Anda di halaman 1dari 14

MIKOSIS SUBKUTAN

1. Definisi Mikosis Subkutan


Jamur (Fungi) merupakan salah satu mikroorganisme penyebab penyakit pada
manusia. Jamur tumbuh dimana saja dekat dengan kehidupan manusia, baik di
udara, tanah, air, pakaian, bahkan di tubuh manusia sendiri. Meskipun banyak
jenis jamur yang bermanfaat bagi manusia dalam beberapa hal, namun masih
terdapat spesies tertentu yang dapat menyebabkan beberapa penyakit pada
manusia. Penyakit yang disebabkan jamur pada manusia disebut mikosis. Diantara
jenis mikosis yang terjadi adalah mikosis subkutan. Mikosis subkutan merupakan
mikosis yang menyerang kulit, kuku, dan rambut seperti pada gambarterutama
disebabkan oleh 3 genus jamur, yaitu Trichophyton, Microsporum, dan
Epidermophyton. (Budi, 1978)

Gambar Lesi pada jaringan subkutan akibat dari infeksi jamur penyebab mikosis
subkutan. (sumber : www.sriindianti.com)

2. Macam Mikosis Subkutan


Berdasarkan golongan jamur yang menginfeksi, mikosis subkutan terbagi
menjadi dua yakni dermatofitosis dan non-dermatofitosis
a. Dermatofitosis
Penyakit yang disebabkan oleh golongan jamur dermatofit disebut "
Dermatofitosis ". Golongan jamur ini dapat mencerna keratin kulit oleh karena
mempunyai daya tarik kepada keratin (keratinofilik) sehingga infeksi jamur ini
dapat menyerang lapisan-lapisan kulit mulai dari stratum korneurm sampai
dengan stratum basalis. (Lihat gambar.). infeksi jamur kedalam kulit dimuali
dari masuknya spora jamur ke dalam celah celah lapisan kulit yang mati kemudian
berkembang biak dengan keratin sebagai sumber nutrisinya.Terdapat berbagai
jenis golongan jamur dermatofit yang menyebabkan mikositosis subkutan.
Masing-masing jenis jamur akan memberikan efek yang berbeda pada jaringan
subkutan yang diinfeksi. Berikut adalah berbagai jenis penyakit mikosis subkutan.

Gambar. Lapisan kulit stratum korneum hingga stratum basal mampu diinfeksi oleh
jamur yang menyebabkan mikositosis subkutan. (Sumber: Hadijah, 2011)
1.) Tinea kapitis
Tinea kapitis merupakan infeksi jamur yang menyerang stratum corneum kulit
kepala dan rambut kepala, yang disebabkan oleh jamur Mycrosporum dan
Trichophyton. Gejalanya adalah rambut yang terkena tampak kusam, mudah patah
dan tinggal rambut yang pendek-pendek pada daerah yang botak. Seringkali juga
muncul bercak pada kepala serta gatal. Pada infeksi yang berat dapat
menyebabkan edematous dan bernanah seperti pada gambar. Penderita tinea
kapitis akan ditemukan sporra di dalam rambut atau di dalam rambutnya. (Boel,
2003)

A B
Gambar. (A) Kulit kepala yang bernanah akibat menderita tinea kapitis. (B) Jamur
Trichophyton sp. yang merupakan salah satu penyebab tinea kapitis. (Sumber : Hongbin,
2015)

2.) Tinea kruris


Merupakan infeksi mikosis superfisial yang mengenai paha bagian atas
sebelah dalam (Lihat gambar) Pada kasus yang berat dapat pula mengenai kulit
sekitarnya. Penyebabnya adalah Epidermophyton floccosum atau Trichophyton
rubrum dan Tricophyton mentografites. Penderita tinea krusris akan mengeluhkan
rasa gatal pada bagian paha atas sebelah dalam, sekitar anus dan bahkan meluas
hingga perut bagian bawah. Rasa gatal bersifatmenahun dan akan terus bertambah
hebat saat bersamaan dengan keluarnya keringat. (Boel, 2003)

Gambar. Kulit penderita tinea kruris pada bagian paha atas sebelah dalam yang
meluas hingga area perut Nampak membentuk lesi kemerahan. (Sumber : Hongbin,
2015)
Gambar. Tricophyton mentografites dengan pewarnaan cotton blue
perbesaran 400x yang merupakan penyebab penyakit tinea kruris
(sumber : www.hit-micrscopewb.hc.msu.edu) belum tak tulis sumbere
soale ndk tau carane nulis

3.) Tinea korporis


Tinea korporis merupakan jenis dari mikosis subkutan berbentuk bulat-bulat
(cincin) yang terjadi pada jaringan granulomatous.(Lihat gambar) Tinea
korporis ditandai dengan pengelupasan lesi kulit disertai rasa gatal. Gejalanya
bermula berupa bintik kecil kemerahan yang melebar. (Notoatmojo, 2003). Saat
bintik kecil tidak aktif melakukan pembelahan, bintik yang telah melebar akan
meninggalkan bekas pada kulit. Penyakit ini banyak diderita oleh orang-orang
yang kurang mengerti kebersihan dan banyak bekerja ditempat panas, yang
banyak berkeringat serta kelembaban kulit yang lebih tinggi. Tinea korporis
banyak ditemui dimuka, anggota gerak atas, dada, punggung dan anggota gerak
bawah.(Siregar, 1982) Penyebab utamanya adalah T.violaseum, T.rubrum, dan
T.metagrofites.
Gambar. Penyakit tinea korporis yang memiliki ciri khas lesi berbentuk
cincin pada kulit penderita (sumber : www.regionalderm.com) belum tak
tulis sumbere soale ndk tau carane nulis

4.) Tinea pedis


Salah satu jenis mikosis subkutan lainnya adalah tinea pedis. Tinea pedis
merupakan jenis mikosis subkutan yang termasuk kronis menyerang kulit
terutama kulit di sela-sela jari kaki. Oleh karena itu tinea pedis disebut juga
Athlete's foot atau "Ring worm of the foot". Penyebab utama dari tinea pedis
adalah Trichophyton sp.. Penyakit ini sering menyerang orang-orang dewasa yang
banyak bekerja di tempat basah seperti tukang cuci. Keluhan yang dialami oleh
penderita tinea pedis umumnya adalah rasa gatal yang hebat dan nyeri bila ada
infeksi Apabila dalam kondisi parah akan memunculkan nanah pada kulit (Boel,
2003).
Gambar. Jamur Trichophyton sp yang sering kali menyerang kulit sela-sela kaki
sehingga memunculkan penyakit tinea pedis. (sumber : www.keywordsuggest.org)
belum tak tulis sumbere soale ndk tau carane nulis

Mikosis subkutan tinea pedis memiliki tiga bentuk


a.) Bentuk Intertriginosa
Bentuk tinea pedis intertriginosa sering muncul di celah-celah jari terutama
jari IV dan jari V seperti pada gambar. Hal ini terjadi disebabkan kelembaban di
celah-ceIah jari tersebut membuat jamur-jamur hidup lebih subur. Bila terjadi
menahun dapat menimbulkan nyeri saat disentuh. (Mulja, 2006)

Gambar. Bentuk tinea pedis intertriginosa sering muncul di celah-celah jari terutama

jari IV dan jari V (sumber : www.mizzouderm.weebly.com) belum tak tulis


sumbere soale ndk tau carane nulis

b.) Bentuk Hiperkeratosis


Bentuk hiperkeratosis dari tinea pedis ialah terjadinya penebalan kulit disertai
sisik terutama ditelapak kaki, tepi kaki dan punggung kaki. Bila hiperkeratosisnya
hebat dapat terjadi fisura-fisura yang dalam pada bagian lateral telapak kaki.
(Mulja, 2006)

Gambar. Tinea pedis bentuk hyperkeratosis yang sering muncul pada telapak kaki

(sumber : www.drpribut.com) belum tak tulis sumbere soale ndk tau carane
nulis
c.) Bentuk Vesikuler Subakut
Tinea pedis bentuk vesikuler subakut mulanya timbul pada daerah sekitar
antar jari, kemudian meluas ke punggung kaki atau telapak kaki. Tampak ada
vesikel yang terletak agak dalam di bawah kulit. Seringkali disertai perasaan
gatal yang hebat. Apabila vesikel-vesikel pecah maka akan meninggalkan bekas
melingkar yang disebut Collorette. (Mulja, 2006)

Gambar. Tinea pedis bentuk vesikuler subakut dengan bentukan collorette akibat

terpecahnya vesikel. (sumber : www.rayur.com) belum tak tulis sumbere soale


ndk tau carane nulis
5.) Tinea unguium
Tinea unguium dibedakan dalam 3 bentuk tergantung jamur penyebab dan
permulaan dari dekstruksi kuku. Subinguinal proksimal bila destruksi dimulai dari
pangkal kuku, Subinguinal distal bila destruksi di mulai dari tepi ujung dan
Leukonikia trikofita bila destruksi di mulai dari bawah kuku. (Boel, 2003).
Penderitan tinea unguium memiliki permukaan kuku tampak suram tidak
mengkilat lagi, serta rapuh. Dibawah kuku tampak adanya detritus yang banyak
mengandung elemen jamur. Penyebab utama dari tinea unguium adalah T.
rubrum, dan T. metagrofites.(Dahl, 1994)

A B C

Gambar. Bentuk-bentuk tinea unguim yang disebabkan oleh T. rubrum dan T.


metagrofites (A) Bentuk subunguinal proksimal (B) Bentuk Subunguinal distal (C) bentuk
leukonikia trikofita. (sumber : Flann, 2014)

6.) Tinea imbricate


Penyakit tinea imbricate yang disebabkan oleh Trikofiton konsentrikum.
Infeksi dimulai dengan kolonisasi hifa dan cabang-cabangnya di dalam jaringan
keratin kulit yang mati. Hifa ini mengaktifkan enzim keratolitik yang berdifusi ke
dalam jaringan epidermis menimbulkan reaksi peradangan. Pertumbuhan jamur
dengan polaradial di dalam stratum korneum menyebabkan timbulnya lesi pada
kulit. (Ahsani, 2014) Gambaran klinik berupa makula yang eritematous dengan
skuama yang melingkar seperti pada gambar.. Apabila permukaan kulit yang
terinfeksi diraba terasa jelas skuamanya menghadap ke dalam. Penyakit ini sering
menyerang seluruh permukaan tubuh. Para penderita penyakit tinea imbricate ini
sering kali disarankan untuk selalu menjaga kebersihan, memakai ukuran sepatu
yang pas, memakai kaos kaki katun serta mencuci pakaian dengan menggunakan
air panas. (Boel, 2003)
Gambar. Tinea imbricate pada kulit yang memunculkan lesi dengan bentuk skuama
yang melingkar. (sumber : Flann, 2014)

7.) Tinea favosa


Tinea favosa merupakan infeksi pada kulit kepala, kulit badan yang tidak
berambut dan kuku. Kasus infeksi yang terjadi termasuk kronis yang penyebabnya
adalah Trichophyton schoenlini, Trichophiton violaceum, dan Microsporum
gypseum. Gejalnya berupa bintik-bintik putih pada kulit kepala kemudian
membesar membentuk kerak yang berwarna kuning kotor. Kerak ini sangat
lengket dan bila diangkat akan meninggalkan luka basah atau bernanah serta
bebrbau seprti bau tikus mousy odor. Rambut pada daerah yang terinfeksi tinea
favosa Nampak kusam, dan apabila luka tersebt telah sembuh akan menimbulkan
bekas kasar pada kulit. (Soekanto, 2006)
Gambar. Penyakit tinea favosa yang menyerang kulit akan membentuk kerak

berwarna kekuningan. (sumber : www.dermaamin.com) belum tak tulis sumbere soale


ndk tau carane nulis

8.) Tinea barbae


Penyakit tinea barbae merupakan kasus infeksi jamur yang menyerang daerah
yang berjanggut dan kulit leher, rambut dan folikel rambut (gambar).
Penyebabnya adalah Trichophyton mentagrophytes, Trichophyton violaceum,
Microsporum cranis. Penderita tinea barbae ini biasanya mengeluh rasa gatal di
daerah jenggot, jambang dan kumis, disertai rambut-rambut di daerah itu menjadi
putus. (Cristina, 2008)

Gambar. Daerah berjanggut dan kulit leher yang diinfeksi oleh jamur sehingga
muncul penyakit tinea barbae (sumber : Cristina, 2008)

b. Non-Dermatofitosis
1.) Tinea versikolor
Merupakan mikosis superfisial dengan gejala berupa bercak putih kekuning-
kuningan disertai rasa gatal, biasanya pada kulit dada, bahu punggung, axilla,
leher dan perut bagian atas. Penyebabnya adalah Malassezia furfur.
Pertumbuhannya pada kulit (stratum korneum) berupa kelompok sel-sel bulat,
bertunas, berdinding tebal dan memiliki hifa yang berbatang pendek dan bengkok,
biasanya tidak menyebabkan tanda-tanda patologik selain sisik halus sampai
kasar. Terdapat dua bentuk yang sering dijumpai yakni bentuk makuler berupa
bercak-bercak yang agak lebar, dengan sguama halus diatasnya dan tepi tidak
meninggi. Serta bentuk folikuler yaitu seperti tetesan air, sering timbul disekitar
rambut. (Boel, 2003)
Mallasezia furfur, merupakan organisme saprofit pada kulit normal.
Organisme ini merupakan "lipid dependent yeast". Timbulnya penyakit ini juga
dipengaruhi oleh faktor hormonal, ras, matahari,peradangan kulit dan efek primer
pytorosporum terhadap melanosit.(Siregar, 1982). Timbul bercak putih atau
kecoklatan yang kadang-kadang gatal bila,berkeringat. Bisa pula tanpa keluhan
gatal sama sekali, tetapi penderita mengeluh karena malu oleh adanya bercak
tersebut. Pada orang kulit berwarna, lesi yang terjadi tampak sebagai bercak
dengan warna pucat, tetapi pada orang yang berkulit pucat maka lesi bisa
berwarna kecoklatan ataupun kemerahan. Di atas lesi terdapat sisik halus. (Boel,
2003)
Gambar. Penyakit tinea versikolor (A) tinea versikolor yang menyerang kulit punggung
A B

(B) Mallasezia furfur penyebab tinea versikolor. (sumber: www.medical-labs.net)

2.) Piedra hitam


Piedra hitam (infeksi pada rambut berupa benjolan yang melekat erat pada
rambut, berwarna hitam) disebabkan oleh jamur Piedra hortal. Penyakit ini
umumnya terdapat di negara tropis dan subtropis. Seringkali menginfeksi rambut
kepala, kumis. Atau jambang, dan dagu. Askospora dari Piedra hortal berbentuk
seperti pisang. Askospora tersebut dibentuk dalam suatu kantung yang disebut
askus. Askus-askus bersama dengan anyaman hifa yang padat membentuk
benjolan hitam yang keras dibagian luar rambut. Dari rambut yang ada benjolan,
tampak hifa endotrik (dalam rambut) sampai ektotrik (diluar rambut) yang
besarnya 4-8 um berwarna hitam dan ditemukan spora yang besarnya 1-2 um.
(Veasay, 2017). Pada rambut kepala, janggut, kumis akan tampak benjolan atau
penebalan yang keras warna hitam. Penebalan ini sukar dilepaskan dari corong
rambut tersebut. Umumnya rambut lebih suram, bila disisir sering memberikan
bunyi seperti logam. Biasanya penyakit ini mengenai rambut dengan kontak
langsung atau tidak langsung. (Boel, 2003)

Gambar. Nodule hitam pada rambut yang disebabkan oleh infeksi jamur Piedra hortal.
(sumber: Veasay, 2017)

3.) Piedra putih


Piedra beigeli merupakan penyebab piedra putih, yang seringkali menyerang
pada rambut. Jamur ini dapat ditemukan ditanah, udara,dan permukaan tubuh.
Jamur Piedra beigeli mempunyai hifa yang tidak berwarna termasuk moniliaceae.
Secara mikroskopis jamur ini menghasilkan arthrokonidia dan blastoconidia.
Biasanya penyakit ini dapat timbul karena adanya kontak langsung dari orang
yang sudah terkena infeksi. Adanya benjolan warna tengguli pada rambut, kumis,
jenggot, kepala, umumnya tidak memberikan gejala-gejala keluhan pada
penderita. (Veasay, 2017)
Gambar. Gambaran mikroskopis tentang piedra putih. (A1) gambaran mikroskopis
dengan perbesaran 40x nodule piedra putih pada rambut. (A2) gambaran mikroskopis
dengan perbesaran 100x nodule piedra putih pada rambut. (B) Hasil perkembangbiakan
pada medium jamur penyebab piedra putih. (C) Gambaran mikroskopis Piedra bigeli
perbesaran 400x. (sumber: Veasay, 2017)

DAFTAR PUSTAKA
Budi, U Mulja. 1978. Mikosis Dalam ilmu penyakit kulit dan kelamin. Jakarta: FK
UI.
Hadijah, 2011. Lapisan-lapisan Kulit. (online), (http://hadijah-
arsyad.blogspot.co.id/2011/11/lapisan-epidermis.html). Diakses 15 September
2017
Boel, Trelia, 2003. Mikosis Superfisial. Medan: Universitas Sumatera Utara
Hongbin, Xu. 2015. Deep Dermatophytosis Caused By Trichophyton rubrum :
Report Of Two Cases. Journal Compilation. Mycoses(2007), 50, 102108
Notoatmojo, 2003. Identifikasi Penyakit Kulit. Bandung: Gama Press.
Dahl, M. V., and Grando, S. A. (1994). Chronic dermatophytosis: what is special
aboutTrichophyton rubrum? Adv. Journal of Dermatological. Dermatol.9, 97109.
Siregar, S. 1982. Penyakit Jamur Kulit. Jakarta: EGC
Flann, Sandy, 2014. Fungal Nail Infection. USA: Lang Corporation.
Ahsani, D.N, 2014, Respon Imum pada Infeksi Jamur, JKKI. Vol 6. No. 2 Mei-
Agustus.
Soekanto, 2006. Penyakit Kulit dan Kelamin. Jakarta: Mega Media.
Cristina, 2008. Sycosiform tinea barbae caused by Trichophyton rubrum. Journal
of Dermatologi. Vol. 14 10-15.
Veasay, John Verinder, 2017. White piedra, black piedra, tinea versicolor, and
tinea nigra: contribution to the diagnosis of superficial mycosis. An. Bras.
Dermatol. vol.92 no.3 Rio de Janeiro May-June 2017