Anda di halaman 1dari 8

Rumah Tinggal Tradisional Bali Sebagai

Arsitektur Nusantara
https://sakasuwirna.wordpress.com/2015/05/09/rumah-tinggal-tradisional-bali-sebagai-
arsitektur-nusantara/

RUMAH TRADISIONAL BALI SEBAGAI ARSITEKTUR NUSANTARA

Rumah tinggal tradisional Bali sangat unik karena rumah tinggal tidak berada satu kesatuan
dalam satu atap tetapi terbagi dalam beberapa ruang-ruang yang berdiri sendiri dan memiliki
fungsinya masing-masing. Berikut ini adalah bagian-bagian dari rumah adat Bali:

Sumber: infoobjek.wordpress.com
1. Pamerajanadalah tempat persembhyangan pada rumah tradisional Bali. Letaknya berada
pada area utama/suci pada rumah tradisional Bali.
2. Umah Meten/ Bale Dajayaitu bangunan yang letaknya di utara pekarangan. Fungsinya
sebagai tempat tidur dan juga sebagai tempat menjamu tamu yang berkunjung
3. Bale Dauh, bale ini biasanya digunakan untuk tempat tidur anak-anak atau anggota
keluarga lain yang masih kecil.
4. Bale Danginbiasanya digunakan sebagai tempat melakukan upacara, seperti pernikahan,
potong gigi
5. Bale Delodbiasanya dipakai untuk tempat tidur, dan melakukan kegiatan lainnya, seperti
membuat alat-alat upacara
6. Lumbungsebagai tempat untuk menyimpan hasil panen, berupa padi dan hasil kebun
lainnya.
7. Paon (Dapur)yaitu tempat memasak bagi keluarga.
8. Aling-aling berfungsi sebagai pengalih jalan masuk sehingga jalan masuk tidak lurus
kedalam tetapi menyamping. Hal ini dimaksudkan agar pandangan dari luar tidak
langsung lurus ke dalam.
9. Angkul-angkul/ pemesuan yaitu sebagai tempat masuk dan keluar pekarangan

Bentuk Struktur : Bentuk masing-masing bangunan pada rumah tradisional Bali


berbeda-beda, sehingga bentuk strukturnya pun berbeda namun memiliki kesamaan yaitu
memiliki bagian kaki atau dasar bangunan berupa bebaturan, bagian badan atau tengah
berupa saka (tiang kolom), tembok dan bagian kepalaatau atas berupa atap bangunan.
Berikut ini beberapa penjelasan dari masing-masing bagian tersebut:
o Bagian dasar/kaki bangunan

Pada bagian dasar bangunan arsitektur tradisional Bali disebut dengan bebaturan. Fungsi dari
bebaturan yaitu sebagai dasar dan fondasi bangunan. Tinggi bebaturan berbeda-beda sesuai
dengan fungsi bangunan dan tingkatan hirarkinya. Pondasi pada bangunan tradisional Bali ada
dua macam, yaitu : pondasi menerus dan pondasi setempat. Pondasi menerus berfungsi
menopang tembok, sedangkan pondasi setempat atau dalam arsitektur tradisional Bali dikenal
dengan istilah jongkok asu berfungsi untuk menopang tiang atau saka.
Sumber: Persentasi Arsitektur Tradisional Bali 2

Universitas Udayana

Bagian tengah/badan bangunan

Pada bagian madya (tengah) yaitu berupa tembok, saka(tiang). Material yang digunakan pada
tembok yaitu dari bahan bata dan batu padas. Tembok pada bangunan tradisional Bali tidak
berkaitan dengan konstruksi bangunan.Tiang (saka) merupakan konstruksi utama pada bangunan
tradisional Bali. Jumlah tiang kolom (saka) pada bangunan menjadi nama dari bangunan
tersebut, contohnya seperti : bale saka roras jumlah tiangnya ada dua belas, bale sakenem jumlah
sakanya ada 6 dan seterusnya.

Sumber: Persentasi Arsitektur Tradisional Bali 2

Universitas Udayana

Bagian atas/kepala bangunan

Atap merupakan bagian utama (kepala) pada arsitektur tradisional Bali. Bentuk atap bangunan
pada rumah tinggal tradisional Bali berbeda sesuai dengan fungsinya.
Konstruksi atap Jineng/ Lumbung

Sumber: Persentasi Arsitektur Tradisional Bali 2

Universitas Udayana

Konstruksi atap Paon/ Dapur

Konstruksi atap Limasan

Sumber: Persentasi Arsitektur Tradisional Bali 2

Universitas Udayana

Ornamen Khas : Ornamen yang digunakan pada rumah tradisional Bali sangat beragam.
Pada bagian dasar bangunan terdapat ornament berupa kepala gajah, sesuai dengan
bentuknya karang asti/ gajah memiliki makna sebagai penopang bangunan karena gajah
merupakan hewan yang kuat dan besar. Pada bagian atas ornament karang asti terdapat
ornament karang goak. Karang goak melambangkan burung gagak. Selain itu juga ada
karang tapel dan juga ragam hias lainnya yang berupa pepatran/ ukiran berupa tanaman
merambat. Pada bagian atap juga terdapat ornament berupa murda sebagai mahkota dari
bangunan tersebut.

Bahan Bangunan dan Perkembangan Bahan : Material atau bahan yang digunakan
pada bebaturan yaitu dari bahan batu alam, batu padas, batu kali, batu bata, tanah, dan
pasir. Seiring perkembangan teknologi bahan, pada bebaturan juga menggunakan bahan
keramik, marmer, teraso, semen, granit sebagai bahan finishing. Material yang digunakan
pada tembok yaitu dari bahan bata, batako dan batu padas. Bahan yang digunakan untuk
sesaka (tiang) yaitu dari kayu. Tidak semua jenis kayu dapat dijadikan sesaka, karena
setiap kayu mempunyai karakteristik yang berbeda-beda.

Klasifikasi penggunaan kayu pada arsitektur tradisional Bali:

Bangunan Suci:

cendana, menengen, cempaka, majagau, suren.

Bangunan Perumahan (bale):

nangka, jati, sentul, teep, sukun, timbul.

Bangunan Dapur dan Lumbung:

wangkal, kutat, bentenu, blalu, dan endep.

Bahan yang digunakan pada atap rumah tradisional Bali yaitu bahan alami berupa alang-alang,
sirap maupun bamboo. Selain bahan tersebut, rumah tradisional Bali juga banyak menggunakan
atap genteng.

Makna dan Filosofi : Makna dan filosofi yang terdapat pada rumah tradisional Bali
yaitu perwujudan tatanan nilai, aturan/ norma-norma dalam menata ruang antar bangunan
yang berdasarkan manusia sebagai dasar ukuran atau biasa disebut dengan human scale.
Pada arsitektur tradisional Bali terdapat filosofi yang sering digunakan sebagi pedoman
dalam membangun, yaitu Tri Hita Karana. Tri Hita Karana adalah tiga penyebab
kebahagian. Ketiga penyebab kebahagian tersebut yaitu, pertama: hubungan harmonis
manusia dengan manusia lainnya, kedua: hubungan harmonis manusia dengan alam
sekitar atau lingkungan dan yang ketiga: hubungan harmonis manusia dengan tuhan yang
maha esa. Dalam arsitektur tradisional bali juga terdapat istilah Desa (wilayah/tempat),
Kala (waktu) dan Patra (situasi/kondisi). Desa Kala Patra menjadi salah satu pedoman
dalam membangun rumah tradisional Bali, karena tidak semua aturan-aturan dalam
membangun rumah adat Bali dapat diterapkan sepenuhnya. Rumah tradisional Bali
idealnya dibangun pada lahan yang cukup luas dan datar, namun terkadang hal tersebut
sulit diterapkan pada lahan yang tidak cukup ideal, seperti daerah pegunungan dengan
lahan miring dan cuacanya yang dingin. Maka dari itu, konsep Desa Kala Patra menjadi
solusinya. Contohnya dapat ditemui pada daerah pegunungan di Bali, bentuk rumahnya
berbeda dengan yang di dataran rendah namun tetap memiliki makna yang sama.
Sumber: gegesah.blogspot.com

Kesimpulan Arsitektur tradisional Bali merupakan perwujudan keindahan dari manusia


dengan alam sekitarnya yang diwujudkan dalam bentuk bangunan, ragam hias, tata letak/
penempatan masa bangunan. Pada arsitektur tradisional Bali itu sendiri terdapat aturan,
norma-norma atau pakem-pakem yang harus diketahui dan dipatuhi ketika membangun
bangunan karena mengandung arti/makna dan maksud-maksud tertentu yang sifatnya
sekala maupun niskala. Dalam arsitektur tradisional Bali ada dikenal konsep-konsep
seperti asta kosala-kosali, asta bumi, tri angga, desa kala patra dan lain sebagainya.
Semuanya itu menjadi pedoman dalam karya arsitektur tradisional Bali yang berupa
rumah tinggal, pura, puri dan lain sebagainya.