Anda di halaman 1dari 3

Wildan Sena: Isu Kebangkitan PKI Terlalu Berlebihan

Bulaksumur mewawancarai Wildan Sena Utama, peneliti sejarah UGM, tentang peran memori
kolektif dalam kemelut perebutan narasi sejarah.

Apa yang membuat sejarah dipahami berbeda-beda oleh masyarakat?

Kenapa bisa banyak versi? Karena sejarah bukanlah sesuatu yang sifatnya final. Sejarah merupakan
tafsir dari sejarawan menurut berbagai sumber. Banyak sejarawan yang memandang sejarah dari sisi
yang berbeda, karena sumber mereka berbeda. Hal tersebut juga bisa dipengaruhi oleh latar
belakang penulis. Misalnya, penulis yang dekat dengan gerakan Islam, cenderung menulis peristiwa
1965 merupakan kudeta PKI. Kalau orang yang lebih Kiri, mungkin melihat kejadian tersebut dari sisi
pembantaian besar-besaran. Memang berdiri di tengah, netral, begitu tidak mungkin sih. Tapi bukan
berarti menulis sejarah menurut metodologi penulisan sejarah itu tidak bisa. Tetap bisa, dengan
menggunakan sumber-sumber yang lebih luas, agar mendapatkan pandangan yang luas terhadap
suatu peristiwa sejarah. Kenapa muncul banyak interpretasi terhadap peristiwa 65? Karena banyak
orang yang melihatnya dari berbagai sudut pandang. Ada yang melihat dari sudut pandang bahwa
PKI melakukan pembantaian, misalnya. Itu tidak bisa dinafikkan, karena di pedesaan-pedesaan di
Jawa Timur, terdapat aksi sepihak yang dilakukan oleh PKI untuk merebut tanah-tanah yang saat itu
dimiliki oleh orang yang berlatar belakang santri. Tapi itu juga harus dilihat, konteks perebutan itu.
Kenapa bisa muncul? Ada Undang-Undang Agraria, lalu ada kebijakan dari Soekarno pada saat itu.
Karena pada undang-undang tersebut tertulis bahwa tanah harus diredistribusi porsinya. Jadi, tidak
boleh ada penguasaan tanah. Dulu kan tuan tanah bisa menguasai tanahnya dengan bebas. Nah,
dengan adanya undang-undang seperti itu, tanah tersebut harus dibagikan secara merata kepada
petani. Nah, itu dianggap PKI seperti tanahku harus direbut. Dan itu mengakibatkan konflik yang luar
biasa sekali. Jadi, setelah peristiwa 65 tersebut itu, kan ada peristiwa pembantaian para jenderal,
nah kita tidak bisa menafikkan kejadian tersebut. Lalu dari sisi korban peristiwa tersebut, banyak
sejarawan yang memiliki berbagai versi, ada yang bilang ratusan ribu bahkan jutaan. Kalau saya
sendiri tidak tahu pasti jumlahnya berapa, karena pembunuhan yang terjadi saat itu, sangat rumit,
dan berkaitan dengan peristiwa-peristiwa sebelumnya. Seperti tadi peristiwa perebutan tanah di
pedesaan Jawa Timur. Di pemerintah pusat sendiri, militer memang sedang konflik dengan PKI.
Konflik ini berlangsung secara struktural dan konflik yang ada di golongan atas itu juga
mempengaruhi yang di bawah. Mereka ini ibaratnya memang sudah crash sejak awal 60an.

Jadi, tidak bisa dihindari, ya, kalau memang ada versi sejarah dari berbagai sudut pandang? Nah,
misalnya, mungkin tidak kalau versi-versi tersebut digabungkan menjadi satu pedoman sejarah?

Menurut saya agak sulit ya, karena itu (sejarah, -red) ditulis sesuai dengan interpretasi penulis.
Untuk merumuskannya dalam satu buku yang membahas satu peristiwa itu sulit, karena penelitian
sejarah itu sifatnya tidak pernah final, akan selalu ada yang menemukan sumber baru. Misalnya,
sekarang untuk memandang peristiwa 65, itu sekarang dibuka dokumen milik CIA untuk diklarifikasi.
Nah ini juga yang menjadi patokan banyak orang, yakni konteks perang dingin yang dilupakan untuk
melihat peristiwa 65 itu sendiri. Padahal perang dingin itu sangat berpengaruh, tidak hanya di
Indonesia, tetapi juga di negara-negara Asia. Kalau dilihat pada tahun 65 itu, tidak hanya presiden
Soekarno yang jatuh. orang-orang yang ingin membentuk sebuah perekonomian yang lebih berdikari
dan tidak ingin berada di bawah kaki tangan Amerika rata-rata jatuh pada tahun 60-70an. Nah,
dimensi untuk melihat peristiwa itu banyak sekali. Misalnya jika dilihat dari dimensi dalam negeri,
saat itu terjadi konflik antara militer dengan PKI. PKI saat itu hitungannya merupakan salah satu
partai terbesar. Dan di tengah, berdiri Soekarno sebagai wasit. Saat itu, Soekarno cenderung
membiarkan ini (konflik, -red) semua terjadi di Indonesia, sebab pemikiran Soekarno kan cenderung
NASAKOM (Nasionalis Agamis Komunis, -red). Jadi, menurut saya visi Soekarno pada saat itu sangat
sulit ditebak, atau barangkali sangat brilian, bahwa dia memandang bahwa di Indonesia itu tidak
hanya persatuan agama, suku dan budaya, tetapi juga ideologi. Suatu hal yang menurut saya benar-
benar sulit, karena di mana-mana komunis kan sulit untuk diajak bersatu. Tapi, Soekarno
menganggap kalau mereka mau maju, ya mereka harus bergerak bersama-sama.

Lalu, bagaimana hubungan antara kekuasaan dan sejarah yang terjadi selama ini di Indonesia?
Soalnya kan, selama ini ada anggapan yang menyatakan kalau yang menulis sejarah itu adalah
pihak yang menang.

Ya, itu benar. Sejarah yang ditulis negara adalah sejarah yang ditulis oleh versi si pemenang. Lalu,
kenapa sekarang ini ada anggapan yang menyatakan seolah-olah PKI akan bangkit kembali? Karena
kita selama ini diwariskan tentang memori kolektif kebangkitan komunis. Yang paling aneh menurut
saya, katanya peristiwa 65 ini adalah kudeta yang dilakukan oleh Soekarno. Tapi, kok, yang jatuh
adalah Soekarno? Berarti itu kan dimensinya sangat luas. Orang sering melupakan berbagai dimensi,
misalnya seperti dimensi dari internasional. Sangat kompleks sekali. Itulah penyebabnya kenapa
peristiwa ini bisa dilihat dari berbagai sudut pandang.

Akhir-akhir ini, kan, marak pemberitaan mengenai kasus yang terjadi di YLBHI. Lalu, ada isu-isu
bahwa PKI akan bangkit lagi. Bagaimana menurut Anda?

Kalau menurut saya, masalah ini adalah pengaruh dari pewarisan ingatan. Karena semenjak Orde
Baru, isu-isu komunis ini sering diangkat untuk menaikkan popularitas pemerintah. Sementara kita
tahu, bahwa setelah tahun 65, terjadi penenggelaman terhadap orang-orang yang dianggap Kiri.
Tapi kalau dilihat, penerapan ideologi komunis di Indonesia itu susah, karena ideologi tersebut
memang sudah kalah. Perang dingin saja sudah usai pada tahun 91, dengan kejatuhan Soviet.
Akhirnya, Soviet berubah menjadi Rusia dan memilih untuk lebih demokratis. Tembok Berlin runtuh,
Jerman Timur bersatu dengan Jerman Barat. Dan di situ Amerika menang. Amerika menjadi satu-
satunya negara yang bisa mempengaruhi semuanya. Di dunia ini, negara yang masih memegang
ideologi komunis itu negara apa? Paling hanya Korea Utara. China apa bisa kita sebut sebagai
komunis? Karena dalam praktiknya, China lebih ke kapitalis. Terus, apa sekarang yang menjadi role
model negara komunis? Kita mau ngikutin Korea Utara? Saya pikir, pemerintahan kita itu tidak
bodoh ikut-ikut dengan model pemerintahan seperti itu. Jadi menurut saya, pengangkatan isu ini
terlalu berlebihan. Apalagi yang di LBH kemarin banyak yang mengaitkan orang-orang yang memakai
baju dengan simbol-simbol tertentu dengan kebangkitan komunis. Itu hal yang berlebihan sekali.
Perlu digarisbawahi juga, kalau orang-orang Kiri itu kadang memiliki sifat yang genit juga. Genit di
sini, maksudnya, suka memakai barang-barang yang memiliki hubungan dengan komunis. Tapi
aslinya, mereka itu kadang-kadang nggak ngerti. Coba tuh, mereka yang pakai baju Che Guevara,
Karl Max, terus coba tanya mereka tentang Marxisme. Nggak ngerti. Itu menurut saya cuma upaya
kegenitan. Baru belajar Marxisme, lalu memakai sesuatu yang memiliki simbol-simbol terkait seperti
itu. Kan di kampus kita banyak, nggak usah jauh-jauh. Lalu, menurut saya, ada yang berusaha
memanfaatkan peristiwa LBH ini untuk meraih kepentingan politik. Kan dari dulu sampai sekarang,
tokohnya sama saja, Kivlan Zein misalnya. Dan akhir-akhir ini, isu-isu tersebut mulai diarahkan untuk
menyerang Jokowi. Jokowi juga agak tersudut dalam kasus ini karena dia sering dikaitkan dengan
komunis. Makanya, dia mengeluarkan statement Gebuk Komunis, yang menurut saya merupakan
ungkapan kekesalan dia yang sering dikaitkan dengan PKI. Contohnya seperti isu bahwa Jokowi
adalah anak dari seorang PKI, tapi tidak terbukti sampai sekarang. Jadi yang saya takutkan, ada yang
memanfaatkan isu PKI bangkit ini untuk mengadu domba. Kita juga harus memahami teori konflik,
bahwa di mana ada konflik, di situ juga ada satu pihak yang diuntungkan. Konflik itu diciptakan untuk
meraih sesuatu. Tapi, memang tidak semua konflik itu diciptakan, ada juga konflik yang terjadi
secara proses atau harafiah. Tapi tetap, kita harus selalu kritis melihat hal itu. Kaum intelektual harus
bisa melihat dengan cerdas hal-hal seperti itu.

Kalau begitu, peran yang sebaiknya dilakukan oleh generasi muda, terutama oleh mahasiswa itu
bagaimana?

Kalau menurut saya, mahasiswa sebagai kaum intelektual, yang pasti tidak boleh mudah
terprovokasi. Yang pertama, harus mendinginkan kepala dulu dan melihat secara kritis. Lalu, bisa
membaca literatur yang membahas masalah itu, kalau bisa bukan hanya dari satu buku saja.
Generasi muda saat ini perannya sangat penting, karena kalian lah yang nantinya akan menjadi
punggawa masa depan bangsa. Dan kalian yang mewariskan ingatan sejarah dari masa lalu. Jangan
sampai generasi muda itu tersangkut dengan isu-isu masa lalu. Tapi, saya yakin sih, kalau di masa
mendatang generasi muda saat ini dapat meminimalisasi konflik yang ada saat ini, karena pihak-
pihak yang berkepentingan saat ini sudah tidak ada di masa depan.

Tapi, apakah mungkin kalau kepentingan-kepentingan tersebut menurun ke generasi muda saat
ini? Sehingga di masa depan pun, kepentingan itu tetap ada?

Saat ini, berbagai pihak kepentingan itu sedang berlomba-lomba untuk mewariskan kebencian.
Semuanya tidak mau legowo untuk menyelesaikan masalah ini. Bisa saja, satu generasi itu akan
mewariskan satu memori kolektif ke generasi selanjutnya. Memang, perubahan generasi juga akan
melepaskan beban dari masa lalu, akan tetapi bila generasi sekarang tidak bisa legowo atau tidak
bisa move on, maka mungkin saja kepentingan tersebut akan diwariskan. Kita harus mulai melakukan
semacam dialog. Ada banyak problem di negara kita yang lebih penting, misalnya, ekonomi yang
memburuk atau persaingan global. Dan untuk menyelesaikan masalah ini, perlu dialog dari kedua
belah pihak yang bertikai. Kalau misalnya mereka nggak dipertemukan, ya masalah ini nggak akan
beres-beres. Tapi, juga tidak semudah itu untuk melakukan dialog. Dua-duanya harus selesai dengan
masalahnya sendiri terlebih dahulu. Dalam artian, mereka bisa melepaskan beban, legowo, bisa
berlapang dada, lalu bisa mengerti bahwa tujuan dialog ini bukan untuk mencari siapa yang benar,
tapi untuk mencari jalan kebersamaan untuk kepentingan bangsa. Selama generasi yang
berkepentingan tersebut masih ada, mungkin beberapa belas tahun ke depan, isu-isu seperti ini akan
terus digoreng, dan dimanfaatkan untuk meraih kepentingan suatu pihak.

Reporter: Zahri Firdaus

Penyunting: Floriberta Novia Dinda S