Anda di halaman 1dari 11

TUGAS PENDIDIKAN AGAMA HINDU

KERANGKA DASAR AGAMA HINDU

OLEH

NAMA : PUTU AYU SAWITRI


NIM : K1A1 16 015

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2016
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Seperti yang telah kita ketahui bersama, bahwa Hindu memiliki ajaran-
ajaran mengenai pedoman hidup . Pada dasarnya agama HINDU
memiliki tiga kerangka dasar yang yang menjadi pedoman yang kokoh dan
kuat dalam mengarungi kehidupan di dunia ini. Jika seseorang
mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari maka akan mendapatkan
kebahagiaan sejati.
Tiga kerangka dasar adalah dasar untuk mencapai tujuan hidup yaitu
jagaditha dan moksa. Kebahagiaan hidup manusia akan tercapai apabila
dapat dikembangkan hubungan yang selaras/harmonis, serasi dan seimbang
diterapkan sebagai individu atau warga negara dalam merencanakan dan
menjalankan kehidupan sehari-hari.
Sebagai seseorang yang hidup di era modern ini mau tidak mau tentu
kita dituntut untuk mengikuti perkembangannya. Agama hindu telah
mengajarkan kepada kita bagaimana seharusnya kita menjalani kehidupan ini
melalui ajaran-ajaranya, dan ajaran yang membahas tentang hal ini adalah
tiga kerangka yang menjadi sangat berkaitan dan perlu menjadi pedoman
bagi kita semua.

1.2 Rumusan Masalah

a. Jelaskan pengertian tiga kerangka dasar agama hindu?


b. Apa saja bagian-bagian tiga kerangka dasar agama hindu?

1.3 Tujuan

a. Untuk memenuhi tugas yang diberikan oleh pebimbing Pendidikan


Agama Hindu
b. Untuk mengetahui bagaimana pengertian tiga kerangka dasar agama
hindu
c. Untuk mengetahui bagian-bagian tiga kerangka dasar agama hindu
1.4 Manfaat
Umat hindu sedharma menjadi tahu mengenai pedoman hidup dalam
agama hindu baik bagi anak-anak, orangtua , maupun masyarakat umum.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Tiga Kerangka Dasar Agama Hindu


Dalam ajaran Agama Hindu dapat dibagi menjadi tiga bagian yang
dikenal dengan "Tiga Kerangka Dasar", di mana bagian yang satu dengan
lainnya saling isi mengisi atau berkaitan dan merupakan satu kesatuan yang
bulat untuk dihayati dan diamalkan guna mencapai tujuan agama yang
disebut Jagadhita dan Moksa.

2.2 Bagian-Bagian Tiga Kerangka Dasar Agama Hindu


Bagian-bagian tiga kerangka dasar agama hindu tersebut adalah:
a. Tattwa
Tatwa berasal dari bahasa sansekerta. Tattwa memiliki berbagai
pengertian seperti : kebenaran, kenyataan, hakekat hidup, sifat kodrati, dan
segala sesuatu yang bersumber dari kebenaran. Agama Hindu mempunyai
kerangka dasar kebenaran yang sangat kokoh karena masuk akal dan
konseptual. Konsep pencarian kebenaran yang hakiki di dalam Hindu
diuraikan dalam ajaran filsafat yang disebut Tattwa. Tattwa dalam agama
Hindu dapat diserap sepenuhnya oleh pikiran manusia melalui beberapa cara
dan pendekatan yang disebut Pramana. Ada 3 (tiga) cara penyerapan pokok
yang disebut Tri Pramana. Tri Pramana ini adalah tiga cara untuk
memperoleh pengetahuan, antara lain:

1) Agama pramana : Percaya didasarkan keterangan para orang suci;


2) Anumana Pramana : Percaya dengan menarik kesimpulan dari adanya
tanda-tanda; dan
3) Pratyaksa Paramana: Percaya berdasarkan kenyataan.

Tri Pramana ini, menyebabkan akal budi dan pengertian manusia


dapat menerima kebenaran hakiki dalam tattwa, sehingga berkembang
menjadi keyakinan dan kepercayaan. Kepercayaan dan keyakinan dalam
Hindu disebut dengan sradha. Dalam Hindu, sradha dibagi menjadi 5 (lima)
esensi, disebut Panca Sradha. Panca sradha adlah 5 keyakinan dalam
agama hindu, yang mana bagian-bagiannya adalah sebagai berikut:

1. Sradha brahman, yaitu keyakinan terhadap adanya Tuhan Yang Maha


Esa sebagai mahapencipta, mahakuasa dan mahapengampun.
2. Sradha atman ,yaitu keyakinan terhadap atma sebagai sumber hidup
dari seluruh makhluk berasal dari brahman. Bersifat abadi, tidak
berubah tidak mati, sebagaimana sifat-sifat tuhan / braman. Ada dalam
setiap makhluk.
3. Sradha karma phala, yaitu keyakinan terhadap bahwa setiap perbuatan
mendapatkan pahala / hasil.
4. Sradha punarbhawa, Keyakinan terhadap kelahiran kembali ke dunia.
Kualitas kelahiran kembali kedunia ditentukan oleh kualitas karma
masing-masing orang.
5. Sradha moksa, Keyakinan terhadap adanya kebahagiaan yang kekal
abadi, yaitu bersatunya kembali atma kepada brahman. Inilah yang
menjadi tujuan tertinggi setiap umat hindu.

Berbekal Panca Sradha yang diserap menggunakan Tri Pramana ini,


perjalanan hidup seorang Hindu menuju ke satu tujuan yang pasti. Ke arah
kesempurnaan lahir dan batin yaitu Jagadhita dan Moksa. Ada 4 (empat)
jalan yang bisa ditempuh, jalan itu disebut Catur Marga. Catur Marga ialah
empat jalan atau cara mengamalkan agama Hindu (Veda) dalam kehidupan
dan dalam bermasyarakat. Oleh karena keadaan dan kemampuan lahir-batin
umat Hindu tidak semua sama maka Veda mengajarkan Catur Marga (empat
jalan) agar semua umat dapat beragama sesuai kemampuannya. Bagian-
bagian Catur Marga antara lain :

1. Bhakti Marga : Mengamalkan agama dengan melaksanakan


bhakti/sembahyang, cinta kasih terhadap sesama ciptaan Tuhan, baik
sesama manusia maupun dengan makhluk lain yang lebih rendah dari
manusia yang disertai sarana bhakti. Jadi apabila orang telah
bersembahyang dan hidup kasih sayang terhadap sesama makhluk itu
berarti telah mengamalkan ajaran Veda melalui jalan bhakti
2. Karma Marga : Mengamalkan agama dengan berbuat Dharma atau
kebajikan seperti mendirkan tempat suci (pura) dan merawatnya,
menolong orang yang kesusahan, melaksanakan kewajiban sebagai
anggota keluarga/ anggota masyarakat dan berbagai kegiatan sosial
(subhakarma) lainnya yang dilandasi dengan ikhlas dan rasa tanggung
jawab. Itulah pengalaman agama dengan kerja (karma).
3. Jnana Marga : Mengamalkan agama dengan jalan mempelajari,
memahami, menghayati, menyebarkan agama dan ilmu pengetahuan-
ketrampilan (IPTEK) dalam kehidupan sehari-hari. Jadi berdiskusi,
memberi ceramah atau menyebarkan ajaran agama, mengajarkan
ketrampilan positif berarti sudah mengamalkan agama melalui Jnana
Marga.
4. Raja Marga : Mengamalkan agama dengan melakukan Yoga, bersemadi,
tapa atau melakukan Brata (pengendalian diri) dalam segala hal termasuk
upawasa (puasa) dan pengendalian seluruh indria.

Demikianlah tattwa Hindu Dharma. Tidak terlalu rumit, namun penuh


kepastian. Istilah-istilah yang disebutkan di atas janganlah dianggap sebagai
dogma, karena dalam Hindu tidak ada dogma. Yang ada adalah kata bantu
yang telah disarikan dari sastra dan veda, oleh para pendahulu kita, agar
lebih banyak lagi umat yang mendapatkan pencerahan, dalam pencarian
kebenaran yang hakiki.

b. Susila

Susila merupakan kerangka dasar Agama Hindu yang kedua setelah


filsafat (Tattwa). Susila memegang peranan penting bagi tata kehidupan
manusia sehari-hari. Realitas hidup bagi seseorang dalam berkomunikasi
dengan lingkungannya akan menentukan sampai di mana kadar budi pekerti
yang bersangkutan. la akan memperoleh simpati dari orang lain manakala
dalam pola hidupnya selalu mencerminkan ketegasan sikap yang diwarnai
oleh ulah sikap simpatik yang memegang teguh sendi- sendi kesusilaan.
Di dalam filsafat (Tattwa) diuraikan bahwa agama Hindu membimbing
manusia untuk mencapai kesempurnaan hidup seutuhnya, oleh sebab itu
ajaran sucinya cenderung kepada pendidikan sila dan budi pekerti yang luhur,
membina umatnya menjadi manusia susila demi tercapainya kebahagiaan
lahir dan batin.
Kata Susila terdiri dari dua suku kata: "Su" dan "Sila". "Su" berarti baik,
indah, harmonis. "Sila" berarti perilaku, tata laku. Jadi Susila adalah tingkah
laku manusia yang baik terpancar sebagai cermin obyektif kalbunya dalam
mengadakan hubungan dengan lingkungannya.
Pengertian Susila menurut pandangan Agama Hindu adalah tingkah laku
hubungan timbal balik yang selaras dan harmonis antara sesama manusia
dengan alam semesta (lingkungan) yang berlandaskan atas korban suci
(Yadnya), keikhlasan dan kasih sayang.
Pola hubungan tersebut berprinsip pada ajaran Tat Twam Asi (Ia
adalah engkau) mengandung makna bahwa hidup segala makhluk sama,
menolong orang lain berarti menolong diri sendiri, dan sebaliknya menyakiti
orang lain berarti pula menyakiti diri sendiri. Jiwa sosial demikian diresapi
oleh sinar tuntunan kesucian Hyang Widi dan sama sekali bukan atas dasar
pamrih kebendaan. Dalam hubungan ajaran susila beberapa aspek ajaran
sebagai upaya penerapannya sehari- hari diuraikan lagi secara lebih
terperinci.

1. Tri Kaya Parisudha adalah tiga jenis perbuatan yang merupakan


landasan ajaran Etika Agama Hindu yang dipedomani oleh setiap
individu guna mencapai kesempurnaan dan kesucian hidupnya.
2. Panca Yama dan Niyama Brata adalah lima kebaikan yang harus
dilakukan dan lima keburukan yang harus dipantang.
3. Tri Mala adalah tiga sifat buruk yang dapat meracuni budi manusia yang
harus diwaspadai dan diredam sampai sekecil- kecilnya.
4. Sad Ripu adalah enam musuh yang di dalam diri manusia yang selalu
menggoda, yang mengakibatkan ketidakstabilan emosi.
5. Catur Asrama adalah empat tingkat kehidupan manusia dalam agama
Hindu, disesuaikan dengan tahapan-tahapan jenjang kehidupan yang
mempengaruhi prioritas kewajiban menunaikan dharmanya.
6. Catur Purusa Artha adalah empat dasar tujuan hidup manusia.
7. Catur Warna berarti empat pilihan hidup atau empat pembagian dalam
kehidupan berdasarkan atas bakat (guna) dan ketrampilan (karma)
seseorang.
8. Catur Guru adalah empat kepribadian yang harus dihormati oleh setiap
orang Hindu.

c. Upacara (Yadnya)

Agama Hindu banyak sekali mempunyai hari raya. Semua hari raya itu
mengingatkan umat-Nya untuk mendekatkan diri ke hadapan Hyang Widhi
Wasa memohon keselamatan dan tuntunan kehidupan, karena pada
dasarnya semua yang ada itu adalah merupakan ciptaan Beliau. Manusia
sebagai makhluk hidup yang paling sempurna dan tinggi tingkatannya, bila di
bandingkan dengan sesama ciptaan-Nya, memegang peranan yang amat
penting, yaitu sebagai subyek yang menciptakan keharmonisan dalam
kehidupannya.
Keharmonisan dimaksud adalah berupa keseimbangan antara lahir
dan bathin. Dalam ajaran agama Hindu, hal ini dilaksanakan melalui upacara.
Upacara merupakan salah satu kerangka dari agama Hindu yang paling jelas
kegiatannya dapat disaksikan dimasyarakat. Pelaksanakan upacara tidak
dapat dipisahkan dengan etika (susila) dan tattwa (filsafat).
Karena ketiga kerangka agama itu merupakan satu kesatuan yang bulat dan
utuh. Semua agama mempunyai upacara. Tanpa upacara, maka kegiatan
agama itu tidak akan tampak kehidupannya dimasyarakat.
Upacara dalam agama Hindu, adalah merupakan rangkaian kegiatan
manusia dalam usaha menghubungkan diri dengan Hyang Widhi Wasa guna
memohon tuntunan hidup dan keselamatan secara lahir dan bathin. Dalam
pelaksanaan upacara-upacara tersebut, dilengkapi dengan upakara, banten,
atau sesajen, yang fungsinya sebagai sarana konsentrasi atau pemusatan
pikiran, karena telah diyakini bahwa kemampuan manusia sangat terbatas
adanya. Semua jenis upakara mengandung makna simbolis filosofis yang
tinggi dan mendalam, bila di kaji secara mendalam lagi. Dalam
(Bhagawadgita.IX.26) dijelaskan bahwa patram puspam phalam toyam yo
me bhakty prayacchati, tad aham bhaktyaupahrtam asnmi prayattmanah
Artinya: Siapapun yang dengan sujud bhakti kehadapan-Ku
mempersembahkan sehelai daun, sebiji buah-buahan,seteguk air, aku terima
sebagai bhakti persembahan dari orang yang berhati suci. Dalam upakara-
upakara agama hindu tidak pernah lepas dari bahan-bahan tersebut yaitu
daun, buah, air.

Yadnya adalah suatu karya suci yang dilaksanakan dengan ikhlas


karena getaran jiwa atau rohani dalam kehidupan ini berdasarkan dharma,
sesuai ajaran sastra suci Hindu yang ada (Weda). Yadnya dapat pula
diartikan memuja, menghormati, berkorban, mengabdi, berbuat baik
(kebajikan), pemberian, dan penyerahan dengan penuh kerelaan (tulus
ikhlas) berupa apa yang dimiliki demi kesejahteraan serta kesempurnaan
hidup bersama dan kemahamuliaan Sang Hyang Widhi Wasa. Di dalamnya
terkandung nilai-nilai:
1. Rasa tulus ikhlas dan kesucian.
2. Rasa bakti dan memuja (menghormati) Sang Hyang Widhi Wasa, Dewa,
Bhatara, Leluhur, Negara dan Bangsa, dan kemanusiaan.
3. Di dalam pelaksanaannya disesuaikan dengan kemampuan masing-
masing menurut tempat (desa), waktu (kala), dan keadaan (patra).
4. Suatu ajaran dan Catur Weda yang merupakan sumber ilmu pengetahuan
suci dan kebenaran yang abadi.
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Kebahagiaan hidup manusia akan tercapai apabila dapat
dikembangkan hubungan yang selaras/harmonis, serasi dan seimbang
diterapkan dalam merencanakan dan menjalankan kehidupan sehari-hari.

3.2 Saran
Dari penjelasan mengenai kerangka tiga dasar agama hindu maka
sebaiknya umat Hindu bisa menjadikan tiga kerangka dasar agama hindu
menjadi pedoman dalam merencanakan dan melaksanakan kegiatan sehari-
sehari agar tercapainya kehidupan yang teratur, damai, sejahtera.
DAFTAR PUSTAKA

Sudirga, Ida Bagus. 2010, PELAJARAN AGAMA HINDU UNTUK KELAS X SMA
KURIKULUM KTSP, Surabaya:PARAMITA
http://bigsmiled.blogspot.co.id/2012/06/4-jalan-mencari-tuhan-agama-berasal.html
http://materiagamahindu.blogspot.co.id/2014/09/catur-marga-yoga.html

Anda mungkin juga menyukai