Anda di halaman 1dari 11

A.

PENDAHULUAN

Piedra, berasal dari bahasa Spanyol yang artinya batu(stone). Piedra


adalah infeksi jamur superficial yang asimptomatik pada batang rambut. Pada
tahun 1865, Beigel-lah yang pertama kali mendeskripsikannya pada
penelitiannya. Pada tahun 1911, Horta menklasifikasikannya menjadi 2 tipe,
yaitu Piedra Hitam yang disebabkan oleh Piedraia hortae dan Piedra Putih yang
disebabkan oleh sepsies patogenik dari jamur genus Trichosporon, yaitu
Trichosporon asahii, Trichosporon ovoides, Trichosporon inkin, Trichosporon
mucoides, Trichosporon asteroides, and Trichosporon cutaneum.

Kedua jenis piedra tersebut umumnya timbul pada kondisi iklim yang
berbeda. Piedra hitam, hanya ditemukan di daerah tropis tertentu, terutama yang
banyak hujan seperti di negara-negara di Amerika selatan, dan di Asia
Tenggara. Sedangkan piedra putih, yang lebih jarang ditemukan, biasanya
terdapat di daerah beriklim sedang, hanya sekali- sekali ditemukan di daerah
tropis.

Piedra hitam dan putih juga menginfeksi rambut di lokasi yang berbeda.
Piedra hitam hanya menyerang rambut kepala, sedangkan piedra putih
umumnya menyerang rambut pubis, rambut di ketiak, janggut, kumis, dan
alis/bulu mata. Selain manusia, piedra putih juga dapat menginfeksi kuda
dan monyet. Piedra hitam dapat menginfeksi monyet dan manusia. Di Indonesia
hingga sekarang hanya dilihat piedra hitam.

1
B. TINJAUAN PUSTAKA

a) Piedra hitam
Piedra hitam merupakan infeksi jamur pada rambut di sepanjang corong
rambut yang mengakibatkan benjolan-benjolan di luar permukaan rambut
tersebut. Penyebab penyakit ini adalah jamur Piedra hortai. Jamur Piedra hortai
umumnya menyerang rambut kepala, kumis atau jambang, dan dagu. Penyakit ini
ditemukan di daerah tropik, termasuk di Indonesia. Piedra hitam biasanya diderita
oleh hewan, khususnya monyet, dan juga manusia.

Etiologi Piedra hitam

Penyebab penyakit Piedra hitam yaitu karena jamur Piedra hortai , suatu
jamur yang termasuk golongan Ascomycetes

Morfologi Piedra hitam

Jamur ini tergolong kelas Ascomycetes dan membentuk spora seksual.


Dalam sediaan KOH, rambut dengan benjolan hitam terlihat lebih jernih,
berbentuk bulat atau lonjong, yaitu askus yang berisi 2-8 askospora. Askospora
berbentuk lonjong memanjang agak melengkung dengan ujung yang meruncing,
seperti pisang. Askus-askus dan anyaman hifa yang padat membentuk benjolan
hitam yang keras di luar rambut. Pada rambut dengan benjolan, tampak hifa
endotrik (dalam rambut) sampai ektotrik (diluar rambut) yang besarnya 1-2 um
berwarna tengguli dan ditemukan spora yang besarnya 1-2 um.

Gejala klinis piesra hitam

- Terdapat benjolan-benjolan pada rambut kepala


- Berwarna hitam, sangat keras

2
- Rambut penderita mudah patah pada saat disisir
- Benjolan sulit dilepas dari rambut

Keluhan penderita biasanya tidak ada, kecuali bila disisir akan


menghasilkan bunyi suara seperti kawat apabila rambut disisir. Bunyi ini
ditimbulkan karena adanya benjolan-benjolan pada rambut.

Cara penularan
Penularan dapat terjadi apabila seseorang mengalami kontak langsung dengan
spora. Salah satu caranya adalah melalui sisir yang digunakan oleh penderita.
Spora dapat menempel pada sisir tersbut sehingga orang yang menggunakan
sisir tersebut dapat tertular. Dan biasanya banyak ditemukan pada perenang
dan penyelam yang dapat tertular melalui media air.

Diagnosa

Rambut yang ada benjolan ditambah KOH 10%-20%, Kemudian diperiksa


dengan mikroskop.
Dalam pemeriksaan akan tampak benjolan terdiri dari susunan hifa yang
sangat rapat, berdinding tebal, berwarna cokelat kehitam-hitaman,
letaknya satu sama lain sangat erat satu karena dihubungkan dengan
semacam semen serta bersegmentasi sangat rapat pula. Karena itu benjolan
menjadi sangat keras. Bila benjolan itu dipecahkan, akan keluar askus
yang berisi 2-8 aksospora yang berwarna kecoklat-cokelatan, bentuk
fusiform, berdinding tebal, pada masing-masing ujungnya ada filamen
yang pendek dan tebal.

3
Menanam pada media SGA
Pada saat menanam pada media SGA akan tumbuh koloni berfilamen
berwarna hijau hitam dengan pembentukan klamidospora dan hifanya
berseptum sangat rapat. Jadi ascospora tidak dibentuk dalam biakan.
(Mikrobiologi kedokteran-edisi pertama.2005)

b) Piedra Putih

Piedra putih adalah infeksi jamur pada rambut yang diakibatkan oleh
Trichosporon beigelii. jamur yang menyebabkan piedra putih yang di tandai
dengan benjolan ( nodus ) sepanjang rambut. Organisme yang menyebabkan
Piedra putih awalnya bernama Pleurococcus beigelii dan kemudian Trichosporon
beigelii.

Benjolan yang disebabkan Trichosporon Beigelii tidak begitu terpisah satu


dengan yang lain. Anyaman hifa terlihat mengelilingi rambut sebagai selubung
dan padat, tidak berwarna, atau berwarna putih kekuningan. Benjolan lebih mudah
dilepas dari rambut dan berwarna kehijau-hijauan yang transparan.

4
Piedra putih bisa terjadi pada kulit kepala, alis, bulu mata, janggut, aksila
atau di pangkal paha. Dibandingkan dengan Piedra hitam, yang hampir selalu
terjadi pada rambut kepala kulit kepala, Piedra putih kurang umum menyerang
rambut kepala dan lebih sering terjadi pada bagian rambut lainnya. Hal ini
disebabkan oleh jamur seperti ragi, Trichosporon beigelii, yang sekarang dikenal
sebagai T. asahii, yang pertama kali dideskripsikan oleh Beigel pada tahun 1869
ini lebih umum terjadi di daerah beriklim sedang dan telah dilaporkan di Eropa
dan Amerika Utara dan Selatan. Meskipun telah dilaporkan dari banyak wilayah
di Asia, jarang terjadi di daerah tropis. Pengobatan yang berhasil terhadap Piedra
putih telah dicapai dengan menggunting rambut yang terkena atau
mengencangkan dan menggunakan agen antijamur topikal.

Etiologi Piedra Putih

Penyakit ini disebabkan oleh Trichosporon beigelii . suatu jamur yang


masuk kedalam golongan Ascomycetes.

Morfologi Piedra Putih

Jamur penyebab piedra putih mempunyai hifa yang tidak berwarna,


berbeda dengan piedra hitam, benjolan pada piedra putih terlihat lebih memanjang
pada rambut dan tidak padat. Benjolan mudah dilepas dari rambut. Tidak terlihat
askus dalam massa jamur. Berbeda dengan Trichomycosis axillaris dalam
benjolan hifa berukuran 2-4 mikron dan terlihat artrokonidia.

Gejala klinis Piedra Putih

Piedra putih terutama pada rambut aksila, genital, jenggot, berpa benjolan
lunak, multipel berukuran mikroskopik sampai satu milimeter, berwarna putih
sama coklat muda, dan tidak terlalu melekat erat pada rambut, sehingga mudah

5
dilepaskan. Kadang benjolan menyatu membentuk selubung mengelilingi rambut.
Rambut patah dapat terjadi, tetapi lebih jarang dibandingkan dengan piedra hitam

Cara penularan

Penularan dapat terjadi apabila seseorang mengalami kontak langsung


dengan spora. Salah satu caranya adalah melalui sisir yang digunakan oleh
penderita. Spora dapat menempel pada sisir tersbut sehingga orang yang
menggunakan sisir tersebut dapat tertular.

Diagnosa

Diagnosis piedra putih ialah dengan memeriksa benjolan yang ada pada
rambut. Pada pemeriksaan langsung dengan larutan KOH 10%, tampak anyaman

6
hifa yang padat, tidak berwarna atau berwarna putih kekuningan. Diagnosis
ditegakkan atas dasar :

1. Gejala klinis

Objektif rambut lebih suram, benjolan bila disisir terasa seperti logam kasar.

2. Laboratorium
a. Langsung dengan KOH 10-20% dari rambut yang ada benjolan tampak
hifa endotrik (dalam rambut pada lapisan kortek) sampai ektotrik (di luar
rambut) yang besar 4-8 mu berwarna tengguli dan ditemukan spora yang
besarnya 1-2u.
b. Kultur rambut dalam media Saboutound tampak koloni mula-mula
tumbuh sebagai ragi yang berwarna kilning, kemudian dalam 2-4 hari
akan berubah menjadi koloni filamen.

Cara pencegahan dan pengobatan

Cara Pencegahan

Menjaga kebersihan rambut kepala, terutama bagi mereka yang tinggal


dalam komunitas yang padat dalam satu tempat tinggal (rumah, kamar). Seprai
dan bantal yang pernah digunakan sebaiknya dicuci dengan air panas, juga sisir
penderita dan sikat dapat diberikan pedikulisida. Mereka yang tinggal sekamar
(atau serumah) dengan penderita sebaiknya diperiksa, atau jika perlu diberikan
pengobatan yang sama, walaupun yang terakhir ini masih menjadi perdebatan.

Cara Pengobatan

Pengobatan penyakit ini yaitu dengan memotong rambut yang terkena


infeksi atau mencuci daerah dengan rambut yang terkena setiap hari dengan
larutan sublimat 1/2000 dalam spiritus dilutus atau shampoo yang mengandung

7
ketokonazol. Terapi yang efektif terhadap Piedra putih termasuk imidazoles,
olamine Ciclopirox, selenium sulfide 2%, 6% endapan sulfur dalam petrolatum,
larutan chlorhexidine dan zinc pyrithione. Terapi dengan itraconazole oral (obat
anti jamur lain) lebih mudah digunakan untuk Piedra putih, yang berdampak pada
rambut kulit kepala, dan mungkin lebih baik tidak menggunakan obat oles.
Gangguan ini dapat dikendalikan dengan mencukur dan dengan aplikasi
lokal salep merkuri 5% amonium, miconazole 2% topikal, ketokonazol 2% atau
1% terbinafine empat kali sehari selama 2 minggu atau sampai remisi terjadi.
Terapi itraconazole oral juga telah disarankan. Meski sering kambuh,
pengangkatan rambut yang terkena biasanya kuratif, dengan sedikit kekambuhan.
Kulit piedra putih pada pasien kulit kepala pada pasien yang tidak ingin
bercukur dan yang belum menanggapi agen topikal dapat diobati dengan
itraconazol oral 100mg setiap hari selama 8 minggu. Piedra putih pada area
genital yang berulang dapat diobati dengan kombinasi pencukuran dan antijamur
topikal, dan memastikan disinfeksi pakaian dalam, tempat tidur, dan handuk.
Remisi spontan piedra putih dari rambut kemaluan telah dilaporkan.

8
C. KESIMPULAN
Piedra adalah infeksi jamur pada rambut, berupa benjolan yang melekat
erat pada rambut.
Piedra dibagi menjadi 2 yaitu :
o Piedra hitam
o Piedra putih
Piedra dapat di diagnosa secara Mikroskopis menggunakan KOH 10% dan
dengan kultur menggunakan media SGA.

9
DAFTAR PUSTAKA

1. Djuanda, A. Piedra ; dalam Ilmu Penyakit Kulit & Kelamin Edisi 7, Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta , 2016; hal ;101-102.
2. Budimulja, Unandar. Piedra : dalam Dermatomikosis Superfisialis,Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta : 2008, hal ; 84-86.
3. Siregar, R.S. Piedra; dalam Penyakit Jamur Kulit; edisi ke-2. Jakarta; EGC,
2010.Hal; 12-13.
4. Gandahusada, Srisasi. Piedra ; dalam Parasitologi Kedokteran, Edisi ketiga,
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia,2008 ; hal ; 284-286.
5. Jawetz,Melnick,Edward. Piedra ; dalam Mikrobiologi Kedokteran, Edisi
20,EGC. Hal;612.
6. Janet S. Butet, dan Stephan A. Morse : Mikrobiologi kedokteran-edisi pertama.
Salemba Medika. Jakarta 2008
7. Jawetz, Melnick & Adelberg : Mikrobiologi Kedokteran. Edisi 20, EGC Jakarta
2007.
8. Schwartz A, Altman R, Piedra E Medicine. 2013. Available
from:http://Emedicine.medscape.com/article/1092330-overview

9. Hay RJ, Moore MK. Mycology. In: Burns T, Breathnach, Cox N, Griffiths C,
editors. Rook's Textbook of Dermatology. 8th ed. London: Blackwell Science:
Oxford; 2010. pp. 31.1631.18.

10. Chander J, Piedra . 2st ed. New Delhi: Mehta Publishers: 2005. Textbook of
Medical Mycology; pp. 8590 and 302-3.

11. Kamalam A, Sentamilselvi G, Ajithadas K, Thambiah AS. Cutaneous


trichosporosis, Mycopathologia 2000;101:16775. [PubMed]

12. Gueho E, de Hoog GS, Smith MT. Neotypification of the genus


Trichosporon. Antonie Von Leeuwenhoek. 2009;61:2858. [PubMed]

13. Khandpur S, Reddy BS. Itraconazole therapy for white piedra affecting scalp
hair. J Am Acad Dermatol. 2012;47:4158. [PubMed]

10
11