Anda di halaman 1dari 15

TERJEMAHAN JURNAL

PRODUKSI BETON RINGAN DARI BIO-MATERIAL

ABSTRAK
Penelitian ini membandingkan penggunaan bio-agregat dari rotan, kayu dan bambu sebagai
pengganti agregat kasar pada beton. Juga pada kolom pendek beton bertulang yang terbuat
berdasarkan yang disebutkan di atas dan agregat kasar yaitu bambu dan rotan sebagai pengganti
tulangan. Penelitian ini menggunakan OPC, ASTM tipe 1, pasir dengan modulus kehalusan
(FM) yaitu 2,79 dan rasio air semen yaitu 0,485 . Berdasarkan sampel yang selesai pada 28 hari
dan telah dihancurkan setelah 56 hari. Kuat tekan tertinggi dan yang terlemah telah diperoleh
pada beton yang masing-masing agregat kasarnya menggunakan bambu dan rotan. Kuat tekan
pada salah satu sampel yang terlihat pada penambahan jumlah bambu dan rotan sebagai
pengganti tulangan telah meningkat. Bahkan, berat beton dari bio-agregat diperoleh jauh lebih
kecil dibandingkan berat beton normal, oleh karena itu sebagai beton ringan yang terbuat dari
material ini dapat lebih jauh mengurangi beban mati struktur.

Kata kunci: Kuat tekan, rasio tulangan, spesifikasi panas, penyerapan dan pelepasan air,
elastisitas.

I. PENDAHULUAN

Beton adalah campuran yang bahannya terutama dari semen, pasir, kerikil dan air.
Semen dan pasir digunakan masing-masing sebagai pengikat dan pengisi material. Kerikil yang
digunakan sebagai material volumetric. Air digunakan untuk hidrasi dari semen. Pada beton
bertulang, tulangan digunakan untuk membantu beton dalam mengambil lebih banyak tarik dan
tekan. Ini adalah sangat umum untuk ciri ciri beton konvensional dan beton bertulang.
Berdasarkan waktu lampau tersedia bahan alami bio-produk (seperti bambu, rotan, kayu, dll)
bisa digunakan untuk menyelesaikan permasalahan pembangunan rumah tinggal. Beberapa
diantaranya sangat murah dan tersedia dimana-mana. Meskipun tidak seperti baja atau beton,
mereka memiliki kekuatan yang cukup besar. Itu sebabnya banyak penelitian yang berkaitan
dengan bahan alami tersebut. Sebagai contoh Mark dan Russel (2011), Ghavami K (1995)
mereka sukses menggunakan bambu sebagai pengganti tulangan pada balok beton. Penelitian
ini juga dilakukan oleh Ghavani K (2005), Mahzuz dkk (2011) dan Leelatanon dkk (2010)
menggunakan bambu sebagai pengganti tulangan pada kolom beton. Meskipun penelitian
mereka juga dilakukan untuk mengevaluasi karakteristik dari bambu oleh Ghavami K (2007),
Sabbir dkk (2011), Okhio dkk (2011) dan Amada dkk (1997). Rotan, yang mana merupakan
mempercepat pertumbuhan rumput yang lain, juga bisa menunjukkan kekuatan fisik yang
signifikan. Chowdhury (2004), Peki dkk (1991) dan Kabir dkk (1993) telah melakukan kajian
studi mengenai sifat fisik dan mekanik dari perbedaan jenis rotan. Tetapi permasalahan yang
umumnya terjadi ialah bahwa rotan merupakan bio-degradasi meskipun mempunyai
kemampuan yang kurang. Jika tersedianya material alami merupakan proses sedemikian rupa
1
bahwa bahan-bahan itu akan menjadi berkurang karena dipengaruhi oleh serangan bakteri, api
atau kotoran alam lainnya kemudian dipastikan kinerja terbaik yang dapat menunjukkan yang
mana merupakan hasil daya tahan yang lebih baik, kekuatan dan keberlanjutan. Pada penelitian
ini hal seperi itu dilakukan. Disini ada rotan, kayu, dan bambu yang digunakan pada beton
sebagai agregat kasar. Namun, rotan dan bambu digunakan juga sebagai pengganti tulangan
pada beton bio-agregat. Akhirnya akan diperoleh perbandingan mengenai spesifikasi panas,
berat,
penyerapan air, dan kekuatan.

II. MATERIAL DAN PROSEDUR PENELITIAN

Pada penelitian ini digunakan Semen Portland Biasa (ASTM Tipe-1 OPC). Rasio 2
campuran ialah 1:2:2 dan 1:2:3 juga digunakan pada penelitian ini adalah rasio air semen (w/c)
0,485. Modulus kehalusan (FM) pasir berkisar constant 2,79. Bambu (Bambusa balcooa), rotan
(Daemonorops jenkinsiana), kayu (Acacia auricoliformis) digunakan sebagai agregat kasar
pada beton.

2
Bio-agregat yang digunakan bersumber dari pohon yang berumur kurang dari 3 tahun.
Bahan-bahan tersebut diperoleh dari irisan atau potongan dengan ukuran maksimum 12,5 mm
sampai 25 mm (gambar 1.3). Untuk lebih memahami sifat bio-agregat standar sampel
penyerapan dalam air oleh rotan, kayu dan bambu direndam selama 28 hari dalam air.
Penyerapan air diukur dengan waktu. Setelah 28 hari perendaman bahan-bahan tersebut dijaga
kelembapan udara untuk evaporasi selama lebih dari 28 hari. Untuk lebih mengetahui tentang
kekuatan tekan dari bio-agregat kasar total 50 sampel dari setiap tipe dites. Bambu dan Rotan
digunakan sebagai tulangan dengan rasio tulangan dari 0%, 2%, 4%, dan 6%.
Pada penelitian ini, bambu dan rotan digunakan juga sebagai tulangan baja pada beton
silinder. Bambu dan rotan tersebut dipotong sedemikian rupa menyerupai tulangan. Setiap
potongan tersebut memiliki panjang yang sama untuk sampel beton (300 mm). Setiap sampel
memiliki jumlah potongan 4 sampai 6. Total luas area dari potongan per sampel beton diukur
untuk mengetahui rasio tulangan. Potongan tersebut diikat untuk menahan posisi dari potongan
yang menyerupai tulangan, sementara beton dituangkan kedalam cetakan. Untuk diameter dari
potongan tersebut ialah 12.5 mm (gambar 4). Sampel diamati sampai 28 hari. Dalam beberapa
waktu berat dari sampel dipantau pada interval tertentu. Untuk mengetahui pelepasan air, bahan-
bahan tersebut dijaga pada udara terbuka selama 28 hari setelah diamati. Berat dari sampel juga
diamati pada interval tertentu. Setelah 56 hari sampel diuji kekuatan tekannya.
Metode standard pencampuran beton berdasarkan ASTM, vibrasi dan perawatan
dilakukan pada setiap tahapan tes. Semua sampel diuji pada silinder yang memiliki tinggi 300
mm dan diameter 150 mm. Satuan berat dan kadar air yang berbeda pada setiap material yang

3
digunakan ditunjukkan pada table 01. Tabel 02 menunjukkan pendetailan presentasi yang
diikuti dalam proses tes ini.

III. PERSAMAAN DARI KEKUATAN TEKAN PADA TULANGAN

Kekuatan total yang dimiliki oleh beton bertulang merupakan jumlah kekuatan yang
dimiliki pada beton dan tulangannya. Berdasarkan persamaan 1 dapat dikembangkan dari
kekuatan tekan yang dimiliki oleh tulangan (bambu dan rotan) yang dikalkulasikan sebaga
berikut:
= +
= +
= ( ) +

=

= ( ) +

4
= (1 ) +
= (1 )
1
= ( 1)

Dimana,
=
=
=
=
=
=
=
=
=
= =
= =
=
= =
= =

IV. PERSAMAAN SPESIFIKASI PANAS


Spesifikasi panas merupakan sifat dasar panas dari suatu material atau bahan. Perbedaan
material yang digunakan sebagai pengganti agregat kasar mengakibatkan perubahan pada
spesifikasi panas dibandingkan beton konvensional biasa. Untuk mengidentifikasi spesifikasi
panas pada sampel beton yang memiliki perbedaan agregat digunakana alat yaitu calorimeter.
Komponen pada kalorimeter biasanya tersusun dari 4,35 kg aluminium silinder yang
mempunyai diameter 0,3 m (1 ft) dan tinggi 0,45 m (1,5ft). Pertama air yang dipanaskan pada
temperature tertentu diukur. Kemudian, dimasukkan kedalam calorimeter yang mana sampel
beton telah siap dijaga dan diukur pada temperature ruangan tertentu. Setelah itu, aluminium
silinder ditutup rapat dan dijaga pada kotak kayu. Kotak kayu yang telah siap digunakan
tersusun atas lapisan katun tebal (gambar 5). Alat tersebut disusun sedemikian rupa sehingga
tidak ada panas yang keluar. Setelah 1 jam dari tes tersebut, temperature air dan berat diukur.
Setelah itu, gunakanlah persaman (2) untuk mengukur spesifikasi panas dari sampel beton.

Persamaan pada calorimeter:


Panas yang dikeluarkan = Panas yang diterima
Panas yang dikeluarkan air = Panas yang diterima sampel beton + panas yang diterima oleh
calorimeter

5
( ) = ( ) + ( )
( ) ( )
=
( )
( )
=
( )

Dimana,
=
=
=
=
=
=
=
=
=

V. HASIL TES PENYERAPAN DAN PELEPASAN AIR


Hasil tes penyerapan air dan pelepasan telah didapatkan pada kedua agregat kasar dan
sampel beton. Telah terlihat beberapa berat awal dari semua jenis agregat yang terlihat sedikit
mirip (gambar 6) (rotan 3,84 gm, kayu 4,41gm, dan bambu 3,90 gm). Bio-agregat
menyerap 65% air pada berat awal pada saat 28 hari perendaman. Pada hari ke 29 bio-agregat
tersebut dijaga pada tempat terbuka untuk melihat penguapan air secara alami. Ini akan terlihat
bahwa pada hari ke 56 berat agregat tersebut kembali sama pada berat awal. Gambar 7
menunjukkan bahwa penguapan air rata rata menjadi hampir nol dibandingkan berat awal.
Tetapi bio-agregat yaitu rotan, kayu, dan bambu menyerap 66%, 77%, dan 94% air masing-
masing pada 28 hari.

6
7
8
Berdasarkan hasil di atas diperoleh perbandingan yang signifikan pada penyerapan air
pada beton. Sejak rasio pencampuran yang lebih tinggi pada agregat kasar mempunyai berat
yang kurang dibandingkan semen, dan pasir yang telah dicampur meskipun berat koresponding
dari CR, CW, dan CB telah dikurangi (gambar 8 dan gambar 10). Penyerapan air yang paling
tinggi terlihat pada CB (8% dan 11% pada gambar 9 dan gambar 11) dan yang paling rendah
pada CR dengan rasio keduanya (3% dan 5% pada gambar 9 dan gambar 11). Setelah 56 hari
tidak ada perubahan signifikan pada rata-rata penguapan air yang telah diobservasi.

VI. HASIL TES PADA KEKUATAN TEKAN

Diantara sampel beton tanpa tulangan CR menunjukkan kekuatan lebih baik


dibandingkan kedua lainnya. CW dan CB memiliki kekuatan yang sedikit mirip. 2 jenis

9
tulangan yaitu bambu dan rotan telah digunakan pada tes ini. Diantaranya keduanya tersebut
yang memiliki rasio campuran yang sama dan agregat kasar yang sama, pada beton tulangan
bambu menunjukkan kekuatan tekan yang lebih tinggi dibandingkan dengan beton tulangan
rotan. Potongan bambu dan rotan yang telah dipotong dipertahankan rasio tulangannya yaitu
2%, 4%, dan 6%. Hasil tes ditunjukkan pada gambar 12. Terlihat bahwa kekuatan pada beton
sampel meningkat begitu juga pada rasio tulangan meningkat. Menggunakan persamaan (1)
kekuatan tekan bambu dan rotan telah dihitung. Hasil terebut ditampilkan dan ditabulai pada
table 4. Terlihat bahwa rata-rata kekuatan tekan (29 MPa) pada bambu lebih besar dari rotan
(19 MPa). Untuk bambu (sebagai tulangan) paling besar kekuatan tekannya sampai 44 MPa,
sedangkan paling kecil 22 MPa. Standar deviasinya ialah 6,32. Untuk rotan (sebagai tulangan)
paling besar kekuatan tekan sampai 27 MPa, sedangkan paling kecil 14 MPa. Standar
deviasinya ialah 3,54. Tabel 3 menunjukkan Modulus Elastisitas dari perbedaan jenis beton
pada perbedaan rasio campuran.

10
VII. ANALISIS KEGAGALAN

Setelah penghancuran pada beton sampel tanpa bio-agregat telah terlihat kegagalan atau
kehancuran. Pada semua kasus hanya mortar yang mengalami kegaglan. Ini menjelaskan bahwa
regangan pada mortar dan bio-agregat tidaklah sama. Juga antara bio-agregat dan mortar
tidaklah cukup untuk menahan beban besar. Kasus ini bisa terjadi pada beton bertulang dan
beton tak bertulang. Untuk melihat kekuatan nyata pada rotan, kayu, dan bambu, sebanyak 50
sampel secara acak dilakukan tes kekuatan tekan. Sebelum kegagalan, rata-rata masing-masing
kekuatan tekan pada agregat rotan, kayu, dan bambu ialah 33, 11, dan 41 MPa (Tabel 5). Ini
menjelaskan bahwa kekuatan bio-agregat tidak sepenuhnya dimanfaatkan pada beton.

11
VIII. HASIL TES SPESIFIKASI PANAS

Spesifikasi panas mewakili kapasitas panas pada beton. Ini cukup ditingkatkan oleh
peningkatan pada kadar air pada beton. Spesifikasi panas meningkat dengan peningkatan
temperature dam dengan penurunan masa jenis beton. Biasanya nilai spesifikasi panas pada
beton antara 840-1170 J/kg/oC (Neville 2006). Setelah tes spesifikasi panas, diperoleh variasi
spesifikasi panas beton sampel pada agregat kasar dan rasio pencampuran yang ditunjukkan
pada Gambar 16. Terlihat bahwa nilai dari CR, CW, dan CB lebih tinggi dibandingkan dengan
yang disebut diatas. Sama dengan kadar pada agregat kasar meningkat seiring dengan
peningkatan spesifikasi panas. Sejak spesifikasi panas pada material lebih besar kapasitas
penyerapan panas menjadi besar, meskipun beton bio-agregat dapat menawarkan temperature
yang lebih dingin pada sekitar lingkungan dibandingkan pada beton dengan agregat kerikil
(batu).

12
IX. HASIL TES MASA JENIS

Masa jenis normal pada beton bervariasi antara 2246-2438 kg/m3 (140-152 pcf). Masa
jenis pada beton ringan bervariasi dari 802-1925 kg/m3 (50-120 pcf) (Nilson 1997). Ini sangat
relevan dengan penelitian bahwa masa jenis CR, CW, dan CB hampir mirip dibandingkan
dengan masa jenis beton ringan (Gambar 17). Nilai maksimum masa jenis diperoleh pada CB
dengan rasio pencampuran 1:2:2 yaitu 1817 kg/m3.

X. DISKUSI

Pada kasus ini rasio pencampuran 1:2:2 memberikan kekuatan yang lebih besar
dibandingkan rasio 1:2:3. Sejak, CR, CW, dan CB mempunyai berat yang kurang relative
dibandingkan berat beton normal, jadi bio-agregat tersebut bisa digunakan untuk mereduksi
beban mati pada struktur seperti misalnya beton ringan. Sejak CR, CW, dan CB mempunyai
spesifikasi panas yang lebih besar, jadi bisa bio-agregat tersebut bisa digunakan sebagai
penyedia kondisi yang sejuk pada bagian interior struktur. Kekuatan yang ditawarkannya tidak
lebih tinggi untuk menandingi kekuatan tekan sehingga bio-agregat tersebut bisa digunakan
sebagai beton ringan. Sejak tanpa tulangan CR, CW, dan CB mempunyai kekuatan yang kurang
mereka bisa mempengaruhi pada elemen balok yang tidak dibebani. Sejak tulangan CR, CW,
dan CB memiliki kekuatan lebih baik dibandingkan kasus tanpa tulangan, mereka bisa
mempengaruhi pembebanan pada struktur beton ringan. Paparan untuk lingkungan elemen
struktur yang mudah terbakar, air mungkin membahayakan kualitas CR, CW, dan CB. Jadi,

13
sangat disarankan untuk tidak menggunakan bio-agregat tersebut sebagai eksterior elemen pada
struktur.

XI. KESIMPULAN

Meskipun rotan, kayu, dan bambu bisa menawarkan sejumlah kekuatan tekan namun
sifat mekanik mereka tidak sepenuhnya digunakan ketika mereka digunakan sebagai agregat
kasar pada beton.Jika kekuatan penuh mereka dapat digunakan secara pasti maka kekuatan pada
beton silinder bisa ditingkatkan. Kayu dan rotan banyak digunakan sebagai bahan dekorasi.
Biasanya mereka digunakan sebagai furniture pada bangunan. Di Bangladesh kayu diproduksi
secara inisiatif oleh pemerintah. Tetapi rotan dan bambu tidak menjadi hak pemerintah untuk
memproduksinya. Ini menyebabkan harga mereka (rotan dan bambu) menjadi lebih mahal
dibandingkan kerikil. Jika berinisiatif menggunakan mereka sebagai bahan konstruksi maka
produksi mereka juga akan meningkat. Ini akan mengurangi harga dan pelayanan untuk
meningkatkan lingkungan hutan dari Negara kami. Target pada penelitian ini adalah untuk
melihat efek atau pengaruh penggunaan bio-material pada beton. Pada penelitian tidak
menyarankan untuk menggunakan bahan tersebut sebagai pengganti agregat kasa pada beton.
Ini hanya pekerjaan awal tanpa perawatan fisik dan kimia.

14
DISKUSI
1. Pada beton tulangan yang menggunakan bambu, apakah ada kriteria dalam pemilihan
bambu tersebut mengenai titik terlemah, dan apakah ada kekuatan uji tarik pada bambu
tersebut? (Edi)
Jawab: Untuk kriteria pemilihan bambu, hanya berdasarkan umur dari sumber pohonnya
yaitu kurang lebih 3 tahun, dan hanya berdasarkan fisik dari bambu tersebut apakah masih
layak atau tidak digunakan seperti misalnya ada tidaknya kerusakan pada bambu. Untuk
kekuatan uji tarik belum dilakukan pada penelitian ini, hanya dilakukan uji tekan, sehingga
tidak dapat mengetahui titik tarik terlemah dari bambu tersebut.

2. Apakah ada kajian ekonomis mengenai pembuatan beton dari bio-material tersebut, dan apa
bedanya dengan beton konvensional, serta bagaimana kesimpulan akhir yang didapat dari
penelitian itu? (Widnyana)
Jawab: Dalam penelitian ini tidak dijelaskan mengenai kajian ekonomis beton bio-material
tersebut, baik itu meliputi biaya pembuatan atau biaya material penyusunnya. Penulis dari
penelitian ini hanya ingin mengetahui bagaimana kalau bahan-bahan yang ada di alam
sekitar misalnya limbah bisa digunakan untuk proses pembuatan beton, karena belum
dijelaskan juga mengenai sifat fisik dan kimia dari bio-material tersebut. Beton bio-material
ini sebenarnya sama saja dengan beton konvensional muali dari cara pencampuran atau
metode yang digunakan, yang berbeda hanyalah massa jenis, spesifikasi panas, dan kuat
tekan.

3. a. Berdasarkan dari grafik penyerapan dan pelepasan air selama waktu 28 hari, diperoleh
data hubungan antara waktu dengan berat dari agregat kasar, apakah pengamatan tersebut
dicek setiap hari atau hanya pada hari ke 28? (Ngurah)
b. Berdasarkan hasil spesifikasi panas, kenapa bio-material seperti kayu bisa menghasilkan
panas lebih tinggi, bagaimana pengaruhnya terhadap beton? (Ngurah)
Jawab:
a. Tes penyerapan air dilakukan selama jangka waktu 28 hari, tetapi pengamatan mengenai
hasil berat agregat tersebut dilakukan setiap hari sehingga didapat data mengenai
hubungan antara waktu dengan berat agregat kasar pada saat penyerapan air
b. Seperti diketahui kayu merupakan penghantar panas yang kurang baik, tetapi pada
penelitian ini, kayu dijadikan agregat kasar pada beton. Dari tes spesifikasi panas
diketahui kayu memiliki panas paling tinggi dibandingkan beton normal karena kayu
menyerap panas lebih besar, sehingga material menjadi susut kemudian ada udara dalam
beton tersebut, sehingga itulah yang menyebabkan beton agregat kasar dari kayu
menjadi lebih panas.

15