Anda di halaman 1dari 14

ANALISIS KUALITATIF DAN KUANTITATIF

MENGGUNAKAN SPEKTROFOMETER UV-VIS

Kelompok R5

1. Dwita Rahmawati (J3L116034)


2. Ilhamdi Akmal (J3L116057)
3. Ogest Wan L. Sitio (J3L116102)
4. Rozzy Syahri Ramananda (J3L116120)

Program Keahlian Analisis Kimia

Program Diploma

Institut Pertanian Bogor

2017
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Secara tradisional analisis kimia dibagi menjadi dua jenis, kualitatif dan
kuantitatif. Analisis kualitatif bertujuan untuk mengetahui keberadaan suatu unsur
atau senyawa kimia baik organik maupun anorganik, sedangkan anlisis kuantitatif
bertujuan untuk mengetahui jumlah suatu unsur atau senyawa dalam suatu
cuplikan. Analisis kimia berkembang pesat, dari analisis tradisional menjadi
analisis modern yang menggunakan instrumen canggih dengan ketelitian tinggi.
Salah satu instrumen analisis kimia tersebut adalah spektrofotometri Ultraviolet-
Cahaya tampak (UV-VIS). Sepektro UV-VIS bekerja berdasarkan penyerapan
sinar UV-VIS oleh suatu molekul yang akan menyebabkan transisi di antara
tingkat energi elektronik dari molekul. Transisi ini dapat terjadi antarorbital ikatan
(bonding) atau orbital anti ikatan (anti bonding). Panjang gelombang sinar yang
diserap sebanding dengan perbedaan tingkat energi orbital (E).

Spektro UV-VIS dapat digunakan untuk uji kualitatif dan kauntitatif. Uji
kualitatif berfungsi pada spektro UV-VIS berfungsi untuk menganilisis jenis
molekul yang terdapat pada suatu sampel. Uji kuantitatif bertujuan untuk
menentukan konsesntrasi suatu larutan berdasarkan nilai absorban (A) dan
transmitan (T) hasil dari pengukuran sampel.

Spektrofotometri UV-Vis adalah anggota teknik analisis spektroskopik


yang memakai sumber REM (radiasi elektromagnetik) ultraviolet dekat (190-380
nm) dan sinar tampak (380-780 nm) dengan memakai instrumen spektrofotometer.
Spektrofotometri UV-Vis melibatkan energi elektronik yang cukup besar pada
molekul yang dianalisis, sehingga spektrofotometri UV-Vis lebih banyak dipakai
untuk analisis kuantitatif dibandingkan kualitatif. Spektrofotometri merupakan
salah satu metode dalam kimia analisis yang digunakan untuk menentukan
komposisi suatu sampel baik secara kuantitatif dan kualitatif yang didasarkan
pada interaksi antara materi dengan cahaya. Peralatan yang digunakan dalam
spektrofotometri disebut spektrofotometer. Cahaya yang dimaksud dapat berupa
cahaya visibel, UV dan inframerah, sedangkan materi dapat berupa atom dan
molekul namun yang lebih berperan adalah elektron valensi.

Sinar atau cahaya yang berasal dari sumber tertentu disebut juga sebagai
radiasi elektromagnetik. Radiasi elektromagnetik yang dijumpai dalam kehidupan
sehari-hari adalah cahaya matahari. Dalam interaksi materi dengan cahaya atau
radiasi elektromagnetik, radiasi elektromagnetik kemungkinanan dihamburkan,
diabsorbsi atau dihamburkan sehingga dikenal adanya spektroskopi hamburan,
spektroskopi absorbsi ataupun spektroskopi emisi. Pengertian spektroskopi dan
spektrofotometri pada dasarnya sama yaitu di dasarkan pada interaksi antara
materi dengan radiasi elektromagnetik. Namun pengertian spektrofotometri lebih
spesifik atau pengertiannya lebih sempit karena ditunjukan pada interaksi antara
materi dengan cahaya (baik yang dilihat maupun tidak terlihat). Sedangkan
pengertian spektroskopi lebih luas misalnya cahaya maupun medan magnet
termasuk gelombang elektromagnetik.

2. Tujuan
Penulisan makalah ini bertujuan untuk mempelajari metode analisis
kualitatif dan kuantitatifs pada spektrofotometri UV-VIS dan prinsip kerjanya.

PEMBAHASAN
Spektrofotometri Sinar Tampak (UV-Vis) adalah pengukuran energi
cahaya oleh suatu sistem kimia pada panjang gelombang tertentu (Day 2002).
Sinar ultraviolet (UV) mempunyai panjang gelombang antara 200-400 nm, dan
sinar tampak (visible) mempunyai panjang gelombang 400-750 nm. Pengukuran
menggunakan spektrofotometer melibatkan energi elektronik yang cukup besar
pada molekul yang dianalisis, sehingga spektrofotometer UV-Vis lebih banyak
dipakai untuk analisis kuantitatif dibandingkan kualitatif. Konsentrasi dari analit
di dalam larutan sampel bisa ditentukan dengan mengukur absorbansi sinar oleh
sampel pada panjang gelombang tertentu dengan menggunakan hukum Lambert-
Beer (Rohman 2007).

Prinsip dasar analisis kualitatif maupun kuantitatif dengan


spektrofotometer adalah reaksi antara radiasi elektromaknetik dari sinar UV-VIS
dengan elektron dari sampel. Karena memiliki fungsi sebagai gelombang
sekaligus sebagai materi, radiasi elektromagnetik menjadi bermanfaat. Sebagai
gelombang, radiasi elektromagnetik mempunyai panjang gelombang tertentu
sehingga menimbulkan efek warna yang dapat dilihat dengan jelas. Sebagai
materi, gelombang elektromagnetik mempunyai energi yang dapat berinteraksi
dengan partikel dari sampel.

Jika cahaya (radiasi elektromaknetik) mengenai suatu sampel, maka


sebagian energinya akan diserap oleh molekul sampel sehingga elektron-
elektronnya menjadi tereksitasi ke tingkat yang lebih tinggi. Besar perbedaan
tingkat energi ground state (energi tingkat dasar) dengan tingkat energi tereksitasi
untuk setiap molekul tidak sama. Maka dari itu, panjang gelombang optimum
yang dimiliki sampel yaitu panjang gelombang dimana energi yang dimiliki
gelombang itu besarnya sama dengan yang dibutuhkan untuk mengeksitasi
elektron-elektron bahan. Jumlah energi yang diserap sebanding dengan jumlah
materi sampel, sehingga spektrofotokopi dapat digunakan untuk uji yang bersifat
kuantitatif.
Perlu diketahui terlebih dahulu, bahwa panjang gelombang adalah jarak
linier dari suatu titik pada satu gelombang ke titik yang bersebelahan pada
panjang gelombang berdekatan. Dimensi panjang gelombang adalah panjang (L)
yang dapat dinyatakan dalam centimeter (cm), angstrom (), atau nanometer
(nm).

Frekuensi merupakan banyaknya gelombang yang melewati suatu titik


tertentu dalam satuan waktu. Dimensi frekuensi adalah T-1 dan satuan yang biasa
digunakan adalah detik-1.

Sinar UV memiliki panjang gelombang = 200-400 nm sedangkan sinar


visibel memiliki panjang gelombang = 400-750 nm. Berikut ini adalah tabel
kisaran panjang gelombang, frekuensi, dan spektrum elektromanetik.

Tabel 1 Hubungan Panjang Gelombang Dengan Warna

Panjang Warna warna yang Warna komplementer


gelombang (nm) diserap (warna yang terlihat)
400 435 Ungu Hijau kekuningan
435 480 Biru Kuning
480 490 Biru kehijauan Jingga
490 500 Hijau kebiruan Merah
500 560 Hijau Ungu kemerahan
560 580 Hijau kekuningan Ungu
580 595 Kuning Biru
595 610 Jingga Biru kehijauan
610 800 Merah Hijau kebiruan

Penyerapan Radiasi oleh Molekul

Semua molekul mempunyai komponen energi yang terdiri dari :


1. Translasi ; molekul secara keseluruhan dapat bergerak. Energi yang ada
hubungannya dengan tranlasi disebut energi tranlasional (Etrans).
2. Vibrasi ; gerakan bagian molekul (atom atau sekelompok atom) yang dapat
bergerak karena berhubungan satu sama lain. Energi yang berhubungan
dengan vibrasi disebut dengan energy vibrasional (Evibr)

3. Rotasional ; molekul dapat berotasi pada sumbunya. Energinya disebut


energy rotasional (Erot)

4. Elektronik ; suatu molekul yang memiliki konfigurasi elektronik yang


tergantung pada elektronik molekul dan energinya disebut energi
elektronik (Eelek).

Bila dirumuskan maka energi suatu molekul adalah gabungan dari beberapa
komponen di atas.

E = Etrans + Evibr + Erot + Eelek

Prinsip penentuan spektrofotometer UV-Vis adalah aplikasi dari Hukum Lambert-


Beer, yaitu:

A = log T = log It / I0 = . b . C

Dimana:

A = Absorbansi dari sampel yang akan diukur

T = Transmitansi

I0 = Intensitas sinar masuk

It = Intensitas sinar yang diteruskan

= Serapan molar

b = Tebal kuvet yang digunakan


C = Konsentrasi dari sampel

Metode Kualitatif dan Kuantitatif Spektrofotometri UV-Vis

Spekra UV-Vis dapat digunakan untuk informasi kualitatif dan sekaligus dapat
digunakan untuk analisis kuantitatif.

1. Metode Kualitatif

Panjang gelombang dimana suatu larutan zat uji memiliki serapan maksimum
(disebut panjang gelombang serapan maksimum) merupakan ciri khas dari zat uji
tersebut dalam metode spektrofotometri. Panjang gelombang serapan maksimum
dapat ditentukan dengan cara membuat spectrum penyerapan dari larutan zat uji.
Dari spectrum yang penyerapan yang diperoleh, panjang gelombang serapan
maksimum larutan zat uji dibandingkan dengan panjang gelombang serapan
maksimum larutan baku pembanding (larutan standar yang terkandung senyawa
uji yang konsentrasinya sudah diketahui). Bila sama, maka zat uji sama dengan
baku pembanding. Tinggi rendahnya konsentrasi larutan, akan mempengaruhi
intensitas serapan, namun tidak mempengaruhi panjang gelombang. Oleh karena
itu, jika terdapat dua larutan terkandung senyawa yang sama akan menghasilkan
panjang gelombang maksimum yang sama.

Data spektra UV-Vis bila digunakan secara tersendiri, tidak dapat


digunakan unutk identifikasi kualitatif obat atau metabolitnya. Akan tetapi, bila
digabung dengan cara lain seperti spektroskopi infra merah, resonansi magnet inti,
dan spektroskoppi massa, maka dapat digunakan untuk maksud analisis kualitatif
suatu senyawa tersebut.

Data yang diperoleh dari spektroskopi UV dan Vis adalah panjang


gelombang maksimal, intensitas, efek, pH, dan pelarut yang kesemuanya dapat
dibandingkan dengan data yang sudah dipublikasikan.

Dari spektra yang diperoleh dapat dilihat, misalnya :


a. Serapan (absorbansi) berubah atau tidak karena perubahan pH. Jika berubah
bagaimana perubahannya apakah batokromik ke hipsokromik dan sebaliknya
atau dari hipokromik ke hiperkromik, dsb.

b. Obat-obat yang netral misalnya kafein, kloramfenikol atau obat-obat yang


berisi ausokrom yang tidak terkonjugasi seperti amfetamin, siklizin, dan
pensiklidin.

Analisis kualitatif ini berfungsi untuk mengidentifikasi keberadaan suatu


senyawa dalam sampel , yaitu menggunakan pereaksi kimia yang merupakan
salah satu teknik dengan melihat hasil dari warna saat ditambahkan pereaksi kimia
tersebut, jika sesuai dengan standar maka positif mengandung senyawa yang diuji,
jika tidak sesuai maka negatif.

2. Metode Kuantitatif

Suatu berkas radiasi dikenakan pada larutan sampel (cuplikan) dan


intensitas sinar radiasi yang diteruskan diukur besarnya. Intensitas atau kekuatan
radiasi cahaya sebanding dengan jumlah foton yang melalui satu satuan luas
penampang per detik.

Serapan dapat terjadi jika foton/radiasi yang mengenai cuplikan memiliki


energi yang sama dengan energi yang dibutuhkan untuk menyebabkan terjadinya
perubahan tenaga. Jika sinar monokromatik dilewatkan melalui suatu lapisan
larutan dengan ketebalan db, maka penurunan intesitas sinar (dl) karena melewati
lapisan larutan tersebut berbanding langsung dengan intensitas radiasi (I),
konsentrasi spesies yang menyerap (c), dan dengan ketebalan lapisan larutan (db).
Secara matematis, pernyataan ini dapat dituliskan :

-dI = kIcdb

bila diintergralkan maka diperoleh persamaan ini : I = I0 e-kbc

dan bila persamaan di atas diubah menjadi logaritma basis 10, maka akan
diperoleh persamaan :
I = I0 10-kbc

dimana : k/2,303 = a , maka persamaan di atas dapa diubah menjadi persamaan :

Log I0/I = abc atau A = abc (Hukum Lambert-Beer)

dimana : A= Absorban

a= absorptivitas

b = tebal kuvet (cm)

c = konsentrasi

Bila Absorbansi (A) dihubungkan dengan Transmittan (T) = I/I0 maka dapat
diperoleh A=log 1/T .

Absorptivitas (a) merupakan suatu konstanta yang tidak tergantung pada


konsentrasi, tebal kuvet, dan intensitas radiasi yang mengenai larutan sampel.
Tetapi tergantung pada suhu, pelarut, struktur molekul, dan panjang gelombang
radiasi.

Pada Hukum Lambert-Beer, terdapat beberapa batasan, antara lain :

1. Sinar yang digunakan dianggap monokromatis

2. Penyerapan terjadi dalam suatu volume yang mempunyai penampang luas yang
sama

3. Senyawa yang menyerap dalam larutan tersebut tidak tergantung terhadap yang
lain dalam larutan

4. Tidak terjadi peristiwa flouresensi atau fosforisensi

5. Indeks bias tidak tergantung pada konsentrasi larutan.


Salah satu hal yang penting juga diingat adalah untuk menganalisis secara
spektrofotometri UV-Vis diperlukan panjang gelombang maksimal. Adapun
beberapa alasan mengapa harus menggunakan panjang gelombang maksimal,
yaitu :

1. Pada panjang gelombang maksimal, kepekaannya juga maksimal karena pada


panjang gelombang maksimal tersebut, perubahan absorbansi untuk setiap
konsentrasi adalah yang paling besar

2. Di sekitar panjang gelombang maksimal, bentuk kurva absorbansi datar dan


pada kondisi tersebut hukum Lambert-Berr akan terpenuhi

3. Jika dilakukan pengukuran ulang, maka kesalahan yang disebabkan oleh


pemasangan ulang panjang gelombang akan kecil sekali, ketika digunakan
panjang gelombang maksimal.

Analisis kuantitatif ini bertujuan untuk mengetahui kadar rhodamin B dalam


sampel karena berdasakan uji kualitatif, sampel mengandung suatu senyawa.
Analisis kuantitatif yang dilakukan adalah spektrofotometer UV-Vis. Metode
spektrofotometri ini mempunyai prinsip yaitu hukum lambert beer. Hukum
lambert beer menyatakan konsentrasi suatu zat berbanding lurus dengan jumlah
cahaya yang diabsorbsi, atau berbanding terbalik dengan logaritma cahaya yang
ditransmisikan. Dengan demikian, dari pengukuran spektrofotometri dapat
dihitung konsentrasi sampel yang dianalisis.
Analisa kuantitatif umumnya didasarkan atas pengukuran serapan dari larutan
zat uji pada panjang gelombang serapan dengan konsentrasi larutan. Prosedur
kerja pada analisa kuantitatif meliputi:
1. Penyiapan Larutan Uji.
Dalam penyiapan larutan uji perlu diperhatikan kadar larutan. Kadar larutan
diduat sedemikian agar diperoleh serapan antara 0,2-0,8 sehingga memenuhi
hokum Beer. Pada rentang serapan tersebut persentase kesalahan analisis masih
dalam batas yang dapat diterima, yaitu 0,5-1%. Diluar rentang tersebut, dapat
menyebabkan terjadinya kesalahan fotometrik yang dapat mempengaruhi
keakuratan metode fotometrik.
2. Pencarian Operating Time.
Cara ini biasanya dilakukan jika digunakan pengukuran hasil reaksi atau
pembentukan warna. Waktu operasional atau operating time merupakan waktu
yang dibutuhkan suatu senyawa untuk bereaksi dengan senyawa lain hingga
terbentuk senyawa produk yang stabil. Kestabilan senyawa produk diketahui
dengan mengamati absorbansi mulai dari saat direaksikan hingga tercapai serapan
yang stabil. Pengukuran serapan ini dilakukan pada panjang gelombang maksimal
teoritis.
3. Pemilihan Panjang Gelombang Maksimum.
Panjang gelombang yang digunakan untuk analisis kuantitatif adalah panjang
gelombang yang mempunyai absorbansi maksimal. Ada beberapa alasan mengapa
harus dilakukan pada panjang gelombang maksimal:
Pada panjang gelombang maksimal, kepekaannya juga maksimal karena pada
panjang gelombang maksimal tersebut, perubahan absorbansi untuk setiap
satuan konsenytrasi larutan adalah yang paling besar
Disekitar panjang gelombang maksimal, bentuk kurva absorbansi linier,
sehingga memenuhi hukum lambert-beer
Jika dilakukan pengukuran ulang, akan menghasilkan hasil yang cukup
konstan
4. Pembuatan Kurva Baku.
Dibuat seri larutan baku dari zat yang akan dianalisis dengan berbagai
konsentrasi. Masing-masing absorbansi larutan dengan berbagai konsentrasi
diukur, kemudian dibuat kurva yang merupakan hubungan antara absorbansi
dengan konsentrasi. Bila hukum lambert-beer terpenuhi, maka kurva baku berupa
garis lurus. Dengan adanya kuva baku, maka dapat digunakan untuk mencari
absorbtifity atau persamaan regresi linier sehingga dapat digunakan dalam
pencarian suatu kadar yang absorbansinya sudah diukur.
5. Pengukuran Serapan Larutan.
Pada analisis zat tunggal, serapan larutan zat uji dan serapan larutan baku
diukur pada panjang gelombang maksimum. Pada analisis zat campuran, serapan
zat uji diukur pada lebih dari satu panjang gelombang, dimana setiap komponen
campuran memiliki perbedaan serapan maksimum. Pada setiap pengukuran
serapan larutan zat uji atau baku pembanding, harus selalu dibandingkan dengan
larutan blangko, yaitu pelarut yang digunakan untuk melarutkan zat uji.

Aplikasi
UV / Vis spektroskopi secara rutin digunakan dalam kuantitatif penentuan
larutan dari logam transisi ion dan sangat dikonjugasikan senyawa organik, studi
fotoelektrokimia lapisan tipis CdS hasil deposisi metode CBD, meneliti pengaruh
kelembaban terhadap absorbansi optik lapisan gelatin dan dalam penentuan
konsentrasi suatu larutan yang belum diketahui konsentrasinya menggunakan
larutan standar.

SIMPULAN

Dari isi makalah ini, maka diperoleh beberapa kesimpulan sebagai berikut :
1. Spektrofotometer merupakan salah satu alat yang dapat digunakan untuk
mrngukur absorbansi dengan cara melewatkan cahaya dengan panjang
gelombang tertentu.

2. Prinsip kerjannya yaitu reaksi antar radiasi elektromagnetik dengan partikel


sampel.
3. Semakin tinggi konsentrasi maka semakin tinggi nilai absorbansi BSA
4. Analisis kualitatif berfungsi untuk mengidentifikasi keberadaan suatu senyawa
dalam sampel , yaitu menggunakan pereaksi kimia yang merupakan salah satu
teknik dengan melihat hasil dari warna saat ditambahkan pereaksi kimia
tersebut.
5. Analisa kuantitatif umumnya didasarkan atas pengukuran serapan dari larutan
zat uji pada panjang gelombang serapan dengan konsentrasi larutan.

LAMPIRAN

Contoh Soal :
I. Soal Metode Kuantitatif

1. Suatu larutan berwarna dengan konsentrasi 3 x 10-5 M pada panjang


gelombang tertentu melewatkan 71,6 % radiasi pada sel setebal 1 cm.
Tentukanlah :

a. Absorbansi larutan

b. Koefisien ekstingsi molar () larutan tersebut.

Jawab :

a. Jika % T = 71,6, maka T = 0,716

A = log 1/T = log 1/0,716 = log 1,396 = 0,145

b. A = .b.C, maka = A/(b.c)

= 0,145/(1 cm x 3 x 10-5 mol L-1)

= 4,83 x 103 L mol-1 cm -1

2. Sebutkan salah satu metode analisis kualitatif yang digunakan untuk


menentukan keberadaan kafein dalam kopi bubuk, pereaksi yang
digunakan beserta tanda positif keberadaan kafein !

Jawab :

Untuk mengetahui keberadaan kafein dalam sample bubuk kopi digunakan


metode uji parry dengan menggunakan pereaksi atau reagen parry (koibalt
nitrat dengan metanol) yang menghasilkan warna hijau bila terdapat kafein
dalam sampel tersebut.

DAFTAR PUSTAKA
Day AL , Underwood. 2002. Analisis Kimia Kuantitatif. Iis Sopyan Penerjemah.
Jakarta(ID) : Erlangga. Terjemahan dari : Quantitative Chemical
Analysist.

Mukti K.1996.Journal of Electroanalytical Chemistry.Analisis Spektofotometer


UV-VIS untuk Penentuan Konsentrasi Permanganat
(KmnO4).Surakarta (ID) : Elsevier.vol 412 : (153-158).

Panji T.2012.Teknik Spekroskopi untuk Elusidasi Struktur Molekul edisi


1.Yogyakarta (ID) : Graha Ilmu.

Rohman A. 2007 . Kimia Farmasi Analisis. Yogyakarta(ID) : Pustaka Pelajar

Sitorus M.2009.Spektroskopi Eluisidasi Struktur Molekul Organik.Yogyakarta


(ID) : Graha Ilmu

Wehantouw F, Citraningtyas G, Maramis R.K.2013.Pharmacon.Analisis kafein


dalam kopi bubuk di kota Manado menggunakan spektrofotometer
UV-VIS.Manado (ID) : UNSRAT. Vol 2 no 4.

Anda mungkin juga menyukai