Anda di halaman 1dari 31

TUGAS

FITOKIMIA (ABKC 3701)

MAKALAH ALKALOID

DOSEN PEMBIMBING :
Drs. Syahmani, M.Si

OLEH
KELOMPOK 3

Lia Fajrina (A1C313018)


Siti Thaibah (A1C315040)
Rizka Ramadhanty (A1C315056)
Santi Dwi Sadiah (A1C315208)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA


JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN IPA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARMASIN
OKTOBER
2017
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr.Wb

Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas
rahmat dan karunia-Nya serta tidak lupa pula salawat dan salam kepada Nabi
Muhammad SAW yang telah memberikan bimbingan dan petunjuk sehingga
makalah ini dapat diselesaikan dengan baik. Pembuatan makalah ini bertujuan
untuk memenuhi tugas kelompok dari mata kuliah Fitokimia.
Pada kesempatan ini kami juga mengucapkan terimakasih banyak atas
semua bantuan yang telah diberikan baik secara tulisan maupun lisan kepada:
Bapak Drs. Syahmani, M.Si selaku dosen pembimbing mata Kuliah Fitokimia.
Serta teman-teman dalam kelompok yang sudah menyempatkan waktu dan mau
bekerja sama dalam mengerjakan makalah ini sehingga dapat diselesaikan dengan
baik.
Dalam pembuatan makalah ini kami menyadari dan merasakan masih
banyak kekurangan dan kesalahan karena kami masih dalam tahap belajar dan
terbatasnya ilmu pengetahuan yang kami miliki. Oleh karena itu kami mohon maaf
apabila ada kesalahan baik dalam penulisan bahasa maupun dalam susunan
kalimatnya. Kami juga mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun
dari para pembaca demi sempurnanya penulisan makalah ini dimasa yang akan
datang.
Demikian pengantar dari kami, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi
kita semua, khususnya bagi diri kami sendiri. Amin ya Rabbalalamin. Akhir kata
kami ucapkan terima kasih yang sebesar besarnya, Wassalammualaikum wr.wb

Banjarmasin, Oktober 2017

Penyusun
Kelompok 3

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ........................................................................................................ ii


DAFTAR ISI...................................................................................................................... iii
DAFTAR TABEL.............................................................................................................. iv
DAFTAR GAMBAR .......................................................................................................... v
BAB I PENDAHULUAN ................................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang .................................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ............................................................................................... 1
1.3 Tujuan ................................................................................................................. 2
BAB II PEMBAHASAN .................................................................................................... 3
2.1 Pengertian dan Fungsi Alkaloid ................................................................................ 3
2.2 Sifat Kimia dan Fisika dari Senyawa Alkaloid ......................................................... 4
2.3 Klasifikasi Alkaloid .................................................................................................. 5
2.4 Cara Identifikasi Senyawa Alkaloid ....................................................................... 10
2.5 Identifikasi Senyawa Alkaloid Dari Ekstrak Metanol Kulit Batang Mangga ......... 13
2.6 Simplisia yang Mengandung Alkaloid .................................................................... 18
2.7 Manfaat Alkaloid ................................................................................................... 23
BAB III PENUTUP .......................................................................................................... 25
3.1 KESIMPULAAN .................................................................................................... 25
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................................... 26

iii
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Hasil uji fitokimia ............................................................................................... 14
Tabel 2. Tabulasi data Sfektrum Inframerah (Bilangan Gelombang, Bentuk Pita, Intensitas,
dan Gugus Fungsi) ............................................................................................................ 17

iv
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1 Kulit batang mangga ............................................................................ 13
Gambar 2 Hasil uji kemurnian terhadap isolat dengan kromatografi lapis tipis .. 15
Gambar 3 Hasil spektrometer UV-VIS ................................................................. 16
Gambar 4 Mahkota Dewa ..................................................................................... 18
Gambar 5 Jarong ................................................................................................... 19
Gambar 6 Terong Pipit .......................................................................................... 20
Gambar 7 Pepaya .................................................................................................. 20
Gambar 8 Daun Pandan Wangi ............................................................................. 21
Gambar 9 Kumis Kucing ...................................................................................... 21
Gambar 10 Mengkudu........................................................................................... 22

v
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Di alam bebas, banyak terdapat senyawa kimia, misalnya saja yang
terkandung dalam tumbuhan baik yang berupa metabolit primer seperti protein,
karbohidrat, dan lemak yang digunakan oleh tumbuhan itu sendiri untuk
pertumbuhannya ataupun senyawa kimia yang merupakan metabolit sekunder
seperti terpenoid, steroid, alkaloid, flavonoid, dan saponin. Salah satu senyawa
kimia yang paling banyak terdapat di alam bebas dan yang terkandung dalam
tumbuhan yaitu senyawa alkaloid.
Ciri khas alkaloid adalah bahwa semua alkaloid mengandung paling sedikit
satu atom N yang bersifat basa dan pada umumnya merupakan bagian dari cincin
heterosiklik. Alkaloid merupakan senyawa metabolit sekunder yang paling banyak
jumlah strukturnya. Senyawa ini banyak terdapat di dalam tumbuhan dan tersebar
di seluruh bagiannya, terutama di bagian daun dan batang (Hesse 2002).
Alkaloid ini merupakan senyawa kimia yang memiliki karakteristik dan
sering dibedakan berdasarkan kereaktifan fisiologi yang khas.Sampai saat ini lebih
dari 5000 senyawa alkaloid yang telah ditemukan dan hampir semua alkaloid yang
ditemukan di alam mempunyai keaktifan fisiologi tertentu. Senyawa ini terdiri atas
karbon, hidrogen, dan nitrogen, sebagian besar diantaranya mengandung oksigen.
Sebagian besar alkaloid, memiliki fungsi yang baik bagi manusia terutama dalam
bidang kesehatan. Misalnya kuinin, morfin dan stiknin adalah alkaloida yang
terkenal dan mempunyai efek sifiologis dan fisikologis. Alkaloida dapat ditemukan
dalam berbagai bagian tumbuhan seperti biji, daun, ranting dan kulit batang. Oleh
karena itu, untuk dapat lebih mengetahui senyawa alkaloid lebih mendalam
dibuatlah makalah ini.

1.2 Rumusan Masalah

1.2.1 Apa yang dimaksud dengan alkaloid?


1.2.2 Apa saja sifat kimia dan fisika dari senyawa alkaloid?
1.2.3 Apa saja klasifikasi alkaloid?
1.2.4 Bagaimana cara mengidentifikasi senyawa alkaloid
1.2.5 Bagaimana cara mengidentifikasi senyawa alkaloid dari ekstrak metanol
kulit batang mangga (mangifera indica l)?
1.2.6 Apa saja contoh simplisia yang mengandung alkaloid?
1.2.7 Apa saja manfaat Alkaloid?

1
1.3 Tujuan

1.3.1 Untuk memahami pengertian dari senyawa alkaloid dan mengetahui


fungsinya.
1.3.2 Untuk mengetahui klasifikasi alkaloid.
1.3.3 Untuk mengetahui sifat fisika dan kimia senyawa alkoid.
1.3.4 Untuk mengetahui cara identifikasi senyawa alkaloid
1.3.5 Untuk mengetahui cara mengidentifikasi senyawa alkaloid dari ekstrak
metanol kulit batang mangga (mangifera indica l).
1.3.6 Mengetahui tanaman-tanaman yang mengandung senyawa alkaloid
1.3.7 Untuk mengetahui manfaat alkaloid.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian dan Fungsi Alkaloid


Alkaloid adalah suatu golongan senyawa organik yang banyak ditemukan
di alam. Hampir seluruh alkaloid berasal dari tumbuh-tumbuhan dan tersebar
luas dalam berbagai jenis tumbuhan tingkat tinggi. Sebagian besar alkaloid
terdapat pada tumbuhan dikotil sedangkan untuk tumbuhan monokotil dan
pteridofita mengandung alkaloid dengan kadar yang sedikit. Pengertian lain
Alkaloid adalah senyawa organik yang terdapat di alam bersifat basa atau alkali
dan sifat basa ini disebabkan karena adanya atom N (Nitrogen) dalam molekul
senyawa tersebut dalam struktur lingkar heterosiklik atau aromatis, dan dalam
dosis kecil dapat memberikan efek farmakologis pada manusia dan hewan.
Sebagai contoh, morfina sebagai pereda rasa sakit, reserfina sebagai obat
penenang, atrofina berfungsi sebagai antispamodia, kokain sebagai anestetik
lokal, dan strisina sebagai stimulan syaraf. Selain itu ada beberapa pengecualian,
dimana termasuk golongan alkaloid tapi atom N (Nitrogen) terdapat di dalam
rantai lurus atau alifatis.
Alkaloid terjadi secara karakteristik di dalam tumbuh- tumbuhan, dan
sering dibedakan berdasarkan kereaktifan fisiologi yang khas. Senyawa ini
terdiri atas karbon, hidrogen, dan nitrogen, sebagian besar diantaranya
mengandung oksigen. Sesuai dengan namanya yang mirip dengan alkali (bersifat
basa) dikarenakan adanya sepasang elektron bebas yang dimiliki oleh nitrogen
sehingga dapat mendonorkan sepasang elektronnya. Kesulitan mendefinisikan
alkaloid sudah berjalan bertahun-tahun.
Garam alkaloid dan alkaloid bebas biasanya berupa senyawa padat,
berbentuk kristal tidak berwarna (berberina dan serpentina berwarna kuning).
Alkaloid sering kali optik aktif, dan biasanya hanya satu dari isomer optik yang
dijumpai di alam, meskipun dalam beberapa kasus dikenal campuran rasemat,
dan pada kasus lain satu tumbuhan mengandung satu isomer sementara
tumbuhan lain mengandung enantiomernya. Alkaloid dapat ditemukan dalam

3
berbagai bagian tumbuhan seperti biji, daun, ranting dan kulit batang. Alkaloid
umumnya ditemukan dalam kadar yang kecil dan harus dipisahkan dari
campuran senyawa yang rumit yang berasal dari jaringan tumbuhan.

2.2 Sifat Kimia dan Fisika


A. Sifat Kimia
Kebanyakan alkaloid bersifat basa. Sifat tersebut tergantung pada
adanya pasangan elektron pada nitrogen. Jika gugus fungsional yang
berdekatan dengan nitrogen bersifat melepaskan elektron, contoh: gugus
alkil, maka ketersediaan elektron pada nitrogen naik dan senyawa lebih
bersifat basa. Hingga trietilamin lebih basa daripada dietilamin dan senyawa
dietilamin lebih basa daripada etilamin. Sebaliknya, bila gugus fungsional
yang berdekatan bersifat menarik elektron (contoh; gugus karbonil), maka
ketersediaan pasangan elektron berkurang dan pengaruh yang ditimbulkan
alkaloid dapat bersifat netral atau bahkan sedikit asam. Contoh ; senyawa yang
mengandung gugus amida.
Kebasaan alkaloid menyebabkan senyawa tersebut sangat mudah
mengalami dekomposisi, terutama oleh panas dan sinar dengan adanya
oksigen. Hasil dari reaksi ini sering berupa N-oksida. Dekomposisi alkaloid
selama atau setelah isolasi dapat menimbulkan berbagai persoalan jika
penyimpanan berlangsung dalam waktu yang lama. Pembentukan garam
dengan senyawa organik (tartarat, sitrat) atau anorganik (asam hidroklorida
atau sulfat) sering mencegah dekomposisi. Itulah sebabnya dalam perdagangan
alkaloid lazim berada dalam bentuk garamnya.
B. Sifat Fisika
Umumnya alkaloid mempunyai 1 atom N meskipun ada beberapa yang
memiliki lebih dari 1 atom N seperti pada Ergotamin yang memiliki 5 atom N.
Atom N ini dapat berupa amin primer, sekunder maupun tertier yang semuanya
bersifat basa. Alkaloid yang telah diisolasi berupa padatan kristal tidak larut
pada titik lebur tertentu. Sedikit alkaloid yang berbentuk amorf dan beberapa
alkaloid seperti nikotin dan koniin berupa cairan.
Kebanyakan alkaloid tidak memiliki warna, namunpada senyawa
kompleks alkaloid ini berwarna seperti berberin berwarna kuning dan betanin
berwarna merah. Pada umumnya, basa bebas alkaloid hanya larut dalam
pelarut organik, meskipun beberapa pseudoalkaloid dan protoalkaloid larut
dalam air. Garam alkaloid dan alkaloid quartener sangat larut dalam air.

4
2.3 Klasifikasi Alkaloid
Alkaloida tidak mempunyai tatanan sistematik, oleh karena itu, suatu
alkaloida dinyatakan dengan nama trivial , misalnya kuinin, morfin dan stiknin.
Hampir semua nama trivial ini berakhiran in yang mencirikan alkaloida.
Klasifikasi alkaloida dapat dilakukan berdasarkan beberapa cara yaitu :
1. Berdasarkan jenis cincin heterosiklik nitrogen yang merupakan bagian dari
struktur molekul. Berdasarkan hal tersebut, maka alkaloida dapat dibedakan
atas beberapa jenis seperti alkaloida pirolidin, alkaloida piperidin, alkaloida
isokuinolin, alkaloida kuinolin dan alkaloida indol.
2. Berdasarkan jenis tumbuhan darimana alkaloida ditemukan. Cara ini
digunakan untuk menyatakan jenis alkaloida yang pertama-tama ditemukan
pada suatu jenis tumbuhan. Berdasarkan cara ini, alkaloida dapat dibedakan
atas beberapa jenis yaitu alkaloida tembakau, alkaloida amaryllidaceae,
alkaloida erythrine dan sebagainya. Cara ini mempunyai kelemahan yaitu :
beberapa alkaloida yang berasal dari suatu tumbuhan tertentu dapat
mempunyai struktur yang berbeda-beda.
3. Berdasarkan asal-usul biogenetik. Cara ini sangat berguna untuk
menjelaskan hubungan antara berbagai alkaloida yang diklasifikasikan
berdasarkan berbegai jenis cincin heterosiklik. Dari biosintesa alkaloida,
menunjukkan bahwa alkaloida berasal dari hanya beberapa asam amino
tertentu saja. Berdasarkan hal tersebut maka alkaloida dapat dibedakan atas
tiga jenis utama yaitu :
a. Alkaloida alisiklik yang berasal dari asam-asam amino ornitin dan lisin
b. Alkaloida aromatik jenis fenilalanin yang berasal dari fenil alanin, tirosin
dan 3,4-dihidrofenilalanin
c. Alkaloida aromatik jenis indol yang berasal dari triptopan.

Sebagian besar alkaloida mempunyai kerangka dasar polisiklik termasuk


cincin heterosiklik nitrogen serta mengandung substituen yang tidak terlalu
bervariasi. Atom nitrogen alkaloida hampir selalu berada dalam bentuk gugus
amin (-N) atau gugus amida (-CO-NR2) dan tidak pernah dalam bentuk gugus
nitro (NO2) atau gugus diazo. Sedang substituen oksigen biasanya ditemukan
sebagai gugus fenol (-OH), metoksil (-OCH3) atau gugus metilendioksi (-O-
CH2-O). Substituen-substituen oksigen ini dan gugus N-metil merupakan ciri
sebagian besar alkaloida. Pada alkaloida aromatik terdapat suatu pola
oksigenasi tertentu.

Sistem klasifikasi yang paling banyak diterima adalah menurut Hegnauer,


dimana alkaloida dikelompokkan atas:
1. Alkaloida Sesungguhnya

5
Alkaloida ini merupakan racun, senyawa tersebut menunjukkan
aktivitas fisiologis yang luas, hampir tanpa terkecuali bersifat basa,
umumnya mengandung nitrogen dalam cincin heterosiklik, diturunkan dari
asam amino, biasanya terdapat dalam tanaman sebagai garam asam organik.
Beberapa pengecualian terhadap aturan tersebut adalah kolkhisin dan asam
aristolokhat yang bersifat bukan basa dan tidak memiliki cincin heterosiklik
dan alkaloida quarterner yang bersifat agak asam daripada bersifat basa.
2. Protoalkaloida
Protoalkaloida merupakan amin yang relatif sederhana dimana
nitrogen asam amino tidak terdapat dalam cincin heterosiklik.
Protoalkaloida diperoleh berdasarkan biosintesa dari asam amino yang
bersifat basa. Pengertian amin biologis sering digunakan untuk kelompok
ini.
3. Pseudoalkaloida
Pseudoalkaloida tidak diturunkan dari prekursor asam amino.
Senyawa ini biasanya bersifat basa. Ada dua seri alkaloida yang penting
dalam kelompok ini yaitu alkaloida steroidal dan purin.

Metoda klasifikasi alkaloid yang paling banyak digunakan adalah


berdasarkan struktur nitrogen yang dikandungnya yaitu:
1. Alkaloid heterosiklis, merupakan alkaloid yang atom nitrogennya berada
dalam cincin heterosiklis. Alkaloid ini dibagi menjadi: alkaloid pirolidin,
alkaloid indol, alkaloid piperidin, alkaloid piridin, alkaloid tropan, alkaloid
histamin, imidazol dan guanidin, alkaloid isokuinolin, alkaloid kuinolin,
alkaloid akridin, alkaloid kuinazolin, alkaloid izidin.
1) Alkaloid Piridin-Piperidin
Mempunyai satu cincin karbon mengandung 1 atom nitrogen. Yang
termasuk dalam kelas ini adalah Conium maculatum dari famili
Apiaceae dan Nicotiana tabacum dari famili Solanaceae.

2) Alkaloid Tropan
Mengandung satu atom nitrogen dengan gugus metilnya (N-CH3).
Alkaloid ini dapat mempengaruhi sistem saraf pusat termasuk yang ada
pada otak maupun sum-sum tulang belakang. Yang termasuk dalam kelas
ini adalah Atropa belladona yang digunakan sebagai tetes mata untuk

6
melebarkan pupil mata, berasal dari famili Solanaceae, Hyoscyamus
niger, Dubuisia hopwoodii, Datura dan Brugmansia spp, Mandragora
officinarum, Alkaloid kokain dari Erythroxylum coca.

3) Alkaloid Quinolin
Mempunyai 2 cincin karbon dengan 1 atom nitrogen. Yang termasuk
disini adalah Cinchona ledgeriana dari famili Rubiaceae, alkaloid quinin
yang toxic terhadap Plasmodium vivax.

4) Alkaloid Isoquinolin
Mempunyai 2 cincin karbon mengandung 1 atom nitrogen. Banyak
ditemukan pada famili Fabaceae termasuk Lupines (Lupinus spp),
Spartium junceum, Cytisus scoparius dan Sophora secondiflora.

5) Alkaloid Indol

Mempunyai 2 cincin karbon dengan 1 cincin indol. Macam-macam alkaloid


Indol :
Tryptamines: serotonin, DMT, 5-MeO-DMT, bufotenine, psilocybin
Ergolines (alkaloid-alkaloid dari ergot ): ergine, ergotamine, lysergic
acid
Beta-carboline: harmine, harmaline, tetrahydroharmine
Yohimbans: reserpine, yohimbine
Alkaloid Vinca: vinblastine, vincristine

7
Alkaloid Kratom (Mitragynaspeciosa): mitragynine, 7hydroxymitragyn
ine
Alkaloid Tabernanthe iboga: ibogaine, voacangine, coronaridine
Alkaloid Strychnos nux-vomica: strychnine, brucine

6) Alkaloid Imidazol
Berupa cincin karbon mengandung 2 atom nitrogen. Alkaloid ini
ditemukan pada amili Rutaceae. Contohnya; Jaborandi paragua.

7) Alkaloid Lupinan
Mempunyai 2 cincin karbon dengan 1 atom N, alkaloid ini
ditemukan pada Lunpinus luteus (fam : Leguminocaea).

8) Alkaloid Steroid
Mengandung 2 cincin karbon dengan 1 atom nitrogen dan 1 rangka
steroid yang mengandung 4 cincin karbon. Macam-macam
Alkaloid Steroid :
Solanum (contoh: kentang dan alkaloid tomat)
(solanidine, solanine, chaconine)
Alkaloid Veratrum (veratramine, cyclopamine, cycloposine, jervine
,muldamie)
Alkaloid Salamander berapi (samandarin)
Lainnya: conessine

9) Alkaloid Amina
Golongan ini tidak mengandung N heterosiklik. Banyak yang
merupakan tutrunan sederhana dari feniletilamin dan senyawa-senyawa
turunan dari asam amino fenilalanin atau tirosin, alkaloid ini ditemukan
pada tumbuhan Ephedra sinica (fam Gnetaceae).

8
10) Alkaloid Purin
Mempunyai 2 cincin karbon dengan 4 atom nitrogen. Banyak
ditemukan pada kopi (Coffea arabica) famili Rubiaceae, dan Teh
(Camellia sinensis) dari famili Theaceae, Ilex paraguaricasis dari famili
Aquifoliaceae, Paullunia cupana dari famili Sapindaceae, Cola nitida dari
famili Sterculiaceae dan Theobroma cacao.Alkaloid purin ini memiliki
susunan inti heterosiklik yang terdiri dari cincin pirimidin yang
tergabung dengan imidazole. Misal:
a. Kafeina (1,3,7, Trimrtil Xanthin)
Alkaliod ini diperoleh dari biji kopi Coffe arabica, C. Liberica
(fam: Rubiaceae) mengandung kafein. Aksi dari kopi pada
prinsipnya di dasarkan pada daya kerja kafein, yang bekerja pada
susunan syaraf pusat, ginjal, otot otot jantung.
b. Theobromina (3,7 Dimetil Xantin), diperoleh dari biji tumbuhan
Theobroma cacao (fam: Sterculaceae) yang berguna sebagai
diuretik dan stimulan SSP.
c. Theofilina (1,3 Dimetil Xantin), merupakan isomerdari 1,3 dimetil
xantin (isomer Theobromina) yang berguna sebagai bronkodilator
dan diuretik).

(a) (b)

2. Alkaloid dengan nitrogen eksosiklis dan amina alifatis, seperti efedrina.


Dimana, atom nitrogen tidak terletak pada cincin karbon tetapi pada salah
satu atom karbon pada rantai samping, adapun sebagai berikut :
1. Alkaloid Efedrin (alkaloid amine)

9
Mengandung 1 atau lebih cincin karbon dengan atom Nitrogen pada
salah satu atom karbon pada rantai samping. Termasuk Mescalin dari
Lophophora williamsii, Trichocereus pachanoi, Sophora secundiflora,
Agave americana, Agave atrovirens, Ephedra sinica, Cholchicum
autumnale.
2. Alkaloid Capsaicin
Dari Chile peppers, genus Capsicum. Contohnya yaitu; Capsicum
pubescens, Capsicum baccatum, Capsicum annuum, Capsicum
frutescens, Capsicum chinense.
3. Alkaloid putressin, spermin dan spermidin, misalnya pausina.
4. Alkaloid peptida merupakan alkaloid yang mengandung ikatan peptida.
5. Alkaloid terpena dan steroidal, contohnya funtumina.
2.4 Cara Identifikasi Senyawa Alkaloid
Secara umum senyawa alkaloid diekstrak dari tumbuhan menggunakan
beberapa pelarut untuk menghilangkan lemak yang tercampur, kemudian
ekstraknya dibasakan dengan larutan NH3 10% dan Al2O3. Campuran ini
selanjutnya dipisahkan secara kromatografi kolom dan diidentifikasi.
Identifikasi senyawa alkaloid dapat dilakukan dengan metoda fisika, dengan cara
penyinaran kromatogram di bawah sinar ultraviolet 254 nm dan 366 nm.
Beberapa alkaloid memberikan warna fluoresensi biru atau kuning di bawah
sinar tersebut, serta metoda kimia dengan menggunakan pereaksi tertentu,
seperti pereaksi dragendorf membentuk endapan jingga-merah.

R-N=R + K[BiI4] R2N+K[BiI4] (endapan jingga)

R3N+ + K[BiI4] K(R3N)[BiI4] (endapan jingga)

Identifikasi selanjutnya adalah dengan spektroskopi ultraviolet dan sinar


tampak yang memberikan keterangan tentang tipe struktur molekulnya. Panjang
gelombang maksimum yang diberikan oleh suatu senyawa dapat digunakan
sebagai perkiraan awal terhadap jenis senyawa tersebut. Cara identifikasi lainnya
adalah dengan menggunakan spektroskopi inframerah yang memberikan
informasi tentang gugus-gugus fungsional dalam suatu senyawa. Pada umumnya
senyawa alkaloid memberikan serapan khas pada daerah frekuensi 3480-3205
cm-1(-N-H ), 2100-1980 cm-1 (=N+-H), 1660-1480 cm-1 (-C=N-), 1350-1000
cm-l (- C-N-) dan beberapa serapan lainnya yang khas untuk masing-masing
senyawa.
(Widi et al, 2007)
1. Berdasarkan sifat spesifik.

10
Alkaloid dalam larutan HCl dengan pereaksi Mayer dan Bouchardhat
membentuk endapan yang larut dalam alkohol berlebih. Protein juga
memberikan endapan, tetapi tidak larut dalam dalam alkohol berlebih.
2. Berdasarkan bentuk basa dan garam-nya / Pengocokan
Alkaloid sebagai basanya tidak larut dalam air, sebagai garamnya larut
baik dalam air. Sebaiknya pelarut yang digunakan adalah pelarut organik :
eter dan kloroform. Pengocokan dilakukan pada pH : 2, 7, 10 dan 14. Sebelum
pengocokan, larutan harus dibasakan dulu, biasanya menggunakan natrium
hidroksida, amonia pekat, kadang-kadang digunakan natrium karbonat dan
kalsium hidroksida.
3. Reaksi Gugus Fungsionil
a. Gugus Amin Sekunder
Reaksi SIMON : Larutan Alkaloida + 1% Asetaldehid + larutan Na.
Nitroprussida = biru-ungu.
Hasil cepat ditunjukkan oleh Conilin, Pelletierin dan Cystisin.
Hasil lambat ditunjukkan oleh Efedrin, Beta eucain, Emetin, Colchisin dan
Physostigmin.
b. Gugus Metoksi
Larutan dalam Asam Sulfat + Kalium Permanganat = Terjadi formaldehid,
dinyatakan dengan reaksi SCHIFF. Kelebihan Kalium Permanganat
dihilangkan dengan Asam Oksalat.
Hasil positif untuk Brucin, Narkotin, koden, Chiksin, Kotarnin, Papaverin,
Kinidin, Emetin, Tebain, dan lain-lain.
c. Gugus Alkohol Sekunder
Reaksi SANCHES : Alkaloida + Larutan 0,3% Vanilin dalam HCl pekat,
dipanaskan diatas tangas air = merah-ungu.
Hasil positif untuk Morfin, Heroin, Veratrin, Kodein, Pronin.
d. Gugus Formilen
Reaksi WEBER & TOLLENS : Alkaloida + larutan Floroglusin 1% dalam
Asam Sulfat (1:1), panaskan = merah.
Reaksi LABAT : Alkaloida + Asam Gallat + asam Sulfat pekat,
dipanaskan diatas tangas air = hijau-biru.
Hasil positif untuk Berberin, Hidrastin, Kotarnin, Narsein, Hidrastinin,
narkotin, dan Piperin.
e. Gugus Benzoil
Reaksi bau : Esterifikasi dengan alcohol + Asam Sulfat pekat = bau ester.
Hasil positif untuk Kokain, Tropakain, Alipin, Stivakain, Beta eukain, dan
lain-lain.
f. Reaksi GUERRT
Alkaloida didiazotasikan lalu + Beta Naftol = Merah-Ungu.

11
Hasil positif untuk kokain, Atropin, Alipin, Efedrin, tropakain, Stovakain,
Beta eukain, dan lain-lain.
g. Reduksi Semu
Alkaloida klorida + kalomel + sedikit air = hitam
Tereduksi menjadi logam raksa. Raksa (II) klorida yang terbentuk terikat
dengan alkaloid sebagai kompleks.
Hasil positif untuk kokain, Tropakain, Pilokarpin, Novokain, Pantokain,
alipin, dan lain-lain.
h. Gugus Kromofor
Reaksi KING : Alkaloida + 4 volume Diazo A + 1 volume Diazo B +
natrium Hidroksida = merah intensif.
Hasil positif untuk Morfin, Kodein, Tebain dan lain-lain.
Reaksi SANCHEZ : Alkaloida + p-nitrodiazobenzol (p-nitroanilin +
Natrium Nitrit + Natrium Hidrolsida) = ungu kemudian jingga.
Hasil positif untuk alkaloida opium kecuali Tebain, Emetin, Kinin, kinidin
setelah dimasak dengan Asam Sulfat 75%.
4. Pereaksi untuk analisa lainnya
a. Iodium-asam hidroklorida
Merupakan pereaksi untuk golongan Xanthin. Digunakan untuk
pereaksi penyemprot pada lempeng KLT (Kromatografi Lapis Tipis)
dimana akan memberikan hasil dengan noda ungu-biru sampai coklat
merah.
b. Iodoplatinat
Pereaksi untuk alkaloid, juga sebagai pereaksi penyemprot pada
lempeng KLT dimana hasilnya alkaloid akan tampak sebagainoda ungu
sampai biru-kelabu.
c. Pereaksi Meyer (Larutan kalium Tetraiodomerkurat)
Merupakan pereaksi pengendap untuk alkaloid.
(Egon Stahl, 1985)

12
2.5 Identifikasi Senyawa Alkaloid Dari Ekstrak Metanol Kulit Batang
Mangga (Mangifera indica L)
Menurut Depkes (2007) dalam Rosyidah
(2010) bahwa kulit batang mangga mengandung
senyawa alkaloid, flavonoid dan tanin. Gonzales
(2007) dalam Rosyidah (2010) mengemukakan
bahwa ekstrak kulit batang mangga menunjukan
aktifitas antioksidan dan antiinflamasi. Hal
senada juga dikemukakan oleh Ashari (1995)
dalam Eka (2010) bahwa tumbuhan mangga
sering digunakan sebagai obat tradisional mulai
dari daun, akar, buah, kulit hingga biji, yang
mengandung senyawa alkaloid dan flavonoid.
Gambar 1 Kulit batang mangga Dari hasil skrinning fitokimia diketahui bahwa
di dalam kulit batang Mangga terdapat senyawa
alkaloid dan flavonoid. Alkaloid merupakan salah satu metabolisme sekunder
yang terdapat pada tumbuhan, yang bisa dijumpai pada bagian daun, ranting,
biji, dan kulit batang. Alkaloid mempunyai efek dalam bidang kesehatan
berupa pemicu sistem saraf, menaikkan tekanan darah, mengurangi rasa sakit,
antimikroba, obat penenang, obat penyakit jantung dan lain-lain lain (Simbala
2009).

METODE
A. Pengolahan Sampel
Sampel berupa kulit batang mangga (M. indica L) yang berwarna
kecoklatan, dibersihkan dan dikeringkan dengan cara diangin-anginkan di
udara terbuka yang terlindungi dari sinar matahari kemudian di haluskan
dengan menggunakan penghalus yaitu palung batu, dengan menggunakan
sedikit metanol hingga terbentuk serbuk.
B. Ekstraksi
Sebanyak 700 gram sampel serbuk kulit batang tumbuhan mangga (M.
indica L) kemudian di maserasi dengan metanol selama 3x24 jam, setiap 24
jam pelarut diganti dengan yang baru hingga filtrat tidak berwarna. Filtrat
kemudian dipisahkan menggunakan evaporator pada suhu 40C hingga
diperoleh ekstrak kental. Kemudian di lakukan skrining fitokimia untuk
mengetahui kandungan kimia utamanya.
C. Pemisahan dan Pemurnian
Ekstrak metanol yang telah di uji fitokimianya di analisis dengan
menggunakan kromatografi lapis tipis sampai diperoleh pola pemisahan untuk
melihat pola noda (kandungan senyawa). Ekstrak metanol sebanyak 3 gr

13
dipisahkan dengan kromatografi kolom dengan fasa diam silica gel GF60 dan
di elusi berturut-turut. Kemudian hasil pemisahan di analisis dengan
kromatografi lapis tipis untuk melihat pola noda yang sama untuk
digabungkan. Hasil kromatografi kolom mempunyai harga Rf (rate of flow)
dan noda yang sama, dikumpulkan sehingga diperoleh fraksi-fraksi utama.
Kemudian dilanjutkan dengan identifikasi senyawa hasil isolat dengan
menggunakan alat UV-VIS dan IR.
D. Uji Kemurnian
Uji kemurnian dilakukan dengan kromatografi lapis tipis menggunakan
beberapa macam eluen. Jika isolat tetap menunjukkan pola noda tunggal, maka
dilakukan uji kemurnian dengan menggunakan KLT 1 dan 2 dimensi.
E. Identifikasi Senyawa dengan Spektrofotometer UV-Vis dan Inframerah (IR)
Isolat di identifikasi menggunakan spektrofotometer UV-Vis dan
spektrofotometer Inframerah untuk mengetahui golongan senyawa alkaloid
apa yang teradapat pada kulit batang mangga (M. indica L).
HASIL DAN PEMBAHASAN
serbuk kulit batang mangga (M. indika L) sebanyak 700 gr diekstraksi
dengan cara maserasi diperoleh maserat sebanyak 3,1 liter yang berwarna
merah kecoklatan. Maserat yang diperoleh diuapkan dengan menggunakan
penguap putar vakum (rotary vacuum evaporator) pada suhu 40C diperoleh
ekstrak kental metanol berwarna merah kecoklatan sebanyak 26,89 gr.
Kemudian di lakukan skrining fitokimia untuk mengetahui kandungan kimia
utamanya. hasil uji fitokimia positif terhadap flavonoid, alkaloid dan steroid
serta negatif terhadap saponin dan terpenoid. Hasil uji fitokimia terlihat pada
Tabel 1.
Tabel 1. Hasil uji fitokimia
No. Uji Fitokimia Pereaksi Perubahan Warna Hasil Uji

1. Flavonoid NaOH Merah Kecoklatan (+)


H2SO4 Merah Beta Flavonoid
Mg-HCl Merah
2. Alkaloid Hager Endapat Coklat (+)
Mayer Kekuningan Alkaloid
Wagner Endapat Coklat
Endapat Coklat
Kemerahan
3. Steroid Learman Hijau Kebiruan (+)
Baucher Steroid
(CH3COOH
dan H2SO4)

14
4. Saponin Aquades Panas Tidak terbentuk (+)
busa Saponin

5. Terpenoid Learman Tidak terjadi (+)


Baucher perubahan warna Terponoid

Ekstrak metanol dilakukan proses pemisahan dengan kromatografi kolom


diperoleh 124 fraksi. Hasilnya dikromatografi kolom yang sebelumnya telah
dimasukan silica gel yang di panaskan dalam oven. Pelarut kloroform dan
metanol secara bergradien dimasukkan. pergantian pelarut dan perbandingan
pelarut diganti berdasarkan perubahan warna terdapat pada botol vial. Fraksi
pada botol vial tersebut dengan menghitung nilai Rf-nya. Fraksi yang
mempunyai nilai Rf dan noda yang sama digabung, maka diperoleh 22
kelompok fraksi (R1-R22).
Mengadakan KLT dengan menggunakan perbandingan eluen kloroform :
metanol (9:1) pada 22 fraksi (R1-R22) ini memiliki 1 noda yang sama, akan
tetapi pada Fraksi R1, R2, R3, R4, R17, R18, R19, R20. R21, dan R22 tidak terdapt
kristal, hanya terdapat pada fraksi R5-R16. pada fraksi ini hanya fraksi R14
yang di uji kemurniannya karena memiliki banyak kristal.
Hasil uji kemurnian menunjukan bahwa fraksi R14 hanya mengandung satu
senyawa, yang ditunjukkan dengan timbulnya satu noda dengan berbagai
campuran eluen yang digunakan (kloroforom : metanol). Uji fitokimia
menunjukan bahwa fraksi R14 mengandung metabolisme sekunder yaitu
merupakan golongan senyawa alkaloid.Hasil uji kemurnian terhadap isolat
yang dilakukan dengan kromatografi lapis tipis dapat dilihat pada gambar 1.

Gambar 2 Hasil uji kemurnian terhadap isolat yang dilakukan dengan kromatografi lapis tipis

Identifikasi UV-VIS dan IR


Fraksi R14 yang menunjukan satu bercak noda pada plat KLT diidentifikasi
gugus fungsinya dengan menggunakan UV-VIS dan IR. Hasil spektrometer

15
UV-VIS dan Spektrum inframerah senyawa isolat murni dapat di lihat pada
gambar 2 dan 3.

Gambar 3 Hasil spektrometer UV-VIS

Hasil analisis spektrofotometri UV-VIS isolat (fraksi R14) memberikan satu


pita serapan pada panjang gelombang 237,5 nm dengan absorbans 0,363.
Serapan pada panjang gelombang 237,5 nm di duga karena adanya transisi
elektron berturut-turut dari n* dan n*. Senyawa yang mempunyai transisi
n* mengabsorpsi cahaya pada panjang gelombang 200-400 nm sedangkan
senyawa yang mempunyai transisi n* mengabsorpsi cahaya pada panjang
gelombang sekitar 200 nm yang disebabkan oleh kromofor tidak terkonjugasi
(Creswell., dkk 1982). Jika suatu transisi n* tampak pada spektrum suatu
senyawa aromatik yang mengandung transisi n*, maka transisi n*
bergeser ke panjang gelombang yang lebih tinggi dengan adsorbans yang
rendah.

16
Data spektrum inframerah isolat kemungkinan mengandung beberapa gugus
fungsi seperti N-H uluran pada bilangan gelombang 3392,56 cm-1 terlihat pada
daerah 3000-3500 cm-1 (Creswell, dkk, 1982), serapan ini didukung oleh
munculnya serapan pada bilangan gelombang 1514,02 cm-1 dan pada bilangan
gelombang 1112,85 cm-1 yang mengindikasikan adanya gugus N-H bending
(tekukan) dan C-N (1475-1565 cm-1 dan 1020-1250 cm-1) (Silverstein.,dkk
1984). Adanya pita tajam dengan intensitas tajam dan kuat pada bilangan
2927,75 cm-1 merupakan C-H alifatik (2850-2950 cm-1) (Silverstein.,dkk 1984),
hal ini diperkuat oleh serapan tajam dan lemah pada bilangan gelombang
1452,30 cm-1 yang merupakan C-H alifatik tekukan (1300-1475 cm-1) (Creswell,
dkk, 1982), dan didukung juga oleh serapan yang tajam dan lemah pada bilangan
gelombang 821,62 dan 762,62 cm-1 yang merupakan vibrasi tekukan C-H
aromatik (650-1000 cm-1) (Silverstein.,dkk 1984). Gugus karbonil (C=O)
diindikasikan oleh adanya serapan yang tajam yang lemah pada daerah bilangan
gelombang 1703,03 cm-1 (2700-1725 cm-1), yang di dukung adanya serapan
yang tajam dan kuat pada bilangan 1614,31 cm-1 menunjukkan adanya gugus
C=O uluran (1500-1675 cm-1), (Creswell., dkk 1982), dan diperkuat dengan
munculnya serapan dari gugus N-C=O pada bilangan gelombang 613,33 cm-1
(570-630 cm-1). data interprestasi spektrum inframerah (Bilangan Gelombang,
Bentuk Pita, Intensitas, dan Gugus Fungsi) dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Tabulasi data Sfektrum Inframerah (Bilangan Gelombang, Bentuk Pita,


Intensitas, dan Gugus Fungsi)
Bilangan Gelombang
Bentuk Kemungkinan
No. Santi, Pustaka # Intensitas
Isolat Pita Gugus Fungsi
2010* dan

1. 3392,56 3425,3 3300-3500 Tajam Kuat -N-H ulur

2. 2927,75 2927,75 2850-2950# Tajam Kuat -C-H alifatik

3. 1703,03 1735,8 2700-1725 Tajam Lemah -C=O ulur

4. 1614,31 - 1500-1675 Tajam Kuat -C=O ulur

5. 1514,02 1562,2 1475-1565# Tajam Lemah -N-H ulur

6. 1452,30 1423,4 1300-1475 Tajam Lemah -C-H


aromatik
1369,37 tekukan

17
7. 1112,85 1110,9 1020-1250# Tajam Lemah -C-N tekukan

8. 821,62 - 650-1000 Tajam Lemah -C-H tekukan

762,62

9. 613,33 621 570-630# Tajam Lemah -N-C=O

Berdasarkan hasil analisis IR dan UV-VIS bahwa senyawa hasil isolat


merupakan senyawa alkaloid yang mempunyai gugus fungsi N-H pada serapan
3392,56 cm-1 dan 1514,02 cm-1 yang merupakan ciri khas dari alkaloid. Adanya
serapan 2927,75 cm-1 yang memiliki intensitas yang tajam dan kuat di duga adanya
C-H alifatik. Serapan 1703,03 cm-1 dan 1614,31 cm-1 diduga adanya gugus fungsi
karbonil (C=O). Senyawa alkaloid dari isolat ini kemungkinan merupakan senyawa
alkaloid jenis piperidin. Dugaan ini di perkuat oleh adanya serapan UV-VIS yang
hanya memberikan serapan pada panjang gelombang 237,5 nm hasil transisi dari
n* dan n*.Yang diakibatkan oleh gugus C=O dan gugus N-H.

SIMPULAN
Berdasarkan hasil pembahasan dan karakterisasi menggunakan UV-VIS dan IR
isolat (fraksi R14) dari kulit batang mangga (Mangifera indica L) yang terdapat
pada ekstrak kental metanol di duga adalah senyawa alkaloid jenis piperidin.
Senyawa alkaloid yang mempunyai karakteristik gugus fungsi N-H, C-H alifatik,
C=O, dan C-N, serta serapan UV pada panjang gelombang 237,5 nm merupakan
serapan dari n* dan n* dari gugus C=O dan gugus N-H.

2.6 Simplisia yang Mengandung Alkaloid


A. Mahkota Dewa (Phaleria macrocarpa (Scheff) Boerl)

Gambar 4 Mahkota Dewa

Mahkota dewa merupakan tanaman asli Indonesia yang termasuk


kedalam jenis tanaman perdu yang dapat tumbuh subur di tanah yang gembur
dan subur dengan ketinggian 10-1200 meter dpl.

18
Batang dari tanaman mahkota dewa berbentuk bulat, biasanya memiliki
banyak cabang dan bergetah. Buah mahkota dewa berbentuk bulat, berwarna
hijau ketika masih muda dan berwarna merah mengkilat ketika masak. Biji
mahkota dewa berbentuk bulat lonjong,bagian dalamnya berwarna putih.
Akar mahkota dewa termasuk jenis akar tunggang. Daun mahkota dewa
berwarna hijau, permukaannya licin dan tidak berbulu. Bunga mahkota dewa
termasuk jenis bunga majemuk, berwarna putih dan berbau harum.
Kandungan kimia : alkaloida, saponin, polifenol, tanin, flavonoida dan
minyak atsiri.
Kegunaan : kanker, kencing manis, hepatitis, asam urat, radang
kulit, ekzema, dan lain-lain (Wijayakusuma, 2005).
B. Jarong (Achyranthes aspera)

Gambar 5 Jarong

Jarong merupakan tanaman semak, yang tegak, dengan tinggi 20-90


cm. Batang berkayu, bulat, bercabang, warna hijau keputih-putihan. Daun
tunggal, bulat telur, ujung runcing, tepi beringgit, pangkal meruncing,
panjang 4-9 cm, lebar 2,5-5 cm, pertulangan menyirip, berbulu, warna hijau.
Bunga majemuk bentuk bulir, tangkai pendek, mahkota bentuk tabung,
bagian dalam berambut putih, warna ungu. Buah bentuk bulir, buah muda
berwarna hijau setelah tua berwarna hitam. Jarong tumbuh liar di ladang pada
daerah yang teduh di dataran rendah sampai 900 m.
Kandungan zat : Berdasarkan hasil penelitian yang sudah diketahui
pada seluruh bagian tanaman adalah reilosa,
galaktosa, glukosa, akirantin, alkaloid. Biji
mengandung sapogenin, hentriakontan. Akar
mengandung triterpenoid, saponin, cedysterone.
Bagian yang digunakan: seluruh bagian tanaman (akar, batang dan daun).
Khasiat : Radang sendi, radang amandel, sakit menstruasi,

19
mempermudah persalinan, demam, panas, malaria,
batuk, gondok, infeksi ginjal, kencing batu, radang
paru (Soenanto, Hardi et al, 2009).
C. Terong Pipit (Solanum torvum)

Gambar 6 Terong Pipit

Terong pipit adalah tumbuhan semak kecil, yang tingginya dapat


mencapai 5 m. Hampir semua bagian tumbuhan ini berduri, kecuali hanya
buah yang ditutupi rambut. Daunnya bulat telur dengan pangkal seperti
jantung atau membulat, dengan ujung yang tumpul.Tangkai perbungaannya
pendek, sering bercabang-cabang dan banyak bunganya. Bunganya
berbentuk bintang berwarna putih, yang di tengahnya kuning. Buahnya
berjenis buah buni, kecil, dan banyak.
Kandungan zat : Buah mengandung alkaloid, glycoalkaloid (Chooi,
2008)
Kegunaan : Membantu meningkatkan nafsu makan dan
menurunkan tekanan darah tinggi (Zakaria, 2010)
D. Pepaya (Carica papaya L)

Gambar 7 Pepaya

Pepaya banyak ditanam di kebun atau pekarangan di daerah yang


berketinggian 700 m dpl. Pepaya termasuk tanaman perdu dengan tinggi
10 m, batang tidak berkayu, silindris, berongga dan bewarna putih kotor.
Berdaun tunggal, bulat, ujung runcing, pangkal bertoreh, tepi bergerigi,
bewarna hijau, dan diameter 25-75 cm. Pertulangan daun menjari dan
panjang tangkai 25-100 cm (Raina, 2011).
Kandungan zat : Daun, akar dan kulit batang mengandung alkaloida,

20
saponin dan flavonoida, disamping itu daun dan akar
juga mengandung polifenol dan bijinya mengandung
polifenol.
Kegunaan : Daun untuk obat malaria dan menambah nafsu makan.
Akar dan biji untuk obat cacing. Getah buah untuk obat
memperbaiki pencernaan.
E. Daun Pandan Wangi (Pandanus amaryllifolius Roxb)

Gambar 8 Daun Pandan


Wangi

Habitus : perdu, tahunan, tinggi 3-7 m


Batang : Bulat, bercabang, bekas duduk daun tampak jelas.
Daun : Tunggal, bentuk pita, ujung runcing, tepi rata, panjang + 2
m, lebar + 10 cm, berduri tempel pada ibu tulang
permukaan bawah, licin, hijau.
Bunga : Majemuk, bentuk bongkol, berumah dua, bunga betina
berdiri sendiri, putih.
Buah : Batu, menggantung, bentuk bola, diameter 4-7 cm,
dinding buah berambut, jingga.
Akar : Tunggang, putih, kekuningan
Kandungan zat : alkaloida, saponin, flavonoida, tanin dan polifenol.
Kegunaan : obat lemah syaraf, penambah nafsu makan dan bahan
baku kosmetika.
F. Kumis Kucing (Orthosiphon aristatus)

Gambar 9 Kumis Kucing

21
Kumis kucing memiliki nama diberbagai daerah seperti remujung
(Jawa), Java tea (Inggris), giri-giri marah (Sumatera), se-salasean (Madura).
Kumis kucing berupa terna, tumbuh tegak, pada bagian bawah berakar di
bagian buku-bukunya, tinggi 1-2 m, batang segi empat agak beralur, berbulu
pendek atau gundul. Daun tunggal, bundar telur lonjong, lanset atau belah
ketupat, berbulu halus, pinggir bergerigi kasar tak teratur, kedua permukaan
berbintik-bintik karena ada kelenjar minyak atsiri. Bunga berupa tandan yang
keluar di ujung cabang, wama ungu pucat atau putih (ada yang warna biru
dan putih), benang sari lebih panjang dari tabung bunga. Buah geluk wama
coklat gelap.
Kandungan zat : Daun mengandung alkaloida, saponin, flavonoida dan
polifenol
Khasiat : Daun untuk peluruh air seni, obat batu ginjal, obat kencing
manis, obat tekanan darah tinggi dan obat encok.

G. Mengkudu (Morinda citrifolia L)

Gambar 10 Mengkudu

Kandungan zat : Buah mengandung alkaloid (triterpenoid, proxeronine),


polysaccaride (damnacanthal), sterol, coumarin, scopoletin,
ursolic acid, linoleic acid, caproic acid, caprylic acid,
alizarin, acubin, iridoid glycoside, L-asperuloside, vitamin
(C, A, karoten).
Khasiat : buah bersifat astringen. Menghilangkan lembab,
meningkatkan kekuatan tulang, peluruh kencing (diuretik),
peluruh haid (emenagog), pembersih darah, meningkatkan
daya tahan tubuh (immunostimulator), antikanker,
pembasmi cacing (antelmintik), pereda batuk (antitusif),
pereda demam (antipiretik), antiradang, antibakteri,
pencahar, antiseptik, dan pelembut kulit.

22
2.7 Manfaat Alkaloid
Alkaloid telah dikenal selama bertahun-tahun dan telah menarik perhatian
terutama karena pengaruh fisiologinya terhadap mamalia dan pemakaiannya di
bidang farmasi, tetapi fungsinya dalam tumbuhan hampir sama sekali kabur.
Beberapa pendapat mengenai kemungkinan perannya dalam tumbuhan sebagai
berikut:
a. Alkaloid sebagai zat beracun dalam tumbuhan sehingga dapat sebagai
pelindung tumbuhan terhadap serangan dari luar.
b. Alkaloid sebagai hasil pembuangan nitrogen seperti urea dan asam urat
dalam hewan.
c. Alkaloid sebagai zat cadangan makanan bagi tumbuhan yang
menyuplai nitrogen.
d. Pada beberapa kasus, alkaloid dapat melindungi tumbuhan dari serangan
parasit atau pemangsa tumbuhan.
e. Alkaloid sebagai faktor pertumbuhan bagi tumbuhan.
f. Karena alkaloid sebagian besar bersifat basa, sehingga dapat mengganti
basa mineral dalam mempertahankan kesetimbangan ion dalam
tumbuhan.
Salah satu contoh alkaloid yang pertama sekali bermanfaat dalam
bidang medis adalah morfin yang diisolasi tahun 1805. Alkaloid diterpenoid
yang diisolasi dari tanaman memiliki sifat antimikroba. Solamargine, suatu
glikoalkoid dari tanaman berri solanum khasianum mungkin bermanfaat
terhadap infeksi HIV dan infeksi intestinal yang berhubungan dengan AIDS.
Ketika alkaloid ditemukan memiliki efek antimikroba temasuk
terhadap Giarde dan Entamoeba, efek anti diare utama mereka kemungkinan
disebabkan oleh efek pada usus kecil. Berberin merupakan satu contoh
penting alkaloid yang potensial efektif terhadap typanosoma dan plasmodia.
Mekanisme kerja dari alkaloid kuartener planar aromatik seperti berberin dan
harman dihubungkan dengan kemampuan mereka untuk berinterkalasi
dengan DNA.

23
Berikut adalah beberapa contoh senyawa alkaloid yang telah umum
dikenal dalam bidang farmakologi :

Senyawa Alkaloid
Aktivitas Biologi
(Nama Trivial)

Nikotin Stimulan pada syaraf otonom

Morfin Analgesik

Kodein Analgesik, obat batuk

Atropin Obat tetes mata

Skopolamin Sedatif menjelang operasi

Kokain Analgesik

Piperin Antifeedant (bioinsektisida)

Quinin Obat malaria

Vinkristin Obat kanker

Ergotamin Analgesik pada migraine

Reserpin Pengobatan simptomatis disfungsi ereksi

Mitraginin Analgesik dan antitusif

Vinblastin Anti neoplastik, obat kanker

Saponin Antibakteri

24
BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAAN

Identifikasi senyawa alkaloid dapat dilakukan dengan metoda fisika, dengan


cara penyinaran kromatogram di bawah sinar ultraviolet 254 nm dan 366 nm.
Beberapa alkaloid memberikan warna fluoresensi biru atau kuning di bawah sinar
tersebut, serta metoda kimia dengan menggunakan pereaksi tertentu, seperti
pereaksi dragendorf membentuk endapan jingga-merah.

25
DAFTAR PUSTAKA

Achmad, S. (1986). Kimia Organik Bahan Alam. Jakarta: Universitas Terbuka .

Aksara, R., & La Alio, W. (2013). Identifikasi Senyawa Alkaloid dari Batang Kulit
Mangga (Mangifera Indica L). Jurnal ENTROPI, Volume VIII Nomor 1.

Gritter, R. (1991). Pengantar Kromatografi Terbitan ke-2. Bandung: ITB.

Hesse, M. (1986). Alkaloid Chemistry, A Wiley-Interscience Publicatin. New York:


Wiley dan Sons.

Hutapea, J. R. (2000). Inventaris Tanaman Obat Indonesia Jilid 1. Jakarta: Badan


Peneliti dan Pengembangan Kesahatan Departemen Kesehatan Republik
Indonesia.

Kristanti, A. N. (2008). Buku Ajar Fitokimia. Surabaya: Universitas Airlangga.

Utami, P. (2003). Tanaman Obat untuk Mengatasi Diabetes Militus. Jakarta:


Agromedia.

Widu, R. K. (2007). Penjaringan dan Identifikasi Senyawa Alkaloid dalam Batang


Kayu Kuning. Jurnal ILMU DASAR, Vol. 8 No.1.

26

Anda mungkin juga menyukai