan tetap keras dan merah
muda tetapi menjadi tebal dan kehilangan bentuknya yang ramping.
b. Perdarahan gingiva
Pendarahan gingiva mungkin merupakan keluhan yang paling sering diajukan pasien.
Karena perdarahan gingiva sangat umum sehingga banyak orang yang tidak begitu
memperdulikannya dan bahkan menganggapnya normal. Meskipun demikian, kecuali bila
perdarahan terjadi setelah trauma akut, perdarahan hampir selalu merupakan tanda patologi.
Perdarahan terjadi paling sering sewaktu menyikat gigi. Perdarahan dapat disebabkan karena
makan makanan yang keras misalnya apel, roti bakar dst. Bila gingiva sangat lunak dan
spongi, perdarahan dapat timbul secara spontan. Perdarahan dapat dirasakan oleh pasien dan
tercium dari napas pasien, perdarahan walaupun pada penyikatan yang keras.
c. Nyeri dan sakit
Merupakan tanda langka dari gingivitis kronis dan mungkin merupakan alasan utama
mengapa penyakit ini sering kurang mendapat perhatian. Gingiva mungkin terasa nyeri bila
pasien menyikat gigi dan karena itu, pasien cenderung menyikat lebih lambat dan lebih jarang
sehingga plak akan makin terakumulasi dan kondisi ini menjadi makin parah.
d. Rasa tidak enak
Pasien mungkin merasa adanya darah khusunya bila mereka mengisap-isap daerah
interdental. Namun, rasa ini sering tidak nyata dan umunya merupakan keluhan yang relatif
panjang.
e. Halitosis (bau nafas yang tidak sedap)
Bau mulut sering menyertai penyakit gingiva dan merupakan penyebab umum dari
kunjungan pasien ke dokter gigi. Bau barasal dari darah dan kebersihan mulut yang buruk
dan perlu dibedakan dengan bau akibat sumber lainnya.
Halitosis mempunyai berbagai penyebab, baik intra oral maupun ekstraoral. Penyakit
mulut dan deposit sisa makanan, terutama yang sifatnya berbau seperti peppermint, bawang,
dst. merupakan penyebab umum dari halitosis. Patologi saluran pernapasan, hidung, sinus,
tonsil dan paru-paru dapat meyebabkan timbulnya bau yang memalukan, seperti juga
penyakit saluran pencernaan.beberapa macam diet seperti bawang, diserap oleh intestinum di
bawa ke aliran darah intestinum dan akhirnya dikeluarkan oleh paru-paru sehingga
menimbulkan bau yang berlangsung lama setelah diet tersebut dikomsumsi. Bau mulut adalah
umum pada saar bangun pagi dan antara waktu makan, bila berhubungan dengan stagnasi
makanan dan berkurangnya aliran saliva. Penyakit metabolisme, diabetes dan uremia
menimbulkan bau khas pada napas. Halitosis menjadi parah dengan bertambahnya usia.
Etiologi terjadinya gingivitis
Kelainan yang terjadi dalam rongga mulut disebabkan oleh ketidakseimbangan faktor-
faktor yaitu : host, agent, environment, psikoneuroimunologi. Penyebab gingivitis sangat
bervariasi, mikroorganisme dan produknya berperan sebagai pencetus awal gingivitis.
Gingivitis sering dijumpai karena akumulasi plak Supra gingiva dan tepi gingiva, terdapat
hubungan bermakna skor plak dan skor gingivitis.
Lapisan plak pada gingiva menyebabkan gingivitis atau radang gingiva, umur plak
menentukan macam kuman dalam plak, sedangkan macam kuman dalam plak menentukan
penyakit yang ditimbulkan oleh plak. Plak tua adalah plak yang umurnya tujuh hari
mengandung kuman coccus, filament, spiril dan spirochaeta. Plak tua ini menyebabkan
gingivitis. Plak gigi terbukti dapat memicu dan memperparah inflamasi gingiva. Secara
histologis, beberapa tahapan gingivitis menjadi karakteristik sebelum lesi berkembang
menjadi periodontitis.
faktor-faktor yang dapat menyebabkan terjadinya gingivitis adalah sebagai berikut:
Faktor internal
Faktor internal yang bertanggung jawab atas terjadinya penyakit gingiva adalah:
1.Lapisan karang gigi dan noda atau zat-zat pada gigi
2.Bahan makanan yang terkumpul pada pinggiran gingiva tidak dibersihkan oleh air liur dan
tidak dikeluarkan oleh sikat.
3.Gigi berjejal secara abnormal sehingga makanan yang tertinggal tidak teridentifikasi,
kadang-kadang terbentuk ruangan dikarenakan pembuangan gigi.
4. Kebiasaan seperti menempatkan peniti, kancing, buah pinang dan kawat dalam mulut.
Bahan ini melukai gusi dan menyebabkan infeksi.
Faktor external
Makanan yang salah dan malnutrisi. Pada umumnya seseorang yang kurang gizi
memiliki kelemahan, gejala yang tidak diharap tersebut dikarenakan faktor sosial ekonomi
yang berperan sangat penting. Faktor-faktor yang berperan adalah latar belakang pendidikan,
pendapatan dan budaya. Golongan masyarakat berpendapatan rendah tidak biasa melakukan
pemeriksaan kesehatan yang bersifat umum. Diet dengan hanya makan sayuran tanpa unsur
serat di dalamnya juga biasa menjadi faktor penambah.
Macam-macam gingivitis:
- Gingivitis marginalis
Gingivitis yang paling sering kronis dan tanpa sakit, tapi episode akut, dan sakit dapat
menutupi keadaan kronis tersebut.Keparahannya seringkali dinilai berdasarkan perubahan-
perubahan dalam warna, kontur, konsistensi, adanya perdarahan.
Gingivitis kronis menunjukkan tepi gingiva membengkak merah dengan interdental
menggelembung mempunyai sedikit warna merah ungu. Stippling hilang ketika jaringan-
jaringan tepi membesar. Keadaan tersebut mempersulit pasien untuk mengontrolnya, karena
perdarahan dan rasa sakit akan timbul oleh tindakan yang paling ringan sekalipun.
- Acute necrotizing ulcerative gingivitis
ANUG ditandaioleh demam, limfadenopati, malaise, gusi merah padam, sakit mulut yang
hebat, hipersalivasi, dan bau mulut yang khas. Papilla-papilla interdental terdorong ke luar,
berulcerasi dan tertutup dengan pseudomembran yang keabu-abuan.
- Pregnancy gingivitis
Biasa terjadi pada trimester dua dan tiga masa kehamilan, meningkat pada bulan kedelapan
dan menurun setelah bulan kesembilan. Keadaan ini ditandai dengan gingiva yang
membengkak, merah dan mudah berdarah. Keadaan ini sering terjadi pada regio molar,
terbanyak pada regio anterior dan interproximal.

- Gingivitis scorbutic
Terjadi karena defisiensi vitamin c, oral hygiene jelek, peradangan terjadi menyeluruh dari
interdental papill sampai dengan attached gingival, warna merah terang atau merah menyala
atau hiperplasi dan mudah berdarah.
- Pencegahan Gingivitis dan Stomatitis
Usaha untuk mencegah radang gusi atau Gingivitis, antara lain:
a. Memelihara kebersihan mulut
Yang dimaksud memelihara kebersihan mulut adalah menghilangkan plak dari
permukaan gigi dengan cara menggunakan sikat gigi yang baik, dengan syarat: kepala
sika cukup kecil, tangkainya berbentuk lurus, dan bulu sikat halus, rata. Tujuannya adalah
untuk mencegah penumpukan plak, karena hal ini terutama menimbulkan radang gusi.
b. Membangun kebiasaan sehat
Membangun kebiasaan sehat terkadang berat untuk dilaakukan, terutama bagi orang yang
belum bisa melaksanakannya. Namun dangan niat yang kuat senantiasa menyadari
pentingnya kesehatan dan manfaatnya bagi kita.Kebiasaan sehat yang dianjurkan yaitu
biasakan berkumur sebelum dan sesudah makan hal itu akan mencegah kuman penyakit
yang dapat masuk ke rongga mulut, sehingga radang gusi yang disebabkan oleh kuman
tersebut tidak terjadi, selain itu tidak mengkonsumsi makanan yang manis secara
berlebihan.
c. Ceck- up ke dokter gigi
Cara mengatasi radang gusi yaitu hendaknya kita memiliki jadwal untuk memeriksa,
mengontrol, dan mengawasi kesehatan mulut secara rutin. Berdasarkan kondisi gigi
dan gusi, dokter gigi akan menjadwalkan program kesehatan mulut kita dan akan
memberikan saran-saran yang berkaitan dengan kesehatan mulut kita, seperti
mengurangi makanan yang manis-manis.
- Perbedaan Gingiva Normal dan Gingivitis
Gingiva normal ditandai dengan adanya warna gingiva yang merah jambu (coral pink),
tidak adanya pendarahan, bentuknya yang seperti huruf V, konsistensi yang kaku dan
lenting, dan tekstur permukaannya yang seperti kulit jeruk (stippling).
Penderita gingivitis terlihat warna gingiva yang merah pekat bahkan terjadi pendarahan,
bentuknya yang menggembung dan lunak, konsistensinya yang lunak dan rapuh, teksturnya
yang licin dan mengkilat terbentuknya pembesaran gingiva, terbentuknya saku gusi,
tersingkapnya akar gigi, terjadinya halitosis, dan bahkan timbulnya nyeri sakit.

- Patogenesis
Gingivitis dapat disebabkan beberapa hal, diantaranya kebersihan mulut yang buruk,
Penumpukan karang gigi (kalkulus/tartar), dan efek samping dari obat-obatan tertentu yang
diminum secara rutin. Sisa-sisa makanan yang tidak dibersihkan secara seksama menjadi
tempat pertumbuhan bakteri. Dengan meningkatnya kandungan dengan mineral dari air liur,
plak akan mengeras menjadi karang gigi (kalkulus). Karang gigi dapat terletak di leher gigi
dan terlihat oleh mata sebagai garis kekuningan atau kecoklatan yang keras dan tidak dapat
dihilangkan hanya dengan menyikat gigi. Kalkulus juga dapat terbentuk di bagian dalam
gusi (saku gusi/poket). Kalkulus adalah tempat pertumbuhan yang baik bagi bakteri, dan
dapat menyebabkan radang gusi sehingga gusi mudah berdarah.
- Penatalaksanaan dan Pencegahan
Kondisi medis yang menyebabkan atau memperburuk gingivitis harus diatasi. Kebersihan
mulut yang buruk, caries serta adanya cavitas pada gigi akan menjadi predisposisi untuk
terjadinya superinfeksi, nekrosis, rasa nyeri serta perdarahan pada gusi. Dengan sikat gigi
yang lunak dan perlahan, anjuran kumur-kumur dengan antiseptic yang mengandung
klorheksidin 0,2% untuk mengendalikan plak dan mencegah infeksi mulut. Pembersihan
karang gigi supraginggiva dapat dilakukan bertahap.
3. Cheilitis
Cheilitis adalah peradangan pada permukaan bibir yang mempunyai ciri-ciri bibir
kering dan pecah-pecah. Exfoliative cheilitis adalah peradangan kronis di sekitar
bibir (yang mengenai daerah vermilion (batas merah) bibir atas, bibir bawah pada
kedua bibir) yang ditandai dengan yang ditandai dengan terjadinya deskuamasi
lapisan keratin yang tebal, bila dikelupas akan meninggalkan gambaran bibir yang
mendekati normal. Exfoliative cheilitis dianggap sebagai gangguan inflamasi
superfisial kronis, yang sering terlihat secara periodik dan dapat reda secara spontan
atau bertahan selama bertahun-tahun.
Penyebab pasti dari exfoliative cheilitis hingga kini masih belum dapat dijelaskan
secara tepat.
Namun, ada berbagai faktor yang dapat menyebabkan terjadinya kondisi ini, antara lain:
(1) Sering membasahi bibir dengan air ludah, atau menjilat bibir.
(2) Kebiasaan menggigit-gigit bibir.
(3) Kurangnya asupan air dalam tubuh.
(4) Stress atau hormonal.
(5) Kesehatan gigi dan mulut yang buruk.
(6) Gizi tidak seimbang.

Pemeriksaan klinis
menunjukkan adanya lesi seperti kerak berwarna putih kekuning-kuningan di sekitar
area merah bibir. Jika kerak bibir tersebut dikelupas maka terlihat dasarnya berwarna
kemerahan tanpa adanya celah atau bintik dan juga tidak terdapat benjolan pada sub-mukosa
bibir. Pasien dengan kondisi exfoliative cheilitis dapat diedukasi untuk menghentikan
kebiasaan menjilat atau mengigit bibir, merperbanyak minum air putih, hindari toksin dan
biasakan makan-makanan sehat atau makanan yang banyak mengandung vitamin A,
perbanyak makan sayur dan buahbuahan segar, menghindari stress, jaga kebersihan gigi dan
mulut, gunakan pelembab bibir yang lembut, periksa ke dokter umum untuk mengetahui
apakah ada kelainan atau malfungsi pada ginjal, liver, dan organ lainnya.

4. Angular Cheilitis
Penyebab Umumnya Angular Cheilitis disebabkan oleh pertumbuhan berlebihan dari
jamur Candida, yang menghasilkan pecah-pecah dan sakit pada sudut mulut.
Gambaran Klinis
Secara umum angular cheilitis mempunyai simtom utama bibir kering, rasa tidak
nyaman, adanya sisik-sisik dan pembentukan fisur (celah) yang diikuti dengan rasa terbakar
pada sudut mulut. Yang paling sering sebagai daerah eritema dan udema yang berbentuk
segitiga pada kedua komisura atau dapat berupa atropi, eritema, ulser, krusta dan pelepasan
kulit sampai terjadi eksudasi yang berulang. Reaksi jangka panjang, terjadi supurasi dan
jaringan granulasi.
Gejala
1. Sudut bibir kering
2. Sudut bibir pecah-pecah
3. Luka pada sudut bibir
4. Sakit pada saat membuka mulut
5. Bahkan sudut bibir dapat sampai berdarah

Perawatan angular cheilitis


Angular cheilitis dapat diterapi atau dicegah dengan beberapa cara yang tergantung
dengan penyebabnya. Sebagai contoh, menghindari kebiasan buruk menghisap bibir akan
bisa menghilngkan kelainan ini Bila angular cheilitis disebabkan oleh bakteri atau jamur,
maka diperlukan gel anti jamur yang diaplikasikan ke area yang terlibat. Dan bila
penyebabnya adalah denture atau gigi palsu makan mutlak diperlukan perawatan atau
pembuatan denture atau gigi tiruan yang baru.
Jadi bisa disimpulan bahwa penyebab angular cheilitis terbanyak adalah : defisiensi
atau kekurangan vitamne B, karena denture atau gigi tiruan dengan desain yang tidak baik,
dan penyebab lain yang tersering adalah infeksi jamur( candida sp) dan infeksi virus,
kemudian peringkat selanjutnya adalah kebiasaan buruk , sebagai contoh menghisap-hisap
bibir dan yang terakhir pengaruh dari luar ( lingkungan ).

Pengobatan
1. Salep anti jamur
Salep antijamur, seperti Neosporin, dapat memberikan bantuan dan menyembuhkan
infeksi yang menginfeksi bibir. Joel Gallant, MD, seorang profesor kedokteran di Johns
Hopkins, merekomendasikan menggunakan obat antijamur untuk mengobati Angular
Cheilitis, yang ditandai dengan peradangan dan luka pada permukaan bibir, di sudut mulut
dan di sekitar
mulut.
2. Obat antivirus
Antivirus, seperti Valtrex, Famvir dan Zovirax, digunakan untuk mengobati herpes
mulut yang merupakan kondisi menular yang menyebabkan munculnya luka dan pecah-pecah
di sekitar mulut. Obat antivirus bekerja dengan memperlambat perkembangan virus, sehingga
memungkinkan tubuh dapat melawannya.
Pemeriksaan Penunjang

Pada kasus dengan kecurigaan angular cheilitis dapat dilakukan pemeriksaan


penunjang untuk mengetahui organisme penyebab angular cheilitis yaitu swab dan kultur.
Pada hasil pemeriksaan dapat ditemukan adanya infestasi Candida sp, Staphylococcus aureus
atau Herpes simplex. Pemeriksaan biopsi kulit tidak disarankan.

Penatalaksanaan

Pada kebanyakan kasus angular cheilitis tidak memerlukan pengobatan dan dapat sembuh
dengan sendirinya. Tergantung pada penyebab spesifik terjadinya, pengobatan yang dapat
digunakan antara lain:

1. Lip balm atau lip gloss atau preparat emolien padat yang dapat digunakan secara
berkala.
2. Anastetik topikal seperti lidocain salep 4% atau prilocain 4% atau kombinasi
lidocaine dan prilocaine 2%. Pengobatan ini tidak disarankan pada penggunaan
jangka panjang karena dapat memperburuk manifestasi organisme penyebab pada
ulserasi.
3. Antibiotik topikal seperti asam fusidat 2% atau mupirocin 2%. Antibiotik oral seperti
golongan penicillin, makrolida dan sefalosporin.
4. Antijamur topikal seperti clotrimazole 2%, miconazole 3% atau ketoconazole 2%.
5. Steroid ointment topikal seperti betamethasone diproprionate ointment,
desoximethasone ointment, diflucortolone valerate 3%.
6. Suplementasi nutrisi dan vitamin. Pemberian vitamin B compleks, asam folat dan zat
besi disarankan karena salah satu etiologi dari angular cheilitis adalah avitaminosis
dan amineralosis.
Prognosis: Secara umum, prognosis dari Angular cheilitis adalah baik. Tergantung
dari faktor pengebab dan penyakit komorbid yang diderita.
5. KANDIDIASIS ORAL
Defenisi, etiologi, epidemiologi
Kandidiasis oral merupakan salah satu penyakit pada rongga mulut berupa lesi. Merah
dan lesi putih yang disebabkan oleh jamur jenis Kandida sp, dimana Kandida albikan
merupakan jenis jamur yang menjadi penyebab utama. Kandidiasis oral pertama sekali
dikenalkan oleh Hipocrates pada tahun 377 SM, yang melaporkan adanya lesi oral yang
kemungkinan disebabkan oleh genus Kandida.

Terdapat 150 jenis jamur dalam famili Deutromycetes, dan tujuh diantaranya
(C.albicans, C.tropicalis, C.parapsilosi, C. krusei, C. kefyr, C.glabrata, dan C.guilliermondii )
dapat menjadi patogen, dan C. Albican merupakan jamur terbanyak yang terisolasi dari
tubuh manusia sebagai flora normal dan penyebab infeksi oportunistik.

Terdapat sekitar 30-40% Kandida albikan pada rongga mulut orang dewasa
sehat, 45% pada neonatus, 45-65% pada anak-anak sehat, 50-65% pada pasien yang
memakai gigi palsu lepasan, 65-88% pada orang yang mengkonsumsi obat-obatan jangka
panjang, 90% pada pasien leukemia akut yang menjalani kemoterapi, dan 95% pada pasien
HIV/AIDS.

Kandidiasis oral dapat menyerang semua umur, baik pria maupun wanita.
Meningkatnya prevalensi infeksi Kandida albikan ini dihubungkan dengan kelompok
penderita HIV/AIDS, penderita yang menjalani transplantasi dan kemoterapi maligna. Odds
dkk (1990) dalam penelitiannya mengemukakan bahwa dari 6.545 penderita HIV/AIDS,
sekitar 44.8% adalah penderita kandidiasis.

Faktor resiko

Pada orang yang sehat, Kandida albikan umumnya tidak menyebabkan masalah apapun
dalam rongga mulut, namun karena berbagai faktor, jamur tersebut dapat tumbuh secara
berlebihan dan menginfeksi rongga mulut. Faktor-faktor tersebut dibagi menjadi dua, yaitu :

a. Patogenitas jamur

Beberapa faktor yang berpengaruh pada patogenitas dan proses infeksi. Kandida adalah
adhesi, perubahan dari bentuk ragi ke bentuk hifa, dan produksi enzim ekstraseluler. Adhesi
merupakan proses melekatnya sel Kandida ke dinding sel epitel host. Perubahan bentuk dari
ragi ke hifa diketahui berhubungan dengan patogenitas dan proses penyerangan Kandida
terhadap sel host. Produksi enzim hidrolitik ekstraseluler seperti aspartyc proteinase juga
sering dihubungkan dengan patogenitas Kandida albikan.

b. Faktor Host
Faktor host dapat dibedakan menjadi dua, yaitu faktor lokal dan faktor sistemik.
Termasuk faktor lokal adalah adanya gangguan fungsi kelenjar ludah yang dapat
menurunkan jumlah saliva. Saliva penting dalam mencegah timbulnya kandidiasis
oral karena efek pembilasan dan antimikrobial protein yang terkandung dalam saliva
dapat mencegah pertumbuhan berlebih dari Kandida, itu sebabnya kandidiasis oral
dapat terjadi pada kondisi Sjogren syndrome, radioterapi kepala dan leher, dan obat-
obatan yang dapat mengurangi sekresi saliva. Pemakaian gigi tiruan lepasan juga
dapat menjadi faktor resiko timbulnya kandidiasis oral. Sebanyak 65% orangtua yang
menggu nakan gigi tiruan penuh rahang atas menderita infeksi Kandida, hal ini di
karenakan pH yang rendah, lingkungan anaerob dan oksigen yang sedikit
mengakibatkan Kandida tumbuh pesat. Selain dikarenakan faktor lokal, kandidiasis
juga dapat dihubungkan dengan keadaan sistemik, yaitu usia penyakit sistemik
seperti diabetes, kondisi imunodefisiensi seperti HIV, keganasan seperti leukemia,
defisiensi nutrisi, dan pemakaian obat-obatan seperti antibiotik spektrum luas dalam
jangka waktu lama, kortikosteroid, dan kemoterapi.

Klasifikasi dan Gambaran Klinis

Gambaran klinis kandidiasis oral tergantung pada keterlibatan lingkungan dan interaksi
organisme dengan jaringan pada host. Adapun kandidiasis oral dikelompokkan atas tiga,
yaitu :

1. Akut, dibedakan menjadi dua jenis, yaitu :


a. Kandidiasis Pseudomembranosus Akut
Kandidiasis pseudomembranosus akut yang disebut juga sebagai thrush, pertama
sekali dijelaskan kandidiasis ini tampak sebagai plak mukosa yang putih, difus,
bergumpal atau seperti beludru, terdiri dari sel epitel deskuamasi, fibrin, dan hifa
jamur, dapat dihapus meninggalkan permukaan merah dan kasar. Pada umumnya
dijumpai pada mukosa pipi, lidah, dan palatum lunak. Penderita kandidiasis ini dapat
mengeluhkan rasa terbakar pada mulut.
Kandidiasis seperti ini sering diderita oleh pasien dengan sistem imun rendah,
seperti HIV/AIDS, pada pasien yang mengkonsumsi kortikosteroid, dan menerima
kemoterapi Diagnosa dapat ditentukan dengan pemeriksaan klinis, kultur jamur, atau
pemeriksaan mikroskopis secara langsung dari kerokan jaringan.

Gambar; Kandidiasis Pseudomembranosus Akut pada lidah dan mukosa bukal pasien

b. Kandidiasis Atropik Akut


Kandidiasis jenis ini membuat daerah permukaan mukosa oral mengelupas dan
tampak sebagai bercak-bercak merah difus yang rata. Infeksi ini terjadi karena
pemakaian antibiotik spektrum luas, terutama Tetrasiklin, yang mana obat tersebut
dapat mengganggu keseimbangan ekosistem oral antara Lactobacillus acidophilus
dan Kandida albikan. Antibiotik yang dikonsumsi oleh pasien mengurangi
populasi Lactobacillus dan memungkinkan Kandida tumbuh subur. Pasien yang
menderita Kandidiasis ini akan mengeluhkan sakit seperti terbakar.
Gambar: Kandidiasis Atropik Akut
2. Kronik, dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu :
A. Kandidiasis Atropik Kronik
Disebut jugadenture stomatitis atau alergi gigi tiruan. Mukosa palatum maupun
mandibula yang tertutup basis gigi tiruan akan menjadi merah, kondisi ini dikategorikan
sebagai bentuk dari infeksi Kandida. Kandidiasis ini hampir 60% diderita oleh pemakai
gigi tiruan terutama pada wanita tua yang sering memakai gigi tiruan selagi tidur.

B. Kandidiasis Hiperplastik Kronik


Infeksi jamur timbul pada mukosa bukal atau tepi lateral lidah berupa bintik-bintik
putih yang tepinya menimbul tegas dengan beberapa daerah merah. Kondisi ini
dapat berkembang menjadi displasia berat atau keganasan, dan kadang disebut
sebagai Kandida leukoplakia. Bintik-bintik putih tersebut tidak dapat dihapus,
sehingga diagnosa harus ditentukan dengan biopsi. Kandidiasis ini paling sering
diderita oleh perokok.

C. Median Rhomboid Glosit is


Median Rhomboid Glositis adalah daerah simetris kronis dianterior lidah ke papila
sirkumvalata, tepatnya terletak pada duapertiga anterior dan sepertiga posterior lidah. Gejala
penyakit ini asimptomatis dengan daerah tidak berpapila.
3. Keilitis Angularis
Keilitis angularis merupakan infeksi Kandida albikan pada sudut mulut, dapat
bilateral maupun unilateral. Sudut mulut yang terkena infeksi tampak merah dan
pecah-pecah, dan terasa sakit ketika membuka mulut. Keilitis angularis ini dapat
terjadi pada penderita defisiensi vitamin B12 dan anemia defisiensi besi.
Perawatan
Pada pasien yang kesehatan tubuhnya normal, seperti perokok dan pemakai gigi tirua n,
perawatan kandidiasis oral relatif mudah dan efektif, namun pasien yang mengkonsumsi
antibiotik jangka panjang, dan pasien dengan sistem imun tubuh rendah yang mendapat
perawatan kemoterapi dimana infeksi jamur mau tidak mau akan timbul, maka perawatan
kandidiasisnya lebih spesifik. Adapun perawatan kandidiasis oral yaitu dengan menjaga
kebersihan rongga mulut, memberi obat-obatan antifungal baik lokal maupun sistemik, dan
berusaha menanggulangi faktor predisposisi, sehingga infeksi jamur dapat dikurangi.
Kebersihan mulut dapat dijaga dengan menyikat gigi maupun menyikat daerah bukal dan
lidah dengan sikat lembut. Pada pasien yang memakai gigi tiruan, gigi tiruan harus direndam
dalam larutan pembersih seperti Klorheksidin, hal ini lebih efektif dibanding dengan hanya
meyikat gigi tiruan, karena permukaan gigi tiruan yang tidak rata dan poreus menyebabkan
Kandida mudah melekat, dan jika hanya menyikat gigi tiruan tidak dapat menghilangkannya.
Pemberian obat-obatan antifungal juga efekt if dalam mengobati infeksi jamur.
Terdapat dua jenis obat antifungal, yaitu pemberian obat antifungal secara topikal dan
sistemik. Pengobatan antifungal topikal pada awal abad 20 yaitu dengan menggu nakan
gentian violet, namun karena perkembangan resisten dan adanya efek samping seperti
meninggalkan stain pada mukosa oral, sehingga obat itu diganti dengan Nystatin yang
ditemukan pada tahun 1951 dan Amphotericin B pada tahun 1956. Obat-obat tersebut bekerja
dengan mengikat sterol pada membran sel jamur, dan mengubah permeabilitas membran sel.
Nystatin merupakan obat antifungal yang paling banyak digunakan. Obat antifungal sistemik
digunakan pada pasien yang tidak mempan terhadap obat antifungal topikal dan pada pasien
dengan resiko tinggi menderita infeksi sistemik Selain menjaga kebersihan rongga mulut dan
memberi obat-obatan antifungal pada pasien, faktor predisposisi juga harus ditanggulangi.
Penanggu langan faktor predisposisi meliputi pembersihan dan penyikatan gigi tiruan secara
rutin dengan menggunakan cairan pembersih, seperti Klorheksidin, mengurangi rokok dan
konsumsi karbohidrat, mengunyah permen karet bebas gula untuk merangsang pengeluaran
saliva, menunda pemberian antibiotik dan kortikosteroid, menangani penyakit yang dapat
memicu kemunculan kandidiasis seperti penanggulangan penyakit diabetes, HIV, dan
leukemia.
BAB III
KESIMPULAN

Gigi yang sehat adalah gigi yang rapih, bersih, sehat ,bercahaya dan didukung oleh
gusi yang sehat, yaitu gusi yang kencang dan berwarna merah muda . untuk mencapai
kesehatan gigi dan mulut yang optimal, maka harus dilakukan perawatan secara berkala,
sehingga didapatakan kondisi gigi dan jaringan rongga mulut yang sehat. Hal itu dapat
dicapai dengan memeriksakan gigi dan mulut ke dokter gigi setiap enam bulan sekali dan
bukan hanya terdapat apabilan keluahan saja.
DAFTAR PUSTAKA

1. Julianti et al. Tutorial gigi dan mulut. 2008. fakultas kedokteran universitas Riau.
Pekanbaru
2. Mustaqimah DN.2002. Infeksi dalam bidang periodonsia. JKGUI
3. Anggraini,siti.2007. Plak gigi sumber penyakit gigi dan mulut.EGC.Jakarta