Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Skabies adalah penyakit infeksi kulit menular yang disebabkan tungau
betina Sarcoptes scabiei varieta hominis yang termasuk dalam kelas Arachnida.
Penyakit ini paling tinggi terjadi di negara-negara tropis yang merupakan negara
endemik penyakit skabies. Skabies dapat menjangkiti semua orang pada semua
umur, ras, dan tingkat ekonomi social. Prevalensi skabies di seluruh dunia
dilaporkan sekitar 300 juta kasus per tahun. Negara Asia seperti India, prevalensi
skabies sebesar 20,4% (Baur, 2013). Zayyid (2010) melaporkan sebesar 31%
prevalensi skabies pada anak berusia 10-12 tahun di Penang, Malaysia. Menurut
Depkes RI, berdasarkan data dari puskesmas seluruh Indonesia pada tahun 2008,
angka kejadian skabies adalah 5,6%-12,95%. Skabies di Indonesia menduduki
urutan ke tiga dari dua belas penyakit kulit tersering.1,2
Skabies seringkali diabaikan karena tidak mengancam jiwa sehingga
prioritas penanganannya rendah. Akan tetapi, penyakit ini dapat menjadi kronis
dan berat serta menimbulkan komplikasi yang berbahaya. Lesi pada skabies
menimbulkan rasa tidak nyaman karena sangat gatal sehingga penderita seringkali
menggaruk dan mengakibatkan infeksi sekunder.2
1.2.Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan dari Ilmiah ini adalah mengetahui dan memahami tentang
penyakit skabies.
1.3. Metode Penulisan
Penulisan ilmiah ini disusun berdasarkan studi kepustakaan yang merujuk kepada
berbagai literature.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Definisi Skabies
Skabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh infestasi dan
sensitisasi terhadap tungau Sarcoptes scabiei varian hominis beserta produknya.
Sinonim atau nama lain skabies adalah kudis, the itch, gudig, budukan, dan gatal
agogo.3

2.2. Epidemiologi
Skabies ditemukan di semua negara dengan prevalensi yang bervariasi.
Daerah endemik skabies adalah di daerah tropis dan subtropis seperti Afrika,
Mesir, Amerika Tengah, Amerika Selatan, Amerika Utara, Australia, Kepulauan
Karibia, India, dan Asia Tenggara.4,5 Diperkirakan bahwa terdapat lebih dari 300
juta orang di seluruh dunia terjangkit tungau skabies.6
Studi epidemiologi memperlihatkan bahwa prevalensi skabies cenderung
tinggi pada anak-anak serta remaja dan tidak dipengaruhi oleh jenis kelamin, ras,
umur, ataupun kondisi sosial ekonomi. Faktor primer yang berkontribusi adalah
kemiskinan dan kondisi hidup di daerah yang padat,5 sehingga penyakit ini lebih
4
sering di daerah perkotaan. Terdapat bukti menunjukkan insiden kejadian
berpengaruh terhadap musim di mana kasus skabies lebih banyak didiagnosis
pada musim dingin dibanding musim panas. Insiden skabies semakin meningkat
sejak dua dekade ini dan telah memberikan pengaruh besar terhadap wabah di
rumah-rumah sakit, penjara, panti asuhan,4 dan panti jompo.7
Skabies menduduki peringkat ke-7 dari sepuluh besar penyakit utama di
puskesmas dan menempati urutan ke-3 dari 12 penyakit kulit tersering di
Indonesia.3 Ada dugaan bahwa setiap siklus 30 tahun terjadi epidemi skabies.
Banyak faktor yang menunjang perkembangan penyakit ini, antara lain keadaan
sosial ekonomi yang rendah, higiene yang buruk, hubungan seksual yang sifatnya
promiskuitas, kesalahan diagnosis dan perkembangan dermografik seperti
keadaan penduduk dan ekologi.2
Penyakit ini juga dapat dimasukkan dalam Infeksi Menular Seksual.2,8
Pada kelompok usia dewasa muda, cara penularan yang paling sering terjadi
adalah melalui kontak seksual. Meskipun demikian rute infeksi agak sulit
ditentukan karena periode inkubasi yang lama dan asimptomatis. Apabila dalam
satu keluarga terdapat beberapa anggota mengeluh adanya gatal-gatal, maka
penegakan diagnosis menjadi lebih mudah. Tidak seperti penyakit menular
seksual lainnya, skabies dapat menular melalui kontak non seksual di dalam satu
keluarga. Kontak kulit dengan orang yang tidak serumah dan transmisi tidak
langsung seperti lewat handuk dan pakaian sepertinya tidak menular, kecuali
pada skabies yang berkrusta atau skabies Norwegia. Sebagai contoh, meskipun
skabies sering dijumpai pada anak-anak usia sekolah, penularan yang terjadi di
sekolah jarang didapatkan.6,8
2.3. Etiologi
Penyebab penyakit skabies sudah dikenal lebih dari 100 tahun yang lalu
sebagai akibat infestasi tungau yang dinamakan Acarus scabiei dan Sarcoptes
scabiei varian hominis.2,3 Sarcoptes scabiei termasuk kedalam filum Arthropoda,
kelas Arachnida, ordo Ackarima, superfamili Sarcoptes. Pada manusia disebut
Sarcoptes scabiei varian hominis. Tungau ini khusus menyerang dan menjalani
siklus hidupnya dalam lapisan tanduk kulit manusia. Selain itu terdapat S. scabiei
yang lain, yakni varian animalis. Sarcoptes scabiei varian animalis menyerang
hewan seperti anjing, kucing, lembu, kelinci, ayam, itik, kambing, macan,
beruang dan monyet. Sarcoptes scabiei varian hewan ini dapat menyerang
manusia yang pekerjaannya berhubungan erat dengan hewan tersebut di atas,
misalnya peternak, gembala, dll. Gejalanya ringan, sementara, gatal kurang, tidak
timbul terowongan-terowongan, tidak ada infestasi besar dan lama serta biasanya
akan sembuh sendiri bila menjauhi hewan tersebut dan mandi yang bersih.3
Secara morfologik tungau ini berukuran kecil, berbentuk oval,
punggungnya cembung dan bagian perutnya rata. Tungau ini translusen,
berwarna putih kotor dan tidak bermata. Ukuran betina berkisar antara 330-450
mikron x 250-350 mikron, sedangkan jantan lebih kecil, yakni 200-240 mikron x
150-200 mikron. Bentuk dewasa mempunyai 4 pasang kaki, 2 pasang kaki di
depan yang berakhir dengan penghisap kecil di bagian ujungnya sebagai alat
untuk melekat dan 2 pasang kaki kedua pada betina berakhir dengan rambut
(satae), sedangkan pada yang jantan pasangan kaki ketiga berakhir dengan
rambut dan keempat berakhir dengan alat perekat.2,3

Gambar 2.1. Tungau skabies jantan (kiri) dan betina (kanan)

2.4. Penularan ( Transmisi )


Penularan penyakit scabies biasanya oleh Sarcoptes cabei betina yang
sudah dibuahi atau kadang-kadang oleh bentuk larva. Dikenal pula bentuk
Sarcoptescabei var. animalis yang kadang-kadang dapat menulari manusia
terutama pada orang yang banyak memelihara binatang seperti anjing.3
Penularan scabies dapat terjadi melalui kontak langsung , seperti kontak
kulit dengan kulit, misalnya saat berjabat tangan, tidur bersama, dan hubungan
seksual. Penularan dengan kontak tidak langsuung terjadi melalui benda,
misalnya pakaian, handuk, sprei, bantal, dan lain-lain.3

2.6 Patogenesis
Jalur penularan yang dominan adalah kontak langsung dari kulit ke
kulit. Penularan dengan menggunakan pakaian bersama atau metode tidak
langsung lainnya jarang terjadi pada scabies klasik namun mungkin terjadi pada
scabies berkerak (mis., Pada host yang mengalami gangguan kekebalan tubuh).
Penularan antar anggota keluarga dan dapat terjadi. 6,9

Transmisi seksual juga dapat terjadi. Dalam sebuah penelitian mengenai


faktor risiko skabies di sebuah klinik untuk infeksi menular seksual, orang
berisiko tinggi termasuk pria yang berhubungan seks dengan pria dan pria
dengan kontak seksual bebas. Tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa tungau
dapat menularkan infeksi dengan human immunodeficiency virus (HIV). 6,9

Tungau tidak bisa terbang atau melompat tapi merangkak dengan


kecepatan 2,5 cm per menit pada kulit yang hangat. Mereka dapat bertahan
selama 24 sampai 36 jam pada suhu kamar dan kelembaban rata-rata dan tetap
mampu melakukan infestasi dan pelepasan epidermal. Semakin banyak parasit
pada seseorang, semakin besar kemungkinan penularan, baik kontak langsung
(yaitu kontak kulit ke kulit) atau tidak langsung (misalnya, melalui tempat tidur,
pakaian). 6,9

Kutu scabies betina menggali terowongan pada stratum corneum


dengan kecepatan 2 mm per hari, dan meletakkan 2 atau 3 telur-telurnya setiap
harinya. Telur-telur ini akan menetas setelah 3 hari dan menjadi larva, yang
akan membentuk kantung dangkal di stratum corneum dimana larva-larva ini
akan bertrasnformasi dan menjadi dewasa dalam waktu 2 minggu. Kutu ini
kawin di dalam kantongnya, dimana kutu jantan akan mati tetapi kutu betina
yang telah dibuahi menggali terowongan dan melanjutkan siklus hidupnya.
Setelah invasi pertama dari kutu ini, diperlukan 4 hingga 6 minggu untuk
timbul reaksi hipersensitivitas dan rasa gatal akibat kutu ini.10
Gambar 2 : siklus hidup Sarcoptes scabiei (dikutip dar kepustakaan 8)

Siklus hidup ini menjelaskan mengapa pasien mengalami gejala selama


bulan pertama setelah kontak dengan individu yang terinfeksi. Setelah sejumlah
kutu (biasanya kurang dari 20) telah dewasa dan telah menyebar dengan cara
bermigrasi atau karena garukan pasien, hal ini akan berkembang dari rasa gatal
awal yang terlokalisir menjadi pruritus generalisata.11

Selama siklus hidup kutu ini, terowongan yang terbentuk meluas dari
beberapa milimeter menjadi beberapa centimeter. Terowongan ini tidak meluas
ke lapisan bawah epidermis, kecuali pada kasus hiperkeratosis scabies
Norwegia, kondisi dimana terdapat kulit yang bersisik, menebal, terjadi
imunosupresan, atau pada orang-orang tua dengan jumlah ribuan kutu yang
menginfeksi. Telur-telur kutu ini akan dikeluarkan dengan kecepatan 2-3 telur
perharinya dan massa feses (skibala) terdeposit pada terowongan. Skibala ini
dapat menjadi iritan dan menimbulkan rasa gatal.11

Tungau skabies lebih suka memilih area tertentu untuk membuat


terowongannya dan menghindari area yang memiliki banyak folikel
pilosebaseus. Biasanya, pada satu individu terdapat kurang dari 20 tungau di
tubuhnya, kecuali pada Norwegian scabies dimana individu bisa didiami lebih
dari sejuta tungau. Orang tua dengan infeksi virus immunodefisiensi dan pasien
dengan pengobatan immunosuppresan mempunyai risiko tinggi untuk menderita
Norwegian scabies.12,13

Reaksi hipersensitivitas akibat adanya benda asing mungkin menjadi


penyebab lesi. Peningkatan titer IgE dapat terjadi pada beberapa pasien scabies,
bersama dengan eosinofilia, dan reaksi hipersensitivitas tipe langsung akibat
reaksi dari kutu betina ini. Kadar IgE menurun dalam satu tahun setelah
terinfeksi. Eosinofil kembali normal segera setelah dilakukannya perawatan.
Fakta bahwa gejala yang timbul jauh lebih cepat ketika terjadi reinfeksi
mendukung pendapat bahwa gejala dan lesi scabies adalah hasil dari reaksi
hipersensitivitas.11

Tungau skabies menginduksi antibodi IgE dan menimbulkan reaksi


hipersensitivitas tipe cepat. Lesi-lesi di sekitar terowongan terinfiltrasi oleh sel-
sel radang. Lesi biasanya berupa eksim atau urtika, dengan pruritus yang intens,
dan semua ini terkait dengan hipersensitivitas tipe cepat. Pada kasus skabies
yang lain, lesi dapat berupa urtika, nodul atau papul, dan ini dapat berhubungan
dengan respons imun kompleks berupa sensitisasi sel mast dengan antibodi IgE
dan respons seluler yang diinduksi oleh pelepasan sitokin dari sel Th2 dan/atau
sel mast.6
Di samping lesi yang disebabkan oleh Sarcoptes scabiei secara
langsung, dapat pula terjadi lesi-lesi akibat garukan penderita sendiri.2 Dengan
garukan dapat timbul erosi, ekskoriasi, krusta, dan infeksi sekunder.12

2.7. Gambaran Klinis

Kelainan klinis pada kulit yang ditimbulkan oleh infestasi Sarcoptes


scabiei sangat bervariasi. Meskipun demikian kita dapat menemukan gambaran
klinis berupa keluhan subjektif dan objektif yang spesifik. Dikenal ada 4 tanda
utama atau cardinal sign pada infestasi skabies, yaitu :3,14
a. Pruritus nocturna
Setelah pertama kali terinfeksi dengan tungau skabies, kelainan kulit
seperti pruritus akan timbul selama 6 hingga 8 minggu. Infeksi yang
berulang menyebabkan ruam dan gatal yang timbul hanya dalam beberapa
hari. Gatal terasa lebih hebat pada malam hari. Hal ini disebabkan karena
meningkatnya aktivitas tungau akibat suhu yang lebih lembab dan panas.
Sensasi gatal yang hebat seringkali mengganggu tidur dan penderita
menjadi gelisah.14
b. Menyerang manusia secara berkelompok
Penyakit ini menyerang manusia secara kelompok, sehingga dalam sebuah
keluarga biasanya mengenai seluruh anggota keluarga. Begitu pula dalam
sebuah pemukiman yang padat penduduknya, skabies dapat menular
hampir ke seluruh penduduk. Didalam kelompok mungkin akan ditemukan
individu yang hiposensitisasi, walaupun terinfestasi oleh parasit sehingga
tidak menimbulkan keluhan klinis akan tetapi menjadi pembawa/carier
bagi individu lain.14
c. Adanya terowongan
Kelangsungan hidup Sarcoptes scabiei sangat bergantung kepada
kemampuannya meletakkan telur, larva dan nimfa didalam stratum
korneum, oleh karena itu parasit sangat menyukai bagian kulit yang
memiliki stratum korneum yang relatif lebih longgar dan tipis.14
Gambar 3 : terowongan pada penderita scabies (dikutip dari
kepustakaan 11)

Lesi yang timbul berupa eritema, krusta, ekskoriasi papul dan nodul yang
sering ditemukan di daerah sela-sela jari, pergelangan tangan bagian depan
dan lateral telapak tangan, siku, aksilar, skrotum, penis, labia dan pada
areola wanita.Bila ada infeksi sekunder ruam kulitnya menjadi polimorfik
(pustul, ekskoriasi, dan lain-lain).10

Gambar 4 : Gambaran klasik Scabies (dikutip dari kepustakaan 5)


Erupsi eritematous dapat tersebar di badan sebagai reaksi hipersensitivitas
pada antigen tungau. Lesi yang patognomonis adalah terowongan yang
tipis dan kecil seperti benang, berstruktur linear kurang lebih 1 hingga 10
mm, berwarna putih abu-abu, pada ujung terowongan ditemukan papul atau
vesikel yang merupakan hasil dari pergerakan tungau di dalam stratum
korneum. Terowongan ini terlihat jelas kelihatan di sela-sela jari,
pergelangan tangan dan daerah siku. Namun, terowongan tersebut sukar
ditemukan di awal infeksi karena aktivitas menggaruk pasien yang hebat.12

Gambar 5 : distribusi makro lesi primer scabies pada orang dewasa


(dikutip dari kepustakaan 10 )
Gambar 6 : distribusi makro lesi primer scabies pada anak (dikutip
dari kepustakaan 10 )

d. Menemukan Sarcoptes scabiei


Apabila kita dapat menemukan terowongan yang masih utuh kemungkinan
besar kita dapat menemukan tungau dewasa, larva, nimfa maupun skibala
dan ini merupakan hal yang paling diagnostik. Akan tetapi, kriteria yang
keempat ini agak susah ditemukan karena hampir sebagian besar penderita
pada umumnya datang dengan lesi yang sangat variatif dan tidak
spesifik.(10) Diagnosa positif hanya didapatkan bila menemukan tungau
dengan menggunakan mikroskop, biasanya posisi tungau determined dalam
liang, dapat menggunakan pisau untuk teknik irisan ataupun denggan
menggunakan jarum steril, tungau ini mayoritas dapat ditemukan pada
tangan, pergelangan tangan dan lebih kurang pada daerah genitalia, siku,
bokong dan aksila. Pada anak anak tungau banyak ditemukan dibawah
kuku karena kebiasaan menggaruk, pengambilan tungau ini dengan
menggunakan kuret.15
Gambar 7 : Telur, nimfa, dan skibala Sarcoptes scabiei (dikutip dari
kepustakaan 16)

Selain bentuk skabies yang klasik, terdapat pula bentuk-bentuk yang tidak
khas, meskipun jarang ditemukan. Kelainan ini dapat menimbulkan
kesalahan diagnostik yang dapat berakibat gagalnya pengobatan.. Beberapa
bentuk skabies antara lain :
a. Skabies pada orang bersih
Klinis ditandai dengan lesi berupa papula dan kanalikuli dengan
jumlah yang sangat sedikit, kutu biasanya hilang akibat mandi secara
teratur. 14
b. Skabies pada bayi dan anak
Pada anak yang kurang dari dua tahun, infestasi bisa terjadi di wajah
dan kulit kepala sedangkan pada orang dewasa jarang terjadi. Nodul
pruritis eritematous keunguan dapat ditemukan pada aksila dan daerah
lateral badan pada anak-anak. Nodul-nodul ini bisa timbul berminggu-
minggu setelah eradikasi infeksi tungau dilakukan. Vesikel dan bula
bisa timbul terutama pada telapak tangan dan jari. 12 Lesi skabies pada
anak dapat mengenai seluruh tubuh, termasuk seluruh kepala, leher,
telapak tangan, telapak kaki dan sering terjadi infeksi sekunder berupa
impetigo, ektima, sehingga terowongan jarang ditemukan. Pada bayi,
lesi terdapat di wajah. Lesi yang timbul dalam bentuk vesikel, pustul,
dan nodul, tetapi distribusi lesi tersebut atipikal. Eksematisasi dan
impetigo sering didapatkan, dan dapat dikaburkan dengan dermatits
atopik atau acropustulosis. Rasa gatal bisa sangat hebat, sehingga
anak yang terserang dapat iritabel dan kurang nafsu makan.6

Gambar 8 : Skabies pada anak (dikutip dari kepustakaan 6)

c. Skabies nodular
Skabies nodular adalah varian klinik yang terjadi sekitar 7% dari
kasus skabies dimana lesi berupa nodul merah kecoklatan berukuran
2-20 mm yang sangat gatal. Umumnya terdapat pada daerah yang
tertutup terutama pada genitalia, inguinal dan aksila. Pada nodul yang
lama tungau sukar ditemukan, dan dapat menetap selama beberapa
minggu hingga beberapa bulan walaupun telah mendapat pengobatan
anti skabies.16
d. Skabies incognito
Penggunaan obat steroid topikal atau sistemik dapat menyamarkan
gejala dan tanda pada penderita apabila penderita mengalami skabies.
Akan tetapi dengan penggunaan steroid, keluhan gatal tidak hilang
dan dalam waktu singkat setelah penghentian penggunaan steroid lesi
dapat kambuh kembali bahkan lebih buruk. Hal ini mungkin
disebabkan oleh karena penurunan respon imun seluler.14
Gambar 9 : Lesi krusta terlokalisasi pada penderita dengan
pengobatan regimen imunosupresan (dikutip dari kepustakaan 6)

e. Norwegian scabies (Skabies berkrusta)


Merupakan skabies berat ditandai dengan lesi klinis generalisata
berupa krusta dan hiperkeratosis dengan tempat predileksi pada kulit
kepala berambut, telinga, bokong, telapak tangan, kaki, siku, lutut
dapat pula disertai kuku distrofik bentuk ini sangat menular tetapi
gatalnya sangat sedikit. Dapat ditemukan lebih dari satu juta populasi
tungau dikulit. Bentuk ini ditemukan pada penderita yang mengalami
gangguan fungsi imun misalnya AIDS, penderita gangguan
neurologik dan retardasi mental.12,14
Gambar 10 : Norwegian scabies yang bermanifestasi sebagai kulit
yang terekskoriasi, likenifikasi, hiperkeratosis (dikutip dari
kepustakaan 17)

2.7 Diagnosis

a. Anamnesis18

Dari keluhan subjektif dapat ditemukan gejala klinis : pruritus nokturna dan
lesi timbul di stratum korneum yang tipis seperti di sela jari, pergelangan
tangan dan kaki, aksila, umbilikus, areola mammae,dan di bawah payudara
(wanita) serat genital eksterna (pria).
Faktorresiko yang dapat ditemukan yaitu :
Masyarakat yang hidup berkelompok di tempat padat seperti pesantren
atau asrama
Hyegine yang buruk
Sosial ekonomi yang rendah
Hubungan seksual yang sifatnya promikuitas.
b. Pemeriksaan Fisik18

Ditemukan lesi berupa terowongan (kanalikuli) berwarna putih atau


abu-abu dengan panjang rata-rata 1 cm. Ujung terowongan terdapat
papul, ekskoriasi, dan sebagainya. Padaanak-anak, lesi lebih sering
berupa vesikel disertai infeksi sekunder akibat garukan sehingga lesi
menjadi bernanah.
c. Pemeriksaan Penunjang

Beberapa cara yang dapat digunakan untuk menemukan tungau


dan produknya yaitu :
a. Kerokan kulit
Papul atau kanalikuli yang utuh ditetesi dengan minyak mineral atau
KOH 10% lalu dilakukan kerokan dengan meggunakan skalpel steril
yang bertujuan untuk mengangkat atap papula atau kanalikuli. Bahan
pemeriksaan diletakkan di gelas objek dan ditutup dengan kaca
penutup lalu diperiksa dibawah mikroskop.14
b. Mengambil tungau dengan jarum
Bila menemukan terowongan, jarum suntik yang runcing ditusukkan
kedalam terowongan yang utuh dan digerakkan secara tangensial ke
ujung lainnya kemudian dikeluarkan. Bila positif, tungau terlihat pada
ujung jarum sebagai parasit yang sangat kecil dan transparan. Cara ini
mudah dilakukan tetapi memerlukan keahlian tinggi.14
c. Tes tinta pada terowongan (Burrow ink test)
Papul skabies dilapisi dengan tinta cina, dibiarkan selama 20-30
menit. Setelah tinta dibersihkan dengan kapas alkohol, terowongan
tersebut akan kelihatan lebih gelap dibandingkan kulit di sekitarnya
karena akumulasi tinta didalam terowongan. Tes dinyatakan positif
bila terbetuk gambaran kanalikuli yang khas berupa garis menyerupai
bentuk S.14
d. Membuat biopsi irisan (epidermal shave biopsy)
Dilakukan dengan cara menjepit lesi dengan ibu jari dan telunjuk
kemudian dibuat irisan tipis, dan dilakukan irisan superfisial
menggunakan pisau dan berhati-hati dalam melakukannya agar tidak
berdarah. Kerokan tersebut diletakkan di atas kaca objek dan ditetesi
dengan minyak mineral yang kemudian diperiksa dibawah mikroskop.
Biopsi irisan dengan pewarnaan Hematoksilin dan Eosin.14
Gambar 11 : Sarcoptes scabiei dalam epidermis (panah) dengan
pewarnaan H.E (dikutip dari kepustakaan 6)

e. Uji tetrasiklin
Pada lesi dioleskan salep tetrasiklin yang akan masuk ke dalam
kanalikuli. Setelah dibersihkan, dengan menggunakan sinar ultraviolet
dari lampu Wood, tetrasiklin tersebut akan memberikan efluoresensi
kuning keemasan pada kanalikuli.14
f. Dermoskopi
Dermoskopi awalnya dipakai oleh dermatolog sebagai alat yang
berguna untuk membedakan lesi-lesi berpigmen dan melanoma.
Dermoskopi juga dapat menjadi alat yang berguna dalam
mendiagnosis scabies secara in vivo. Alat ini dapat mengidentifikasi
struktur bentuk triangular atau bentuk-V yang diidentifikasi sebagai
bagian depan tubuh tungau, termasuk kepala dan kaki. Banyak
laporan kasus yang didapatkan mengenai pengalaman dalam
mendiagnosis scabies dengan menggunakan Dermoskopi.
Dermoskopi sangat berguna, terutama dalam kasus-kasus tertentu,
termasuk kasus scabies pada pasien dengan terapi steroid lama, pasien
imunokompromais dan scabies nodular.19

Gambar 12 : Scabies yang teridentifikasi dengan Dermoskopi


(dikutip dari kepustakaan 19)
BAB 3

LAPORAN KASUS

UNIVERSITAS ANDALAS

FAKULTAS KEDOKTERAN

KEPANITERAAN KLINIK FOME 3

STATUS PASIEN

1. Identitas Pasien
a. Nama/Kelamin/Umur : An. I/ laki laki/ 11 tahun
b. Pekerjaan/Pendidikan : Pelajar
c. Alamat : Jl.
2. Latar Belakang Sosial-Ekonomi-Demografi-Lingkungan-Keluarga
a. Status Perkawinan :belum menikah
b. Jumlah Anak/Saudara :anak kedua dari empat bersaudara
c. Status Ekonomi Keluarga :biaya hidup dari penghasilan orang tua
d. KB :-
e. Kondisi Rumah :
Rumah permanen, sumber air: PDAM, jamban di dalam rumah, sampah
dibakar, pekarangan rumah tidak terlalu luas. Kesan: higien dan sanitasi baik
f. Kondisi Lingkungan Keluarga :
Penghuni rumah enam orang (pasien, ayah, ibu, 1 orang kakak, 2 orang adik),
tinggal di daerah tidak terlalu padat penduduk
3. Aspek Psikologis Di Keluarga:
Hubungan dengan keluarga baik
4. Keluhan Utama
Gatal-gatal di sela jari, telapak tangan, siku, paha dan badan sejak 1 bulan yang
lalu.
5. Riwayat Penyakit Sekarang:
Gatal-gatal di sela jari, telapak tangan, siku, paha dan badan sejak 1 bulan
yang lalu. Awalnya timbul bintik-bintik di sela jari berwarna kemerahan
sebesar ujung jarum pentul yang semakin lama semakain menyebar hingga
telapak tangan, siku, paha dan badan. Gatal dirasakan terutama pada malam
hari yang menyebabkan pasien sering terbangaun sangat tidur.
Riwayat menggaruk (+) hingga menimbulkan luka dikulit.
Riwayat digigit serangga (-)
Riwayat pengobatan (-)
6. Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien sebelumnya tidak pernah menderita kelainan kulit.
7. Penyakit Keluarga:
- Adik, kakak, dan ibu pasien menderita keluhan yang sama dan belum
diobati. Keluhan kulit awalnya diderita oleh adik pasien dan selanjutnya
menyebar ke pasien, kakak dan ibu pasien. Adik pasien mengaku teman
sepermainnanya juga menderita keluhan yang sama. Keluhan yang
dirasakan oleh adik, kakak dan ibu pasien belum pernah di obati
sebelumnya.
- Riwayat atopi (-)
8. Riwayat Kebiasaan
Pasien dan ketiga orang saudaranya tidur dalam 1 kamar bersama,
penggunaan satu selimut bersama (+).
Riwayat penggunaan handuk bersama (+) dengan adik dan kakak.
Pasien mandi 2 kali sehari, mengganti pakaian 2 kali sehari termasuk
pakaian dalam.
Baju pasien di cuci oleh ibunya sendiri, dengan menggunakan sabun
dan tidak disetrika.
9. Pemeriksaan Fisik
Status Generalisata:
Keadaan Umum : sakit ringan
Kesadaran : komposmentis cooperatif
Frekuensi nadi : 98 x/menit
Frekuensi nafas : 18 x/ menit
Suhu : 36,70C
BB : 28 kg
TB : 140 cm
Status gizi
- BB/U : 80 %
- TB/U : 96 %
- BB/TB : 84 %

Kulit : Status lokalis


Kelenjar getah bening : Tidak teraba pembesaran KGB
Kepala : normosepal
Mata : konjungtiva tidak anemis, sklera tidak
ikterik
Telinga : tidak ada kelainan
Tenggorok : tonsil T1-T1, faring tidak hiperemis
Gigi dan mulut: mukosa bibir lembab
Pemeriksaan thorak :
Jantung
Inspeksi : iktus tidak terlihat
Palpasi : iktus teraba 1 jari medial LMCS RIC IV
Perkusi : batas jantung dalam batas normal
Auskultasi : irama teratur, bising (-)
Paru
Inspeksi : simetris statis dan dinamis
Palpasi : fremitus kiri=kanan
Perkusi : sonor
Auskultasi : vesikular, rhonki -/-, wheezing -/-
Pemeriksaan abdomen :
Inspeksi : perut tidak tampak membuncit
Palpasi : supel, hepar dan lien tidak teraba, NT (-)
Perkusi : timpani
Auskultasi : bising usus (+) normal
Anus dan genitalia : tidak ada kelainan
Ekstremitas : akral hangat, perfusi baik
Status Lokalis
Lokasi : Sela jari, telapak tangan, siku, badan, paha
Distribusi : Regional
Bentuk dan susunan : Bulat
Susunan : Diskret
Batas : Tegas
Ukuran : Milier hingga lentikuler
Efloresensi : Papul eritem, erosi, ekskoriasi, krusta.
10. Laboratorium :-
11. Diagnosa Kerja : Skabies
12. Diagnosa Banding :-
13. Manajemen
a. Preventif :
Menjaga hygiene pribadi dengan mandi 2 kali sehari dan
mengganti baju serta pakaian dalam ketika mandi.
Tidak menggunakan barang pribadi secara bersama seperti handuk,
pakaian.
Menghindari kontak kulit langsung dengan penderita
Alas tidur di cuci dan kasur di jemur secar teratur khususnya
apabila kontak dengan penderita.
b. Promotif :
- Menjelaskan bahwa penyakit ini merupakan penyakit infeksi tungau
yang biasanya dapat ditularkan melalui kontak kulit langsung, kontak
dengan barang yang dipakai penderita ataupun melalui kotak seksual.
- Menjelaskan bahwa pengobatan harus dilakukan secar bersama/ pada
sekelompok orang yang berada di sekitarpenderita skabies.
- Kebersihan pribadi sangat penting untuk menghentikan transmisi
penularan
c. Kuratif (Resep) :
- Salep 2-4 dioleskan di seluruh tubuh, kecuali muka, alat kelamin dan
kepala. selama 3 hari berturut-turut. Setiap habis mandi, dipakai selam
24 jam.
- Chlorpheniramin maleat 3x3/4 tablet
d. Rehabilitatif :
- Kontrol kembali ke puskesmas jika keluhan kulit tidak sembuh setelah
diberi pengobatan atau terdapat infeksi kulit sekunder.