Anda di halaman 1dari 34

Laporan Praktikum Karakteristik Campuran Aspal Dan

Agregat ( Mix 01 )
KARAKTERISTIK CAMPURAN ASPAL DAN AGREGAT
( MIX 01 )

A. JADWAL PELAKSANAAN
Hari / Tanggal : Senin / 3 January 2011
Waktu : 08.00 WIB Selesai
Tempat : Laboratoium Pengujian Bahan Teknik Sipil
Politeknik Negeri Padang

B. TUJUAN PRAKTIKUM
a. Tujuan Umum
Dapat mengetahui jumlah kadar aspal optimum yang dapat digunakan dalam suatu campuran aspal dan
agregat.. Dapat menentukan komposisi yang tepat antara agregat aspal dan material pengisi (filler) dalam
campuran beraspal dan dapat menentukan kadar aspal optimum yang di gunakan untuk perencanaan
campuran aspal pada jalan raya.
b. Tujuan Khusus
1. Dapat memahami prosedur pelakasanaan pengujian campuran aspal dengan agregat dengan baik benar.
2. Dapat menggunakan peralatan pengujian campuran aspal dan agregat dengan baik dan benar.
3. Dapat mencatat, menghitung dan menganalisa data pengujian campuran aspal dan agregat dengan metode
Marshall.
4. Dapat memplotkan data data dari hasil pencarian dengan metode Marshall kedalam grafik untuk
mendapatkan kadar as[al optimum.

C. REFERENSI
1. Panduan Praktikum Pengujian Bahan II
2. Bahan Ajar Bahan Bangunan II
3. Bahan Ajar Rekayasa Jalan II
4. SNI 06 2489 - 1991

D. DASAR TEORI
1) Jenis Campuran
Konstruksi perkerasan jalan lentur merupakan campuran antara aspal dengan agregat. Campuran aspal
dan agregat ini lebih dikenal dengan campuran beraspal dan juga campuran beton aspal. Aspal dalam campuran
bersifat sebagai perekat dan pengisi, sedangkan agregat berfungsi sebagai tulangan struktur perkerasan. Agak
sulit untuk melakukan klasifikasi yangcukup tegas terhadap jenis jenis aspal / campuran yang ada. Tidak sedikit
campuran terkait perkerasannya sdan juga jenis campuran yang tergantung pada fungsinya.

Beberapa jenis campuran dapat diklasifikasikan sebagai berikut :


a. Berdasarkan fungsi campuran pada struktur perkerasan
Lapisan pondasi
Lapisan permukaan
Lapisan aus
Lapiosan tertutup
b. Berdaskan kemampuan mendistribusikan beban
Campuran yang memiliki nilai struktural
Campuran yang tidak memuiliki nilai struktural
c. Berdasarkan metode konstruksinya
Metode segregasi
Metode pracampur, yang terbagi atas campuran panas ( Hot Mix ), campuran hangat ( Warm Mix ) dan
campuran dingin ( Cold Mix ).

Berikut beberapa jenis campuran yang cukup dikenal di Indonesia:


a. Lapen ( Lapis Penetrasi Makadam )
Campuran antara agregat dan aspal yang terdiri dari agregat pokok dan agregat pengunci dengan gradasi
terbuka dan seragam yang diikat dengan aspal dengan cara disemprotkan diatas dan dipadatkan lapis demi
lapis.

Biasa digunakan sebagai lapis pondasi dan lapis pwermukaan. Jika digunakan sebagai lapis permukaan, maka
perlu diberi lapisan penutup, yang merupakan leburanb aspal dengan agregat penutup.

Campuran ini mempunyai sifat kurang kedapair, kekuatan utama terletak pada sifat saling interlocking antara
batuan pokok dengan batuan pengunci, memiliki nilai struktural, cukup kenyal dan memiliki permukaan yang
kasar. Dapat digunakan untuk perkerasan lama dan baru serta lalu lintas ringan dan sedang. Campuran ini
termasuk jenis segresi, yaitu proses pencampuran dilakukan pada saat pengahamparan.

b. Latastirn ( Lapis Tipis Aspal Pasir )


Campuran yamng memiliki / terdiri dari aspal dan pasir bergradasi menerus yang dicampurkan pada suhu
minimum 120 C dan dipadatkan pada suhu minimum 120 C dan dipadatkan pada suhu 90 C - 110 C.
Berfungsi sebagai lapis penutup, lapisan aus memberikan permukaan jalan yang rata dan licin. Campuran ini
merupakan bentuk campuran pra campur dengan campuran panas.

c. Buras ( Leburan Aspal )


Campuran yang terdiri dari aspal leburan pasir dengan ukuran maksimum 3/8, berfungsi sebagai lapisan
penutup menjaga permukaan agar tidak berdebu, kedap air, tidak licin dan mencegah lepasnya butir halus,
termasuk konstruksi segresi.

d. Burtu (Leburan Aspal Satu Lapis )


Campuran ini sama dengan buras,tetapi leburan ini satu lapis agregat bergradasi seragam dengan tebal
maksimum 20 mm. Berfungsi menjaga permukaan agar tidak berdebu, mencegah air masuk dan memperbaiki
tekstur permukaan, digunakan pada jalan yang belum atau sudah beraspal yang sudah stabil, mulai retak atau
mengalami degradasi dan dapat digunakan sampai lalu lintas berat.

e. Burda ( Leburan Aspal Dua Lapis )


Burda ini merupakan p[engembangan dari Burtu, dimana lapisan aspal ditaburi dan dikerjakan 2 kali secara
berurutan dengan tebal maksimal 35 mm. Berfungsi memebuat permukaan tidak berdebu, mencegh masuknya
air dan memperbaiki tekstur permukaan perkerasan. Digunakan pada jalan ytang telah atau belum beraspal
dan jalan tersebut telah stabil dan rata mulai retak atau degradasi dan dapat digunakan sampai lalu lintas
berat.
f. Lasbutag ( Campuran Asbuton Dingin )
Campuran yang terdiri atas campuran agregat asbuton dan bahan peremaja yang tercampur, diaduk, diperam,
dihamparkan dan dipadatkan dalam keadaan dingin ( tanpa pemanasan ). Campuran ini merupakan jenis yang
memanfaatkan langsung aspal, yaitu aspal dari pulau buton ( yang disebut Asbuton ).

g. Latasbum ( Lapis Tipis Asbuton Murni )


Ini merupakan pengembangan dan memanfaatkan aspal alam asbuton melakukan ekstraksi untuk
mendapatkan aspal murni dari alam atau batuan asbuton. Digunakan pada jalan raya telah n\beraspal yang
telah stabil dan rata serta mulai retak dan mengalami.

h. Laston ( Lapis Aspal beton )


Campuran aspal dengan agregat bergradasi menerus dengan campuran / yang dicampurkan pada suhu
minimum 115 C, dihamparkan pada suhu minimum 110 C. Berfungsi sebagai pelindung / pendukung lalu
lintas, pelindung lapisan dibawahnya dari cuaca dan air, lapisan aus dan menyediakan permukaan jalan rata
dan tidak licin.

i. Laston atas ( Lapisan Aspal Pondasi Atas )


Campuran ini adalah penggunaan Laston sebagai lapisan pondasi dan campuran ini terdiri dari campuran
agregat dan aspal dengan perbandingan tertentu dan di

Campur pada suhu 90 C - 120 C dan dipadatkan dalam keadaan panas. Berfungsi sebagai lapisan perkerasan
dan meneruskan beban kekonstruksi dibawahnya.

j. Laston Bawah ( Lapisan Aspal Beton Pondasi Bawah )


Campuran ini terdiri dari campuran agregat dan aspal yang dicampur pada suhu minimum 80 C - 120 C dan
dipadatkan pada suhu minimum 80 C. Berfungsi sebagai perkerasan yang menruskan beban padsa konstruksi
dibawahnya. Dipasang pada tanah dasar yang telah stabil dan untuk mempercepat peningkatan jalan secara
keseluruhan, terutama pada konstruksi bertahap.

k. Lataston ( Lapis Tipis Aspal Beton )


Campuran ini menggunakan agregat bergradasi timpang, aspal dan filler yang dicampur pada suhu tertentu,
tergantung pada nilai penetrasi aspal yang digunakan dan dipadatkan pada suhu minimal 148 C. Tebal
padatnya antara 2,5 cm 3 cm.

l. Hot Rolled Aspalt HRA


Campuran ini adalah tipe campuran yang menggunakan agregat bergradasi senjang. Campuran ini
menggunakan sedikit agregat berukuran sedang ( 2,36 m 10 mm ) dan matriks material halus dan aspal serta
sedikit agregat kasar ( biasanya ukuran normal 14 mm ).

m. Stone Mastis Aspalt ( SMA )


Campuran SMA bergradasi kasar, seperti aspal Porous tetapi rongganya terisi mortar agregat halus/filler/aspal.
Hasilnya adalah suatu campuran bergradasi senjang dengan ketahanan terhadap air dan memiliki durabilitas
tinggi.

Dari sekian banyak tipe-tipe campuran aspal dan agregat yang paling umum campuran aspal beton (
Asphatic Concrete) yang dikenal dg AC atau laston dan campuran hot Rolled Asphalt (HRA)
AC merupakan susunan gradasi yang continue dari mutu material mutu tinggi yang dicampur panas.
Agregat yang lebih kecil mengisi ruang antar agregat yang lebih besar, membenttuk struktur granular yang
padat dengan void yang sangat kecil
HRA adalah sand base mixture yang padat, kedap dan bergradasi timpang
, karena ada ukuran ada ukuran butir yang tidak terdapat dalam campuran. Sedangkan ukuran agregat halus
cukup banyak, maka agregat kasar seolah-olah mengambang.

Perbandingan sifat-sidat yang penting antara AC dan HRA


No Campuran AC Campuran HRA
1. Kedap air Kedap air
2 Fleksibilitas rendah Fleksibilitas Tinggi
3 Keawetan kurang Keawetan tinggi
4 Fatique resistance baik Fatique resistance baik
5 Sensitif thd Variasi campuran Kurang sensitif
6 Pola Pemadatan sangat sukar Mudah Pemadatan
7 Kontrol terhadap VIM tinggi. VIM tidak begitu kritis
8 Nilai struktur tinggi (kekuatan struktur ) Nilai kekuatan struktur rendah
9 Nilai kekerasan tinggi Nilai kekerasan rendah
10 Gradasi menerus Gradasi timbang
11 Lapisan harus tebal Dapat dihampar dalam Lapisan tipis.

2) Kinerja campuran aspal dan agregat


Campuran aspal dan agregat untuk perkerasan jalan yang biasanya disebut sebagai aspal beton merupakan
suatu bahan lapis perkerasan jalan yang terdiri dari campu-

ran agregat kasar, agregat sedang dan agregat halus serta bahan mineral lainnya sebagai pengisi / filler dengan
aspal sebagai bahan pengukat dalam perbandingan yang proporsional dan teliti serta diatur dalam
perencanaan campuran.

Tahapan yang perlu diketahui dalam perencanaan campuran beraspal adalah :


Melakukan pemeriksaan terhadap aspal yang akan dipakai. Pemeriksaan viskositas dan berat jenis
aspal. Viskositas diperlukan untuk menentukuan suhu campuran maupun suhu pemadatan.
Melakukan spesifikasi gradasi agregat yang akan dipakai yaitu suatu besan persentase agregat yang
lewat suatu saringan dengan ukuran tertentu.
Melakukan pemeriksaan mutu agregat yang akan dipakai.
Menentukan kombinasi beberapa fraksi agregat sehingga mendapatkan gradasi campuran yang
memenuhi spesifikasi yang ditentukan karena pada umumnya agregat yang akan dipakai terdiri dari
beberapa fraksi.
Jika mutu bahan sudah terpenuhi dan harga viskositas dari aspal serta kombinasi fraksi sudah
diketahui, kemudian dibuat campuran agregat dengan berbagai kadar aspal selanjutnya dilakukan
percobaan marshall guna menentukan flow dan stabilitas campuran beraspal.

Syarat syarat utama aspal beton yang bermutu baik adalah :


1. Campuran harus mempunyai nilai stabilitas yang cukup yaitu harus sanggup menahan beban
lalulintas tanpa terjadinya deformasi dalam bentuk jejak roda ( Rutting ) atau rusak bergelombang
akibat dorongan beban roda kendaraan ( Pushing )
2. Campuran tidak boleh retak retak artinya harus mampu menahan lendutan ( Derection ) yang
mungkin timbul terhadap lapisan hamparan atau permukaan tanpa mengalami kerusakan.
3. Campuran harus dapat bertahan lama ( Durable) artinya tidak rusak atau aus dibawah beban
lalulintas dan kondisi cuaca.

4. Campuran harus cukup kekerasannya ( Skid Resistance ) dan harus tetap seperti sedemikian
selama masa pelayanannya.
5. Harus cukup ekonomis dalam artian murah namun kuat.

Sifat-sifat penting yang harus dimiliki oleh suatu campuran agregat adalah
1. Stabilitas
Stabilitas yaitu kemapuan campuran aspal sebagai bahan perkerasan untuk menahan deformasi
akibat beban lalu lintas tanpa terjkadi perubahan seperti gelombang, alur ataupun Bleeding.
Kebutuhan akan stabilitas sejalan denagn jumlah lalu lintas dan beban kendaraan yang lewat.
Kekuatan atau stabilitas ini diharapkan dari sifat paling kuno ( Interkocking ) antar agregat
penyusunnya, kelekatan yang disumbangakan oeh aspal dan adanya mortar.

Dengan demikian stabilitas yang tinggi dapat diperoleh denang cara mengusahakan :
- Agregat dengan gradasi yang rapat ( Dense Graded )
- Agregat dengan permukaan kasar
- Agregat berbentuk kubus
- Aspal dengan penetrasi rendah
- Aspal dengan jumlah yang mencukupi untuk ikatan antar butir

Yang perlu diperhatiakan adalah bahwa memaksimalkan nilai stabilitas akan menyebababkan
penurunan kinerja campuran lainnya. Pengukuran stabilitas dilakukan melalui pengujian skala
laboratorium yang dinamakan Marshaal Test.

Stabilitas: S = Kuat tekan

Dalam perkerasan jalan stabilitas yang diharapkan adalah stabilitas yang memadai artinya tidak
terlalu tinggi tidak juga terlalu rendah.

: Fc' = Flexural Streigh


Sumber kekuatan berbagai jenis campuran :
- Asphaltic Concrete : Kekuatan bersumber pada interlocking
agregat
- Hot Rolled Asphalt : Kekuatan bersumber pada mortal campuran
- Split Mastic Asphalt : Kekuatan pada mortal campuran
- Macadam : Kekuatan diperoleh pada pelaksanaan

2. Durabilitas
Durabilitas adalah ketahanan suatu campuran terhadap disintegrasi karena beban lalu lintas dan
berbagai faktor lingkungan ( cuaca, air dan perubahan suhu ). Makin besar besar potensi terhadap
berbagai agregat, makin besar durabilitasnya. Aspal menyelimuti agregat dalam bentuk film aspal
untuk melindungi dari air, sehingga air tidak dapat masuk kedalam agregat.

Aspal juga mengisi rongga udara, sehingga rongga udara berkurang dan menghindari terjadinya
proses oksidasi yang dapat menyebkan aspal menjadi rapuh dan getas. Namun ada batasan
minimum rongga udara terisi aspal untuk menghindari terjadinya Bleeding.
Durabilatas dapat menurun disebabkan oleh :
a. faktor eksternal : Udara, panas, air/uap air ( oksidasi )
b. faktor internal : Aspal, agregat ( kehancuran secara mekanis )

Faktor yang mempengaruhi durabilitas aspal beton adalah :


a. VIM (Void in Mineral Mixture ) atau rongga dalam campuran kecil sehingga lapis kedap air dan udara
tidak masuk kedalam campuran yang menyebabkan terjadinya oksidasi dan aspal menjadi rapuh /
getas
b. VFA (void in mineral agregat ) atau rongga dalam agregat, dalam suatu campuran aspal yang telah
dipadatkan termasuk didlam nya rongga yang terdidri aspal efektif. Jika VMA besar maka film aspal
dapat dibuat tebal.

Untuk memaksimalkan durabilitas dilakukan dengan cara :


Campuran aspal beton mempunyai kandungan aspal yang cukup untuk menyelimuti semua agregat.
Aspal yang cukup untuk mengisi ruang udara diantara agregat ( Kedap air )
Flow ( kelelehan ) perubahan bentuk platis suatu campuran yang terjadi akibat beban sampai batas
runtuh yang dinyatakan dalam mm atau 0,01
VFB ( Void filled with bitumen ) rongga terisi aspal, bagian dari rongga volume didalam agregat (VMA
) yang terisi aspal efektif dinyatakan dl dalam % VMA

Ketahanan diharapkan meningkat dengan adanya proteksi aspal terhadap agregat yang makin
besar.untuk memaksimumkan durabilitas dilakukan dengan cara :
a. campuran aspal beton mempunyai kandungan aspal yang cukup menyelimuti semua partikel agregat.
b. Aspal yang cukup untuk mengisi ruang udar diantara agregat.

3. Fleksibilitas
Fleksibilitas adalah campuran beraspal sebagai bahan perkerasan menahan lendutan tanpa terjadi
retak dan perubahan volume.
Fleksibilitas suatu campuran dapat diperoleh dengan :
a. Penggunaan agergat bergradasi senjang sehingga memperoleh VMA ynag besar
b. Penggunaan aspal lunak (penetrasi yang tinggi)
c. Penggunaan aspal yang cukup banyak ,sehingga diperoleh VIM ynag kecil

Untuk memaksimalkan fleksibilitas, harus digunakan dengan gradasi terbuka ( Open Groded ),
karena itu harus kompromi dengan stabilitas campuran, dimana campuran yang menggunakan
agregat bergradasi terbuka yang stabil dibandingkan dengan campuran yang menggunakan
bergradasi rapat.
Fleksibilitas suatu campuran beraspal dapat dinilai dengan menggunakan rasioantara
stabilitas Marshall dengan kelelehan ( Flow ), yang dikenal dengan nama Marshall Questient.
Semakin besar MQ semakin kaku campuran dan sebaliknya

4. Kedap air
Kemampuan permukaan perkerasan untuk menahan rembesan air kedalam perkerasan,
permukaan perkerasan dapat kedap air, dilakukan dengan cara :
a. Menggunakan gradasi tepat
b. Manambah kadar aspal

6. Kekerasan (skid Resistence )


Adalah kemampuan permukaan lapis keras untuk menghindari kendaraan yang melalui
diatasnya agar tidak terjadi bleding / sleping ( tergenlincir ) keluar saat permukaan basah, nilai
kerekatan yang tinggi dapat diperoleh dengan cara :
a. Menggunakan agregat yang miknoteklstur tinggi dan nilai abrasi rendah.
b. Membuat kondisi permukaan mempunyai mikroteksture tinggi misalnya dengan menambah hipping

7. Kelemahan ( Fatique resistence )


Adalah kemampuan pekerasan untuk mendukung beban (load resistance )
Dari beban lalu lintas tanpa mengalami retak. Nilai Fatique resistence dapat dinaikan dengan cara :
a. Memperingat kadar aspal
b. Mempertebal lapis permukaan
c. Memperkecil rongga terhadap campuran

Beberapa cara menentukan kadar aspal dalam campuran :


1. Metode Luas permukaan
a. Cara California
P = 0,015 a + 0,036 b + 0,17 c + C
Dimana :
P = Persentase aspal dalam campuran dalam perbandingan berat
s = Persentase agregat tertahan # 10 mm
b = Persentase agregat lolos # 10 mm tertahan # 200 mm
c = Persentase agregat yang lolos # 200 mm

b. Cara Myoming
P = 1,3 ( 0,015 a + 0,036 b + 0,17 c )

c. Cara lain menurut persamaa


P = SKT
Dimana :
P = Persentase aspal yang diperlukan
S = Faktor koreksi, karena butiran berbeda
S = 2,65 / U
K = Faktor koreksi karena diperlukan untuk menyelubungi seluruh
Luas permukaan butiran

2. Percobaan Laboratorium
Percobaan Marshall
Percobaan Hven

Parameter Campuran SNI BS AI


Density
Stabilitas
Flow
VIM
VMA
MQ
VFA
CAD
IP

SNI = Standar Nasional Indonesia


BS = British Standar
AI = Aspalt Institute

3. Kadar aspal optimum dengan metode marshall


Beberapa persyaratan teknis dan ekonomis sebagai berikut :
a. Cukup jumlah aspal untuk menjamin keawetan pekerasan .
b. Cukup stabilitas sehingga dapat menerima beban lalu lintas tanpa mengalami dan terjadinya
perubahan bentuk ( deformation )
c. Cukup rongga dalam total campuran untuk memungkinkan tambahan pemadatan dilapangna akibat
beban lalu lintas.
d. Cukup fleksibel sehingga memungkinkan perubahan bentuk tanpa terjadi retakan.

Fungsi aspal dalam campuran adalah sebagai perekat ( hinder ) dan pengisi ( filler ). Dengan
fungsi ini maka jumlah aspal dalam campurannya terlalu sedikit akan mengakibatkan kurang
berfungsinya sifat perekat dan pengisi yang akan mengakibatkan berkurangnya ikatan antara agregat
( Interlocking ) dan massa dan masuknya air dalam rongga. Sedangkan jumlah air yang berlebihan
akan menyebabkan Bleeding yang dengan gesekan ban roda kendaraan memprcepat pengelupasan
dari agregat dan aspal dari agregat sehingga terjadi lubang dan berkurangnya ikatan antar agregat.

Pada umunya, prosedur perencanaan dan pengawasan campuran aspal dan agregat dengan metode
Marshall. Proses perencanaan dimulai memilih spesifikasi ( Spek ) campuran, yaitu gradasi yang
harus dignakan serta jenis aspal.

Proses selanjutnya adalah pembuatan benda uji yang diikuti oleh pemadatan. Disarankan paling
sedikit 5 variasi kadar aspal, dan aspal setiap kadar aspal tersebut dibuat 3 benda uji pemadatan
benda uji dalam hal ini menggunakan metode Marshall, dinyatakan dalam jumlah tumbukan yang
diketahui kenaikan pada uji tersebut. Jumlah tumbukan didasarkan pada dalam jumlah tumbukan.
Sebelum pengujian Marshall Test, terlebih dahulu dilakukan pengujian berat isi dan berat jenis untuk
dapat menghitung kandungan rongga dalam aspal.
Tabel : Kriteria perencanaan campuran aspal beton ( Bina Marga )
Lalu lintas berat Lalu lintas sedang Lalu lintas ringan
Sifat Campuran ( 2 x 75 tumbukan ) (2x50 tumbukan ) ( 2 x 35 tumbukan )
Min Maks Min Maks Min Maks
Stabilitas ( kg ) 550 - 450 - 350 -

Keleleahan (mm) 2 4 2 4,5 2 5

Stabilitas ( kg/mm ) 200 350 200 350 200 300

Rongga udara 3 5 3 5 3 5
campuran (%)
Indeks perenadaman 75 - 75 - 75 -
(%)
Sebelum melakukan pengujian marshall terlebih dahulu dilakukan pengujian berat isi dan
berat isi dan berat jenis untuk menghitung kandungan rongga didalam campuran untuk
penggambaran, kurva marshall sebaiknya kalau manual menggunakan mistar yang lentur ( fleksible ),
jangan pakai yang kaku.

Keuntungan dari metode Marshall :


Dapat digunakan untuk campuran perencanaan pada kondisi yang berbeda beda dengan cara
sederhana.
Bahan bahan yang digunakan akan dapat dipertimbangkan sekalipun dibawah mutu standar.
Pemeriksaan tersebut dapat dilakukan untuk mengontrol sesuatu yang direncanakan

Kerugian Metode Marshall :


Pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk satu jenis campuran.
Tidak dapat digunakan setiap umum pada setiap campuran.
Alat alat labor yang digunakan harus dengan ketelitian dan ditangani tenaga ahli.
Tempertaur percobaan reletif tinggi.

Adapun langkah langkah metode Marshall :


1. a = % aspal
2. b = % aspal terhadap campuran
3. c = berat setelah dicetak
4. d = berat benda uji dalam keadaan jenuh
5. e = berat benda uji dalam air
6. f = berat jenis ( d-c)
7. g = Berat jenis benda uji ( f c )
8. Kepadatan agregat yang dipadatkan ( Sn )

Sn =
9. Persen rongg terhadap campuran ( VMA )
10. Berat jenis campuran Max Teoritis

11. Persen rongga terhadap campuran ( VMA )


= 100 100 ( h / j )
12. Persen rongga terhadap agregat ( VIM )

=
13. Persen rongga terisi aspal

=
14. Faktor koreksi sampel ( lihat tabel koreksi )
15. Bacaan Stabilitas
16. Bacaan Stabilitas setelah koreksi
= o n
17. Flow ( mm )
18. MQ ( kg/ml )
19. Bj Bulk Agregat Gabungan

=
20. Bj Efektif Agregat Gabungan

=
21. Berat jenis aspal

E. PERALATAN DAN BAHAN


1. Peralatan
Cetakan berdiameter 10,16 cm dan tinggi 7,62 cm lengkap dengan pelat atas dan leher sambung
Mesin penumbuk manual dan Mekanis yang mempunyai permukaan rata yang berbentuk slinder dengan berat
4,536 kg dan tinggi jatuh bebas 45, 7 cm
Landasan pemadat terdiri dari balok katu ( jati/ sejenisnya )
Alat pengeluar benda uji
Untuk mengeluarkan benda uji yang sudah dipadatkan dari dalam cetakan benda uji dipakai sebuah alat
akstruder yang berdiamter 10 cm
Alat Marshall
Oven, yang dilengkapi dengan pengatur suhu yang mampu memvariasi sampai 200 o c ( + 3o-C)
Waterbath
Timbangan digital dan timbangan biasa
Metal Thermometer
B erkapasitas 250oc dan 100oC dengan ketelitian 1 % dari kapasitasnya.
Panel
Panci-panci untuk memanaskan agregat, aspal dan campuran aspal.
Sendok Pengaduk
Spatula
Sarung tangan
Masker
Kantong plastik ukuran 2 kg
Kuali
Kompor gas
2. Bahan
Aspal
Agregat halus dan kasar berdasarkan spek yang diigunakan sebanyak 1200 gr ( untul 1 benda Uji )
Air Suling

F. KESELAMATAN KERJA
1. Memakai pakaian praktek selama praktikum.
2. Membaca referensi terlebih dahulu sebelum memulai praktikum.
3. Menggunakan peralatan sesuai dengan fungsinya berdasar petunjuk prosedur dan petunjuk
Pembimbing praktikum.
4. Guinakan sarung tangan pada saat melakukan pengujian.
5. Periksalah keadaan peralatan pengujian sebelum digunakan.
6. Bersihkan peralatan dan ruang kerja setelah selesai praktikum.

G. PROSEDUR PELAKSANAAN
1. Analisa saringan
a. Keringkan agregat pada suhu 105oC 110 oC, minimum selama 4 jam, keluarkan dari alat pengering (oven) dan
tunggu sampai beratnya tetap.
b. Pisah-pisahkan agregat kedalam fraksi-fraksi yang dikehendaki ( sesuai spek) dengan cara penyaringan. Spek
yang digunakan adalah spesifikasi campuran Bina Marga No. IV Menyiapkan agregat sesuai saringan dibawah
ini
Berat tertahan 19,1 ( )
Berat tertahan 12,7 ( )
Berat tertahan 9,52 ( 3/8 )
Berat tertahan 4,76 ( no 4 )
Berat tertahan 2,36 ( no 8 )
Berat tertahan 0,59 ( no 30 )
Berat tertahan 0,28 ( no 50 )
Berat tertahan 0,15 ( no 100)
Berat tertahan 0,074 ( 200 )
c. Menyiapkan 30 kantong plastik serta timbangan.
d. Memasukkan agregat kedalam kantong plastilk dengan takaran seperti yang diatas dibagi dengan 30 / takaran
e. Lakukan penyaringan tersebut hingga didapatkan agregat dengan ukuran sesuai spek sebanyak yang
diinginkan.
f. Untuk mengetahui beberapa banyak agregat yang dibutuhkan maka caranya :
Lihatlah tabel spesifikasi campuran yang digunakan (No.IV)
Jumlah batas gradasi masing-masing ukuran saringan kemudian dibagi dengan dua, sehingga didapatkan %
lolo untuk tiap-tiap saringan.
g. Setelah semua agregat dimasukkan dalam kantong hingga menjadi 30 bagian, maka ikat kantong plastik
dengan rapi. Berat masing masing kantong berisi agregat 1200 gr.

2. Penimbangan Benda Uji


1. Benda Uji yang telah dipisahkan sesuai ukurannya kemuidian ditimbang mulai dari ukuran terbesar sampai
terkecil ( termasuk filler) sebanyak 1200 gr.
2. Masukan hasil penimbangan kedalam satu kantong plastik ukuran 2 kg, kemudian ikat dengan karet gelang
3. Buatlah benda uji sebanyak sampel yang dibutuhkan ( 30 buah + 5 sebagai dangan )
3. Pencampuran
a. Setelah semua bahan untuk campuran selesai disediakan denga dihitung tadi ( sebanyak 1200 gr dengan
gradasi tertentu ).
b. Sambil menunggu agregat dipanaskan maka timbang cawan kosong ( b ). Suhu pemanasan agregat adalah 178
C.
c. Setelah itu maka masukkan agregat kedalam wadah lalu timbang ( e ).
d. Panaskan lagi cawan berisi agregat hingga mencapai suhu pencampuran 178 C.
e. Setelah itu, hentikan pemanasan tungku dan siramkan aspal sebanyak 5,5 gr kedalam wadah tadi sambil
diaduk terus. Jaga suhu agar tidak turun yang akan mengakibatkan aspal mengeras. Jaga sampel sampai suhu
pencampuran mencapai 1723 C. Aspal yang disiramkan terlebih dahulu sudah dipanaskan.
f. Setelah suhu 172 C maka lakukan pemadatan benda uji.

4. Pemadatan Benda uji


a. Bersihkan perlengkapan cetakan benda uji serta bagian muka penumbuk dengan seksama dan panaskan
sampai suhu 172 C.
b. Letakkan cetakan diatas landasan pemadatan dan tahn dengan penahan cetakan.
c. Letekkan selembar kertas saring atau kertas penghisap yang sudah digunting menurut ukuran cetakan kedasar
cetakan . Jangan lupa mengoleskanoli pada cetakan dan kertas agar aspal tidak melekat.
d. Masukkan seluruh campuran kedalam cetakan dan tusuk tusuk campuran keras keras dengan spatula yang
dipanaskan 15 kali sekeliling pinggiran dan 10 ali ditengah.
e. Lakukan pemadatan dengan alat penumbuk sebanyak 2 kali 75 tumbukan ( untuk laliu lintas berat ). Dengan
tinggi jatuh 457,2 mm selama pemadatan usahakan tumbukan tegak agar benda uji terbentuk dengan baik.
f. Lepaskan plat alas berikut leher sambung dari cetakan benda uji dibalikkan dan pasang kembali plat alas
berikut leher sambung pada cetakan yang dibalikkan tadi.
g. Tumbuklah dengan jumlah tumbukan yang sama sesuai terhadap permukaan benda uji yang sudah dibalikkan
tersebut.
h. Lepaskan kepingan alat dan pasnaglah alat pengeluar benda uji pada permukaan ujungnya.
i. Keluarkan dengan hati hati dan letakkan benda uji diatas permukaan rata dan biarkan selama 24 jam pada
suhu ruang.
j. Dinginkan dengan kipas angin bila diperlukan.
k. Setelah dingin maka keluarkan benda uji dari cetakan dengan bantuan Extruder lalu ukur dimensi benda uji
Marshall tersebut.

5. Pengujian Campuran
I. Pengujian Volumetrik
a) Pengujian berat jenis campuran
Timbang benda uji kering sehingga dapat berat benda uji kering ( BK ).
Rendam benda uji dalam bak perendam pada suhu 25 C selama 3 menit kemudian lap permukaannya lalu
timbang maka dapat berat SSD.
Kemudian timbang benda uji didalam air timbangan pegas.
Hitung tebal benda uji dengan menggunkan jangka sorong.
II. Pengujian Marshall
Rendam benda uji dalam bak perendam selama 30 menit dengan suhu tetap 60 C untuk benda uji yang
menggunakan aspal padat.
Keluarkan benda uji dari bak perendam dan letakkan kedalam segmen bawah kepada penekan dengan catatan
waktu yang diperlukan dari saat diangkatnya benda uji dari bak perendam sampai terjadinya beban maksimal
tidak boleh lebih dari 30 detik.
Pasang segmen diatas benda uji dan letakkannya keseluruhan kedalam mesin penguji.
Pasang arloji pengukur kelelehan ( flow ) pada kedudukannya diatas salah satu batang penurunandan atur
kedudukan jarum petunjuk pada angka nol.
Naikkan kepala penekan beserta benda uji hingga menyentuh kepala alas cincin penguji, sebelum pembebanan
diberikan.
Atur kedudukan angka arloji pada nol.
Berikan pembebanan pada benda uji dengan kecepatan sekitar 50 mm/menit sampai pembebanan maksimum
tercapai, atau pembebanan menurun seperti yang ditunjukkan oleh jarum arloji tekan dan catat pembebanan
maksimum atau stanilitas yang tercapai. Koreksilah beban dengan menggunakan faktor koreksi perkalian yang
bersangkutan dari tabel 2 bila benda uji tebalnya kurang dari 63,5 cm.
Catat nilai kelelehan atau flow yang diyunjukkan oleh jarum arlogi pengukuran kelelehanyang diperlukan dan
saat diangkatnya benda uji dari rendaman air sampai tercapai beban maksimum tidak boleh lebih dari 30 detik.
Lakukan pengolahan data untuk VIM, VMA, VFA serta kepadatan dengan menggunakan rumus serta data yang
ada.

H. DATA PEMERIKSAAN DAN ANALISA


A. Gradasi Agregat
Contoh agregat % Berat tertahan pada # 4,75
Batas gradasi
% lolos # % Berat Berat tertahan
Batas bawah dan
No# Mm Batas tengah Tertahan (gr)
Batas atas

No.4 50 - 70 60 % 20 % 240 gr
4,75

Diket : # ukuran 4,75 % berat tertahan = 20 %


Bb dan Ba = 50 dan 70
Batas tengah Bt = BA + BB
2
= 70 + 20 = 60
2
Jumlah Total Agregat = 1200 gr
Berat tertahan (gr) yang dibutuhkan
= total agregat x % Berat Tertahan
= 1200 x 20%
= 240 gr

B. Campuran MARSHALL (MEKANIS)


Diket : Data (A1-2)
Suhu Pencampuran = 178oC
Suhu pemadatan = 172oC

Kadar aspal (%) = 4,5 %


Berat wadah panas (gr) = 4492,0 (b)
Berat wadah + agg panas (178oC)(gr) = 5591,00 (e)
Berat agregat panas (gr) (f) = f = e b
= 5591,0 4492,00
= 1099 gr
Berat total campuran (gr) = Berat agregat panas
(100% - kadar aspal )

= 1099
100% - 4,5 %
= 1150,78 gr (g)

Berat aspal (gr) (h) = Berat total campuran (g) Berat agg panas (f)
= 1150,78 1099
= 51,78 gram
Berat wadah + agregat panas = (Berat wadah + agg. Panas + ( berat aspal panas)
= 5591,00 51,78
= 5642,78 gram

C. VOLUME ASPAL (Volumetik)(Mekanis)


BJ Padat Bulk agregat (Gsb ) = 2,621 (s)
BJ Efektif agregat agregat ( Gse) = 2,621
Berat jenis Aspal (gb) = 1,031 (u)
Tebal Benda Uji
Sisi I = 71,2
Sisi II = 71
Sisi III = 71
Tebal rata-rata Benda Uji = 71,2 + 71 + 71
3
= 71,1 mm (b)

Kadar aspal = 4,5 % ( c )


Kadar agregat = 95,5 % ( d )
Berat Benda Uji
Berat kering Benda Uji = 1200, 400 gr (e)
Berat benda Uji SSD ( stelah durendam 3 menit dan dilap) = 1225,9 gr (f)
Berat benda uji dalam air = 633,3 (g)
Volume Benda Uji (h=f-g) = Berat SSD benda uji Berat Benda Uji (dalam air)
= 1225,9 663,3 = 562,6 gram

Berat jenis campuran

BJ Bulk/Padat (kering) =

=
Bj max campuran teoritis
100
(100-c) + c
Bj. Efektif Bj.aspal

= 100 = 2,4509 (gram)


(100-4,5) + 4,5
2,621 1,031

Kepadatan (k) = Bj Bulk (padat)


= 2,169

VIM (void in Mixture ) (3 5 ) (%)

= = 11,50 %

VMA ( void mineral agregat ) (15 %)

=
VFA ( Void filled with Aspal / bitumen ) (65%)

Stabilitas m (> 550 kg )


Bacaan alat
A12 = Dial = 1568
Lihat tabel Dial ke KN
Jadi Nilai KN = 18,7959 KN
18,7959 x 101,971 = 1916,636

Koreksi
Tebal Benda Uji = 71,1
Interval
69,9 = 0,86
71,1 = x (?)
71,4 = 0,83

Faktor koreksi
-0,024 = x 0,86
X = 0,86 0,024
= 0,836

Setelah Koreksi
= Faktor koreksi x bacaan alat
= 0,836 x 1916,64
= 1602,31
Kelelehan (flow (2-4)
= 4,16

MQ ( 200 350 )

MQ =

=
= 385,17 (kg/mm)
D. KADAR ASPAL OPTIMUM PERKIRAAN (KAO P)
= 0,035 a + 0,045 b + 0,018 c + 1
= 0,035 x 57,5 + 0,045 x 35,5 + 0,018 x 7 + 1
= 4,74 %

Jadi kadar aspal optimum (KAO) berkisar antara nilai 4,5 % - 6 %


Dimana :
% agregat yang tertahan saringan n0.8
% agregat yang lolos saringan no.8 dan tertahan saringan no.200
% lolos saringan no.200 (PAN)

E. BJ. Gabungan

BJ Bulk Agregat gabungan

=
= 2,621
BJ Efektif Agregat Gabungan

=
= 2,538

F. ANALISA GRAFIK

Analisa kepadatan dengan stabilitas kadar aspal

Dilihat dari grafik pengaruh kadar aspal terhadap campuran dapat disimpulkan bahwa grafik yang
terbentuk adalah grafik parabola, artinya pada grafik ini ada nilai maksimum dan nilai minimum artinya pada
saat kadar aspal tertentu, campuran akan mencapai maximumnya dengan artian campuran tersebut dalam
keadaan padat maximal, dan jika telah melewati titik maksimumnya kadar aspal yang berlebih maka
kepadatannya akan kembali turun, karena campuran tersebut lembek dan tidak padat lagi karena lembek
Dari grafik menunjukan kepadatan kadar aspal 6,15 % campuran tersebut akan mencapai kepadatan
maximumnya.
Grafik stabilitas dengan kadar aspal ( > 550 kg)

Gragfik pengaruh persentase kadar aspal terhadap stabilitas grafik diatas juga membentuk parabola, berarti
semakin tinggi kadar aspal suatu campuran tersebut akan mencapai stabilitas maksimumnya, namun jika kadar
aspal terlalu banyak, maka stabilitas akan berkurang karena akan mengakibatkan berkurangnya gaya
interlocking antara agregat
Stabilitas mempunyai standart > 550 kg dan dari grafik diatas semua benda uji > 550 artinya semua
benda uji memenuhi standart bina marga.

Kadar aspal dengan VIM

Hubungan kadar aspal dengan VIM ( 3 -5 %)


VIM merupakan singkatan dari Void In Mixture ( persentase rongga terhadap agregat ). Semakin tinggi kadar
aspal, maka persentase VIM akan semakin kecil karena sudah terisi oleh aspal.
Standart bina marga nilai VIM berkisar anatara > 3 5 % dan sata yang diperoleh adalah (62,3 65 )%. Pada
saat nilai VIM 5 % sedangkan pada nilaui VIM 3 belum memenuhi syaarat bina marga.

Hubungan kadar aspal dengan VMA


VMA (void in mineral agregat ) 15 %
Adalah rongga, yang ada dalam agregat, grafik diatas bertujuan untuk menentykan berapa nilai kadar aspal
yang dibutuhkan untuk memenuhi rongga pad agregat.
Apababila kadar aspal dalam suatu campuran semakin banyak maka persentase terhadap agregat
akan semakin sedikit, karena rongga-rongga terisi oleh aspal. Namun pada batas tertentu, bila aspal ditambah
terlalu banyak, campuran akan semakin plastis dan lembek, apabila perkerasan diberi beban berulang-ulang
atau besar maka aspal tersebut akan semakin besar, untuk itu kadar aspal, harus sesuai, sehingga didapat VMA
yang memenuhi syarat VMA dario Bina Marga > 15 %
Kadar Aspal dengan VFB/VFA

VFA merupakan singkatan dari Void Filled with Aspalt ( persentase rongga terisi aspal ). Hubungannya adalah
semakin tinggi kadar aspal maka persentase rongga terisi aspal juga meningkat. VFA tercapai pada kadar aspal
5 6,5 % ( karena persyaratan VFA 65 % ).
Berdasarkan kriteria campuran aspal beton dari bina marga, bahwa nilai VFA campuran aspal yang baik
minimal 60 %. Dengan persamaan VFA adalah semakin tinggi kadar aspal dalam suatu campuran perkerasan,
maka rongga dalam campuran tsb akan semakin sedikit.
Pada pengujian didapat nilai kadar aspal 65 % yaitu dari kadar aspal 5,5 6,5 %
Hubungan kadar aspal dengan kelelehan

Kelelehan adalah hancurnya campuran aspal apabila diberi beban masimum. Semakin tinggi kadar aspal, maka
kelelehan akan meningkat. Tetapi jika kadar aspal terlalu banyak maka akan terjadi kelebihan aspal sehingga
campuran tersebut lembek dan mengakibatkan kurva turun drastis. Pada pengujian ini pada kelelehan 2 mm
belum memenuhi namun memenuhi pada kelel;ehan 4 mm yaitu 6,15 %

Hubungan Kadar aspal dan MQ (200-300) kg/mm

Karena MQ merupakan perbandingan stabilitas dengan kelelehan maka kadar aspal yang banyak
dan stabilitas tinggi sehingga MQ menjadi lebih besar disaat kadar aspal optimum maka MQ menjadi tinggi
karena nilai stabilitas naik dan kelelehan turun.
Standart nilai MQ adalah (200 350) kg/mm. Dan pada grafik diatas didapat nilai pada saat nilai MQ
350 nilai kadar aspal 6,1 % sampai MQ 410 nilai 6,5 % maka MQ yang didapat sesuai dengan standart Bina
Marga.

Kadar Aspal Optimum Campuran PEN 60/70


Grafis campuran PEN 60/70 bertujuan untuk menentukan KAO marshall yang masuk kedalam semua
spesifikasi yang dibutuhkan.
Spersifikasi yang dibutuhkan tsb beserta nilainya :
1. VIM (void in Mixture) ---(6,23 6,5 )
2. VMA (void in Mineral Agg )--- ( semua terpenuhi )
3. VFB (void filledf aspal )----- ( 5,5 6,5 )
4. Stabilitas ----- (semua terpenuhi )
5. Kelelehan/flow --- ( 6,15 6,5 )
6. MQ (Marshall Question ) --- (6,1 6,5 )
Maka dapat nilai KAO marshall yang memenuhi semua spesifikasi adalah 6,23 %, seperti dilihat pada grafik
campuran PEN 60/70.

I. PEMBAHASAN DAN KESIMPULA


Setelah dilakukannya serangkaian kegiatan pengujian karakteristik campuran aspal dan agregat
dengan memplotkan nilai nilai dari kepadatan, VMA, VIM, VFA, stabilitas, kelelehan dan MQ pada grafik
analisa, diperoleh kadar aspal optimum pada kadar aspal 6,23 %. Hasil ini telah memenuhi semua persyaratan
dari kandungan aspal dilihat dari nilai kepadatan, VMA, VIM, stabilitas, kelelehan dan MQ.

J. LAMPIRAN
1. Data Kelompok
2. Skema Prosedur Pengujian
3. Gambar Prosedur Pengujian
4. Gambar Peralatan Pengujian
Laporan Praktikum Pemeriksaan Kadar Aspal Dengan
Cara Ekstraksi ( As 08 )

PEMERIKSAAN KADAR ASPAL


DENGAN CARA EKSTRAKSI
( AS 08 )

A. JADWAL PELAKSANAAN

Hari / Tanggal : Selasa / 04 January 2011

Waktu : 07.30 WIB Selesai.

Tempat : Laboratorium Pengujian Bahan Teknik Sipil

Politeknik Negeri Padang

B. TUJUAN PERCOBAAN

1. Tujuan Umum :

Dapat menentukan nilai kadar aspal yang terdapat dalam campuran (Mix Design)

2. Tujuan khusus

a. Dapat memahami prosedur pelaksanaan Ekstraksi Briket dengan baik dan benar.

b. Dapat menggunakan dan memahami cara kerja mesin Centrifuge Extrator.

c. Dapat melakukan pencatatan dan analisa data pengujian yang diperoleh

d. Dapat menyimpulkan nilai data aspal yang diuji berdasarkan standar yang diacu

e. Dapat menentukan suhu pencampuran dan pemadatan.

C. REFERENSI

1. SNI 03-6894-2002, ( Metode pengujian kadar aspal dari briket dengan alat Ekstractor ).

D. DASAR TEORI
Salah satu metode yang telah dikembangkan untuk menguji kandungan kadar aspal dalam campuran
(Mix Design) adalah dengan menggunakan metode Ekstraksi menurut prosedur pemeriksaan AASTHO (T 164
80)

Pengujian Ekstraksi menunjukan bahwa gradasi agregat berubah menjadi lebih halus dari gradasi
semula perubahan gradasi agregat diakibatkan oleh kehancuran, beberapa partikel agregat ini menaikan volume
rongga udara dalam campuran yang menghasilkan penurunan kepadatan serta peningkatan VIM dan VMA.

Agregat yang hancur, tidak terlapisi aspal, Hal ini mengakibatkan penurunan stabilitas dan indeks
perendaman dan memasukan kelelehan sehingga menurunkan marshall Qoutient dari benda uji Marshall.
Immersion, Proses Ekstraksi merupakan proses pemisahan campuran dua atau lebih bahan dengan cara
menambahkan pelarut yang bisa melarutkan salah satu bahan yang ada dalam campuran tersebut dapat
dipisahkan. Pelarut yang biasa digunakan dalam proses ekstraksi antara lain spiritus, bensin minyak tanah,
Trichlor Ethylen Teknis, dll salah satu contoh tujuan dilakukan proses ekstraksi yaitu untuk mengetahui kadar
aspal yang terdapat dalam campuran aspal yang dibuat (mix design) yang menggunakan alat centrifuge Extractor
dengan bensin sebagai pelarutnya selain itu dapat pula digunakan alat soklet dengan menggunakan Trichlor
Ethylen Teknis Sebagai bahan pelarutnya.

H = ( A (E + D) / A x 100 %

Keterangan :

H = kadar aspal sampel (%)

A = Berat Sampel sebelum ekstraksi (gram)

D = Berat masa dari kertas filter (gram)

E = Berat sampel setelah ekstraksi (gram)

E. PERALATAN DAN BAHAN

a. Peralatan :

- Centrifuge Extractor

- Gelas ukur 500 ml

- Saringan Ekstraksi atau Kertas filter

- Timbangan dengan ketelitian 0,01 gram

- Talam=talam

- Baskom

b. Bahan :

- Campuran aspal mix design (Mix Design)

- Bensin
F. KESELAMATAN KERJA

1. Pergunakanlah jas lab pratikum

2. Membaca referensi terlebih dahulu sebelum melakukan praktikum

3. Gunakan peralatan sesuai fungsinya berdasarkan peetunjuk prosedur pengujian dan petunjuk pembimbing
praktikum

4. Bersihkan alat ekstraktor sebelum dan sesudah pratikum

5. Gunakanlah sarung tangan terutama pada saat memanaskan aspal pada tungku pemanas.

6. Pahami dengan baik mengenai prosedur pelaksanaan pratikum.

7. Pastikan semua peralatan mesin telah dimatikan apabila pengujian telah selesai digunakan

8. Menjaga kebersihan Lingkungan kerja.

G. PROSEDUR PELAKSANAAN

a. Menimbang sampel dan saringan ekstraksi sebelum melakukan ekstraksi aspal.

b. Meletakan mesin centrifuge extractor pada lantai dasar yang keras

c. Melepaskan pengunci penutup centrifuge extractor lalu memasukan sampel dan bensin sebanyak 500 ml
kemudian memasang saringan ekstraksi dan memasang penutup centrifuge Ekstractor. Serta menguncinya.

d. Menyalakan mesin centrifuge Ekstractor dan mengulanginya 3 4 kali hingga bersih atau jenuh.

e. Pada proses ke 4, bensin yang terakhir keluarkan yang sudah bersih atau jenuh ditadah di gelas ukur untuk
digunakan pada sampel berikutnya.

f. Setelah selesai lalu, mengeluarkan sampel hingga bensinnya melayang atau habis.

g. Setalah itu didiamkan sampai dingin, lalu ditimbang beserta wadahnya

h. Menghitung nilai kadar aspal

i. Mengulangi prosedur tersebut untuk sampel berikutnya

H. DATA PEMERIKSAAN DAN HITUNGAN

Dari hasil pengujian Ekstraksi aspal (Mix ) didapat data sebagai berikut :

Sampel I

1. Berat awal sampel sebelum ekstraksi (A) = 328,87 gr

2. Berat kertas filter (B) = 15,63 gr

3. Berat kertas filter setelah Ekstraksi ( C ) = 17,85 gr

4. Berat masa dari kertas filter D = C B


D = 17,85 15,63 = 2,22 gr

5. Berat sampel setelah ekstraksi E = 309,82 gr

Jadi kadar aspal ( H ) = ( A (D+E) )/ A x 100 %

( H ) = 328,87 gr ( 2,22 + 309,82 ) / 328,87 x 100 %

= 5,1172 gr

Sampel II

Berat awal ( A ) = 435, 75 gr

Berat kertas filter ( B) = 15,36 gr

Berat Kertas filter setelah ekstraksi ( C) = 17,04 gr

Berat masa dari kertas filter ( D ) =CB

D = 17,04 15,36 = 1,68 gr

Berat sampel setelah Ekstraksi ( E ) = 412,55 gr

Jadi kadar aspal ( H ) = ( A (D+E) )/ A x 100 %

( H ) = 435,75 gr ( 1,68 + 412,55 ) / 435,75 x 100 %

= 4,938 gr

Rata-rata Kadar Aspal = Sampel I + Sampel II

= 5,1172 + 4,938

= 5,0276 gr

I. KESIMPULAN

Pemeriksaan kadar aspal dengan alat extractor ini sangat penting dipelajari. Pemeriksaan kadar aspal
dengan cara ini adalah pemeriksaan kadar aspal dengan cara ini adalah pemeriksaan kadar aspal dalam bentuk
briket atau campuran aspal yang telah jadi sebagai bahan perkerasan jalan, apakah kadar aspal yang dipakai
sesuai dengan kadar aspal yang direncanakan .

Dari hasil pengujian ini, didapat rata-rata pada kadar aspal briket yang diuji adalah 5,0267 gr

J. LAMPIRAN.

1. Data kelompok.
2. Skema prosedur pengujian.

3. Diagram alir proses pelaksanaan.

4. Gambar peralatan.

LANGKAH LANGKAH PENGUJIAN EKSTRAKSI ASPAL


(PEMERIKSAAN KADAR ASPAL)

LANGKAH LANGKAH PENGUJIAN EKSTRAKSI ASPAL (PEMERIKSAAN


KADAR ASPAL)
LANGKAH LANGKAH PENGUJIAN EKSTRAKSI APSAL
1. Pengambilan sampel

2. Sampel dipanaskan
3. Sampel di bagi dengan quartring

LANGKAH LANGKAH PENGUJIAN EKSTRAKSI ASPAL (PEMERIKSAAN


KADAR ASPAL)
4. Penimbangan Sampel

Berat Campuran = .. gr
5. Penimbangan Fillter sebelum pengujian

Berat Filter sebelum pengujian = .. gr

6. Masukan sampel kedalam mesin ekstraktor


7. Masukan bensin sebanyak 500 ml

8. Letakkan Filter
9. Tutup mesin Ekstraktor

LANGKAH LANGKAH PENGUJIAN EKSTRAKSI ASPAL (PEMERIKSAAN KADAR ASPAL)

10. Nyalakan mesin Ekstraktor 3 4 kali sampai bensin yang terakhir keluar benar benar bersih
11. Setelah selesai, maka keluarkan sampel dari mesin Ekstraktor kemudian di diamkan sampai
sampel tersebut dingin lalu di timbang

Berat Agregat sesudah tes = .. gr

12. Penimbangan Filter sesudah pengujian

Berat Filter sesudah pengujian = .. gr


LANGKAH LANGKAH PENGUJIAN EKSTRAKSI ASPAL (PEMERIKSAAN KADAR ASPAL)

Contoh perhitungan ekstraksi Aspal AC-BC

PENGUJIAN EKSTRAKSI

AC - BC

PAKET :

KONTRAKTOR : TANGGAL :

KONSULTAN : STA :

NO URAIAN PENGUJIAN SATUAN RUMUS SAMPEL KETERANGAN

A Berat Campuran gr 1008,3

B Berat filter sebelum pengujian gr 29,0

C Berat filter sesudah pengujian gr 30,5

D Berat debu gr C-B 1,5

E Berat Agregat sesudah test gr 950,9

F Berat total agregat gr E+D 952,4

G Berat aspal gr A-F 55,9

H Kadar aspal terhadap agregat % (G/F) X 100 5,87


I Kadar aspal terhadap campuran % (G/A) X 100 5,54