Anda di halaman 1dari 43

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Sectio caesarea berarti bahwa bayi dikeluarkan dari uterus yang
utuhmelalui operasi abdomen. Di negara-negara maju, angka sectio
caesareameningkat dari 5 % pada 25 tahun yang lalu menjadi 15 %.
Peningkatan inisebagian disebabkan oleh mode, sebagian karena ketakutan
timbul perkarajika tidak dilahirkan bayi yang sempurna, sebagian lagi karena
polakehamilan, wanita menunda kehamilan anak pertama dan membatasi
jumlahanak (Jones, 2002).
Menurut statistik tentang 3.509 kasus sectio caesarea yang disusun
olehPeel dan Chamberlain. Indikasi untuk sectio caesaria adalah disproporsi
janinpanggul 21%, gawat janin 14%, plasenta previa 11% pernah sectio
caesaria 11%,kelainan letak janin 10%, pre eklamsi dan hipertensi 7% dengan
angka kematianibu sebelum dikoreksi 17% dan sesudah dikoreksi 0,5%
sedangkan kematianjanin 14,5%(Winkjosastro, 2005).
Menurut Andon dari beberapa penelitian terlihat bahwa
sebenarnyaangka kesakitan dan kematian ibu pada tindakan operasi sectio
caesarea lebihtinggi dibandingkan dengan persalinan pervaginam. Angka
kematian langsungpada operasi sesar adalah 5,8 per 100.000 kelahiran hidup.
Sedangkan angkakesakitan sekitar 27,3 persen dibandingkan dengan
persalinan normal hanyasekitar 9 per 1000 kejadian. WHO (World Health
Organization)menganjurkan operasi sesar hanya sekitar 10-15 % dari jumlah
total kelahiran.
Anjuran WHO tersebut tentunya didasarkan pada analisis resiko-
resiko yang muncul akibat sesar. Baik resiko bagi ibu maupun bayi. (Nakita,
2008).Pada tahun 2007-2008 jumlah persalinan dengan tindakan sectio
caesarea di Rumah Sakit Umum Meuraxa Banda Aceh berjumlah 145
kasusdari 745 persalinan keseluruhannya atau 19,46 %. Dari data diatas
dapatdisimpulkan bahwa angka tersebut sudah melebihi batas yang ditetapkan

1
olehWHO yaitu 10-15 % (Iqbal, 2002). Pada IBS OK 4 lantai IV RSUP
Sardjito itu sendiri di dapat data dari bulan Agustus sampai dengan Oktober
didapat data pasien yang Sectio Caesaria di IBS tersebut berjumlah 7 Orang.
Post partum dengan sectio caesaria dapat menyebabkan perubahanatau
adaptasi fisiologis yang terdiri dari perubahan involusio, lochea, bentuktubuh,
perubahan pada periode post partum terdiri dari immiediate postpartum, early
post partum, dan late post partum, proses menjadi orang tua danadaptasi
psikologis yang meliputi fase taking in, taking hold dan letting go.
Selain itu juga terdapat luka post op sectio caesarea yang
menimbulkan gangguan ketidaknyamanan : nyeri dan resiko infeksi yang
dikarenakan terputusnya jaringan yang mengakibatkan jaringan terbuka
sehinggamemudahkan kuman untuk masuk yang berakibat menjadi
infeksi.Dengan demikian klien dan keluarga dapat menerima info
untukmenghadapi masalah yang ada, perawat juga diharapkan dapat
menjelaskanprosedur sebelum operasi sectio caesarea dilakukan dan perlu
diinformasikanpada ibu yang akan dirasakan selanjutnya setelah operasi
sectio caesarea.
Berdasarkan dari uraian di atas, penulis tertarik untuk untuk
melaksanakan dan menyusun laporan kasus yang berjudul Asuhan
Keperawatan Perioperatif Pada Ny. L (37 Tahun) dengan Re-Sectio Caesarea
Atas Indikasi Sekundi Gravida Hamil Aterm dengan Riwayat Sectio
Caesarea 2 Tahun Laludi Ruang Instalasi Bedah Sentral (IBS) 4.04 Rumah
Sakit Umum Pusat Dr. Sardjito Yogyakarta.

B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan uraian diatas, maka dapat dirumusan masalah
bagaimanakah asuhan keperawatan perioperatif pada pasien dengan Re-Sectio
Caesarea Atas Indikasi Sekundi Gravida Hamil Aterm dengan Riwayat
Sectio Caesarea?

C. RUANG LINGKUP

2
Ruang lingkup laporan kasus ini adalah ilmu keperawatan perioperatif
pada pasien dengan Re-Sectio Caesarea Atas Indikasi Sekundi Gravida
Hamil Aterm dengan Riwayat Sectio Caesarea 2 Tahun Laludi Ruang
Instalasi Bedah Sentral (IBS) 4.04 Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Sardjito
Yogyakarta. Laporan kasus ini dilakukan pada tanggal 11 Oktober 2013.

D. TUJUAN
1. Tujuan Umum
Pesertamampumengetahui dan memberikan asuhan keperawatan
perioperatif pada pasien dengan Re-Sectio Caesarea Atas Indikasi Sekundi
Gravida Hamil Aterm dengan Riwayat Sectio Caesarea.
2. Tujuan Khusus
a. Peserta mampu mengetahui dan melakukan pengkajian perioperatif
pada pasien dengan Re-Sectio Caesarea Atas Indikasi Sekundi
Gravida Hamil Aterm dengan Riwayat Sectio Caesarea.
b. Peserta mampu merumuskan masalah keperawatan peri operatif pada
pasien dengan Re-Sectio Caesarea Atas Indikasi Sekundi Gravida
Hamil Aterm dengan Riwayat Sectio Caesarea.
c. Peserta mampu menyusun rencana tindakan keperawatan peri operatif
pada pasien dengan Re-Sectio Caesarea Atas Indikasi Sekundi
Gravida Hamil Aterm dengan Riwayat Sectio Caesarea.
d. Peserta mampu memberikan implementasi keperawatan peri operatif
pada pasien dengan Re-Sectio Caesarea Atas Indikasi Sekundi
Gravida Hamil Aterm dengan Riwayat Sectio Caesarea.
e. Peserta mampu mengetahui dan memberikan asuhan keperawatan
peri operatif pada pasien dengan Re-Sectio Caesarea Atas Indikasi
Sekundi Gravida Hamil Aterm dengan Riwayat Sectio Caesarea.
E. MANFAAT
1. Bagi Keluarga
Membantu memberikan pelayanan/asuhan keperawatan yang dapat
membantu dalam proses penyembuhan klien dan menurunkan kecemasan
keluarga klien.

3
2. Bagi Pelayanan Rumah Sakit
Memberikan gambaran pada pihak rumah sakit terkait asuhan
keperawatan perioperatif pada pasien Re-Sectio Caesarea Atas Indikasi
Sekundi Gravida Hamil Aterm dengan Riwayat Sectio Caesarea.
3. Bagi Bidang Keperawatan
Masukan dalam meningkatkan mutu pelayanan keperawatan tentang
asuhan keperawatan perioperatif pada pasien Re-Sectio Caesarea Atas
Indikasi Sekundi Gravida Hamil Aterm dengan Riwayat Sectio Caesarea.
4. Bagi Profesi Keperawatan
Memberi gambaran secara lebih luas tentang area kerja perawat yang
bersifat holistik dan komprehensif, dimana perawat mempunyai peran
yang luas dalam mendukung kesembuhan dan peningkatan derajat
kesehatan klien melalui asuhan keperawatan perioperatif.
5. Bagi Penulis
Menerapkan pengetahuan dan keterampilan dalam melakukan asuhan
keperawatan perioperatif khususnya pada pasien Re-Sectio Caesarea Atas
Indikasi Sekundi Gravida Hamil Aterm dengan Riwayat Sectio Caesarea.

4
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Gambaran Umum Penyakit


1. Pengertian
Sectio caesarea adalah suatu tindakan untuk melahirkan bayi
dengan berat di atas 500 gr, melalui sayatan pada dinding uterus
yang masih utuh (intact) (Syaifuddin, 2006).
Sectio sesarea adalah suatu cara melahirkan janin dengan membuat
sayatan pada dinding uterus melalui dinding depan perut atau
vagina, atau sectio sesarea adalah suatu histeretomia untuk
melahirkan janin dari dalam rahim (Mochtar, 2006).
Sectio Sesarea adalah pembedahan melahirkan janin dengan
membuka dinding perut dan dinding uterus (Standar Asuhan
Keperawatan, RSDK).
Yusmiati (2007) menyatakan bedah sesar adalah sebuah bentuk
melahirkan anak dengan melakukan sebuah irisan pembedahan
yang menembus abdomen seorang ibu dan uterus untuk
mengeluarkan satu bayi atau lebih. Cara ini biasanya dilakukan
ketika kelahiran melalui vagina akan mengarah pada komplikasi
komplikasi, kendati cara ini semakin umum sebagai pengganti
kelahiran normal.

2. Jenis-jenis Sectio Caesaria


a. Sectio Caesarea Transperitonealis
SC Klasik atau Corporal ( dengan insisi memanjang pada corpus
Uteri) di lakukan dengan membuat sayatan memanjang pada
korpus uteri kira-kira 10cm.
Kelebihan :
- Mengeluarkan janin dengan cepat.
- Tidak mengakibatkan komplikasi kandung kemih tertarik.
- Sayatan bias diperpanjang proksimal atau distal.

5
Kekurangan
- Infeksi mudah menyebar secara intra abdominal karena tidak
ada reperitonealis yang baik.
- Untuk persalinan berikutnya lebih sering terjadi rupture uteri
spontan.
- SC ismika atau profundal ( low servical dengan insisi pada
segmen bawah rahim).
b. SC Ekstra Peritonealis
Adalah tanpa membuka peritoneum parietalis dengan demikian
tidak membuka cavum abdominal. Dilakukan dengan
menggunakan sayatan melintang konkat pada segmen bawah rahim
( low servical transversal) kira-kira 10cm.

Kelebihan :
- Penjahitan luka lebih mudah.
- Penutupan luka dengan reperitonealisasi yang baik.
- Tumpang tindih dari peritoneal flap baik sekali untuk menahan
penyebaran isi uterus ke rongga peritoneum.
- Perdarahan tidak begitu banyak.
- Kemungkinan rupture uteri spontan berkurang atau lebih kecil.

Kekurangan :
- Luka dapat melebar kekiri, kanan, dan bawah sehingga dapat
menyebabkan uteri pecah sehingga dapat menyebabkan
perdarahan banyak.
- Keluhan pada kandung kemih post operasi tinggi.

6
c. Vagina ( Sectio Caesarea Vaginalis ).
Menurut sayatan pada rahim, section caesarea dapat dilakukan
sebagai berikut :
- Sayatan memanjang ( longitudinal )
- Sayatan melintang ( Transversal )
- Sayatan Huruf T( T insicion ).

3. Indikasi dilakukan Sectio Caesaria


a. Indikasi Section Caesaria pada ibu
Proses persalinan normal yang lama/ kegagalan proses persalinan
normal
Adanya kelelahan persalinan
Komplikasi Pre-Eklamsi
Plasenta previa
His lemah
Rupture uteri mengancam
Primi muda dan tua
b. Indikasi Sectio Caesaria Pada Anak
Janin Besar
Gawat janin
Janin dalam posisi melintang atau sungsang
Fetal distress
Kelainan letak
Hidrocephalus

4. Kontra Indikasi Sectio Caesaria


Pada umumnya section caesaria tidak dilakukan pada janin mati, syok,
anemi berat sebelum diatasi, kelainan congenital berat.( Sarwono, 1991)

7
A. ANATOMI DAN FISIOLOGI

1. Alat Genetalia Eksterna (Elaine N. Marrieb, 2001)


a. Mons Pubis
Bantalan berisi lemak yang terletak di permukaan anteriorsimfisis
pubis. Mons pubis berfungsi sebagai bantalan pada waktumelakukan
hubungan seks.
b. Labia Mayora (bibir besar)
Labia mayora ialah dua lipatan kulit panjang melengkung
yangmenutupi lemak dan jaringan ikat yang menyatu dengan mons
pubis.Labia mayoramelindungi labia minora, meatus urinarius, dan
introitus vagina(muara vagina).
c. Labia Minora (bibir kecil)
Labia minora, terletak di antara dua labia mayora, merupakan
lipatankulit yang panjang, sempit dan tidak berambut yang
memanjang kearah bawah dari bawah klitoris dan menyatu dengan
fourchette.
d. Klitoris
Klitoris adalah organ pendek berbentuk silinder dan erektil
yangterletak tepat dibawah arkus pubis.
e. Vulva
Bagian alat kandungan luar yang berbentuk lonjong,berukuran
panjang mulai dari klitoris, kanan kiri dibatasi bibir kecil,sampai ke
belakang dibatasi perineum.

8
f. Vestibulum
Vestibulum ialah suatu daerah yang berbentuk seperti perahu
ataulonjong, terletak di antara labia minora, klitoris dan
fourchette.Vestibulum terdiri dari muara utetra, kelenjar parauretra
(vestibulumminus atau skene), vagina dan kelenjar paravagina
(vestibulummayus, vulvovagina, atau Bartholini).
g. Fourchette
Fourchette adalah lipatan jaringan transversal yang pipih dan
tipis,terletak pada pertemuan ujung bawah labia mayora dan minora
digaris tengah dibawah orifisium vagina.
h. Perineum
Perineum terletak diantara vulva dan anus, panjangnya rata-rata 4
cm.Jaringan yang menopang perineum adalah diafragma pelvis
danurogenital.
2. Alat Genetalia Interna (Winkjosastro, 2007)
a. Ovarium
Ovarium merupakan organ yang berfungsi untukperkembangan dan
pelepasan ovum, serta sintesis dari sekresi hormonsteroid. Ukuran
ovarium, panjang 2,5 5 cm, lebar 1,5 3 cm, dantebal 0,6 1 cm.
Normalnya, ovarium terletak pada bagian atasrongga panggul dan
menempel pada lakukan dinding lateral pelvis diantara muka eksternal
yang divergen dan pembuluh darah hipogastrikFossa ovarica
waldeyer. Ovarium melekat pada ligamentum latummelalui
mesovarium. Dua fungsi ovarium ialah menyelenggarakanovulasi dan
memproduksi hormon seks steroid (estrogen, progesteron,
danandrogen).

b. Vagina
Vagina merupakan penghubung antara genetaliaeksterna dan genetalia
interna. Bagian depan vagina berukuran 6,5cm, sedangkan bagian
belakang berukuran 9,5 cm. Vaginaberfungsi sebagai saluran keluar

9
dari uterus dilalui sekresi uterus dan kotoran menstruasi, sebagai
organ kopulasidan sebagai bagian jalan lahir saat persalinan.Ceruk
yang terbentuk di sekeliling serviks yang menonjol tersebut disebut
forniks: kanan, kiri, anteriordan posterior.Cairan vagina berasal dari
traktus genitalia atas atau bawah dimana sedikit asam.
c. Uterus
Uterus merupakan organ muskular yang sebagian tertutup
olehperitoneum / serosa. Bentuk uterus menyerupai buah pir yang
gepeng.Uterus wanita nullipara panjang 6-8 cm, dibandingkan
dengan9-10 cm pada wanita multipara. Berat uterus wanita yang
pernahmelahirkan antara 50-70 gram. Sedangkan pada yang belum
pernahmelahirkan beratnya 80 gram / lebih. Uterus terdiri dari:
1) Fundus uteri, merupakan bagian uterus proksimal, kedua tuba
fallopiberinsensi ke uterus.
2) Korpus uteri, merupakan bagian uterus yang terbesar. Rongga yang
terdapat pada korpus uteri disebut kavum uteri. Dinding korpus
uteriterdiri dari 3 lapisan: serosa, muskula dan mukosa.
Mempunyai fungsiutama sebagai tempat janin berkembang.
3) Serviks, merupakan bagian uterus dengan fungsi khusus, terletak
dibawah isthmus. Serviks memiliki serabut otot polos, namun
terutama terdiri atas jaringan kolagen, ditambah jaringan elastin
serta pembuluhdarah.
4) Dinding uterus terdiri dari tiga lapisan: endometrium, miometrium,
dan sebagian lapisan luar peritoneum parietalis.
d. Tuba Falopii
Tuba falopii merupakan saluran ovum yang terentang antarakornu
uterine hingga suatu tempat dekat ovarium dan merupakan jalan ovum
mencapai rongga uterus. Panjang tuba fallopi antara 8-14cm yang
dilapisi oleh membran mukosa.Tuba fallopi terdiri atas: pars
interstialis: bagian tuba yangterdapat di dinding uterus, pars ismika:
bagian medial tuba yangsempit seluruhnya, pars ampularis: bagian
yang terbentuk agak lebar tempat konsepsi terjadi, pars infudibulum:

10
bagian ujung tuba yangterbuka ke arah abdomen mempunyai
rumbai/umbul disebut fimbria.
e. Serviks
Bagian paling bawah uterus adalah serviks atau leher. Tempat
perlekatan serviks uteri dengan vagina, membagi serviks
menjadibagian supravagina yang panjang dan bagian vagina yang
lebih pendek. Panjang serviks sekitar 2,5 sampai 3 cm, 1 cm menonjol
kedalam vagina pada wanita tidak hamil. Serviks terutama disusun
olehjaringan ikat fibrosa serta sejumlah kecil serabut otot dan
jaringanelastic (Evelyn, 2002).
3. Anatomi Kulit Abdomen (Winkjosastro, 2005)
Kulit terdiri dari 2 lapisan, yaitu :
a. Lapisan epidermis, merupakan lapisan luar, terdiri dari epitel
skuamosa bertingkat. Jaringan ini tidak memiliki pembuluh darah dan
sel-selnya sangat rapat.
b. Lapisan dermis adalah lapisan yang terdiri dari kolagen, jaringan
fibrosadan elastin.Lapisan ini mengandung pembuluh darah,
pembuluh limfe dan saraf.
c. Lapisan subkutan mengandung sejumlah sel lemak, berisi
banyakpembuluh darah dan ujung saraf.Organ-organ di abdomen
dilindungi oleh selaput tipis yang disebut peritonium. Dalam
tindakanSC, sayatan dilakukan dari kulit lapisan terluar (epidermis)
sampai dinding uterus.
4. Anatomi Otot Perut dan Fasia
a. Fasia
Di bawah kulit, fasia superfisialis dibagi menjadi lapisan lemakyang
dangkal, Camper's fasia, dan yang lebih dalam lapisan fibrosa.Fasia
profunda terletak pada otot-otot perut menyatu dengan fasiaprofunda
paha. Di bawah lapisan terdalam otot abdominis transverses,
terletakfasia transversalis. Para fasia transversalis dipisahkan dari
peritoneumparietalis oleh variabel lapisan lemak.
b. Otot Perut

11
Otot perut terdiri dari: otot dinding perut anterior dan lateral,serta otot
dinding perut posterior.Otot itu disilang oleh beberapa pita fibrosa dan
beradadidalam selubung. Obliquus externus,obliquus internus,dan
transverses adalah otot pipih yang membentuk dinding abdomen pada
bagian samping dan depan (Gibson, J. 2002).

B. ETIOLOGI
Operasi SC dilakukan jika kelahiran pervaginal mungkin akan
menyebabkan resiko pada ibu ataupun janin. Indikasi dilakukan tindakan
Sectio Sesarea. (Mochtar, 2006) yaitu:
1. Plasenta Previa Totalis (Sentralis) dan Lateralis.
2. Panggul Sempit
3. Disporporsi Sefalo Pelvik (ketidakseimbangan antara ukuran kepala dan
panggul)
4. Ruptura Uteri Mengancam
5. Partus Lama (Prolonged Labor)
6. Partus tak maju (Obstructed Labor)
7. Distosia servik
8. Pre eklampsia dan hipertensi
9. Malpresentasi janin
10. Fetal distress
11. His lemah/melemah
12. Janin dalam posisi sungsang atau melintang
13. Bayi besar (BBL 4,2 kg)
14. Hydrocephalus
15. Primi muda atau tua
16. Partus dengan komplikasi

12
C. PATOFISIOLOGI
Adanya beberapa kelainan atau hambatan pada proses persalinan yang
menyebabkan bayi tidak dapat lahir secara normal atau spontan, misalnya
plasenta previa sentralis dan lateralis, panggul sempit, disproporsi chepalo
pelpic, rupture uteri mengancam, partus lama, partus tidak maju, pre-
eklamsia, distosia serviks, dan malpresentasi janin. Kondisi tersebut perlu
adanya tindakan pembedahan yaitu section caesarea ( SC ).
Dalam proses operasi dilakukan tindakan anestesi yang akan menyebabkan
pasien mengalami imobilisasi sehingga akan menimbulkan masalah
intoleransi aktivitas. Adanya kelumpuhan sementara dan kelemahan fisik
akan menyebabkan pasien tidak mampu melakukan aktivitas perawatan diri
pasien secara mandiri sehingga timbul masalah deficit perawatan diri.
Kurangnya informasi mengenai proses pembedahan, penyembuhan, dan
perawatan post operasi akan menimbulkan masalah ansietas pada pasien.
Selain itu, dalam proses pembedahan juga akan dilakukan tindakan insisi
pada dinding abdomen sehingga menyebabkan terputusnya inkontinuitas
jaringan, pembuluh darah, dan saraf-saraf disekitar insisi. Hal ini akan
merangsang pengeluaran histamine dan prostaglandin yang akan
menimbulkan rasa nyeri ( nyeri akut ). Setelah proses pembedahan berakhir,
daerah insisi akan ditutup dan menimbulkan luka post operasi, akan
menimbulkan masalah resiko infeksi.

D. KLASIFIKASI(Rachman, M, 2000; Winkjosastro, Hanifa, 2007)

13
1. Abdomen (sectio caesarea abdominalis)
a. Sectio Caesarea klasik atau corporal
Dilakukan dengan membuat sayatanmemanjang pada korpus uteri
kira-kira 10 cm. Kelebihannya antaralain: mengeluarkan janin dengan
cepat, tidak mengakibatkan komplikasi kandung kemih tertarik, dan
sayatan bisa diperpanjangproksimal dan distal. Sedangkan
kekurangannya adalah infeksi mudah menyebar secara intraabdominal
karena tidak ada peritonealis yangbaik, untuk persalinan yang
berikutnya lebih sering terjadi ruptur uterispontan.
b. Sectio Caesarea ismika atau profundal
Dilakukan dengan melakukan sayatan melintang konkat pada segmen
bawah rahim (low servikal transversal)kira-kira 10 cm. Kelebihan dari
sectio caesarea ismika, antara lain:penjahitan luka lebih mudah,
penutupan luka dengan reperitonealisasiyang baik, tumpang tindih
dari peritoneal flop baik untuk menahan penyebaran isi uterus ke
rongga peritoneum, dan kemungkinan ruptureuteri spontan berkurang
atau lebih kecil. Sedangkan kekurangannya adalah luka melebar
sehingga menyebabkan uteri pecah dan menyebabkan perdarahan
banyak, keluhan pada kandung kemih postoperasi tinggi.
c. Sectio Caesarea ekstra peritonealis
Merupakan sectio caesarea tanpa membuka peritoneum parietalis dan
tidak membuka cavum abdominal.
2. Vagina (sectio caesarea vaginalis)
Sayatan pada rahim, dapat dilakukan dengan memanjang (longitudinal),
melintang (transversal), atau huruf T (T insision).

14
E. KOMPLIKASI
Kemungkinan yang timbul setelah dilakukan operasi ini menurut
Bobak, 2002 antara lain:
1. Infeksi Puerperal (Nifas)
a. Ringan : Dengan kenaikan suhu beberapa hari saja.
b. Sedang : Dengan kenaikan suhu yang lebih tinggi, disertai dehidrasi
dan perut sedikit kembung.
c. Berat : Dengan peritonitis, sepsis dan ileus paralitik.
2. Perdarahan, disebabkan karena:
a. Banyak pembuluh darah yang terputus dan terbuka
b. Atonia uteri
c. Perdarahan pada placental bed
3. Luka kandung kemih, emboli paru dan keluhan kandung kemih bila
reperitonialisasi terlalu tinggi.
4. Kemungkinan ruptura uteri spontan pada kehamilan mendatang

F. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Pemeriksaan darah lengkap, golongan darah, dan pencocokan silang.
2. USG: melokalisasi plasenta, menentukan pertumbuhan, kedudukan, dan
presentasi janin.
3. Urinalisis: menentukan kadar albumin/glukosa.
4. Kultur : mengidentifikasi adanya virus herpes simpleks tipe II
5. Pelvimetri : menentukan CPD.
6. Amniosentesis : mengkaji maturitas paru janin.
7. Tes stres kontraksi atau tes nonstres : mengkaji respon janin
terhadapgerakan/stres dari pola kontraksi uterus atau pola abnormal.
8. Pemantauan elektronik kontinue : memastikan status janin atau aktivitas
uterus.(Doengoes, 2001)

15
G. DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG LAZIM MUNCUL
a. Diagnosa Perioperatif
Ansietas berhubungan dengan kurangnya informasi tentang prosedur
pembedahan, penyembuhan dan perawatan post operasi.

b. Diagnosa Intraoperatif
Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan trauma jaringan atau
luka bekas operasi ( SC )

c. Diagnosa post operatif


Nyeri akut berhubungan dengan pelepasan mediator nyeri ( histamine,
prostaglandin) akibat trauma jaringan dalam pembedahan ( Sectio
Caesarea).

16
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

A. ASUHAN KEPERAWATAN PRE-OPERATIF


1. Pengkajian
a. Identitas
1) Identitas Pasien
a) Nama :Ny. L
b) Umur :37 tahun
c) Agama : Islam
d) Jenis Kelamin : Perempuan
e) Status :ASKES
f) Pekerjaan : Dokter
g) Pendidikan terkahir : Sarjana
h) Suku Bangsa : Jawa
i) Alamat :Dayu RT 01/25 No. 33B Ngaglik
Sleman Yogyakarta
j) Tanggal Masuk :10 Oktober 2013
k) Tanggal Pengkajian :11 Oktober 2013
l) No. Register : 01.50.70.89
m) Diagnosa Medis :Sekundi gravida hamil aterm dengan
riwayat sectio caesarea 2 tahun lalu

2) Identitas Penanggung Jawab


a) Nama : Tn. S
b) Hubungan :Suami klien
c) Pekerjaan :PNS
d) Alamat :Dayu RT 01/25 No. 33B Ngaglik
Sleman Yogyakarta

b. Status Kesehatan
1) Status Kesehatan Saat Ini

17
a) Keluhan Utama
Klien hamil aterm dengan status kehamilan G2P1A0dengan
riwayat SC 2 tahun lalu, dimana direncanakan tindakan re-SC
tanggal 11 Oktober 2013.
b) Alasan masuk rumah sakit dan perjalanan penyakit saat ini
Klien hamil aterm dengan riwayat ANC rutin di dr. Shinta
Sp.OG (K). Klien membawa surat rujukan untuk dilakukan
operasi re-SC di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta. His klien baik
dengan DJJ 114 x/m. Klien tidak tampak anemis. Janin teraba
prosentasi kepala dan teraba 4/5 bagian. TFU klien 34 cm.
2) Status Kesehatan Masa Lalu
a) Penyakit yang pernah dialami
Klien tidak pernah mengalami masalah kesehatan yang
mengharuskan dirawat di rumah sakit.
b) Pernah dirawat
Klien pernah dirawat di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta pada
riwayat SC terdahulu. Riwayat obstretik klien adalah kelahiran
melalui SC pada kehamilan aterm tahun 2011 berjenis kelamin
laki-laki dengan berat 3400 gram tanpa penyulit dan sehat hidup
hingga sekarang.
c) Alergi
Klien tidak memiliki riwayat alergi apapun baik, udara maupun
obat-obatan.

c. Riwayat Penyakit Keluarga


Berdasarkan data yang diperoleh, baik dari pihak suami maupun klien
tidak memiliki riwayat penyakit apapun, baik hipertensi, kanker,
diabetes mellitus, dan asma.

18
d. Diagnosa Medis dan therapy
Sekundi gravida hamil aterm dengan riwayat sectio caesarea 2 tahun
lalu. Klien direncanakan tindakan re-SC dan pemasangan IUD. Klien
mendapat etrapi profilaksis Vicilin 2 gr.
e. Pola Kebutuhan Dasar
1) Persepsi Kesehatan Pola Manajemen Kesehatan
Klien berprofesi sebagi dokter. Sehingga pola majemen kesehatan
dan persepsi klien terhadap kesehatan adalah baik.
2) Pola Nutrisi-Metabolik
Klien mengatakan tidak mengalami penurunan nafsu makan. Klien
mengatakan ia mengkonsumsi makanan bergizi setiap harinya
ditambah dengan susu ibu hamil. Klien juga mengkonsumsi
vitamin yang diberikan oleh dokter kandungan. Klien mengatakan
bahwa ia sempat mengalami penurunan nafsu makan ketika
kehamilan di trimester pertama.
3) Poli Eliminasi
Klien mengatakan bahwa frekuensi BAK klien meningkat akibat
penekanan kandung kemih. Tetapi klien mengalami konstipasi.
4) Pola aktivitas dan latihan
Indeks KATZ klien adalah A dimana semua aktifitas (bathing,
transfering, toileting, feeding, dressing, dan continence) klien dapat
dilakukan secara mandiri tanpa bantuan.
5) Pola Persepsi Kognitif
Klien tidak mengalami disorientasi waktu, tempat, maupun orang.
Klien komunikatif dan tidak tampak mengalami gangguan persepsi
ketika menjawab pertanyaan.
6) Pola Tidur dan Istirahat
Klien mengatakan ketika tidur di malam hari, klien sering
terbangun karena merasa sesak dan tidak nyaman. Klien juga
terkadang terbangun karena merasa ingin BAK.

7) Pola Seksual-Reproduksi

19
Klien hamil aterm dengan status kehamilan G2P1A0.
8) Konsep Diri dan Persepsi Diri
Klien menyatakan bahwa ia tidak mengalami gangguan konsep
diri. Klien mengatakan bahwa ia bangga dengan kehamilan dan
kondisinya saat ini karena akan menjadi ibu dari dua orang anak.
9) Peran dan Pola Hubungan
Klien memiliki peran sebagai seorang istri dan ibu dari seorang
anak laki-laki. Klien juga berprofesi sebagi dokter. Setelah
menjalni prosedur operasi SC klien akan mengalami perubahan
peran dimana ia akan menjadi ibu dari dua orang anak.
10) Pola Pertahanan Diri, Stress dan Toleransi
Klien mengatakan bahwa ia hanya mengkhawatirkan anak
pertamanya yang ditinggal di rumah.
11) Pola Keyakinan dan Nilai
Klien memeluk agama islam. Klien mengatakan bahwa ia
menjalankan ibadah sesuai dengan tuntutan agama islam.

f. Pengkajian Fisik
1) Keadaan umum : Baik
2) Kesadaran :Composmentis
3) Tanda-tanda Vital : RR: 18 x/m; N: 86 x/m; T: 36,40C; HR:
100/70 mmHg; DJJ: 112 x/m.
4) Keadaan fisik
a) Kepala dan leher
Kepala mesochepal; kulit kepala bersih. Tidak nampak adanya
benjolan di area kepala. Mata simetris kanan dan kiri, mampu
membuka mata dengan spontan, tidak cekung. Mataklien tidak
terlihat adanya perdarahan.Konjungtiva tidak anemis. Terdapat
2 lubang hidung, tidak ada keluaran sekret, dan tidak ada
pernafasan cuping hidung.
Mukosa bibir klien tampak kering dan mulut klien tidak
sianosis. Telingaklien tampak simetris antar kanan dan kiri,

20
terdapat lubang telinga, tidak ada keluaran cairan dari telinga
klien. Tidak teraba pembesaran tiroid dan massa pada leher
klien.
b) Jantung
Inspeksi : ictus cordis tak nampak.
Palpasi : ictus cordis teraba di SIC IV.
Perkusi : tidak terkaji.
Auskultasi : bunyi jantung I-II murni.
c) Paru paru
Inspeksi : dada simetris, kembang kempis dada teratur,
terkadang klien menggunakan retraksi dada ketika
merasa tidak kuat menahan kontraksi (his).
Palpasi : taktil fremitus paru kanan sama dengan paru kiri.
Perkusi : terdengar sonor.
Aukultasi : suara nafas vesikuler, tidak ada wheezing maupun
ronkhi.
d) Payudara
Bentuk simetris, bentuk puting susu normal, hiperpigmentasi
areola, ASI belum keluar.
e) Abdomen
Inspeksi : Tampak cembung, ada pembesaran dalam bentuk
normal, terdapat luka bekas operasi SC, bentuk bulat
memanjang, dan terdapat striae gravidarum.
Palpasi :
Leopold I : teraba bagian fundus uteri dengan TFU 34
cm dan teraba bulat lunak besar.
Leopold II : teraba posisi janin punggung kanan, dan
ekstermitas di kiri.
Leopold III : teraba bulat keras dan melenting.
Leopold IV : teraba kepala janin belum masuk PAP
(4/5), DJJ 12-12-12.
Perkusi : Pekak.

21
Auskultasi : tidak terkaji.
f) Genetalia
Klien berjenis kelamin perempuan.
g) Integumen
Turgor kulit elastis. Kulit klien teraba hangat dan lembab.
h) Ekstremitas
Ekstermitas atas : oedem (-/-), kesemutan (-/-), baal (-/-)
Ekstermitas bawah : oedem (-/-), reflek patela (+/+), varises (-/-)

g. Pemeriksaan Penunjang
1) Laboraturium
Hasil pemeriksaan laboraturium tanggal 10Oktober 2013

Parameter Hasil Satuan Nilai Normal Kategori


Hemoglobin 9,6 g/dl 11,7-15,5 Menurun
Eritrosit 4,29 106/ L 3,8-5,2 Normal
Hematokrit 30,1 % 32-47 Menurun
Leukosit 10,05 103/L 3,6-11,0 Normal
Trombosit 267 103/L 150-440 Normal
MCV 68,5 fL 80-100 Menurun
MCH 29,1 pg 26-34 Normal
MCHC 32,7 g/dL 32-36 Normal
RDW 10,9 % 11,5-14,5 Menurun
MPV 9,3 fL 7,2-11,1 Normal
Gula darah 93 mg/dl 60-100 Normal
sesaat
HbsAg Negatif
PRT 10,1 Detik 11,4-16,3 Menurun
INR 0,25 - - -
Kontrol 13,4 Detik - -
APTT 35,6 Detik 22,5-37,0 Normal
Kontrol 35 Detik - -
Eosinofil 0,7 % 1-3 Menurun
Basofil 0,2 % 0-1 Normal
Netrofil 73,2 % 50-70 Meningkat
Limfosit 18,1 % 20-40 Menurun
Monosit 7,5 % 2-8 Normal
Eosinofil 0,07 103/L 0-0,8 Normal
Basofil 0,05 103/L 0-0,2 Meningkat
Netrofil 7,37 103/L 1,9-8 Normal
Limfosit 1,85 103/L 0,9-5,2 Normal

22
Parameter Hasil Satuan Nilai Normal Kategori
Monosit 0,75 103/L 0,16-1 Normal
Gol. darah B
Natrium 100 mmol/L 136 145 Menurun
Kalium 1,00 mmol/L 3,5 5,1 Menurun
Klorida 100 mmol/L 98-107 Normal

h. Persiapan Operasi
1) Fisik
Tekanan Darah : 100/70 mmHg
Nadi : 86x/menit
Respirasi : 18x/menit
Djj : 112x/menit
2) Psikis
Menjelaskan kepada pasien tentang prosedur operasi dalam
keperawatan.
Orientasikan ruangan, lingkungan kamar dan team operasi.
Menjelaskan rutinitas perioperatif dikamar operasi
3) Penunjang tanggal 10 oktober 2013
Hasil pemeriksaan Laboratorium.
4) Administrasi
Persetujuan tindakan operasi telah ditanda tangani oleh keluarga, saksi,
dan dokter.
Status Rekam Medis lengkap

i. Persiapan Operasi
a) Pasien mulai puasa 02.00 wib
b) Informed concent tindakan medis sudah lengkap
c) Serah terima pasien dengan petugas ruangan di ruang terima kamar
operasi lantai 4
d) Mengganti pakaian pasien dengan pakaian dan topi kamar operasi

23
e) Status pasien, data penunjang ( hasil Laboratorium ), blanko bahan
medis dan alat medis habis pakai dan blanko rekam askep.
f) Pasien di pindah ke brandacart kamar operasi dan di bawa d ruang
induksi
g) Melakukan sigh in
Mengkonfirmasi identitas dan mengcroscek dengan gelang pasien
Mengkonfirmasi lokasi operasi.

j. Analisa data
No Data Fokus Problem Etiologi

1 Ds : cemas Status kesehatan


Klien mengatakan dan tindakan
bahwa meskipun ia
pembedahan.
pernah menjalani
SC sebelumnya,
tetapi ia masih
merasa cemas.

Do:
a. Klien tampak
tegang dan
khawatir
b. Tingkat
kecemasan klien
pada cemas
sedang
c. Klien agak
tampak gelisa

2. Diagnosa Keperawatan
waktu Data fokus Diagnosa Keperawatan

11 DS: Ansietasberhubungan
oktober Klien mengatakan bahwa
dengan status kesehatan dan
2013 meskipun ia pernah menjalani
Jam : SC sebelumnya, tetapi ia masih tindakan pembedahan.
11.00 merasa cemas.
wib
DO:

24
a. Klien tampak tegang dan
khawatir.
b. Tingkat kecemasan klien
pada cemas sedang.
c. Klien tampak agak gelisah.

3. Perencanaan Keperawatan

Diagnosa Tujuan dan Kriteria


Rencana Tindakan
Keperawatan Hasil
Ansietas Setelah dilakukan Health education: 1100
berhubungan pendidikan kesehatan 1. Kaji pengetahuan klien tentang
dengan status mengenai prosedur penyakit dan tindakan yang akan
kesehatan dan tindakan selama 1x15 dilakukan.
tindakan menit, tidak terjadi 2. kaji kecemsan klien.
pembedahan. kecemasan pada klien, 3. Berikan informasi terkait
dengan kriteria hasil : kecemasan yang dirasakan klien.
1. Kecemasan klien 4. Diskusikan tentang indikasi,
berkurang dari kontraindikasi dan persiapan
sedang menjadi tindakan terhadap kondisi klien.
ringan. 5. Berikan support mental untuk
2. Klien tampak meyakinkan klien.
tenang dan rileks.
Relaxation therapy: 6040
Anjurkan keluarga klien menggunakan
teknik relaksasi nafas dalam.

4. Pelaksanaan dan evaluasi

Diagnosa
Implementasi Respon Evaluasi
Keperawatan
Ansietas a. Mengkaji S: S:
berhubungan perasaan dan Klien mengatakan bahwa Klien mengatakan bahwa
dengan status kecemasan ia merasa cemas ia masih merasa cemas
kesehatan dan klien. walaupun pernah tetapi sudah berkurang.
tindakan menjalani operasi SC
pembedahan. sebelumnya. O:
O: Klien tampak lebih rileks
Ibu klien tampak gelisah dan tenang.

25
Diagnosa
Implementasi Respon Evaluasi
Keperawatan
dan khawatir. Kecemasan klien dalam
skala ringan.
b. Mengkaji S:
tingkat Klien mengatakan bahwa A:
kecemasan ia merasa cemas dan Masalah ansietas klien
klien. takut. teratasi ditandai dengan
O: kecemasan berkurang dari
Klien mengalami sedang menjadi ringan
kecemasan sedang serta klien tampak lebih
c. Menganjurka S: tenang serta rileks.
n klien teknik Klien mengatakan bahwa
relaksasi ia merasa sedikit rileks. P:
nafas dalam O: Pertahankan memberikan
Klien tampak mengikuti support mental dan
teknik relaksasi nafas informasi yang dibutuhkan
dalam untuk menurunkan
d. Memvalidasi S: kecemasan klien.
perasaan Klien mengatakan bahwa
klien. ia masih merasa cemas
tetapi sudah berkurang.
O:
Klien tampak lebih
tenang dan rileks.

26
B. ASUHAN KEPERAWATAN INTRA-OPERATIF
1. Pengkajian
a. Persiapan perawat
1) Menyiapkan instrument steril dan ruangan.
2) Menyiapkan alat dan bahan medis habis pakai.
3) Menyiapkan alat/mesin pendukung operasi seperti: mesin couter,
netral electrosurgery, mesin dan botol suction, lampu operasi, meja
operasi, meja mayo, dan meja besar.
4) Mengkorfimasi tim dari ruang perinatologi agar segera menyiapkan
boks bayi.
b. Persiapan alat dan ruang
1) Alat steril:
Set laparatomi kebidanan
a) Doek klem : 5 buah
b) Scaple mess no. 4 : 1 buah
c) Pinset anatomis : 2 buah
d) Pinset cirurgis : 2 buah
e) Gunting benang : 2 buah
f) Gunting jaringan : 1 buah
g) Klem/ pean sedang : 6 buah
h) Klem/ pean panjang : 2 buah
i) Klem/ pean lurus : 2 buah
j) Kocker besar : 2 buah
k) Needle holder : 2 buah
l) Klem ovarium : 4 buah
m) Steel deeper : 4 buah
n) Hak doyen : 1 buah
o) Kassa : secukupnya
p) Darm spatel : 1 buah
Handpiece couter monopolar : 1 buah
Selang suction : 1 buah
Bengkok dan kom : 1 buah

27
Korentang : 1 buah
Spuit 3cc (untuk metergin) : 1 buah
Linen operasi:
a) Baju dan jas operasi : 5 buah
b) Doek kecil : 5 buah
c) Doek lubang : 1 buah

2) Alat non steril:


a) Meja operasi
b) Lampu operasi
c) Meja mayo
d) Meja besar
e) Boks bayi
f) Tempat plasenta
g) Mesin couter
h) Mesin dan botol suction
i) Tempat sampah medis dan non medis
j) Tempat linen kotor
k) Kursi
l) Bak dekontaminasi instrument
m) Gunting plester
n) Label

28
3) Alat/bahan medis habis pakai

a) Handscoon : 4 buah
b) Alkohol 70 % : 100 cc
c) Betadine 10 % : 100 cc
d) NaCl 0,9 % : 500 cc
e) Aqua : 25 cc
f) Mess no. 20 : 1 buah
g) Cateter no. 16 : 1 buah
h) Urin bag : 1 buah
i) Spuit 3 cc : 1 buah
j) Spuit 10 cc : 1 buah
k) Jelly : 10 cc
l) Benang chromic 2 : 1 buah
m) Benang chromic 0 : 1 buah
n) Benang plain0 : 1 buah
o) Benang vicryl 1 : 1 buah
p) Benang monosyil 3/0 : 1 buah
q) Steri strip : 1 buah
r) Underpad : 1 buah
s) Pampers : 1 buah
t) IUD : 1buah

c. Persiapan pasien
1) Klien dipuasakan sebelum prosedur operasi.
2) Klien diberikan terapi intravena NaCl dengan dosis 20 tpm dan
terapi vilicin 2 g untuk profilaksis.
3) Persediaan darah B 1 kolf PRC.
4) Klien dibaringkan diatas meja operasi yang beralaskan underpad.

29
5) Klien diberikan tindakan regional anestesi (spinal) dengan
pemberian terapi koloid sebelumnya.
6) Klien dipasang kateter urin no. 16.
7) Klien diposiskan supinasi dan dipasangkan netral elctrosurgery
pada punggung klien.
8) Klien dipasang penyangga tangan dan penutup bagian atas klien.

d. Prosedur operasi
1) Sebelum tindakan dilakukan, operator, asisten, dan scrub nurse
melakukan handwashing, gowning, dan gloving sesuai prosedur
yang ada.
2) Scrub nurse menyusun instrumen yang diperlukan sesuai dengan
kebutuhan di atas meja mayo serta menyiapkan alat (kom betadine,
klem preparasi, dan kassa) untuk keperluan skin preparation.
3) Klien yang telah diposisikan dalam posisi supinasi dilakukan skin
preparation pada daerah abdomen.
4) Operator dan asisten melakukan drapping, mulai dari bagian kaki
klien, atas, sisi kanan dan kiri klien, dan terakhir penggunaan duk
berlubang.
5) Scrub nurse menyiapkan couter kemudian dipasangkan ke area
operasi bersama dengan selang suction.
6) Scrub nurse mendekatkan meja mayo dan meja linen ke meja
operasi.
7) Circular nurse mengarahkan pencahayaan lampu kepada area
operasi serta menghubungkan couter dan selang suction ke mesin.

30
8) Operator dan asisten memposisikan diri ke tempat masing-masing.
9) Sebelum insisi dilakukan, seluruh tim operasi (operator, asisten,
scrub nurse, circular nurse, dokter anestesi, perawat anestesi,
bidan, dan dokter anak) melakukan prosedur time out yang
dipimpin oleh circular nurse.
10) Operator memastikan operasi akan dimulai pada pukul 11.30 WIB.
11) Scrub nurse memberikan pinset cirurgis dan scaple mess kepada
operator untuk melakukan insisi.
12) Scrub nurse memberikan klem dan kassa kepada asisten 1 untuk
membantu operator.
13) Scrub nurse memberikan kocker dan couter kepada asisten 2.
14) Scrub nurse memberikan klem dan gunting jaringan kepada opertor
untuk memperdalam insisi hingga peritonium.
15) Scrub nurse memberikan pinset anatomis dan scaple mess kepada
operator untuk melakukan insisi uterus.
16) Operator melakukan evakuasi bayi dengan menarik kepala janin
dibantu dorongan pada abdomen klien dari asisten.
17) Scrub nurse melakukan suctioning untuk membantu evakuasi bayi
dan mencegah aspirasi air ketuban oleh bayi.
18) Bayi berhasil dikeluarkan kemudian scrub nurse memberikan klem
lurus untuk memegang tali pusar janin.
19) Scrub nurse memberikan gunting jaringan kepada operator untuk
melakukan pemotongan tali pusat.
20) Kemudian bayi diberikan kepada perawat perinatologi untuk
segeraditangani.
21) Scrub nurse memberikan spuit berisi metergin untuk memacu
kontraksi uterus dalam persalinan plasenta
22) Operator memutar tali pusar searah jarum jam dalam kelahiran
plasenta.
23) Plasenta dilahirkan secara urtuh 5 menit kemudian, scrub nurse
dibantu circular nurse menempatkan plasenta pada tempatnya dan
diberikan label.

31
24) Scrub nurse memberikan stiil deeper kepada operator dan asisten
untuk membersihkanuterus dari sisa plasenta.
25) Scrub nurse memberikan duk bersih untuk menutup duk lama.
26) Scrub nursememberikan klem ovarium kepada operator dan asisten
beserta stiil deeper kering dan stiil deeper betadine.
27) Tim perinatologi memfasilitasi bayi dan klien dalam inisiasi
menyusu dini (IMD).
28) Scrub nurse memberikan IUD kepada operator untuk dipasangkan.
29) Tim anestesi menyiapkan tranfusi darah bagi klien.
30) Scrub nurse memberikan pinset cirurgis, needle holder, dan benang
chromic 2 kepada operator untuk menjahit uterus.
31) Scrub nurse memberikan still deeper dan klem kepada asisten1 dan
gunting benang pada asisten 2.
32) Scrub nurse memberikan pinset anatomis, needle holder, dan
benang plain 0 kepada operator untuk menjahit peritonium.
33) Scrub nurse memberikan still deeper betadine kemudian still
deeper kering asisten 1.
34) Scrub nurse melakukan sigh out sebelumperitoneum pariental di
lakukan penjahitan.
35) Scrub nurse memberikan pinset anatomis, needle holder, dan
benang chromic 0 kepada operator untuk menjahit peritoneum
pariental.
36) Scrub nurse memberikan pinset cirurgis, needle holder, dan benang
vicryil 1 kepada operator untuk menjahit otot, facia dan sub cutis.
37) Scrub nurse memberikan still deeper betadine kepada asisten 1.
38) Scrub nurse memberikan pinset cirurgis, needle holder, dan benang
monosyl 3/0 kepada operator untuk menjahit kulit dengan jahitan
subcuticular.
39) Asisten membersihkan area operasi dengan kassa yang telah
dibasahi NaCl kemudian dikeringkan.
40) Luka ditutup menggunakan steri strip kemudian kassa kering dan
hepavix yang dibantu oleh circular nurse.

32
41) Scrub nurse dan circular nurse memsangkan pampers kepada
klien.
42) Scrub nurse melakukan dekontaminasi instrument dalam bak berisi
saflon 2%.
43) Circular nurse memberikan label dan membereskan alat-alat yang
telah digunakan kemudian diberikan pelabelan dan dikirimakan ke
CSSD.
44) Operasi selesai pada pukul 13.05 WIB.

e. Evaluasi
1) Operasi berjalan 95 menit (11.30-13.05)
2) Perdarahan selama operasi sebanyak 1.500cc (darah, air ketuban,
dan NaCl).
3) Jumlah urin: 200 cc
4) Kulit klien teraba dingin, klien tampak pucat.
5) Turgor kulit elastis, CPR: <3 detik, dan konjungtiva tidak anemis.

33
6) Klien terpasang cateter no.16.
7) Tidak terjadi masalah sepanjang operasi berlangsung.
8) Tanda vital klien : RR: 16 x/m; N: 92 x/m; TD: 110/70
mmHg; T: 36,30C, dan SaO2: 98 %.

2. Diagnosa Keperawatan
Waktu Data Fokus Diagnosa Keperawatan

11 DS: Resiko syok berhubungan


oktober`13 Klien mengatakan bahwa ia
dengan hipovolemi akibat
Jam: merasa pusing.
11.30 wib DO: perdarahan pada tindakan
a. TTV : RR: 16
pembedahan.
x/m; N: 92 x/m; TD:
110/70 mmHg; T:
0
36,3 C.dan SaO2: 98 %.
b. Lama pembedahan:
95 menit
c. Jumlah perdarahan:
1.500 cc
d. Jumlah urin: 200 cc
e. Kulit klien teraba
dingin.
f. Klien tampak pucat.
g. Turgor kulit klien
elastis, CPR: <3 detik.
h. Konjungtiva tidak
anemis.

3. Perencanaan Keperawatan

Diagnosa
Tujuan dan Kriteria Hasil Rencana Tindakan
Keperawatan
Resiko syok Setelah dilakukan tindakan Hypovolemia Management: 4180
berhubungan keperawatan selama 2x60 1. Monitor KU dan TTV.
dengan menit, syok tidak terjadi pada 2. Monitor kehilangan cairan
hipovolemi klien, dengan kriteria hasil: baik urin maupun perdarahan.
akibat 1. Tanda vital dalam batas 3. Kaji tanda dan gejala
perdarahan normal, TD: sistol 110- terjadinya syok.
pada tindakan 130 mmHg diastole 70-90 4. Kaji kepatenan pemberian

34
pembedahan. mmHg, HR 60-100 x/mnt, terapi parenteral.
RR 16-24 x/mnt 5. Monitor kadar Hb dan Ht
2. Kulit klien kemerahan dan klien.
teraba hangat. 6. Kolaborasi dalam pemberian
3. Turgor klien elastis dan tranfusi darah jika diperlukan.
CPR: <3 detik.
4. Konjungtiva tidak anemis.

4. Pelaksanaan

Diagnosa
Implementasi Respon
Keperawatan
Resiko syok a. Memonitor S:
berhubungan keadaan umum Klien mengatakan bahwa
dengan dan TTV klien. ia merasa pusing
hipovolemi O:
akibat 1. Kesadaran: CM
perdarahan 2. TTV : RR: 16
pada tindakan x/m; N: 92 x/m; TD:
pembedahan. 110/70 mmHg; T:
36,3 0C, SaO2: 98 %
b. Mengukur jumlah S:-
perdarahan dan O:
urin klien. a. Jumlah perdarahan:
1.500 cc.
b. Jumlah urin: 200 cc
c. Memonitor S:
tanda-tanda syok Klien mengatakan bahwa
ia merasa pusing.
O:
a. Kulit klien teraba
dingin.
b. Klien tampak pucat.
c. Turgor kulit klien
elastis, CPR: <3
detik.
d. Konjungtiva tidak
anemis.
Evaluasi:
S:
Klien mengatakan bahwa ia merasa pusing.
O:
Kesadaran: composmentis.
TTV: RR: 18 x/m; N: 84 x/m; TD: 100/70 mmHg; T: 36,3 0C,
SaO2: 99 %
Jumlah perdarahan: 1.500 cc, jumlah urin: 200 cc

35
Diagnosa
Implementasi Respon
Keperawatan
Kulit klien teraba dingin dan klien tampak pucat.
Turgor kulit klien elastis, CPR: <3 detik.
Konjungtiva tidak anemis.
A:
Masalah resiko syok teratasi sebagian ditandai dengan kesadaran
klien komposmentis, nadi, RR, dan SaO2dalam rentang normal,
turgor kulir klien elastis, CPR < 3 detik dan konjungtiva tidak
anemis.
P:
Pertahankan memonitor KU dan TTV klien serta tanda-tanda syok.

C. ASUHAN KEPERAWATAN POST-OPERATIF


1. Pengkajian
a. Klien dipindahkan ke recovery room pada pukul 13.15 WIB.
b. Bayi klien dibawa ke ruang perinatologi.
c. Kesadaran klien belum pulih benar karena klien belum merasakan
kedua kakinya.
d. Terpasang folley cateter no. 16, dengan urine 250 cc.
e. Tanda vital klien : RR: 16 x/m; N: 86 x/m; TD: 110/60 mmHg; T:
36,50C.
f. Kulit klien teraba hangat, tidak tampak sianosis, dan tidak tampak
pucat, konjungtiva tidak anemis.
g. Instruksi post operasi:
1) Monitor KU dan tanda-tanda vital klien.
2) Monitor jumlah lokea dan perdarahan klien.
3) Lakukan tirah baring pada klien.
4) Dekatkan bayi dengan klien.
5) Terapi intaravena RL dengan dosis 20 tpm.
6) Terapi injeksi vicilin1 gr/ 8 jam.

36
2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa
No. Data Fokus
Keperawatan
1 DS: Nyeri akut:
a. Klien mengatakan bahwa iasudah berhubungan dengan
merasa perih seperti di sayat di perut agen cidera fisik
bagian bawah. (tindakan pembedahan
b. Klien mengatakan bahwa nyerinya
sectio caesaria).
terasa hingga skala 3 dari 10.

DO:
a. TTV : RR: 16 x/m; N: 86 x/m;
TD: 110/60 mmHg; T: 36,50C.
b. Kesadaran klien: composmentis
2 DS: Hambatan mobilitas
a. Klien mengatakan bahwa ia belum fisik di atas tempat
mampu menggerakkan kedua kakinya tidur berhubungan
karena masih terasa sedikit berat. dengan gangguan
muskoloskeletal; obat
DO: yang menimbulkan
a. Klien menjalani operasi sectio
sedasi.
caesarea.
b. Klien mengalami kelemahan motorik
dan tonus otot di kedua ektremitas
bawah.

3 DS : - Resiko infeksi
DO : berhubungan dengan
a. TTV : RR: 16 x/m; N: 86 x/m; postre-SC.
TD: 110/60 mmHg; T: 36,50C.
b. Tampak balutan post Re-SC.
c. Tampak klien terpasang kateter.

3. Perencanaan Keperawatan

Diagnosa Tujuan dan Kriteria


No. Rencana Tindakan
Keperawatan Hasil
1 Nyeri akut: Setelah dilakukan Pain Management:1400
berhubungan tindakan keperawatan 1. Kaji karakteristik nyeri: lokasi,
dengan agen selama 1x15 menit nyeri durasi, frekuensi, kualitas,
cidera yang dirasakan klien intensitas dan faktor pemicu
fisik(tindakan berkurang, dengan kriteria terjadinya nyeri
pembedahan hasil : 2. Observasi respon non verbal klien

37
Diagnosa Tujuan dan Kriteria
No. Rencana Tindakan
Keperawatan Hasil
sectio 1. Klien tampak rileks terhadap nyeri
caesaria).. 2. Klien tampak 3. Sediakan informasi tentang nyeri
mempraktikan napas yang dialami, penyebabnya, lama
dalam untuk dan cara mengatasinya.
mengontrol nyeri.
3. Nyeri klien menurun Relaxation therapy: 6040
secara bartahap Ajarkan dan demonstrasikan teknik
minimal 1 skala relaksasi napas dalam dan distraksi
4. Tanda vital dalam pada pasien.
batas normal, TD: Medication Administration: 2300
sistol 110-130 mmHg 1. Kolaborasi dalam pemberian
diastole 70-90 mmHg, analgetik
HR 60-100 x/m, RR
16-24 x/m
2 Hambatan Setelah dilakukan Activity Therapy :
mobilitas fisik di tindakan keperawatan 1. Anjurkan klien untuk bed rest
atas tempat tidur selama 2x15 menit total terlebih dahulu hingga efek
berhubungan minggu,hambatan anestesi hilang terasa.
dengan mobilitas fisik klien dapat 2. Bantu untuk memilih aktivitas
gangguan teratasi sebagian dengan yang sesuai dengan kemampuan
muskoloskeletal; kriteria hasil : fisik dan psikologis, seperti
obat yang 1. Klien mampu miring ke kanan dan kekiri serta
menimbulkan menggerakkan menggerakkan ekstremitas sesuai
sedasi. ekteritas bawah bagian kemampuan klien keceuali
kanan dengan baik. ektremitas kanan kiri bawah.
3. Bantu klien dalam merubah posisi
tidur.
4. Dampingi klien untuk mencegah
resiko jatuh.
3 Resiko infeksi Setelah dilakukan Infection control (6540)
berhubungan tindakan keperawatan 1. Kaji adanya tanda-tanda infeksi
dengan post op selama 3x24 jam baik lokal maupun sistemik.
postero sagital diharapkan infeksi tidak 2. Pantau keadaan umum dan tanda
ano recto plasty terjadi dengan kriteria vital klien.
atas indikasi hasil : 3. Pertahankan personal hygiene
atresia ani letak 1. Klien bebas dari tanda klien.
rendah dengan dan gejala infeksi 4. Gunakan sarung tangan ketika
fistel vestibular 2. Jumlah leukosit dalam melakukan perawatan luka.
post batas normal 5. Ganti IV perifer, line control.
sigmoidostomy. 3 6. Tingkatkan intake nutrisi
(3,6x10 /L-
11x103/L) 7. Cuci tangan sebelum dan sesudah
3. Tanda vital dalam melakukan prosedur
batas normal, TD: 8. Ajarkan cuci tangan kepada
sistol 110-130 mmHg keluarga bayi yang menjenguk
diastole 70-90 mmHg, 9. Monitor hitung leukosit
HR 60-100 x/mnt, RR 10. Berikan perawatan luka post re-

38
Diagnosa Tujuan dan Kriteria
No. Rencana Tindakan
Keperawatan Hasil
16-24 x/mnt. SC sesuai indikasi.
11. Inspeksi kondisi luka terhadap
tanda-tanda infeksi.

Medication administration (2300)


Kolaborasikan pemberian antibiotik
sesuai indikasi.

4. Pelaksanaan

Diagnosa
No. Implementasi Respon Evaluasi
Keperawatan
1 Nyeri akut: a. Mengkaji S: S:
berhubungan kualitas, a. Klien mengatakan 1. Klien mengatakan
dengan agen kuantiatas bahwa iamulai merasa bahwa iamulai
cidera dan skala perih di perut bagian merasa perih di perut
fisik(tindakan nyeri klien. bawah. bagian bawah.
pembedahan b. Klien mengatakan 2. Klien mengatakan
sectio caesaria). bahwa nyerinya terasa bahwa nyerinya
hingga skala 3 dari terasa hingga skala 3
10. dari 10.
O: 3. Klien mengatakan
Klien tampak tegang. bahwa ia sudah
b. Mengukur S: - melakukan nafas
tanda-tanda O: dalam.
vital klien. TTV : RR: 16 x/m; N: O:
86 x/m; TD: 110/60 1. TTV : RR: 16
mmHg; T: 36,50C. x/m; N: 86 x/m; TD:
c. Mengajarkan S: 110/60 mmHg; T:
dan Klien mengatakan bahwa 36,50C.
menganjurka ia sudah melakukan nafas 2. Klien tampak lebih
n klien teknik dalam. rileks.
relaksasi O: A:
nafas dalam. Klien tampak melakukan Masalah nyeri akut
nafas dalam beberapa kali tertasi sebagian ditandai
dan tertidur lagi. dengan TTV klien
dalam rentang normal
dan klien tampak lebih
rileks.
P:
1. Pertahankan
mengkaji nyeri klien
dan monitoring TTV
klien.
2. Berkolaborasi dalam
pemberian analgetik
jika efek anestesi
sudha hilang.

39
Diagnosa
No. Implementasi Respon Evaluasi
Keperawatan
2 Hambatan a. Membantu S: - S:
mobilitas fisik di klien O: Klien mengatakan
atas tempat tidur berpindah Klien dipindahkan ke belum bisa bergerak
berhubungan dari brankat tempat tidur. bebas.
dengan gangguan ke tempat O:
muskoloskeletal; tidur. a. Klien dianjurkan
obat yang b. Membantu S: - untuk segera
menimbulkan memposisika O: ambulasi dini.
sedasi. n klien dalam Klien berbaring dalam b. Bromage score klien
posisi posisi supinasi. adalah: 3.
supinasi c. Klien tampak
c. Menganjurka S: berbaring di atas
n klien untuk Klien mengatakan bahwa tempat tidur dalam
bed rest total kakinya belum terasa. posisi supinasi.
hingga efek O: A:
anestesi Tingkat kesadaran klien Masalah hambatan
hilang. komposmentis. mobilitas fisik di atas
d. Mengukur S: - tempat tidur teratasi
Bromage O: sebagian dengan
score klien. Bromage score klien peningkatan Bromage
adalah: 0. score klien.
P:
a. Pertahankan
memotifasi klien
untuk bersegeras
ambulasi dini.
b. Persiapkan klien
kembali ke ruang
rawat inap.
3 Resiko infeksi Menyampaikan S: S:
berhubungan informasi kepada 1. Perawat ruangan 1. Perawat ruangan
dengan post op perawat ruangan mengatakan akan mengatakan akan
postero sagital dan keluarga mengikuti instruksi mengikuti instruksi
ano recto plasty terkait perawatan dokter. dokter.
atas indikasi klien post 2. Keluarga klien 2. Keluarga klien
atresia ani letak operasi. mengatakan akan mengatakan akan
rendah dengan berhati-hati dalam berhati-hati dalam
fistel vestibular merawat klien. merawat klien.
post O: - O: -
sigmoidostomy. A:
Masalah resiko infeksi
tidak terjadi/ belum
teratasi.
P:
Perhatikan instruksi
dokter dalam perawatan
klien.

40
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

KESIMPULAN
Sectio sesarea adalah suatu cara melahirkan janin dengan membuat
sayatan pada dinding uterus melalui dinding depan perut atau vagina, atau
sectio sesarea adalah suatu histeretomia untuk melahirkan janin dari dalam
rahim (Mochtar, 2006). Asuhan keperawatan perioperatif pada Ny. L (37
tahun) dengan re-sectio caesarea atas indikasi sekundi gravida hamil aterm
dengan riwayat sectio caesarea 2 tahun lalumeliputi asuhan pre, intra, dan
post operatif. Asuhan keperawatan tersebut dilakukan secara komprehensif
meliputi pengkajian, perumusan diagnosa, perencanaan, pelaksanaan, dan
evaluasi.
Diagnosa keperawatan pada pre operasi, umumnya adalah ansietas.
Pada kasus ini, ansietas yang muncul dialami oleh ibu klien. Penatalaksanaan
yang diberikan adalah dengan memberikan informasi terkait kecemasan ibu
klien. Diagnosa keperawatan pada intra operatif adalah resiko syok akibat
perdarahan yang terjadi selama operasi berlangsung. Penatalaksanaanya
berfokus pada memonitor KU, TTV klien terhadap tanda-tanda terjaidnya
syok.
Diagnosa keperawatan pada post operatif adalah nyeri akut akibat
prosedur pembedahan, hambatan mobilitas fisik akibat efek anestesi, dan
resiko infeksi akibat tindakan operasi yang dilakukan. Penatalaksanaan yang
bisa dilakukan di recovery room terbatas pada mempertahankan keefektifan
jalan nafas klien, memodifikasi lingkungan, dan perawatan klien post operasi
di ruangan.

SARAN
1. Profesi Keperawatan
Profesi keperawatan merupakan profesi yang memiliki peran penting
dalam dunia kesehatan.Pelayanan keperawatan di rumah sakit yang
berkualitas didapatkan dari perawat-perawat yang berkualitas pula.Salah

41
satu tugas perawat kamar bedah adalah memberikan asuhan keperawatan
perioperatif untuk mencapai kesembuhan maksimal klien.
2. Rumah Sakit
Rumah sakit merupakan suatu bentuk pelayanan kesehatan dimana
salah satunya memberikan pelayanan keperawatan. Pelayanan tersebut
tentunya didukung oleh tenaga kesehatan yang bekerja di
dalamnya.Diharapkan dapat mendukung dalam penerapan asuhan
keperawatan peri operatif. Kemudian dapat dihimbau bagi seluruh tim
operasi untuk mengikuti prosedur yang ada terkait kamar operasi dan
tindakan operasi.

42
DAFTAR PUSTAKA

Depkes, RI. 2004. Asuhan Keperawatan Post Partum Mata Ajaran


Keperawatan Maternitas, Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah. Semarang.

Bobak, Loudermik, Jensen, 2004. Buku Ajar Keperawatan Maternitas. Edisi 4.


Jakarta: EGC.

Herdman, Heather. 2012. Nanda Internasional Diagnosis Keperawatan :


Definisi dan Klasifikasi 2012-2014; alih bahasa, Made Sumawarti, Dwi
Widiarti, Estu Tiar; editor, Monica Ester. Jakarta : EGC.

Mansjoer,Arif. 2000. Kapita Selekta Kedokteran Edisi 3 Jilid 2. Jakarta:


Media Aescullapius.

Mochtar, Rustam. 2006. Sinopsis Obstetri. Jakarta: EGC

Saifuddin, 2002, Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan


Neonatal. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo.

Suzanne C. Smeltzer, Brenda G. Bare. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal


Bedah Brunner&Suddarth. Edisi 8. Volume 3. Jakarta: EGC.

43

Anda mungkin juga menyukai