Anda di halaman 1dari 11

MAKALAH ILMU NEGARA

TENTANG NEGARA

Disususun Oleh:

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI

UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

FAKULTAS HUKUM

PURWOKERTO

2017
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Negara? Apa itu negara? Pada dasarnya negara adalah sebuah organisasi. Seperti layaknya sebuah
organisasi, negara memiliki anggota, tujuan dan peraturan. Anggota negara adalah warganya, tujuan
negara biasanya tercantum dalam pembukaan konstitusinya (undang-undang dasar), sedang peraturannya
dikenal sebagai hukum. Bedanya dengan organisasi yang lain, negara berkuasa di atasindividu-individu
dan di atas organisasi-organisasi pada suatu wilayah tertentu. Peraturan negara berhak mengatur seluruh
individu dan organisasi yang ada pada suatu wilayah tertentu, sedangkan peraturan organisasi hanya
berhak mengatur pihak-pihak yang menjadi anggotanya saja. Peraturan negara bersifat memaksa, bila ada
yang tidak mematuhinya, negara mempunyai hak untuk memberikan sanksi,dari sanksi yang bersifat
lunak (denda) sampai sanksi yang bersifat kekerasan (hukum bunuh misalnya).Sepanjang sejarah manusia
hidup di atas permukaan bumi,manusia telah bernegara. Mulai dari negara dalam bentuknya yang paling
primitif yaitu negara kesukuan, negara kota, sampai negara kerajaan, negara republik dan negara
demokrasi.Sampai saat ini tidak ada satupun tarif negara yang diakui semua pihak. Ahli-ahli ilmu
kenegaraan saling berbeda pendapat tentang apa itu negara. Secara sederhana bisa kita katakan bahwa
yang dimaksud dengan negara adalah organisasi yang menaungi semua pihak dalam suatu
wilayah tertentu.

B. Rumusan Masalah
1. Apa Pengertian Negara secara umum?
2. Sebutkan dan jelaskan macam-macam Teori terbentuknya Negara?
3. Apa saja kah Unsur-Unsur Negara?
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Negara
Sebelum kita membahas topik tentang Apakah itu negara ?, dibawah ini disajikan beberapa
rumusan mengenai negara itu sendiri.

- Menurut Roger H. Soltau :


Negara adalah agen (agency) atau kewewenangan (authority) yang mengatur atau
mengendalikan persoalan-persoalan bersama atas nama masyarakat (The state is an agency or
authority managing or controlling these (common) affairs on behalf of and in the name of the
community).1

- Menurut Harold J. Laski :


Negara adalah suatu masyarakat yang diintegrasikan karena mempunyai wewenang yang
bersifat memaksa dan yang secara sah lebih berkuasa daripada individu atau kelompok yang
merupakan bagian dari masyarakat. Masyarakat adalah suatu kelompok manusia yang hidup
dan bekerja sama untuk memenuhi terkabulnya keinginan-keinginan mereka bersama.
Masyarakat merupakan negara kalau cara hidup yang harus ditaati baik oleh individu maupun
oleh asosiasi- asosiasi ditentukan oleh suatu wewenang yang bersifat memaksa dan mengikat
(The state is a society wich is integrated by possesing a coercive authority legally supreme
over any individual ot group wich is part of the society. A society is a group of human beings
living together and working together for the satisfaction of their mutual wants. Such a society
is a state when the way of live to wich both individuals and associations must conform is
definedby a coercive authority binding upon them all).2

- Menurut Max Weber :


Negara adalah suatu masyarakat yang mempunyai monopoli dalam penggunaan kekerasan
fisik secara sah dalam sesuatu wilayah (The state is a human society that (succesfully) claims
the monopoli of the legitimate use of physical force within a given territory).3

1
Soltau, An introduction to politic, hlm. 1.
2
Harold J. Laski, The State in Theory and Practice (New York : The Viking Press, 1947), hlm. 8-9
3
H.H. Gerth and C. Wright Mills, trans., eds and introduction, From Max Weber : Essays in Sociology (New
York : Oxford University Press, 1958), hlm. 78
- Menurut Robert M. Maclver :
Negara adalah asosiasi yang menyelenggarakan penertiban di dalam suatu masyarakat dalam
suatu wilayah dengan berdasarkan sistem hukum yang diselenggarakan oleh suatu pemerintah
yang untuk maksud tersebut diberi kekuasaan memaksa (The state is an association which,
acting through law as pormulgalted by a government endowed to this end with coercive
power, maintains within a community territorially demarcated the universal external
conditions of social orders).

Jadi Negara adalah suatu wilayah di permukaan bumi yang kekuasaannya baik politik,
militer, ekonomi, sosial maupun budayanya diatur oleh pemerintahan yang berada di wilayah tersebut.
Negara juga merupakan suatu wilayah yang memiliki suatu sistem atau aturan yang berlaku bagi semua
individu di wilayah tersebut, dan berdiri secara independent.

B. Teori terbentuknya Negara


a. Teori hukum alam. Pemikiran pada masa plato dan aristoteles kondisi alam tumbuhnya manusia
berkembangnya
b. Teori ketuhanan (islam + Kristen) segala sesuatu adalah ciptaan tuhan.
c. Teori perjanjian. Manusia menghadapi kondisi alam dan timbullah kekerasan. Manusia akan
musnah bila ia tidak mengubah cara-caranya. Manusia pun bersatu utk mengatasi tantangan dan
menggunakan persatuan dlm gerak tunggal utk kebutuhan bersama4.
Proses terbentuknya Negara di zaman modern. Proses tersebut dapat berupa penaklukan,
peleburan, pemisahan diri, dan pendudukan atas Negara atau wilayah yg blm ada pemerintahan
sebelumnya.

C. Unsur-Unsur Negara
Sebagai sebuah organisasi, negara memiliki unsur-unsur yang tidak dimiliki oleh organisasi
apapun yang ada di dalam masyarakat. Secara umum, unsur negara ada yang bersifat konstitutif dan ada
pula yang bersifat deklaratif. Unsur konstitutif maksudnya unsur yang mutlak atau harus ada di dalam
suatu negara. Sedangkan unsur deklaratif hanya menerangkan adanya negara.
Adapun unsur-unsur negara yang bersifat konstitutif adalah harus ada rakyat, wilayah tertentu, dan
pemertintahan yang berdaulat. Ketiga unsur tersebut bersifat konstitutif karena merupakan syarat mutlak
bagi terbentuknya negara. Apabila salah satu unsur tersebut tidak ada atau tidak lengkap, maka tidak bisa
disebut sebagai negara.

4
Soehino. 2005. Ilmu Negara. Yogyakarta: Liberty.
Di samping itu, terdapat pula unsur deklaratif, yakni harus ada pengakuan dari negara lain. Unsur
deklaratif ini sangatlah penting karena pengakuan dari negara lain merupakan sebagai wujud kepercayaan
negara lain untuk mengadakan hubungan, baik hubungan bilateral maupun multilateral.

1. Rakyat
Rakyat adalah semua orang yang menjadi penghuni suatu negara. Tanpa rakyat, mustahil negara
akan terbentuk. Leacock mengatakan bahwa, Negara tidak akan berdiri tanpa adanya sekelompok orang
yang mendiami bumi ini5.. Hal ini menimbulkan pertanyaan, berapakah jumlah penduduk untuk
membentuk sebuah negara? Plato mengatakan bahwa untuk membentuk sebuah negara, wilayah tersebut
membutuhkan 5040 penduduk. Pendapat ini tentu saja tidak berlaku di zaman modern ini, lihat saja
populasi negara India, Amerika Serikat, Cina, Rusia, dimana negara tersebut memiliki ratusan juta
penduduk. Rakyat terdiri dari penduduk dan bukan penduduk.
Penduduk adalah semua orang yang bertujuan menetap dalam wilayah suatu negara tertentu.
Mereka yang ada dalam wilayah suatu negara tetapi tidak bertujuan menetap, tidak dapat disebut
penduduk. Misalnya, orang yang berkunjung untuk wisata. Penduduk suatu negara dapat dibedakan
menjadi warga negara dan bukan warga negara. Warga negara adalah mereka yang menurut hukum
menjadi warga dari suatu negara, sedangkan yang tidak termasuk warga negara adalah orang asing atau
disebut juga warna negara asing (WNA).

2. Wilayah
Wilayah merupakan unsur kedua, karena dengan adanya wilayah yang didiami oleh manusia,
maka negara akan terbentuk. Jika wilayah tersebut tidak ditempati secara permanen oleh manusia, maka
mustahil untuk membentuk suatu negara. Bangsa Yahudi misalnya, dimana mereka tidak mendiami suatu
tempat secara permanen. Alhasil mereka tidak memiliki tanah yang jelas untuk didiami, tapi dengan
kepintaran PBB, diberikanlah Israel sebagai negara bagian agar mereka merasa memiliki tanah.
Wilayah adalah batas wilayah di mana kekuasaan negara itu berlaku. Wilayah suatu negara meliputi
sebagai berikut:
a. Wilayah daratan, yakni meliputi seluruh wilayah aratan dengan batas-batas tertentu dengan
negara lain.

b. Wilayah lautan, yakni meliputi seluruh perairan wilayah laut dengan batas-batas yang ditentukan
menurut hukum internasional.

5
Sujiyanto dkk. Praktik Belajar Kewarganegaraan untuk umum. Bekasi: Ganesa Exact
c. Batas-batas wilayah laut adalah sebagai berikut:
Batas laut teritorial, ialah garis khayal yang berjarak 12 mil laut dari garis dasar ke arah laut
lepas. Jika ada dua negara atau lebih menguasai suatu lautan, sedangkan lebar lautan itu
kurang dari 24 mil laut, maka garis teritorial di tarik sama jauh dari garis masing-masing
negara tersebut. Laut yang terletak antara garis dengan garis batas teritorial disebut laut
teritorial. Laut yang terletak di sebelah dalam garis dasar disebut laut internal.
Batas zona bersebelahan, ditentukan sejauh 12 mil laut di luar batas laut teritorial, atau 24
mil laut jika diukur dari garis lurus yang ditarik dari pantai titik terluar.
Batas Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE) adalah laut yang diukur dari garis lurus yang ditarik
dari pantai titik terluar sejauh 200 mil laut. Di dalam wilayah ini, negara yang bersangkutan
memiliki hak untuk mengelola dan memanfaatkan kekayaan yang ada di dalamnya. Namun,
wilayah ini bebas untuk dilayari oleh kapal-kapal asing yang sekedar lewat saja.
Batas landas benua adalah wilayah lautan suatu negara yang batasnya lebih dari 200 mil
laut. Jika ada dua negara atau lebih menguasai lautan di atas landasan kontinen, maka batas
negara tersebut ditarik sama jauh dari garis dasar masing-masing negara. Dalam wilayah
laut ini negara yang bersangkutan dapat mengelola dan memanfaatkan wilayah laut tetapi
wajib membagi keuntungan dengan masyarakat internasional.

d. Wilayah udara atau dirgantara, yakni meliputi wilayah di atas daratan dan lautan negara yang
bersangkutan.

3. Pemerintahan yang Berdaulat


Pemerintahan yang berdaulat adalah pemerintah yang mempunyai kekuasaan baik ke dalam
maupun ke luar untuk menjalankan tugas dan wewenangnya mengatur ekonomi, sosial, dan politik suatu
negara atau bagian-bagiannya sesuai dengan sistem yang telah ditetapkan.
Pemerintah sangat diperlukan dalam berdirinya suatu negara, tidak mungkin jika negara muncul
tanpa kemudian diikuti oleh berdirinya pemerintah.
Sistem pemerintahan setiap negara berbeda-beda. Adapun pengelompokan sistem pemerintahan
tersebut, yaitu6:
a. Sistem Pemerintahan Parlementer
Sistem parlementer adalah sebuah sistem pemerintahan di mana parlemen memiliki peranan
penting dalam pemerintahan. Dalam hal ini parlemen memiliki wewenang dalam mengangkat

6
Soehino. 2005. Ilmu Negara. Yogyakarta: Liberty.
perdana menteri dan parlemen pun dapat menjatuhkan pemerintahan, yaitu dengan cara
mengeluarkan semacam mosi tidak percaya. Berbeda dengan sistem presidensiil, di mana sistem
parlemen dapat memiliki seorang presiden dan seorang perdana menteri, yang berwenang
terhadap jalannya pemerintahan. Dalam presidensiil, presiden berwenang terhadap jalannya
pemerintahan, namun dalam sistem parlementer presiden hanya menjadi simbol kepala negara
saja.

b. Sistem Pemerintahan Presidensiil


Dalam sistem presidensil ini, presiden memiliki kekuasaan yang kuat karena selain sebagai
kepala negara, juga sebagai kepala pemerintahan yang mengetuai kabinet (Dewan Menteri).
Salah satu contoh negara yang menggunakan sistem pemerintahan ini dalaha Amerika Serikat,
dimana menteri-menteri bertanggung jawab kepada presiden, karena presiden sebagai kepala
negara dan kepala pemerintahan.

Untuk mengimbangi kekuasaan pemerintahan maka lembaga parlemen (legeslatif) benar-


benar diberi hak protes seperti hak untuk menolak, baik perjanjian maupun pernyataan perang
terhadap negara lain.
Ciri-ciri pemerintahan presidensiil yaitu:
Dikepalai oleh seorang presiden sebagai kepala pemerintahan sekaligus kepala negara.
Kekuasan eksekutif presiden diangkat berdasarkan demokrasi rakyat dan dipilih langsung
oleh mereka atau melalui badan perwakilan rakyat.
Presiden memiliki hak prerogratif (hak istimewa) untuk mengangkat dan
memberhentikan menteri-menteri yang memimpin departemen dan non-departemen.
Menteri-menteri hanya bertanggung jawab kepada kekuasan eksekutif presiden bukan
kepada kekuasaan legislatif.
Presiden tidak bertanggung jawab kepada kekuasaan legislatif7.

c. Sistem Pemerintahan Campuran


Sistem pemerintahan ini, selain memiliki presiden sebagai kepala negara, juga memiliki perdana
menteri sebagai kepala pemerintahan untuk memimpin kabinet yang bertanggung jawab kepada
parlemen.
Presiden tidak diberi posisi dominan dalam sistem pemerintahan.

7
Sujiyanto dkk. Praktik Belajar Kewarganegaraan untuk umum. Bekasi: Ganesa Exact
d. Sistem Pemerintahan Proletariat
Dalam sistem ini, usaha pertama pemerintah sebenarnya juga ditujukan untuk kepentingan rakyat
banyak (kaum proletar), rakyat banyak tersebut kemudian dihimpun dalam suatu organisasi
kepartaian tunggal (tani, buruh, pemuda, dan wanita) yang akhirnya menjadi dominasi partai
tunggal. Partai tunggal tersebut adalah partai komunis.

4. Pengakuan dari Negara Lain


Pengakuan dari negara lain terhadap suatu negara yang baru berdiri bukanlah merupakan suatu
faktor mutlak atau unsur pembentuk negara baru, namun lebih merupakan menerangkan atau menyatakan
telah lahirnya suatu negara baru. Kita ambil contoh, Negara Indonesia merdeka pada tanggal 17 Agustus
1945 baru diakui oleh Belanda pada tahun 27 Desember 1949.
Pengakuan dari negara lain merupakan modal dasar bagi suatu negara yang bersangkutan untuk diakui
sebagai negara yang merdeka dan mandiri. Pengakuan suatu negara dapat dibagi menjadi dua kelompok,
yaitu pengakuan secara de facto dan pengakuan secara de jure.

a. Pengakuan Secara de Facto


Pengakuan secara defacto adalah pengakuan tentang kenyataan adanya suatu negara yang dapat
mengadakan hubungan dengan negara lain yang mengakuinya. Pengakuan de facto diberikan
kalau suatu negara baru sudah memenuhi unsur konstitutif. Pengakuan de facto menurut sifatnya
dapat dibagi menjadi dua, yatiu8:
Pengakuan de facto yang bersifat tetap. Artinya, pengakuan dari negara lain terhadap suatu
negara hanya menimbulkan hubungan di lapangan perdagangan dan ekonomi (konsul).
Sedangkan untuk tingkat duta belum dapat dilaksanakan.
Pengakuan de facto bersifat sementara. Artinya, pengakuan yang diberikan oleh negara lain
dengan tidak melihat jauh pada hari ke depan, apakah negara itu akan mati atau akan jalan
terus. Apabila negara baru tersebut jatuh atau hancur, maka negara lain akan menarik kembali
pengakuannya.

b. Pengakuan Secara de Jure


Pengakuan secara de jure adalah pengakuan secara resmi berdasarkan hukum oleh negara lain
dengan segala konsekuensinya.

8
Soehino. 2005. Ilmu Negara. Yogyakarta: Liberty.
Menurut sifatnya, pengakuan secara de jure dapat dibedakan sebagai berikut:
Pengakuan de jure bersifat tetap. Artinya, pengakuan dari negara lain berlaku untuk selama-
lamanya setelah melihat kenyataan bahwa negara baru dalam beberapa waktu lamanya
menunjukkan pemerintahan yang stabil.
Pengakuan de jure bersifat penuh. Artinya terjadi hubungan antara negara yang mengakui dan
diakui, yang meliputi hubungan dagang, ekonomi dan diplomatik.

Dalam kenyataannya, setiap negara mempunyai pandangan yang berbeda mengenai pengakuan de
facto dan de jure. Misalnya, negara Indonesia tetap memandang pengakuan dari negara lain hanya
merupakan unsur deklaratif. Oleh sebab itu, meskipun Negara Republik Indonesia belum ada yang
mengakui pada saat lahirnya, Indonesia tetap berdiri sebagai negara baru dengan hak dan martabat yang
sama dengan negara lain. Negara Indonesia merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945 dan baru diakui oleh
negara lain beberapa tahun kemudian (Mesir tahun 1947, Belanda tahun 1949, PBB tahun 1950).

D. Sifat hakikat suatu Negara


Sifat dan hakikat negara menurut Prof . Miriam Budiardjo mencakup hal-hal sebagai berikut9:
1. Sifat Memaksa
Negara memiliki sifat memaksa, dalam arti mempunyai kekuatan fisik secara legal. Sarana untuk
itu adalah polisi, tentara, dan alat penjamin hukum lainnya. Dengan sifat memaksa ini diharapkan
semua peraturan perundangan yang berlaku ditaati supaya keamanan dan ketertiban negara
tercapai. Bentuk paksaan yang dapat dilihat dalam suatu negara adalah adanya Undang-Undang
perpajakan yang memaksa setiap warga negara untuk membayar pajak, bila ada yang melanggar
akan dikenakan sanksi hukuman.
2. Sifat Monopoli
Negara mempunyai sifat monopoli dalam menetapkan tujuan bersama masyarakat. Misalnya
negara dapat mengatakan bahwa aliran kepercayaan atau partai politik tertentu dilarang karena
dianggap bertentangan dengan tujuan masyarakat dan negara.
3. Sifat Mencakup Semua ( All - embracing )
Semua peraturan perundangan yang berlaku adalah untuk semua orang tanpa kecuali. Hal itu perlu,
sebab kalau seseorang dibiarkan berada di luar ruang lingkup aktivitas negara, maka usaha negara
untuk mencapai masyarakat yang dicita-citakan akan gagal.

9
Budiardjo, Miriam. 2008. Dasar-dasar ilmu politik. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
BAB III
PENUTUPAN

Kesimpulan
Manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna dibandingkan makhluk yang lain
karena manusia diberi bentuk, akal, dan pikiran sehingga mampu membedakan yang baik dan yang buruk
atau yang benar dan yang salah. Manusia mempunyai peranan sebagai makhluk tuhan, individu, sosial.
a. Makna Bangsa
Bangsa adalah suatu komunitas etnik yang memiliki ciri-ciri : memiliki nama, wilayah tertentu,
mitos leluhur bersama, kenangan bersama, satu atau beberapa budaya yang sama & solideritas
tertentu. Dalam pengertian sosiologis,bangsa termasuk kelompok paguyuban yang secara kodrati
ditakdirkan untuk hidup bersama dan senasib sepenanggungan di dalam suatu Negara.
b. Makna Negara
Kata Negara berasal dari : state (Inggris), staat (Belanda dan Jerman), etat (Perancis), statum
(Latin), yang berarti keadaan yang tegak dan tetap. Negara adalah organisasi yang di dalamnya
ada rakyat, di dalamnya ada rakyat, wilayah yang permanen, dan pemerintah yang berdaulat (baik
ke dalam maupun ke luar). Dalam arti luas, negara merupakan kesatuan sosial (masyarakat) yang
diatur secara konstitusional untuk mewujudkan kepentingan bersama.
DAFTAR PUSTAKA
- Sujiyanto dkk. Praktik Belajar Kewarganegaraan untuk umum. Bekasi: Ganesa Exact
- Soltau, An introduction to politic.
- Harold J. Laski, The State in Theory and Practice (New York : The Viking Press, 1947).
- H.H. Gerth and C. Wright Mills, trans., eds and introduction, From Max Weber : Essays in
Sociology (New York : Oxford University Press, 1958).
- Soehino. 2005. Ilmu Negara. Yogyakarta: Liberty.
- Budiardjo, Miriam. 2008. Dasar-dasar ilmu politik. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.