Anda di halaman 1dari 12

Kelainan Infeksi Virus /

Idiopatik
Kongenital Bakteri

Kerusakan progresif pada


duktus bilier
Saluran empedu tidak
terbentuk
MK :
Inflamasi Progresif
Hipertermi

Lemak dan vitamin larut


Obstruksi aliran dari hati ke dalam
lemak tidak dapat diabsorpsi
Pembedahan

Atresia Bilier
Kekurangan vitamin Prosedur Kasai Transplantasi Hati
larut lemak (A,D,E,K)

MK : Risiko Keterlambatan Perkembangan MK : Risiko Infeksi

Obstruksi saluran empedu Obstruksi saluran empedu


intra hepatik ekstra hepatik

Empedu kembali ke hati Ekskresi bilirubin

Gg.Supply darah Proses peradangan Ekskresi bilirubin ke usus


pd sel hepar pada hati terhambat

Kerusakan duktus Hepatomegali Gg.penyerapan lemak &


empedu sel hepatik
vitamin larut lemak
Distensi Abdomen
Kerusakan sel ekskresi MK : Ketidakseimbangan
Malnutrisi
Nutrisi : Kurang dari
Menekan Diafrgama kebutuhan Tubuh
Bilirubin

Perut terasa penuh


MK : Ketidakefektifan
Keluar ke Pola Nafas
aliran
Mual & muntah
darah & Bilirubin bercampur Bilirubin tidak
kulit darah mencapai usus
MK : Kekurangan
Volume Cairan
Urin berwarna Tinja berwarna
Ikterus
gelap pucat
Priuritis

MK : Kerusakan Integritas Kulit MK : Ansietas


Asuhan Keperawatan Umum pada Klien dengan Atresia Bilier

A. Pengkajian
a. Identitas
Meliputi Nama, Umur, Jenis Kelamin dan data-data umum lainnya.
Umumnya Atresia billiaris lebih banyak terjadi pada perempuan. Atresia bilier
ditemukan pada 1 dari 15.000 kelahiran. Rasio atresia bilier pada anak perempuan dan
anak laki-laki adalah 2:1.
b. Keluhan Utama
Keluhan utama dalam penyakit Atresia Biliaris adalah Jaundice dalam 2 minggu sampai
2 bulan.
Jaundice adalah perubahan warna kuning pada kulit dan mata bayi yang baru lahir.
Jaundice terjadi karena darah bayi mengandung kelebihan bilirubin, pigmen berwarna
kuning pada sel darah merah.
c. Riwayat Penyakit Sekarang
Anak dengan Atresia Biliaris mengalami Jaundice yang terjadi dalam 2 minggu atau 2
bulan lebih, apabila anak buang air besar tinja atau feses berwarna pucat. Anak juga
mengalami distensi abdomen, hepatomegali, lemah, pruritus. Anak tidak mau minum
dan kadang disertai letargi (kelemahan).
d. Riwayat Penyakit Dahulu
Adanya suatu infeksi pada saat Infeksi virus atau bakteri masalah dengan kekebalan
tubuh. Selain itu dapat juga terjadi obstruksi empedu ektrahepatik. yang akhirnya
menimbulkan masalah dan menjadi factor penyebab terjadinya Atresia Biliaris.
e. Riwayat Penyakit Keluarga
Anak dengan atresia biliaris diduga dalam keluarganya, khususnya pada ibu pernah
menderita penyakit terkait dengan imunitas HIV/AIDS, kanker, diabetes mellitus, dan
infeksi virus rubella. Akibat dari penyakit yang di derita ibu ini, maka tubuh anak dapat
menjadi lebih rentan terhadap penyakit atresia biliaris. Selain itu terdapat kemungkinan
adanya kelainan kongenital yang memicu terjadinya penyakit atresia biliaris.
e. Riwayat Imunisasi
Imunisasi yang biasa diberikan yaitu BCG, DPT, Hepatitis, dan Polio.
f. Riwayat Perinatal
1) Antenatal:
Pada anak dengan atresia biliaris, diduga ibu dari anak pernah menderita infeksi
penyakit, seperti HIV/AIDS, kanker, diabetes mellitus, dan infeksi virus rubella.
2) Intra natal:
Pada anak dengan atresia biliaris diduga saat proses kelahiran bayi terinfeksi virus
atau bakteri selama proses persalinan.
3) Post natal:
Pada anak dengan atresia diduga orang tua kurang memperhatikan personal hygiene
saat merawat atau bayinya. Selain itu kebersihan peralatan makan dan peralatan bayi
lainnya juga kurang diperhatikan oleh orang tua ibu.
g. Pemeriksaan Tingkat Perkembangan
Pemeriksaan tingkat perkembangan terdiri dari adaptasi sosial, motorik kasar, motorik
halus, dan bahasa. Tingkat perkembangan pada klien atresia biliaris dapat dikaji melalui
tingkah laku klien maupun informasi dari keluarga. Selain itu, pada anak dengan atresia
biliaris, kebutuhan akan asupan nutrisinya menjadi kurang optimal karena terjadi
kelainan pada organ hati dan empedunya sehingga akan berpengaruh terhadap proses
tumbuh kembangnya.
h. Lingkungan
Kedaan lingkungan yang mempengaruhi timbulnya atresia pada anak yaitu pola
kebersihan yang cenderung kurang. Orang tua jarang mencuci tangan saat merawat atau
menetekkan bayinya. Selain itu, kebersihan botol atau putting ketika menyusui bayi
juga kurang diperhatikan.
i. Pola Fungsi Kesehatan
1) Pola Aktivitas/Istirahat : Pola aktivitas dan istirahat anak dengan atresia biliaris
terjadi gangguan yaitu ditandai dengan anak gelisah dan rewel yang gejalanya
berupa letargi atau kelemahan
2) Pola Sirkulasi : Pola sirkulasi pada anak dengan atresia biliaris adalah ditandai
dengan takikardia, berkeringat yang berlebih, ikterik pada sklera kulit dan membrane
mukosa.
3) Pola Eliminasi : Pola eliminasi pada anak dengan atresia biliaris yaitu terdapat
distensi abdomen dan asites yang ditandai dengan urine yang berwarna gelap dan
pekat. Feses berwarna dempul, steatorea. Diare dan konstipasi pada anak dengan
atresia biliaris dapat terjadi.
4) Pola Nutrisi : Pola nutrisi pada anak dengan atresia biliaris ditandai dengan
anoreksia, nafsu makan berkurang, mual-muntah, tidak toleran terhadap lemak dan
makanan pembentuk gas dan biasanya disertai regurgitasi berulang.
5) Pola kognitif dan persepsi sensori: pola ini mengenai pengetahuan orang
tua terhadap penyakit yang diderita klien
6) Pola konsep diri: bagaimana persepsi orang tua dan/atau anak terhadap pengobatan
dan perawatan yang akan dilakukan.
7) Pola hubungan-peran: biasanya peran orang tua sangat dibutuhkan dalam merawat
dan mengobati anak dengan atresia biliaris.
8) Pola seksual-seksualitas: apakah selama sakit terdapat gangguan atau tidak yang
berhubungan dengan reproduksi sosial. Pada anak yang menderita atresia biliaris
biasanya tidak ada gangguan dalam reproduksi.
9) Pola mekanisme koping: keluarga perlu memberikan dukungan dan
semangat sembuh bagi anak.
10) Pola nilai dan kepercayaan: orang tua selalu optimis dan berdoa agar penyakit pada
anaknya dapat sembuh dengan cepat.
j. Pemeriksaan Fisik
Gejala biasanya timbul dalam waktu 2 minggu setelah lahir, yaitu berupa: Air
kemih bayi berwarna gelap, tinja berwarna pucat, kulit berwarna kuning, berat badan
tidak bertambah atau penambahan berat badan berlangsung lambat, hati membesar.
Pada saat usia bayi mencapai 2-3 bulan, akan timbul gejala berikut: Gangguan
pertumbuhan, gatal-gatal, rewel, tekanan darah tinggi pada vena porta (pembuluh darah
yang mengangkut darah dari lambung, usus dan limpa ke hati).
a) Keadaan umum : lemah
TTV :
Tekanan Darah : terjadi peningkatan terutama pada vena porta
Suhu : Suhu tubuh dalam batas normal
Nadi : takikardi
RR : terjadi peningkatan RR akibat diafragma yang tertekan (takipnea)
b) Pemeriksaan B1-B6
1. BI : sesak nafas, RR meningkat.
2. B2: takikardi, berkeringat, kecenderungan perdarahan (kekurangan vitamin K).
3. B3: gelisah atau rewel.
4. B4: urine warna gelap dan pekat.
5. B5: distensi abdomen, kaku pada kuadran kanan, asites, feses warna pucat,
anoreksia, mual, muntah, regurgitasi berulang, berat badan menurun, lingkar
perut 52 cm.
6. B6: ikterik pada sclera kulit dan membrane mukosa, kulit berkeringat dan gatal
(pruritus), oedem perifer, kerusakan kulit, otot lemah.
k. Pemeriksaan Penunjang
1) Laboratorium
a) Bilirubin direk dalam serum meninggi (nilai normal bilirubin total < 12 mg/dl)
karena kerusakan parenkim hati akibat bendungan empedu yang luas.
b) Tidak ada urobilinogen dalam urine.
c) Pada bayi yang sakit berat terdapat peningkatan transaminase alkalifosfatase (5-
20 kali lipat nilai normal) serta traksi-traksi lipid (kolesterol fosfolipid trigiliserol)
2) Pemeriksaan diagnostik
a) USG yaitu untuk mengetahui kelainan congenital penyebab kolestasis ekstra
hepatic (dapat berupa dilatasi kristik saluran empedu)
b) Memasukkan pipa lambung cairan sampai duodenum lalu cairan duodenum di
aspirasi. Jika tidak ditemukan cairan empedu dapat berarti atresia empedu.
c) Sintigrafi radio kolop hepatobilier untuk mengetahui kemampuan hati
memproduksi empedu dan mengekskresikan ke saluran empedu sampai tercurah
ke duodenum. Jika tidak ditemukan empedu di duodenum, maka dapat berarti
terjadi katresia intra hepatik
d) Biopsy hati perkutan ditemukan hati berwarna coklat kehijauan dan noduler.
Kandung empedu mengecil karena kolaps. 75% penderita tidak ditemukan lumen
yang jelas

B. Diagnosis Keperawatan
1. Resiko keterlambatan perkembangan b.d gangguan endokrin.
2. Hipertermi b.d penyakit.
3. Resiko infeksi b.d prosedur invasif.
4. Ketidakseimbangan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh b.d ketidakmampuan
mengabsorpsi nutrien.
5. Ketidakefektifan pola nafas b.d hiperventilasi.
6. Kerusakan integritas kulit b.d gangguan pigmentasi.
7. Ansietas b.d ancaman pada status terkini.
8. Kekurangan volume cairan b.d kehilangan cairan aktif.

C. Intervensi Keperawatan

Diagnosis
No. NOC NIC
Keperawatan
1. Resiko keterlambatan Pengetahuan : Peningkatan
perkembangan b.d Pengasuhan Perkembangan : bayi
gangguan endokrin. Pertumbuhan - Berikan instruksi kepada
Setelah dilakukan tindakan orang tua mengenai gizi
Domain 13 keperawatan selama 6 x 24 yang seimbang serta
Pertumbuhan/ jam, resiko keterlambatan manfaatnya.
Perkembangan pekembangan dapat teratasi, - Berikan petunjuk
Kelas 2 Pertumbuhan kriteria hasil : penyimpanan, persiapan,
Kode 00112 - Pertumbuhan dan dan mengatasi upaya untuk
perkembangan yang menyusui eksklusif ataupun
normal dengan susu formula.
- Perilaku anak normal - Perkenalkan makanan padat
- Kebutuhan nutrisi baik kira-kira pada usia 6 bulan,
- Pengetahuan orang tua berikan petunjuk kepada
mengenai kebutuhan akan orang tua untuk menyeleksi
pengawasan kesehatan. dan menyiapkan makanan
- Berat badan normal yang akan diperkenalkan
berdasarkan umur dan kepada anak serta cara
jenis kelamin. penyimpanannya.
- Tinggi / panjang badan - Sediakan mainan dan
normal berdasarkan umur aktivitas yang aman sesuai
dan jenis kelamin. dengan tahapan tumbuh
- Persentil lingkar kepala kembang anak.
berdasarkan umur normal. - Identifikasi kebutuhan
- IMT (Indeks Massa imunisasi tambahan untuk
Tubuh) dalam rentang beberapa kelompok anak
normal. tertentu.
- Sediakan informasi yang
akurat mengenai beberapa
risiko, manfaat,
kontraindikasi, dan efek
samping dari imunisasi
yang terjadwal.
- Sediakan informasi
mengenai tahap
perkembangan pada anak.
2. Hipertermi b.d Termoregulasi Perawatan demam
penyakit. Status neurologi - Pantau suhu dan tanda-
Setelah dilakukan tindakan tanda vital lainnya.
Domain 11 Keamanan/ keperawatan selama 3x24 - Monitor warna kulit dan
Perlindungan jam suhu tubuh klien turun, suhu.
Kelas 6 Termoregulasi kriteria hasil : - Monitor asupan dan
Kode 00007 - Suhu tubuh klien dalam keluaran, sadari perubahan
rentang normal (36-370C). kehilangan cairan yang tak
- Klien tidak mengalami dirasakan.
peningkatan suhu kulit. - Beri obat atau cairan IV
- Klien tidak sakit kepala. (misal, antipiretik, agen
- Klien tidak mengalami antibakteri, dan agen anti
dehidrasi. menggigil).
- Kesadaran tidak terganggu - Tutup pasien dengan
- Tidak ada aktivitas kejang selimut atau pakaian ringan,
tergantung pada fase
demam.
- Pantau komplikasi-
komplikasi yang
berhubungan dengan
demam serta tanda dan
gejala kondisi penyebab
demam (mis, kejang,
penurunan tingkat
kesadaran, status elektrolit
abnormal,
ketidakseimbangan asam-
basa, aritmia jantung, dan
perubahan abnormalitas sel.
3. Resiko Infeksi b.d Keparahan infeksi Perlindungan Infeksi
prosedur invasif. Kontrol resiko : proses - Monitor adanya tanda dan
infeksi gejala infeksi sistemik dan
Domain 11 Keamanan/ Setelah dilakukan tindakan lokal.
Perlindungan keperawatan selama 3x24 - Monitor hitung mutlak
Kelas 1 Infeksi jam klien tidak mengalami granulosit, WBC dan hasil-
Kode 00004 infeksi, kriteria hasil: hasil diferensial.
- Tidak ada kemerahan pada - Periksa kondisi setiap
kulit. sayatan bedah atau luka.
- Klien tidak demam. - Ajarkan klien dan keluarga
- Tidak ada peningkatan sel klien mengenai tanda dan
darah putih. gejala infeksi dan kapan
- Klien mampu mencari harus melaporkannya
informasi terkait kontrol kepada pemberi layanan
infeksi. kesehatan.
- Klien mampu Kontrol infeksi
mengidentifikasi faktor - Batasi jumlah pengunjung.
resiko infeksi. - Cuci tangan sebelum dan
- Klien mengetahui perilaku sesudah kegiatan perawatan
yang berhubungan dengan klien.
resiko infeksi. - Pastikan teknik perawatan
- Klien mampu luka yang tepat.
mengidentifikasi tanda - Berikan terapi antibiotik
dan gejala infeksi. yang sesuai.
- Klien memonitor perilaku - Ajarkan pasien dan
diri yang berhubungan keluarga mengenai
resiko infeksi. bagaimana menghindari
- Klien mempertahankan infeksi
lingkungan yang bersih.
- Klien menggunakan alat
pelindung diri.
- Klien mempraktekan
strategi untuk mengontrol
infeksi.
4. Ketidakseimbangan Status nutrisi Manajemen Nutrisi
nutrisi : kurang dari Keparahan mual dan - Tentukan status gizi klien
kebutuhan tubuh b.d muntah dan kemampuan klien
ketidakmampuan Nafsu makan untuk memenuhi kebutuhan
mengabsorpsi nutrien. Setelah dilakukan tindakan gizi.
keperawatan selama 3x24 - Identifikasi alergi atau
Domain 2 Nutrisi jam kebutuhan nutrisi klien intoleransi makanan yang
Kelas 1 Makan terpenuhi / adekuat, kriteria dimiliki klien.
Kode 00002 hasil : - Lakukan atau bantu klien
- Asupan gizi klien terkait dengan perawatan
terpenuhi mulut.
- Tidak ada tanda-tanda - Beri obat-obatan sebelum
malnutrisi makan (mis., penghilang
- Adanya peningkatan berat rasa sakit, antiemetik).
badan sesuai dengan - Monitor kecenderungan
tujuan terjadinya penurunan dan
- Frekuensi mual dan kenaikan berat badan.
muntah klien berkurang. Manajemen Gangguan
- Klien tidak mual dan Makan
muntah. - Rundingkan dengan ahli
- Klien memiliki gizi dalam menentukan
rangsangan untuk makan. asupan kalori harian yang
- Klien memiliki hasrat / diperlukan untuk
keinginan untuk makan. mempertahankan berat
- Intake makanan adekuat. badan.
- Timbang berat badan klien
secara rutin.
- Monitor intake / asupan dan
asupan cairan secara tepat.
- Gunakan teknik modifikasi
perilaku untuk
meningkatkan perilaku
yang berkonstribusi
terhadap penambahan berat
badan dan batasi perilaku
yang mengurangi berat
badan.
- Beri tanggung jawab terkait
dengan pilihan-pilihan
makanan dan aktivitas fisik
dengan klien.
5. Ketidakefektifan pola Status Pernafasan Monitor tanda-tanda vital :
nafas b.d hiperventilasi Setelah dilakukan tindakan - Monitor tanda-tanda vital
keperawatan selama 3x24 (TD, Nadi, pernafasan,
Domain 4 Aktivitas/ jam pola nafas klien suhu).
Istirahat kembali efektif, kriteria - Monitor pernafasan
Kelas 4 Respons hasil : sebelum, sesudah, selama
Kardiovaskular/ - Frekuensi pernafasan dan setelah beraktivitas.
Pulmonal normal (12-20x/ menit) - Monitor irama dan laju
Kode 00032 - Irama pernafasan normal pernafasan.
- Tidak ada suara nafas - Monitor pola pernafasan
abnormal (ronchi, abnormal.
wheezing) - Monitor sianosis.
- Tidak ada penggunaan Monitor pernafasan :
otot bantu nafas. - Catat pergerakan dada,
- Tidak ada dispnea. ketidaksimetrisan,
- Klien tidak mengalami penggunaan otot-otot bantu
sianosis nafas.
- Saturasi oksigen normal - Monitor saturasi oksigen.
(95-100%) - Auskultasi suara nafas.
- Monitor keluhan sesak
nafas klien termasuk
kegiatan yang
meningkatkan atau yang
memperburuk.
6. Kerusakan integritas Integritas Jaringan : Manajemen Pruritus
kulit b.d gangguan Kulit & Membran - Tentukan penyebab dari
pigmentasi. Mukosa terjadinya pruritus.
Respon Pengobatan - Lakukan pemeriksaan fisik
Domain 11 Keamanan/ Setelah dilakukan asuhan untuk mengidentifikasi
Perlindungan keperawatan tidak ada terjadinya kerusakan kulit.
Kelas 2 Cedera Fisik kerusakan intergitas kulit - Pasang perban atau balutan
Kode 00046 pada klien, kriteria hasil: pada tangan atau siku ketika
- Suhu kulit klien normal klien tidur untuk membatasi
- Tekstur kulit klien normal gerakan menggaruk yang
- Integritas kulit klien tidak terkontrol.
normal - Berikan antipruritik.
- Tidak ada pigmentasi Pengecekan Kulit
yang abnormal - Periksa kulit dan selaput
- Efek terapeutik yang lendir terkait dengan adanya
diharapkan kemerahan, kehangatan
- Perubahan gejala yang ekstrem, edema atau
diharapkan drainase.
- Tidak ada reaksi alergi - Amati warna, kehangatan,
- Tidak ada intoleransi bengkak, pulsasi, tekstur,
pengobatan edema dan ulserasi pada
ekstremitas.
- Monitor warna dan suhu
kulit.
- Ajarkan anggota keluarga/
pemberi asuhan mengenai
tanda-tanda kerusakan kulit.
Pemberian Obat: Kulit
- Ikuti prinsip 5 benar
pemberian obat.
- Catat riwayat medis klien
dan riwayat alergi.
- Tentukan pengetahuan klien
mengenai medikasi dan
pemahaman klien mengenai
metode pemberian obat.
- Ajarkan dan monitor teknik
pemberian obat mandiri.
- Dokumentasikan pemberian
obat dan respon klien.
7. Ansietas b.d ancaman Tingkat Kecemasan Pengurangan Kecemasan
pada status terkini. Status Kenyamanan : - Gunakan pendekatan yang
Sosiokultural tenang dan meyakinkan.
Domain 9 Koping/ Setelah dilakukan tindakan - Pahami situasi krisis yang
Toleransi Stres keperawatan selama 3 x 24 terjadi dari perspektif klien.
Kelas 4 Respons jam diharapkan klien tidak - Berada disisi klien untuk
Koping merasa cemas terhadap meningkatkan rasa aman
Kode 00146 kondisinya, kriteria hasil : dan mengurangi ketakutan.
- Klien dapat beristirahat - Dorong keluarga untuk
dengan baik mendampingi klien dengan
- Klien tidak merasa gelisah cara yang tepat.
lagi - Dengarkan klien
- Klien tidak menunjukkan - Identifikasi pada saat terjadi
wajah tegang perubahan tingkat
- Tidak ada gerakan kecemasan.
meremas-remas tangan Teknik menenangkan
- Klien mendapat dukungan - Pertahankan sikap yang
social dari keluarga tenang dan hati-hati.
- Klien mendapat dukungan - Pertahankan kontak mata.
social dari teman- - Kurangi stimuli yang
temannya menciptakan perasaan takut
- Hubungan klien dengan maupun cemas.
keluarga baik - Yakinkan keselamatan dan
- Interaksi social klien keamanan klien.
dengan orang lain baik - Berikan waktu dan tempat
untuk menyendiri.
- Instruksikan klien untuk
menggunakan metode
mengurangi kecemasan
(mis, teknik bernafas dalam,
distraksi, visualisasi,
meditasi, relaksasi otot
progressif, mendengar
musik lembut).
- Berikan obat anti
kecemasan.
8. Kekurangan volume Hidrasi Manajemen cairan
cairan b.d kehilangan Setelah dilakukan tindakan - Jaga intake/ asupan yang
cairan aktif. keperawatan selama 3x24 akurat dan catat output
jam volume cairan klien klien.
Domain 2 Nutrisi adekuat, kriteria hasil: - Monitor status hidrasi (mis,
Kelas 5 Hidrasi - Turgor kulit klien baik. membran mukosa lebab,
Kode 00027 - Membran mukosa lembab. denyut nadi adekuat, dan
- Intake dan ouput cairan tekanan darah ortostatik).
klien seimbang. - Berikan cairan, dengan
- Klien tidak mengalami tepat.
haus. Monitor cairan
- Tentukan jumlah dan jenis
intake/asupan cairan serta
kebiasaan eliminasi.
- Tentukan faktor-faktor
risiko yang mungkin
menyebabkan
ketidakseimbangan cairan
(mis, poliuria, muntah).
- Tentukan apakah pasien
mengalami kehausan atau
gejala perubahan cairan
(mis, pusing, mual).
- Monitor membran mukosa,
turgor kulit, dan respon
haus.
- Monitor warna, kuantitas,
dan berat jenis urine.

D. Evaluasi
1. Resiko keterlambatan perkembangan klien dapat teratasi.
2. Suhu tubuh klien kembali normal.
3. Klien tidak mengalami infeksi.
4. Kebutuhan nutrisi klien adekuat atau terpenuhi.
5. Pola nafas klien kembali efektif.
6. Klien tidak mengalami kerusakan integritas kulit.
7. Klien dan keluarga klien tidak mengalami kecemasan dengan kondisi yang dialami.
8. Volume cairan klien seimbang.

Anda mungkin juga menyukai