Anda di halaman 1dari 156

ANALISIS LAPORAN KEUANGAN PT GARUDA INDONESIA, Tbk.

Disusun untuk memenuhi Tugas Mata Kuliah Analisis Laporan Keuangan

Disusun oleh:
Reynaldi Effendi Putra 120110140067
Indana Zulfa 120110140092

Dosen Pengajar:
Hj. Prima Yusi Sari, S.E., M.E., Ak.

PROGRAM STUDI AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS PADJADJARAN
BANDUNG
2017
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat,
karunia, serta hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah
dengan judul Analisis Laporan Keuangan PT Garuda Indonesia, Tbk.
Penyusunan makalah ini tidak akan selesai tanpa adanya bantuan dan
dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis ucapkan terima kasih
kepada:
1. Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan kekuatan kepada penulis
dalam penyusunan makalah ini;
2. Hj. Prima Yusi Sari, S.E., M.E., Ak., selaku dosen mata kuliah Analisis
Laporan Keuangan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas
Padjadjaran yang telah memberikan tugas ini kepada penulis.
Penulis berharap makalah ini dapat menambah wawasan serta pengetahuan
untuk kita semua tentang analisis laporan keuangan perusahaan PT Garuda
Indonesia, Tbk. Tak ada gading yang tak retak, dengan segala kerendahan hati,
kritik dan saran yang membangun penulis harapkan guna peningkatan kualitas
pembuatan makalah pada tugas lain pada waktu mendatang.

Bandung, 1 Juni 2017

Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ........................................................................................................ 2
DAFTAR ISI....................................................................................................................... 3
BAB 1 ................................................................................................................................. 4
ANALISIS STRATEGI ...................................................................................................... 4
BAB 2 ............................................................................................................................... 19
ANALISIS PRAKTIK MANAJEMEN LABA ................................................................ 19
BAB 3 ............................................................................................................................... 26
ANALISIS AKTIVITAS PENDANAAN ........................................................................ 26
BAB 4 ............................................................................................................................... 46
ANALISIS AKTIVITAS INVESTASI ............................................................................ 46
BAB 5 ............................................................................................................................... 62
ANALISIS AKTIVITAS OPERASI ................................................................................ 62
BAB 6 ............................................................................................................................... 73
ANALISIS PROFITABILITAS ....................................................................................... 73
BAB 7 ............................................................................................................................... 87
ANALISIS LAPORAN ARUS KAS ................................................................................ 87
BAB 8 ............................................................................................................................. 100
ANALISIS PROSPEKTIF FORECASTING .............................................................. 100
BAB 9 ............................................................................................................................. 130
ANALISIS PROSPEKTIF - VALUATION ................................................................... 130
BAB 10 ........................................................................................................................... 137
ANALISIS KREDIT ....................................................................................................... 137
10.1 Analisis Perbandingan Pinjaman Bank Jangka Pendek .................................. 137
10.2 Memprediksi Kebangkrutan Dengan Altman Z-Score ................................... 137
10.3 Analisis Rasio Likuiditas ................................................................................ 139
10.4 Analisis Rasio Solvabilitas.............................................................................. 145
a. Debt to Asset Ratio (DAR) ............................................................................. 145
b. Debt to Equity Ratio (DER) ............................................................................ 147
10.5 Analisis Rasio Profitabilitas ............................................................................ 148
a. Gross Profit Margin (GPM) ............................................................................ 149
b. Operating Profit Margin (OPM) ..................................................................... 151
c. Net Profit Margin (NPM)................................................................................ 152
10.6 Analisis Penerapan Credit Risk Rating pada PT Garuda Indonesia............... 155

BAB 1
ANALISIS STRATEGI

1.1 Profil Perusahaan


Seiring semakin meningkatnya permintaan jasa industri penerbangan,
perusahaan terus mengembangkan jaringan penerbangan hingga ke kota-kota
pertumbuhan ekonomi dan wisata baru di wilayah Barat dan Timur Indonesia.
Sejarah penerbangan komersial Indonesia dimulai saat bangsa Indonesia sedang
mempertahankan kemerdekaannya. Penerbangan komersial pertama menggunakan
pesawat DC-3 Dakota dengan registrasi RI 001 dari Calcutta ke Rangoon dan diberi
nama Indonesian Airways dilakukan pada 26 Januari 1949. Pada tahun yang
sama, 28 Desember 1949, pesawat tipe Douglas DC-3 Dakota dengan registrasi PK-
DPD dan sudah dicat dengan logo Garuda Indonesian Airways, terbang dari
Jakarta ke Yogyakarta untuk menjemput Presiden Soekarno. Inilah penerbangan
yang pertama kali dengan nama Garuda Indonesian Airways.
PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. adalah sebuah perusahaan milik negara
Republik Indonesia. Garuda Indonesia saat ini tercatat sebagai perusahaan
penerbangan terbesar ke tiga puluh di dunia. Jumlah karyawan Garuda Indonesia
saat ini mencapai 7.008 orang (termasuk 4.821 karyawan tetap). Garuda Indonesia
berkantor pusat di Cengkareng, Jakarta, Indonesia. Untuk mendukung ekspansi
bisnis perusahaan, perusahaan telah membuka hub-nya yang ketiga di Makassar,
melengkapi 2 hub yang sebelomnya dimiliki perusahaan yaitu di Jakarta dan Bali.
Disamping Makassar yang telah dibuka di pertengahan tahun 2011, Garuda juga
membuka hub Balikpapan dan Medan. Perusahaan kemungkinan akan membuka
hub lainnya di masa datang untuk mengantisipasi perkembangan bisnis yang pesat
di kemudian hari.
Simbol dari perusahaan penerbangan Garuda Indonesia adalah burung
Garuda. Garuda merupakan burung yang kuat dari mitologi Hindu, yang melayani
dewa Wisnu sebagai tunggangan. Selain itu, Garuda juga merupakan lambang
negara Indonesia. Oleh sebab itu burung tersebut juga ditemukan dalam lambang
Negara Republik Indonesia, yang menyatakan Garuda Pancasila. Selain berpusat di
Jakarta, Garuda Indonesia juga memiliki kantor perwakilan yang tersebar di hampir
seluruh kota besar di Indonesia dan juga kota-kota di luar negeri. Garuda
merupakan sebuah perusahaan yang besar dan juga memiliki beberapa anak
perusahaan yang bergerak dalam bisnis atau usaha pendukung bisnis penerbangan
seperti PT GMF Aero Asia (pusat pelayanan perawatan pesawat terbang), PT
Aerowisata (perusahaan yang bergerak dibidang jasa perhotelan, travel, dan
catering), PT Abacus (perusahaan penyedia layanan sistem reservasi untuk
penerbangan), dan PT Gapura Angkasa (penyedia layanan ground handling dalam
bisnis penerbangan).
Sejalan dengan program peremajaan pesawat yang Garuda laksanakan,
mereka juga memperkenalan konsep layanan baru Garuda Indonesia Experience
yang merupakan layanan yang didasarkan pada keramahtamahan dan keunikan
khas Indonesia atau Indonesian Hospitality. Ini sejalan dengan visi perusahaan,
yaitu menjadi perusahaan penerbangan yang handal dengan menawarkan layanan
yang berkualitas kepada masyarakat dunia dengan menggunakan keramahan
Indonesia. Garuda Indonesia mengemban misi khusus sebagai perusahaan
penerbangan pembawa bendera bangsa Indonesia yang mempromosikan Indonesia
kepada dunia. Sebagai perusahaan penerbangan pembawa bendera bangsa nasional,
Garuda Indonesia berjuang sekuat tenaga dalam menegakkan citra bangsa dan
negara melalui pelayanannya. Kini jaringan penerbangan Garuda telah menjangkau
seluruh wilayah Republik Indonesia, sedangkan ke luar negeri meliputi kota-kota
di benua Asia, Australia, dan Eropa. Konsep keramahtamahan Indonesia ini
kemudian diterjemahkan ke dalam ikon-ikon yang mengentalkan panca indera
manusia, yang antara lain tercermin dari penggunaan bahan dan ornamen khas
Indonesia untuk interior pesawat, aroma wewangian dari bunga khas Indonesia,
musik khas Indonesia, dan cita rasa makanan dan minuman khas Indonesia.

1.2 Strategi Bisnis Perusahaan


Garuda Indonesia Airlines merupakan salah satu perusahaan penerbangan
tersukses di Indonesia yang menyasar konsumen premium. Garuda Indonesia
Airlines mengusung konsep kenyamanan sebagai nilai tambahnya. Pada Juni
2007, maskapai Garuda bersama maskapai Indonesia lainnya menerima larangan
untuk rute Eropa karena alasan keselamatan. Akan tetapi pada tahun 2009, larangan
tersebut dicabut. Pada tahun 2008, maskapai ini menerima sertifikat IATA
Operational Safety Audit (IOSA) dari IATA. Hal tersebut mengartikan bahwa
Garuda telah memenuhi standar keselamatan penerbangan internasional.
Di tahun 2011, Garuda juga menjadi sponsor SEA Games dan menjalin
kerjasama dengan Liverpool FC Inggris. Prestasi lainnya yang didapatkan oleh
Garuda Indonesia Airlines di kancah internasional adalah penghargaan Best
International Airline dengan 91% penumpang merasa sangat puas dengan
pelayanan maskapai Garuda Indonesia Airlines. Di tahun 2013 Garuda Indonesia
memperoleh penghargaan World Best Economic Class dan juga World Best
Economic Seat Class. Sekarang ini Garuda telah berhasil meraih penghargaan
sebagai maskapai bintang lima versi Skytrax dan Garuda juga adalah maskapai
Indonesia pertama yang tergabung dalam Skyteam (aliansi maskapai besar dunia),
tentunya ini adalah suatu hal yang membanggakan. Berikut adalah strategi bisnis
yang dilakukan PT Garuda Indonesia agar sukses seperti sekarang ini:
1. Melayani penumpang dengan sangat ramah
Garuda menekankan pada kepuasan pelanggan dengan cara menyeleksi
karyawan yang kompeten di bidangnya. Pramugari/pramugara yang dipilih harus
menjalani berbagai seleksi yang ketat dan sesuai dengan kultur budaya Garuda
Indonesia. Garuda Indonesia menerapkan konsep value proposition dalam
pelayanannya, yaitu memberikan kualitas layanan kepada penumpang melebihi
harga yang telah mereka bayarkan. Pelayanan tersebut biasa dikenal dengan Garuda
Indonesia Experience (GIE). GIE didasari oleh five senses yang berarti sight,
sound, scent, taste, dan touch.
2. Program promosi
Oleh karena Garuda menyasar pasar premium, maka tentu pangsa pasarnya
banyak yang merupakan business traveler. Untuk itu, Garuda seringkali
mengadakan promosi berupa paket tiket perjalanan bisnis yang lebih murah.
3. Garuda Social Miles
Garuda menyediakan layanan reward bagi para frequent flyer Garuda. Dengan
cara ini, maka para pengguna maskapai Garuda Indonesia akan merasa dihargai dan
diperhatikan. Setiap penerbangan, maka konsumen akan mendapatkan poin. Poin
tersebut bisa dikumpulkan dan nantinya dapat ditukarkan oleh tiket menuju
destinasi tertentu sesuai dengan kebijakan Garuda. Selain itu juga dapat menikmati
Sky Lounge (layanan ruang tunggu yang disediakan oleh maskapai anggota
Skyteam di seluruh dunia) dan Sky Priority (layanan prioritas untuk penanganan
check in, loket tiket, pengambilan bagasi, boarding, dan sebagainya di setiap
bandara yang bekerja sama dengan Skyteam di seluruh dunia). Tak cukup itu saja,
ada juga layanan Go Round The World dimana pelanggan dapat terbang kemanapun
di seluruh dunia bersama anggota Skyteam serta menikmati segala fasilitas yang
ditawarkan ke lebih dari 1000 kota destinasi.
4. Menekankan cita rasa Indonesia
Pada saat menaiki pesawat Garuda akan disuguhi oleh makanan khas Indonesia
(untuk penerbangan rute luar negeri) dan juga akan melihat seragam pramugari
Garuda yang sangat mencerminkan budaya Indonesia, yaitu kebaya dan batik
parang Gondosuli. Makanan yang disuguhkan antara lain mini nasi tumpeng
nusantara, tempe, dan jus martebe (markisa dan terong belanda).
5. Hiburan di atas udara
Garuda juga mulai mensejajarkan diri dengan maskapai-maskapai kelas dunia
dengan cara memberikan fasilitas hiburan AVOD (Audio Video On Demand)
berupa televisi di setiap kursi, khususnya untuk armada penerbangan jarak jauh.
Garuda juga menyediakan kursi yang dapat diubah menjadi tempat tidur untuk
business class.
6. Rute yang beraneka ragam
Saat ini Garuda Indonesia mampu melayani perjalanan ke 59 rute domestik dan
sejak bergabungnya Garuda ke dalam Skyteam. Garuda mampu melayani rute
penerbangan ke lebih dari 1000 kota destinasi di seluruh dunia.
7. Menjalin kerja sama dengan Kidzania
Pada 12 Febuari 2015, maskapai Garuda Indonesia menjalin kerja sama dengan
Kidzania dalam meluncurkan program wahana flight simulator games dan mock-up
pesawat A330 Garuda Indonesia di wahana bermain anak-anak Kidzania Pacific
Place, Jakarta. Kerja sama ini merupakan upaya yang sangat baik untuk
meningkatkan brand awareness antara Garuda Indonesia terhadap anak-anak,
terutama para pengunjung Kidzania yang bisa mencapai 600.000 orang per
tahunnya. Dalam program ini, Garuda akan memberikan pendidikan dan
pengenalan dini tentang dunia penerbangan terhadap anak-anak, terutama seputar
pilot, pramugari, serta prosedur keselamatan di dunia penerbangan.

1.3 Corporate Level Strategy


Corporate Level Strategy adalah apabila kita bicara mengenai di dalam
bisnis apa perusahaan akan berpartisipasi dan pembagian sumber daya ke masing-
masing bisnis unit. Berdasarkan corporate level strategy-nya, maka Garuda
Indonesia diklasifikasikan ke dalam perusahaan related diversified firm, yaitu
perusahaan yang beroperasi di bidang industri yang mirip dan mereka berhubungan
satu sama lain melalui operating synergies. Operating synergies ini dapat berupa:
a. kemampuan untuk membagi sumber daya ,
b. kemampuan untuk membagi core competency (sesuatu yang membuat suatu
perusahaan sukses dan memberikan nilai tambah yang signifikan bagi
customer).
Strategi diversifikasi yang dilakukan Garuda berfokus pada produk/jasa
pendukung bisnis perusahaan induk yaitu :
PT Citilink Indonesia
Citilink menjalankan usaha di bidang jasa angkutan udara niaga berbiaya
murah dan optimalisasi pemanfaatan sumber daya yang dimiliki Garuda untuk
menghasilkan barang dan jasa. Citilink mendapat investasi 5 (lima) unit pesawat
Boeing 737-300 dan aset-aset lainnya dari Garuda Indonesia. Disamping itu
terhadap pesawat Airbus A320-200 yang disewa Garuda Indonesia dilakukan sub-
lease ke Citilink. Investasi yang besar pada Citilink ini akan membuat perusahaan
lebih siap bersaing dan memberikan landasan yang kuat untuk pengembangan
usaha di masa mendatang.
PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia (GMFAA)
Perusahaan ini bergerak dibidang pemeliharaan pesawat terbang. Tidak
hanya melayani Garuda saja tapi juga maskapai penerbangan lain, baik nasional
maupun internasional.
Garuda Cargo
CARGO bergerak di bidang jasa angkutan/barang, dengan menggunakan
pesawat-pesawat yang dimiliki oleh Garuda Indonesia. Bersama dengan mitra-
mitra yakni para Agen dan GSSA, Cargo mengirimkan barang untuk wilayah
domestik dan internasional. Selain itu SBU Cargo juga memberikan pelayanan
kepada pengirim baik perusahaan maupun individual melalui agen, GSSA atau
penjualan langsung. Untuk memperluas cakupan pelayanan, SBU Cargo menjalin
kerja sama dengan maskapai lain seperti Korean Airlines, Malaysian Airlines,
China Airlines dan Turkish Airlines. Kota tujuan yang dilayani bersama dengan
maskapai-maskapai tersebut berjumlah sekitar 50 kota di seluruh dunia.
PT Aero Wisata (Aerowisata)
Bergerak pada bidang usaha jasa industri pariwisata dan hospitality, antara
lain perhotelan, jasa boga, transportasi darat, dan keagenan serta tours & travel.
PT Abacus Distribution Systems Indonesia (Abacus DSI)
PT Abacus Distribution Systems Indonesia merupakan perusahaan yang
bergerak di penyedia jasa teknologi informasi dan komunikasi. Ruang lingkup
kegiatan meliputi bidang jasa sistem komputerisasi reservasi, menyewakan
perangkat komputer kepada biro-biro perjalanan, menyediakan fasilitas pelatihan
kepada karyawan biro perjalanan, dan menyediakan petugas yang dapat membantu
mengatasi masalah yang dihadapi oleh biro perjalanan dalam mengoperasikan
Computerized Reservation Systems (CRS).
PT Aero Systems Indonesia (Asyst)
PT Aero Systems Indonesia, sebelumnya dikenal dengan nama PT
Lufthansa Systems Indonesia, berdiri sejak tahun 2005. Diakhir Desember 2010,
Garuda Indonesia memiliki 51% kepemilikan di perusahaan ini, sementara sisanya
sebesar 49% dimiliki oleh PT Aero Wisata. Ruang lingkup kegiatan Aero Systems
Indonesia meliputi bidang jasa konsultasi dan rekayasa sistem teknologi informasi
serta jasa pemeliharaan bagi perusahaan penerbangan maupun industri lain.
PT Garuda Medical Centre (GMC)
Merupakan jasa pelayanan dibidang kesehatan. Sebelum menjadi bisnis unit
tersendiri, GMC adalah divisi kesehatan Garuda Indonesia dan hanya melayani
awak dan karyawan.
Garuda Aviation and Training Education (GATE)
Merupakan lembaga pendidikan dan pelatihan penerbangan. Selain
sebagian besar pilot Garuda mendapatkan lisensi kelayakan terbangnya dari
lembaga ini, beberapa maskapai penerbangan nasional maupun internasional juga
mengirimkan sumber daya manusianya untuk menjalani pelatihan disini.

1.4 Porters Five Forces Analysis


a. The Intensity of Rivalry Among Existing Competitors
Industri penerbangan merupakan salah satu industri yang strategis di
Indonesia. Persaingan yang kuat dalam industri ini diindikasikan dengan semakin
banyaknya maskapai penerbangan domestik dan maskapai penerbangan
internasional yang beroperasi dan mengembangkan rute atau layanan penerbangan
ke seluruh bandara yang terdapat di Indonesia. Maskapai penerbangan domestik
yang kini berada di Indonesia diantaranya adalah Lion Air, Batik Air, Indonesian
Air Asia, Wings Air, Sriwijaya Air, Nam Air, Cardig Air, dan Manunggal Air
Service. Terdapat pula beberapa maskapai internasional, seperti Singapore Airlines,
Malaysia Airlines, Thai Airlines, dan Korea Airlines.
Garuda Indonesia menghadapi persaingan yang berasal dari berbagai
perusahaan penerbangan baik perusahaan penerbangan full service carrier/FSC dan
perusahaan penerbangan low cost carrier/LCC. Berdasarkan undang-undang
tentang penerbangan dan KM No. 26 tahun 2010, full service carrier dinyatakan
sebagai badan usaha angkutan udara niaga berjadwal yang didalam menjalankan
kegiatannya dengan standar maksimum, antara lain pemberian makanan dan
minuman, dan fasilitas ruang tunggu eksekutif (lounge) untuk kelas bisnis dan kelas
utama. Sedangkan low cost carrier dinyatakan sebagai badan usaha angkutan udara
niaga yang menjalankan kegiatannya dengan standar minimum, antara lain hanya
ada satu kelas pelayanan tanpa ada pemberian makanan dan minuman, fasilitas
ruang tunggu eksekutif dan dikenakan biaya untuk bagasi tercatat. Untuk
menanggapi persaingan antar perusahaan penerbangan FSC dan LCC ini, Garuda
Indonesia melaksanakan kegiatan operasional berdasarkan kedua tipe tersebut,
yakni melaksanakan layanan FSC dan LCC. Garuda Indonesia melaksanakan
layanan FSC perseroan dengan brand Garuda Indonesia dan mengembangkan
layanan LCC perseroan dengan brand Citilink.
Persaingan yang dihadapi oleh Garuda Indonesia dan juga maskapai lain,
didasarkan pada beberapa faktor, seperti harga, jadwal, jaringan rute, kualitas
pelayanan, tipe, dan umur pesawat. Garuda Indonesia juga dikenal sebagai premium
airlines yang menawarkan harga tiket relatif mahal jika dibandingkan dengan
maskapai LCC dan cenderung membidik pangsa pasar kelas menengah ke atas.
Dengan demikian Garuda Indonesia harus menghadapi persaingan yang semakin
intensif dengan maskapai penerbangan lainnya.
Garuda Indonesia yang mengadapi persaingan kompetitif dalam industri
penerbangan terus melakukan inovasi bagi pertumbuhan usahanya. Salah satunya
dengan meluncurkan rencana ekspansi yang agresif bernama Quantum Leap.
Quantum Leap berencana melakukan penggandaan armada pesawat dan menaikkan
jumlah penumpang dengan cara menambah rute tujuan domestik maupun
internasional. Selain itu Garuda juga mengadakan overhaul tampilan maskapai
seperti mengubah livery maskapai, seragam staf, dan logo yang diharapkan dapat
menangkap semangat keramahan dan profesionalisme. Garuda Indonesia juga
mengembangkan konsep pelayanan baru berdasarkan keramahan dan keunikan
khas Indonesia yaitu Garuda Indonesia Experience. Pelayanan ini mencakup
berbagai aspek dari kebudayaan, masakan dan keramahan Indonesia dimana mini
nasi tumpeng nusantara dan jus martebe menjadi tanda masakan Garuda Indonesia
yang baru. Dengan segala upaya tersebut diharapkan Garuda Indonesia bisa
menjadi pemimpin pasar penerbangan Indonesia.
Berikut adalah indikator-indikator yang mempengaruhi:
Numerous or equally balanced competitors: Persaingan antar maskapai
penerbangan sangat ketat karena berjumlah banyak. Untuk maskapai lokal
terdapat 22 maskapai yang bersaing khususnya di rute domestik termasuk
Garuda Indonesia.
Slow industry growth: Perkembangan industri penerbangan pesat. Salah
satu indikatornya yakni berbagai perbaikan dan pembenahan pada
infrastruktur yang telah ada saat ini, bahkan pembangunan bandara baru.
Maskapai penerbangan baik swasta maupun nasional berlomba-lomba
untuk menjaring pelanggan dikarenakan banyaknya peluang-peluang baru.
Dengan demikian, persaingan menjadi lebih longgar.
High fixed or storage costs: Biaya untuk meletakkan penyimpanan terhadap
barang-barang yang menjadi kebutuhan. Pada Garuda Indonesia, storage
cost dapat diibaratkan sebagai biaya parkir pesawat di bandara, sehingga
semakin lama pesawat tersebut menganggur di hangar pesawat akan
semakin merugikan sebab ada biaya yang harus dibayarkan kepada pihak
bandara.
Lack of differentiation or switching costs: Dalam industri penerbangan tidak
terdapat perbedaan yang signifikan antar maskapai. Faktor yang menjadi
perbedaan hanya di sektor loyalty dan kualitas. Switching cost nya pun tidak
besar, sebagai contoh seseorang dapat dengan mudah memilih maskapai
lain sesuai keinginan (harga lebih murah, dan sebagainya).
High exit barriers: Faktor yang menjadi penghambat bagi maskapai untuk
keluar dari bisnis tersebut sangat besar dikarenakan untuk mulai bersaing di
industri penerbangan saja membutuhkan modal yang besar.
Dari faktor-faktor tersebut menunjukkan bahwa intensitas persaingan di industri
penerbangan cukup tinggi.
b. Bargaining Power of Customers
Pelanggan Garuda Indonesia dapat dikategorikan menjadi dua kelompok,
yakni pelanggan yang mengunakan rute penerbangan domestik dan internasional.
Sebagai premium airlines, konsumen layanan FSC dengan brand Garuda Indonesia
yang menggunakan rute penerbangan domestik adalah pelanggan yang berada pada
pangsa pasar menengah ke atas. Layanan LCC yakni Citilink ditunjukan kepada
konsumen yang menggunakan rute penerbangan domestik yang berada pada pangsa
pasar kelas ekonomi. Dengan demikian untuk melayani pelanggan rute
penerbangan domestik, perusahaan telah megembangkan layanan FSC dan LCC
yang dapat menjangkau seluruh pangsa pasar di Industri penerbangan domestik.
Menggunakan rute penerbangan internasional antara lain jamaah haji, pihak
pemerintah, dan konsumen lain yang menggunakan layanan penerbangan Garuda
Indonesia. Jamaah haji merupakan konsumen tetap layanan penerbangan
internasional Garuda Indonesia setiap tahun. Layanan penerbangan kepada jamaah
haji memberikan kontribusi yang cukup besar bagi pendapatan usaha PT Garuda
Indonesia.
Persaingan dengan sebagian besar maskapai pesaing yang berusaha merebut
kesetiaan pelanggan dilakukan dengan menawarkan kepada pelanggan harga tiket
yang lebih murah dapat diantisipasi oleh PT Garuda Indonesia dengan menawarkan
tiket dengan harga promosi kepada pelanggan. Keuntungan bagi pelanggan adalah
mendapatkan tiket yang murah dengan tetap menikmati kualitas pelayanan terbaik
dari Garuda Indonesia. Dengan demikian, PT Garuda Indonesia juga menciptakan
peluang bagi masyarakat untuk memilih menggunakan layanan penerbangan
Garuda Indonesia.
Berikut adalah indikator-indikator yang mempengaruhi:
Concentrated or purchases large volumes relative to seller sales: Untuk
kelas ekonomi kekuatan pelanggan tidak terlalu kuat karena ada kelas yang
lebih tinggi (Business dan First Class) yang lebih diprioritaskan oleh
Garuda Indonesia. Untuk kelas lebih tinggi, power of buyers lebih kuat. Dari
sisi volume pembelian, customer lebih banyak membeli dengan volume
yang kecil, tidak bersifat korporasi.
The products it purchases from the industry are standard or
undifferentiated: Terdapat banyak pilihan maskapai penerbangan bagi
pembeli. Pilihan memang banyak akan tetapi faktor lain seperti kualitas dan
loyalti juga menjadi pertimbangan.
The buyer faces few switching costs: Switching cost dari produk yang sudah
ada rendah bagi pelanggan karena produk jasa merupakan produk jangka
pendek (setelah flight bisa dengan mudah ganti maskapai). Jika dari sisi fitur
tambahan mungkin terdapat pertimbangan tersendiri, akan tetapi dari sisi
keselamatan sebenarnya sudah terdapat standar yang ditetapkan.
It earns low profits: Keuntungan yang didapatkan pelanggan dengan
memilih maskapai penerbangan Garuda Indonesia besar meliputi fasilitas
dan kualitas pelayanan yang sudah terpercaya.
The buyers pose a credible threat of backward integration: Untuk mencapai
suatu tujuan penerbangan terdapat banyak pilihan maskapai sehingga
pelanggan tidak bergantung pada satu maskapai saja.
The industrys product is unimportant to the quality of the buyers products
or services: Kualitas menjadi faktor yang penting bagi pelanggan.
Dari faktor-faktor tersebut dapat disimpulkan bahwa bargaining power of
customers berada dalam posisi menengah artinya kekuatan pelanggan cukup
berpengaruh terhadap Garuda Indonesia.

c. Bargaining Power of Supplier


Pemasok yang dimiliki perusahaan penerbangan adalah pihak-pihak yang
menyuplai bahan baku yang diperlukan perusahaan untuk dapat melaksanakan
kegiatan operasional perusahaan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk memiliki
beberapa pemasok yang mendukung kegiatan operasionalnya antara lain PT
Angkasa Pura (Persero), pemasok bahan bakar, produsen dan mesin armada
pesawat.
PT Angkasa Pura (Persero) adalah badan usaha milik Negara yang
memberikan pelayanan pengoperasian bandara di Indonesia. Pelayanan yang
disuplai PT Angkasa Pura (Persero) yakni mencakup penggunaan fasilitas bandara
seperti sewa tempat penjualan tiket dan ruangan kantor, jasa pengendalian lalu
lintas udara, jasa pengendalian di darat, dan jasa penerbangan lainnya. Dengan
berbagai jasa dan pelayanan yang diterima, Garuda Indonesia menerima tagihan
setiap bulan atas penggunaan fasilitas dan pelayanan di setiap bandara di Indonesia
dimana perusahaan beroperasi.
Bahan bakar sangat diperlukan dalam pelaksanaan operasional perusahaan
penerbangan. Pemasok bahan bakar Garuda Indonesia terdiri atas Pertamina dan
beberapa pemasok Internasional. Sebagian besar bahan bakar pesawat yang
digunakan oleh Garuda Indonesia, yakni sebesar 70% termasuk semua bahan bakar
pesawat yang diperlukan untuk penerbangan domestik berasal dari satu sumber
yaitu Pertamina. Perjanjian pasokan bahan bakar dengan Pertamina berlangsung
selama lima tahun. Penetapan harga bahan bakar mengacu pada harga posting
produksi dalam negeri. Sedangkan, perjanjian dengan pemasok internasional
berlaku selama satu sampai dua tahun dimana penetapan harga bahan bakar
internasional mengacu pada harga dasar rata-rata minyak yang dipublikasikan oleh
Platts melalui Singapura berdasarkan Mean of Platts Singapore (MOPS), Mean of
Platts Arab Gulf (MOPAG), Teluk Arab, Saudi Arabia dan Belanda yang
diterbitkan oleh ARAMCO atau Rotterdam.
Garuda Indonesia juga memerlukan pemasok armada pesawat dan mesin
yang mendukung penyediaan suku cadang terkait kegiatan usaha penerbangan
perusahaan. Garuda Indonesia menggunakan armada pesawat yang diproduksi oleh
dua pemasok, yakni Boeing dan Airbus. Sedangkan mesin yang digunakan oleh
armada pesawat diproduksi oleh CFM International S.A. (joint venture) antara
Snecma (SAFRAN Group) di Perancis dan General Electric di Amerika Serikat dan
Rolls-Royce Plc. Pembelian armada pesawat dan suku cadang yang diperlukan
Garuda Indonesia dilaksanakan sesuai dengan perjanjian pembelian. Sehingga
Garuda Indonesia dapat mendapatkan persetujuan harga yang terjangkau dengan
kualitas suku cadang terbaik dengan para pemasok.
Berikut adalah indikator-indikator yang mempengaruhi:
The supplier group is dominated by few companies and is more
concentrated than the industry it sells to: Produk pesawat, bahan bakar, dan
suku cadang didominasi oleh sedikit pemasok, misalnya produk pesawat
didominasi Airbus dan Boeing.
The supplier group is not obliged to contend with subtitute products for sale
to the industry: supply produk utama tidak dapat disubstitusikan dengan
produk lain, misalnya bahan bakar harus avtur.
The industry is not an important customer of the supplier group: Garuda
Indonesia merupakan salah satu maskapai penerbangan yang besar,
sehingga cukup penting bagi suppliernya namun tidak signifikan sebab yang
menjadi customer dari supplier (produk pesawat dan bahan bakar) itu
sendiri cukup banyak (maskapai penerbangan lain).
The suppliers product is an important input to the buyers business: produk
dari supplier (pesawat, bahan bakar, dan suku cadang) penting bagi Garuda
Indonesia.
The supplier groups products are differentiated or it has built up switching
costs for the buyer: produk pemasok (pesawat dan avtur) merupakan produk
yang undifferentiated, cukup kuat karena pemasoknya sedikit.
The supplier group poses a credible threat of forward integration: Garuda
Indonesia bergantung kepada pemasoknya. Sebagai contoh avtur, Pertamina
memegang kendali terhadap harga bahan bakar.
Dari faktor-faktor tersebut menunjukkan bahwa bargaining power of suppliers
berada dalam posisi kuat artinya kekuatan pemasok berpengaruh besar terhadap
Garuda Indonesia.

d. Threat of Substitutes
Produk substitusi (pengganti) transportasi udara adalah jasa transpotasi laut
dan darat. Penggunaan jasa transportasi pengganti dapat menjadi pilihan bagi
pelanggan jika jarak yag ditempuh pendek dan biayanya lebih rendah dibandingkan
dengan menggunakan transportasi udara. Jasa transportasi darat yang dapat menjadi
produk pengganti adalah berupa kereta api, bus, atau mobil. Pelanggan yang lebih
memilih produk pengganti kereta api adalah pelanggan yang berasal dari dan
hendak menuju kota-kota yang ada di Pulau Jawa yang tersedia layanan kereta api.
Sedangkan penggunaan produk pengganti berupa bus/mobil ataupun jasa
transportasi laut akan dilakukan pelanggan dengan pertimbangan biaya yang
dikeluarkan. Namun, tingkat mobilitas yang tinggi saat ini mengakibatkan jasa
transportasi angkatan udara menjadi pilihan yang tepat bagi masyarakat untuk
menunjang aktivitasnya. Karena dengan menggunakan jasa transportasi angkutan
udara memberikan waktu tempuh yang jauh lebih cepat bagi pelanggannya.

e. Threat of New Entrants


Sebagai akibat dari persaingan yang kompetitif dalam industri penerbangan,
Garuda Indonesia menghadapi masuknya pesaing baru baik dari pasar domestik
maupun internasional. Pesaing baru ini sebagian besar adalah penerbangan dengan
biaya murah (Low Cost Carrier). Masuknya pesaing baru khususnya LCC
menimbulkan beberapa perubahan dalam industri penerbangan secara keseluruhan.
Perubahan-perubahan yang dialami telah meningkatkan kapasitas tempat duduk
penumpang dan meningkatan persaingan harga pada rute-rute penerbangan yang
telah tersedia.
PT Citilink Indonesia adalah anak perusahaan PT Garuda Indonesia
(Persero) Tbk yang bergerak di bidang angkutan niaga yang berjadwal yang
berbiaya murah. Pengembangan layanan LCC melalui Citilink adalah cara
perusahaan untuk bersaing dengan pesaing baru dan mendapatan pangsa pasar
ekonomi yang telah dikuasai oleh para pesaing. Sehingga dengan perusahaan
mengembangkan layanan FSC perusahaan yakni Garuda Indonesia dan layanan
LCC perusahaan yakni Citilink, diharapkan perusahaan dapat mampu bersaing
dengan pesaing baru dan menguasai pangsa pasar di industri penerbangan
Indonesia.
Berikut adalah indikator-indikator yang mempengaruhi:
Economic of Scale: Biaya produksi total yang dibutuhkan untuk 1 (satu)
orang sampai ke tujuan besar meliputi flight operation (bahan bakar),
ticketing, sales and promotion, maintanance and overhaul, dan airport
charges. Sulit bagi kompetitor untuk dapat masuk bersaing dengan Garuda
Indonesia karena biaya yang besar.
Product differentiation: Brand Garuda Indonesia sudah terpercaya menjadi
maskapai penerbangan yang berkualitas, aman, dan nyaman sehingga sulit
bagi kompetitor baru untuk bersaing.
Capital Requirement: Dari laporan keuangan Garuda Indonesia tahun 2014
tercatat bahwa arus kas untuk investasi mencapai USD 51,8 juta yang
merupakan jumlah besar bagi kompetitor baru untuk berkompetisi.
Switching Cost: Barrier bagi kompetitor baru untuk mendapatkan pelanggan
tidak begitu besar karena pada umumnya pelanggan melihat nilai tambah
yang bisa didapatkan dari maskapai penerbangan lain. Contohnya: tarif
penerbangan.
Access to distribution channel: Akses bagi maskapai penerbangan baru
untuk masuk telah tersedia namun yang menjadi hambatan utama yakni
modal yang besar.
Cost disadvantages Independent of Scale: Akses bagi kompetitor baru untuk
bahan baku tidaklah sulit karena sudah ada pemasoknya masing-masing
(contoh: pesawat Boeing bahan bakar dari Pertamina). Dalam hal dukungan
dari sisi pemerintah, cukup sulit bagi kompetitor baru untuk mampu
berkompetisi dengan Garuda Indonesia sebab Garuda Indonesia merupakan
bagian dari BUMN yang secara langsung dipantau oleh pemerintah.
Dari beberapa faktor tersebut dapat disimpulkan bahwa terdapat sedikit ancaman
bagi new entrants untuk dapat berkompetisi secara langsung.
BAB 2
ANALISIS PRAKTIK MANAJEMEN LABA

2.1 Pengertian Laba Akuntansi


Pengertian laba yang dianut oleh struktur akuntansi adalah laba
akuntansi yang merupakan selisih antara pengukuran pendapatan dan biaya. Besar
kecilnya laba sebagai kenaikan aktiva sangat tergantung pada ketepatan pengukuran
pendapatan dan biaya. Jadi dalam hal ini laba hanya merupakan angka artikulasi
dan tidak dapat didefinisikan tersendiri secara ekonomik seperti halnya aktiva dan
atau hutang.
Laba akuntansi adalah perbedaan antara revenue yang direalisasi yang
timbul dari transaksi pada periode tertentu dihadapkan dengan biaya-biaya
yang dikeluarkan pada periode tersebut.
Untuk menghitung laba ini, masing-masing orang atau perusahaan dapat
menentukan rumus perhitungan labanya tersendiri. Laba merupakan
informasi penting dalam suatu laporan keuangan. Angka ini penting untuk :
a. Perhitungan pajak, berfungsi sebagai dasar pengenaan pajak yang akan
diterima Negara.
b. Untuk menghitung deviden yang kan dibagikan kepada pemilik dan yang kan
ditahan dalam perusahaan.
c. Sebagai pedoman dalam menentukan kebijaksanaan investasi dan
pengambilan keputusan.
d. Menjadi dasar dalam peramalan laba maupun kejadian ekonomi perusahaan
lainnya di masa yang akan datang.
e. Sebagai dasar dalam perhitungan dan penilaian efisiensi.
f. Untuk menilai prestasi atau kinerja perusahaan/segmen perusahaan divisi.

2.2 Pengertian Manajemen Laba


Pengertian manajemen laba menurut para ahli:
1. Schipper (1989) dalam Rahmawati dkk. (2006) menyatakan bahwa
manajemen laba merupakan suatu intervensi dengan tujuan tertentu dalam
proses pelaporan keuangan eksternal, untuk memperoleh beberapa
keuntungan privat (sebagai lawan untuk memudahkan operasi yang netral
dari proses tersebut).
2. Menurut Assih dan Gudono (2000) manajemen laba adalah suatu proses
yang dilakukan dengan sengaja dalam batasan General Addopted
Accounting Principles (GAAP) untuk mengarah pada tingkatan laba yang
dilaporkan.
3. Fischer dan Rozenzwig (1995) mendefinisikan manajemen laba sebagai
tindakan manajer yang menaikkan (menurunkan) laba yang dilaporkan dari
unit yang menjadi tanggung jawabnya yang tidak mempunyai hubungan
dengan kenaikan atau penurunan profitabilitas perusahaan dalam jangka
panjang.
4. Menurut Healy dan Wallen (1999) manajemen laba terjadi ketika manajer
menggunakan judgement dalam laporan keuangan dan penyusunan
transaksi untuk mengubah laporan keuangan, sehingga menyesatkan
stakeholders tentang kinerja ekonomi perusahaan atau untuk mempengaruhi
hasil yang berhubungan dengan kontrak yang tergantung pada angka
akuntansi.

2.3 Sasaran Manajemen Laba


Menurut Ayres (1994:27-29) terdapat unsur-unsur laporan keuangan yang
dapat dijadikan sasaran untuk dilakukan manajemen laba yaitu :
Kebijakan Akuntansi
Keputusan manajer untuk menerapkan suatu kebijakan akuntansi yang
wajib diterapkan oleh suatu perusahaan, yaitu antara menerapkan
akuntansi lebih awal dari waktu yang ditetapkan atau menundanya
sampai saat berlakunya kebijakan tersebut.
Pendapatan
Dengan mempercepat atau menunda pengakuan akan pendapatan / biaya,
menganggap sebagai beban/ biaya atau menganggap sebagai suatu
tambahan investasi atas suatu biaya (amortize or capitalize
of investment).

2.4 Motivasi Manajemen Laba


Dalam Positif Accounting Theory terdapat tiga faktor pendorong yang
melatarbelakangi terjadinya manajemen laba (Watt dan Zimmerman, 1986), yaitu:
a. Bonus Plan Hypothesis
Manajemen akan memilih metode akuntansi yang memaksimalkan
utilitasnya yaitu bonus yang tinggi. Manajer perusahaan yang memberikan
bonus besar berdasarkan laba lebih banyak menggunakan metode akuntansi
yang meningkatkan laba yang dilaporkan.
b. Debt Covenant Hypothesis
Manajer perusahaan yang melakukan pelanggaran perjanjian kredit
cenderung memilih metode akuntansi yang memiliki dampak meningkatkan
laba (Sweeney, 1994 dalam Rahmawati dkk, (2006). Hal ini untuk menjaga
reputasi mereka dalam pandangan pihak eksternal.
c. Political Cost Hypothesis
Semakin besar perusahaan, semakin besar pula kemungkinan perusahaan
tersebut memilih metode akuntansi yang menurunkan laba. Hal tersebut
dikarenakan dengan laba yang tinggi pemerintah akan segera mengambil
tindakan, misalnya: mengenakan peraturan antitrust, menaikkan pajak
pendapatan perusahaan, dan lain-lain.

2.5 Bentuk Manajemen Laba


Taking a Bath / Big Bath
Digunakan selama periode organizational stress atau reorganisasi . jika
manajer merasa harus melaporkan kerugian, maka ia akan melaporkan
dalam jumlah besar. Dengan ini manajer berharap dapat meningkatkan
laba yang akan datang dan kesalahan atas kerugian perusahaan dapat
ditimpahkan ke manajer lama, jika terjadi pergantian manajer.

Income Minimization
Dipilih selama periode dengan profitabilitas tinggi, sehingga jika
periode yang akan datang diperkirakan laba turun drastis , dapat diatasi
dengan pengambilan jatah laba sebelumnya.
Income Maximization
Dilakukan manajer terutama untuk tujuan mendapatkan bonus.
Perusahaan yang berada pada pelanggaran syarat perjanjian utang juga
melakukan income maximization.
Income Smoothing
Dilakukan dengan meratakan laba yang dilaporkan, dengan tujuan
pelaporan eksternal, terutama bagi investor, karena umumnya investor
adalah risk averse dan menyukai laba yang relatif stabil.
Cookie Jar
Manajemen secara bebas membentuk cadangan dimasa booming yang
kemudian digunakan untuk meratakan laba dimasa sulit . dimasa
booming tersebut cadangan cenderung diperbesar sehingga dapat
digunakan pada saat perusahaan mengalami kerugian atau penurunan
laba agar perusahaan tidak terlihat jelek.
Revenue Recognition
Penjualan periode dimasa datang diakui sebagai penjualan pada periode
berjalan dan menggeser biaya penjualan periode berjalan ke periode
mendatang untuk menghasilkan laba tahun berjalan yang lebih tinggi
atau sebaliknya jika ingin menurunkan laba.

2.6 Model Pendeteksi Manajemen Laba


1. Beneish Model (M-Score)
Sebuah model matematika di ciptakan untuk menemukan apakah sebuah
perusahaan melakukan manipulasi laporan keuangan atau tidak, yaitu di sebut
dengan Beneish Model atau M-Score. Beneish Model melakukan breakdown
financial statement suatu perusahaan menjadi 8 variabel yaitu:

1. DSRI: Day Sales in Receivable Index.


2. GMI: Gross Margin Index.
3. AQI: Asset Quality Index.
4. SGI: Sales Growth Index.
5. DEPI: Depreciation Index.
6. SGAI: Sales & General Administrative Index.
7. LVGI: Leverage Index.
8. TATA: Total Accrual to Total Assets.

Kemudian dari 8 variable tersebut di kombinasikan dan di hasilkan suatu


score di sebut dengan M-Score. Apabila nilai M-Score di bawah -2.22
maka kemungkinan perusahaan tersebut prudent, tetapi apabila M-Score lebih besar
dari -2.22 maka kemungkinan perusahaan tersebut melakukan manipulasi pada
laporan keuangannya.
Perhitungan (M-Score) menggunakan data-data dari laporan keuangan
perusahaan dua tahun berturut-turut. Data yang dibutuhkan adalah :
1. Net Sales
2. Cost of Goods
3. Net Receivables
4. Current Assets
5. Property, Plant and Equipment
6. Depreciation
7. Total Assets
8. Selling, General and Administrative Expenses,
9. Net Income
10. Cash Flow from Operations
11. Current Liabilities
12. Long-Term Debt
2. Analisis Praktik Manajemen Laba pada PT. Garuda Indonesia,
Tbk
Dalam makalah ini, penulis menggunakan Beneish Model untuk
menganalisis manajemen laba pada PT. Garuda Indonesia, Tbk. Perhitungan
analisis ini menggunakan excel spreadsheet. Kemudian data financial statement
yang menjadi parameter diinputkan seperti pada gambar :

Dari perhitungan excel spreadsheet didapatlah hasil sebagai berikut


Berdasarkan hasil perhitungan (M-Score), terlihat bahwa hasil akhir (M-
score) PT Garuda Indonesia, Tbk berada pada angka -2,603 yang mana score
tersebut di bawah -2,22 sehingga kemungkinan perusahaan tersebut prudent. Dari
hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa PT Garuda Indonesia, Tbk tidak melakukan
praktik manajemen laba pada periode tahun 2015.
BAB 3
ANALISIS AKTIVITAS PENDANAAN

3.1 Analisis Liabilitas PT Garuda Indonesia, Tbk.

Perseroan mencatat peningkatan dalam jumlah liabilitas sebesar 5,63%


dari US$2,23 miliar pada akhir tahun 2014 menjadi US$2,36 miliar pada tahun
2015. Peningkatan tersebut terutama didorong kenaikan jumlah liabilitas jangka
panjang.

3.1.1 Liabilitas Jangka Pendek


Perseroan membukukan liabilitas jangka pendek tahun 2015 sebesar US$1,20
miliar atau turun tipis sebesar US$23,52 juta yang setara dengan 1,93%
dibandingkan dengan liabilitas jangka pendek tahun 2014 yang berjumlah
US$1,22 miliar. Penurunan ini antara lain disebabkan oleh:
Penurunan utang usaha sebesar 30,72% ditahun 2015 menjadi US$149,35
juta dari US$215,59 juta di tahun 2014, terutama akibat penurunan utang
kepada PT Pertamina.
Penurunan liabilitas jangka panjang yang jatuh tempo dalam satu tahun
sebesar 59,11%, dari US$421,14 juta di tahun 2014 menjadi US$172,22
juta di tahun 2015. Penurunan tersebut terutama akibat penurunan sebesar
71,83% pada pinjaman jangka panjang yang jatuh tempo dalam satu tahun
terkait pelunasan utang kepada kreditor seperti Bank Permata, BRI, BII,
Standard Chartered Bank, dan BCA.

1. Utang Bank dan Lembaga Keuangan

Hasil Analisis:
Pada akhir tahun 2015, utang bank dan lembaga keuangan mengalami
peningkatan yang cukup signifikan dikarenakan perusahaan memperoleh fasilitas
kredit dari Bank Rakyat Indonesia dan Bank ICBC dengan nominal yang berkali
lipat dari tahun sebelumnya. Sedangkan peningkatan lain dikarenakan yang pada
tahun sebelumnya perusahaan tidak memiliki utang bank terhadap bank-bank
seperti Bank Permata, Bank of China, dan lainnya, tetapi pada tahun 2015
perusahaan menambah utangnya pada bank dan lembaga keuangan tersebut.
Adapun tujuan dari perusahaan berhutang adalah untuk pembelian avtur dari
Pertamina, pemeliharaan pesawat oleh GMFAA, kebutuhan modal kerja, dan
keperluan umum perusahaan lainnya.

2. Utang Usaha

Hasil Analisis:
Pada utang usaha pihak berelasi, terdapat penurunan yang cukup
signifikan dari tahun 2014 ke tahun 2015. Hal ini terutama dikarenakan penurunan
utang usaha pada PT Pertamina. Transaksi dengan PT Pertamina (Persero) berupa
transaksi pembelian bahan bakar pesawat khususnya rute domestik dan beberapa
rute internasional sedangkan PT Angkasa Pura I (Persero) dan PT Angkasa Pura II
(Persero) berkaitan dengan jasa kebandaraan.

3. Utang Lain-lain

Hasil Analisis:
Pada tahun 2014 utang lain-lain perusahaan sebesar US$ 24.196.608 dan
tahun 2015 sebesar US$ 49.901.950. Hal tersebut memperlihatkan bahwa terjadi
kenaikan dua kali lipat dari tahun sebelumnya.

4. Utang Pajak
Hasil Analisis:
Terjadi kenaikan yang cukup signifikan pada utang pajak dari tahun 2014
hingga tahun 2015. Hal ini dikarenakan penambahan dalam jumlah besar pada
akun pajak lain-lain di perusahaan. Sedangkan pajak penghasilan dan pajak
pertambahan nilai, serta pada entitas anak menunjukkan nominal yang tidak
terlalu berfluktuatif.

5. Beban Akrual

Hasil Analisis:
Untuk akun beban akrual, perusahaan mengalami perbaikan dengan
dibuktikan dari penurunan jumlah dari US$ 224juta menjadi US$ 181juta pada
tahun 2014 ke tahun 2015.

6. Pendapatan Diterima Dimuka

Hasil Analisis:
Pendapatan diterima dimuka perusahaan terdiri dari jasa penerbangan
berjadwal dan lainnya. Untuk jasa penerbangan berjadwal pada tahun 2015 lebih
sedikit daripada tahun 2014, yaitu sebesar US$ 175juta. Sedangkan lain-lain
cukup stabil.

3.1.2 Liabilitas Jangka Panjang


Perseroan membukukan liabilitas jangka panjang tahun 2015 sebesar
US$1,16 miliar atau naik sebesar US$149,19 juta yang setara dengan 14,71%
dibandingkan tahun 2014 yang berjumlah US$1,01 miliar yang terutama dipicu
oleh kenaikan utang obligasi seiring penerbitan sukuk. Perseroan menerbitkan
sukuk dalam denominasi Dollar AS pada semester pertama tahun 2015 sebesar
US$500,00 juta sebagian dari program Quick Wins untuk me-reprofile utang yang
akan jatuh tempo tahun 2015 dan 2016.

1. Pinjaman Jangka Panjang


Hasil Analisis:
Pinjaman jangka panjang perusahaan menurun drastis dari tahun 2014 ke
tahun 2015. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan telah mulai menyicil bahkan
melunasi hutang-hutangnya kepada perusahaan dan bank-bank yang terkait
dengan operasi perusahaan. Pinjaman biasanya dibayarkan sesuai dengan kontrak
yang berisikan kapan akan membayar, berapa jumlah nominal yang akan
dibayarkan tiap periode, dan sebagainya. Penurunan tersebut hampir sampai
empat kali lipat, yaitu dari US$ 446 juta menjadi US$ 133juta.

2. Liabilitas Sewa Pembiayaan

Hasil Analisis:
Grup melakukan transaksi sewa pesawat Airbus tipe A-330 yang dibiayai
oleh Export Development Canada (EDC) untuk sewa pesawat CRJ1000 dengan
masa sewa 2012 2022. Grup juga melakukan transaksi sewa dengan PT
Hewlett-Packard Finance Indonesia, PT Century Tokyo Leasing Indonesia dan PT
Orix Indonesia atas transaksi sewa perangkat keras dan lunak dengan masa sewa 3
tahun. Pembayaran minimum sewa dibayar berdasarkan perjanjian sewa.

3. Liabilitas Estimasi Biaya Pengembalian dan Pemeliharaan Pesawat

Hasil Analisis:
Liabilitas estimasi biaya pengembalian dan pemeliharaan pesawat
perusahaan ini dari tahun 2014 hingga tahun 2015 menunjukkan angka yang
stabil. Sehingga tidak perlu dipermasalahkan.

4. Utang Obligasi
5. Liabilitas Pajak Tangguhan
Hasil Analisis:
Aset dan liabilitas pajak tangguhan diakui atas konsekuensi pajak periode
mendatang yang timbul dari perbedaan jumlah tercatat aset dan liabilitas menurut
laporan keuangan dengan dasar pengenaan pajak aset dan liabilitas. Liabilitas
pajak tangguhan diakui untuk semua perbedaan temporer kena pajak dan aset
pajak tangguhan diakui untuk perbedaan temporer yang boleh dikurangkan dan
rugi fiskal, sepanjang besar kemungkinan dapat dimanfaatkan untuk mengurangi
laba kena pajak pada masa datang.
Pajak tangguhan diakui atas perbedaan temporer antara jumlah tercatat
aset dan liabilitas dalam laporan keuangan konsolidasian dengan dasar pengenaan
pajak yang digunakan dalam perhitungan laba kena pajak. Liabilitas pajak
tangguhan umumnya diakui untuk keseluruhan perbedaan temporer kena pajak.
Aset pajak tangguhan umumnya diakui untuk seluruh perbedaan temporer yang
dapat dikurangkan sepanjang kemungkinan besar bahwa laba kena pajak akan
tersedia sehingga perbedaan temporer dapat dimanfaatkan. Aset dan liabilitas
pajak tangguhan tidak diakui jika perbedaan temporer timbul dari pengakuan awal
(bukan kombinasi bisnis) dari aset dan liabilitas suatu transaksi yang tidak
mempengaruhi laba kena pajak atau laba akuntansi. Selain itu, liabilitas pajak
tangguhan tidak diakui jika perbedaan temporer timbul dari pengakuan awal
goodwill.

6. Liabilitas Tidak Lancar Lainnya


Hasil Analisis:
Akun liabilitas tidak lancar lainnya menunjukkan angka yang stabil dari
tahun 2014 ke tahun 2015. Oleh karena itu, perbedaan tidak terlalu
dipermasalahkan.

3.2 Analisis Ekuitas PT Garuda Indonesia, Tbk.

Ekuitas mengalami kenaikan sebesar 8,10% menjadi US$950,72 juta


dibandingkan tahun 2014 yang sebesar US$879,47 juta. Kenaikan ini terutama
terkait dengan keuntungan Perseroan di tahun 2015.
1. Modal Saham

Hasil Analisis:
Saham Seri A adalah saham khusus yang dimiliki oleh Pemerintah dan
mempunyai hak suara khusus. Hak dan batasan yang berlaku pada saham Seri B
juga berlaku bagi saham Seri A, kecuali bahwa Pemerintah tidak dapat
mengalihkan saham Seri A, dan mempunyai hak veto sehubungan dengan (i)
perubahan maksud dan tujuan Perusahaan; (ii) penambahan modal tanpa hak
memesan terlebih dahulu; (iii) penggabungan, peleburan, pengambilalihan dan
pemisahan; (iv) perubahan atas ketentuan-ketentuan yang mengatur hak-hak
saham Seri A sebagaimana diatur dalam Anggaran Dasar; dan (v) pembubaran,
kepailitan dan likuidasi Perusahaan. Saham Seri A juga memiliki hak untuk
menunjuk satu orang direktur dan satu orang komisaris perusahaan.
Berdasarkan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada
tanggal 24 Maret 2014, pemegang saham setuju untuk menerbitkan 3.227.930.633
saham seri B atau 12,48% dari total saham diterbitkan dan dimandatkan kepada
dewan komisaris untuk menetapkan realisasi perubahan modal sehubungan
dengan penerbitan saham. Total saham sesudah penerbitan saham sebanyak
25.868.926.633. Perusahaan menawarkan saham Seri B pada saat penerbitan
saham dengan maksimum dana diterima sebanyak Rp 1.484.848.091.180 (setara
dengan USD 130.204.652) dengan harga jual Rp 460 per lembar saham. Total
tambahan modal sebanyak Rp 1.481.620.160.547 (setara dengan USD
163.401.680) dengan nilai par Rp 456 per lembar saham.

2. Tambahan Modal Disetor


Hasil Analisis:
Penyertaan Modal Pemerintah (PMP) sebesar Rp 8.401.219.715 (setara
dengan USD 4.088.185) dicatat sebagai tambahan modal disetor karena
Perusahaan belum melakukan peningkatan modal disetor.
Agio saham tercatat sebesar Rp 3.227.930.633 (setara dengan USD
283.152), timbul dari penerbitan saham penawaran umum terbatas yang dilakukan
Perusahaan di tahun 2014. Nilai pasar saham sebesar Rp 460/lembar dan nilai
nominal sebesar Rp 459/lembar.
Agio saham berasal dari selisih nilai par sebesar Rp 750 per saham dan
nilai nominal sebesar Rp 500 per saham pada saat penawaran umum perdana
Perusahaan pada tahun 2011. Total agio saham sebelum biaya emisi efek sebesar
Rp 1.100.000.000.000 (setara dengan USD 121.453.020).
Penyesuian atas tambahan modal disetor sebesar USD 108.518.998
merupakan penyesuaian terkait dengan kuasi-reorganisasi untuk menghapus saldo
defisit Perusahaan pada tanggal 1 Januari 2012.

3. Opsi Saham
4. Saldo Laba Dicadangkan

5. Penghasilan Komprehensif Lainnya

Hasil Analisis:
Cadangan surplus revaluasi timbul dari revaluasi tanah, bangunan dan
pesawat. Ketika tanah, bangunan dan pesawat yang telah dinilai kembali tersebut
dijual, porsi cadangan revaluasi yang terkait dengan aset dipindahkan langsung ke
saldo laba. Bagian penghasilan komprehensif lain yang termasuk dalam cadangan
revaluasi aset selanjutnya tidak akan direklasifikasi ke laba rugi.

6. Kepentingan Non Pengendali

Hasil Analisis:
Kepentingan non pengendali seperti PT Abacus Distribution Systems
Indonesia, PT Aero Wisata, PT Gapura Angkasa merupakan anak perusahan dari
PT Garuda Indonesia, Tbk. itu sendiri. Nominal dari tahun 2014 ke tahun 2015
tidak berbeda signifikan, bahkan dapat dikatakan stabil.

3.3 Analisa Rasio Solvabilitas Pada PT Garuda, Tbk.


Rasio solvabilitas adalah rasio yang menunjukkan kemampuan perusahaan
dalam memenuhi segala kewajibannya baik jangka pendek maupun jangka panjang
apabila perusahaan dilikuidasi. Perusahaan yang memiliki rasio solvabilitas yang
tinggi memiliki risiko kerugian yang lebih besar daripada perusahaan dengan rasio
solvabilitas yang rendah. Oleh karena itu, untuk mengetahui struktur pendanaan
yang dilakukan oleh Garuda maka penulis menggunakan rasio solvabilitas untuk
dijadikan indikator pengukurannya. Berikut ini adalah rasio rasio yang digunakan:
a Debt to Asset Ratio (DAR)
Rasio ini dihitung dengan membagi Total Utang dengan Total Aktiva. Rasio
ini memberikan tolak ukur seberapa besar total aset yang dimiliki oleh perusahaan
yang dibiayai melalui penggunaan utang.

=

Rasio ini memperlihatkan proporsi antara utang yang dimiliki dan seluruh
kekayaan yang dimiliki. Semakin tinggi persentasenya, cenderung semakin besar
risiko keuangannya bagi kreditor maupun pemegang saham karena makin besar
utang yang digunakan untuk pembelian aset.
Debt to Asset Ratio Garuda tahun 2014
US$ 1.169.613.000
DAR = US$ 3.113.079.315

= 37,57 %
Debt to Asset Ratio Garuda tahun 2015
US$ 1.355.341.444
DAR = US$ 3.310.010.986

= 40,95 %
Hasil Analisis:
Pada tahun 2014 rasio DAR perusahaan sebesar 37,57 persen, hal ini
menunjukan bahwa kreditur mendanai perusahaan sebesar 37,57 persen dari total
aktiva yang dimiliki oleh perusahaan. Sedangkan pada tahun 2015 rasio DAR
perusahaan sebesar 40,95 persen, hal ini menunjukan bahwa kreditur mendanai
perusahaan sebesar 40,95 persen dari total aktiva yang dimiliki oleh perusahaan.
Peningkatan rasio DAR dari tahun 2014 ke 2015 ini menunjukan bahwa adanya
peningkatan hutang perusahaan meskipun tidak terlalu tinggi, Hal ini disebabkan
oleh kenaikan jumlah utang finansial (debt financial) terkait terkait ekspansi bisnis
Perseroan. Hingga saat ini, pembayaran utang Perseroan masih dikategorikan
lancar.
b Debt to Equity Ratio (DER)
Debt financial to equity ratio digunakan untuk mengukur kemampuan
Perseroan dalam melunasi utang finansialnya berlandaskan total ekuitas yang
dimiliki. Semakin tinggi rasio ini berarti modal sendiri semakin sedikit dibanding
dengan hutangnya. Bagi perusahaan sebaiknya, besarnya hutang tidak boleh
melebihi modal sendiri agar beban tetapnya tidak terlalu tinggi.

=

Debt to Equity Ratio Garuda tahun 2014


US$ 1.169.613.000
DER = US$ 879.467.591

= 132,99 %
Debt to Equity Ratio Garuda tahun 2015
US$ 1.355.341.444
DER = US$ 950.723.185

= 142,56 %

Hasil Analisis:
Pada tahun 2014 rasio DER perusahaan sebesar 132,99 persen, hal ini
menunjukan bahwa perusahaan dibiayai oleh hutang sebesar 132,99 persen dari
total ekuitas yang dimiliki oleh perusahaan. Sedangkan pada tahun 2015 rasio DER
perusahaan sebesar 142,56 persen, hal ini menunjukan bahwa perusahaan dibiayai
oleh hutang sebesar 142,56 persen dari total ekuitas yang dimiliki oleh perusahaan.
Angka Debt to Equity Ratio (DER) 2015 meningkat dibandingkan dengan tahun
2014, Hal ini disebabkan oleh kenaikan jumlah utang finansial (debt financial)
terkait terkait ekspansi bisnis Perseroan. Namun hingga saat ini, pembayaran utang
Perseroan masih dikategorikan lancar.

3.4 Analisa Rasio Likuiditas Pada PT Garuda, Tbk.


Rasio likuiditas digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam
memenuhi kewajiban finansial jangka pendek.
Current Ratio (CR)
Current Liability
CR =
Current Asset

Current Ratio Garuda tahun 2014


US$ 810.514.943
CR = US$ 1.219.365.356
= 66,47 %
Current Ratio Garuda tahun 2015
US$ 1.007.848.005
CR = = 84,27 %
US$1.195.849.121

Hasil Analisis :
Pada tahun 2014 current ratio perusahaan sebesar 66,47 persen, hal ini
menunjukan bahwa setiap US$ 1 hutang lancar perusahaan dijamin oleh aktiva
lancar sebesar 66,47% dari total aktiva lancar yang dimiliki. Sedangkan pada tahun
2015 CR perusahaan sebesar 84,27 persen, hal ini menunjukan bahwa setiap US$ 1
hutang lancar perusahaan dijamin oleh aktiva lancar sebesar 84,27% dari total
aktiva lancar yang dimiliki. Angka Current Ratio (CR) 2015 meningkat
dibandingkan dengan tahun 2014.
BAB 4
ANALISIS AKTIVITAS INVESTASI

4.1 Analisis Aset PT Garuda Indonesia, Tbk.

Total Aset Perseroan pada tahun 2015 tumbuh sebesar 6,33% menjadi US$
3,31 miliar dari US$ 3,11 miliar pada akhir 2014. Peningkatan ini terutama
disebabkan oleh peningkatan Aset Lancar yang mengalami kenaikan dibandingkan
pada tahun 2014.
4.1.1 Aset Lancar
Aset lancar Perseroan di tahun 2015 tercatat sebesar US$ 1,01 miliar
meningkat US$197,33 juta atau 24,35% dibandingkan dengan aset lancar tahun
2014 yaitu sebesar US$810,51 juta. Peningkatan ini terutama disebabkan oleh:
Peningkatan kas dan setara kas sebesar 19,72% menjadi US$519,97 juta di
tahun 2015 dari US$434,33 juta di tahun 2014, terutama disebabkan oleh
peningkatan kas bersih dari aktivitas operasi dan investasi di tahun 2015.
Peningkatan uang muka dan biaya dibayar di muka di tahun 2015 sebesar
31,42% menjadi US$177,10 juta dari US$134,77 juta di tahun 2014 seiring
peningkatan sewa dibayar di muka serta uang muka terkait sewa pesawat dan
perawatan pesawat.

1. Kas dan Setara Kas


Hasil Analisis:
Jumlah Kas dan Setara Kas perusahaan meningkat dari tahun 2014 sampai
tahun 2015. Peningkatan yang signifikan, contohnya deposito berjangka PT Bank
Mega. Sejak tahun 2015, PT Bank Mega dan PT Bank Mega Syariah adalah
perusahaan yang mempunyai pemegang saham yang sama dengan Perusahaan.
Dalam kegiatan usahanya, perusahaan melakukan transaksi dengan pihak berelasi.
Untuk tujuan penyajian arus kas, kas dan setara kas terdiri dari kas, bank
dan semua investasi yang jatuh tempo dalam tiga bulan atau kurang dari tanggal
perolehannya dan tidak dijaminkan serta tidak dibatasi penggunaannya.

2. Piutang Usaha
Hasil Analisis:
Piutang usaha menunjukkan perubahan angka yang tidak signifikan dari
tahun 2014 ke tahun 2015. Piutang usaha dapat dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu
berdasarkan debitur, berdasarkan mata uang, dan berdasarkan umur piutang usaha
tetapi tidak mengalami penurunan nilai.
Jangka waktu rata-rata kredit penjualan adalah 30-60 hari untuk tahun-
tahun yang berakhir 31 Desember 2015 dan 2014. Bunga tidak dikenakan kepada
pelanggan yang umur piutang usahanya telah jatuh tempo.

3. Piutang Lain-lain

Hasil Analisis:
Manajemen berpendapat seluruh piutang tersebut dapat ditagih sehingga
cadangan kerugian penurunan nilai tidak dibentuk. Terdapat piutang yang baru
muncul pada PT Asuransi Jasa Indonesia. Transaksi dengan PT Asuransi Jasa
Indonesia berkaitan dengan jasa asuransi aset perusahaan.

4. Persediaan
Hasil Analisis:
Akun persediaan tidak berubah secara signifikan. Terdapat akun yang
mengurangi persediaan yang jumlahnya meningkat, yaitu penyisihan penurunan
nilai persediaan. Grup membuat penyisihan penurunan nilai persediaan berdasarkan
estimasi persediaan yang digunakan pada masa mendatang. Walaupun asumsi yang
digunakan dalam mengestimasi penyisihan penurunan nilai persediaan telah sesuai
dan wajar, namun perubahan signifikan atas asumsi ini akan berdampak material
terhadap penyisihan penurunan nilai persediaan, yang pada akhirnya akan
mempengaruhi hasil usaha Grup. Manajemen berpendapat bahwa penyisihan
penurunan nilai persediaan tersebut cukup untuk menutup kerugian yang mungkin
timbul dari penurunan nilai persediaan.

5. Uang Muka dan Biaya Dibayar Dimuka

Hasil Analisis:
Uang muka dan biaya dibayar dimuka meningkat dari tahun 2014 ke tahun
2015 yaitu sebesar US$ 134juta menjadi US$ 177juta. Peningkatan yang paling
signifikan dikarenakan perawatan pesawat itu sendiri. Hal ini dikarenakan selama
masa perjanjian sewa operasi, perusahaan harus membayar di awal dana perbaikan
dan pemeliharaan kepada lessor.
6. Pajak Dibayar Dimuka

Hasil Analisis:
Pajak yang dibayar dimuka pada tahun 2015 meningkat signifikan
dikarenakan yang utama adalah pajak pertambahan nilai. Mengacu pada Peraturan
Pemerintah (PP) Nomor 38 Tahun 2003 tentang Perubahan Atas Peraturan
Pemerintah Nomor 146 Tahun 2000 tentang Impor dan/atau Penyerahaan Barang
Kena Pajak tertentu dan/atau Penyerahaan Jasa Kena Pajak Tertentu yang
Dibebaskan dari Pengenaan Pajak Pertambahan Nilai.
Menunjuk Surat Direktorat Jenderal Pajak Direktorat Peraturan I No. S-
1007/PJ.02/2014 tanggal 29 Oktober 2014 perihal Perlakuan PPN atas Impor Kapal
Laut atau Pesawat Udara dinyatakan bahwa transaksi sewa pesawat dengan skema
sewa operasi (Operating Lease) terhutang PPN. PPN terhutang atas tagihan sewa
pesawat adalah sebesar USD 54.716.988 setara dengan Rp735.707.309.348.
4.1.2 Aset Tidak Lancar
Aset tidak lancar Perseroan di tahun 2015 tercatat relatif stabil US$2,30 miliar
dengan penurunan tipis sebesar 0,02%. Adapun komponen aset tidak lancar yang
mengalami penurunan di tahun 2015, antara lain:
Uang muka pesawat yang mengalami penurunan sebesar 47,42%, dari
US$388,88 juta di tahun 2014 menjadi US$204,47 juta. Penurunan ini terkait
peningkatan penerimaan dari reimbursement uang muka pesawat seiring jumlah
pesawat yang datang pada tahun 2015.
Aset Pajak Tangguhan tahun 2015 sebesar US$104,99 juta turun 12,25% dari
tahun 2014 yang sebesar US$119,65 juta. Penurunan ini terkait keuntungan
Perseroan di tahun 2015.

1. Dana Perawatan Pesawat dan Uang Jaminan

Hasil Analisis:
Sesuai dengan perjanjian sewa operasi untuk pesawat, Perusahaan
diharuskan untuk membayar dana perbaikan dan pemeliharaan untuk pesawat yang
disewa kepada lessor. Dana perbaikan didasarkan atas penggunaan pesawat selama
periode sewa yang mencakup dana perbaikan untuk rangka pesawat, pengembalian
kinerja mesin, dan suku cadang mesin, serta alat pendaratan dan Auxiliary Power
Unit (APU). Selama masa sewa, Perusahaan diwajibkan untuk melakukan
pemeliharaan dan perbaikan rangka pesawat, mesin, APU dan seluruh suku
cadang sesuai dengan standar yang disetujui. Pekerjaan perbaikan dan perawatan
rangka pesawat, mesin dan bagian lainnya secara teratur dikerjakan oleh perusahaan
perbaikan pesawat yang telah ditunjuk (MRO) yang telah memenuhi standar. Pada
tanggal 31 Desember 2015 dan 2014, saldo dana perawatan pesawat masing-masing
sebesar US$ 826.618.920 dan US$ 606.698.350.
Untuk uang jaminan, perusahaan diharuskan membayar atas kewajiban
perusahaan terhadap pembayaran sewa. Pada tanggal 31 Desember 2015 dan 2015,
saldo uang jaminan masing-masing sebesar US$ 186.134.731 dan US$
180.234.967.

2. Uang Muka Pembelian Pesawat


Hasil Analisis:
Akun ini merupakan uang muka pembelian pesawat Boeing 777-
300ER, Boeing 737-800 NG, Boeing 737-800 MAX, Airbus A330-200, Airbus
A320-200, Bombardier CRJ1000, dan ATR 72-600 serta peralatan simulator.

3. Investasi pada Entitas Asosiasi

Hasil Analisis:
Entitas asosiasi yang dimiliki perusahaan seluruhnya beroperasi di
Indonesia. Seluruh entitas dicatat menggunakan metode ekuitas. Tidak terdapat
perubahan yang signifikan pada akun ini.

4. Aset Tetap
Hasil Analisis:
Pesawat, tanah, dan bangunan dinyatakan berdasarkan nilai revaluasi yang
merupakan nilai wajar pada tanggal revaluasi dikurangi akumulasi penyusutan dan
akumulasi rugi penurunan nilai yang terjadi setelah tanggal revaluasi. Revaluasi
dilakukan dengan keteraturan yang memadai untuk memastikan bahwa jumlah
tercatat tidak berbeda secara material dari jumlah yang ditentukan dengan
menggunakan nilai wajar pada tanggal laporan posisi keuangan. Kenaikan yang
berasal dari revaluasi pesawat, tanah dan bangunan diakui pada penghasilan
komprehensif lain dan terakumulasi dalam ekuitas pada bagian surplus revaluasian,
kecuali sebelumnya penurunan revaluasi atas aset yang sama pernah diakui dalam
laporan laba rugi, dalam hal ini kenaikan revaluasi hingga sebesar penurunan nilai
aset akibat revaluasi tersebut, dikreditkan dalam laporan laba rugi. Penurunan
jumlah tercatat yang berasal dari revaluasi pesawat, tanah dan bangunan
dibebankan dalam laporan laba rugi apabila penurunan tersebut melebihi saldo
surplus revaluasi aset yang bersangkutan, jika ada. Surplus revaluasi pesawat, tanah
dan bangunan yang telah disajikan dalam ekuitas dipindahkan langsung ke saldo
laba pada saat aset tersebut dihentikan pengakuannya.
Manajemen berpendapat bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara nilai
wajar dan nilai tercatat aset, jika aset lainnya (selain pesawat, tanah, bangunan dan
prasarana) diukur menggunakan nilai wajar.

5. Properti Investasi

Hasil Analisis:
Perusahaan mempunyai properti investasi berupa tanah dan bangunan.
Penilaian atas nilai wajar properti investasi dilakukan oleh penilai independen
yang telah teregistrasi di OJK, KJPP Iskandar & Rekan untuk tahun 2015, dan
KJPP Fuadah, Rudi & Rekan untuk tahun 2014.
Selisih total yang signifikan tahun 2014 ke tahun 2015 dikarenakan keuntungan
atas revaluasi properti investasi.
6. Aset Tak Berwujud Bersih

Hasil Analisis:
Aset tak berwujud tidak menunjukkan perubahan angka yang signifikan
selama setahun dari 2014 hingga 2015. Lisensi dan perangkat lunak yang
diperoleh dikapitalisasi berdasarkan biaya-biaya yang terjadi untuk memperoleh
dan mempersiapkannya hingga siap digunakan. Biaya-biaya tersebut diamortisasi
dengan menggunakan metode garis lurus berdasarkan estimasi manfaat 3-8 tahun.

7. Aset Lain-lain - Bersih


Hasil Analisis:
Aset lain-lain tidak mengindikasikan perubahan yang signifikan dari tahun
2014 ke tahun 2015, yaitu masing-masing sebesar US$ 45.279.420 dan US$
50.228.056.
Uang jaminan non aircraft merupakan uang jaminan atas sewa gedung
kantor cabang dan biaya utilitas. Aset tidak digunakan terdiri dari bangunan
gedung Garuda Indonesia Training Center (GITC) dan rotable. Kas yang dibatasi
penggunaannya berhubungan dengan pinjaman jangka panjang.
Garuda memiliki saham-saham yang dimaksudkan untuk memperoleh
potensi keuntungan dalam jangka panjang karena perusahaan seperti PT Nusa Dua
Graha International, PT Arthaloka Indonesia, PT Bumi Minang Padang Plaza, dan
lainnya bergerak dalam industri yang sama. Perusahaan-perusahaan tersebut tidak
terdaftar di bursa efek sehingga tidak tersedia nilai wajar dari sahamnya, oleh
karena itu investasi tersebut dinyatakan sebesar biaya perolehan.

4.2 Analisis Tingkat Pengembalian Investasi Pada PT Garuda Tbk


a. Return On Asset (ROA)
adalah ukuran untuk menilai seberapa besar tingkat pengembalian dari aset
yang dimiliki perusahaan.
Laba Bersih
ROA =
Total Aktiva
Tahun Laba Bersih Total Aktiva ROA
2013 11.200.380 2.953.784.952 0,38 %
2014 (368.911.279) 3.113.079.315 -11,85 %
2015 77.974.161 3.310.010.986 2,36 %
Hasil Analisis :
ROA PT Garuda Indonesia sangat berfluktuatif dari tiga tahun terakhir.
Angka 2,36 % pada tahun 2015 menjelaskan bahwa setiap 1 US$ investasi
aset menghasilkan 2,36 US$ laba tahunan.
1. Pemanfaatan Aset (Asset Utilization)
a. Account Receivable Turnover
Account Receivable Turnover digunakan untuk mengukur
kemampuan perusahaan dalam mengelola dana yang tertanam dalam
piutang yang berputar pada suatu periode tertentu.
Penjualan
ART =
Rata Rata Piutang
(Rata Rata Piutang x 360)
=
Penjualan
Rata-Rata Piutang
2013 : (5.085.143 + 4.034.966) / 2 = 4560054,5
2014 : (4.034.966 + 2.747.485) / 2 = 3391225,5
2015 : (2.747.485 + 2.318.588) / 2 = 2533036,5
Tahun Penjualan Rata-Rata ART ACP
Piutang
2013 3.716.076.586 4560054,5 814,9 kali 0,44
2014 3.933.530.272 3391225,5 1159,9 kali 0,31
2015 3.814.989.745 2533036,5 1506,1 kali 0,24

Hasil Analisis:
Perputaran piutang usaha PT Garuda Indonesia sangat tinggi, hal ini
disebabkan karena faktor bisnis yang sangat minim melakukan transaksi
penjualan kredit. Angka 1506,1 pada tahun 2015 menjelaskan bahwa dalam
satu tahun terdapat perputaran piutang usaha sebanyak 1506,1 kali dengan
lamanya piutang usaha tertagih selama kurang dari satu hari karena
perhitungan angka tidak sampai mencapai satu.
b. Total Assets Turnover
Total Assets Turnover digunakan untuk mengukur kemampuan dana
yang tertanam dalam keseluruhan aktiva yang berputar pada suatu periode
atau kemampuan modal yang diinvestasikan untuk menghasilkan
revenue.
Penjualan bersih
TAT =
Rata Rata Total Aktiva
Rata-Rata Total Aktiva :
2013 : (2.517.997.766 + 2.953.784.952) / 2 = 2.735.891.359
2014 : (2.953.784.952 + 3.113.079.315) / 2 = 3.033.432.134
2015 : (3.113.079.315 + 3.310.010.986) / 2 = 3.211.545.151
Tahun Penjualan Rata-Rata Total TAT
Aktiva
2013 3.716.076.586 2.735.891.359 1,36 kali
2014 3.933.530.272 3.033.432.134 1,3 kali
2015 3.814.989.745 3.211.545.151 1,19 kali

Hasil Analisis:
Perputaran Total Aset PT Garuda Indonesia cenderung menurun
dalam jangka waktu tiga tahun terakhir. Angka 1,19 pada tahun 2015
menjelaskan bahwa total aset perusahaan berputar sebanyak 1,19 kali dalam
satu tahun. TAT>1 merupakan angka yang cukup aman bagi garuda
Indonesia.
c. Fixed Asset Turnover
Rasio yang mengukur seberapa efektif perusahaan menggunakan
aktiva tetapnya dalam menghasilkan penjualan.
Penjualan bersih
FAT =
Rata Rata Aset Tetap
Rata-Rata Aset Tetap :
2013 : 798.079.135 + 863.098.897 / 2 = 830589016
2014 : 863.098.897 + 922.994.362 / 2 = 893046629,5
2015 : 922.994.362 + 867.089.209 / 2 = 895041785,5
Tahun Penjualan Rata-Rata Aset tetap FAT
2013 3.716.076.586 830589016 4,47 kali
2014 3.933.530.272 893046629,5 4,41 kali
2015 3.814.989.745 895041785,5 4,26 kali
Hasil Analisis:
Perputaran Aset Tetap PT Garuda Indonesia cenderung stabil dalam
jangka waktu tiga tahun terakhir. Angka 4,26 pada tahun 2015 menjelaskan
bahwa aset tetap perusahaan berputar sebanyak 4,26 kali dalam satu tahun.
d. Cash Turnover
Rasio ini digunakan untuk mengukur tingkat ketersediaan kas untuk
membayar tagihan (utang) dan biaya-biaya yang berkaitan dengan
penjualan.
Penjualan bersih
CT =
Rata Rata kas dan Setara kas
Rata-Rata Kas dan Setara Kas
2013 : 325.784.942 + 475.260.630 = 400.522.786
2014 : 475.260.630 + 434.327.498 = 454.794.064
2015 : 434.327.498 + 519.972.655 = 477.150.076,5
Tahun Penjualan Rata-Rata Kas & Setara CT
Kas
2013 3.716.076.586 400522786 9,28 kali
2014 3.933.530.272 454794064 8,65 kali
2015 3.814.989.745 477150076,5 7,8 kali

Hasil Analisis:
Perputaran kas dan setara kas PT Garuda Indonesia cenderung
menurun dalam jangka waktu tiga tahun terakhir. Angka 7,8 pada tahun
2015 menjelaskan bahwa kas dan setara kas perusahaan berputar sebanyak
7,8 kali dalam satu tahun. semakin tinggi tingkat perputaran kas
mengakibatkan semakin bertambahnya profitabilitas pada perusahaan.
Begitu pula sebaliknya apabila tingkat perputaran kas rendah, maka akan
ada banyak dana yang menganggur dan akan menyebabkan terjadinya
penurunan profitabilitas.
BAB 5
ANALISIS AKTIVITAS OPERASI

5.1 Pengukuran Laba


Pendapatan merupakan arus masuk yang diperoleh atau arus kas masuk
yang akan diperoleh yang berasal dari aktivitas usaha perusahaan yang masih
berlangsung.
Keuntungan merupakan arus masuk yang diperoleh atau akan diperoleh
yang berasal dari transaksi dan kejadian yang tidak terkait dengan aktivitas usaha
perusahaan yang masih berlangsung.
a. Pendapatan Usaha
Pendapatan Usaha PT Garuda bersumber dari pendapatan penerbangan
berjadwal, penerbangan tidak terjadwal, dan pendapatan lainnya. Penerbangan
berjadwal terdiri dari pendapatan atas jasa airline kepada Penumpang, Kargo,
Kelebihan bagasi serta Surat dan dokumen. Hampir 95% sumber pendapatan
operasional PT Garuda bersumber dari pendapatan jasa airline kepada penumpang.
Sedangkan untuk pendapatan penerbangan tidak terjadwal bersumber dari
pendapatan penumpang haji dan charteran pesawat. Pendapatan lain-lain berasal
dari unit bisnis lainnya seperti Pemeliharaan dan perbaikan pesawat, Pelayanan
penerbangan , Biro perjalanan , Jasa boga, hotel, teknologi informasi, Kesehatan,
pelatihan dan lain-lain.
Penjualan tiket penumpang dan jasa kargo awalnya diakui sebagai
pendapatan diterima dimuka transportasi. Pendapatan operasional diakui pada saat
penerbangan telah dilakukan.
Pendapatan jasa perbaikan dan pemeliharaan pesawat atas kontrak jangka
pendek diakui pada saat jasa diserahkan kepada langganan. Pendapatan jasa
perbaikan dan pemeliharaan pesawat atas kontrak jangka panjang diakui dengan
menggunakan metode persentase penyelesaian.
Pendapatan atas jasa perhotelan, jasa boga, biro perjalanan dan jasa sistem
reservasi serta jasa lain yang berhubungan dengan penerbangan diakui sebagai
pendapatan pada saat jasa diserahkan.
Pendapatan bunga di-akru berdasarkan waktu terjadinya dengan acuan
jumlah pokok terhutang dan tingkat bunga yang berlaku.

b. Pendapatan Usaha lain

Keuntungan revaluasi properti investasi Grup mempunyai properti investasi


berupa tanah dan bangunan. Penilaian atas nilai wajar properti investasi dilakukan
oleh penilai independen yang telah teregistrasi di OJK, KJPP Iskandar & Rekan
untuk tahun 2015. Berdasarkan laporan penilaian, selisih nilai wajar aset dengan
nilai tercatat, dibukukan sebagai keuntungan atas revaluasi properti investasi pada
31 Desember 2015.
Penghasilan dividen dari investasi saham diakui pada saat hak menerima dividen
telah ditetapkan.
Beban merupakan arus keluar yang terjadi atau arus keluar yang akan
terjadi, atau alokasi arus kas keluar masa lampau yang berasal dari aktivitas usaha
perusahaan yang masih berlangsung. Kerugian merupakan penurunan aktiva bersih
perusahaan yang berasal dari aktivitas sampingan atau incidental perusahaan.

c. Beban Usaha

Beban usaha PT Garuda terdiri dari beban operasional penerbangan,


pemeliharaan dan perbaikan, tiket,penjualan dan promosi, bandara, pelayanan
penumpang, administrasi dan umum, operasional hotel, operational transportasi,
dan operational jaringan. Beban operasional penerbangan menyumbang proporsi
terbesar dari keseluruhan total beban usaha yaitu mencapai 58 %.

Pada beban operasional terdapat beban bahan bakar, sewa dan charter
pesawat, gaji dan tunjangan, beban penyusutan, asuransi, beban penyusutan,
asuransi, beban imbalan kerja, dan lain-lain. pembelian bahan bakar dapat mencapai
47% dari total keseluruhan beban usaha, kemudian diposisi kedua penyumbang
proporsi beban usaha terbesar adalah beban sewa dan charter pesawat yaitu
mencapai 41%.
Beban sewa operasi
Pembayaran sewa operasi diakui sebagai beban dengan dasar garis lurus
selama masa sewa.
Beban penyusutan
Aset tetap disusutkan dengan metode garis lurus. Perusahaan mengubah
umur masa manfaat untuk jenis pesawat Boeing 747-400 di tahun 2015 dari 22
tahun menjadi 27tahun. Perubahan tersebut diperlakukan secara prospektif yang
menyebabkan penurunan beban penyusutan sebesar USD 7.264.555 di tahun 2015.
Aset tetap non pesawat kecuali tanah dan bangunan juga disusutkan dengan metode
garis lurus.
Biaya pemeliharaan pesawat
Biaya inspeksi besar rangka pesawat dan perbaikan besar mesin pesawat milik
sendiri dan sewa pembiayaan dikapitalisasi dan disusutkan selama periode sampai
dengan inspeksi atau perbaikan besar berikutnya. Untuk sewa operasi disesuai
dengan perjanjian sewa operasi untuk pesawat, Perusahaan diharuskan untuk
membayar dana perbaikan dan pemeliharaan untuk pesawat yang disewa kepada
lessor. Penyisihan biaya pemeliharaan pesawat diakui selama jangka waktu sewa
atas liabilitas pengembalian sesuai yang dipersyaratkan dalam perjanjian tersebut.

d. Beban Keuangan
e. Pendapatan Komprehensif

Pendapatan komprehensif terdiri dari kerugian belum direalisasi atas transaksi


lindung nilai arus kas dan selisih kurs karena penjabaran laporan keuangan.

5.2 Kompensasi untuk Karyawan


Program Kompensasi Manajemen dan Karyawan Berbasis Sahap (MESOP)
telah diberlakukan PT Garuda Indonesia Tbk sejak tahun 2011 berdasarkan
persetujuan pemegang saham pada Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa
yang diadakan tanggal 15 November 2010. Program ini dicatat sebagai transaksi
ekuitas dan terealisasi bersamaan dengan berubahnya status perusahaan Garuda
Indonesia menjadi perusahaan terbuka dengan mengeluarkan 6.335.738.000
(saham biasa Seri A dan B) saham pada tanggal 11 Februari 2011 dimana 220.000
saham biasa Seri B dimiliki karyawan. Pelimpahan kewenangan kepada Dewan
Komisaris untuk melaksanakan peningkatan modal ditempatkan dan disetor
Perseoran dalam rangka pelaksanaan Program Management and Employee Stock
Option Plan (MESOP). Peserta program MESOP PT Garuda Indonesia berdasarkan
hasil RUPSLB 15 November 2010 terdiri dari Dewan Komisaris (kecuali Komisaris
Independen), Direksi, dan pegawai tetap Perseroan.

5.3 Perpajakan
Dalam situasi tertentu, Grup tidak dapat menentukan secara pasti jumlah
liabilitas pajak mereka pada saat ini atau masa depan karena proses pemeriksaan,
atau negosiasi dengan otoritas perpajakan. Ketidakpastian timbul terkait dengan
interpretasi dari peraturan perpajakan yang kompleks dan jumlah dan waktu dari
penghasilan kena pajak di masa depan. Dalam menentukan jumlah yang harus
diakui terkait dengan liabilitas pajak yang tidak pasti, Grup menerapkan
pertimbangan yang sama yang akan mereka gunakan dalam menentukan jumlah
cadangan yang harus diakui sesuai dengan PSAK 57, Provisi, Liabilitas Kontijensi
dan Aset Kontijensi.
a. Pajak dibayar dimuka

Dengan diberlakukannya PPN atas Impor Kapal Laut atau Pesawat Udara
menyebabkan transaksi sewa pesawat dengan skema sewa operasi (Operating
Lease) terhutang PPN. PPN terhutang atas tagihan sewa pesawat adalah sebesar
USD 54.716.988 setara dengan Rp 735.707.309.348.
Pajak Kini Current Tax Rekonsiliasi antara laba (rugi) sebelum pajak
menurut laporan laba rugi konsolidasian dan penghasilan komprehensif lainnya
dengan laba (rugi) fiskal Perusahaan adalah sebagai berikut :
Rincian beban pajak dan utang (lebih bayar) pajak kini adalah sebagai
berikut:
b. Pajak Tangguhan
Rincian dari aset dan liabilitas pajak tangguhan adalah sebagai berikut:
5.4 Laba per Saham (Earnings per Share)
Laba per saham dasar dihitung dengan membagi laba yang diatribusikan
kepada pemilik entitas induk dengan jumlah rata-rata tertimbang saham biasa yang
beredar pada periode yang bersangkutan.

Laba per saham yang dimiliki PT Garuda Indonesia pada tahun 2015
mengalami penurunan dibandingkan dengan tahun 2014. Pada tahun 2014, laba per
saham bernilai negatif akibat dari kerugian yang dialam. Kerugian ini disebabkan
oleh belum pulihnya kondisi makroekonomi global dan faktor masih tingginya
harga bahan bakar yang berdampak pada meningkatnya biaya operasional, serta
depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) yang mencapai
lebih dari 20%, menyebabkan perseroan harus membukukan comprehensive loss
sebesar USD206,4 juta.
Melambatnya pertumbuhan ekonomi global berpengaruh pada penurunan
permintaan untuk rute-rute internasional dan penurunan kinerja Garuda maupun
sejumlah maskapai penerbangan internasional lain, khususnya di kawasan Asia
Pasifik yang pasarnya memang semakin kompetitif.
Selain itu, faktor depresiasi rupiah, serta masih tingginya harga bahan bakar
juga ikut menekanprofit mengingat biaya bahan bakar merupakan salah satu
komponen biaya operasional terbesar mencapai 40%.
Namun pada tahun 2015 LPS garuda mengalami peningkatan menjadi
0,00296 per lembar sahamnya.
5.5 Tingkat Pertumbuhan Pendapatan Usaha

Pendapatan Usaha (US$ 000)


Pendapatan Usaha (US$ 000)

3,933,530
3,863,921
3,814,989
3,716,076

3,472,468

2012 2013 2014 2015 2016

Tren pertumbuhan pendapatan usaha PT Garuda Indonesia, Tbk. selama 5


(lima) tahun berturut-turut cenderung mengalami peningkatan. Ini merupakan suatu
hal yang positif yang dimiliki perusahaan, tetapi sayangnya peningkatan
pendapatan usaha ini searah dengan peningkatan pada beban perusahaan, bahkan
terkadang lebih besar nominalnya mengakibatkan perusahaan mengalami kerugian.
Perusahaan terlalu fokus terhadap peningkatan pendapatan usaha, tetapi
mengabaikan laba yang akan didapatkan perusahaan. Subbab selanjutnya akan
membahas bagaimana analisis rasio profitabilitas pada PT Garuda Indonesia, Tbk.
BAB 6
ANALISIS PROFITABILITAS

6.1 Analisis Rasio Profitabilitas


Profitabilitas merupakan hasil bersih dari sejumlah kebijakan dan keputusan
perusahaan. Rasio profitabilitas mengukur seberapa besar kemampuan perusahaan
dalam menghasilkan keuntungan. Menurut Gitman (2003), Profitability is the
relationship between revenues and cost generated by using the firms asset- both
current and fixed- in productive activities.
Profitabilitas merupakan faktor yang seharusnya mendapat perhatian
penting karena untuk dapat melangsungkan hidupnya, suatu perusahaan harus
berada dalam keadaan yang menguntungkan (profitable). Tanpa adanya
keuntungan, maka akan sangat sulit bagi perusahaan untuk menarik modal dari luar.
Para kreditur, pemilik perusahaan, dan terutama pihak manajemen perusahaan akan
berusaha meningkatkan keuntungan karena pentingnya arti dari profit terhadap
kelangsungan dan masa depan perusahaan. Oleh karena itu, untuk mengetahui
struktur operasi yang dilakukan oleh PT Garuda Indonesia, Tbk. maka penulis
menggunakan rasio profitabilitas untuk dijadikan indikator pengukurannya. Berikut
ini adalah rasio rasio yang digunakan:

a. Gross Profit Margin (GPM)


Gross profit margin merupakan rasio yang mengukur efisiensi pengendalian
harga pokok atau biaya produksinya, mengindikasikan kemampuan perusahaan
untuk berproduksi secara efisien (Sawir, 2009:18).
Laba Kotor
GPM =
Penjualan
Gross profit margin merupakan persentase laba kotor dibandingkan dengan
penjualan. Semakin besar gross profit margin semakin baik keadaan operasi
perusahaan, karena hal ini menunjukkan bahwa harga pokok penjualan relatif lebih
rendah dibandingkan dengan sales, demikian pula sebaliknya, semakin rendah
gross profit margin semakin kurang baik operasi perusahaan (Syamsuddin,
2009:61).
US$ 168.072.104
Tahun 2012 = US$ 3.472.468.962

= 4,84 %
Pada tahun 2012, perhitungan rasio gross profit margin adalah 4,8%, artinya bahwa
setiap US$1 penjualan akan menghasilkan laba kotor sebesar US$0,0484.

US$ 56.448.275
Tahun 2013 = US$ 3.716.076.586

= 1,52 %
Pada tahun 2013, perhitungan rasio gross profit margin adalah 1,52%, artinya
bahwa setiap US$1 penjualan akan menghasilkan laba kotor sebesar US$0,0152.

US$ 395.228.121
Tahun 2014 = US$ 3.933.530.272

= -10,05 %
Pada tahun 2014, perhitungan rasio gross profit margin adalah -10,05%, artinya
bahwa setiap US$1 penjualan akan mengalami kerugian sebesar US$0,1005.

US$ 168.745.441
Tahun 2015 = US$ 3.814.989.745

= 4,42 %
Pada tahun 2015, perhitungan rasio gross profit margin adalah 4,42%, artinya
bahwa setiap US$1 penjualan akan menghasilkan laba kotor sebesar US$0,0442.

US$ 99.103.939
Tahun 2016 =
US$ 3.863.921.565

= 2,56 %
Pada tahun 2016, perhitungan rasio gross profit margin adalah 2,56%, artinya
bahwa setiap US$1 penjualan akan menghasilkan laba kotor sebesar US$0,0256.
GPM (%)
GPM (%)

4.84 4.42
2.56
1.52

2012 2013 2014 2015 2016

-10.05

b. Operating Profit Margin (OPM)


Syamsuddin (2009) mengatakan OPM ialah perbandingan antara laba usaha
dan penjualan. Operating profit margin menggambarkan apa yang biasanya disebut
dengan pure profit atas setiap rupiah dari penjualan yang dilakukan. Disebut murni
(pure) karena jumlah tersebutlah yang benar-benar diperoleh dari suatu hasil
operasi perusahaan dengan mengabaikan kewajiban- kewajiban finansial yang
berupa bunga serta kewajiban terhadap pemerintah yang berupa pembayaran pajak.
Laba Sebelum Pajak
OPM =
Penjualan
Jika semakin tinggi operating profit margin maka akan semakin baik juga
operasi pada suatu perusahaan.
US$ 151.530.554
Tahun 2012 = US$ 3.472.468.962

= 4,36 %
Pada tahun 2012, perhitungan rasio operating profit margin adalah sebesar 4,36%.
Hal ini menunjukkan bahwa pada tahun tersebut setiap US$1 penjualan, perusahaan
akan memperoleh laba sebelum pajak sebesar US$ 0,0436.

US$ 8.815.603
Tahun 2013 = US$ 3.716.076.586

= 0,24 %
Pada tahun 2013, perhitungan rasio operating profit margin adalah sebesar 0,24%.
Hal ini menunjukkan bahwa pada tahun tersebut setiap US$1 penjualan, perusahaan
akan memperoleh laba sebelum pajak sebesar US$ 0,0024.

US$ 456.453.104
Tahun 2014 = US$ 3.933.530.272

= -11,6 %
Pada tahun 2014, perhitungan rasio operating profit margin adalah sebesar
-11,6%. Hal ini menunjukkan bahwa pada tahun tersebut setiap US$1 penjualan,
perusahaan mengalami kerugian atas penjualan yang mereka lakukan sebesar
US$0,116.

US$ 106.660.147
Tahun 2015 = US$ 3.814.989.745

= 2,79 %
Pada tahun 2015, perhitungan rasio operating profit margin adalah sebesar 2,79%.
Hal ini menunjukkan bahwa pada tahun tersebut setiap US$1 penjualan, perusahaan
akan memperoleh laba sebelum pajak sebesar US$ 0,0279.

US$ 17.790.700
Tahun 2016 = US$ 3.863.921.565

= 0,46 %
Pada tahun 2016, perhitungan rasio operating profit margin adalah sebesar 0,46%.
Hal ini menunjukkan bahwa pada tahun tersebut setiap US$1 penjualan, perusahaan
akan memperoleh laba sebelum pajak sebesar US$ 0,0046.

OPM (%)

4.36
2.79
0.24 0.46
2012 2013 2014 2015 2016

-11.6

OPM (%)
c. Net Profit Margin (NPM)
Net profit margin merupakan rasio perbandingan antara laba bersih setelah
pajak dengan penjualan (Warsosno,2003:37). Besarnya perhitungan margin laba
bersih menunjukkan seberapa besar laba setelah pajak yang diperoleh perusahaan
untuk tingkat penjualan tertentu.
Laba Bersih
NPM =
Penjualan
Rasio ini menunjukkan keuntungan bersih per rupiah penjualan. Misal, net
profit margin 3% menunjukkan bahwa setiap Rp 1 penjualan menghasilkan
keuntungan bersih sebesar Rp 0,03.
Semakin besar rasio ini semakin baik karena dianggap kemampuan
perusahaan dalam mendapatkan laba cukup tinggi.
US$ 110.842.573
Tahun 2012 = US$ 3.472.468.962

= 3,19 %
Pada tahun 2012, hasil perhitungan rasio net profit margin sebesar 3,19% artinya
bahwa setiap US$1 penjualan mampu menghasilkan laba bersih sebesar
US$0,0319.

US$ 11.200.380
Tahun 2013 = US$ 3.716.076.586

= 0,30 %
Pada tahun 2013, hasil perhitungan rasio net profit margin sebesar 0,30% artinya
bahwa setiap US$1 penjualan mampu menghasilkan laba bersih sebesar
US$0,0033.

US$ 368.911.279
Tahun 2014 = US$ 3.933.530.272

= -9,38 %
Pada tahun 2014, hasil perhitungan rasio net profit margin sebesar -9,38% artinya
bahwa setiap US$1 penjualan, perusahaan akan mengalami kerugian sebesar
US$0,0938.
US$ 77.974.161
Tahun 2015 = US$ 3.814.989.745

= 2,04%
Pada tahun 2015, hasil perhitungan rasio net profit margin sebesar 2,04% artinya
bahwa setiap US$1 penjualan mampu menghasilkan laba bersih sebesar
US$0,0204.

US$ 9.364.858
Tahun 2016 = US$ 3.863.921.565

= 0,24 %
Pada tahun 2016, hasil perhitungan rasio net profit margin sebesar 0,24% artinya
bahwa setiap US$1 penjualan mampu menghasilkan laba bersih sebesar
US$0,0024.

NPM (%)
5
3.19
2.04
0 0.3 0.24
2012 2013 2014 2015 2016
-5 NPM (%)

-10 -9.38

-15

Hasil Analisis:
Secara keseluruhan, pada grafik perbandingan rasio di tahun 2012-2016
menunjukkan pergerakan yang sangat fluktuatif dari tahun ke tahun. Ketiga
pengukuran tersebut (GPM, OPM, dan NPM) cenderung bergerak searah. Rasio
profitabilitas pada PT Garuda Indonesia, Tbk. menunjukkan persentase yang kecil
bahkan minus pada tahun 2014, disebabkan oleh beban yang dikeluarkan
perusahaan terkadang lebih besar dibandingkan dengan pendapatan usaha yang
diperoleh. Beban yang paling besar yang diterima perusahaan adalah beban usaha
operasional penerbangan, hampir sebesar 50% dari total beban tiap tahunnya,
diikuti beban pemeliharaan dan perbaikan, beban bandara, beban tiket, penjualan,
dan promosi, dan lainnya.
Hampir setiap tahun terjadi kenaikan total beban dan tidak sebanding dengan
kenaikan pada pendapatan usaha. Hal inilah yang membuat profitabiltias
perusahaan dikatakan kurang baik. Oleh karena itu, diharapkan PT Garuda
Indonesia, Tbk. dapat mengefisiensikan beban yang akan terjadi di tahun-tahun
berikutnya dan melakukan suatu inovasi untuk meningkatkan pendapatan usaha
perusahaan.

d. Return On Asset (ROA)


adalah measures the overall effectiveness of management in generating
profits with its available assets; also called the return on investment. (Gitman,
2012). Artinya mengukur keefektifan manajemen dalam menghasilkan laba
dengan aset yang tersedia, ROA juga disebut laba atas investasi.
Laba Bersih
ROA =
Total Aktiva

Tahun Laba Bersih Total Aktiva ROA


2012 110.842.573 2.517.997.766 4,40%
2013 11.200.380 2.953.784.952 0,38 %
2014 (368.911.279) 3.113.079.315 -11,85 %
2015 77.974.161 3.310.010.986 2,36 %
2016 9.364.858 3.737.569.390 0,25%
Hasil Analisis :
ROA PT Garuda Indonesia sangat berfluktuatif dari lima tahun terakhir. Angka 0,25
% pada tahun 2016 menjelaskan bahwa setiap 1 US$ investasi aset menghasilkan
US$ 0,25 laba tahunan.

e. Return On Asset (ROA) Du Pont



ROA =

Tahun Margin Laba Perputaran Total ROA
Bersih Aktiva
2012 0,032 1,38 4,40%
2013 0,003 1,26 0,38%
2014 -0,094 1,26 -11,85%
2015 0,020 1,15 2,36%
2016 0,0024 1,03 0,25%

US$ 110.842.573 US$ 3.472.468.962


Tahun 2012 =
US$ 3.472.468.962 US$ 2.517.997.766

= 0,032 x 1,38
= 4,40%
US$ 11.200.380 US$ 3.716.076.586
Tahun 2013 =
US$ 3.716.076.586 US$ 2.953.784.952

= 0,003 x 1,26
= 0,38 %
US$ 368.911.279 US$ 3.933.530.272
Tahun 2014 =
US$ 3.933.530.272 US$ 3.113.079.315

= -0,094 x 1,26
= -11,85 %
US$ 77.974.161 US$ 3.814.989.745
Tahun 2015 =
US$ 3.814.989.745 US$ 3.310.010.986

= 0,020 x 1,15
= 2,36%
US$ 9.364.858 US$ 3.863.921.565
Tahun 2016 =
US$ 3.863.921.565 US$ 3.737.569.390

= 0,0024 x 1,03
= 0,25 %
ROA (%)
ROA (%)

4.4

0.38 2.36
2012 0.25
2013
2014
2015
2016
-11.85

Hasil Analisis :
Profit margin PT Garuda lebih kecil jika dibandingkan dengan perputaran total
aktiva. Profit margin, melaporkan kemampuan perusahaan menghasilkan laba pada
tingkat penjualan tertentu. Profit margin bisa diinterpretasikan sebagai tingkat
efisiensi perusahaan, yakni sejauh mana kemampuan perusahaan menekan biaya-
biaya yang ada diperusahaan. Perputaran Total Aktiva, mencerminkan kemampuan
perusahaan menghasilkan penjualan dari total investasi tertentu.
Salah satu faktor yang mempengaruhinya adalah karena PT Garuda Indonesia
merupakan perusahaan yang Operating Laverage tinggi. Perusahaan Operating
laverage tinggi adalah perusahaan yang memiliki biaya tetap yang besar. Hal ini
bersumber dari biaya penyusutan dari aset-aset yang dimiliki oleh PT garuda.
Walaupun kebanyakan pesawat PT Garuda berasal dari leasing, namun aset-aset
seperti mesin yang sangat banyak dibutuhkan oleh industri penerbangan sangat
menyumbang biaya tetap yang besar bagi perusahaan. Biaya tetap lainnya
bersumber dari biaya pemeliharaan dan perbaikan dan biaya bandara.
Perusahaan atau industri dengan operating leverage yang tinggi akan
mempunyai fluktuasi pendapatan yang tinggi pula. Itu berarti resiko perusahaan
tersebut tinggi. Apabila kondisi perekonomian membaik, penjualan meningkat,
perusahaan dengan operating leverage yang tinggi akan mengalami kenaikan
keuntungan (pendapatan) yang tinggi, sebaliknya apabila kondisi perekonmian
menurun, penjualan menurun, perusahaan tersebut akan mengalami fluktuasi yang
tajam.
f. Return on Equity (ROE)
adalah membandingkan laba bersih setelah pajak dengan ekuitas yang telah
diinvestasikan pemegang saham perusahaan (Van Horne dan Wachowicz,
2005:225). Rasio ini menunjukkan daya untuk menghasilkan laba atas investasi
berdasarkan nilai buku para pemegang saham, dan sering kali digunakan dalam
membandingkan dua atau lebih perusahaan atas peluang investasi yang baik dan
manajemen biaya yang efektif.

ROE =

Tahun Laba Bersih Ekuitas ROE


2012 110.842.573 1.114.960.078 9,95%
2013 11.200.380 1.117.148.117 1,00 %
2014 (368.911.279) 879.467.591 -41,95 %
2015 77.974.161 950.723.185 8,20%
2016 9.364.858 1.009.897.219 0,93 %

US$ 110.842.573
Tahun 2012 = US$ 1.114.960.078

= 9,95%
US$ 11.200.380
Tahun 2013 = US$ 1.117.148.117

= 1,00 %
US$ 368.911.279
Tahun 2014 = US$ 879.467.591

= -41,95 %
US$ 77.974.161
Tahun 2015 = US$ 950.723.185
= 8,20%
US$ 9.364.858
Tahun 2016 = US$ 1.009.897.219

= 0,93 %

Hasil Analisis :
ROE PT Garuda Indonesia sangat berfluktuatif dari lima tahun terakhir. Angka 0,93
% pada tahun 2016 menjelaskan bahwa perusahaan mampu menghasilkan laba
bersih yang nilainya 0,93 % dari ekuitasnya.

g. Return on Equity (ROE) Du Pont



ROE =

Tahun Profit Margin Asset Turnover Equity Multiplier ROE


2012 0,03 1,38 2,26 9,95 %
2013 0,003 1,26 2,64 1,00 %
2014 -0,094 1,26 3,54 -41,95 %
2015 0,02 1,15 3,48 8,20 %
2016 0,93 1,03 3,70 0,93 %

US$ 110.842.573 US$ 3.472.468.962 US$ 2.517.997.766


Tahun 2012 = US$ 1.114.960.078
US$ 3.472.468.962 US$ 2.517.997.766

= 0,03 x 1,38 x 2,26


= 9,95%
US$ 11.200.380 US$ 3.716.076.586 US$ 2.953.784.952
Tahun 2013 =
US$ 3.716.076.586 US$ 2.953.784.952 US$ 1.117.148.117

= 0,003 x 1,26 x 2,64


= 1,00 %
US$ 368.911.279 US$ 3.933.530.272 US$ 3.113.079.315
Tahun 2014 =
US$ 3.933.530.272 US$ 3.113.079.315 US$ 879.467.591

= -0,094 x 1,26 x 3,54


= -41,95 %
US$ 77.974.161 US$ 3.814.989.745 US$ 3.310.010.986
Tahun 2015 =
US$ 3.814.989.745 US$ 3.310.010.986 US$ 950.723.185

= 0,02 x 1,15 x 3,48


= 8,20%
US$ 9.364.858 US$ 3.863.921.565 US$ 3.737.569.390
Tahun 2016 =
US$ 3.863.921.565 US$ 3.737.569.390 US$ 1.009.897.219

= 0,0024 x 1,03 x 3,70


= 0,93 %

ROE (%)
ROE (%)

9.95 8.2
1 0.93
2012 2013 2014 2015 2016

-41.95

Hasil Analisis :
Dari hasil perhitungan ROE dupont dapat dilihat bahwa equity multiplier
menyumbang proporsi paling tinggi dibandingkan profit margin dan asset turnover.
Equity multiplier yang tinggi mengidentifikasikan PT garuda indonesia merupakan
perusahaan yang tergolong high leverage industry. Semakin besar equity multiplier
maka semakin tinggi leverage-nya. Secara umum, perusahaan dengan leverage
yang tinggi sangat rentan terhadap perubahan kondisi ekonomi. Equity multiplier
yang meningkat tiap tahunnya menggambarkan leverage yang terus meningkat.
leverage yang tinggi memberikan resiko yang tinggi bagi perusahaan.

h. Return on Net Operating Assets (RNOA)


RNOA hanya mengukur imbal hasil yang dapat dihasilkan oleh perusahaan
dari aktiva bersih operasi (Subramanyam, 2009). RNOA berbeda dengan ROA.
RNOA hanya menggambarkan kinerja operasi saja sedangkan ROA
mengambarkan kinerja semua aktivitas bisnis perusahaan yaitu aktivitas operasi,
aktivitas investasi dan aktivitas pembiayaan.

RNOA =

US$ 110.842.573
Tahun 2012 = US$117.640.834+US$ 1.232.600.912

= 9,94%
US$ 11.200.380
Tahun 2013 = US$ 164.756.844+US$ 1.281.904.961

= 1,00%
US$ 368.911.279
Tahun 2014 =
US$ 408.850.413+US$ 1.288.318.004

= -41,95%
US$ 77.974.161
Tahun 2015 = US$ 188.001.116+US$ 1.138.724.301

= 8,20%
US$ 9.364.858
Tahun 2016 = US$ 398.442.819+US$ 1.408.340.038

= 0,93%

RNOA (%)
20

10

0
2012 2013 2014 2015 2016
-10

-20

-30

-40

-50

i. Return on Common Shareholders Equity (ROCE)


Kreditor biasanya menerima pengembalian dalam jumlah tetap atas
pendanaannya, begitu pula pemegang saham preferen yang menerima dividen
tetap. Namun pemegang saham biasa tidak menerima pengembalian tetap,
melainkan memiliki klaim atas laba residu suatu perusahaan hanya setelah seluruh
pendanaan lainnya lunas. Oleh karena itu, pengembalian atas ekuitas saham biasa
(return on common shareholders equity/ROCE) sangat penting artinya bagi
pemegang saham biasa.


ROCE =

US$ 110.842.573 0
Tahun 2012 = US$ 1.114.960.078

= 9,95%
US$ 11.200.3800
Tahun 2013 = US$ 1.117.148.117

= 1,00 %
US$ 368.911.2790
Tahun 2014 = US$ 879.467.591

= -41,95 %
US$ 77.974.1610
Tahun 2015 = US$ 950.723.185

= 8,20%
US$ 9.364.8580
Tahun 2016 = US$ 1.009.897.219

= 0,93 %

ROCE (%)
ROCE (%)

9.95 1 8.2 0.93


2012 2013 2014 2015 2016
-41.95

Hasil Analisis :
Pada perhitungan ROCE tidak ditemukan preffered dividen PT garuda. Sehingga
hasil analisis yang didapat sama dengan analisis pada ROE.
BAB 7
ANALISIS LAPORAN ARUS KAS

7.1 Pengertian Laporan Arus Kas


Laporan arus kas adalah bagian dari laporan keuangan suatu perusahaan yang
dihasilkan pada suatu periode akuntansi yang menunjukkan aliran masuk dan keluar
uang (kas) perusahaan. Informasi ini penyajiannya diklasifikasikan menurut jenis
kegiatan yang menyebabkan terjadinya arus kas masuk dan kas keluar tersebut.
Kegiatan perusahaan umumnya terdiri dari tiga jenis yaitu, kegiatan operasional,
kegiatan investasi, serta kegiatan keuangan.
Laporan Arus Kas merupakan penerimaan kas dan pembayaran kas. Laporan
arus kas melaporkan penerimaan kas dan pengeluaran kas yang digolongkan sesuai
dengan kegiatan utama entitas: operasi, investasi, dan pembelanjaan. Laporan
tersebut melaporkan arus masuk kas bersih atau keluar kas bersih dari setiap
kegiatan dan untuk semua kegiatan usaha.
Arus kas adalah kas aktual yang keluar masuk dari dan ke dalam suatu
perusahaan (Weston dan Righam, 1990:55). Arus kas masuk (cash inflows)
merupakan penerimaan kas yang berasal dari kegiatan rutin perusahaan, misalnya
penjualan tunai, penerimaan piutang maupun penerimaan kas yang bersifat tidak
rutin misalnya penyertaan modal, penjualan saham, penjualan aktiva perusahaan.
Arus kas keluar (cash out flows) adalah pengeluaran yang bersifat kontinyu, seperti
pembayaran bunga, dividen dan pembayaran pajak. Arus kas berlangsung terus
menerus selama perusahaan menjalankan kegiatannya. Agar kas ini mudah dibaca
dan dipahami, maka informasi arus kas tersebut dibuat dalam bentuk laporan yang
disebut Laporan Arus Kas (statement of cash flows), sehingga dapat memenuhi
kebutuhan informasi para investor dan kreditur dalam menganalisa arus kas.
Aktivitas yang membagi laporan arus kas adalah kegiatan operasi, kegiatan
investasi, dan kegiatan pendanaan. Ketiga aktivitas ini memberikan informasi yang
memungkinkan para pengguna laporan untuk menilai pengaruh aktivitas tersebut
terhadap keuangan perusahaan serta terhadap jumlah kas. Manfaat utama laporan
arus kas adalah untuk menyediakan informasi yang relevan tentang penerimaan dan
pengeluaran kas perusahaan selama satu periode, serta untuk membantu investor,
kreditur, dan pihak lain yang berkepentingan dalam menganalisa kas (Kieso dan
Wey Grandt, 1995 : 247).

7.2 Tujuan Dan Kegunaan


Sebagai dasar untuk menilai kemampuan perusahaan dalam menghasilkan kas
dan setara kas, dan menilai kebutuhan perusahaan untuk menggunakan arus kas
tersebut. Laporan arus kas disusun dengan tujuan utama untuk memberikan
informasi tentang aktivitas operasi, investasi dan pendanaan dengan basis kas (cash
basis) selama periode akuntansi tertentu.
Menurut Financial Accounting Standard Board, informasi yang diberikan
dalam suatu laporan kas, jika digunakan dengan pengungkapan yang berkaitan dan
laporan keuangan lainnya, harus membantu investor, kreditor dan pihak lainnya
untuk:
a) Menilai kemampuan perusahaan dalam menghasilkan arus kas bersih masa
depan.
b) Menilai kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajibannya, kemampuan
membayar dividen, dan kebutuhan untuk pendanaan eksternal.
c) Menilai alasan perbedaan antara laba bersih dibanding penerimaan serta
pengeluaran kas yang berkaitan.
d) Menilai pengaruh transaksi investasi dan pendanaan baiuk kas maupun non kas
terhadap posisi keuangan suatu perusahaan selama satu periode tertentu.

7.3 Bentuk Dan Metode Laporan Arus Kas


Metode Lansung
Terdapat dua bentuk penyajian laporan arus kas, yang pertama metode
langsung dan yang kedua metode tidak langsung. Perbedaan antara kedua metode
terletak pada penyajian arus kas berasal dari kegiatan operasi. Dengan metode
langsung, arus kas dari kegiatan operasional dirinci menjadi arus kas masuk dan
arus kas keluar. Arus kas masuk dan keluar dirinci lebih lanjut dalam beberapa jenis
penerimaan atau pengeluaran kas.
Sementara itu dengan metode tidak langsung, arus kas dari opersional
ditentukan dengan cara mengoreksi laba bersih yang dilaporkan di laporan laba rugi
dengan beberapa hal seperti biaya penyusutan, kenaikan harta lancar dan hutang
lancar serta laba/rugi karena pelepasan investasi.

Metode Tidak Lansung


Dengan metode ini laba atau rugi bersih disesuaikan dengan mengoreksi
pengaruh dari transaksi bukan kas, penangguhan atau akrual dari penerimaan atau
pembayaran kas untuk operasi dari masa lalu dan masa depan, dan unsure
penghasilan atau beban yang berkaitan dengan arus kas investasi atau pendanaan.
Jadi pada dasarnya metode tidak langsung ini merupakan rekonsiliasi laba
bersih yang diperoleh perusahaan. Metode ini memberikan suatu rangkaian
hubungan antara laporan arus kas dengan laporan laba rugi dan neraca. Dalam
metode tidak langsung arus kas bersih diperoleh dari aktifitas operasi ditentukan
dengan menyesuaikan laba atau rugi bersih dari pengaruh :
Perubahan persediaan dan piutang usaha serta hutang usaha selama periode
berjalan. Pos bukan kas seperti penyusutan, penyisihan, pajak ditangguhkan,
keuntungan dan kerugian, valuta asing yang belum direalisasi, laba perusahaan
asosiasi yang belum dibagikan dan hak minoritas dalam laba/rugi konsolidasi.
Semua pos lain yang berkaitan dengan arus kas investasi dan pendanaan.

7.4 Klasifikasi Arus Kas


Laporan arus kas mengklasifikasikan penerimaan kas berdasarkan kegiatan
operasi, investasi, dan pembiayaan. Karakteristik transaksi dan peristiwa lainnya
dari setiap jenis kegiatan adalah :
Kegiatan operasi melibatkan pengaruh kas dari transaksi yang dilibatkan dalam
penentuan laba bersih, seperti penerimaan kas dari penjualan barang dan jasa,
serta pembayaran kas kepada pemasok dan karyawan untuk memperoleh
persediaan serta membayar beban.
Kegiatan investasi umumnya melibatkan aktiva jangka panjang dan
mencangkup (a) pemberian serta penagihan pinjaman, dan (b) perolehan serta
pelepasan investasi dan aktiva produktif jangka panjang.
Kegiatan pembiayaan melibatkan pos-pos kewajiban dan ekuitas pemegang
saham serta mencangkup (a) perolehan kas dari kreditor dan pembayaran
kembali pinjaman, serta (b) perolehan modal dari pemilik dan pemberian
tingkat pengembalian atas, dan pengembalian dari investasinya.

7.5 Penyusunan Laporan Arus Kas


Menurut Smith dan Skousen (1992:191), penyusunan laporan arus kas terdiri
dari sumber-sumber data diatas meliputi empat langkah pokok :
1. Menentukan perubahan dalam kas.
2. Menentukan arus kas bersih dari aktifitas operasi
3. Menentukan arus kas dari aktifitas investasi dan pendanaan.
4. Menyiapkan suatu laporan arus kas formal.
7.6 Arus Kas Dari Aktivitas Operasi
2013 2014 2015 2016
Penerimaan kas dari pelanggan 3.828.013.062 4.004.586.542 3.769.410.803 3.868.012.178
Pengeluaran kas kepada pemasok (3.204.353.979) (3.559.997.784) (3.102.317.745) (3.170.901.643)
Pengeluaran kas kepada karyawan (425.242.885) (427.671.220) (405.976.381) (482.507.564)
Pembayaran bunga dan beban (35.040.542) (58.915.533) (69.855.783) (84.522.027)
keuangan
Pembayaran pajak penghasilan (24.349.733) (12.154.779) (11.861.546) (22.548.680)

Kas Bersih Yang Digunakan Dalam Aktivitas Operasi


Pada 2016, Kas Bersih yang diperoleh dari Aktivitas Operasi menurun 40%
atau sebesar USD 71.867.084 dibandingkan dengan Kas Bersih yang diperoleh dari
Aktivitas Operasi tahun buku 2015, yaitu dari USD 179.399.348 di tahun 2014
menjadi USD 107.532.264 ditahun 2016. Penurunan yang terjadi pada arus kas dari
aktivitas operasi terutama akibat pengeluaran kas kepada pemasok dan karyawan
yang mengalami peningkatan sebesar 2,21% dan 18,85% serta peningkatan sebesar
21,00% pada pembayaran bunga dan beban keuangan.

Interpretasi arus kas dan laba bersih


Analisis PT Garuda Indonesia pada laporan keuangan utama yang mengarah
pada aktivitas operasi: laporan arus kas dan laporan laba rugi. Untuk memahami
manfaat gabungan kedua laporan tersebut, tampilan berikut ini menyajikan kedua
laporan secara berdampingan serta menunjukkan tujuan pengukurannya.
2015 2016
Arus kas dari Operasi 179.399.348 107.532.264
Laba Penjualan 168.745.441 99.103.939

180,000,000

160,000,000

140,000,000

120,000,000

100,000,000 Arus Kas Operasi

80,000,000 Laba Penjualan

60,000,000

40,000,000

20,000,000

0
2015 2016

Fungi laporan laba rugi adalah mengukur profitabilitas PT Garuda


Indonesia untuk suatu periode. Laporan laba rugi mencatat pendapatan saat
dihasilkan (earned) dan beban saat terjadi (incurred).. Namun, laporan laba rugi
tidak menunjukkan waktu arus kas masuk dan arus kas keluar maupun dampak
operasi terhadap likuiditas dan solvabilitas.

7.7 Arus Kas Dari Aktivitas Investasi


2013 2014 2015 2016
Penerimaan 398.739.049 267.051.525 232.788.003 59.111.963
pengembalian
uang muka
pembelian
pesawat
Penerimaan 41.931.995 45.738.406 9.336.989 29.487.113
pengembalian
dan
pemeliharaan
pesawat
Penerimaan 1.101.734 15.813.295 20.680.984 39.144.528
uang jaminan
Penerimaan 9.892.089 12.724.000 6.597.482 7.180.596
bunga
Hasil 10.314.619 4.770.914 1.659.360 5.698.791
pelepasan aset
tetap
Hasil - - - 1.441.498
pelepasan
properti
investasi
Penerimaan 1.739.459 194.733 10.686.697 433.502
dividen
Pengeluaran (235.312.053) (302.532.646) (315.919.637) (354.844.553)
untuk dana
pemeliharaan
pesawat
Uang muka (442.858.026) (168.937.917) (70.282.089) (24.748.673)
pembelian
pesawat
Pengeluaran (54.121.268) (51.659.502) (43.135.095) (39.260.341)
untuk
perolehan aset
tetap
Pengeluaran (55.864.432) (14.763.356) (16.528.215) (7.490.197)
untuk
perolehan aset
pemeliharaan
dan aset sewa
pesawat
Pembayaran (43.814.936) (40.791.017) (26.363.964) (17.166.487)
uang jaminan
Uang muka (14.259.993) (14.973.819) (12.115.837) (4.749.209)
perolehan aset
tetap
Investasi pada - (8.606.557) - -
entitas anak
Penerimaan (324.902) 191.953 2.642.824 (1.329.643)
(pengeluaran)
lainnya dari
aktivitas
investasi
Kas Bersih (382.836.665) (255.779.988) (199.952.498) (307.091.112)
Digunakan
untuk
Aktivitas
Investasi

Kas Bersih Digunakan untuk Aktivitas Investasi Arus kas yang digunakan
untuk kegiatan investasi sebesar US$307,09 juta di tahun 2016, mengalami
peningkatan sebesar 53,58% dari tahun 2015 yang sebesar US$199,95. Hal ini
terutama akibat peningkatan pengeluaran untuk dana pemeliharaan pesawat sebesar
12,32%, serta penurunan penerimaan pengembalian uang muka pembelian pesawat
sebesar 74,61% di tahun 2016.
Hasil analisis aktivitas invenstasi pada laporan arus kas PT Garuda
Indonesia, Tbk. menunjukkan bahwa penerimaan kas lebih sedikit daripada
pengeluaran kas. Penurunan yang cukup signifikan terlihat pada penerimaan
pengembalian uang muka pembelian pesawat dari tahun 2013 sampai tahun 2016.
Sedangkan peningkatan yang signifikan terlihat pada akun uang muka pembelian
pesawat dari tahun ke tahunnya. Dan akun lainnya cenderung mengalami fluktuasi
begitupun kas bersih yang digunakan untuk aktivitas investasi.

7.8 Arus Kas Dari Aktivitas Pendanaan


2013 2014 2015 2016
Penerimaan 431.112.338 481.920.742 78.196.510 59.656.335
pinjaman
jangka panjang
Penerimaan - 133.511.711 - -
dari penawaran
saham bersih
Penerimaan 181.946.307 172.085.834 1.173.194.154 1.359.271.806
utang bank dan
lembaga
keuangan
Penerimaan 200.259.361 - - -
obligasi
bersih
Penerimaan - - 496.280.000 -
sukuk bersih
Pembayaran (228.479.260) (371.971.858) (676.547.731) (126.456.343)
pinjaman
jangka panjang
Pembayaran (142.398.200) (162.680.475) (892.533.705) (1.024.441.948)
utang bank dan
lembaga
keuangan
Kenaikan (1.710.965) 2.751.957 3.618.439 (49.615)
(penurunan)
kas yang
dibatasi
penggunaannya
Pembayaran (6.677.864) (2.883.214) (67.483) (237.613)
biaya
pengembalian
pesawat
Penerimaan (1.776.784) 184.742 (753.205) (261.711)
(pembayaran)
untuk aktivitas
pendanaan
lainnya
Kas Bersih 432.274.934 252.919.439 181.386.979 267.480.911
Diperoleh dari
Aktivitas
Pendanaan
Kas Bersih Diperoleh dari Aktivitas Pendanaan Kas bersih yang diperoleh
dari aktivitas pendanaan tahun 2016 sebesar US$267,48 juta. Penerimaan untuk
aktivitas pendanaan diperoleh dari penerimaan pinjaman jangka panjang sebesar
US$59,66 juta dan penerimaan utang bank & lembaga keuangan sebesar
US$1.359,27 juta. Jika dibandingkan dengan periode yang sama di tahun 2015,
maka kas bersih yang diperoleh dari aktivitas pendanaan mengalami peningkatan
sebesar 47,46%. Sampai dengan 31 Desember 2016, Perseroan telah melakukan
pembayaran pinjaman jangka panjang sebesar US$126,46 juta dan pembayaran
utang bank dan lembaga keuangan sebesar US$1.024,44 juta
Dari tahun 2013 sampai tahun 2016, aktivitas pendanaan PT Garuda
Indonesia, Tbk. kas masuk lebih banyak dibandingkan kas keluar sehingga tidak
terdapat defisit setiap tahunnya. Namun kas bersih yang diperoleh dari aktivitas
pendanaan sangat berfluktuatif dari tahun ke tahun. Hal ini dikarenakan perubahan
angka-angka yang drastis dari tahun 2014 ke tahun 2015 terutama pada akun
pinjaman jangka panjang. Terdapat penurunan penerimaan pinjaman jangka
panjang dan kenaikan pembayaran pinjaman jangka panjang yang sangat material
pada tahun 2014 ke tahun 2015.

7.9 Analisis Arus Kas


a) Arus Kas Bebas PT Garuda Indonesia pada tahun 2015 dan 2016
2015 2016
Arus kas dari operasi USD 179.399.348 USD 107.532.264
Pengeluaran modal bersih USD 376.500.961 USD 393.308.458
untuk mempertahankan
kapasitas produksi
Dividen saham preferen - -
dan saham biasa
Arus kas bebas USD -197.101.613 USD -285.776.194

Arus kas bebas pada tahun 2015 dan 2016 menghasilkan angka yang
negatif, yang berarti menjadi perhatian karena perusahaan tidak mampu menunjang
ekspansi atau pengembangan usaha. Karena negatif atau kekurangan dana, maka
perusahaan butuh dana lain untuk dapat menutupi kekurangan dalam memenuhi
kegiatan operasinya. Dana tersebut dapat berasal dari utang atau obligasi.

b) Arus Kas sebagai Validasi


Laporan arus kas merupakan jembatan penting antara laporan laba rugi dan
neraca. Laporan arus kas melaporkan arus kas masuk dan arus kas keluar , serta
kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban lancarnya. Lebih lanjut,
laporan arus kas memberikan petunjuk tentang :
Kelayakan pendanaan pengeluaran modal
Sumber kas dalam pendanaan ekspansi
Ketergantungan pada pendanaan eksternal (kewajiban vs ekuitas)
Kebijakan dividen di masa depan
Kemampuan untuk memenuhi persayaratan utang
Fleksibiltas keuangan untuk menghadapi kebutuhan dan kesempatan yang
tidak diantisipasi
Praktik keuangan oleh manajemen
Kualitas laba rugi

7.10 Rasio Arus Kas Khusus


a) Cash Flow Adequacy Ratio
Cash flow adequacy ratio merupakan perbandingan antara arus kas dari
operasi dengan pembayaran utang jangka panjang, pembelian aset, dan
pembayaran dividen yang dinyatakan dalam prosentase. Rasio ini digunakan
untuk mengevaluasi kemampuan perusahaan dalam menghasilkan kas guna
membayar utang, reinvestasi operasi, dan membayar dividen kepada investor.
Jika angka rasionya 1 atau 100% maka berarti perusahaan memiliki kas untuk
memenuhi kewajibannya baik kepada kreditur maupun investor dan dapat
melakukan investasi.

, ,

2014 2015 2016 Total


Cash from (54.152.784) 179.399.348 107.532.264 232.778.828
operations
Capital 206.112.235 110.774.652 160.116.770 477.003.657
expenditures
Inventory 0 0 0 0
Additions
Cash 0 0 0 0
Dividends

232.778.828
= = 0,488
477.003.657

Artinya, perusahaan hanya mampu mendanai menggunakan kas untuk


memenuhi kewajibannya baik kepada kreditur maupun investor dan dapat
melakukan investasi sebesar 48,8%.

b) Cash Reinvestment Ratio


Menggambarkan ukuran atas presentase investasi dalam aset yang
mencerminkan operasi yang ditahan dan diinvestasikan kembali dalam
perusahaan untuk mengganti aset dan pertumbuhan operasi.


+ + +

2014 2015 2016


Operating Cash (54.152.784) 179.399.348 107.532.264
Flow
Dividends - - -
Gross Plant 2.111.599.995 1.458.411.911 1.552.445.366
Investment in 545.647 399.772 427.479
Associates
Investment 26.818.510 55.390.166 57.772.474
properties
Other Assets 45.279.420 50.228.066 61.165.379
Total Current 810.514.943 1.007.848.005 1.165.133.302
Assets
Total Current 1.219.365.356 1.195.849.121 1.563.576.121
Liabilities

(54.152.784) 0
2014 = 2.111.599.995+27.364.157+45.279.420408.850.413 = -3,05%

179.399.348 0
2015 = 1.458.411.911+55.789.938+50.228.066188.011.116 = 13,03%

107.532.264 0
2016 = 1.552.445.366+58.199.953+61.165.379398.442.819 = 8,45%

Artinya, rasio reinvestasi kas pada Garuda sangat berfluktuatif selama tiga
tahun kebelakang. Operasi yang ditahan dan diinvestasikan kembali dalam
perusahaan untuk mengganti aset dan pertumbuhan operasi berturut-turut dari
tahun 2014 sampai 2016 adalah sebesar -3,05%; 13,03%; 8,45%.
BAB 8
ANALISIS PROSPEKTIF FORECASTING

8.1 Proyeksi Laporan Laba Rugi

Proforma Income
Actual Income Statement Actual Growth Estimate Growth Statement
nama akun 201 201 201 201 201 201 201
2- 3- 4- 5- 6- 7- 8-
201 201 201 201 201 201 201 2017 2018 2019
2012 2013 2014 2015 2016 3 4 5 6 7 8 9 F F F
PENDAPAT
AN USAHA
Penerbang 2.887 3.170 3384 3.208 3.279 -
an .250. .086. 3553 .469. .806. 9,8 6,7 5,2 2,2
berjadwal 744 191 86 733 762 0% 6% 0% 2%
Penerbang 269.0 215.9 2039 261.8 192.1 - - -
an tidak 91.57 65.88 0249 99.13 45.84 19, 5,5 28, 26,
berjadwal 7 7 8 8 8 74% 9% 44% 63%
316.1 330.0 3453 344.6 391.9 -
26.64 24.50 7238 20.87 68.95 4,4 4,6 0,2 13,
Lainnya 1 8 8 4 5 0% 5% 2% 74%
Jumlah 3.472 3.716 3.933 3.814 3.863 - 3.913 4.148 4.417
Pendapata .468. .076. .530. .989. .921. 7,0 5,8 3,0 1,2 6,0 6,5 7,0 .480. .289. .928.
n Usaha 962 586 272 745 565 2% 5% 1% 8% 0% 0% 0% 994 854 694
BEBAN
USAHA
Operasiona
l 1.908 2.244 2.562 2.190 2.187 - - 2.184 2.336 2.512
penerbang .975. .840. .179. .607. .316. 17, 14, 14, 0,1 7,0 7,5 8,0 .030. .912. .180.
an 113 144 370 282 263 59% 14% 50% 5% 0% 0% 0% 188 301 724
Tiket,
penjualan 317.4 335.8 354.8 309.6 310.1 - 310.7 312.3 315.4
dan 43.93 42.13 22.39 08.28 87.73 5,8 5,6 12, 0,1 0,5 1,0 1,5 68.26 22.10 45.33
promosi 5 5 6 1 2 0% 5% 74% 9% 0% 0% 0% 7 9 0
Pelayanan 263.9 283.5 302.9 270.7 286.2 - 302.7 320.8 343.3
penumpan 49.41 00.86 08.13 50.08 89.76 7,4 6,8 10, 5,7 6,0 7,0 8,0 21.34 84.62 46.55
g 8 1 7 4 6 1% 5% 62% 4% 0% 0% 0% 7 8 2
240.4 266.9 339.7 301.8 334.0 - 369.6 388.1 423.0
79.50 98.35 56.09 80.82 47.20 11, 27, 11, 10, 5,0 9,0 10, 41.02 23.07 54.15
Bandara 2 6 6 2 7 03% 25% 15% 66% 0% 0% 00% 5 6 3
Administra 213.7 218.7 244.5 224.9 226.7 - 228.7 232.1 236.7
si dan 37.82 72.36 10.49 07.11 97.92 2,3 11, 8,0 0,8 1,5 2,0 2,5 04.63 35.20 77.90
umum 7 4 8 1 5 6% 76% 2% 4% 0% 0% 0% 5 5 9
Pemelihara 288.8 288.2 419.5 376.5 393.3 - - 410.8 433.8 459.9
an dan 53.66 13.71 36.77 00.96 08.45 0,2 45, 10, 4,4 5,6 6,0 6,6 66.26 74.77 07.26
perbaikan 4 5 4 1 8 2% 56% 26% 6% 0% 0% 0% 4 4 1
Operasiona
l - -
transportas 18.29 19.81 17.79 17.52 17.84 8,3 10, 1,5 1,8 2,5 3,0 3,5 18.17 18.62 19.18
i 0.868 6.371 8.905 8.744 8.699 4% 18% 2% 3% 0% 0% 0% 4.494 8.857 7.722
- -
Operasiona 16.88 18.00 16.75 10.30 11.95 6,6 6,9 38, 15, 3,5 4,0 4,5 13.86 14.34 14.92
l jaringan 3.310 7.374 5.061 3.636 1.555 6% 5% 50% 99% 0% 0% 0% 3.035 8.241 2.171
- -
Operasiona 25.80 33.75 34.07 29.69 28.18 30, 0,9 12, 5,1 4,0 4,0 4,0 26.73 27.80 28.92
l hotel 9.070 8.910 7.718 8.564 0.038 80% 4% 85% 1% 0% 0% 0% 9.156 8.722 1.071
Beban lain- 9.974
lain - bersih .151 0 0 0 0
Jumlah 3.304 3.709 4.292 3.731 3.795 - 3.861 4.085 4.353
Beban .396. .750. .344. .785. .927. 12, 15, 13, 1,7 5,8 6,5 .172. .037. .742.
Usaha 858 230 955 485 643 27% 70% 06% 2% 0% 8% 280 914 893
- - -
168.0 395.2 168.7 - 800 142 -
LABA 72.10 56.44 28.12 45.44 99.10 66, ,16 ,70 41, 8,6 1,4 58.20 63.25 64.18
USAHA 4 8.275 1 1 3.939 41% % % 27% 7% 8% 3.592 1.940 5.801

Asumsi Pro Forma Income Statement Tahun 2017


1. Penjualan diperkirakan meningkat 6,0 %, hal ini dikarenakan:
- Selama tahun 2016, frekuensi penerbangan Perseroan mengalami
peningkatan sebesar 9,84% dari tahun 2015. Kenaikan frekuensi ini terjadi
seiring dengan perluasan jaringan penerbangan yang dilakukan di lingkup
domestik maupun internasional. Jumlah penumpang yang diangkut juga
tumbuh sebesar 6,19%. Sehingga diperkirakan untuk tahun 2017 juga akan
mengalami peningkatan jumlah penumpang sebesar 7 % dikarenakan strategi
PT garuda yang akan terus melanjutkan strategi restrukturisasi rute,
meningkatkan jaringan penerbangan di lingkup domestik maupun
internasional.
- Perseroan mencatatkan pertumbuhan kapasitas produksi (ASK) sebesar
13,26% dibandingkan tahun 2015. Dengan pencapaian ASK tersebut,
Perseroan berhasil mencatat pertumbuhan Revenue Passenger Kilometers
(RPK) sebesar 8,30% dibandingkan tahun 2015. Sehingga pada tahun 2017
diperkirakan Revenue Passenger Kilometers (RPK) akan meningkat sebesar
8,5%.
- Peningkatan persaingan yang turut menyebabkan penurunan pada harga rata-
rata penjualan tiket, yang menjadi salah satu tantangan utama Perseroan di
tahun 2016. Harga rata rata penjualan tiket menurun sejalan dengan
penurunan passenger yield sebesar 7,10% dibandingkan dengan tahun 2015.
Sehingga diperkirakan pada tahun 2017 passenger yield akan turun sebesar
8% dikarenakan kondisi industri penerbangan untuk beberapa tahun kedepan
sedang mengalami pertumbuhan, yang menyebabkan tingginya persaingan
antar maskapai baik itu maskapai milik swasta maupun milik negara.
- Tingkat ketepatan penerbangan (OTP) pada tahun 2016 mencapai 89,51%,
dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 87,99%. Hal ini antara lain
dipengaruhi oleh berkurangnya trafik udara di Bandara Soekarno Hatta
dengan beroperasinya Bandara Halim Perdanakusuma. Sehingga pada tahun
2017 diperkirakan Tingkat ketepatan penerbangan (OTP) akan mencapai
angka 91% dikarenakan garuda merupakan perusahaan yang memiliki
komitmen untuk fokus pada pemberian pelayanan dan kualitas terbaik.
Kenaikan tingkat OTP ini juga meningkat seiring dengan perbaikan
infrastruktur bandara di Indonesia.
- Jumlah trafik kargo meningkat 18,22% menjadi 415,824 ton dibandingkan
dengan tahun sebelumnya sebesar 351,741 ton. Kenaikan trafik tersebut juga
menyebabkan Garuda Indonesia masih memimpin pangsa pasar kargo,
terutama di pasar domestik. Secara keseluruhan, jumlah pendapatan
meningkat 16,65% dibandingkan tahun 2015. Peningkatan signifikan pada
kontribusi kargo terutama seiring dengan fokus Perseroan untuk
meningkatkan bisnis kargo selaku lini bisnis yang prospektif selain lini bisnis
utama Perseroan. Komitmen ini antara lain diwujudkan dengan mengubah
status Garuda Indonesia Cargo dari SBU menjadi direktorat. Sehingga pada
tahun 2017 dapat diperkirakan pendapatan perusahaan dari Cargo meningkat
20%.
- Berdasarkan trent rata-rata perusahaan memperoleh peningkatan pendapatan
lain-lain di setiap tahunnya sebesar 4% terutama berasal dari keuntungan jual
& sewa balik, pemulihan dari (penurunan) nilai aset, dan klaim asuransi
sebesar US$4,87 juta.
- Kondisi perekonomian Indonesia diproyeksikan naik sebesar 5,30% tahun
2017 dibandingkan dengan tahun 2016 sebesar 5,00%. Proyeksi
pertumbuhan GDP yang baik ini diharapkan dapat membantu menstabilkan
bisnis kargo dan penumpang
2. Beban usaha diperkirakan meningkat 6,93% hal dikarenakan :
- Beban usaha Perseroan pada tahun 2016 mengalami peningkatan sebesar
3,25% menjadi US$3.764,82 juta dibandingkan tahun sebelumnya
US$3.646,22 juta. Peningkatan biaya terbesar berasal dari beban perbaikan
dan pemeliharaan pesawat sebesar 4,46% jika dibandingkan dengan tahun
sebelumnya. Peningkatan beban perbaikan dan pemeliharaan pesawat seiring
dengan penambahan armada dan beban bandara. Sehingga pada tahun 2017
diperkirakankan beban perbaikan dan pemeliharaan pesawat mencapai
sebesar 5,6%, dikarenakan perusahaan akan terus melakukan penambahan
armada pesawat dan beban bandara sehingga berdampak pada beban
perbaikan dan pemeliharaan pesawat.
- Selama tahun 2016, Perseroan juga melakukan penambahan kapasitas
dengan mendatangkan beberapa pesawat yaitu 4 (empat) ATR 72-600, 4
(empat) A330-300, 1 (satu) B777300ER dan 8 (delapan) A320-200.
Penambahan armada ini ditujukan untuk membuka beberapa rute dan
destinasi baru baik di domestik maupun internasional. Sehingga total
pesawat yang dioperasikan Perseroan selama tahun 2016 adalah sebanyak
196 pesawat dengan rata-rata usia pesawat 4,62 tahun.
- Beban bahan bakar tahun 2016 tercatat sebesar US$924,65 juta turun 11,92%
dibandingkan tahun 2015 yang sebesar US$1.049,82 juta. Penurunan ini
merupakan dampak penurunan harga bahan bakar sebesar 17,96% pada
tahun 2016. Pada tahun 2017 diperkirakan, harga minyak mentah meningkat
25,5% yaitu dari rata-rata US$44,60 per barel diperkirakan meningkat
menjadi US$56.00 dolar. Hal ini akan mendorong beban bahan bakar
penerbangan akan meningkat di tahun 2017 seiring dengan kenaikan harga
dan penambahan kapasitas produksi.
- Beban tiket, penjualan dan promosi yang menyumbang 8,17% dari total
beban usaha juga mengalami peningkatan sebesar 0,19% menjadi
US$310,19 juta. Sehingga diperkirakan tahun 2017 akan ada peningkatan
sebesar 0,5%. Karena pemberian promo kepada pelanggan merupakan salah
satu strateginya perusahaan dalam melakukan pemasaran.
- Beban pelayanan penumpang tahun 2016 tercatat sebesar US$286,29 juta,
meningkat 5,74% dari tahun 2015 yang tercatat sebesar US$270,75 juta
terkait peningkatan beban gaji dan tunjangan sebesar 29,12%. Sehingga pada
tahun 2017 diperkirakan terjadi peningkatan beban usaha pelayanan
penumpang sebesar 6%.
- Beban bandara tahun 2016 berjumlah US$334,05 juta atau 8,87% dari
total beban usaha, mengalami peningkatan sebesar 10,66% terutama akibat
kenaikan beban layanan pesawat dan penerbangan seiring peningkatan
frekuensi sebesar 9,84%. Sehingga pada tahun 2017 peningkatan beban
bandara akan meningkat sebesar 5% seiring dengan strategi perusahaan yang
akan terus meningkatkan frekuensi penerbangan.
- Beban administrasi dan umum mengalami peningkatan sebesar
0,84%, dari US$224,91 juta pada tahun 2015 menjadi US$226,80 juta di
tahun 2016, terkait peningkatan beban sewa, asuransi, kesehatan, dan beban
lainnya masing-masing sebesar 41,46%, 19,61%, 171,42% dan 66,37%.
Beban ini menyumbang 6,02% dari total beban usaha. Sehingga pada tahun
2017 diperkirakan akan meningkat sebesar 1,5% dikarenakan dampak inflasi
dan lain-lainnya.
- Beban operasional hotel berjumlah US$28,18juta turun 5,11%
dari tahun 2015 yang sebesar US$29,70 juta. Beban ini menyumbang 0,74%
dari total beban usaha. Pada tahun 2017 diperkirakan beban operational akan
meningkat 4% dikarenakan dampak dari inflasi bahan baku makanan dan
meningkatnya upah minimum pekerja.
- Beban operasional transportasi dan operasi jaringan mengalami
peningkatan masing-masing sebesar 1,83% dan 15,99%. Adapun porsi beban
ini terhadap total beban usaha masing-masing sebesar 0,47% dan 0,31%.
Sehingga tahun 2017 diperkirakan akan meningkat menjadi 2,5% dan 3,5%
dikarenakan inflasi.
3. Tingkat inflasi Indonesia tahun 2016 berada pada kisaran 3,30%, namun
tekanan yang berpengaruh terhadap inflasi selama tahun 2016 akan terus
berkembang dan berpengaruh kepada tingkat daya beli masyarakat Indonesia.
Sehingga pada tahun 2017, tingkat inflasi diperkirakan akan berada pada
kisaran 3,07%.
4. Faktor penting lain dari perekonomian adalah pergerakan nilai tukar Rupiah
terhadap valuta asing. Berdasarkan asumsi internal perkiraan rata-rata nilai
tukar Rupiah terhadap Dolar AS di tahun 2017 dapat berada di kisaran
Rp13.000 Rp13.300 per US$1.
5. Faktor lain yang menyebabkan penurunan laba ditahun 2016 diantaranya adalah
tingginya biaya investasi, kondisi perekonomian global yang belum membaik
yang berdampak pada turunnya daya beli masyarakat, serta bencana alam
seperti erupsi, banjir, dan longsor yang terjadi di beberapa wilayah Indonesia.

Asumsi Pro Forma Income Statement Tahun 2018


1. Penjualan diperkirakan meningkat 6,5 %, hal ini dikarenakan :
- Jumlah penumpang diperkirakan meningkat 8% seiring dengan
meningkatnya frekuensi penerbangan dikarenakan perluasan jaringan
penerbangan yang dilakukan di lingkup domestik maupun internasional.
- Revenue Passenger Kilometers (RPK) diperkirakan akan meningkat sebesar
9% seiring dengan peningkatan ASK dikarenakan garuda merupakan
perusahaan yang memiliki fokus strategi untuk terus meningkatkan
pelayanan.
- Passenger yield akan turun sebesar 6% dikarenakan kondisi industri
penerbangan untuk beberapa tahun kedepan sedang mengalami
pertumbuhan, yang menyebabkan tingginya persaingan antar maskapai baik
itu maskapai milik swasta maupun milik negara.
- Tingkat ketepatan penerbangan (OTP) akan mencapai angka 93%
dikarenakan garuda merupakan perusahaan yang memiliki komitmen untuk
fokus pada pemberian pelayanan dan kualitas terbaik. Kenaikan tingkat OTP
ini juga meningkat seiring dengan perbaikan infrastruktur bandara di
Indonesia.
- Pendapatan cargo diperkirakan meningkat 10% dari tahun sebelumnya
dikarenakan Perseroan fokus untuk meningkatkan bisnis kargo selaku lini
bisnis yang prospektif selain lini bisnis utama Perseroan.
- Berdasarkan trent rata-rata perusahaan memperoleh peningkatan pendapatan
lain-lain di setiap tahunnya sebesar 4% terutama berasal dari keuntungan jual
& sewa balik, pemulihan dari (penurunan) nilai aset, dan klaim asuransi
sebesar US$4,87 juta.
- Kondisi perekonomian Indonesia diproyeksikan naik sebesar 5,60% tahun
2018 dibandingkan dengan tahun 2017 sebesar 5,30%. Proyeksi
pertumbuhan GDP yang baik ini diharapkan dapat membantu menstabilkan
bisnis kargo dan penumpang
2. Beban usaha diperkirakan meningkat 8,03% hal dikarenakan :
- Beban perbaikan dan pemeliharaan pesawat diperkirakan meningkat sebesar
6%, dikarenakan perusahaan akan terus melakukan penambahan armada
pesawat dan beban bandara sehingga berdampak pada beban perbaikan dan
pemeliharaan pesawat.
- Beban bahan bakar meningkat diperkirakan 20%, hal ini dikarenakan harga
bahan bakar biasana akan mengikuti kondisi perekonomian, dimana kondisi
perekonomian masih terganggu.
- Beban tiket, penjualan dan promosi diperkirakan mengalami
peningkatan sebesar 1 %. Karena pemberian promo kepada pelanggan
merupakan salah satu strateginya perusahaan dalam melakukan pemasaran.
- Beban usaha pelayanan penumpang diperkirakan mengalami peningkatan
sebesar 7% karena dipengaruhi oleh peningkatan beban gaji dan tunjangan
minimum
- Beban bandara di perkirakan akan meningkat sebesar 9% seiring dengan
strategi perusahaan yang akan terus meningkatkan frekuensi penerbangan
dan peningkatan insfrastruktur.
- Beban administrasi dan umum diperkirakan akan meningkat sebesar
2% dikarenakan dampak peningkatan beban sewa, asuransi, kesehatan, dan
beban lainnya.
- Sesuai dengan tren diperkirakan beban operational hotel akan meningkat 4%
dikarenakan dampak dari inflasi bahan baku makanan dan meningkatnya
upah minimum pekerja.
- Beban operasional transportasi dan operasi jaringan
mengalami peningkatan masing-masing sebesar 3% dan 4% dikarenakan
inflasi.
3. Tingkat inflasi pada tahun 2018 diperkirakan akan berada pada kisaran 4%.

Asumsi Pro Forma Income Statement Tahun 2019


1. Penjualan diperkirakan meningkat 7,0 %, hal ini dikarenakan :
- Jumlah penumpang diperkirakan meningkat 9% seiring dengan
meningkatnya frekuensi penerbangan dikarenakan perluasan jaringan
penerbangan yang dilakukan di lingkup domestik maupun internasional.
- Revenue Passenger Kilometers (RPK) diperkirakan akan meningkat sebesar
9,5% seiring dengan peningkatan ASK dikarenakan garuda merupakan
perusahaan yang memiliki fokus strategi untuk terus meningkatkan
pelayanan.
- Passenger yield akan turun sebesar 3% dikarenakan kondisi industri
penerbangan untuk beberapa tahun kedepan sedang mengalami
pertumbuhan, yang menyebabkan tingginya persaingan antar maskapai baik
itu maskapai milik swasta maupun milik negara.
- Tingkat ketepatan penerbangan (OTP) akan mencapai angka 95%
dikarenakan garuda merupakan perusahaan yang memiliki komitmen untuk
fokus pada pemberian pelayanan dan kualitas terbaik. Kenaikan tingkat OTP
ini juga meningkat seiring dengan perbaikan infrastruktur bandara di
Indonesia.
- Pendapatan cargo diperkirakan meningkat 10% dari tahun sebelumnya
dikarenakan Perseroan fokus untuk meningkatkan bisnis kargo selaku lini
bisnis yang prospektif selain lini bisnis utama Perseroan.
- Berdasarkan trent rata-rata perusahaan memperoleh peningkatan pendapatan
lain-lain di setiap tahunnya sebesar 4% terutama berasal dari keuntungan jual
& sewa balik, pemulihan dari (penurunan) nilai aset, dan klaim asuransi
sebesar US$4,87 juta.
- Kondisi perekonomian Indonesia diproyeksikan naik sebesar 5,90% tahun
2018 dibandingkan dengan tahun 2017 sebesar 5,60%. Proyeksi
pertumbuhan GDP yang baik ini diharapkan dapat membantu menstabilkan
bisnis kargo dan penumpang
2. Beban usaha diperkirakan meningkat 8,03% hal dikarenakan :
- Beban perbaikan dan pemeliharaan pesawat diperkirakan meningkat sebesar
6,6%, dikarenakan perusahaan akan terus melakukan penambahan armada
pesawat dan beban bandara sehingga berdampak pada beban perbaikan dan
pemeliharaan pesawat.
- Beban bahan bakar meningkat diperkirakan 10%, hal ini dikarenakan harga
bahan bakar biasanya akan mengikuti kondisi perekonomian, dimana kondisi
perekonomian masih terganggu.
- Beban tiket, penjualan dan promosi diperkirakan mengalami
peningkatan sebesar 1,5 %. Karena pemberian promo kepada pelanggan
merupakan salah satu strateginya perusahaan dalam melakukan pemasaran.
- Beban usaha pelayanan penumpang diperkirakan mengalami peningkatan
sebesar 8 % karena dipengaruhi oleh peningkatan beban gaji dan tunjangan
minimum
- Beban bandara di perkirakan akan meningkat sebesar 10% seiring dengan
strategi perusahaan yang akan terus meningkatkan frekuensi penerbangan
dan peningkatan insfrastruktur.
- Beban administrasi dan umum diperkirakan akan meningkat sebesar
2,5% dikarenakan dampak peningkatan beban sewa, asuransi, kesehatan, dan
beban lainnya.
- Sesuai dengan tren diperkirakan beban operational hotel akan meningkat 4%
dikarenakan dampak dari inflasi bahan baku makanan dan meningkatnya
upah minimum pekerja.
- Beban operasional transportasi dan operasi jaringan
mengalami peningkatan masing-masing sebesar 3,5% dan 4,5%
dikarenakan inflasi.
3. Tingkat inflasi pada tahun 2019 diperkirakan akan berada pada kisaran 4%
keatas.

8.2 Proyeksi Neraca


Actual Balance Sheet

Actual Balance Sheet


Nama Akun

2012 2013 2014 2015 2016


ASET LANCAR
Kas dan setara kas $325.784.942 $475.260.630 $434.327.498 $519.972.655 $578.702.739
Piutang usaha
Pihak berelasi $5.085.143 $4.034.966 $2.747.485 $2.318.588 $3.716.431
Pihak ketiga $124.385.955 $135.946.397 $117.876.342 $119.209.053 $187.579.134
Piutang lain-lain $7.877.613 $8.745.081 $8.349.932 $17.581.553 $21.172.730
Persediaan - bersih $83.443.877 $90.328.457 $85.204.399 $91.631.231 $108.954.457
Uang muka dan
biaya dibayar dimuka $84.809.542 $89.243.446 $134.765.800 $177.104.409 $220.275.067
Pajak dibayar
dimuka $5.179.146 $15.574.946 $27.243.487 $80.030.516 $44.732.744
JUMLAH ASET
LANCAR $636.566.218 $819.133.923 $810.514.943 $1.007.848.005 $1.165.133.302

ASET TIDAK
LANCAR
Dana perawatan
pesawat dan uang
jaminan $461.933.812 $617.623.057 $786.933.317 $1.012.753.651 $1.241.870.703
Uang muka
pembelian pesawat $497.157.419 $500.366.436 $388.883.491 $204.469.384 $169.738.910
Investasi pada entitas
asosiasi $16.517.489 $17.459.916 $545.647 $399.772 $427.479
Aset pajak tangguhan $11.462.857 $26.209.085 $119.650.511 $104.990.625 $108.493.964
Aset tetap $798.079.135 $863.098.897 $922.994.362 $867.089.209 $926.666.977
Properti investasi $18.912.898 $22.020.790 $26.818.510 $55.390.166 $57.772.474
Aset takberwujud -
bersih $7.217.106 $6.822.881 $6.047.329 $4.648.523 $4.992.892
Beban tangguhan -
bersih $1.319.027 $7.219.535 $5.411.785 $2.193.585 $1.307.310
Aset lain-lain -
$73.830.432 $45.279.420
bersih $68.831.805 $50.228.066 $61.165.379
JUMLAH ASET
TIDAK LANCAR $1.881.431.548 $2.134.651.029 $2.302.564.372 $2.302.162.981 $2.572.436.088
JUMLAH ASET $2.517.997.766 $2.953.784.952 $3.113.079.315 $3.310.010.986 $3.737.569.390

LIABILITAS
JANGKA PENDEK
Utang bank dan
lembaga keuangan $5.651.251 $45.222.668 $75.312.110 $361.254.270 $698.011.118
Utang usaha
Pihak-pihak
berelasi $83.773.489 $122.293.726 $111.563.071 $44.963.436 $91.412.955
Pihak Ketiga $89.696.142 $83.892.550 $104.026.360 $104.392.331 $129.019.003
Utang lain-lain $16.669.543 $16.271.886 $24.196.608 $49.901.950 $35.583.709
Utang pajak $20.407.652 $17.037.776 $18.458.721 $80.997.046 $39.458.951
Beban akrual $169.268.165 $160.967.081 $224.597.949 $181.042.507 $197.983.396
Pendapatan diterima
dimuka $162.270.578 $169.265.396 $210.488.910 $176.531.019 $229.846.173
Uang muka diterima $20.417.066 $20.534.373 $29.581.017 $24.549.496 $30.932.877
Liabilitas jangka
panjang yang jatuh
tempo dalam satu
tahun:
Pinjaman jangka
panjang $106.125.048 $280.075.641 $368.945.183 $103.936.071 $61.696.994
Liabilitas sewa
pembiayaan $58.132.590 $53.268.680 $12.933.174 $15.125.233 $22.311.219
Liabilitas estimasi
biaya pengembalian
dan pemeliharaan
pesawat $21.795.528 $15.060.990 $39.262.253 $53.155.762 $27.319.726
JUMLAH
LIABILITAS
JANGKA PENDEK $754.207.052 $983.890.767 $1.219.365.356 $1.195.849.121 $1.563.576.121

LIABILITAS
JANGKA
PANJANG
Liabilitas jangka
panjang
Pinjaman jangka
panjang $294.822.442 $324.619.850 $446.699.347 $133.022.468 $132.418.213
Liabilitas sewa
pembiayaan $148.220.008 $138.482.264 $105.965.183 $106.055.960 $138.588.227
Liabilitas estimasi
biaya pengembalian
dan pemeliharaan
pesawat $30.536.262 $55.191.260 $73.526.187 $69.448.854 $86.550.585
Utang obligasi - $162.850.383 $159.758.003 $635.947.442 $641.041.165
Liabilitas pajak
tangguhan $15.019.898 $16.987.753 $2.531.137 $1.661.989 $2.055.561
Liabilitas imbalan
kerja $152.987.113 $128.743.051 $190.327.180 $177.519.224 $116.009.808
Liabilitas tidak
lancar lainnya $7.244.913 $25.871.507 $35.439.331 $39.782.743 $47.432.491
JUMLAH
LIABILITAS
JANGKA
PANJANG $648.830.636 $852.746.068 $1.014.246.368 $1.163.438.680 $1.164.096.050
JUMLAH
LIABILITAS $1.403.037.688 $1.836.636.835 $2.233.611.724 $2.359.287.801 $2.727.672.171

EKUITAS
Modal Saham $1.146.031.889 $1.146.031.889 $1.309.433.569 $1.309.433.569 $1.309.433.569
Tambahan modal
disetor $4.548.037 $4.548.037 $-33.948.489 $-33.948.489 $-33.948.489
Opsi saham $1.148.451 $2.770.970 $2.770.970 $2.770.970 $2.770.970
Saldo laba
Dicadangkan - $5.529.919 $6.081.861 $6.081.861 $6.081.861
Belum
dicadangkan $110.598.370 $118.391.074 $-293.955.127 $-220.046.387 $-221.069.730
Pendapatan
komprehensif
lainnya $-149.237.597 $-161.593.912 $-126.884.816 $-130.770.768 $-70.462.233
Ekuitas yang dapat
diatribusikan
kepada pemilik $1.113.089.150 $1.115.677.977 $863.497.968 $933.520.756 $992.805.948
Kepentingan non
pengendali $1.870.928 $1.470.140 $15.969.623 $17.202.429 $17.091.271
JUMLAH
EKUITAS $1.114.960.078 $1.117.148.117 $879.467.591 $950.723.185 $1.009.897.219
JUMLAH
LIABILITAS DAN
EKUITAS $2.517.997.766 $2.953.784.952 $3.113.079.315 $3.310.010.986 $3.737.569.390

Actual Growth

Actual Growth
Nama Akun

2012-2013 2013-2014 2014-2015 2015-2016


ASET LANCAR
Kas dan setara kas 45,88% -8,61% 19,72% 11,29%
Piutang usaha
Pihak berelasi -20,65% -31,91% -15,61% 60,29%
Pihak ketiga 9,29% -13,29% 1,13% 57,35%
Piutang lain-lain 11,01% -4,52% 110,56% 20,43%
Persediaan - bersih 8,25% -5,67% 7,54% 18,91%
Uang muka dan biaya dibayar dimuka 5,23% 51,01% 31,42% 24,38%
Pajak dibayar dimuka 200,72% 74,92% 193,76% -44,11%
JUMLAH ASET LANCAR 28,68% -1,05% 24,35% 15,61%

ASET TIDAK LANCAR


Dana perawatan pesawat dan uang jaminan 33,70% 27,41% 28,70% 22,62%
Uang muka pembelian pesawat 0,65% -22,28% -47,42% -16,99%
Investasi pada entitas asosiasi 5,71% -96,87% -26,73% 6,93%
Aset pajak tangguhan 128,64% 356,52% -12,25% 3,34%
Aset tetap 8,15% 6,94% -6,06% 6,87%
Properti investasi 16,43% 21,79% 106,54% 4,30%
Aset takberwujud - bersih -5,46% -11,37% -23,13% 7,41%
Beban tangguhan - bersih 447,34% -25,04% -59,47% -40,40%
Aset lain-lain - bersih 7,26% -38,67% 10,93% 21,78%
JUMLAH ASET TIDAK LANCAR 13,46% 7,87% -0,02% 11,74%
JUMLAH ASET 17,31% 5,39% 6,33% 12,92%

LIABILITAS JANGKA PENDEK


Utang bank dan lembaga keuangan 700,22% 66,54% 379,68% 93,22%
Utang usaha
Pihak-pihak berelasi 45,98% -8,77% -59,70% 103,31%
Pihak Ketiga -6,47% 24,00% 0,35% 23,59%
Utang lain-lain -2,39% 48,70% 106,24% -28,69%
Utang pajak -16,51% 8,34% 338,80% -51,28%
Beban akrual -4,90% 39,53% -19,39% 9,36%
Pendapatan diterima dimuka 4,31% 24,35% -16,13% 30,20%
Uang muka diterima 0,57% 44,06% -17,01% 26,00%
Liabilitas jangka panjang yang jatuh tempo
dalam satu tahun:
Pinjaman jangka panjang 163,91% 31,73% -71,83% -40,64%
Liabilitas sewa pembiayaan -8,37% -75,72% 16,95% 47,51%
Liabilitas estimasi biaya pengembalian
dan pemeliharaan pesawat -30,90% 160,69% 35,39% -48,60%
JUMLAH LIABILITAS JANGKA
PENDEK 30,45% 23,93% -1,93% 30,75%

LIABILITAS JANGKA PANJANG


Liabilitas jangka panjang
Pinjaman jangka panjang 10,11% 37,61% -70,22% -0,45%
Liabilitas sewa pembiayaan -6,57% -23,48% 0,09% 30,67%
Liabilitas estimasi biaya pengembalian
dan pemeliharaan pesawat 80,74% 33,22% -5,55% 24,62%
Utang obligasi -1,90% 298,07% 0,80%
Liabilitas pajak tangguhan 13,10% -85,10% -34,34% 23,68%
Liabilitas imbalan kerja -15,85% 47,83% -6,73% -34,65%
Liabilitas tidak lancar lainnya 257,10% 36,98% 12,26% 19,23%
JUMLAH LIABILITAS JANGKA
PANJANG 31,43% 18,94% 14,71% 0,06%
JUMLAH LIABILITAS 30,90% 21,61% 5,63% 15,61%

EKUITAS
Modal Saham 0,00% 14,26% 0,00% 0,00%
Tambahan modal disetor 0,00% -846,44% 0,00% 0,00%
Opsi saham 141,28% 0,00% 0,00% 0,00%
Saldo laba
Dicadangkan 9,98% 0,00% 0,00%
Belum dicadangkan 7,05% -348,29% -25,14% 0,47%
Pendapatan komprehensif lainnya 8,28% -21,48% 3,06% -46,12%
Ekuitas yang dapat diatribusikan kepada
pemilik 0,23% -22,60% 8,11% 6,35%
Kepentingan non pengendali -21,42% 986,27% 7,72% -0,65%
JUMLAH EKUITAS 0,20% -21,28% 8,10% 6,22%

JUMLAH LIABILITAS DAN EKUITAS 17,31% 5,39% 6,33% 12,92%

Forecast Balance Sheet

Forecast Balance Sheet


Nama Akun

2017F 2018F 2019F


ASET LANCAR
Kas dan setara kas $468.498.724 $486.932.272 $615.381.562
Piutang usaha
Pihak berelasi $3.218.662 $2.784.143 $3.003.985
Pihak ketiga $122.873.411 $125.465.332 $129.018.337
Piutang lain-lain $20.655.756 $23.421.389 $24.903.112
Persediaan - bersih $98.729.423 $89.498.222 $91.281.371
Uang muka dan biaya dibayar
dimuka $263.625.450 $306.551.123 $339.821.319
Pajak dibayar dimuka $65.605.982 $75.390.034 $82.127.347
JUMLAH ASET LANCAR $1.043.207.408 $1.110.042.515 $1.285.537.033

ASET TIDAK LANCAR


Dana perawatan pesawat dan uang
jaminan $1.482.223.541 $1.628.400.329 $1.703.456.921
Uang muka pembelian pesawat $135.356.422 $107.946.746 $88.365.412
Investasi pada entitas asosiasi $340.432 $356.892 $399.211
Aset pajak tangguhan $101.327.871 $111.460.986 $108.545.007
Aset tetap $983.902.855 $844.904.832 $826.069.532
Properti investasi $60.139.338 $62.611.064 $63.995.055
Aset takberwujud - bersih $4.711.866 $4.448.002 $4.639.884
Beban tangguhan - bersih $1.002.494 $768.913 $982.336
Aset lain-lain - bersih $65.300.890 $69.708.700 $72.068.086
JUMLAH ASET TIDAK
LANCAR $2.834.305.709 $2.830.606.464 $2.868.521.444
JUMLAH ASET $3.877.513.117 $3.940.648.979 $4.154.058.477

LIABILITAS JANGKA PENDEK


Utang bank dan lembaga keuangan $885.320.402 $915.503.707 $1.094.379.634
Utang usaha
Pihak-pihak berelasi $96.689.454 $102.162.077 $107.832.072
Pihak Ketiga $123.580.006 $126.051.606 $129.833.154
Utang lain-lain $38.885.838 $42.521.663 $46.527.204
Utang pajak $29.792.150 $23.088.916 $18.355.688
Beban akrual $185.337.475 $173.290.539 $161.853.363
Pendapatan diterima dimuka $180.211.456 $187.338.900 $194.832.456
Uang muka diterima $26.262.399 $27.866.320 $29.566.165
Liabilitas jangka panjang yang jatuh
tempo dalam satu tahun:
Pinjaman jangka panjang $74.705.124 $90.393.200 $109.303.457
Liabilitas sewa pembiayaan $27.308.610 $33.453.047 $41.013.435
Liabilitas estimasi biaya
pengembalian dan pemeliharaan
pesawat $30.234.119 $33.469.169 $37.060.411
JUMLAH LIABILITAS JANGKA
PENDEK $1.698.327.033 $1.755.139.144 $1.970.557.039

LIABILITAS JANGKA
PANJANG
Liabilitas jangka panjang
Pinjaman jangka panjang $135.590.372 $138.885.218 $142.301.894
Liabilitas sewa pembiayaan $141.698.803 $144.500.903 $147.339.011
Liabilitas estimasi biaya
pengembalian dan pemeliharaan
pesawat $97.300.404 $105.421.122 $113.082.119
Utang obligasi $637.022.332 $630.583.735 $622.328.895
Liabilitas pajak tangguhan $1.931.356 $1.728.324 $1.554.217
Liabilitas imbalan kerja $144.324.682 $133.567.649 $122.701.606
Liabilitas tidak lancar lainnya $61.228.978 $67.443.442 $70.024.978
JUMLAH LIABILITAS JANGKA
PANJANG $1.219.096.927 $1.222.130.393 $1.219.332.720
JUMLAH LIABILITAS $2.917.423.960 $2.977.269.537 $3.189.889.759

EKUITAS
Modal Saham $1.309.433.569 $1.309.433.569 $1.309.433.569
Tambahan modal disetor $-33.948.489 $-33.948.489 $-33.948.489
Opsi saham $2.770.970 $2.770.970 $2.770.970
Saldo laba
Dicadangkan $6.081.861 $6.081.861 $6.081.861
Belum dicadangkan $-220.556.523 $-222.893.022 $-217.980.382
Pendapatan komprehensif lainnya $-120.569.701 $-114.665.320 $-118.323.065
Ekuitas yang dapat diatribusikan
kepada pemilik $943.211.687 $946.779.569 $948.034.464
Kepentingan non pengendali $16.877.470 $16.599.873 $16.134.254
JUMLAH EKUITAS $960.089.157 $963.379.442 $964.168.718

JUMLAH LIABILITAS DAN


EKUITAS $3.877.513.117 $3.940.648.979 $4.154.058.477

Forecast Growth

Forecast Growth
Nama Akun

2016-2017 2017-2018 2018-2019


ASET LANCAR
Kas dan setara kas -19,04% 3,93% 26,38%
Piutang usaha
Pihak berelasi -13,39% -13,50% 7,90%
Pihak ketiga -34,50% 2,11% 2,83%
Piutang lain-lain -2,44% 13,39% 6,33%
Persediaan - bersih -9,38% -9,35% 1,99%
Uang muka dan biaya dibayar dimuka 19,68% 16,28% 10,85%
Pajak dibayar dimuka 46,66% 14,91% 8,94%
JUMLAH ASET LANCAR -10,46% 6,41% 15,81%

ASET TIDAK LANCAR


Dana perawatan pesawat dan uang jaminan 19,35% 9,86% 4,61%
Uang muka pembelian pesawat -20,26% -20,25% -18,14%
Investasi pada entitas asosiasi -20,36% 4,84% 11,86%
Aset pajak tangguhan -6,61% 10,00% -2,62%
Aset tetap 6,18% -14,13% -2,23%
Properti investasi 4,10% 4,11% 2,21%
Aset takberwujud - bersih -5,63% -5,60% 4,31%
Beban tangguhan - bersih -23,32% -23,30% 27,76%
Aset lain-lain - bersih 6,76% 6,75% 3,38%
JUMLAH ASET TIDAK LANCAR 10,18% -0,13% 1,34%
JUMLAH ASET 3,74% 1,63% 5,42%

LIABILITAS JANGKA PENDEK


Utang bank dan lembaga keuangan 26,83% 3,41% 19,54%
Utang usaha
Pihak-pihak berelasi 5,77% 5,66% 5,55%
Pihak Ketiga -4,22% 2,00% 3,00%
Utang lain-lain 9,28% 9,35% 9,42%
Utang pajak -24,50% -22,50% -20,50%
Beban akrual -6,39% -6,50% -6,60%
Pendapatan diterima dimuka -21,59% 3,96% 4,00%
Uang muka diterima -15,10% 6,11% 6,10%
Liabilitas jangka panjang yang jatuh tempo dalam
satu tahun:
Pinjaman jangka panjang 21,08% 21,00% 20,92%
Liabilitas sewa pembiayaan 22,40% 22,50% 22,60%
Liabilitas estimasi biaya pengembalian dan
pemeliharaan pesawat 10,67% 10,70% 10,73%
JUMLAH LIABILITAS JANGKA PENDEK 8,62% 3,35% 12,27%

LIABILITAS JANGKA PANJANG


Liabilitas jangka panjang
Pinjaman jangka panjang 2,40% 2,43% 2,46%
Liabilitas sewa pembiayaan 2,24% 1,98% 1,96%
Liabilitas estimasi biaya pengembalian dan
pemeliharaan pesawat 12,42% 8,35% 7,27%
Utang obligasi -0,63% -1,01% -1,31%
Liabilitas pajak tangguhan -6,04% -10,51% -10,07%
Liabilitas imbalan kerja 24,41% -7,45% -8,14%
Liabilitas tidak lancar lainnya 29,09% 10,15% 3,83%
JUMLAH LIABILITAS JANGKA PANJANG 4,72% 0,25% -0,23%
JUMLAH LIABILITAS 6,96% 2,05% 7,14%

EKUITAS
Modal Saham 0,00% 0,00% 0,00%
Tambahan modal disetor 0,00% 0,00% 0,00%
Opsi saham 0,00% 0,00% 0,00%
Saldo laba
Dicadangkan 0,00% 0,00% 0,00%
Belum dicadangkan -0,23% 1,06% -2,20%
Pendapatan komprehensif lainnya 71,11% -4,90% 3,19%
Ekuitas yang dapat diatribusikan kepada
pemilik -5,00% 0,38% 0,13%
Kepentingan non pengendali -1,25% -1,64% -2,80%
JUMLAH EKUITAS -4,93% 0,34% 0,08%

JUMLAH LIABILITAS DAN EKUITAS 3,74% 1,63% 5,42%

Asumsi Pro Forma Balance Sheet Tahun 2017


1. Aset
- Kas dan setara kas diperkirakan menurun sebesar 19,04% dengan
menyeimbangkan total kewajiban dan ekuitas dan dikurangi total aset.
- Piutang usaha memiliki penurunan, yang masing-masing untuk piutang
pihak berelasi menurun sebesar 13,39% dan piutang pihak ketiga menurun
sebesar 34,50%. Diasumsikan bahwa pada tahun 2017, Garuda dapat
menagih piutang-piutang yang diberikan kepada pihak-pihak terkait.
- Persediaan diperkirakan menurun sebesar 9,38% dikarenakan tidak ada
biaya yang terlalu dibutuhkan walaupun sebenarnya biaya persediaan
berupa suku cadang yang dimiliki perusahaan mengalami peningkatan
setiap tahunnya.
- Uang muka dan dibayar dimuka diperkirakan meningkat sebesar 19,68%
yang dipicu oleh jumlah pesawat yang digunakan Garuda semakin
bertambah. Hal ini disebabkan oleh kompetisi yang semakin ketat antar
jasa penerbangan dan mengakibatkan sewa dibayar dimuka, sewa pesawat,
dan suku cadang meningkat nominalnya dari tahun ke tahun seiring dengan
kebutuhan perusahaan yang semakin besar untuk mendorong penjualannya.
- Pajak dibayar dimuka diperkirakan meningkat sebesar 46,66%. Menunjuk
Surat Direktorat Jenderal Pajak Direktorat Peraturan I No. S-
1007/PJ.02/2014 tanggal 29 Oktober 2014 perihal Perlakuan PPN atas
Impor Kapal Laut atau Pesawat Udara dinyatakan bahwa transaksi sewa
pesawat dengan skema sewa operasi (Operating Lease) terhutang PPN,
sehingga nominal Pajak Pertumbuhan Nilai akan sangat besar pada
pembayaran awal tahun, sedangkan bulan-bulan berikutnya akan cukup
konstan dikarenakan hanya membayar kurang bayarnya saja. Selain itu,
perusahaan memperoleh Persetujuan Penilaian Kembali Aktiva Tetap
untuk Tujuan Perpajakan Bagi Permohonan yang Diajukan Pada Tahun
2015 dan Tahun 2016 dengan diterbitkannya Keputusan Direktur Jenderal
Pajak No. KEP-305/WPJ.19/2016. Diperkirakan, tahun-tahun berikutnya
perusahaan akan mendapatkan kembali penurunan tarif pajak dikisaran 4-
6%.
- Dana perawatan pesawat dan uang jaminan diperkirakan meningkat sebesar
19,35%. Hal ini dikarenakan dana perawat pesawat yang selalu bertambah
setiap tahunnya. Semakin banyak perusahaan menyewa pesawat, semakin
banyak pula dana yang harus dikeluarkan untuk perawatan pesawat sesuai
dengan perjanjian sewa operasi untuk pesawat, Perusahaan dan CL
diharuskan untuk membayar dana perbaikan dan pemeliharaan untuk
pesawat yang disewa kepada lessor.
- Uang muka pembelian pesawat diperkirakan akan menurun sebesar
20,26%. Penyebabnya adalah telah banyak pesawat yang dilunasi dan tidak
memerlukan pembayaran uang muka kembali serta jangka tempo
pembayaran yang masih cukup lama. Sehingga cicilan berikutnya untuk
pesawat yang belum lunas hanya membutuhkan sedikit uang.
- Aset tetap diasumsikan meningkat sebanyak 6,18% dikarenakan dalam
beberapa tahun terakhir peningkatan terjadi secara stabil.
- Properti investasi diperkirakan naik sebesar 4,1%. Karena tidak ada hal-hal
yang signifikan yang dapat merubah nilai dari properti investasi.
- Aset lain-lain diperkirakan meningkat sebesar 6,76% yang dipicu oleh
peningkatan manufacturers incentive setiap tahunnya.

2. Liabilitas
- Utang usaha pada pihak berelasi diperkirakan akan meningkat sebesar
5,77%. Dan utang usaha pada pihak ketiga akan konstan di penurunan
4,22%. Hal ini khususnya dikarenakan utang terhadap Pertamina sangat
fluktuatif sesuai dengan seberapa banyak bahan bakar yang akan digunakan
untuk kegiatan operasionalnya.
- Utang lain-lain diperkirakan akan konstan di 9,28%. Dikarenakan derivatif
keuangan menyebabkan perusahaan menerima suku bunga tetap sesuai
masa efektif perjanjian. Dan perusahaan juga melakukan lindung nilai arus
kas untuk mengurangi risiko perubahan harga bahan bakar pada
penerbangan reguler dan haji.
- Beban akrual berada pada penurunan 6,39%. Walaupun persentase nya
menurun, tetapi kenyataannya beban tersebut selalu bertambah dari tahun
ke tahunnya. Artinya, persentase tersebut menunjukkan perusahaan
mengurangi bebannya dikit demi sedikit. Penurunan konstan ini diiringi
dengan beban operasional dan penerbangan yang memengaruhi beban
lainnya seperti bandara dan administrasi dan umum.
- Pada liabilitas jangka panjang, diasumsikan pinjaman jangka panjang,
liabilitas sewa pembiayaan, liabilitas estimasi biaya pengembalian dan
pemeliharaan pesawat, serta utang obligasi nilainya stabil selama beberapa
tahun ke depan. Yaitu pada tahun 2017 berturut-turut sebesar 2,4%, 2,24%,
12,42%, dan -0,63%.

3. Ekuitas
- Modal saham tidak ada perubahan.
- Tambahan modal disetor tidak ada perubahan.
- Opsi saham tidak ada perubahan.
- Saldo laba yang dicadangkan tidak ada perubahan.
- Kepentingan non pengendali berada pada penurunan 1,25% dikarenakan
nominal dari akun ini cukup stabil dan tidak terlalu material nilainya.

Asumsi Pro Forma Balance Sheet Tahun 2018


1. Aset
- Kas dan setara kas diperkirakan meningkat sebesar 3,93% dengan
menyeimbangkan total kewajiban dan ekuitas dan dikurangi total aset.
- Piutang usaha pada pihak berelasi menurun sebesar 13,50% dan piutang
pihak ketiga meningkat sebesar 2,11%. Diasumsikan bahwa pada tahun
2017, Garuda dapat menagih piutang-piutang yang diberikan kepada pihak-
pihak berelasi, tapi tidak untuk pihak ketiga.
- Piutang lain-lain diperkirakan meningkat sebesar 13,39%, diasumsikan
naik dari tahun sebelumnya.
- Persediaan diperkirakan menurun sebesar 9,38% dikarenakan tidak ada
biaya yang terlalu dibutuhkan walaupun sebenarnya biaya persediaan
berupa suku cadang yang dimiliki perusahaan mengalami peningkatan
setiap tahunnya.
- Uang muka dan dibayar dimuka diperkirakan meningkat sebesar 16,28%
yang dipicu oleh jumlah pesawat yang digunakan Garuda semakin
bertambah. Hal ini disebabkan oleh kompetisi yang semakin ketat antar
jasa penerbangan dan mengakibatkan sewa dibayar dimuka, sewa pesawat,
dan suku cadang meningkat nominalnya dari tahun ke tahun seiring dengan
kebutuhan perusahaan yang semakin besar untuk mendorong penjualannya.
- Pajak dibayar dimuka diperkirakan meningkat sebesar 14,91%. Menunjuk
Surat Direktorat Jenderal Pajak Direktorat Peraturan I No. S-
1007/PJ.02/2014 tanggal 29 Oktober 2014 perihal Perlakuan PPN atas
Impor Kapal Laut atau Pesawat Udara dinyatakan bahwa transaksi sewa
pesawat dengan skema sewa operasi (Operating Lease) terhutang PPN,
sehingga nominal Pajak Pertumbuhan Nilai akan sangat besar pada
pembayaran awal tahun, sedangkan bulan-bulan berikutnya akan cukup
konstan dikarenakan hanya membayar kurang bayarnya saja. Selain itu,
perusahaan memperoleh Persetujuan Penilaian Kembali Aktiva Tetap
untuk Tujuan Perpajakan Bagi Permohonan yang Diajukan Pada Tahun
2015 dan Tahun 2016 dengan diterbitkannya Keputusan Direktur Jenderal
Pajak No. KEP-305/WPJ.19/2016. Diperkirakan, tahun-tahun berikutnya
perusahaan akan mendapatkan kembali penurunan tarif pajak dikisaran 4-
6%.
- Dana perawatan pesawat dan uang jaminan diperkirakan meningkat sebesar
9,86%. Hal ini dikarenakan dana perawat pesawat yang selalu bertambah
setiap tahunnya. Semakin banyak perusahaan menyewa pesawat, semakin
banyak pula dana yang harus dikeluarkan untuk perawatan pesawat sesuai
dengan perjanjian sewa operasi untuk pesawat, Perusahaan dan CL
diharuskan untuk membayar dana perbaikan dan pemeliharaan untuk
pesawat yang disewa kepada lessor.
- Uang muka pembelian pesawat diperkirakan akan menurun sebesar
20,25%. Penyebabnya adalah telah banyak pesawat yang dilunasi dan tidak
memerlukan pembayaran uang muka kembali serta jangka tempo
pembayaran yang masih cukup lama. Sehingga cicilan berikutnya untuk
pesawat yang belum lunas hanya membutuhkan sedikit uang.
- Investasi pada entitas asosiasi akan meningkat sebesar 4,84% dikarenakan
dua entitas asosiasi tersebut nilainya cukup konstan dari tahun ke tahun.
- Properti investasi diperkirakan naik sebesar 4,11%. Karena tidak ada hal-
hal yang signifikan yang dapat merubah nilai dari properti investasi.
- Aset lain-lain diperkirakan meningkat sebesar 6,75% yang dipicu oleh
peningkatan manufacturers incentive setiap tahunnya.

2. Liabilitas
- Utang usaha pada pihak berelasi diperkirakan akan meningkat sebesar
5,66%. Dan utang usaha pada pihak ketiga akan konstan di kenaikan
2,00%. Hal ini khususnya dikarenakan utang terhadap Pertamina sangat
fluktuatif sesuai dengan seberapa banyak bahan bakar yang akan digunakan
untuk kegiatan operasionalnya.
- Utang lain-lain diperkirakan akan konstan di 9,35%. Dikarenakan derivatif
keuangan menyebabkan perusahaan menerima suku bunga tetap sesuai
masa efektif perjanjian. Dan perusahaan juga melakukan lindung nilai arus
kas untuk mengurangi risiko perubahan harga bahan bakar pada
penerbangan reguler dan haji.
- Beban akrual berada pada penurunan 6,50%. Walaupun persentase nya
menurun, tetapi kenyataannya beban tersebut selalu bertambah dari tahun
ke tahunnya. Artinya, persentase tersebut menunjukkan perusahaan
mengurangi bebannya dikit demi sedikit. Penurunan konstan ini diiringi
dengan beban operasional dan penerbangan yang memengaruhi beban
lainnya seperti bandara dan administrasi dan umum.
- Pendapatan diterima dimuka akan meningkat 3,96% yang didorong oleh
pendapatan jasa penerbangan berjadwal.
- Pada liabilitas jangka panjang, diasumsikan pinjaman jangka panjang,
liabilitas sewa pembiayaan, liabilitas estimasi biaya pengembalian dan
pemeliharaan pesawat, serta utang obligasi nilainya stabil selama beberapa
tahun ke depan. Yaitu pada tahun 2017 berturut-turut sebesar 2,43%,
1,98%, 8,35%, dan -1,01%.

3. Ekuitas
- Modal saham tidak ada perubahan.
- Tambahan modal disetor tidak ada perubahan.
- Opsi saham tidak ada perubahan.
- Saldo laba yang dicadangkan tidak ada perubahan.
- Kepentingan non pengendali berada pada penurunan 1,64% dikarenakan
nominal dari akun ini cukup stabil dan tidak terlalu material nilainya.

Asumsi Pro Forma Balance Sheet Tahun 2019


1. Aset
- Kas dan setara kas diperkirakan meningkat sebesar 26,38% dengan
menyeimbangkan total kewajiban dan ekuitas dan dikurangi total aset.
- Piutang usaha pada pihak berelasi meningkat sebesar 7,9% dan piutang
pihak ketiga meningkat sebesar 2,83%. Diasumsikan bahwa pada tahun
2017, Garuda kurang bisa menagih piutang-piutang yang diberikan kepada
pihak-pihak terkait.
- Piutang lain-lain diperkirakan meningkat sebesar 6,33%, diasumsikan stabil
dari tahun sebelumnya
- Persediaan diperkirakan meningkat sebesar 1,99% dikarenakan biaya
persediaan yang selalu naik dari tahun ke tahun, khususnya suku cadang
yang dimiliki perusahaan mengalami peningkatan setiap tahunnya.
Perusahaan juga mengasuransikan persediaannya terhadap risiko kebakaran
dan risiko lainnya, hal ini dapat mengurangi penurunan nilai persediaan dan
meningkatkan angka pada persediaan.
- Uang muka dan dibayar dimuka diperkirakan meningkat sebesar 10,85%
yang dipicu oleh jumlah pesawat yang digunakan Garuda semakin
bertambah. Hal ini disebabkan oleh kompetisi yang semakin ketat antar
jasa penerbangan dan mengakibatkan sewa dibayar dimuka, sewa pesawat,
dan suku cadang meningkat nominalnya dari tahun ke tahun seiring dengan
kebutuhan perusahaan yang semakin besar untuk mendorong penjualannya.
- Pajak dibayar dimuka diperkirakan meningkat sebesar 8,94%. Menunjuk
Surat Direktorat Jenderal Pajak Direktorat Peraturan I No. S-
1007/PJ.02/2014 tanggal 29 Oktober 2014 perihal Perlakuan PPN atas
Impor Kapal Laut atau Pesawat Udara dinyatakan bahwa transaksi sewa
pesawat dengan skema sewa operasi (Operating Lease) terhutang PPN,
sehingga nominal Pajak Pertumbuhan Nilai akan sangat besar pada
pembayaran awal tahun, sedangkan bulan-bulan berikutnya akan cukup
konstan dikarenakan hanya membayar kurang bayarnya saja. Selain itu,
perusahaan memperoleh Persetujuan Penilaian Kembali Aktiva Tetap
untuk Tujuan Perpajakan Bagi Permohonan yang Diajukan Pada Tahun
2015 dan Tahun 2016 dengan diterbitkannya Keputusan Direktur Jenderal
Pajak No. KEP-305/WPJ.19/2016. Diperkirakan, tahun-tahun berikutnya
perusahaan akan mendapatkan kembali penurunan tarif pajak dikisaran 4-
6%.
- Dana perawatan pesawat dan uang jaminan diperkirakan meningkat sebesar
4,61%. Hal ini dikarenakan dana perawat pesawat yang selalu bertambah
setiap tahunnya. Semakin banyak perusahaan menyewa pesawat, semakin
banyak pula dana yang harus dikeluarkan untuk perawatan pesawat sesuai
dengan perjanjian sewa operasi untuk pesawat, Perusahaan dan CL
diharuskan untuk membayar dana perbaikan dan pemeliharaan untuk
pesawat yang disewa kepada lessor.
- Uang muka pembelian pesawat diperkirakan akan menurun sebesar
18,14%. Penyebabnya adalah telah banyak pesawat yang dilunasi dan tidak
memerlukan pembayaran uang muka kembali serta jangka tempo
pembayaran yang masih cukup lama. Sehingga cicilan berikutnya untuk
pesawat yang belum lunas hanya membutuhkan sedikit uang.
- Investasi pada entitas asosiasi akan meningkat sebesar 11,86%
dikarenakan dua entitas asosiasi tersebut nilainya cukup konstan dari tahun
ke tahun.
- Properti investasi diperkirakan naik sebesar 2,21%. Karena tidak ada hal-
hal yang signifikan yang dapat merubah nilai dari properti investasi.
- Aset takberwujud diperkirakan naik sebesar 4,31%. Tidak terdapat kejadian
atau perubahan keadaan yang mengindikasikan penurunan nilai aset
takberwujud di tahun-tahun berikutnya.
- Aset lain-lain diperkirakan meningkat sebesar 3,38% yang dipicu oleh
peningkatan manufacturers incentive setiap tahunnya.

2. Liabilitas
- Utang usaha pada pihak berelasi diperkirakan akan meningkat sebesar
5,55%. Dan utang usaha pada pihak ketiga akan konstan di kenaikan
3,00%. Hal ini khususnya dikarenakan utang terhadap Pertamina sangat
fluktuatif sesuai dengan seberapa banyak bahan bakar yang akan digunakan
untuk kegiatan operasionalnya.
- Utang lain-lain diperkirakan akan konstan di 9,42%. Dikarenakan derivatif
keuangan menyebabkan perusahaan menerima suku bunga tetap sesuai
masa efektif perjanjian. Dan perusahaan juga melakukan lindung nilai arus
kas untuk mengurangi risiko perubahan harga bahan bakar pada
penerbangan reguler dan haji.
- Beban akrual berada pada penurunan 6,50%. Walaupun persentase nya
menurun, tetapi kenyataannya beban tersebut selalu bertambah dari tahun
ke tahunnya. Artinya, persentase tersebut menunjukkan perusahaan
mengurangi bebannya dikit demi sedikit. Penurunan konstan ini diiringi
dengan beban operasional dan penerbangan yang memengaruhi beban
lainnya seperti bandara dan administrasi dan umum.
- Pendapatan diterima dimuka akan meningkat 4,00% yang didorong oleh
pendapatan jasa penerbangan berjadwal.
- Pada liabilitas jangka panjang, diasumsikan pinjaman jangka panjang,
liabilitas sewa pembiayaan, liabilitas estimasi biaya pengembalian dan
pemeliharaan pesawat, serta utang obligasi nilainya stabil selama beberapa
tahun ke depan. Yaitu pada tahun 2017 berturut-turut sebesar 2,46%,
1,96%, 7,27%, dan -1,31%.

3. Ekuitas
- Modal saham tidak ada perubahan.
- Tambahan modal disetor tidak ada perubahan.
- Opsi saham tidak ada perubahan.
- Saldo laba yang dicadangkan tidak ada perubahan.
- Kepentingan non pengendali berada pada penurunan 2,8% dikarenakan
nominal dari akun ini cukup stabil dan tidak terlalu material nilainya.
BAB 9
ANALISIS PROSPEKTIF - VALUATION

9.1 Persistensi Laba (Menurut Scott)


Berdasarkan konsep dan proxy persistensi laba yang telah digunakan oleh
para peneliti terdahulu, maka konsep persistensi laba dalam penulisan ini mengacu
pada konsep persistensi laba menurut Scott, dengan formula berikut :
Xit = + Xit-1 + e
Keterangan :
Xit = Laba perusahaan i tahun t
Xit-1 = Laba perusahaan i tahun (t-1)
= Persistensi Laba
Asumsi nilai sebesar 5 % dan error sebesar 0 %
Maka,

= 1
110.842.573 0,05
2012 = 64.225.536

= 1,7258
11.200.380 0,05
2013 = 110.842.573

= 0,101
(368.911.279) 0,05
2014 = 11.200.380

= -32,9374
77.974.161 0,05
2015 = (368.911.279)

= -0,2114
9.364.858 0,05
2016 = 77.974.161
= 0,1201
Hasil Analisa
Berdasarkan perhitungan diatas dapat dilihat bahwa persistensi () PT Garuda
indonesia ditahun 2012 berada diatas satu, hal ini menunjukkan bahwa perusahaan
berada dalam kondisi higt persistence atau sangat stabil. Pada tahun 2013 dan 2016
angka persistence berada diatas 0, hal ini menunjukkan bahwa laba perusahaan
berada dalam kondisi persistence atau stabil. Sedangkan untuk tahun 2014 dan 2015
angka Persistence berada dibawah 0, yang menunjukkan bahwa laba perusahaan
berada dalam kondisi berfluktuasi atau tidak persistance. Berdasarkan kondisi
diatas sulit untuk meramalkan atau memprediksi laba yang akan didapat pada masa
akan datang. Namun jika perhitungan tahun 2014 dikeluarkan dengan alasan laba
tahun 2014 sangat melenceng dari trent, maka data tersebut dapat dijadikan dasar
buat memperkirakan laba dimasa akan datang. Dengan kondisi laba perusahaan dari
tahun 2012-2016 yang berada dalam kondisi high persistence, persistence, dan
fluktuatif dapat menurunkan nilai perusahaan. Namun jika dianalisis lagi kerugian
yang terjadi pada tahun 2014 berasal dari faktor yang uncontrolable, yaitu naiknya
minyak dunia yang berakibat tingginya beban bahan bakar, selain itu kerugian juga
bersumber dari selisih kurs yang sangat tinggi. Mengingat perusahaan garuda yang
menggunakan mata uang US$ sebagai mata uang fungsionalnya tentu akan sangat
rentan terhadap kondisi perubahan kurs. Sehingga kondisi perusahaan yang seperti
ini akan menjadi pertimbangan bagi oleh kreditor, kreditor harus sangat
mempertimbangkan untuk memberikan pinjaman uang karena tidak hanya dari
faktor selisih kurs namun dari segi operasional perusahaan juga sangat beresiko,
yaitu fluktuasi harga bahan bakar yang sangat mempengaruhi performa perusahaan.
Dari Sisi investor juga akan mengurangi minatnya untuk berinvestasi, karena
tingginya resiko kurs dan fluktuasi minyak dunia sangat mempengaruhi laba atau
rugi yang akan didapatkan oleh perusahaan.

Analisis Faktor Penentu Persistensi Laba


9.1 Trend Laba
LABA (Ribuan US$)
200000

100000 110842
77,974
0 11,200 9,364
2012 2013 2014 2015 2016
-100000 LABA (Ribuan

-200000

-300000
-368,911
-400000

9.2 Trend EPS


0.01

0.005 0.005368
0.00296
0.000905 0.000312
0
2012 2013 2014 2015 2016
-0.005 EPS

-0.01

-0.015 -0.014801

-0.02

Hasil Analisis :
Berdasarkan trend diatas dapat dilihat bahwa trend laba beriringan dengan
trend EPS, yaitu sama-sama berfluktuasi. Adapun fluktuasi laba ini disebabkan oleh
pengeluaran beban yang berfluktuasi juga. Beban yang paling besar mempengaruhi
adalah beban bahan bakar yang meningkat tajam pada tahun 2014 dikarenakan
harga minyak dunia yang meningkat tinggi. kemudian selain itu beban
pemeliharaan dan perbaikan juga mengalami peningkatan akibat bertambahnya
maskapai yang di milikin perusahaan. Selain itu faktor lain yang mempengaruhi
adalah dari beban kerugian selisih kurs. Selisih kurs terjadi karena mata uang
fungsional Garuda adalah US$. Garuda Indonesia menukar mata uang rupiah ke
dollar setiap transaksi terjadi. Oleh karenanya, berubahan kurs sangat
mempengaruhi laba atau ruginya perusahaan. Sehingga dengan kondisi perusahaan
yang sangat bergantung pada dua faktor yang uncontrolable yaitu selisih kurs dan
harga minyak dunia menyebabkan nilai perusahaan menjadi buruk.

9.2 Insentif dan persistensi manajemen


Berdasarkan analisis yang telah dilakukan sebelumnya, dengan
menggunakan (M-Score), PT Garuda Indonesia, Tbk berada pada angka -2,603
yang mana score tersebut di bawah -2,22 sehingga kemungkinan perusahaan
tersebut prudent. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa PT Garuda
Indonesia, Tbk tidak melakukan praktik manajemen laba pada periode tahun 2015.
Analisis Komponen Laba Persistent dan Transitory
Hasil Analisis :
Dari tahun 2012 hingga tahun 2016, laba yang dihasilkan oleh perusahaan
didominasi oleh laba yang berasal dari pos-pos persistent, namun pada tahun 2014
kegiatan operasi utama perusahaan mengalami kerugian sehingga menyebabkan
presentasi laba didominasi oleh laba Transitory. Secara umum, penyumbang
Transitory Income (gain) paling banyak berasal dari revaluasi aset sedangkan
penyumbang Transitory Income (loss) paling banyak berasal dari selisih kurs
karena penjabaran laporan keuangan.

9.3 Penilaian Ekuitas Berbasis Laba


1. Economic Value Added
Formula untuk menghitung EVA adalah sebagai berikut :
EVA = NOPAT Capital Charges
= NOPAT (WACC x Invested Capital )
Berikut ini adalah hasil analisa EVA PT Garuda Indonesia Tbk periode 2012 2016
:

Berdasarkan perhitungan diatas menunjukan bahwa dalam rentan empat


tahun terakhir yaitu dari 2012 2016, EVA PT Garuda Indonesia Tbk bernilai
negatif (EVA < 0), menunjukkan bahwa tidak terjadi proses nilai tambah
perusahaan bagi pemilik perusahaan, pemegang saham (Investor) atau dengan kata
lain tingkat pengembalian yang dihasilkan kurang dari tingkat biaya modal (tingkat
pengembalian yang diharapkan investor atas investasi yang dilakukan). Dengan
kondisi tersebut, tentunya akan memberikan sinyal buruk dimata investor, ataupun
dimata kreditor untuk memberikan tambahan dana pinjaman.

2. Price to Book Value Ratio (PBV Ratio)

Hasil Analisis :
Berdasarkan perhitungan diatas menunjukan bahwa dalam rentan tahun
2012 2016, nilai rasio PBV Garuda Indonesia berada dibawah 1, dimana artinya
bahwa pasar menghargai harga saham Garuda lebih rendah dari harga yang
sebenarnya. Hal ini menunjukan bahwa kinerja operasi dan kondisi keuangan
perusahaan dalam kondisi yang tidak baik. Sehingga ketika investor sudah memiliki
saham tersebut sebaiknya dilepas, sedangkan jika belum memiliki saham tersebut
sebaiknya membeli. Harga pasar saham Garuda Indonesia sangat berfluktuasi, hal
ini disebabkan karena pada tahun 2013 perusahaan banyak menerbitkan obligasi
yang digunakan untuk mendanai operasi perusahaan. Hal ini memberikan sinyal
negatif kepada investor karena hutang perusahaan terus meningkat. Namun
perusahaan memproyeksikan harga pasar pada tahun 2014 akan meningkat karena
hutang dari obligasi akan digunakan untuk meningkatkan kegiatan operasi
perusahaan agar menjadi lebih baik. Hal ini merupakan sinyal positif bagi investor
bahwa perusahaan sedang dalam kondisi pertumbuhan. Sedangkan pada tahun 2015
harga pasar menurun drastis dikarenakan pada tahun 2014 perusahaan mengalami
rugi yang sangat besar hal ini menyebabkan banyak investor yang menjual
sahamnya dengan harga rendah sehingga harga saham tahun 2015 menjadi turun.
3. Price to Earning Ratio

Hasil Analisis :
Berdasarkan perhitungan PER dari tahun 2012 hingga 2016 menunjukkan
tingginya nilai atau harga pada saham garuda jika dibandingkan dengan laba per
lembar saham yang dihasilkan. Semakin besar PER suatu saham maka menyatakan
saham tersebut akan semakin mahal terhadap laba bersih per saham. Pada tahun
2016 PER PT Garuda Indonesia sebesar 1090322,581, berarti harga saham tersebut
1.090.323 kali lipat terhadap EPSnya. Namun dari segi pemodal PER yang kecil
akan semakin bagus, karena saham tersebut memiliki harga yang semakin murah.
Sehingga bagi investor yang sudah memiliki saham PT Garuda sebaiknya memilih
untuk menghold saham, namun untuk investor yang belum memiliki saham garuda
sebaiknya tidak membeli saham PT Garuda karena relatif mahal jika dibandingkan
dengan kinerja EPSnya.
BAB 10
ANALISIS KREDIT

10.1 Analisis Perbandingan Pinjaman Bank Jangka Pendek


Analisis perbandingan (komparatif) adalah analisis laporan keuangan yang
bertujuan untuk mendapatkan informasi perkembangan keadaan keuangan
perusahaan (apakah akan mengalami kenaikan/penurunan) dengan cara
membandingkan laporan keuangan atau akun antara dua periode atau lebih. Berikut
ini adalah hasil analisa perbandingan terhadap pinjaman bank jangka pendek dan
lembaga keuangan lain PT Garuda Indonesia Tbk Periode 2012 2016 :

Hasil Analisis :
Secara keseluruhan dari tahun 2012 hingga 2016 hutang bank jangka
pendek PT Garuda indonesia, Tbk selalu meningkat. Ini disebabkan karena
perusahaan setiap tahunnya selalu memperoleh fasilitas kredit dari Bank Rakyat
indonesia, Bank Negara Indonesia dan Bank-bank lainnya. Selain itu perusahaan
juga mendapat pinjaman dari lembaga keuangan lainnya seperti PT GMF
AEROASIA (GMFAA), PT Aerotrans Services Indonesia (ATS), PT Aerowisata
(AWS). Adapun tujuan dari perusahaan berhutang adalah untuk pembelian avtur
dari Pertamina, pemeliharaan pesawat oleh GMFAA, kebutuhan modal kerja, dan
keperluan umum perusahaan lainnya.

10.2 Memprediksi Kebangkrutan Dengan Altman Z-Score


Altman (1968) menggunakan metode Multiple Discriminant Analysis dengan
lima jenis rasio keuangan yaitu working capital to total asset, retained earning to
total asset, earning before interest and taxes to total asset, market value of equity
to book value of total debts, dan sales to total asset. Penelitian ini menggunakan
sampel 66 perusahaan yang terbagi dua masing-masing 33 perusahaan bangkrut dan
33 perusahaan yang tidak bangkrut. Hasil studi Altman ternyata mampu
memperoleh tingkat ketepatan prediksi sebesar 95% untuk data satu tahun sebelum
kebangkrutan. Untuk data dua tahun sebelum kebangkrutan 72%. Selain itu,
ditketahui juga bahwa perusahaan dengan profitabilitas yang rendah sangat
berpotensi mengalami kebangkrutan. Sampai saat ini, Z-Score masih lebih banyak
digunakan oleh para peneliti, praktisi, serta para akademis di bidang akuntansi
dibandingkan model prediksi lainnya. Hasil penelitian yang dikembangkan Altman,
yaitu:
Z = 0,717 1 + 0,847 2 + 3,107 3 + 0,420 4 + 0,998 5
Notasi:
Z1 = working capital / total asset
Z2 = retained earnings / total assets
Z3 = earnings before interest and taxes / total asset
Z4 = market value of equity / liabilities
Z5 = sales / total asset

Kriteria Z Score
Z < 1,23 = Zona Bangkrut (Distess Zone)
1,23 < Z< 2,9 = Zona Abu Abu (Grey Zone)
Z > 2,9 = Zona Aman (Safe Zone)

Hasil Analisis:
Koefisien 2012 2013 2014 2015 2016
Z1 0,717 -0,05 -0,06 -0,13 -0,06 -0,11
Z2 0,847 0,04 0,04 -0,09 -0,06 -0,06
Z3 3,107 0,06 0,00 -0,15 0,03 0,005
Z4 0,42 0,79 0,45 0,42 0,25 0,24
Z5 0,998 1,38 1,26 1,26 1,15 1,03
Z'Score 1,89 2,10 1,78 1,56 1,25
Berdasarkan perhitungan diatas, Z Score PT Garuda Indonesia, Tbk. dalam
kurun waktu 2012-2016 berada diantara 1,23 dan 2,9. Hal tersebut menunjukan
bahwa perusahaan termasuk dalam kategori Zona Abu-abu (grey zone) yang berarti
perusahaan dalam kondisi yang kurang aman sehingga kemungkinan mengalami
kebangkrutan sangat besar. Dengan melihat kondisi tersebut tentunya perusahaan
harus meyakinkan kreditur bahwa Garuda dapat meningkatkan operasionalnya pada
tahun-tahun berikutnya dengan strategi baru ataupun inovasi sehingga perusahaan
dapat meningkatkan kembali performa laba khususnya sebagai perusahaan BUMN
dan pemerintah tetap mau mendukung finansial perusahaan kedepannya.

10.3 Analisis Rasio Likuiditas


Fred Weston dikutip dari Kasmir (2008) menyebutkan bahwa rasio likuiditas
(liquidity ratio) merupakan rasio yang menggambarkan kemampuan perusahaan
dalam memenuhi kewajiban (utang) jangka pendek.
Digunakan untuk menggambarkan seberapa likuidnya suatu perusahaan serta
kemampuan perusahaan untuk menyelesaikan kewajiban jangka pendek dengan
menggunakan aktiva lancar. Dengan kata lain , rasio ini digunakan untuk mengukur
kemampuan perusahaan untuk membayar kewajiban yang segera jatuh
tempo.Rasio likuiditas digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam
memenuhi kewajiban finansial jangka pendek.
Current Ratio (CR)
Rasio ini menunjukkan sejauh mana aktiva lancar dapat digunakan untuk
menutupi kewajiban jangka pendek/hutang lancar. Semakin besar perbandingan
aktiva lancar dengan hutang lancar maka semakin tinggi kemampuan perusahaan
menutupi kewajiban jangka pendek. Apabila current ratio 1:1 atau 100% berarti
bahwa aktiva lancar dapat menutupi semua hutang lancar. Rasio ini lebih aman jika
berada diatas satu atau diatas 100% artinya aktiva lancar akan mampu membayar
kewajiban lancarnya tanpa mengganggu operasi perusahaan.
Current Asset
CR =
Current Liability
Current Ratio Garuda tahun 2012
US$ 636.566.218
CR = = 84,40%
US$ 754.207.052

Current Ratio Garuda tahun 2013


US$ 819.133.923
CR = = 83,25%
US$ 983.890.767

Current Ratio Garuda tahun 2014


US$ 810.514.943
CR = = 66,47 %
US$ 1.219.365.356

Current Ratio Garuda tahun 2015


US$ 1.007.848.005
CR = = 84,27 %
US$1.195.849.121

Current Ratio Garuda tahun 2016


US$ 1.165.133.302
CR = = 74,52%
US$ 1.563.576.121

Hasil Analisis :
CR PT Garuda Indonesia cenderung mengalami penurunan di setiap
tahunnya. Pada tahun 2015 current ratio perusahaan sebesar 84,27 persen, hal ini
menunjukan bahwa setiap US$ 1 hutang lancar perusahaan dijamin oleh aktiva
lancar sebesar 84,27% dari total aktiva lancar yang dimiliki. Sedangkan pada tahun
2016 CR perusahaan sebesar 74,52 persen, hal ini menunjukan bahwa setiap US$ 1
hutang lancar perusahaan dijamin oleh aktiva lancar sebesar 74,52% dari total
aktiva lancar yang dimiliki.
CR (%)
CR (%)

90

80

70

60

50

40

30

20

10

0
2012 2013 2014 2015 2016

Quick Ratio (QR)


Rasio ini merupakan rasio uji cepat yang menunjukkan kemampuan
perusahaan membayar kewajiban jangka pendek dengan aktiva lancar tanpa
memperhitungkan persediaan karena persediaan memerlukan waktu relatif lebih
lama untuk diuangkan disbanding asset lain. Quick asset ini terdiri dari piutang
dan surat-surat berharga yang dapat direlisir menjadi uang dalam waktu relatif
pendek. Jadi semakin besar rasio ini semakin baik. Lebih baik jika rasio ini dapat
mencapai 1:1 atau 100% karena jika terjadi likuidasi maka perusahaan dapat
membayar kewajiban jangka pendeknya disebabkan sumber yang digunakan adalah
aktiva yang cepat dapat diuangkan.
Current Asset Inventory
QR =
Current Liability

Quick Ratio Garuda tahun 2012


US$ 463.133.653
QR = = 61,41%
US$ 754.207.052
Quick Ratio Garuda tahun 2013
US$ 623.987.074
QR = = 63,42%
US$ 983.890.767

Quick Ratio Garuda tahun 2014


US$ 563.301.257
QR = = 46,20%
US$ 1.219.365.356

Quick Ratio Garuda tahun 2015


US$ 659.081.849
QR = = 55,11%
US$1.195.849.121

Quick Ratio Garuda tahun 2016


US$ 791.171.034
QR = = 50,60%
US$ 1.563.576.121

Hasil Analisis :
QR PT Garuda Indonesia cenderung mengalami penurunan di setiap
tahunnya. Pada tahun 2015 quick ratio perusahaan sebesar 55,11 persen, hal ini
menunjukan bahwa setiap US$ 1 hutang lancar perusahaan dijamin oleh aktiva
lancar yang dikurangi persediaan sebesar 55,11% dari total aktiva lancar yang
dimiliki. Sedangkan pada tahun 2016 CR perusahaan sebesar 50,60 persen, hal ini
menunjukan bahwa setiap US$ 1 hutang lancar perusahaan dijamin oleh aktiva
lancar yang dikurangi persediaan sebesar 50,60% dari total aktiva lancar yang
dimiliki.
QR (%)
QR (%)

80

70

60

50

40

30

20

10

0
2012 2013 2014 2015 2016

Cash Ratio
Rasio ini merupakan alat untuk mengukur seberapa besar uang kas yang
tersedia untuk membayar hutang yang dapat ditunjukkan dari tersedianya dana kas
atau setara dengan kas seperti rekening giro. Semakin besar perbandingan kas atau
setara kas dengan hutang lancar semakin baik. Apabila rasio ini 100% atau 1:1 hal
ini berarti bahwa Rp 1 uang kas yang ada dalam perusahaan mencukupi Rp 1 hutang
lancar yang ada.
Cash
CR =
Current Liability

Cash Ratio Garuda tahun 2012


US$ 519.972.655
CR = = 68,94%
US$ 754.207.052

Cash Ratio Garuda tahun 2013


US$ 475.260.630
CR = = 48,30%
US$ 983.890.767
Cash Ratio Garuda tahun 2014
US$ 434.327.498
CR = = 35,62%
US$ 1.219.365.356

Cash Ratio Garuda tahun 2015


US$ 519.972.655
CR = = 43,48%
US$1.195.849.121

Cash Ratio Garuda tahun 2016


US$ 578.702.739
CR = = 37,01%
US$ 1.563.576.121

Hasil Analisis :
CR PT Garuda Indonesia cenderung mengalami penurunan di setiap
tahunnya. Pada tahun 2015 cash ratio perusahaan sebesar 43,48 persen, hal ini
menunjukan bahwa setiap US$ 1 hutang lancar perusahaan dijamin oleh kas sebesar
43,48% dari total aktiva lancar yang dimiliki. Sedangkan pada tahun 2016 CR
perusahaan sebesar 37,01 persen, hal ini menunjukan bahwa setiap US$ 1 hutang
lancar perusahaan dijamin oleh kas sebesar 37,01% dari total aktiva lancar yang
dimiliki.

CASH RATIO (%)


Cash Ratio (%)

80
70
60
50
40
30
20
10
0
2012 2013 2014 2015 2016
10.4 Analisis Rasio Solvabilitas
Rasio solvabilitas adalah rasio yang menunjukkan kemampuan perusahaan
dalam memenuhi segala kewajibannya baik jangka pendek maupun jangka panjang
apabila perusahaan dilikuidasi. Perusahaan yang memiliki rasio solvabilitas yang
tinggi memiliki risiko kerugian yang lebih besar daripada perusahaan dengan rasio
solvabilitas yang rendah. Oleh karena itu, untuk mengetahui struktur pendanaan
yang dilakukan oleh Garuda maka penulis menggunakan rasio solvabilitas untuk
dijadikan indikator pengukurannya. Berikut ini adalah rasio rasio yang digunakan:
a. Debt to Asset Ratio (DAR)
Rasio ini dihitung dengan membagi Total Utang dengan Total Aktiva. Rasio
ini memberikan tolak ukur seberapa besar total aset yang dimiliki oleh perusahaan
yang dibiayai melalui penggunaan utang.

=

Rasio ini memperlihatkan proporsi antara utang yang dimiliki dan seluruh
kekayaan yang dimiliki. Semakin tinggi persentasenya, cenderung semakin besar
risiko keuangannya bagi kreditor maupun pemegang saham karena makin besar
utang yang digunakan untuk pembelian aset.

Debt to Asset Ratio Garuda tahun 2012


US$ 612.951.339
DAR = = 24,34%
US$ 2.517.997.766

Debt to Asset Ratio Garuda tahun 2013


US$ 1.004.519.486
DAR = = 34,01%
US$ 2.953.784.952

Debt to Asset Ratio Garuda tahun 2014


US$ 1.169.613.000
DAR = = 37,57 %
US$ 3.113.079.315

Debt to Asset Ratio Garuda tahun 2015


US$ 1.355.341.444
DAR = = 40,95 %
US$ 3.310.010.986
Debt to Asset Ratio Garuda tahun 2016
US$ 1.694.066.936
DAR = = 45,33%
US$ 3.737.569.390

Hasil Analisis:
DAR PT Garuda Indonesia setiap tahunnya cenderung mengalami
peningkatan. Pada tahun 2015 rasio DAR perusahaan sebesar 40,95 persen, hal ini
menunjukan bahwa kreditur mendanai perusahaan sebesar 40,95 persen dari total
aktiva yang dimiliki oleh perusahaan. Sedangkan pada tahun 2016 rasio DAR
perusahaan sebesar 45,33 persen, hal ini menunjukan bahwa kreditur mendanai
perusahaan sebesar 45,33 persen dari total aktiva yang dimiliki oleh perusahaan.
Peningkatan rasio DAR dari tahun 2015 ke 2016 ini menunjukan bahwa adanya
peningkatan hutang perusahaan meskipun tidak terlalu tinggi. Hal ini disebabkan
oleh kenaikan jumlah utang finansial (debt financial) terkait terkait ekspansi bisnis
Perseroan. Hingga saat ini, pembayaran utang Perseroan masih dikategorikan
lancar.

DAR (%)

45.33
40.95
37.57
34.01

24.34

2012 2013 2014 2015 2016

DAR (%)
b. Debt to Equity Ratio (DER)
Debt financial to equity ratio digunakan untuk mengukur kemampuan
Perseroan dalam melunasi utang finansialnya berlandaskan total ekuitas yang
dimiliki. Semakin tinggi rasio ini berarti modal sendiri semakin sedikit dibanding
dengan hutangnya. Bagi perusahaan sebaiknya, besarnya hutang tidak boleh
melebihi modal sendiri agar beban tetapnya tidak terlalu tinggi.

Debt to Equity Ratio Garuda tahun 2012


US$ 612.951.339
DER = = 54,98%
US$ 1.114.960.078

Debt to Equity Ratio Garuda tahun 2013


US$ 1.004.519.486
DER = = 89,92%
US$ 1.117.148.117

Debt to Equity Ratio Garuda tahun 2014


US$ 1.169.613.000
DER = = 132,99 %
US$ 879.467.591

Debt to Equity Ratio Garuda tahun 2015


US$ 1.355.341.444
DER = = 142,56 %
US$ 950.723.185

Debt to Equity Ratio Garuda tahun 2016


US$ 1.694.066.936
DER = = 167,75%
US$ 1.009.897.219

Hasil Analisis:
DER PT Garuda Indonesia mengalami kenaikan dari tahun ke tahun. Pada
tahun 2015 rasio DER perusahaan sebesar 142,56 persen, hal ini menunjukan
bahwa perusahaan dibiayai oleh hutang sebesar 142,56 persen dari total ekuitas
yang dimiliki oleh perusahaan. Sedangkan pada tahun 2016 rasio DER perusahaan
sebesar 167,75 persen, hal ini menunjukan bahwa perusahaan dibiayai oleh hutang
sebesar 167,75 persen dari total ekuitas yang dimiliki oleh perusahaan. Angka Debt
to Equity Ratio (DER) 2016 meningkat dibandingkan dengan tahun 2015, hal ini
disebabkan oleh kenaikan jumlah utang finansial (debt financial) terkait terkait
ekspansi bisnis Perseroan. Namun hingga saat ini, pembayaran utang Perseroan
masih dikategorikan lancar.

DER (%)

167.75

142.56
132.99

89.92

54.98

2012 2013 2014 2015 2016

DER (%)

10.5 Analisis Rasio Profitabilitas


Profitabilitas merupakan hasil bersih dari sejumlah kebijakan dan keputusan
perusahaan. Rasio profitabilitas mengukur seberapa besar kemampuan perusahaan
dalam menghasilkan keuntungan. Menurut Gitman (2003), Profitability is the
relationship between revenues and cost generated by using the firms asset- both
current and fixed- in productive activities.
Profitabilitas merupakan faktor yang seharusnya mendapat perhatian
penting karena untuk dapat melangsungkan hidupnya, suatu perusahaan harus
berada dalam keadaan yang menguntungkan (profitable). Tanpa adanya
keuntungan, maka akan sangat sulit bagi perusahaan untuk menarik modal dari luar.
Para kreditur, pemilik perusahaan, dan terutama pihak manajemen perusahaan akan
berusaha meningkatkan keuntungan karena pentingnya arti dari profit terhadap
kelangsungan dan masa depan perusahaan. Oleh karena itu, untuk mengetahui
struktur operasi yang dilakukan oleh PT Garuda Indonesia, Tbk. maka penulis
menggunakan rasio profitabilitas untuk dijadikan indikator pengukurannya. Berikut
ini adalah rasio rasio yang digunakan:
a. Gross Profit Margin (GPM)
Gross profit margin merupakan rasio yang mengukur efisiensi pengendalian
harga pokok atau biaya produksinya, mengindikasikan kemampuan perusahaan
untuk berproduksi secara efisien (Sawir, 2009:18).
Laba Kotor
GPM =
Penjualan
Gross profit margin merupakan persentase laba kotor dibandingkan dengan
penjualan. Semakin besar gross profit margin semakin baik keadaan operasi
perusahaan, karena hal ini menunjukkan bahwa harga pokok penjualan relatif lebih
rendah dibandingkan dengan sales, demikian pula sebaliknya, semakin rendah
gross profit margin semakin kurang baik operasi perusahaan (Syamsuddin,
2009:61).

Gross Profit Margin Garuda tahun 2012


US$ 168.072.104
GPM = = 4,84 %
US$ 3.472.468.962

Pada tahun 2012, perhitungan rasio gross profit margin adalah 4,8%, artinya bahwa
setiap US$1 penjualan akan menghasilkan laba kotor sebesar US$0,0484.

Gross Profit Margin Garuda tahun 2013


US$ 56.448.275
GPM = = 1,52 %
US$ 3.716.076.586

Pada tahun 2013, perhitungan rasio gross profit margin adalah 1,52%, artinya
bahwa setiap US$1 penjualan akan menghasilkan laba kotor sebesar US$0,0152.
Gross Profit Margin Garuda tahun 2014
US$ 395.228.121
GPM = = -10,05 %
US$ 3.933.530.272

Pada tahun 2014, perhitungan rasio gross profit margin adalah -10,05%, artinya
bahwa setiap US$1 penjualan akan mengalami kerugian sebesar US$0,1005.

Gross Profit Margin Garuda tahun 2015


US$ 168.745.441
GPM = = 4,42 %
US$ 3.814.989.745

Pada tahun 2015, perhitungan rasio gross profit margin adalah 4,42%, artinya
bahwa setiap US$1 penjualan akan menghasilkan laba kotor sebesar US$0,0442.

Gross Profit Margin Garuda tahun 2016


US$ 99.103.939
GPM = = 2,56 %
US$ 3.863.921.565

Pada tahun 2016, perhitungan rasio gross profit margin adalah 2,56%, artinya
bahwa setiap US$1 penjualan akan menghasilkan laba kotor sebesar US$0,0256.

GPM (%)
GPM (%)

4.84 4.42
2.56
1.52

2012 2013 2014 2015 2016

-10.05
b. Operating Profit Margin (OPM)
Syamsuddin (2009) mengatakan OPM ialah perbandingan antara laba usaha
dan penjualan. Operating profit margin menggambarkan apa yang biasanya disebut
dengan pure profit atas setiap rupiah dari penjualan yang dilakukan. Disebut murni
(pure) karena jumlah tersebutlah yang benar-benar diperoleh dari suatu hasil
operasi perusahaan dengan mengabaikan kewajiban- kewajiban finansial yang
berupa bunga serta kewajiban terhadap pemerintah yang berupa pembayaran pajak.
Laba Sebelum Pajak
OPM =
Penjualan
Jika semakin tinggi operating profit margin maka akan semakin baik juga
operasi pada suatu perusahaan.
Operating Profit Margin Garuda tahun 2012
US$ 151.530.554
OPM = = 4,36 %
US$ 3.472.468.962

Pada tahun 2012, perhitungan rasio operating profit margin adalah sebesar 4,36%.
Hal ini menunjukkan bahwa pada tahun tersebut setiap US$1 penjualan, perusahaan
akan memperoleh laba sebelum pajak sebesar US$ 0,0436.

Operating Profit Margin Garuda tahun 2013


US$ 8.815.603
OPM = = 0,24 %
US$ 3.716.076.586

Pada tahun 2013, perhitungan rasio operating profit margin adalah sebesar 0,24%.
Hal ini menunjukkan bahwa pada tahun tersebut setiap US$1 penjualan, perusahaan
akan memperoleh laba sebelum pajak sebesar US$ 0,0024.

Operating Profit Margin Garuda tahun 2014


US$ 456.453.104
OPM = = -11,6 %
US$ 3.933.530.272

Pada tahun 2014, perhitungan rasio operating profit margin adalah sebesar
-11,6%. Hal ini menunjukkan bahwa pada tahun tersebut setiap US$1 penjualan,
perusahaan mengalami kerugian atas penjualan yang mereka lakukan sebesar
US$0,116.
Operating Profit Margin Garuda tahun 2015
US$ 106.660.147
OPM = = 2,79 %
US$ 3.814.989.745

Pada tahun 2015, perhitungan rasio operating profit margin adalah sebesar 2,79%.
Hal ini menunjukkan bahwa pada tahun tersebut setiap US$1 penjualan, perusahaan
akan memperoleh laba sebelum pajak sebesar US$ 0,0279.

Operating Profit Margin Garuda tahun 2016


US$ 17.790.700
OPM = = 0,46 %
US$ 3.863.921.565

Pada tahun 2016, perhitungan rasio operating profit margin adalah sebesar 0,46%.
Hal ini menunjukkan bahwa pada tahun tersebut setiap US$1 penjualan, perusahaan
akan memperoleh laba sebelum pajak sebesar US$ 0,0046.

OPM (%)
4.36
2.79
0.24 0.46
2012 2013 2014 2015 2016

-11.6

OPM (%)

c. Net Profit Margin (NPM)


Net profit margin merupakan rasio perbandingan antara laba bersih setelah
pajak dengan penjualan (Warsosno,2003:37). Besarnya perhitungan margin laba
bersih menunjukkan seberapa besar laba setelah pajak yang diperoleh perusahaan
untuk tingkat penjualan tertentu.
Laba Bersih
NPM =
Penjualan
Rasio ini menunjukkan keuntungan bersih per rupiah penjualan. Misal, net
profit margin 3% menunjukkan bahwa setiap Rp 1 penjualan menghasilkan
keuntungan bersih sebesar Rp 0,03.
Semakin besar rasio ini semakin baik karena dianggap kemampuan
perusahaan dalam mendapatkan laba cukup tinggi.
Net Profit Margin Garuda tahun 2012
US$ 110.842.573
NPM = = 3,19 %
US$ 3.472.468.962

Pada tahun 2012, hasil perhitungan rasio net profit margin sebesar 3,19% artinya
bahwa setiap US$1 penjualan mampu menghasilkan laba bersih sebesar
US$0,0319.

Net Profit Margin Garuda tahun 2013


US$ 11.200.380
NPM = = 0,30 %
US$ 3.716.076.586

Pada tahun 2013, hasil perhitungan rasio net profit margin sebesar 0,30% artinya
bahwa setiap US$1 penjualan mampu menghasilkan laba bersih sebesar
US$0,0033.

Net Profit Margin Garuda tahun 2014


US$ 368.911.279
NPM = = -9,38 %
US$ 3.933.530.272

Pada tahun 2014, hasil perhitungan rasio net profit margin sebesar -9,38% artinya
bahwa setiap US$1 penjualan, perusahaan akan mengalami kerugian sebesar
US$0,0938.

Net Profit Margin Garuda tahun 2015


US$ 77.974.161
NPM = = 2,04%
US$ 3.814.989.745

Pada tahun 2015, hasil perhitungan rasio net profit margin sebesar 2,04% artinya
bahwa setiap US$1 penjualan mampu menghasilkan laba bersih sebesar
US$0,0204.
Net Profit Margin Garuda tahun 2016
US$ 9.364.858
NPM = = 0,24 %
US$ 3.863.921.565

Pada tahun 2016, hasil perhitungan rasio net profit margin sebesar 0,24% artinya
bahwa setiap US$1 penjualan mampu menghasilkan laba bersih sebesar
US$0,0024.

NPM (%)
4
3.19
2 2.04

0 0.3 0.24
2012 2013 2014 2015 2016
-2

-4 NPM (%)

-6

-8
-9.38
-10

-12

Hasil Analisis:
Secara keseluruhan, pada grafik perbandingan rasio di tahun 2012-2016
menunjukkan pergerakan yang sangat fluktuatif dari tahun ke tahun. Ketiga
pengukuran tersebut (GPM, OPM, dan NPM) cenderung bergerak searah. Rasio
profitabilitas pada PT Garuda Indonesia, Tbk. menunjukkan persentase yang kecil
bahkan minus pada tahun 2014, disebabkan oleh beban yang dikeluarkan
perusahaan terkadang lebih besar dibandingkan dengan pendapatan usaha yang
diperoleh. Beban yang paling besar yang diterima perusahaan adalah beban usaha
operasional penerbangan, hampir sebesar 50% dari total beban tiap tahunnya,
diikuti beban pemeliharaan dan perbaikan, beban bandara, beban tiket, penjualan,
dan promosi, dan lainnya.
Hampir setiap tahun terjadi kenaikan total beban dan tidak sebanding dengan
kenaikan pada pendapatan usaha. Hal inilah yang membuat profitabiltias
perusahaan dikatakan kurang baik. Oleh karena itu, diharapkan PT Garuda
Indonesia, Tbk. dapat mengefisiensikan beban yang akan terjadi di tahun-tahun
berikutnya dan melakukan suatu inovasi untuk meningkatkan pendapatan usaha
perusahaan.

0
2012 2013 2014 2015 2016 GPM
-2
OPM
-4 NPM
-6

-8

-10

-12

10.6 Analisis Penerapan Credit Risk Rating pada PT Garuda Indonesia


Credit Risk Rating adalah suatu pedoman yang digunakan untuk menilai
risiko usaha debitor, sehingga menghasilkan skor risiko yang dapat dijadikan
pertimbangan dalam keputusan pemberian kredit. Penilaian CRR terdiri dari dua
kategori finansial dan non finanlsial dimana masig-masing kategori terdiri dari
beberapa kriteria penilaian Kreteria CRR kategori financial terdiri dari :
a. Current ratio> 140%
b. Quick ratio > 35%
c. Debt to equity ratio < 100%
d. Modal sendiri / Total aktiva 35%
e. Ebit / bunga >150%
f. ROA tahun ini > ROA tahun lalu
g. Profit Margin tahun ini > Profit Margin tahun lalu

Sedangkan kiteria CRR kategori non finansial terdiri dari :


a. Karakter
b. Posisi pasar
c. Situasi persaingan
d. Manajemen
Namun analisis yang akan dilakukann hanyalah terbatas pada analisis
financialnya saja. Suatu debitur dikatakan layak menerima kredit apabila hanya
maksimal 4 point dari kriteria finansial diatas tidak terpenuhi oleh debitur.
Berikut ini adalah hasil analisa penerapan Credit Risk Rating dilihat dari
kriteria finansialnya pada PT Garuda Indonesia Tbk periode 2012 2016.

Berdasarkan perhitungan diatas menunjukan bahwa sebagian besar nilai


kategori finansial PT Garuda Indonesia Tbk berada dibawah standar yang telah
ditentukan, dan hanya ada 2 kategori yang dinyatakan layak yaitu quick ratio dan
equity to total asset. Secara keseluruhan rasio profitabilitas mengalami penurunan
ditahun 2016 dikarenakan beban selisih kurs yang cukup mempengaruhi laba
perusahaan. Namun secara operasional utama perusahaan tidak mengalami kondisi
yang buruk. PT Garuda Indonesia merupakan salah satu perusahaan BUMN, hal ini
dapat dijadikan jaminan yang baik bagi kreditor karena kemungkinan perusahaan
ini untuk bangkrut adalah sangat kecil. Sehingga dengan kondisi perusahaan yang
sekarang tidak menjadi hambatan bagi kreditor untuk meminjamkan dana ke PT
Garuda Indonesia.