Anda di halaman 1dari 9

GEOLOGI KEBENCANAAN

SESAR SEMANGKO

Oleh :

Kevin Estonio (1506741070)

M Ario Prastyant (1506734645)

Natasya Prima Oktaviani (1506732803)

Nuraiman Febiansyah (1506729071)

Safira Nurul Imani (1506730716)

PROGRAM STUDI GEOLOGI


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS INDONESIA
2017
KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan puji syukur atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas segala
kebesaran dan rahmat yang diberikan-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah
mata kuliah geologi kebencanaan patahan besar Indonesia, Sesar Semangko.
Terselesaikannya makalah ini tentu saja bukan karena kemampuan kami semata-
mata. Namun karena adanya dukungan dan bantuan dari pihak-pihak yang terkait.
Sehubungan itu kami mengucapkan terima kasih kepada para dosen mata kuliah geologi
kebencanaan yang telah membimbing kami dalam menyelesaikan makalah ini serta kepada
semua pihak yang telah membantu menyelesaikan makalah ini.
Dalam penyusunan laporan ini, kami menyadari pengetahuan dan pengalaman kami
masih sangat terbatas. Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan adanya kritik dan saran
dari dosen pembimbing dan berbagai pihak agar laporan ini lebih baik dan bermanfaat pada
penulisan berikutnya.

Depok, 6 September 2017

Tim Penulis
1. Sesar Semangko

Pulau Sumatra terletak di bagian barat Indonesia dengan aktivitas tektonik


yang aktif, karena pulau Sumatra merupakan kerak benua pada lempeng Eurasia yang
mengalami subduksi dengan lempeng Samudra Hindia. selain ditunjukkan adanya
zona penunjaman lempeng di bagian barat pulau Sumatra terdapat pula sesar aktif
terpanjang di Indonesia sepanjang 1.900 km , yaitu sesar semangko. Jalur sesar ini
dapat diketahui dari bentang alam di sepanjang jalur, dan ditandai oleh kenampakkan
bukit-bukit dan danau-danau yang terjadi karena pergeseran pada sesar tersebut. Sesar
Semangko adalah bentukan geologi yang membentang di Pulau Sumatera dari utara
ke selatan, mulai dari Aceh hingga Teluk Semangka di Lampung. Sesar ini
membentuk pegunungan barisan yang posisinya sejajar dengan sesar, satu rangkaian
dataran tinggi di sisi barat pulau Sumatera. Sesar Semangko merupakan sesar strike
slip berarah dekstral yang terdiri dari 20 segmen sepanjang tulang punggung
Sumatera (Sieh dan Natawidjaja, 2002). Sesar Semangko merupakan zona lemah dan
rawan terjadi bencana akibat pelepasan energi pada segmen-segmen tertentu
sepanjang jalur sesar ini.
2. Jenis Patahan

Sesar semangko merupakan bagian selatan dari system sesar besar sumatera yang
bergeser secara dekstral/menganan yang merupakan akibat subduksi atau konvergensi
menyerong antara lempeng indo-australia dengan lempeng Eurasia.segmen sesar semangko
membentang sepanjang lebih dari 80km dari selat sunda sampai dengan daerah danau
ranau di utara .beberapa penulis menganggap ,bahwa segmen selatan sesar semangko hanya
dari selat sunda sampai dengan depresi suoh saja (bellier dkk,1991).pada sesar sumatera
pergeseran yang dekstral menjadi dominan vertical di bagian selatan dan hal ini di buktikan
dengan mekanisme fokal dari gempa bumi yang menunjukan sesar Mendatar (Harjono
dkk,1991:Pramunijoyo dan Sebrier,1990).

Struktur geologi yang berkembang di sumatera bagian selatan berupa sesar, struktur
lipatan(baik antiklin dan sinklin), dan struktur kekar. Namun demikian, struktur perlipatan
sangat jarang dijumpai di daerah ini mengingat sebagian besar daerah ini tersusun oleh
batuan yangtidak mudah terlipat seperti tuf, breksi, lava dan produk vulkanik lainnya.
Perlipatan yang tersingkap pada mulanya mempunyai arah timur barat yang kemudian
diikutin perlipatan tegak berarah baratlaut-tenggara pada batuan malihan komplek Gunung
Kasih.

Patahan aaktif sumatera bagian selatan dimulai dari terbanan danau rabau, lembah
kotabatu- hamkatir-sukabumi, lembah liwa , terbanan/kawah suoh, tinggian tikaberak dan
terbanan teluk semangko, secara keseluruhan merupakan lajur seismotonik patahan aktif
sumatera segmen semangko. Segmentasi patahan dalam lajur tersebut dapat dianalisis melalui
citra satelit dan pengamatan langsung dilapangan. Pengamatan langsung dilapangan untuk
memastikan keberadaan unsure-unsur tektonik dan struktur geologi berupa lembah patahan,
gawir patahan, offset sungai serta cirri kinematika patahan seperti kekar dan bidang patahan.
Pada dasarnya setiap segmentasi patahan mempunyai karakternya masing-masing
diantaranya panjang segmentasi, besar pergeseran bai tegak maupun mendatar, kemiringan
bidang patahan, kinematika gerak patahan. Untuk menggerakan suatu patahan turun
diperlukan energy lebih kecil dibandingkan energy yang dibutuhkan untuk menggerakan
suatu patahan geser dan patahan naik.
Sesar mendatar (Strike slip fault/Transcurent fault/Wrench fault) merupakan sesar
yang pembentukannya dipengaruhi oleh tegasan kompresi. Posisi tegasan utama pembentuk
sesar ini adalah horizontal, sama dengan posisi tegasan minimumnya, sedangkan posisi
tegasan menengah adalah Vertikal. Umumnya bidang sesar mendatar digambarkan sebagai
bidang vertikal, sehingga istilah hanging wall dan foot wall tidak lazim digunakan di dalam
sistem sesar ini. Berdasarkan gerak relatifnya, sesar ini dibedakan menjadi sinistral (mengiri)
dan dekstral (menganan).
Gambar 1.3 . sesar mendatar strike-slip (left lateral)

Pergerakan strike-slip/ pergeseran dapat terjadi berupa adanya pelepasan tegasan


secara lateral pada arah sumbu tegasan normal terkecil dan terdapat pemendekan pada arah
sumbu tegasan normal terbesar. Lipatan dan thrust diakibatkna oleh suatu bidang tegasan
sebelumnya dan berbeda atau rezim yang sebelumnya membentuk wrench fault. Sembu
lipatan dan thrust kemudian terpotong oleh sesar wrench dimana sumbu lipatan dan thrust ini
berada pada arah sumbu tegasan normal menengah dari orientasi tegasan sebelumnya dimana
relief tegasan ke arah atas dan tidak berdampingan seperti pada rezim wrench terakhir.
Perubahan rezim tegasan seperti ini biasa terdapat di mountain-built belts sebagai bentukan
orogenik seperti yang ditemukan di sesar Semangko di Sumatra.

Pada sesar geser mendatar, di Patahan Semangko, sepanjang jejaknya bergeometri


panjang, lurus atau lengkung yang cenderung berdaerah lebar dengan kecuraman yang
beragam. Lebarnya jalur penggerusan ini mencapai beberapa ratus ribu meter diatas
permukaan. Terdapat struktur penyerta yang khas dalam sesar ini seperti rekahan, lipatan
(umumnya lipatan merencong atau en echelon fold) yang lazimnya arah sumbunya sejajar
poros panjang strain-elipsoidnya, struktur bunga, dan sesar sungkup (Thrust)/ Geser Naik
yang sejajar poros lipatan.

Struktur penyerta ini pertama kali tebentuk dan sejajar dengan poros panjang elips
keterakan dimana pada jalur-jalur sesar mendatar terjadi proses yang di bagian dalam batuan
dasarnya akan terlibat sesar mendatar ke atas melalui sedimen-sedimen tertutup. Pada sesar
ini, jalurnya teranyam dengan gouge atau mylonite dan gores-gores garisnya horizontal yang
diikuti oleh sembul dan terban yang tidak sistematis. Jenis lipatan-lipatan seretan yang
menujam ataupun tataan stratigrafi yang saling menindaih dan tidak sama merupakan ciri
lainnya. Selain itu sesar ini merupakan jalur yang peka terhadap erosi.
Gambar 1.4 bentuk patahan geser mendatar (wrench fault) yang menyebabkan munculnya
struktur penyerta.

Berdasarkan arah pergerakan sesarnya, sesar mendatar dapat dibagi menjadi 2 (dua)
jenis sesar, yaitu Sesar Mendatar Dextral (sesar mendatar menganan) dan Sesar Mendatar
Sinistral (sesar mendatar mengiri). Sesar Semangko merupakan Sesar Mendatar Dextral yaitu
sesar yang arah pergerakannya searah dengan arah perputaran jarum jam. Pergeseran pada
sesar mendatar sejajar dengan permukaan sesar atau pergeseran sesarnya dapat membentuk
sudut (dip-slip / oblique). Sedangkan bidang sesarnya sendiri tegak lurus maupun menyudut
dengan bidang horisontal. Sesar jurus-mendatar ini dimana selama pergerakannya
menghasilkan slip dan separation dengan arah yang sama dimana pergeseran akan meningkat
dengan meningkatnya slip fan oergerakannya berlangsung secara ellipsoid dimana arahnya
menyilang dari arah transform. Berbeda dengan sesar transform, sesar jenis ini menghasilkan
banyak deformasi yang mengakibatkan tingginya unsur kegempaan pada setiap batas sesar
atau pada ujung sesar.

3. Penyebab Geologi

Pulau sumatera yang secara fisiografi berarah baratlaut merupakan perpanjangan ke selatan
dari Lempeng Bneua Eurasia, tepatnya berada pada batas barat dari Sundaland. Posisi Pulau
Sumatera bersebelahan dengan batas antara Lempeng Samudra India-Australia dan Sundaland
(Gambar 1.1). subduksi kedua lempeng ditandai oleh sistem pegunungan Sunda (Sunda Arc System)
yang aktif dan memanjang dari Burma di utara hingga ke selatan diamna lempeng Australia
mengalami tabrakan (collision) dengan bagian timur Indonesia (Hamilton, 1979).
Subduksi antara lempeng India-Australia dengan Sundaland membentuk pola konvergen
yang miring (oblique) menyudut N 20 E. Gerakan miring tersebut merupakan resultan dua gaya
yaitu pergerakan dan gerakan mendatar. Gerakan turun terakomudasi oleh penunjaman lempeng
samudra india-australia dibawah sundaland. Sedangkan gerakan mendatar terefleksikan pada pola-
pola sesar geser yang membentuk rangkaian struktur dextral wrenching di dalam sundaland.
Rangkaian sturktur sesar geser tersebut pada akhirnya membentuk sesar besar sumatera yang
dikenal dengan nama sesar geser semangko. Pergeseran menghasilkan zona lemah yang
memungkinkan menjadi jalan keluarnya magma pada aktivitas vulkanisme yang menghasilkan
jajaran pegunungan barisan (Gambar 1.2). hal ini berarti bahwa posisi sesar semangko berada tepat
pada barisan Mountain Volcanic-Arc yang dibuktikan dengan banyak ditermukannya Wrench Fault
(sesar mendatar) pada jajaran pegunungan tersebut. Pada daerah back-arc basin dipengaruhi oleh
rezim tensional dengan arah gaya tegak lurus terhadap zona subduksi. Rezim tensional ini
disebabkan oleh adanya aliran panas dibawah permukaan. Gaya kompresi yang mengasilkan Dextral
Wrenching berarah sejajar dengan batas lempeng dan sangat kuat memengaruhi rezim tensional
back-arc basin. Dan menghasilkan struktur-struktur yang berarah sejajar dengan batas lempeng.

Gambar 1.2. Penampang melintang memotong Pulau Sumatera berarah barat-timur (Carvalo et al.
(1980), Kay (1980) dan Ringwood (1977)).

4. Risiko Kebencanaan dan Mitigasi

Gempa-gempa yang berafiliasi dengan zona patahan Sumatera merupakan


gempa-gempa berkekuatan sedang hingga kuat dengan potensi kedalaman dangkal,
kurang dari 20 km. kuat gempa dengan kedalaman yang dangkal dapat mengakibatkan
kerusakan yang hebat dan sangat memungkinkan terjadinya bencana ikutan berupa
tanah longsor, hal ini akan menambah risiko kerugian yang dapat diakibatkan oleh
gempabumi pada wilayah tersebut.

Patahan Sumatera ini sangat tersegmentasi, dan terdiri dari 20 segmen geometris
yang didefinisikan utama, yang berkisar panjang dari sekitar 60 sampai 200 km.
Panjang segmen ini dipengaruhi dimensi sumber gempa dan telah membagi menjadi
patahan-patahan lebih pendek yang secara historis telah menyebabkan gempa dengan
kekuatan antara Mw 6,5 hingga 7.7. Kecepatan pergeseran yang tercatat disepanjang
sesar arah barat laut ini sekitar 5mm/yr, di sekitar Selat Sunda, dan memiliki kecepatan
pergeseran hingga 27mm/yr di sekitar Danau Toba. Nilai-nilai besaran pergeseran ini
yang memberikan data dasar kuantitatif untuk memperhitungan rata-rata periode
timbulnya gempa-gempa ini yg dapat diperhitungkan untuk memperkirakan perulangan
gempa bumi besar di setiap segmen.

Upaya peningkatan mitigasi dan pengurangan risiko bencana terkait gempabumi


dan longsor di kawasan daratan Sumatera merupakan kebutuhan mendesak sehinga
perlu dikerahkan segala upaya dan sumberdaya yang ada. Dalam program jangka
panjang perlu dirancang dan diterapkanRoad Map Rencana Aksi Mitigasi Ancaman
Gempa Patahan Sumatera di seluruh wilayah Provinsi Sumatera Barat dan Sumatera
umumnya, meliputi beberapa program sebagai berikut:
Penyusunan Skenario Darurat Bencana dan Rencana Kontinjensi.
Sosialisasi dalam rangka peningkatan public awareness dan penentuan
kebijakan.
Pelatihan, pendidikan, simulasi bagi aparat dan masyarakat.
Review penataan ruang kawasan permukiman dalam rangka mewujudkan
kawasan yang aman terhadap gempabumi dan longsor.
Relokasi permukiman rawan longsor.
perkuatan bangunan dengan teknologi tepat guna agar aman terhadap gempa.
Perkuatan kelembagaan Nagari Tangguh Bencana dengan memperdayakan
potensi kearifan lokal yang ada.
Perkuatan Sumberdaya manusia dan peralatan deteksi dini, monitoring dan
kendali operasi penanggulangan bencana.
persiapan peralatan, bahan dan personel untuk penanganan darurat bencana
Penyebaran rambu-rambu peringatan bahaya gempabumi dan longsor,
leaftlet propaganda dan promosi siaga gempa dan longsor.
Kedepan sangat diharapkan keterlibatan semua pihak pemangku
kepentingan, baik pemerintah, masyarakat dan dunia usaha dalam upaya-upaya
kesiapsiagaan dan mitigasi bencana dalam rangka pengurangan risiko baik korban
jiwa, kerugian materil, infrasutruktur maupun sektor-sektor lain yang mungkin akan
mengganggu stabilitas perekonomian hingga politik dan kehidupan masyarakat secara
umum.
Daftar pustaka

Naryanto, Heru Sri. 1997. Kegempaan di Daerah Sumatra. Volume 2, No.3 Tahun 1997

Noor, Djauhari. 2009. Pengantar Geologi: Bab 7. Geologi Struktur. Banda Aceh: Unsyiah;
Frdaus.Pdf-file: http://www.cs.unsyiah.ac.id/~frdaus/PenelusuranInformasi/File-Pdf/geologi-
struktur.pdf

Noor Rakhman, Arie. 2015. Sesar Mendatar. Digital document-file:


http://dokumen.tips/documents/sesar-mendatar-geologi.html