Anda di halaman 1dari 40

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kesehatan gigi dan mulut mempunyai peranan penting bagi kesehatan dan

kesejahteraan tubuh secara umum. Ada banyak penyakit yang berawal dari gigi

dan mulut karena mulut adalah pintu masuk segala macam benda asing ke dalam

tubuh, menjaga kesehatan mulut berarti menjaga kesehatan seluruh badan.

Kesehatan gigi dan mulut juga mempengaruhi kualitas kehidupan seseorang untuk

fungsi bicara, pengunyahan dan rasa percaya diri. Gangguan yang terjadi baik

pada jaringan keras maupun pada jaringan pendukung gigi akan berdampak pada

produktivitas seseorang. Sebagian besar masyarakat masih mengesampingkan

upaya pencegahan bahkan juga pengobatan dari penyakit gigi dan mulut yang

dideritanya.

Penyakit periodontal dan karies gigi merupakan salah satu masalah

kesehatan yang paling umum di masyarakat (Vahabi, 2011). Hasil survei

kesehatan rumah tangga yang dilakukan oleh Departemen Kesehatan menyatakan

prevalensi karies gigi di Indonesia sebesar 90,05 %. Penelitian Tri Astoeti pada

tahun 2010 menyatakan bahwa di Jakarta 90% anak-anak mengalami masalah gigi

berlubang dan 80% menderita penyakit gusi (Zatnika, 2010). Kejadian gigi

berlubang diduga akan lebih parah lagi yang akan menyerang anak-anak dari

golongan ekonomi menengah ke bawah.

1
Kesehatan dan kebersihan mulut seseorang tergantung oleh banyaknya

bakteri, karena pada proses terjadinya karies gigi dan peradangan mukosa mulut

di sebabkan oleh adanya bakteri seperti Streptococcus, Staphilococcus,

Lactobacillus, sedangkan jenis bakterinya berbeda pada berbagai tempat dalam

rongga mulut. Di antara kelompok bakteri ini ternyata Streptococcus dan

Staphilococcus paling sering ditemukan. Streptococcus yang paling sering

ditemukan adalah Streptococcus mutans (Samaranayake, 2006). Streptococcus

mutans merupakan koloni mikroorganisme terbanyak pada permukaan rongga

mulut. Staphylococcus aureus juga merupakan bakteri patogen utama bagi

manusia. Bakteri ini merupakan flora normal manusia, biasanya terdapat pada

saluran pernafasan atas, mulut dan kulit. (Aneja, et al., 2010).

Berbagai tindakan dilakukan untuk menjaga kesehatan rongga mulut.

Tindakan yang utama dan sering dilakukan adalah sikat gigi, selain itu dengan

berkumur dengan obat kumur yang mengandung zat anti mikroba dapat

membantu menjaga kesehatan rongga mulut, mengurangi jumlah mikroba dan

perlekatan bakteri dalam rongga mulut. Obat kumur yang mengandung zat anti

mikroba dapat digolongkan menjadi dua yaitu yang zat aktifnya berasal dari alam

dan yang berbahan dasar Chlorhexidine (Suryo, 1992).

Pemanfaatan tanaman herbal di Indonesia sudah semakin banyak

digunakan, karena dinilai memiliki khasiat yang cukup efektif dan memiliki efek

samping yang kecil bila dibandingkan dengan obat yang terbuat dari bahan kimia.

Selain itu, tanaman tradisional juga mudah sekali dijumpai, baik dari tanaman

2
sekitar rumah atau membelinya di pasar sehingga biayanya juga relatif lebih

murah dan terjangkau oleh masyarakat.

Penggunaan produk alami dalam pencegahan dan pengobatan kondisi

rongga mulut telah meningkat dan bisa bermanfaat bagi masyarakat perkotaan dan

pedesaan yang tingkat sosial ekonominya rendah (Oliveira, 2008). Di Indonesia

terdapat banyak sekali tanaman yang berguna sebagai antibakteri. Salah satunya

adalah Aloe vera atau biasanya dikenal oleh masyarakat dengan nama lidah buaya.

Zat-zat aktif yang terdapat dalam lidah buaya meliputi monosakarida,

polisakarida, asam aminoesensial, dan non-esensial, antrakuinon, enzim, mineral,

vitamin, protein, lignin, asam salisilat, saponin, sterol, tanin, magnesium laktat

dan senyawa antiprostaglandin (Kathuria dkk, 2011), yang memiliki sifat anti-

inflamasi, anti-bakteri, antioksidan, anti virus, anti jamur, serta menghasilkan efek

hipoglikemik (Fani M, 2012). Maka dari itu penggunaan Lidah buaya telah

dimasukkan dalam banyak produk herbal dalam penggunaan oral, termasuk pasta

gigi dan obat kumur (Subramaniam, 2013).

Berdasarkan dari latar belakang diatas maka penulis tertarik melakukan

penelitian yang berjudul Formulasi sediaan obat kumur ekstrak kulit daun lidah

buaya (Aloe barbadensis Miller) terhadap uji aktivitas antibakteri Staphylococcus

aureus dan Streptococcus mutans.

3
1.2 Perumusan Masalah

1. Apakah ekstrak kulit daun lidah buaya dapat dibuat menjadi sediaan obat

kumur ?

2. Apakah obat kumur ekstrak kulit daun lidah buaya ini memiliki aktivitas

antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Streptococcus

mutans?

3. Pada konsentrasi berapakah ekstrak kulit daun lidah buaya dalam sediaan

obat kumur yang dapat menunjukkan aktivitas antibakteri terhadap bakteri

Staphylococcus aureus dan Streptococcus mutans?

1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan Umum

Tujuan umum penelitian ini adalah membuat formulasi sediaan obat

kumur ekstrak kulit daun lidah buaya (Aloe barbadendis Miller ) terhadap

uji aktivitas antibakteri Staphylococcus aureus dan Streptococcus mutans.

1.3.2 Tujuan Khusus

1. Membuat sediaan obat kumur dari ekstrak kulit daun lidah buaya dengan

menggunakan basis Tween 80 sebagai obat kumur antiseptik.

2. Mengetahui aktivitas antibakteri obat kumur terhadap bakteri bakteri

Staphylococcus aureus dan Streptococcus mutans.

4
1.4 Manfaat Penelitian

1. Sebagai alternatif bagi masyarakat untuk mencegah penyakit infeksi gigi

dan mulut yang disebabkan oleh bakteri bakteri Staphylococcus aureus

dan Streptococcus mutans.

2. Menambah pengetahuan dan pengalaman peneliti dalam melakukan

penelitian ilmiah.

1.5 Hipotesis

Ekstrak kulit daun lidah buaya (Aloe barbadendis Miller) memiliki

aktivitas antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Streptococcus

mutan yang dibuat dalam sediaan obat kumur.

1.6 Keaslian Penelitian

Sampai saat ini penelitian formulasi sediaan obat kumur ekstrak kulit daun

lidah buaya (Aloe barbadensis Miller) terhadap uji aktivitas antibakteri bakteri

Staphylococcus aureus dan Streptococcus mutans belum ada dan belum pernah

dilakukan dalam penelitian.

5
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tanaman Lidah Buaya (Aloe barbadensis Miller )

Gambar 1. Daun Lidah Buaya


Sumber : www.google.com

2.1.1 Klasifikasi Tanaman (McVicar, J. 1994)

Kingdom : Plantae

Sub Kingdom : Tracheobionta

Super Divisi : Spermatophyta

Divisi : Magnoliophyta

Kelas : Liliopsida

Ordo : Asparagales

Famili : Asphodelaceae

Genus : Aloe

Species : Aloe barbadensis Miller

Sinonim :Aloe nobilis, Aloe variegate, Aloe vera (Aloe

barbadensis), Aloe ferox miller, Aloe arborescens dan Aloe

schimperi.

6
2.1.2 Deskripsi Tanaman

Lidah buaya sama seperti tanaman lainnya yang mempunyai

struktur akar, batang, daun dan bunga, namun yang sering digunakan di

dalam pengobatan adalah bagian daun. Daun lidah buaya merupakan daun

tunggal berbentuk tombak dengan helaian memanjang berupa pelepah

dengan panjang mencapai kisaran 4060 cm dan lebar pelepah bagian

bawah 813 cm dan tebal antara 23 cm. Daunnya berdaging tebal, tidak

bertulang, berwarna hijau keabu- abuan dan mempunyai lapisan lilin di

permukaan serta bersifat sukulen, yakni mengandung air, getah dan lendir

yang mendominasi daun. Bagian atas daun rata dan bagian bawahnya

membulat (cembung). Daun lidah buaya muda memiliki bercak berwarna

hijau pucat sampai putih. Bercak ini akan hilang saat daun lidah buaya

dewasa. Namun tidak demikian halnya dengan tanaman lidah buaya jenis

kecil atau lokal. Hal ini kemungkinan disebabkan faktor genetiknya.

Sepanjang tepi daun berjajar gerigi atau duri yang tumpul dan tidak

berwarna (Furnawanthi, 2007).

2.1.3 Kandungan Tanaman

Lidah buaya mengandung senyawa aktif disetiap bagiannya. Gel

pada daging lidah buaya mengandung bradikinase, lignin, aloktin, dan

acemannan yang mengatasi inflamasi, serta lupeol, fenol, dan sulfur yang

memiliki sifat antiseptik. Sedangkan getah, resin atau lateks yang berasal

dari kulit daun, mengandung antrakuinon yaitu aloin, aloe-emodin, barbolin,

7
saponin, tannin dan sterol yang bersifat aktif serta memiliki sifat anti

bakterial.( Lawrence R, 2009) (Saeed MA, 2003).

Lidah buaya juga mengandung protein, karbohidrat, lipid dan

beberapa vitamin seperti vitamin B1, B2, B6, dan B12, asam folat dan

vitamin C. Selain itu juga mengandung mineral seperti kalium, kalsium, zat

besi, natrium, kromium, tembaga, enzim, asam lemak, dan asam amino

(Bhat G, 2011).

2.1.4 Sifat dan Khasiat

Efek antimikroba pada ekstrak lidah buaya dihubungkan dengan

kandungan senyawa organik adalah Antrakuinon. Antrakuinon bekerja

dengan mengganggu sifat kekerasan dinding sel, menghambat sintesis

protein, menghambat metabolisme sel bakteri, menghambat sintesis RNA

dan DNA dalam sel bakteri (Lawrence R, 2009).

2.2 Bakteri Uji Staphylococcus aureus

2.2.1 Morfologi dan ciri khas bakteri Staphylococcus aureus

Staphylococcus berasal dari kata staphyle yang berarti kelompok

buah anggur dan coccus yang berarti benih bulat. Kuman ini sering

ditemukan sebagai flora normal dan selaput lendir pada manusia maupun

pada hewan. Beberapa jenis kuman ini dapat membuat enterotoksin yang

dapat menyebabkan keracunan makanan. Kuman ini dapat diasingkan dari

bahan-bahan klinik, carriers, makanan dan dari lingkungan (Syahrurachman

A dkk.,2012).

8
Staphylococcus aureus merupakan bakteri gram positif berbetuk

sferis, berdiameter 0,8-1,0 mikron, tersusun dalam kelompok-kelompok

yang tidak teratur seperti buah anggur, fakultatif anaerob, tidak membentuk

spora dan tidak bergerak.Bakteri ini tumbuh dengan baik pada suhu 37C,

batas-batas suhu untuk pertumbuhannya ialah 15C dan 40C, sedangkan

suhu pertumbuhan optimum ialah 35C. Pertumbuhan terbaik dan khas

bakteri ini ialah pada suasana aerob. Koloni pada perbenihan berwarna

kuning keemasan, hanya saja intensitas warnanya dapat bervariasi. Diantara

semua jenis kuman yang tidak membentuk spora, Staphylococcus aureus

termasuk jenis kuman yang paling kuat daya tahannya. Pada agar miring

dapat tetap hidup sampai berbulan-bulan, baik dalam lemari es maupun pada

suhu kamar, pada keadaan kering pada benang, kertas, kain dan dalam

nanah dapat tetap hidup selama 6-14minggu (Syahrurachman A dkk.,2012)

Klasifikasi dari staphylococcus aureus sebagai berikut : (Syahrurachman A

dkk.,2012)

Ordo : Eubacteriales

Famili : Micrococcaceae

Genus : Staphylococcus

Species : Staphylococus aureus

2.2.2 Patogenitas dan gambaran Klinik

Staphylococcus aureus merupakan patogen utama bagi manusia.

Hampir setiap orang akan mengalami berbagai tipe infeksi Staphylococcus

aureus sepanjang hidupnya, bervariasi dalam beratnya mulai dari keracunan

9
makan atau infeksi kulit ringan sampai infeksi berat yang megancam jiwa.

Staphylococcus aureus merupakan bakteri gram positif, yang terdapat pada

kulit, hidung, mulut, selaput lender, bisul dan luka yang menyebabkan

pernanahan, abses dan berbagai infeksi piogen. Pernanahan fokal (abses)

adalah sifat khas infeksi Staphylococcus. Dari setiap fokus, organisme

menyebar melalui saluran getah bening dan aliran darah ke bagian tubuh

lainnya. Pernanahan dalam vena, yang disertai thrombosis, sering terjadi

pada penyebaran tersebut. Staphylococcus aureus dapat menyebabkan

pneumonia, meningitis, atau sepsis dengan parnanahan pada bagian tubuh

mana pun (Jawetz, 1996).

Klinis ditemukan tanda-tanda peradangan setempat yang

menyembuh setelah pus atau nanah dikeluarkan. Dinding fibrin disekitar

abses dapat mencegah penyebaran kuman. Jika dinding ini rusak, kuman

dapat menyebar sehingga terjadi bakterimia. Lokalisasi sekunder dalam

suatu organ dapat menimbulkan tanda-tanda disfungsi dari organ yang

bersangkutan dan tanda-tanda peradangan. Pada keracunan makanan karena

enterotoksin tidak ada gejala demam. Pada penekanan flora normal dari

kolon karena pemakaian antibiotik, dapat menyebabkan terjadinya

enterokolitis oleh kuman staphylococcus yang biasanya bersifat fatal

(Syahrurachman A dkk.,2012).

10
2.3 Bakteri uji Streptococcus mutans

2.3.1 Morfologi dan ciri khas bakteri Streptococcus mutans

Streptococcus mutans merupakan bakteri gram positif, bersifat

nonmotil (tidak bergerak), bakteri anaerob fakultatif. Berbentuk kokus dan

tersusun dalam bentuk rantai. Bakteri ini tumbuh secara optimal pada suhu

sekitar 18-40C. Streptococcus mutans biasanya ditemukan pada rongga

gigi manusia dan menjadi bakteri yang paling kondusif menyebabkan karies

untuk email gigi (Nugraha, 2008).

Klasifikasi dari Streptococcus mutans sebagai berikut : (Tjitrosoepomo, 1994)

Divisi : Schizophyta

Kelas : Schizomycetes

Bangsa : Eubacteriales

Suku : Lactobacillaceae

Marga : Streptococcus

Spesies : Streptococcus mutans

2.3.2 Patogenitas dan gejala klinik

Pada permukaan rongga mulut terdapat banyak koloni

mikroorganisme. Salah satu penyakit yang umum pada rongga mulut akibat

kolonisasi mikroorganisme adalah karies gigi. Karies gigi diawali akibat

pertumbuhan Streptococcus mutans dan spesies Streptococcus lainnya pada

permukaan gigi. Spesies Streptococcus ini mampu menempel pada

permukaan gigi. Hasil fermentasi metabolismenya menghidrolisis sukrosa

11
menjadi komponen monosakarida, fruktosa dan glukosa. Enzim

glukosiltransferase selanjutnya merakit glukosa menjadi dekstran. Residu

fruktosa adalah gula utama yang difermentasi menjadi asam laktat.

Akumulasi bakteri dan dekstran menempel pada permukaan gigi dan

membentuk plak gigi (Pratiwi, 2005).

2.4 Antibakteri

Antibakteri dapat digolongkan berdasarkan toksisitasnya, yaitu yang dapat

menghambat atau menghentikan pertumbuhan bakteri disebut bakteriostatik dan

yang dapat membunuh bakteri disebut bakterisida. Antibakteri dikatakan memiliki

efek yang memuaskan jika diameter daerah hambatan pertumbuhan bakteri kurang

lebih 14 16 mm (Farmakope Indonesia Ed IV : 896).

Ada beberapa mekanisme kerja antibakteri yaitu:

a. Menghambat metabolisme sel bakteri

b. Menghambat sintesis dinding sel bakteri

c. Mengganggu keutuhan membran sel bakteri

d. Menghambat protein sel bakteri

e. Menghambat sintesis asam nukleat mikroba

12
2.5 Metode penetapan aktivitas antibakteri

2.5.1 Metode Dilusi

Zat antibakteri dengan konsentrasi yang berbeda-beda dimasukkan

pada media cair. Media tersebut langsung diinokulasi dengan bakteri dan

diinkubasi. Tujuan dari percobaan ini adalah menentukan konsentrasi

terkecil suatu zat antibakteri dapat menghambat pertumbuhan atau

membunuh bakteri uji. Metode dilusi agar membutuhkan waktu yang lama

dalam pengerjaannya sehingga jarang digunakan.

2.5.2 Metode Difusi

a. Metode disc diffusion

Metode ini untuk menetukan aktivitas agen antimikroba. Piringan yang

berisi agen antimikroba diletakkan pada media Agar yang telah ditanami

mikroorganisme yang akan berdifusi pada media Agar tersebut. Area

jernih mengindikasikan adanya hambatan pertumbuhan mikroorganisme

oleh agen antimikroba pada permukaan media agar.

b. Metode cup plate technique

Metode ini serupa dengan metode disc diffusion, dimana dibuat sumur

pada media Agar yang telah ditanami dengan mikroorganisme dan pada

sumur tersebut diberi agen antimikroba yang akan diuji.

c. Metode ditch plate technique

Pada metode ini sampel uji berupa agen antimikroba yang

diletakkan pada parit yang dibuat dengan cara memotong media Agar

13
dalam cawan petri pada bagian tengah secara membujur dan mikroba uji

digoreskan ke arah parit yang berisi agen antimikro.

d. Metode E-test

Metode ini digunakan untuk mengestimasi KHM (Kadar Hambat

Minimum), yaitu konsentrasi minimal suatu agen antimikroba untuk dapat

menghambat pertumbuhan bakteri.

Pada metode ini digunakan strip plastik yang mengandung agen

antimikroba dari kadar terendah hingga tertinggi dan diletakkan pada

permukaan media Agar yang telah ditanami bakteri. Pengamatan

dilakukan pada area jernih yang ditimbulkannya yang menunjukkan kadar

agen antimikroba yang menghambat pertumbuhan bakteri pada media

Agar.

2.6 Media

Media yang digunakan dalam pengujian ini yaitu :

a. Nutrien Agar (NA)

Jumlah media yang harus dilarutkan dalam 1 liter aquadest pada etiket

adalah 20 g/L.

b. Blood Agar (BA), Nutrient agar ditambah darah steril (domba) 5-10%.

Mencampurkannya kira-kira pada suhu 450C-500C, lalu kocok sampai

homogen. Tuanglah dalam lempeng steril atau tabung-tabung steril.

c. Mueller Hinton Agar (MHA)

Jumlah media yang dilarutkan dalam 1 liter aquadest pada etiket adalah

34 g/L.

14
2.7 Obat Kumur

Obat kumur adalah sediaan yang digunakan untuk mencuci mulut,

tenggorokan dan gigi dengan maksud untuk membasmi mikroorganisme dan

menghilangkan bau mulut (Jas, 2007). Sediaan ini sebaiknya aman digunakan

setiap hari, tidak mendukung pertumbuhan bakteri, rasa sediaan dapat diterima,

sebaiknya larutan jernih dan berbusa untuk mendorong konsep pembersihan

mulut, dapat menyegarkan nafas serta meninggalkan rasa segar di mulut setelah

menggunakannya (Mitsui, 1997).

Menurut Farmakope Indonesia edisi III (1979), obat kumur

(gargarisma/gargle) adalah sediaan berupa larutan, umumnya pekat yang harus

diencerkan dahulu sebelum digunakan sebagai pencegahan atau pengobatan

infeksi tenggorokan.

Menurut Mitsui (1997) ada 3 tipe obat kumur, yaitu:

a. Tipe langsung

Tipe ini digunakan langsung tanpa ada perlakuan tertentu. Sangat mudah

digunakan dan banyak diaplikasikan.

b. Tipe konsentrat

Pada tipe ini larutan dasar ditambahkan dengan sejumlah air ketika akan

digunakan.

c. Tipe bubuk

Pada tipe ini, sediaan obat kumur berupa bubuk. Bubuk dilarutkan dalam

sejumlah air tertentu ketika ingin digunakan.

15
Secara garis besar, obat kumur dalam penggunaannya dibedakan menjadi

tiga macam, yaitu (Sagarin dan Gershon, 2001) :

1. Sebagai kosmetik: hanya membersihkan, menyegarkan, dan/atau penghilang

bau mulut.

2. Sebagai terapeutik: untuk perawatan penyakit pada mukosa atau ginggiva,

pencegahan karies gigi atau pengobatan infeksi saluran pernafasan.

3. Sebagai kosmetik dan terapeutik.

Berdasarkan komposisinya, Sagarin dan Gershon (2001) menggolongkan

obat kumur dalam berbagai jenis, yaitu:

1. Obat kumur untuk kosmetik, terdiri dari air (dan biasanya alkohol), flavor, dan

zat pewarna. Biasanya juga mengandung surfaktan dengan tujuan

meningkatkan kelarutan minyak atsiri.

2. Obat kumur yang mempunyai tujuan utama untuk menghilangkan atau

membunuh bakteri yang biasanya terdapat dalam jumlah besar di saluran nafas.

Komponen antiseptik dari obat kumur ini memegang peranan utama untuk

mencapai tujuan tersebut.

3. Obat kumur yang bersifat sebagai astringent, dengan maksud memberi efek

langsung pada mukosa mulut, juga untuk mengurangi flokulasi dan presipitasi

protein ludah sehingga dapat dihilangkan secara mekanis.

4. Obat kumur yang pekat, pada penggunaannya perlu diencerkan terlebih dahulu.

5. Obat kumur yang didapar, aktivitasnya tergantung pada pH larutan. Pada

suasana alkali dapat mengurangi mucinous deposits dengan dispersi dari

protein.

16
6. Obat kumur untuk deodoran, tergantung dari aktivitas antibakteri atau dengan

mekanisme lain untuk mendapatkan efek tersebut.

7. Obat kumur untuk terapeutik, diformulasi untuk meringankan infeksi,

mencegah karies gigi, atau untuk meringankan beberapa kondisi patologis pada

mulut, gigi, atau tenggorokan.

2.8 Komposisi Obat Kumur

1. Bahan aktif

Secara spesifik dipilih untuk kesehatan rongga mulut. Seperti antimikroba,

antiinflamasi.

2. Pelarut

Biasanya air atau alkohol, digunakan untuk melarutkan bahan aktif, bahan

perasa atau bahan-bahan tambahan lain untuk memperlama masa simpan.

3. Surfaktan.

Surfaktan berfungsi sebagai agen pembusa dan membantu pengangkatan plak

dan memungkinkan pembersihan hingga ke sela-sela gigi. Surfaktan juga

digunakan untuk mencapai produk akhir yang jernih. Sebagai surfaktan dapat

digunakan sodium lauril sulfat, Tween 80 (Mitsui,1997).

Selain bahan tersebut, menurut Jas (2007) obat kumur juga mengandung zat

tambahan lain berupa korigensia (saporis, odoris, koloris) untuk memperbaiki

rasa, aroma maupun warna. Obat kumur harus memiliki rasa dan aroma yang

dapat diterima dan memiliki sensasi rasa yang menyegarkan mulut. Sebagai bahan

korigensia yang umum dipakai adalah peppermint oil, mentol, spearmint oil,

sakarin.

17
2.8.1 Uraian bahan tambahan

1. Sakarin

Sakarin merupakan serbuk atau hablur putih, tidak berbau atau berbau

aromatik lemah. Dalam bentuk larutan encer rasanya sangat manis (Ditjen

POM, 1995). Sakarin merupakan salah satu bahan pemanis yang

digunakan dalam produk makanan dan minuman, produk kesehatan seperti

obat kumur-kumur dan pasta gigi. Bahan ini digunakan untuk melapisi

berbagai karakteristik rasa yang kurang menyenangkan atau meningkatkan

sistem aroma. Dalam formulasi oral, sakarin digunakan pada konsentrasi

0,02-0,5%. Daya pemanisnya mencapai 300-600 kali sukrosa (Rowe,

et.al., 2009).

2. Tween 80

Tween 80 atau polisorbat 80 merupakan cairan seperti minyak,

jernih berwarna kuning muda hingga coklat muda, bau khas lemah, rasa

pahit dan hangat (Ditjen POM, 1995). Tween merupakan surfaktan yang

luas digunakan dalam farmasi, karena relatif aman, tidak toksik dan tidak

mengiritasi. Dalam formulasi, Tween digunakan sebagai zat pembasah,

pelarut, pensuspensi dan pengental. Penggunaannya dalam formulasi

adalah 0,01-12% (Agoes, 2006).

3. Peppermint oil

Peppermint oil atau minyak permen adalah minyak atsiri yang

diperoleh dengan destilasi uap dari bagian di atas tanah tanaman berbunga

Mentha piperita Linne. (Familia Labiatae) yang segar, dimurnikan dengan

18
cara destilasi. Minyak ini berupa cairan tidak berwarna atau kuning pucat,

bau khas kuat menusuk, rasa pedas diikuti rasa dingin jika udara dihirup

melalui mulut, (Ditjen POM, 1995). Menthol banyak digunakan dalam

bentuk farmasi sebagai zat pemberi aroma. Pemberian secara oral dalam

dosis kecil memiliki aksi sebagai karminatif. Penggunaannya dalam

sediaan obat kumur adalah 0,1-2% (Rowe, 2009)

2.9 Bahan Pembanding

Bahan pembanding atau kontrol Positif yang digunakan ialah Obat Kumur

Minosep yang di dalamnya mengandung senyawa zat aktif chlorhexidine 0,2%

yang mempunyai aktivitas antibakteri selama penggunaannya sebagai oral

rinsing. Kemampuannya untuk mengurangi bakteri baik aerobic maupun

anaerobic mencapai 54 97%. Obat kumur ini efektif terhadap bakteri Gram

positif dan Grram negatif meskipun terhadap beberapa bakteri Gram negatif

kurang efektif (Shahani & Reddy, 2011). Mekanisme kerja chlorhexidine dahulu

diduga bersifat bakterisid dengan cara menginaktifkan ATPase bakteri namun ada

pendapat lain yang mengatakan bahwa chlorhexidine bersifat bakterisid kemudian

menjadi bakteriostatik dengan cara merusak dinding sel bakteri, menghambat

sistem enzimatik bakteri, mengeluarkan lipopolisakarida bakteri sehingga

menyebabkan kematian sel bakteri (Kuyyakanond&Quenel, 1992; Mandel, 1994).

2.9.1 Chlorhexidine

Salah satu cara untuk mengobati halitosis adalah menggunakan obat

kumur yang bertujuan untuk mengurangi dental plak dan bakteri yang hidup

dalam rongga mulut. Obat kumur yang biasa digunakan adalah

19
Chlorhexidine gluconate 0,2% yang mengandung: 1.1-hexamethylene bis

[5-(p-chlorophenyl) biguanide] di-D-gluconate) dalam basis yang

mengandung air, alkohol 11,6%, glycerine, PEG-40 sorbitan diisostearate,

flavour, sodium saccharine dan FD&C Blue No.1. Chlorhexidine diproduksi

dengan pH antara 5-7 berupa suatu garam chlorhexidine dan gluconic acid.

Struktur kimianya terlihat pada gambar dibawah ini (Kuyyakanond &

Quenel, 1992):

Gambar 2. Struktur Kimia Chlorhexidine gluconate

2.9.2 Indikasi penggunaan chlorhexidine 0,12%

Chlorhexidine gluconate diindikasikan sebagai obat kumur untuk

mengurangi jumlah bakteri dalam rongga mulut pada pasien yang menderita

gingivitis, periodontitis, dental trauma, kista rongga mulut dan setelah

pencabutan gigi. Obat kumur ini digunakan dua kali sehari (Kolahi &

Soolari, 2006).

2.10 Ekstraksi

Ekstrak adalah sediaan kering, kental atau cair dibuat dengan menyari simplisia

nabati atau hewani menurut cara yang cocok, diluar pengaruh cahaya matahari

langsung. Ekstrak kering harus mudah digerus menjadi serbuk. Cairan penyari dapat

berupa air, eter atau campuran etanol dan air (Depkes RI, 1979).

Ekstraksi adalah suatu cara menarik satu atau lebih zat dari bahan asal

menggunakan suatu cairan penarik atau pelarut. Umumnya dikerjakan untuk simplisia

20
yang mengandung zat-zat berkhasiat atau zat-zat lain untuk keperluan tertentu.

Tujuan utama ekstraksi dalam bidang farmasi adalah untuk mendapatkan atau

memisahkan sebanyak mungkin zat-zat yang memiliki khasiat pengobatan agar lebih

mudah dipergunakan (kemudahan diabsorpsi, rasa, pemakaian, dan lain-lain) dan

disimpan dibandingkan simplisia asal, dan tujuan pengobatannya lebih terjamin

(Syamsuni, 2006)

2.10.1 Pembagian Ekstrak

Berdasarkan atas sifatnya ekstrak dapat dikelompokkan menjadi 4 yaitu:

1. Ekstrak encer (extractum tennue)

Sediaan ini memiliki konsistensi seperti madu dan dapat dituang.

2. Ekstrak kental (extractum spissum)

Sediaan ini liat dalam keadaan dingin dan tidak dapat dituang.

Kandungan airnya berjumlah sampai 30%.

3. Ekstrak kering (extractum siccum)

Sediaan ini memiliki konsentrasi kering, melalui penguapan cairan

pengekstraksi kandungan lembab tidak lebih dari 5 %.

4. Ekstrak cair (extractum liquidum)

Sebagai suatu sediaan dibuat sedemikian sehingga 1 bagian jamu sama

dengan 2 bagian ekstrak cair (Voight R, 1994)

2.10.2 Metode Ekstraksi

Metode pembuatan ekstrak yang umum digunakan antara lain

maserasi, perkolasi, soxhletasi, dan infundasi. Metode ekstraksi dipilih

berdasarkan beberapa faktor seperti sifat dari bahan mentah obat dan daya

21
penyesuaian dengan macam tiap metode ekstraksi dan kepentingan dalam

memperoleh ekstrak yang sempurna (Ansel HC, 2005).

Secara umum metode ekstraksi dibagi menjadi dua yaitu:

1. Cara dingin

Metode ekstraksi cara dingin meliputi maserasi dan perkolasi.

2. Cara panas

Metode ekstraksi cara panas meliputi refluks, soxhletasi, digesti, infus,

dan dekok.

2.10.3 Parameter Ekstrak

1. Parameter non spesifik

Parameter non spesifik meliputi susut pengeringan dan bobot jenis,

kadar air, kadar abu, sisa pelarut, residu pestisida, cemaran logam

berat, dan cemaran mikroba.

2. Parameter spesifik

Parameter spesifik meliputi identitas ekstrak, organoleptik ekstrak,

dan senyawa terlarut dalam pelarut tertentu.

2.10.4 Ekstrak kulit daun lidah buaya

Daun lidah buaya (Aloe barbadensis Miller) dipilih yang masih

segar berwarna hijau (tidak terlau tua dan tidak terlalu muda), dicuci

bersih dengan air mengalir lalu tiriskan, kemudian potong bagian daun dan

ambil bagian kulit daun lidah buaya pisahkan dengan daging lidah buaya

lalu setelah itu kulit daun ditimbang, masukkan kedalam lemari pengering

dengan suhu 40-50C. Proses pengeringan dilakukan sampai kulit daun

22
lidah buaya mudah diremukkan. Simplisia yang telah kering disortasi

kering yaitu memisahkan dengan benda-benda asing. Simplisia diserbuk

dengan menggunakan blender lalu di maserasi sampai terbentuk ekstrak

kental.

2.11 Skrining Fitokimia

Skrining Fitokimia dari serbuk simplisia meliputi pemeriksaan golongan

senyawa alkaloida, flavonoida, saponin, tanin, glikosida, glikosida antrakinon

dan steroida/triterpenoida.

2.11.1 Pemeriksaan Alkaloida

Serbuk simplisia ditimbang sebanyak 0,5 g kemudian ditambahkan 1

ml asam klorida 2 N dan 9 ml air suling, dipanaskan di atas penangas air

selama 2 menit. Didinginkan dan disaring. Filtrat dipakai untuk

percobaan berikut:

a. Filtrat sebanyak 3 tetes ditambah dengan 2 tetes larutan pereaksi

Meyer, akan terbentuk endapan menggumpal berwarna putih atau kuning.

b. Filtrat sebanyak 3 tetes ditambah dengan 2 tetes larutan pereaksi

Bouchardat, akan terbentuk endapan berwarna coklat sampai hitam.

c. Filtrat sebanyak 3 tetes ditambah dengan 2 tetes larutan pereaksi

Dragendorff, akan terbentuk endapan kekeruhan paling sedikit dua dari

tiga percobaan diatas (Farnsworth, 1966).

2.11.2 Pemeriksaan Flavonoida

Sebanyak 0,5 g serbuk simplisia ditambahkan 10 ml air panas,

23
dididihkan selama 10 menit dan disaring dalam keadaan panas, ke dalam

5 ml filtrat ditambahkan 0,1 g serbuk magnesium dan 1 ml asam klorida

pekat dan 2 ml amil alkohol, dikocok dan dibiarkan memisah. Flavonoida

positif jika terjadi warna merah, kuning, jingga pada lapisan amil alkohol

(Farnsworth, 1966).

2.11.3 Pemeriksaan Saponin (Uji Busa)


Sebanyak 0,5 g serbuk simplisia dimasukkan ke dalam tabung

reaksi, ditambahkan 10 ml air panas, didinginkan kemudian dikocok

selama 10 detik, jika terbentuk busa setinggi 1 sampai 10 cm yang stabil

tidak kurang dari 10 menit dan tidak hilang dengan penambahan 1 tetes

asam klorida 2 N menunjukkan adanya saponin (Farnsworth, 1966).

2.11.4 Pemeriksaan Tanin


Sebanyak 0,5 g serbuk simplisia disari dengan 10 ml air suling

lalu disaring, filtratnya diencerkan dengan air sampai tidak berwarna.

Larutan diambil sebanyak 2 ml dan ditambahkan 1-2 tetes pereaksi besi

(III) klorida 1 %. Jika terjadi warna hijau, biru atau kehitaman

menunjukkan adanya tanin (Farnsworth, 1966).

2.11.5 Pemeriksaan Glikosida


Sebanyak 3 g serbuk simplisia disari dengan 30 ml campuran etanol

95% dengan air suling (7:3) dan 10 ml asam sulfat 2 N, direfluks selama 1

jam, didinginkan dan disaring. Pada 20 ml filtrat ditambahkan 25 ml air

suling dan 25 ml timbal (II) asetat 0,4 M, dikocok, didiamkan 5 menit lalu

disaring. Filtrat disari dengan 20 ml campuran isopropanol dan kloroform

24
(2:3), dilakukan berulang sebanyak 3 kali. Kumpulan sari air diuapkan

pada temperatur tidak lebih dari 50oC. Sisanya dilarutkan dalam 2 ml

metanol. Larutan sisa dipakai untuk percobaan berikut:

a. Larutan sisa dimasukkan ke dalam tabung reaksi selanjutnya diuapkan di

atas penangas air, pada sisa ditambahkan 2 ml air dan 5 tetes pereaksi

molish. Tambahkan hati-hati 2 ml asam sulfat pekat melalui dinding

tabung, terbentuk cincin ungu pada batas kedua cairan, menunjukkan

adanya glikosida.

b. Larutan percobaan diuapkan di atas penangas air. Larutkan sisa dalam 5

ml asam asetat anhidrat. Tambahkan 10 tetes asam sulfat pekat, akan

terjadi warna biru atau hijau, menunjukkan adanya glikosida (Farnsworth,

1966).

2.1.6 Pemeriksaan Glikosida Antrakinon

Sebanyak 0,2 g serbuk simplisia ditambah 5 ml asam sulfat 2 N,

dipanaskan sebentar, setelah dingin ditambahkan 10 ml benzena,

dikocok dan didiamkan. Lapisan benzena dipisahkan dan disaring. Kocok

lapisan benzena dengan 2 ml NaOH 2 N, didiamkan.Lapisan air berwarna

merah dan lapisan benzena tidak berwarna menunjukkan adanya

glikosida antrakinon (Farnsworth, 1966).

2.1.7 Pemeriksaan Steroida/Triterpenoida


Sebanyak 1 g serbuk simplisia dimaserasi dengan 20 ml eter selama

2 jam, disaring, filtrat diuapkan dalam cawan penguap, dan pada sisanya

ditambahkan 10 tetes asam asetat anhidrat dan 1 tetes asam sulfat pekat

25
(pereaksi Liebermann- Burchard). Apabila terbentuk warna ungu atau

merah yang berubah menjadi biru hijau menunjukkan adanya

steroida/triterpenoida (Farnsworth, 1966).

2.12 Kromatografi Lapis Tipis (KLT)

Kromatografi lapis tipis ialah metode pemisahan fisikokimia. Lapisan yang

memisahkan terdiri dari bahan berbutir-butir (fase diam). Ditempatkan pada

penyangga berupa pelat glass, logam atau lapisan yang cocok, campuran yang

akan dipisahkan berupa larutan yang ditotolkan berupa bercak atau pita (awal).

Setelah pelat atau lapisan ditaruh didalam bejana tertutup rapat (chamber) yang

berisi larutan pengembang yang cocok (fase gerak) pemisahan terjadi selama

perambataan kapiler (pengembangan), selanjutnya yang tidak berwarna harus

ditempatkan (dideteksi).

1. Fase Diam (lapisan penyerap)

Lapisan dibuat dari salah satu penyerap yang khusus digunakan untuk

KLT yang dihasilkan oleh berbagai perusahaan, panjang lapisan tersebut

20cm dengan lebar 20cm atau 10cm. Untuk analisis tebalnya 0,1 - 0,3mm,

biasanya 0,2mm, sebelum digunakan lapisan disimpan dalam lingkungan

yang tidak lembab dan bebas dari uap laboratorium. Penyerap yang umum

ialah silica gel, kieselgur, selulosa dan turunannya, poliamida dan lain-

lain.

2. Fase Gerak (larutan pengembang atau eluasi)

Fase gerak ialah media angkut dan terdiri dari satu atau beberapa

pelarut, larutan pengembang / eluasi tersebut bergerak didalam fase diam

26
yaitu suatu lapisan berpori karena adanya gaya kapiler, angka banding

campuran sederhana atau multikomponen pelarut dinyatakan dalam bagian

volume sedemikian rupa sehingga volume total 100.

27
BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian eksperimental.

Eksperimental adalah kegiatan percobaan (experiment), yang bertujuan untuk

mengetahui suatu gejala atau pengaruh yang timbul, sebagai akibat dari adanya

perlakuan tertentu. (Handoko R, 2009)

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian

Tempat penelitian akan dilakukan di Laboratorium Fitokimia dan

mikrobiologi Fakultas Farmasi Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta, Jl. Sunter

Permai Raya, Jakarta Utara pada bulan juni sampai dengan oktober 2016.

3.3 Alat dan Bahan

3.3.1 Alat

Peralatan yang digunakan adalah seperangkat alat maserasi, neraca analitik,

lemari pemanas, oven, viskometer, pH stick , eksikator, autoklaf, mortir,

stamper, inkubator, kertas perkamen, kertas cakram, Rotavapor, Beaker

gelas, Erlenmeyer (250 ml dan 500 ml), Cawan petri, Timbangan gram,

Timbangan analitik, Hot plate (Magnetic Stirrer), Laminar Air Flow, Jangka

sorong, Gelas ukur, Batang pengaduk, Silinder pencadang, Labu ukur 10 ml,

Pipet volum 1 ml, 5 ml, 10 ml, Ose, Kertas sampul, Kain flanel, Kain kasa

steril, Kapas, Bunsen, Tabung reaksi dan rak tabung.

28
3.3.2 Bahan

Bahan yang digunakan adalah kulit daun Lidah Buaya (Aloe barbadensis

Miller ) berupa simplisia kering yang diperoleh dari BALITRO-Bogor,

etanol 96% teknis, tween 80, peppermint oil, sakarin, aquadest steril, media

agar seperti NA ( Nutrien Agar ), Agar Darah, MHA ( Mueller Hinton

Agar), bakteri Staphylococcus aureus dan bakteri Streptococcus Mutans

diperoleh dari Laboratorium Fakultas Kedokteran Departemen Mikrobiologi

Universitas Indonesia.

3.4 Prosedur Penelitian

3.4.1 Pengambilan dan determinasi Lidah Buaya

Tanaman Lidah Buaya diperoleh dari pekarangan rumah sendiri yang

sebelum digunakan dilakukan determinasi terlebih dahulu. Determinasi

tanaman dilakukan di LIPI Bogor.

3.4.2 Pembuatan ekstrak kulit daun lidah buaya

Metode pembuatan ekstrak yang digunakan pada penelitian ini adalah

dengan cara maserasi. Kulit daun lidah buaya yang kering dan halus di

masukkan sebanyak 10 bagian jika ditimbang sebanyak 500 g, kemudian di

maserasi dengan cairan penyari yaitu etanol 96% 75 bagian dalam botol

yang berwarna gelap dan terlindung dari sinar matahari selama 3x3 hari,

dimana setiap 3 hari sekali filter disaring, kemudian ampas dimaserasi

kembali (Penuntun Praktikum Fitokimia, 2014).

29
3.4.3 Pembuatan ekstrak kental kulit daun lidah buaya

Maserat kemudian diuapkan dengan alat penguap yaitu rotary

evaporator pada suhu tidak lebih dari 50C hingga diperoleh ekstrak kental.

Ekstrak kental yang diperoleh lalu ditimbang.

3.4.4 Pembuatan konsentrasi kulit daun lidah buaya

Pada penelitian ini, peneliti mengambil konsentrasi hambat kulit

daun lidah buaya yang digunakan sebesar 40%, 50%, 60% untuk

mengetahui pada konsentrasi berapa ekstrak kulit daun lidah buaya dapat

menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus dan Streptococcus

mutans.

3.4.5 Uji kualitas ekstrak kulit daun lidah buaya

a) Organoleptik

Pada uji ini cara kerjanya yaitu dilihat dari warna, bau, dan bentuk dari

ekstrak kulit daun lidah buaya.

b) Rendamen

Nilai rendamen didapat dengan membagi berat hasil ekstraksi dengan berat

awal simplisia.Dari perhitungan rendamen dapat diketahui nilai kesetraan

tiap gram ekstrak kental dengan simplisia. (Dirjen BPOM, 2000)

Rendamen = Berat esktrak yang didapat x 100 %

Berat simplisia yang tertimbang

30
c) Skrining Fitokimia

Pada uji ini, ektrak tanaman lidah buaya yang diperoleh dengan cara

maserasi kemudian di uji skirining fitokimia untuk mengetahui zat-zat apa

saja yang terkandung di dalamnya.

Tabel I. Skrining Fitokimia

a. Terbentuk endapan menggumpal berwarna putih atau


kuning jika diberi 2 tetes larutan pereaksi Meyer.
b. Terbentuk endapan berwarna coklat sampai hitam jika
Alkaloid
diberi 2 tetes larutan pereaksi Bouchardat.
c. Terbentuk endapan kekeruhan paling sedikit dua dari tiga
percobaan diatas jika diberi 2 tetes larutan pereaksi
Dragendorf.
Terjadi warna merah, kuning, jingga pada lapisan amil alkohol
Flavonoid jika filtrat di tambah 0,1 g serbuk magnesium dan 1 ml asam
klorida pekat dan 2 ml amil alkohol.
jika terbentuk busa setinggi 1 sampai 10 cm yang stabil tidak
Saponin kurang dari 10 menit dan tidak hilang dengan penambahan 1
tetes asam klorida 2 N.
Terjadi warna hijau, biru atau kehitaman jika ditambahkan 1-2
Tanin
tetes pereaksi besi (III) klorida 1 %.
a. 5 tetes pereaksi molish ditambahkan dengan hati-hati 2 ml
asam sulfat pekat melalui dinding tabung terbentuk cincin
Glikosida ungu pada batas kedua cairan.
b. 5 ml asam asetat anhidrat ditambahkan 10 tetes asam sulfat
pekat, akan terjadi warna biru atau hijau.
Terbentuk warna ungu atau merah yang berubah menjadi biru
Steroid hijau jika 10 tetes asam asetat anhidrat ditambah dengan 1 tetes
asam sulfat pekat (pereaksi Liebermann- Burchard)

31
d) Susut Pengeringan

Ekstrak kental sebanyak 1 g dimasukkan ke dalam oven, lalu dikeluarkan

dan didinginkan di dalam eksikator. Kemudian timbang dan pemanasan

diulangi selama 30 menit sampai bobot konstan.Setelah itu dihitung susut

pengeringannya.(Depkes RI, 2000).

Susut pengeringan = Bobot awal bobot akhir x 100 %


Bobot awal

32
3.4.6 Pembuatan Formula sediaan

Tabel II. Formula Obat Kumur

Formula (%)
Bahan Kontrol Fungsi
Negatif Formula I Formula Formula
II III
Ekstrak Kulit
- 40% 50% 60% Zat Aktif
daun Lidah
Buaya
Tween 80 12 % 12% 12% 12% Surfaktan

Sakarin 0,1% 0,1% 0.1% 0,1% Pemanis

Peppermint 0,2% 0,2% 0,2% 0,2% Pewangi dan


Oil Perasa
Aquadest qs qs qs qs Pelarut
Steril
50 ml 50 ml 50 ml 50 ml Antibakteri
Obat Kumur

Sumber : (Mitsui, 1997) dan (Jas, 2007)

3.4.7 Pembuatan obat kumur

1. Ekstrak kulit daun lidah buaya di encerkan sampai konsentrasi 40%, 50%,

dan 60% masing-masing 10ml.

2. Di dalam lumpang gerus tween 80 dengan sakarin hingga homogen.

Tambahkan larutan pengenceran ekstrak daun kulit lidah buaya 10ml

sedikit demi sedikit hingga semua ekstrak larut sempurna.

3. Larutan dimasukkan ke dalam botol yang telah dikalibrasi 50ml, kemudian

masukkan peppermint oil dan tambahkan aquadest steril hingga tanda

batas kalibrasi.

33
3.4.8 Evaluasi Formula obat kumur

1. Pengamatan Organoleptik

Pada uji ini cara kerjanya yaitu dilihat dari warna, bau, dan bentuk dari

ekstrak kulit daun lidah buaya.

2. Uji Homogenitas

Sampel obat kumur dioleskan pada plat kaca, diraba, dan digosokkan pada

massa sampel harus menunjukan susunan homogen yaitu tidak terasa

adanya bahan padat pada plat kaca (Depkes RI, 1995)

3. Uji pH

Pengujian dilakukan dengan cara menguji setiap formula dengan alat pH

meter untuk mengetahui pH dari setiap formula yang telah dibuat.

4. Bobot Jenis

Analisis berat jenis dimaksudkan untuk mengetahui berat jenis dari obat

kumur yang telah dibuat. Prosedur yang dilakukanadalah :

a. Menimbang berat piknometer kosong (A)

b. Menimbang berat piknometer + aquades (B)

c. Menimbang berat piknometer + sabun (C)

Perhitungan:
(CA)
Bobot jenis obat kumur =(BA)

5. Uji Viskositas
Pengukuran viskositas sediaan dilakukan dengan menggunakan

viskometer oswaltd. Sediaan diukur sebanyak 5ml. Alat ditegakkan

menggunakan statif, lalu tuang sampel kedalam alat, selanjutnya hisap

34
menggunakan bulp pada pipa b sampai tanda batas, biarkan sampel

mengalir dari tanda n ke m dan hitung waktunya menggunakan

stopwatch. Pengukuran viskositas dilakukan pada minggu ke-0 & ke-4.

3.5 Pembuatan Kultur Bakteri Staphylococcus aureus dan Streptococcus


mutans

a. Keluarkan satu beads bakteri Staphylococcus aureus dan Streptococcus

mutans dari kultur induk (stok) dari mikro bank kemudian diinokulasi

kedalam ke media NA (Nutrient Agar), untuk bakteri streptococcus mutans

diisolasikan ke media NA yang ditambahkan darah steril 5-10% dengan cara

digores kemudian diinkubasi pada suhu 370C selama 24-48 jam.

b. Dilakukan pengamatan pada koloni yang tumbuh.

3.6 Penetapan Bakteri Staphylococcus aureus dan Streptococcus mutans


standar

a. NaCl ditimbang sebanyak 0,9 g lalu dilarutkan dengan aquadest hingga 100

ml dalam labu tentukur, kemudian disterilkan dalam autoklaf pada suhu

121oC selama 15 menit.

b. Campurkan Larutan Asam Sulfat dan Larutan Barium Klorida kedalam

tabung reaksi dan dikocok homogen. Apabila kekeruhan suspensi bakteri uji

sama dengan kekeruhan suspensi standar Mc. Farland, maka konsentrasi

suspensi bakteri adalah 108 koloni/ml.

c. Biakan dari NA yang telah diikubasi pada suhu 370C selama 24 jam diambil

mengunakan ose kemudian diinokulasi kedalam 10 mL NaCl 0,9 % disebut

pengenceran (10-8).

35
d. Dari pengenceran (10-8) dipipet 1 mL kedalam 9,9 mL NaCl 0,9 % disebut

pengenceran (10-6)

e. Bandingkan pengenceran yang diperoleh dengan kekeruhan yang sama

dengan suspensi standar Mc. Farland

Tabel III. Suspensi Mc. Farland


Nomor tabung 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Barium
0,1 0,2 0,3 0,4 0,5 0,6 0,7 0,8 0,9 1
Klorida (ml)
Asam Belerang 9,9 9,8 9,7 9,6 9,5 9,4 9,3 9,2 9,1 9
Kepadatan sel 3 6 9 12 15 18 21 24 27 30
Sumber : Gerard dan Enggar (1982)

3.7 Uji daya hambat ekstra kulit daun lidah buaya terhadap pertumbuhan
bakteri staphylococcus aureus dan streptoccocus mutans

a. Timbang media MHA sebanyak 2,1 gram dilarutkan dalam 60 mL

aquadest lalu dimasak. Disterilkan dalam autoklaf selama 15 menit.

b. Siapkan suspensi Staphylococcus aureus sebanyak 2 mL, masukkan

kedalam media MHA, dikocok perlahan, segera tuang kedalam cawan

@ 20 mL, biarkan membeku.

c. Siapkan larutan darah domba steril 5-10 % sebanyak 6 mL, masukkan

kedalam media MHA pada suhu 45-500C, kemudian dituangkan

suspensi bakteri Streptococcus mutans sebanyak 2 ml, dikocok perlahan,

segera tuang kedalam cawan petri @ 20 ml, biarkan membeku.

d. Letakkan silinder steril sebanyak 5 buah diatas permukaan agar, 3 untuk

sampel ekstrak kulit daun lidah buaya dengan berbagai konsentrasi, 1

untuk kontrol negatif yang diisi dengan aquadest steril, dan 1 untuk

bahan pembanding.

36
e. Diamkan pada suhu kamar 15 menit, kemudian diinkubasikan dalam

inkubator pada suhu 370C selama 24 jam.

f. Angkat silinder cap

g. Amati zona hambatan atau daerah bening di sekitar silinder cap yang

terbentuk dan diukur secara seksama dengan menggunakan jangka

sorong.

3.8 Uji daya hambat obat kumur ekstrak kulit daun lidah buaya terhadap
pertumbuhan bakteri staphylococcus aureus dan streptoccocus mutans

a. Timbang media MHA sebanyak 2,1 gram dilarutkan dalam 60 mL

aquadest lalu dimasak. Disterilkan dalam autoklaf selama 15 menit.

b. Siapkan suspensi Staphylococcus coccus sebanyak 2 mL, masukkan

kedalam media MHA, dikocok perlahan, segera tuang kedalam cawan

@ 20 mL, biarkan membeku.

c. Siapkan larutan darah domba steril 5-10 % sebanyak 6 mL, masukkan

kedalam media MHA pada suhu 45-500C, kemudian dituangkan

suspensi bakteri Streptococcus mutans sebanyak 2 ml, dikocok

perlahan, segera tuang kedalam cawan petri @ 20 ml, biarkan

membeku.

d. Letakkan silinder steril sebanyak 5 buah diatas permukaan agar, 3 untuk

sampel ekstrak kulit daun lidah buaya dengan berbagai konsentrasi, 1

untuk kontrol negatif yang diisi dengan aquadest steril, dan 1 untuk

bahan pembanding.

e. Diamkan pada suhu kamar 15 menit, kemudian diinkubasikan dalam

inkubator pada suhu 370C selama 24 jam.

37
f. Angkat silinder cap

g. Amati zona hambatan atau daerah bening di sekitar silinder cap yang

terbentuk dan diukur secara seksama dengan menggunakan jangka

sorong.

38
3.9 Kerangka Konsep

Uji kualitas ekstrak Kulit


Kulit daun Lidah Buaya
daun Lidah Buaya

Organoleptik

Skrining Fitokimia
Determinasi di LIPI Bogor

Susut pengeringan

Pembuatan ekstrak kulit


daun Lidah Buaya

metode maserasi

Uji aktivitas antibakteri formulasi


Pembuatan obat kumur sediaan obat kumur terhadap bakteri

dengan 3 formula Staphylococcus aureus dan Streptococcus


mutans.

Evaluasi Formulasi Obat kumur :


Uji organoleptis, uji homogenitas, uji pH,
Uji bobot jenis dan uji viskositas

Gambar 3. Skema kerja

39
3.10 Analisis data

Data yang didapatkan dari penelitian dilakukan dengan larutan uji yaitu

masing-masing konsentrasi sampel formulasi obat kumur dan kontrol negatif,

untuk menganalisis data yang telah diperoleh, dapat dilakukan dengan cara

pengamatan secara visual dan pengukuran rata-rata zona hambat disekitar media

yang telah ditetesi larutan uji terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan

Streptococcus mutans.

Data tersebut kemudian akan diuji statistik menggunakan analisis

ANOVA. Langkah awal pengujian dilakukan uji normalitas Kalmogorrov

Smirnov untuk mengetahui apakah data terdistribusi normal atau tidak, kemudian

dilanjutkan uji Lavenne untuk menguji homogenitas data. Bila data terdistribusi

normal dan homogen dilanjutkan dengan analisis parametrik one-way ANOVA

untuk mengetahui apakah ada perbedaan antara kelompok dan Post Hoc Test

(LSD) untuk mengetahui kelompok mana yang berbeda makna. Jika syarat

normalitas dan homogenitas tidak terpenuhi maka data diuji dengan analisis non

parametrik Kruskal Wallis. Bila ada perbedaan bermakna dilanjutkan dengan uji

Mann Whithey untuk melihat kelompok mana yang memiliki perbedaan

bermakna.

40