Anda di halaman 1dari 6

SUBLIMASI KAPUR BARUS (KAMFER)

Hari/Tanggal : Rabu, 27 November 2013


Metode : Sublimasi
Sampel : Kapur Barus
Pembimbing : Yennizar, S.Pd.

I. TUJUAN PRAKTIKUM
1.1. TUJUAN PRAKTIKUM
1. Untuk mengetahui proses sublimasi secara laboratorium.
2. Untuk mengetahui suatu bahan dapat tersublimasi atau tidak.

1.2. PRINSIP KERJA


Proses perubahan fisika suatu zat dari fase padat menjadi fase gas melalui pemanasan, kemudian
menjadi padat melalui pendinginan dan tanpa melalui fase cair.

II. DASAR TEORI


Sublimasi adalah perubahan wujud dari padat ke gas tanpa mencair terlebih dahulu. Misalkan es yang
langsung menguap tanpa mencair terlebih dahulu. Pada tekanan normal, kebanyakan benda dan zat
memiliki tiga bentuk yang berbeda pada suhu yang berbeda-beda. Pada kasus ini transisi dari wujud
padat ke gas membutuhkan wujud antara. Namun untuk beberapa antara, wujudnya bisa langsung
berubah ke gas tanpa harus mencair. Ini bisa terjadi apabila tekanan udara pada zat tersebut terlalu
rendah untuk mencegah molekul-molekul ini melepaskan diri dari wujud padat.
Penggunaan teknik ini terbatas, karena hanya sedikit zat yang dapat mengalami sublimasi, di antaranya
adalah kapur barus, amonium klorida, dan iodium.
Pada umumnya perubahan tingkat wujud berlangsung menurut pola padat cair gas atau
kebalikannya. Ada beberapa zat yang dapat berubah langsung dari keadaan uap ke keadaan padat yang
disebut menyublim.Sifat demikian dimiliki oleh unsur yodium, kamfer, naftalen, belerang.Zat padat pada
umumnya mempunyai bentuk kristal tertentu: Kubus, heksagonal, rombik, monoklin dan sebagainya.
Unsur belerang dalam suhu biasa berwarna kuning dengan bentuk kristal rombik. Jika belerang rombik
dipanaskan sampai 96 bentuk kristalnya berubah menjadi monoklin. Jika belerang cair didinginkan tiba-
tiba pada 119 terjadi pula bentuk kristal monoklin (seperti bentuk jarum).
Kapur barus adalah padatan lilin putih atau transparan dengan bau yang kuat aromatic, dengan bahan
kimia itu diklasifikasikan sebagai terpenoid. Hal ini ditemukan dalam kulit dan kayu dari pohon salam
dan pohon kapur barus terkait lainnya dari keluarga salam. Kapur barus diproduksi dari minyak
terpentin, bisa digunakan untuk aroma sebagai bahan memasak (terutama di India), sebagai cairan
pembalseman untuk tujuan pengobatan. Hal ini juga bisa digunakan di beberapa upacara keagamaan.
Kapur barus yang berbentuk butiran padat putih Kristal ini, bertujuan membantu anda agar lemari atau
laci anda jauh dari kecoa dan nyengat yang bisa sewaktu waktu datang secara tiba tiba di dalam laci
atau lemari anda, kapur barus ini bisa diletakan atau di taburkan di dalamnya. Kapur barus telah
ditemukan dalam kayu salam, Cinnamonum camphora, yang merupakan pohon cemara besar
ditemukan di Asia (khususnya di Kalimantan itu adalah nama alternatif nya), tetapi juga dapat diproduksi
secara sintetis dari minyak terpentin. Hal ini digunakan untuk aroma, sebagai cairan pembalseman dan
untuk tujuan pengobatan, ini memiliki sifat menenangkan. Namun beracun jika tertelan dan dapat
menyebabkan kejang, kebingungan mental, iritabilitas, dan neuromuskular hiperaktif.

2.1 URAIAN TUMBUHAN/SAMPEL


2.1.1 DAERAH TUMBUH/DIPEROLEH POHON KAPUR BARUS
Pohon Kapur (Dryobalanops aromatica), penghasil kapur barus (kamper) ternyata termasuk salah
satu tanaman langka. Pohon Kapur yang mampu menghasilkan kristal kapur barus dengan aroma khas
ini menempati status keterancaman tertinggi yakni Critically Endangered (Kritis).
Dalam bahasa Inggris tumbuhan ini disebut sebagai Borneo Camphor, Camphor Tree, Malay camphor
atau Indonesian Kapur. Sedangkan dalam bahasa latin (ilmiah) nama resminya adalah Dryobalanops
aromatica yang bersinonim dengan Dryobalanops sumatrensis (JF Gmel.) Kosterm., Laurus sumatrensis
JF Gmel., Arbor camphorifera Rumph., Dipterocarpus Dryobalanops Steud., Dipterocarpus teres Steud,
Dryobalanops camphora Colebr., Dryobalanops junghuhnii Becc., Dryobalanops vriesii Becc Correa.,
Pterigium teres, Shorea camphorifera Roxb.

Pohon Kamper ( diunduh dari http://alamendah.wordpress.com)

2.1.2. MORFOLOGI TUMBUHAN


Pohon kapur (Dryobalanops aromatica). mempunyai ukuran yang besar dan tinggi. Diameter batangnya
mencapai 70 cm bahkan 150 meter dengan tinggi pohon mencapai 60 meter. Kulit pohon berwarna
coklat dan coklat kemerahan di daerah dalam. Pada batangnya akan mengeluarkan aroma kapur bila
dipotong.
Daun Kapur tunggal dan berseling, memiliki stipula di sisi ketiak, dengan permukaan daun memngkilap,
dan tulang daun sekunder menyirip sangat rapat dengan stipula berbentuk garis dan sangat mudah
luruh. Bunga berukuran sedang, kelopak mempunyai ukuran sama besar, mempunyai mahkota bunga
elips, mekar, putih berlilin, dan memiliki 30 benang sari. Pohon Kapur memiliki buah agak besar,
mengkilap, dan bersayap sebanyak 5 helai.
Tanaman Kapur (Dryobalanops aromatica) tumbuh di hutan dipterocarp campuran hingga ketinggian
300 meter dpl. Persebaran tumbuhan langka ini mulai dari Indonesia (pulau Sumatera dan Kalimantan)
dan Malaysia (Semenanjung Malaysia, Sabah, dan Serawak).

2.1.3. SISTIMATIKA TUMBUHAN


Kerajaan : Plantae;
Filum : Tracheophyta;
Kelas : Magnoliopsida;
Ordo : Theales;
Famili : Dipterocarpaceae;
Genus : Dryobalanops;
Spesies : Dryobalanops aromatica;
Sinonim : lihat artikel.
2.1.4 NAMA DAERAH
Pohon Kapur di Kalimantan disebut juga sebagai Ampadu, Amplang, Kapur, Kayatan, Keladan, Melampit,
Mengkayat, Mohoi, Muri, dan Sintok. Di Sumatera selain disebut Kapur atau Barus tanaman ini dinamai
Haburuan atau Kaberun.

2.1.5 KANDUNGAN KIMIA


Kapur barus mengandung menthol, terpenoid dan benzena.

2.1.4 KEGUNAAN
Kamper mudah diserap melalui kulit dan menghasilkan perasaan pendinginan mirip dengan menthol,
dan bertindak sebagai zat anestesi dan antimikroba sedikit lokal. Ada anti-gatal gel dan gel pendingin
dengan kapur barus sebagai bahan aktif.

2.2 PEMBUDIDAYAAN TANAMAN


Pohon kapur temasuk ke dalam pohon yang sulit di temukan dan hampir punah. Sulit untuk menemukan
cara untuk membudidayakan pohon kapur barus.

2.3. PENGELOLAAN SIMPLISIA


Kapur barus bukan termasuk ke dalam simplisia. Tidak ditemukan cara untuk mengolah pohon kapur
barus menjadi simplisia. Penulis hanya menjelaskan cara mendapatkan kristal kapur barus dari tanaman
kapur barus.
Untuk mendapatkan kristal kapur barus, dimulai dengan memilih, menebang, dan memotong-motong
batang pohon Kapur (Dryobalanops aromatica). Potongan-potongan batang pohon Kapur kemudian
dibelah untuk menemukan kristal-kristal kapur barus yang terdapat di dalam batangnya. Mungkin
lantaran penebangan yang membabi buta kemudian pohon Kapur menjadi pohon yang langka.

2.4. PEMBUATAN SIMPLISIA


Tidak ditemukan cara pembuatan simplisia kapur barus, karena kapur barus tidak termasuk ke dalam
simplisia, melainkan diolah secara sintetis.

2.4. PEMERIKSAAN SAMPEL


2.4.1. ORGANOLEPTIK
Bau khas aromatik, rasa pedas aromatik, bewarna putih.

III. METODOLOGI PERCOBAAN


3.1 ALAT YANG DIGUNAKAN
1. Timbangan
2. Lupang
3. Baker glass
4. Gelas ukur
5. Penangas air/tungku kaki tiga dan lampu spiritus
6. Batang pengaduk
7. Cawan penguap

3.2 BAHAN YANG DIGUNAKAN


1. Kapur barus
2. Air

3.3 PENYIAPAN SAMPEL/PELARUT


Sampel dipanaskan tanpa menggunakan pelarut.

3.4 PROSEDUR PERCOBAAN


Sediakan baker glass, cawan penguap, tungku berkaki tiga dan lampu spiritus.
Sampel dihaluskan dengan alu dan lumpang, kemudian dimasukkan ke dalam baker glass.
Selanjutnya baker glass ditutuop dengan cawan penguap yang diisi dengan air dan siletakkan di
atas tungku kaki tiga.
Kemudian dipanaskan dengan bunsen.
Perhatikan sampel tersublimasi atau tidak, diamati dan dinginkan untuk mendapatkan bentuk
padatan kembali.

3.5 SKEMA KERJA

Kapur barus
10 g

Digerus hingga halus


Masukkan ke dalam baker glass
Ditutup dengan cawan porselin yang berisi air (permukaan atas)

Terbentuk cairan di baker glass


Diamati
Terbentuk kristal di bawah cawan porselin

Masukkan kristal ke dalam wadah

IV. HASIL PEMBAHASAN


4.1 HASIL PERCOBAAN
Sublimasi dibuat dengan 10 g kapur barus tidak bewarna yang sudah dihaluskan menggunakan lumpang.
Kemudian dimasukkan ke dalam baker glass dan ditutup dengan cawan penguap yang berisi air.
Dipanaskan degan menggunakan lampu spiritus sampai terbentuk kristal.

Warna cairan di bakerglass : tidak bewarna


Bau : Khas
Hasil yang diperoleh adalah sampel tersublimasi dan membentuk kristal di punggung cawan penguap.

4.2. PEMBAHASAN
Sublimasi adalah perubahan wujud dari padat ke gas tanpa mencair terlebih dahulu.
Kapur barus adalah padatan lilin putih atau transparan dengan bau yang kuat aromatic, dengan bahan
kimia itu diklasifikasikan sebagai terpenoid. Kapur barus berasal dari sebuah pohon yang bernama
Pohon Kapur (Dryobalanops aromatica).
Sublimasi dilakukan dengan nyala api yang terus menerus hingga kapur barus habis menyublim. Kapur
barus padat seberat 10 g menghasilkan kristal seberat 3,74 g.

V. KESIMPULAN
1. Sublimasi merupakan proses perubahan wujud zat padat menjadi gas.
2. Hasil yang diperoleh pada percobaan sublimasi kali ini berupa kristal.
3. Prinsip kerja dari metode sublimasi kali ini adalah perubahan dari fase padat menjadi fase gas
melalui pemansan dan menjadi fase padat melalui pendinginan tanpa melalui fase cair.
4. Kristal yang diperoleh dari 10 g kapur barus adalah 3,74 g.

DAFTAR PUSTAKA

http://www.iucnredlist.org/apps/redlist/details/33932/0
http://www.plantsasmedicine.com/~cleanen2/index.php?title=Dryobalanops_aromatica
http://www.asianplant.net/Dipterocarpaceae/Dryobalanops_aromatica.htm
http://balarmedan.wordpress.com/2008/05/13/kapur-barus-pohon-dan-sumber-tertulis-asing
junglediary.com/wp-content/uploads/2010/06/dryobalanops-aromatica.jpg (gambar Kapur)
http://www.wellgrowhorti.com/Pictures/LandscapePlants/Trees/WebPictures/D/Dryobalanops
Aromatica.jpg (gambar)