Anda di halaman 1dari 8

LEMBARAN KERJA MAHASISWA

MATA KULIAH PORMOSI KESEHATAN

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN APOTEKER


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS ANDALAS

IDENTITAS KELOMPOK
Nama Nur bayti
No. BP 1741012262
Kelompok B
Pertemuan Ke 3
Hari/Tanggal Jumat, 8 September 2017
Pokok Bahasan Konsep Promosi Kesehatan II
Sub Pokok Bahasan a. Determinan kesehatan
b. Perilaku kesehatan
c. Masalah kesehatan di Indonesia (Penyakit
Menular)

A KASUS

Kelompok B
Penyakit ISPA merupakan penyakit infeksi yang sangat banyak ditemukan di Indonesia.
Intruksi
a. Carilah data terkait penyakit ini (prevalensi, insidens, dan lain-lain)
b. Identifikasilah kasus di atas dengan menggunakan diagram tulang ikan atau pohon
masalah
c. Jelaskan determinan kesehatan untuk kasus ini
d. Jelaskan perilaku penderita dalam kepatuhan penggunaan obat untuk penyakit ini
menurut teori Green

B Teori dasar
a. Prevalensi dan insidensi penyakit infeksi saluran pernafasan akut (ISPA)
ISPA lebih banyak terjadi di negara berkembang dibandingkan negara maju dengan
persentase masing-masing sebesar 25%-30% dan 10%-15%. Kematian balita akibat ISPA di
Asia Tenggara sebanyak 2,1 juta balita pada tahun 2004. India, Bangladesh, Indonesia dan
Myanmar merupakan negara dengan kasus kematian balita terbanyak akibat ISPA.
Penyakit ISPA merupakan salah satu dari banyak penyakit yang menginfeksi di negara
maju maupun negara berkembang. Hal ini diperkuat dengan tingginya angka kesakitan dan
angka kematian akibat ISPA khususnya pneumonia, terutama pada balita. Pneumonia di
Amerika menempati peringkat ke-26 dari semua penyebab kematian pada balita. Pneumonia
di Spanyol mencapai angka 25% sedangkan di Inggris dan Amerika sekitar 25-30 orang per
100.000 penduduk (Alsagaff, Hood & Mukty,2010). Negara dengan pendapatan perkapita
rendah dan menengah hampir empat juta orang meninggal akibat ISPA setiap tahun terutama
pada bayi, balita dan lanjut usia (Lindawaty, 2010).
Prevalensi ISPA di Indonesia pada tahun 2013 adalah 25,0% tidak jauh berbeda dengan
prevalensi pada tahun 2007 sebesar 25,5%. Prevalensi ISPA yang tertinggi terjadi pada
kelompok umur 1-4 tahun sebesar 25,8% dan <1 tahun sebesar 22,0%. Provinsi dengan ISPA
tertinggi di Indonesia adalah Nusa Tenggara Timur (41,7%), Papua (31,1%), Aceh (30,0%),
Nusa Tenggara Barat (28,3%), dan Jawa Timur (28,3%). Pada Riskesdas 2007, Nusa
Tenggara Timur juga merupakan provinsi tertinggi dengan ISPA.
Karakteristik penduduk dengan ISPA yang tertinggi terjadi pada kelompok umur 1-4
tahun yaitu sebesar 25,8%. Pada tahun 2014 kasus ISPA pada balita tercatat sebesar 657.490
kasus (29,47%). Di Provinsi Sumatera Barat tahun 2013 tercatat kasus ISPA pada balita
sebanyak 11.326 kasus (22,94%), kemudian pada tahun 2014 kasus ISPA pada balita
meningkat menjadi 13.384 (27,11%).Kabupaten Padang Pariaman menduduki peringkat ke 6
sebagai daerah penderita ISPA balitaterbanyak dari seluruh Kabupaten/Kota yang ada di
Sumatera Barat yaitu sebanyak 15.123 kasus (40,9%)
b. Determinan kesehatan infeksi saluran pernafasan akut (ISPA)
Faktor agent (bibit penyakit)
Proses terjadinya penyakit disebabkan adanya interaksi antara agent atau faktor penyebab
penyakit, manusia sebagai pejamu atau host dan faktor lingkungan yang mendukung
(environment). Ketiga faktor tersebut dikenal sebagai trias penyebab penyakit. Berat
ringannya penyakit yang dialami amat ditentukan oleh sifat - sifat dari mikroorganisme
sebagai penyebab penyakit seperti : patogenitas, virulensi, antigenitas, dan infektivitas
Adenovirus.
Gangguan pernapasan seperti pilek, bronkitis, dan pneumonia bisa disebabkan oleh virus
yang memiliki lebih dari 50 jenis ini.
Rhinovirus.
Virus ini menyebabkan pilek. Tapi pada anak kecil dan orang dengan sistem kekebalan
yang lemah, pilek biasa bisa berubah menjadi ISPA pada tahap yang serius.
Pneumokokus.
Penyakit meningitis disebabkan oleh virus jenis ini. Bakteri ini juga bisa memicu
gangguan pernapasan lain, seperti halnya pneumonia.
Faktor host (penjamu)
Umur
Umur mempunyai pengaruh yang cukup besar untuk terjadinya ISPA. Oleh sebab itu
kejadian ISPA pada bayi dan anak balita akan lebih tinggi jika dibandingkan dengan orang
dewasa. ISPA pada bayi dan anak balita umumnya merupakan kejadian infeksi pertama serta
belum terbentuknya secara optimal proses kekebalan secara alamiah. Sedangkan orang
dewasa sudah banyak terjadi kekebalan alamiah yang lebih optimal akibat pengalaman
infeksi yang terjadi sebelumnya
Jenis kelamin
Berdasarka hasil penelitian dari berbagai negara termsuk Indonesia dan berbagai
publikasi ilmiah, dilaporkan berbagai faktor risiko yang meningkatkan insiden ISPA adalah
anak dengan jenis kelamin laki- laki
Status kekebalan Pemberian asi ekslusif yang rendah
Studi-studi yang mendukung bahwa ASI merupakan faktor protektif terhadap kejadian
ISPA telah banyak dilakukan seperti penelitian Lawrence tahun 2005yang menyatakan bahwa
bayi yang mendapat ASI akan lebih terjaga dari penyakit infeksi terutama ISPA dan diare. Di
Provinsi Sumatera Barat cakupan pemberian ASI Ekslusif pada bayi 0-6 bulan adalah sebesar
73,6%
Kurang gizi, Imunisasi campak rendah, Status gizi
Salah satu faktor yang mempengaruhi status gizi anak adalah makanan dan penyakit
infeksi yang mungkin diderita oleh anak. Anak yang mendapat makanan baik tetapi sering
diserang penyakit infeksi dapat berpengaruh terhadap status gizinya. Begitu juga sebaliknya
anak yang makanannya tidak cukup baik, daya tahan tubuhnya pasti lemah dan akhirnya
mempengaruhi status gizinya. Gizi kurang menghambat reaksi imunologis dan berhubungan
dengan tingginya prevalensi dan beratnya penyakit infeksi.
Berat Badan Lahir Rendah (BBLR)
BBLR membawa akibat bagi bayi berupa : daya tahan terhadap penyakit infeksi rendah,
pertumbuhan dan perkembangan tubuh lebih lamban, tingkat kematian lebih tinggi dibanding
bayi yang lahir dengan berat badan cukup. Bayi dengan BBLR sering mengalami penyakit
gangguan pernafasan, hal ini disebabkan oleh pertumbuhan dan pengembangan paru yang
belum sempurna dan otot pernafasan yang masih lemah
Faktor lingkungan (environtmen)
Kepadatan hunian ruang tidur
Bangunan yang sempit dan tidak sesuai dengan jumlah penghuninya akan mempunyai
dampak kurangnya oksigen didalam ruangan sehingga daya tahan penghuninya menurun,
kemudian cepat timbulnya penyakit saluran pernafasan seperti ISPA
Pengunaan obat nyamuk bakar
Penggunaan anti nyamuk dapat menyebabkan gangguan saluran pernafasan karena
menghasilkan asap dan bau tidak sedap. Adanya pencemaran udara di lingkungan rumah
akan merusak mekanisme pertahanan paru-paru sehingga mempermudah timbulnya gangguan
pernafasan
Bahan bakar untuk memasak
ISPA merupakan penyakit yang paling banyak di derita anak-anak. Salah satu
penyebab ISPA adalah pencemaran kualitas udara di dalam ruangan seperti pembakaran
bahan bakar yang digunakan untuk memasak dan asap rokok
Gejala ISPA
ISPA akan menimbulkan gejala yang terutama terjadi pada hidung dan paru-paru.
Umunya, gejala ini muncul sebagai respons terhadap racun yang dikeluarkan oleh virus atau
bakteri yang menempel di saluran pernapasan. Contoh-contoh gejala ISPA antara lain:
Sering bersin
Hidung tersumbat atau berair.
Para-paru terasa terhambat.
Batuk-batuk dan tenggorokan terasa sakit.
Kerap merasa kelelahan dan timbul demam.
Tubuh terasa sakit.
Apabila ISPA bertambah parah, gejala yang lebih serius akan muncul, seperti:
Pusing
Kesulitan bernapas.
Demam tinggi dan menggigil.
Tingkat oksigen dalam darah rendah.
Kesadaran menurun dan bahkan pingsan.
Gejala ISPA biasanya berlangsung antara satu hingga dua minggu, di mana hampir
sebagian besar penderita akan mengalami perbaikan gejala setelah minggu pertama. Untuk
kasus sinusitis akut, gejala biasanya akan berlangsung kurang dari satu bulan, sedangkan
untuk infeksi akut di paru-paru seperti bronkitis, gejalanya berlangsung kurang dari tiga
minggu.
DETERMINAN KESEHATAN KASUS
1. Gaya hidup
Tempat Tinggal
Tempat tinggal menentukan daerah urban yang dihubungkan dengan
kepadatan penduduk serta sanitasi lingkungan polusi udara berpengaruh
terhadap ISPA, Orang yang tinggal didaerah kumuh lebih beresiko tinggi
terhadap tertular penyakit ISPA.
Kurangnya berolahraga
Aktivitas sehari-hari orang didaerah Manado dikategorikan dalam kurang
gerak atau kurang berolahraga.
Rokok
Faktor yang berpengaruh lain adalah jumlah orang yang merokok dan jumlah
rokok yang dihisap
2. Penyakit penyerta
Penyakit penyerta dapat berhubungan dengan faktor resiko Penyakit
Faringitis,Sinusitus, Otitis media adalah salah satu komplikasi serius pada ISPA.
3. Sarana dan Prasarana
Pelayanan kesehatan
Kurangnya prasarana kesehatan di tempat pemukiman karena tempat
pelayanan kesehatan yang jauh dan kadang tidak terjangkau.
Sarana Pendidikan
Kurangnya Pengetahuaan dan perilaku yang berhubungan dengan kesadaran
individu terhadap penyakit ISPA.
4. Individu
Jenis Kelamin
Untuk penderita Penyakit ISPA sendiri banyak terjadi pada perempuan 50,78
%. dibandingkan Laki-laki 49,22 %.
Umur
Untuk penderita Penyakit ISPA sendiri bisa terjadi pada orang yang berumur
diatas 15 tahun.

Pendidikan
Pendidikan akan mempengaruhi sikap dan perilaku dari masyarakat, karena
berhubungan dengan tingkat pendidikan yang tinggi dan yang tidak sekolah.
Pekerjaan
Sebagian besar yang terkena penyakit ISPA adalah pekerja bengkel las karena
mereka lebih banyak waktu terpapar polusi asap sehingga rentang terkena ISPA.
C PETA KONSEP/MIN MAP
Identifikasi masalah menggunakan diagram tulang
DAFTAR PUSTAKA

Mihardja LK, Delima, Soetiarto F, Suhardi, Kristanto AY. Penyakit tidak menular. In:
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, penyunting. Riset Kesehatan Dasar.
Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementeri-an Republik
Indonesia, 2013; p. 83-99.

Syukri AEDP, Panda L, Rotty LWA. Profil penyakit jantung koroner di Irina F jantung BLU
RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado [Skripsi]. Manado: Universitas Sam
Ratulangi; 2011.