Anda di halaman 1dari 11

PAPPER KEPERAWATAN KOMUNITAS

KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA

Dosen Pengampu :Reni dwi Setyaningsih, MPH.

Disusun oleh :

1. Zuhara intan maulida


2. Oky bagus panuntun
3. Dwiyantoro
4. Hening jiwangga
5. Roni Hidayat

PRODI S1 KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN HARAPAN BANGSA

PURWOKERTO

2015
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Keselamatan dan keamanan kerja mempunyai banyak pengaruh
terhadap faktor kecelakaan, karyawan harus mematuhi standart (K3) agar
tidak menjadikan hal-hal yang negative bagi diri karyawan. Terjadinya
kecelakaan banyak dikarenakan oleh penyakit yang diderita karyawan
tanpa sepengetahuan pengawas (K3), seharusnya pengawasan terhadap
kondisi fisik di terapkan saat memasuki ruang kerja agar mendeteksi
sacera dini kesehatan pekerja saat akan memulai pekerjaanya.
Keselamatan dan kesehatan kerja perlu diperhatikan dalam lingkungan
kerja, karena kesehatan merupakan keadaan atau situasi sehat seseorang
baik jasmani maupun rohani sedangkan keselamatan kerja suatu keadaan
dimana para pekerja terjamin keselamatan pada saat bekerja baik itu dalam
menggunakan mesin, pesawat, alat kerja, proses pengolahan juga tempat
kerja dan lingkungannya juga terjamin. Apabila para pekerja dalam
kondisi sehat jasmani maupun rohani dan didukung oleh sarana dan
prasarana yang terjamin keselamatannya maka produktivitas kerja akan
dapat ditingkatkan. Masalah kesehatan adalah suatu masalah yang
kompleks, yang saling berkaitan dengan masalah-masalah lain di luar
kesehatan itu sendiri. Banyak faktor yang mempengaruhi kesehatan, baik
kesehatan individu maupun kesehatan masyarakat, antara lain: keturunan,
lingkungan, perilaku, dan pelayanan kesehatan.
B. Tujuan
1. Untuk mengetahui Definisi dari K3
2. Untuk mengetahui dasar pemberlakuan K3
3. Untuk mengetahui Tujuan Program Keselamatan dan Kesehatan Kerja
4. Untuk mengetahui Penyebab Kecelakaan Kerja
5. Untuk mengetahui hambatan pelaksanaan
6. Untuk mengetahui Masalah kesehatan karyawan
7. Untuk mengetahui profil industri pembuatan mie bihun/ mie putih
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi
Menurut purnama (2010) Keselamatan kerja secara filosofi
diartikan sebagai suatu pemikiran dan upaya untuk menjamin keutuhan
dan kesempurnaan baik jasmaniah maupun rohaniah tenaga kerja pada
khususnya dan manusia pada umumnya serta hasil budaya dan karyanya.
Dari segi keilmuan diartikan sebagai suatu pengetahuan dan penerapannya
dalam usaha mencegah kemungkinan terjadinya kecelakaan dan penyakit
akibat kerja
Menurut Undang-Undang Pokok Kesehatan RI No. 9 Tahun 1960,
BAB I pasal 2, Kesehatan kerja adalah suatu kondisi kesehatan yang
bertujuan agar masyarakat pekerja memperoleh derajat kesehatan setinggi-
tingginya, baik jasmani, rohani, maupun sosial, dengan usaha pencegahan
dan pengobatan terhadap penyakit atau gangguan kesehatan yang
disebabkan oleh pekerjaan dan lingkungan kerja maupun penyakit umum.
Keselamatan dan Kesehatan Kerja sebagai suatu program didasari
pendekatan ilmiah dalam upaya mencegah atau memperkecil terjadinya
bahaya (hazard) dan risiko (risk) terjadinya penyakit dan kecelakaan,
maupun kerugian-kerugian lainya yang mungkin terjadi. Jadi dapat
dikatakan bahwa Keselamatan dan Kesehatan Kerja adalah suatu
pendekatan ilmiah dan praktis dalam mengatasi potensi bahaya dan risiko
kesehatan dan keselamatan yang mungkin terjadi.( Rijanto, 2010 )
B. Dasar pemberlakuan
Menurut Undang-Undang Pokok Kesehatan RI No. 9 Tahun 1960,
BAB I pasal 2, Kesehatan kerja adalah suatu kondisi kesehatan yang
bertujuan agar masyarakat pekerja memperoleh derajat kesehatan setinggi-
tingginya, baik jasmani, rohani, maupun sosial, dengan usaha pencegahan
dan pengobatan terhadap penyakit atau gangguan kesehatan yang
disebabkan oleh pekerjaan dan lingkungan kerja maupun penyakit umum.
Pemerintah memberikan jaminan kepada karyawan dengan
menyusun Undang-undang Tentang Kecelakaan Tahun 1947 Nomor 33,
yang dinyatakan berlaku pada tanggal 6 januari 1951, kemudian disusul
dengan Peraturan Pemerintah Tentang Pernyataan berlakunya peraturan
kecelakaan tahun 1947 (PP No. 2 Tahun 1948), yang merupakan bukti
tentang disadarinya arti penting keselamatan kerja di dalam perusahaan
(Heidjrachman Ranupandojo dan Suad Husnan, 2002). Lalu, menurut
penjelasan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 1992,
menyatakan bahwa sudah sewajarnya apabila tenaga kerja juga berperan
aktif dan ikut bertanggung jawab atas pelaksanaan program pemeliharaan
dan peningkatan kesejahteraan demi terwujudnya perlindungan tenaga
kerja dan keluarganya dengan baik.Jadi, bukan hanya perusahaan saja
yang bertanggung jawab dalam masalah ini, tetapi para karyawan juga
harus ikut berperan aktif dalam hal ini agar dapat tercapai kesejahteraan
bersama.
C. Tujuan Program Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Program keselamatan dan kesehatan kerja bertujuan untuk
memberikan iklim yang kondusif bagi para pekerja untuk berprestasi,
setiap kejadian baik kecelakaan dan penyakit kerja yang ringan maupun
fatal harus dipertanggungjawabkan oleh pihak-pihak yang bersangkutan
(Rika Ampuh Hadiguna, 2009). Sedangkan menurut Rizky Argama
(2006), tujuan dari dibuatnya program keselamatan dan kesehatan kerja
adalah untuk mengurangi biaya perusahaan apabila timbul kecelakaan
kerja dan penyakit akibat hubungan kerja.
D. Penyebab Kecelakaan Kerja
Menurut Mangkunegara (2008) faktor-faktor penyebab terjadinya
kecelakaan kerja, yaitu:
1. Keadaan Tempat Lingkungan Kerja
a. Penyusunan dan penyimpanan barang-barang yang berbahaya
kurang diperhitungkan keamanannya.
b. Ruang kerja yang terlalu padat dan sesak.
c. Pembuangan kotoran dan limbah yang tidak pada tempatnya.
2. Pengaturan Udara
a. Pergantian udara di ruang kerja yang tidak baik (ruang kerja yang
kotor, berdebu, dan berbau tidak enak).
b. Suhu udara yang tidak dikondisikan pengaturannya.
3. Pengaturan Penerangan
a. Pengaturan dan penggunaan sumber cahaya yang tidak tepat.
b. Ruang kerja yang kurang cahaya, remang-remang.
4. Pemakaian Peralatan Kerja
a. Pengamanan peralatan kerja yang sudah usang atau rusak.
b. Penggunaan mesin, alat elektronik tanpa pengamanan yang baik.
5. Kondisi Fisik dan Mental Pegawai
a. Stamina pegawai yang tidak stabil.
b. Emosi pegawai yang tidak stabil, kepribadian pegawai yang rapuh,
cara berpikir dan kemampuan persepsi yang lemah, motivasi kerja
rendah, sikap pegawai yang ceroboh, kurang cermat, dan kurang
pengetahuan dalam penggunaan fasilitas kerja terutama fasilitas
kerja yang membawa risiko bahaya.
E. Hambatan pelaksanaan K3
1. Terbatasnya persepsi tentang K3
2. Kurang perhatian dan pengawasan
3. Ada anggapan K3 menambah biaya
4. Tanggung jawab K3 hanya pada kontraktor saja
5. Kurang aktifnya perusahaan asuransi terhadap K3.
F. Masalah kesehatan karyawan
Beberapa kasus yang menjadi masalaha kesehantan bagi para
karyawan adalah:
a. Kecanduan alkohol & penyalahgunaan obat-obatan
Akibat dari beban kerja yang terlalu berat, para karyawan
terkadang menggunakan bantuan dari obata-obatan dan meminum
alcohol untuk menghilangkan stress yang mereka rasakan. Untuk
mencegah hal ini, perusahaan dapat melkaukan pemeriksaan rutin
kepada karyawan tanpa pemberitahuan sebelumnya dan perusahaan
tidak memberikan kompromi dengan hal-hal yang merusak dan
penurunan kinerja (missal: absen, tidak rapi, kurang koordinasi,
psikomotor berkurang)
b. Stress
Stres adalah suatu reaksi ganjil dari tubuh terhadap tekanan yang
diberikan kepada tubuh tersebut. Banyak sekali yang menjadi
penyebab stress, namun beberapa diantaranya adalah:
1. Faktor Organisasional, seperti budaya perusahaan, pekerjaan itu
sendiri, dan kondisi kerja
2. Faktor Organisasional seperti, masalah keluarga dan masalah
finansial
c. Burnout
"Burnout adalah kondisi terperas habis dan kehilangan energi
psikis maupun fisik. Biasanya hal itu disebabkan oleh situasi kerja
yang tidak mendukung atau tidak sesuai dengan kebutuhan dan
harapan. Burnout mengakibatkan kelelahan emosional dan penurunan
motivasi kerja pada pekerja. Biasanya dialami dalam bentuk kelelahan
fisik, mental, dan emosional yang intens (beban psikologis berpindah
ke tampilan fisik, misalnya mudah pusing, tidak dapat berkonsentrasi,
gampang sakit) dan biasanya bersifat kumulatif
BAB III

PEMBAHASAN

A. Usaha yang dijalani


Usaha pembuatan mie bihun/ mie putih di Desa ledug, Kecamatan
kembaran , Kabupaten Banyumas.
B. Gambaran Lokasi
Pembuatan mie Bihun/ mie putih milik bapak Riyadi , yang sudah
dijalani selama kurang lebih 6 tahun yang berada di Desa ledug,
Kecamatan kembaran, Kabupaten Banyumas.Bangunanya sangat
sederhana yang berbentuk bangunan tua dan atapnya dengan
menggunakan asbes.
C. Jumlah Tenaga Kerja
Tenaga kerja yang bekerja dalam pembuatan mie bihun/ mie putih
terdiri dari 100 Orang pekerja
D. Proses Produksi
Dalam pembuatan mie bihun/ mie putih ada beberapa proses yang
harus dilakukan yaitu Singkong di kupas dan di cuci sampai bersih,
Setelah itu singkong tersebut digiling , singkong yang sudah halus di
rendam selama 1,5 bulan sampai menjadi tepung kanji kemudian Tepung
kanji di cuci dan di rendam setelah itu Tepung kanji di masak dalam wajan
sampai terbentuk bubur halus, Setelah adonan sudah halus, adonan diaduk
terus-menerus hingga mengental kemudian adonan dimasukan ke alat
pencetak mie bihun/ mie putih Kemudian adonan itu di press sehingga
menghasilkan tetesan adonan yang panjang Selanjutnya ditampung pada
nampan panjang yang terbuat dari bambu, Kemudian nampan panjang
tersebut dijemur dibawah sinar matahari sampai mengering.Setelah mie
bihun/ mie putih mengering diangkat dan kemudian di gulung/ di packing.
E. Kendala Dalam Pembuatan mie bihun/ mie putih
1. Ketika musim hujan mie bihun/ mie putih lama mengering
2. Jika ada karyawan yang tidak masuk maka produksi mie bihun/mie
putih akan berkurang
F. Alat- Alat yang digunakan
1. Wajan besar
2. Pengaduk adonan
3. Tungku
4. Mesin pencetak
5. Nampan panjang yang terbuat dari bambu
IDENTIFIKASI BAHAYA, PENILAIAN DAN PENGENDALIAN RESIKO
K3

Area/ aktivitas Potensi bahaya Risiko Pengendalian risiko


Penggilingan Kebisingan Berkurangnya 1. Pembuatan
singkong intensitas dinding
pendengaran kedap/peredam
suara
2. Penyediaan
penutup/penyum
bat telinga
seperti kapas

Pemasakan Adanya uap Bisa terjadi luka 1. Penggunaan


tepung kanji panas saat bakar APD(sepatu
memasak boots dan sarung
tangan)

Pengepressan Beban alat Risiko terjadinya 1. Pembaharuan


salah urat (nyeri alat press yang
pada tangan dan otomatis
punggung)
Pencetakan Terkena adonan Luka bakar 1. Penggunaan
panas APD (sarung
tangan )
DAFTAR PUSTAKA

Murwani Anita, Skep. 2003. Pengantar Konsep Dasar Keperawatan.


Yogyakarta. Fitramaya.

Rachman, Abdul, et al. 1990. Pedoman Studi Hiperkes pada Institusi


Pendidikan Tenaga Sanitasi. Jakarta: Depkes RI, Pusdiknakes.

Silalahi, Benet dan Silalahi, Rumondang. 1985. Manajemen Keselamatan


dan Kesehatan Kerja. Jakarta : PT Pustaka Binaman Pressindo.