Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dasar ilmu mekanika adalah tiga hukum alam yang uraiannya yang jelas
untuk pertama kali diberikan oleh Issac Newton dan diterbitkan pada tahu 1686
dengan judul Philosophiae Naturalis Pricipia Mathematica ( Dasar Matematika
Ilmu dan Pengetahuan Alam). Tetapi ini bukan berarti bahwa ilmu mekanika itu
dimulai oleh Newton. Banyak yang mendahuluinya tent5ang ini. Yang paling
terkenal adalah Galileo Galilei (1564-1642). Penyelidikan Galilei tentang gerak
dengan mpercepatan merupakan dasar bagi hukum Newton ketiga (Zaemansky,
1985).
Menara penyangga jembatan gantung harus cukup kuat, agar jembatan
tersebut tidak ambruk dalam menahan berat jembatan maupun lalu lintasnya dan
juga agar perangkat pendaratan pesawat terbang tidak boleh rontok ketika pilot
membuat pendaratan yang buruk, serta gigi garpu tidak boleh bengkok bila
digunakan untuk mencocok daging yang liat. Dalam masalah ini, para ahli teknik
berpandangan bahwa struktur yang dianggap tegar ini memeng tetap tegar
walaupun dikenai gaya dan torka yang berkaitan dengannya, yang berkaitan pada
susunan tersebut (Halliday dan Resnick, 1985).
Menara jembatan, perangkat pendaratan, dan garpu semua berada dalam
keseimbangan mekanis (mechnical equilibrium). Sebuah benda tegar berada
dalam kesetimbangan mekanis bila dilihat dari suatu kerangka acuan inersial, jika
percepatan linear pusat massanya sama dengan nol, percepatan sudutnya
mengelilingi suatu sumbu tetap dalam rangka ini sama dengan nol (Halliday dan
Resnick, 1985).
Salah satu akibat dari bekerjanya suatu gaya adalah berubahnya dimensi atau
bentuk benda yang menderita gaya tersebut. Gerak suatu benda dapat dianggap
gerakan benda itu secara keseluruhan, yaitu gerak translasi, serta gerak rotasi
kalau ada. Pada umumnya satu gaya tunggal yang bekerja pada sebuah benda
yang mengakibatkan perubahan baik pada gerak translasinya maupun gerak
rotasinya. Tetapi bila benda itu bekerja beberapa gaya yang serentak, mungkin
akibatnya saling meniadakan, sehingga tidak menghasilkan perubahan baik pada
gerak translasinya maupun pada gerak rotasi. Dengan demikian suatu benda
dikatakan setimbang. Hal ini berarti:
a. Benda itu sebagai satu keseluruhan tetap diam,atau bergerak menurut garis
lurus dengan kecepatan konstan.
b. Benda itu tidak berotasi sama sekali atau berotasi dengan kecepatan konstan.

1.2 Tujuan Percobaan


Tujuan dari dilakukannya percobaan ini adalah:
1. Mengetahui tentang gaya-gaya dalam keadaan setimbang dan mampu
menjelaskan hukum Newton I.
2. Mengukur gaya yang bekerja dalam tali dalam kesetimbangan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Bila pada sebuah benda bekerja tiga buah gaya koplanar yang non-paralel
dan benda itu dalam keadaan kesetimbangan semua gaya tersebut adalah konruen
dan resultan dari sembarang dua gaya akan tetap sama besar mutlaknya
berlawanan arah (atau tandanya) dengan gaya yang satu lagi. Apabila sebuah
benda dalam keadaan kesetimbangan, maka resultan dari semua gaya yang
bekerja pada benda itu sama dengan nol. Jadi kedua komponen tegak lurusnya
adalah nol dan dari itu untuk benda dalam keadaan setimbang berlakulah:
R=0 atau Fx = 0 Fy = 0
Persamaan-persamaan ini disebut syarat pertama kesetimbangan. Syarat
kedua kesetimbangan secara matematik mengungkapkan fakta-fakta sebagai
berikut:
1. Apabila suatu benda kekar dalam keadaan setimbang disebabkan oleh dua
gaya saja, maka kedua gaya ini mempunyai garis kerja yang sama.
2. Apabila suatu benda kekar dalam keadaan setimbang karena bekerja tiga gaya,
maka ketiga gaya tersebaut harus berpotongan di salah satu titik (Sears dan
Zemansky, 1985).
Kesetimbangan alah jika suatu benda dalam keadaan setimbang maka
jumlah gaya yang titik tangkapnya sama adalah nol. Jadi, syarat untuk
kesetimbangan benda adalah:
Fx = 0, jumlah gaya-gaya dalam sumbu X = 0.
Fy = 0, jumlah gaya-gaya dalam arah sumbu Y = 0.
T = 0, jumlah torsi (momen gaya) terhadap titik yang kita tinjau = 0.
Usahakan sedapat mungkin hitung T = 0 terhadap titik dimana bekerja
gaya yang besarnya tidak diketahui atau tidak ditanyakan (Daryanto, 1997).
Newton menyatakan hukum pertamanya dengan kata-kata sebagai berikut:
Setiap benda akan tetap berada dalam kesetimbangan diam atau bergerak lurus
beraturan kecuali ia dipaksa mengubah keadaan itu oleh gaya-gaya yang
berpengaruh kepadanya. Sesungguhnya hukum pertama newton ini memberikan
pernyataan tentang kerangka acuan. Pada umumnya, percepatan suatu benda
bergantung pada kerangka acuan mana yang diukur. Hukum pertama menyatakan
bahwa jika tidak ada benda lain yang didekatnya artinya tidak ada gaya yang
bekerja karena setiap gaya harus dikaitkan dengan benda dalam lingkungannya,
maka dapat dicari suatu kerangka acuan sehingga suatu partikel tidak mengalami
percepatan. Kenyataan bahwa gaya luar suatu benda akan tetap diam atau
bergerak lurus beraturan yang sering dinyatakan dalam suatu sifat yang sering
disebut dengan inersia atu kelembaman karena itu hukum newton pertama sering
disebut dengan hukum inersia dan kerangka dimana hukum ini berlaku disebut
dengan kerangka inersia. Kerangka ini sering dianggap diam terhadap bintang
yang sangat jauh. Untuk membuktikan hukum pertama newton, kita perlu
membuat definisi tentang gaya dalam hukum ini. Hukum I newton juga
memperkenalkan kita dengan satu pengertian lagi. Sifat bahwa benda akan tetap
berda pad keadaannya, yaitu diam atau bergerak lurus beraturan, disebut sifat
inersia (Sutrisno, 1983).
F=m.a
Hukum pertama ini mendefinisikan apa yang dimaksud dengan sumbu
lembam. Kita harus mengetahui bahwa gerak suatu benda dengan hanya dapat
diperinci (disebutkan besar dan arahnya) dalam hubungannya dengan atau relatif
terhadap suatu benda lain. Geraknya reltif terhadap A bisa saja berbeda dengan
geraknya relatif terhadap benda lain B, misalnya saja seorang penumpang pesawat
terbang yang sedang lepas landas bisa saja lepas landas dalam keadaan diam
relatif terhadap pesawat tersebut, tetapi relatif terhadap bumiia sebenarnya
bergerak dengan kecepatan yang makin bertambah. Setiap orang tahu bahwa
setiap waktu lepas landas, pesawat itu bergerak semakin lama srmakin cepat.
Seorang penumpang akan merasakan bahwa sandaran pada setiap tempat
duduknya mendorong dirinya ke depan, walaupun dia tetap diam relatif terhadap
sumbu yang melekat pada pesawat itu. Sebaliknya, jika penumpang itu berdiri di
atas sepatu roda di ruang pemisah deretan kursi. Maka ia akan tergerak ke
belakang, relatif terhadap pesawat waktu lepas landas mulai. Padahal tidak ada
gaya yang bekerja terhadapnya. Hukum newton tidak dapat menjelaskan ini
dengan tepat (Sears dan Zemansky, 1985).
Suatu gaya yang bekerja pada sebuah benda selalu berasal dari benda lain.
Jadi suatu gaya sebenarnya adalah hasil interaksi antara dua benda. Sehingga kita
dapatkan bahwa jika sebuah benda melakukan gaya pada sebuah benda lain, maka
benda dua selalu melakukan gaya balasan pada benda pertama. Disamping itu
juga kedua gaya ini memiliki besar yang sama dengan arah yang berlawanan. Jika
salah satu dari gaya yang terjadi pada interaksi antara dua buah benda gaya aksi,
maka gaya yang lainnya disebut gaya reaksi. Kedua gaya ini selalu timbul
bersama-sama. Setiap aksi selalu dilawan oleh reaksi yang sama besarnya atau
aksi timbal baliknya dari dua benda adalah selalu sama besar dan memiliki arah
yang berlawanan (Sutrisno, 1983).
Faksi = Freaksi
Kesetimbangan sebuah benda dapat diklasifikasikan menurut tiga kategori,
yaitu stabil, tak stabil, dan netral. Kesetimbangan stabil terjadi bila torsi atau gaya
yang muncul karena perpindahan kecil dari benda tersebut memaksa benda
kembali ke arah posisi kesetimbangannya. Kesetimbangan tak stabil terjadi bila
gaya-gaya atau torsi yang muncul karena perpindahan kecil dari benda memaksa
benda tersebut menjauhi posisi kesetimbangannya. Kesetimbangan netral terjadi
jika tidak ada torsi atau gaya yang menggerakkan ke salah satu arah (Tipler,
2001).
BAB III
METODE PERCOBAAN

3.1 Alat dan Bahan


Alat dan Bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah:
3. Katrol, berfungsi untuk mempermudah dalam mengangkat beban atau benda
yang berat.
4. Beban, sebagai pemberat.
5. Tali, berfungsi untuk mengangkat benda dengan cara menghubungkannya
pada katrol.
6. Dinamometer, berfungsi sebagai alat pengukur gaya.

3.2 Prosedur Percobaan


1. Menyusun alat seperti pada ga,mbar 1, dan mencatat gaya F.
2. Menambah beban beberapa kali den mencatat gaya yang terjadi.
3. Menyusun alat seperti pada gambar 2, dan melakukan seperti V.1 dan V.2.
4. Menyusun alat seperti pada gambar 3, dan mencatat gaya F 1, F2, dan mengubah
nilai 1, 2.
5. Menyusun alat seperti pada gambar 4, dan mencatat gaya F dan mengubah
nilai .
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Data Hasil Pengamatan


Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan dapat dibuat tabel
pengamatan sebagai berikut :
Tabel 4.1a
No. Massa (Kg) F (N)
1. 0,05 0,4
2. 0,075 0,65
3. 0,100 0,9
4. 0,125 1,1
5. 0,150 1,4

Tabel 4.1b
% %
Massa F1 F2
No 1 2 Fx (N) Fy (N) Error Error
(Kg) (N) (N)
x y
o o -4
1. 0,1 0,6 0,8 130 145 -7,66.10 0,06 0,167 6,12
o o
2. 0,1 0,8 1,0 120 125 0,126 -6,42.10-3 16,67 -0,66
3. 0,1 0,8 0,4 155 o 120 o 8,32.10-3 -0,055 2,431 -5,61
4. 0,1 1,1 1,2 120 o 115 o 0,135 -0,077 13,23 -7,86
5. 0,1 0,9 0,4 160 o 105 o 0,079 -0,031 22,76 -3,16

Tabel 4.1c
No. Massa (Kg) F (N) N (N) k Fk (N)
1. 0,150 1,5 50 0,586 -0,278 -0,163
2. 0,150 1,45 150 0,579 0,284 0,164
3. 0,150 1,525 300 0,568 0,447 0,254
4. 0,150 1,55 400 0,553 0,512 0,283
5. 0,150 1,4 450 0,533 0,535 0,285

Tabel untuk Teori Ralat


Tabel 4.1d
m Keseksamaan
No m(Kg) = (mi m) 2= (mi m) 2 m
(Kg) (%)
1. 0,050 -0,05 0,0025 0,0177 0,1 99,823
2. 0,075 -0,025 0,000625 0,0177 0,1 99,823
3. 0,100 0 0 0,0177 0,1 99,823
4. 0,125 0,025 0,000625 0,0177 0,1 99,823
5. 0,150 0,05 0,0025 0,0177 0,1 99,823
mi = 0,5 = 0 2 = 0,00625

Tabel 4.1e
= N (Kg Keseksama
No N(N) 2= ( N i N ) 2 N
(Ni N ) ) an (%)
1. 1,46 0,196 0,038 0,081 1,264 99,93
2. 1,42 0,015 0,0024 0,081 1,264 99,93
3. 1,27 0,004 3,6 . 10-5 0,081 1,264 99,93
4. 1,13 -0,011 0,018 0,081 1,264 99,93
5. 1,04 -0,031 0,050 0,081 1,264 99,93
Ni = 6,32 = -0,001 2 = 0,13

Tabel untuk Sesatan


Tabel 4.1f
No. Massa (Kg) F (N) F
1. 0,050 0,40 1,39
2. 0,075 0,65 1,50
3. 0,100 0,90 1,56
4. 0,125 1,10 1,53
5. 0,150 1,40 1,62

Tabel 4.1g
No. Gaya Normal (N) k fk (N) fk (N)
1. 1,46 -0,278 -0,41 0,00072
2. 1,42 -0,079 -0,11 0,00049
3. 1,27 -0,343 -0,44 0,0096
4. 1,13 -0,448 -0,51 0,0164
5. 1,04 -0,347 -0,36 0,0097

4.2 Analisis Data


A. Perhitungan
(Untuk Tabel 4.1b)
1. Diketahui : F1 = 0,6 N F2 = 0,8 N
1 = 1300 2 = 1450
m = 0,1 Kg
Ditanya : a) Fx = . ?
b) Fy = . ?
c) % Error = .. ?
Jawab :
a) Fx = F2 cos ( 2-900) F1 cos (1-900)
= 0,8 cos (1450-900) 0,6 cos (1300-900)
= 0,8 cos 550 0,6 cos 400
= - 7,66 x 10-4 N
b) Fy = F1 sin (1-900) + F2 sin (2-900) mg
= 0,8 sin (1450-900) + 0,6 sin (1300-900) 0,1.9,8
= 0,8 sin 550 + 0,6 sin 400 0,98
= 0,06 N
c) % Error
o Untuk gaya horizontal (x)

Fx . 100%
% Errorx =
0,5( F1 cos(1 90) 0 F2 cos( 2 90) 0 )
=

- 7,66 x 10 -4 . 100%
0,5(0,8 cos(135 0 90 0 ) 0,6 cos(110 0 90 0 )
0,0766%
=
0,5(0,8 cos 55 0 0,6 cos 40 0 )
0,0766%
= 0,459
= 0,167 %

o Untuk gaya vertikal (y)

Fy . 100%
% Errory =
m.g
0,06 X 100%
= = 6,12 %
0,1.9,8

(Untuk Tabel 4.1c)


1. Diketahui : m = 0,150 Kg g = 9,8 m/s2
F = 1,5 N = 5o
Ditanya : a) N = . ?
b) k = . ?
c) fk = ..... ?
Jawab :
a) N = m.g.cos
= 0,150 . 9,8 . cos 5o
= 1,46 N

m.g cos F
b) k =
m.g sin
0,150 . 9,8 cos 5 o 1,5
=
0,150 . 9,8 sin 5 0
= - 0,278
c) fk = k . N
= -0,278 . 1,46
= -0,41 N
# Teori Ralat
(Untuk Tabel 4.1d)
1. Diketahui :
mi = m1 m2 m3 m4 m5
= 0,05 0,075 0,100 0,125 0,150
= 0,5
m1 m 2 m3 m4 m5
m =
5
0,05 0,075 0,100 0,125 0,150
=
5
0,5
= = 0,1 Kg
5

(mi m) 2 = 0,00625 Kg
k =5
Ditanya : a) m = . ?
b) Keseksamaan = . ?
Jawab :

( mi m) 2
a) m =
k (k 1)

0,00625
=
5(5 1)

= 0,0003125 = 0,0177
m
b) Keseksamaan = 100% - %
m
0,0177
= 100% - 0,1
%

= 100% - 0,177 %
= 99,823 %

(Untuk Tabel 4.1e)


1. Diketahui :
N = N1+N2+N3+N4+N5
= 1,46+1,42+1,27+1,13 +1,04
= 6,32 N
N1 N 2 N 3 N 4 N 5
N =
5
1,46 1,42 1,27 1,13 1,04
=
5
6,32
= = 1,264 N
5

(Ni N )2 = 0,13 Kg
k =5
Ditanya : a) N = . ?
b) Keseksamaan = . ?
Jawab :

( N i N ) 2
a) N =
k ( k 1)

0,13
=
5(5 1)

= 6,5 .10 3 = 0,081


N
b) Keseksamaan = 100% - %
N
0,081
= 100% - 1,264 %

= 100% - 0,064%
= 99,93 %

# Sesatan
(Untuk Tabel 4.1f)
1. Diketahui : m = 0,050 Kg g = 9,8 m/s2
F = 0,4 N m = m =0,0177 Kg

Ditanya : F = . ?
Jawab :
m
F =g F
m

0,0177
= 9,8 0,050
0,4

= 1,39 N

(Untuk Tabel 4.1g)


1. Diketahui : a) N = 1,46 N
b) k = - 0,31
c) fk = -0,4526
d) N = N = 0,081 N
Ditanya : fk = . ?

Jawab :
N
fk = k fk
N

0,081
= -0,31 1,46
-0,4526

= 0,0078 N

B. Grafik
Grafik 1 (Grafik Hubungan Antara Gaya (F) dan massa (m))
Grafik 2 (Grafik Hubungan Antara Gaya 1 (F1) dan Sudut 1)

Grafik 3 (Grafik Hubungan Antara Gaya 2 (F2) dan Sudut 2)

Grafik 4 (Grafik Hubungan Antara Gaya (F) dan Sudut )


4.3 Pembahasan
Percobaan kali ini adalah mengenai kesetimbangan statis. Percobaan ini
bertujuan untuk mengetahui gaya-gaya dalam keadaan setimbang dan mampu
menjelaskan menenai hukum Newton I, serta mengukur gaya yang bekerja pada
tali dalam keadaan setimbang. Adapun alat yang digunakan dalam percobaan ini
adalah katrol berfungsi untuk mempermudah dalam mengangkat beban atau benda
yang berat, beban sebagai pemberat, tali berfungsi untuk mengangkat benda
dengan cara menghubungkannya pada katrol, dan dinamometer, berfungsi sebagai
alat pengukur gaya.
Dalam kesetimbangan statis, bekerja gaya-gaya yang dapat diproyeksikan
dalam sumbu x dan y, yaitu Fx dan Fy. Hal ini dapat dilihat pada percobaan yang
telah dilakukan. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi gaya-gaya tersebut
adalah massa dan besar sudut yang dibentuk oleh tali-tali yang menghubungkan
antara beban dan katrol (pada gambar 3) dan sudut yang dibentuk oleh lantai dan
katrol (pada gambar 4).
Pada percobaan ini praktikan melakukan percobaan dengan tiga macam
bentuk gaya, seperti gambar 1, praktikan hanya menggunakan satu buah katrol
saja. Beban yang digunakan pun bervariasi sesuai dengan keinginan praktikan.
Dengan menggunakan variasi beban dimaksudkan agar terdapat perbedaan data
dari setiap percobaan. Pada percobaan ini praktikan menggunakan beban dengan
massa 0,050 Kg, 0,075 Kg, 0,100 Kg, 0,125 Kg, dan 0,150 Kg.
Pada gambar 3 digunakan dua katrol yang bebannya diletakakn ditengah.
Data yang diambil yaitu gaya F, gaya ini sendiri diambil dua gaya, yaitu F 1 dan F2
dan juga sudut yang terbentuk, yaitu 1 dan 2. Dari tabel dapat diketahui F1
sebesar 0,6 N, 0,8 N, 0,8 N, 1,1 N, dan 0,9 N pada beban yang bermassa sama.
Sedangkan F2 sebesar 0,8 N, 1 N, 0,4 N, 1,2 N, dan 0,4 N pada beban yang
bermassa sama pula. Sudut yang didapatkan pun berbeda-beda pula. Dalam hal ini
dapat diketahui pengaruh besar sudut yang dibentuk terhadap gaya yang bekerja,
baik gaya Fx dan Fynya.
Pada gambar 4 hanya menggunakan satu katrol saja seperti halnya pada
gambar 1 namun pada gambar 4 ini praktikan meletakkan beban dilantai. Sudut
dihitung dari kemiringan tali dan kedataran lantai. Sudut yang digunakan yaitu
sebesar 5, 15, 30, 40, dan 45 dengan massa yang sama didapatkan nilai F
yang berbeda-beda.
Pada grafik dapat terlihat jelas tentang hubungan antara massa dengan gaya
dan gaya dengan sudut yang terbentuk serta grafik hubungan gaya (F) dengan
perubahan sudut. Grafik untuk gambar 1 menjelaskan bahwa semakin berat beban
yang digunakan, semakin besar gaya (F) yang terjadi. Pada grafik untuk gambar 3
menjelaskan bahwa sudut yang terbentuk tidak mempengaruhi gaya (F) yang
terjadi. Sedangkan grafik untuk gambar 4 menjelaskan bahwa semakin besar
sudut yang terbentuk semakin kecil gaya (F) yang terjadi.
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Dari percobaan yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan bahwa :
1. Gaya-gaya yang bekerja pada kesetimbangan antara lain gaya berat, gaya
tegangan tali, dan gaya normal.
2. Hukum Newton I menyatakan bahwa benda akan diam atau bergerak lurus
beraturan jika resultan gaya yang bekerja sama dengan nol.
3. Gaya-gaya yang bekerja dalam keadaan setimbang adalah gaya pada sumbu x
dan sumbu y, yaitu Fx dan Fy.
4. Katrol digunakan untuk mengurangi massa benda yang ditarik. Sehingga
disaat percobaan, gaya yang dihasilkan nilainya berkurang sedikit.
5. Hubungan antara massa dengan gaya yang terjadi adalah semakin berat beban
yang digunakan, semakin besar gaya (F) yang terjadi.
6. Hubungan antara sudut dengan gaya yang terjadi adalah semakin besar sudut
yang digunakan, semakin kecil gaya (F) yang terjadi.

5.2 Saran
Untuk kelancaran praktikum, ada beberapa hal yang harus diperhatikan
oleh praktikan, yaitu :
1. Praktikan diharapkan lebih serius dan teliti dalam membaca skala di neraca
pegas, sehingga hasilnya akurat.
2. Sebaiknya apabila praktikan melakukan kesalahan dalam praktikum, asisten
diharapkan mampu mengoreksi dimana letak kesalahan tersebut.
LAMPIRAN
TUGAS PENDAHULUAN

1. Sebutkan dan gambarkan gaya apa saya yang anda ketahui!


2. Kapan kita menggunakan hukum newton I, II, III?
3. Apa syarat kesetimbangan?
4. Apa guna katrol susunan bertingkat untuk mengangkat beban berat?
5. Bagaimana syarat tali yang dipergunakan untuk mengangkat dan menarik
suatu beban?
JAWABAN
1. Gaya gesekan

2. Hukum Newton digunakan pada saat:


Hukum Newton I dipergunakan pada saat kita ingin mengetahui suatu
percepatan benda.
Hukum Newton II dipergunakan pada saat kita ingin mengetahui gaya dan
percepatan suatu benda.
Hukum Newton III dipergunakan pada saat kita ingin mengetahui gaya
aksi dan reaksi suatu benda.
3. Syarat dari kesetimbangan adalah:
Syarat pertama: gaya eksternal yang bekerja pad benda tersebut harus nol.
Fneto = 0, Fneto = Fresultan.
Syarat kedua: torsi eksternal neto terhadap setiap titik harus nol dan
jumlah torsi cenderung menhasilkan rotasi searah jarum jam terhadap
setiap titik harus sama dengan jumlah torsi yang cenderung menghasilkan
rotasi berlawanan arah jarum jam terhadap titik tersebut.
4. Guna katrol susunan bertingkat adalah untuk membantu dan mempermudah
mengangkat beban, sehingga energi yang digunakan tidak terlalu besar.
Dengan menggunakan katrol maka dapt memperbesar kemampuan dalam
mengangkat beban.
5. Syarat tali yang dipergunakan untuk mengangkat beban dan menarik suatu
beban adalah:
tali harus kuat
tidak licin
elastis
DAFTAR PUSTAKA

Daryanto, Drs. 1997. Fisika Teknik. Rineka Cipta: Jakarta.

Sears dan Zemansky. 1986. Fisika Untuk Universitas 1. ITB: Bnadung.

Sutrisno. 1983. Fisika Dasar. ITB: Bandung.

Tipler, Paul A. 2001. Fisika Untuk Sains dan Teknik Jilid 2. Erlangga: Jakarta.
LAPORAN PRAKTIKUM
FISIKA DASAR

PERCOBAAN 06
ROTASI BENDA TEGAR

Nama : Winda Ayu Fazraningtyas


NIM : J1A107208
Kelompok : 3
Asisten : Nena Febriani

PROGRAM STUDI S-1 MATEMATIKA


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU
2007

Anda mungkin juga menyukai