Anda di halaman 1dari 7

Fakoemulsifikasi

2.3.1 Definisi Fakoemulsifikasi


Fakoemulsifikasi berasal dari 2 kata, yaitu phaco (lensa) dan emulsification
(menghancurkan menjadi bentuk yang lebih lunak). Fakoemulsifikasi merupakan salah satu
teknik operasi pembedahan katarak dengan menggunakan peralatan ultrasonic yang akan
bergetar dan memecahkan nukleus lensa mata menjadi fragmen-frgmen kecil, kemudian lensa
yang telah hancur berkeping-keping akan dikeluarkan dengan menggunakan alat phaco.(21)

2.3.2 Prinsip Fakoemulsifikasi


Fakoemulsifikasi adalah teknik ekstraksi katarak menggunakan sayatan kecil sekitar
1,5 mm sampai 3 mm dengan implantasi lensa intra okular lipat (foldable) sehingga
penutupan luka dapat tanpa jahitan. Cara kerja sistem fakoemulsifikasi adalah
menghancurkan lensa melalui ultrasonic probe yang mempunyai tip needle yang mampu
bergetar dengan frekuensi yang sangat tinggi yaitu setara dengan frekuensi gelombang
ultrasound. Massa lensa yang sudah dihancurkan akan diaspirasi melalui rongga pada tip
fakoemulsifikasi untuk kemudian dikeluarkan dari dalam mata melalui selang aspirasi pada
mesin fakoemulsifikasi.(30)

2.3.3 Prosedur Fakoemulsifikasi


Sebelum dilakukan fakoemulsifikasi, persiapan pasien yang harus dilakukan
sebelum operasi adalah sebagai berikut:
a. Pasien sebaiknya di rawat di rumah sakit semalam sebelum operasi,
b. Pemberian informed consent,
c. Pupil dilebarkan dengan midriatika tetes sekitar 2 jam sebelum operasi,
d. Bulu mata dipotong dan dibersihkan dengan povidone-iodine 5%.(30)
Teknik pembedahan katarak dengan fakoemulsifikasi adalah sebagai berikut:
a. Pemberian Asam mefenamat 500 mg atau Indometasin 50 mg peroral 1 2
jam sebelum operasi.
b. Anastesi lokal pada mata yang akan dioperasi dengan cara menyuntikkan
langsung melalui palpebra bagian atas dan bawah.
c. Operator kemudian menekan bola mata dengan tangannya untuk melihat
apakah ada kemungkinan perdarahan, dan juga dapat merendahkan tekanan
intraokuler.
d. Operator membuat insisi sepanjang kira-kira 3mm pada sisi kornea yang
teranestesi. Karena konstruksi insisi yang teliti dan ukurannya yang kecil,
insisi ini biasanya menutup sendiri. Disebut juga operasi tipe no-stitch .

Gambar 2.4 Insisi pada Fakoemulsifikasi(30)

e. Kapsulotomi anterior dengan menggunakan jarum kapsulotomi melalui insisi


kecil pada kornea. Prosedur ini yang disebut capsulorhexis.
Gambar 2.5 Capsulorhexis pada Fakoemulsifikasi(30)

f. Setelah insisi dilakukan, suatu cairan viscoelastik dimasukan untuk


mengurangi getaran pada jaringan intraokuler.
g. Dilakukan hidrodiseksi dan hidrodilemenesi untuk memisahkan inti lensa dari
korteks kemudian dilakukan fakoemulsifikasi dengan teknik horizontal choop
menggunakan mesin fako unit.Fakoemulsifikasi adalah prosedur dimana
vibrasi ultrasonik digunakan untuk memecahkan katarak menjadi bagian-
bagian kecil. Fragmen-fragmen ini kemudian diaspirasi keluar menggunakan
alat yang sama.

Gambar 2.6 Pemecahan dan Aspirasi Katarak pada Fakoemulsifikasi(30)

h. Operator membuat groove pada katarak kemudian selanjutnya memecahkan


katarak tersebut menjadi bagian-bagian kecil menggunakan ujung
fakoemulsifikasi dan alat yang kedua dimasukkan melalui insisi yang lebih
kecil di tepi yang lain side port.
Gambar 2.7 Pemecahan dan Aspirasi Katarak pada Fakoemulsifikasi(30)

i. Korteks lensa dikeluarkan dengan cara irigasi aspirasi menggunakan mesin


fako unit. Kapsul posterior ditinggalkan untuk menyokong lensa tanam
intraokular (IOL).

Gambar 2.8 Irigasi Korteks pada Fakoemulsifikasi(30)


j. Insersi lensa intraokuler foldauble pada bilik mata belakang dilakukan secara
in the bag, setelah sebelumnya diberikan bahan viskoelastik untuk mengurangi
komplikasi.

Gambar 2.9 Insersi Intra-Ocular Lensa pada Bilik Mata Belakang(30)


k. Bahan viskoelastik dikeluarkan dengan cara irigasi aspirasi menggunakan
mesin fako unit.
l. Luka operasi ditutup tanpa jahitan.
m. Diberikan suntikan antibiotika (Gentamisin) 0,5 ml dan kortikostroid (Kortison
Asetat) 0,5 ml, subkonjungtiva.
n. Pasca bedah diberikan tetes mata antibiotika (Neomycin-Polymixin B) dan
anti-inflamasi (Deksametason) 0,1 ml., setiap 8 jam sekali.(13,30)

2.3.4 Indikasi dan Kontraindikasi Fakoemulsifikasi


Indikasi pembedahan katarak dengan menggunakan teknik fakoemulsifikasi adalah
sebagai berikut:
a. Pasien tidak memiliki riwayat penyakit endotel,
b. Pada pemeriksaan dijumpai bilik mata yang dalam,
c. Pupil pasien dapat dilebarkan hingga 7 mm.
Sedangkan kontraindikasi untuk dilakukannya teknik fakoemulsifikasi adalah:
a. Dijumpai adanya tanda-tanda infeksi,
b. Adanya luksasi atau subluksasi lensa.(26)

2.3.5 Kelebihan dan Kekurangan Teknik Operasi Fakoemulsifikasi


Secara teori operasi katarak dengan teknik Fakoemulsifikasi mengalami
perkembangan yang cepat dan telah mencapai taraf bedah refraktif oleh karena mempunyai
beberapa kelebihan yaitu rehabilitasi visus yang cepat, komplikasi setelah operasi yang
ringan, astigmat akibat operasi yang minimal dan penyembuhan luka yang cepat. (26)
Kelebihan penggunaan teknik fakoemulsifikasi pada operasi katarak menurut Kanski
dan Bowling dalam Clinical Ophtalmology A Systemic Approach adalah sebagai berikut: (26)
a. Kinder cut, pemotongan yang lebih nyaman untuk pasien.
b. Smaller incision, insisi terdahulu biasanya 2,7 mm, dengan MICS hanya 1.8 mm.
Implikasinya adalah insisi tersebut terlalu kecil untuk dapat menyebabkan kornea
melengkung dengan abnormal, dan menyebabkan astigmatisme (efek samping
yang biasa terjadi pada operasi katarak) serta kecilnya insisi tersebut juga sangat
menekan resiko terhadap terjadinya infeksi.
c. Easy to operate, karena sedikit sekali cairan yang mungkin keluar dari insisi
mikro tersebut maka tekanan pada mata cenderung stabil, sehingga memudahkan
para dokter melakukan tindakan operasi.
d. Heals faster, setelah 1-2 hari tindakan, pasien sudah bisa kembali beraktivitas.
Rasa tidak nyaman setelah operasi, hilang dalam 3 hari.(7)
Tujuan dari teknik operasi ini adalah agar penderita katarak dapat memperoleh tajam
penglihatan terbaik tanpa koreksi dengan cara membuat sayatan sekecil mungkin untuk
mengurangi induksi astigmatisme pasca operasi. Prosedur ini efisien, terutama jika operasi
yang lancar umumnya dikaitkan dengan hasil penglihatan yang baik. Insiden CME pada
teknik fakoemulsifikasi yang mengalami komplikasi intra operatif lebih rendah karena
konstruksi insisi luka yang kecil dan stabilitas yang lebih besar dibandingkan dengan teknik
bedah katarak lain. Kelemahan fakoemulsifikasi diantaranya mesin yang mahal, learning
curve lebih lama, dan biaya pembedahan yang tinggi. (26)

2.3.6 Penyulit
Penyulit yang terjadi untuk dilakukannya teknik fakoemulsifikasi adalah katarak
hipermatur atau katarak yang keras menyebabkan susahnya penghancuran nucleus lensa dan
pemisahan nukleus yang telah rusak dari epinukleus yang berdekatan. (26)