Anda di halaman 1dari 3

REAL ESTATE

DOSEN : MARSELLY DWIPUTRI, M.T.

TEKNIK ARSITEKTUR
JUDUL : TUJUAN MEMPELAJARI MANFAAT PEMBAHASAN REAL
ESTATE BAGI KITA

NAMA : FERHAN ZAKARIA


R5

UNIVERSITAS INDRAPRASTA PGRI

JAKARTA 2017
REAL ESTATE
REAL ESTATE berasal dari Bahasa Inggris, yang asal katanya berasal dari bahasa
Spanyol. REAL = ROYAL = kerajaan. REAL ESTATE = adalah sebagai suatu kawasan
tanah yang dikuasai oleh raja, bangsawan dan landlord (tuan tanah pada jaman feodal
diabad pertengahan), atau singkatnya properti milik kerajaan ,Sebenarnya real estate
sendiri lebih mengacu pada hak atas tanah dan pengolahannya, serta segala hal yang
menyangkut peraturan untuk memiliki dan mengusahakannya. Sedangkan real property
adalah hak untuk memiliki, menggunakan, dan menikmati manfaat dari tanah / harta /
suatu perwujudan hak yang tidak bisa diganggu gugat. Di Amerika Serikat, tanah yang
dimaksud tidak terbatas pada permukaannya saja, melainkan juga meliputi bagian di
bawah dan di atasnya. Real estate lebih diartikan suatu kompleks bangunan yg memiliki
lanskap ,tanah danlingkungannya . taman, jalan, saluran air. dengan kompiosisi yg
dominan, &contoh praktis istilah ini apabila kita menyebut 1 kata real estate orang
kebanyakan akan membayangkan suatu kawasan perumahan yg luas dan indah.

kata Real Estate maupun Property memiliki pengertian yang sama, yaitu hak
kepemilikan atas tanah dan bangunan yang didirikan diatasnya. Namun, belakangan ini
di masyarakat telah terjadi pergeseran arti, Real Estate lebih diartikan sebagai suatu
kompleks perumahan yang memiliki lingkungan yang tertata rapi. Jika kita menyebut
kata Real Estate, maka masyarakat umumnya akan membayangkan suatu kawasan
perumahan yang luas dan indah, contohnya adalah kawasan kota mandiri karya grup
developer besar seperti Sinar Mas, Ciputra, Lippo, Bakri, dan lain-lain.

Sedangkan Property pengertiannya lebih mengarah kepada suatu bangunan atau


komplek bangunan, misalnya sebuah rumah sehat sederhana RSS, atau sebuah
rumah mewah dengan halaman seluas ribuan meter dan harga puluhan milyar rupiah,
atau sebuah ruko 4 lantai, atau sebuah gedung perkantoran setinggi 48 lantai, atau
sebuah komplek mall, tradecenter dan apartement atau sebuah komplek resort hotel,
dan lain-lain. Sehingga property lebih diartikan pada suatu bangunan yang lebih banyak
pada komposisi bangunannya itu sendiri dibanding tanahnya.

Jadi secara umum Real Estate pada dasarnya adalah usaha yang berhubungan dengan
bidang tanah termasuk segala kegiatan yang dilakukan di dalamnya. Perumahan jenis
ini biasanya hanya menjual tanah sehingga para kostumer dapat mendesain sendiri
bangunan rumah yang diinginkan, pembeli hanya tinggal memesan kavling, transaksi,
lalu mengolah tanah yang sudah dibeli tersebut dengan caranya sendiri. Dapat dengan
menggunakan desainer pribadi atau dapat juga menggunakan desainer yang sudah
disediakan oleh pihak real estate.
Risiko Industri real estate

Siklus operasi normal perusahaan pengembang pada umumnya lebih dari satu tahun dan
dipengaruhi oleh faktor ketidakpastian yang cukup tinggi. Banyak risiko yang mungkin timbul
dalam aktivitas subsektor industri Real Estate, di antaranya adalah:

1. Risiko Keberadaan Tanah


Risiko atas keberadaan tanah yang dikembangkan dapat disebabkan oleh :

1. Kelangkaan tanah;
2. Ketergantungan pada kebijakan pemerintah dalam pengembangan perumahan
masyarakat.
3. Risiko Gugatan hukum
Dalam proses pembebasan tanah, kemungkinan akan timbul sanggahan-sanggahan atas
keabsahan hak atas tanah, antara lain disebabkan karena Indonesia menganut sistem negatif
untuk sistem pendaftaran tanah. Untuk mengurangi timbulnya sengketa tanah, dalam
melakukan pembebasan tanah perusahaan subsektor industri Real Estate harus bertindak
hati-hati dengan meneliti kebenaran dan keaslian dokumen-dokumen tanah pada instansi
yang berwenang serta wajib mengadakan pemeriksaan fisik tanah.
2. Peraturan Pihak Terkait
Industri Real Estate memiliki posisi yang strategis berkaitan dengan pemenuhan
kebutuhan dasar masyarakat dan pelaku bisnis serta keterkaitannya dengan masalah
lingkungan dan politik sehingga menjadi obyek regulasi. Keberadaan dan perubahan dalam
regulasi ini akan secara langsung mempengaruhi operasi industri ini.
4. Risiko berfluktuasinya nilai tukar rupiah
Sebagaimana dalam industri lain, perusahaan memiliki risiko mengalami kerugian atas
transaksi valuta asing (misal : pembelian peralatan untuk pembangunan dan bahan baku
dalam valuta asing secara kredit) yang terjadi karena perubahan naiknya kurs valuta asing.

5. Risiko Pemogokan atau kerusuhan (riot)


Terjadinya pemogokan atau kerusuhan (riot) dapat terjadi antara lain karena ketidakpuasan
karyawan terhadap kompensasi yang diterima, kondisi perekonomian, atau kondisi politik
yang tidak stabil.
6. Risiko leverage (leverage risk)
Risiko-risiko yang terkait pada kewajiban perusahaan karena pendanaan yang berasal dari
luar perusahaan (external financing).