Anda di halaman 1dari 4

REFLEKSI PRAKTIK

PENGARUH PEMBERIAN TERAPI MUSIK INSTRUMENT PADA KLIEN DENGAN


GAGAL GINJAL KRONIK

DI RUANG MELATI I Dr. LOEKMONO HADI KUDUS

Disusun oleh :

RAHAYU NURHAYATI

P1337420615018

PRODI SARJANA TERAPAN KEPERAWATAN SEMARANG

JURUSAN KEPERAWATAN

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTRIAN KESEHATAN SEMARANG

2017
REFLEKSI PRAKTEK

Pada praktik klinik keperawatan II ini yang meliputi system endokrin, musculoskeletal,
mata dan THT serta imnologi, dan perkemihan. Pada minggu kedua di RSUD dr. Loekmono
Hadi Kudus ini saya ditempatkan di ruang Melati. Untuk minggu ketiga ini saya mampu
memberikan asuhan keperawtan pada pasien Gagal Ginjal Kronik (CKD) yang menjalani
hemodialisa dengan cara memberikan terapi musik instrument untuk mengatasi gaangguan
tidur..

Ny. F berusia 50 tahun mengeluh susah tidur setelah dilakukan hemodialisa. Saat dikaji
pada 29 September 2017 klien mengeluh susah tidur dan badannya lemas setelah dilakukan
hemodialisa pada tanggal 28 September 2017. Dalam hal ini praktikan akan melakukan terapi
music instrument untuk mengatasi gangguan tidur yang dialami klien.

Masalah yang akan timbul dari tindakan terapi musik instrument ini, klien menolak
tindakan yanga akan diberikan, kurangnya sarana dan prasarana yang memadai, daan klien
kurang percaya dengan praktikan.

Intervensi yanga akan dilakukan untuk mengatisipasi kemungkinan masalah yang akan
terjadi yaitu sebelumnya jelaskan pada klien mengenai terapi music instrument, menyiapkan alat-
alat yang digunakan untuk terpi instrument karena pasien berada di bangsal dan banyak pasien
sebelumya maka harus minta izin terlebih dahulu (komunikasi terapeutik), dan yang terakhir bina
hubungan saling percaya.

Berdasarkan jurnal Musik instrumental adalah suatu cara penanganan penyakit


(pengobatan) dengan menggunakan nada atau suara yang semua instrument music dihasilkan
melalui alat musik disusun sedemikian rupa sehingga mengandung irama, lagu dan
keharmonisan. Mekanisme kerja musik instrumental untuk relaksasi rangsangan atau unsur dan
nada masuk ke canalis auditorius di hantar sampai thalamus sehingga memori dari sistem limbik
aktif secara otomatis mempengaruhi saraf otonom yang disampaikan ke thalamus dan kelanjar
hipofisis dan muncul respon terhadap emosional melalui feedback ke kelenjar adrenal untuk
menekan pengeluaran hormon stress sehingga seseorang menjadi rileks (Setiadarma, 2002)
Penggunaan terapi musik instrumental untuk menurunkan tingkat insomnia pada
seseorang adalah untuk mengurangi resiko penggunaan farmakoterapi yang efek sampingnya
sangat negatif. Menurut seorang ahli dari pusat gangguan tidur di Amerika menyatakan
pemberian terapi musik yang diberikan 30 menit sampai satu jam setiap hari menjelang waktu
tidur, secara efektif untuk mengurangi gangguan tidur (Dhojan, 2006). Teori tersebut diterapkan
oleh peneliti dalam penelitian ini yaitu dengan memberikan terapi musik instrument tradisional
selama 45 menit selama 2 minggu.

Musik dapat menginduksi tidur merangsang gelombang otak yang lebih tinggi pada
gelombang otak delta dibandingkan jenis lain dari musik atau tidak diberi musik sama sekali.
Orang yang mendengarkan musik dengan musik yang santai melalui gelombang otak delta dapat
mempromosikan tidur yang nyenyak (KK Park, 2007 dalam Ryu, Park & Park, 2011). Musik
terutama dapat merelaksasi dengan mengurangi kecemasan, yang bisa memberikan kontribusi
terhadap peningkatan kualitas tidur.

(Torneik et al., 2003 dalam Deshmukh, Sarvaiya, Seethalaksmi & Nayak, 2009) Pada
pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa pemberian terapi musik instrument dapat
membantu mereka dalam mengatasi gangguan tidur. Dari hasil wawancara peneliti dengan
pasien hemodialisa yang diberi intervensi, terapi musik instrument sangat membantu mereka
dalam mengatasi gangguan tidur yang dialami mereka. Terapi musik instrument tersebut dapat
membuat pasien hemodialisa mudah untuk tertidur di malam hari dan terjadi peningkatan
kualitas tidurnya yang awalnya buruk menjadi baik. Sedangkan pada pasien hemodialisa yang
tidak diberikan terapi musik instrument mengalami masalah gangguan pada tidurnya di malam
hari.
Dokumentasi

Pemberian terapi instrument pada Ny F berusia 50 tahun dengan diagnosa gagal ginjal
kronik mengeluh susah tidur dan lemas setelah dilakukan hemodialisa. Pada tanggal 28
September 2017 klien dilakukan terapi musik instrument, respon klien, klien dapat tidur dengan
nyenyak walaupun hanya beberapa jam saja. Dalam hal ini intervensi teratasi sebagian, dan
dilanjutkan intervensi setiap pasien melakukan himodialisa untuk mengatasi gangguan tidur yang
dialami.