Anda di halaman 1dari 33

ELEKTROKIMIA Dr. Abdul Haris Watoni, M.

Si
Untuk Kalangan Sendiri
Dilarang memperbanyak dalam bentuk apapun tanpa seijin penulis

REDOKS DAN ELEKTROKIMIA

MATERI PEMBELAJARAN POKOK

Penyetaraan persamaan reaksi redoks


Sel elektrokimia dan potensial sel
Elektrolisis dan hukum Faraday
Korosi

A. PENGANTAR MENGENAI REDOKS DAN ELEKTROKIMIA

Konsep reaksi redoks dan bilangan oksidasi telah dibahas sebelumnya di kelas X. Dalam bab ini,
pembahasan reaksi redoks lebih ditekankan pada penyetaraan reaksi redoks yang berlangsung melalui
proses transfer elektron dan penerapannya dalam proses-proses elektrokimia.
Dalam reaksi redoks, elektron yang dilepaskan dari pereaksi yang teroksidasi langsung diterima oleh
pereaksi yang tereduksi. Dengan demikian, jumlah elektron yang dilepaskan dalam reaksi oksidasi
harus sama dengan jumlah elektron yang diterima dalam reaksi reduksi.
Elektron bermuatan 1, sehingga reaksi oksidasi
disertai dengan kenaikan bilangan oksidasi dan
reaksi reduksi disertai dengan penurunan bilangan
oksidasi. Oleh karena itu, perubahan bilangan
oksidasi (BO) merupakan petunjuk terjadinya
reaksi redoks. Pereaksi yang teroksidasi berperan
sebagai pereduksi (reduktor) dan sebaliknya pereaksi
yang tereduksi berperan sebagai pengoksidasi
(oksidator). Sebagai contoh, dalam reaksi redoks antara
Zn dengan H+ (Gambar 2.1), bilangan oksidasi Zn naik
dari 0 menjadi +2 sehingga Zn berperan sebagai Gambar 2.1 Reaksi redoks antara Zn dengan H+.
pereduksi. Adapun H+ mengalami penurunan bilangan Zn teroksidasi sehingga terjadi kenaikan bilangan
+
oksidasi dari +1 menjadi 0 sehingga ion H berperan oksidasi dan sebaliknya H+ tereduksi sehingga
terjadi penurunan bilangan oksidasi.
sebagai pengoksidasi.
Zn(s) + 2H+(aq) Zn2+(aq) + H2(g)
Reduktor Oksidator
0 1 2 0
BO naik
BO turun

Mengapa perlu dilakukan penyetaraan reaksi redoks? Bagaimana prinsip penyetaraan reaksi
redoks? Bagaimana cara penyetaraan reaksi redoks berdasarkan prinsip-prinsip tersebut?
Reaksi redoks, baik yang alamiah menurut rekayasa Tuhan maupun yang menurut rekayasa
manusia banyak kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Reaksi-reaksi ini ada yang bermanfaat, tetapi
ada pula yang merugikan, misalnya korosi, sehingga kejadiannya harus dicegah. Adapun fenomena
redoks yang bermanfaat harus dikembangkan demi kebaikan dan kemajuan peradaban manusia.
Pernahkan Anda berpikir bahwa baterai, aki, dan beberapa sumber energi yang lain merupakan sumber
energi yang bekerja berdasarkan prinsip elektrokimia? Apa yang dimaksud dengan reaksi elektrokimia?
Bagaimana proses elektrokimia yang terjadi pada sumber-sumber energi ini? Masih banyak contoh

1
ELEKTROKIMIA Dr. Abdul Haris Watoni, M.Si
Untuk Kalangan Sendiri
Dilarang memperbanyak dalam bentuk apapun tanpa seijin penulis

sumber energi yang bekerja berdasarkan proses elektrokimia. Komponen apa saja yang mendukung
terjadinya reaksi elektrokimia?
Proses elektrokimia terjadi dalam sel volta maupun sel elektrolisis. Apa yang dimaksud dengan sel
volta? Apa yang dimaksud dengan sel elektrolisis? Bagaimana prinsip kerja kedua jenis sel elektrokimia
ini? Pertanyaan-pertanyaan ini akan Anda temukan jawabannya setelah Anda memahami redoks dan
elektrokimia. Anda juga akan menemukan beberapa fenomena yang terjadi melalui proses-proses
elektrokimia yang banyak dijumpai dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam bab ini Anda akan mempelajari persamaan reaksi redoks, penyetaraan reaksi redoks, sel
volta, korosi, sel elektrolisis, dan hukum Faraday. Sel volta dan sel elektrolisis merupakan proses
elektrokimia yang berlangsung melalui prinsip yang saling berlawanan. Sebagian dari penerapan proses
elektrokimia akan dibahas dalam bab ini, namun selebihnya Anda dapat mengembangkan kreativitas
Anda sendiri untuk mencari dan menemukannya, karena aplikasi elektrokimia berkembang pesat
sehingga Anda dapat menemukan beberapa contoh aplikasi elektrokimia dengan mudah.

Kegiatan Mahasiswa 1: Berpikir Kritis


Manakah dari reaksi-reaksi berikut yang tergolong reaksi redoks?
(a) N2 + 3H2 2NH3

(b) Al(OH)3 + OH Al(OH)4
(c) H2SO4 + Al(OH)3 Al2(SO4)3
(d) Na + 2H2O 2NaOH + H2

Kegiatan Mahasiswa 2: Mengamati dan Menganalisis


1. Gambar apa saja yang Anda amati di sebelah kanan?
2. Apakah benda-benda yang disajikan pada gambar tersebut merupakan
sumber energi? Sebutkan beberapa contoh pemakaian benda-benda ini
dalam kehidupan sehari-hari.
3. Berikan beberapa contoh sumber energi yang lain yang pernah Anda
jumpai dan kegunaannya!

B. PENYETARAAN PERSAMAAN DAN STOIKIOMETRI REAKSI REDOKS

Untuk memenuhi hukum Lavoisier, maka dalam reaksi redoks, antara pereaksi dengan produk reaksi
harus ada kesetaraan jumlah atom dan kesetaraan jumlah muatan. Penyetaraan reaksi redoks
bertujuan untuk menyetarakan jumlah atom-atom dan jumlah muatan antara pereaksi dengan produk
reaksi. Bergantung pada kerumitan reaksi yang terjadi, penyetaraan persamaan reaksi redoks dapat
dilakukan dengan cara langsung, cara setengah reaksi (cara ion-elektron), dan cara bilangan oksidasi.
Penyetaraan melalui cara bilangan oksidasi dapat dilakulan menurut reaksi ion maupun reaksi molekul.

1. Penyetaraan Dengan Cara Langsung

Tidak semua reaksi redoks berlangsung melalui perubahan yang rumit. Untuk reaksi-reaksi redoks yang
sederhana, penyetaraan reaksi cukup dilakukan melalui menambahkan koefisien reaksi. Perhatikan
beberapa contoh reaksi berikut:

2
ELEKTROKIMIA Dr. Abdul Haris Watoni, M.Si
Untuk Kalangan Sendiri
Dilarang memperbanyak dalam bentuk apapun tanpa seijin penulis

Contoh Soal 2.1


Setarakan persamaan-persamaan reaksi redoks berikut:
1) CO + O2 CO2 3) H2 + N2 NH3
2) H2 + O2 H2O

Penyelesaian:
1) Dengan menambahkan angka koefisien 2 di depan CO dan CO2, diperoleh:
2CO + O2 2CO2
2) Dengan menambahkan angka koefisien 2 di depan H2 dan H2O, diperoleh:
2H2 + O2 2H2O
3) Dengan menambahkan angka koefisien 3 di depan H2 dan angka koefisien 2 di depan NH3,
diperoleh: 3H2 + N2 2NH3
Jadi, jumlah atom-atom dan jumlah muatan pada kedua sisi sudah sama.

Kegiatan Siswa 3: Penguatan Konsep


Setarakan persamaan-persamaan reaksi redoks berikut:
1) H2 + I2 HI 3) Cu + HNO3 Cu(NO3)2 + NO2 + H2O
2) FeO + O2 Fe2O3

2. Penyetaraan Dengan Cara Setengah Reaksi (Ion-Elektron)

Dalam penyetaraan reaksi redoks dengan cara setengah-reaksi, penentuan bilangan oksidasi pereaksi dan
produk reaksi tidak penting. Yang lebih penting adalah mengetahui ion-ion atau molekul-molekul yang
terlibat dan media reaksinya.
Secara garis besar, penyetaraan reaksi redoks dengan cara setengah-reaksi dapat dilakukan melalui
tahap-tahap sebagai berikut:

Tahap I: Penulisan reaksi oksidasi dan reaksi reduksi ion-ion

Tahap II: Penyetaraan jumlah atom H dan O


dalam media asam: 1) tambahkan H2O pada sisi yang kekurangan O.
2) tambahkan H+ pada sisi yang kekurangan H.
dalam media basa: 1) tambahkan H2O pada sisi yang kelebihan O.
2) tambahkan OH pada sisi yang kekurangan H.

Tahap III: Penyetaraan jumlah muatan kiri dan kanan


melalui penambahan elektron

Tahap IV: Penyempurnaan redoks dan penulisan reaksi lengkap

Langkah-langkah di atas dapat Anda pahami setelah Anda terlebih dahulu mampu menyetarakan
persamaan reaksi untuk setengah-reaksi reduksi maupun setengah-reaksi oksidasi. Persamaan setengah-
reaksi reduksi dan setengah-reaksi oksidasi adalah persamaan reaksi oksidasi dan reduksi yang ditulis
secara terpisah. Reaksi redoks merupakan gabungan dari kedua setengah-reaksi tersebut.
Perlu diingat bahwa senyawa-senyawa oksida logam pada umumnya berwujud padat dan senyawa-
senyawa oksida nonlogam pada umumnya berwujud gas. Oleh karena itu, dalam penyetaraan reaksi,
kedua jenis senyawa oksida ini tidak perlu diubah menjadi ion-ionnya.

3
ELEKTROKIMIA Dr. Abdul Haris Watoni, M.Si
Untuk Kalangan Sendiri
Dilarang memperbanyak dalam bentuk apapun tanpa seijin penulis

a. Penyetaraan setengah-reaksi reduksi dan setengah-reaksi oksidasi dalam media asam


Penyetaraan jumlah atom O dan H melibatkan penambahan H 2O dan ion H+. Adapun penyetaraan jumlah
muatan melibatkan penambahan elektron pada sisi kiri untuk setengah-reaksi reduksi dan pada sisi kanan
untuk setengah-reaksi oksidasi.

Contoh Soal 2.2


Setarakan setengah-reaksi reduksi dan setengah-reaksi oksidasi dalam suasana asam berikut ini.
1) MnO4 Mn2+ 3) C2O42 CO2
2 3+
2) Cr2O7 Cr

Penyelesaian:
1) MnO4 Mn2+

Penyetaraan jumlah O:
Pada bagian kanan kekurangan empat atom O. Untuk menyetarakan jumlah atom O,
tambahkan 4 molekul H2O pada bagian kanan.
MnO4 Mn2+ + 4H2O

Penyetaraan jumlah H:
Penambahan 4 H2O pada bagian kanan menyebabkan kekurangan 8H+ pada bagian kiri. Oleh
karena itu, untuk menyetarakan jumlah atom H, tambahkan 8 H+ pada bagian kiri.
8H+ + MnO4 Mn2+ + 4H2O

Penyetaraan jumlah muatan:


8H+ + MnO4 Mn2+ + 4H2O

7 2
Jumlah muatan bagian kiri = 8(+1) + 1(1) = +7
Jumlah muatan bagian kanan = 1(+2) + 4(0) = +2
Untuk menyetarakan jumlah muatan, tambahkan 5 e pada bagian kiri sehingga jumlah
muatannya menjadi +2 (sama dengan jumlah muatan di sebelah kanan).
5e + 8H+ + MnO4 Mn2+ + 4H2O
Dengan demikian, jumlah atom maupun jumlah muatan pada kedua sisi adalah sama.
2) Cr2O72 Cr3+
Setarakan dulu jumlah atom Cr dengan menuliskan koefisien 2 pada Cr 3+:
Cr2O72 2Cr3+
Penyetaraan jumlah O: Cr2O72 2Cr3+ + 7H2O
Penyetaraan jumlah H: 14H+ + Cr2O72 2Cr3+ + 7H2O
Penyerataan jumlah muatan: 6e + 14H+ + Cr2O72 2Cr3+ + 7H2O
3) C2O42 CO2
Setarakan dulu jumlah atom C dengan menuliskan koefisien 2 pada CO 2:
C2O42 2CO2
Jumlah atom O pada kedua sisi sudah sama. Kedua sisi juga tidak mengandung atom H.
Oleh karena itu, penyetaraan jumlah atom O dan H tidak perlu dilakukan.
Penyerataan jumlah muatan: C2O42 2CO2 + 2e

4
ELEKTROKIMIA Dr. Abdul Haris Watoni, M.Si
Untuk Kalangan Sendiri
Dilarang memperbanyak dalam bentuk apapun tanpa seijin penulis

Kegiatan Mahasiswa 4: Penguatan Konsep


Setarakan setengah-reaksi reduksi dan setengah-reaksi oksidasi dalam suasana asam berikut ini.
1) ClO4 Cl 3) Fe FeO
2 3+
2) CrO4 Cr

b. Penyetaraan setengah-reaksi reduksi dan setengah-reaksi oksidasi dalam media basa


Penyetaraan jumlah atom O dan H melibatkan penambahan H 2O dan ion OH. Adapun penyetaraan
jumlah muatan melibatkan penambahan elektron pada pada sisi kiri untuk setengah-reaksi reduksi dan
pada sisi kanan untuk setengah-reaksi oksidasi.

Contoh Soal 2.3


Setarakan setengah-reaksi reduksi dan setengah-reaksi oksidasi dalam suasana basa berikut ini.
1) MnO4 MnO2
2
2) Cr2O7 Cr2O3

Penyelesaian:
1) MnO4 MnO2

Penyetaraan jumlah O:
Pada bagian kiri kelebihan 2 atom O. Oleh karena itu, tambahkan 2 H2O pada bagian kiri.
2H2O + MnO4 MnO2

Penyetaraan jumlah H:
Penambahan 2 H2O menyebabkan kekurangan 4 atom H pada bagian kanan. Oleh karena itu,
tambahkan 4 OH pada bagian kanan.
2H2O + MnO4 MnO2 + 4OH
(Penambahan OH sekaligus menambah jumlah O)

Penyerataan jumlah muatan:


2H2O + MnO4 MnO2 + 4OH
1 4
Jumlah muatan kiri: 2(0) + 1(1) = 1
Jumlah muatan kanan: 1(0) + 4(1) = 4
Untuk menyetarakan jumlah muatan, tambahkan 3 e pada bagian kiri sehingga jumlah
muatannya menjadi 4 (sama dengan jumlah muatan di sebelah kanan).
3e + 2H2O + MnO4 MnO2 + 4OH
Jadi, jumlah atom dan muatan pada bagian kiri dan kanan sudah setara.

2) Cr2O72 Cr2O3
Penyetaraan jumlah O: 4H2O + Cr2O72 Cr2O3
Penyetaraan jumlah H: 4H2O + Cr2O72 Cr2O3 + 8OH
Penyerataan jumlah muatan: 6e + 4H2O + Cr2O72 Cr2O3 + 8OH

5
ELEKTROKIMIA Dr. Abdul Haris Watoni, M.Si
Untuk Kalangan Sendiri
Dilarang memperbanyak dalam bentuk apapun tanpa seijin penulis

Kegiatan Mahasiswa 5: Penguatan Konsep


Setarakan setengah-reaksi reduksi dan setengah-reaksi oksidasi dalam suasana basa berikut ini.
1) MnO4 MnO42 3) FeO Fe2O3

2) Bi2O3 BiO3

c. Penyetaraan reaksi redoks dalam media asam


Penyetaraan reaksi redoks dalam suasana asam merupakan gabungan dari penyetaraan setengah-reaksi
reduksi dan setengah-reaksi oksidasi yang terjadi dalam suasana asam.

Contoh Soal 2.4

Jika larutan kalium permanganat (KMnO4) dicampur dengan larutan


besi(II) klorida (FeCl2) (Gambar 2,2) dalam larutan HCl, reaksi
redoks akan terjadi menurut persamaan reaksi berikut:
KMnO4 + FeCl2 + HCl MnCl2 + FeCl3 + KCl + H2O
Setarakan persamaan reaksi redoks tersebut menurut cara setengah-
reaksi!
Gambar 2.2 Larutan KMnO4
(kiri) dan FeCl2 (kanan). Penyelesaian:
Terlebih dahulu ubahlah senyawa-senyawa ionik dalam reaksi tersebut menjadi ion-ionnya untuk
menentukan ion-ion yang berubah dalam reaksi redoks.

Reaksi ion: K+MnO4 + Fe2+2Cl + H+Cl Mn2+2Cl + Fe3+3Cl + K+Cl

Tahap I: reaksi reduksi: MnO4 Mn2+


reaksi oksidasi: Fe2+ Fe3+
Tahap II: Adanya HCl menunjukkan bahwa reaksi berlangsung dalam suasana asam.
Penyetaraan jumlah O: MnO4 Mn2+ + 4H2O
Penyetaraan jumlah H: 8H+ + MnO4 Mn2+ + 4H2O
Tahap III: Penyetaraan jumlah muatan.
5e + 8H+ + MnO4 Mn2+ + 4H2O

Untuk setengah-reaksi Fe2+ Fe3+


Jumlah muatan bagian kiri = +2
jumlah muatan bagian kanan = +3 tambah bagian kanan dengan 1 e
Diperoleh: Fe 2+
Fe3+ + 1e
Tahap IV: Penyempurnaan
1) Penggabungan reaksi reduksi dengan reaksi oksidasi dan penyetaraan jumlah
elektron yang terlibat.
5e + 8H+ + MnO4 Mn2+ + 4H2O ( 1)
Fe2+ Fe3+ + 1e ( 5)
+ 2+
8H + MnO4 + 5Fe Mn + 4H2O + 5Fe3+
2+

6
ELEKTROKIMIA Dr. Abdul Haris Watoni, M.Si
Untuk Kalangan Sendiri
Dilarang memperbanyak dalam bentuk apapun tanpa seijin penulis

2) Penulisan persamaan reaksi redoks sesuai dengan bentuk semula.


K+ tidak mengalami perubahan sehingga setelah reaksi diperoleh kembali di sisi kanan
dalam bentuk KCl.
8HCl + KMnO4 + 5FeCl2 MnCl2 + 4H2O + 5FeCl3 + KCl

Kegiatan Mahasiswa 6: Penguatan Konsep


Reaksi redoks antara ion dikromat (Cr2O72) dengan ion iodida
(I) dalam media asam ditunjukkan seperti pada Gambar 2.3.
Reaksi ini menghasilkan ion kromium (Cr 3+) dan endapan
iodium (I2).
Setarakan persamaan reaksi tersebut dengan cara setengah-
Gambar 2.3 Reaksi redoks antara ion
reaksi!
dikromat (Cr2O72) dengan ion iodida (I).
Ketika ion Cr2O72 (kiri) dan ion I
(tengah) dicampur dalam larutan asam,
reaksi menghasilkan Cr3+ dan I2 (kanan).

d. Penyetaraan reaksi redoks dalam media basa


Penyetaraan reaksi redoks dalam media basa merupakan gabungan dari penyetaraan setengah-reaksi
reduksi dan setengah-reaksi oksidasi yang terjadi dalam suasana basa.

Contoh Soal 2.5


Setarakan persamaan reaksi redoks berikut:
KClO4 + Bi2O3 + KOH KCl + KBiO3 + H2O

Penyelesaian:

Reaksi ion: K+ClO4 + Bi2O3 + K+OH K+Cl + K+BiO3 + H2O

Tahap I: reaksi reduksi: ClO4 Cl


reaksi oksidasi: Bi2O3 BiO3 diubah menjadi: Bi2O3 2BiO3
Tahap II: Adanya KOH menunjukkan bahwa reaksi berlangsung dalam suasana basa.
Penyetaraan jumlah O: 4H2O + ClO4 Cl
Bi2O3 2BiO3 + 3H2O
Penyetaraan jumlah H: 4H2O + ClO4 Cl + 8OH
6OH + Bi2O3 2BiO3 + 3H2O
Tahap III: Penyetaraan jumlah muatan
8e + 4H2O + ClO4 Cl + 8OH
6OH + Bi2O3 2BiO3 + 3H2O + 4e
Tahap IV: Penyempurnaan
1) Penggabungan reaksi reduksi dengan reaksi oksidasi dan penyetaraan jumlah
elektron yang terlibat.
8e + 4H2O + ClO4 Cl + 8OH
6OH + Bi2O3 2BiO3 + 3H2O + 4e ( 2)
4H2O + ClO4 + 12OH + 2Bi2O3 Cl + 8OH + 4BiO3 + 6H2O
4 2
Disederhanakan menjadi: ClO4 + 4OH + 2Bi2O3 Cl + 4BiO3 + 2H2O

7
ELEKTROKIMIA Dr. Abdul Haris Watoni, M.Si
Untuk Kalangan Sendiri
Dilarang memperbanyak dalam bentuk apapun tanpa seijin penulis

2) Penulisan persamaan reaksi redoks sesuai dengan bentuk semula:


KClO4 + 4KOH + 2Bi2O3 KCl + 4KBiO3 + 2H2O

Untuk reaksi-reaksi yang tidak dapat disetarakan dengan menggunakan tahap-tahap penyetaraan seperti
di atas, perlu dilakukan penyetaraan dengan cara coba-coba. Sebagai contoh, reaksi: NH3 NO2

dapat disetarakan menjadi: 7OH + NH3 NO2 + 5H2O + 7e

Kegiatan Mahasiswa 7: Penguatan Konsep


Untuk reaksi redoks antara KMnO4 dengan KI dalam larutan basa, reaksi ionik yang terjadi adalah
sebagai berikut:
MnO4(aq) + I(aq) MnO42(aq) + IO3(aq) (dalam larutan basa)
Setarakan persamaan reaksi tersebut dengan cara setengah-reaksi!

3. Penyetaraan dengan Cara Bilangan Oksidasi

Syarat yang harus dipenuhi agar dapat menyetarakan reaksi redoks dengan cara bilangan oksidasi (BO)
adalah mengetahui atom-atom yang mengalami perubahan bilangan oksidasi. Dalam penyetaraan ini, kita
tidak perlu mengetahui apakah reaksi berlangsung dalam media asam atau basa. Penambahan ion H + atau
ion OH diperlukan untuk menyetarakan jumlah muatan. Penyetaraan dengan cara ini dapat dilakukan
menurut persamaan reaksi ion maupun persamaan reaksi molekul.

a. Penyetaraan menurut reaksi ion


Secara garis besar, penyetaraan reaksi redoks menurut reaksi ion dapat dilakukan melalui tahap-tahap
sebagai berikut:

Tahap I: Penulisan persamaan reaksi redoks ion-ion

Tahap II: Penentuan perubahan BO dan penyetaraan jumlah elektron yang terlibat

Tahap III: Penyetaraan jumlah muatan kiri dan kanan


Bila jumlah muatan pada bagian kiri lebih rendah:
Tambahkan H+ bila bagian kiri dan H2O pada bagian kanan
Bila jumlah muatan pada bagian kiri lebih tinggi:
Tambahkan OH bila bagian kiri dan H2O pada bagian kanan

Tahap IV: Penyempurnaan

Contoh Soal 2.6


Setarakan persamaan reaksi redoks pada Contoh Soal 2.4 dengan mengikuti cara BO menurut reaksi ion.

Penyelesaian:
Tahap I: Persamaan reaksi redoks ion-ion: MnO4 + Fe2+ Mn2+ + Fe3+
Tahap II: Perubahan BO dan jumlah elektron yang terlibat:
BO Mn berubah dari +7 menjadi +2, berarti terjadi penangkapan 5 e (ditulis: + 5e)
BO Fe berubah dari +2 menjadi +3, berarti terjadi pelepasan 1 e (ditulis: 1e)

8
ELEKTROKIMIA Dr. Abdul Haris Watoni, M.Si
Untuk Kalangan Sendiri
Dilarang memperbanyak dalam bentuk apapun tanpa seijin penulis

MnO4 + Fe2+ Mn2+ + Fe3+


+7 +2 +2 +3
5e
1e ( 5)
Agar jumlah elektron yang terlibat sama, maka jumlah elektron yang dilepas dikalikan
dengan 5 sehingga persamaan reaksinya menjadi:
MnO4 + 5Fe2+ Mn2+ + 5Fe3+

Tahap III: Penyetaraan jumlah muatan.


Jumlah muatan bagian kiri = 1(1) + 5(+2) = +9 (Tambah bagian kiri dengan 8 H+)
Jumlah muatan bagian kanan = 1(+2) + 5(+3) = +17 (Tambah bagian kanan dengan 4 H2O)
Diperoleh: 8H+ + MnO4 + 5Fe2+ Mn2+ + 5Fe3+ + 4H2O

Tahap IV: Penyempurnaan.


Tuliskan kembali persamaan reaksi sempurna sebagaimana bentuk reaksi semula:
8HCl + KMnO4 + 5FeCl2 MnCl2 + 5FeCl3 + KCl + 4H2O

Contoh Soal 2.7


Setarakan persamaan reaksi redoks pada Contoh Soal 2.5 melalui cara BO menurut reaksi ion.

Penyelesaian:
Tahap I: ClO4 + Bi2O3 Cl + 2BiO3
Tahap II: ClO4 + Bi2O3 Cl + 2BiO3
+7 +6 1 +10
8e
4e ( 2)
Persamaan reaksi menjadi: ClO4 + 2Bi2O3 Cl + 4BiO3

Tahap III: Penyetaraan jumlah muatan kiri dan kanan


Jumlah muatan bagian kiri = 1(1) + 5(0) = 1 (Tambah bagian kiri dengan 4 OH)
Jumlah muatan bagian kanan = 1(1) + 4(1) = 5 (Tambah bagian kanan dengan 2 H2O)
Diperoleh: 4OH + ClO4 + 2Bi2O3 Cl + 4BiO3 + 2H2O

Tahap IV: Penyempurnaan


4KOH + KClO4 + 2Bi2O3 KCl + 4KBiO3 + 2H2O

b. Penyetaraan menurut reaksi molekul


Dalam penyetaraan menurut cara ini, molekul-molekul yang terlibat dalam reaksi redoks tidak perlu
diubah menjadi ion-ionnya. Secara garis besar, penyetaraan ini dapat dilakukan melalui tahap-tahap
sebagai berikut:

Tahap I: Penentuan perubahan BO dan jumlah elektron yang terlibat

Tahap II: Penyetaraan jumlah elektron yang terlibat

Tahap III: Penyetaraan jumlah atom-atom yang sesuai

9
ELEKTROKIMIA Dr. Abdul Haris Watoni, M.Si
Untuk Kalangan Sendiri
Dilarang memperbanyak dalam bentuk apapun tanpa seijin penulis

Contoh Soal 2.8


Setarakan persamaan reaksi redoks pada Contoh Soal 2.4 melalui cara BO menurut reaksi molekul.

Penyelesaian:
Tahap I: KMnO4 + FeCl2 + HCl MnCl2 + FeCl3 + KCl + H2O
+7 +2 +2 +3
5e
1e
Tahap II: Agar jumlah elektron yang terlibat sama, maka kalikan alur reaksi perubahan FeCl 2 menjadi
FeCl3 dengan angka 5. Persamaan reaksinya menjadi:
KMnO4 + 5FeCl2 + HCl MnCl2 + 5FeCl3 + KCl + H2O

Tahap III: Setarakan jumlah atom-atom lain yang terlibat. Penyetaraan dapat dimulai dari atom O dan
selanjutnya atom H.
1. Penyetaraan atom O: kalikan H2O dengan angka 4
2. Penyetaraan H: kalikan HCl dengan angka 8.
Diperoleh: KMnO4 + 5FeCl2 + 8HCl MnCl2 + 5FeCl3 + KCl + 4H2O

Kegiatan Mahasiswa 8: Penguatan Konsep

Gambar 2.3 menunjukkan percobaan titrasi ion oksalat


(C2O42) dengan ion permanganat (MnO4) dalam
suasana asam. Pada proses ini terjadi reaksi sebagai
berikut: Gambar 2.3 Titrasi ion oksalat, C2O4,
MnO4 + C2O42 Mn2+ + CO2 dengan ion permanganat, MnO4. Larutan
oksalat ditempatkan dalam Erlenmeyer sebagai
Setarakan persamaan reaksi redoks yang terjadi dengan
analit, sedangkan larutan kalium permangatan
cara setengah-reaksi dan cara bilangan oksidasi.
ditempatkan dalam buret sebagai titran.

4. Reaksi Autoredoks/Disproporsionasi

Dalam reaksi redoks, ada kalanya salah satu pereaksi (molekul, ion, atau atom) dapat mengalami reaksi
reduksi dan oksidasi sekaligus pada saat yang sama. Reaksi yang demikian disebut reaksi autoredoks
atau reaksi disproporsionasi. Sebagai contoh, bila gas klorin dialirkan ke dalam larutan basa kuat seperti
NaOH pada suhu tertentu akan terjadi reaksi sebagai berikut:
Cl2(g) + NaOH(aq) NaCl(aq) + NaClO3(aq) + H2O(l)

Dalam reaksi ini, unsur klorin tereduksi menjadi Cl dan teroksidasi menjadi ClO3 secara sekaligus. Jadi
dapat dikatakan bahwa Cl2 mengalami reaksi autoredoks atau disproporsionasi. Kebalikan dari reaksi
disproporsionasi disebut sebagai reaksi komproporsionasi.
Persamaan reaksi autoredoks dapat disetarakan melalui cara seperti yang dilakukan untuk
penyetaraan reaksi redoks biasa.

10
ELEKTROKIMIA Dr. Abdul Haris Watoni, M.Si
Untuk Kalangan Sendiri
Dilarang memperbanyak dalam bentuk apapun tanpa seijin penulis

Contoh Soal 2.9


Setarakan persamaan reaksi berikut dengan cara setengah-reaksi dan cara bilangan oksidasi:
Cl2(g) + NaOH(aq) NaCl(aq) + NaClO3(aq) + H2O(l)

Penyelesaian:
a. Penyetaraan dengan cara setengah-reaksi
Sebelumnya perlu disetarakan dulu jumlah atom Cl pada setengah-reaksi reduksi dan setengah-reaksi
oksidasinya.

Tahap I: Setengah-reaksi oksidasi: Cl2 2ClO3


Setengah-reaksi reduksi: Cl2 2Cl
Tahap II: Penyetaraan jumlah atom O dan H. Karena reaksi berlangsung dalam media basa, maka:
Setengah reaksi oksidasi: 6OH + Cl2 2ClO3 + 6H2O
Setengah reaksi reduksi: Cl2 2Cl
Tahap III: Penyetaraan jumlah muatan.
12OH + Cl2 2ClO3 + 6H2O + 10e
2e + Cl2 2Cl ( 5)
12OH + 6Cl2 10Cl + 2ClO3 + 6H2O
Disederhanakan menjadi: 6OH + 3Cl2 5Cl + ClO3 + 3H2O
Tahap IV: Penyempurnaan:
6NaOH + 3Cl2 5NaCl + NaClO3 + 3H2O

b. Cara bilangan oksidasi menurut reaksi ion


Tahap I: Cl2 Cl + ClO3
Tahap II: Karena Cl2 mengalami dua reaksi yang berbeda, maka reaksi redoksnya dapat dianggap terjadi
melalui persamaan reaksi sebagai berikut:
Cl2 + Cl2 2Cl + 2ClO3
0 0 2 +10
2e ( 5)
10e
Diperoleh: 6Cl2 10Cl + 2ClO3
Disederhanakan menjadi: 3Cl2 5Cl + ClO3
Tahap III: Penyetaraan muatan: 6OH + 3Cl2 5Cl + ClO3 + 3H2O
Tahap IV: Penyempurnaan: 6NaOH + 3Cl2 5NaCl + NaClO3 + 3H2O

c. Cara bilangan oksidasi menurut reaksi molekul


Reaksi: Cl2(g) + NaOH(aq) NaCl(aq) + NaClO3(aq) + H2O(l)
Diubah dulu menjadi: Cl2(g) + Cl2(g) + NaOH(aq) 2NaCl(aq) + 2NaClO3(aq) + H2O(l)

Tahap-tahap penyetaraan selanjutnya:


Cl2(g) + Cl2(g) + NaOH(aq) 2NaCl(aq) + 2NaClO3(aq) + H2O(l)
0 0 2 10

2e ( 5)
10e
Diperoleh: 6Cl2(g) + NaOH(aq) 10NaCl(aq) + 2NaClO3(aq) + H2O(l)
Disederhanakan menjadi: 3Cl2(g) + NaOH(aq) 5NaCl(aq) + NaClO3(aq) + H2O(l)

11
ELEKTROKIMIA Dr. Abdul Haris Watoni, M.Si
Untuk Kalangan Sendiri
Dilarang memperbanyak dalam bentuk apapun tanpa seijin penulis

Penyetaraan jumlah Na dilakukan dengan menambahkan angka koefisien 6 pada NaOH diikuti dengan
penyetaraan jumlah H dan O dengan menambahkan angka 3 pada H2O.
Diperoleh: 3Cl2(g) + 6NaOH(aq) 5NaCl(aq) + NaClO3(aq) + 3H2O(l)

Kegiatan Mahasiswa 9: Berpikir Kritis


Manakah dari beberapa persamaan reaksi (belum setara) berikut yang tergolong reaksi disproporsionasi?
a. Cu2O(s) + H2SO4(aq) Cu(s) + CuSO4(aq) + H2O(l)
b. HNO2(aq) HNO3(aq) + NO(g) + H2O(l)

c. ClO (aq) Cl(aq) + ClO3(aq)
d. ClO3(aq) + C2O42(aq) Cl(aq) + CO2(g)

Kegiatan Mahasiswa 10: Penguatan Konsep


Setarakan beberapa persamaan reaksi berikut menurut cara setengah-reaksi dan cara bilangan oksidasi!
a. Cu2O(s) + H2SO4(aq) Cu(s) + CuSO4(aq) + H2O(l)
b. HNO2(aq) HNO3(aq) + NO(g) + H2O(l)

c. ClO (aq) Cl(aq) + ClO3(aq)

5. Stoikiometri Reaksi Redoks


Secara kuantitatif, jumlah dan komposisi komponen-komponen yang terlibat dalam reaksi redoks dapat
dihitung seperti halnya persamaan-persamaan reaksi yang lain. Dalam hal ini, hubungan kuantitatif
antarkomponen reaksi dapat dihitung melalui penerapan hukum-hukum dasar dan konsep mol.

Contoh Soal 2.10


Semua besi dalam 2,000 gram sampel bijih besi dilarutkan ke dalam suatu larutan asam dan diubah
menjadi Fe2+. Selanjutnya, larutan Fe2+ dititrasi dengan larutan KMnO4 0,1000 M. Dalam titrasi ini, Fe2+
teroksidasi menjadi Fe3+. Titrasi ini memerlukan 27,45 mL larutan KMnO4 untuk mencapai titik akhir.
(a) Berapa gram massa besi dalam sampel bijih?
(b) Berapa persentase besi dalam sampel?
(c) Jika besi dalam sampel terdapat sebagai senyawa Fe2O3, berapakah persentase massa Fe2O3 dalam
sampel?

Penyelesaian:
Semua Fe dalam sampel diubah menjadi Fe2+
Persamaan reaksi (belum setara): Fe2+(aq) + MnO4(aq) Fe3+(aq) + Mn2+(aq)
Penyetaraan reaksi menghasilkan persamaan reaksi sebagai berikut:
5Fe2+(aq) + MnO4(aq) + 8H+(aq) 5Fe3+(aq) + Mn2+(aq) + 4H2O(l)

mol Fe2+ : mol KMnO4 = 5 : 1


Jumlah mol KMnO4 = (27,45 mL)(0,1 mmol/mL) = 2,745 mmol
mmol Fe2+ = 5(mmol KMnO4) = 5(2,745 mmol) = 13,725 mmol
(a) Massa Fe dalam sampel = (13,725 mmol)(56 mg/mmol) = 768,6 mg = 0,7686 g
massa Fe 0,7686 g
(b) Persentase Fe dalam sampel = 100% = 100% = 38,43 %
massa sampel 2,000 g
10
M r Fe2O3 160
(c) Massa Fe2O3 = massa Fe = 0,7686 g = 1,098 g
2 Ar Fe 112 7

12
ELEKTROKIMIA Dr. Abdul Haris Watoni, M.Si
Untuk Kalangan Sendiri
Dilarang memperbanyak dalam bentuk apapun tanpa seijin penulis

massa Fe2O3 1,098 g


Persentase Fe2O3 dalam sampel = 100% = 100% = 54,9%
massa sampel 2,000 g

Kegiatan Mahasiswa 11: Penguatan Konsep


Air minum tidak boleh mengandung logam mangan dengan konsentrasi lebih dari 0,05 mg/mL. Jika
konsentrasi mangan lebih dari 0,1 mg/mL, logam ini akan memberikan bau pencemaran dan memudarkan
warna cucian dan permukaan porselin. Ion mangan(II) teroksidasi menjadi ion permanganat oleh ion
bismutat, BiO3, dalam larutan asam. Dalam reaksi ini, BiO3 tereduksi menjadi Bi3+.
(a) Tuliskan persamaan reaksi redoks sempurna yang terjadi.
(b) Berapa miligram NaBiO3 yang diperlukan untuk mengoksidasi mangan dalam 18,5 mg mangan(II)
sulfat?

Evaluasi 1

1. Tuliskan setengah-reaksi oksidasi dan setengah-reaksi reduksi untuk reaksi-reaksi berikut:


a. C + H2SO4 CO2 + SO2 + H2O
b. HNO3 + HI NO + I2 + H2O
c. KMnO4 + HCl MnCl2 + Cl2 + KCl + H2O
d. Sb + HNO3 Sb2O3 + NO + H2O

2. Setarakan beberapa persamaan reaksi yang berlangsung dalam media asam berikut ini melalui cara
setengah-reaksi!
a. S2O32 + OCl Cl + S4O62
b. NO3 + Cu NO2 + Cu2+
3+
c. Cr + BiO3 Cr2O72 + Bi3+
d. Sn + NO3 SnO2 + NO

3. Setarakan beberapa persamaan reaksi yang berlangsung dalam media basa berikut ini melalui cara
bilangan oksidasi!
a. CrO42 + S2 S + CrO2
b. MnO4 + C2O42 CO2 + MnO2

c. ClO3 + N2H4 NO + Cl
d. Fe(OH)2 + O2 Fe(OH)3 +OH

3. Setarakan persamaan-persamaan reaksi pada Soal No. 1 dan No. 2 melalui cara bilangan oksidasi
menurut reaksi ion!

4. Setarakan persamaan-persamaan reaksi pada Soal No. 1 dan No. 2 melalui cara bilangan oksidasi
menurut reaksi molekul!

5. Ozon (O3) merupakan salah satu pengoksidasi yang baik dan di beberapa tempat digunakan dalam
pengolahan air untuk membunuh bakteri agar aman diminum. Salah satu masalah dalam pemurnian air
ini adalah jika dalam air terdapat ion bromida yang dapat teroksidasi menjadi ion bromat, karena ion
bromat dapat menyebabkan penyakit kanker pada binatang uji. Dengan menganggap bahwa ozon
tereduksi, tuliskan persamaan reaksi redoks yang terjadi dalam larutan asam.

13
ELEKTROKIMIA Dr. Abdul Haris Watoni, M.Si
Untuk Kalangan Sendiri
Dilarang memperbanyak dalam bentuk apapun tanpa seijin penulis

C. ELEKTROKIMIA

Kegiatan Mahasiswa 12: Mengkaji Literatur


Fenomena elektrokimia terjadi dalam dua jenis sel elektrokimia dengan mekanisme yang saling
berlawanan, yaitu sel volta dan sel elektrolisis. Bacalah literatur Anda secara seksama untuk mengkaji
proses-proses elektrokimia yang terjadi pada kedua jenis sel tersebut dan mengetahui fakta alamiah
maupun buatan yang Anda jumpa dalam kehidupan sehari-hari.

Elektrokimia mempelajari kaitan antara respon listrik dengan reaksi redoks. Proses redoks terjadi dalam
dua jenis sel yang berbeda, yaitu sel volta atau sel galvani dan sel elektrolisis. Proses elektrokimia pada
kedua sel ini terjadi melalui mekanisme yang berlawanan.
1) Sel volta atau sel galvani menggunakan reaksi redoks spontan untuk menghasilkan energi listrik.
Dengan kata lain, energi kimia (disingkat sebagai Eki) diubah menjadi energi listrik (disingkat
sebagai Elis). Energi inilah yang sebenarnya digunakan untuk mengoperasikan CD player,
menyalakan mesin kendaraan bermotor, menyalakan lampu, dan beberapa peralatan listrik yang kita
jumpai sehari-hari. Dengan kata lain, sistem bekerja pada lingkungan. Semua baterai mengandung
sel volta.
2) Sel elektrolisis menggunakan energi listrik untuk membangkitkan reaksi redoks yang tidak spontan.
Jadi, lingkungan bekerja pada sistem. Contoh proses elektrolisis adalah pelapisan logam
(elektroplating) dan pemisahan logam dari sampel bijih logam yang dilakukan dengan menggunakan
sel elektrolisis.
Kedua jenis sel elektrokimia ini memiliki desain seperti pada Gambar 2.4. Dua buah elektrode, yang
menghantarkan aliran listrik antara sel dengan lingkungan, dicelupkan ke dalam elektrolit yang terlibat
dalam reaksi atau yang mengemban muatan listrik. Elektrode ini disebut sebagai anode atau katode.
Anode adalah elektrode tempat terjadinya reaksi oksidasi, sedangkan katode adalah elektrode tempat
terjadinya reaksi reduksi.
1) Pada setengah-reaksi oksidasi di permukaan anode, elektron dibebaskan oleh zat yang teroksidasi
dan meninggalkan sel melewati anode.
2) Pada setengah-reaksi reduksi di permukaan katode, elektron bergerak ke dalam sel melalui katode
dan ditangkap oleh zat yang tereduksi di dalam sel.
Seperti yang terlihat pada Gambar 2.4, muatan relatif kedua elektrode dalam kedua jenis sel
memiliki tanda yang berlawanan. Perbedaan ini disebabkan oleh dua fenomena aliran elektron yang
berbeda antara sel volta dengan sel elektrolisis. Untuk memahami fenomena yang terjadi dalam sel volta
dan sel elektrolisis, Anda perlu menggunakan bantuan jembatan ingatan yang mudah untuk mengingat
istilah-istilah penting dalam sel volta dan sel elektrolisis seperti berikut:
1) Kata anode dan oksidasi diawali dengan huruf vokal, sedangkan kata katode dan reduksi diawali
dengan huruf konsonan.
2) Menurut urutan abjad, huruf A (anode) muncul sebelum huruf K (katode). Adapun huruf O (oksidasi)
muncul sebelum huruf R (reduksi).
3) AnOks (anode, oksidasi) dan KaRed (katode, reduksi).

Kegiatan Mahasiswa 13: Berfikir Kritis


Baik dalam sel volta maupun sel elektrolisis, setengah-reaksi oksidasi terjadi di anode dan setengah-
reaksi reduksi terjadi di katode. Mengapa dalam sel volta anode bermuatan negatif, sedangkan dalam sel
elektrolisis anode bermuatan positif?

14
ELEKTROKIMIA Dr. Abdul Haris Watoni, M.Si
Untuk Kalangan Sendiri
Dilarang memperbanyak dalam bentuk apapun tanpa seijin penulis

Kegiatan Mahasiswa 14: Penguatan Konsep


1. Dengan menganalisis Gambar 2.4, lengkapilah tabel berikut dengan memberi tanda () pada kolom
yang sesuai untuk menunjukkan komponen-komponen yang harus ada dalam sel elektrokimia!
Sel Elektrode Elektrolit Jembatan Sumber Kabel Wadah
Elektrokimia Anode Katode Garam Listrik Luar Penghantar Sel
Sel volta
Sel elektrolisis

2. Sebutkan fungsi komponen-komponen sel elektrokimia!

Sel Volta Sel Elektrolisis


Energi Listrik dihasilkan Energi diperlukan untuk membangkit kan
dari reaksi redoks spontan reaksi redok tidak spontan

Sistem bekerja pada lingkungan Lingkungan ( Power Supply )


bekerja pada Sistem (sel)
Lingkungan Power
Anode Katode Anode Supply Katode
(oksidasi) (reduksi) (oksidasi) (reduksi)
Energi Energi

( ) ( )

Elektrolit X Elektrolit Y
Elektrolit A B

Setengah reaksi oksidasi :


X X e Setengah reaksi oksidasi :
B B e
Setengah reaksi reduksi :
Y e Y Setengah reaksi reduksi :
A e A
Reaksi sel (redoks)
Reaksi sel (redoks)
X Y X Y (spontan)
B A B A (tidak spontan)
A B
Gambar 2.4 Karakteristik umum sel volta (A) dan sel elektrolisis (B). Sel volta menghasilkan energi dari reaksi
redoks spontan, sedangkan sel elektrolisis memerlukan energi dari sumber listrik luar untuk membangkitkan reaksi
redoks. Dalam kedua sel, oksidasi terjadi di anode dan reduksi terjadi di katode.

D. SEL VOLTA/GALVANI

Cobalah Anda amati, apa yang terjadi jika satu strip logam zink dimasukkan ke dalam larutan yang
mengandung ion Cu2+? Jika logam zink dimasukkan ke dalam larutan Cu2+, warna biru larutan akan
berubah karena terbentuknya logam Cu yang berwarna coklat-hitam pada permukaan strip zink (Gambar
2.5). Hal ini menunjukkan terjadinya reaksi redoks antara logam Zn dengan ion Cu2+.
Zn(s) Zn2+(aq) + 2e (oksidasi)
2+
Cu (aq) + 2e Cu(s) (reduksi)
2+ 2+
Zn(s) + Cu (aq) Zn (aq) + Cu(s) (redoks)

Reaksi di atas adalah salah satu contoh reaksi redoks spontan yang terjadi dalam sel volta.

15
ELEKTROKIMIA Dr. Abdul Haris Watoni, M.Si
Untuk Kalangan Sendiri
Dilarang memperbanyak dalam bentuk apapun tanpa seijin penulis

Gambar 2.5 Reaksi spontan antara zink dengan Cu2+. Logam zink (strip)
dimasukkan ke dalam larutan biru yang mengandung Cu2+ (beaker kiri)
sehingga terjadi reaksi redoks spontan membentuk logam Cu dan larutan
Zn2+ (beaker kanan). Larutan biru merubah warna dan terbentuk karat Cu
coklat-hitam. Silberberg, 2007.

1. Desain dan cara kerja sel volta


Pada reaksi redoks yang terjadi dalam sistem Zn/Cu2+ (Gambar 2.5), transfer elektron terjadi dari Zn ke
Cu+, tetapi sistem ini tidak menghasilkan energi listrik karena zat yang teroksidasi (Zn) dan yang
tereduksi (Cu2+) ditempatkan dalam beaker yang sama. Jika kedua setengah-reaksi terjadi dalam wadah
yang terpisah dan keduanya dihubungkan dengan suatu sircuit eksternal, elektron-elektron akan
berpindah melalui sircuit penghantar sehingga menghasilkan arus listrik (Gambar 2.6). Setelah proses
redoks berlangsung beberapa jam, massa anode zink berkurang karena atom-atom Zn teroksidasi (larut)
menjadi ion-ion Zn2+ dalam larutan, sedangkan massa katode tembaga bertambah karena ion-ion Cu2+
dalam larutan tereduksi (mengendap) menjadi logam Cu yang terlapis pada katode (Gambar 2.7).

16
ELEKTROKIMIA Dr. Abdul Haris Watoni, M.Si
Untuk Kalangan Sendiri
Dilarang memperbanyak dalam bentuk apapun tanpa seijin penulis

Anode Jembatan Katode


zink garam tembaga

Kapas
katun

Larutan Larutan
Zn(SO 4 ) 2 Cu(SO 4 ) 2

Zn teroksidasi di anode Cu 2 tereduksi di katode


menjadi Zn 2 (aq) menjadi Cu ( s)

Reaksi keseluruhan

Gambar 2.6 Sel volta berdasarkan reaksi redoks zink-tembaga. Anode Zn teroksidasi dengan melepaskan elektron.
Selanjutnya elektron mengalir menuju katode. Di katode, elektron ditangkap oleh ion Cu2+ sehingga Cu2+ tereduksi
menghasilkan logam Cu yang terlapis pada katode. Gambar dalam lingkaran menunjukkan oksidasi atom-atom dari
anode Zn menjadi ion Zn2+ (kiri) dan reduksi ion Cu2+ dari larutan menjadi atom Cu (kanan).

Dalam pengukuran potensial sel, komponen-komponen setiap


setengah-reaksi ditempatkan dalam dua wadah yang terpisah (disebut
sebagai setengah-sel) yang berisi larutan elektrolit dan sebuah
elektrode yang dicelupkan ke dalamnya. Dua setengah-sel
digabungkan dengan sircuit yang terdiri dari kawat penghantar dan
jembatan garam (tabung U terbalik). Potensial yang dihasilkan oleh
sel diukur menggunakan voltmeter yang dihubungkan pada kedua
Gambar 2.7 Logam Zn (kiri) elektrode melalui kawat penghantar. Berdasarkan kesepakatan
dan Cu (kanan) hasil reaksi (konvensi), setengah-sel oksidasi ditunjukkan di sebelah kiri dan
redoks dalam sel volta. Selama
setengah-sel reduksi ditunjukkan di sebelah kanan.
proses galvani, massa Zn
Kunci penting yang perlu dipahami dalam sel volta Zn/Cu2+
berkurang dan sebaliknya massa
Cu bertambah. Silberberg, 2007. adalah:
1) Setengah-sel oksidasi. Kompartemen anode terdiri dari batang
zink (anode) yang dicelupkan ke dalam elektrolit Zn2+ (misalnya larutan zink sulfat, ZnSO4). Logam
zink adalah pereaksi yang teroksidasi dengan melepaskan elektron keluar dari setengah-sel.
2) Setengah-sel reduksi. Kompartemen katode terdiri dari batang tembaga (katode) yang dicelupkan ke
dalam larutan elektrolit Cu2+ (misalnya tembaga(II) sulfat, CuSO4). Logam tembaga adalah produk
reaksi reduksi dan batang tembaga (katode) menghantarkan elektron menuju setengah-sel.
3) Muatan relatif elektrode. Dalam sel ini, atom-atom zink pada anode teroksidasi menjadi ion Zn2+ dan
elektron. Ion-ion Zn2+ masuk ke dalam larutan, sedangkan elektron-elektron memasuki batang anode
dan terus mengalir melewati kawat penghantar menuju katode. Selanjutnya, ion-ion Cu2+ dalam
larutan menerima elektron-elektron tersebut dan berubah menjadi logam Cu yang terlapis pada
permukaan katode. Oleh karena itu, anode menjadi sumber elektron sehingga bermuatan negatif dan

17
ELEKTROKIMIA Dr. Abdul Haris Watoni, M.Si
Untuk Kalangan Sendiri
Dilarang memperbanyak dalam bentuk apapun tanpa seijin penulis

katode menjadi tempat terjadinya penangkapan elektron sehingga bermuatan positif. Itulah sebabnya,
dalam sel volta anode bermuatan negatif dan katode bermuatan positif.
4) Tujuan penggunaan jembatan garam. Sel volta tidak dapat beroperasi bila sircuit tidak sempurna.
Ketika atom-atom Zn mulai teroksidasi menjadi Zn2+, larutan mulai bermuatan positif akibat makin
banyaknya ion Zn2+ yang larut. Penambahan muatan positif dalam larutan akan memperlambat laju
reaksi oksidasi. Di sisi lain, dengan makin banyaknya ion Cu2+ yang tereduksi menjadi logam Cu,
larutan dalam setengah-sel reduksi akan mengandung SO42 dalam jumlah yang berlebih yang akan
menghambat laju reaksi reduksi. Kedua hambatan inilah yang menyebabkan kerja sel terhenti.
Untuk mengatasi hambatan tersebut, maka kedua setengah-sel dihubungkan dengan jembatan
garam (yang berisi ion-ion nonreaktif, misalnya K+ dan Cl, yang dikemas dalam suatu jel), untuk
menarik ion-ion yang berlebih dalam kedua setengah-sel (Gambar 2.6). Ion-ion dapat keluar-masuk
dari dan ke dalam kedua setengah-sel melalui jembatan garam. Ion-ion K+ bergerak dari jembatan
garam menuju larutan dan ion-ion SO42 dari larutan bergerak menuju jembatan garam. Sementara itu,
ion-ion Cl dari jembatan garam bergerak menuju larutan dan ion-ion Zn2+ dari larutan bergerak
menuju jembatan garam. Dengan demikian, sirkuit bekerja sempurna ketika elektron-elektron
bergerak dari kiri ke kanan melewati kawat penghantar, sedangkan anion-anion bergerak dari
kanan ke kiri dan kation-kation bergerak dari kiri ke kanan melewati jembatan garam.
5) Elektrode aktif dan elektrode pasif. Elektrode dalam sel volta Zn/Cu2+ bersifat aktif karena
logamnya sendiri mengalami oksidasi. Ketika sel bekerja, massa zink secara berangsur-angsur berkurang
dan [Zn2+] dalam setengah-sel anode bertambah. Pada saat yang sama, massa elektrode tembaga
bertambah dan [Cu2+] dalam setengah-sel katode berkurang. Ion-ion Cu2+ tereduksi membentuk Cu yang
melapis katode. Setelah proses redoks berlangsung selama beberapa jam, wujud fisik kedua elektrode
akan tampak seperti pada Gambar 2.7.
Reaksi redoks juga dapat terjadi dalam sel volta dengan elektroda pasif. Pada umumnya,
elektrode pasif yang digunakan adalah grafit atau platina. Elektrode ini tidak ambil bagian dalam
setengah-reaksi. Sebagai contoh, dalam sel volta yang bekerja berdasarkan setengah-reaksi berikut, zat-
zat yang bereaksi tidak dapat berperan sebagai elektrode:
2I(aq) I2(s) + 2e
MnO4(aq) + 8H+(aq) + 5e Mn2+(aq) + 4H2O(l)

Oleh karena itu, setiap setengah-sel terdiri dari elektrode pasif yang dicelupkan ke dalam larutan
elektrolit yang mengandung semua pereaksi yang terlibat dalam setengah-reaksi tersebut (Gambar 2.8).
Dalam setengah-sel anode, ion-ion I teroksidasi menjadi I2 padat. Elektron-elektron yang dilepaskan
mengalir menuju anode grafit dan (melalui kawat penghantar) menunju katode grafit. Elektron-elektron
diterima oleh ion MnO4 yang selanjutnya tereduksi menjadi ion Mn2+.

Kegiatan Mahasiswa 15: Berpikir Kritis


Jika elektrolit yang digunakan dalam sel volta sebelah kiri mengandung ion Fe2+ dan yang di sebelah
kanan mengandung ion Ag+, logam apa yang digunakan sebagai anode dan katode? Tuliskan setengah-
reaksi yang terjadi di anode dan di katode!

18
ELEKTROKIMIA Dr. Abdul Haris Watoni, M.Si
Untuk Kalangan Sendiri
Dilarang memperbanyak dalam bentuk apapun tanpa seijin penulis

Anode Katode

Gambar 2.8 Sel volta menggunakan


elektrode pasif. Reaksi antara I dengan
MnO4 dalam larutan asam tidak
mengandung zat yang dapat digunakan
sebagai elektrode, sehingga digunakan
elektrode pasif grafit (C).

2. Notasi sel volta


Untuk mempermudah pemahaman, rangkaian sel volta dinyatakan sebagai notasi sel. Sebagai contoh, sel
volta Zn/Cu2+ dinyatakan dengan notasi sel sebagai berikut:
Zn(s) | Zn2+(aq) || Cu2+(aq) | Cu(s)

Aturan penting dalam penulisan notasi sel:


1) Komponen setengah-sel oksidasi ditulis di bagian kiri, sedangkan komponen setengah-sel reduksi
ditulis di bagian kanan.
2) Garis tegak tunggal menunjukkan batas fase. Sebagai contoh, Zn(s) | Zn2+(aq) menunjukkan bahwa
Zn padat berbeda fase dengan Zn2+ aqueous. Tanda koma memisahkan komponen-komponen
setengah-sel dalam fase yang sama. Sebagai contoh, notasi sel volta untuk reaksi antara ion I dengan
ion MnO4 yang ditunjukkan pada Gambar 2.8 dinyatakan sebagai berikut:
grafit | I(aq) | I2(s) || H+(aq), MnO4(aq), Mn2+(aq) | grafit

Jadi, dalam kompartemen katode, H+, MnO4, dan Mn2+ dalam fase larutan yang sama. Padatan grafit
dicelupkan di dalamnya. Konsentrasi komponen-komponen perlu dinyatakan dalam penulisan notasi
sel. Sebagai contoh, jika konsentrasi Zn2+ dan Cu2+ masing-masing adalah 1 M, notasi sel dapat
dinyatakan sebagai berikut:
Zn(s) | Zn2+(1 M) || Cu2+(1 M) | Cu(s)

3) Garis rangkap tegak menunjukkan jembatan garam yang memisahkan dua setengah-sel. Garis ini
merupakan batas fase pada kedua sisi jembatan garam.

Contoh Soal 2.11


Suatu sel volta yang terdiri dari setengah-sel dengan batang Cr dalam larutan Cr(NO 3)3, setengah-sel
yang lain dengan batang Ag dalam larutan AgNO 3, dan jembatan garam KNO3. Hasil pengukuran
menunjukkan bahwa Cr adalah elektrode negatif dan Ag adalah elektrode positif. Tuliskan persamaan
reaksi redoks dan notasi sel volta, serta gambarkan diagram sel volta.

Penyelesaian:
Strategi: Karena Cr sebagai elektrode negatif (anode), maka setengah-reaksi oksidasi yang terjadi adalah:
Cr(s) Cr3+(aq) + 3e
Ag sebagai elektrode positif (katode), sehingga setengah-reaksi reduksi yang terjadi adalah:
Ag+(aq) + e Ag(s)
+
Reaksi redoks: Cr(s) + 3Ag (aq) Cr3+(aq) + 3Ag(s)

19
ELEKTROKIMIA Dr. Abdul Haris Watoni, M.Si
Untuk Kalangan Sendiri
Dilarang memperbanyak dalam bentuk apapun tanpa seijin penulis

Setengah-sel oksidasi digambarkan di sebelah kiri dan setengah-sel reduksi digambarkan di sebelah
kanan. Elektron mengalir dari kiri ke kanan. Elektron yang dilepaskan oleh Cr mengalir melewati kawat
penghantar menuju elekrode Ag. Ketika ion-ion Cr3+ masuk ke dalam larutan elektrolit dalam setengah-
sel anode, ion-ion NO3 dari jembatan garam juga masuk ke dalam larutan ini untuk mempertahankan
netralitas larutan. Sebaliknya, ketika ion-ion Ag+ dalam setengah-sel
katode bergerak meninggalkan larutan dan terduksi di permukaan katode,
ion-ion K+ dari jembatan garam masuk ke dalam larutan dalam setengah- Anode katode
sel katode untuk mempertahankan netralitas larutan. Penulisan notasi sel
dinyatakan sebagai berikut:
Cr(s) | Cr3+(aq) || Ag+(aq) | Ag(s)

Diagram sel volta digambarkan seperti pada gambar di sebelah kanan.

Kegiatan Mahasiswa 16: Penguatan Konsep


Suatu sel volta dinyatakan dengan notasi berikut:
Fe(s) | Fe2+(1 M) || Ag+(1 M) | Ag(s)

a. Tuliskan setengah-reaksi oksidasi yang terjadi!


b. Tuliskan setengah-reaksi reduksi yang terjadi!
c. Tuliskan persamaan reaksi redoks yang terjadi!
d. Logam apa yang cocok sebagai anode dan sebagai katode?
e. Setengah-sel apa yang di sebelah kiri dan setengah-sel apa yang di sebelah kanan?
f. Dari dan ke arah logam apa elektron mengalir dalam sircuit?
g. Berapa jumlah elektron yang ditransfer per atom yang teroksidasi?
h. Jika sel volta menggunakan jembatan garam KCl dan larutan dalam setiap setengah-sel mengandung
ion NO3, larutan apa yang digunakan sebagai elektrolit?
i. Terkait dengan pertanyaan (h), ion-ion apa yang bergerak ke kanan dan yang bergerak ke kiri melalui
jembatan garam?
j. Gambarkan diagram sel volta!

3. Potensial sel: Output sel volta


Tujuan sel volta adalah untuk mengubah energi reaksi spontan menjadi energi listrik. Energi listrik ini
berbanding lurus dengan perbedaan potensial antara dua elektrode dan disebut sebagai potensial sel
(Esel), tegangan sel, atau gaya gerak listrik (electromotive forse, emf).
Elektron mengalir secara spontan dari elektrode negatif ke elektrode positif (potensial listrik yang
lebih positif). Oleh karena itu, jika sel volta bekerja secara spontan, potensial sel bernilai positif. Makin
positif nilai Esel, makin besar kecenderungan reaksi ke arah kanan. Di sisi lain, Esel bernilai negatif
menunjukkan bahwa reaksi ke arah kanan berlangsung secara tidak spontan. Jika Esel = 0, reaksi telah
mencapai keadaan setimbang dan sel sudah tidak bekerja.

Proses spontan: Esel > 0


Proses tidak spontan: Esel < 0
Proses setimbang: Esel = 0

20
ELEKTROKIMIA Dr. Abdul Haris Watoni, M.Si
Untuk Kalangan Sendiri
Dilarang memperbanyak dalam bentuk apapun tanpa seijin penulis

Satuan SI untuk potensial listrik adalah volt (V) dan untuk muatan listrik adalah coulumb (C).
Menurut definisi, untuk dua elektrode dengan perbedaan potensial listrik 1 volt, energi yang dilepaskan
untuk setiap muatan 1 coulumb yang berpindah di antara kedua elektrode adalah 1 joule. Jadi,

1 V = 1 J/C

4. Potensial sel standar


Potensial sel volta dipengaruhi oleh perubahan konsentrasi
ketika reaksi berlangsung dan oleh hilangnya energi karena
pemanasan sel dan sircuit luar. Oleh karena itu, untuk
membandingkan output sel-sel yang berbeda, maka perlu
diperoleh potensial sel standar (Eosel), yaitu potensial yang
diukur pada suhu tertentu (biasanya 298 K) dan semua
komponen dalam keadaan standar (yaitu 1 atm untuk gas,
1 M untuk larutan, dan padatan murni untuk elektrode). Gambar 2.9 Pengukuran potensial sel
Sebagai contoh, ketika sel zink-tembaga pada Gambar 2.6 standar. Sel zink-tembaga yang bekerja
mulai bekerja pada keadaan standar, yaitu ketika [Zn2+] = 1 pada keadaan standar menghasilkan
M, sel ini akan menghasilkan potensial sebesar 1,1 V pada potensial 1,10 V.
298 K (Gambar 2.9).
Zn(s) + Cu2+(aq, 1 M) Zn2+(aq, 1 M) + Cu(s) Eosel = 1,10 V

5. Potensial elektrode standar (setengah-sel): mengacu pada setengah-reaksi reduksi


Potensial elektrode standar (Eosetengah-sel) adalah potensial yang terkait dengan setengah-reaksi yang
terjadi pada setiap elektrode jika semua komponen dalam kondisi standar. Setengah-reaksi oksidasi di
anode pada keadaan standar menghasilkan potensial oksidasi standar (Eooks,An), sedangkan setengah-
reaksi reduksi di katode pada keadaan standar menghasilkan potensial reduksi standar (Eored,Kat).
Dalam sel volta Zn/Cu2+, reaksi keseluruhan melibatkan reaksi oksidasi zink di anode dan reduksi
Cu2+ di katode. Oleh karena itu, untuk sel volta Zn/Cu2+,
Zn(s) Zn2+(aq) + 2e Eooks, An = Eo Zn/Zn2+ [oksidasi]
Cu2+(aq) + 2e Cu(s) Eored, Kat = Eo Cu2+/Cu [reduksi]

Reaksi redoks keseluruhan adalah jumlah dari kedua setengah-reaksi tersebut.


Zn(s) + Cu2+(aq) Zn2+(aq) + Cu(s)

Oleh karena itu, Eosel merupakan jumlah potensial dari kedua setengah-sel:

Eosel = Eored,Kat + Eooks,An


Eosel = Eo Cu2+/Cu + Eo Zn/Zn2+

dengan Eo Cu2+/Cu = potensial reduksi standar Cu2+ menjadi Cu; Eo Zn/Zn2+ = potensial oksidasi standar
Zn menjadi Zn2+.
Menurut perjanjian (konvensi), potensial elektrode standar selalu mengacu pada potensial
setengah-reaksi reduksi.
Zn2+(aq) + 2e Zn(s) Eored, An = Eo Zn2+/Zn
Cu2+(aq) + 2e Cu(s) Eored, Kat = Eo Cu2+/Cu

21
ELEKTROKIMIA Dr. Abdul Haris Watoni, M.Si
Untuk Kalangan Sendiri
Dilarang memperbanyak dalam bentuk apapun tanpa seijin penulis

Oleh karena itu, Eo Zn/Zn2+ = Eo Zn2+/Zn dan Eooks,An = Eored,An.


Dengan demikian, untuk sel volta Zn/Cu2+,
Eosel = Eo Cu2+/Cu + (Eo Zn2+/Zn) = Eo Cu2+/Cu Eo Zn2+/Zn

Jadi, Eosel = Eored,Kat Eored,An

Reaksi redoks berlangsung spontan apabila elektron mengalir secara spontan menuju katode dengan
Eosel > 0. Agar Eosel > 0, maka:

Eored,Kat > Eored,An

Dengan demikian, untuk reaksi redoks spontan, Eosel dapat dinyatakan sebagai:

Eosel = Eored (lebih positif) Eored (lebih negatif)

Dalam sel volta: 1) setengah-sel dengan Eored yang lebih positif mengalami reaksi reduksi.
2) setengah-sel dengan Eored yang lebih negatif mengalami reaksi oksidasi.

Eored (lebih positif): reduksi


Eored (lebih negatif): oksidasi

Jadi, potensial sel standar (Eosel) adalah beda potensial antara potensial elektrode standar setengah-reaksi
reduksi (Eored (lebih positif)) dengan potensial elektrode standar setengah-reaksi oksidasi (Eored (lebih negatif)).


o o
Ered Ered

o
Esel
zat yang tereduksi zat yang teroksidasi

Contoh Soal 2.12


Berdasarkan data dua setengah-reaksi berikut:
Ag+(aq) + e Ag(s) Eo = 0,80 V

2+
Sn (aq) + 2e Sn(s) Eo = 0,14 V

Tuliskan reaksi redoks yang terjadi dan tentukan nilai potensial sel yang dihasilkan!

Penyelesaian:
Dalam reaksi redoks, setengah-reaksi reduksi memiliki Eored yang lebih positif daripada Eored untuk
setengah-reaksi oksidasi, sehingga berdasarkan data tersebut, maka Ag+ tereduksi dan Sn teroksidasi.
Setengah-reaksi reduksi: Ag+(aq) + e Ag(s) ( 2)
Setengah-reaksi oksidasi: Sn(s) Sn2+(aq) + 2e
Reaksi redoks spontan: Sn(s) + 2Ag+(aq) Sn2+(aq) + 2Ag(s) Eosel = ?

Eosel = Eored (lebih positif) Eored (lebih negatif)


= Eo Ag+/Ag Eo Sn2+/Sn = 0,80 V (0,14 V) = +0,94 V

22
ELEKTROKIMIA Dr. Abdul Haris Watoni, M.Si
Untuk Kalangan Sendiri
Dilarang memperbanyak dalam bentuk apapun tanpa seijin penulis

Cara lain:
Ag+(aq) + e Ag(s) ( 2) Eo Ag+/Ag = +0,80 V
2+
Sn(s) Sn (aq) + 2e Eo Sn/Sn2+ = +0.14 V
Sn(s) + 2Ag+(aq) Sn2+(aq) + 2Ag(s) Eosel = ?

Eosel = Eored,Kat + Eooks,An


Eosel = Eo Ag+/Ag + Eo Sn/Sn2+ = +0,80 V + 0.14 V = +0,94 V

Contoh Soal 2.13


Berdasarkan data potensial reduksi standar berikut: Eo Cu2+/Cu = + 0,34 V dan Eo Fe2+/Fe = 0,44 V
(a) berapakah potensial sel yang terukur jika kedua setengah-sel dengan potensial reduksi tersebut
beroperasi dalam sel volta?
(b) setengah-sel manakah yang menunjukkan setengah-reaksi oksidasi dan yang manakah yang
menunjukkan setengah-reaksi reduksi? Tuliskan persamaan kedua setengah-reaksi tersebut!
(c) Tuliskan persamaan reaksi sel (redoks) yang terjadi!

Penyelesaian:
(a) Eosel = Eored (lebih positif) Eored (lebih negatif)
= Eo Cu2+/Cu Eo Fe2+/Fe = + 0,34 V (0,44 V)
= +0,78 V
(b) 1) setengah-sel oksidasi adalah setengah-sel dengan Eored yang lebih negatif.
Persamaan setengah-reaksi oksidasi: Fe(s) Fe2+(aq) + 2e
o
2) setengah-sel reduksi adalah setengah-sel dengan E red yang lebih positif.
Persamaan setengah-reaksi reduksi: Cu2+(aq) + 2e Cu(s)

(c) Reaksi redoks: Fe(s) + Cu2+(aq) Fe2+(aq) + Cu(s)

Contoh Soal 2.14


Berdasarkan data potensial elektrode standar yang disajikan dalam Lampiran, manakah dari dua
persamaan reaksi berikut yang berlangsung spontan?
(a) Al(s) + Fe2+(aq) Al3+(aq) + Fe(s)
(b) Zn(s) + 2HNO3(aq) Zn(NO3)2(aq) + H2(g)

Penyelesaian:
Strategi: Dalam reaksi redoks spontan, setengah-reaksi tereduksi harus memiliki Eored yang lebih besar
daripada Eored setengah-reaksi oksidasi.
(a) Setengah-reaksi reduksi: Fe2+(aq) + 2e Fe(s) Eo Fe2+/Fe = 0,44 V

+
Setengah-reaksi oksidasi: Al (aq) Al(s) + 3e Eo Al3+/Al = 1,66 V
Karena Eo Fe2+/Fe > Eo Al3+/Al, maka reaksi redoks terjadi secara spontan.
Bukti:
E sel = Eored,Kat Eored,An
o

= Eo Fe2+/Fe Eo Al3+/Al = 0,44 V (1,66 V) = +1,22 V

(b) Reaksi redoks: Zn(s) + 2H+(aq) Zn(NO3)2(aq) + H2(g)


+
Setengah-reaksi reduksi: 2H (aq) + 2e H2(g) Eo H+/H2 = 0,00 V;

Setengah-reaksi oksidasi: Zn(s) 2+
Zn (aq) + 2e Eo Zn2+/Zn = 0,76 V
Karena Eo H+/H2 > Eo Zn2+/Zn, maka reaksi redoks terjadi secara spontan.

23
ELEKTROKIMIA Dr. Abdul Haris Watoni, M.Si
Untuk Kalangan Sendiri
Dilarang memperbanyak dalam bentuk apapun tanpa seijin penulis

Kegiatan Mahasiswa 17: Penguatan Konsep


Buatlah bagan sel volta yang menggambarkan perubahan energi, reaksi redoks, potensial setengah-sel
reduksi, potensial setengah-sel oksidasi, dan potensial sel.

6. Penentuan Eosetengah-sel
Bagaimana kita dapat mengetahui potensial reduksi setengah-sel standar (Eosetengah-sel) melalui pengukuran
Eosel? Potensial reduksi setengah-sel, seperti Eo Zn2+/Zn (= Eozink) dan Eo Cu2+/Cu (= EoCu), tidak bernilai
mutlak, tetapi merupakan nilai potensial relatif terhadap nilai potensial pembanding. Berdasarkan
perjanjian, setengah-sel pembanding standar memiliki potensial setengah-sel sebesar nol (Eopembanding =
0,00 V). Yang menjadi setengah-sel pembanding standar adalah elektrode hidrogen standar (EHS).
Elektrode pembanding ini terdiri dari gas hidrogen yang dialirkan dengan tekanan 1 atm pada permukaan
elektrode platina yang dicelupkan ke dalam larutan asam kuat (H+(aq) atau H3O+(aq)) 1,0 M. Oleh karena
itu, pada elektrode pembanding terjadi setengah-reaksi sebagai berikut:
2H+(aq; 1,0 M) + 2e H2(g; 1 atm) Eopembanding = 0,00 V

Dengan Eopembanding = 0,00 V, maka potensial sel standar keseluruhan (Eosel) setara dengan nilai
potensial elektrode standar yang terukur. Ketika gas H2 teroksidasi, setengah-sel pembanding sebagai
anode dan reaksi reduksi terjadi pada setengah-sel yang hendak diukur (unknown):
Eosel = Eored,Kat Eored,An = Eoukur Eopembanding = Eoukur 0,00 V = Eoukur

Eosel = Eoukur
Untuk setengah-sel Mn+/M:
Eoukur = Eo Mn+/M

Jika ion H+ yang tereduksi, setengah-sel pembanding sebagai katode dan reaksi oksidasi terjadi pada
setengah-sel yang hendak diukur (unknown):
Eosel = Eored,Kat Eored,An = Eopembanding Eoukur = 0,00 V Eoukur = Eoukur

Eosel = Eoukur = Eo Mn+/M

Gambar 2.10 menunjukkan sel volta yang tersusun dari setengah-sel oksidasi Zn/Zn2+ dan setengah-
sel reduksi H+/H2 (atau H3O+/H2). Potensial elektrode zink bernilai negatif relatif terhadap potensial
elektrode hidrogen, sehingga zink teroksidasi dan berperan sebagai anode. Dengan nilai Eosel = +0,76 V,
kita menentukan nilai Eo Zn2+/Zn.
2H+(aq) + 2e H2(g) Eopembanding = 0,00 V
Zn(s) Zn2+(aq) + 2e Eo Zn2+/Zn = ? V

Eosel = Eored,Kat Eored,An = Eopembanding Eoukur


+0,76 V = Eopembanding Eoukur
Eoukur = Eopembanding Eosel = 0,00 V (+0,76 V) = 0,76 V

Sekarang, mari kita kembali ke sel volta Zn/Cu2+ untuk mengukur nilai Eo Cu2+/Cu. Dengan
menggunakan nilai Eosel = 1,10 V, maka:
Eosel = Eored,Kat Eored,An = Eo Cu2+/Cu Eo Zn2+/Zn
Eo Cu2+/Cu = Eosel + Eo Zn2+/Zn = 1,10 V + ( 0,76 V) = +0,34 V

24
ELEKTROKIMIA Dr. Abdul Haris Watoni, M.Si
Untuk Kalangan Sendiri
Dilarang memperbanyak dalam bentuk apapun tanpa seijin penulis

Anode Katode

Jembatan
Garam
Gas H 2 Permukaan
Pt
Zn teroksidasi
melepas 2e /atom Kawat Pt
2e ditangkap/
molekul H 2
Zn2 1 M H 1M

Setengah reaksi oksidasi Setengah reaksi reduksi


Zn(s) Zn 2 (aq) 2e 2H (aq) 2e H 2 ( g )

Reaksi redoks
Zn(s) 2H (aq) Zn 2 (aq) H 2 ( g )
2+
Gambar 2.10 Penentuan potensial elektrode Zn /Zn dengan elektrode pembanding EHS. Potensial setengah-sel
Zn2+/Zn bernilai negarif (anode) dan potensial sel = +0,76 V. Karena potensial elektrode pembanding bernilai nol,
maka Eo Zn2+/Zn = 0,76 V. Silberberg, 2007.

Oleh karena itu, dengan mengukur potensial sel dari sel volta yang terdiri dari setengah-sel dengan
potensial elektrode yang diketahui (known) dan setengah-sel dengan potensial elektrode yang hendak
ditentukan (unknown), potensial elektrode setengah-sel uknown dapat ditentukan.

Kegiatan Mahasiswa 18: Berfikir Kritis


Jika suatu sel volta menghasilkan potensial sel standar < 0,
a. Bagaimana nilai Eoukur dibandingkan dengan nilai Eopembanding ?
b. Apakah reaksi berlangsung secara spontan atau tidak?
c. Jika Eoukur dianggap sama dengan Eo A2+/A dan elektrode pembanding yang digunakan adalah EHS,
tuliskan reaksi redoks spontan yang terjadi!

Contoh Soal 2.15


Reaksi antara bromin dengan logam zink dalam suatu sel volta terjadi menurut reaksi berikut:
Br2(aq) + Zn(s) 2Br(aq) + Zn2+(aq) Eosel = 1,83 V

Diketahui bahwa Eo Zn2+/Zn = 0,76 V. Hitunglah Eo Br2/Br !

Penyelesaian:
Eosel bernilai positif menunjukkan bahwa reaksi redoks berlangsung secara spontan. Oleh karena itu, Eo
Br2/Br > Eo Zn2+/Zn.
Setengah-reaksi reduksi: Br2(aq) + 2e 2Br(aq) Eo Br2/Br = ?
Setengah-reaksi oksidasi: Zn(s) Zn2+(aq) + 2e Eo Zn2+/Zn = 0,76 V
Eosel = Eored,Kat Eored,An = Eo Br2/Br Eo Zn2+/Zn
Eo Br2/Br = Eosel + Eo Zn2+/Zn = 1,83 V + (0,76 V) = 1,07 V

25
ELEKTROKIMIA Dr. Abdul Haris Watoni, M.Si
Untuk Kalangan Sendiri
Dilarang memperbanyak dalam bentuk apapun tanpa seijin penulis

Kegiatan Mahasiswa 19: Penguatan Konsep


Suatu sel volta yang bekerja berdasarkan reaksi redoks berikut memiliki Eosel = 1,39 V
Br2(aq) + 2V3+(aq) + 2H2O(l) 2VO2+(aq) + 2Br(aq) + 4H+(aq)

a. Apakah reaksi redoks ini berlangsung secara spontan?


b. Tuliskan setengah-reaksi reduksi dan setengah-reaksi oksidasi yang terjadi.
c. Tentukan potensial elektrode standar untuk reduksi VO 2+ menjadi V3+?

7. Kekuatan relatif reduktor dan oksidator


Kita dapat menyusun urutan kekuatan reduktor atau oksidator berdasarkan nilai potensial setengah-
reduksi standar (Eored). Berdasarkan persamaan reaksi redoks spontan (Eosel > 0) dalam sel volta, kita
dapat mengetahui bahwa Eored, Kat > Eored, An . Makin besar nilai Eored setengah-sel reduksi, makin besar
kecenderungan reaksi reduksi terjadi sehingga makin lemah sifat reduktor zat tersebut. Sebagai
contoh, untuk beberapa setengah-reaksi reduksi berikut:
Cu2+(aq) + 2e Cu(s) Eo Cu2+/Cu = +0,34 V
2H+(aq) + 2e H2(g) Eo H+/H2 = 0,00 V
Zn2+(aq) + 2e Zn(s) Eo Zn2+/Zn = 0,76 V

Ion Cu2+ lebih mudah tereduksi daripada ion H+ yang juga lebih tereduksi daripada ion Zn2+. Oleh karena
itu, urutan kekuatan oksidator untuk ion-ion tersebut adalah: Cu2+ > H+ > Zn2+.
Setengah-reaksi oksidasi merupakan kebalikan dari setengah-reaksi reduksi. Dalam reaksi redoks,
zat yang teroksidasi berlaku sebagai reduktor. Oleh karena itu, urutan kekuatan reduktor untuk ketiga
unsur tersebut adalah: Zn > H2 > Cu
Oksidator: tereduksi
Reduktor: teroksidasi

Melalui penggabungan beberapa pasangan setengah-sel dalam sel volta, kita dapat menyusun daftar
setengah-reaksi reduksi dengan urutan peningkatan nilai potensial elektrode standar yang disebut
sebagai deret volta. Data potensial elektrode standar beberapa setengah-reaksi reduksi disajikan dalam
Tabel 2.1. Setelah Anda mengkaji data potensial elektrode standar, beberapa hal penting yang perlu
diingat adalah:
1) Semua nilai Eored ditentukan relatif terhadap nilai potensial elektrode hidrogen (pembanding) standar.
2) Berdasarkan perjanjian, setengah-reaksi dinyatakan sebagai reaksi reduksi. Oleh karena itu:
(a) hanya pereaksi yang berperan sebagai oksidator dan
(b) hanya produk reaksi yang berperan sebagai reduktor.
3) Makin positif nilai Eored, makin mudah setengah-reaksi reduksi terjadi.
4) Setengah-reaksi ditunjukkan dengan tanda panah kesetimbangan karena setiap reaksi reduksi atau
oksidasi dapat terjadi. Hal ini bergantung pada nilai Eored dari setengah-reaksi yang lain.
Tabel 2.1 menunjukkan bahwa F2 sebagai oksidator terkuat karena memiliki Eored terbesar. Adapun
Li adalah reduktor terkuat karena memiliki Eored terkecil. Jadi, F2 paling mudah tereduksi dan sebaliknya
Li paling mudah teroksidasi. Deret volta beberapa logam adalah sebagai berikut:

Li-K-Ba-Ca-Na-Mg-Al-Zn-Cr-Fe-Cd-Co-Ni-Sn-Pb-H-Cu-Hg-Ag-Pt-C-Au

Data potensial reduksi elektrode yang lebih lengkap dapat Anda simak pada halaman Lampiran.

26
ELEKTROKIMIA Dr. Abdul Haris Watoni, M.Si
Untuk Kalangan Sendiri
Dilarang memperbanyak dalam bentuk apapun tanpa seijin penulis

Tabel 2.1 Beberapa potensial elektrode standar (298 K)


Setengah-reaksi reduksi Eored (V)
F2(g) + 2e 2F(aq) +2,87
Cl2(g) + 2e 2Cl(aq) +1,67
MnO2(s) + 4H+(aq) + 2e Mn2+(aq) + 2H2O(l) +1,23

Kekuatan reduktor bertambah


+
NO3 (aq) + 4H (aq) + 3e NO(aq) + 2H2O(l) +0,96
+
Kekuatan oksidator bertambah

Ag (aq) + e Ag(s) +0,80


Fe3+(aq) + e Fe2+(aq) +0,77
O2(g) + 2H2O(l) + 4e 4OH(aq) +0,40
Cu2+(aq) + 2e Cu(s) +0,34
+
2H (aq) + 2e H2(g) 0,00

+
N2(g) + 5H (aq) + 4e N2H5+(aq) 0,23
Fe2+(aq) + e Fe(s) 0,44

2+
Zn (aq) + e Zn(s) 0,76

2H2O(l) + 2e H2(g) + 2OH(aq) 0,83
Na+(aq) + e Na(s) 2,71

+
Li (aq) + e Li(s) 3,05

?
Kegiatan Mahasiswa 20: Penguatan Konsep
Gambar di sebelah kanan menunjukkan posisi setengah-reaksi reduksi
berdasarkan nilai potensial elektrode standar. Makin ke bawah, makin
rendah nilai potensial elektrode standar. Tunjukkan, pada tanda (?) mana
yang beperan sebagai oksidator terkuat, reduktor terkuat, urutan kekuatan ? ?
oksidator, dan urutan kekuatan reduktor!

Contoh Soal 2.16


Mengacu pada deret volta, manakah dari reaksi-reaksi berikut yang dapat berlangsung secara spontan?
(a) Al(s) + Cu2+(aq) Al3+(aq) + Cu(s)
(b) Ag(s) + Zn2+(aq) Ag+(aq) + Zn(s)

Penyelesaian:
Strategi kunci: Dalam deret volta, makin ke kanan: ion logam makin mudah tereduksi dan sebaliknya,
makin ke kiri logam makin makin mudah teroksidasi. Reaksi redoks terjadi secara spontan jika ion logam
kanan direaksikan dengan logam kiri. Oleh karena itu, reaksi (a) berlangsung secara spontan dan reaksi
(b) berlangsung secara tidak spontan. Anda dapat membuktikan secara kuantitatif melalui penghitungan
Eosel untuk kedua reaksi tersebut.

27
ELEKTROKIMIA Dr. Abdul Haris Watoni, M.Si
Untuk Kalangan Sendiri
Dilarang memperbanyak dalam bentuk apapun tanpa seijin penulis

Kegiatan Mahasiswa 21: Berpikir Kritis


Mengacu pada deret volta, bagaimana urutan kekuatan reduktor dan oksidator logam-logam? Logam
apakah yang dapat berperan sebagai oksidator terkuat? Logam apakah yang paling sukar bereaksi (inert)?

8. Penulisan reaksi redoks spontan


Data Eored dapat digunakan untuk menuliskan reaksi redoks spontan yang bermanfaat dalam penyusunan
sel volta. Setiap reaksi redoks adalah jumlah dari dua setengah-reaksi. Sebagai contoh, dalam reaksi zink-
tembaga, Zn dan Cu adalah zat pereduksi, sedangkan Zn2+ dan Cu2+ adalah zat pengoksidasi. Reduktor
dan oksidator yang lebih kuat bereaksi secara spontan menghasilkan oksidator dan reduktor yang
lebih lemah.
Zn(s) + Cu2+(aq) Zn2+(aq) + Cu(s)
Reduktor Oksidator Oksidator Reduktor
lebih kuat lebih kuat lebih lemah lebih lemah

Berdasarkan urutan nilai Eored, seperti dalam Tabel 2.1, oksidator yang lebih kuat (kiri), memiliki
setengah-reaksi reduksi dengan nilai Eored yang lebih lebih positif, sedangkan pereduksi yang lebih kuat
(kiri) memiliki setengah-reaksi reduksi dengan nilai Eored yang lebih lebih negatif. Dengan demikian,
dalam reaksi redoks spontan(Eosel > 0), oksidator memiliki Eored yang lebih positif daripada reduktor.
Dengan kata lain, untuk reaksi redoks spontan, setengah-reaksi dengan Eored yang lebih positif terjadi di
katode dan yang lebih negatif terjadi di anode.
Oksidator: Eored lebih positif
Reduktor: Eored lebih negatif

Contoh Soal 2.17


Berdasarkan data setengah-reaksi reduksi standar yang disajikan dalam Tabel 2.1, pastikan bahwa kedua
reaksi berikut berlangsung secara spontan dan tentukan pereaksi yang berperan sebagai reduktor dan yang
berperan sebagai oksidator.
(a) Li(s) + Cu2+(aq) Li+(aq) + Cu(s)
(b) Fe(s) + Ag+(aq) Fe2+(aq) + Ag(s)

Penyelesaian:
(a) Eo Cu2+/Eo Cu > Eo Li+/Eo Li; reaksi spontan; Li: reduktor dan Cu2+: oksidator
(b) Eo Ag+/Eo Ag > Eo Fe2+/Eo Fe; reaksi spontan; Fe: reduktor dan Ag+: oksidator

Kegiatan Mahasiswa 22: Berpikir Kritis:

Mengapa nilai potensial sel standar tidak bergantung pada koefisien reaksi? Untuk menjawab pertanyaan
ini, Anda dapat mengembangkan hubungan antara potensial (volt) dengan energi (Joule) dan muatan
(Coulumb). Potensial elektrode standar merupakan besaran intensif (tidak bergantung pada jumlah zat).

Kegiatan Mahasiswa 23: Penguatan Konsep


Berdasarkan data Eored yang Anda dapatkan dari literatur, apakah reaksi berikut berlangsung secara
spontan?
3Fe2+(aq) Fe(s) + 2Fe3+(aq)
Jika tidak, tuliskan persamaan reaksi spontan yang terjadi, hitunglah Eosel, dan susunlah urutan tiga spesi
besi dalam urutan kekuatan reduktor yang makin menurun!

28
ELEKTROKIMIA Dr. Abdul Haris Watoni, M.Si
Untuk Kalangan Sendiri
Dilarang memperbanyak dalam bentuk apapun tanpa seijin penulis

9. Kereaktifan relatif logam


Mengapa reaksi penggantian logam dapat terjadi? Mengapa beberapa logam dapat bereaksi dengan asam
menghasilkan gas H2? Mengapa beberapa logam dapat bereaksi dengan air menghasilkan gas H 2?

1) Logam yang dapat menghasilkan gas H2 dari asam.


Setengah-reaksi hidrogen standar menunjukkan reduksi ion H + dari asam menghasilkan gas H2.
2H+(aq) + 2e H2(g) Eo = 0,00 V

Untuk mengetahui logam apa yang mereduksi H + dari asam, pilihlah suatu logam dan tulislah
setengah-reaksi sebagai reaksi oksidasi, gabungkan setengah-reaksi ini dengan setengah-reaksi reduksi
H+. Jika suatu logam dapat mereduksi H +, maka penggabungan dua setengah-reaksi ini akan
menghasilkan Eosel bernilai positif. Sebagai contoh, besi (Eo Fe2+/Fe = 0,44 V) mereduksi H+ dari asam
menghasilkan gas H2.
Fe(s) Fe2+(aq) + 2e Eo Fe/Fe2+ = +0,44 V
2H+(aq) + 2e H2(g) Eo H+/H2 = 0,00 V
Fe(s) + 2H+(aq) Fe2+(aq) + H2(g) Eosel = +0,44 V

3) Logam yang dapat menggantikan logam lain


Logam yang lebih mudah teroksidasi dapat menggantikan ion logam lain dari rumus senyawanya. Dalam
reaksi redoks, logam pengganti sebagai reduktor dan sebaliknya ion logam yang digantikan sebagai
oksidator.

Contoh Soal 2.18


Logam Al dapat menggantikan ion logam Zn2+ maupun ion Fe2+ dari larutannya. Logam Zn dapat
menggantikan ion logam Fe2+ dari larutannya. Urutkan nilai potensial elektrode standar dari ketiga
setengah-reaksi reduksi jika reaksi redoks terjadi dalam sel volta! Apa yang berperan sebagai reduktor
terkuat dan yang berperan sebagai oksidator terkuat?

Penyelesaian:
Logam Al mengalami reaksi oksidasi dengan ion Zn2+ maupun ion Fe2+ sehingga Al sebagai reduktor.
2Al(s) + 3Zn2+(aq) 2Al3+(aq) + 3Zn(s)
2Al(s) + 3Fe2+(aq) 2Al3+(aq) + 3Fe(s)

Berarti, Eo Al3+/Al < Eo Zn2+/Zn dan Eo Al3+/Al < Eo Fe2+/Fe


Karena logam Zn dapat menggantikan ion logam Fe2+ dari larutannya, maka Zn mengalami reaksi
oksidasi dengan ion Fe2+.
Zn(s) + Fe2+(aq) Zn2+(aq) + Fe(s) Eo Zn2+/Zn < Eo Fe2+/Fe

Urutan potensial elektrode standar: Eo Al3+/Al < Eo Zn2+/Zn < Eo Fe2+/Fe


Oleh karena itu, kekuatan reduktor: Al > Zn > Fe
kekuatan oksidator: Fe2+ > Zn2+ > Al3+

29
ELEKTROKIMIA Dr. Abdul Haris Watoni, M.Si
Untuk Kalangan Sendiri
Dilarang memperbanyak dalam bentuk apapun tanpa seijin penulis

Kegiatan Mahasiswa 24: Penguatan Konsep


Dengan mengacu pada daftar potensial elektrode standar dalam halaman Lampiran,
a. tuliskan beberapa contoh logam yang dapat menghasilkan gas H 2 jika direaksikan dengan air. Tuliskan
persamaan reaksi yang terjadi.
b.Tuliskan beberapa contoh logam yang dapat mengganti logam lain dari larutannya. Tuliskan persamaan
reaksi yang terjadi!

10. Korosi: Proses Galvani Alami


Korosi merupakan proses galvani alami yang mengakibatkan kerusakan pada konstruksi bangunan
berbasis rangka dan bahan besi. Korosi besi merupakan proses oksidasi besi oleh oksigen atau belerang di
lingkungan membentuk karat besi yang rapuh. Korosi merupakan proses elektrokimia yang berlangsung
secara kompleks, tidak hanya melibatkan oksigen dan besi saja. Fakta yang terjadi pada korosi besi
adalah:
1) Besi tidak berkarat dalam udara kering. Perkaratan dapat terjadi dalam kondisi udara yang lembab.
2) Korosi besi tidak terjadi dalam air tanpa udara, tetapi dapat terjadi dalam air yang mengandung
oksigen.
3) Hilangnya besi dan terbentuknya karat terjadi pada tempat yang berbeda dalam benda yang sama.
4) Korosi besi berlangsung lebih cepat pada pH rendah, dalam larutan elektrolit, dan karena kontak
dengan logam yang kurang aktif, misalnya Cu.
5) Korosi besi berlangsung lambat ketika besi kontak dengan logam yang lebih aktif, misalnya Zn.

Gambar 2.16 menunjukkan permukaan sepotong besi. Peregangan, pembengkokan, dan lekukan
bagian besi yang kontak dengan air akan mempercepat terjadinya perkaratan. Bagian ini disebut sebagai
daerah anodik karena pada daerah ini terjadi setengah-reaksi oksidasi besi sebagai berikut:
Fe(s) Fe2+(aq) + 2e (daerah anodik, oksidasi)

Ketika atom-atom besi kehilangan elektron, maka kerusakan mulai terjadi dengan terbentuknya lubang-
lubang sehingga permukaan besi menjadi tidak rata. Elektron-elektron yang dibebaskan berpindah
menuju daerah yang banyak mengandung oksigen di permukaan besi di dekat tetesan air yang
menggenang (daerah katodik) pada permukaan tersebut. Di daerah ini, elektron-elektron yang
dilepaskan oleh besi mereduksi molekul-molekul oksigen menurut reaksi berikut:
O2(g) + 4H+(aq) + 4e 2H2O(l) (daerah katodik, reduksi)

Dengan demikian, proses korosi terjadi melalui reaksi redoks sebagai berikut:
2Fe(s) + O2(g) + 4H+(aq) 2Fe2+(aq) + 2H2O(l)

3
Tetesan air
3) Fe 2 bergerak menuju tetesan air O2
2
dan bereaksidengan O2dan H2O
membentukkarat 2) Elektron di permukaan Fe
mereduksi O2 menjadi H2O
2
2Fe
Karat
Fe 2O3 .nH2O O2
Daerah katodik
4e
2Fe
(daerah anodik)
Batang besi
1) Oksidasi Fe menghasilkan lubang dan elektron
A B

Gambar 2.16 Korosi besi. A. Perbesaran permukaan besi. Korosi terjadi pada permukaan besi yang tidak rata.
B. Skema yang menggambarkan tahap-tahap terjadinya korosi pada bagian kecil permukaan besi.

30
ELEKTROKIMIA Dr. Abdul Haris Watoni, M.Si
Untuk Kalangan Sendiri
Dilarang memperbanyak dalam bentuk apapun tanpa seijin penulis

Ion Fe2+ yang terbentuk pada daerah anodik selanjutnya menyebar di sepanjang antarmuka besi-air dan
bereaksi dengan oksigen pada jarak tertentu dari lubang melalui reaksi berikut:
2Fe2+(aq) + 1/2O2(g) + (2+n)H2O(l) Fe2O3.nH2O(s) + 4H+(aq)

Jadi, karat besi merupakan senyawa besi(III) oksida terhidrat. Reaksi perkaratan besi secara keseluruhan
menjadi:
2Fe(s) + 3/2O2(g) + nH2O(l) + 4H+(aq) Fe2O3.nH2O(s) + 4H+(aq)

Penghilangan ion H+ ini menunjukkan bahwa ion H+ berperan sebagai katalis dalam reaksi perkaratan
besi. Oleh karena itu, perkaratan besi akan berlangsung lebih cepat dalam kondisi pH rendah. Larutan
ionik mempercepat perkaratan melalui peningkatan daya hantar listrik medium air di dekat daerak anodik
dan katodik. Pengaruh inilah yang mempercepat terjadinya perkaratan pada kapal-kapal di laut.

Kegiatan Mahasiswa 26: Kajian Literatur


Korosi besi juga dapat terjadi dalam kondisi lingkungan yang asam maupun basa. Carilah informasi dari
berbagai literatur untuk mengetahui proses korosi yang terjadi dan tuliskan reaksi-reaksi yang terjadi
selama korosi dalam kedua kondisi tersebut berlangsung.

Kegiatan Mahasiswa 27: Penguatan Konsep


Perkaratan besi merupakan proses galvani. Jika perkaratan ini dianggap sebagai sel volta, tunjukkan
komponen-komponen sel yang berperan sebagai anode, katode, jembatan garam, dan elektrolit. Jelaskan
bagaimana aliran elektron dan ion-ion Fe2+ yang terjadi selama perkaratan berlangsung.

Kegiatan Mahasiswa 28: Berpikir Kritis


Gambar di sebelah kanan menunjukkan kerusakan rangka bangunan
akibat korosi. Rangka ini terbuat dari besi yang sebelumnya telah dicat
untuk mencegah korosi. Pada kenyataannya, rangka ini tetap mengalami
korosi. Apa yang menyebabkan rangka ini mengalami korosi? Mengapa
korosi terjadi lebih parah pada bagian sudut?

Contoh Soal 2.19


Apakah besi dapat mengalami korosi dalam air murni?

Penyelesaian:
Strategi kunci: Pertimbangkan nilai Eored besi dan air.
Dalam air murni tidak ada oksigen, sehingga reaksi redoks hanya melibatkan besi dan air.
Fe2+(aq) + 2e Fe(s) Eored = 0,44 V
2H2O(l) + 2e H2(g) + 2OH(aq) Eored = 0,83 V

Karena Eored besi lebih positif daripada Eored air, maka besi dalam air murni tidak terkorosi.

Kegiatan Mahasiswa 29: Berpikir Kritis


Logam-logam apa saja yang dapat terkorosi dalam air murni?

31
ELEKTROKIMIA Dr. Abdul Haris Watoni, M.Si
Untuk Kalangan Sendiri
Dilarang memperbanyak dalam bentuk apapun tanpa seijin penulis

11. Pencegahan Korosi


Korosi dapat dicegah dengan membatasi sentuhan langsung antara besi dengan faktor-faktor lingkungan
yang berpengaruh. Cara pencegahan yang sederhana adalah melalui pengecatan permukaan besi untuk
mencegah kontak besi dengan oksigen dan udara yang lembab. Cara yang lain adalah melalui pelapisan
besi dengan logam lain yang lebih aktif (electroplating). Pemilihan cara pencegahan tergantung pada
jenis bahan dan peralatan besi yang hendak dilindungi.
Proses pelapisan besi melalui electroplating didasarkan pada fakta-fakta berikut: dalam proses
perkaratan, besi berperan sebagai anode maupun katode, tetapi hanya kehilangan besi pada anode. Oleh
karena itu, segala sesuatu yang menyebabkan besi berlaku sebagai anode akan meningkatkan korosi.
Sebagai contoh, jika besi dilapis dengan tembaga (Gambar 2.17 A), maka besi akan lebih mudah
terkorosi karena tembaga memiliki potensial reduksi yang lebih besar daripada besi sehingga tembaga
berlaku sebagai katode. Sebaliknya, jika besi dilapis dengan zink, maka korosi besi dapat dicegah
(Gambar 2.17 B). Dalam hal ini, zink menutup kontak permukaan besi dengan O 2 dan H2O. Zink
teroksidasi menjadi zink oksida, ZnO, yang kuat dan tahan terhadap korosi.

2) Elektron dari Fe mereduksi 2) Elektron dari Zn


O 2 menjadiH2 O 2H2 O
mereduksiO 2 menjadiH2 O
Tetesan air 2Zn 2
4H O2
2Zn
Cu (Anode)
(Katode 4e
pasif) Fe
(Anode) (Katode pasif)
1) Fe memberikan 1) Zn memberikanelektron
elektron pada katode Cu pada katode Fe
A. Percepatan korosi B. Perlambatan korosi
Gambar 2.17 Pengaruh kontak logam-logam terhadap korosi besi. A. Ketika besi kontak dengan logam yang
kurang aktif, misalnya Cu, maka besi lebih cepat kehilangan elektron sehingga korosi makin cepat. B. Korosi
berlangsung lebih lambat ketika besi kontak dengan logam yang lebih aktif, misalnya Zn.

Pengorbanan anodik diterapkan untuk melindungi struktur besi dan baja (seperti pipa, tangki, dan
lain-lain) dalam laut dan lingkungan basah di bawah tanah. Logam yang banyak digunakan untuk
perlindungan ini adalah magnesium dan aluminium karena kedua logam ini lebih aktif daripada besi.
Logam-logam ini berperan sebagai anode, sedangkan besi sebagai katode (Gambar 2.18). Pencegahan
korosi besi dengan cara ini disebut sebagai perlindungan katodik atau pengorbanan anodik.

Gambar 2.18 Pengorbanan logam aktif


Batang Mg untuk pencegahan korosi besi. Logam aktif,
misalnya Mg, dihubungkan dengan pipa besi
di bawah tanah untuk mencegah korosi pipa
Pipa besi
besi. Logam aktif dikorbankan sebagai anode.

Kegiatan Mahasiswa 30: Berfikir Kritis


1. Coba Anda bandingkan antara atap rumah berbahan zink yang dicat dengan yang tidak dicat, mana
yang lebih awet? Mengapa demikian?
2. Coba Anda amati, peralatan rumah tangga yang berbahan aluminium pada umumnya tidak dicat, tetapi
tidak berkarat. Mengapa demikian?
3. Apa parameter kunci yang menjadi acuan dalam penentuan logam yang dapat digunakan untuk
mencegah besi dari korosi melalui cara perlindungan katodik?

32
ELEKTROKIMIA Dr. Abdul Haris Watoni, M.Si
Untuk Kalangan Sendiri
Dilarang memperbanyak dalam bentuk apapun tanpa seijin penulis

Evaluasi 2
1. Seorang mahasiswa menyelupkan elektrode tembaga ke dalam beaker yang berisi larutan CuSO 4 1 M
elektrode perak dalam beaker lain yang berisi larutan AgNO 3 1 M. Suatu jembatan garam yang berisi
Na2SO4 menghubungkan kedua beaker tersebut. Potensial sel volta yang terukur adalah +0,42 volt.
a. Gambarkan diagram sel ini!
b. Tuliskan apa yang terjadi di katode dan di anode!
c. Tuliskan persamaan reaksi sel yang terjadi!
d. Tuliskan notasi selnya!

2. Berikut di sebelah kanan adalah gambar sel volta dengan elektrode


timbal (Pb) dan zink (Zn):
a. Berilah label pada kedua elektrode untuk menunjukkan anode,
katode, dan muatan elektrode dan tentukan elektrolit yang
digunakan dalam setiap setengah-sel.
b. Logam apa yang digunakan sebagai anode dan katode?
c. Tunjukkan arah aliran elektron melalui kawat dan aliran ion dalam larutan!
d. Apa yang dapat digunakan sebagai elektrolit dalam jembatan garam? Tunjukkan pula arah aliran
elektrolit ini ketika sel volta bekerja!
e. Tuliskan persamaan reaksi elektrode dan reaksi sel yang terjadi!
f. Tuliskan notasi selnya!

3. Perhatikan sel galvani pada gambar di sebelah kanan:


a. Tentukan anode dan katodenya! (Anggaplah bahwa letak sel
oksidasi atau sel reduksi dapat di sebelah kiri atau kanan)
b. Tuliskan persamaan reaksi sel yang terjadi!
c. Tuliskan notasi sel yang terjadi!
4. Gunakan data potensial elektrode standar untuk menghitung
potensial sel standar dari reaksi-reaksi berikut:
a. 2Al(s) + 3Fe2+(aq) 2Al3+(aq) + 3Fe(s)
b. Zn(s) + H2SO4(aq) ZnSO4(aq) + H2(g)
c. Fe(s) + 2H+(aq) Fe2+(aq) + H2(g)
5. Berdasarkan data setengah-reaksi reduksi standar yang disajikan dalam Tabel 2.1, manakah dari reaksi-
reaksi redoks berikut yang berlangsung spontan? Tuliskan pula notasi sel untuk reaksi redoks spontan
yang terjadi dalam sel volta pada keadaan standar!
a. Ag(s) + Na+(aq) Ag+(aq) + Na(s)
+
b. Fe(s) + 2Li (aq) Fe2+(aq) + 2Li(s)
c. 2Na(s) + Cu2+(aq) 2Na+(aq) + Cu(s)
d. Na(s) + HCl(aq) NaCl(aq) + H2(g)
6. Dalam salah satu kompartemen sel volta, batang grafit dicelupkan ke dalam larutan asam K 2Cr2O7 dan
Cr(NO3)3. Dalam kompartemen yang lain, batang timah (Sn) dimasukkan ke dalam larutan Sn(NO 3)2.
Kedua setengah-sel dihubungkan dengan jembatan garam KNO 3. Elektrode Sn bermuatan negatif dan
elektrode grafit bermuatan positif. Gambarkan diagram sel, tunjukkan persamaan reaksi redoks yang
terjadi, dan tuliskan notasi selnya.

7. Apa yang dimaksud dengan korosi? Mengapa besi dapat mengalami korosi?
8. Bagaimana cara melindungi besi dari korosi?

33