Anda di halaman 1dari 7

Argo Katiga 1451054

1. Jelaskan Teori Competitive Advantage (Teori keunggulan) dari Michael Porter dan Dong-Sung
Cho!
I. Teori Keunggulan Kompetitif Menurut Michael Porter (Model Berlian Daya Saing Internasional)

Teori keunggulan kompetitif dikemukakan oleh Michael Porter dalam bukunya The Competitve
Advantage of Nation (1990). Menurut Porter tidak ada korelasi langsung antara dua faktor produksi
(sumber daya alam yang melimpah dan sumber daya manusia yang murah) yang dimiliki suatu negara,
yang dimanfaatkan menjadi keunggulan daya saing dalam perdagangan internasional. Banyak negara di
dunia yang jumlah sumber daya alamnya sangat besar yang proporsional dengan luas negerinya, tetapi
terbelakang dalam daya saing perdagangan internasional. Begitu juga dengan tingkat upah yang relatif
murah daripada negara lain, justru berkorelasi erat dengan rendahnya motivasi bekerja yang keras dan
berprestasi.

Porter mendefinisikan industri sebuah negara sebagai sukses secara internasional jika memiliki
keunggulan kompetitif relatif terhadap para pesaing terbaik di seluruh dunia. Sebagai indikator ia memilih
keberadaan ekspor yang besar dan bertahan lama dan/atau investasi asing di luar wilayah yang
signifikan berdasarkan pada keterampilan dan aktiva yang diciptakan di negara asal.

Kemakmuran nasional diciptakan, bukan diwariskan. Kmakmuran negara tidak tumbuh dari sumbangan
alamiah sebuah negara, kumpulan tenaga kerjanya, tingkat bunganya atau nilai kursnya, sebagaimana
dikemukakan oleh ekonom klasik. Daya saing sebuah negara tergantung pada kapasitas industrinya
untuk berinovasi dan melakukan pembaharuan. Perusahaan memperoleh keunggulan terhadap
para pesaing dunia yang terbaik, karena tekanan dan tantangan. Mereka mendapatkan manfaat dari
memiliki pesaing domestik yang kuat, pemasok yang berbasis daerah asal yang agresif, dan para
pelanggan lokal.

Bagaimana perusahaan berhasil dalam pasar internasional menurut Porter


a. Di seluruh dunia, perusahaan yang telah mencapai kepemimpinan internasional menggunakan
strategi yang berbeda satu sama lain dalam segala hal.
b. Perusahaan mencapai keunggulan kompetitif melalui tindakan inovasi. Mereka mendekati inovasi
dalam pemahamannya yang paling luas, termasuk teknologi baru maupun cara yang baru dalam
melakukan berbagai hal. Inovasi dapat diwujudkan dalam suatu rancangan produk baru, suatu
proses produksi baru, suatu cara baru dalam melaksanakan pelatihan.
c. Beberapa inovasi menciptakan keunggulan kompetitif dengan kesempatan pasar baru secara
menyeluruh atau dengan melayani suatu segmen pasar yang telah diabaikan oleh orang lain. Pada
saat para pesaing lambat dalam memberikan respons, inovasi seperti ini menghasilkan keunggulan
kompetitif. Dalam pasar internasional, inovasi yang menghasilkan keunggulan kompettif
mengantisipasi kebutuhan domestik maupun asing.
d. Informasi memainkan suatu peran yang besar dalam proses inovasi dan perbaikan, terutama
informasi yang tidak tersedia bagi para pesaing atau yang tidak mereka cari.
e. Dengan beberapa perkecualian, inovasi adalah hasil dari usaha yang tidak biasa. Untuk berhasil,
inovasi biasanya memerlukan tekanan, kebutuhan, dan bahkan kemalangan : rasa takut akan
kehilangan terbukti lebih kuat daripada harapan untuk peningkatan.
Argo Katiga 1451054

f. Sekali sebuah perusahaan mencapai keunggulan kompetitif melalui suatu inovasi, perusahaan
tersebut dapat bertahan hanya melalui perbaikan yang tanpa lelah. Hampir setiap keunggulan dapat
ditiru.
g. Akhirnya, satu-satunya cara untuk mempertahankan keunggulan kompetitif adalah dengan
memperbaharuinya, untuk bergerak beralih ke tipe-tipe yang lebih canggih.

Porter menyatakan terdapat empat atribut utama yang menentukan mengapa industri tertentu dalam
suatu negara dapat mencapai sukses internasional, yaitu sebagai berikut.
(1) Kondisi faktor produksi. Posisi negara dalam faktor produksi, seperti tenaga kerja terampil atau
infrastruktur, perlu untuk bersaing dalam suatu industri tertentu.
(2) Keadaan permintaan dan tuntutan mutu di dalam negeri untuk barang dan jasa industri.
(3) Industri terkait dan industri pendukung. Keberadaan atau tidak adanya industri pemasok dan industri
terkait lainnya di negara tersebut yang secara internasional bersifat kompetitif.
(4) Strategi perusahaan, struktur dan persaingan. Kondisi dalam negara yang mengatur bagaimana
perusahaan diciptakan, diatur, dan dikelola, sebagaimana juga sifat dari persaingan domestik.

Selain keempat faktor tersebut, keunggulan kompetitif nasional juga masih dipengaruhi oleh faktor
kebetulan atau kesempatan untuk melakukan sesuatu (chance events), seperti penemuan produk baru,
melonjaknya harga, perubahan nilai tukar, konflik keamanan antar negara dan lain-lain, dan tindakan-
tindakan atau kebijakan pemerintah (government).

Pendapat dari Porter dikenal sebagai model berlian daya saing internasional, seperti digambarkan dalam
Gambar
Argo Katiga 1451054

II. Teori Keunggulan Kompetitif Menurut Dong-Sung Cho (Daya Saing Internasional
Berdasarkan Model 9 Faktor)

Dong-Sung Cho, Presiden dari The Institute of Industrial Policy Studies, Korea Selatan, dalam karyanya
yang berjudul Determinant of International Competitiveness : How Can a Developing Country Transform
Itself to an Advance Economy, melengkapi hasil kajian Porter.

Dong-Sung Cho menjelaskan bahwa Model Berlian dari Porter kurang menerangkan mengapa beberapa
jenis industri di Korea Selatan, seperti industri tekstil, baja, pembuatan kapal, mobil, semi konduktor,
peralatan elektronik rumah tangga, konstruksi dan lain-lain, memiliki daya saing internasional. Dong-Sung
Cho menjelaskan bahwa kita membutuhkan model yang bisa mengatakan kepada kita semua, bukannya
seberapa banyak tingkat sumber daya yang sekarang dimiliki sebuah negara, tetapi siapa yang bisa
menciptakan sumber daya, dan kapan seharusnya setiap sumber daya itu diciptakan.

a. Model 9 Faktor

Dong-Sung Cho kemudian mengembangkan model yang dikenal sebagai Model 9 Faktor, yang
merupakan pengembangan dari model Porter, yang digambarkan pada Gambar

Beberapa perbedaan antara Model Berlian yang dikembangkan oleh Porter dibanding Model 9 Faktor
dari Dong-Sung Cho terletak pada faktor yang ada di luar kotak berlian, yaitu keberadaan empat faktor
yang meliputi tenaga kerja (workers), birokrasi dan politisi (politicians and bureaucrats),
Argo Katiga 1451054

kewirausahaan (enterpreners), dan manajer, teknisi dan perancang profesional (profesional, managers,
designers and engineers). Juga faktor akses dan kesempatan (chance events) dalam melakukan sesuatu
bagi masyarakat, yang berada di luar kotak segi empat tersebut, dimana akses dan kesempatan
merupakan faktor yang tidak kalah penting dalam mempertajam daya saing internasional.

Secara umum posisi faktor-faktor tersebut dapat tumbuh secara alamiah walaupun sangat tergantung
kepada keadaan masing-masing negara. Biasanya negara yang masih terbelakang lebih melekat pada
sumber daya alam, kemudian secara bertahap berkembang melahirkan lingkungan kegiatan bisnis. Pada
tahap setengah maju munculah industri terkait dan pendukung. Sedangkan pada tahapan negara lebih
maju, berkembanglah permintaan domestik. Sementara faktor manusia tergantung pada tahapan
perkembangan negara. Pada negara berkembang, yang ada adalah kumpulan pekerja, kemudian tampil
faktor politisi dan birokrasi, selanjutnya lahirlah wirausahawan dan kehadiran tenaga manajer, teknisi dan
perancang profesional.

b. Siklus Hidup Daya Saing Nasional

Status perekonomian sebuah negara ditetntukan oleh daya saing internasionalnya dan kesembilan faktor
memiliki bobot yang bervariasi sejalan dengan sebuah negara beralih dari tahapan keterbelakangan
menuju tahapan sedang berkembang, selanjutnya menuju tahapan semi maju dan akhirnya menuju pada
tahapan maju.

(1) Tahapan Terbelakang

Negara-negara sebelum pembangunan ekonomi hanya memiliki sumber daya yang dinaugerahkan dan
tenaga kerja yang terbatas, dan mereka cenderung kekurangan know-how manajemen dan teknologi
yang dapat menempatkan aktiva ini ke dalam proses produksi yang dapat menimbulkan nilai tambah.

(2) Tahapan Sedang Berkembang

Para politisi mulai mengisi ambisi politis melalui kebijakan pertumbuhan dan pembangunan. Dalam
proses tersebut, mereka memobilisasi para birokrat untuk melaksanakan kebijakan industri, dan
meningkatkan lingkungan bisnis melalui penciptaan pasar keuangan dan infrastruktur sosial. Kadang-
kadang sumber daya dan angkatan kerja yang tersedia disalurkan ke dalam lembaga yang dijalankan
oleh pemerintah, dan sebuah negara memiliki kesempatan pertamanya untuk memperkuat daya saing
internasionalnya.

(3) Tahap Semi Maju

Bersamaan dengan pembangunan perekonomian melewati periode awal, sistem kapitalis mungkin
memperbolehkan para wirausahawan untuk melakukan investasi besar terlepas dari risiko tinggi yang
terkait, dan mereka mulai mengurangi ketergantungan mereka pada pemerintah. Para usahawan
dipersiapkan untuk menyelidiki dan mencoba untuk mencapai skala ekonomis.
Argo Katiga 1451054

(4) Tahap Maju

Menyusul inovasi proses manufaktur, produk dan organisasi bisnis dalam tahap semi maju, hubungan
industri terkait dan pendukung secara horisontal dan secara vertikal ditingkatkan lebih lanjut. Barang dan
jasa dari industri dapat memasuki pasar internasional kompetitif dalam syarat yang sama dengan negara
maju. Proses manufaktur menjadi lebih berpengalaman, kualitas produk membaik dan suatu
pembangunan yang seimbang antara hulu dan hilir dicapai.

c. Siklus Hidup Daya Saing Industrial

Industri bergerak dari tahap awal menuju tahap pertumbuhan, menuju tahap kedewasaan, dan akhirnya
pada tahap penurunan. Faktor fisik dan faktor manusia dari daya saing internasional memiliki pengaruh
yang bervariasi bersamaan dengan setiap industri melewati dan melalui fase yang berbeda.

(1) Tahap Awal

Pada umumnya, sebuah industri berada pada tahap awal jika sumber persaingannya terbatas pada
sumber daya yang dianugerahkan, seperti sumber daya mineral yang berlebihan, dan lahan yang luas
dan subur.

(2) Tahap Pertumbuhan

Untuk beralih dari tahap awal menuju suatu tahap pertumbuhan, industri memerlukan politisi dan birokrat
yang bersedia mendukung bisnis secara sistematis. Politisi dan birokrat menciptakan suatu lingkungan
bisnis yang mendukung investasi aktif, menyeleksi industri tertentu untuk kemajuan, memberikan
dukungan administratif dan keuangan, kredit pajak, asuransi dan pelayanan informasi dan jaminan
pembayaran kepada para wirausahawan terpilih.

(3) Tahap Kedewasaan

Inovasi muncul dalam proses manufaktur, pengembangan produk, dan organisasi bisnis. Hubungan di
antara industri yang terkait secara horisontal dan vertikal menjadi lebih kuat pada tahap ini, dan
berkembangnya bisnis yang mengejar suatu pembangunan yang seimbang baik dalam bidang hulu
maupun hilir tetap kompetitif dalam pasar internasional.

(4) Tahap Penurunan

Industri yang melewati tahap kedewasaan dan gagal mempertahankan inovasi secara alamiah akan
memasuki tahap penurunan. Pasar menjadi jenuh pada titik ini dan pengharapan konsumen untuk
kualitas produk yang tinggi. Biaya produksi meningkat jika bisnis mencoba untuk memenuhi permintaan
konsumen yang berpengalaman, mengakibatkan suatu penurunan yang cepat dalam daya saing
internasionalnya.
Argo Katiga 1451054
2. Kaitkan teori diamond theory dengan kondisi Indonesia, kenapa & bagaimana, dan cari solusi
nya!

Perbandingan =

Amerika Serikat Indonesia

Ilustrasi nyata mengenai keunggulan kompetitif dapat dilihat dari perilaku negara-negara dengan
perekonomian yang besar. Jepang dan beberapa negara Eropa memiliki keunggulan di bidang otomotif,
Amerika menguasai teknologi informasi, dan Cina memiliki keunggulan dalam strategi harga murah.
Berbeda dengan Indonesia yang tidak memiliki sumber daya di bidang teknologi informasi dan otomotif.
Indonesia memiliki karakter padat modal sehingga jika memaksakan untuk menjadi negara industri
otomotif atau teknologi, Indonesia hanya akan menjadi pelengkap variasi produk di pasaran saja. Oleh
karenanya, keunggulan kompetitif yang harus dipunyai Indonesia bukanlah di kedua bidang tersebut,
melainkan mencari keunggulan lain yang belum dimiliki oleh negara lain. Selain itu, Indonesia harus
mampu memosisikan diri yang sesuai dengan sumber daya yang dimiliki dan relung pasar yang masih
tersedia sehingga dapat bersaing dalam pasar internasional.

Solusi

Dengan kekayaan sumberdaya alam yang dimiliki, Indonesia sesungguhnya dapat bersaing di pasaran
dunia. Yaitu dengan mengembangkan industri yang benar-benar memiliki keunggulan dibanding jika
negara lain yang melakukannya. Misalnya di bidang perikanan, Indonesia memiliki sumber daya ikan
yang sangat melimpah sehingga memiliki keunggulan kompetitif yaitu bahan baku yang dapat diperoleh
lebih murah dibanding negara maju lain yang harus mendatangkan ikan dari tempat lain dengan biaya
transportasi yang sangat mahal.

Korea Selatan Indonesia

Korea Selatan merupakan negara yang banyak mengekspor barang seperti kendaraan bermotor, alat
telekomunikasi, komputer dan kapal.Dari ekspor, Korea Selatan mendapatkan USD 552.8 milyar. Dan
merupakan negara dengan PDB terbesar ke 8 dunia. Perekonomian Korea Selatan meningkat dengan
pesat sekali. Korea Selatan juga unggul dalam industry galangan kapal. Korea Selatan saat ini sudah
bertranformasi sebagai negara industry, keunggulan kompetitif Korea Selatan berada di produk produk
seperti elektronik. Berbeda dengan Indonesia yang unggul dalam barang bahan mentah, Indonesia kaya
akan sumber daya alam.

Solusi

Indonesia lebih focus dalam keunggulan kompetitif nya, jangan memaksakan harus menjadi seperti
negara Korea Selatan, karena hanya akan menjadi pelengkap saja bukan pemain utama. Masih banyak
potensi Indonesia yang belum dimaksimalkan dan dapat menjadi keunggulan kompetitif dari negara
Indonesia yang belum ditunjukkan kepada dunia.
Argo Katiga 1451054

Posisi Daya Saing Indonesia

Negara 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006

USA 1 1 1 1 1 1 1

Singapura 2 3 8 4 2 3 3

Malaysia 26 28 24 21 16 28 23

Korea 29 29 29 37 35 29 38

Jepang 21 23 27 25 23 21 17

Cina 24 26 28 29 24 31 19

Thailand 31 34 31 30 29 27 32

Indonesia 43 46 47 57 58 59 60

Sumber: IMD World Competitiveness Yearbook (WCY)


Daya saing merupakan salah satu kriteria yang menentukan keberhasilan suatu negara di dalam
perdagangan internasional. Berdasarkan badan pemeringkat daya saing dunia, IMD World
Competitiveness Yearbook 2006, posisi daya saing Indonesia sangat menyedihkan. IMD World
Competitiveness Yearbook (WCY) adalah sebuah laporan mengenai daya saing negara yang
dipublikasikan sejak tahun 1989. Pada tahun 2000, posisi daya saing Indonesia menduduki peringkat 43
dari 49 negara. Tahun 2001 posisi daya saing Indonesia semakin menurun, yaitu menduduki peringkat
46. Selanjutnya, tahun 2002 posisi daya saingnya masih menduduki posisi bawah, yaitu peringkat 47.
Lalu, tahun 2003, posisi daya saingnya malah makin terpuruk, yaitu menduduki peringkat 57. Tahun 2004
menduduki peringkat 58. Tahun 2005 Indonesia menduduki posisi 58. Tahun 2006 Indonesia telah
menduduki posisi 60.

Sumber : http://wahonodiphayana.blogspot.com/2014/12/bab-v-teori-perdagangan-internasional.html

IMD World Competitiveness Yearbook (WCY)