Anda di halaman 1dari 50

LAPORAN PRAKTIKUM FARMASETIKA DASAR

LABOLATURIUM FARMASETIKA DASAR

LAPORAN PRAKTIKUM
FARMASETIKA DASAR

Nama :
NIM :
Dosen.Pembimbing:

Bab 1

PENDAHULUAN

A.Maksud Pratikum

Adapun maksud dari kegiatan praktikum farmasetika dasar ini adalah agar mahasiswa dapat

memahami, mengerti dan mampu membuat sediaan obat dari resep dokter.

B.Tujuan Pratikum

1. Mahasiswa dapat membaca dan memahami resep

2. Mahasiswa dapat menghitung dosis obat dalam resep.

3. Mahasiswa dapat menggunakan alat-alat laboratorium dengan benar

4. Mahasiswa dapat menimbang bahan obat dengan benar.

5. Mahasiswa dapat meracik sediaan serbuk,kapsul,salep.

6. Mahasiswa dapat mengevaluasi sediaan serbuk,kapsul,salep

7. Mahasiswa dapat membuat salinan resep dan memberikan informasi obat dalam resep

BAB II
Dasar Teori
Serbuk adalah campuran homogen dua atau lebih obat yang diserbukkan, karena mempunyai

luas permukaan yang luas, serbuk lebih mudah terdispersi dan lebih larut dari pada bentuk sediaan yang

dipadatkan. (FI III, 23)

Serbuk bagi adalah serbuk yang dibagi dalam bobot kurang lebih sama, dibungkus menggunakan

bahan pengemas yang cocok untuk sekali minum. Untuk serbuk bagi yang mengandung bahan yang

mudah meleleh atau atsiri harus dibungkus dengan kertas perkamen atau kertas yang mengandung lilin

kemudian dilapisi lagi dengan kertas logam. (FI IV, 14)

Serbuk yang harus dibagi tanpa penimbangan untuk menjamin pembagian yang sama maka

pembagian dilakukan paling banyak 20 bungkus. Apabila lebih dari 20 bungkus, maka serbuk dibagi

dalam beberapa bagian. Dengan cara penimbangan dan tiap bagian dibagi paling banyak menjadi 20

bungkus. (FI III 23, FI IV 14, )

Serbuk tabur adalah serbuk bebas dari butiran kasar dan dimaksudkan untuk obat luar. Pada

umumnya serbuk tabur harus melewati ayakan dengan derajat halus 100 mesh agar tidak menimbulkan

iritasi pada bagian yang peka. Serbuk yang mengandung lemak harus diayak dengan pengayak nomor

44. Seluruh serbuk harus terayak semuanya, yang tertinggal diayakan dihaluskan lagi sampai seluruhnya

terayak. Setelah semua serbuk terayak, dicampur dan diaduk lagi. Jangan digunakan serbuk sebelum

tercampur homogen seluruhnya. (FI III 23, FI IV 14, IMO 47)

Serbuk diracik dengan cara mencampurkan bahan obat satu persatu, sedikit demi sedikit dan

dimulai dari bahan obat yang jumlahnya sedikit. Dalam mencampur serbuk hendaklah dilakukan secara

cermat dan jaga agar jangan ada bagian yang menempel pada dinding mortir. Terutama untuk serbuk

yang berkhasiat keras dan dalam jumlah kecil.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam membuat serbuk :

a. Obat yang berbentuk Kristal / bongkahan besar hendaknya digerus halus dulu.
b. Obat yang berkhasiat keras dan jumlahnya sedikit dicampur dengan zat penambah ( konstituen ) dalam

mortir.

c. Obat yang berlainan warna diaduk bersamaan agar tampak bahwa serbuk sudah homogen.

d. Obat yang jumlahnya sedikit dimasukkan terlebih dahulu.

e. Obat yang volumenya kecil dimasukkan terlebih dahulu. (FI III 23, Ilmu Resep Teori jilid I)

Supaya dapat terbagi tepat, maka campuran serbuk sering ditambah zat tambahan yang

berkhasiat netral atau indiferen, seperti Saccharum Album, Saccharum Lactis, sampai berat serbuk tiap

bungkusnya 20 mg. Penggunaan Saccharum Album ada keuntungannya sebagai korigen rasa, tetapi

serbuk akan mudah basah karena higroskois. Serbuk yang diberikan kepada pasien diabetes tidak boleh

digunakan Saccharum Album sebagai zat tambahan. Tetapi digunakan Mannitum atau Saccharum Lactis.

(IMO, 35)

Dalam membuat serbuk lebih baik bila bahan-bahan baku serbuk kering. Maka itu untuk

menggerus halus serbuk Kristal lebih baik menggunakan mortir panas. Jika jumlah obat kurang dari 50

mg atau jumlah tersebut tidak dapat ditimbang, harus dilakukan pengenceran menggunakan zat

tambahan yang cocok. Obat bermassa lembek misalnya ekstrak kental dilarutkan kedalam pelarut yang

sesuai secukupnya dan diserbukkan dengan pertolongan zat tambahan yang cocok. Jika serbuk obat

mengandung bahan yang mudah menguap, dikeringkan dengan pertolongan kapur tohor atau bahan

pengering lain yang cocok. (FI III 23, IMO, 37)

Kelebihan dan kelemahan sediaan serbuk :

Kelebihan :

- Dokter lebih leluasa dalam memilih dosis yang sesuai dengan keadaan

si penderita.

- Lebih stabil terutama untuk obat yang rusak oleh air.

- Penyerapan lebih cepat dan sempurna dibanding sediaan padat lainnya.


- Cocok digunakan untuk anak-anak dan orang dewasa yang sukar menelan kapsul dan tablet.

- Obat yang terlalu besar volumenya untuk dibuat tablet atau kapsul dapat dibuat dalam bentuk serbuk.

Kelemahan :

- Tidak tertutupnya rasa tidak enak seperti pahit, sepat, lengket dilidah ( bisa diatasi dengan corrigens

saporis )

- Pada penyimpanan menjadi lembab. ( Ilmu Resep Teori jilid I, hal 24)

Ada tiga kategori kualitas wadah, yaitu :

- Wadah tertutup rapat, harus melindungi isinya terhadap masuknya bahan padat, lengas dari luar dan

mencegah kehilangan, pelapukan, pencairan dan penguapan pada waktu penggunaan, pengangkutan,

penyimpanan dan penjualan dalam kondisi normal.

- Wadah tertutup baik, harus melindungi isinya terhadap pemasukkan pengangkutan, penyimpanan dan

penjualan dalam kondisi normal.

- Wadah tertutup kedap, harus mencegah menembusnya udara atau gas pada waktu pengurusan,

penyimpanan, dan penjualan dalam kondisi normal. (IMO, 26)

Kerusakan sediaan makroskopik dapat dilihat dari timbulnya bau yang tidak enak, perubahan

warna, benyek, atau menggumpal. Sediaan ini dapat disimpan dalam wadah tertutup rapat, ditempat

yang sejuk dan kering, dan terlindung dari sinar cahaya matahari. (FI IV)

Cara mencampur obat - obatan dan bahan bahan tambahan harus cermat, dan perlu

diperhatikan untuk pembuatan pulveres :

1. Jangan mencampur obat berkhasiat keras dalam mortir dalam keadaan tidak diencerkan, untuk mencegah

sebagaian obat tertinggal dalam pori pori dinding mortir.

2. Bila bagian bagian serbuk mempunyai BJ-nya besar kemudian dimasukkan bagian serbuk yang BJ-nya

lebih rendah dan diaduk.


3. Jangan menggerus bahan bahan serbuk dalam jumlah banyak sekaligus. Hal ini untuk menghindari agar

jangan sampai ada bagian serbuk yang belum halus.

4. Dalam membuat serbuk lebih baik bila bahan bahan baku serbuk kering.

5. Apabila dalam serbuk terdapat campuran maka dilakukan dengan cara larutkan campuran denagan

spiritus fortior dalam mortir sampai cukup larut, jangan berlebihan setelah diaduk dengan bahan lain

misalnya Saccharum Lactis sampai fortior menguap. Pada waktu mengaduk jangan ditekan untuk

menghindari campuran menggumpal lagi.

6. Apabila dalam serbuk terdapat Stibii Pentasulfidum dilakukan dengan cara memasukkan sebagian

Saccharum Lactis atau bahan lain dalam mortir lalu masukkan serbuk Stibii Pentasulfidum dan tambahan

Saccharum Lactis atau serbuk lain diaduk dan digerus tanpa ditekan.

7. Bila didalam serbuk terdapat ekstra kental dilakukan dengan cara mengencerkan terlebih dahulu ekstra

kental dalam mortir panas dan ditambahkan dengan cairan penyari spiritus Dilutus lalu diserbukkan

dengan Saccharum Lactis.

8. Bila didalam serbuk terdapat Tinctura atau Extractum Liquidum dilakukan dengan cara, Tinctura atau

Extractum Liquidum diuapkan pelarutnya diatas tangas air hingga hampir kering lalu serbukkan dengan

Saccharum Lactis.

9. Bila kandungan zat berkhasiat tidak mudah menguap atau rusak yang jumlahnya kecil maka digunakan

mortir panas dan dikeringkan dengan penambahan Saccharum Lactis.

10. Gula minyak = Elaeosacchara adalah campuran 2 gr Saccharum Lactis dengan 1 tetes minyak eteris. Gula

berminyak tidak boleh disimpan sebagai persediaan dan dikemas dalam kertas perkamen jangan dengan

kertas paraffin.

11. Bila campuran serbuk yang lain menjadi basah atau mencair. Arti basah disini menyerap air atau keluar

air kristalnya, menyerap air ini disebabkan oleh karena campuran serbuk ini lebih higroskopis dari
masing-masing serbuk atau kristal. Selain itu campuran serbuk dapat menyebabkan turunnya titik lebur

masing-masing serbuk.(Anief, 2003)

Serbuk tak terbagi bila ada cairan atau air kristal harus dihilangkan, maka harus diganti dengan

saccharum lactis sama berat, sedangkan pada serbuk bagi tidak perlu karena tidak ada pengaruh pada

dosis.

Serbuk tabur (pulvis adspersorius) adalah serbuk bebas dari butiran kasar dan dimaksudkan

untuk pemakaian luar. Dalam pembuatan selalu dilakukan obat-obat yang berkhasiat dicampur dengan

Talk atau Bolus Alba, tetapi tidak dengan Oxydi Zinci dan zat lain yang sama.

Syarat-syarat serbuk tabur yaitu :

a. Talk, kaolin, dan bahan mineral lain yang digunakan untuk serbuk tabur harus memenuhi syarat bebas

dari bakteri Clostridium Tetani, Clostridium Welchii, dan Bacillus Anthracis.

b. Harus melewati ayakan 100 mesh agar tidak menimbulkan iritasi pada bagian yang peka.

c. Serbuk tabur tidak boleh digunakan untuk luka terbuka.

Cara membuat serbuk tabur yang mengandung yaitu :

1. Adeps lanae, Vaselinum, Plumbi Oxydi Emplastrum ialah dengan melarutkan zat tersebut dalam Aether

atau Aceton, lalu ditambahkan sebagian Talk diaduk sampai Aether atau Aceton menguap, setelah itu

ditambah bahan lainnya.

2. Paraffinum Liquidum dan Oleum Ricini dicampur dulu dengan sama banyaknya Talk lalu ditambahkan

sedikit semi sedikit dan diaduk, sambil yang melakat pada dinding mortir dilepas dengan spatel atau

kertas film dan diaduk.

3. Ichtyol diencerkan dulu dengan Aether cum Spiritus lalu dikeringkan dengan talk, yaitu sambil diaduk

dibiarkan Aether cum Spiritus menguap lalu ditambahkan sisa talk dan serbuk lain, sambil yang melekat

pada dinding mortir dilepas dengan spatel atau kertas film.


4. Minyak-minyak eteris dan Formaldehyde Solutio dicampur terakhir dengan cara memasukkan zat tersebut

dalam mortir lalu ditambahkan campuran serbuk yang telah diayak sedikit demi sedikit.

Kekurangan serbuk sebagai bentuk sediaan, termasuk keengganan minum obat yang pahit atau rasa

yang tidak enak, kesulitan menahan terurainya bahan-bahan higrokopis mudah mencair atau menguap

yang dikandungnya dalam waktu serta biaya yang dibutuhkan pada pengolahan dan pembungkusan

dalam keseragaman dosis tunggal. Untuk mencapai efisien yang tinggi, serbuk harus merupakan adonan

yang homogen dari seluruh komponennya dan harus sempurna ukuran partikelnya.

BAB III
Pelaksanaan Pratikum
RESEP I
I. Resep Asli
Dr.Cornelia Sulla
Jl. A.W Syahranie 226 Samarinda
SIP : 325 / DKK DU /111/2012
Samarinda , 17 September 2012
R/loco Bedak Yekacil 10
adde
Rose Oil gtt I
S.u.e
Pro : Takbir
Umur : 8 Tahun

1. Kelengkapan resep
o Alamat pasien tidak tertera
o Paraf dokter tidak tertera
2. Penggolongan obat
o O:
o W:
o G:
o B: Balsam Peru(form-in,16),camphora,asam salisat,menthol,Zno,rose
oil(ISO 46 ,383)
1. Komposisi bahan
1. Asam salisilat
2. Balsam Peru

3. Kamper

4. Menthol

5. Zno

6. Rose Oil
1 tetes
7. Talc

I. Uraian Bahan
1) Asam Salisilat
a) Sinonim : Acildum salicylicum (F1 III hal 56.)
b) Khasiat :Keratolitikum,antifungi
c) Farmakologi :
d) Pemerian : Hablur ringan tidak berwarna / serbuk hablur putih,hampir tidak berbau, rasa manis dan
tajam
e) Kelarutan :larut dalam 550 bagian air dalam 4 bagian etanol ;mudah larut dalam kloroform dalam
eter . larutan dalam larutan ammonium asetat .kalium sitrat dan natrium sitrat
f) Dosis :
g) Inkompatibilitas :
2) Balsam Peru (FI III,102)
a) Sinonim :Balsamum peruvianum
b) Khasiat : antiseptikum ekstem
c) Pemberian: Serbuk kelabu, coklat (F1 III hal 962)
d) Farmakologi : -
e) Kelarutan : larut dalam etanol campur 1 bagian volume dengan 1 bagian volume etanol ;terjaddi
larutan jernih yang dengan penambahan 2 bagian volume etano .larutan menjadi keruh
f) Dosis : -
g) Inkompatibilitas : -
3) Kamper (FI III 130)
a. Sinonim : champora
b. Khasiat : antiritan
c. Famakologi : -
d. Kelarutan : larut dalam 700 bagian air dalam 1 bagian etanol (95%); dalam 0,25 bagian kloroform
; sangat mudah larut dalam eter ; mudah larut dalam minyak lemak.
e. Pemerian : hablur butir atau massa hablur; tidak berwarna atau putih; bau khas,tajam,rasa pedas
dan aromatic.
f. Dosis : -
g. Inkompatibilitas :
4) Menthol (FI III 636)
a) Sinonim : mentholum
b) Khsiat : korigen; antiritan
c) Farmakologi : -
d) Kelarutan : sukar larut dalam air ,sangat mudah larut dalam etanol (95%) dalam kloroform dan
dalam eter ; mudah larut dalam paraffin cair dan dalam minyak atsiri.
e) Pemerian : hablur berbentuk jarum atau prisma ;tidak berwarna; bau tajam seperti minyak
permen; rasa panas dan aromatik diikuti rasa dingin.
f) Dosis : -
g) Inkomportibilitas : -
5) Zno
a) Sinonim : zinci Oxydum(FI III 636)
b) Khasiat : Antiseptik local adalah obat yang digunakan di permukaan untuk mengurangi adanya
narkoba
c) Farmakologi : -
d) Kelarutan : praktis tidak larut dalam air dan etanol (95%) ; larutan dalam asam mineral encer dan
dalam larutan alkali hidroksida
e) Pemerian : Serbuk amorf,sangat halus , putih atau putih kekuningan,tidak berbau tidak
berasa,lambat laun menyerap karbon dioksida dari daun
f) Dosis : -
g) Inkompatibilitas : -
6) Talk (FI III 591)
a) Sinonim : talcum
b) Khasiat : sabagai zat tambahan
c) Farmakologi : -
d) Kelarutan : tidak larut dalam hamper semua pelarut
e) Pemerian : serbuk,sangat halus liar,mudah melekat pada kulit bebas dari butiran,warna putih atau
putih kelabu.
f) Dosis :
g) Iknkompabilitas :
7) Rose Oil
a) Sinonim : minyak mallar / oleum rosae
b) Khasiat : -
c) Kelarutan : larut dalam 1 bagian kloroform , larutan jernih
d) Farmakologi : -
e) Pemerian : cairan tidak berwarnaatau kuning; bau menyerupai bunga mawar rasa khas , pada suhu
25 derajat kental,jika didinginkan perlahan lahan berubah menjadi massa hablur
f) Dosis :
g) Inkompabilitas :
II. PENIMBANGAN.
3 Menthol
Menthol 24 mg
Menthol yang ditimbang 40mg
Diencerkan dengan talc 100mg

Penimbangan bahan
a) Asam salisilat
b) Balsam Peru
c) Kamper
d) Menthol
e) Zno
f) Talc
g) Rose Oil 1 tetes
III. CARA KERJA
a) Sediakan alat dan bahan yang digunakan
b) Timbang bahan bahan sesuai perhitungan
c) Ayak zinc oxydum dengan ayakan no.100
d) Ayak talc dengan ayakan no.120 bagi menjadi 3 bagian
e) Campurkan menthol dan kamper ,gerus,setelah mencair tambahkan 1/3 bagian talc hingga
homogen ,kemudian tambahkan sisa talc untuk mengeringkannya
f) Campurkan belerang endapan kedalam campuran gerus ad homogeny
g) Tetesi Rose Oil sebanyak 4 tetes
h) Timbang bobot serbuk dimasukkan kedalam pot sesuai ukuran beri etiket biru

I. PENANDAAN
Etiket = Warna biru
LABOLATURIUM FARMASETIKA
AKADEMI FARMASI SAMARINDA
APT.HUZAEFAH ARSYAD
NO.1 17/September/2012
Meranti
Untuk pemakaian luar
OBAT LUAR

I. EDUKASI
Indikasi obat ini adalah untuk mengurangi gsatal pada kulit yang disebabkan oleh iritasi
Hindari penggunaan dekat selaput mata dan kulit yang terbuka
Sebaiknya digunakan setelah mandi
Jika pemakaian tidak kunjung sembuh,segera hubungi dokter
RESEP II
1. Resep Asli
Dr.Cornelia Sulla
Jl. A.W. Sjahranie 226 Samarinda
SIP : 325 / DKK DN / III / 2012

Samarinda, 17 September 2012


R/Camplora
Zinci Oxydium
Amylum aa 1
Acid.Sulyc 0.1
Talc.Venel ad 10
M.F.I.a.pulu.adsp.dos.UB
Pro : Tn. Yunus.
a. Resep Standar
RI Chaptura
Zinu Oxydum
b. Keleng Kapan Resep
- Umur pasien tidak tertera
- Paraf dokter tidak tertera
- Alamat pasien tidak tertera
c. Penggolongan obat
- Narkotika :
- Keras :
- Bebas terbatas :
- Bebas : Camplora, zinci, oxydum, amylum, acid, salyc, talc
venet
d. Komposisi Bahan
Tiap 1 pot mengandung
- Champura : 50 mg
- Zinci oxydum : 1000 mg
- Amylum : 1000 mg
- Acid Salye : 100 mg
- Tak.Venet : 7850 mg

1. Uraian Bahan
A. Champora (F I III hal.636)
a. Sinonim : Kompar / Kampes
b. Khasiat : Anti Iritasi
c. Farmakologi :
d. Pemerian : Hablur putih / massa hablur, tidak berwarna / putih, bau khas
tajam, rasa pedas
e. Kelarutan : Larut dalam 700 bagian air dalam 1 bagian ekanol (95 %) P dalam 0,25 bagian
kloform P, sangat mudah larut dalam eter, mudah larut dalam minyak lemak.
f. Dosis :
g. Inkompatibilitas :
B. Zinci Oxydum (FI III hal 636)
a. Sinonim : Sengokisida (FI III hal. 636 )
b. Khasiat : Antiseptikum local (FI III hal. 637 )
c. Farmakologi :
d. Pemerian : serbuk amorf, sangat halus, putih /putih kekuningan, tidak berbau,
tidak keras, lambat laun menyerap karbondioksida dari udara.
a. Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air dan dalam etanol (95 %) larutan
alkali hidroksida .
b. Dosis :
c. Inkompatibilitas :
2. Amylum Orizae
a. Sinonim : Poti beras (FI III hal 93 )
b. Khasiat : Zat tambahan (FI III , hal 93 )
c. Farmakologi : -
d. Pemerian : Serbuk sangat halus, putih, tidak berbau, tidak terasa,
(FI III hal 93 )
e. Kelarutan : Kesamaan kebiasaan, batas jasad renik, jadi
pengeringan ( FI III hal 93)
f. Dosis :
g. Inkompatibilitas:
3. Acid Salyc
a. Sinonim : Asam Salisilut (FI III , hal 56 )
b. Khasiat : keratolitkum antifungsi ( FI III , hal 57 )
c. Farmakologi : Zat ini bekerja keratulitis yaitu dapat melarutkan
lapisan tanduk kulit pada konsentrasi 5-10 % (0 0p
hal 100 )
d. Pemeran : hablur ringan tidak berwarna / serbuk berwarna putih
hamper tidak berbau, rasa agak manis dan tajam ( FI
III hal 156 )
e. Kelarutan : Larut dalam 550 bagian air dan dalam 4 bagian ekanol
(95 %), mudah larut dalam kloroform p dan dalam eker
p. larut dalam larutan emanium asetat p. diratium
hydrogen kosfat p, kolium sitrat p dan natrium p. ( FI .
III hal 56 )
f. Dosis :
g. Inkompatibilitas:
4. Talc Venet
a. Sinonim : Tal cum, Talk ( FI III ,hal 591 )
b. Klasiat : Zat tambahan (FI hal 592 )
c. Farmakologi :
d. Pemerian : Serbuk hablur, sangat halus licin, mudah melekat pada
kulit, bahan dari butiran warna putih putih kelabu (FI
III hal 591 )
e. Kelarutan : tidak terlarut hamper pada semua pelarut ( FI III hal
591 )
f. Dosis :
g. Inkompatibilitas:
1. Perhitungan Dosis
Tidak perlu dihitung karena obat luar
2. Perhitungan penimbangan
- Champlora : 0,05 = 50 mg
- Amylum : 19 =1000 mg
- Zinci Oxydum : 19 =1000 mg
- Acid Salyc : 0,1 = 100 mg
- Talc Renet : ad 10 = 10 (0,05 + 1 + 1 + 0,1 )
= 10 . 2,15 7,85 g = 7850 mg
3. Cara Kerja
a. Siapkan alat dan bahan
b. Ditimbang semua barang yang diperlukan
c. Masukkan champlora lalu tetesi ekanol (95 % ) 2 3 tetes gerus ad larut
d. Masukkan sebagian Talc venet kedalam mampang lalu gerus sampai homogeny
e. Masukkan Acid Xamylum kedalam mampang lalu gerus ad homogeny
f. Ayak Zno lalu masukkan kedalam mampang gerus ad hormonya
g. Keluarkan lalu ayak, masukkan kedalam pot yang sesuai
h. Timbang bobot akhir
i. Masukkan kedalam pot lalu beri etiket biru
4. Penadaan
LABOLATURIUM FARMASETIKA
AKADEMI FARASI SAMARINDA
Apt : Huzaefah Arsyad
No.2 Samarinda, 17 september 2012
Tn.Yunus
Taburkan pada bagian yang sakit obat luar
5. Edukasi
a. Obat ini berkhasiat sebagai anti iritasi pada kulit
b. Obat disimpan ditempat sejuk dan kering, jauhkan dari jangkauan anak-anak
c. Obat digunakan untuk obat luar
d. Tidak boleh digunakan pada bagian kulit yang terluka
e. Sebaiknya digunakan sesudah mandi (pagi dan malam)
Resep Asli III
Resep Asli
Dr.Cornelia Sulla
Jl. A.W. Sjahranie 226 Samarinda
SIP : 325 / DKK DU / III / 2012

Samarinda, 17 September 2012


R/Ammon.Bromid 0,2
Elacosacch Anisi 0,4
Carmne 2,5 mg
M.F./.a.pulv.at.d.No. +
5.0.m et v.pulv./a.c
Pro : Rabiah.
Umur : 7 tahun
a. Resep Standar
Elakosucchara Anisi (f Bukando 193)
R/2 gram sacchara
1 tetes eloum anisi
b. Kelengkapan resep
- Paraf dokter tidak tertera
- Alamat pasien tidak tertera
c. Penggolongan Obat
- Narkotika :
- Keras : Ammon Bremit
- Bebas terbatas :
- Bebas :
d. Komposisi bahan
- Ammon bromid : 0,2
- Elaeosacch Anisi : 0,4
- Carmine : 2,5
II. Uraian Bahan
1. Ammon Bromid (FI III , hal 87)
a. Sinonim : Amonium Bromida
b. Lukosiat : Sedatrium
c. Farmateknologi : Menurunkan aktifitas mengurangi keregangan dan memenangkan penggunaan
keadaan sedasi juga merupakan efek samping dari banyak obat yang khasiat utamanya tidak
menekan ssp misalnya anti kolonergika ( OOP hal 381)
d. Pemerian : hablur / serbuk hablur, tidak berwarna sampai putih kekuningan lemah, tidak berbau,
higroskopit.
e. Kelarutan : Larut dalam 1,3 bagian air dan dalam 12 bagian etanol (95 %) P
f. Dosis : DL = 1x= -
1hari= 6 mg/kg dibagi dalam 3 dosis
DM = 1x = 1 g
1 hari= 3 g
g. Inkompatibilitas:
2. Carmine
a. Sinonim : karmin ( FI IV . hal 488)
b. Khasiat : Bahan tambahan pewarna (FI IV, hal 488)
c. Farmakologi
d. Pemerian : sebutan / massa hablur keras, merah, tidak berbau dan rasa sedikit
manis, stabil diudara, tetapi tidak mudah menyerap bau. (FI IV. Hal
488)
e. Kelarutan : Mudah / pelan-pelan larut dalam ai, mudah larut dalam air mendidih /
sangat sukar larut dalam etanol, tidak larut dalam Horoform (FI IV
hal 488)
f. Dosis :
g. Inkompatibilitas:
3. Ellaesach Anisi
a. Sinonim : Oleum anis, minyak adasmany (FI III hal 451)
b. Khasiat : Zat tumbuhan (FI III hal 452)
c. Farmakologi:
d. Pemerian : Cairan, tidak berwarna / warna kuning pucat, bau menyapa buahnya,
rasa manis dan aromatika, menghablun jika diinginkan (F1 III hal452)
e. Kelarutan : dalam ethanol larutan dalam 3 bagian lolemd ethanol (95%) P larutan
meningkatkan opelesensi tidak lebih kuat dari opelesensi yang terjadi
jika 0,5 ml perk nitrat 0,1 N ditambahkan pada campuran 0,5 ml
natrium klorida 0,02 N dan 50 ml air (FI III hal 452)
f. Dosis :
g. Interkompatibilitas:
III. Perhitungan Dosis
1. Ammond Bromnd
DM dewasa : 1kali = 1 gram
1hari = 3 gram
DL : 1x = -
1L = 60 mg / kg (dibagi dalam 3 bungkus)
BB : anak wanita umur 7 tahun 6 bulan = 17,5 kg
7 tahun 6 bulan 90 bulan = BB = 17,5 kg
BB / bulan =
= 0,194 kg / bulan
BB 7 th (84 bulan) = 0,194 kg / bulan x 84 bulan
= 16,29 kg
DL anak : 1H = 6 mg / kg x 16,29 kg
1 = 979 mg
= 980 mg
1x =
= 326,67 mg
DL anak : 1x = ( )
= 0,368 g = 368 mg
1H =
= 1,105 g
= 1.105 mg
DDR : 1x = 0,2 g x 1 = 0,2 g = 200 mg
1H = 0,29 x 2 = 0,49 = 400 mg
Kesimpulan = DDR subterapi
Rekomendasi : Dosis dinaikkan 1x = 330 mg
1H = 330 mg.2 = 660 mg
IV. PENIMBANGAN
1.Ammon Bromida = 330 mg x 10 = 3.300 mg
2. Ellaeosacch anisi = 400 mg x 10 = 4000 mg
-Oleum Anisi = 2 tetes
- Sacchrum =4g
3. Carmine = 2,5 mg x 1 = 25 mg
V. CARA KERJA
1. Disiapkan alat dan bahan
2. Ditimbang bahan bahan yang akan digunakan sesuai dengan perhitungan
3. Masukkan amori kromida kedalam mortir lalu genis sampai halus
4. Tambahkan sebagian Saccharum dan Carmine
5. Masukkan sisa Saccharum kedalam campuran no.4 lalu genis sampai homogeny
6. Masukkan Oleum anisi 2 tetes bagian sama rata lalu timbang
7. Bagi bahan menjadi 2 bagian sama rata lalu timbang
8. Bagi masing-masing bahan menjadi 5 bagian diatas kertas perkamen
9. Lalu dikemas dan diberi etikel berwarna putih
VI. Penandaan
Etike Putih
LABOLATURIUM FARMASETIKA
AKADEMI FARASI SAMARINDA
Apt : Huzaefah Arsyad
No.3 17 September 2012
Rabiah
2x sehari 1 bungkus
Pagi dan malam sebelum makan
Tidak boleh diulang tanpa resep dokter
3 EDUKASI
- Obat ini digunakan untuk sedativum
- Diminum 2 kali sehari pagi dan malam sebelum makan
BAB IV
Pembahasan
Resep 1

Pada pratikum ini pratikan membuat sediaan berupa serbuk. Dengan zat aktif yang terkandung

dalam sediaan ini adalah Asetosal , Serbuk candu majemuk yang dimana masing masing zat aktif yang

terkandung termasuk golongan obat yang berbeda beda antara lain asetosal dan kamfer termasuk

golongan obat Bebas sedangkan Serbuk candu majemuk merupakan golongan obat narkotik ( O ).

Dimana asetosal berkhasiat untuk menghilangkan rasa nyeri dan penurun panas, serbuk candu majemuk

berkhasiat sebagai antitusif ( meredakan batuk kering ) .

Cara pengerjaannya dimana asetosal digerus tersendiri terlebih dahulu sampai halus lalu dicampur

dengan serbuk candu majemuk sehingga didapatkan serbuk yang homogen, lalu timbang bahan menjadi

2 bagian sama banyak yaitu masing masing 5 bagian sama banyak dan beri etiket putih dan tanda

TIDAK BOLEH DIULANG TANPA RESEP DOKTER . Dimana sediaan serbuk berfungsi untuk sebagai obat

demam dan penghilang rasa nyeri.

Resep 2

Pada resep ini merupakan sediaan obat luar yaitu obat tabur, yang zat aktif terkandung dalam

sediaan adalah Camphor dan Acid salyc termasuk obat yang tergolong obat bebas dimana masing

masing berkhasiat sebagai anti iritan atau korigen sedangkan Acid salyc berkhasiat sebagai keratolitikum

( anti fungi ). Adapun bahan bahan yang lain berupa Amylum, Zinci,dan Talc venet dimana tergolong

obat bebas.
Adapun cara pengerjaannya perlakuan khusus pada menthol dan acid salyc dilarutkan dengan

etanol 95 % kemudian keringkan dengan talcum, sedangkan Zno sendiri diayak terlebih dahulu lalu

digerus sampai halus. Kemudian bahan bahan bisa dicampurkan lalu gerus sampai diperoleh sediaan

serbuk tabur yang homogen, timbang bobot pot salep sebelum diisi dan sesudah diisi untuk mengetahui

bobot akhir beri etiket biru. Sediaan obat tabur berfungsi untuk mengatasi iritasi yang disebabkan oleh

jamur dan kuman bukan untuk obat dalam.

Resep 3

Resep ini pratikan membuat sediaan serbuk, yang zat aktifnya yaitu Ammon bromid yang

tergolong obat bebas terbatas dengan khasiat yaitu sebagai sedativum

( penenang ) sedangkan. Adapun zat tambahan sediaan tersebut adalah SL dan karmin yang berfungsi

sebagai pemanis dan pewarna serbuk untuk mengetahui homogen atau tidaknya sediaan serbuk

tersebut.

Cara pengerjaannya yaitu perlakuan khusus pada Ammon Bromid digerus dalam lumpang panas,

lalu tambahkan SL dan dan hasil pengenceran karmin apabila lumpang telah dingin masukkan Oleum

feonic gerus sampai halus sampai diperoleh sediaan yang homogen, dikemas dan beri etiket putih.

Sediaan ini berfungsi untuk meredakan batuk kering dan kejang pada perut yang disebabkan oleh jamur

dan kuman bukan untuk obat dalam

BAB V
Penutup
A.Kesimpulan
Resep 1

Pada resep ini merupakan sediaan serbuk yang berkhasiat sebagai obat demam dan penghilang rasa

panas. Diminum 3 x sehari setelah makan dimana obat ini memiliki efek samping pada dosis besar yaitu

terjadi pendarahan jantung dan menurunkan fungsi ginjal.

Resep 2
Pada resep ini merupakan sediaan serbuk tabur yang berkhasiat untuk mengatasi iritasi yang

disebabkan oleh jamur dan kuman, baik digunakan setelah mandi yaitu pada pagi dan malam hari yaitu

ditaburkan pada bagian yang gatal - gatal. Pemakaian dapat dihentikan apabila terjadi iritasi yang

berlebihan.

Resep 3

Pada resep ini sediaan berbentuk serbuk yang berkhasiat sedativum. Diminum setiap pagi hari sebelum

makan, pemakaian dapat dihentikan apabila penyakit tak kunjung sembuh.

B.Saran
Praktikan diharapkan di praktikum selanjutnya bisa melaksanakan praktikum lebih baik lagi dan tidak

banyak kesalahan dalam membuat jurnal praktikum, pratikan juga harus bisa membaca resep . Selain itu

berhati hatilah dalam mencampur bahan obat-obatan.Dalam praktikum keseriusan harus di utamakan.

BAB VI

DAFTAR PUSTAKA

Amonim, 1979. Farmakope Indonesia III. Depkes RI : Jakarta

Informasi Spesialit Obat (ISO). Indonesia : ISFI

Anief, Muhammad, 1987. Ilmu Meracik Obat. Gajah Mada University Press : Yogyakarta
Documents.tips

Login / Signup


Leadership
Technology
Education
Marketing
Design
More Topics

Search

1. Home
2. Documents
3. Modul Farmasetika

8
Modul Farmasetika Dasar

PERCOBAAN I

PENGENALAN ALAT-ALAT FARMASETIKA

Dalam praktikum farmasetika (meracik obat) alat-alat yang digunakan pada

umumnya berbeda. Untuk mendukung pengerjaan dalam membuat suatu resep,

diperlukan pengenalan alat-alat yang sering digunakan dalam praktikum

Farmasetika Dasar. Seperti timbangan, lumpang dan alu, pengisi kapsul (filling

capsule) dan sebagainya.

1. Timbangan

Dalam mengerjakan suatu resep, bahan-bahan yang tertera pada resep

tersebut harus ditimbangan sesuai jumlah yang diinginkan. Ada 3 jenis timbangan

obat:

a. Timbangan kasar

Timbangan kasar memiliki daya beban 250 gram hingga 1000 gram
dengan kepekaan 200 mg

b. Timbangan gram halus

Timbangan gram halus memiliki daya beban 100 gram hingga 200 gram

dengan kepekaan 50 mg

c. Timbangan milligram

Timbangan milligram memiliki daya beban 10 gram hingga 50 gram

kepekaan 5 mg.

Daya beban adalah bobot maksimum yang boleh ditimbang. Kepekaan

adalah tambahan bobot maksimum yang diperlukan pada salah satu piring

timbangan, setelah keduanya diisi muatan maksimum menyebabkan ayunan jarum

timbangan tidak kurang dari 2 mm tiap dm panjang jarum. Apabila bobot bahan

yang ditimbang kurang dari 50 mg, maka harus dilakukan pengenceran terlebih

dahulu.

Modul Farmasetika Dasar

Gambar timbangan gram halus :

Cara Penimbangan:

1. Diperiksa apakah semua komponen timbangan/neraca sudah sesuai pada

tempatnya.

2. Periksa kedudukan timbangan sudah sejajar/rata, dapat dilihat dari posisi

anting (3) dengan alas anting harus tepat. Bila belum tepat kita putar skrup

pengatur tinggi (2) papan landasan.

3. Sekali lagi kita periksa apakah posisi pisau (7) dan (8) sudah pada

tempatnya. Bila sudah maka tuas (6) kita putar maka timbangan akan

terangkat dan akan kelihatan apakah piringnya seimbang atau berat


sebelah. Bila tidak seimbang kita dapat memutar mur (10) kiri atau kanan

sesuai dengan keseimbangannya, sehingga neraca seimbang.

4. Setelah itu baru kita letakkan kertas perkamen/alas timbangan diatas kedua

piring timbangan, angkat tuas (6) untuk memeriksa apakah timbangan

sudah seimbang. Bila sudah seimbang, maka penimbangan bahan-bahan

bisa dimulai.

5. Proses penimbangan hendaknya dilakukan secara efisien, tangan kanan

untuk mengambil bahan yang akan ditimbang, sedangkan tangan kiri untuk

memutar tuas (6). Demikian juga untuk posisi anak timbangan dan tarrer

hendaknya di neraca kiri dan bahan di neraca kanan.

6. Anak timbangan (khususnya anak timbangan milligram) diambil

menggunakan pinset.

7. Setiap selesai menimbang, hendaknya anak timbangan dan tarreran

diturunkan dari piringan timbangan.

Keterangan:

1. Papan landasan timbangan

2. Tombol pengatur tegak berdirinya

timbangan

3. Anting penunjuk tegaknya timbangan

(waterpas)

4. Jarum timbangan

5. Skala

6. Tuas penyangga timbangan

7. Pisau tengah/pisau pusat

8. Pisau tangan
9. Tangan timbangan

10. Tombol/mur pengatur keseimbangan

11. Piring timbangan

10

Modul Farmasetika Dasar

2. Lumpang dan Alu

Lumpang dan alu merupakan wadah atau peralatan yang terbuat dari

porselen yang digunakan untuk menggerus atau mencampur bahan-bahan obat.

Dalam menggerus atau mencampur bahan obat (terutama obat keras), lebih baik

dipilih lumpang yang lebih halus dan pori-pori lumpang sangat kecil. Alu diletakkan

di samping lumpang dengan posisi kepala alu menghadap ke kita. Hal ini untuk

mencegah alu berputar dengan diameter lebih luas dan memungkinkan jatuh dari

meja kerja.

3. Penangas Air (waterbath)

Penangas air (waterbath) adalah alat

yang digunakan untuk memanaskan atau

melebur suatu bahan dengan suhu maksimal

100C. Pemanasan dilakukan dengan uap

panas yang dihasilkan dari pemanasan air.

Suhu penangas air dapat diatur sesuai dengan suhu yang diinginkan. Penangas

air biasa digunakan untuk melebur basis, menguapkan ekstrak atau tingtur,

pemanasan untuk mempercepat kelarutan dan lain-lain.

4. Cetakan Suppositoria

Suppositoria merupakan suatu sediaan padat yang digunakan melalui dubur

dan berbentuk torpedo. Bentuk torpedo dihasilkan melalui cetakan suppositoria


yang terbuat dari besi dan dilapisi nikel atau dari logam lain, ada juga yang dibuat

dari plastik. Cetakan ini mudah dibuka secara longitudional untuk mengeluarkan

supositoria. Alat ini memiliki 6 lubang atau 12 lubang suppositoria yang dapat

dibuka secara longitudinal dan terdapat skrup pengencang untuk merapatkan

kedua bagian alat cetak tersebut ketika basis yang telah dilebur akan dimasukkan

ke dalam alat cetak.

Untuk menghindari masa yang hilang maka selalu dibuat berlebih dan untuk

menghindari masa yang melekat pada cetakan maka cetakan sebelumnya

dibasahi dengan parafin, minyak lemak, spritus saponatus (soft soap liniment).

Yang terakhir jangan digunakan untuk suppositoria yang mengandung garam

logam, karena akan beraksi dengan sabunnya dan sebagai pengganti dapat

digunakan larutan oleum ricini dalam etanol.

Alu

Lumpang

10

Modul Farmasetika Dasar

2. Lumpang dan Alu

Lumpang dan alu merupakan wadah atau peralatan yang terbuat dari

porselen yang digunakan untuk menggerus atau mencampur bahan-bahan obat.

Dalam menggerus atau mencampur bahan obat (terutama obat keras), lebih baik

dipilih lumpang yang lebih halus dan pori-pori lumpang sangat kecil. Alu diletakkan

di samping lumpang dengan posisi kepala alu menghadap ke kita. Hal ini untuk

mencegah alu berputar dengan diameter lebih luas dan memungkinkan jatuh dari

meja kerja.

3. Penangas Air (waterbath)


Penangas air (waterbath) adalah alat

yang digunakan untuk memanaskan atau

melebur suatu bahan dengan suhu maksimal

100C. Pemanasan dilakukan dengan uap

panas yang dihasilkan dari pemanasan air.

Suhu penangas air dapat diatur sesuai dengan suhu yang diinginkan. Penangas

air biasa digunakan untuk melebur basis, menguapkan ekstrak atau tingtur,

pemanasan untuk mempercepat kelarutan dan lain-lain.

4. Cetakan Suppositoria

Suppositoria merupakan suatu sediaan padat yang digunakan melalui dubur

dan berbentuk torpedo. Bentuk torpedo dihasilkan melalui cetakan suppositoria

yang terbuat dari besi dan dilapisi nikel atau dari logam lain, ada juga yang dibuat

dari plastik. Cetakan ini mudah dibuka secara longitudional untuk mengeluarkan

supositoria. Alat ini memiliki 6 lubang atau 12 lubang suppositoria yang dapat

dibuka secara longitudinal dan terdapat skrup pengencang untuk merapatkan

kedua bagian alat cetak tersebut ketika basis yang telah dilebur akan dimasukkan

ke dalam alat cetak.

Untuk menghindari masa yang hilang maka selalu dibuat berlebih dan untuk

menghindari masa yang melekat pada cetakan maka cetakan sebelumnya

dibasahi dengan parafin, minyak lemak, spritus saponatus (soft soap liniment).

Yang terakhir jangan digunakan untuk suppositoria yang mengandung garam

logam, karena akan beraksi dengan sabunnya dan sebagai pengganti dapat

digunakan larutan oleum ricini dalam etanol.

Alu

Lumpang
10

Modul Farmasetika Dasar

2. Lumpang dan Alu

Lumpang dan alu merupakan wadah atau peralatan yang terbuat dari

porselen yang digunakan untuk menggerus atau mencampur bahan-bahan obat.

Dalam menggerus atau mencampur bahan obat (terutama obat keras), lebih baik

dipilih lumpang yang lebih halus dan pori-pori lumpang sangat kecil. Alu diletakkan

di samping lumpang dengan posisi kepala alu menghadap ke kita. Hal ini untuk

mencegah alu berputar dengan diameter lebih luas dan memungkinkan jatuh dari

meja kerja.

3. Penangas Air (waterbath)

Penangas air (waterbath) adalah alat

yang digunakan untuk memanaskan atau

melebur suatu bahan dengan suhu maksimal

100C. Pemanasan dilakukan dengan uap

panas yang dihasilkan dari pemanasan air.

Suhu penangas air dapat diatur sesuai dengan suhu yang diinginkan. Penangas

air biasa digunakan untuk melebur basis, menguapkan ekstrak atau tingtur,

pemanasan untuk mempercepat kelarutan dan lain-lain.

4. Cetakan Suppositoria

Suppositoria merupakan suatu sediaan padat yang digunakan melalui dubur

dan berbentuk torpedo. Bentuk torpedo dihasilkan melalui cetakan suppositoria

yang terbuat dari besi dan dilapisi nikel atau dari logam lain, ada juga yang dibuat

dari plastik. Cetakan ini mudah dibuka secara longitudional untuk mengeluarkan

supositoria. Alat ini memiliki 6 lubang atau 12 lubang suppositoria yang dapat
dibuka secara longitudinal dan terdapat skrup pengencang untuk merapatkan

kedua bagian alat cetak tersebut ketika basis yang telah dilebur akan dimasukkan

ke dalam alat cetak.

Untuk menghindari masa yang hilang maka selalu dibuat berlebih dan untuk

menghindari masa yang melekat pada cetakan maka cetakan sebelumnya

dibasahi dengan parafin, minyak lemak, spritus saponatus (soft soap liniment).

Yang terakhir jangan digunakan untuk suppositoria yang mengandung garam

logam, karena akan beraksi dengan sabunnya dan sebagai pengganti dapat

digunakan larutan oleum ricini dalam etanol.

Alu

Lumpang

10

Modul Farmasetika Dasar

2. Lumpang dan Alu

Lumpang dan alu merupakan wadah atau peralatan yang terbuat dari

porselen yang digunakan untuk menggerus atau mencampur bahan-bahan obat.

Dalam menggerus atau mencampur bahan obat (terutama obat keras), lebih baik

dipilih lumpang yang lebih halus dan pori-pori lumpang sangat kecil. Alu diletakkan

di samping lumpang dengan posisi kepala alu menghadap ke kita. Hal ini untuk

mencegah alu berputar dengan diameter lebih luas dan memungkinkan jatuh dari

meja kerja.

3. Penangas Air (waterbath)

Penangas air (waterbath) adalah alat

yang digunakan untuk memanaskan atau

melebur suatu bahan dengan suhu maksimal


100C. Pemanasan dilakukan dengan uap

panas yang dihasilkan dari pemanasan air.

Suhu penangas air dapat diatur sesuai dengan suhu yang diinginkan. Penangas

air biasa digunakan untuk melebur basis, menguapkan ekstrak atau tingtur,

pemanasan untuk mempercepat kelarutan dan lain-lain.

4. Cetakan Suppositoria

Suppositoria merupakan suatu sediaan padat yang digunakan melalui dubur

dan berbentuk torpedo. Bentuk torpedo dihasilkan melalui cetakan suppositoria

yang terbuat dari besi dan dilapisi nikel atau dari logam lain, ada juga yang dibuat

dari plastik. Cetakan ini mudah dibuka secara longitudional untuk mengeluarkan

supositoria. Alat ini memiliki 6 lubang atau 12 lubang suppositoria yang dapat

dibuka secara longitudinal dan terdapat skrup pengencang untuk merapatkan

kedua bagian alat cetak tersebut ketika basis yang telah dilebur akan dimasukkan

ke dalam alat cetak.

Untuk menghindari masa yang hilang maka selalu dibuat berlebih dan untuk

menghindari masa yang melekat pada cetakan maka cetakan sebelumnya

dibasahi dengan parafin, minyak lemak, spritus saponatus (soft soap liniment).

Yang terakhir jangan digunakan untuk suppositoria yang mengandung garam

logam, karena akan beraksi dengan sabunnya dan sebagai pengganti dapat

digunakan larutan oleum ricini dalam etanol.

Alu

Lumpang

of 59
Modul Farmasetika

by vidho-el-rivera

on Oct 15, 2015

Report

Category:

Documents

Download: 0

Comment: 0

263

views

Comments

Description
Penuntun Praktikum Farmasetika Dasar

Download Modul Farmasetika

Transcript

1 Modul Farmasetika Dasar PENUNTUN PRAKTIKUM FARMASETIKA Nama Mahasiswa :


NIM : Kelompok/Gol. : Program Studi :
Fakultas : PENYUSUN ANDI ARJUNA, S.Si, Apt. SHERWIN
ARMANDA, S.Si ARDIAN, S.Si LABORATORIUM FARMASETIK FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS
HASANUDDIN 2010 1 Modul Farmasetika Dasar PENUNTUN PRAKTIKUM FARMASETIKA Nama
Mahasiswa : NIM : Kelompok/Gol. :
Program Studi : Fakultas : PENYUSUN ANDI ARJUNA, S.Si, Apt.
SHERWIN ARMANDA, S.Si ARDIAN, S.Si LABORATORIUM FARMASETIK FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS HASANUDDIN 2010 1 Modul Farmasetika Dasar PENUNTUN PRAKTIKUM
FARMASETIKA Nama Mahasiswa : NIM : Kelompok/Gol. :
Program Studi : Fakultas : PENYUSUN ANDI
ARJUNA, S.Si, Apt. SHERWIN ARMANDA, S.Si ARDIAN, S.Si LABORATORIUM FARMASETIK
FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS HASANUDDIN 2010 1 Modul Farmasetika Dasar PENUNTUN
PRAKTIKUM FARMASETIKA Nama Mahasiswa : NIM :
Kelompok/Gol. : Program Studi : Fakultas :
PENYUSUN ANDI ARJUNA, S.Si, Apt. SHERWIN ARMANDA, S.Si ARDIAN, S.Si LABORATORIUM
FARMASETIK FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS HASANUDDIN 2010
2 Modul Farmasetika Dasar KETENTUAN UMUM PENGENALAN RESEP Dilihat dari arti kata resep
berasal dari kata Recipe bahasa latin artinya Ambillah. Dalam pengertian secara umum
resep ialah Formulae Medicae yang dibagi atas: a. Formulae Officinalis; yaitu resep-resep yang
terdapat dalam buku-buku resmi. b. Formulae Magistrales; yaitu resep-resep yang disusun atao
dibuat oleh dokter berdasarkan pengalaman dan pendapatnya sendiri, kadang-kadang gabungan
dengan formulae officinalis dengan menambah dan mengurangi. Dalam SK. Menkes RI
No.244/Menkes/SK/V/90 memberikan pengertian tentang resep sebagai berikut: Resep adalah
permintaan tertulis dari dokter, dokter gigi, dokter hewan kepada Apoteker Pengelola Apotek
untuk menyediakan dan menyerahkan obat bagi penderita sesuai dengan peraturan perundang-
undangan yang berlaku. Resep harus ditulis dengan jelas dan lengkap. Jika resep tidak jelas atau
tidak lengkap, apoteker harus menanyakannya kepada dokter penulis resep tersebut. Resep
yang lengkap memuat hal-hal sebagai berikut: 1. Nama, alamat, dan no.izin prakter dokter,
dokter gigi, atau dokter hewan. 2. Tanggal penulisan resep (inscription) 3. Tanda R/ pada
bagian kiri setiap penulisan resep (Invocatio) 4. Nama setiap obat dan komposisinya
(Praescriptio/ordonatio) 5. Aturan pemakaian obat yang tertulis (Signatura) 6. Tanda tangan
atau paraf dokter penulis resep sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku
(Subscriptio) 7. Jenis hewan serta nama dan alamat pemilliknya untuk resep dokter hewan; 8.
Tanda seru dan/paraf dokter untuk resep yang melebihi dosis maksimalnya. Dr. Supriyadi SIP.
No.228/K/84 Jl. Budi Kemulyaan No.8A Telp. 1234567 Jakarta Jakarta, 06-09-2010 R/ Acetosal
500 mg Codein HCl 20 mg C.T.M 4 mg S.L qs. m.f.pulv.dtd.No.XV da in caps s.t.d.d caps I
paraf/TTD Pro : Tn Marzuki (18 tahun) Jl. Merdeka 10 Jakarta
3 Modul Farmasetika Dasar Aturan pakai dalam resep sering ditulis berupa singkatan bahasa
latin seperti berikut: a) Tentang waktu omni hora cochlear (o.h.c): tiap jam satu sendok makan
omni bihora cochlear (o.b.h.c): tiap 2 jam satu sendok makan post coenam (p.c): sesudah makan
ante coenam (a.c): sebelum makan mane (m): pagi pagi ante meridiem (a.merid): sebelum
tengah hari mane et vespere (m.et.v): pagi dan sore nocte (noct): malam b) Tentang tempat
yang sakit pone aurem (pon.aur): dibelakang telinga ad nucham (ad nuch): ditengkuk c) Tentang
pemberian obat in manum medici (i.m.m): diserahkan dokter detur sub sigillo (det.sub.sig):
berikan dalam segel da in duplo (d.i.dulp): berikan dua kali reperatur (iteratur) ter. (Rep.ter) :
diulangi tiga kali COPIE RESEP (SALINAN RESEP) Copie resep ialah salinan tertulis dari suatu
resep yang dibuat oleh apotik. Istilah lain dari copie resep (salina resep) ialah apograph,
Exemplum, afschrift, Selain memuat semua keterangan yang termuat dalam resep asli, copie
resep harus memuat pula: 1. Nama dan alamat apotik 2. Nama dan Nomor SIK APA 3. Tanda
tangan atau paraf APA 4. Tanda det (detur) untuk obat yang sudah diserahkan, atau tanda nedet
(ne detur) untuk obat yang belum diserahkan. 5. Nomor resep dan tanggal pembuatan. Copie
resep hanya boleh diperlihatkan kepada dokter penulis resep, penderita yang bersangkutan,
petugas kesehatan atau petugas lain yang berwenang menurut peraturan perundang-undangan
yang berlaku. Copie resep diberikan jika : - Pasien memintanya atau menginginkannya - Pasien
baru mengambil sebagian obatnya, atau dokter menuliskan petunjuk da in dimidio/d.i.d atau da
in duplo/d.i.2.pl - Dalam resep tercantum iter yang artinya pasien tersebut harus mengulangi
penembusan obat setelah resep pertama habis dikonsumsi
4 Modul Farmasetika Dasar Contoh copie resep dapat dilihat dibawah ini. Opium Resep Opium
Resep ialah resep dimana salah satu obat/bahan obatnya tergolong narkotika. Resep yang
mengandung obat narkotika tidak boleh diulangi penyerahan obatnya atas dasar resep yang
sama, kecuali dengan resep baru dari dokter, dan setiap resep yang mengandung narkotika alat
penderita harus diketahui dengan jelas. Untuk menghindari kekeliruan, resep ini diberi tanda
khusus. Cito Resep Cito resep ialah resep dimana dokter menginginkan pengobatan dengan
segera, karena keadaan penderita. Resep semacam ini harus didahulukan penyelenggaraannya
dari resep lain. Tanda-tanda yang biasa digunakan dan ditulis pada bagian kanan sebelah atas
blanko resep yang terdiri dari: (1) Cito = segera (2) Urgent = penting (3) Statim = penting (4)
P.I.M = Periculum in mora = berbahaya bila ditunda Cito resep juga termasuk oba-obat tertentu
yang penggunaannya segera dilakukan yaitu obat yang digunakan untuk antidotum penawar
racun dan obat untuk luka bakar. ETIKET Setelah obatnya selesai dibuat dan telah diperiksa
kembali kemudian dimasukkan kedalam wadah yang telah ditempeli etiket sesuai dengan aturan
Apotek Tarakan Jl. Tenggiri 48 Tlp.5914007 Apoteker: Drs. H.A.Syamsuni,Apt SIK: No. 3959/B
Jakarta, 06-09-2010 Salinan Resep Resep Untuk : A.Faruk Resep dari : Dr.Abdul Muluk Tgl ditulis
resep : 06-09-2010 No.Tgl.Pembuatan : 113,06-09-2010 R/ Acetosal 500 mg Codein HCl 20 mg
C.T.M 4 mg S.L qs. m.f.pulv.dtd.No.XV da in caps s.t.d.d caps I detur p.c.c Cap apotek Yang
menyalin: Drs.Syamsuni,Apt
5 Modul Farmasetika Dasar pemakaian yang tertera dalam resep. Etiket obat berdasarkan resep
dokter terdiri dari: a. Etiket berwarna putih; untuk obat yang digunakan sebagai obat dalam
(peroral) b. Etiket warna biru; untuk obat yang digunakan sebagai obat luar. Pada sebuah etiket
obat berdasarkan resep dokter harus memuat hal hal sbb: a. Nama,alamat,dan No.SIA apotik
b. Nama/SIPA apoteker pengelola apotik. c. No.resep, nama kota, tanggal pembuatan obat. d.
Nama penderita e. Aturan pakai yang jelas f. Paraf pembuatan obat DOSIS Dosis atau takaran
obat adalah banyaknya suatu obat yang dapat dipergunakan atau diberikan kepada seorang
penderita, baik untuk obat dalam maupun obat luar. Menurut FI ed III, ada beberapa jenis dosis
yaitu: 1. Dosis Maksimum (DM), Dosis ini berlaku untuk pemakaian satu kali dan satu hari.
Penyerahan obat yang dosisnya melebihi dosis maksimum dapat dilakukan dengan cara
membubuhkan tanda seru dan paraf dokter penulis resep; member garis bawah nama obat
tersebut; dan menuliskan banyak obat dengan huruf secara lengkap. 2. Dosis Lazim, dosis ini
merupakan petunjuk yang tidak mengikat, tetapi digunakan sebagai pedoman umum. Macam-
Macam Dosis Selain dosis lazim, juga dikenal macam macam istilah dosis yang lain, yaitu 1.
Dosis terapi, takaran obat yang diberikan dalam keadaan biasa dan dapat menyembuhkan
penderita. 2. Dosis minimum, takaran obat terkecil yang diberikan yang masih dapat
menyembuhkan dan tidak menimbulkan resistensi pada penderita 3. Dosis toksik, takaran obat
dalam keadaan biasa yang dapat keracunan pada penderita. 4. Dosis letalis, takaran obat dalam
keadaan biasa yang dapat menyebabkan kematian pada penderita. Dosis maksimum berlaku
untuk obat dengan cara pemakaian: 1. Obat dalam, yaitu obat dengan pemakaian melalui mulut,
kerongkongan terus ke lambung (Peroral, peroos) 2. Obat dengan cara pemakaian melalui
rectal, misalnya clysma/levement dan suppositoria atau obat yang penggunaannya melalui
urogenital, misalnya bacilli, ovula dll.
6 Modul Farmasetika Dasar 3. Obat dengan cara penggunaannya melalui jaringan kulit misalnya
injeksi. PERHITUNGAN DOSIS 1. Perhitungan dosis berdasarkan umur (a) Rumus Young (untuk
anak dibawah 8 tahun)= ( )( ) + 12 (b) Rumus Fried= ( )150 (c) Rumus Dilling (untuk anak
diatas 8 tahun)= ( )20 (d) Rumus Cowling= ( )24 (n adalah umur dalam satuan tahun yang
digenapkan ke atas). Misalnya, umur penderita 1 tahun 1 bulan, maka n dihitung 2 tahun. (e)
Rumus Dilling (untuk anak diatas 8 tahun) Rumus ini berupa pecahan yang dikalikan dengan
dosis dewasa. Aturan sebagai berikut : 0-1 tahun = 1/12 x dosis dewasa 1-2 tahun = 1/8 x dosis
dewasa 2-3 tahun = 1/6 x dosis dewasa 3-4 tahun = 1/4 x dosis dewasa 4-7 tahun = 1/3 x dosis
dewasa 14-20 tahun = 2/3 x dosis dewasa 21-60 tahun = dosis dewasa (f) Rumus Bastedo= ( ) 2.
Perhitungan dosis berdasarkan bobot badan (a) Rumus Clark (Amerika)= ( )150 (b) Rumus
Thremich-Fier (Jerman)= ( )70 (c) Rumus Black (Belanda)= ( )68 (d) Rumus Juncker & Glaubius
(paduan umur dan bobot badan)= %
7 Modul Farmasetika Dasar 3. Perhitungan dosis berdasarkan luas permukaan tubuh (a) Dari
kumpulan kuliah farmakologi UI tahun 1968= 1,75 (b) Rumus Catzel= 100 4. Perhitungan
dosis dengan pemakaian berdasarkan jam (a) Menurut FI ed. III Satu hari dihitung 24 jam
sehingga untuk pemakaian sehari dihitung= 24 ; = Misalnya, s.o.t.h (tiap 3 jam) : = 8 (b)
Menurut Van Duin Pemakaian sehari dihitung untuk 16 jam, kecuali antibiotik dihitung sehari
semalam 24 jam. Untuk contoh yang sama, pemakaian sehari dihitung sebagai berikut ;163 + 1 =
5,3 + 1 = 6,3 ; 7
8 Modul Farmasetika Dasar PERCOBAAN I PENGENALAN ALAT-ALAT FARMASETIKA Dalam
praktikum farmasetika (meracik obat) alat-alat yang digunakan pada umumnya berbeda. Untuk
mendukung pengerjaan dalam membuat suatu resep, diperlukan pengenalan alat-alat yang
sering digunakan dalam praktikum Farmasetika Dasar. Seperti timbangan, lumpang dan alu,
pengisi kapsul (filling capsule) dan sebagainya. 1. Timbangan Dalam mengerjakan suatu resep,
bahan-bahan yang tertera pada resep tersebut harus ditimbangan sesuai jumlah yang
diinginkan. Ada 3 jenis timbangan obat: a. Timbangan kasar Timbangan kasar memiliki daya
beban 250 gram hingga 1000 gram dengan kepekaan 200 mg b. Timbangan gram halus
Timbangan gram halus memiliki daya beban 100 gram hingga 200 gram dengan kepekaan 50 mg
c. Timbangan milligram Timbangan milligram memiliki daya beban 10 gram hingga 50 gram
kepekaan 5 mg. Daya beban adalah bobot maksimum yang boleh ditimbang. Kepekaan adalah
tambahan bobot maksimum yang diperlukan pada salah satu piring timbangan, setelah
keduanya diisi muatan maksimum menyebabkan ayunan jarum timbangan tidak kurang dari 2
mm tiap dm panjang jarum. Apabila bobot bahan yang ditimbang kurang dari 50 mg, maka harus
dilakukan pengenceran terlebih dahulu.
9 Modul Farmasetika Dasar Gambar timbangan gram halus : Cara Penimbangan: 1. Diperiksa
apakah semua komponen timbangan/neraca sudah sesuai pada tempatnya. 2. Periksa
kedudukan timbangan sudah sejajar/rata, dapat dilihat dari posisi anting (3) dengan alas anting
harus tepat. Bila belum tepat kita putar skrup pengatur tinggi (2) papan landasan. 3. Sekali lagi
kita periksa apakah posisi pisau (7) dan (8) sudah pada tempatnya. Bila sudah maka tuas (6) kita
putar maka timbangan akan terangkat dan akan kelihatan apakah piringnya seimbang atau berat
sebelah. Bila tidak seimbang kita dapat memutar mur (10) kiri atau kanan sesuai dengan
keseimbangannya, sehingga neraca seimbang. 4. Setelah itu baru kita letakkan kertas
perkamen/alas timbangan diatas kedua piring timbangan, angkat tuas (6) untuk memeriksa
apakah timbangan sudah seimbang. Bila sudah seimbang, maka penimbangan bahan-bahan bisa
dimulai. 5. Proses penimbangan hendaknya dilakukan secara efisien, tangan kanan untuk
mengambil bahan yang akan ditimbang, sedangkan tangan kiri untuk memutar tuas (6).
Demikian juga untuk posisi anak timbangan dan tarrer hendaknya di neraca kiri dan bahan di
neraca kanan. 6. Anak timbangan (khususnya anak timbangan milligram) diambil menggunakan
pinset. 7. Setiap selesai menimbang, hendaknya anak timbangan dan tarreran diturunkan dari
piringan timbangan. Keterangan: 1. Papan landasan timbangan 2. Tombol pengatur tegak
berdirinya timbangan 3. Anting penunjuk tegaknya timbangan (waterpas) 4. Jarum timbangan 5.
Skala 6. Tuas penyangga timbangan 7. Pisau tengah/pisau pusat 8. Pisau tangan 9. Tangan
timbangan 10. Tombol/mur pengatur keseimbangan 11. Piring timbangan
10 Modul Farmasetika Dasar 2. Lumpang dan Alu Lumpang dan alu merupakan wadah atau
peralatan yang terbuat dari porselen yang digunakan untuk menggerus atau mencampur bahan-
bahan obat. Dalam menggerus atau mencampur bahan obat (terutama obat keras), lebih baik
dipilih lumpang yang lebih halus dan pori-pori lumpang sangat kecil. Alu diletakkan di samping
lumpang dengan posisi kepala alu menghadap ke kita. Hal ini untuk mencegah alu berputar
dengan diameter lebih luas dan memungkinkan jatuh dari meja kerja. 3. Penangas Air
(waterbath) Penangas air (waterbath) adalah alat yang digunakan untuk memanaskan atau
melebur suatu bahan dengan suhu maksimal 100C. Pemanasan dilakukan dengan uap panas
yang dihasilkan dari pemanasan air. Suhu penangas air dapat diatur sesuai dengan suhu yang
diinginkan. Penangas air biasa digunakan untuk melebur basis, menguapkan ekstrak atau
tingtur, pemanasan untuk mempercepat kelarutan dan lain-lain. 4. Cetakan Suppositoria
Suppositoria merupakan suatu sediaan padat yang digunakan melalui dubur dan berbentuk
torpedo. Bentuk torpedo dihasilkan melalui cetakan suppositoria yang terbuat dari besi dan
dilapisi nikel atau dari logam lain, ada juga yang dibuat dari plastik. Cetakan ini mudah dibuka
secara longitudional untuk mengeluarkan supositoria. Alat ini memiliki 6 lubang atau 12 lubang
suppositoria yang dapat dibuka secara longitudinal dan terdapat skrup pengencang untuk
merapatkan kedua bagian alat cetak tersebut ketika basis yang telah dilebur akan dimasukkan
ke dalam alat cetak. Untuk menghindari masa yang hilang maka selalu dibuat berlebih dan untuk
menghindari masa yang melekat pada cetakan maka cetakan sebelumnya dibasahi dengan
parafin, minyak lemak, spritus saponatus (soft soap liniment). Yang terakhir jangan digunakan
untuk suppositoria yang mengandung garam logam, karena akan beraksi dengan sabunnya dan
sebagai pengganti dapat digunakan larutan oleum ricini dalam etanol. Alu Lumpang 10 Modul
Farmasetika Dasar 2. Lumpang dan Alu Lumpang dan alu merupakan wadah atau peralatan yang
terbuat dari porselen yang digunakan untuk menggerus atau mencampur bahan-bahan obat.
Dalam menggerus atau mencampur bahan obat (terutama obat keras), lebih baik dipilih
lumpang yang lebih halus dan pori-pori lumpang sangat kecil. Alu diletakkan di samping lumpang
dengan posisi kepala alu menghadap ke kita. Hal ini untuk mencegah alu berputar dengan
diameter lebih luas dan memungkinkan jatuh dari meja kerja. 3. Penangas Air (waterbath)
Penangas air (waterbath) adalah alat yang digunakan untuk memanaskan atau melebur suatu
bahan dengan suhu maksimal 100C. Pemanasan dilakukan dengan uap panas yang dihasilkan
dari pemanasan air. Suhu penangas air dapat diatur sesuai dengan suhu yang diinginkan.
Penangas air biasa digunakan untuk melebur basis, menguapkan ekstrak atau tingtur,
pemanasan untuk mempercepat kelarutan dan lain-lain. 4. Cetakan Suppositoria Suppositoria
merupakan suatu sediaan padat yang digunakan melalui dubur dan berbentuk torpedo. Bentuk
torpedo dihasilkan melalui cetakan suppositoria yang terbuat dari besi dan dilapisi nikel atau
dari logam lain, ada juga yang dibuat dari plastik. Cetakan ini mudah dibuka secara longitudional
untuk mengeluarkan supositoria. Alat ini memiliki 6 lubang atau 12 lubang suppositoria yang
dapat dibuka secara longitudinal dan terdapat skrup pengencang untuk merapatkan kedua
bagian alat cetak tersebut ketika basis yang telah dilebur akan dimasukkan ke dalam alat cetak.
Untuk menghindari masa yang hilang maka selalu dibuat berlebih dan untuk menghindari masa
yang melekat pada cetakan maka cetakan sebelumnya dibasahi dengan parafin, minyak lemak,
spritus saponatus (soft soap liniment). Yang terakhir jangan digunakan untuk suppositoria yang
mengandung garam logam, karena akan beraksi dengan sabunnya dan sebagai pengganti dapat
digunakan larutan oleum ricini dalam etanol. Alu Lumpang 10 Modul Farmasetika Dasar 2.
Lumpang dan Alu Lumpang dan alu merupakan wadah atau peralatan yang terbuat dari porselen
yang digunakan untuk menggerus atau mencampur bahan-bahan obat. Dalam menggerus atau
mencampur bahan obat (terutama obat keras), lebih baik dipilih lumpang yang lebih halus dan
pori-pori lumpang sangat kecil. Alu diletakkan di samping lumpang dengan posisi kepala alu
menghadap ke kita. Hal ini untuk mencegah alu berputar dengan diameter lebih luas dan
memungkinkan jatuh dari meja kerja. 3. Penangas Air (waterbath) Penangas air (waterbath)
adalah alat yang digunakan untuk memanaskan atau melebur suatu bahan dengan suhu
maksimal 100C. Pemanasan dilakukan dengan uap panas yang dihasilkan dari pemanasan air.
Suhu penangas air dapat diatur sesuai dengan suhu yang diinginkan. Penangas air biasa
digunakan untuk melebur basis, menguapkan ekstrak atau tingtur, pemanasan untuk
mempercepat kelarutan dan lain-lain. 4. Cetakan Suppositoria Suppositoria merupakan suatu
sediaan padat yang digunakan melalui dubur dan berbentuk torpedo. Bentuk torpedo dihasilkan
melalui cetakan suppositoria yang terbuat dari besi dan dilapisi nikel atau dari logam lain, ada
juga yang dibuat dari plastik. Cetakan ini mudah dibuka secara longitudional untuk
mengeluarkan supositoria. Alat ini memiliki 6 lubang atau 12 lubang suppositoria yang dapat
dibuka secara longitudinal dan terdapat skrup pengencang untuk merapatkan kedua bagian alat
cetak tersebut ketika basis yang telah dilebur akan dimasukkan ke dalam alat cetak. Untuk
menghindari masa yang hilang maka selalu dibuat berlebih dan untuk menghindari masa yang
melekat pada cetakan maka cetakan sebelumnya dibasahi dengan parafin, minyak lemak, spritus
saponatus (soft soap liniment). Yang terakhir jangan digunakan untuk suppositoria yang
mengandung garam logam, karena akan beraksi dengan sabunnya dan sebagai pengganti dapat
digunakan larutan oleum ricini dalam etanol. Alu Lumpang 10 Modul Farmasetika Dasar 2.
Lumpang dan Alu Lumpang dan alu merupakan wadah atau peralatan yang terbuat dari porselen
yang digunakan untuk menggerus atau mencampur bahan-bahan obat. Dalam menggerus atau
mencampur bahan obat (terutama obat keras), lebih baik dipilih lumpang yang lebih halus dan
pori-pori lumpang sangat kecil. Alu diletakkan di samping lumpang dengan posisi kepala alu
menghadap ke kita. Hal ini untuk mencegah alu berputar dengan diameter lebih luas dan
memungkinkan jatuh dari meja kerja. 3. Penangas Air (waterbath) Penangas air (waterbath)
adalah alat yang digunakan untuk memanaskan atau melebur suatu bahan dengan suhu
maksimal 100C. Pemanasan dilakukan dengan uap panas yang dihasilkan dari pemanasan air.
Suhu penangas air dapat diatur sesuai dengan suhu yang diinginkan. Penangas air biasa
digunakan untuk melebur basis, menguapkan ekstrak atau tingtur, pemanasan untuk
mempercepat kelarutan dan lain-lain. 4. Cetakan Suppositoria Suppositoria merupakan suatu
sediaan padat yang digunakan melalui dubur dan berbentuk torpedo. Bentuk torpedo dihasilkan
melalui cetakan suppositoria yang terbuat dari besi dan dilapisi nikel atau dari logam lain, ada
juga yang dibuat dari plastik. Cetakan ini mudah dibuka secara longitudional untuk
mengeluarkan supositoria. Alat ini memiliki 6 lubang atau 12 lubang suppositoria yang dapat
dibuka secara longitudinal dan terdapat skrup pengencang untuk merapatkan kedua bagian alat
cetak tersebut ketika basis yang telah dilebur akan dimasukkan ke dalam alat cetak. Untuk
menghindari masa yang hilang maka selalu dibuat berlebih dan untuk menghindari masa yang
melekat pada cetakan maka cetakan sebelumnya dibasahi dengan parafin, minyak lemak, spritus
saponatus (soft soap liniment). Yang terakhir jangan digunakan untuk suppositoria yang
mengandung garam logam, karena akan beraksi dengan sabunnya dan sebagai pengganti dapat
digunakan larutan oleum ricini dalam etanol. Alu Lumpang
11 Modul Farmasetika Dasar 5. Alat Pengisi Kapsul (Filling capsule) Ada beberapa metode
pengisian kapsul, yaitu dengan independent (bantuan mesin) dan dependent (bukan mesin dan
metode tangan). Metode independent biasa digunakan untuk produksi skala besar atau pabrik.
Sedangkan metode dependent biasa digunakan pada industri rumah tangga dan apotek. Metode
bukan mesin menggunakan alat pengisi kapsul (Filling capsule). Alat yang dimaksudkan disini
adalah alat yang menggunakan tangan manusia. Dengan menggunakan alat ini akan didapatkan
kapsul yang lebih seragam dan pengerjaannya dapat lebih cepat sebab sekali cetak dapat
dihasilkan berpuluh- puluh kapsul. Alat ini terdiri dari 2 bagian, yaitu bagian yang tetap dan
bagian yang bergerak. Cara pengisiannya yaitu a. Buka bagian-bagian kapsul b. Badan kapsul
dibuka dan dimasukkan ke dalam lubang bagian alat yang tidak bergerak/tetap c. Taburkan
serbuk yang akan dimasukkan ke dalam kapsul d. Ratakan dengan bantuan alat sudip/kertas film
e. Tutup kapsul dengan cara merapatkan ata menggerakan bagian alat yang bergerak. Gambar
alat pengisi kapsul (Filling capsule). 11 Modul Farmasetika Dasar 5. Alat Pengisi Kapsul (Filling
capsule) Ada beberapa metode pengisian kapsul, yaitu dengan independent (bantuan mesin)
dan dependent (bukan mesin dan metode tangan). Metode independent biasa digunakan untuk
produksi skala besar atau pabrik. Sedangkan metode dependent biasa digunakan pada industri
rumah tangga dan apotek. Metode bukan mesin menggunakan alat pengisi kapsul (Filling
capsule). Alat yang dimaksudkan disini adalah alat yang menggunakan tangan manusia. Dengan
menggunakan alat ini akan didapatkan kapsul yang lebih seragam dan pengerjaannya dapat
lebih cepat sebab sekali cetak dapat dihasilkan berpuluh- puluh kapsul. Alat ini terdiri dari 2
bagian, yaitu bagian yang tetap dan bagian yang bergerak. Cara pengisiannya yaitu a. Buka
bagian-bagian kapsul b. Badan kapsul dibuka dan dimasukkan ke dalam lubang bagian alat yang
tidak bergerak/tetap c. Taburkan serbuk yang akan dimasukkan ke dalam kapsul d. Ratakan
dengan bantuan alat sudip/kertas film e. Tutup kapsul dengan cara merapatkan ata
menggerakan bagian alat yang bergerak. Gambar alat pengisi kapsul (Filling capsule). 11 Modul
Farmasetika Dasar 5. Alat Pengisi Kapsul (Filling capsule) Ada beberapa metode pengisian
kapsul, yaitu dengan independent (bantuan mesin) dan dependent (bukan mesin dan metode
tangan). Metode independent biasa digunakan untuk produksi skala besar atau pabrik.
Sedangkan metode dependent biasa digunakan pada industri rumah tangga dan apotek. Metode
bukan mesin menggunakan alat pengisi kapsul (Filling capsule). Alat yang dimaksudkan disini
adalah alat yang menggunakan tangan manusia. Dengan menggunakan alat ini akan didapatkan
kapsul yang lebih seragam dan pengerjaannya dapat lebih cepat sebab sekali cetak dapat
dihasilkan berpuluh- puluh kapsul. Alat ini terdiri dari 2 bagian, yaitu bagian yang tetap dan
bagian yang bergerak. Cara pengisiannya yaitu a. Buka bagian-bagian kapsul b. Badan kapsul
dibuka dan dimasukkan ke dalam lubang bagian alat yang tidak bergerak/tetap c. Taburkan
serbuk yang akan dimasukkan ke dalam kapsul d. Ratakan dengan bantuan alat sudip/kertas film
e. Tutup kapsul dengan cara merapatkan ata menggerakan bagian alat yang bergerak. Gambar
alat pengisi kapsul (Filling capsule). 11 Modul Farmasetika Dasar 5. Alat Pengisi Kapsul (Filling
capsule) Ada beberapa metode pengisian kapsul, yaitu dengan independent (bantuan mesin)
dan dependent (bukan mesin dan metode tangan). Metode independent biasa digunakan untuk
produksi skala besar atau pabrik. Sedangkan metode dependent biasa digunakan pada industri
rumah tangga dan apotek. Metode bukan mesin menggunakan alat pengisi kapsul (Filling
capsule). Alat yang dimaksudkan disini adalah alat yang menggunakan tangan manusia. Dengan
menggunakan alat ini akan didapatkan kapsul yang lebih seragam dan pengerjaannya dapat
lebih cepat sebab sekali cetak dapat dihasilkan berpuluh- puluh kapsul. Alat ini terdiri dari 2
bagian, yaitu bagian yang tetap dan bagian yang bergerak. Cara pengisiannya yaitu a. Buka
bagian-bagian kapsul b. Badan kapsul dibuka dan dimasukkan ke dalam lubang bagian alat yang
tidak bergerak/tetap c. Taburkan serbuk yang akan dimasukkan ke dalam kapsul d. Ratakan
dengan bantuan alat sudip/kertas film e. Tutup kapsul dengan cara merapatkan ata
menggerakan bagian alat yang bergerak. Gambar alat pengisi kapsul (Filling capsule).
12 Modul Farmasetika Dasar 6. Cetakan Pil Pil adalah suatu sediaan padat yang berbentuk bulat
dengan berat berkisar 100 mg sampai 500 mg. Pil dicetak menggunakan cetakan pil yang terdiri
dari Pillen Plank dan Pillen Roller. Pillen Plank terdiri atas alat papan dan pemotong pil dimana
pada papan terdapat lempeng kanal besi yang berbentuk setengah silinder yang simetris dengan
pemotong pil jika disatukan akan membentuk suatu kanal silinder. Pillen Roller terdiri dari alat
papan berbentuk bulat yang berfungsi untuk membulatkan hasil cetakan dari pillen plank.
Gambar Cetakan Pil. Cara penggunaan: a. Cetakan pil terlebih dahulu dibersihkan dan
ditambahkan talk atau lycopodium sebagai lubrikan b. Masa pil dibentuk dengan
menggulungkan di atas papan Pillen Plank hingga sepanjang kanal silinder. c. Ditarik alat
pemotong hingga menyatukan antara kanal silinder papan dengan pemotong, hingga terbentuk
bulatan pil d. Bulatan pil yang belum bulat, digelindingkan di papan bulat (Pippen Roller) hingga
bentuk pil bulat. 1 4 2 3 Keterangan: 1. Pillen Roller 2. Lempeng silinder 3. Pillen Plank 4.
Pemotong pil 12 Modul Farmasetika Dasar 6. Cetakan Pil Pil adalah suatu sediaan padat yang
berbentuk bulat dengan berat berkisar 100 mg sampai 500 mg. Pil dicetak menggunakan
cetakan pil yang terdiri dari Pillen Plank dan Pillen Roller. Pillen Plank terdiri atas alat papan dan
pemotong pil dimana pada papan terdapat lempeng kanal besi yang berbentuk setengah silinder
yang simetris dengan pemotong pil jika disatukan akan membentuk suatu kanal silinder. Pillen
Roller terdiri dari alat papan berbentuk bulat yang berfungsi untuk membulatkan hasil cetakan
dari pillen plank. Gambar Cetakan Pil. Cara penggunaan: a. Cetakan pil terlebih dahulu
dibersihkan dan ditambahkan talk atau lycopodium sebagai lubrikan b. Masa pil dibentuk
dengan menggulungkan di atas papan Pillen Plank hingga sepanjang kanal silinder. c. Ditarik alat
pemotong hingga menyatukan antara kanal silinder papan dengan pemotong, hingga terbentuk
bulatan pil d. Bulatan pil yang belum bulat, digelindingkan di papan bulat (Pippen Roller) hingga
bentuk pil bulat. 1 4 2 3 Keterangan: 1. Pillen Roller 2. Lempeng silinder 3. Pillen Plank 4.
Pemotong pil 12 Modul Farmasetika Dasar 6. Cetakan Pil Pil adalah suatu sediaan padat yang
berbentuk bulat dengan berat berkisar 100 mg sampai 500 mg. Pil dicetak menggunakan
cetakan pil yang terdiri dari Pillen Plank dan Pillen Roller. Pillen Plank terdiri atas alat papan dan
pemotong pil dimana pada papan terdapat lempeng kanal besi yang berbentuk setengah silinder
yang simetris dengan pemotong pil jika disatukan akan membentuk suatu kanal silinder. Pillen
Roller terdiri dari alat papan berbentuk bulat yang berfungsi untuk membulatkan hasil cetakan
dari pillen plank. Gambar Cetakan Pil. Cara penggunaan: a. Cetakan pil terlebih dahulu
dibersihkan dan ditambahkan talk atau lycopodium sebagai lubrikan b. Masa pil dibentuk
dengan menggulungkan di atas papan Pillen Plank hingga sepanjang kanal silinder. c. Ditarik alat
pemotong hingga menyatukan antara kanal silinder papan dengan pemotong, hingga terbentuk
bulatan pil d. Bulatan pil yang belum bulat, digelindingkan di papan bulat (Pippen Roller) hingga
bentuk pil bulat. 1 4 2 3 Keterangan: 1. Pillen Roller 2. Lempeng silinder 3. Pillen Plank 4.
Pemotong pil 12 Modul Farmasetika Dasar 6. Cetakan Pil Pil adalah suatu sediaan padat yang
berbentuk bulat dengan berat berkisar 100 mg sampai 500 mg. Pil dicetak menggunakan
cetakan pil yang terdiri dari Pillen Plank dan Pillen Roller. Pillen Plank terdiri atas alat papan dan
pemotong pil dimana pada papan terdapat lempeng kanal besi yang berbentuk setengah silinder
yang simetris dengan pemotong pil jika disatukan akan membentuk suatu kanal silinder. Pillen
Roller terdiri dari alat papan berbentuk bulat yang berfungsi untuk membulatkan hasil cetakan
dari pillen plank. Gambar Cetakan Pil. Cara penggunaan: a. Cetakan pil terlebih dahulu
dibersihkan dan ditambahkan talk atau lycopodium sebagai lubrikan b. Masa pil dibentuk
dengan menggulungkan di atas papan Pillen Plank hingga sepanjang kanal silinder. c. Ditarik alat
pemotong hingga menyatukan antara kanal silinder papan dengan pemotong, hingga terbentuk
bulatan pil d. Bulatan pil yang belum bulat, digelindingkan di papan bulat (Pippen Roller) hingga
bentuk pil bulat. 1 4 2 3 Keterangan: 1. Pillen Roller 2. Lempeng silinder 3. Pillen Plank 4.
Pemotong pil
13 Modul Farmasetika Dasar PERCOBAAN II PENGENALAN BAHAN OBAT Semua obat adalah
racun, tetapi tidak semua racun adalah obat, obat dapat diartikan sebagai suatu zat yang
dimaksudkan untuk dipakai dalam diagnosa, mengurangi rasa sakit, mengobati atau mencegah
penyakit pada manusia atau hewan. Dalam SK Menkes RI No. 125/Kab/BVIII/71, yang
dimaksudkan obat adalah suatu bahan atau paduan bahan bahan yang dimaksudkan untuk
digunakan dalam menetapkan diagnose, mencegah, mengurangi, menghilangkan,
menyembuhkan penyakit atau gejala penyakit, luka atau kelainan, badania dan rohania pada
manusia atau hewan, memperolek badan atau bagian badan manusia. Dalam SK Menkes RI
No.244/Menkes/SK/V/1990, yang dimaksud dengan obat jadi adalah sediaan atau paduan bahan
bahan yang siap untuk digunakan untuk mempengaruhi atau menyelidiki system fisiologi atau
keadaan patologi dalam rangka penetapan diagnose, pencegahan, penyembuhan, pemulihan,
peningkatan kesehatan dan kontrasepsi. Obat dapat dibagi berdasarkan tujuan dan cara
pemakaiannya. Berdasarkan tujuan pemakaian obat dapat dibagi atas: a. Prophylactis; yaitu
pemakaian obat untuk pencegahan terhadap suatu penyakit. b. Therapeutics; yaitu pemakaian
obat untuk menyembuhkan terhadap suatu penyakit. Bila dilihat dari cara pemakaiannya obat
dapat dibagi atas: a. Medicamentum ad usum internum = untuk pemakaian dalam ; yaitu obat
dengan cara pemakaian melalui mulut, tenggorokan sampai ke lambung (peroral) misalnya obat
dalam bentuk tablet, pill, kapsul, serbuk dll. b. Medicamentum ad usum externum = untuk
pemakaian luar ; yaitu obat dengan cara pemakaian selain dengan cara peroral. Misalnya : obat
dalam bentuk injeksi, clysma, salep, suppositoria dll. Penggolongan obat Obat atau bahan obat
termasuk barang yang berbahaya dan merupakan barang yang mempunyai potensi untuk
disalah gunakan. Untuk memudahkan dalam pengawasannya maka obat yang beredar
diindonesia digolongkan menurut daftar yang meliputi: a. Narkotika, biasa disebut daftar O
(opium)
14 Modul Farmasetika Dasar Yaitu obat-obatan yang umumnya mendatangkan ketagihan dan
ketergantungan secara mental dan fisik yang sangat merugikan masyarakat dan individu apabila
digunakan tanpa pembatasan dan pengawasan dokter. Misalnya candu/opium, morfin, petidin,
metadon dan kodein. Hal-hal yang harus diperhatikan pada resep yang mengandung narkotika. -
Tidak boleh di ulang (N.I/ne iter/ne iteretur) - Tidak boleh ditulis m.i. (mihi ipsi) atau u.p. (usum
propium) atau pemakaian sendiri - Alamat pasien dan aturan pakai harus jelas - Hanya boleh
diberikan jika resep asli dari dokter dan ada tanda tangan dokter tersebut - Copy resep dapat
diberikan apabila obat belum diberikan semuanya (d.i.d/da in) namun harus ditembus di apoyek
yang mengeluarkan copy resep tersebut - Bahan narkotik yang terdapat pada resep, harus
digarisbawah merah. b. Obat Psikotropika merupakan obat yang mempengaruhi proses mental
(psikis), merangsang atau menenangkan, mengubah pikiran/perasaan/kelakuan seseorang.
Misalnya golongan ekstasi, diazepam, barbital/luminal. c. Obat keras adalah obat-obatan daftar
G, yaitu obat yang didaftar pada daftar obat berbahaya (Geverlijk) dan harus diserahkan dengan
resep dokter. Obat keras adalah semua obat - memiliki takaran/DM atau tercantum dalam
daftar obat keras yang ditetapkan pemerintah - diberi tanda khusus lingkaran bula berwarna
merah dengan garis tepi hitam dan huruf K yang menyentuh garis tepinya - semua obat baru,
kecuali dinyatakan oleh pemerintah (Depkes RI) tidak membahayakan d. Obat keras daftar W
(Obat bebas terbatas), yaitu obat yang didaftar pada daftar peringatan (Warschuwing) dengan
tanda khusus lingkaran biru dengan garis pinggir hitam. Dapat diserahkan tanpa resep dokter ,
namun harus tetap dalam pengawasan.Obat ini memiliki penandaan khusus peringatan (P No.1
s/d P No.6) e. Obat bebas yaitu obat dengan tanda khusus lingkaran hijau garis pinggir hitam dan
dapat diserahkan tanpa resep dokter dalam batas dosis yang telah dianjurkan. Sumber-Sumber
Obat Obat-obat yang digunakan dewasa ini diperoleh dari berbagai sumber yaitu; a. Tumbuh-
tumbuhan, Flora, Nabati. Misalnya ; kinin, castor oil, anisi, daun digitalis dll.
15 Modul Farmasetika Dasar b. Hewan, Fauna, Hayati. Misalnya ; minyak ikan, cera, wolfet dll. c.
Mineral/pertambangan. Misalnya ; NaCl, Sulfur, Besi oksida, KaliumIodida dll. d. Mikroba.
Misalnya; antibiotik. e. Sintesis, buatan, tiruan. Misalnya ; Champora sintesis, Vit.C, Acid benzoic
sintesis, Chloramphenicol sintesis dll. Bahan Tambahan Obat tambahan (Rimidium
adjuvantia/ajuvans/corrigens) yaitu bahan atau obat yang menunjang kerja bahan obat utama.
Dapat berupa: a. Corrigens actionis, yaitu obat yang memperbaiki atau menambah efek obat
utama. Misalnya, pulvis doveri yang terdiri atas kalium sulfat, Ipecacuanhae Radix, dan pulvis
opii. Pulvis opii sebagai bahan khasiat utama menyebabkan orang sukar buang air besar,
sedangkan kalium sulfat bekerja sebagai pencahar sekaligus memperbaiki kerja pulvis opii
tersebut. b. Corrigens saporis (memperbaiki rasa). Contohnya: sirup auratiorum, tincture
cinamomi, aqua menthae piperithae. c. Corrigen odoris (memperbaiki bau). contohnya: oleum
rosarum, oleum bergamottae, dan oleum cinnamomi. d. Corrigens coloris (memperbaiki warna).
Contohnya: tincture croci (kuning), caramel (cokelat) dan karminum (merah). e. Corigen solubilis
untuk memperbaiki kelarutan obat utama. Misalnya, I2 tidak larut air, tetapi dengan
penambahan KI menjadi mudah larut. Selain itu juga dikenal bahan tambahan yang dipakai
sebagai bahan pengisi dan pemberi bentuk untuk memperbesar volume obat yang disebut
constituens/vehiculum/exipient. Misalnya: laktosa sebagai serbuk serta amilum dan talk pada
bedak tabur.
16 Modul Farmasetika Dasar PERCOBAAN III INTERAKSI OBAT DAN INKOMPATIBILITAS Interaksi
obat merupakan suatu keadaan saling mempengaruhi antar obat atau bahan-bahan obat.
Terjadi jika dua atau lebih macam obat digunakan bersama-sama dalam suatu obat. Alasan
kombinasi obat sering dilakukan: - Meningkatkan efek pengobatan - Mengurangi efek toksik dan
efek samping - Mengobati beberapa penyakit atau keluhan yang timbul pada waktu bersamaan -
Memperlambat terjadinya resistensi - Memperluas spectrum bagi antibiotika - Terapi awal suatu
infeksi berat yang diagnosanya belum jelas Selain itu, dalam ilmu farmasetika interaksi antara
bahan dapat terjadi pada saat pengerjaan atau lebih dikenal dengan inkompabilitas (Obat Tak
Tercampurkan). OTT atau obat tak tercampurkan dapat terjadi akibat reaksi kimia, perubahan
fisika atau kerja farmakologis. Pada OTT yang tidak dapat diatasi, dapat diusulkan untuk
mengeluarkan salah satu obat dari campuran jika 1. Terjadi reaksi kimia (a) Campurannya
berupa racun. Contoh: Kalomel + iodium sublimat (b) Campurannya menimbulkan ledakan.
Contoh: campuran bahan pengoksidasi dengan bahan yang mudah dioksidasi (K-klorat + sulfur),
(KMnO4 + gliserin) (c) Terjadi perubahan warna. Contoh: antipirin + nitrit hijau 2. Terjadi
perubahan fisika obat Misalnya golongan alkaloid akan diserap oleh norit 3. Terjadi kerja
farmakologis yang merugikan Namun tidak semua OTT dari suatu bahan itu merugikan, ada juga
OTT yang diharapkan terjadi dan menguntungkan dalam pengerjaan, antara lain: a. Terjadi
penurunan titik eutektikum (titik lebur) Misalnya: pada campuran mentol, timol, salol, asam
salisilat, resorsinol, kloralhidrat. b. Meningkatkan kelarutan suatu bahan Misalnya: Coffein yang
ditambahkan dengan natrium benzoat, natrium salisilat akan memperbesar kelarutan coffein
tersebut
17 Modul Farmasetika Dasar Lembar Kerja I. OTT/Inkompatibilitas: II. Cara Mengatasi: dr.
Supriyadi SIP. No.228/K/84 Jl. Budi Kemulyaan No.8A Telp. 1234567 Jakarta Jakarta, . R/
Aminophilin 100 Luminal 25 mg S.L qs. m.f.pulv.dtd.No.XV s.t.d.d caps I Pro : Tn Marzuki (18
tahun) Jl. Merdeka 10 Jakarta
18 Modul Farmasetika Dasar I. OTT/Inkompatibilitas: II. Cara Mengatasi: dr. Maulana SIP.
No.228/K/84 Jl. Budi Kemulyaan No.8A Telp. 1234567 Jakarta Jakarta, . R/ Menthol 0,2 g Asam
salislat 0,1 g Resorsinol 0,2 g Talk ad 3 g m.f.pulv. s.u.e Pro : Tn Marzuki (18 tahun) Jl. Merdeka
10 Jakarta
19 Modul Farmasetika Dasar PERCOBAAN IV SEDIAAN FARMESTIKA PADAT I. PULVIS DAN
PULVERES Serbuk adalah campuran kering bahan obat atau zat kimia yang dihaluskan untuk
pemakaian dalam secara oral atau untuk pemakaian luar. Pulvis adalah serbuk yang tidak
terbagibagi. Pulveres adalah serbuk yang dibagi dalam bobot yang kurang lebih sama dengan
yang dibungkus kertas perkamen atau bahan pengemas lain yang cocok. Keuntungan dan
Kerugian Sediaan Bentuk Serbuk Keuntungan bentuk serbuk : 1. Serbuk lebih mudah terdispersi
dan lebih larut daripada sediaan yang dipadatkan. 2. Anak anak atau orang tua yang sukar
menelan kapsul atau tablet lebih mudah menggunakan obat dalam bentuk serbuk. 3. Masalah
stabilitas yang sering dihadapi dalam sediaan cair tidak ditemukan dalam sediaan serbuk. 4.
Obat yang tidak stabil dalam suspensi atau larutan air dapat dibuat dalam bentuk serbuk. 5.
Obat yang volumenya terlalu besar untuk dibuat tablet atau kapsul dapat dibuat dalam bentuk
serbuk. 6. Dokter lebih leluasa dalam memilih dosis yang sesuai dengan keadaan penderita.
Kekurangan bentuk serbuk: 1. Keengganan pasien meminum obat yang mungkin rasa pahit, atau
rasa yang tidak enak 2. Kesulitan menahan terurainya bahan bahan hygroskopis. 3. Mudah
mencair atau menguap zat zat yang dikandungnya. 4. Waktu dan biaya yang digunakan pada
pengelola dan pembungkusan dalam keseragaman dosis tunggal. SyaratSyarat Sediaan Serbuk:
1. Harus halus sesuai dengan derajat halus serbuk. 2. Harus homogeny semua komponen 3.
Harus dalam keadaan kering. Derajat halus serbuk Derajat halus serbuk dinyatakan dengan satu
atau dua nomor pengayak. Hal ini dimaksudkan bahwa untuk menentukan derajat halus suatu
serbuk harus dilakukan dengan pengayak. Jika derajat halus serbuk dinyatakan dengan 1 nomor
pengayak, dimaksudkan bahwa semua serbuk dapat melalui pengayak dengan nomor
20 Modul Farmasetika Dasar tersebut. Jika derajat halus serbuk dinyatakan dengan dua nomor
pengayak, dimaksudkan bahwa semua serbuk dapat melalui/lolos pada pengayak dengan nomor
terendah dan tidak lebih dari 40% melalui pengayak dengan nomor tertinggi. Contoh: serbuk
10/40 dimaksudkan bahwa serbuk tersebut semuanya melalui pengayak no 10 dan tidak lebih
dari 40% dapat melalui pengayak no. 40. Dalam beberapa hal digunakan istilah umum untuk
menyatakan derajat halus serbuk yang disesuaikan dengan nomor pengayak sbb: - Serbuk
sangat kasar adalah serbuk (5/8) - Serbuk kasar adalah serbuk (10/40) - Serbuk agak kasar
adalah serbuk (22/60) - Serbuk agak halus adalah serbuk (44/85) - Serbuk halus adalah serbuk
(85) - Serbuk sangat halus adalah serbuk (120) - Serbuk sangat halus sekali adalah serbuk
(200/300) I.1 Pulvis (Serbuk Tak Terbagi) Pulvis dapat digolongkan menjadi beberapa jenis,
antara lain 1. Pulvis adspersorius (serbuk tabur/bedak). Umumnya, serbuk tabur harus melewati
ayakan dengan derajat halus 100 mesh agar tidak menimbulkan iritasi pada bbagian yang peka.
Pulvis adsperius harus memenuhi persyaratan berikut: a. Harus halus, tidak boleh ada butiran
butiran kasar. b.Talk, kaolin, dan bahan mineral lainnya harus bebas dari bakteri Clostridium
tetani, C.welchii, dan Bacillus anthracis serta disterilkan dengan cara D (cara kering). c.Tidak
boleh digunakan untuk luka terbuka 2. Pulvis dentrificius (serbuk gigi) biasanya mengandung
karmin sebagai pewarna yang dilarutkan lebih dahulu dalam kloroform atau etanol 90%. 3.
Pulvis sternutotarius (serbuk bersin) digunakan untuk dihisap melalui hidung. 4. Pulvis
effervescent adalah serbuk biasa yang sebelum diminum dilarutkan dahulu dalam air dingin atau
air hangat. Jika serbuk ini dilarutkan akan mengeluarkan gas CO2 yang kemudian membentuk
larutan jernih. Merupakan campuran dari senyawa asam (as. Sitrat, as. Tartrat,) dengan basa
(Na.bikarbonat). Aturan pembuatan serbuk tabur: 1. Serbuk tabur yang tidak mengandung
lemak diayak dengan ayakan no.100 2. Serbuk tabur yang mengandung zat berlemak diayak
dengan ayakan no.44
21 Modul Farmasetika Dasar 3. Seluruh serbuk harus terayak semuanya, yang tertinggal
diayakan dihaluskan lagi sampai seluruhnya terayak. Contoh resep R/ Ichtyoli 0,5 Penyelesaian :
Talc. 10 - Ichtyoli dilarutkan dalam etanol 96% atau eter Sol. Formaldehide 0,5 dan ditambah
bolus.alba. Bol.alba 3 - Sol.Formaldehide diganti 1/3 bobotnya m.f.pulv.adsp. ad 20
paraformaldehide. s.u.e Selain pulvis untuk penggunaan luar, juga dikenal pulvis untuk
penggunaan dalam (peroral). Penentuan dosis untuk pulvis penggunaan dalam menggunakan
takaran sendok makan (C), sendok the (cth), sendok bubur (cp). Penentuan dosis tiap takaran
menggunakan serbuk coba. I.2Pulveres (Serbuk Terbagi) Pulveres/chartulae (serbuk bagi) adalah
serbuk yang dibagi dalam bobot yang lebih kurang sama, dibungkus menggunakan bahan
penhgemas yang cocok untuk sekali minum. Penulisan resep serbuk oleh seorang dokter dapat
dilakukan dengan cara yaitu: 1. Ditulis jumlah obat untuk seluruh serbuk/bungkus, kemudian
dibagi sebanyak serbuk/bungkus yang diminta. Misalnya: R/ Asam asetilsalisilat 2,5 Paracetamol
2 Coffein 0,5 m.f.pulv.divide in partes aequales no.X 2. Ditulis jumlah untuk setiap bungkus
serbuknya dan membuat berapa bungkus yang dikhehendaki, misalnya: R/ Asam asetilsalisilat
0,25 Paracetamol 0,2 Coffein 0,05 m.f.pulv.dtd no.X Pada cara diatas bahan yang ditimbang
adalah sebagai berikut: - Asam asetilsalisilat 2,5 - Paracetamol 2 - Coffein 500 mg Ketiga bahan
tersebut diracik/dicampur satu persatu, dan asam asetilsalisilat yang digerus lebih dahulu
sampai halus, kemudian ditambahkan coffein dan gerus lagi sampai homogeny, terakhir
paracetamol sedikit demi sedikit dan digerus sampai homogeny. Keluarkan dari lumpang
kemudian bagi menjadi 10 bungkus.
22 Modul Farmasetika Dasar Pada cara diatas bahan yang ditimbang adalah sebagai berikut -
Asam asetilsalisilat 10 X 0,25 = 2,5 - Paracetamol 10 X 0,2 = 2 - Coffein 10 X 0,05 = 0,5 Gula
berminyak = Elaeosacchara adalah campuran 2 gram saccharum lactis dengan 1 tetes minyak
eteris, yang sering digunakan adalah Oleum Anisi, Oleum Foeniculi, dan Oleum Menthae
Piperitae. Gula berminyak tidak boleh disimpan sebagai persediaan, dan dikemas dalam kertas
perkamen, jangan dengan kertas paraffin sebab minyak eterisnya akan diserap. Gula berminyak
harus dibuat dengan tetes minyak eteris penuh tidak pecahan, bila dalam hitungan diperoleh
pecahan, dibuat dengan tetes penuh, sisa gula minyak disisihkan (disimpan). Campuran serbuk
yang basah atau mencair karena disebabkan karena terbebasnya sebagian atau seluruh air
kristal dari tiap bahan, hal ini dapat diatasi dengan mengambil bahan yang sudah dikeringkan
(exsicatus), bila sekiranya bahan tersebut mempunyai garam exsicatur dengan perbandingan.
Perbandingan zat yang kering dengan zat yang mengandung air Kristal adalah : 1) Ferrosi sulfat:
eksikatur = 100:67 (3:2) 2) Magnesium sulfat: eksikatus = 100:67 (3:2) 3) Natrii sulfas: eksikatus
= 100:50 (2:1) 4) Natrii karbonas: eksikatus = 100:50 (2:1) 5) Tawas: eksikatus = 100:67 (3:2)
Serbuk terbagi dikemas kedalam wadah kertas perkamen (puyer) sesuai banyaknya permintaan
dalam resep. Pada dasarnya langkah-langkah melipat atau membungkus kertas pembungkus
serbuk adalah sebagai berikut : 1. Letakkan kertas rata diatas permukaan meja dan lipatkan
sekitar 11,5 cm kearah kita pada garis memanjang pada kertas untuk menjaga keseragaman,
langkah ini harus dilakukan bersamaan dengan lipatan pertama sebagai petunjuk. Penyusunan
kertas hendaknya secara proporsional, jangan terlalu memanjangkan kesamping, maksimal 5-6
kertas kesamping. 2. Letakkan serbuk baik yang ditimbang atau dibagi-bagi ke tengah kertas
yang telah dilipat satu kali lipatannya mengarah keatas disebelah seberang dihadapanmu. 3.
Tariklah sisi panjang yang belum dilipat keatas dan letakkanlah pada kira kira garis lipatan
pertama, lakukan hati-hati supaya serbuk tidak berceceran. 4. Peganglah lipatan dan tekanlah
sampai menyentuh dasar kertas dan lipatlah kehadapanmu setebal lipatan pertama. 5. Kertas
pembungkus yang telah terlipat rapi masukkan satu persatu dalam dos atau plastik klip. Pada
lipatan kertas pembungkus tidak boleh ada serbuk dan tidak boleh ada ceceran serbuk.
23 Modul Farmasetika Dasar Dalam Resep Pulvis (Serbuk Tak Terbagi), khususnya untuk
pemakaian dalam (ditandai dengan adanya petunjuk pemakaian Cth, C, C.p.) pehitungan dosis
sekali pakai untuk setiap sendok teh/sendok makan/sendok bubur harus dilakukan perhitungan
serbuk coba. Sebagai contoh: R/ Natrri carbonas 10 Nitras subnitras NaBr aa 5 (DM 2 g/6 g)
Magnesium Oxyd. 10 Rhei Radix Pulv 5 SL ad 40 S.t.d.d cth I Pro: Sultan (20 thn) Penyelesaian: -
Hitung dulu serbuk coba Campur dan gerus halus natrium karbonat, NBB, MgO dan rhei radix
sampai homogen. Untuk menghemat bahan dan mempercepat pengerjaan, dapat diperkecil
jumlah bahan dalam resep dengan perbandingan yang sama (Natrium karbonas 2 g, NBB 1 g,
NabR 1 g, MgO 2, rhei radix 1 g dan SL ad 8 g). - Ambil 3 sendok teh (jika petunjuk dalam resep
Cth, kalau C ambil sendok makan) kemudian timbang dan rata-ratakan sehingga didapat rata-
rata satu sendok teh = X gram (Misalnya = 2,2 gram) Sehingga dalam resep yang memiliki DM
ialah NaBr. Dosis sekali pakai NaBr = = , 5 = 0,275 Dosis sehari pakai NaBr = 3 0,275 = 0,825
Berdasarkan perhitungan tidak ada dosis yang melampaui dosis sekali pakai dan sehari dari NaBr
(DM = 2 g/ 6 g). Jika melebihi, serbuk tersebut tidak dapat dikerja. II. Capsule (Kapsul) Kapsul
adalah sediaan berupa serbuk yang diisikan dalam cangkang kapsul atau berupa sediaan cairan,
setengah padat yang dibungkus dengan kapsul dasar. Dalam FI Ed.III. Kapsul adalah bentuk
sediaan obat terbungkus cangkang kapsul, keras atau lunak. Cangkang kapsul dibuat dari gelatin
dengan atau tanpa zat tambahan lain. Keuntungan sediaan kapsul, antara lain: 1) Bau dan rasa
yang tidak enak tertutupi 2) Pemberian dosis yang tetap. 3) Bahan bahan obat/ zat yang rusak
diudara terbuka, bila dimasukkan kedalam kapsul akan terlindungi.
24 Modul Farmasetika Dasar 4) Mudah pemakaiannya oleh pasien. 5) Dengan kapsul yang
berwarna warni, menambah daya tarik obat. 6) Kapsul dapat diisi dengan cepat karena tidak
memerlukan bahan tambahan/pembantu seperti pada pembuatan pil dan tablet. Macam-
Macam Kapsul: - Kapsul keras - Kapsul Lunak Ukuran cangkang kapsul No.ukuran Asetosal(gram)
Na.Bikarbonat (gram) Nitras bismuth basa (gram) 000 1 1,4 1,7 00 0,6 0,9 1,2 0 0,5 0,7 0,9 1 0,3
0,5 0,6 2 0,25 0,4 0,5 3 0,2 0,3 0,4 4 0,15 0,25 0,25 5 0,1 0,12 0,12 Pemilihan Ukuran Kapsul -
Pemilihan dari ukuran paling baik ketika formulasi dikembangkan, karena jumlah bahan inert
yang dibutuhkan tergantung pada ukuran atau kapasitas kapsul yang dipilih. - Apabila formulasi
dari bahan tidak memerlukan pengisi untuk menambah jumlah serbuknya, maka ukuran
cangkang kapsul dapat boleh ditetapkan setelah pengembangan dan persiapan formulasi. - Agar
kapsul diisi dengan baik, maka bagian badan kapsul yang diisi campuran bahan obat dan bagian
tuupnya diselubungkan rapat rapat. Bagian tuup bukan saja berfungsi sebagai penutup tetapi
juga menekan dan menahan, oleh karena itu ukuran kapsul harus dipilih sesuai kebutuhan. Cara
pengisian kapsul Ada tiga cara pengisian cangkang kapsul yaitu dengan: 1. Tangan; merupakan
cara yang paling sederhana karena menggunakan tangan langsung tanpa menggunakan bantuan
alat lain. Untuk memasukkan obat kedalam kapsul, dapat dilakukan dengan cara membagi
serbuk sesuai jumlah kapsul yang diminta. Selanjutnya, tiap bagian serbuk tadi dimasukkan
kedalam badan kapsul lalu ditutup.
25 Modul Farmasetika Dasar 2. Alat bukan mesin; alat yang dimaksud ini adalah alat dengan
menggunakan tangan manusia. Dengan pengerjaan ini, dapat diperoleh kapsul yang seragan dan
lebih cepat. 3. Alat mesin; digunakan untuk memproduksi kapsul secara besar besaran dan
menjaga keseragaman kapsul, perlu digunakan alat otomatis mulai dari membuka, mengisi,
sampai menutup kapsul. III Suppositoria Yang dimaksud dengan suppositoria adalah sediaan
padat yang digunakan melalui rectal, vagina dan uretra. Umumnya berbentuk torpedo, dapat
melarut, melunak, atau meleleh pada suhu tubuh. Umumnya suppositoria rectal berbobot 2
gram untuk dewasa, 1 gram untuk anak-anak. Keuntungan bentuk torpedo ini adalah bila bagian
yang besar telah masuk melalui otot penutup dubur, maka bagian suppositoria yang lain akan
tertarik masuk dengan sendirinya. Keuntungan dan kerugian sediaan suppositoria. Bentuk
sediaan suppositoria ini sangat bermanfaat untuk mencegah berkurangnya efisiensi obat akibat
mengalami metabolism di hati sehingga kadarnya dalam darah berkurang. Selain itu, pada
keadaan terapi oral tidak mungkin, misalnya: orang yang pingsan, muntah muntah, mual;
untuk anak kecil dan bayi, obat yang akan terurai oleh enzim pencernaan, obat yang dapat
mengiritasi lambung, pemakaian suppositoria sangat menguntungkan. Kerugian dari
suppositoria ini dirasakan saat menimbulkan rasa yang tidak enak pada tempat dimana
suppositoria ini dimasukkan. Bentuk dan Ukuran Suppositoria 1) Suppositoria rectal dengan
bentuk peluru, torpedo, jari jari atau selinder dengan kedua ujungnya lancip, panjang kurang
lebih 32 mm. Berat tergantung dari berat jenis dan basis yang digunakan tetapi umumnya 2
gram. 2) Suppositoria vagina umumnya berbentuk bulat atau bulat telur dan berbobot lebih
kurang 5 gram, dibuat dari zat pembawa yang zarut dalam air atau yang dapat bercampur
dengan air seperti propilenglikol atau gelatin terglicerinasi. 3) Suppositoria urethra umumnya
berbentuk batang, ramping seperti pensil. Untuk pria bergaris tengah 3 6 mm dan panjang 7
cm. Komposisi sediaan suppositoria terdiri dari: - Zat aktif - Bahan dasar Penggolongan basis
suppositoria Pada umumnya basis suppositoria dapat digolongkan atas: 1) Basis berlemak:
oleum cacao 2) Basis bercampur atau larut dalam air: gliserin gelatin, propilenglikol dll.
26 Modul Farmasetika Dasar 3) Basis lain: pembentuk emulsi a/m Basis jenis ketiga ini ini
ditujukan untuk mempermudah bercampur dengan cairan tubuh atau mengikat air. Halhal
yang perlu diperhatikan dalam pembuatan suppositoria. a) Kenaikan titik lebur. Titik lebur
oleum cacao yang dinaikan oleh perak nitrat dan plumbi asetat. Untuk mengatasinya dapat
ditambahkan oleum arachidis kurang dari 5%. b) Penurunan titik lebur. Penurunan titik lebur
oleum cacao yang disebabkan oleh fenol, Choral hydrat, minyak atsiri dapat diatasi dengan
penambahan cera 4 6% atau cetaceum 12%. c) Bila suppositoria terlalu banyak mengandung
serbuk akan menyulitkan dalam penambahan adeps lanae. d) Cairan yang tidak dapat
mencampur dengan oleum cacao. Obat yang harus dilarutkan dalam air maupun dalam alcohol
atau obatnya sendiri dengan konsistensi seperti itu misalnya ichtyol, bila dalam jumlah kecil
dapat dibuat dengan metode panas dengan jalan pengadukan sebelum dituang. e) Pemakaian
air sebagai pelarut dalam basis oleum cacao sebaiknya dihindari sebab: - Menyebabkan reaksi
antara obat obatan dalam suppositoria. - Bila airnya menguap, obat tersebut akan mengkristal
kembali dan dapat keluar dari suppositoria. - Mempercepat tengiknya oleum cacao Pengemasan
Suppositoria Suppositoria dikemas sedemikian rupa sehingga setiap suppositoria terpisah satu
dengan yang lainnya, agar tidak mudah hancur atau meleleh. Bisanya dimasukkan ke dalam
wadah dari aluminium foil atau strip plastic sebanyak 6 sampai 12 suppositoria untuk kemudian
dikemas dalam doos. Suppositoria harus disimpan dalam wadah tertutup baik ditempat sejuk. IV
Pillulae (Pil) Istilah pil berasal dari bahasa latin yaitu pila yang berarti bola. Zaman dahulu bentuk
pil lebih besar dari pil zaman sekarang. Berdasarkan bobotnya, obat yang berbentuk bulat dapat
digolongkan atas: 1. Pilulae = Bobotnya kira kira 30 mg 300 mg 2. Granule = Bobotnya 1/3
grain = 20 mg 60 mg 3. Boli = Bobotnya lebih besar dari 300 mg 4. Parvule = Bobotnya kurang
dari 20 mg Dalam FI ed. III. pil adalah suatu sediaan berupa massa bulat, mengandung satu atau
lebih bahan obat.
27 Modul Farmasetika Dasar Menurut F.N. 78. Pil adalah sediaan berbentuk bulat atau bulat
telur, dibuat menggunakan massa pil. Cara membuat massa pil. Massa pil dibuat dengan
mencampur satu atau lebih bahan obat dengan zat tambahan yang cocok, diaduk dan ditekan
hingga menjadi massa yang mudah digulung. Pil yang diperoleh tidak boleh berubah bentuk
pada penyimpanan dan tidak terlalu keras. Komposisi pil Pil terdiri dari: 1. Bahan obat 2. Zat
tambahan, terdiri dari: - Zat pengisi - Zat pengikat - Zat pembasah - Zat penabur - Zat penyalut
Bahan obat Hampir semua bahan obat dapat dibuat pil, baik yang berbentuk padat, cair maupun
bentuk setengah padat. Bahan obat yang higroskopis sebetulnya kurang baik untuk dibuat pil,
karena mudah menarik uap air dari udara, sehingga pil yang diperoleh pada penyimpanan
biasanya menjadi basah atau pecah pecah. Zat tambahan Zat tambahan yang digunakan dalam
pembuatan massa pil harus dipilih sedemikian rupa sehingga memenuhi syarat syarat sbb: -
Harus memenuhi syarat umum zat tambahan. - Pil yang diperoleh memenuhi syarat syarat pil.
a) Zat pengisi Zat pengisi digunakan untuk mencapai bobot dan ukuran yang lazim. Jadi jumlah
dan jenis zat pengisi yang digunakan tergantung dari bobot dan jenis bahan obatnya. Zat pengisi
yang lazim digunakan adalah serbuk akar manis (Radix liquirithae), Kaolinum, Saccharum. b) Zat
pengikat Zat pengikat adalah zat tambahan yang berfungsi sebagai zat yang jika ditambahkan
kedalam campuran bahan obat dengan zat tambahan lainnya dengan atau tanpa zat pembasah
yang cocok, diaduk dan ditekan akan menghasilkan massa pil yang mudah digulung. Zat pengikat
yang sering digunakan adalah sari akar manis (succus liquirithae), Gummi arabicum, adeps lanae
dan vaselin, glycerinum cum Tragacant, ekstrak kental, cera flava dll.
28 Modul Farmasetika Dasar c) Zat pembasah Zat pembasah yang lazim digunakan adalah aqua
gliserin yang merupakan campuran gliserin dengan air sama banyak (1:1); dan sirup gula yang
sering digunakan pada pembuatan granul tetapi pada penyimpanannya pil yang diperoleh akan
mengeras. d) Zat penabur Zat penabur adalah zat yang digunakan untuk mencegah melekatnya
massa pil pada waktu dicetak atau digulung dan mencegah melekatnya pil pada waktu
penyimpanan. Zat penabur yang sering digunakan adalah licopodium, talcum, serbuk akar manis
(Succus liquirithae) dll. e) Zat penyalut pemberian zat penyalut dalam pil diperlukan dalam hal-
hal sbb: - Untuk menutupi bau dan rasa yang tidak enak - Untuk emlindungi isisnya terhadap
pengaruh dari luar misalnya pengaruh oksidasi. - Untuk mencegah atau memperlambat
pecahnya pil dalam lambung, terutama pil yang seharusnya pecah didalam usus. Zat penyalut
yang lazim digunakan adalah balsamum tolutanum, kollodium, perak, graphite, gelatinum
29 Modul Farmasetika Dasar Lembar Kerja I. Kelengkapan Resep Nama dokter : Alamat dokter :
No. SIK : Tgl Resep : Paraf dokter : Nama pasien : Umur pasien : Alamat pasien : Lain lain : II.
Khasiat penggunaan resep III. OTT (Obat Tak Tercampurkan IV. Perhitungan Dosis V.
Penimbangan Dokter : Jl. Teratai No.10 Makassar No.SIK 2118/B Makassar R/ Lc. Penmox tab.
125 mg Paracetamol 100 mg Phenobarbital Coffein aa 20 mg S.L q.s m.f. pulv.dtd.No.X s.t.d.d.
p.I pro : umur : alamat
30 Modul Farmasetika Dasar VI. Pembuatan/ Cara kerja VII. Etiket Apotek Farmasetika UNHAS Jl.
Perintis Kemerdekaan Km.10 Makassar Apoteker : No. SIK : No. Tgl.
31 Modul Farmasetika Dasar I. Kelengkapan Resep Nama dokter : Alamat dokter : No. SIK : Tgl
Resep : Paraf dokter : Nama pasien : Umur pasien : Alamat pasien : Lain lain : II. Khasiat
penggunaan resep III. OTT (Obat Tak Tercampurkan IV. Perhitungan Dosis V. Penimbangan
Dokter : Jl. Teratai No.10 Makassar No.SIK 2118/B Makassar R/ Menthol 1% Boric acid 2% Oxydi
Zinci 2,5 Talc. ad 25 m.f. pulvis adsp. s.o.m.applic pro : umur : alamat
32 Modul Farmasetika Dasar VI. Pembuatan/ Cara kerja VII. Etiket Apotek Farmasetika UNHAS Jl.
Perintis Kemerdekaan Km.10 Makassar Apoteker : No. SIK : No. Tgl.
33 Modul Farmasetika Dasar I. Kelengkapan Resep Nama dokter : Alamat dokter : No. SIK : Tgl
Resep : Paraf dokter : Nama pasien : Umur pasien : Alamat pasien : Lain lain : II. Khasiat
penggunaan resep III. OTT (Obat Tak Tercampurkan IV. Perhitungan Dosis V. Penimbangan
Dokter : Jl. Teratai No.10 Makassar No.SIK 2118/B Makassar R/ Pulv.Antashmatici Albi s.f. No. X
m.f. da in caps s.p.r.n.b.d.d.C.I pro : umur : alamat
34 Modul Farmasetika Dasar VI. Pembuatan/ Cara kerja VII. Etiket Apotek Farmasetika UNHAS Jl.
Perintis Kemerdekaan Km.10 Makassar Apoteker : No. SIK : No. Tgl.
35 Modul Farmasetika Dasar I. Kelengkapan Resep Nama dokter : Alamat dokter : No. SIK : Tgl
Resep : Paraf dokter : Nama pasien : Umur pasien : Alamat pasien : Lain lain : II. Khasiat
penggunaan resep III. OTT (Obat Tak Tercampurkan IV. Perhitungan Dosis V. Penimbangan
Dokter : Jl. Teratai No.10 Makassar No.SIK 2118/B Makassar R/ Papaverin 1,2 m.f. l.a. pil.No.XXX
s.b.d.d.pil II a.c. pro : umur : alamat
36 Modul Farmasetika Dasar VI. Pembuatan/ Cara kerja VII. Etiket Apotek Farmasetika UNHAS Jl.
Perintis Kemerdekaan Km.10 Makassar Apoteker : No. SIK : No. Tgl.
37 Modul Farmasetika Dasar I. Kelengkapan Resep Nama dokter : Alamat dokter : No. SIK : Tgl
Resep : Paraf dokter : Nama pasien : Umur pasien : Alamat pasien : Lain lain : II. Khasiat
penggunaan resep III. OTT (Obat Tak Tercampurkan IV. Perhitungan Dosis V. Penimbangan
Dokter : Jl. No.SIK Makassar R/ Diazepam 10 mg m.f. supp.dtd.No.II s.u.c pro : umur : alamat
38 Modul Farmasetika Dasar VI. Pembuatan/ Cara kerja VII. Etiket Apotek Farmasetika UNHAS Jl.
Perintis Kemerdekaan Km.10 Makassar Apoteker : No. SIK : No. Tgl.
39 Modul Farmasetika Dasar PERCOBAAN V SEDIAAN FARMASETIK CAIR I. SOLUTIONES
(LARUTAN) Larutan adalah sediaan cair yang mengandung satu jenis obat atau lebih zat terlarut
(solute atau solvendum) berupa zat padat, cair atau gas dalam pelarut (solven) yang sesuai,
dimaksudkan untuk digunakan sebagai obat dalam, obat luar atau untuk dimasukkan ke dalam
rongga tubuh. Untuk larutan steril yang digunakan sebagai obat luar harus memenuhi syarat
yang tertera pada injeksi. Kecuali dinyatakan lain, sebagai pelarut digunakan air suling. Larutan
terjadi apabila suatu zat padat bersinggungan dengan suatu cairan, maka zat padat tadi secara
molekuler dalam cairan tersebut. Pernyataan kelarutan zat dalam bagian tertentu pelarut
adalah kelarutan pada suhu 20, kecuali dinyatakan lain menunjukkan 1 bagian bobot zat padat
atau 1 bagian volume zat cair larut dalam bagian volume tertentu pelarut. Kelarutan suatu zat
yang tidak diketahui secara pasti dapat dinyatakan dengan istilah berikut: Istilah kelarutan
Jumlah bagian pelarut yang diperlukan untuk melarutkan Sangat mudah larut Mudah larut Larut
Agak sukar larut Sukar larut Sangat sukar larut Praktis tidak larut Kurang dari 1 1 10 10 30 10
100 100 1000 1000 10.000 Lebih dari 10.000 INTERAKSI PELARUT ZAT TERLARUT
Berhubungan dengan kelarutan (solubility) maka dapat terjadi interaksi antara pelarut-pelarut,
pelarut-zat terlarut dan zat-zat terlarut. Beberapa faktor dan konsep yang penting untuk
meramal keterlarutan obat adalah : 1. Polaritas 2. Co-solvency 3. Parameter kelarutan 4. Suhu 5.
Salting out
40 Modul Farmasetika Dasar 6. Salting in 7. Hidrotopi 8. Pembentukan kompleks 9. Efek ion
senama 10.Ukuran partikel 11.Ukuran dan bentuk molekul 12.Struktur dari air Beberapa bahan
yang tidak boleh dipanaskan pada saat pengerjaannya antara lain: 1. Ascal, akan terurai menjadi
Calcii salicylas dan asam cuka. Begitupun aspirin akan terurai jika ada air 2. Luminal natrium,
akan terurai menjadi phenylaethylacethyl-ureum yang sukar larut, biarpun pada suhu kamar 3.
Barbital natrium, serupa diatas, menjadi diaethylacetyl-ureum yang sukar larut 4. Chloral hidrat,
akan menjadi chloroform dam asam formiat 5. Natrii subcarbonas, akan menjadi natrii carbonas
dan CO2 6. Senyawa-senyawa perak koloidal; protargol, collargol, targesine, arygrol dll Macam-
Macam Sediaan Larutan Larutan oral Sediaan cair yang dibuat untuk pemberian oral,
mengandung satu atau lebih zat dengan atau tanpa bahan pengaroma, pemanis atau pewarna
yang larut dalam air atau campuran konsolven air. Larutan oral yang mangandung sukrosa atau
gula lain kadar tinggi disebut sirup. Larutan sukrosa hampir jenuh dalam air disebut sirup
simpleks (64%) v/v. Larutan yang mengandung etanol sebagai kosolven disebut eliksir. Larutan
topikal Larutan yang biasanya mengandung air tetapi sering kali mengandung pelarut lain
seperti etanol dan poliol, untuk penggunaan topikal pada kulit. Lotio Sediaan larutan atau
suspensi yang digunakan secara topikal. Contohnya : lotio kumerfeldi
41 Modul Farmasetika Dasar Larutan Otik Larutan yang mengandung air atau gliserin atau
pelarut lain dan bahan pendispersi, untuk penggunaan pada telinga luar. Misal : larutan otik
neonisin dan polimisin B silfat. Spirit Larutan yang mengandung etanol atau hidroalkohol dari zat
mudah menguap, umumnya berupa larutan tunggal atau campuran bahan. Spirit harus disimpan
dalam wadah yang tertutup rapat tidak tembus cahaya. Jika pelarutnya air disebut air aromatik
Sirup Sediaan pekat dalam air dari gula atau pengganti gula dengan atau tanpa penambahan
bahan pewangi dan zat obat. Sirup yang mengandung bahan pemberi rasa tapi tidak
mengandung zat obat, pembawanya bukan obatatau pembawa yang wangi, misalnya: syrup
akasia, sirup jeruk, dll. Eliksir Larutan hidroalkohol yang jernih dan manis dimaksudkan untuk
penggunaan vital, dan biasanya diberi rasa untuk menambah kelezatan. Dibanding dengan sirup,
eliksir kurang manis dan kurang kental karena mengandung kadar gula lebih rendah, sehingga
kurang efektif dalam menutupi rasa dan bau zat aktif. Saturasi, Effervesen dan Netralisasi
Larutan yang dibuat dengan cara mereaksikan bagian asam dan suatu basa (bikarbonat). Pada
netralisasi, gas CO2 yang terjadi dibiarkan menguap sampai habis. Pada saturasi, larutan
tersebut dijenuhkan dengan gas CO2. Potiones Sediaan yang berupa cairan untuk diminum,
dibuat sedemikian rupa hingga dapat digunakan sebagai dosis tunggal dalam golume besar,
umumnya 50 ml. Collyria Sediaan berupa larutan steril, jernih, bebas partikel asing, isotonis dan
digunakan untuk mencuci mata, dapat ditambahkan larutan dapar dan pengawet. Wadah yang
dipakai dapat wadah dari gelas atau plastik yang tertutup kedap. Gargarisma Sediaan berupa
larutan. Umumnya pekat dan bila digunakan diencerkan dulu. Gargarisma digunakan sebagai
pencegah infeksi tenggorokan dan tujuan
42 Modul Farmasetika Dasar penggunaan gargarisma ialah agar obatnya dapat langsung
mengenai selaput lendir yang ada di dalam tenggorokan dan bukan sebagai pelindung selaput
lendir maka tidak digunakan bentuk suspensi dan bahan berlendir tidak cocok sebagai obat
kumur. Dalam tiket harus tertera : hanya untuk kumur, jangan ditelan. Sebelum digunakan
diencerkan. Mouthwash Sediaan yang hampir mirip dengan gargarisma, ditujukan sebagai
antiseptik mulut. Namun dalam penggunaanya tidak perlu lagi untuk diencerkan dan hanya
dikumur dalam rongga mulut. Contoh Resep Sediaan Larutan R/ Ascali 5 Penyelesaian: Codein
0,1 Aqua ad 200 m.f.potio S.3.d.d.c II Suspension Suspensi adalah sediaan yang mengandung
bahan obat padat dalam bentuk dan tidak larut, terdispersi dalam cairan pembawa. Zat yang
terdispersi harus halus, tidak boleh cepat mengendap dan bila dikocok perlahan-lahan, endapan
harus segera terdispersi kembali. Dapat ditambahkan zat tambahan untuk menjamin stabilitas
suspensI tetapi kekentalan suspensi harus menjamin sediaan mudah dikocok dan dituang.
Aturan dalam pembuatan suspensi: 1. Untuk obat berkhasiat keras disuspensi dengan Pulvis
Gummosus sebanyak 2% dari jumlah cairan obat minum 2. Untuk obat tidak berkhasiat keras
disuspensi dengan Pulvis Gummosus sebanyak 1% dari jumlah cairan obat minum - Pembuatan
Ascali dapat dibuat dengan cara 1,2 g calcii acetylsalicylas dengan menggerus halus 1 g Acid
Acetylosalicycum dan dicampur 1/3 g Calcii carbonas dalam mortir. Lalu campuran tersebut
digerus dengan 10 g air dingin dan setelah gas C02 keluar larutan tersebut disaring. - Codein
merupakan basa lemah yang larut dalam air (1:20)
43 Modul Farmasetika Dasar Keuntungan suspensi adalah: - Rasa yang tidak enak dapat ditutupi
karena ukuran partikel suspensi besar jadi kontak dengan lidah kecil. - Suspensi lebih stabil
secata kimia dibandibgkan dengan larutan. - Dapat digunakan untuk obat-obat yang tidak larut. -
Mudah diatur penyesuaian dosis untuk anak-anak. - Bisa diatur warna dan bau Kerugian
suspensi - Tidak stabil secara termodinamika - Ketidakseragaman dosis - Adanya pengaruh
gravitasi menyebabkan terjadinya sedimentasi - Ada obat yang tidak stabil dengan adanya air
pada penyimpanan, misalnya bebrapa antibiotik. - Volumenya besar. - Penampilan suspensi
tidak elegan. Dalam pembuatan suspensi, pembasahan partikel dari serbuk yang tak larut di
dalam cairan pembawa adalah langkah yang paling penting. Kadang-kadang adalah sukar
mendispersi serbuk, karena adanya udara, lemak dan lain-lain kontaminan. Serbuk tadi tidak
dapat segera dibasahi, walaupun BJ-nya besar mereka mengambang pada permukaan cairan.
Pada serbuk yang halus mudah kemasukkan udaa dan sukar dibasahi meskipun ditekan dibawah
permukaan dari suspense medium. Mudah dan sukar terbasahinya serbuk dapat dilihat dari
sudut kontak yang dibentuk serbuk dengan permukaan cairan. s SL < 90o = 90o >90o
Sudut kontak antara 0o 180o
44 Modul Farmasetika Dasar Jika interaksi antara padatan dan cairan lebih besar daripada
interaksi antara padatan dan udara, sudut kontak yang terbentuk antara padatan dengan cairan
ialah >90, hal ini menyebabkan partikel/padatan tersebut sulit untuk dibasahi bahkan akan
berada di udara (mengapung) jika sudut kontaknya. Sudut kontak dibawah
45 Modul Farmasetika Dasar 3. Metode Botol Sistem HLB (Hydrophile Lipophile Balance) HLB
merupakan keseimbangan lipofil dan hidrofil dari suatu surface active dari molekul surfaktan.
Makin rendah nilai HLB suatu surfaktan maka akan makin lipofil surfaktan tersebut, sedangkan
makin tinggi nilai HLB surfaktan makin hidrofil Contoh perhitungan HLB: R/ Stearil Alkohol* 1,5
(HLB butuh 14) Adeps Lanae* 2 (HLB butuh 10) Paraffin cair* 30 (HLB butuh 12) Tween 80 10%
Span 80 10% Aqua ad 100 m.f emulsa Jumlah Fase Minyak (*): 1,5 + 2 + 30 = 33,5 Jumlah HLB
butuh dari fase minyak: , , + , + , = , Emulgator yang dibutuhkan pada R/ yaitu 10% dari 100 g =
10 g HLB butuh Tween 80 = 15 HLB butuh Span = 4,3 HLB butuh fase minyak = 11,9 Jumlah Span
= , ,( , ) ( , , ) x 10 g = 7,1 g Jumlah Tween = ,( , ) ( , , ) x 10 g = 2,9 g
46 Modul Farmasetika Dasar Lembar Kerja I. Kelengkapan Resep Nama dokter : Alamat dokter :
No. SIK : Tgl Resep : Paraf dokter : Nama pasien : Umur pasien : Alamat pasien : Lain lain : II.
Khasiat penggunaan resep III. OTT (Obat Tak Tercampurkan) IV. Perhitungan Dosis V.
Penimbangan Dokter : Marshanda Jl. P Kemerdekaan VIII No. 17 No.SIK Makassar R/ Amonium
Chloride 1 Efedrin HCl 0,2 Syr. Simplex 15% Ol.m.p gtt III m.f potio 100 S.3.d.d cth II a.c pro :
umur : alamat
47 Modul Farmasetika Dasar VI. Pembuatan/ Cara kerja VII. Etiket Apotek Farmasetika UNHAS Jl.
Perintis Kemerdekaan Km.10 Makassar Apoteker : No. SIK : No. Tgl.
48 Modul Farmasetika Dasar I. Kelengkapan Resep Nama dokter : Alamat dokter : No. SIK : Tgl
Resep : Paraf dokter : Nama pasien : Umur pasien : Alamat pasien : Lain lain : II. Khasiat
penggunaan resep III. OTT (Obat Tak Tercampurkan) IV. Perhitungan Dosis V. Penimbangan
Dokter : Marshanda Jl. P Kemerdekaan VIII No. 17 No.SIK Makassar R/ Calamin Lotio 60 ml Adde
Asam borat 2% m.f lotio S.a.u.c pro : umur : alamat
49 Modul Farmasetika Dasar VI. Pembuatan/ Cara kerja VII. Etiket Apotek Farmasetika UNHAS Jl.
Perintis Kemerdekaan Km.10 Makassar Apoteker : No. SIK : No. Tgl.
50 Modul Farmasetika Dasar I. Kelengkapan Resep Nama dokter : Alamat dokter : No. SIK : Tgl
Resep : Paraf dokter : Nama pasien : Umur pasien : Alamat pasien : Lain lain : II. Khasiat
penggunaan resep III. OTT (Obat Tak Tercampurkan) IV. Perhitungan Dosis V. Penimbangan
Dokter : Jl. Teratai No.10 Makassar No.SIK 2118/B Makassar R/ Ol. Iecoris Aselli 20 Syr. Simpleks
25% Oleum Citri gtt III m.f emulsa 60 S.b.d.d Cth II pro : umur : alamat
51 Modul Farmasetika Dasar VI. Pembuatan/ Cara kerja VII. Etiket Apotek Farmasetika UNHAS Jl.
Perintis Kemerdekaan Km.10 Makassar Apoteker : No. SIK : No. Tgl.
52 Modul Farmasetika Dasar PERCOBAAN VI SEDIAAN FARMASETIK SEMI PADAT Unguentum
Salep adalah sediaan setengah padat yang mudah dioleskan dan digunakan sebagai obat luar.
Bahan obatnya harus larut atau terdispersi homogeny dalam dasar salep yang cocok (FI ed.III).
Salep tidak boleh berbau tengik. Kecuali dinyatakan lain kadar bahan obat dalam salep yang
mengandung obat keras atau obat narkotika adalah 10%. Pembagian dasar salep antara lain: 1)
Dasar salep hidrokarbon, yang terdiri dari: - Vaselin putih dan kuning. - Campuran vaselin
dengan cera alba/flava. - Parafin cair dan parafin padat - jelene - Minyak tumbuh-tumbuhan. 2)
Dasar salep serap, yaitu dapat menyerap air, terdiri dari: - Lanolin dan Lanolin hidrous. -
Unguentum simplex (Campuran 30 bagian Caera flava dan 70 bagian Minyak wijen) - Hydrophilic
Petrolatum 3) Dasar salep yang dapat dicuci dengan air, yaitu terdiri dari: - Dasar salep emulsi
tipe M/A, seperti Vanishing cream. R/ Lanolin 20 Cetyl alcohol 1,0 Parafin liquidi 5,0 Acidi
stearinici 9,0 Kalii hydroxide 0,5 Propilenglikol 5,0 Aquadest 77,5 - Emulsifying ointment R/
Emulsifying wax 300 Vaselini albi 500 Parafin liquid 200 - Emulsifying wax R/ Cetostearilalkohol
90 Natriumlaurylsulfat 10 Aquadest 4 mL - Hydropilik ointment, dibuat dari minyak mineral,
Stearylalkohol, Mirj 52 (emulgator tipe M/A), aquadest.
53 Modul Farmasetika Dasar 4) Dasar salep yang dapat larut dalam air, yaitu terdiri dari PEG,
atau campuran PEG. Cara Pembuatan Salep Aturan umumnya ialah : a) Zat yang larut dalam
dasar salep, dilarutkan bila perlu dengan pemanasan rendah. b) Zat yang tidak cukup larut
dalam dasar salep, lebih dulu diserbukkan dan diayak dengan deraja ayakan no.100. c) Zat yang
mudah larut dalam air dan stabil, serta dasar salep mampu mendukung/ menyerap air tersebut,
dilarutkan dulu dengan air yang tersedia, setelah itu ditambahkan bagian dasar salep yang lain.
d) Bila dasar salep dibuat dengan peleburan, maka campuran tersebut harur diaduk hingga
dingin. Tipe-tipe salep yaitu: a) Salep berlemak ; merupakan salep dengan basis berlemak seperti
basis hidrokarbon dan cera. b) Pasta berlemak ; merupakan suatu salep yang mengandung lebih
dari 50% zat padat (serbuk), sebagai dasar salep digunakan Vaselin, paraffin cair. Bahan tidak
berlemak seperti glycerin, mucilage, atau sabun. Karena itu merupakan salep yang tebal, kaku,
keras dan tidak meleleh pada suhu badan. c) Pasta kering; suatu pasta bebas lemak
mengandung 60% zat padat (serbuk). d) Salep sejuk; Suatu salep yang mengandung tetes air
yang relative besar. Pada pemakaian pada kulit, tetes air akan menguap dan menyerap panas
tubuh mengakibatkan rasa sejuk. e) Pasta pendingin; merupakan campuran serbuk minyak
lemak dan cairan berair, dikenal dengan salep tiga dara. f) Krim; adalah sediaan setengah padat
berupa emulsi kental mengandung tidak kurang dari 60% air, dimaksudkan untuk pemakaian
luar. g) Mixtura gojok (Mixtura agintandae) ; suatu bentuk suspensi dari zat padat dalam cairan,
biasanya terdiri dari air, glycerinum dan alcohol. Mixture gojok biasanya mengandung 60%
cairan. h) Linimentum; umumnya adalah sediaan cairan atau kental, mengandung analgetik dan
zat yang mempunyai sifat rubefacient melemaskan otot atau menghangatkan, digunakan
sebagai obat luar.
54 Modul Farmasetika Dasar Lembar Kerja I. Kelengkapan Resep Nama dokter : Alamat dokter :
No. SIK : Tgl Resep : Paraf dokter : Nama pasien : Umur pasien : Alamat pasien : Lain lain : II.
Khasiat penggunaan resep III. OTT (Obat Tak Tercampurkan) IV. Perhitungan Dosis V.
Penimbangan Dokter : Jl. Teratai No.10 Makassar No.SIK 2118/B Makassar R/ 2-4 salep 10 Adde
Campora 1% m.f. Ung. s.m.et.v.aplic pro : umur : alamat
55 Modul Farmasetika Dasar VI. Pembuatan/ Cara kerja VII. Etiket Apotek Farmasetika UNHAS Jl.
Perintis Kemerdekaan Km.10 Makassar Apoteker : No. SIK : No. Tgl.
56 Modul Farmasetika Dasar I. Kelengkapan Resep Nama dokter : Alamat dokter : No. SIK : Tgl
Resep : Paraf dokter : Nama pasien : Umur pasien : Alamat pasien : Lain lain : II. Khasiat
penggunaan resep III. OTT (Obat Tak Tercampurkan) IV. Perhitungan Dosis V. Penimbangan
Dokter : Jl. Teratai No.10 Makassar No.SIK 2118/B Makassar R/Pasta Exsiccans 10 s.a.u.e pro :
umur : alamat
57 Modul Farmasetika Dasar VI. Pembuatan/ Cara kerja VII. Etiket Apotek Farmasetika UNHAS Jl.
Perintis Kemerdekaan Km.10 Makassar Apoteker : No. SIK : No. Tgl.
58 Modul Farmasetika Dasar I. Kelengkapan Resep Nama dokter : Alamat dokter : No. SIK : Tgl
Resep : Paraf dokter : Nama pasien : Umur pasien : Alamat pasien : Lain lain : II. Khasiat
penggunaan resep III. OTT (Obat Tak Tercampurkan) IV. Perhitungan Dosis V. Penimbangan
Dokter : Jl. Teratai No.10 Makassar No.SIK 2118/B Makassar R/ Vanishin Cream 10 adde Salycilic
acid 1% m.f. cream s.a.u.e pro : umur : alamat
59 Modul Farmasetika Dasar VI. Pembuatan/ Cara kerja VII. Etiket Apotek Farmasetika UNHAS Jl.
Perintis Kemerdekaan Km.10 Makassar Apoteker : No. SIK : No. Tgl.