Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH SOSIOLOGI

FAKTOR SOSIAL BUDAYA YANG BERPENGARUH


DALAM PENGKAJIAN PEMENUHAN KEBUTUHAN
OKSIGEN PADA BERBAGAI TINGKAT USIA

Disusun Oleh :
AHMADI
AHMAD ALFARISI
AHMAD HUDATURRAHMAN
DEWI AGNA
GINA RIYANI
IMANIAR TRIJUWITA
KATARINA JILIAN
M. AULIA NOOR RAHMAN
OKTAVIANI RISHERDIANTI

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MH.THAMRIN D3


KEPERAWATAN
TAHUN AJARAN 2012/2013
KATA PENGANTAR

Rasa syukur yang dalam kami sampaikan ke hadiran Tuhan Yang Maha Pemurah,
karena berkat kemurahan-Nya makalah ini dapat kami selesaikan sesuai yang diharapkan.
Dalam makalah ini kami membahas Faktor Sosial Budaya dalam Pemenuhan Oksigen
Pada Lansia. Makalah ini dibuat dalam rangka memperdalam pemahaman dalam mata
kuliah Sosiologi. Penyusun juga mengucapkan terima kasih kepada dosen Sosiologi yang
telah membimbing penyusun agar dapat menyelesaikan makalah ini. Semoga makalah ini
dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada pembaca. Walaupun makalah ini
memiliki kelebihan dan kekurangan. Penyusun mohon untuk saran dan kritiknya terima
kasih.

Jakarta, 22 April 2013

i
DAFTAR ISI

Kata pengantar............................................. i

Daftar isi............................................................................................................ ii

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang......................................... 1

1.2 Tujuan........................................... 1

BAB II

FAKTOR SOSIAL BUDAYA YANG BERPENGARUH DALAM PENGKAJIAN

PEMENUHAN KEBUTUHAN OKSIGEN PADA BERBAGAI TINGKAT USIA

2.1. Faktor Sosial Oksigenasi............................. 2

2.2. Pemenuhan Kebutuhan Oksigen........................... 3

2.3. Pemberian Oksigen............................ 3

2.4.Keuntungan dan kerugian............................................................ 6

2.5.Bahaya pemberian oksigen.................................. 6

2.6.Pengkajian............................................7

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan............................... 8

Daftar Pustaka................................ 9

ii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Perubahan faktor sosial budaya adalah sebuah gejala berubahnya struktur sosial dan
pola budaya dalam suatu masyarakat. Perubahan sosial budaya merupakan gejala umum
yang terjadi sepanjang masa dalam setiap masyarakat. Perubahan itu terjadi sesuai dengan
hakikat dan sifat dasar manusia yang selalu ingin mengadakan perubahan. (wikipedia
bahasa indonesia).
Perubahan sosial budaya terjadi karena beberapa faktor. Di antaranya komunikasi,
cara dan pola pikir masyarakat, faktor internal lain seperti perubahan jumlah penduduk,
penemuan baru, terjadinya konflik atau revolusi dan faktor eksternal seperti bencana alam
dan perubahan iklim, peperangan, dan pengaruh kebudayaan masyarakat lain. Sedangkan
faktor yang menghambat terjadinya perubahan, misalnya kurang intensifnya hubungan
komunikasi dengan masyarakat lain, perkembangan IPTEK yang lambat, sifat masyarakat
yang sangat tradisional, ada kepentingan-kepentingan yang tertanam dengan kuat dalam
masyarakat, prasangka negatif terhadap hal-hal yang baru; rasa takut jika terjadi
kegoyahan pada masyarakat bila terjadi perubahan, hambatan ideologis dan pengaruh
adat atau kebiasaan.
Budaya secara harfiah berasal dari Bahasa Latin yaitu Colere yang memiliki arti
mengerjakan tanah, mengolah, memelihara ladang (menurutSoerjanto Poespowardojo
1993).
Menurut The American Herritage Dictionary mengartikan kebudayaan adalah sebagai
suatu keseluruhan dari pola perilaku yang dikirimkan melalui kehidupan sosial,
seniagama, kelembagaan, dan semua hasil kerja dan pemikiran manusia dari suatu
kelompok manusia.
Menurut Koentjaraningrat budaya adalah keseluruhan sistem gagasan tindakan dan
hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan miliki diri
manusia dengan cara belajar.

1
Budaya Kerja adalah suatu falsafah dengan didasari pandangan hidup sebagai nilai-
nilai yang menjadi sifat, kebiasaan dan juga pendorong yang dibudayakan dalam suatu
kelompok dan tercermin dalam sikap menjadi perilaku, cita-cita, pendapat, pandangan
serta tindakan yang terwujud sebagai kerja. (Sumber : Drs. Gering Supriyadi,MM dan
Drs. Tri Guno, LLM )

1.2 Tujuan

Tujuan dibentuknya makalah ini adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah
Sosiologi,selain itu agar mahasiswa mengetahui faktor sosial budaya yang yang
berpengaruh dalam pengkajian pemenuhan kebutuhan oksigen pada berbagai tingkat
usia.

2
BAB II

FAKTOR SOSIAL BUDAYA YANG BERPENGARUH DALAM PENGKAJIAN

PEMENUHAN KEBUTUHAN OKSIGEN PADA BERBAGAI TINGKAT USIA

2.1.Faktor Sosial Oksigenasi

Perubahan faktor sosial budaya adalah sebuah gejala berubahnya struktur sosial dan
pola budaya dalam suatu masyarakat.Perubahan sosial budaya merupakan gejala umum yang
terjadi sepanjang masa dalam setiap masyarakat.Perubahan itu terjadi sesuai dengan hakikat
dan sifat dasar manusia yang selalu ingin mengadakan perubahan. (wikipedia bahasa
indonesia).

Perubahan sosial budaya terjadi karena beberapa faktor. Di antaranya komunikasi, cara
dan pola pikir masyarakat, faktor internal lain seperti perubahan jumlah penduduk,
penemuan baru, terjadinya konflik atau revolusi dan faktor eksternal seperti bencana alam
dan perubahan iklim, peperangan, dan pengaruh kebudayaan masyarakat lain. Sedangkan
faktor yang menghambat terjadinya perubahan, misalnya kurang intensifnya hubungan
komunikasi dengan masyarakat lain, perkembangan IPTEK yang lambat, sifat masyarakat
yang sangat tradisional, ada kepentingan-kepentingan yang tertanam dengan kuat dalam
masyarakat, prasangka negatif terhadap hal-hal yang baru; rasa takut jika terjadi kegoyahan
pada masyarakat bila terjadi perubahan, hambatan ideologis dan pengaruh adat atau
kebiasaan.

3
Oksigen merupakan salah satu komponen gas dan unsure vital dalam proses
metabolisme, untuk mempertahankan kelangsungan hidup seluruh sel tubuh. Secara normal
elemen ini iperoleh dengan cara menghirup udara ruangan dalam setiap kali bernafas.
Penyampaian O2 ke jaringan tubuh ditentukan oleh interaksi system respirasi, kardiovaskuler
dan keadaan hematologis. Adanya kekurangan O2 ditandai dengan keadaan hipoksia, yang
dalam proses lanjut dapat menyebabkan kematian jaringan bahkan dapat mengancam
kehidupan. Klien dalam situasi demikian mengharapkan kompetensi perawat dalaam
mengenal keadaan hipoksemia dengan segera untuk mengatasi masalah.

Pemberian terapi O2 dalam asuhan keperawatan, memerlukan dasar pengetahuan


tentang faktor-faktor yang mempengaruhi masuknya O2 dari atmosfir hingga sampai ke
tingkat sel melalui alveoli paru dalam proses respirasi. Berdasarkan hal tersebut maka
perawat harus memahami indikasi pemberian O2, metode pemberian O2 dan bahaya-bahaya
pemberian O2.

Dalam melakukan pengkajian oksigenasi pada berbagai tingkat usia kita sebagai
perawat harus mengetahui perinsip sosial budaya apa saja yang dapat mempengaruhinya.
Misalnya pada tradisi orang sunda. Tradisi yang mereka lakukan untuk memenuhi kebutuhan
oksigen yaitu dengan cara tradisonal seperti mengoleskan balsem ke permukaan kulit.

2.2. Pemenuhan Kebutuhan Oksigen.

Pemenuhan kebutuhan oksigen adalah bagian dari kebutuhan fisiologis karena


kebutuhan oksigen diperlukan untuk proses kehidupan. Oksigen sangat berperan dalam
proses metabolisme tubuh. Kebutuhan oksigen dalam tubuh harus terpenuhi karena apabila
kebutuhan oksigen dalam tubuh berkurang, maka akan terjadi kerusakan pada jaringan otak
dan apabila hal tersebut berlangsung lama, maka akan terjadi kematian.

4
Sistem yang berperan dalam proses pemenuhan kebutuhan oksigen adalah sistem
pernafasan, sistem persarafan dan kardiovaskuler. Masalah kebutuhan oksigen merupakan
masalah utama dalam pemenuhan kebutuhan dasar manusia. Hal ini terbukti pada seseorang
yang kekurangan oksigen akan mengalami hipoksia dan akan terjadi kematian. Proses
pemenuhan kebutuhan oksigen pada manusia dapat dilakukan dengan cara pemberian oksigen
melalui saluran pernafasan, membebaskan saluran pernafasan dari sumbatan yang
menghalangi masuknya oksigen, memulihkan dan memperbaiki organ pernafasan agar
berfungsi secara normal.

2.3.Pemberian Oksigen.

Pemberian oksigen berupa pemberian oksigen ke dalam paru-paru melalui saluran


pernafasan dengan menggunakan alat bantu oksigen. Pemberian oksigen pada klien dapat
melalui tiga cara, yaitu melalui kateter nasal, kanula nasal dan masker oksigen.

Tujuan :

1. Memenuhi kebutuhan oksigen

2. Mencegah terjadinya hipoksia

Alat dan Bahan :

1. Tabung oksigen lengkap dengan flow meter dan humidifier


2. Kateter nasal
3. Vaselin / jelly

Prosedur Kerja :

a. Kateter nasal.

1. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan.

2. Cuci tangan.

5
3. Atur aliran oksigen sesuai dengan kecepatan yang dibutuhkan, biasanya 1 - 6

liter/menit. Kemudian observasi humidifier dengan melihat air yang

bergelembung.

4. Atur posisi pasin dengan semi fowler.

5. Ukur kateter nasal dimulai dari lubang telinga sampai ke hidung dan berikan

tanda.

6. Buka saluran udara dari tabung oksigen.

7. Berikan minyak pelumas (Vaselin / jelly).

8. Masukkan ke dalam hidung sampai batas tadi yang ditentukan.

9. Lakukan pengecekan kateter apakah sudah masuk atau belumengan menekan

lidah pasien menggunakan spatel (akan terlihat posisinya di belakang uvula).

10. Fiksasi pada daerah hidung.

11. Periksa kateter nasal setiap 6 - 8 jam.

12. Kaji cuping, septum dan mukos hidung serta periksa kecepatan aliran oksigen

setiap 6 - 8 jam.

13. Catat kecepatan aliran oksigen, rute pemberian dan respon pasien.

14. Cuci tangan setelah prosedur dilakukan.

6
b. Kanula Nasal

1. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan.

2. Cuci tangan.

3. Atur aliran oksigen sesuai dengan kecepatan yang dibutuhkan, biasanya 1- 6

liter/menit. Kemudian observasi humidifier pada tabung dengan adanya

gelembung air.

4. Pasang kanula nasal pada hidung dan atur pengikat untuk mengatur kenyamanan

pasien.

5. Periksa kanula setiap 6-8 jam

6. Kaji cuping, septum, dan mukosa hidung serta periksa kecepatan aliran oksigen

setiap 6-8 jam.

7. Catat kecepatan aliran oksigen, rute pemberian, dan respon klien.

8. Cuci tangan setelah prosedur dilakukan.

c. Masker oksigen

1. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan

2. Cuci tangan

3. Atur posisi pasin dengan semi fowler

4. Atur aliran oksigen sesuai dengan kecepatan yang dibutuhkan, biasanya 1-6

liter/menit. Kemudian observasi humidifier pada tabung air yang

menunjukakkan adanya gelembung.

7
5. Tempatkan masker oksigen di atas mulut dan hidung pasien dan atur pengikat

untuk kenyamanan pasien.

6. Periksa kecepatan aliran tiap 6-8 jam, catat kecepatan aliran oksigen, rute

pemberian dan respons klien.

7. Cuci tangan setealh prosedur dilakukan.

8. Kaji respons klien.

9. Dokumentasi tindakan.

2.4 Keuntungan dan kerugian.

a. Keuntungan

Konsentrasi O2 yang diberikan konstan sesuai dengan petunjuk pada alat dan tidak
dipengaruhi perubahan pola nafas terhadap FiO2, suhu dan kelembaban gas dapat
dikontrl serta tidak terjadi penumpukan CO2

b. Kerugian

Kerugian system ini pada umumnya hampir sama dengan sungkup muka yang lain
pada aliran rendah.

2.5 Bahaya pemberian oksigen.

Pemberian O2 bukan hanya memberiakan efek terapi tetapi juga dapat menimbulkan
efek merugikan, antara lain :

1. Kebakaran

O2 bukan zat pembakar tetapi O2 dapat memudahkan terjadinya kebakaran, oleh


karena itu klein dengan terapi pemberian O2 harus menghindari : Merokok, membukan
alat listrik dalam area sumber O2, menghindari penggunaan listrik tanpa Ground.

8
2. Depresi Ventilasi

Pemberian O2 yang tidak dimonitor dengan konsentrasi dan aliran yang tepat pada
klien dengan retensi CO2 dapat menekan ventilasi

3. Keracunan O2

Dapat terjadi bila terapi O2 yang diberikan dengan konsentrasi tinggi dalam waktu
relatif lama.Keadaan ini dapat merusak struktur jaringan paru seperti atelektasi dan
kerusakan surfaktan. Akibatnya proses difusi di paru akan terganggu.

2.6 Pengkajian.

Ditujukan kepada keluhan-keluhan klien serta hasil pemeriksaan baik yang sifatnya
pemeriksaan fisik maupun pemeriksaan penunjang dan pemeriksaan diagnostik yang
berkaitan dengan system pernafasan serta system lain yang terlibat. Pengkajian keperawatan
dapat dilakukan dengan metode wawancara yang berkaitan dengan keluhan klien antara lain
batuk dan lendir, sesak nafas, serta keluhan lain yang berkaitan dengan masalah transportasi
O2.

Metode yang lain adalah metode observasi dengan melakukan pemeriksaan fisik
pernafasan. Data yang didapa dapat berupa kecepatan, iram dan kedalam pernafasan, usaha
nafas, sianosis,k berkeringat, peningkatan suhu tubuh, abnormalitas sistem pernafasa serta
kardiovaskular. Selanjutnya data-data ini dapat didukung oleh hasil pemeriksaan penunjang
seperti gasa darah asteri seerta pememriksaan diagnostik foto torak.

Tahap beikutnya adalah perumusan Diagnosa Keperawatan yang berorientasi kepada


pada yang dirasakan oleh klien. Diagnosa ini dirumuskan berdasarkan hasil pengkajian yang
disebutkan diatas.

Berdasarkan diagnosa-diagnosa keperawatan yang dirumuskan maka disusunlah


intervensi keperawatan (Rencana Tindakan) yang bertujuan untuk Problem Solving
(penyelesaian masalah) klien.

9
Rencana ini selajutnya ditindak lanjuti atau diImplementasi dan pada akhirnya akan
diEvaluasi sejauhmana tindakan dapat mencapai tujuan sehingga tindakan dapat dilajutkan,
dimodifikasi atau diganti.

10
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan.

Oksigen merupakan salah satu komponen gas dan unsure vital dalam proses
metabolisme, untuk mempertahankan kelangsungan hidup seluruh sel tubuh. Secara normal
elemen ini iperoleh dengan cara menghirup udara ruangan dalam setiap kali bernafas.
Penyampaian O2 ke jaringan tubuh ditentukan oleh interaksi system respirasi, kardiovaskuler
dan keadaan hematologis. Adanya kekurangan O2 ditandai dengan keadaan hipoksia, yang
dalam proses lanjut dapat menyebabkan kematian jaringan bahkan dapat mengancam
kehidupan. Klien dalam situasi demikian mengharapkan kompetensi perawat dalaam
mengenal keadaan hipoksemia dengan segera untuk mengatasi masalah.

Sistem yang berperan dalam proses pemenuhan kebutuhan oksigen adalah sistem
pernafasan, sistem persarafan dan kardiovaskuler. Masalah kebutuhan oksigen merupakan
masalah utama dalam pemenuhan kebutuhan dasar manusia. Hal ini terbukti pada seseorang
yang kekurangan oksigen akan mengalami hipoksia dan akan terjadi kematian. Proses
pemenuhan kebutuhan oksigen pada manusia dapat dilakukan dengan cara pemberian oksigen
melalui saluran pernafasan, membebaskan saluran pernafasan dari sumbatan yang
menghalangi masuknya oksigen, memulihkan dan memperbaiki organ pernafasan agar
berfungsi secara normal.

Terapi O2 merupakan suatu upaya yang dilakukan oleh tenaga kesehatan termasuk
keperawatan terhadap adanya gangguan pemenuhan oksigen pada klien. Pengetahuan perawat
yang memadai terhadap proses respirasi dan indikasi serta metode pemberian O2 merupakan
bekal bagi perawat agar asuhan yang diberikan tepat guna dengan resiko seminimal mungkin.

11
DAFTAR PUSTAKA

Hidayat, Alimul Aziz., dan Uliyah, Musrifatul. 2004. Buku Saku Pratikum Kebutuhan

Dasar Manusi. Jakarta : EGC.

Rizky Ariandy. Faktor Sosial yang Mempengaruhi Kebutuhan Oksigenasi.

http://rizkiariandy.blogspot.com/2010/05/prinsip-budaya-dalam-

pemenuhan.html?zx=c5a423b29d194b1. Dikutip pada Jumat, 28 Mei 2010

12