Anda di halaman 1dari 627

BUKU REFERENSI

KONTRAKTOR

PT PP (PERSERO) - GENERAL CONTRACTOR


BUKU REFERENSI
UNTUK
KONTRAKTOR
BANGUNAN GEDUNG DAN SIPIL
BUKU REFERENSI
UNTUK

KONTRAKTOR
BANGUNAN GEDUNG DAN SIPIL

PENERBIT PT GRAMEDIA PUSTAKA UTAMA


JAKARTA 2003
BUKU REFERENSI
UNTUK
KONTRAKTOR
BANGUNAN GEDUNG DAN SIPIL

GM 209 03.007
Penata Letak: Pondok Design
Perancmg sampul: Inewatie S u t h j a

Copyright O 2003, Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama,


Gedung Gramedia
J1. Palrnerah Barat 33-37, Lt. 2-3,
Jakarta 10270.

Diterbitkan pertarna kali oleh


Penerbit PT Grarnedia Pustaka Utama,
anggota IKAPI, Jakarta 2003.

Hak cipta dilindungi oleh undang-undang.


Dilarang mengutip atau rnemperbanyak
sebagian atau seluruh isi buku ini
tanpa izin tertulis dari Penerbit.

Dicetak oleh Percetakan Ikrar Mandiriabadi, Jakarta


Isi di luar tanggung jawab Percetakan
DAFTAR IS1

Kata Sambutan Menteri Badan Usaha Milik Negara: Laksamana Sukardi


...
Xlll
Kata Pengantar Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah Republik Indonesia:
D R Ir. Soenarno, Dipl. HE xv
Kata Sambutan Direktur Utama PT Pembangunan Perumahan (Persero): Daryatno xvii

A. PENDAHULUAN 1
B. KEGIATAN UTAMA USAHA BIDANG KONTRAKTOR 3
B. 1. PEMASARAN 5
B. 1.1. Konsep Dasar Pemasaran 5
B. 1.1.a. Kepuasan Pelanggan 6
B. 1.1.b. Membuat Jaringan Pemasaran 6
B. 1.1.c. Kekuatan (Strength) Perusahaan sebagai Aset Pemasaran 7
B. 1.2. Kegiatan Pemasaran 9
B. 1.2.a. Perencanaan Pemasaran 10
B. 1.2.b. Promosi 10
B.1.2.c. Menjaring Informasi Pasar 11
B. 1.2.d. Mewujudkan Informasi Menjadi Proyek 11
B. 1.2.e. Menciptakan Proyek 12
B. 1.2.f. Tender (Pelelangan) 12
B.1.2.f.l. JenisTender 12
B. 1.2.f.2. Jenis Kontrak dengan Tender Terbatas 14
B. 1.2.f.2.1. Kontrak Rancang Bangun
(Design and Build Contract) 14
B. 1.2.f.2.2. Turnkey Contract 15
B. 1.2.f.2.3. Guaranted Maximum Price Contract
(GMP) 16
B. 1.2.f.2.4. Kontrak EPC (Engineering Procurement
and Construction 16
B. 1.2.f.3. Dokumen Tender 21
B.1.2.f.4. Kegiatan Tender 22
B. 1.2.f.4.a Prakualifikasi
B. 1.2.f.4.b. Undangan Tender
B. 1.2.f.4.c. Rapat Penjelasan
B. 1-2.f.4.d. Peninjauan Lapangan (Site Visit)
B. 1.2.f.4.e. Pemasukan Penawaran
B. 1.2.f 4.e. 1. Perhitungan Volume
(Quuntip rakng
B. 1.2.f.4.e.2. Perencanaan Metode
Pelaksanaan
B. 1.2.f.4.e.3. Perhitungan Biaya
Langsung (Direct Cost)
B. 1.2.f.4.e.4. Perhitungan Biaya Tak
Langsung (Indirect Cost)
B.1.2.f.4.e.5. Manajemen Risiko
(Risk Management)
B. 1.2.f.4.e.6. Finalisasi Harga
Penawaran (Rencana
Anggaran BiaydRAB)
B. 1.2.f.4.e.7. Penyiapan Dokumen-
dokumen sebagai
Larnpiran Penawaran
B. 1.2.f.4.f. Pembukaan Dokumen Penawaran
B. 1.2.f.4.g. Evaluasi Tender dan Klarifikasi
B.1.2.f.4.h. Penetapan Calon Pemenang
(Letter of Intent)
B. 1.2.f.4.i. Masa Sanggah
B.1.2.f.4.j. Surat Penunjukan Pemenang
(Letter ofAward)
B. 1.2.f.4.k. Surat Perintah KerjdSPK
(Notice to Proceed)
B. 1.2.f.4.1. Kontrak (Perjanjian Pemborongan)
B. 1-2.f.5. Tim Tender
B. 1.2.f.6. Tinjauan Kontrak (Contract Review)
B. 1.3. Administrasi Kontrak
B.1.3.a. Pengertian Kontrak
B. 1.3.a. 1. Syarat Sahnya suatu Kontrak
B. 1.3.a.2. Dokumen Kontrak
B. 1.3.a.3. Format Standar Kontrak
A. Format Standar Kontrak FIDIC
B. Format Standar Kontrak JCTIRIBA
B. 1.3.b. Pentingnya Administmi Kontrak
B. 1-3.b.1. Membuat Daftar Periksa Ketentuan-ketentuan
dalam Syarat-syarat Kontrak
B. 1.3.b.2. Melakukan Pencatatan (Recording)
B. 1.3.c. Pasal-pasal Penting dalam Kontrak
B. 1.3.d. Istilah-istilah yang sering 'Muncul dalam Kontrak
B. 13.d. 1. Provisional Sum
B.1.3.d.2. Prime Cost
B. 1-3.d.3. Nominated Sub Contractor
B. 1.3.d.4. Defect Liability Period
B. 1-3.d.5. Force Mejeure
B. 1.3.d.G. Arbitrase
B. 1.3.d.7. Eskalasi Harga
B.1.3.d.8. Claim
B. 1.3.d.8.1. Masalah yang Dapat Menimbdkan
Claim 45
B. 1.3.d.8.2. Mengurangi Dispute dalam Chim 48
B. 1.3.d.8.3. Data yang Diperlukan untuk
Pengajuan Claim 48
B. 1.3.d.8.4. Cara Menyusun Claim 50
B. 1.3.e. Urutan Kekuatan Dokumen dalam Kontrak 50

B.2. PELAKSANAAN PROYEK


B.2.1. Organisasi Proyek
B.2.1 .a. DefinisiIPengertian Organisasi
B.2.1. b. Menyusun Organisasi Proyek
B.2.1 .c. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Organisasi Proyek
B.2.1 .d. Contoh Organisasi Proyek
B.2.1 .e. Tugas dan Wewenang Personalia Kunci
B.2.2. Perencanaan Juklak (Petunjuk Pelaksanaan)
B.2.2.a. Informasi Dasar yang Diperlukan
B.2.2.b. Penyusunan Tim Juklak
B.2.2.c. Pembuatan Juklak
B.2.2.c. 1. Perencanaan Biaya (Anggaran Proyek)
B.2.2.c.2. Perencanaan Mutu
B.2.2.c.3. Perencanaan Jadwal Pelaksanaan
B.2.2.c.4. Perencanaan Metode Pelaksanaan
B.2.2.c.5. Perencanaan Keselarnatan dan Kesehatan Kerja (K3) 61
B.2.2.d. Contoh Juklak 61
B.2.2.e. Contoh Pembuatan Jadwal Pelaksanaan 69
B.2.2.f. Contoh Pembuatan Jadwal Pengadaan Tenaga Kerja 73
B.2.2.g. Contoh Pembuatan Jadwal Pengadaan Alat 74
B.2.3. Pembelian dan Prosedur Pengadaan Bahan 75
B.2.3.a. Pembelian 75
B.2.3. b. Prosedur Pengadaan Bahan 80
B.2.4. Peralatan 84
B.2.4.1. Umum 84
B.2.4.2. Jenis dan Kapasitas Alat 86
B.2.4.3. Occupancy Ratio 88
B.2.4.4. Investasi 89
B.2.4.5. Depresiasi 89
B.2.4.6. Pemeliharaan dan Perbaikan 92
B.2.5. Koordinasi Pelaksanaan Kegiatan Lapangan 92
B.2.5. a. Kick-OffMeeting 93
~.2:5.b.Zol Box Meeting 94
B.2.5.c. Rapat Harian 94
B.2.5.d. Rapat Mingguan 95
B.2.5.e. Rapat Bulanan 95
B.2.6. Pengendalian 96
B.2.6.a. Pengendalian Mutu 96
B.2.6. b. Pengendalian Biaya 97
B.2.6.b. 1. Proses Pengendalian Biaya 97
B.2.6.b.2. Komponen Biaya Proyek 99
1. Pengendalian Biaya Bahan 99
2. Pengendalian Biaya Upah 99
3. Pengendalian Biaya Subkontraktor 100
4. Pengendalian Biaya Alat 100
B.2.6.c. Pengendalian Jadwal Pelaksanaan 100
B.2.7. Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di Proyek 101
B.2.7.a. Memenuhi Kelengkapan Administrasi K3 102
B.2.7. b. Penyusunan Safety Plan (Rencana K3) untuk Proyek 103
B.2.7.c. Kegiatan K3 di Lapangan 104
B.2.7.d. Pelatihan Program K3 106
B.2.7.e. Perlengkapan dan Peralatan Penunjang Program K3 107
B.2.7.f. Penataan Lingkungan 111
B.3. SERAH TERIMA PROYEK 117
C. KEGJATAN PENDUKUNG USAHA BIDANG KONTRAKTOR
C. 1. Aspek Manajemen SDM
C. 1.a. Bidang Teknis
C. 1.a. 1. Pendidikan Formal
C. 1.a.2. Pelatihan dan Pengembangan
C. 1.a.3. Program Spesialiasi
C. 1.a.4. Program Jalur Fungsional
C. 1.a.5. Kemampuan Berbahasa Inggris
C. 1.a.6. Kemampuan Mengoperailcan Komputer
C. 1.b. Bidang Kepribadian
C. 1.b. 1. Karakteristik Pekerjaan Kontraktor
C. 1.b.2. Persyaratan SDM
C. 1.b.3. Implementasi Pengelolaan SDM
C. 1.b.4. Pengelolaan SDM Mandor dan SDM Subkontraktor
C. 1.b.5. Sasaran Akhir
C.2. Aspek Manajemen Keuangan
C.2.1. Metode Pengakuan Pendapatan Kontraktor
C.2.2. Laporan Keuangan Perusahaan
C.2.3. Analisis Rasio Laporan Keuangan
C.2.3.1. Profitability Assessment
C.2.3.1 .a. Profitability
C.2.3.1. b. Operating Margin Assessment
C.2.3.2. Risk Assessment
C.2.4. Siklus Perputaran Modal Perusahaan Kontraktor
C.2.5. Cash Flow Proyek
C.2.5.1. Proyek Pemerintah
C.2.5.2. Proyek Swasta dan BUMN
C.2.6. Perpajakan
C.2.7. Pengendalian Perusahaan
C.3. Aspek Manajemen Mutu ISO-9000

D. METODE PELAKSANAAN KONSTRUKSI


D. 1. Metode Pelaksanaan Pekerjaan Persiapan
D. 1.1. Perencanaan Site Plan
D. 1.1.1. Kantor ProyekIDireksi Keet
D. 1.1.2. Gudang Material dan Peralatan
D. 1.1.3. Base Camp Staf Proyek dan Barak Pekerja
D. 1.1.4. Los Kerja Besi dan Kayu
D.1.1.5. Pagar Proyek
D. 1.1.6. Jalan Kerja
D. 1.1.7. Penempatan Alat Berat, Tower Crane, dan Lift Bahan
D. 1.1.8. Pembuatan Komponen Precast
D. 1.2. Perhitungan Kebutuhan Sumber Daya
D. 1.2.1. Kebutuhan Listrik Kerja
D. 1.2.2. Kebutuhan Air Kerja
D. 1.3. Pembuatan Shop Drawing (Gambar Kerja)
D. 1.4. Pengadaan Material untuk Pekerjaan Persiapan
D. 1.5. Mobilisasi Peralatan
D. 1.6. Pelaksanaan di Lapangan
D.2. Metode Pelaksanaan Bangunan Gedung
D.2.1. Metode Pelaksanaan Galian Basement
D.2.2. Metode Pelaksanaan Dewatering dan Well Point
D.2.2.1. Metode Pelaksanaan Temporary Steel Sheet Pile
D.2.3. Metode Pelaksanaan Dinding Penahan Tanah dengan Sistem
Soldier Pile
D.2.4. Metode Pelaksanaan Diaphragm Wall
D.2.5. Metode Pelaksanaan Pondasi Dalarn
D.2.5.1. Pondasi Tiang Pancang Precast Beton
D.2.5.2. Pondasi Bored Pile
D.2.5.3. Pondasi Frankie Pile
D.2.6. Metode Pelaksanaan Pondasi Batu Kali
D.2.7. Metode Pelaksanaan Pondasi Pelat Jalur
D.2.8. Metode Pemasangan Bekisting, Poer & Sloof Bataco Putih
D.2.9. Metode Pelaksanaan Pemasangan Bekisting Kayu untuk Poer & Shof
D.2.10.Metode Pelaksanaan Struktur Atas
D.2.10.1 Metode Pelaksanaan Pekerjaan Kolom
D.2.10.2. Metode Pelaksanaan Pekerjaan Dinding
D.2.10.3. Metode Pelaksanaan Pekerjaan Balok
D.2.10.4. Metode Pelaksanaan Pekerjaan Lantai
D.2.10.5. Metode Pelaksanaan Pekerjaan Tangga
D.2.10.6. Metode Pengecoran dan Pemadatan Beton
D.2.11. Metode Pelaksanaan Pekerjaan Finishing
D.2.11.1. Metode Pemasangan Kusen Aluminium
D.2.11.2. Metode Pemasangan Kusen Kayu
D.2.11.3. Metode Pelaksanaan Plesteran Dinding
D.2.11.4. Metode Pengecatan Dinding
D.2.11.5. Metode Pemasangan Dinding Keramik
D.2.11.6. Metode Pemasangan Dinding MarmerIGranit
(Sistem Basah)
D.2.11.7. Metode Pemasangan Dinding MarmerlGranit
(Sistem Kering)
D.2.11.8. Metode Pemasangan Lantai Keramik
D.2.11.9. Metode Pemasangan MarmerIGranit (Sistem Basah)
D.2.11.10. Metode Pelaksanaan Pekerjaan Screed Lantai
D.2.11.11. Metode Pelaksanaan FxpantionJoint
D.2.11.12. Metode Pemasangan Waterproof Type Bithune
D.2.11.13. Metode Pemasangan WaterproojngMembrane
D.2.11.14. Metode Pelaksanaan Cor Nad
D.2.11.15. Metode Pemasangan Plafond Gypsum
D.2.11.16. Metode Pemasangan Plafond Plywood
D.2.11.17. Metode Pemasangan LavatoryAKastafel
D.2.11.18. Metode Pemasangan Urinoir
D.2.11.19. Metode Pemasangan Closet
D.2.11.20. Metode Pemasangan Genteng Metal
D.2.11.2 1. Metode Pemasangan Railing Tangga Kayu dan Besi
D.2.11.22. Metode Pelaksanaan Precast Meja Dapur
D.2.11.23. Metode Pelaksanaan Pekerjaan Topi Jendela
D.2.11.24. Metode Pelaksanaan Precast Tali Air
D.2.11.25. Metode Pelaksanaan Precast Console
D.2.11.26. Metode Pelaksanaan Listplank Precast
D.2.11.27. Metode Pelaksanaan Precast Listplank
D.2.11.28. Metode Pelaksanaan Precast Dinding Rumah
D.2.11.29. Metode Pelaksanaan Precast Panel GRC Sun Sreen

D.2.12.METODE PELAKSANAAN PEKERJAAN MEKANIKAL


ELEKTRIKAL
D.2.12.1. Metode Pemasangan Fire Alarm
D.2.12.2. Metode Pemasangan Instalasi Telepon
D.2.12.3. Metode Pemasangan Sound System
D.2.12.4. Metode Pemasangan CCTV
D.2.12.5. Metode Pemasangan Master Clock
D.2.12.6. Metode Pemasangan Radio Komunikasi
D.2.12.7. Metode Pemasangan Fire Fighting
D.2.12.8. Metode Pemasangan AC Central
D.2.12.9. MetodePemasanganACSplit
D.2.12.10. Metode Pemasangan Instalasi Air Bersih
D.2.12.11. Metode Pemasangan Instalasi Air Kotor
D .2.12.12. Metode Pemasangan Sanitay
D.2.12.13. Metode Pemasangan Konduit Outbow
D.2.12.14. Metode Pemasangan Konduit Inbow
D.2.12.15. Metode Pemasangan Kabel Tray dan Ladder
D.2.12.16. Metode Pemasangan Instalasi Listrik
D.2.12.17. Metode Pemasangan Kabel
D.2.12.18. Metode Pemasangan Panel
D.2.12.19. Metode Pemasangan Transformer
D.2.12.20. Metode Pemasangan Genset
D.2.12.2 1. Metode Pemasangan Bus Duct
D.2.12.22. Metode Pemasangan Grounding Panel
D.2.12.23. Metode Pemasangan Armature
D.2.12.24. Metode Pemasangan Saklar dan Stop Kontak
D.2.12.25. Metode Pemasangan Penangkal Petir
D.3. Metode Pelaksanaan Pekerjaan Pelabuhan Laut
D.4. Metode Pelaksanaan Perkerasan Kaku
D.5. Metode Pelaksanaan Pekerjaan Konstruksi Jembatan
D.6. Metode Pelaksanaan Pekerjaan Bendungan dan Saluran Irigasi
D.6.1. Metode Pelaksanaan Pekerjaan Bendungan Irigasi
D.6.2. Metode Pelaksanaan Pekerjaan Saluran Irigasi
D .7. Metode Pelaksanaan Pekerjaan Terowongan ( Tunneling)

E. LAMPIRAN-LAMPIRAN
E. 1. Analisis Harga Satuan
E.2. Analisis Produktivitas
E.2.1. Produktivitas Alat
E.2.2. Produktivitas Tenaga Kerja
E.3. Arus Kas Keluar
E.4. Contoh Format EBPP
E.5. Case I1 (Adverse Physical Condition) Existing Crane Rail Beam
E.6. Contoh Format Contract Review

F. DAFTAR PUSTAKA

G. DAFTAR SINGKATAN
MENTERI BADAN USAHA MlLlK NEGARA

SAM BUTAN

Penerbitan Bzik2a R&e~ensi untuk Kontrdktor Bangunan Gedung dun Sipil oleh P I
Pernbangunan Perumahan (Persero) yang tepat pada usianya ke-50 ini patut kita sarnbuc
dengan gernbira karena buku yang mernuat pengetahuan dan pengalaman PT Pembangunan
Perumahan (Persero) selama berkiprah di bidang jasa konstruksi dan kontraktor akan
dapat menjadi acuan bagi masyarakat pada khususnya mereka yang bergerak di bidang
j asa konstruksi dan kontraktor untuk melaksanakan dan rnengembangkan usahanya.
Ketersediaan rcferensi yang cukup untuk setiap kegiatan usaha mexupakan suatu
kebutuhan yang sangat mendalam terutama di dalam era persaingan berusaha yang
semakin ketat clan bersifat global. Kondisi iingkungan berusaha yang keras dan bersifat
global tersebut rnenuntut kita untuk terus meningkatkan efisiensi, efektivitas, dan
produktivitas dalam pengelolaan perseroan.
Kami percaya bahwa direksi beserta jajarannya yang telah cukup berpengalaman dalam
kegiatan jasa konstruksi dan kontraktor akan mampu menangani tantangan-tantangan
yang dihadapinya dengan baik, sehingga perusahaan akan tetap mampu mernenuhi
kontri businya kepada s t d k e h o b .
Akhirnya, kepada P T Pembangunan Perumahan (Persero) kami ucapkan Selamat Hari
Ulang Tahun yang ke-50, semoga ke depan PT Pembangunan Perumahan dapat lebih
be~kemban~ dan sukses, serta marnpu memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bag
masyarakat dan bangsa.

Menteri Badan Usaha Milik Negara,

aksamana Sukardi
MEMTERI PERMUKIMAN DAN PRASARANA WllAYAH
REPUBLIK INDONESIA

KATA PENGANTAR

Pertama-tama saya menyambut baik dengan diterbitkannya Baku Refewmi zkntuk Kontmktor
Bangumn Gedung h n Sipil ini yang diterbitkan PT Pembangunan Perumahan (Persero)
sebagai sumbangan bagi dunia konstruksi pada umumnya, dan mereka yang bergerak di
bidang bangunan gedung dan sipil pada khususnya.
Kita menyadari bahwa seiring dengan perkernbangan pembangunan di bidang jasa
konstruksi di tanah air, maka telah bexkembang pula teknologi dan metode-metode baru
yang merupakan rangkaan atau perpaduan antara pengalaman di lapangan s e m penemuan-
penemuan mutakhir. Tentulah semua itu upaya menuju efisiensi dalam pencapaian target
pekerjaan jasa konstruksi.
Sdama kurun waktu setengah abad (50 tahun), PT Pembangunan Perumahan (Pexsero)
telah berhasil menuangkan karya berharga berupa berbagai jenis pembangunan yang saat
ini telah dinikmati dan dimanfaatkan oleh rnasyarakat Iuas. Untuk itu, sangatlah tepat
apabila pengalaman-pengalaman tersebut dituangkan dalarn bentuk buku yang merupakan
sumbangan pikiran dan pengalaman yang diperoleh PT Pembangunan Perumahan (Persero)
selarna 50 tahun serta dipadukan dengan metode teknologi terbaru, &an rnenjadi panduan
untuk lebih memajukan jasa konstruhi pada umumnya dan bidang usaha kontraktor
khususnya.
Sernoga terbitnya buku ini, akan memberikan rnanfaat yang sebesax-besarnya untuk
kemajuan menuju kebanglutan konstruksi Indonesia dalam menghadapi kompetisi global.

..- JHkarta, 3 July 2003


GENERAL CONTRACTOR

SMBUTAN DIREKTUR UTAMA


PT PEMBANGUNAN PERUMAHAN (PERSERO}

PT Pembangunan Perumahan (Persero), sebagai salah satu perusahan kontraktor


Nasional yang pada ranggal 26 Agusrus 2003 mencapai usia 50 tahun, mempunyai
tanggung jawab moral untuk ikut meningkatkan profesionalisme Jasa Konstrulrsi,
dalam rangka ikut serta dalam pembangunan Nasional maupun kompetisi ~ a d Era a
Globalisasi.
Melalui Buku RL.ferensi untuk Kontraktor Bangunan Gedung h n S+il ini, PT
Pernbangunan Perumahan (Persero) ingin menyumbangkan informasi dan pengetahuan
berdasarkan ~ e n ~ a l a r n a n ntentang
~a jasa konstruksi, baik bagi kalangan ~endidikan,
perencana, pengawas, ~ernilik ~ r o ~ e kmaupun , siapa saja yang tertarik dengan
bidang usaha jasa konstruksi, dengan harapan bahwa buku ini dapat memberikan
manfaat dalam memahami dunia jasa konstruksi pada umumnya dan bidang usaha
kontraktor pada khususn~a.
Ini adalah buku kedua karya PT PP (Persero) setelah buku pertama yang berjudul
I S 0 9000 u k u k Kdntraktor, yang diterbitkan p d a tanggal 3 November 1997.
Saran-saran dari seluruh pembaca sangat diharapkan sehingga buku ini dapat
selalu diperbaiki serta ditingkatkan dan pada akhirnya tujuan penerbitan buku ini
dapat tercapai.
Tidak lupa kami ucapkan terima kasih dm ~ e n g h a r ~ a asetinggi-tingginya
n kepada
Tim Penerbir yang telah bekerja keras sehingga buku ini dapat diterbitkan sesuai
rencana.

Jakarta 26 Agustus, 2003


Direktur Utama

Daryatno
A. PENDAHULUAN

B
uku ini disusun dalam rangka memperingati 50 tahun berdirinya PT
Pembangunan Perumahan (Persero) atau yang lebih dikenal dengan
nama PT PP, sebuah Badan Usaha Milik Negara (BUMN), yang
bergerak di bidang jasa konstruksi. Dengan pengalaman selama setengah
abad sebagai salah satu Kontraktor terbesar di Indonesia, PT PP ingin
memberikan sedikit sumbangan pikiran dan pengalaman dengan terbitnya
buku ini untuk kemajuan dan perkembangan usaha jasa konstruksi pada
umumnya dan khususnya bidang usaha kontraktor di tanah air tercinta
ini. Buku ini terutama ditujukan untuk masyarakat konstruksi, dunia
pendidikan serta kalangan yang terlibat maupun tertarik kepada bidang
usaha jasa kontraktor.
Selama kurun waktu tersebut, PT PP memperoleh banyak pengetahuan
dan pengalaman berharga dari berbagai proyek yang ditanganinya seperti:
Bangunan Gedung dan Permukiman, Bendungan dan Irigasi, Jalan dan
Jembatan, Pelabuhan dan Dermaga, Bangunan Pembangkit Tenaga Listrik,
serta pekerjaan-pekerjaan sipil lainnya.
Buku ini menitikberatkan pembahasan pada masalah-masalah sehubungan
dengan Manajemen Proyek dan Metode-metode Pelaksanaannya ditinjau
dari segi pelaksanaan konstruksi sebagai tugas utama sebuah perusahaan
Kontraktor. Secara keseluruhan buku ini memuat tentang tahapan-tahapan
kegiatan utama yang harus dilalui, mulai dari tahap Pemasaran tahap
Pelaksanaan hingga tahap Penyerahan Pekerjaan dan Pemeliharaan. Di
samping itu juga dijelaskan kegiatan-kegiatan pendukungnya (supporting
activities), seperti Manajemen Sumber Daya Manusia, Manajemen Keuang-
an, Manajemen Mutu, Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) serta pengen-
daliannya.
Kami menyadari bahwa buku ini masih belum sepenuhnya dapat
memuaskan keinginan para pembaca. Untuk itu, karni sangat mengharapkan
kritik dan saran demi penyempurnaan buku ini.
Akhirnya, kami ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada para
Pemilik Proyek atau Penggbna Jasa yang selama ini telah memberikan ke-
percayaan kepada PT PP untuk melaksanakan proyek-proyeknya. Penghargaan
yang setingi-tingginya kami sampaikan kepada Konsultan Perencana, Konsultan
Pengawas, Rekan-rekan Kontraktor baik asing maupun nasional, Subkon-
traktor, Supplier, dan seluruh mitra kerja yang telah menjalin hubungan yang
sangat baik selama ini.
Ucapan terima kasih juga kami sampaikan kepada semua pihak yang telah
bekerja sama membantu dan berpartisipasi dalam penulisan dan penerbitan
buku ini.
6. KEGIATAN UTAMA USAHA
BIDANG KONTRAKTOR

T ujuan suatu perusahaan adalah mempertahankan kelangsungan hidup,


melakukan pertumbuhan, serta meningkatkan profitabilitas.
Tiga tujuan ekonomis tersebut merupakan pedoman arah strategis
semua organisasi bisnis. Perusahaan yang tidak mampu bertahan hidup tidak
akan mampu memberi harapan kepada pihak-pihak yang berkepentingan.
Apa pun ukuran atas definisi laba yang digunakan, laba dalam kurun waktu
panjang yang diperoleh dari akumulasi laba tahunan merupakan indikator
paling jelas mengenai kemampuan perusahaan dalam memenuhi tuntutan
dan keinginan para karyawan dan pemegang saham.
Pertumbuhan perusahaan tidak terlepas dari kelangsungan hidup dan
profitabilitasnya. Pertumbuhan bisa dicapai apabila ada laba yang memadai
yang diperoleh secara berkesinambungan dalam jangka waktu panjang.
Pertumbuhan, dalam pengertian yang luas, meliputi pertumbuhan pasar,
pertumbuhan ragarn prodddjasa yang ditawarkan, serta pertumbuhan teknologi
yang digunakan untuk penyediaan prodddjasa tersebut. Pertumbuhan semacam
ini sering kali menghasilkan peningkatan daya saing perusahaan. Selanjutnya,
bertambahnya daya saing akan meningkatkan pula kemarnpulabaan (projtabi-
litas) perusahaan.
Setiap perusahaan dapat dipandang sebagai sekumpulan kegiatan (value
activities) yang dilakukan untuk merancang, menghasilkan, memasarkan,
menyampaikan, dan mendukung produknya.
Secara umum, Jasa Konstruksi bermakna sangat luas. Namun, bidang-
bidang kegiatan Jasa Konstruksi pada umumnya meliputi: Perencanaan,
Pelaksanaan, dan Pengawasan pekerjaan konstruksi. Undang-undang tentang
Jasa Konstruksi No.18 Tahun 1999 dalam Ketentuan Umumnya menyebutkan
bahwa Jasa Konstruksi adalah layanan jasa konsultasi perencanaan pekerjaan
konstruksi, layanan jasa pelaksanaan pekerjaan konstruksi dan layanan jasa
konsultansi pengawasan pekerjaan konstruksi. Sedangkan pengertian pekerjaan
konstruksi adalah keseluruhan atau sebagian rangkaian kegiatan perencanaan
danlatau pelaksanaan beserta pengawasan yang mencakup pekerjaan arsitektural,
sipil, mekanikal, elektrikal, dan tata lingkungan masing-masing beserta
kelengkapannya untuk mewujudkan suatu bangunan atau bentuk fisik lain.
Selain itu, Kontraktor Jasa Konstruksi, sebagai Pelaksana Konstruksi,
didefinisikan sebagai penyedia jasa orang perseorangan atau badan usaha yang
dinyatakan ahli, profesional di bidang pelaksanaan jasa konstruksi, yang mampu
menyelenggarakan kegiatannya untuk mewujudkan suatu hasil perencanaan
menjadi bentuk bangunan atau bentuk fisik lainnya dan terikat kontrak
untuk menyelesaikan pekerjaan konstruksi.
Untuk pembahasan selanjutnya, dalam buku ini digunakan sebutan Kon-
traktor bagi Pelaksana Konstruksi, mengingat bahwa sebutan tersebut lebih
populer di kalangan masyarakat.
Lingkup kerja jasa konstruksi sangat beragam. Secara garis besar lingkupnya
meliputi: Gedung (perkantoran, mal, rumah sakit, hotel, apartemen, pabrik),
Prasarana dan Transportasi (jalan, jembatan, dermaga, landasan terbang, dan
lainnya), Irigasi (saluran dan bendungan), Fasilitas Pengolahan Air, Bangunan
Pembangkit Tenaga Listrik, dan berbagai bangunan fisik lainnya.
Kategori dasar kegiatan dapat dibagi menjadi dua kelompok umum. Per-
tama, kegiatan primer atau utama (primary activities) berhubungan dengan
pemasaran, pelaksanaan, penyerahan, dan pemeliharaan. Kedua, kegiatan pe-
nunjang (supporting activities), yakni kegiatan yang menyediakan infrastruktur
atau masukan yang memungkinkan kegiatan-kegiatan utama berlangsung secara
terus menerus.'
Secara skematis Kegiatan-kegiatan bidang usaha Kontraktor dapat
digambarkan sebagai berikut:

Gambar Kegiatan utama (Primary Activities) dan Kegiatan Penunjang (Supporting Activities)

Kegiatan Utama
(Primary Activities)

m PEMASARAN PROYEK PROYEK

Kegiatan Pendukung
(Supporting Activities)

'Pearce Robinson, Manajemen Strategik, terjemahan jilid I , Binarupa Aksara, Jakarta, 1991.

4
Proses Kegiatan Utama (Primary Activities)*

Perusahaan kontraktor memiliki kegiatan utama yang terdiri dari tiga bagian,
yaitu:

1. Pemasaran, proses kegiatan untuk mendapatkan kontrak pelaksanaan peker-


jaan konstruksi (proyek) dari pengguna jasa.
2. Pelaksanaan proyek, proses operasional lapangan sampai menjadi suatu ba-
ngunan yang siap untuk digunakan.
3. Penyerahan proyek, proses penyerahan hasil pekerjaan konstruksi yang
telah diselesaikan sesuai kontrak kepada pengguna jasa.

Sedangkan kegiatan penunjang (supporting activities) meliputi:

1. Manajemen Sumber Daya Manusia (SDM)


2. Manajemen keuangan
3. Manajemen Mutu

Pada bab-bab selanjutnya akan kita bahas lebih rinci tentang proses kegiatan
utama Kontraktor, mulai dari proses pemasaran untuk mendapatkan kontrak
jasa pelaksanaan konstruksi (proyek), proses pelaksanaan proyek sampai proses
serah terima proyek.

B. 1.1. Konsep Dasar Pemasaran


Proses bisnis Kontraktor dimulai dengan kegiatan pemasaran yang dalam hal
ini mencari, mengumpulkan, dan menggarap informasi pasar proyek baik itu
proyek pemerintah maupun swasta serta mempromosikan perusahaan kepada
para calon pelanggan. Ada beberapa faktor yang menjadi konsep dasar pema-
saran di bidang usaha kontraktor, antara lain:

a) Kepuasan Pelanggan
b) Membuat Jaringan Pemasaran (Networking)
c) Kekuatan (S~ength)Perusahaansebagai Aset Pemasaran

Tearce Robinson, Manajemen Strategik, terjemahan jilid I , Binarupa Aksara, Jakarta, 1997.
B. 1.1 .a. Kepuasan Pelanggan, dampak positif dari keberhasilan produk
merupakan salah satu faktor penting yang menunjang pemasaran karena
kepuasan pelanggan atas hasil kerja dari kontraktor yang bermutu dan tepat
waktu akan mengangkat citra perusahaan di mata para pemilik proyek dan
menjadi rekomendasi untuk memilih pelaksana proyek.

Keberhasilan produk dapat berupa:


Kemampuan untuk menyelesaikan proyek tepat waktu atau bahkan lebih
cepat dari waktu yang dijadwalkan
Kemampuan untuk menyelesaikan proyek dengan biaya yang kompetitif
dan dapat diterima pemilik proyek
Kemarnpuan dalam menyelesaikan proyek dengan kualitas dan keselamatan
kerja (safety) yang baik
Kemampuan berkomunikasi dengan baik kepada semua pihak (stakeholders)
selama masa pelaksanaan proyek, yaitu:
- pemilik proyek (pengguna jasa),
- konsultan,
- sub kontraktor, supplier,
- masyarakat.
Kemampuan memberikan pelayanan yang baik setelah proyek diserahkan
kepada pemilik (ajer sales service)
Memiliki produk unggulan (spesialis di bidang gedung, spesialis di bidang
pelabuhan, dsb.), merupakan faktor yang menentukan dalam menetapkan
strategi bersaing perusahaan. Sebuah perusahaan yang mempunyai produk
unggulan berarti mempunyai "keunggulan bersaing" dibandingkan dengan
perusahaan lainnya dan sekaligus menunjang pemasaran per~sahaan.~

B. 1.1 .b. Membuat Jaringan Pemasaran (NetworkingY

Networking adalah membangun suatu jaringan relasi yang luas yang bersedia
memberikan informasi tentang adanya proyek yang direncanakan. Dibutuhkan
waktu lama untuk membangun suatu jaringan pemasaran karena melibatkan

'Michael E. Porter, Keunggulan Bersaing, terjemahan, Binarupa Aksara, Jakarta, 1994.


4Waren Friedman, Construction Marketing and Strategic Planning, McGraw-Hill Book Company.
berbagai macam komunitas baik perorangan, instansi pemerintah dan swasta
serta kalangan profesional seperti:

Konsultan Perencana
Investor
Bankir
Subkontraktor
Supplier
Eksekutif Bisnis
Masyarakat
Dl1

Jaringan pemasaran yang luas akan mempermudah upaya menjaring dan


mengumpulkan informasi proyek secara lebih dini sehingga mempercepat
proses pemasaran.

B. 1.1 .c. Kekuatan Perusahaan (Strength) sebagai Aset Pemasaran5


Keberhasilan perusahaan tidak terlepas dari pemanfaatan kekuatan (strength)
yang dimilikinya. Kekuatan ini pada gilirannya dapat ditransfer menjadi aset
pemasaran, antara lain:

Kinerja (Peformance)
Kinerja perusahaan yang baik, dalam arti berhasil menyelesaikan proyek
tepat waktu, memenuhi target biaya, dan memberikan pelayanan yang res-
ponsif kepada para pelanggan, merupakan unsur penting dalam menunjang
suksesnya pemasaran. Tidak seperti pemasaran di bidang usaha yang lain,
kinerja perusahaan kontraktor yang baik, merupakan promosi yang lebih
tepat dan efektif dibandingkan promosi iklan melalui media. Informasi
tentang kinerja perusahaan ini dapat diketahui masyarakat antara lain
melalui Buku Laporan Keuangan Tahunan (Annual Report), yang disebar
luaskan oleh perusahaan yang bersangkutan, atau bagi perusahaan terbuka
(go-public), data tersebut tersedia di bursa efek dan media masa.

Hubungan baik dengan Pelanggan


Hubungan baik dengan pelanggan dan menjaga kelanggengan hubungan

>WarenFriedman, "ConstructionMarketing and Strategic Planningn,MacGaw-Hill Book Company.


baik dengan pelanggan melalui komunikasi yang jujur dan obyektif untuk
menghindari perselisihan, keterlambatan, dan biaya ekstra merupakan kunci
untuk menjaga kemungkinan memperoleh proyek berikutnya.
Komunikasi yang paling sering dilakukan antara kontraktor dan
pelanggannya adalah dalam negosiasi, rapat mingguan, rapat bulanan.
Dengan demikian, kemampuan negosiasi sangat diperlukan. Cukup banyak
literature atau buku bacaan populer yang menulis tentang teori negosiasi,
namun perlu diketahui juga bagaimana penerapannya dalam praktek.
Berdasarkan pengalaman, keberhasilan negosiasi dapat diperoleh antara
lain dengan cara:

1. Memilih saat di mana kita sudah siap dengan materi yang akan
dinegosiasikan
2. Menghindari acara negosi%i yang mendadak
3. Memilih saat ketika pelanggan sangat membutuhkan persetujuan atau
keputusan
4. Memberi kesempatan pelanggan untuk berbicara, dan sebaliknya kita
mendengarkan dengan baik
5. Memusatkan perhatian pada pesan yang disampaikan pelanggan
6. Mengendalikan emosi
7. Menggunakan bahasa yang dipahami pelanggan
8. Membuat catatan penting sehubungan dengan hasil perundingan

Menjaga hubungan baik dengan pelanggan dapat dilakukan antara lain


dengan:

tetap menjalin komunikasi meskipun sudah tidak ada hubungan kerja


memberi perhatian pada acara-acara khusus yang sedang dialami pelang-
gan, misalnya hari ulang tahun perusahaan, dsb.
siap memberikan saran jika diperlukan

Karyawan yang berpengalaman dan profesional


Aset perusahaan-karyawan yang berpengalaman dan profesional-
merupakan unsur penting untuk mencapai keberhasilan pelaksanaan proyek
yang lebih cepat daripada waktu yang disediakan dan sekaligus menum-
buhkan kepercayaan di pihak para pelanggan akan ketepatan waktu pelak-
sanaan.
Profesionalisme ini antara lain dapat dinilai oleh pelanggan melalui
forum presentasi, di mana kontraktor dapat menyampaikan usulan-usulan
teknik maupun nonteknik berdasarkan pengalaman-pengalaman yang cukup
banyak.
Presentasi adalah bagian dari komunikasi dengan tujuan untuk meya-
kinkan, bahkan memberikan kesan atau ingatan, kepada pendengar. Oleh
sebab itu, kontraktor perlu memiliki kemampuan melakukan presentasi
dengan benar.
Selama pelaksanaan proyek, profesionalisme juga dapat ditunjukkan
melalui kemampuan berinovasi, menciptakan cara kerja baru yang lebih
baik. Ini berdampak pada peningkatan kualitas produk, percepatan waktu
pelaksanaan, serta efisiensi biaya.

Hubungan baik dengan subkontraktor dan supplier


Hubungan kontraktual yang saling menguntungkan antara kontraktor dan
subkontraktor, serta supplier akan memberikan "daya beli" yang kuat pada
perusahaan. Hal ini berdampak pada penerimaan bahan yang tepat waktu
dan segera dengan pelayanan yang lebih baik dan harga yang kompetitif.
Ini memungkinkan perusahaan memberikan pelayanan yang lebih baik
kepada pemilik proyek berupa waktu pelaksanaan yang lebih cepat, kualitas
kerja yang lebih baik dengan harga yang lebih ekonomis.

Pengembangan pasar
Kemampuan perusahaan untuk mengerjakan berbagai jenis pekerjaanlproyek
seperti proyek gedung, proyek irigasi, pelabuhan, jalan dan jembatan, dll.,
serta kekuatan manajemen untuk melaksanakan proyek berskala regional,
nasional, bahkan menembus pasar internasional, memung-kinkan perusahaan
untuk merespons perubahan kondisi pasar dengan cepat.

B. 1.2. Kegiatan Pemasaran


Beberapa tahapan kegiatan pemasaran:

a. Perencanaan pemasaran
b. Promosi
c. Menjaring informasi
d. Mewujudkan informasi menjadi proyek
e. Menciptakan proyek
f. Tender (pelelangan)
B. 1.2.a. Perencanaan Pemasaran
Kegiatan perencanaan pemasaran biasanya dilakukan setiap tahun, menjelang
akhir tahun (pada bulan Oktober) untuk membuat Rencana Kerja dan
Anggaran Perusahaan (RKAP) tahun berikutnya, meliputi:

Membuat daftar nama proyek yang direncanakan akan diperoleh


Mengelompokkan daftar proyek tersebut berdasarkan sektor pemilik
proyek, misalkan sector pemerintah, BUMN, dan swasta
Menetapkan program kerja, yang berisi target waktu dan penanggung
jawab untuk masing-masing proyek
Menetapkan sistem monitoring
Merencanakan biaya pemasaran (biaya promosi, sponsor, biaya tender,
dll.)

B. 1.2.b. Promosi
Promosi bertujuan untuk memperkenalkan perusahaan kepada masayarakat,
t e r u t v a masyarakat yang memerlukan jasa kontraktor, yang dapat dilakukan
dengan cara:

1. Menerbitkan Company Projk (Profil Perusahaan) yang ditampilkan dalarn


bentuk cetakan berupa buku atau brosur maupun elektronik berupa
rekaman video.
2. Company Profile ini berisa data-data tentang:
Nama perusahaan
Pemilik perusahaan
Alamat kantor pusat dan kantor-kantor cabang
Organisasi perusahaan
Pengalaman Perusahaan
3. Menerbitkan Annual Report (Laporan keuangan perusahaan tahunan),
yang antara lain menyajikan Laporan Neraca dan Laba Rugi tahun se-
belumnya, untuk dapat memberikan gambaran tentang kemampuan ke-
uangan perusahaan, kinerja yang telah dicapai, pertumbuhan perusahaan
selama lima tahun terakhir serta rencana masa depan.
4. Menyampaikan informasi perusahaan melalui Web site.
5. Mengumumkan Statement of Corporate Intent untuk kurun waktu tertentu
(misalnya: tiga tahun kedepan).
6. Melakukan presentasi kepada calon pemilik proyek.
7. Mengikuti pameran-pameran tentang konstruksi
8. Menjadi sponsor untuk acara-acara tertentu, misalnya olah raga, seminar,
dll.

B. 1.2.c. Menjaring Informasi Pasar


Hal-hal yang diperlukan dalarn menjaring informasi pasar antara lain:
1. Kepekaan dalam menangkap informasi yang tersebar.
2. Bukan hanya tugas dan tanggung jawab unit pemasaran saja, melainkan
tugas seluruh pimpinan dan karyawan, atau lazim disebut system total
foot ball.
3. Seluruh informasi sebaiknya dikumpulkan secara terpusat di unit pema-
saran
4. Perlu dilakukan penyaringan untuk menentukan tindak lanjutnya, karena
belum tentu setiap informasi layak untuk ditindak lanjuti.
5. Informasi yang bersifat publikasi formal, misalnya majalah dan surat
kabar.
6. Untuk proyek-proyek pemerintah, informasi dapat berupa, pengumuman-
pengumuman yang ditempel di tempat panitia pelelangan.
7. Informasi pasar juga dapat diperoleh melalui proyek-proyek yang sedang
dilaksanakan oleh kontraktor yang bersangkutan atau dari hubungan
baik dengan konsultan perencana serta pemilik proyek.

B.1.2.d. Mewujudkan Informasi Menjadi Proyek


Mewujudkan informasi menjadi realisasi proyek dapat ditempuh dengan
berbagai cara, antara lain:
1. Mengikuti proses prakualifikasi dan proses tender sesuai yang ditetapkan
panitia, terutama pada proyek-proyek pemerintah.
2. Pada proyek swasta, sangat dimungkinkan kontraktor bergabung dengan
konsultan perencana untuk memberi masukan-masukan yang berkaitan
dengan k a u d a h a n pelaksanaan, sehingga perencanaan yang dibuat su-
dah disesuaikan dengan tahapan pelaksanaan. Dari usaha ini, kemung-
kinan kontraktor mendapatkan prioritas untuk diundang dalam tahap
tender.
3. Apabila data yang dapat dipelajari sudah cukup, maka kontraktor bisa
menawarkan kepada pemilik untuk melakukan presentasi teknis maupun
skema pembiayaan. Ini sangat membantu pemilik dalam membuat
keputusan.
B. 1.2.e. Menciptakan Proyek
Ada kalanya kontraktor memiliki kesempatan untuk menciptakan proyek
dengan cara melibatkan diri sejak tahap timbulnya ide (project idea) oleh
pemilik proyek. Dalam ha1 ini, kontraktor dituntut untuk mampu
menerjemahkan ide ke dalam bentuk tampilan desain awal yang dapat
dimengerti oleh pemilik, sehingga ide tersebut dapat dilanjutkan menjadi
perencanaan proyek secara menyeluruh. Keterlibatan kontraktor pada tahap
dini ini dapat meningkatkan bargaining position kontraktor dalam
mendapatkan proyek tersebut, misalnya kontraktor dapat ditunjuk langsung
tanpa melalui proses tender sebagai kontraktor Design and Build.

B. 1.2.f.Tender (Pelelangan)
Tender pelaksanaan suatu bangunan dalam bidang pemborongan jasa
konstruksi, atau sering juga disebut Pelelangan, adalah salah satu sistem
pengadaan bahan dan jasa. Dalam bidang-jasa konstruksi, tender pelaksanaan
dilakukan oleh pemberi tugaslpemilik proyek, dengan mengundang beberapa
perus&aan kontraktor untuk mendapatkan satu pemenang yang mampu
melaksanakan pekerjaan sesuai persyaratan yang ditentukan dengan harga
yang wajar dan dapat dipertanggungjawabkan baik dari segi mutu maupun
waktu pelaksanaannya.

B. 1.2.f.1. Jenis TenderIPelelangan


Berdasarkan kepemilikan dapat dibedakan atas:
a. Tender proyek pemerintah
b. Tender proyek-proyek swasta

B. 1.2.f.1.a. Tender proyek pemerintah


Berdasarkan Keputusan Presiden (Keppres) No. 18 Tahun 2000 tentang
Pedoman Pelaksanaan Pengadaan BahanIJasa Instansi Pemerintah, metode
pengadaan bahan dan jasa dapat dilakukan melalui:

Pelelangan, yaitu serangkaian kegiatan untuk menyediakan kebutuhan bahanl


jasa dengan cara menciptakan persaingan yang sehat di antara penyedia
bahanljasa yang setara dan memenuhi syarat, berdasarkan metode dan tata
cara tertentu yang telah ditetapkan dan diikuti oleh pihak-pihak yang
terkait secara taat asas sehingga terpilih penyedia jasa terbaik."
Pemilihan Langsung, yaitu apabila Pelelangan sulit dilaksanakan
Penunjukan Langsung, yaitu pengadaan bahanljasa yang penyedia bahanl
jasanya ditentukan oleh pemimpin proyek.

Ditinjau dari sumber pendanaannya, tender dapat dilaksanakan melalui:

1. International Competitive Bidding (ICB), atau Pelelangan yang melibatkan


kontraktor internasional, biasanya untuk proyek yang didanai dengan
pinjaman luar negeri (loan)
2. Local Competitive Bidding (LCB), atau pelelangan proyek-proyek yang
didanai dengan loan luar negeri tetapi hanya melibatkan kontraktor
lokal.
3. Pelelangan untuk proyek-proyek yang dibiayai dengan dana dari APBN,
APBD, maupun instansi-instansi BUMN

B. 1.2.f.1.b. Tender proyek-proyek swasta


Ketentuan tentang tender proyek milik swasta biasanya diatur sendiri oleh
masing-masing pemilik. Meskipun demikian, ketentuan tersebut tetap
mengacu pada standar kontrak tertentu, misalnya standar Internasional
seperti:

o FIDIC (Federation Internationale Des Ingenieurs Conseih)


o JCT Voint Contract Tribunal) dari RIBA (Royal Institute of British
Architect)
o Article and Conditions of Building Contract, diterbitkan oleh Singapore1
Hongkong Institute of Architect

Pada umumnya dilakukan dengan cara tender terbatas, dengan mengundang


beberapa kontraktor yang sudah dikenal. Perkembangan saat ini adalah
dalam memilih kontraktor yang diundang, pemilik (owner) terlebih dahulu
mengundang beberapa calon kontraktor untuk melakukan presentasi tentang
kemampuan mereka dalam melaksanakan proyek yang akan ditenderkan.
Dari hasil presentasi ini, kemudian owner menilai dan bagi yang lulus akan
diundang untuk mengikuti tender.

Berdasarkan cara pembukaan dokumen penawaran, tender dapat dibedakan


menjadi:
1. Tender terbuka, yaitu pembukaan dan pembacaan dokumen penawaran
dari peserta tender dilakukan di depan seluruh peserta, sehingga masing-
masing mengetahui harga penawaran pesaingnya.
2. Tender tertutup, di rnana dokurnen penawaran yang rnasuk tidak
dibacakA di depan seluruh peserta tender, bahkan kadang-kadang para
peserta tidak saling rnengetahui siapa pesaingnya.

B. 1.2.f.2.Jenis Kontrak dengan Tender Terbatas


Di sarnping jenis kontrak pelaksanaan biasa, ada beberapa sistem kontrak
proyek lairinya yang ditawarkan kepada kontraktor melalui tender terbatas,
antara lain:

1. Kontrak Rancang Bangun (kontrak Design and Build)


2. Kontrak Turnkey atau kontrak Contractor; Full Prejnancing
3. Kontrak Guaranteed Maximum Price (GMP)
4. Kontrak EPC (Engineering Procurement and Construction)

B. 1.2.f.2.1. Design and Build contract adalah sistern kontrak di rnana


perencanaan dan pelaksanaan diserahkan kepada kontraktor utama.
Pernilik proyek hanya rnenentukan persyaratan-persyaratan yang
diinginkan (Term of Reference), kernudian akan dikernbangkan dan dirinci
oleh kontraktor. Dalarn hal ini kontraktor boleh menunjuk konsultan
perencana yang lebih ahli, namun tanggung jawab sepenuhnya tetap
pada kontraktor. Biasanya tahap desain dan konstruksi dilakukan secara
overkipping, sehingga dapat rnernpercepat waktu pen~elesaianproyek.
Dalarn kondisi ini, sering kali kontraktor mengalami kesulitan dalam
rnenghitung harga penawaran secara akurat karena keterbatasan dokurnen.
Untuk itu perlu diperhitungkan biaya cadangan (contingency cost), yaitu
sejurnlah biaya yang disediakan untuk menyelesaikan segala pekerjaan
yang belurn terhitung dari dokurnen yang ada karena detail perencanaan
belurn dibuat.
Kontrak Design and Build ini dapat rnernperkecil risiko kesalahan
perhitungan harga karena keterlibatan kontraktor dalarn proses
perencanaan cukup kuat
Harga penawaran yang diusulkan meliputi:

Biaya desainlperencanaan: struktur, arsitektur, rnekanikal & struktur.


Biaya konstruksi.
Interest During Construction (IDC), bila sistern pembayarannya berupa
contractor$fullpr$n~ncing.
Sistem pembayaran kepada kontraktor dapat dilakukan dengan cara:

progres tertentu, misalnya setiap 20%.


progres bulanan.
con~actor$&llpr@nancin~, pemba~arandiakhir, setelah progres mencapai
100%.

1.2.f.2.2. Turnkey atau Contractor's FuL?Pr$nancing Contract, yaitu sistem


kontrak di mana kontraktor bertanggung jawab untuk membiayai seluruh
biaya yang diperlukan untuk menyelesaikan proyek. Pembayaran kepada
kontraktor dilakukan setelah bangunan diserahkan dan siap dioperasikan
oleh pemilik. Sebagai jaminan pembayaran, kepada kontraktor diberikan
surat jaminan Bank senilai biaya pembangunan, yang terdiri dari:

Biaya pra-desain
Biaya desain
Biaya konstruksi
Biaya bunga (Interest During ConstructionADC)

Surat Jaminan Bank ini bisa dicairkan oleh kontraktor apabila pemilik
gagal membayar pada waktu yang telah disepakati dan kewajiban kontraktor
sudah dipenuhi semuanya
Dalam kontrak Turnky ini, lingkup pekerjaan dapat meliputi peren-
Canaan dan pelaksanaan (Design and Build) ataupun pelaksanaan saja (Build
on@
Sebagai salah satu contoh kontrak Turnkey, dimana kontraktor
bertanggung jawab dalam perencanaan dan pelaksanaan (Design and Build),
adalah proyek pembangunan kembali Hotel Grand Bali Beach sebagai ber-
ikut:
Organisasi yang terlibat dalam proyek:

Pemilik
Konsultan Manajemen Konstruksi
Kontraktor Utama, membawahi:
- Konsultan Perencana Struktur
- Konsultan Perencana Arsitektur
- Konsultan Perencana Mekanikal & Elektrikal
- Konsultan Perencana Interior
- Sub Kontraktor spesialis
Lingkup pekerjaan Kontraktor Utama meliputi:
Perencanaan
Pelaksanaan pekerjaan struktur, arsitektur, rnekanikakelektrikal, inte-
rior, landrcape
Pengadaan bahan-bahan perlengkapan hotel (Furniture Furnish and Equip-
ment) seperti:
- Furniture
- Fixtures di kamar hotel (lukisan, lampu, asbak, dll.)
- Peralatan kitchen
- Peralatan laundry
- Linen
- Seragarn karyawan

Pembayaran kepada kontraktor utama dilaksanakan setelah proyek di-


serahkan kepada pemilik dan siap dioperasikan.
Belajar dari pengalaman pelaksanaan proyek dapat dicatat bahwa pe-
ranan dan kemampuan kontraktor utama dalam memimpin serta meng-
koordinasikan berbagai kegiatan yang berlangsung secara overlapping me-
rupakan kunci keberhasilan proyek.

B. 1.2.f.2.3. Guaranteed Maximum Price Contract ( G M P )


Terjemahan bebas Guaranteed Maximum Price Contract adalah kontrak
antara pemilik proyek dengan kontraktor, yang diikat oleh suatu harga
maksimum tertentu untuk menyelesaikan seluruh lingkup pekerjaan yang
dipersyaratkan oleh pemilik proyek. Menurut literatur yang diterbitkan
oleh The University of New South Wales, Building Contract Administration,
Guaranteed Maximum Price bukan merupakan tipe kontrak khusus
melainkan hanya dipergunakan oleh beberapa perusahaan yang ingin
menawarkan kondisi kontrak tersebut. Dalam prakteknya, Guaranteed
Maximum Price jarang diterapkan.

B. 1.2.f.2.4.Engineering Procurement and Construction Contract (EPC)


Kontrak EPC juga sering disebut sebagai kontrak EPCC. Kontrak EPCC
adalah sistem kontrak yang mencakup lingkup tanggung jawab Engineering
(Perekayasaan), Procurement (Pengadaan), Construction (Konstruksi) dan
Commissioning (Uji-coba operasi), sampai menghasilkan sistem yang mampu
berproduksi, misalnya pada proyek pembangunan pabrik.
Kontrak EPC atau EPCC mensyaratkan kontraktor untuk menyelesaikan
proyek dengan lingkup pekerjaan sebagai berikut:

Perekayasaan awal (basic engineering) mencakup perencanaan struktur,


arsitektur, proses, listrik, instrumentasi, peralatan statis, peralatan mesin
berputar (rotating machines), perpipaan.
Perekayasaan rinci (detail engineering) dengan disiplin perekayasaan seperti
d I atas.
'

Pengadaan luar negeri (foreign procurement), untuk mesin-mesin yang tidak


diproduksi di dalam negeri, misalnya rotating machines, heavy wall vesseh,
distributed control system, dll.
Pengadaan dalam negeri (local procurement) pada umumnya mencakup
pengadaan material yang tersedia atau difabrikasi di dalam negeri, seperti
material dam, material untuk pekerjaan struktur dan arsitektur, listrik,
peralatan statis, instrumentasi, dan perpipaan.
Pekerjaan konstruksi, mulai dari fondasi, struktur bangunan, instalasi listrik
dan instrumentasi sampai pemasangan peralatan dan permesinan.
Pekerjaan pra-operasi (pre-commissioning) yang mencakup pengujian dan
pembersihan peralatan-peralatan pabrik menggunakan utilitas air dan udara.
Pekerjaan uji-coba operasi (commissioning)menggunakan bahan baku yang
sebenarnya untuk memproduksi produk sesuai persyaratan kontrak.
Pekerjaan uji unjuk-kerja (peformanct test), untuk menguji apakah seluruh
peralatan dapat dioperasikan dalam memproduksi produk yang disyaratkan
dengan menerima bahan baku yang sesuai spesifikasi kontrak.

Berkaitan dengan organisasi pelaksanaan, pada umumnya kontraktor yang


melaksanakan kontrak EPC atau EPCC pada pembangunan pabrik industri,
perlu bekerja sama dengan partner pemilik teknologillisensi proses (process
licensor). Process licensor memberikan jaminan kinerja proses dan mensyaratkan
peralatan-peralatan yang sifatnya spesifik (propriatery items) untuk dipakai
dalam pabrik yang akan dibangun.
Untuk pembangunan pabrik-pabrik industri di dalam negeri, para kontraktor
nasional umumnya bekerja sama dengan kontraktor-kontraktor asing yang
membawa process licensor dari luar negeri. Namun saat ini, sudah ada per-
kembangan yang pesat pada kontraktor EPC nasional.
Jenis kerja sama antara kontraktor nasional dan pembawa tekpologi (process
licensor) dapat berupa:
a. Subcontracting
b. Consortium
c. Process licensing

Masing-masing umumnya dibedakan berdasarkan pada nilai lingkup kerja


dan risiko yang harus ditanggung oleh pihak-pihak yang bekerja sama.
Sistem pemilihan kontraktor EPC dapat dilakukan melalui proses tender
atau proses pendanaan yang digabung dengan pelaksanaan.
Untuk proses tender, pada umumnya pemilik proyek akan menyusun
tender dokumen yang mencakup spesifikasi teknis berikut persyaratan-
persyaratan komersial yang mencakup draft kontrak, termin pembayaran dan
persyaratan-persyaratan waktu. Spesifikasi teknis ada 2 (dua) tipe, yaitu yang
sifatnya umum dan rinci. Tipe yang rinci merupakan dokumen teknis tender
hasil output pelaksanaan FEED (Front End Engineering Design). Spesifikasi
teknis hasil FEED umumnya sudah cukup rinci bagi kontraktor untuk
membuat penawaran harga. Pada tipe ini, kemungkinan kontraktor untuk
melakukan kegiatan value engineering relatif kecil. Tipe tender-tender seperti
ini sering terjadi di proyek-proyek kilang LNG maupun kilang minyak skala
besar.
Namun tidak semua pemilik proyek mempunyai waktu ataupun dana
untuk melaksanakan FEED. Dengan demikian, pemilik proyek hanya
menyiapkan spesifikasi tender yang sifatnya umum. Dokumen tender seperti
ini memberikan kesempatan kepada kontraktor untuk menawarkan harga
yang mempertimbangkan adanya kegiatan value engineering. Harga hasil tender
proyek dengan spesifikasi umum biasanya sangat bervariasi.
Para kontraktor dengan mengacu pada dokumen tender baik tender yang
umum ataupun rinci melakukan penyusunan penawaran harga untuk diberikan
ke pemilik proyek. Penawaran harga disusun melalui estimasi dengan meng-
gunakan data historis (database) atau meminta penawaran dari vendorlsupplier
atau subkontraktor. Kegiatan penyusunan proposal mirip dengan eksekusi
proyek tanpa kegiatan konstruksi.
Biaya-biaya yang diperhitungkan dalam harga penawaran meliputi:
Biaya jasa
Biaya jasa pengelolaan proyek (project management)
Biaya jasa Perekayasaan (engineering)
Biaya jasa Pengadaan (procurement) termasuk biaya jasa inspeksi
Biaya jasa Manajemen konstruksi (construction management)
Biaya jasa uji-coba operasi
Biaya peralatan dan material termasuk spare part bila diperlukan oleh
pemilik proyek
Biaya konstruksi
Biaya asuransi, cost of money, pajak-pajak, dll.

Pada pelaksanaan proyek EPC, pemilik proyek dapat menunjuk tenaga


PMC (Project Management Consultant) yang bertindak dan atas nama pemilik
proyek atau menjadi counterpart contractor langsung. Pemilik proyek yang
sudah berpengalaman pada umumnya langsung menjadi counterpart contrac-
tor. Mereka tidak menyewa jasa pihak ketiga untuk kegiatan PMC.
Counterpart contractor inilah yang melaksanakan document review dan
approval terhadap semua produk kontraktor, serta memeriksa progress kontraktor
sebagai dasar persetujuan pembayaran (termin). Untuk jasa inspeksi peralatan
maupun konstruksi, pemilik proyek bisa juga menunjuk .Yd party inspector
yang banyak tersedia di dalam negeri. Para inspector ini akan menceck dan
memverifikasi peralatan, material serta hasil pelaksanaan pekerjaan kon-
struksi.
Proyek EPC umumnya dibayar sesuai dengan kemajuan pekerjaan. Sistem
yang digunakan adalah sistem Earned value. Sistem ini mengkonversi seluruh
p r o p s pekerjaan ke nilai uang ataupun ke nilai jam-kerja (manhour). Sebagai
contoh untuk memproduksi gambar-gambar sipil bisa dikonversi ke nilai
rupiah pekerjaan atau nilai jam-kerjanya. Demikian pula halnya dengan
pabrikasi peralatan ataupun pekerjaan konstruksi. Berdasarkan sitem earned
value tersebut, setiap pekerjaan dapat dihitung progress-nya setiap bulan dari
hasil yang diperoleh pada bulan yang sedang berjalan.
Berdasarkan kesepakatan pada perhitungan progress yang disepakati sejak
proyek dimulai, maka kontraktor berhak mengajukan earn value progress se-
tiap bulan untuk mendapatkan persetujuan pemilik proyek. Berdasarkan
kesepakatan progress tersebut, maka kontraktor mendapat persentase pembayaran
progress setiap bulannya.
Proyek EPC umumnya diserahkan dalam 3 (tiga) tahap, yaitu tahap Me-
chanical completion (penyelesaian mekanis), tahap Plant completion
(penyelesaian pabrik secara keseluruhan) dan tahap Final acceptance (selesainya
masa warranty selama umumnya 12 bulan).

1. Tahap mechanical completion


Adalah tahap selesainya pabrik dari seluruh kegiatan konstruksi. Mechanical
completion bisa dibagi dalam 2 (dua) tahap lagi, yaitu tahap penyelesaian
"dingin7' atau tahap penyelesaian "panas". Tahap dingin digunakan sebagai
referensi bila pabrik yang diserahkan tidak harus diuji-coba dulu dengan
steam. Untuk tahap panas, pabrik harus diuji-coba dengan steam.
Penyelesaian mechanical completion biasanya dilakukan unit per unit. Tahapan
penyelesaian ini tidak dilakukan sekaligus, karena untuk memberikan
kesempatan transisi dari organisasi konstruksi ke organisasi uji-coba operasi.
Pada saat transisi ini sering terjadi kecelakaan dan salah pengoperasian.
Setelah tahap mechanical completion, para pemilik proyek biasanya me-
nempatkan operator-operator pabriknya untuk mengoperasikan pabrik yang
baru selesai dikonstruksi. Operator-operator tersebut tidak boleh mengambil
inisiatif pengoperasian, karena masih di bawah komando dan supervisi
kontraktor dan pemilik lisensi teknologi.

2. Tahap Plant Completion


Adalah tahap selesainya tes unjuk-kerja (performance test) operasi dari
pabrik yang telah dibangun. Pada umumnya para pengoperasi pabrik akan
mengikuti instruksi pengoperasian dari pemilik lisensi teknologi proses
selarna tes unjuk-kerja. Unjuk kerja ini biasanya dilakukan dalam suatu
waktu yang berkesinambungan, misalnya 7 hari berturut-turut atau 15
hari berturut-turut. Selama tentang waktu tersebut, pabrik harus mem-
produksi sejumlah kuantitas produk berikut kualitas yang sesuai dengan
dokumentasi kontrak.
Setelah selesainya tes unjuk-kerja, pabrik dapat diserah-terimakan ke
pihak pemilik. Pada saat transisi ini, asuransi pabrik berpindah tangan dari
kontraktor ke pemilik proyek: Dengan ini, kepemilikan pabrik beserta
risiko-risikonya pindah ke pemilik proyek.

3. Tahap Final Acceptance


Sejak saat pabrik diserahkan ke pemilik, kontraktor EPC hanya akan
menempatkan satu orang atau beberapa orang perwakilan di pabrik
yang selesai dibangun. Perwakilan kontraktor tersebut akan mengawasi
dan memonitor peralatan-peralatan dan material yang dipasoknya. Bila
ada kerusakan yang diakibatkan oleh pemasok, maka kontraktor akan
menjembatani perbaikan atau penggantian alatlmaterial tersebut. Kon-
traktor akan menghubungi pemasok peralatan dan material orisinal un-
tuk melakukan claim selama masa warranty peralatan dan material tersebut.
Pada umumnya masa warranty ini berlaku sekitar 12 bulan. Namun ada
juga pemilik proyek yang menerapkan sistem "evergreen", yaitu bila ada
kerusakan maka warranty-nya diperpanjang lagi selama 12 bulan.
Perlu disampaikan bahwa warranty biasanya tidak mencakup "normal
wear & tear", artinya penggantian seal atau gasket, dan lain-lain yang
sifatnya mudah aus, tidak bisa diberi garansi. Setelah masa warranty selesai
maka owner akan memberikan sertifikat final acceptance dan melepaskan
seluruh jaminan.
Berdasarkan catatan dari perusahaan yang telah memiliki banyak
pengalaman di bidang kontrak EPC, terdapat beberapa kesalahan spesifik
yang mungkin dilakukan oleh kontraktor EPC, misalnya:

Menggunakan teknologi yang belum terbukti.


Tidak menguasai partner pemasok teknologi ataupun partner kontraktor
asingnya.
Tidak disiplin dalam mengikuti spesifikasi pemilik teknologi.
Salah membeli peralatan & material karena berusaha menekan biaya.
Salah memilih atau menunjuk subcontractor/supplier dengan menunjuk
fabrikator, baik mungkin karena sedang sibuk atau karena menunjuk
fabrikator yang jelek.
Tidak menguasai eksekusi proyek dengan multi-disiplin yang berjalan
secara simultan dan masing-masing cukup dominan.

B. 1.2.f.3. Dokumen Tender


Berdasarkan standar nasional dokumen tender meliputi:
1 Undangan lelang
2 Petunjuk kepada peserta lelang
3 Formulir penawaran
4. Syarat-syarat umum dan khusus yang akan diterapkan dalam per-
janjian
5. Spesifikasi teknik
6. Garnbar tender
7. Daftar item dan volume pekerjaan
8. Addendum

Berdasarkan standar internasional pada umumnya dokumen tender terdiri


dari:
1. Instruksi kepada peserta tender (notice to bidders)
2. Persyaratan tender (condition of tendering)
3. Form surat penawaran (form of tender)
4. Kondisi kontrak (general condition of contract)
5. Spesifikasi teknik (technical specification)
6. Gambar tender (tender drawing)
7. Dafiar item dan volume pekerjaan (bill of quantities)
8. Addendum, yaitu segala tambahan dokumen yang bersifat mengubah
dan atau melengkapi dokumen tender.

B. 1.2.f.4. Kegiatan Tender


Untuk memberi gambaran yang lengkap tentang kegiatan tender, berikut
ini akan diuraikan tentang kegiatan tender proyek pemerintah, sesuai
Keppres No. 18 Tahun 2000:

a. Prakualifikasi
b. Undangan tender
c. Rapat penjelasan
d. Peninjauan lapangan
e. Pemasukan penawaran
E kmbukaan penawaran
g. Evaluasi tender & klarifikasi
h. Penetapan calon pemenang
i. Masa sanggah
j. Surat penunjukan pemenang
k. SPK (Surat Perintah Kerja)
1. Kontrak

B. 1.2.f.4.a. Prakualifikasi
Kegiatan prakualifikasi ini diadakan untuk menyeleksi peserta pelelangan
yang memenuhi persyaratan bagi proyek yang akan ditenderkan.
Pengumuman tentang diadakannya prakualifikasi ini biasanya dimuat
di media c e t d yang memiliki jangkauan distribusi luas serta oplah
penjualan besar. Bagi perusahaan yang mendafiar prakualifikasi akan
mendapatkan dokumen untuk diisi.
Sebagai salah satu contoh adalah prakualifikasi proyek pemerintah
yang didanai pinjaman luar negeri (loan), dan ditenderkan dengan cara
Local Competitive Bidding (LCB) dengan persyaratan pengisian data
sebagai berikut:
Data perusahaan meliputi:
- Nama perusahaan
, - Alamat, telepon, faksimile, e-mail
- Pendirian perusahaan
- Susunan direksi
- Jumlah karyawan tetap (manajer, staf teknik, staf administrasi)

Kinerja dalam proyek yang sama termasuk referensi terdahulu,


mencakup:
- Jenis proyek
- Pemilik proyek
- Nama proyek dan lokasi
- Tahun pelaksanaan
- Posisi dalam kontrak proyek tersebut (sebagai kontraktor utama
atau sub kontraktor)
- Nilai kontrak (Rupiah atau equivalent rupiah)

D&ar pengalaman proyek pada lima tahun terakhir dilengkapi


dengan personil yang menangani.

Sumber Daya Manusia yang direncanakan menangani proyek di-


lengkapi
- Struktur organisasi proyek
- Nama personil, posisi, umur, pengalaman kerja

Kemampuan penyediaan peralatan:


- Tipe alat
- Jumlah
- Kapasitas operasi
- Tahun pembuatan alat
- Status kepemilikan

Kemampuan keuangan:
- Balance sheet (neraca) tiga tahun terakhir
- Current asset pada enam bulan terakhir
- Cert@cate of time deposit selama enam bulan terakhir
- Credit line cert$cate
- Letter of guarantee (surat jarninan bank yang memberi dukungan
khusus untuk proyek yang akan ditenderkan)
Berdasarkan data-data prakualifikasi yang masuk, panitia kemudian
melakukan penilaian kriteria-kriteria penilaian tertentu sehingga dapat
ditetapkan perusahaan yang lulus maupun yang gagal.

Untuk kontraktor besar dan berpengalaman tingkat kegagalan pra-


kualifikasi ini cukup kecil. Sebagai gambaran, jumlah prakualifikasi
yang diikuti setiap tahun rata-rata sebanyak 150 buah dengan jumlah
kegagalan sekitar 3 sampai 4.
Penyebab kegagalan tersebut biasanya adalah:
Tidak dimilikinya pengalaman proyek sejenis.
Jumlah pengalaman kerja manajer proyek yang diusulkan kurang
memenuhi.
Kemampuan keuangan yang tidak memenuhi persyaratan.

B. 1.2.f.4.b. Undangan Tender


Semua peserta lelang yang telah lulus prakualifikasi menerima undangan
untuk mengikuti pelelangan dan berhak mengambil dokumen tender
dari Panitia Pelelangan. Peserta lelang yang diundang ini tercatat dalam
sebuah Daftar Calon Peserta Lelang yang disahkan oleh Panitia.
Jumlah peserta lelang tidak boleh kurang dari 3 (tiga) peserta. Apabila
ternyata kurang dari 3 (tiga) maka pelelangan tidak dapat dilanjutkan
dan harus mengundang calon peserta lelang lainnya untuk mengikuti
pelelangan. Daftar Calon Peserta Lelang harus diulang kembali.
Apabila tidak diperoleh 3 (tiga) calon peserta lelang, maka Panitia dapat
mengusulkan kepada Pengguna Jasa untuk melakukan proses Pemilihan
Langsung dengan negosiasi atau penunjukan langsung apabila hanya
terdapat satu calon peserta lelang.

B. 1.2.f.4.c. Rapat Penjelasan (Prebid Meeting)


Acara rapat penjelasan ini merupakan kesempatan yang sangat berharga
dan harus dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh peserta tender, terutama untuk
mempertanyakan tentang ketentuan dalam dokumen tender yang kurang
jelas, dan yang dirasa memberatkan. Hasil rapat ini akan didokumentasikan
menjadi risalah rapat (Minutes of Prebid Meetind yang akan bersifat mengikat
serta menjadi satu kesatuan dengan Surat Perjanjian Pemborongan (Kontrak),
apabila peserta ditunjuk sebagai pemenang tender.

B. 1.2.f.4.d. Peninjauan Lapangan (Site Visit)


Peninjauan untuk menyelidiki kondisi lapangan. Hasil tinjauan akan
dijadikan dasar pembuatan metode pelaksanaan pekerjaan (construction
method) untuk menyusun harga penawaran yang benar.
Hal-hal yang perlu ditinjau antara lain sebagaimana contoh check list
berikut.
Check list untuk Pelaksana Survei Lapangan
Narna Proyek : A
Tgl survey : 1 Agustus 2002
Dilaksanakan oleh : Budi

No Uraian Keterangan
I Mempersiapkan peralatan dokumentasi V
seperti kamera, handycam, spesifikasi,
catatan
I1 Melaksanakan pengamatan di lapangan:
1. Luas tempat kerja, apakah:
- tersebar luas
- satu tempat
- sempit
- luas V dikelilingi bangunan
2. Jenis tanah:
- tanah berbatu
- tanah liat
- rawa-rawa V Sedalam +I- 1 m
I11 Melakukan pengamatan transportasi
tenaga kerja:
- menggunakan kendaraan darat
- menggunakan perahu sungai

IV Melakukan pengarnatan ketersediaan


tenaga kerja setempat:
- ada dalam jumlah besar (> 100 orang)
- ada dalam jumlah kecil (< 100 orang)
- tidak ada
V Melakukan pengamatan ketersediaan
peralatan setempat
VI Membuat dokumentasi lapangan
VII Membuat laporan hasil survei
B. 1.2.f.4.e. Pemasukan Penawaran
Untuk membuat penawaran, kegiatan-kegiatan yang perlu dilakukan adalah:

1. Perhitungan volume (quantity taking 08


2. Perencanaan metode pelaksanaan (Construction method)
3. Perhitungan biaya langsung (direct cost)
4. Perhitungan biaya tak langsung (Indirect cost)
5. Manajemen risiko (risk management)
6. Perhitungan harga penawaran (Tender price)
7. Penyiapan dokumen-dokumen sebagai lampiran penawaran

B. 1.2.f.4.e.1. Perhitungan volume (quantity taking ofl


Format dafiar volume biasanya telah ditetapkan oleh pemberi tugas berupa
Dafiar Jenis dan Volume pekerjaan (Bill of Quantity), yang memuat jenis
pekerjaan dan volumenya, at'au dalarn bentuk Daftar Jenis pekerjaan (Bill
of Item) yang hanya berisi daftar jenis pekerjaan tanpa volume.
Ada dua kondisi kontrak yang perlu diperhatikan berkaitan dengan
perhitungan volume ini, yaitu:

a. Kontrak harga pasti (lump sum contract)


Ini merupakan kontrak yang paling sederhana, di mana kontraktor
bertanggung jawab penuh untuk melaksanakan seluruh pekerjaan sesuai
dengan gambar tender serta tertulis dalam spesifikasi dengan harga yang
pasti, volume yang tercantum dalam bill of quantity (bila ada) hanya
sebagai acuan yang tidak mengikat. Dalam kondisi kontrak seperti ini,
kegiatan perhitungan volume menjadi sangat penting, karena kesalahan
perhitungan volume akan merupakan risiko yang harus ditanggung
kontraktor. Untuk mengurangi kesalahan perhitungan volume, pada
saat ini sudah banyak tersedia program komputer (software), antara lain
roll up digitizer yang diintegrasikan dengan program WinEst untuk
menyelesaikan sampai perhitungan harga satuan yang secara otomatis
masuk ke dalam format bill of quantity.

b. Kontrak harga satuan (unit price contract)


Dalam kondisi kontrak harga satuan (unit price contract), kontraktor
hanya wajib mengisi harga satuan pekerjaan untuk setiap item yang
telah disediakan volumenya. Pembayaran kepada kontraktor akan
didasarkan pada realisasi volume pekerjaan yang dilaksanakan, tidak ada
risiko kesalahan volume yang harus diperhitungkan.
B. 1.2.f.4.e.2. Perencanaan metode pelaksanaan (construction method)
Data-data yang diperlukan untuk menyusun metode pelaksanaan antara
lain:
Gambar tender
Hasil survei lapangan
Referensi pengalaman pekerjaan sejenis

Penyusunan metode pelaksanaan ini perlu melibatkan personil yang


berpengalaman dalam pekerjaan sejenis serta sub kontraktor spesialis apabila
terdapat pekerjaan-pekerjaan khusus, misalnya mekanikallelektrikal.

B. 1.2.f.4.e.3. Perhitungan biaya langsung (direct cost)


Data-data yang diperlukan dalam perhitungan biaya langsung untuk setiap
satuan pekerjaan adalah:
harga material
harga upah
harga pekerjaan khusus, yang didapat dari penawaran sub kontraktor
biaya operasi peralatan
metode pelaksanaan

Data tersebut kemudian dimasukkan dalam analisa harga satuan, yang


dapat berupa analisis standar atau analisis yang dibuat berdasarkan metode
pelaksanaan yang direncanakan. Contoh analisis harga satuan adalah seperti
yang tersaji pada Lampiran E. 1.

B. 1.2.f.4.e.4. Perhitungan biaya tak langsung (indirect cost)


Biaya tak langsung adalah segala biaya yang diperlukan untuk mendukung
penyelesaian pekerjaan, yang terdiri dari komponen-komponen:
1. Biaya pekerjaan persiapan
2. Biaya lapangan (site expenses), terdiri dari:
+ biaya gaji pegawai
* biaya perlengkapan kantor direksi
+ biaya perlengkapan kantor kontraktor
+ biaya perlengkapan camp karyawan
+ biaya perlengkapan rumah tangga
+ biaya umum kantor lapangan
3. Biaya peralatan umum dan kendaraan
4. Biaya asuransi, yang termasuk dalam tanggung jawab kontraktor biasanya
adalah:
- construction all risk (CAR) untuk mencakup risiko bencanal
kecelakaan yang menimpa proyek selama periode pelaksanaan. CAR
untuk proyek di darat berkisar 0,15 - 0,2 % dari nilai kontrak,
sedangkan proyek di laut sebesar 0,2 - 0,3 %.
- third party liabilities untuk mencakup risiko bencanalkecelakaan
yang menimpa pihak ketiga di luar proyek, dan besarnya pertang-
gungan biasanya ditentukan oleh pemilik proyek, misalnya seratus
juta rupiah setiap satu kali kejadian, sehingga dapat dihitung biaya
preminya.
- asuransi tenaga kerja (ASTEK) sesuai undang-undang ketenaga-
kerjaan adalah sebagai jaminan apabila terjadi kecelakaan yang
menimpa tenaga kerja, dengan biaya sebesar 0,2 persen dari nilai
kontrak
5. Biaya provisi bank, yaitu segala biaya yang diperlukan untuk menerbitkan
surat jaminan bank, berupa:
Jarninan Tender, adalah surat yang dikeluarkan oleh bank atau lembaga
keuangan lain untuk menjamin apabila peserta tender menarik diri
sebelum batas waktu berlakunya penawaran. Biasanya jaminan tender
ini sebesar 1% - 3% dari harga penawaran.
Jaminan pelaksanaan, yaitu surat yang dikeluarkan oleh Bank atau
Lembaga Keuangan lain, untuk menjamin apabila kontraktor tidak
mampu menyelesaikan pekerjaan atau tidak memenuhi kewajibannya
selama masa pelaksanaan. Besarnya jaminan pelaksanaan pada umumnya
adalah 5 persen atau 10 persen dari Nilai Kontrak
Jaminan uang muka, sebagai jaminan atas uang muka yang dibayarkan
kepada kontraktor. Nilai Jaminan uang muka ini sama dengan nilai
uang muka yang dibayarkan
Jaminan masa pemeliharaan, sebagai jarninan atas pemeliharaan, setelah
serah terima pertama proyek. Besarnya jaminan pemeliharaan pada
umumnya 5 persen dari Nilai Kontrak
6. Biaya bunga, dihitung berdasarkan hasil simulasi cashflow sesuai dengan
cara pembayaran (term ofpayment), di mana apabila terjadi kondisi cash
flow negatif atau cash out lebih besar daripada cash in maka akan timbul
biaya bunga.

B. 1.2.f.4.e.5. Manajemen risiko (risk management)


Risiko dapat didefinisikan sebagai sesuatu atau peluang yang kemungkinan
terjadi dan berdampak pada pencapaian sasaran.
Manajemen risiko adalah prosedur atau sistem yang ditujukan untuk
mengelola secara efektif suatu potential opportunities dan efeknya. Besarnya
risiko dapat dihitung dari hasil perkalian antara dampaklakibat yang terjadi
dan tingkat kemungkinan terjadinya.
Proses manajemen risiko menurut standart Australia: ASINZS 4360: 1999,
terdiri dari tahapan berikut:

1. Penetapan konteks
2. Identifikasi risiko
3. Analisis risiko
4. Evaluasi risiko
5. Pengobatan risiko (risk treatment)
Kegunaan manajemen risiko dalam tahap proses tender antara lain:
Mengidentifikasi risiko yang mungkin dapat terjadi dengan mengacu
kepada pengalaman-pengalaman sebelumnya.
Membuat rencana penanggulangan apabila risiko yang diidentifikasi
tersebut benar-benar terjadi
Menghitung efek biaya yang perlu dimasukkan dalam harga tender
Memberikan petunjuk (guidance) kepada tim proyek yang akan melak-
sanakan tugasnya untuk membuat perencanaan terhadap penanggulangan
risiko.
Contoh format manajemen risiko dapat dibuat sebagai berikut:

Identifikasi Perlu Strategi Dihitung d a m Biayatfaaor


risiko dikendalikan penangulangan harga tender Rp/%
Yaltidak Yaltidak

Kesalahan Ya Menghitung Ya 1% dari real cost


perhitungan faktor risiko
Kenaikan harga Ya Menghitung Ya 0.5 % dari jumlah
eskalasi harga biaya bahan
Keterlarnbatan Ya Merencancanakan Tidak 0
waktu dan mengendalikan
pelaksanaan lintasan kritis
Keterlambatan Ya Menghitung biaya Ya 0.4%
cash in bunga
Merencanakan dan Tidak
mengendalikan
cash flow
Penyediaan tenaga Ya Direncanakan jurnlah Ya Biaya transportasi
kerja dalam dan sumber pendatangan dan akomodasi
jumlah besar
B. 1.2.f.4.e.G. Finalisasi harga penawaran (Rencana Anggaran BiayaIRAB)
Besarnya harga penawaran dihitung sebagai berikut:

Biaya langsung ..................................................RP


Biaya tak langsung
a) Biaya persiapan ..................................................R~
b) Biaya lapangan (site expenses) ................................RP
C) Biaya peralatan & kendaraan .................................. RP
d) Biaya asuransi ..................................................RP
e) Biaya provisi bank .................................................. RP
Risiko-risiko hasil manajemen risiko ................................RP
Jumlah .......................................RP
A

Biaya overhead kantor pusat .....%..x A ............................RP


Keuntungan ......%.. .x A ............................................RP
..................................................
Sub total ..................................................RP
Pajak-pajak (PPh & PPN) ...............................................RP

Tota1

B. 1.2.f.4.e.7. Penyiapan dokumen-dokumen sebagai larnpiran penawaran


Dokumen penawaran biasanya terdiri dari dua bagian:

Bagian I:
Proposal biaya (costproposal)
1. Surat Penawaran (form of tender)
2. Perincian harga (priced bill of quantity)
3. Dafiar harga satuan bahan
4. Daftar harga satuan upah
5. Analisa harga satuan (breakdown of unitprice)
6. Jaminan tender (tender bond)

Bagian 11:
Proposal teknik (technicalproposal)
a) Metode pelaksanaan (construction method)
b) Jadwal waktu pelaksanaan (time schedule)
C) Jadwal tenaga kerja (manpower schedule)
d) Jadwal alat (equipment schedule)
e) Jadwal bahan (material schedule)
f) Organisasi proyek dan personil (project organization and nominated
personnel)
g) Daftar nama sub kontraktor yang diusulkan (list ofproposed sub contrac-
tors)

B. 1.2.f.4.f. Pembukaan dokumen penawaran


Pada waktu yang telah ditentukan, panitia dihadapan para peserta tender
menyatakan bahwa saat penyampaian dokumen penawaran telah ditutup,
kemudian dilanjutkan dengan pembukaan dan pembacaan penawaran yang
masuk, sesuai sistem yang ditetapkan

B. 1.2.f.4.g. Evaluasi tender dan klarifikasi


Untuk memberikan tambahan penjelasan tentang penawaran yang
disampaikan biasailya dilakukan pertemuan dengan beberapa peserta ten-
der secara bergantian untuk menjelaskan hal-hal yang dipertanyakan oleh
panitia. Berdasarkan hasil klarifikasi ini, kemudian panitia membuat evaluasi
untuk menetapkan pemenang tender.

B.1.2.f.4.h. Penetapan calon pemenang (letter of intent)


Keputusan mengenai calon pemenang tender diambil oleh panitia dalam
suatu rapat. Hasilnya selanjutnya akan diumumkan kepada seluruh peserta
tender.

B.1.2.f.4.i. Masa sanggah


Dalam hal tender proyek pemerintah, setelah diumumkannya calon peme-
nang tender, peserta tender yang tidak menang berhak mengajukan kebe-
ratan sampai dengan batas masa sanggah, misalnya selambat-lambatnya
empat hari setelah pengumuman.

B. 1.2.f.4.j. Surat penunjukan pemenang (letter of award)


Setelah tidak ada keberatan dari peserta tender, biasanya pemilik proyek
mengeluarkankan surat keputusan pemenang.

B.1.2.f.4.k Surat perintah kerja (SPKINotice to Proceed)


- Surat perintah kerja diterbitkan oleh pemimpin proyek kepada kontraktor
untuk memulai pekerjaan persiapan. Biasanya dalam kurun waktu tertentu
(misalnya tujuh hari) setelah diterbitkannya SPK, kontraktor wajib
melakukan kegiatan di lapangan yang dapat berupa persiapan lahan kerja,
pemagaran, pembuatan kantor sementara, dan sebagainya. Untuk kontrak
dengan standar internasional, Notice to Proceed biasanya diterbitkan setelah
perjanjian pemborongan ditandatangani, sedangkan untuk kontrak dengan
standar nasional, SPK diterbitkan sebelum perjanjian pemborongan ditanda-
tangani

B. 1.2.f.4.1.Kontrak (perjanjian pemborongan)


Pembuatan kontrak biasanya dilakukan melalui proses negosiasi untuk
membahas secara detail tentang pasal-pasal kontrak guna menghasilkan kondisi
yang dapat diterima oleh kedua belah pihak.

B.1.2.f.5. Tim tender


Dalam. pelaksanaan kegiatan tender diperlukan keterlibatan personil yang
berasal dari berbagai disiplin yang akan bekerja sesuai batas waktu yang
terbatas. Untuk itu diperlukan Tim Tender pada setiap proses tender, dengan
susunan ketua dan anggota, dan menetapkan tugas dan tanggung jawab
masing-masing

B. 1.2.f.6. Tinjauan kontrak (contract review)


Contract Review diperlukan oleh kontraktor untuk menilai kemampuan
perusahaan untuk memenuhi persyaratan yang ditetapkan pemberi tugas (cus-
tomer requirement).
Adapun hal-hal yang ditinjau dapat meliputi:
Persyaratan administrasi:
o Kondisi pemberi tugas
o Perkiraan sumber dana
o Perkiraan nilai kontrak
o Cara pembayaran
o Denda keterlambatan penyelesaian pekerjaan
o Denda keterlambatan pembayaran oleh pemberi tugas
o Pasal-pasal kontrak yang memberatkan kontraktor
o Peserta tender yang menjadi pesaing
Persyaratan teknik:
o Pengalaman perusahaan terutama untuk pekerjaan sejenis
o Spesifikasi material yang harus diadakan
o Peralatan konscruksi yang dibutuhkan
o Waktu pelaksanaan konstxuksi
o Kualifikasi personil sesuai persyaratan
o Kondisi lingkungan di sekitar l o k i proyek

Dad hasil conpact review ini, kemudian rnanajemen memutuskan apakah


akan mengikuti tender atau tidak. Apabila tidak ikut maka kontraktor wajib
mengirim surat kepada pemilik proyek.
Untuk memberi garnbaran tentang contract review, dapat disampaikan contoh
pada bagian Lampiran E.6.

B. 1.2.f.7. Tingkat keberhasilan tender


Kebanyakan kontraktor tidak rnarnpu mempredii hasil tender yang diikutinya.
Mekipun ~ e l u a nuntuk
~ menang selalu ada, namun karena jumlah kontraktor
cukup banyak, m& tingkat kompetisinya sangat tinggi. Sebagai ilustrasi,
untuk tahun 2000 dan 2001 rata-rata kemenangan kontraktor besar dengan
perolehan pemasaram di atas sacu trilyun rupiah per tahun dapat digambarkan
seperti pada tabel berikuc

Tahun Tender yang diikuti Menang Kalah

2000 226 kali 61 kali (27%) 165 kali (73%)


200 1 228 kali 49kali(21%) 179kali(79%)

diikuti

111 Menang

Kalah
Sebab-sebab kekalahan tender, berdasarkan pengalaman, antara lain disebabkan
oleh:
Kesalahan perhitungan volume
Kurang teliti dalam melakukan survei lapangan.
Tidak tepat mengalokasikan biaya risiko.
Belum memperhitungkan peluang-peluang yang dapat mendatangkan
keuntungan dalam masa pelaksanaan, misalnya eskalasi harga, klaim terhadap
perbedaan kondisi antara dokumen tender dan kenyataan lapangan.
Bersaing dengan peserta tender yang ukuran perusahaannya sangat berbeda.
Strategi pesaing dalam menawarkan dengan harga yang tidak mungkin
diikuti oleh peserta tender yang lain (misalnya memilik alat yang idle,
memiliki persediaan bahan-bahan dengan harga yang jauh lebih murah,
dsb).

B. 1.3. Administrasi Kontrak


Ada beberapa hal yang perlu diketahui dan dikuasai berkaitan dengan kontrak
dalam usaha bidang kontraktor, antara lain:
a. Pengertian kontrak
b. Pentingnya administrasi kontrak
c. Pasal-pasal penting dalam Kontrak
d. Istilah-istilah yang sering muncul dalam kontrak
e. Urutan kekuatan dokumen dalam kontrak

B. 1.3.a. Pengertian kontrak


Kontrak atau perjanjian adalah merupakan bagian dari Hukum Perdata,oleh
karena itu ketentuan-ketentuan mengenai Kontrakl Perjanjian diatur dalam
Kitab undang-undang Hukum Perdata (Burgelijk Wetboek).
Menurut Pasal 1313 KUH Perdata, definisi Perjanjian adalah sebagai
berikut:
"Suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya
terhadap satu orang lain atau lebih".
Dari definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa suatu perjanjian adalah
perikatan antara pihak-pihak yang membuat perjanjian. Sebagai contoh,
dalam Perjanjian Pemborongan Pelaksanaan Pekerjaan Konstruksi antara
Pemilik Proyek dan Kontraktor, maka Kontraktor terikat untuk melaksana-
kan pekerjaan pembangunan sedangkan Pemilik terikat untuk membayar
hasil pekerjaan Kontraktor.
B. 1.3.a. 1. Syarat sahnya suatu Kontrak
Syarat sahnya Kontrak menurut Pasal 1320 KUH Perdata adalah:

1. Sepakat mereka yang mengikatkan dirinya.


2. Kecakapan untuk membuat suatu perikatan.
3. Suatu hal tertentu.
4. Suatu sebab yang halal.
Dua syarat yang pertama (1 dan 2) merupakan Syarat Subyektif,
yaitu berhubungan dengan pihak-pihak yang membuat Perjanjianl
Kontrak. Apabila kedua syarat itu tidak dipenuhi, maka Perjanjianl
Kontrak tersebut menjadi voidable atau dapat diminta pembatalannya
oleh salah satu pihak melalui pengadilan.
Syarat yang ketiga dan keempat (3 & 4) merupakan Syarat Obyektif,
karena mengenai obyek yang harus dilakukan. Apabila syarat-syarat itu
tidak dipenuhi, berarti PerjanjianlKontrak tersebut tidak jelas atau tidak
ada yang diperjanjikan, dan PerjanjianIKontrak tersebut Null and b i d
atau batal demi hukum.

B. 1.3.a.2. Dokumen Kontrak


Dalam industri Konstruksi, Kontrak adalah Perjanjian antara Pemberi
Kerja di satu Pihak dan Penerima Kerja di lain pihak, atau dengan per-
kataan lain Perjanjian merupakan perikatan secara hukum antara Pemberi
Kerja dan Penerima Kerja, di mana Pemberi Kerja adalah Pemilik
Proyek dan Penerima Kerja adalah KontraktorlPemborong atau Pemasokl
Penjual (Supplier) BahanIBarang atau Konsultan Perencana atau
Konsultan Biaya Atau Konsultan PengawasIManajemen ~onstruksi.
Kontrak atau perjanjian antara Pemilik Proyek dan Kontraktorl
Pemborong pada umumnya terdiri dari beberapa dokumen yang saling
melengkapi dan secara bersama disebut Dokumen Kontrak.
Sebagai contoh, Dokumen Kontrak suatu. Proyek dapat terdiri dari
dokumen-dokumen seperti tersebut di bawah ini:

1. Dokumen Tender (Spesifikasi, Gambar, dl1 seperti yang tercantum


dalarn Bab Pemasaran B. 1.2.f.3)
2. Surat Penunjukan (Letter of Acceptance/Awar~,
3. Surat Perjanjian (Articles/Form ofAgeement),
4. Syarat-syarat Perjanjian (Conditions of Contract),
5. Rincian Pekerjaan dan Harga (Bill of Quantities),
6. Dokumen lain, seperti: Berita Acara Prebid Meeting, Berita Acara
Klarifikasi, data penyelidikan tanah, dsb.

Dokumen Kontrak yang perlu mendapat perhatian antara lain


adalah dokumen Syarat-syarat Perjanjian (Conditions of Contract).
karena dalam dokumen inilah dituangkan semua ketentuan yang
merupakan "aturan main" yang disetujui oleh kedua belah pihak
yang membuat Perjanjian. Syarat-syarat Perjanjian berisi ketentuan-
ketentuan yang merupakan hak dan kewajiban dari masing-masing
pihak serta pihak ketiga yang terkait dalam Perjanjian, persyaratan,
tanggung jawab, larangan dan sanksi-sanksi untuk kedua belah pihak.
Karena itu Syarat-syarat Kontrak merupakan inti dari Perjanjianl
Kontrak, sedangkan dokumen-dokumen lainnya merupakan
penunjang yang melengkapi Perjanjian. Dengan demikian, maka
dokumen Suarat-syarat Perjanjian inilah yang terutama perlu dikelola
dalam melakukan Administrasi Kontrak.

B 1.3.a.3. Format standar Kontrak


Industri Konstruksi di Indonesia belum mempunyai Format atau Bentuk
Standar Kontrak yang dapat dipakai sebagai dokumen baku untuk
PerjanjianIKontrak antara Pemilik Proyek dan Kontraktor, namun
biasanya didalam setiap kontrak selalu berisi dua bagian utama, yaitu:

Bagian 1 (Pertama): berisi ketentuan-ketentuan yang dapat berlaku


umum untuk semua jenis proyek, disebut
Syarat-syarat Umum Perjanjian, (antara lain
penjelasan tentang definisi kontrak, pemilik,
kontraktor, dll.)

% Bagian 2 (Kedua): berisi ketentuan-ketentuan yang (khusus) di-


perlukan untuk proyek yang bersangkutan, di-
sebut Syarat-syarat Khusus Perjanjian (antara
lain lingkup pekerjaan, nilai kontrak, waktu
pelaksanaan, dll.)

Meskipun industri konstruksi di Indonesia belumltidak mempunyai


Format Standar Kontrak, namun demikian sudah banyak digunakan
Syarat-syarat Perjanjian yang mengacu kepada Format Standar Kontrak
internasional, antara lain:
Format Standar kontrak FIDIC dan
Format Standar kontrak JCT

A, Format standar FIDIC


Format standar FIDIC adalah Dokumen Syarat-syarat Kontrak yang
diterbitkan oleh FIDIC (Federation Internationale Des Ingenieurs-
Conseih) atau International Federation of Consulting Engineers, yaitu
federasi internasional dari Engineer Konsultan mancanegara yang
berkantor pusat di Lausanne, Swiss. Dokumen tersebut dinamakan
CONDITIONS OF CONTRACT FOR WORKS OF CIVIL
ENGINEERING CONSTRUCTION.
FIDIC mempunyai lebih dari 50 negara anggota di dunia, ter-
masuk INKINDO di Indonesia.
Format standar FIDIC yang pertama (edisi ke-1) diterbitkan pada
tahun 1956. Dokumen ini dibuat dengan mengacu pada dokumen
standar ICE (Institute of Civil Engineers) Inggris, dengan perubahan
di beberapa tempat. Dokumen ini dikenal dengan sebutan "the Red
Book" (Buku Merah) karena warna sampulnya yang merah.
Format standar FIDIC dibuat untuk kontrak yang sifatnya
remeasure (jumlah/volume pekerjaan dihitung kembali). Ada pula
yang menyebutnya Unit Price Contract atau Fixed Unit Price Contract
karena dari Rincian Pekerjaan dan Harga (Bill of Quantities/BQ)
yang mengikat adalah harga satuan pekerjaan, sedangkan jumlahl
volume (quantity) pekerjaan tidak mengikat dan akan dihitung
kembali sesuai dengan yang dikerjakan sebenarnya. Hal ini disebutkan
dalam ketentuan yang ada dalam Pasal 5 1.2. (Instructions for Varia-
tions) dan Pasal 56.1. (Works to be Measured).
Karena itu untuk PerjanjianIKontrak yang sifatnya lumpsum, yaitu
jumlahlvolume pekerjaan dan harga suatu pekerjaan dalam Rincian
Pekerjaan dan Harga (BQ) mengikat, ketentuan dalam Pasal 51.2.
dan Pasal 56.1. tersebut perlu diubahldisesuaikan.
Format standar Kontrak FIDIC ini dimaksudkan untuk pemakaian
pada proyek-proyek Bangunan Sipil seperti jalan, jembatan, pelabuhan
dan pekerjaan-pekerjaan sipil lainnya. Namun demikian, format
Standard Kontrak FIDIC juga mulai banyak dipakai pada proyek
bangunan gedung.
B. Format standar JCT
Format standar JCT adalah Dokumen Syarat-syarat Kontrak yang
dibuat oleh J.C.T. Voint Contracts Tribunal) di Inggris.
J.C.T. terdiri dari badan-badan tersebut di bawah ini:

* Royal Institute of British Architects (RIBA)


* National Federation of Building Trades Employers
* Association of County Councils
* Association of Metropolitan Authorities
* Association of District Councils
* Greater London Councils
* Committee of Association of Specialist Engineering Contractors
P Federation of Association of Specialist and Sub-contractors
* Association of Consulting Engineers
* Scottish Building Contract Committee

Dokumen Syarat-syarat kontrak tersebut dinamakan STANDARD


FORM OF BUILDING CONTRACT dan lebih dikenal sebagai
Format standar RIBA (Royal Institute of British Architects) daripada
Format standar JCT. Hal ini disebabkan karena dokumen tersebut
diterbitkan oleh RIBA Publications Ltd.
Melihat dari namanya dan para pembuatnya dapat diketahui
bahwa dokumen tersebut dimaksudkan untuk pemakaian pada proyek-
proyek bangunan gedung.

B. 1.3.b. Pentingnya administrasi kontrak


Administrasi Kontrak atau Pengelolaan Kontrak atau Manajemen Kontrak
adalah kegiatan yang dilakukan untuk memantau Dokumen Kontrak agar
"aturan main" seperti yang tertulis didalam Dokumen tersebut diketahui, di-
ikuti dan dilaksanakan dengan baik sebagaimana mestinya. Demikian pula,
agar semua hak yang dipunyai dan yang dapat dipunyai bisa diperoleh serta
semua kewajiban yang harus dipenuhi dilaksanakan sebagaimana mestinya.
Untuk itu isi Dokumen Kontrak harus dilihat dan dibaca dengan teliti,
terutama Dokumen Syarat-syarat Perjanjian yang berisi ketentuan-ketentuan
yang menyebutkan persyaratan, larangan, tanggung jawab, hak dan
kewajiban masing-masing pihak yang terikat dan pihak-pihak lain yang
terkait dalam Perjanjian yang telah disepakati tersebut, agar supaya hal-ha1
tersebut dapat diketahui dan dipahami.
Administrasi kontrak yang baik dilaksanakan dengan melakukan kegiatan-
kegiatan antara lain:

1. Membuat inventarisasi atau daftar periksa (check list) dari ketentuan-


ketentuan yang ada di dalam Syarat-syarat Perjanjian dengan cara
memisahkannya ke dalam atau menjadi kelompok-kelompok sesuai
dengan sifat atau jenis dari ketentuan itu (kelompok ketentuan umum
yang menyebutkan penjelasan, persyaratan, larangan, tanggung jawab;
kelompok ketentuan yang menyebutkan hak masing-masing pihak;
kelompok ketentuan yang menyebutkan kewajiban masing-masing pihak).
2. Melakukan pencatatan (recording) atas semua kejadian atau keadaan
selama pelaksanaan kontrak (proper documentation).
3. Mempersiapkan data pendukung teknik maupun administrasi untuk
dapat diajukan dalam mendapatkan hak-hak yang "langsung" maupun
yang "tidak langsung".
Ketiga kegiatan tersebut diuraikan lebih lanjut di bawah ini:

B. 1.3.b. 1.Membuat inventarisasi atau daftar periksa dari ketentuan-


ketentuan yang ada dalam syarat-syarat kontrak
Inventarisasi atau dafiar periksa (check list) tersebut dibuat dengan
cara mengelompokkan ketentuan-ketentuan yang ada dalam Syarat-
syarat Perjanjian menjadi 7 (tujuh) kelompok pasal sebagai berikut:

* Kelompok pasal yang berisi ketentuan-ketentuan yang bersifat


umum (penjelasan, persyaratan, larangan, tanggung jawab dan
sejenisnya);
* Kelompok pasal yang berisi ketentuan-ketentuan yang merupakan
hak kontraktor;
* Kelompok Pasal yang berisi ketentuan-ketentuan yang merupakan
kewajiban Kontraktor;
* Kelompok Pasal yang berisi ketentuan-ketentuan yang merupakan
hak Pemilik Proyek;
* Kelompok Pasal yang berisi ketentuan-ketentuan yeng merupakan
kewajiban Pemilik Proyek;
* Kelompok Pasal yang berisi ketentuan-ketentuan yang merupakan
wewenang Direksi Proyek;
* Kelompok Pasal yang berisi ketentuan-ketentuan yang merupakan
tugas dan kewajiban Direksi Proyek.
B. 1.3.b.2. Melakukan pencatatan (recording)
Pencatatan atau recording merupakan kegiatan yang sangat penting
dalarn administrasi/pengelolaan/menajemenkontrak, karena pencatatan
merupakan kegiatan membuat dan menyimpan catatan-catatan
(record) yang akan menjadi rekaman dari segala peristiwa yang terjadi
sejak pekerjaan berdasarkan kontrak dimulai sampai selesai selama
berlangsung atau berlakunya masa kontrak.
Dengan demikian catatan-catatan itu merupakan dokumentasi
proyek di mana dari dokumentasi tersebut dapat:

* diketahui sejarah (history) pelaksanaan proyek.


% ditelusuri kembali suatu peristiwa yang pernah terjadi, kapan
terjadinya, penyebabnya dan akibatnya dan lain-lain (track record),
semuanya berupa data faktual yang sangat penting dan diperlukan
sebagai bukti untuk menunjang atau mendukung suatu tuntutanl
Maim maupun untuk pembelaan diri terhadap suatu tuntutanl
Maim.
Selain itu, catatan-catatan tersebut juga dapat dipakaildigunakan
untuk keperluan pemantauan (monitoring) selama berlangsungnya
pelaksanaan pekerjaan dan sebagai data umpan balik (feed back
data) ataupun masukan (input) untuk proyek lainnya yang sejenis
setelah Pekerjaan selesai dilaksanakan. Yang perlu didokumentasikan
dengan baik selama pelaksanaan proyek adalah:

% Informasildata perencanaan, meliputi:


+ Gambar-gambar pra-rencana;
+ Rencana waktu pelaksanaan awal; dan
Semua dokumen (termasuk surat-surat, memo, laporan-
laporan dari direksi proyek, sub-kontraktor atau kontraktor-
kontraktor lainnya) yang berhubungan dengan lamanya atau
urutan dari aktivitas proyek.
* Catatan Pembayaran Kemajuan Pekerjaan (Progress Payment
Record);
% Surat-menyurat (Korenpondensi);
* Laporan-laporan harian yang menerangkan hal-hal sebagai
berikut:
+ Keadaan cuaca di lokasi;
+ Nama-nama orang yang datang ke lokasi;
+ Bahan-bahan/barang-barangyang datang;
+ Keluar masuknya peralatan dan penempatannya;
+ Jumlah pekerja dan pekerjaan yang dilakukan masing-masing;
+ Uraian mengenai jenis dan jumlah pekerjaan yang telah
dilaksanakan.
* Foto-foto danlatau video danlatau film
* Daftar gajilupah
* Gambar kerja (Shop Drawings)
* RisalahINotulen Rapat
* Instruksi-instruksi dan persetujuan-persetujuan
B. 1.3.c. Pasal-pasal penting dalam kontrak
Berdasarkan pengalaman, terdapat pasal-pasal kontrak yang sering menim-
bulkan kesalahpahaman (dispute) antara pemilik proyek dan kontraktor.
Pasal-pasal ini perlu mendapat perhatian pada saat penyusunan kontrak
sebelum ditandatangani. Dalam tulisan ini digolongkan sebagai pasal-pasal
penting dalam kontrak, sebagai berikut:

1. Lingkup pekerjaan: berisi tentang uraian pekerjaan yang termasuk dalam


kontrak

2. Jangka waktu pelaksanaan, menjelaskan tentang :


* total durasi pelaksanaan
* pentahapan (milestone), bila ada
* hak memperoleh perpanjangan waktu
* ganti rugi keterlambatan
3. Harga borongan, menjelaskan:
* nilai yang harus dibayarkan oleh pemilik proyek kepada kontraktor
untuk melaksanakan seluruh lingkup pekerjaan,
* sifat kontrak, Lumpsum fixedprice atau unit price
* biaya-biaya yang termasuk dalam harga borongan

4. Cara pembayaran, berisi ketentuan tentang:


* tahapan pembayaran
* cara pengukuran prestasi
* jangka waktu pembayaran
* jumlah pembayaran yang ditahan pada setiap tahap (retensi)
* konsekuensi apabila terjadi keterlambatan pembayaran (misalnya
denda)
5. Pekerjaan tarnbah atau kurang, berisi:
* definisi pekerjaan tarnbahlkurang
* dasar pelaksanaan pekerjaan tambahlkurang (misal persetujuan yang
diperlukan)
* dampak pekerjaan tambahlkurang terhadap harga borongan
* dampak pekerjaan tarnbahlkurang terhadap waktu pelaksanaan
* cara pembayaran pekerjaan tarnbahlkurang
6. Pengakhiran perjanjian, berisi ketentuan tentang:
* hal-hal yang dapat mengakibatkan pengakhiran perjanjian
* hak untuk mengakhiri perjanjian
* konsekuensi dari pengakhiran perjanjian

B.1.3.d. Istilah-istilah yang sering muncul dalam kontrak


Dengan mempelajari sejumlah kontrak yang pernah dilaksanakan oleh
kontraktor yang telah berpengalaman, ada beberapa istilah yang sering
muncul dalam kontrak, antara lain:

B.1.3.d.1. Provisional sum, adalah sejumlah biaya yang disediakan oleh


pemilik proyek dan termasuk dalam nilai kontrak, untuk mencakup
pekerjaan-pekerjaan yang sudah tercantum dalam dokumen kontrak
namun belum dapat dihitung dengan pasti volumenya. Besarnya
pembayaran kepada kontraktor adalah sesuai realisasi volume yang
dikerjakan.

B.1.3.d.2. Prime cost, ialah sejumlah biaya yang disediakan oleh pemilik
proyek dan termasuk dalam nilai kontrak, untuk mencakup pekerjaan-
pekerjaan yang sudah ditentukan jenis dan harganya, biasanya dikerjakan
oleh kontraktor tertentu.

B.1.3.d.3. Nominated sub contractor (NSC), adalah sub-kontraktor yang


telah ditetapkan oleh pemilik proyek untuk melaksanakan pekerjaan
tertentu, dengan:
Spesifikasi dan negosiasi disepakati antara pemilik proyek dan NSC
Pembayaran kepada NSC dilakukan melalui kontraktor utama
Kontraktor utama mendapatkan fee koordinasi (coordination fee),
untuk melaksanakan koordinasi waktu dan pelaksanaannya. Biasanya
besarnya coordinationfee adalah berkisar antara 3 - 4 persen
Kontraktor utarna tidak bertanggung jawab atas mutu pekerjaan NSC
B.1.3.d.4. Defect liability period, atau masa pemeliharaan adalah suatu
kurun waktu terhitung sejak dilakukannya Penyerahan Pertama Pekerjaan,
untuk menyelesaikan cacat-cacat yang ditemukan pada saat Penyerahan
Pertama serta kerusakan-kerusakan yang terjadi selama masa
pemeliharaan. Biasanya masa pemeliharaan ditetapkan selama 3 bulan,
6 bulan atau 12 bulan

B.1.3.d.5. Force majeure, atau keadaan memaksa adalah peristiwa-peristiwa


yang berada di luar kemam~uanpemilik proyek maupun kontraktor
yang dapat mempengaruhi kinerja dan pelaksanaan, yaitu:
Bencana dam (gempa bumi, tanah longsor, badai, banjir)
Perang, revolusi, makar, hum-hara, pemberontakan, kerusuhan, kekacauan
Kebakaran
Keadaan memaksa yang dinyatakan secara resmi oleh pemerintah

B.1.3.d.6. Arbitrase, adalah suatu badan hukum yang ditunjuk untuk


menyelesaikan perselisihan antara pemilik proyek dan kontraktor yang
tidak dapat diselesaikan secara musyawarah. Untuk kontrak yang berlaku
di Indonesia, telah tersedia Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI)

B.1.3.d.7.E s k a h i harga
Eskalasi harga adalah perubahan harga bahan, upah, dan alat sesuai
dengan kondisi pasar, yang dapat mengakibatkan perubahan harga
kontrak. Pada kontrak-kontrak tertentu, kontraktor diperkenankan untuk
mendapatkan penyesuaian harga akibat eskalasi, yang diatur dalam pasal
Penyesuaian Harga
Contoh:
Ada tidaknya penyesuaian harga biasanya tercantum dalam pasal
Kontrak, antara lain:
o apabila terjadi penambahan atau pengurangan harga yang me-
lampaui keadaan normal, dan atau bila ada tindakan kebijakan
pemerintah Republik Indonesia dalam bidang moneter yang
diumumkan secara resmi, dan hanya diperkenankan untuk kom-
ponen harga dalam mata uang rupiah.
o Proyek-proyek pemerintah yang berdurasi lebih dari satu tahun
(multi years contract) yang mengacu kepada KEPPRES No.16
Tahun 1994.
Penyesuaian harga diberlakukan untuk setiap angsuran pembayaran
yang diterima kontraktor
Penyesuaian harga diikuti dengan pembuatan Addendum Kontrak
Contoh rumus yang digunakan untuk penyesuaian harga kontrak
antara lain sebagai berikut:

Hn : Harga satuan baraniljasa pada saat pekerjaan


dilaksanakan
Ho : Harga satuan barangljasa saat perhitungan harga
penawaran (28 hari sebelum pemasukan penawaran)
a : Koefisien tetap = 0.15
b, c, d : Koefisien komponen kontrak, seperti tenaga kerja,
bahan, alat, dst. Penjumlahan b+c+d dst. adalah 1
Bn, Cn, Dn : Indeks harga komponen pada saat pekerjaan dilak-
sanakan
Bo, Co, Do : Indeks harga komponen pada saat penyusunan harga
penawaran (28 hari sebelum pemasukan penawar-
an)

Berdasarkan perhitungan tersebut, maka penyesuaian harga boronganl


nilai kontrak menggunakan rumus:

Pn = (Hn, xV,) + (Hn, xV,) + (Hn, xV,) + ..........

Pn : Nilai kontrak setelah dilakukan penyesuaian harga


satuan barangljasa
Hn : Harga satuan baru setelah dilakukan penyesuaian
harga menggunakan rumus penyesuaian harga ter-
sebut di atas
v~ : Volume pekerjaan utarna yang dilaksanakan

B. 1.3.d.8. Ckzim
Claim adalah suatu tuntutanltagihan yang muncul karena beberapa hal.
Dalam standar kontrak international biasa digunakan sebagai referensi
adalah buku: "Condition of Contract (International) for works of Civil
Engineering Construction" yang disusun oleh FIDIC.
Di, dalam pelaksanaan suatu pekerjaan, sering kali kita dihadap-
kan pada suatu masalah Administrasi Kontrak, terutama untuk proyek-
proyek yang didapat dari tender internasional (ICB).

B. 1.3.d.8.1. Masalah yang dapat menimbulkan Claim


Di dalam kondisi kontrak di atas disebutkan ada beberapa masalah
yang dapat menimbulkan claim:

a. Variations
b. Keadaan lapangan yang tidak sesuai dengan kontraklpenjelasan
dalam Prebid Meeting (Adversephysical condition).
c. Pelanggaran kontrak (Breach of Contract)
d. Penghentianlpenundaan pekerjaan
e. Keterlambatan dan pengaruhnya
f. Special Risk
g. Changest Cost & Legilation

a. Variations (Clause 61.1. FIDIC)


a. 1. Engineer dapat mengeluarkan suatu Variation Order kepa-
da Kontraktor, karena keadaan lapangan yang tidak sesuai
dengan design atau sebab-sebab lain, misalnya:
- Kenaikan atau pengurangan volume suatu pekerjaan
yang termasuk di dalam Kontrak.
- Menghilangkan suatu jenis pekerjaan.
- Merubah karakter atau kualitas dari suatu pekerjaan.
- Perubahan level, posisi, ukuran, suatu pekerjaan, dan,
- Instruksi pekerjaan tambah yang diperlukan untuk pelak-
sanaan proyek.

a.2. Tidak boleh ada Variation Order yang dikerjakan oleh


Kontraktor tanpa ada instruksi tertulis dari Engineer1
Pemimpin ProyekIWakil pemilik proyek.
Apabila ada instruksi tertulis lisan, Kontraktor harus meng-
konfirmasikan secara tertulis kepada Engineer, dalam waktu
maksimum 7 hari setelah dikeluarkannya instruksi lisan
tersebut. Dan apabila dalam waktu maksimum 14 hari
tidak ada jawaban dari Engineer, maka instruksi lisan
tersebut dapat dianggap sebagai instruksi tertulis dari En-
gineer.
Di dalam mengeluarkan V.O. ini (yang biasanya
berdampak pada biaya) Engineer selalu mengacu kepada
Kontrak untuk menetapkan unit pricelspesifikasi dan lain-
lain.
Apabila VO. ini berakibat kepada penambahan, pengu-
rangan volume lebih besar dari 10 persen, maka dimung-
kinkan suatu unit price baru berdasarkan negosiasi.
a.3. Variation Order juga bisa berupa duy work (Clause 52.4.
FIDIC)
Day Work adalah perintah tertulis dari Engineer kepada
Kontraktor untuk mengerjakan suatu pekerjaan berdasar
kepada day work rate. Pekerjaan tersebut biasanya tidak
ada dalam Kontrak, karena sukar dihitung perkiraan
biayanya. Rate dari dzy work ini, biasanya sudah disepakati
di dalam Kontrak (Man Power, Equipment, Materials).

ad.b. Adverse Physical Condition (Clause 12.2. FIDIC)


Suatu keadaanlsituasi yang tidak sesuai dengan Kontrak atau
penjelasan awal Kontrak.
Kontraktor biasanya sangat familiar dengan Clause ini, karena
sebagian besar claim berasal dari Clause ini. Termasuk di dalam
pasal ini adalah ketidaksesuaian dalam hal, antara lain:

1. Keadaan lapisan tanah atau kondisi setempat dibanding


gambar rencana.

2. Adanya halangan (obstruction) yang tidak kelihatan dari


semula (unforeseen).

3. Peraturan-peraturan, baik daerah maupun pusat yang di-


keluarkan setelah tender.

4. Pembayaran dari Owner terlambat, tidak sesuai Kontrak.


Dengan keadaan seperti ini, Pasal ini mengatur adanya
extention of time1 perpanjangan waktu kontrak (Clause 44.1),
yang apabila disetujui, maka Kontraktor dapat langsung
mengaitkan dengan Clause 12, (suatu hak dari Kontraktor
untuk minta biaya tambah akibat keadaan di atas) dengan
suatu pemberitahuan secara tertulis.
ad.c. Pelanggaran Kontrak (Breach of Contract)
Claim ini timbul dikarenakan hal-hal yang telah disepakati di
dalam Kontrak tidak ditepati. Dalam hal ini bisa juga terjadi
hal-ha1 khusus, termasuk dalam lingkup ini adalah:
1. Higher Peformance Standard
Termasuk di sini adalah permintaan untuk antara lain:
a. Percepatan waktu dari schedule yang ditetapkan, yang
menghbatkan pertambahan biaya overtime, equipment,
material dan overhead.
b. Perubahan mutu bahan material.

2. Sequence Change
Apabila Engineer memerintahkan untuk mengganti sequence
pelaksanaan pekerjaan dari Kontraktor sesuai dengan ke-
inginan Engineer, maka segala risikolpenarnbahan alat dan
lain-lain dapat diklaimkan.

3. Peformance Method Change


Apabila Engineer memerintahkan untuk mengganti metode
pelaksanaan Kontraktor sesuai dengan keinginan Engineer,
maka segala risikolpenambahan alat dan lain-lain dapat di-
klaimkan

ad.d. Suspension of works (Clause 40.1)


Apabila dalam pelaksanaan suatu pekerjaan Engineer meme-
rintahkan untuk menunda pekerjaan tersebut, karena suatu
hal, maka Kontraktor berhak mengajukan claim dengan cara
mengirim pemberitahuan secara tertulis, dalam waktu maksimal
28 hari sejak instruksi Engineer, untuk mohon perpanjangan
waktu (Clause 44 FIDIC). Seterusnya dengan Clause 12 FIDIC
berhubungan dengan permintaan tambahan biaya.

ad.e. Delay & Impact


Apabila Engineer terlambat dalarn suatu keputusan, maka keter-
lambatan tersebut bisa berakibat kepada perpanjangan waktu
pelaksanaan proyek (Clause 44 FIDIC). Biasanya dalam waktu
28 hari Engineer harus sudah memutuskan:
1. Possession of Site (Clause 42.1. FIDIC)
Apabila Employer/Engineer sudah memberikan Order to Commence
kepada Kontraktor, akan tetapi lapangan belum bisa dikerjakan
'
oleh Kontraktor (pembebasan tanah dan lain-lain).
2. Terlambat dalam keputusan shop drawing dan method.
3. Dan lain-lain.
ad.f. Special Risk (Clause 20.2. FIDIC)
Termasuk di sini adalah perang, invasi, revolusi, dan lain-lain. Dalam
hal ini Kontraktor berhak untuk perpanjangan waktu (Clause 44
FIDIC).
ad.g. Perubahan Cost dan Undang-undang sesuai dengan Clause 70.2.
Dimunglunkan adanya perubahan cost karena adanya eskalasi. Eskalasi
ditetapkan di dalam Kontrak, meliputi:
1. Rumus Eskalasi
2. Cara pengambilan/sumber-sumber indeks
3. Cara pembayaran
Sesuai dengan pasal ini pula, Kontraktor berhak mengajukan claim,
apabila dalam pelaksanaan proyek Pemerintah mengeluarkan suatu
peraturan atau undang-undang baru yang mempengaruhi cost.

B. 1.3.d.8.2. Mengurangi Dispute dalarn Claim


Untuk menghilangkanlmengurangi Dispute dalam claim, seharus-
nya sebelum penandatanganan Kontrak, atau pada waktu prebid
meeting, semua hal telah ditanyakan dan dijawab secara tertulis.
Untuk mendukung claim, diperlukan data-data pendukung. Data
ini tidak dibuat pada waktu membuat claim, melainkan dibuat
sejak awal proyek sampai proyek selesai.

B. 1.3.d.8.3. Data yang diperlukan untuk pengajuan Chim:


1. Schedule
a. Master & revised schedule
b. Progress schedule realization
c. Korespondensi segala macam surat menyurat yang berhu-
bungan dengan masalah di atas, termasuk nomer agenda dan
tanda terima suratlexpedisi.
d. Lain-lain
2. Memo
Memo yang tertulis oleh Engineer/staff untuk kasus di atas,
lengkap dengan tanggal memo.

3. Minutes of Meeting
Minutes of Meeting yang ditandatangani oleh kedua belah pihak.
Minutes of Meeting ini biasanya ditulis setelah meeting selesai
(mingguan, bulanan, special meeting).
Semua meeting hendaknya dibuat minute-nya, dan apabila
OwnerlKonsultan tidak membuat, maka Kontraktor membuat
secara tertulis, kemudian menandatangani bersama.

4. Foto
Foto &an menjadi data yang baik, apabila disertai keterangan
tanggal foto diambil dan nama orang yang mengambil foto.

5. Daily Record
~ a i & ~ e c o ini
r d dibuat setiap hari oleh pelaksana lapangan dan
ditandatangani oleh inspector lapangan. Daily Record ini memuat:
Jenis pekerjaan, jam kerja & jumlah peralatan, jumlah orang &
jam kerja, cuaca, material yang datangldigunakan, alat-alat yang
rusak, serta kejadian-kejadian khusus. Daily Record ini sangat
penting, karena dapat menjadi bukti yang sangat kuat.

6 Pay Record &Pay Request


Data ini digunakan untuk menyajikan dokumen pengajuan
pembayaran yang sudah dan belum dibayar.

7 . Inspection Report
Untuk memulai suatu pekerjaan, biasanya ada request ,firm
kepada Engineer/staff untuk memeriksanya terlebih dahulu. Ko-
mentar-komentarlperintah-perintah dari Engineer/staff dapat
digunakan untuk data pendukung.

8. Data-data pendukung yang lain, misalnya:


- Peraturan-peraturan baru
- Data-data gelombang, curah hujan
- Indeks harga BPS, dan lain-lain.
B. 1.3.d.8.4. Cara Menyusun Claim
Biasanya Claim dibuat dalam urutan-urutan seperti di bawah ini:

1. Background Claim
Memuat pendahuluan dan kesulitan-kesulitan Kontraktor karena
masalah tersebut.

2. Kronologis & Korespondensi


Cerita singkat mengapa masalah ini terjadi dan diteruskan
kronologi surat-menyurat.

3. Contractual Matters/LegalAspect
Berisi tentang dasar-dasar hukum, Pasal-pasal Kontrak, Peraturan-
peraturan yang mendukung claim tersebut.

4. Perhitungan Biaya yang Diajukan:


Beberapa cara perhitungan Cost:
a. Dengan (Day Work Rate x 50%) untuk standby ditambah
overhead yang disepakati (10% atau 20%).
b. Bila tidak ada Day Work Rate, perhitungan didasarkan pada
harga sewa rata-rata pasar ditambah overhead.
c. Jumlah hari standby x rate denda, bila Kontraktor terlambat
(Liquidated Damage).

5. Data-data pendukung
(Lihat pada item C)
Penyusun claim yang baik dengan data-data dasar yang kuat,
sering kali membantu EmployerlEngineer untuk memberikan
tambahan biaya kepada Kontraktor.
Contoh pengajuan Claim adalah seperti pada lampiran E.5.

B. 1.3.e. Urutan Kekuatan Dokumen dalam Kontrak


Dokumen Kontrak adalah kumpulan dokumen yang saling melengkapi
menjadi suatu dokumen perjanjian antara Pemberi Tugas dan Penerima
Tugas.
Dalam pelaksanaan Proyek, kadang kadang kita menemui kesulitan
untuk melaksanakan suatu perintah karena perintahnya berbeda dengan isi
dokumen yang ada dalam Kontrak. Kadang kala kita juga mengalami
kesulitan untuk menghitung suatu Tender karena antara isi dokumen yang
satu dan yang lain dalam suatu proyek ternyata menyebutkan suatu hal
dengan kondisi yang berbeda.
Lalu bagaimana kita memutuskan hal tersebut? Prinsip dari urutan
kekuatan (prioritas untuk diikutildilaksanakan) adalah:

"Dokumen yang terbit lebih akhir adalah yang lebih kuatlmengikat untuk
dilaksanakan"

Apabila tidak ditentukan lain, sesuai dengan prinsip tersebut di atas,


maka urutanlprioritas pelaksanaan pekerjaan di Proyek adalah berdasar-
kan:

1. Instruksi tertulis dari Konsultan MK (jika ada).


2. Addendum Kontrak (jika ada)
3. Surat Perjanjian pemborongan (Article of Agreement) dan syarat syarat
Perjanjian (Condition of Contract)
4. Surat Perintah Kerja (Notice to Proceed), Surat Penunjukan (Letter of
Acceptance)
5. Berita Acara Negosiasi
6. Berita Acara Klarifikasi
7. Berita Acara Aanwijzing.
8. Syarat syarat Administrasi
9. SpesifikasiISyarat Teknis
10. Gambar Rencana Detail
11. Gambar Rencana
12. Rincian Nilai Kontrak

Dokumen No. 3 sld No. 12 pada umumnya menjadi Dokumen Kon-


trak awal yang telah dijilid lengkap dan menjadi dasar pelaksanaan pekerjaan
di Proyek
Dalam lingkup perhitungan tender, pada umumnya bagian dari
Dokumen Kontrak yang telah terbit adalah Dokumen No. 5 sld No. 11.
Apabila ada perbedaan di antara dokumen tersebut, maka harus dikembali-
kan kepada prinsip: "Yang terbit lebih akhir adalah yang lebih kuatl
mengikat".
B.2. PELAKSANAAN PROYEK
Proyek adalah sekumpulan aktivitas yang saling berhubungan di mana ada
titik awal dan titik akhir serta hasil tertentu. Proyek biasanya bersifat lintas
fungsi organisasi sehingga membutuhkan bermacam keahlian (skilh) dari
berbagai profesi dan organisasi. Setiap proyek adalah unik, bahkan tidak ada
dua proyek yang persis sama. Proyek adalah aktivitas sementara dari personil,
material, serta sarana untuk menjadikan/mewujudkan sasaran-sasaran (goah)
proyek dalam kurun waktu tertentu yang kemudian berakhir.
Kontraktor sebagai pelaksana konstruksi mempunyai tugas dan kewajiban
melaksanakan dan menyerahkan proyek itu sesuai kontrak kepada Pengguna
Jasa. Seluruh kegiatan yang mendukung pelaksanaan proyek memerlukan
suatu manajemen yang biasanya disebut Manajemen Proyek.
Manajemen Proyek dapat diartikan sebagai suatu usaha untuk mengelola
dan mengorganisasi beragam sumber daya selama masa proyek, di mana
tujuan akhirnya adalah t e m j u d n y a sasaran proyek yang meliputi kualitas,
waktu, dan biaya yang telah ditentukan.
Tiga elemen utama dalam Manajemen Proyek adalah:

1. Manajer Proyek (Project Manager)


Tugas dan tanggung jawab Manajer Proyek antara lain:

menetapkan sasaran dan menjelaskan cara mencapai sasaran tersebut,


menentukan orang-orang yang tepat sesuai dengan kewenangannya, serta
pelatihan (training) yang dibutuhkan.
mendemonstrasikan kepemimpinan (leadership) serta memberikan motivasi
kepada seluruh staf jajarannya.
melakukan evaluasi atas kemajuan pelaksanaan dan mengambil tindakan
yang tepat bila terjadi deviasi terhadap sasaran yang telah ditetapkan.
bertanggung jawab mengintegrasikan usaha dari sekelompok orang yang
berasal dari berbagai fungsi untuk mencapai sasaran proyek yang spesifik.

2. Tim Proyek (Project Team)


Tim Proyek adalah sekelompok orang yang berasal dari berbagai fungsi
organisasi dan disiplin ilmu dan keahlian, yang dipimpin oleh Manajer Proyek.
Tim akan memilih dan menunjuk sumber daya yang akan digunakan, meliputi
sub kontraktor, mandor, dan supplier untuk menyediakan material, alat dan
jasa, serta berperan aktif dalam menjalankan proyek, agar dapat memenuhi
target mutu, waktu, dan biaya yang telah ditetapkan. Ukuran dan macam
komposisi keanggotaan Tim Proyek mungkin berubah-ubah selama periode
proyek, dan akan berakhir setelah proyek selesai.

3. Sistem Manajemen Proyek (Project Management System)


Sistem Manajemen Proyek terdiri dari struktur organisasi dan sistem inf~rmasi.~
Organisasi ditetapkan oleh manajemen puncak (top management), dan
ditetapkan pula hubungan antara anggota Tim Proyek dan Manajer Proyek.
Salah satu struktur organisasi yang sering dipakai adalah Struktur Organisasi
yang biasanya bersifat fungsional, di mana struktur organisasi dikelompokkan
menurut area fungsi spesifik.
Sistem Manajemen Proyek juga menyediakan sistem untuk mengintegrasikan
perencanaan (planning) dengan pengendalian proyek (kontrol) dan akumulasi
informasi berupa pelaporan yang berkaitan dengan hasillkinerja (perform-
ance), biaya, sumber daya yang digunakan, jadwal, proyeksi waktu, dan biaya
untuk menyelesaikan p r ~ y e k . ~

B.2.1. Organisasi Proyek


B.2.1.a. DefinisiIPengertian
Pengertian organisasi pada umumnya adalah sekelompok orang yang me-
lakukan kegiatan dalam wadah dan cara tertentu untuk mencapai tujuan
tertentu pula. Dalam kaitannya dengan pelaksanaan proyek juga bisa
diartikan bahwa organisasi proyek merupakan sekelompok orang dari
berbagai latar belakang ilmu, yang terorganisir dan terkoordinir dalam
wadah tertentu yang melaksanakan tugas dengan cara tertentu untuk
mencapai tujuan bersama. Tugas yang dimaksud di sini adalah mengelola
pelaksanaan proyek dengan harapan pekerjaan bisa berlangsung dengan
lancar dan dapat mencapai tujuan atau sasaran yang ditetapkan berupa
keuntungan bagi perusahaan dan kepuasan pelanggan sebagai pengguna
jasa.

'Lee J. Krajewski & Larry P. Riaman, Operational Management, Strategy andAnalysis, 5th Ed., hlm. 796-798
'Lee J. Krajewski & Larry P. Riaman, Operational Management, Strategy and Analysis, 5th Ed., hlm. 796-798
B.2.1.b. Menyusun Organisasi Proyek
Penyusunan sebuah organisasi proyek dimulai dengan mengidentifikasi dan
mengklasifikasi fungsi dan kegiatan-kegiatan yang ada dalam sebuah
proyek, mengelompokkan kegiatan yang sejenis dalam satu unit tertentu,
menyiapkan personalia yang akan menjalankan fungsi dan kegiatan-kegiatan
tersebut sesuai dengan kelompok kegiatannya serta menyusun mekanisme
koordinasi dari masing-masing fungsi dan kegiatan tersebut.
Segara garis besar fungsi-fungsi yang ada dalam sebuah organisasi Proyek
Konstruksi antara lain meliputi:

B.2.1.b.l. Fungsi Perencanaan teknis dan keuangan; dengan fungsi spesifik


meliputi kegiatan:
Perencanaan rekayasa teknik (engineering) a.1: pembuatan jadwal
pelaksanaan (master schedule), perencanaan sumber daya (bahan,
alat dan subkontraktor), perencanaan metode pelaksanaan,
perencanaan mutu serta perencanaan K3 (Keselamatan dan
Kesehatan Kerja)
Perencanaan Administrasi dan Keuangan a.1 meliputi: pembuatan
cash $ow, perencanaan terminlpenagihan, sistem akuntansi dan
perpajakan proyek serta pengelolaan SDM proyek.

B.2.l.b.2. Fungsi PelaksanaanIOperasional;meliputi kegiatan pelaksanaan


pekerjaan konstruksi dilapangan untuk mewujudkan bentuk fisik
bangunan sesuai dengan perencanaan teknis dan keuangan seperti
pada butir b l di atas.

B.2.l.b.3. Fungsi Pengendalian; meliputi kegiatan membandingkan realisasi


operasional dengan perencanaan dan bila terdapat deviasi terhadap
perencanaan maka dilakukan analisis penyebabnya dan diarnbil tindakan
solusinya.

Secara skematis fungsi utama dan hubungan antar fungsi tersebut dapat
digambarkan dalam bentuk struktur organisasi sbb:
Project Manager

Engineering Operasional Administrasi Umum


Perencanaan Sipil, Arsitektur, SDM
Pengendalian Mekanikal, Elektrikal Keuangan

B.2.l.c. Faktor-factor yang mempengaruhi organisasi proyek


Dalam bisnis jasa konstruksi, besar kecilnya organisasi proyek itu sangat
berpengaruh terhadap efektifitas dan efisiensi pelaksanaan proyek itu
sendiri. Kendati belum ada penelitian yang riil mengenai sejauh mana
pengaruh bentuk organisasi terhadap efektivitas dan efisiensi pelaksanaan
di lapangan, namun banyak contoh yang membuktikan adanya pengaruh
kuat dan langsung dari bentuk organisasi terhadap tingkat efisiensi
pelaksanaan pekerjaan.

Bentuk organisasi proyek sangat ditentukan oleh beberapa faktor antara


lain:
besar-kecilnya volume dan ruang lingkup pekerjaan,
besar kecilnya nilai proyek,
tingkat kompleksitas pelaksanaan proyek,
waktu pelaksanaan yang tersedia,
penggunaan teknologi.
lokasi.

Semua faktor yang mempengaruhi bentuk dan besar kecilnya sebuah


organisasi proyek tersebut di atas bermuara pada efisiensi, yang dalam ha1
ini diukur dari produktivitas serta nilai overhead proyek. Nilai overhead
proyek menjadi bagian dari Biaya Produksi Proyek dan merupakan Biaya
Tak Langsung. Ketatnya persaingan dibidang usaha jasa konstruksi
mengharuskan perusahaan-perusahaan Kontraktor untuk menekan
overheadnya sekecil mungkin. Untuk sebuah perusahaan jasa konstruksi
berdasarkan pengalaman besarnya overhead proyek itu berkisar antara 4
sd 8 % dari Biaya Produksi Proyek.
2.l.d. Contoh Organisasi Proyek
Dalam bagan berikut ini bisa dilihat contoh organisasi proyek yang
diterapkan pada PT PP dalam pelaksanaan suatu proyek. Skema ini
sederhana, namun sudah memperhitungkan efisiensi dan efektifitas
penanganan pekerjaan di lapangan. Contoh ini merupakan satu dari sekian
banyak bentuk Organisasi yang bisa dibuat untuk kepentingan pelaksanaan
proyek.

Project Manager

Site Engineering Site Operation Site Administration


Manager Manager, Manager
(SEW (SOW (SAM)
-

General Superintendent Staff SAM

Tim Proyek dipimpin oleh Project Manager dibantu oleh Site Engineering
Manager (SEM) atau Manajer Teknik, Site Operation Manager (SOM) atau
Manager Operasi dan Site Administration Manager (SAM) atau Manager
Administrasi. Masing-masing mempunyai staf yang jumlahnya tergantung
kepada faktor yang mempengaruhi bentuk organisasi tersebut.

B.2.1 .e. Tugas dan Wewenang Personalia Kunci


Setelah personil yang menjadi Project Manager (PM) ditetapkan, maka
Project Manager menyusun personalia tim proyek yang akan menjadi
pembantu-pembantunya dalam mengelola proyek dan kemudian bersama
tim merencanakan pelaksanaan proyek, termasuk mengadakan sumber daya
seperti bahanlmaterial, tenaga kerjalmandor, subkontraktor, dan peralatan
konstruksi.
Site Engineering Manager (SEM) atau Manager Teknik, bertugas me-
mimpin unit engineering dan berwenang mengelola urusan yang menyangkut
fungsi perencanaan teknik dan pengendalian, antara lain:

Perencanaan
- Perencanaan metode pelaksanaan (construction method)
- Perencanaan gambar kerja (shopdrawing)
- Perencanaan jadwal pelaksanaan (master schedule), jadwal bahan (ma-
terial schedule), jadwal peralatan (equipment schedule) dan jadwal
tenaga kerja (labor schedule)
- Perencanaan mutu (quality plan)
- Perencanaan arus kas (cash flow)
- Perencanaan kesehatan dan kesehatan kerja (safetyplan)
- Pemilihan subkontraktor
Pengendalian adalah proses membandingkan seluruh perencanaan seperti
tersebut di atas dengan realisasi yang dicapai dalam pelaksanaannya
dengan melakukan analisis terhadap deviasi yang terjadi. Apabila
deviasinya adalah negatif, hendaknya dicari cara tertentu untuk
menyelesaikannya.

Site Operation Manager (SOM) atau Manajer Operasi Lapangan memiliki


tugas memimpin unit operasi lapangan, dan benvenang dalam mengelola
pelaksanaan pekerjaan di lapangan sesuai fungsi operasionalnya yang, meliputi:

Melaksanakan pekerjaan sesuai dengan perencanaan baik teknis maupun


keuangan sebagaimana disiapkan oleh unit Engineering.
Mengkoordinasikan para Kepala Pelaksana (General Superintendant) dalam
mengendalikan dan mengontrol pekerjaan para mandor dan subkontraktor.
Membina dan melatih keterampilan para staf, tukang, dan mandor.
Melakukan penilaian kemampuannya sesuai dengan standar yang ditetapkan.

Site Administration Manager (SAM) atau Manajer Administrasi Lapangan,


bertugas memimpin unit administrasi proyek dan benvenang mengelola urusan
keuangan, akuntansilpembukuan, urusan umum dan SDM proyek, antara
lain meliputi:

Menyiapkan urusan administrasi penagihan kepada Pemilik Proyek,


Melakukan pencatatan transaksi ke dalam jurnal (media pembukuan),
Melakukan verifikasi seluruh dokumen transaksi pembayaran.
Mengurus masalah perpajakan dan asuransi, dll.

B.2.2. Perencanaan Juklak (Petunjuk Pelaksanaan)

Sebelum proyek dilaksanakan, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah


membuat Perencanaan Petunjuk Pelaksanaan atau biasa disebut dengan istilah
Juklak. Juklak adalah suatu kegiatan mempersiapkan bagaimana suatu pekerjaan
akan dilaksanakan untuk mencapai sasaran dan tujuan yang diinginkan.
Perencanaan merupakan hal yang paling penting dalam manajemen proyek.
Bahkan dapat dikatakan bahwa apabila proyek telah membuat perencanaan
yang baik pada awal pelaksanaannya, ini berarti 70 persen pekerjaan telah
selesai. Oleh karena itu, perencanaan proyek harus dilakukan secara akurat
agar hasil yang maksimal dapat tenvujud.

B.2.2.a. Informasi Dasar yang Diperlukan


Informasi dasar yang diperlukan untuk membuat Juklak, yaitu:
1) Dokumen Kontrak
Gambar
Spesifikasi
2) Pengalaman sebelumnya
3 ) Personil yang memiliki pengalaman proyek sejenis
4) Kondisi lapangan dan lingkungan
5) Sumber material dan kemampuan pengadaannya
6 ) Sumber tenaga kerja serta kemampuan pengadaannya
7) Sub Kontraktor spesialis yang tersedia
8) Ketersediaan peralatan

B.2.2.b. Penyusunan Tim Juklak


Penyusunan Juklak biasanya dilakukan oleh sebuah tim yang ditunjuk oieh
pimpinan yang berwenang dengan susunan anggota sebagai berikut:
1) Ketua
2) Wakil Ketua
3) Sekretaris
4) Anggota:
a. Bidang Metode Pelaksanaan
b. Bidang Logistik
c. Bidang Peralatan, dan
d. Bidang Keuangan dan Anggaran Biaya

B.2.2.c. Pembuatan Juklak


Perencanaaan yang disusun oleh tim Juklak meliputi antara lain:

1. Perencanaan Biaya
2. Perencanaan Mutu
3. Perencanaan Waktu
4. Perencanaan Metode Pelaksanaan
5. Perencanaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)

B.2.2.c.l. Perencanaan Biaya (Anggaran Proyek)


Perencanaan biaya proyek dalam Juklak mengacu kepada data yang
ada pada waktu tender dan disebut juga sebagai Rencana Anggaran
Pelaksanaan Tender (RAPT). Tolok ukur keberhasilan dalam
. pengendalian biaya proyek dilihat dari nilai akhir biaya yang
dikeluarkan dibandingkan terhadap target yang ditetapkan perusahaan.

B.2.2.c.2. Perencanaan Mutu


Perencanaan mutu adalah kegiatan yang harus dilakukan untuk
memenuhi persyaratan spesifikasi yang telah ditetapkan oleh
Pemilik Proyek, sesuai dengaq Konuak.
Kontraktor yang telah memperoleh Sertifikat ISO-9000, perencanaan
mutu yang dibuatnya tidak terlepas dari prosedur yang telah
ditetapkan dalam ketentuan program ISO-9000. Uraian lebih rinci
tentang aplikasi sistem manajemen pengendalian mutu ISO-9000
ini dapat dibaca pada Bab C.3. Manajemen Mutu I S 0 9001-2000.
Pembaca yang ingin mengetahui tentang I S 0 9000 ini khusus
untuk Aplikasi dalam Bidang Usaha Kontraktor dapat membaca
buku ISO-9000 untuk Konuaktor, yang disusun oleh PT PP
, (Persero), terbitan PT Gramedia Pustaka Utama, 1997.

B.2.2.c.3. Perencanaan Jadwal Pelaksanaan


Perencanaan Jadwal Pelaksanaan mengacu kepada batas waktu
penyelesaian yang dituangkan dalam kontrak. Berlandaskan pada waktu
penyelesaian tersebut, disusunlah Time Schedule yang pada umumnya
berupa bar chart yang dilengkapi dengan kurva S, yang dapat berupa
Jadwal Pelaksanaan Induk (Master Schedule) yang mencakup
perencanaan waktu seluruh kegiatan pelaksanaan pekerjaan. Apabila
diperlukan, dapat dibuat jadwal yang lebih rinci yang selalu mengacu
kepada Master Schedule.
Mengacu dari Jadwal Pelaksanaan Induk dibuatlah Jadwal pen-
dukung, antara lain:

Jadwal Peralatan (Equipment Schedule), menyangkut penyediaan,


pendatangan serta jumlah peralatan yang diperlukan.
Jadwal Bahan (Material Schedule), menyangkut pemesanan,
pendatangan serta jumlah dan jenis bahan yang diperlukan.
Jadwal Tenaga Kerja (Manpower Schedule), menyangkut pendatang-
an, keahlian serta jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan.
Jadwal arus kas (cashfiw schedule), menyangkut rencana penerimaan
(cash in), sesuai dengan cara pembayaran (term of payment) dari
pemilik proyek maupun dana talangan (bridging Jinance) apabila
diperlukan, rencana pengeluaran (cash out) untuk pembayaran
kepada pihak ketiga.

Jadwal penyelesaian proyek yang dimasukkan ke dalam Juklak tidak


boleh lebih lambat daripada waktu yang ditetapkan dalam kontrak.
Contoh-contoh pembuatan jadwal pelaksaan dapat dilihat pada bab
B2.b.5 sampai B2.b.7, sedangkan contoh Cash Flow ada pada
Lampiran.

B.2.2.c.4. Perencanaan Metode Pelaksanaan


Perencanaan metode pelaksanaan merupakan salah satu faktor kunci
dalarn mencapai keberhasilan pelaksanaan pekerjaan. Proses penyusunan
metode pelaksanaan merupakan hasil pembahasan, brainstorming,
diskusi, referensi dari berbagi macam sumber, dan dituangkan dalam
bentuk gambar-gambar kerja serta urut-urutan pelaksanaan pekerjaan
(procedure, work instruction) yang menjadi acuan dalam pelaksanaan
setiap pekerjaan. Perbaikan (improvement), inovasi, serta terobosan-
terobosan dalam pembuatan metode pelaksanaan dapat memberikan
nilai tambah bagi tercapainya sasaran, baik mutu, waktu, maupun
biaya. Uraian lebih rinci tentang Metode Pelaksanaan ini ada dalam
satu bab tersendiri, yaitu Bab D. Metode Pelaksanaan Pekerjaan.
B.2.2.c.5. Perencanaan K3
Perencanaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) berkaitan dengan
penyusunan Safety Plan, Pengamanan Proyek (Security Plan), dan
pengelolaan ketertiban serta kebersihan Proyek (House Keeping) dengan
target fiero accident' (tidak ada kecelakaan kerja).

Safety Plan
Safety Plan dibuat dengan mengikuti ketentuan-ketentuan maupun
arahan yang dikeluarkan oleh Depnaker selaku instansi yang melakukan
kontrol terhadap hal ini. Safety Plan mencakup antara lain penyusunan
Safety Management, Identifikasi bahaya kerja dan penanggulangannya,
Rencana penempatan alat-alat pengaman seperti pagar, jaringlnet pada
tangga dan tepi bangunan, railing serta rambu-rambu K3 serta rencana
penempatan alat-alat pemadam kebakaran (tabung pemadam api),
gudang bahan peledak, dan lain-lain.

Security Plan
Secutity Plan mencakup prosedur keluar masuk bahan proyek, prosedur
penerimaaan tamu, identifikasi daerah rawan di wilayah sekitar proyek,
prosedur komunikasi di proyek.

Ketertiban dan Kebersihan Proyek (House Keeping)


Pengelolaan Kebersihan Proyek adalah meliputi penempatan cerobong
dan bak sampah, lokasi penempatan dan jumlah toilet pekerja,
pengaturan kantor dan jalan sementara, gudang, 10s kerja, barak
pekerja, dan lain-lain.
Tolok ukur keberhasilan pengelolaan K3 ini ditandai antara lain
dengan produktivitas dan efektivitas serta tidak terjadinya kecelakaan
kerja. Uraian lebih lengkap tentang K3 ini dijelaskan pada Bab K3 di
Proyek.

B.2.2.d. Contoh Juklak


Contoh standar isi suatu Juklak Proyek dapat dilihat pada daftar berikut:
STANDAR IS1 JUKLAK PROYEK GEDUNG

1. Project Over View (penjelasan data proyek)


2. Lingkup Pekerjaan
P Persiapan
P Struktur
P Arsitektur
m Mekanikal Elektrikal
3. Lay Out Proyek
a Gambar denah
P Tampak dan ~ o t o n ~ a(semua
n sisilarah)
w Foto kopi peta lokasi proyek dari buku peta Jakarta
4. Struktur Organisasi dan daftar alamat serta telepon k q personel (dilengkapi
dengan Job Description-nyaluraian tugasnya)
5. Metode Pelaksanaan, berupa Flow Chart atau Network (mulai dari pekerjaan
tanah, pekerjaan pondasi, pekerjaan struktur sld arsitektur).
6. Time Schedule pelaksanaan, dilengkapi gambar denah dan potongan, per-
kembangan proyek bulan per bulan (khusus struktur).

7. Site PlanlSite Installation untuk pekerjaan persiapan, terdiri dari:


a Batas-batas lokasi proyek (masukkan data dimensi dan jarak-jaraknya)
w Kantor Pemilik Proyek (Pemilik Proyek)
a Kantor Manajemen Konstruksi (MK)
w Kantor Kontraktor (sesuai standar Perusahaan)
et Stockyard (gudang bahan terbuka) untuk bahan mentah dan bahan jadi,
workshop kayu, dan tempat sampah (masukkan data dimensi dan
ukurannya)
QS Lokasi dan dimensi-dimensi tempat penumpukan sementara Scaffolding
dan peralatan bekisting lainya
PI Gudang tertutup (BBM)
QS Genset & Ruang panel utarna
PI Tower Crane
QI Concrete Pump (pada saat cor)
QI Lift bahan
Q1 Lift penumpang
Qi Saluran drainme, dewatering, dan air kotor lainnya
8) Tempat cuci mobil
gS Tempat sampah dan tempat manuver trailer sampah
a Pos jaga, pintu gerbang (detail desain)
(B Lokasi penempatan material di luar besi beton dan kayu misalnya:
pasir, split, bataco, dan lain-lain
(B Jalan masuk dan arus lalu lintas keluar masuk kendaraanllogistik
QI Barak pekerja, toilet, kantin
QI Gambar pagar dan papan nama proyek
8. Gambar detail (denah, tampak, potongan)
PI Kantor proyek
Bb Gudang tertutup (BBM)
PI Toilet, dan lain-lain sesuai Site Plan pada poin no. 7 di atas
Catatan: semua bangunan fasilitas proyek agar dibuat sesuai standar
yang ada.

m S T N G CONDITIONfKONDiSI SETEMPAT

9. Gambar (denah, potongan) posisi Existing Bangunan yang ada, utilitas di


dalam tanah (kabel listrik, sir, telepon, dll.) dan bangunan disekitar lokasi
yang berpengaruh terhadap pelaksanaan proyek dan rencana relokasinya.
10. Denah lokasi bench mark (BM) + detail konstruksi BM.

11. Gambar Denah dan potongan pekerjaan tanah, urutan serta alur
pelaksanaannya hendaknya mencakup:
s Jenis alat yang digunakan
e, Pengaturan lalu lintas di dalam proyek
s Perhitungan produktivitas kerja, jumlah alat (truck, excavator, dll) dan
waktu pelaksanaan
s Peta jalur dan lokasi buangan
m Hasil penyelidikan tanah dan analisisnya.
s Volume pekerjaan
s Pembagian alur kerja dan zoning-nya.

12. Pekerjaan Retaining Wall, Ground Anchor, Deep Well termasuk Bekisting
dan peralatan lainnya.

13. Gambar Denah, potongan pekerjaan pondasi dan urutan pelaksanaannya,


hendaknya meiiputi:
Skematik metode pelaksanaannya
at Jenis alat yang digunakan, penempatan, dan brosurnya

s Perhitungan produktivitas kerja dan waktu pelaksanaan


s Pembagian zoning dan alur kerjanya
s Site plan pekerjaan ini (lihat no. 10 dan 11) dan pengaturan lalu
lintasnya
s Volume pekerjaan, spesifikasi material danlatau desain betonnya

14. Site PlanlSite Installation saat pekerjaan tanah, pekerjaan fondasi dan
struktur penunjang,dilengkapi dengan:
s Instalasi distribusi listrik sementara untuk penerangan dan power point
lengkap dengan ukuran kabel, panel diagram, dan lokasi penempatan-
nya, lokasi lampu metode penggantungan kabel
s Instalasi air kerja, ukuran pipa, pompa air, dan saluran buangan
s Jalan aementara (pedetrian) untuk orang/pekerja dan perubahannia
sesuai dengan sequence pekerjaan.

UPPER STUCTUREISTRUKTUR ATAS

15. Gambar Denah pekerjaan struktur, Kolom, Balok, Pelat Lantai dan Core
Wall serta urutan pelaksanaannya, hendaknya memasukkan:
PI Jenis alat yang digunakan dan lokasi penempatan
SP Perhitungan produktivitas kerja dan waktu pelaksanaan
e Pembagian kelompok kerja dan blocking-nya
a Volume pekerjaan

16. Gambar-gambar detail sistem Bekisting Kolom, Kepala Kolom, Balok,


Pelat Lantai Tangga semua tipe dan Core Wall termasuk siklus penggunaan
bekistingnya.

17. Perhitungan Bekisting dan Metode Pelaksanaannya (skematik urutan


pelaksanaannya)

18. Metode cor khusus untuk basement + proteksinya

19. Metode perawatan beton untuk masing-masing elemen struktur


s Kolom, balok, dinding, pelat, dll.

20. Site Plan/Site Installation saat pekerjaan struktur dilengkapi dengan:


a Instalasi pagar pengaman sementara dan penutup lubanglshafi (K3)
e Instalasi distribusi listrik sementara untuk penerangan dan power point
lengkap dengan ukuran kabel, panel diagram, dan larnpunya di setiap
lantai
a Instalasi air kerja, ukuran pipa, pompa air, dan saluran pembuangannya
(jika diperlukan)
s Jalan sementara (pedestrian) untuk oranglpekerja dan perubahannya
sesuai dengan urut-urutan pekerjaan struktur

21. Gambar alat angkut (Tower Crane, Lift bahan, Lift penumpang)
s Gambar lokasi dan pondasi alat
to Perhitungan kapasitas angkut dan jumlah alat yang dibutuhkan
SP Jadwal harian pemakaian alat (untuk lift bahan khususnya)
a Rencana operasi alat angkut, berupa gambar potongan dan lokasi
pemberhentiannya.
a Gambar jembatan dari lift ke gudang beserta pagar pengamannya.

22. Data tambahan


a Mix desain (rencana campuran beton) dan spesifikasinya
a Perhitungan struktur tambahan (jika perlu)
a Perhitungan struktur untuk pekerjaan sementara (jika perlu)
Perencanaan pekerjaan Arsitektur
a Flow chart pekerjaan arsitektur
a Jenis pekerjaan yang perlu perhatian khusus, dominan danlatau
menentukan penampilan akhir
-a Metode pelaksanaan point di atas
a Site Plan saat pekerjaan arsitektur berlangsung, menampilkan lokasi
material, tempat pembuatan mortar, jalur air kerja, alur distribusi
mortar
a Jenis dan jumlah alat bantu yang diperlukan
a Identifikasi dan jumlah alat bantu yang diperlukan
a Identifikasi daerah yang perlu ditunda karena pekerjaan MIE dll.
a Zoning pelaksanaan pekerjaan yang sudah dilaksanakan
a Urutan pekerjaan pada item pekerjaan yang bersinggungan dengan MI
E, misal: Toilet, R. Panel, R. AHU, dll.
-a Rencana penempatan dan desain jembatan bahan

24. Perencanaan pekerjaan MIE


a Flow chart pekerjaan MIE
a Rencana pembagian pekerjaan sub Kontraktor MIE
w Identifikasi ruang sesuai keperluan blok diagram MIE
PI Format monitoring kemajuan pekerjaan MIE (block Diagram MIE)
io Identifikasi pekerjaan MIE yang perlu metode khusus (Chiller, Genset,
AHU, dll.)
w Metode pelaksanaan untuk poin tersebut di atas.

25. Daftar rencana shop drawing (gambar kerja) dan jadwal penggambarannya

26. Jadwal Peralatan (equipment schedule)


66
27. Jadwal Material Utama (Material schedule) dan urutan pengadaannya.
28. Jadwal pelaksanaan pekerjaan yang disubkontraktorkan (yang pokok dan
cenderung bermasalah)
29. Jadwal pekerja (Man Power Schedule)
30. Rencanan rapat-rapat koordinasi
a Harian, waktu, harilagenda
P, Mingguan, idem

a Bulanan, idem
ui Format-format yang digunakan untuk rapat-rapat tersebut.

31. Safety Plan


QI Safety Management: Struktur organisasi Safety, rencana Safety Meeting,
rencana Safety patrol, Safety Training Procedure.
a Identifikasi bahaya kerja dan cara penanggulangannya untuk setiap
item pekerjaan
a Rencana penempatan alat-alat pengaman seperti pagar, jaringlnet pada
tangga dan tepi bangunan, railing serta rambu-rambu K-3 (Safety Sign
board) dan lokasi kotak P3K
r Rencana jenis dan jumlah alat-alat Safety
m Daftar telepon, alarnat dan contact person lembaga-lembagalinstansi
yang mengelola Safety seperti asuransi, rumah sakit, kepolisian, dan
lain-lain.

32. Rencana Inspeksi dan standar inspeksi


r Formulir yang digunakan untuk inspeksi masing-masing pekerjaan

33. Security Plan:


a prosedur keluar masuk bahan proyek
Prosedur penerimaan tamu
e,
s Identifikasi daerah rawan di proyek
m Prosedur komunikasi di proyek: frekuensi, pemegang, dan posisi alat
komunikasi

HOUSE KEEPINGJKEBERSIHAN PROYEK

34. Prosedur pengelolaan kebersihan:


s Penempatan cerobong sampah
e, Lokasi penempatan dan jumlah toilet pekerja

s Penempatan bak sampah dan alur pembuangannya


s Standar prosedur kerja, struktur organisasi penangung jawab dan jumlah
personil
m Desain bucket sampah

35. Prosedur Site O@ce


s Check list kebersihan masing-masing di proyek
s Operasional dapur dan ruang makan
e, Tata cara alas kaki, sepatu proyek, helm, safety belt, dl1
m Tata cara alat kerja, alat tulis, dan mesin fotokopi

36. Rencana (apa dan kapan) dokumentasi proyek, foto dan foto digital

37. Cdsh FlowlArus Kas


38. Rencana Anggaran Pelaksanaan (RAP) Kendali

39. Standar Operating Procedure Proyek (flow chart dan format)


68
a Persetujuan Material
a Persetujuan Shop Drawing
w Progress Report Mingguan
a Progress Report BJanan
a Proses VO dan Pekerjaan tambah
s Persetujuan material on site
s Persetujuan izin pekerjaan

40. Dafiar Prosedur Umum yang harus ada di proyek

41. Rencana Training


ui Item pekerjaan yang dilatihkan
a ~ e n c a n awaktu pelaksanaannya
a Rencana pesertanya

42. Administrasi Kontrak


a Dafiar pigcalk
a Dafiar Peluang Klaim
a Format Laporan Mingguan, Bulanan untuk pihak luar
PT Estimasi & Besarnya Klaim
a Estimasi & Besarnya Eskalasi
s Dafiar Perubahan Deiain
a Estimasi biaya perubahan

B.2.2.e. Contoh Pembuatan Jadwal Pelaksanaan Proyek


Ada beberapa cara untuk membuat jadwal pelaksanaan proyek antara lain
menggunakan bar chart (diagram batang) dan Network Planning (NPM,)
dll. Pembuatannya dapat dilakukan secara manual maupun dengan
menggunakan software komputer seperti Microsofi Project dan Primavera.
Namun pada umumnya penggunaan bar chart masih dominan karena
pembuatannya lebih mudah, lebih sederhana, sehingga mudah dimengerti
karena mengakomodasi kebutuhan perencanaan jadwal pelaksanaan proyek
secara menyeluruh. Di samping itu, bar chart lebih fleksibel untuk
melakukan perubahan maupun penyesuaian.
Untuk bisa membuat jadwal ini kita perlukan datalinformasi-informasi
sebagai berikut:

o Item pekerjaan yang akan dikerjakan


o Nilai dan bobot masing-masing item pekerjaan
o Durasi dari waktu pelaksanaan masing-masing item pekerjaan
o Urut-urutan pelaksanaan pekerjaan
o Total waktu penyelesaian pekerjaan

Semua data tersebut biasanya terdapat pada dokumen kontrak berupa


Rencana Anggaran Biaya proyek.
Berikut ini adalah contoh pembuatan Jadwal Pelaksanaan Proyek 'ABC'
yang menggunakan .bar chart dengan data:

Nilai Proyek : Rp. 75.000.000.000


Waktu Pelaksanaan : 8 bulan (32 minggu)
Lag&-langkah perhitungan :

Menghitung persentase bobot pekerjaan:

Nilai B o b o t (%)
No Item Pekerjaan (dihitung)
(Rp. juta)

1 Pekerjaan Persiapan 200 = (20017500) x 100 = 2.67


2 Pekerjaan Galian Tanah 50 = (5017500) x 100 = 0.66
3 Pekerjaan Struktur Bawah 750 = (75017500) x 100 = 10.00
4 Pekerjaan Struktur Atas 1250 = (125017500) x 100 = 16.67
5 Pekerjaan Finishinglhsitektur 1500 = (150017500) x 100 = 30.00
6 Pekerjaan Mekanikal 1500 = (150017500) x 100 = 20.00
7 Pekerjaan Elektrikal 1500 = (1500/7500) x 100 = 20.00

7500
Setelah bobot persentase pekerjaan dihitung berdasarkan nilai rupiahnya
maka langkah selanjutnya adalah menghitung durasi waktu pelaksanaan masing-
masing item pekerjaan. Durasi waktu pelaksanaan dihitung berdasarkan
pengalaman pelaksanaan pekerjaan sejenis untuk suatu volume pekerjaan
tertentu dan disesuaikan dengan ketersediaan waktu pelaksanaan sesuai kontrak.
Durasi waktu ini biasanya dalam satuan minggu.

Menghitung bobot pekerjaan per minggu

Langkah berikutnya adalah menghitung persentase bobot pekerjaan per minggu,


yaitu dengan membagi rata (teoritis) bobot masing-masing item pekerjaan
dengan durasinya, seperti pada tabel berikut:

Durasi Bobot per Minggu (%)


No Item Pekerjaan (dihitung)
(minggu)

1. Pekerjaan Persiapan 29 = 2,67 / 29 = 0,09


2. Pekerjaan Galian Tanah 11 = 0,66 / 11 = 0,06
3. Pekerjaan Struktur Bawah 15 = l0,0'0 / 15 = 0,67
4. Pekerjaan Struktur Atas 16 = 16,67 / 16 = 1,04
5. Pekerjaan FinishingIArsitektur 15 = 30,OO / 15 = 2,OO
6. Pekerjaan Mekanikal 12 = 20,OO / 12 = 1,67
7. Pekerjaan Elektrikal 16 = 20,OO / 16 = 1,25

Catatan :
Dalam prakteknya bobot masing-masing pekerjaan per minggu ini tidak rata karena
rincian dari item pekerjaan mempunyai nilai bobot yang berbeda. Misalnya pada
pekerjaan Struktur Atas, rincian pekerjaannya adalah pekerjaan-pekerjaan pemasangan
bekisting, pemasangan besi, dan terakhir pengecoran. Masing-masing pekerjaan tersebut
mempunyai bobot yang berbeda, di mana bobot terbesar ada pada pekerjaan pengecoran
betonnya. Demikian pula misalnya pada pekerjaan Mekanikal, salah satu bagian
pekerjaannya adalah Pemasangan AC yang rincian pekerjaannya adalah
pekerjaan pemasangan ducting dan pemipaan (instalasi), pemasangan Chiller
(unit AC) dan pemasangan AHU. Bobot masing-masing pekerjaan berbeda,
di mana bobot pekerjaan instalasi lebih kecil daripada bobot pekerjaan
pemasangan unitlperalatan AC-nya. Namun untuk memudahkan memahami
pembuatan jadwal digunakan perhitungan seperti di atas.

Menyusun urut-urutan pelaksanaan masing-masing item pekerjaan


dalam bentuk Diagram Batang (Bar Chart)
Menghitung bobot pekerjaan per minggu dan akumulasi persentase
pekerjaan.
Membuat Kurva S

Kurva S adalah kurva yang menggambarkan hubungan antara waktu dan


kemajuan pekerjaan. Kurva S sangat berguna untuk mengetahui kemajuan
pekerjaan, apakah lebih cepat atau lebih lambat daripada yang sudah
direncanakan.

B.2.2.f. Contoh pembuatan Jadwal Pengadaan Tenaga Kerja (Manpower


Schedule)

Berikut ini diuraikan contoh pembuatan manpower schedule untuk pekerjaan


Struktur Atas suatu bangunan gedung.

DataIInformasi yang diketahui:

Volume pekerjaan
Pekerjaan Pembesian : 20.000 kg
Pekerjaan Bekisting : 1,500 m2
Pekerjaan Pengecoran Beton : 2 1.000 m3

Produktivitas tenaga kerja


1 orang Tukang besi (+2 pembantu tukang)

Pemotongan & Pembengkokan : 80 kglorglhari


Pemasangan : 125 kg/org/hari
1 orang Tukang Bekisting (+2 pbt tukang)
Pembuatan : 6 m2/org/hari
1 orang Tukang Bekisting (+3 pbt tukang)
Pemasangan : 6 m2/org/hari
1 orang Tukang Cor (+ 1 pembantu tukang):
Pengecoran Beton : 12 m3/org/hari

Jangka waktu pelaksanaan : 16 minggu (102 hari)


Durasi waktu untuk sub item pekerjaan
Pekerjaan Bekisting : 13 minggu
Pekerjaan Pembesian : 15 minggu
Pekerjaan Pengecoran : 1 hari

Jumlah tukang yang diperlukan digambarkan dalam bentuk diagram


batang berikut ini:

Manpower Skejul Pekerjaan Struktur Atas

Dengan cara yang sama dihitung kebutuhan tenaga kerja untuk masing-
masing item pekerjaan kemudian dituangkandalam satu jadwal yang
mencakup seluruh pekerjaan dengan jadwal sesuai jadwal induk proyek.

B.2.2.g. Contoh Pembuatan Jadwal Pengadaan Alat (Equipment Schedule)


Informasi yang diperlukan untuk pembuatan jadwal peralatan ini antara
lain adalah:
- Jenis dan kapasitas alat yang akan dipakai
- Volume pekerjaan yang menggunakan alat tersebut
- Durasi waktu pelaksanaan
Equipment Schedule Pekerjaan Struktur Atas

Catatan:
Bar Bender-Mesin pembengkok Besi
Bar Cutter-Mesin Pemotong Besi
Concrete Pump-Pompa Beton
Concrete Vibrator-Penggetar Beton untuk pemadatan beton pada waktu
pengecoran

B.2.3. Pembelian dan Prosedur Pengadaan Bahan


B.2.3.a. Pembelian
Pada dasarnya usaha untuk meningkatkan daya saing perusahaan dapat
dilakukan dengan melakukan upaya-upaya penghematan biaya. Mengingat
tingginya nilai biaya bahan dalam suatu proyek, yaitu rata-rata mencapai
70 persen dari seluruh biaya pelaksanaan proyek, maka setiap usaha untuk
meningkatkan keuntungan perusahaan sangat tergantung pada efisiensi
dan efektivitas kegiatan pembelian bahan.
Di samping itu, bahan juga bersifat fluktuatif dan rawan terhadap ke-
naikan harga, sehingga berada dalam jalur kritis dan mendominasi kebutuh-
an proyek. Kenaikan harga bahan harus diantisipasi pada saat tender, pe-
mesanan, maupun penyimpanan, terutama untuk bahan strategis seperti
semen, besi beton, dan plywood. Oleh karena itu, pengelolaan bahan perlu
dilakukan dengan baik.
Berikut concoh fluktuasi h a r p bahan besi beton dan semen dari tahun
2000-2003.

CONTOH GRAFIK PERKEMBANGAN HARGA

GRAFIK PERKEMBANGAN HARGA SEMEN

z 30000
25000
1 20000
15000
10000
5000
0
2000 2001 2002 2003
TAHUN

GRAFIK PERKEMBANGAN HARGA BESl BETON

3500
3000
z
2,509
m
tj 2000
W
1500
1~000
T -

500
0 . ...
2000 2001 2002 2003
TAHUN
Untuk mempelajari kegiatan utama dari tahap pembelian maka perlu
diketahui prinsip dasar dan rumusan aktivitas pembelian, yaitu:

Mendapatkan bahan dengan kualitas yang sesuai, kuantitas yang efisien,


harga yang wajar, pada waktu yang tepat, dari produsen atau pemasok
yang dapat dipercaya, sehingga mampu menjamin kontinuitas persediaan
bahan di lapangan.
Mengelola persediaan bahan (inventory) yang efisien.

Hal-hal yang harus diperhatikan dan dikuasai oleh seorang pembeli sebelum
melakukan pembelian adalah:

1) Menetapkan kapan harus mulai membeli.


2) Menentukan jumlah bahan akan dibeli.
3) Menerapkan prinsip hubungan kerja sama dengan mitra kerja (supplier).
4) Menguasai deskripsi spesifikasi mutu.
5) Menguasai rencana pembelian yang taktis.
6 ) Menguasai peraturanlprosedur pembelian yang ditetapkan perusahaan.

a. 1. Menetapkan kapan harus mulai membeli


Pada tahapan ini pembeli harus memperhatikan Lead Time (Tenggang
Waktu) dari masing-masing bahan. Yang dimaksud dengan Lead Time
a d a i h tenggang waktu yang diperlukan untuk memperoleh bahan,
dimulai pada saat pengajuan permohonan pembelian sampai dengan
diterimanya bahan di gudang dan siap untuk dipergunakan atau
diserahkan kepada pemakai.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi Lead Time suatu bahan,
yaitu:

1) Jadwal pemakaian bahan yang merujuk pada jadwal' pelaksanaan


proyek (Master Schedule).
2) Waktu yang diperlukan produsen dalam proses produksi.
3) Jarak dan waktu transportasi dari sumber material ke lokasi proyek.
4) Formula pemesanan, apakah akan dilakukan pemesanan bertahap
atau keseluruhan atas dasar efisiensi biaya (uang muka, bank garansi,
dan lain-lain).
5 ) Ketersediaan dan kapasitas gudang serta fasilitas penyimpanannya.
a.2. Menentukan jumlah bahan yang akan dipesan
Menentukan jumlah bahan yang akan dipesan harus didasarkan pada
beberapa pertimbangan, antara lain:

1) Kuantitas persediaan yang paling efisien adalah dengan menjamin


kontinuitas produksi di lapangan, karena tidak dapat ditolerir
apabila proses produksi terharnbat disebabkan tidak tersedianya
bahan di lapangan (non in stock), dan sebaliknya pula, penumpukan
bahan yang berlebihan di lapangan (over stock) mengandung risiko-
risiko:
Merugikan cash flow perusahaan
Kadaluarsa (obsolescence)
Kerusakan (deterioration)
Kehilangan (loss)
Membutuhkan biaya inventory
Penumpukan bahan yang terlalu lama berarti ada dana yang
mengendap dan tidak produktif, tidak menghasilkan pendapatan,
bahkan bisa menambah biaya proyek karena adanya tambahan biaya
inventory (penyimpanan stock bahan), juga biaya untuk mengganti
bahan yang sudah kadaluarsa atau mengalami kerusakan maupun
hilang. Berdasarkan pengalaman, lamanya perputaran suatu stock
bahan yang baik adalah tidak melebihi 14 hari. Yang dimaksud
dengan perputaran persediaan bahan (Inventory Turnover, ITO),
adalah lamanya bahan sejak datang sampai dengan terpasang dan
menjadi prestasi yang diakui sebagai pendapatan.

2) Ketersediaan fasilitas penyimpanan dan handling:


Gudang tertutup (untuk PC, keramik, dan lain-lain).
Gudang terbuka (untuk besi beton, pasir, batu, dan lain-lain).
Gudang khusus (untuk bahan peledak, bahan kimia mudah
terbakar, dan lain-lain).
Peralatan handling (crane, fork lift, dan lain-lain) .

3) Lokasi Proyek menentukan kebijakan pengadaan bahan


Pengadaan bahan dengan kebijakan Just In Time untuk proyek yang
berada di remote area (lokasi di pelosok daerahlluar kota) mungkin
tidak cocok karena sulitnya transportasi, misalnya. Sedangkan
pengadaan bahan secara keseluruhan akan memberatkan cash flow
dan risiko overstock, tetapi aman terhadap risiko kenaikan harga.
Untuk kondisi seperti ini maka kebijakan pengadaan bahan akan
diputuskan oleh Manajemen Perusahaan.

a.3. Menerapkan prinsip hubungan kerja sama dengan mitra kerja


(pemasoWsupplier)
Membina hubungan kerja yang transparan antara pembeli dan supplier
berdasarkan prinsip hubungan kerja sama, sebagai mitra kerja, yang
menekankan pada hal-hal sebagai berikut:

a. Berorientasi pada mutu.


b. Independen dan saling menghargai.
c. Menerapkan prinsip Win-win solution (saling menguntungkan).
d, Tidak berkonfrontasi, tidak hanya memikirkan situasi kini, juga
masa depan.
e. Partnership, saling membagi keuntungan dan risiko. Sebagai mitra
kerja, hilangkan anggapan bahwa pembeli adalah "raja" yang harus
selalu menang sendiri, ditakuti, kaku, dingin dan tidak bersahabat.
f. Saling memberikan informasi yang jelas, terinci, terbuka, dan dapat
dipercaya.
g. Bicara dengan bahasa sama untuk spesifikasi, kualitas, jumlah,
harga, pengiriman, dan pembayaran.
h. Sepakat tentang metode evaluasi yang akan diterapkan.
i. Sepakat tentang jalan keluar yang damai apabila terjadi dispute
(perselisihan).
j. Mengusahakan peningkatan mutu dari mitra kerjanya.
k. Saling memiliki kontrol yang cukup dan mudah dimengerti.
1. Berorientasi pada masing-masing pelanggannya.
m. Profesional.
n. Saling membuka peluang untuk negosiasi.

a.4. Menguasai informasi dan deskripsi mutu.


Pada dasarnya untuk menguasai informasi dan deskripsi spesifikasi
mutu yang dikehendaki dalam pembelian adalah men~angkutbeberapa
hal, antara lain:
a. Spesifikasi yang jelas dan terinci yang dikehendaki pemakai.
b. Spesifikasi yang dapat dipenuhi oleh produsenlsupplier.
c. Standarisasi produk (SNI, JIS, ASTM, dan lain-lain).
d. Metode sumei yang akan digunakan.

a.5. Menguasai rencana pembelian yang taktis


Dalarn pembelian seorang pembeli dituntut untuk menguasai rencana
pembelian taktis dengan mempertimbangkan kemungkinan-
kemungkinan berikut:
a. Perubahan rencana produksi proyek berupa penundaan, pembatalan
atau percepatan operasi proyek.
b. Antisipasi terhadap kenaikan dan penurunan harga bahan sehingga
memiliki stock bahan yang bisa berfluktuasi menjawab tantangan
tersebut.
c. Apakah bahan dapat setiap waktu dibeli dengan mudah.
d. Spare partlafier sales serviceljaminan mutuljaminan pemeliharaan.
e. Mengetahui status persediaanlmenguasai kontrol persediaan.

a.6. Menguasai peraturanlprosedur pembelian yang ditetapkan perusahaan


Penguasaan peraturan dan prosedur dalam kegiatan pembelian sangat
penting mengingat ha1 ini menyangkut pihak internal maupun
eksternal. Untuk itu harus memenuhi:
a. Mudah untuk diperiksa (auditable).
b. Persyaratan administratif.
c. Peraturan-peraturan lain yang berhubungan dengan Instansi terkait.

B.2.3. b. Prosedur Pengadaan Bahan


Prosedur pengadaan bahan (procurement) secara garis besar dapat dibagi
. dalam beberapa tahap kegiatan berikut:
1. Perencanaan
2. Seleksi
3. Pembelian
4. Penerimaan
5. Pembayaran
6. Evaluasi

b. 1. Tahapan Perencanaan
Kegiatan ini mencakup beberapa aktivitas penting, yaitu:
1. Menyusun Jadwal pendatangan material proyek merujuk pada Master
Schedule proyek. Jadwal ini disusun oleh Manajer Teknik dan
disetujui oleh Project Manager (PM).
2. Adanya permintaan pengadaan bahan dari unit yang memerlukan
yang dinyatakan dengan Surat Permintaan Pembelian (SPP).

Surat Permintaan Pembelian harus berisi data yang menguraikan


dengan jelas produk yang dipesan, antara lain:

Volume dan waktu pengirimanlpenerimaan bahan.


Nama, merek dan spesifikasi bahan.

b.2. Tahapan Seleksi


Tahapan seleksi terhadap calon produsen atau calon pemasok (kontak
agennya) adalah sebagai berikut:

1. Unit Pembelian mencari penawaran harga dari beberapa pemasok


(supplier) berdasarkan spesifikasi yang ditentukan oleh unit peminta,
biasanya tidak kurang dari 3 calon pemasok.

2. Unit Pembelian melakukan klarifikasi dan negosiasi harga atas


penawaran dari calon-calon pemasok. Materi klarifikasi dalam
kegiatan ini meliputi:
a. Spesifikasi bahan baku yang digunakan,
b. Spesifikasi bahan hasil produksi, dan
c. Kemampuan produksi serta pasokannya
d. Harga satuan bahan yang ditawarkan.

3. Proses seleksi ini dilaksanakan untuk memperoleh jaminan bahwa,


produsenlsupplier yang dimintakan penawaranldibeli produknya
mampu memproduksi dan menyerahkan bahan sesuai kualitas dan
kuantitas yang disyaratkan.

b.3 Tahapan Pembelian


Tahapan ini dilaksanakan dengan urutan sebagai berikut:

1. Pimpinan Unit Pembelian (Logistik) memutuskan harga final yang


dituangkan dalam berita acara negosiasi dan disetujui oleh kedua
belah pihak dengan dasar pertimbangan:
a. Kemarnpuan delivery (pengiriman)
b. Kualitas bahan
c. Harga yang wajar

2. Menyiapkan Surat Pesanan (SP)lPurcbme Order (PO) yang antara


lain memuat hal-hal sebagai berikut:
a. Kuantitas bahan yang dipesan
b. Uraian bahan
c. Spesifikasi bahan
d. Harga Satuan bahan
e. Waktu penyerahan bahan
f. Cara Pembayaran
g. Syarat-syarat pembayaran
h. Harga satuan dan total yang disepakati
i. Kewajiban dan sanksi masing-masing pihak
j. Penyelesaian bila terjadi "dispute"
3. Memantau pengiriman bahan

b.4. Tahapan Penerimaan


Pada tahapan ini kegiatan penerimaan bahan dapat berfungsi antara
lain sebagai pengendalian material karena aktivitas penerimaan
menyangkut hal-hal seperti:
Kedatangan bahan
Penerimaan
Penyimpanan
Pemeliharaan
PencatatanIAdministrasi
PengirimanIDistribusi ke pemakai

Petugas penerimaan barang (PENBAR) di proyek menerima bararigl


bahan berdasarkan SPIKontrak yang disepakati kedua belah pihak dan
dilakukan pemeriksaan dengan ketentuan sebagai berikut:

a. Bahan harus sesuai dengan spesifikasi dan kualitas yang disyaratkan.


Petugas Quality Control Proyek (QC) melakukan inspeksi untuk
memeriksa apakah bahan sesuai dengan mutu dan spesifikasi
sebagaimana dipersyaratkan dalam kontraklsl?
b. Jika memenuhi syarat, bahan disimpan di dalam gudang dan dicatat
dalam Bon Penerimaan Gudang (BPG), jika tidak bahan ditolak.
c. PENBAR mencatat penerimaan dan pengeluaran bahan pada Kartu
Stock.
d. Setiap akhir bulan melakukan pemeriksaan berkala untuk
menentukan apakah bahan masih layak dipakai. Untuk bahan yang
tidak layak pakai, bahan tersebut dipisahkan penyimpanannya dan
diproses serta ditindaklanjuti sesuai prosedur Non Conforming
Product I S 0 9000.
e. Menyerahkan bahan kepada si pemakai di lapangan berdasarkan
Bon Permintaan Pengeluaran Bahan (BPPB) dan mencatatnya pada
kartu stock (persediaan bahan).

b.5. Tahapan Pembayaran


.Tahapan pembayaran kepada supplierlpemasok dilaksanakan berdasarkan
kesepakatan yang tercantum dalam SPIPOIKontrak. Cara pembayaran
yang berlaku adalah sebagai berikut:

1. Pembayaran diproses.
2. Pembayaran dengan LIC (Letter of Credit).

Yang dimaksud dengan pembayaran diproses adalah semua


pembayaran yang dilakukan atas transaksi kepada produsenlsupplier
tidak diperkenankan dengan pembayaran tunai melainkan harus di-
proses sesuai prosedur yang berlaku dan dibayarkan dengan cara TIT
(TeegraJ;c Transfer) melalui bank yang disepakati.
Sedangkan pembayaran dengan LIC adalah fasilitas dari bank
kepada pembelilimportir di mana Bank menjamin dan mengambil
alih kewajiban pernbelilimportir dalam melaksanakan pembayaran
kepada penjualleksportir. Atau dapat dikatakan bahwa LIC adalah
perjanjian bersyarat dari bank.
Berdasarkan jenisnya LIC dapat dibagi atas dua macam, yaitu
L/C lokal dan LIC impor. Yang dimaksud L/C lokal adalah LIC yang
dibuka untuk transaksi di dalam negeri dan harus dalam mata uang
rupiah. Sedangkan LIC impor adalah L/C yang dibuka untuk transaksi
dengan penjual yang beralamat di luar negara RI, alat pembayarannya
bisa dalam bentuk valuta asing.
Pada dasarnya jenis LIC yang umum dipergunakan perusahaan
adalah: Sight LIC (Segera Dilunasi) atau Usance LIC yang artinya
Pelunasan Berjangka.

b.6. Tahapan Evaluasi


Setelah beberapa tahapan aktivitas pembelian dilalui, maka sampailah
kini pada tahapan evaluasi. Kegiatan evaluasi terhadap produsen/
supplier dilaksanakan setiap saat atas dasar realisasi pemasokan terhadap
rencana kuantitas, kualitas, dan waktu pengiriman yang disyaratkan
dalam SPIPOIKontrak. Dengan tujuan untuk menjamin agar bahan
yang dipasok sesuai persyaratan yang disepakati

B.2.4. PERALATAN
B.2.4.1. Umum
Yang dimaksud dengan peralatan dalam hal ini adalah peralatan yang di-
pergunakan dalam rangka pelaksanaan proyek konstruksi. Berdasarkan
kapasitasnya, peralatan dibagi menjadi peralatan berat dan peralatan ringan.
Contoh peralatan berat antara lain adalah: Bulldozer, Hydraulic Excavator,
Motor Grader, Wheel Loader, Tower Crane, dll. Contoh peralatan ringan antara
lain adalah: Waterpars, Theodolite, Jack Hammer, Scafolding, dll.
Pengelolaan peralatan selain ditujukan untuk mendapatkan efisiensi juga
menunjang produktivitas kemajuan pekerjaan. Hal tersebut dapat dicapai
melalui manajemen peralatan yang baik. Unsur-unsur manajemen peralatan
adalah:
Organisasi
Sistem Pengelolaan

Organisasi Peralatan disesuaikan dengan bentuk Organisasi Perusahaan


yang pada dasarnya terdiri dari:
Pengelola (Kantor Pusat atau Cabang)
Pemakai (Proyek)

Sistem Pengelolaan sangat menentukan keberhasilan tujuan pengelolaan


peralatan, antara lain terdiri dari:
Tarif dan pembebanan biaya (penyusutan, M & R, sewa)
Penempatan dan pemindahan alat
Pemeliharaan dan perbaikan
Pelaporan

Analisis dan Evaluasi bertujuan untuk melihat sejauh mana efektivitas dan
efisiensi dari sistem tersebut. Umumnya analisis dan evaluasi dilakukan sekali
dalam periode waktu tertentu (misal periode 1 tahun).
Hasil dari evaluasi dapat menghasilkan kebijakan penambahan/penggantian/
pengurangan peralatan maupun pengaturan kembali penempatan peralatan.
Sumber peralatan dapat diperoleh dengan caralsistem:

a. Milik sendiri
b. Sewa dari perusahaan persewaan peralatan
c. Diborongkan kepada subkontraktor spesialis

Peralatan yang dimiliki oleh perusahaan didapatkan dari kebijakan investasi


yang ditetapkan setiap tahun dalam Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan.
Peralatan bisa juga diperoleh dengan menyewa untuk mengisi kekurangan
peralatan yang sifat kebutuhannya sesaat atau merupakan kebijakan perusahaan
yang memang tidak akan memiliki jenis alat tersebut, misal alat ringan atau
alat-alat yang mudah didapat di pasaran sewa.
Kondisi yang umum berlaku pada sistem sewa ini antara lain:

Masa sewa minimum satu bulan adalah 200 jam.


Operatorlmekanik disediakan oleh Pemilik.
Tanggung jawab Pemilik: mobilisasildemobilisasi, gaji operatorlmekanik,
suku cadang, dan minyak pelumas.
Tanggung jawab Penyewa: BBM, uang makan dan akomodasi untuk meka-
nik, keamanan, asuransi, dan segala bentuk pajak.
Jika alat rusak, Penyewa tidak dikenakan uang sewa dan biaya perbaikan.
Kadang-kadang dapat pula terjadi sewa peralatan secara harian dengan tarif
yang berbeda dengan standar tarif sewa bulanan.

Sistem borongan adalah seluruh pekerjaan termasuk pengadaan peralatan


dan seluruh komponennya (operator, mekanik, BBM, pare part, pelumas,
dll.) diserahkan pelaksanaannya kepada subkontraktor spesialis. Harga satuan
pekerjaan ditetapkan dalam KontrakIPerjanjian atas pekerjaan borongan
tersebut.
Contoh:
Pekerjaan tanah, yaitu galian timbunan, sub-base, dan course base, misalnya:
Galian tanah biasa : Rp. 15.000/m3
Timbunan tanah : Rp. 5.000/m3

B.2.4.2. Jenis dan Kapasitas Alat


Berdasarkan fungsinya, jenis peralatan dapat digolongkan menjadi:
Peralatan untuk Pekerjaan Gedung (Building Works)
Peralatan umum untuk pekerjaan gedung dan sipil
Dalam menentukan pemakaian peralatan (jenis dan jumlah) sangat
ditentukan oleh kapasitas dan produktivitas dari alat tersebut.
Kapasitas alat adalah kemampuan alat secara teoritis dengan asumsi efisiensi
alat sempurna (100 persen) yang dikeluarkan oleh pabrik pembuat, contoh
Genset kapasitas 100 kVA, Excavator kapasitas 0,8 m3.
Produktivitas alat adalah kemarnpuan untuk berproduksi di lapangan yang
dipengaruhi oleh faktor-faktor antara lain:

Kapasitas
Efisiensi yang dipengaruhi oleh medan kerja, operator, kondisi dat

Satuan dari produktivitas yang biasa dipakai antara lain: m3/jam, tonljam,
m2/jam, dll.
Contoh Rumus Perhitungan Produktivitas

Excavator: Galian Tanah

Q = KB x FB x 3.600 x El Cm; E = Ee x En x Eo
dlmana:
'

Q = Kapasitas Produksi Alat, satuan: m3/jam


KB = Kapasitas Bucket, satuan: m3
FB = Faktor Bucket, tanpa satuan
E = Faktor efisiensi, tanpa satuan
Ee = Faktor efisiensi alat, tanpa satuan
En = Faktor efisiensi dam, tanpa satuan
Eo = Faktor efisiensi operator, tanpa satuan
Cm = Cycle time, satuan: detik
CONTOH TABEL PERALATAN KONSTRUKSI
(GEDUNG, SIPIL DAN UMUM) DAN PRODUKTIVITAS

DESKRIPSI KAPASITAS PRODUKTMTAS


Alat Pekerjaan Tanah
Bulldozer 70 - 600 HP 50 - 600 m3/ jam
Wheel Loader 0,8 - 9,O m3 40 - 500 m3/ jam
Dump Truck 5 - 70 m3 bewariasi tergantung jarak angkut
Hydraulic Ejccavator 0,3 - 5,O m3 20 - 350 m3/ jam
Vibro Roller 8 - 20 ton 50 - 150 m3/ jam
Motor Grader 80 - 200 HP 100 - 500 m2/ jam
Water Tanker Truck (alat bantu) 5000 - 8000 1tr mengikuti alat utama
Small Vibro Roller 0,9 - 3,O ton 5 - 20 m3/ jam
Alat Pek. Pemancanean
Crawler Crane 35 - 45 ton mengikuti alat utama
Piling Rig & Diesel Hammer 7,5 - 10 ton 20 - 40 ml jam
Travo Las 300 - 400 Amp mengikuti alat utama
Alat Pek. Pengaspalan
Asphalt Mixing Plant 50 - 150 ton/ jam
Gemet (alat bantu) 100 - 300 KVA mengikuti alat utama
Wheel Loader (alat bantu) 1,8 - 2,3 m3 mengikuti alat utama
Water Tanker Truck (alat bantu) 5000 - 8000 1tr mengikuti alat utama
Tyre Roller 10 - 25 ton 40 - 80 ton/ jam
Tandem Roller 8 - 15 ton 40 - 80 ton/ jam
Asphalt Sprayer (alat bantu) mengikuti alat utama
Asphalt Finisher 40 - 80 ton/ jam
Air Compressor 175 - 600 cfm mengikuti alat utama
hphalt Cutter (alat bantu) mengikuti alat utama
Dump Truck 15 - 25 ton bewariasi tergantung jar& angkut
Alat Pek. Beton
Batching Plant 0,5- 2 m3 25 - 150 m3/ jam
Wheel Loader (alat bantu) 1,8 - 2,3 m3 mengikuti alat utama
Genset (alat bantu) 100 - 300 KVA mengikuti alat utama
Concrete Pump 50 - 120 m3/ jam 30 - 90 m3/ jam
Concrete Paver lebar 6 - 11 m, tebal sld 35 cm 30 - 60 m3/ jam
Truck Mixer 3 - 6 m 3 bewariasi tergantung jar& angkut
Concrete Vibrator (alat bantu) 0 1,5"- 2,5" mengikuti alat utama
Bar Bender 32 - 38 mm bewariasi
Bar Cutter 32 - 38 mm bewariasi
DESKRIPSI KAPASITAS PRODUnMTAS

Alat Service. dll.


Tower Crane 1 , 2 - 3 ton; R = 4 0 - 7 0 m bervariasi
Passenger Lzji 800 - 1200 kg bervariasi
universal L Z J ~ 800 - 1000 kg bervariasi
Truck (Mobile) Crane 15 - 200 ton
Gemet 10 - 175 KVA
Air Compressor 175 - 600 cfm
Fht Bed Tnrck 4 - 8 ton
Theodolit 300 mtr
Waterpass 300 mtr
Jack Hammer 20 kg
Tamping Rammer 80 kg
Concrete Mixer (Molen) 350 - 700 Itr
Welding Machine 300 - 400 Amp
Scaffolding 70 - 190 cm; 1 - 2 ton
Howy beam 1,8 - 3,2 m
Shoring 15 ton

Catatan:

Dahm perahtan yang bekerja di hpangan secara bersama (fleet)


produktivitusnya ditentukan oleh jenis a h t mana yang paling kecil
produksinya dalam armada perahtan tersebut.

Perencanaan yang ideal apabih setiap jenis allzt dalam a 4 perallztan


(fleet) &pat mencapai produksi yang optimal.

Contob Perhitungan Fleet Alat lihat pa& Lampiran E2.1. Analisis .


Produktivik Alat

B.2.4.3. Occupancy Ratio (OR)


Keberhasilan perusahaan dalam pengelolaan alat milik sendiri diindikasikan
dari besarnya nilai Occupancy Ratio, yaitu suatu rasio yang didapatkan dari
jumlah waktu operasi alat dibandingkan dengan waktu ideal operasi alat
dalam periode tertentu (bulanan atau tahunan). Sebagai contoh untuk
peralatan pekerjaan tanah waktu operasi ideal per bulan adalah 200 jam atau
2400 jam per tahun.
Jumlah waktu operasi alat sangat dipengaruhi oleh sistem perencanaan dan
pengoperasian, daya tahan operator, kondisi alat, dan kedisiplinan dalam
perawatan alat.

Realisasi waktu operasi


OR = x 100%
Ideal waktu operasi

Standar O R minimum dapat ditetapkan berdasarkan:


Pengalaman pemakaian sebelumnya
Dari pengalaman pemakaian jenis alat yang paling banyak dimiliki

B.2.4.4. Investasi
Kebijakan investasi alat didasarkan atas pertimbangan-pertimbangan sebagai
berikut:

Keadaan keuangan perusahaan memungkinkan


Kontinuitas proyeksi pemakaian
Jenis alat yang O R melebihi standar
Ada kebutuhan mendesak, dan di pasaran sewa tidak ada

Sumber dana investasi:

Dari penanaman laba tahun lalu yang tidak dibagikan


Dari pinjamanlleming jangka panjang (lebih besar dari pada umur ekonomis
alat)

B.2.4.5. Depresiasi
Perhitungan depresiasi atau penyusutan alat diperlukan untuk mengembalikan
nilai investasi yang telah dikeluarkan sesuai norma-norma pencatatan
pembukuan yang dianut perusahaan.
Beberapa metode penyusutan yang biasa dipakai adalah:
Straight Line Method
Perhitungan penyusutan dengan membagilmemberikan nilai susut yang
sama besarnya per periode waktu selama umur penyusutan alat.
Sum of the Ear? Digit Methode
Perhitungan penyusutan dengan rnenggunakan jurnlah angka tahun.
Double Declining Bahnce Methode
Perhitungan penyusutan dengan melipat gandakan (Double) secara persentase
dari rnetode Straight Line.
Dalarn hal perusahaan rnelakukan divestasi terhadap alat yang dirniliki. Untuk
itu diperlukan perhitungan nilai sisa alat.
Nilai sisa alat dapat dihitung dengan cara:
Sisa nilai buku
Taksiran berdasarkan harga pasar

Catatan:
Untuk perhitungan pajak perusahaan, metode penyusutan yang dipergunakan
adalah Double Declining Balance Method dengan umur a h t minimum 8
tahun untuk a h t berat dan 4 tahun untuk alat ringan. Sedangkan untuk
operasional dapat ddipilih sahh satu h r i ketiga metode tersebut, atau ditetapkan
lain berdasarkan kebijaksanaan per kasus.
Contoh Perhitungan:
Suatu Bulldozer dibeli dengan harga pokok Rp 1.150.000.000. Alat ini akan
disusutkan hingga nilai sisa rnenjadi 10% dengan urnur ekonornis 5 tahun.

Nilai yang disusutkan = Harga pokok - Nilai sisa


- RP 1.150.000.000 - RP 115.000.000
-
- Rp 1.035.000.000
Straight Line:
Nilai penyusutan per thn. = 115 x Rp 1.035.000.000 = Rp 207.000.000

Tahun ke Nilai yang disusutkan Nilai Sisa


0 0 Rp 1. 150.000.000
1 Rp 207.000.000,- Rp 943.000.000
2 Rp 207.000.000,- Rp 736.000.000
3 Rp 207.000.000,- Rp 529.000.000 .

4 Rp 207.000.000,- Rp 322.000.000
5 Rp 207.000.000,- Rp 115.000.000
Dengan menggunakan metode Straight Line, besarnya nilai penyusutan untuk
setiap periode waktu adalah sama. Oleh karena itu, Investor dapat langsung
menghitung besarnya nilai penyusutan dengan membagi nilai penyusutan per
periode waktu.
Nilai yang Disusutkan (Rp)
Nilai penyusutan =
Periode Penyusutan (Bulan, Jam)

Sum of the Ear? Digit


Jumlah digit angka tahun periode penyusutan: 1 + 2 + 3 + 4 + 5 = 15

Tahun ke Faktor x Nilai yg Disusutkan Nilai Penyusutan Nilai Sisa


0 0 Rp 1. 150.000.000
1 5/15 x Rp 1.035.000.000 Rp 345.000.000 Rp 805.000.000
2 4/15 x Rp 1.035.000.000 Rp 276.000.000 Rp 529.000.000
3 311 5'x Rp 1.035.000.000 Rp 207.000.000 Rp 322.000.000
4 2/15 x Rp 1.035.000.000 Rp 138.000.000 Rp 184.000.000
5 1/15 x Rp 1.035.000.000 Rp 69.000.000 Rp 1 15.000.000

Double Declining
Besarn~anilai yang disusutkan adalah: 2 x 115 = 40% dari nilai sisa buku
tahun lalu

Tahun ke Faktor x Nilai yg Disusutkan Nilai Penyusutan Nilai Sisa


0 0 Rp 1.150.000.000
1 40% x Rp 1.150.000.000 Rp 460.000.000 Rp 690.000.000
2 40% x Rp 690.000.000 Rp 276.000.000 Rp 414.000.000
3 40% x Rp 414.000.000 Rp. 165.600.000 Rp 248.400.000
4 40% x Rp 248.400.000 Rp 99.360.000 Rp 149.040.000
5 40% x Rp 149.040.000 Rp 59.616.000 Rp 89.424.000
5* Rp 34.040.000 Rp 1 1.500.000
Pada metode Double Declining terlihat bahwa nilai sisa pada tahun terakhir
tidak sesuai dengan yang diperhitungkan. Tetapi jika dikehendaki nilai sisanya
sebesar 10% maka dipakai 5*.

B.2.4.6. Pemeliharaan dan Perbaikan


Dalam perencanaan pembiayaan peralatan milik sendiri, perkiraan biaya
pemeliharaan dan perbaikan dihitung dengan memperhatikan faktor-faktor
berikut:
Jenis alat
Medan kerja
Umur dan kondisi alat
Lokasi
Perhitungan tersebut dilakukan pada kondisi alat baru dan apabila setelah
mencapai umur ekonomis atau setelah alat direkondisi. Pemeliharaan dan
perbaikan alat dib'agi dalam 3 kategori, untuk menentukan kebijakan
pembiayaan antara pengelola dan pemakai, yakni:
Kategori 1
Pemeriksaan dan penggantian suku cadang umur pendek fmt moving part)
dalam rangka pemeliharaan alat secara berkala.
Kategori 2
Penggantian suku cadang umur panjang, yang dapat menambah umur
ekonomis alat dalam rangka perbaikan atas kerusakan atau keausan.
Kategori 3
Penggantian suku cadang, perbaikan, peneraan secara keseluruhan, dalam
rangka rekondisi alat yang dapat dilakukan secara berkala maupun sesuai
kebutuhan.
Catatan:
Biaya pemeliharaan dan perbaikan Kategori 1 menjadi beban pemakai.
Biaya pemeliharaan dan perbaikan Kategori 2 dan 3 menjadi beban pengelola.

B.2.5. Koordinasi Pelaksanaan Kegiatan Lapangan


Dengan telah terbentuknya organisasi, juklak, jadwal pelaksanaan proyek, dan
rencana pengadaan sumber daya, maka langkah selanjutnya adalah melak-
sanakan kegiatan konstruksi di lapangan
Pelaksanaan kegiatanlpekerjaan konstruksi di lapangan, dilakukan di bawah
pengelolaan tim proyek dipimpin oleh Manajer Proyek. Agar pelaksanaannya
mencapai target yang telah ditetapkan dalam rencana pelaksanaan, maka
diadakan rapat koordinasi sebagai salah satu alat bantu manajemen. Rapat
koordinasi dilakukan untuk membahas tentang masalah operasional dan
diadakan di proyek, yang terdiri dari:

a. Kick off meeting


b. Tool Box meeting
c. Rapat harian
d. Rapat mingguan
e. Rapat bulanan
B.2.5.a. Kick off meeting
Setelah seluruh rencana disiapkan oleh tim penyusun rencana kerja
yang melibatkan Manajer Proyek, Manajer Teknik serta personil inti
lain di proyek, ataupun tenaga ahli (bila diperlukan), maka proyek
segera dimulai.
Mulainya proyek ditandai dengan dikeluarkannya Notice to Proceed
(SPK = Surat Perintah Kerja, ataupun Surat Penyerahan Lapangan)
Tujuan Rapat adalah untuk:
"Team building, membangun tim proyek agar seluruh petugas, sesuai
dengan struktur organisasi dan uraian kerja, memahami benar tugas
yang menjadi tanggung jawabnya.
Menyarnakan persepsi tentang jadwal, kualitas, dan anggaran proyek.
Menyatukan langkah, agar masing-masing unit tidak berjalan sendiri-
sendiri dalam menjalankan tugasnya.
Mengikuti SOP (Standard Operating Procedure) yang berlaku.
Agenda Rapat
1. Penjelasan menyeluruh dari Manajer Proyek tentang:
Target keuntungan yang hendak dicapai
Target waktu penyelesaian proyek
Target mutu kerja
2. Pembagian tugas pekerjaan
3. Menyusun Standard Operating Procedure
4. Target jangka pendek (1 - 2 minggu) yang hendak dicapai
Jadwal Rapat
Kick off meeting umumnya dilaksanakaan saat kegiatan proyek akan
dimulai dan kalau belum bisa dilokasi proyek, dilaksanakan sedekat
mungkin dengan lokasi.
B.2.5. b. Tool box meeting:
Tool box meeting adalah rapat persiapan untuk membahas pelaksanaan
suatu bagian pekerjaan tertentu.Misalnya setelah selesai pekerjaan kolom
beton, maka untuk memulai pelaksanakan pekerjaan berikutnya, yaitu
erection rangka atap baja, dilakukan tool box meeting.
Peserta Rapat
Manajer Operasi Lapangan, Kepala Pelaksana, Mandor, Subkontraktor
Agenda Rapat
Membahas:
metode kerja yang akan diterapkan,
personiltunit kerja masing-masing yang terkait,
rute dan lay-out peralatan dan bahan

Jadwal Rapat
Setiap akan memulai pekerjaan pokok seperti:
pekerjaan pemancangan
pekerjaan pengecoran, dll.
B.2.5.c. Rapat Harian
Rapat harian adalah rapat yang diadakan untuk merencanakan apa yang
harus dikerjakan besok hari, serta memantau apa yang telah dikerjakan
hari ini, apakah sudah sesuai dengan rencana kerja harian.
Peserta Rapat
- Rapat harian umumnya diikuti oleh General SuperintendentlKepala
Pelaksana, para SuperintendentlPelaksana Lapangan, Subkontraktor,
Mandor, dan bila perlu staf terkait.
- Rapat harian dipimpin oleh Manajer Operasi.
Agenda Rapat
Melakukan evaluasi apakah target yang ditetapkan tercapai, dan
menetapkan target untuk besok hari.
Jadwal Rapat
Umumnya rapat harian dikerjakan pada sianglsore hari, di mana para
pekerja sudah running-well mengerjakan program harian. Rapat harian
jarang dilaksanakan pada pagi hari, karena saat pagi hari adalah saatnya
untuk memutar roda pelaksanaan proyek hari tersebut, namun
programnya telah ditetapkan pada hari sebelumnya, dilaksanakan secara
singkat (+I jam)
B.2.5.d. Rapat Mingguan
Rapat mingguan adalah rapat untuk merencanakan apa yang harus
dikerjakan minggu depan, serta memantau apa yang telah dikerjakan
minggu ini, untuk mengetahui apakah sudah sesuai dengan rencana
kerja mingguan.
Peserta Rapat
- Manajer Teknik, Manajer Operasi, Manajer Administrasi, staf,
dan pihak ketiga bila diperlukan.
- Rapat mingguan dipimpin oleh Manajer Proyek atau Manajer
Operasi.
Agenda Rapat, antara lain meliputi:
- Mengevaluasi progress dan pencapaian pekerjaan yang ditargetkan
minggu yang lalu.
- Membahas target penyelesaian pekerjaan seminggu yang akan
datang.
B.2.5.e. Rapat Bulanan
Rapat bulanan proyek umumnya dipimpin langsung oleh Manajer
Proyek.
Peserta Rapat
Manajer Teknik, Manajer Operasi, Manajer Administrasi, staf, dan
pihak ketiga bila diperlukan.
Agenda Rapat, antara lain meliputi:
1. Meninjau notulen rapat bulan lalu
2. Pembahasan pencapaian Objecti~eslPro~ram Kerja Proyek, antara lain:
a. EBPP (Evaluasi Biaya Pelaksanaan Proyek)
b. Kinerja
c. Quality Tdrget (Mutu Produk, House Keeping, Safety)
d. Potensial Problem
e. Customer Complaint
f. Masalah SDM
g. Cash Flow (termin, dropping, pembayaran hutang, jurnal akuntansi
dan keuangan)
h. Lain-lain (inovasi, sistem dokumentasi)

B.2.6. Pengendalian

Pengendalian pelaksanaan pada dasarnya adalah pemeriksaan, yaitu memeriksa


apakah hasil kerjalpelaksanaan telah direalisasikan sesuai dengan perencanaan.
Bila hasil pemeriksaan tidak sesuai dengan rencana, segera dibuat langkah-
langkah tindak lanjut (counter- measure) agar pelaksanaan sesuai dengan rencana.
Pemeriksaan dilaksanakan secara terus menerus secara rutin sesuai check point
dan control point. Controlpoint bisa dikatakan sebagai holdpoint yaitu titik di
mana pelaksanaan pekerjaan lanjutan tidak boleh dimulai sebelum pekerjaan
sebelumnya selesai dilaksanakan

B.2.6.a. Pengendalian Mutu


Pengendalian mutu di proyek dilaksanakan berdasarkan inspeksi lapangan
oleh petugas yang bertanggung jawab dalam pengendalian mutu. Bagi
perusahaan jasa konstruksi yang telah mengikuti dan memperoleh sertifikat
ISO-9000, sebagai sistem manajemen mutu,maka pengendalian mutu
pekerjaan pembangunan suatu proyek konstruksi mengikuti ketentuan dan
prosedur yang ada dalam Sistem Manajemen Mutu standar I S 0 - 9000
tersebut.
Penerapan standar ISO-9000 di proyek meliputi:
Implementasi Procedure dan Work Instruction untuk setiap pekerjaan
Internal dan Eksternal Audit
Pengukuran dan Analisis
Improvement
Implementasi Procedure dan Work Instruction untuk setiap pekerjaan
Procedure dan Work Instruction disusun sesuai yang disyaratkan dalam
I S 0 9000 dan merupakan panduan bagi Manajemen Proyek untuk
penyediaan sumber daya yang diperlukan guna pemenuhan target-target
yang telah ditentukan dengan memfokuskannya kepada kepuasan
pelanggan.
Internal dan External Audit
Guna memonitor pencapaian target selama proses kerja berlangsung,
maka perlu dilakukan audit secara periodik. Agar penyimpangan selarna
dalam proses kerja dapat segera terdeteksi untuk mengurangi
kemungkinan kesalahan atau kerugian yang lebih besar. Adapun tahapan
kegiatan Audit dilaksanakan sebagai berikut:
Oleh pihak internal berupa
InspeksiITes sesuai metode kerja
Inspeksi oleh Para Petugas Perusahaan yang bertanggung jawab.
Inspeksi oleh pihak Manajemen
Management Review secara periodik (mingguan/bulanan/triwulanan/
semesteran) sesuai ruang lingkupnya
Questionaire (angket) kepada Pelanggan sebagai ukuran untuk
menetapkan kepuasan Pelanggan atas produk yang diterima
Oleh pihak External, berupa;
'Audit oleh suatu Badan Sertifikasi Internasional
Pengukuran dan Analisis
Hasil temuan audit selalu dianalisa untuk menetapkan program
perbaikan selanjutnya, sehingga diharapkan pihak perusahaan selalu
dapat memenuhi apa yang disyaratkan dan diharapkan oleh para
pelanggan.
Improvement
Setiap perbaikan(1mprovement) yang diusulkan harus diuji nilai
lebihnya terhadap operasional dan keuntungan perusahaan, dan
apabila hasilnya positif bagi Perusahaan, maka Manajemen akan
menetapkannya sebagai target atau ketentuan perusahaan yang harus
dipenuhi, dan menyediakan sumber daya yang diperlukan bagi
pemenuhannya.

B.2.6. b. Pengendalian Biaya


B.2.6.b. 1. Proses Pengendalian Biaya Proyek
Proses pengendalian biaya proyek dimulai pada saat membuat RAPK (Rencana
Anggaran Proyek Kendali) dan Contract Review (Kaji Ulang Kontrak) hingga
progres fisik proyek mencapai a i r pelaksanaan. Sebagai salah satu alat
pengendalian adalah berupa laporan keuangan proyek yang disebut Evaluasi
Biaya Pehksanaan Proyek (EBPP). EBPP memuat inf~rrnasilla~oran tentang
anggaran biaya yang direncanakan, realisasi penggunaan anggaran biaya di
lapangan sampai kemajuan pekerjaan tertentu dan proyeksi biaya sampai
penyelesaian proyek atau disebut juga Projected Final Cost (PFC).
Realisasi pemakaian anggaran ini dicek dan dievaluasi secara periodik,
dalam hal ini setiap bulannya, dan lalu hasilnya dibandingkan dengan Rencana.
Bila terjadi penyimpangan terhadap rencana, penyimpangan itu dibahas dan
dipelajari penyebabnya oleh Tim Proyek, kemudian dibuat rencana tindak
lanjut untuk memperbaikinya.
Contoh format laporan EBPP dapat dilihat pada Lampiran E.4.
Pengendalian Proyek dilakukan secara bulanan, sedangkan review secara
keseluruhan dilaksanakan pada tahap kemajuan fisik proyek tertentu, misalnya:
Pada awal pelaksanaan proyek
Pada saat fisik mencapai 50 persen
Pada saat fisik mencapai 75 persen
Pada saat fisik mencapai 100 persen
Hal ini bisa digambarkan dalam bentuk skematis berikut ini:

Progress 50 % Progress 75 % Progress


100 %

Locked Locked Locked Final Cost

m Bulanan Bulanan Bulanan


B.2.6.b.2. Komponen Biaya Proyek
Secara umum komponen biaya proyek yang cukup dominan adalah:
1. Biaya Bahan
2. Biaya Upah
3. Biaya Subkontraktor
4. Biaya Alat
Biaya-biaya inilah yang memerlukan perhatian utarna untuk dikendalikan
selama pelaksanaan proyek.
Pengendalian Biaya Bahan
Pengendalian Biaya Bahan untuk kebutuhan proyek dilakukan untuk
menentukan kebutuhan riil bahan atau material proyek guna mendukung
pelaksanaan proyek di lapangan. Adapun kegiatan-kegiatan yang di-
lakukan dalam pengendalian biaya bahan adalah:
1. Menghitung Volume keseluruhan bahan pokoWutama berdasarkan
garnbar.
2. Mencocokkan dengan volume dalam RAP
3: Membuat SPP (Surat Permintaan Pembelian) bahan sebesar max.
80 % dari total volume rencana, kecuali untuk material import, agar
dihitung secara tepat dan dipesan 100 %.
4. Untuk material yang perlu mendapatkan persetujuan Pemilik Proyek;
a. Mendapatkan contoh material yang harga satuannya lebih murah
dari RAP, tetapi masih bisa diterima spesifikasinya.
b. Mengajukan contoh, material tersebut untuk disetujui Pemilik
Proyek.
c. Membuat Persetujuan tertulis.
5. Melakukan harga dengan supplier dan menyiapkan Surat
PesananIPO seperti yang dijelaskan pada bab B2.3.b. Tahapan
Pembelian terdahulu,
6. Membuat P O (Purchase Order)/ Surat Pesanan bahan dengan volume
maksimum sebesar SPP dan harga satuan sesuai negosiasi.
7. Melampirkan dalam P O jadwal pengiriman bahan. .
8. Membuat P O dengan kondisi Lumpsum Fixed Price dan pasal-pasal
sesuai kontrak Kontraktor dengan Pemilik Proyek.
9. Melakukan pengendalian periodik dilakukan atas realisasi penerimaan
bahan dan dengan memperhitungkan sisa pekerjaan.
2. Pengendalian Biaya Upah
Dalarn setiap kegiatan proyek, pengendalian biaya upah menjadi kegiatan
penting dan sangat menentukan keberhasilan suatu proyek. Adapun
tahapan dalam pengendalian biaya upah yang biasa dilakukan adalah:
1. Menghitung volume pekerjaan sesuai lingkup pekerjaan dalam kontrak.
2. Mencocokkan dengan volume yang tertera dalam RAP (Rencana
Anggaran Pelaksanaan) .
3. Melakukan negosiasi upah dengan pedoman standar upah dari proyek
lain yang sejenis sampai mencapai harga yang paling efisien.
4. Membuat SPK,yang semaksimal mungkin mencakup volume 80-90
persen dari total volume pekerjaan.
5. Merinci nilailbiaya dalam SPK dengan jelas,mencakup semua jenis
pekerjaan yang mendukung dan masing-masing harganya, misalnya:
PembersihanIPerapihan, Alat Bantu, dan Lembur.
Pengendalian periodik dilakukan atas realisasi upah dan perhitungan sisa
pekerjaan.

3. Pengendalian Biaya SubKontraktor


Pengendalian biaya subkontraktor dilakukan dengan cara antara lain:
Membuat kontrak yang bersifat lumpsum jked price, artinya biaya
untuk pekerjaan yang disubkan telah tetap.
Menjaga agar pekerjaan subkontraktor tidak boleh terlambat dari
jadwal yang disepakati.
Menyesuaikan cara Pembayaran dengan cara pembayaran dari Pemilik
Proyek (back to back).

4. Pengendalian Biaya Alat


Seperti diuraikan pada bagian terdahulu Bab Peralatan, pengendalian
biaya alat baik yang dimiliki sendiri maupun yang disewa dilakukan
antara lain dengan prinsip:
Mengusahakan agar alat (terutama alat-alat berat) dapat bekerja dengan
optimal sehingga O R (Occupancy Ratio) dapat tercapai semaksimal
mungkin atau dengan perkataan lain produktivitas alatnya yang tinggi.
Kebutuhan alat ringan dipenuhi secara Outsourcing (sewa dari luar)
untuk menghindari biaya perawatan dan penyimpanan yang tinggi.

B.2.6.c. Pengendalian Jadwal Pelaksanaan


Pengendalian waktu pelaksanaan proyek dilakukan dengan menggunakan alat
Bantu Jadwal Pelaksanaan seperti Bar Chart Schedule, kurva S sebagai
indikator terlambatltidaknya proyek dan formulir-formulir pengendalian jadwal
yang lebih rinci, masing-masing untuk bahan, alat, maupun subkontraktor.
Keterlambatan yang ditemukan kemudian dibahas dalam rapat-rapat proyek
untuk dicari penyelesaiannya, baik dalam rapat internal proyek dengan
mengundang unsur-unsur proyek yang terlibat termasuk para supplier,
subkontraktor dan para mandor maupun dalarn rapat eksternal bersama pemilik
proyek atau pihak yang mewakilinya.

B.2.7. Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di Proyek


Data yang diperoleh dari Annual Report mengenai Keselamatan dan Kesehatan
Kerja Tahun 2002, yang diterbitkan oleh Departemen Tenaga Kerja dan
Transmigrasi, menunjukkan bahwa sektor usaha Bangunan menduduki
peringkat ke-4 yang mempunyai kasus kecelakaan tertinggi, selengkapnya
peringkat untuk 5 sektor usaha adalah:

1. Sektor Pertanian dan Peternakan 13,60 persen


2. Industri Tekstil 8,65 persen
3. Industri Pakaian dan Bahan Jadi 5,60 persen
4. Bangunan 5,67 persen
5. Penebangan Kayu 5,58 persen

Data di atas diperoleh dari data kecelakaan dari tahun 1995 s/d 1999 dengan
jumlah kecelakaan kerja 412.652 kasus dengan nilai kerugian Rp 340 Milyar
dan pembayaran santunan dan ganti rugi sebesar kurang lebih Rp 329 Milyar
lebih.
Oleh karena itu penerapan prinsip K3 di proyek sangat memerlukan
perhatian Kontraktor.
Ada beberapa hal yang harus diketahui dan dilakukan Kontraktor dalam
rangka menerapkan prinsip-prinsip kerja sesuai dengan ketentuan K3 di
lingkungan proyek, antara lain:

a. Memenuhi Kelengkapan Administrasi K3


b. Penyusunan Safety Plan (rencana K3) untuk proyek
c. Melaksanakan Kegiatan K3 di lapangan
d. Pelatihan Program K3
e. Perlengkapan dan Peralatan Penunjang Program K3
f. Penataan Lingkungan Proyek
B.2.7.a. Memenuhi Kelengkapan Administrasi K3
Kegiatan untuk memenuhi kelengkapan administrasi K3 ini antara lain terdiri
dari:

1. Pendaftaran Proyek ke Depnaker setempat


Sebelum melakukan aktivitas pekerjaan di lapangan, pihak proyek wajib
melapor dan mendaftar ke Depnaker setempat, karena Depnaker adalah
instansi Pemerintah yang benvenang dan bertanggung jawab menangani
masalah K3. Sebagai bukti dari kegiatan ini berupa Surat pendaftaran
proyek ke Depnaker setempat dan sudah ada penerimaanlkonfirmasi dari
Depnaker.

2. Pendaftaran dan Pembayaran Asuransi Tenaga Kerja (ASTEK)


Sesuai dengan ketentuan Pemerintah, perusahaan atau proyek yang
mempekerjakan tenaga kerja lebih dari 10 orang wajib melindungi te-
naga kerja meldui ASTEK. Sebagai bukti dari pelaksanaannya: adanya
polis dari ASTEK untuk proyek tersebut berikut kuitansi pembayaran
preminya.

3. Pendaftaran dan Pembayaran asuransi lainnya, misal CAR, PA, bila


disyaratkan dalarn proyek
Apabila disebutkan dalam kontrak, proyek wajib membayar polis asuransi
Construction All Risks (CAR) atau Personal Accident (PA). Yang dimaksud
dengan CAR adalah untuk bangunanlfisik proyek dan peralatan kerjanya.
Sedangkan PA untuk petugaslorang yang melaksanakan (kadang-kadang
termasuk petugas dari MK (Manajemen KonstruksilCustomer Representative).

4. Izin dari Kantor Kimpraswil tentang penggunaan jalanljernbatan yang


menuju lokasi untuk lalu-lintas alat berat
Untuk beberapa proyek seperti pada proyek-proyek sipil perlu mendatangkan
alat-alat berat.Apabila keadaan jalanljembatan relatif kecil, perlu ijin dari
Pemerintah setempat, dalam hal ini Departemen terkait setempat. Maksud
izin tersebut adalah bahwa instansi terkait setempat telah mengadakan
pemeriksaan terhadap kekuatan jalanljernbatan yang akan dilalui alat
berat. Apabila perlu Kontraktor diharuskan menambah daya topang khusus
pada struktur jalanljembatan tersebut sebelum dipakai.
Sebagai bukti dari kegiatan ini adalah Surat Izin dari Departemen
(Catatan: surat izin berarti izin dari Departemen, bukan surat permohonan
izin dari Kontraktor).

5. Keterangan laik pakai untuk alat beratlringan memerlukan rekomendasi


dari Depnaker atau instansi yang benvenang. Peralatan proyek yang
menyangkut keselamatan umum (orang banyak) pads saat pengoperasian
umumnya harus dipantau pemakaiannya oleh instansi pemerintah yang
benvenang. Alat-alat yang dimaksud adalah seperti: Mobil busltruk, lift
(elevator), eskalator, lift tenaga kerja, lift bahan, tower crane, dan sebagainya,
Sebagai bukti pelaksanaan adalah: adanya surat keterangan laik pakai
dari instansi yang benvenang. Selain itu, adanya label laik pakai yang
menempel pada alat yang bersangkutan.

6. Pemberitahuan kepada pemerintahllingkungan setempat


Pemerintah setempatlMuspida yang dimaksud terdiri dari unsur Departemen
Dalam Negeri (lurah/camat/bupati/walikota),Kepolisian (PolseWPolwill
Polda), dan TNI (Babinsa/Koramil/Kodim). Ketiga unsur di atas adalah
instansi-instansi aparat negara yang mengendalikan mekanisme pemerintahan
dan keamananlketertiban umum. Pemerintahanllingkungan setempat harus
diberi laporan tentang keberadaanladanya kegiatan proyek, karena akan
menyangkut banyak tenaga kerja yang umumnya para pendatang, banyaknya
kendaraan keluar-masuk membawa material, adanya kegiatan-kegiatan di
luar kegiatan rutin yang terkadang dapat mengganggu kelancaranlketenangan
kegiatan yang sudah ada.
Sebagai bukti dari pelaksanaan adalah: adanya surat pemberitahuan ke
pemerintahanllingkungan setempat dan sudah ada informasinya.

B.2.7.b. Penyusunan Safety Plan (rencana K3) untuk proyek


Tujuan Safety Plan adalah agar proyek dalam pelaksanaannya nanti, aman dari
kecelakaan dan penyakit sehingga menghasilkan produktivitas kerja tinggi.

Safety Plan berisi antara lain:


1. Pembukaan:
a. Gambaran Proyek
b. Pokok perhatian untuk kegiatan K3
2. Risiko kecelakaan dan pencegahannya (risiko yang mungkin terjadi di
proyek tersebut)
3. Tata cara pengoperasian peralatan
4. Alamat Instansi terkait
a. Rumah sakit
b. Polisi
c. Depnaker
d. Pemadan Kebakaran

Catatan:
Yang disebut kecelakaan K3 BUKAN hanya yang mengakibatkan cederal
sakitnya tenaga kerja, TAP1 juga menyangkut rusaklkurangnya produktivitas
bahanlperalatan. Jadi penanganan K3 yang tidak baik akan berakibat
pada turunnya Produktivitas.

Sebagai bukti pelaksanaan: Adanya Safety Plan yang sudah disahkan


Manajer Proyek.

B.2.7.c. Kegiatan K3 di Lapangan


Kegiatan K3 di lapangan merupakan pelaksanaan Safety Plan yang harus
dilaksanakan Kontraktor dalam setiap proyek yang menyangkut beberapa
kegiatan antara lain:

Kerja sama dengan instansi yang terkait K3


Kerja sama dengan instansi yang terkait dengan K3 sangat penting. Instansi
yang dimaksud antara lain adalah: Depnaker, Polisi, dan Rumah Sakit.
Hubungan awal yang dimulai dengan pendaftaran proyek ke Depnaker
dan pemberitahuan ke instansi pemerintah1Muspida setempat perlu
dipertahankan dengan hubungan informal yang lain agar apabila ada masalah
K3,masalahnya cepat tertangani dengan baik.
Untuk proyek tertentu (misalnya yang cukup terpencil dan rawan
terhadap kecelakaan kerja atau penyakit akibat kerja) perlu dijalin hubungan
kerja sama dengan rumah sakit terdekat.
Sebagai bukti pelaksanaan adalah: adanya dokumen-dokumenlsurat-
surat serta hubungan kerja sama yang nyata dengan instansi-instansi terkait
tersebut.
2. Pengawasan pelaksanaan K3

Pengawasan pelaksanaan K3 meliputi kegiatan:


a) Safety patrol
b) Safety supervisor
C) Safety meeting dan
d) Pelaporan serta penanganan kecelakaan

Yang dimaksud Safety Patrol adalah suatu tim K3 yang terdiri 2 atau 3
orang yang melaksanakan patroli selama kira-kira 1 atau 2 jam (tergantung
lingkup proyek). Dalam patroli masing-masing anggota safety patrol mencatat
hal-hal yang tidak sesuai ketentuanlyang memiliki risiko kecelakaan.

Ketentuanltolok ukurnya adalah ada dalam:

a. Safety Plan
b. Panduan pelaksanaan K3
c. Hal-hal yang secara teknis mengandung risiko bahaya

Periode patroli bisa 1 kali dalam seminggu.


Yang dimaksud dengan Safety Supervisor adalah Petugas yang ditunjuk oleh
Manajer Proyek yang secara terus menerus mengadakan pengawasan terhadap
pelaksanaan pekerjaan dilihat dari segi K3. Safety Supervisor berwenang
menegur dan memberikan instruksi langsung kepada Superintendent (kepala
pelaksana) bila ada pelaksanaan yang mengandung bahaya terhadap
keselamatan kerja.
Yang dimaksud dengan Safety Meeting adalah rapatlmeeting dalam proyek
yang membahas hasilllaporan dari Safety Patrol maupun hasil laporan dari
safety supervisor. Yang paling utama dalam Safety Meeting adalah:
a. Perbaikan atas pelaksanaan kerja yang tidak sesuai dengan ketentuan
K3 dan
b. Perbaikan sistem kerja untuk mencegah penyimpangan tidak terulang
kembali
3. Pelaporan dan penanganan kecelakaan
Pelaporan dari kecelakaan terdiri dari:
a. Pelaporan dan penanganan kecelakaan ringan
b. Pelaporan dan penanganan kecelakaan berat
c. Pelaporan dan penanganan kecalakaan dengan .korban meninggal
d. Pelaporan dan penanganan kecelakaan peralatan berat

Sebagai bukti pelaksanaan dari kegiatan ini adalah: adanya catatan yang
mendukung kegiatan-kegiatan tersebut dan adanya penanganan yang nyata
atas kegiatan tersebut di lapangan.

B.2.7.d. Pelatihan Program IS3

Pelatihan program K3 terbagi menjadi 2 bagian, yaitu:

1. Pelatihan secara 'umum.


Materi pelatihan ini bersifat umum yaitu panduan tentang K3 di proyek
misalnya:

a. Pedoman praktis Pelaksanaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja pada


Proyek Bangunan Gedung
b. Penanganan, Penyimpanan, dan Pemeliharaan Material
c. Keselamatan dan Kesehatan Kerja dalam Pekerjaan Sipil
d. Keselamatan dan Kesehatan Kerja dalam Pekerjaan Finishing Luar
e. Keselamatan dan Kesehatan Kerja dalam Pekerjaan Mekanikal dan
Elektrikal
f. Keselamatan dan Kesehatan Kerja dalam Pekerjaan Finishing Dalam
g. Keselamatan dan Kesehatan Kerja dalam Pekerjaan Bekisting
h. Keselamatan dan Kesahatan Kerja dalam Pekerjaan Pembesian
i. Keselamatan dan Kesehatan Kerja dalam Pekerjaan Sementara
j. Keselamatan dan Kesehatan Kerja dalam Pekerjaan Rangka Baja
k. Keselamatan dan Kesehatan Kerja dalam Pekerjaan Struktur Khusus
1. Keselamatan dan Kesehatan Kerja dalam Pekerjaan Pembetonan
m. Keselamatan dan Kesehatan Kerja dalam Pekerjaan pondasi Pile dan
Strutting
n. Keselamatan dan Kesehatan Kerja dalam Pekerjaan Pembongkaran
0. Dl1
2. Pelatihan Khusus proyek
Pelatihan khusus proyek diberikan pada:
a. Saat awal proyek
b. Saat di tengah periode pelaksanaan proyek (sebagai penyegaran)

Materinya meliputi: Pengetahuan Umum tentang K3 dan Safety Plan


proyek yang bersangkutan. Peserta pelatihan khusus ini adalah seluruh
petugas yang terkait dalam pengawasan proyek.

PelatihanIPenjelasan suatu kegiatan proyek.

Pelatihanlpenjelasan ini adalah khusus untuk kegiatan tertentu saja yang


dipertimbangkan memiliki risiko kecelakaan dan langsung dijelaskan kepada
pengawasltukang pada saat akan memulai pekerjaan tersebut. Misalnya
pada saat pertama kali akan ada pekerjaan blasting, maka diadakan
penjelasan kepada para petugasltukang tentang kemungkinan-kemungkinan
bahayalrisiko yang akan terjadi.
Sebagai bukti dari pelaksanaan kegiatan ini adalah: adanya catatan yang
mendukung kegiatan tersebut.

B.2.7.e. Perlengkapan dan Peralatan Penunjang Program K3


Perlengkapan dan Peralatan Penunjang Program K3 dalam pelaksanaan proyek
meliputi beberapa hal antara lain:

1. Promosi program K3
Promosi program K3 terdiri dari:

a. Pemasangan bendera K3, bendera RI, bendera perusahaan. Bentuk


dan cara pemasangan ketiga atribut itu bisa dilihat pada gambar a
dan gb. b di halaman 109.
b. Pemasangan Sign Board K3 yang dapat berisi antara lain: Slogan-
slogan yang mengingatkan akan perlunya bekerja dengan selamat
seperti bisa dilihat contoh dalam gambar c dan gambar d di halaman
110. Selain itu bisa berisi gambar-gambarlpamflet tentang bahayal
kecelakaan yang mungkin terjadi di lokasi pekerjaan. Slogan maupun
pamflet-pamflet dapat dipasang di kantor proyek atau lokasi pekerjaan
di lapangan.
2. Sarana peralatan untuk K3
Sarana peralatan untuk K3 terdiri dari:
a) Yang melekat pada orang, yaitu:
Topi helm,
Sepatu lapangan,
Sabuk pengaman untuk pekerja di tempat yang tinggi,
Sarung tangan untuk pekerja tertentu,
Masker pengaman untuk gas beracun untuk pekerja tertentu,
Kaca mata las goggle,
Obat-obatan untuk P3K
Pelampung renang (untuk lokasi tertentu).

b) Sarana peralatan lingkungan, yaitu:


- Tabung pemadaman kebakaran pada ruang-ruang antara lain: Kantor
proyek, Gudang bahan bakar, Gudang Materiallperalatan, Ruang
genset, Bengkel, Gudang bahan peledak, Mess karyawan, Barak tenaga
kerja. Tiap' lantai bangunan proyek (pada saat pekerjaan bekisting
dan Jinisihing) .

- Pagar Pengaman yang terdiri dari: Pagarlrailing yang kuat dan tali
warna kuning sebagai tanda pembataslperingatan. Pagar ini diperlukan
untuk lokasi antara lain: lubang di lantai, lubang di sumur galian
tanah, tepi bangunan tinggi. Lokasi kerja alat berat (bila dianggap
perlu).

- Penangkal Petir darurat.


- Pemeliharaan jalan kerja dan jembatan kerja
- Jaring pengaman pada bangunan tinggi.
- Pagar pengaman lokasi proyek

C) Rambu-rambu peringatan
Fungsi rambu-rambut peringatan antara lain untuk:
Peringatan bahaya dari atas
Peringatan bahaya benturan kepala
Peringatan bahaya longsoran
Peringatan bahaya apilkebakaran
Peringatan tersengat listrik
Penunjuk ketinggian (untuk bangunan yang lebih dari dua lantai)
- --L- .:,-
SPANDUK K-3

UTAMAKAN
KESELAMATAN D A N
KESEHATAN KERJA

1W 4W 1M I
I I

153 1SO
1 I I

LCGO PERUSAHAAN

Bendera K-3
ERVSAHAAN
L
Gambar a

POSlSl PENEMPATAN BENDERA PERUSAHAAN MERAH-PUTIH & K3


Keterangan:
Bendera Merah-Putih di tengah
Bendera PERUSAHAAN di sebelah kiri Bendera Merah-
gutih
Bendera K-3 di sebelah kanan Bendera Merah-putih

Garnbar b
-
CONTOH-CONTOH SLOGAN KE-3

WAJIB BACA

1. PAKAILAH ALAT PENGAMAN DIRI


SELAMA BEKERJA
2. MULAILAH PEKERJAAN DENGAN
120 CM
SEMANGAT DAN AKHIRILAH DENGAN
SELAMAT
3. SELAIN PETUGAS DILARANG MASUK
AREA PROYEK
4. HINDARILAH KECELAKAAN, KELUARGA
ANDA MENUNGGU DI RUMAH

Gambar c

SLOGAN KE-3

1. MULAILAH KESEHATAN DAN KESELAMATAN


KERJA DARI LINGKUNGAN TERDEKAT
2. PIKIRKANLAH KESEHATAN DAN
KESELAMATAN SEBELUM ANDA BEKERJA
3. KECEROBOHAN DAN KELALAIAN SEBAB
UTAMA KECELAKAAN KERJA
4. HINDARILAH KECELAKAAN KERJA,
KELUARGA ANDA MENUNGGU DI RUMAH
5. PASTIKAN PEKERJAAN ANDA BENAR
6. PERIKSALAH ALAT-ALAT SEBELUM

Gambar d
Penunjuk jalur instalasi listrik kerja sementara
Penunjuk batas ketinggian penumpukan material
Larangan memasuki ke area tertentu
Larangan membawa bahan-bahan berbahaya
Petunjuk untuk melapor (keluar masuk proyek)
Peringatan untuk memakai alat pengaman kerja
Peringatan ada alatlmesin yang berbahaya (untuk lokasi tertentu)
Peringatanllarangan untuk mas& kelokasi gensetlpower listrik
(untuk orang-orang tertentu)

Dalam hal ini ada beberapa catatan antara lain. Ada pemahaman yang
keliru tentang K3, yaitu menganggap bahwa kalau sudah memenuhi
sarana peralatan K3 berarti sudah memenuhi persyaratan K3. Padahal
sarana peralatan K3 ini adalah baru sebagian dari sistem K3. Bekerja
dengan K3 yang benar adalah bila memenuhi 3 (tiga) hal sebagai
berikut:

1. Orangnya: Orang (pengawas dan tenaga kerja) punya sikap kerja


yang benar yaitu:
a. Punya pengetahuan dan keterampilan K3,
b. Berperilaku sesuai ketentuan K3,
c. Sehat jasmani dan rohani.

2. Mesinlalat kerja serta sarana peralatan K3 sesuai ketentuan.

3. Lingkungan kerja sesuai ketentuan.


Yang dimaksud lingkungan kerja meliputi:
a. Lay outplanning (perencanaan tata letak),
b. House keeping (pemeliharaan alat-alat rumah tangga),
c. Penerangan dan ventilasi.

B.2.7.f. Penataan Lingkungan


Penataan lingkungan meliputi perencanaan tata letak fasilitas-fasilitas untuk
melaksanakan pekerjaan dan pengelolaan kebersihan lingkungan kerja di proyek
(house keeping) antara lain adalah:
1 . Lay out planning (perencanaan tata let&)
Perencanaan tata letak harus diatur sedemikian rupa sehingga orang dan
alat yang bekerja tidak saling terganggu, tetapi justru saling mendukung,
agar pelaksanaan kerja dengan produktivitas tinggi dan aman dapat
dicapai. Faktor yang perlu dipertimbangkan dalam perencanaan tata letak
adalah:

a. Dimensi (ukuran), posisi, elevasi (ketinggian)


b. Gerakan manusia dan alat
c. Suara (kebisingan)
d. Getaran
e. Cahaya dan sirkulasi udara

2. House keeping
Kebersihan dan kerapian tempat kerja merupakan syarat K3. Sarana
kebersihan dan kerapian untuk program K3 adalah:

a. Penyediaan air bersih yang cukup


b. Penyediaan toilet/WC yang bersih
c. Penyediaan Musholla yang bersih dan terawat
d. Penyediaan toilet1WC untuk pekerja proyek
e. Penyediaan bak-bak sampai pada lokasi yang diperlukan
f. Pembuatan saluran pembuangan limbah
g. Pembersihan sampah-sampah secara teratur
h. Kerapian penempatan alat-alat kerja di lapangan setelah dipakai (beatty
scaffolding, pipe support, pipa-pipa, jack base, concrete vibrator, lampu-
lampu penerangan, dan lain-lain)

Berikut ini adalah contoh isi Safety Plan yang menyangkut tentang hal-hal:
Risiko kecelakaan dan pencegahannya
Tata Cara Pengoperasian Alat
RISIKO KECELAKAAN DAN PENCEGAHANNYA
Beberapa contoh antara lain:
No. Lokasi & Pencegahanl Penanggung
Risiko Kecelakaan Penanganan Jawab

1. Pekerim fondasi Franki


I. 1 . Orang jatuh dari crane - pakai sabuk pengaman waktu naik
1.2. Kejatuhan split1 beton - pakai helm pengaman sewaktu kerja
1.3. Crane amblas - ratakan tanah sebelum crane masuk
~ro~ek
- pakai H-beam untuk dudukan crane
1.4. Orang terperosokJjatuh. - urug segera setelah dicor
ke lubang franki pile
1.5. Sling crane putus - cek kondisi sling sebelum mulai kerja
setiap hari kerja
2. Galian Basement
2.1. Lokasi banjir - buat side'ditch (galian tepi),
arahkan ke sum-pit, lalu pompa
airnya keluar lokasi.
2.2. Bekisting batako ambruk - pasang batako-dari tinggi rencana
- urug segera bekas galian samping dan
bagian atasnya diplester
- tutup segera dengan terpal bila
akan hujan
2.3. Tanah galian longsor - buat kemiringan pada galian.
- tutup segera dengan terpal bila
akan hujan
2.4. Terjatuh ke dalam galian - buat pagar pengaman
- buat tangga turun ke lokasi galian
- pasang rarnbu-rambu peringatan
2.5. Jalan depan lokasi ~ r o ~ kotor
ek - buat tempat (kolam) cuci ban
kendaraan, dan buang tanah yang
mengendap secara
periodik
- tutup bak kendaraan tanah
dengan terpal.
2.6. Kecelakaan rnobil waktu akan - pasang rambu peringatan lalu lintas
keluarlrnasuk proyek di jalan raya
- atur lalu lintas bila ada kendaraan
keluarlrnasuk
3. Erection Tower Crane.
3.1. Crane service arnblas - perkuat tanah dengan rnatras
3.2. Crane TC miring - pasang angkur pondasi sehingga
benar-benar "level" (di-waterpass)
- cek pengelasan angkur sehingga
yakin kuat
3.3. Bautl kunci-kunci jatuh. - taruh di keranjang TC
3.4. Orang kejatuhan baut. - cegah selarna erection agar orang tidak
berada di bawah langsung
- pasang rarnbu "Awas Benda Jatuh!"

- pakai helm selarna bekerja


3.5. Tower crane arnbruk. - periksa pondasi agar sesuai ketentuan

- pasang sabuvlabrang pada tiap ernpat


lantai
- pasang rambu beban
- dipasang switch otornatis bila overcut.
- pasang penangkal petir
4. Universal Lifi
4.1. Kabin lifi rneluncur rnelewati rel. - cek kondisi lift
- pasang re1 lebih tinggi 6 meter dari
pernberhentian lift
- pasang switch otornatis agar lift-pit
berhenti rnaksirnum pada posisi
lantai teratas
- cek dudukan lift pada pondasi agar
"level" (di-waterpass)
- pasang labrang pegangan tiap 2 lantai.
4.2. Orang jatuh - aturltempatkan kabin lift
sedekat rnungkin dengan pernberhentian

- pasang pagar pengarnan pada


daerah pernberhentian.
- - - -
TATA CARA PENGOPERASIAN PERALATAN

Beberapa contoh adalah sebagai berikut:

No. Pemeriksaan Elemen Penanganan Selarna Keterangan


Alat Operasi

1. Alat Pancang
a. Periksa semua sling a. Jalan perlahan-lahan pada besi

b. Periksa beam landasan alat H- beam


pancang b. Posisi hammer selalu si bawah setelah
c. Periksa roda penggerak alat selesai atau istirahat
pancang c. Utamakan keselamatan kerja
d. Periksa selang hidrolik d. Pakai helm
e. Periksa air pendingin air e. Pakai sarung tangan
penggerak . f. Sepatu kerja
f. Periksa tutup kipas mesin

2. ficavator
a. Periksa semua sling hidrolik a. Hindari sewaktu slat memutar
b. Periksa oli hidrolik b. Memberikan kode (klakson) sewaktu
c. Periksa tutup kipas angin alat memutar

d. Periksa pen-pen exmvator C. Utamakan keselamatan kerja.

e. Periksa switch hidrolik d. Istirahat alat keruk ke posisi bawah

3. Ewer Crane
a. Periksa pen-pen boom1 a. Angkat sesuai dengan kapasitas
section b. Sewaktu swing sling angkut dalam
b. Periksa oli hidrolik posisi aman
c. Periksa sling angkat c. Aba-aba sesuai dengan alat HT.
d. Periksa panel listrik d. Pengikat bahan-bahan yang mau
e. Periksa switch otomatis diangkut dalam keadaan kuat

f. Periksa kanvas rem e. Bucket cor dalam keadaan tidak bocor

g. Periksa seluruh bearing f. Sewaktu istirahat dalam keadaan


terkunci
h. Periksa poli sling
g. Utamakan keselamatan kerja
Bar Cutter

a. Periksa pisau potong a. Pernotongan sesuai dengan kapasits

b. Periksa switch b. Memakai sarung tangan

c. Periksa kabel-kabel c. Memakai helm

d. Periksa baut-baut d. Memakai sepatu kerja

e. Periksa kekencangan van belt

f. Cek stop limit switch

g. Periksa pelurnas

Bar Bender
a. Pembengkokan sesuai dengan
kapasitas
a. Periksa kabel-kabel.
b. Memakai sarung tangan
b. Periksa switch-switch
c. Memakai sepatu kerja
c. Periksa stop limit switch
d. Memakai helm.
d. Periksa van belt

e. Periksa baut-baut

f. Periksa oli.

Generating Set

a. Periksa oli mesin a. Jauhkan tempat bahan bakar

b. Periksa air radiator b. Memakai tutup telinga

c. Periksa bahan bakar c. Menyediakan tabung

d. Periksa tutup kipas mesin d. Tidak boleh ada jemuran dekat


kipas radiator
e. Periksa van belt
e. Sewaktu membersihkan alat mesin
f. Periksa baut-baut
dalam keadaan mati
g. Cek warna gas
f. Periksa an el listrik
g. Utamakan keselamatan kerja
B.3. SERAH TERIMA PROYEK
Dalam industri jasa konstruksi, proses serah terima proyek yang merupakan
penyerahan (delivery) produk jasa yang berupa sebuah bangunan atau bentuk
fisik lainnya, dilakukan dalam dua tahap:

1. Penyerahan Pertama, dilakukan pada saat pekerjaan telah selesai 100 %,


dinyatakan dengan Berita Acara yang ditandatangani oleh wakil dari Pemilik
Proyek dengan Manajer Proyek. Berita Acara ini disertai dengan lampiran-
lampiran yang antara lain berupa hasil pemeriksaan bersama (Check List)
tentang hasil pekerjaan dan memuat kondisi akhir dari hasil pekerjaan
yang diserahkan serta item-item pekerjaan yang masih memerlukan
perbaikan-perbaikan kecil, yang harus diperbaiki dan diselesaikan dengan
baik pada saat penyerahan kedua oleh pihak Kontraktor.

2. Penyerahan Kedua, dilakukan setelah berakhirnya masa pemeliharaan (main-


tenance period) yang berkisar antara 3 bulan s/d 1 tahun (untuk pekerjaan
MIE), tergantung kesepakatan yang ada dalam kontrak kerja. Pada saat ini,
penyerahan juga dilengkapi dengan Berita Acara dan disertai semua catatan
tentang perbaikan-perbaikan yang telah dilakukan selama masa pemeliharaan,
dan telah diterima dengan baik oleh Pemilik ProyeklWakilnya.
Pada waktu serah terima pekerjaan, pihak Kontraktor berkewajiban
untuk:
Menyerahkan dokumen-dokumen berupa:

Gambar-gambar Terpasang (A Built Drawings).


Buku Manual Pengoperasian dan Perawatan Alat-alat dan Mesin-mesin
M/E seperti Genset, Lift, AC, dll.
Dokumen-dokumen perijinan dari berbagai macam instansi terkait seperti
IMB, IPB yang pengurusannya dilaksanakan oleh Kontraktor.
Memberikan pelatihan untuk pengoperasian dan perawatan Alat-alat
dan Mesin-mesin kepada petugas yang ditunjuk oleh Pemilik Proyekl
Pengguna Jasa.

Semua biaya yang diperlukan untuk perbaikan-perbaikan pada masa


pemeliharaan ini ditanggung oleh Kontraktor dan merupakan bagian dari
kesepakatan dalam kontrak.
C. KEGIATAN PENDUKUNG USAHA BIDANG
KONTRAKTOR

K
egiatan-kegiatan penunjang (supporting activities) untuk mendukung
kegiatan utama (primary activities) yang perlu dikelola dengan baik
adalah:
C.1. Aspek Manajemen Sumber Daya Manusia sebagai penunjang dari segi
sumber daya manusia dan pengelolaannya
C.2. Aspek Manajemen Keuangan sebagai penunjang dari segi sumber daya
keuangan dan pengelolaannya
C.3. Aspek Manajemen Mutu ISO-9000 menunjang segi pengelolaan dan
pengendalian mutu

C. 1. ASPEK W J E M E N SUMBER DAYA MANUSIA

Sumber Daya Manusia Kontraktor adalah motor penggerak perusahaan. Oleh


karena itu pengelolaan SDM Kontraktor harus menunjang tugas kegiatan
utama perusahaan.
Skema pengelolaan SDM kontraktor meliputi aspek bidang teknis dan
aspek bidang kepribadian (attitude). Bidang teknis biasanya didukung oleh
tinggi rendahnya tingkat pendidikan formal, pelatihan yang dilaksanakan,
jalur spesialisasi yang ditempuh, kemampuan bahasa asing (khususnya Inggris),
kemampuan mengoperasikan komputer, kemampuan menggambar teknis,
penguasaan administrasi teknis, dan lain sebagainya.
Sedangkan bidang kepribadian antara lain meliputi perilaku kerja yang
sesuai dengan karakteristik pekerjaan Kontraktor yang mendukung keberhasilan
seseorang dalam melakukan tugasnya.
Secara skematis, skema pengelolaan SDM perusahaan kontraktor adalah
seperti dalam tabel Skema Pengelolaan SDM Perusahaan Kontraktor pada
halaman 119.
SKEMA PENGELOLAAN SDM PERUSAHAAN KONTRAKTOR

A- BIDANG TEKNIS
SDM kontraktor harus mempunyai penguasaan di bidang teknis operasionil, sesuai dengan sasaran tugas kegiatan utama.

B- BIDANG KEPRlBADlAN
Di samping penguasaan teknis maka SDM kontraktor harus mempunyai kepribadian yang ideal dengan skema uraian sebagai berikut:
C. 1.a. BIDANG TEKNIS
Pengelolaan bidang teknis lebih menekankan pada pengelolaan kompetensi
SDM terhadap tugas pekerjaan sesuai dengan fungsinya dalam struktur
organisasi perusahaan. Beberapa hal yang akan dijelaskan secara garis besar
dalam pengelolaan bidang teknis antara lain adalah:

C.1 .a.1. Pendidikan formal


Pendidikan formal menjadi dasar dalam seleksi calon pegawai Permahaan,
karena dalam pendidikan formal tersebut diberikan dasar-dasar untuk
persiapan dalam bekerja sesuai dengan jenjang tugas yang diberikan.
Dengan demikian faktor kompetensi teknis yang diukur dalam indeks
prestasi komulatiflnilai raport hasil ujian universitaslsekolah menjadi
tolok ukur dalam seleksi calon pegawai.

C.1 .a.2. Pelatihan dan pengembangan


Perusahaan harus mengidentifikasi kebutuhan pelatihan dari awal. Isi
program pelatihan harus disesuaikan dengan identifikasi kebutuhan
pelatihan. Pada dasarnya, target utama program pelatihan adalah
pencapaian perubahan, yang meliputi: pengetahuan, keterampilan
maupun kepribadian (knowledge, skiill, and attitude). Apa pun program
pelatihan yang akan dilakukan, isinya harus memenuhi kebutuhan-
kebutuhan Perusahaan maupun Pegawai peserta pelatihan tersebut.

C.1.a.3. Program Spesialisasi


Faktor yang sangat menentukan dalam pelaksanaan proyek adalah
personil kunci. Manajer Proyek sebagai pimpinan tertinggi dalam
proyek konstruksi merupakan salah satu kunci keberhasilan pengelolaan
suatu proyek Oleh karena itu diperlukan Project Manager yang professional
dan spesialis di bidangnya.
Dengan begitu dalam suatu permahaan kontraktor, spesialisasi menjadi
program utama untuk mencapai efisiensi serta mutu produk yang tinggi.
Contohnya adalah Manajer Proyek yang spesialis di bidang pekerjaan
gedung ataupun pekerjaan pelabuhan, irigasi, dll.

C. 1.a.4. Program jalur fungsional


Jalur fungsional dalam suatu perusahaan kontraktor merupakan jalur al-
ternatif selain jalur struktural yang selalu ada dalam perusahaan. Jabatan
fungsional merupakan salah satu jalur karier (career path) setiap personalia
perusahaan yang setara dengan jabatan struktur untuk menduduki karier
yang lebih tinggi dalam perusahaan.

Jalur fungsional

Jenjang fungsional mempunyai keuntungan:


Perusahaan akan tetap mempunyai ahli yang sangat menguasai bidangnya (praktisi
lapangan, ahli kontrak administrasi, ahli bidang hukum, ahli bidang akuntansi,
dsb). Sebab pada umumnya pejabat struktural lebih menggeluti hal-hal yang
sifatnya manajerial sehingga kemampuan teknisnya semakin lama semakin
berkurang atau bahkan hilang.
Jenjang struktural jumlahnya sangat terbatas, sehingga jenjang fungsional
menjadi alternatif untuk meniti karir bagi personil yang mempunyai potensi
keahlian di bidanpya tapi kurang sesuai untuk ditempatkan pada jabatan
struktural.
Kerugiannya:
Tidak mudah untuk menyusun dan membakukan kesetaraan antara jenjang
struktural dan jenjang fungsional secara adil agar dapat memacu pegawai untuk
dipromosikan ke jabatan yang lebih tinggi. Jenjang ini di bidang usaha kontraktor
umumnya masih merupakan hal baru.

Kriteria jalur fungsional umumnya adalah berdasarkan kriteria:


Pengalaman melaksanakan proyek dengan besaran tertentu dan
kerumitan tertentu dengan hasil baik
Kemampuan berbahasa Inggris
Kemampuan dalam teknologi informasi
Kemampuan dalam presentasi negosiasi
Kemampuan dalam bidang tertentu (adrninistrasi kontrak, ahli tunnel,
ahli pelabuhan, ahli tanah, ahli pemasaran, ahli hukum, akuntansi, dll.)

C .1.a.5. Kemampuan berbahasa Inggris


Dalam suasana globalisasi di mana batas-batas antar-negara semakin
tipis (borderless). Perusahaan-perusahaan asing dapat mengembangkan
usahanya di Indonesia. Sebaliknya, perusahaan-perusahaan nasional
mendapat kesempatan yang sama untuk menjadi perusahaan
multinasional. Oleh karena itu kemampuan berbahasa Inggris, sebagai
bahasa internasional menjadi syarat utama SDM perusahaan saat ini,
khususnya pada tingkatan pimpinan suatu perusaaan. Itulah sebabnya
dalam melakukan rekrutmen pegawai maupun peningkatan jenjang
dalam perusahaan, kemampuan berbahasa Inggris menjadi bagian dari
tolok ukur keberhasilan seseorang, khususnya pada posisi di mana
seseorang dalam fungsinya harus berkomunikasi langsung dalam bahasa
Inggris. Beberapa perusahaan bahkan sudah melakukan investasi jangka
panjang dengan mengirim pegawainya untuk mengikuti pendidikan di
luar negri. Di luar negeri mereka di samping menimba pengetahuan
teknis, mempelajari pola kerja, secara langsung mereka juga mening-
katkan kemampuan berbahasa Inggris karena lingkungannya mendukung
untuk itu.

C. 1.a.6. Kemampuan mengoperasikan komputer


Di era teknologi informasi saat ini keterlibatan seseorang dalam
perusahaan tidak akan bisa lepas dari kemampuan mereka dalam bidang
komputer. Bxgi perusahaan kontraktor, penguasaan komputer paling
sedikit disyaratkan untuk hal-hal yang menyangkut masalah engineering
(pengoperasian autocad, perencaan struktur, scheduling, estimating, dll.),
masalah keuangan serta akuntansi dll.

C. 1.b. BIDANG KEPRIBADLAN


Bila bidang teknis adalah hal-hal yang menyangkut kemampuan teknis
operasionil suatu kegiatan, maka bidang kepribadian bersifat hal-hal yang
mendasari ~erilakuSDM dalarn perusahaan. Faktor kepribadian menyangkut
sikap (attitude) serta perilaku (behaviour) yang akhirnya bisa membentuk
watak (character).

C .1.b. 1. Karakteristik Pekerjaan Kontraktor


1. Keras; karena secara fisik ada di lapangan terbuka seperti jalan, irigasi,
pelabuhan, jembatan, terowongan, dan berhubungan dengan para pekerja
bangunan, operator alat berat, dan sebagainya.
2. Mobilitas tinggi; karena umumnya mengerjakan proyek yang waktunya
relatif pendek. Setelah proyek satu selesai Kontraktor harus berpindah ke
proyek lainnya, yang kadang-kadang secara geografis jaraknya jauh.
3. Bekerja di bawah tekanan; karena umumnya jadwal yang ketat, terkait
dengan pekerja dari berbagai unsur seperti subkontraktor, mandor, sup-
plier, konsultan pengawas, serta masyarakat sekitar.
4. Penuh negosiasi; karena meskipun mempunyai sasaran yang sama seperti
yang dicantumkan dalam kontrak, setiap pihak -yang terlibat dalam
pelaksanaan proyek (perencana, pengawas, kontraktor) senantiasa harus
menyamakan persepsi dalam menemukan cara untuk mencapai sasaran
tersebut. Negosiasi demi negosiasi dilaksanakan pada setiap tahapan proyek,
misalnya pada acara rapat, perhirungan pekerjaan tambah, perhitungan
eskalasi, penyamaan dalam menghitung volume pekerjaan, persetujuan
pemakaian bahan, pemilihan metode pelaksanaan, dll.
5. Tempo kerja yang tinggi; kerena beberapa elemen bangunan memang
harus dikerjakan dengan cepat, misalnya campuran beton harus segera
dituang agar tidak mengeras, tanah yang ditimbun harus cepat ditutup
(sheet cover) agar bila hujan tidak menjadi basah, memasang gelagar jembatan
penyeberangan saat lalu lintas sepi pada malam hari, dan lain sebagainya.
6. Kualitas pelayanan yang tinggi; karena dalam setiap aktivitasnya diperlukan
respons yang cepat dalam menanggapi setiap keinginan pelanggan, namun
demikian tetap harus memakai cara-cara berkomunikasi yang tidak merusak
hubungan baik dengan setiap pihak dan tidak mengorbankan kepentingan
perusahaan.
7. Kompetitif; karena harus bersaing dengan kontraktor nasional yang sangat
banyak jumlahnya maupun kontraktor asing yang memiliki kemampuan
teknis maupun yang mempunyai permodalan yang lebih baik. Misalnya,
untuk mendapatkan pekerjaan umumnya kontraktor harus melalui proses
tender yang sangat ketat.
8. Tuntutan mutu yang tinggi; karena pekerjaan yang dilakukan kontraktor
berkaitan dengan keamanan sebuah struktur banguan maupun segi
tercapainya fungsi serta kerapihan hasil kerjanya. (firmitas, utilitas dan
venustas)

C. 1 .b.2. PERSYARATAN SDM:


1. Ulet, "tahan banting" serta mampu berkomunikasi. Dalam setiap
menanggulangi kesulitan yang mungkin terjadi, setiap personil tidak
boleh cepat menyerah. Penggunaan cara pendekatan dengan berbagai
pihak melalui kemampuan berkomunikasi dapat menyederhanakan atau
bahkan menyelesaikan permasalahan-permasalahan antar-berbagai pihak
yang terlibat di suatu proyek (pengguna jasa, pengawas, subkon, mandor,
dll.) .
2. Namun demikian, SDM kontraktor harus cekatan dan terampil,
ressponsif, sopan santun, serta memiliki kesehatan yang prima.

C. 1.b.3. IMPLEMENTASI PENGELOLAAN SDM


1. Cara mencari pegawai (Rekmtmen):
Rekrutmen dalam bisnis usaha kontraktor disesuaikan dengan persyaratan
Sumber Daya Manusia yang diperlukan. Apabila Rekrutmen tidak sesuai
dengan karakter Sumber Daya Manusia yang diperlukan, maka usaha
yang dilaksanakan sering menjadi tidak produktif. Untuk itulah saat ini
Perusahaan kontraktor perlu menerapkan model rekrutmen antara lain,
melalui:

Pola rekrutmen umum, yaitu Perusahaan mengevaluasi kebutuhan


pegawainya, dan melaksanakan rekrutmen dari sejumlah pelamar
yang ada, melalui:
lamaran langsung
memasang iklan di surat kabar
dan lain-lain
Yang diseleksi berdasarkan persyaratan yang telah ditetapkan
perusahaan. Selanjutnya calon yang terseleksi diberikan Orientasi
Kerja dan kemudian diangkat sebagai calon pegawai untuk periode
tertentu. Setelah memenuhi tahap-tahap tertentu dan memenuhi
syarat, calon pegawai bisa diangkat sebagai pegawai.

Pola rekrutmen mahasiswa ikatan dinas. Dalam pola ini rekrutmen


dilaksanakan bukan pada calon yang sudah lulus dari bangku sekolah,
namun direkrut dari mahasiswa yang tengah menyelesaikan
sekolahnya. Pada saat mahasiswa tersebut sedang dalam proses
penyelesaian studinya, mahasiswa diberikan beasiswa serta juga
diberikan bimbingan orientasi-orientasi kerja dengan melalui media
internet serta secara periodik diadakan tatap muka untuk mendapat-
kan bimbingan langsung atas tugas-tugas yang diberikan.

Pola rekrutmen untuk pelaksana lapangan dari Jenjang D 3 atau


SLA (STM Pembangunan). Karena karakteristik SDM pelaksana
lebih menuntut ketahanan fisik serta sikap tegas dalam mengendalikan
para tukanglmandor di lapangan, maka pola rekrutmennya lebih
mengutamakan hal hal yang menyangkut kedisiplinan, ketegasan
bersikap, berkomunikasi dengan bahasa yang jelas tetapi sederhana,
yaitu antara lain melalui latihan fisik, kesamaptaan, baris berbaris, dll.
Semua rekrutmen umumnya melalui tahap psychotest, yaitu untuk
mengetahui potensi kepribadian seseorang:

Kegunaan psychotest adalah untuk mengetahui potensi kejiwaan para calon.


Dengan teknik-teknik test tertentu, maka gambaran potensi kejiwaan seseorang
seperti kepribadian, tingkat intelegensi, dasar-dasar kepemimpinan, daya tahan
atas tekanan dan lain sebagainya akan nampak.
Menggunakan hasil psychotest. Berdasarkan gambaran hasil psychotest (psycho-
gram), maka manajemen perusahaan dapat memilih calon yang sesuai dengan
kriteria (persaratan) atas kebutuhan jabatanlfungsi tugas yang diperlukan.
Faktor psychotest yang diperlukan dalam dunia bisnis kontraktor. Faktor-faktor
yang diutamakan adalah sesuai dengan karakteristik SDM seperti yang dijelaskan
dalam bab-bab terdahulu.

2. Cara membina pegawai


Pada dasarnya Pelatihan dan pengembangan di perusahaan dibagi atas
empat hal:

IMPROVEMENT, yaitu pelatihan dan pengembangan yang tujuannya


meningkatkan keterampilan seseorang dalam kerangka memenuhi
persyaratan jabatan vob-Requirement).

MUTASI, yaitu pelatihan dan pengembangan seseorang sesuai dengan


Job-Req untuk posisi yang mungkin berbeda dengan posisi sebelumnya.

PROMOSI, yaitu pelatihan dan pengembangan seseorang untuk jabatan


yang mempunyai Job-Requirement yang lebih tinggi.

AKSELERASI, yaitu pelatihan dan pengembangan yang sifatnya


mempercepat kemampuan seseorang yang mempunyai potensi tinggi
untuk pengembangan kariernya.

Suatu hal yang harus diperhatikan adalah keberhasilan pelatihan dan


pengembangan itu sendiri. Untuk itu faktor evaluasi saat seseorang
menerapkan hasil pelatihan dan pengembangan tersebut menjadi perhatian
utama dan harus dipantau secara ketat dan benar oleh "user" yaitu orang
yang menjadi pelanggan dari orang yang dilatih (trainee) tersebut.
3. Cara memotivasi, menghargai, dan menghukum (reward andpunishment)
Motivasi, penghargaan, dan hukuman menjadi tiga serangkai yang
merupakan kebijakan yang harus dilaksanakan oleh sebuah perusahaan.
Dalam melaksanakan kebijakan tersebut, hal pertama yang harus
dilaksanakan adalah pola penilaian pegawai (performance appraisal). Penilaian
kinerja karyawan merupakan bagian dari sistem pembinaan karyawan.
Sistem penilaian kinerja karyawan atau performance appraisal untuk
selanjutnya disebut PA, yang didasarkan pada spesifikasi pekerjaan Vob
Speczfkation) dan Job Description (uraian tugaslpekerjaan). Yang merupakan
penilaian terhadap karyawan terhadap tugas yang disesuaikan dengan
jabatan, dikaitkan dengan target yang diberikan.
Dalam suatu perusahaan, penghargaan dan hukuman terhadap karya-
wan harus diterapkan secara adil, artinya selain penghargaan, kekeliruan
atau kegagalan suatu target atau performance yang di bawah rencana harus
diberikan sanksi. Hukuman tidak selalu harus berupa pemecatan ataupun
penurunan jabatan tapi juga dapat dilaksanakan dalam bentuk pembinaan
yang sifatnya mendidik, misalnya untuk jangka waktu tertentu seseorang
dibebaskan dari segala pekerjaannya untuk meningkatkan kemampuannya
pada bidang-bidang yang menjadi sebab kegagalan. Apabila hukuman
tidak dilaksanakan secara konsisten, maka sistem manajemen SDM tidak
berjalan dengan baik.

4. Cara memberhentikan
Pemberhentian pegawai berlaku pada usia purna tugas maupun karena
sebab tertentu. Perusahaan diwajibkan mengikuti ketentuan peraturan
pemerintah yang berlaku yang diatur dalam Undang-undang Tenaga Kerja
No. 13 Tahun 2003

C. 1 .b.4. Pengelolaan SDM Mandor dan SDM Sub-kontraktor


Pengelolaan SDM Kontraktor bukan hanya untuk pegawai perusahaan itu
sendiri, melainkan juga mencakup pembinaan SDM yang mempunyai
andil terhadap keberhasilan atau kegagalan suatu proyek, antara lain pegawai
mandor maupun subkon.

Pengendalian & pembinaan dapat dilaksanakan melalui:


Daftar mandorlsubkon terseleksi (approved labour suppliers & sub
contractors list). Daftar tersebut adalah suatu daftar dari para mandorl
subkon yeng telah terbukti berpengalaman dan mempunyai kinerja
baik.
Adanya pelatihan bagi tukanglpegawai mandorlsubkon yang diadakan
oleh perusahaan secara terencana.

C .1 .b.5. Sasaran Akhir


Dengan adanya pengelolaan SDM yeng terpadu (integrated) seperti dalam
uraian di atas maka SDM kontraktor akan menjadi SDM yang profesional,
yaitu perpaduan antara kemampuan teknis yang tinggi dan kepribadian yang
ideal.

C.2. ASPEK MANAJEMEN KEUANGAN


Laporan 'keuangan yang umum digunakan dalam perusahaan adalah Neraca,
Rugi Laba, Rasio Keuangan, Cash Flow, dan Laporan Perubahan Modal.

Neraca menggambarkan posisi hak (asset) dan kewajiban (liabilities d-


equities) perusahaan pada suatu waktu tertentu. Biasanya adalah per akhir
tahun, per akhir semester atau per akhir bulan. Hak perusahaan digambar-
kan dalarn aktiva perusahaan, yang terdiri dari:

Aktiva Lancar: kas, bank, persediaan, piutang usaha dan lainnya; serta
Aktiva Tetap: tanah, bangunan, kendaraan, dan aktiva lainnya.
Kewajiban perusahaan digambarkan dalam pasiva yang terdiri dari:
0 Pasiva lancar: hutang bank, utang usaha yg jatuh tempo kurang dari
satu tahun.
0 Kewajiban Jangka Panjang dan Modal: kewajiban yang jatuh tempo
lebih dari satu tahun, dan modal.

Neraca perusahaan selalu seimbang, yaitu keseimbangan antara hak dan


kewajiban perusahaan. Keuntungan atau kerugian yang dialami oleh perusa-
haan akan berakibat pada peningkatan atau penurunan modal pemilik
perusahaan, sehingga Neraca perusahaan pada setiap waktu selalu mengalami
keseimbangan.
Rugi Laba atau Kinerja, adalah laporan yang menggambarkan perhitungan
rugi laba dari perusahaan pada periodelkurun waktu tertentu, Biasanya
rugi laba dilaporkan dalam kurun waktu bulanan, triwulanan, semesteran
atau tahunan.

Rasio Keuangan, adalah perbandingan antara satu pos dan pos yang lain
dalam Neraca atau antara satu pos dan pos yang lain di rugi laba atau
antara satu pos rugi laba dan satu pos neraca. Rasio ini dapat memberikan
gambaranlindikasi tertentu tentang perusahaan dibandingkan dengan standar
umum di industri sejenis.

Laporan Cash Flow atau arus dana, adalah laporan mengenai sumber dan
penggunaan dana dalam kurun waktu tertentu di perusahaan. Laporan
cash flow disusun dengan menggunakan 2 (dua) metode, yaitu metode
langsung dan metode tidak langsung. Metode langsung disusun berdasarkan
aktivitas keuangan perusahaan (penjualan sampai dengan menghasilkan
laba) dan metode tidak langsung yang disusun berdasarkan laba yang
diperoleh dan perubahan rekeninglaccount Neraca dari akhir periode yang
lalu dan akhir periode sekarang.

Laporan perubahan Modal, yaitu laporan yang khusus menggambarkan


perubahan modal yang dimiliki perusahaan, baik perubahan karena Operasi
Pernabam (laba atau rugi sehingga modalnya berubah) dan akibat Revaluasi
Asset atau karena adanya penambahanlpengurangan modal oleh pemilik
perusahaan sehingga mengubah nilai modal.

Berdasarkan pengalaman, penilaian sebuah perusahaan Kontraktor pada


umumnya sering hanya dilihat dari segi laba rugi saja, yaitu selisih antara
penjualan/pendapatan/produksi dikurangi biaya penjualan/produksi, tanpa
melihat sisi-sisi yang lain. Sehingga ada Kontraktor yang memperoleh
keuntunganllaba besar tetapi kondisi perusahaannya tidak sehat. Hal ini
disebabkan laba besar yang diperoleh tidak diterima dalam bentuk tunai
tetapi masih sebatas pengakuan laba, yang masih dalam bentuk piutang.
Oleh sebab itu ada beberapa hal yang harus dipahami dan diperhatikan
dalam mengelola keuangan kontraktor agar perusahaan tidak mengalami
kesulitan, yang pada akhirnya mengganggu kelangsungan usaha, antara lain:
1. Metode Pengakuan Pendapatan pada Kontraktor.
2. Laporan Keuangan yang berbentuk Neraca dan Laba-Rugi.
3. Analisis Rasio Laporan Keuangan
4. Siklus Perputaran Modal Kontraktor
5. Cash Flow Proyek
6. Perpajakan
7 Pengendalian Perusahaan

C.2.1. METODE PENGAKUAN PENDAPATAN KONTRAKTOR


Penjualan/pendapatan/produksi/turnoveradalah istilah yang sering diguna-
kan kontraktor untuk mengakui pendapatan, yaitu nilai pekerjaan yang
telah dikerjakan oleh kontraktor dan diakuildisetujui oleh pemilik proyek.
Nilai pendapatan ini dihitung berdasarkan persentase fisik proyek pada
suatu saat dikalikan dengan Nilai kontrak (tidak termasuk Pajak Pertarnbah-
an Nilai). Nilai pendapatan ini yang digunakan sebagai dasar penyusunan
laporan Laba Rugi perusahaan. Dalam pembahasan selanjutnya digunakan
istilah.pendapatan untuk menggambarkan penjualanlproduksilturnover per-
usahaan.
Perusahaan Kontraktor dapat memilih salah satu dari 2 (dua) metode
pengakuan pendapatan, yaitu:

a. Percentage Method, yaitu pencatatan pendapatan secara bertahap sesuai


dengan persentase penyelesaian pekerjaan. Metode ini yang paling banyak
digunakan oleh perusahaan kontraktor. Progress fisik proyek dihitung
setiap akhir bulan untuk digunakan sebagai dasar perhitungan nilai
pendapatan. Pendapatan bulan ini dihitung dengan cara mencari selisih
hasil perkalian progress fisik dengan nilai kontrak-PPN bulan ini,
dikurangi dengan hasil perkalian progress fisik dengan nilai kontrak-
PPN bulan lalu.

b. Completed Method, yaitu pencatatan pengakuan pendapatan pada saat


prestasi diakui 100 persen oleh Pemilik Proyek dan pembayaran diterima
seluruhnya. Artinya perusahaan tidaklbelum mengakui pendapatan
sampai dengan perusahaan menyelesaikan pekerjaan proyek.
Metode manapun yang dipilih Manajemen, yang terpenting adalah metode
tersebut dilaksanakan secara konstj.tmlberkesinambungan.Artinya tidak boleh
jika tahun lalu metode yang digunakan adalah Completed Method, pada tahun
ini menggunakan Percentage Method, kemudian pada tahun yang akan datang
kembali menggunakan CompletedMethod (prinsip akuntansi konsisten).
Meskipun 2 (dua) metod tersebut dimungkinkan secara teori tetapi di
Indonesia yang lazim digunakan adalah yang point a. Hal ini erat kaitannya
dengan kewajiban perusahaan untuk melaporkan kewajiban Pajak
Penghasilan Badan ke Kantor Pelayanan Pajak (KPP) setiap tahun.
Setiap Perusahaan yang memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP)
berkewajiban menyampaikan laporan keuangan yang telah diperiksaldiaudit
oleh Kantor Akuntan Publik (KAP) setiap tahun. Berdasarkan laporan
keuangan hasil audit KAP dan bukti setoran pajak penghasilan badan,
maka perusahaan dapat menyampaikan Surat Pemberitahuan Pajak (SPT)
Tahunan.

C.2.2. LAPORAN KEUANGAN PERUSAHAAN


Laporan Keuangan yang umum disajikan dalam bentuk Neraca dan Laporan
RugiILaba, penyajiannya didasarkan pada kaidah-kaidah akuntansi di In-
donesia yang mengacu pada Pedoman Standar Akuntansi Keuangan (PSAK)
yang diterbitkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia.
Laporan ~ e u a n ~ alazimnya
n disajikan 2 tahun berturut-turut sehingga
dapat dilakukan analisis jika terjadi peningkatan atau penurunan kinerja
(prinsip akuntansi bahwa laporan keuangan harus dapat diperbandingkan).
Berdasarkan laporan Neraca dapat dilihat kondisi keuangan perusahaan
yang bersangkutan pada waktu tertentu, seperti misalnya tentang kondisi
Aset Perusahaan, Utang Perusahaan, baik jangka pendek maupun jangka
panjang dan Modal yang dimiliki perusahaan. Sedangkan berdasarkan
Laporan Rugi Laba dapat diketahui kinerja perusahaan untuk suatu periode
tertentu. Neraca dan Rugi-Laba disusun berdasarkan infrastruktur sistem
akuntansi keuangan Perusahaan, yang terdiri dari:

Kode Rekeninglperkiraan Akuntansi dan Desain Laporan Keuangan.


Formulir Transaksi Keuangan dan Otorisasi penggunaannya.
Software Akuntansi yang mengolah data di Komputer, untuk yang
menggunakan Komputer dalam proses akuntansinya.
Flow Chart Transaksi Keuangan, sehingga menjadi Neraca & Rugi
Laba.
Kebijakan Akuntansi yang sesuai dengan PSAK yang berlaku.

Bagi Kantor Akuntan Publik (KAP) yang tugasnya adalah memeriksa


laporan keuangan perusahaan, infrastruktur sistem akuntansi tersebut
digunakan untuk menguji kewajaran Laporan Keuangan yang disusun oleh
suatu perusahaan Kontraktor. Pertanyaan yang sering timbul adalah kenapa
laporan keuangan harus diperiksa oleh Kantor Akuntan Publik. Hal ini
erat kaitannya dengan kebutuhan informasi keuangan perusahaan oleh
Pemerintah dan publik, yang dalarn hal ini diwakili oleh Departemen
KeuanganIDirektorat Jendral PajakIKantor Pelayanan Pajak dan Departemen
PerdaganganIPerindustrian. Informasi yang diperlukan tersebut harus standar
antara perusahaan yang satu dengan lainnya; untuk itu diperlukan jasa
Kantor Akuntan Publik yang akan menguji kewajaran laporan keuangan
perusahaan dibandingkan dengan PSAK.
Di samping Kantor Akuntan Publik, perusahaan biasanya memiliki
Internal Auditor, yaitu auditorlakuntan internal perusahaan yang tugasnya
lebih banyak untuk pengendalian manajemen perusahaan dan tidak terikat
dengan kaidah-kaidah akuntansi. Laporan Keuangan perusahaan harus
disusun dengan menggunakan kaidah akuntansi (Pedoman Standard
Akuntansi KeuanganIPSAK), yang antara lain mengatur masalah-masalah:

a. Penggunaan mata uang yang sama, yaitu menggunakan mata uang


Rupiah atau US Dollar atau Yen Jepang dan sebagainya. Sekali menggu-
nakan mata uang Rupiah maka tahun-tahun berikutnya harus mengguna-
kan Rupiah.
b. Konsisten, dalam pengertian menggunakan metode yang sama dari
waktu ke waktu. Apabila perusahaan mengganti metode pencatatan
maka perubahan itu dapat dilaksanakan pada awal tahun dan diberikan
catatan dalam laporan keuangan bahwa ada perubahan metode penca-
tatan.
c. Historical Cost, bahwa laporan keuangan yang dibuat dicatat berdasarkan
pada nilai uang pada saat kejadiannya. Misalnya pembelian tanah pada
tahun 1990 seharga Rp 10 juta maka pada akhir tahun 2002 nilai
tanah tersebut tetap dicatat senilai Rp 10 juta; meskipun harga pasaran
tanah tersebut pada akhir tahun 2002 telah mencapai Rp 300 Juta.
d. Going Concern, adalah asumsi bahwa perusahaan tetap akan beroperasi
pada waktu yang akan datang dan tidak akan dibubarkanldilikuidasi.
e. Konservatif, adalah prinsip kehati-hatian dalam melakukan pelaporan
keuangan; apabila terjadi hal-ha1 yang akan mengganggu kondisi
keuangan maka gangguan tersebut harus dinyatakan dalam biaya sehingga
mengurangi laba dan atas pengurangan laba ini diberikan catatan.
f. DiscZosure/infomzative, artinya laporan keuangan harus memberikan
informasi yang benar, termasuk catatan-catatan yang sifatnya kualitatif.
g. Matching Cost against Revenue, adalah kesesuaian antara pendapatan
BUKUREFERENSI
UNTUK KONTRAKTOR
BANGUNAN
GEDUNG
DAN SIPIL

yang dilaporkan dengan biaya yang timbul, yakni biaya yang dapat
diakui dalam laporan keuangan adalah biaya yang timbul dalam rangka
memperoleh pendapatan dalam periode yang sama.
h. Comparable, dalam prinsip bahwa laporan keuangan harus dapat
diperbandingkan sehingga diketahui peningkatan dan penurunannya.
Untuk tujuan memberikan informasi lebih banyak kepada pembacanya,
laporan keuangan disajikan minimal untuk kurun waktu 2 (dua) periode
berturut-turut.
i. Bzlsiness Entity, adalah prinsip dasar bagi pembaca dan penyusun laporan
keuangan. Maksudnya adalah merupakan perusahaan badan hukum
mandiri yang hak dan kewajibannya terpisah dengan hak dan kewajiban
pemiliknya. Hal ini tergambar jelas dalam Neraca perusahaan yang
menyajikan hak pemilik perusahaan sebesar modal perusahaan, sedangkan
aktiva pada neraca perusahaan adalah aktiva perusahaan, bukan aktiva
pemilik perusahaan.

Untuk lebih memahami tentang Neraca Perusahaan kontraktor ini kita


pelajari contoh Neraca dan Laporan Rugi Laba perusahaan Kontraktor PT
XYZ berikut ini.
Contoh:
PT XYZ
NERACA PER 31 DESEMBER 2000 & 2001

(dalarn juta Rupiah)

2000 200 1
AKTIVA:
Aktiva Lancar
Kas dan Bank 30.350 35.375
Aktiva Tetap:
- Tanah 1 1.200 1 1.200

- Alat 44.520 55.185


- Lain-lain 1.330 2.150
57.050 68.535
TOTAL AKTIVA 87.400 103.910
PASIVA:
- Hutang Lancar 15.460 23.930
- Hutang Jangka Panjang 15.600 16.640
3 1.060 42.570
Modal 22.500 22.500
Laba Ditahan 33.840 38.840
TOTAL PASIVA & MODAL 87.400 103.910
BUKUREFERENSI BANGUNAN
UNTUK KONTRAKTOR GEDUNG
DAN SIPIL

PERBANDINGAN LAPORAN R/L


YANG BERAKHIR PADA 31 DESEMBER 2000 8r 2001
(hlam juta Rupiah)

URAIAN 2000 200 1


Pendapatan 110.380 124.360
Biaya Pokok 74.250 87.052
Laba Kotor 36.130 37.308

BIAYA USAHA
- Biaya Adm. & Umum 17.610 16.708
- Penyusutan 2.500 2.800
Laba Operasi 16.020 17.800

Biaya Bunga 1.700 2.800


Laba Sebelum Pajak 14.320 15.000
Pajak (PPh badan 30 %) 4.296 4.500
Laba Bersih 10.024 11.500

C.2.3. ANALISIS RASIO LAPORAN KEUANGAN


Dengan adanya Neraca maka kinerja suatu perusahaan juga dapat
dievaluasi dengan menggunakan analisis indikator-indikator keuangan
yang disebut Analisis Rasio Keuangan. Bagaimana membaca laporan
keuangan suatu perusahaan kontraktor dari sisi keuangan? Untuk
membaca dan memahami laporan keuangan maka harus dilakukan
perhitungan rasio keuangan, yang secara teknis dilakukan sebagai berikut
ini. Pelaksanaan Analisis Rasio Keuangan biasanya dikelompokkan dalam
2 cara yaitu:
C.2.3.1. PROFITABILITYASSESSMENT
a. Projtability
b. Operating Margin

PROFITABILITY ASSESSMENT, adalah kemampuan perusahaan


dalam memperoleh laba dibandingkanlterhadap pendapatan, yang
digunakan Manajemen Perusahaan untuk mengevaluasi Kinerja,
biasanya dilakukan dalam 2 cara, yaitu:

C.2.3.1.a. PERSENTASE TERHADAP TOTAL PENDAPATAN


(Struktur Biaya)
Analisis ini tidak hanya mengungkapkan 'perolehan laba terhadap
penjualan, tetapi juga mengidentifikasi terjadinya kenaikan atau
penurunan dari biaya untuk memperoleh laba tersebut.
Analisis ini adalah untuk memperbandingkan struktur biaya
dari waktu ke waktu dengan mengesampingkan ukuran nominal.
Contoh;

PT XYZ
PERBANDINGAN LAPORAN R/L
YANG BERAKI-IIR PADA 31 DESEMBER 2000 & 2001
(&lam juta Rupiah)

URAIAN 2000 Yo 200 1 Yo


Pendapatan 110.380 100,OO 124.360 100,OO
Harga Pokok 74.250 87.052 ZQ&Q
Laba Kotor 36.130 32,70 37.308 30,OO

BIAYA USAHA
- Biaya Adm & Umum 17.610 16,OO 16.708 13,40
- Penyusutan 2.500 2iW 2.800 EW
Laba Operasi 16.020 14,50 17.800 14,30

Biaya Bunga 1.700 1,50 2.800 2,30

Laba Sebelum Pajak 14.320 13,OO 15.000 12,OO


Pajak (30 %) 4.296 328 4.500 3.61
Laba Bersih 10.024 9,08 11.500 9,41
ANALISIS RASIO OPERATING MXRGIN

Rasio ini mencerminkan kemarnpuan perolehan Laba Usaha (Laba


Kotor-Biaya Administrasi & Umum) dibagi Pendapatan.

Contoh:
PT XYZ

2000 200 1
Laba Usaha - 16.020. 17.800.
Operating Margin = - = 14,50 % = 14,30 %
Pendapatan 110.380 124.360

C.2.3.1.b. Operating Margin Assessment


Analisis ini diperlukan oleh pemilik perusahaan untuk melihat
kemampuan perolehan laba terhadap Investasi yang telah
dilakukan, yang lebih dikenal sebagai:
Net Income
b. 1. Return on Asset (ROA):
Total Asset

Net Income
b.2. Return on Equity (ROE):
Total Share Holder Equity
Gross Profit
b.3. Return on Investment (ROI):
Total Assets
Contoh:

PT XYZ
NERACA PER 31 DESEMBER 2000 & 2001
(dalam juta Rupiah)

2000 200 1

Aktiva Lancar

Kas dan Bank 30.350 35.375

Aktiva Tetap:

- Tanah 1 1.200 1 1.200

- Alat 44.520 55.185

- Lain-lain 1.330 2.150

57.050 68.535
TOTAL AKTIVA 87.400 103.910

PASSTVA:

- Utang Lancar 15.460 23.930

- Utang Jangka Panjang 15.600 16.640

3 1.060 42.570

Modal 22.500 22.500

Laba ditahan 33.840 38.840

TOTAL PASSIVA & MODAL 87.400 103.910

RETURN ON ASSETS (ROA)

2000 200 1

Net Income 10.024 11.500


ROA = - = 11,4796 = 11,0796
TotalAssets 87.400 103.910
RETURN ON EQUITY (ROE)

2000 200 1

Net Income 10.024 11.500


ROE= - = 17,79 % = 18,75 %
Modal 56.340 61.340

RETURN ON INVESTMENT (ROI)

2000 200 1

Gross Pro$t 16.020 17.800


ROE= -- = 18,32 % = 17,13 %
TotalAssets 87.400 103.910

ANALISIS YANG MEMPUNYAI KORELASI ANTARA


PENDAPATAN, ASSETS, DAN LABA ATAU YANG LEBIH
DIKENAL DENGAN NAMA DUPONT FORMULA

Metode Dupont memperlihatkan hubungan Return on Assets dengan


Projtability of Sales dan Sales Productivity of Assets, dengan Rumusan
sebagai berikut (kita lihat ilustrasi ROA PT XYZ Tahun 2001):
Net Income Sales
Return on Assets (ROA) = x
Sales Assets

ROA
Dengan Rumusan Dupont dapat kita lihat pula perhitungan Return on
Equity (ROE) PT XYZ Tahun 2001:
Net Income Sales Assets
ROE - X X
Sales Assets Equity

C.2.3.2: RISK ASSESSMENT


a. RASIO LIKUIDITAS
Rasio ini menggambarkan kemampuan keuangan perusahaan untuk
menjamin setiap Rupiah, kewajiban dalam satuan mata uang, yang jatuh
tempo kurang dari 1 tahun (Utang Lancar).

Rasio Likuiditas dibagi menjadi:


Aktiva Lancar
UtangJangka Pmdek

Kas Bank + Effek + Piutang


2. OUICK RATIO
\
-
UtangJangka Pmdek

Kas Bank + Effect


3. CASH RATIO -
UtangJangka Pmdek

b. LEVERAGE RATIO
Rasio ini menggambarkan Struktur Keuangan Perusahaan dan Kemarnpuan
Perusahaan untuk menutup seluruh kewajiban atau utang perusahaan bila
dilakukan likuidasi.
Leverage Ratio ini biasa disajikan dalam 3 bentuk, yaitu:
Total Utang
1. Debt to Equity
Modal Sendiri
Total Modal - Laba Tahun Berjakan
2. Equity to Total Assets :
Total Aktive - Laba Tahun Beljiakan
Total Utang
3. Debt to Total Assets :
Modal Aktiva

Berdasarkan survei, rata-rata pencapaian setiap jenis rasio keuangan perusaha-


an kontraktor dapat dilihat pada tabel hasil survei yang dilakukan DUN
& BRADSREET KEY pada tahun 1978 terhadap lebih dari 40.000
Kontraktor. Hasil yang didapat dengan cara mengelompokkan kontraktor
menjadi 2 kelompok, yaitu:

1. General Building Contractor


2. Heavy Construction Except Highway

Di mana masing-masing kelompok akan menghasilkan Rasio Keuangan


dalam tabel sebagai berikut:
DUN & BRADSREET KEY
BUSINESS RATIO (1978)

General Bldg Contractor Heavy Constr. except Higway

Ratio Uper Median Lower Upper Median Lower

1 Current Asset to 2,24 x 1,54 x 1,27 x 2,86 x 1,85 x 1,39x


current Debts

2 Net Profits on 2,80 % 1,56 % 0,56 % 5,32 % 1,83 % 0,41%


net sales

3 Net Profits on 18,08 % 9,42 % 3,68 % 19,03 % 11,69 % 1,76%


tangible net worth

4 Net Profits on net 29,16 % 14,96 % 5,64 % 28,38 % 15,18 % 1,89%


working capital

5 Net sales to 12,93x 7,lOx 3,62x 6,50x 3,86x 1,98x


tangible net worth

6 Net sales to 19,46x 10,60x 4,74x 17,80x 7,66x 400x


net working capital

7 Fixed assets to 9,1% 22,4% 49,2% 32,0% 51,3% 83,4%


tangible net worth
8 Current debts to 53,6% 116,2% 202,6% 24,5% 65,3% 93,8%
tangible net worth

9 Total debts to 105,4% 196,1% 302,8% 743% 93,5% 137,1%


tangible net worth

10 Funded debts to net 15,896 36,0% 96,5% 18,9% 53,6% 90,3%


working capital
Selain itu, majalah Fortune terbitan 9 Mei 2002 yang memuat Daftar
Peringkat Kontraktor Dunia disusun berdasarkan pencapaian Revenue
(pendapatan) dan Profic (iaba) dengan menampilkan juga persentase profit
terhadap revenue dan terhadap &set, seperti pada tabel berikut ini:

Penilaian cingkac kesehacan Kontraktor BUMN, terhadap pencapaian kinerjanya adalah


berpedoman pada SK. Menteri BUMN NO.Kep- 1001MBU12002 tanggal 4 Juni 2002.

Sesuai SK Menteri BUMN di atas, Kontraktor digolongkan dalam BUMN Non


Infrastruktur.
Penilaian Kinerja Perusahaan meliputi beberapa aspek, yaitu:
a. Aspek Keuangan dengan bobot 70%
b. Aspek Operasional dengan bobot 15%
c. Aspek Administrasi dengan bobot 15%

a. Aspek Keuangan dengan bobot 70%


Penilaian aspek keuangan ini meliputi: ROE, ROI, Current Ratio, Cash
Ratio, Colletions Period, Inventory Turn Over, Asset Turn Over & Equity
to Total Assets.

b. Aspek Operasional dengan bobot 15%


Penilaian aspek ini adalah pada unsur-unsur yang paling dominan
dalam keberhasilan operasi perusahaan sesuai dengan visi dan misi
perusahaan. Unsur yang dinilai ditetapkan dalam RUPS Pengesahan
RKAP untuk tahun yang akan datang sebelum tahun buku berjalan
berakhir.

c. Aspek Administrasi dengan bobot 15%


Dalam aspek administrasi ini penilaian meliputi ketepatan waktu Laporan
Tahunan, Rancangan RKAP Laporan Periodik, dan Laporan Keuangan
PUKK (Pembinaan Usaha Kecil & Koperasi).

C.2.4. SIKLUS PERPUTARAN MODAL PERUSAHAAN KONTRAKTOR


Perputaran modal kerja pada Kontraktor dapat digambarkan dalam bentuk
diagram siklus perputaran modal seperti berikut ini:
m Persediaan

Keterangan:

BTL = BUYA TAK LANGSUNG, adalah kelompok biaya yang tidak


dapat dikaitkan langsung dengan produknya, di antaranya adalah biaya
pegawai, biaya umum, dan biaya pemasaran.

MS MODAL SENDIRI, yaitu modal yang disetorkan oleh Pemegang


=
Saham kepada perusahaan untuk operasi perusahaan sebagai Modal
Kerja awal.

MODAL PINJAMAN, yaitu Modal Kerja yang diperoleh dari luarlpinjaman


dari BankJLembaga KeuanganIPasar Modal untuk digunakan sebagai
Modal Kerja.

a. Modal Kerja seperti ini lazim diklasifikasikan sebagai pinjaman jangka


pendek untuk yang kurang dari 1 tahun dan jangka panjang untuk
yang lebih dari 1 tahun. Biasanya wujud Modal Kerja ini adalah
dalam bentuk Uang.
b. Modal kerja ini dapat pula berbentuk utang yang diperoleh dari
RekananIMitra Usaha/Supplier/Sub Kontraktor.

KUADRAN I:

MODAL KERJA yang ada sesuai kegiatan usaha Kontraktor dalam


operasinya, dibelanjakan untuk melaksanakan kontrak yang telah
disepakati para pihak baik Nilai Kontrak, Spesifikasi maupun Jangka
Waktunya.

Bentuk Kontrak, dan cara pembayaran dalam setiap proyek yang


dilaksanakan dan disepakati bersama, akan sangat menentukan
seberapa besar Modal Kerja yang dibutuhkan oleh perusahaan.

KUADRAN 11:

Pada periode ini (11), dalam dunia usaha umum dikenal dengan
penggunaan Modal Kerja untuk pengadaan persediaan. Modal kerja
digunakan sejak membeli bahan baku dan bahan bantu sampai
dengan diterimanya pembayaran dari pemilik proyek. Perusahaan
kontraktor yang efisien dan memiliki perencanaan yang baik, tidak
memiliki persediaan yang berlebih tetapi selalu tersedia bahan yang
diperlukan untuk dipasang. Pengalaman perusahaan selama ini rata-
rata bahan yang datang di proyek paling lama 14 (empat belas) hari
mengendap di gudang, artinya dalam jangka waktu 14 hari bahan
yang datang di proyek sudah terpasang menjadi progress fisik.

KUADRAN 111:

Dalam Usaha Kontraktor, progress fisik yang diakui biasanya apabila


telah terpasang. Di sampihg bahan baku dan bahan Bantu, untuk
menghasilkan progress fisik ada biaya yang mulai dikeluarkan, yaitu biaya
upah langsung, biaya sub kontraktor, biaya alat, dan biaya tidak langsung.
Pada kuadran I11 ini biaya-biaya tersebut mulai dikeluarkan.

Kemajuan tahap penyelesaian ini, oleh Pemilik Proyek atau melalui


Konsultan Pengawas (yang dikuasakan), diakui sebagai prestasi kerja
Kontraktor, yang biasanya dibobotkan dalarn persentase (%) terhadap
Nilai Pekerjaan keseluruhan sesuai dengan Kontrak, yang pada
akhirnya dikonversikan ke dalam satuan nilai uang terhadap nilai
kontrak.
Pada Kontraktor, Kuadran I11 ini umumnya dicatat sebagai Karya
dalarn Pelaksanaan atau Prestasi yang belum difakturkan.

KUADRAN IV:

Setelah prestasi Pekerjaan dilakukan dan mendapat persetujuan dari


Pemilik Proyek, dan dilakukan penagihan, maka periode ini
diklasifikasikan sebagai PIUTANG USAHA.
Kapan Piutang Usaha ini dapat diterima sangat tergantung pada
apa yang disepakati dalam Kontrak dan Sumber Dana Pemilik Proyek.
Berdasarkan pengalaman perusahaan kontraktor, lamanya piutang
usaha sejak disetujui pemilik proyek sampai dengan menjadi uang
adalah sebagai berikut:

a. Dana DIPIAPBD selama 15 (lima belas) hari.


b. Dana BUMN selarna 25 (dua puluh lima) hari.
c. Loan JBICIOECF selama 21 (dua puluh satu) hari.
d. Loan ADB selama 40 (empat puluh) hari.
e. Loan IDB selama 40 (empat puluh) hari.
f. Swasta selama 20 (dua puluh) hari.

Agar Kontraktor dapat mengelola Modal Kerja dengan baik, maka


adalah merupakan keharusan untuk mengetahui sejak awal Sumber
Pendanaan Pemilik Proyek dalam pembiayaan proyek tersebut.
Dari siklus perputaran modal kerja tersebut dapat disusun Cash Flow
Proyek yang baik dan mendukung operasional perusahaan.

C.2.5. CASH FLOW PROYEK:


Cash Flow proyek adalah arus dana proyek yang diterima dan yang
dibelanjakan, yang keseimbangannya harus selalu dijaga agar tidak
menghasilkan saldo yang negatif. Cash Flow Proyek yang baik adalah Cash
Flow yang dapat mendanai pembiayaan proyek secara mandiri. Proyek yang
dikerjakan kontraktor berdasarkan segmen pemilik proyek di Indonesia dapat
dibedakan dalam 2 segmen besar, yaitu:

A. Proyek Pemerintah (Pusat dan Daerah)


B. Proyek Swasta, BUMN

C.2.5.1. PROYEK PEMERINTAH


I. Perusahaan kontraktor secara umum dapat membiayai dirinya sendiri
(seIf-financing) untuk mengerjakan proyek-proyek pemerintah, kalaupun
diperlukan tambahan Modal Kerja dari PerbankanIPasar Modal
jumlahnya relatif tidak terlalu besar. Untuk itu diperlukan langkah-
langkah sebagai berikut:

1. Setelah perusahaan mendapat kepastian memenangkan tender proyek


pemerintah, biasanya ada Uang Muka sebesar 30 % khusus untuk
.kontraktor golongan ekonomi lemah dan 20% untuk golongan
menengah dan besar (sesuai dengan Kepress No. 16 Tahun 1994
pasal 22).
2. Apabila dalam perhitungan Harga Pokok Penjualan (HPP) proyek
tersebut adalah 90 %, maka Uang Muka yang diterima maksimum
bisa membiayai pelaksanaan proyek sampai dengan 20190 x 100 % =
22 % progress fisik.
3. Berdasarkan butir no. 2, perusahaan dapat mengusulkan dalam Pasal
Pembayaran, maksimum pada fisik 10 % sudah dapat mengajukan
tagihan berikutnya.

11. Agar hal-hal tersebut pada butir I di atas dapat tercapai sesuai yang
ditargetkan, maka perlu diperhatikan tahapan proses penagihan sebagai
berikut:

1. Proses Pengajuan dan Persetujuan Berita Acara Lapangan (BAL)


2. Proses Pengajuan dan persetujuan Berita Acara Pembayaran
(BN)

C.2.5.2. PROYEK SWASTA DAN BUMN


Khusus untuk proyek swasta, yang perlu ditekankan dan diperhatikan
bersama adalah:
1. Prosedur Penagihan
2. Jangka Waktu Pembayaran

Hal ini diharapkan sebagai penyeimbang antara hak dan kewajiban


pemilik proyek dengan Kontraktor yang sesuai dengan UU No.18 th
1999 tentang Jasa Konstruksi.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalarn kaitan penagihan termin
antara lain:
Cara pembayaran yang diatur dalam kontrak (berdasarkan waktul
periodik atau berdasarkan pencapaian progress fisik).
Prosedur penagihan dan jangka waktu pembayaran sejak tanggal
penagihan yang disepakati.
Dokumen yang harus dilarnpirkan.
Besarnya uang muka dan Retensi yang diberlakukan.
Jadwal pemeriksaanlopname pekerjaan.
Kualitas yang disyaratkan dalam pengakuan progress fisik dan tata
cara pembayaran.
Pejabat yang ditunjuk dan berwenang menetapkan pembayaran.
Kesepakatan antara kontraktor dan pemilik proyek mengenai bahan
yang sudah didatangkan di proyek diakui sebagai progress fisik atau
tidak.
Bagaimana dan kapan Retensi dapat dibayarkan dan apakah retensi
dapat digantikan dengan Surety BondlJaminan Retensi.

Fasilitas Perbankan
Seperti yang telah diuraikan terdahulu, agar Kontraktor dapat beroperasi
dengan baik, haruslah didukung dengan modal kerja yang cukup besar.
Oleh sebab itu, dalam melakukan aktivitasnya diperlukan fasilitas
pendukung finansial dari institusi Perbankan. Fasilitas-fasilitas Perbankan
yang terkait langsung, adalah fasilitas Kredit Modal Kerja (KMIC),
Non-Cash Loan (NCL), dan Bank Credit Line (BCL).

Fasilitas Non Cash Loan Perbankan tersebut biasanya dipergunakan


untuk penerbitan:
Bank GaransiIJaminan Tender (Tender Bond)
Bank GaransilJaminan Pelaksanaan (Peformance Bond)
Bank GaransiIJaminan Uang Muka (Advance Payment Bond)
Bank GaransiIJaminan PemeliharaanIRetensi (Retention Bond)
Bank Credit Line adalah surat keterangan yang diterbitkan Bank,
yang biasanya diminta pemilik proyek pada saat pra-qualifikasi atau
saat tender proyek (kesanggupan bank untuk memberikan kredit,
apabila suatu perusahaan memenangkan tender).

Adapun persyaratan yang diminta oleh Perbankan apabila suatu


perusahaan ingin mendapatkan Fasilitas Kredit berupa KMK, NCL,
dan CL antara lain adalah sbb:

Laporan Keuangan berupa Neraca, Laporan Rugi Laba yang telah


diaudit 3 tahun berturut-turut.
Company Profile yang berisi pengalaman mengerjakan proyek.
Daftar Proyek yang sedang dikerjakan.
Rencana Perusahaan Jangka Panjang untuk 3 tahun kedepan.
Anggaran Dasar Perusahaan.
Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP).
Surat Izin Usaha Jasa Konstruksi (SIUJK).
Izin Domisili.
Struktur Organisasi Perusahaan dan Penanggung Jawab Perusahaan.

Untuk dapat menggunakan fasilitas perbankan berupa fasilitas kredit


maka suatu perusahaan terlebih dahulu harus mempunyai perikatan
dengan bank yang bersangkutan, yang disebut juga Perjanjian Kredit
(PK).

Apabila ada perusahaan kontraktor yang mengalami kesulitan cash


flow,biasanya terjadi karena:
1. Penyimpangan terhadap piutang yang ditandai dengan rasio
perputaran piutang (Collection Period).
2. Penyimpangan terhadap persediaan yang ditandai dengan perputaran
persediaan yang lambat (Inventory turnover).

Sementara itu, kewajiban kepada pihak ketiga tetap harus dipenuhi.


ACTIVITY RATIO
Rasio ini menggambarkan kecepatan proses operasi Perusahaan atau
Kemampuan Perusahaan untuk melaksanakan aktivitas diukur dari waktu
yang digunakan dan dihitung dengan pendekatan data keuangan.

Activity Ratio dikelompokkan dalam 3 model, yaitu:

Total Piutang
1. Perputaran Piutang: x 365 hari
Penjualan

Perputaran piutang (Collection Period) ini dimaksudkan untuk


mengetahui seberapa lama perusahaan mampu mencairkan piutang sejak
tanggal diakuinya pendapatan sampai dengan piutang cair menjadi
dana di perusahaan. Misalnya didapat angka 50 hari, artinya perusahaan
dapat mencairkan piutangnya sejak diakuinya pendapatan selama 50
hari. Pada perusahaan kontraktor di Indonesia, lamanya waktu
mencairkan piutang yang normal rata-rata 45 hari.

Total Utang
2. Perputaran Utang: x 365 hari
Biaya Pokok Penjualan

Perputaran utang (Account Payable Turnover) adalah dimaksudkan untuk


mengetahui seberapa lama perusahaan membayar utang usahanya.
Misalnya didapat angka 50 hari, itu berarti kontraktor yang bersangkutan
membayar utang usahanya rata-rata 50 hari. Pada kondisi normal,
lamanya perputaran utang perusahaan kontraktor di Indonesia selama
50 - 60 hari.

Perputaran persediaan (Inventory Turnover) dimaksudkan untuk


mengetahui seberapa lama perusahaan menyimpan persediaan sejak bahan
baku dibeli sampai dengan terpasang. Semakin pendek waktu yang
didapatkan berarti semakin baik pengaruhnya terhadap cash flow
perusahaan. Pengalaman kontraktor di Indonesia, rata-rata perputaran
persediaan 24-25 kali dalam setahun atau 14 hari sejak bahan datang
sudah terpasang menjadi progress fisik.
Semua perusahaan yang beroperasi di Indonesia harus tunduk kepada Undang-
Undang Pajak yang berlaku. Perusahaan Nasional Jasa Konstruksi wajib
melaksanakan semua ketentuan perpajakan yang berlaku, yaitu:

UU Pajak No. 1612000 tentang Ketentuan Umum Perpajakan


UU Pajak No. 1712000 tentang Pajak Penghasilan
UU Pajak No. 1812000 tentang PPN

Sesuai dengan Ketentuan Umum Perpajakan, Kontraktor, seperti juga


perusahaan lainnya, sebagai suatu badan usaha, harus mempunyai Nomor
Pokok Wajib Pajak (T\IPWP). Dalam hal operasi perusahan sudah mencapai
suatu omzet tertentu, maka perusahaan tersebut menjadi Pengusaha Kena
Pajak (PKP). Sebagai konsekuensinya, perusahaan yang sudah menjadi PKP
dan NPWP berkewajiban menyampaikan Surat Pemberitahuan Pajak (SPT)
secara periodik setiap bulan maupun setiap tahunnya, di samping harus
menerbitkan faktur pajak setiap kali menjual bahanljasa kena pajak.

NPWP maupun PKP tersebut dapat diperoleh di Kantor Pelayanan Pajak


(KPP). Proses untuk mendapatkannya sangatlah sederhana karena prosedur
dan tata caranya telah diatur sedemikian rupa sehingga memudahkan calon
wajib pajak untuk memperoleh NPWP maupun PKl? Salah satu prosedurnya
adalah melengkapi data-data Badan Usaha yang dibutuhkan KPP untuk
menerbitkan NPWP maupun PKP yang diperlukan.

Adapun data yang dibutuhkan untuk mendapatkan NPWP maupun PKP


tersebut antara lain:

1. Surat Permohonan untuk mendapatkan NPWP dan PKP kepada KPP di


mana Perusahan Pemohon berdomisili.
2. Surat Keterangan Domisili Perusahaan dari lingkungan (Kelurahan,
Kecamatan).
3. Anggaran Dasar dan Penanggung Jawab Perusahaan.

Perusahaan yang telah memiliki NPWP dan PKP, di samping wajib


memberikan Surat Pemberitahuan Pajak secara rutin kepada KPR secara
internal juga harus menyusun Laporan Pajak secara tertib. Hal ini adalah
karena sangat terkait erat dengan Laporan Keuangan Perusahaan.
C.2.7. PENGENDALIAN PERUSAHAAN
Pengendalian perusahaan diatur dalam anggaran dasar suatu perusahaan, di
mana di dalamnya diatur hal-hal tertentu yang harus ditaati oleh manajemen
dan KomisarislPengawas Perusahaan. Pada perusahaan kontraktor yang
berbadan hukum perseroan terbatas (PT), anggaran dasar yang dibuat oleh
perusahaan harus disesuaikan dengan Undang-undang No. 1 Tahun 1995
tentang perseroan terbatas (Lembaran Negara Tahun 1995 Nomor 13,
Tambahan lembaran Negara 3587).

I. Hal-hal yang diatur dalam anggaran dasar:


1. Nama dan tempat kedudukan perseroan
2. Jangka waktu berdirinya perseroan
3. Maksud dan tujuan serta kegiatan usaha
4. Modal
5. Saharn
6. Surat Saham
7. Surat Saham pengganti
Dafiar pemegang saham dan dafiar khusus
Pemindahan hak atas Saham
Direksi
Tugas dan wewenang Direksi
Hak dan kewajiban Direksi
Rapat Direksi
Benturan kepentingan
Komisaris
Tugas dan wewenang komisaris
Kewajiban Komisaris
Rapat Komisaris
19. Pembukuan dan tanggung jawab
20. Rapat umum pemegang saham
21. Rapat umum pemegang saham tahunan
22. Rapat umum pemegang saham luar biasa
23. Tempat dan pemanggilan rapat umum pemegang saham
24. Pimpinan dan berita acara rapat umum pemegang saham
25. Forum, hak suara dan keputusan
26. Pembagian laba
27. Penggunaan dana cadangan
28. Pengubahan anggaran dasar
29. Penggabungan, peleburan, dan pengambilalihan
30. Pembubaran dan likuidasi
3 1. Tempat tinggal (domisili)
32. Ketentuan-ketentuan penutup.

2. Rencana Perusahaan
Dalam rangka menjalankan amanat yang digariskan oleh anggaran dasar
perusahaan, Direksi dan Komisaris perusahaan harus menetapkan Rencana
yang meliputi hal-hal sebagai berikut:

a. Struktur Organisasi dan job description; yang dimaksudkan untuk


mengatur mekanisme kerja, wewenang dan tanggung jawab setiap jabatan
dan karyawan yang ada di dalam Organisasi perusahaan.
b. Visi perusahaan; dimaksudkan untuk panduan Direksi dan Komisaris
diarn mengendalikan arah dan kebijakan perusahaan, yang dapat diukur
dari waktu ke waktu.
c. Budaya perusahaan; kultur yang ditetapkan dan dijalankan sehingga
pelaksanaan program yang dijabarkan dalarn visi perusahaan dapat dicapai
bersama-sama oleh anggota organisasi perusahaan.
d. Rencana Jangka panjang; dimaksudkan untuk membuat ukuran
perusahaan berdasarkan periode tertentu sehingga arah kebijakan
perusahaan dapat dilaksanakan dalam bentuk program jangka panjang.
e. Rencana Jangka menengah; dimaksudkan sebagai penjabaran yang lebih
detail dari RJl?
f. Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP tahunan); program
perusahaan setiap tahun yang merupakan tahapan program pencapaian
rencana jangka menengah perusahaan.
g. Proyeksi bulanan, triwulanan, dan semester; dimaksudkan untuk
membuat target jangka pendek agar RKAP perusahaan dapat dicapai.

RAPAT DAN PENGENDALIAN PERIODIK


Rapat dan pengendalian periodik ditetapkan oleh Direksi perusahaan yang
dalam perusahaan kontraktor dilaksanakan berjenjang dan kurun waktunya
berbeda. Rapat pengendalian (internal perusahaan konstruksi) dapat dibedakan
jenjang dan kurun waktunya sebagai berikut:

a. Rapat harian di proyek dilaksanakan untuk mensosialisasikan rencana hari


berikutnya dan evaluasi pencapaian progress hari sebelumnya.
b. Rapat mingguan di proyek dilaksanakan dalam rangka mengevaluasi apakah
pencapaian progress mingguan masih sesuai dengan rencana induk proyek.
c. Rapat bulanan di proyek dilaksanakan dalam rangka evaluasi detail atas
pencapaian progress, laba, mutu, dan program kerja lainnya dibandingkan
dengan RKAP tahun bersangkutan.
d. Rapat Triwulanan dan semester, yang dilaksanakan sebagai ganti rapat
bulanan di setiap akhir triwulan, dimaksudkan untuk mengevaluasi direksi
dan komisaris tentang pencapaian kinerja triwulan/semester dibandingkan
dengan program kerjanya.
e. Rapat Tahunan perusahaan, dimaksudkan untuk evaluasi tahunan atas
pencapaian tahun lalu dan penetapan RKAP untuk tahun yang akan
datanglberjalan.

Semua rapat yang diagendakan perusahaan secara periodik tersebut diatas,


dimaksudkan agar pelaksanaan program jangka pendek masih terkait dan
tidak keluar arah dari rencana jangka panjang, visi, dan maksud serta tujuan
perusahaan didirikan.

C.3. ASPEK MANAJEMEN MUTU ISO-9000


Salah satu unsur yang membantu untuk meningkatkan kemampuan kompetitif
suatu Kontraktor adalah adanya suatu sistem manajemen kualitas yang memadai
yang diterapkan pada perusahaan sehingga semua proses dan produk2 yang
dihasilkan melalui proses itu mempunyai kualitas yang dapat diandalkan.
Salah satunya adalah ISO-9000
PT PP telah menerapkan ISO-9000 sejak tahun 1994, dan merupakan
Kontraktor pertama yang menerapkan sistim manajemen ISO-9000. Penerapan
pertama di tahun 1994 adalah ISO-9000 versi tahun 1987. Dengan
perkembangan sistim manajemen ISO-9000 di mana secara periodik
dilaksanakaan revisi, maka perusahaan selalu mengikuti perkembangan tersebut,
yaitu dengan adanya Up-grading sistem ISO-9000 versi 1987 ke versi 1994,
dan terakhir up grading dari versi 1994 ke versi 2000 di tahun 2002.
Secara umum sistem manajemen ISO-9000 dapat digambarkan sebagai ber-
ikut:

I S 0 adalah organisasi internasional bidang standarisasi. I S 0 adalah akronim


dari International Organisation for Standardization yang berpusat di Ge-
neva. Indonesia adalah anggota Organisasi ini, dan lebih dari 130 negara
telah bergabung dengan organisasi ini.

Badan Standarisasi Nasional (BSN) yang berkantor saat ini di Gedung


Manggala Wana Bhakti Jakarta, adalah badan Nasional yang terkait dengan
ISO. BSN juga menerbitkan bermacam-macam Standar Nasional Indonesia
(SNI) dalam berbagai bidang produk bahan maupun jasa.

ISO-9000 adalah Standar Sistem Manajemen Mutu yang diterbitkan oleh


organisasi ISO. Standar ini merupakan Standar ISO-9000 Family, yang
terdiri dari ISO-9000, ISO-900 1, ISO-9004, ISO- 19011.

ISO-9000 merupakan fundamental & vocabulary, ISO-9001 mengenai


Quality Management system requirements, ISO-9004 mengenai guidelinesfor
peformance improvement, ISO- 19011 mengenai guidelines on auditing quality
and environmental management system.

I S 0 adalah standar sistem yang berupa standar manajemen. Standar


manajemen artinya adalah standar atau acuan untuk manajemen, jadi
bukan untuk produk. Kalau untuk produk ada standar produk.

ISO-9000 yang merupakan kesepakatan anggota I S 0 diluncurkan pertama


kali tahun 1987, lalu direvisi pada tahun 1994, dan terakhir direvisi lagi
pada tahun 2000.

Sebenarnya secara prinsip, sebagai suatu standar sistem manjemen mutu,


ISO-9000 versi 2000 dan edisi sebelumnya hampir sama, namun untuk
versi 2000 ada beberapa perubahan, atau peningkatan atas implementasi
di tahun-tahun sebelumnya. Improvement tersebut terutama adalah pada
penyederhanaan prosedur. Artinya prosedur yang merupakan kewajiban
dikurangi. Pada edisi 1994 semua elemen I S 0 harus ada prosedur tertulis,
sedangkan pada I S 0 edisi 2000 hanya wajib untuk beberapa elemen,
namun elemen yang tidak ada prosedur bakunya boleh memakai bentuk
prosedur lain. Perubahan lain adalah dari berbasis elemen ke basis proses,
artinya pengelolaan suatu bisnis bukan dikendalikan antar-elemen
manajemennya, tapi lebih bertitik berat pada basis prosesnya. I S 0 versi
2000 ini juga lebih menekankan continual improvement, yaitu perbaikan
sistem secara terus menerus melalu mekanisme yang ditetapkan dalam
SMM.

Ada 3 (tiga) Prinsip utarna untuk menerapkan sistem Manajemen mutu ISO-
9000, yaitu: "Tulislah apa yang akan dikerjakan (Write what you h.9" lalu
"Kerjakan apa yang telah ditulis (Do what you write.qX,selanjutnya "Record1
catat apa yang telah dikerjakan (Record what you did?". Nah, tiga prinsip
tersebut memakai sistem pada pagar-pagar yang telah ditetapkan dalam sistim
ISO-9000.

Secara umum Sistem Mutu adalah: "Struktur organisasi, prosedur-prosedur


operasi, proses-proses serta sumber daya yang diperlukan dalam suatu
manajemen mutu". Sistem mutu dalam ISO-9000 ini dinyatakan dalam
dokumen sistem mutunya yang terdiri dari manual mutu, prosedur,
instruksi kerja, dan sebagainya.

ManualIPedoman mutu dalam ISO-9000 adalah suatu dokumen yang


menyatakan kebijakan mutu serta menguraikanlmenggambarkan secara garis
besar sistem mutu suatu Perusahaan. Dari manual mutu bisa dilihat anatomi
suatu organisasilperusahaan, namun detail dan prosedur kerjanya, atau
instruksi-instruksi kerjanya harus dilihat dalam sistem mutu secara
keseluruhannya.

Dalam ISO-9000 dikenal istilah Rencana Mutu atau Quality Plan, yaitu
dokumen yang menyatakan spesifikasi suatu kualitas, mekanisme suatu
pelaksanaan, sumber daya yang dipakai, serta urutan dalarn suatu produk,
proyek atau kontrak. Rencana mutu suatu proyek pelaksanaan konstruksi
misalnya adalah pada proyek, pelaksanaan suatu bangunan, proyek
pelaksanaan suatu jembatan, proyek pelaksanaan irigasi, dll.
Dalam sistem ISO-9000 dikenal adanya Mekanisme Audit Mutu yaitu
suatu pengujian yang sistematis dan independen (bebasltidak bergantung)
dengan tujuan untuk menguji apakah kegiatan dan hasil kerja sesuai
dengan persyaratan yang ditetapkan, serta untuk menguji apakah
pelaksanaan efektif untuk mencapai sasaran. Faktor-faktor dalam audit
adalah: "Pengujian secara independen, tersistem (bukan mendadak, dsb),
menguji kegiatan apakah sesuai ketentuan, menguji kegiatan apakah efektif
dalam mencapai sasaran."

Dalam ISO-9000 sering dijumpai istilah "Documented procedure"lprosedur


terdokumentasi, yang berarti bahwa prosedur: "ditetapkan, artinya ada dan
sesuai persyaratan, didokumentasikan, artinya telah disahkan oleh yang
benvenang, dan diatur pengendalian dokumennya, diterapkan, artinya
dilaksanakan oleh petugas yang terkait dalam dokumen tersebut, dipelihara,
artinya dipelihara sistem dokumennya."

Dalam ISO-9000 jumlah dan "kedalaman" dari suatu dokumen tidak


ditetapkan, namum secara umum perusahaan yang volume kegiatannya
besar, serta secara geografis lingkupnya luas mempunyai dokumen yang
lebih banyak dibanding dengan perusahaan yang kegiatannya sedikit ataupun
secara geografis lingkupnya kecil. Proses yang rumit, serta interaksi yang
luaslbanyak, umumnya mempunyai dokumen yang lebih banyak dibanding
proses yang sederhana, Kemampuan personil yang tinggi kadang-kadang
yang memerlukan dokumen lebih sedikit. Dokumen dapat bebentuk kertas
maupun data elektronik dan dokumen juga bisa berupa tulisan maupun
gambar.

Meskipun dalam ISO-9000 versi 2000 masalah dokumentasi tidak seketat


pada versi sebelumnya, namun dengan penerapan sistem ISO-9000
perusahaan akan labih dituntut tertib dalam sistem dokumentasinya. Hal
ini disebabkan karena dalam sistem ISO-9000 dokumen harus dikendalikan,
bahkan Rekaman mutulrecord catatan hasil kerja juga harus dikendalikan
sesuai persyaratan.

Khusus dalam ISO-9000 versi 2000, unsur kepuasan pelanggan lebih


ditekankan, yaitu dengan adanya prinsip customer foczls maksudnya adalah
bahwa pucuk pimpinan harus memastikan bahwa persyaratan pelanggan
ditetapkan dan dipenuhi dengan tujuan untuk meningkatkan kepuasan
pelanggan. Untuk itu perusahaan harus memberikan perhatian secara
khusus, berkesinambungan sesuai keinginan pelanggan, sehingga kebutuhan,
keinginan, dan persyaratan pelanggan yang telah ditetapkan dan diterjemah-
kan dapat menjadi persyaratan internal perusahaan, yang senantiasa diketahui
oleh petugas di lapangan, dilaksanakan secara disiplin dan konsisten
serta dipantau.

Setiap Perusahaan yang menerapkan ISO-9000 harus mempunyai seorang


Wakil Manajemen (Management Representative), yaitu Pejabat Perusahaan
yang ditunjuk bertanggung jawab khusus dalam sistem ISO-9000 di
Perusahaan tersebut. Tanggung jawab MR tersebut adalah untuk memastikan
apakah sistem manjemen mutu telah ditetapkan, diterapkan, dan dipelihara.
MR harus melaporkan pada pucuk pimpinan mengenai kinerja sistem
manajemen mutunya dan kebutuhan apa pun yang diperlukan untuk
perbaikannya, serta mempromosikan kesadaran tentang persyaratan
pelanggan di seluruh organisasi. CATATAN: Tanggung jawab MR juga
sebagai penghubung dengan pihak luar dalam masalah yang berkaitan
dengan sistem manajemen mutu.

Dalam sistem ISO-9000 Pucuk Pimpinan harus meninjau sistem manajemen


mutu organisasi dalam suatu Rapat Tinjauan ManajemenIRTM atau sering
disebut Management Review, pada selang waktu terencana (periodik), untuk
memastikan "kesesuaian, kecukupan, dan efektivitasnya yang berlanjut."
Tinjauan ini harus mencakup penilaian peluang perbaikan dan kebutuhan
akan perubahan pada sistem manajemen mutu, termasuk kebijakan mutu
dan tujuan mutu.

Rapat Tinjauan manajemen dalam sistim ISO-9000 bukan merupakan


rapat pengendalian operasi (operational-meeting), tapi merupakan review
yang bersifat strategis atas perfomance sistim manajemen mutunya dan
langkah preventif selanjutnya. Sedangkan masukan pada tinjauan manajemen
harus mencakup informasi tentang: "hasil audit, umpan balik pelanggan,
kinerja proses dan kesesuaian produk, status tindakan pencegahan dan
koreksi, tindak lanjut tinjauan manajemen yang lalu, perubahan terencana
yang dapat mempengaruhi sistem manajemen mutu dan saran-saran untuk
perbaikan.
Penerapan sistem manajemen mutu dalam Perusahaan seperti dalam butir-
butir diatas senantiasa dipantau oleh badan eksternal yang benvenang
menerbitkan sertifikasi, dan dilaksanakan secara periodik dua kali setiap
tahun.
Dengan pola seperti ini sistem manejemen mutu ISO-9000 senantiasa
dipantau secara berkesinambungan.
D. METODE PELAKSANAAN KONSTRUKSI

A
spek teknologi sangat berperan dalam suatu proyek konstruksi.
Umumnya, aplikasi teknologi ini banyak diterapkan dalam metode-
metode pelaksanaan pekerjaan konstruksi. Penggunaan metode yang
tepat, praktis, cepat, dan aman, sangat membantu dalam penyelesaian pekerjaan
pada suatu proyek konstruksi. Sehingga, target waktu, biaya dan mutu
sebagaimana ditetapkan, dapat tercapai.
Dalam pelaksanaan pekerjaan konstruksi, adakalanya juga diperlukan suatu
metode terobosan untuk menyelesaikan pekerjaan di lapangan. Khususnya
pada saat menghadapi kendala-kendala yang diakibatkan oleh kondisi lapangan
yang tidak sesuai dengan dugaan sebelumnya. Untuk itu, penerapan metode
pelaksanaan konstruksi yang sesuai kondisi lapangan, akan sangat membantu
dalam penyelesaian proyek konstruksi bersangkutan.
Penerapan metode pelaksanaan konstruksi, selain terkait erat dengan kondisi
lapangan di mana suatu proyek konstruksi dikerjakan, juga tergantung jenis
proyek yang dikerjakan. Metode pelaksanaan pekerjaan untuk bangunan gedung
berbeda dengan metode pekerjaan bangunan irigasi, bangunan pembangkit
listrik, konstruksi dermaga maupun konstruksi jalan dan jembatan. Namun
demikian, pelaksanaan semua jenis proyek konstruksi tersebut umumnya
dimulai dengan pelaksanaan pekerjaan persiapan.

D. 1. Metode Pelaksanaan Pekerjaan Persiapan


Sebelum pelaksanaan pekerjaan pokok suatu proyek konstruksi, pekerjaan
yang pertama harus dilakukan adalah pekerjaan persiapan. Pekerjaan persiapan
ini, baik untuk proyek-proyek pembangunan gedung bertingkat, proyek
pembangunan airport, jembatan, jalan, pelabuhan, dermaga maupun proyek
lainnya, secara umum tidak banyak berbeda. Besar kecilnya, mudah atau
sulitnya tergantung pada masing-masing proyek yang akan dikerjakan.
Pekerjaan persiapan harus direncanakan sebelum masa pelaksanaan suatu
proyek kontruksi. Bahkan, pekerjaan ini harus telah disiapkan pada saat
tender proyek dan dijadikan bagian dari penawaran tender proyek bersangkutan.
Perencanaannya dibuat sedemikian rupa sehingga dapat diperoleh suatu hasil
perencanaan yang efisien, namun bisa mencakup segala pekerjaan yang
diperlukan untuk pelaksanaan proyek tersebut.
Adapun pekerjaan persiapan yang harus dilakukan dalam pelaksanaan proyek
konstruksi, antara lain:

Perencanaan Site Plan


Perhitungan Kebutuhan Sumber Daya
Pembuatan Shop Drawing
Pengadaaan Material untuk Pekerjaan Persiapan
Mobilisasi Peralatan
~elaksanaandi Lapangan.

D. 1.1. Perencanaan Site Phn

Yang termasuk dalam Perencanaan Site Plan, pada prinsipnya adalah


perencanaan tata letak atau lay out dari fasilitas-fasilitas yang di-perlukan
selama pelaksanaan proyek. Fasilitas-fasilitas proyek yang dimaksud antara
lain:

Kantor ProyeMDireksi Keet


Gudang Material dan Peralatan
Base Camp Staf Proyek dan Barak Pekerja
Los Kerja Besi dan Kayu
Pos Jaga dan Pagar Kerja
Jalan Kerja
Penempatan Alat Berat, Tower Crane dan Lift Bahan
Lokasi Pembuatan Komponen Precast

Dalam membuat lay out untuk pekerjaan persiapan ini, perlu diperhitungkan
secara cermat penempatan masing-masing fasilitas dan sarana yang diperlukan
untuk pelaksanaan proyek. Dengan memperhatikan kondisi lapangan yang
ada dan disesuaikan dengan desain lay out proyek yang akan dikerjakan,
penempatan fasilitas dan sarana proyek nantinya akan dapat berfungsi secara
optimal sesuai perencanaan. Namun demikian, yang tetap harus dipertim-
bangkan adalah bahwa seluruh fasilitas dan sarana proyek yang dibangun
untuk pekerjaan persiapan tersebut adalah bersifat sementara dan nantinya
akan dibongkar setelah pelaksanaaan proyek selesai.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam perencanaan lay out fasilitas dan
sarana yang diperlukan untuk pelaksanaan suatu proyek antara lain:
Menempatkan semua fasilitas proyek di luar dari bagian denah proyek
yang akan dikerjakan sedemikian rupa agar tidak mengganggu pelaksanaan
proyek.
Menempatkan material bangunan, seperti: besi beton, kayu, panel beton
dan lainnya, harus dipisahkan sesuai dengan jenis dan ukurannya, sehingga
memudahkan penyimpanan dan pengambilannya.
Menempatkan material-material yang harus terlindung dari cuaca, seperti:
semen maupun material jnishing lainnya dalam gudang tertutup.
Menempatkan alat-alat berat seperti tower crane pada posisi yang strategis,
agar dapat menjangkau seluruh areal kerja yang diperlukan.
Merencanakan jalur jalan kerja dan arus lalu lintasnya secara benar agar
tidak menimbulkan stagnasi lalu lintas, baik lalu lintas material maupun
manuver alat-alat berat.
Menempatkan 10s kerja tidak jauh dari penumpukan material.
Menempatkan pos jaga yang tepat sehingga memudahkan mengawasi se-
luruh kegiatan proyek.
Merencanakan pagar proyek yang rapi dan memperhitungkan estetika,
namun tetap efisien.
Menempatkan barak pekerja dan base camp staf proyek yang tidak jauh
dari lokasi proyek.

Sebagai gambaran, berikut adalah contoh perencanaan lay out fasilitas dan
sarana untuk pekerjaan persiapan Proyek Bangunan Gedung (Lihat Gambar 1
Site Plan Proyek Gedung)
Secara detail, perencanaan konstruksi bangunan fasilitas dan sarana untuk
pekerjaan persiapan suatu proyek adalah sebagai berikut:

D. 1.1.1. Kantor ProyeWDireksi Keet


Kantor ProyeklDireksi Keet dibangun sebagai tempat bekerja bagi para staf
baik staf dari Kontraktor, Pengawas maupun Pemilik Proyek di lapangan,
yang dilengkapi dengan ruang-ruang kerja staf, ruang rapat, ruang pimpinan,
mushola, dan toilet. Besar kecilnya kantor proyek ini tergantung pada jenis
proyek maupun jumlah staf yang bekerja.
Seluruh fasilitas dan sarana yang dibangun untuk pekerjaan persiapan ini
adalah sementara. Oleh karena itu, desain Kantor Proyekldireksi Keet tersebut,
juga dibuat tidak permanen. Namun demikian, tetap harus mengutamakan
kenyamanan dan persyaratan sebagai tempat kerja. Karena sifatnya tidak
permanen, maka desain bangunan kantor ini sebisa mungkin dibangun dengan
biaya konstruksi yang semurah mungkin. Salah satu cara, adalah dengan
membuat konstruksi bangunan kantor yang bisa digunakan berulang kali
(sistem rakitan) untuk berbagai proyek sebagaimana yang dilakukan oleh PT
PP.
Desain bangunan Kantor Proyek yang dikembangkan oleh PT PP terdiri
dari berbagai tipe, dengan berbagai macam ukuran. Mulai dengan ukuran
luas 60 m2 hingga 200 m2, baik bertingkat maupun tidak, sesuai dengan
kebutuhan di lapangan.
Konstruksinya yang terdiri dari rangka baja untuk struktur atasnya, dilapisi
dinding double triplex atau plywood. Penutup atapnya terbuat dari bahan seng
atau asbes, sedangkan plafonnya menggunakan bahan material plywood. Lantai
bangunan yang tidak bertingkat menggunakan finishing keramik. Sedangkan
yang bertingkat, lantai atasnya menggunakan plywood setebal 20 mm. (Lihat
Gambar 2 - 3).
Komponen bangunan yang dapat dipakai berulang kali, adalah struktur
rangka, panel dinding, penutup atap, dan panel lantai atas. Berdasarkan
pengalaman PT PP, komponen-komponen tersebut dapat dipakai hingga dua
sampai dengan tiga .kali sedangkan komponen struktur baja, dapat digunakan
berkali-kali (tidak terbatas).
Dalam penerapan konstruksi bangunan sistem rakitan tersebut, yang perlu
direncanakan adalah gudang penyimpanan dan perawatan yang baik, antara
lain dengan melakukan pengecatan secara berkala agar komponen-komponen
baja tidak cepat berkarat.
Dengan mengembangkan sistem bangunan kantor seperti ini, kendati pada
tahap awal diperlukan biaya investasi yang cukup besar, terutama untuk
komponen rangka baja, namun dengan penggunaan yang dapat dipakai
berulang kali dengan sistem rakitan, secara kalkulasi akan menekan biaya
konstruksi dan waktu pelaksanaan juga menjadi lebih cepat.

D. 1.1.2. Gudang Material dan Peralatan

Bahan-bahan yang harus terlindungi dari pengaruh cuaca, seperti semen dan
material finishing lainnya harus disimpan dalam tempat tertutup. Untuk itu,
diperlukan tempat penyimpanan yang disebut gudang. Sebagai tempat
penyimpanan material, gudang harus memenuhi berbagai persyaratan.
Kondisinya harus dijaga agar tetap kering dan tidak lembab. Karena kondisi
gudang sangat mempengaruhi kualitas bahan yang disimpan. Penyimpanan
material seperti semen, harus diatur sedemikian rupa. Sehingga material yang
datang lebih dulu, dapat diambil dan digunakan lebih awal.
Sementara itu, gudang peralatan berfungsi sebagai tempat penyimpan-
an alat-alat ringan, seperti: vibrator untuk pemadatan beton, mesin genset
portable, alat-alat pengukuran (theodolit), alat-alat untuk pekerjaan jnishing
(mesin potong keramik, mesin bor), serta berbagai komponen peralatan lain-
nya.
Konstruksi gudang penyimpanan material dan peralatan dibangun seperti
bangunan kantor proyek. Yakni, dirancang dengan sistem rakitan sehingga
dapat digunakan berulang kali. Hanya saja, untuk bangunan gudang lantainya
tidak menggunakan keramik, tetapi hanya dijinishing dengan semen. (Lihat
Gambar 4, 5, 6 )

D. 1.1.3. Base Camp Staf Proyek dan Barak Pekerja


Untuk proyek-proyek yang berlokasi di luar kota, biasanya Pelaksana Proyek
menyediakan base camp sebagai tempat tinggal staf proyek dan barak pekerja
untuk tenaga kerja proyek. Base camp dan barak ini, biasanya dibangun tidak
jauh dari lokasi proyek. Penempatan base camp staf proyek dibuat terpisah de-
ngan bar& pekerja. Masing-masing dilengkapi dengan fasilitas kamar mandi,
toilet, dan dapur. Untuk base camp biasanya dilengkapi dengan fasilitas tambah-
an, seperti televisi maupun fasilitas olah raga. Fasilitas ini, ditujukan untuk
memberikan kesempatan refreshing bagi staf, karena jauh dari pusat kota.
Konstruksi bangunan base camp dan barak ini, dapat menggunakan sis-
tem rakitan. Kecuali, untuk daerah basah, seperti kamar mandi dan toilet.
Untuk dapur, dindingnya dibuat dengan pasangan bata (tembok). (Lihat
Gambar 7a, 7b)

D.1.1.4. Los Kerja Besi dan Kayu

Fasilitas ini dibangun untuk pekerjaan besi dan kayu. Los kerja besi merupakan
tempat untuk pemotongan maupun pembekokan besi beton sesuai gambar
kerja (shop drawing) yang ada. Sementara itu, 10s kerja kayu, digunakan
sebagai tempat pembuatan bekisting dan pekerjaan kayu lainnya. Bangunan
untuk fasilitas ini biasanya dibuat lepas tanpa dinding (10s) dan diberi penutup
atap, agar para pekerja dapat bekerja dengan nyaman. (Lihat Gambar 8, 9).
D. 1.1.5. Pagar Proyek
Pembuatan pagar proyek dalam suatu pelaksanaan proyek konstruksi merupakan
suatu keharusan. Hal tersebut, untuk menjamin keamanan kerja dalam
lingkungan proyek. Karena fungsinya sebagai pengaman, maka pagar harus
dibuat kokoh agar tidak mudah roboh.
Di samping itu, untuk keserasian dengan lingkungan sekitarnya, maka
pagar proyek harus rapi, bersih dan estetis. Untuk itu, pagar proyek harus
dicat dan diberi dekorasi secukupnya, sehingga terlihat lebih asri.
Konstruksi pagar proyek, biasanya dibuat dengan menggunakan dinding
seng dan didukung oleh tiang-tiang besi atau kayu dan diikat dengan baut
pengikat pada jarak tertentu. Sehingga, konstruksinya kuat sebagai pengaman
proyek yang sedang dikerjakan (lihat Gambar 10).

D. 1.1.6. Jalan Kerja


Jalan kerja di dalam lingkungan proyek, dibuat untuk jalur lalu lintas kendaraan
proyek, baik untuk truk material, truk mixer maupun untuk mobilisasi alat-
alat berat, seperti: tower crane, lift bahan, dan lainnya.
Membuat jalan kerja ini, harus diperhitungkan dengan matang arus keluar
masuk kendaraan. Arus kendaraan harus diatur sedemikian rupa sehingga
tidak menimbulkan stagnasi dan kemacetan di lingkungan proyek, yang
berakibat dapat mengganggu kelancaran pelaksanaan proyek.
Konstruksi jalan kerja ini, kendati sifatnya sementara, namun harus tetap
memperhitungkan beban lalu lintas yang akan melewatinya. Oleh karena itu,
jalan kerja ini biasanya dibuat dengan perkerasan, baik menggunakan sirtu
maupun aspal. Terutama, jika kondisi tanah di lokasi proyek cukup labil dan
tidak cukup kuat untuk menahan beban lalu lintas proyek.
Untuk proyek-proyek konstruksi sipil seperti proyek irigasi, bendungan,
dan lainnya, pembuatan jalan kerja ini memerlukan perhatian yang khusus.
Karena pada proyek-proyek tersebut, transportasi material cukup dominan.
Apabila pembuatan jalan kerja tidak memadai, hal ini bisa menjadi salah satu
faktor penyebab terlambatnya penyelesaian proyek yang b.isa mengakibatkan
kerugian bagi kontraktor.

D. 1.1.7. Penempatan Alat Berat, Tower Crane, dan Lift Bahan


Pada proyek-proyek konstruksi gedung bertingkat tinggi (high rise building)
atau gedung bertingkat rendah dengan denah yang luas, diperlukan alat-alat
berat untuk transportasi material, terutama untuk arah vertikal. Untuk sistem
transportasi vertikal ini, tower crane dan lift bahan, merupakan alat transportasi
yang paling banyak digunakan.
Tower crane diperlukan terutama sebagai pengangkut vertikal bahan-bahan
untuk pekerjaan struktur, seperti besi beton, bekisting, beton cor, dan mate-
rial lainnya. Penempatan tower crane, harus direncanakan bisa menjangkau
seluruh areal proyek konstruksi bangunan yang akan dikerjakan dengan
manuver yang aman tanpa terhalang. Penggunaan tower crane tersebut, juga
harus memperhitungkan beban maksimal yang mampu diangkatnya.
Konstruksi tower crane yang perlu direncanakan dengan cermat adalah
pondasi dan penempatan bracing sebagai pengaku pada saat bangunan telah
mencapai ketinggian tertentu. Pondasi tower crane berupa pondasi beton plat
setempat dan ditinggal setelah pekerjaan konstruksi selesai dikerjakan.
Sedangkan bracing, menggunakan profil baja yang diangkurkan ke struktur
bangunan yang sudah jadi.
Sementara itu, lift bahan, merupakan alat transportasi vertikal untuk
pengangkutan material pekerjaan finishing maupun tenaga kerja proyek.
Konstruksi lift bahan ini, dibuat seperti pada tower crane yang meliputi
pondasi struktur rangka untuk rail lift, diperkuat dengan bracing yang diangkur
ke struktur bangunan yang sudah jadi.

D. 1.1.8. Pembuatan Komponen Precast


Salah satu metode untuk mempercepat pekerjaan proyek konstruksi gedung
bertingkat adalah dengan menggunakan metode precast, terutama untuk
pekerjaan struktur. Pembuatan panel precast untuk lantai beton, dinding
parapet, balok struktur maupun kolom-kolom beton, sudah bisa dikerjakan
dengan metode ini.
Untuk memproduksi komponen-komponen precast diperlukan areal yang
luas. Apabila lokasi proyek cukup luas, pembuatan komponen precast dapat
dilakukan di dalarn lokasi proyek. Namun, jika areal lokasi proyek tidak
memungkinkan, maka pembuatan komponen precast harus dikerjakan di luar
proyek. Hal yang perlu diperhitungkan jika pengerjaan precast dilakukan di
luar proyek adalah harus tersedia lokasi untuk penampungan komponen yang
sudah jadi dan siap untuk dipasang.

D. 1.2. Perhitungan Kebutuhan Sumber Daya

Dalam pekerjaan persiapan pelaksanaan proyek konstruksi perlu dilakukan


perhitungan kebutuhan Sumber Daya Proyek. Yang dimaksud dengan Sumber
Daya Proyek adalah men~angkutkebutuhan Listrik Proyek dan Air Kerja.
Sementara untuk kebutuhan Sumber Daya Manusianya akan diuraikan dalam
bab lain.

D. 1.2.1. Kebutuhan Listrik Kerja


Kebutuhan tenaga listrik yang dimaksud, adalah jumlah daya yang diperlukan
oleh Kontraktor untuk melaksanakan pekerjaan konstruksi selama pelaksanaan
proyek. Kebutuhan tenaga listrik ini, di luar daya listrik untuk proyek bangunan
gedung itu sendiri, merupakan tanggungan pihak kontraktor.
Sumber daya listrik, biasanya diperoleh dari PLN maupun penyediaan
genset sendiri, tergantung penggunaannya. Daya listrik yang diperlukan oleh
proyek, meliputi:

Penerangan
Air Condition (AC)
Peralatan Kerja, seperti: Tower Crane, Lift Bahan, Mesin Potong Keramik,
Bor, Bar Bender, Bar Cutter, Pompa Air, dan lainnya.
Peralatan Kantor, seperti: komputer, Plotter, Mesin fotokopi, dan lain-
lain.

Jumlah daya listrik yang diperlukan, harus memenuhi berbagai keperluan


tersebut. Sedangkan besar kecilnya daya listrik yang diperlukan tergantung
pada besar kecilnya fasilitas kerja yang dibutuhkan untuk bangunan kantor
maupun sarana pendukung lainnya. Format untuk perhitungan kebutuhan
daya listrik dapat dibuat seperti pada Tabel 1. Electricity Power Planning.

D. 1.2.2. Kebutuhan Air Kerja

Kebutuhan Air Kerja untuk ke~erluanproyek bisa diperoleh dari sumur atau
PAM (Perusahaan Air Minum). Air diperlukan untuk memenuhi kebutuhan-
kebutuhan sebagai berikut:
Toilet di Kantor Proyek
Base Camp Staf
Barak Pekerja
Pencucian Kendaraan Proyek, Dump Truck, Concrete Mixer, dan lainnya.
Perawatan Beton (Concrete Curing), termasuk Testing Beton
Tabel 1.
Electricity Power Planning

Power Reql KVA Source


No. Equipment VPe Number Unlt
PLN Genset
I. Tower crane
1.1. TIC 1 FO 23B I 175 KVA 175 ... -
1.2. TIC2 FO 238 1 175 KVA 175 ... -
1.3. TIC3 - - - - -
1.4. TIC 4 - - - - -
II. Lift Barang

;CONTQH
2.1. Lm1
2.3. UB 2 - -

2.4. LiB34
LiB - -

Ill Lift Penumpang


3.1 UP1 Alimox 1 60 KVA 60 - 60

3.2. UP 2 - - - - - -
3.3. UP 3 - - - - - -
3.4. UP 4 - - - - - -

IV. Bar Bender 8 Cutter


4.1. Bar Bender - 2 3,8 KVA 7,6 - 7,6
4.2. Car Cutter - 2 3,8 KVA 7,6 - 7,6

V. Pompa Air
5.1. PIA 1 Dup Well 2 1,2 KVA 2,4 - 2,4
5.2. PIA 2 Sum Pump 4 4 KVA 16 - 16
5.3. PIA 3
5.4. PIA 4

VI. Lampu Penerangan


6.1. Lampu sorot lapangan HPlT 18 400W 72 - 72
6.2. Lampu sorot TIC HPlT 10 400W 4 - 4
6.3. Lampu TIL lapangan Balk 1 x 36 600 36 W 21,6 - 21,6
6.4. Lampu BilBoard Balk 1 x 36 48 36W 1,73 - 1,73

VII. Kantor Proyek


7.1. Kantor Kontraktor,
Gudang, dl1
Lampu penerangan Balk 1 x 36 52 36W 1,87 1,87 -
Komputer PC 9 150W 1,36 1,351 -
Dispenser 3 300W 1,051 1,05 -
AIC Split 8 1,5 KVA 12 KVA 12 -
Alat lain
7.1. Kantor Owner &
Pengawas
Lampu penerangan Balk 1 x 36 6 36W 2,16 2,16 -
Komputer PC 1 150W 0,15 0,15 -
Dispenser 1 350 W 0,35 0,351 -
AIC Split 2 1 KVA 2 2 -
Alat lain
VIII. Power Kerja Sub
kontraktor
8.1. Panel Power Panel 42 4 KVA 168 168 -

Keterangan:
- No. VI 6.3. *
Lampu TIL Lapangan = Diperlukan penerangan 200 lux, dengan lampu TL 36 W dibutuhkan untuk setiap 8 m2 luas
lapangan 1 bh lampu TL atau 8 mz/bh
+
- No. VII 7.1. Lampu Penerangan ruang kantor = Diperlukan penerangan 350 lux, dengan lampu TL 36 W dibutuhkan untuk setiap
5 m2 luas ruangan 1 bh lampu TL atau 5 m2lbh
Batching Plant untuk Pembuatan Mortar (Beton Molen)
Pengetesan Peralatan Mekanikal, seperti: Hydrant, Sprinkler, dan lainnya
Perawatan Plesteran Dinding
Keperluan Lokasi-lokasi Kerja Lainnya

Air dari sumber air disimpan pada tangki-tangki penampungan air sesuai
dengan kapasitasnya. Volume air yang diperlukan dihitung berdasarkan
kebutuhan volume air setiap harinya. Format untuk perhitungan kebutuhan
air kerja dapat dilihat seperti pada Tabel 2. Water Source Planning.

D. 1.3. Pembuatan Shop Drawing (Gambar Kerja)

Shop drawing atau gambar kerja, merupakan acuan bagi pelaksanaan pekerjaan
di lapangan. Dengan adanya gambar kerja, maka pekerjaan lapangan menjadi
mudah dilaksanakan dan terkendali secara teknis, baik dari segi waktu maupun
mutu kerja.
Gambar kerja, harus sudah disiapkan dalam tahap awal proyek dan
mendapatkan pengesahan dari pihak Pengawas atau Konsultan Perencana,
sebelum dilaksanakan di lapangan. Shop drawing, disiapkan oleh Bagian
Engineering berpedoman pada desain bangunan dari Konsultan. Pembuatan
shop drawing, dewasa ini banyak dilakukan dengan komputer menggunakan
sofnvare Autocad, sehingga dapat mempercepat waktu pembuatannya.

D. 1.4. Pengadaan Material untuk Pekerjaan Persiapan


Metode pelaksanaan untuk pengadaan material tidak ada yang khusus. Untuk
pekerjaan persiapan, belum begitu banyak memerlukan material. Material
yang dibutuhkan terutama hanya untuk kebutuhan pembuatan perakitan
Kantor Proyek, Kantor Konsultan dan Pengawas, Gudang, Barak Pekerja, Base
Camp Staf, Pagar Proyek, dan bangunan-bangunan yang bersifat sementara
lainnya.

D. 1.5. Mobilisasi Peralatan


Peralatan yang dimobilisasi pada tahap awal, adalah peralatan yang diperlukan
untuk membangun fasilitas-fasilitas proyek, seperti: Kantor Proyek, Gudang,
Stockyard (Gudang Terbuka), dan bangunan-bangunan sementara lainnya.
Pada tahap ini, peralatan yang dibutuhkan masih terbatas pada peralatan-
peralatan ringan, seperti alat-alat untuk pengukuran.
CONTOH
Tabel 2
Water Source Planning

No. Water Usage Volumelday Name of Tank Tank Capacity Location of Tank Source of Water

M3 M3 PAM M3

I Toilet in Office 2 Fibreglass 0,s Site Office - v

II Labor Camp 20 Concrete 16 Basecamp - v

Ill Car wash (Dump Truck, Conc Mixer 3 - - - - v

IV Concrete Curing 20 - - - - v
- For Concrete testing material
- For Concrete on Site
V Mortar Batching Plant - - - - - -

VI Mechanical Equipment Testing - - - - - -

VII Plaster Cur~ng 20 M Fiberglass 5 - - -

Vlll For Other Working Area 5 M3 Fiberglass - - - v


Location 1
Location 2
PROYEK

STANDAR FASlLlTAS
SEMENTARA PROYEK
PNlUK

TAMPAK SAMPING KANAN SUBYEK


SKNA1 1M
I GUDANG
I

TAMPAK DEPAN

Gambar 4 I
WTATAN

BPanutupAap hbesoslanbnpkl
N* Aap hbes N*
7 P W P~Ib=36rnrndratwam~sbuMuda
R W Kay" Bomo 4 6
8 Iwt Elehnbl SCp KontnWS.Xtsrpm** MK
m-pl pda P& nndq
~*100dm=~.6manpsn~np*.~svum~04is 1- prcduu S m e
P W dm R q U W u dkmrstv-mBu Mud. LsD Honantslm e m w p.ds Rng
L e W V ~ ~ ~ K 0 r n
UnWSmlUrm,
Plpr PYC E m
5 Sbllktur K d m
Sbvrtu Rug BsDX 9 m b e r Llrm nm%dLL%m
-pst
SUMuA l q 10 Sumbsr4~r W w t

STANDAR FASlLlTAS
SEMENTARA PROYEK

WE
K

GUDANG
I

DENAH GUDANG
sKAL41 1W

Gambar 6
I PTPP
II

DENAH BASE CAMP PERSONAL PROYEK


~ 1 : 2 0 0
uuurc@Aem I wKm@Aem
1m.1 A 01

Gambar 7b
UTATh'4

PROYW

STANDAR FASILITAS
SEMENTARA PROYEK
PBU(

TAMPAK SAMPING PT PP
SKALA I : 1M
S
UBm

LOS KERJA BESl


ATAP SATU
ENYmVm T m T m T m

mTiYUIU OLM

5- r m TmmTUwr

GumPRYUWWm mm
OPERlM Twax T m m T W

w n 014

aOUliUR Twax T m T m

lW0 DB01
RRDUWA T m T m T m
TAMPAK DEPAN
w i : i m
XIWLGtAWA S(ALA

TAMPM 1 1W

JUUHOI*BAR I N O U O R ~

1 m1 A 02

./
4

2 Garnbar 8
CATATAN

PROYEI(

STANDAR FASlLlTAS
SWENTARA PROYEK
RHUK

PT PP
WBYEK

LOS KERJA BESl


POTONGAN A-A ATAP SATU
sKALA1:1w
YEFMTWUl T m T m T W

--
mulw

OYI(RU)*UWIX)
0601

sm
m T m T w

W
Em T m T m T W

m n SQI

0
1
- T W TIIMTW

YXrO aBM
RRU(CAW T m T W T W

JUXILW gULA

POTONGAN 1 100

POTONGAN B-B
SKALA1.100 JUUHWBAR I NOLW(OILIUR

INPI A 03

.,
Garnbar 9
Mobilisasi alat-alat berat, seperti alat-alat pancang maupun alat-alat bor
untuk pekerjaan pondasi, mulai dilakukan setelah tahapan pekerjaan persiapan
selesai dan pengukuran titik-titik pondasi telah ditetapkan.

D. 1.6. Pelaksanaan di Lapangan


Pekerjaan persiapan di lapangan dimulai dengan melakukan pengukuran dan
membuat patok ukur tetap yang akan menjadi pedoman bagi pengukuran-
pengukuran selanjutnya. Patok tetap ini, dibuat di luar garis bangunan yang
akan dibangun agar tidak hilang selama pelaksanaan.
Tahap akhir pekerjaan pengukuran ini, yakni dilakukan pengecekan kembali
kebenarannya bersama-sama dengan Konsultan Pengawas dan Konsultan
Perencana. Setelah selesai, maka dilaksanakan pembuatan semua fasilitas proyek
yang diperlukan dimulai.

D.2. METODE PELAKSANAAN BANGUNAN GEDUNG


Secara garis besar pelaksanaan suatu proyek bangunan gedung dibagi atas:

1. Pekerjaan Pondasi
2. Pekerjaan Struktur
3. Pekerjaan ArsitekturlFinishing
4. Pekerjaan MekanikalIElektrikal
5. Pekerjaan HalamanITaman

Semua tahapan pekerjaan gedung mempunyai metode pelaksanaan yang

.
disesuaikan dengan desain dari konsultan perencana.
Pada bab-bab terdahulu telah dijelaskan bahwa perencanaan metode
pelaksanaan suatu item pekerjaan akan mengikuti jadwal waktu yang disediakan
untuk item pekerjaan tersebut. Dari perencanaan metode ini akan diperoleh
data kebutuhan alat yang diperlukan, jenis dan volume bahan yang akan
dibutuhkan, teknis dan urutan pelaksanaan pekerjaan serta pola pengendalian
mutu yang harus diterapkan.
Pada Bab-bab selanjutnya akan dipaparkan contoh-contoh metode
pelaksanaan untuk proyek bangunan gedung, mulai dari pekerjaan Fondasi
hingga pekerjaan finishing (arsitektur)-nya serta untuk pekerjaan sipil lainnya
dalam bentuk ilustrasi gambar-gambar yang dilengkapi dengan keterangan.
D.2.1. METODE PELAKSANAAN GALIAN BASEMENT

1. PElCERJAAN PERSIAPAN
CONTOM ARAH DAN MANUVER ALAT BERAT Sebelum proses penggalian dilaksanakan, hal-
DAN DUMP TRUCK
ha1 yang perlu diperhatikan adalah:
KedaIaman galian
-
- Cek stabilitas h e n g , apakah dapat
digaIi secara open mt dengan mem-
bentuk skope (cek tinggi kritis & ke-
mi ringan slope).
- Untulr lahan y a n g sernpit apakah
diperlukan dinding penahan railah
yang sernentasa .- Zmpurury (sheet pike,

Masuk
L o k a s ~Direksj Keet
.-
I
a
P~ntu
Keluar
rheei piie le Ancho~, all) permanent
pih, didfinpa wad dll) .
(~oldie~

* Pengaturan a r a l ~manuver alat berat dan dump truck yang Gaik yang dilakukan dcngan
memperhatilcan site kns~alkztiunyang ada.
* Pemilihan, jumlah, $an komposisi alat gali yang digunakan berdasarkan walcru pelaksanaan
dan lokasi proyek.
* JaIan kerja yang memenuhi syarat.
Pemeliharaan linglcungan sekitar proyek (debu, lumpur bekas ~naterialgalian, dll)

2. METODE PEKERJAAN GALIAN


POSlSl ALAT BERAT & DUMP TRUCT UNTUK Galian tahap 1, penggalian dilakukan
MENEHASILKAN PRODUKSI GALIAN YANG OPTIMAL

- . :,..
..T
a -- - Backhoe clan mareria1 langsung di-
;
-<---

/
,/- , dumping ke dump truck (posisi damp
%-' L* ,.
< $. - --!,..i
' <
- *p<--- 7 truck yang optimal di mana sudut s w z y
-> C bucket backhoe 45' - 90), tir~ggig ~ l i a n
sesuai perhirungan tinggi kritis.
* Galian tahap 2, lereng hasil penggalian
tahap I harus diprotelcsi dari gerusan air
huja~ldengan mengunakan terpal ~ l a s t i k
@ / ? t i c sbcet) dan g,alian tahap kedua dapat
dilalcsanalcan dengan rnecode yang sama
pada rahap 1.

Buat ramp masuk dan ramp keluar untwk alal beral dan DT dengan
kemlrlngan rnaximlm 1 S 0 6

Penggaliall dilanjutkan sampai elevasi


rencana, unsuk ~ e n ~ ~ a l idia nhawah
pcrnmukaan air tanah dilalrukan pekerjaan
d~wdnring.

Hasil galian ranah dibuang ke lokasi


disposal area, diu5ahakan agar jaralc disposal
adalah jaralc terdekar dan yang perlu
diperhatikar~ usahakan tanah galian tidalr
herjaruhan di jalan dengan cara menutup
bak dump puck dengan t c r ~ a l .

-
--
,
,
-.
a\,, ,';
:\Z
,/ *.
Loading i a dump truck
. .

,T?,
k$:-,
I'
;a .
Excavation
&Kwh?,,
,j,,;.
,"! ;% ,-,. -
+ , ,.
,>- ,->L,
,
--
. - I

-- --
,-
m,,. ,,- -- - ........
., ,<.
- ' -,
- . ,.F':
.,'
, i4-
.. :

,'
. -. . .
7',
-1
\
\\
. . . - ...-.

,. \,
<:
.-, \

m ,
, \
1,
, .> erw.ihI~Hau/ing ke disposal area
-
I
I :
..:---
'.A
; - ,. I-
<" - , ;;: ; r-,\-(---x,,
\ >
,
cb -2. /,P ,> ,

, / . - ....

...

Dumping di lo kasi
-. 7
7-; c:--'
! (,
7.;
2: f;;),7!'i:,,:
,
r - .-<%--.7''-'('
disposal
9% area
, p
,c
> ,
A, :+
'; , .:- ,, . . ,;:;:-,*5
.. ,L:.\
D.2.2. METODE PELAKSANAAN DEWATERlNG DAN WELL
POINT
METODE PELAKSANAAN
DE WATERiNG SISTEM WELL POINT
PENDAHULURN

Pada pembangunan g-edung he~tingkatsaat ini


sering dibuat bascment d e n p n berb~gaidasan, di
anraranya dengan menamhah ruangdan alasan lain
seperti hiIa dijumpai tanall lembek. Untl~lrnlernbuat
basemenr, penggdian t~dakdapar dihindarkan dan
bilainana muka air tanahnya t i n g i seltn pada lapis
yang ternbus air, m k a pernompaa~lharus dilakukan
untuk mengesingkan lahan Agar pelalcsanaan
PENGEEOWN TAnAH UNTUK konstruksi ciapat itdiakukan.
DEWATERlNG
SaIah saru metode yang &pat digundcan untuk
mengaras1 siti~asiini idah mcnggunakan metode
pengurasan dengan pemompxn yailg dilakukan
dengan sumur titilr ( wcllpoini system).

I. Xntukan letak titik dan kedalarnan rencana pengehoran.


2. Menyiapkan cdsing pipa PVC dengan uru tan sebagai berikut :
Luhangi pipa casinf pada bagian ~ljungyg akan nerendarn air dengan diameter lubat~gsesuai
shop drawing,ddengan menggunakan alat bor.
Rungkus lubang-Eubang pipa tersehut dcngan kawac ayamlplastiIc filter.

PEMBUATAN LUBANG P A D A UJUN -

MEMBUNGKUS PlPA
LUBANG DENGAN
3. Buat bak penampung air sirkulasi pengeboran berupa galian canah yang dilapisi semen.
4. Laksanakan pengeboran ranah dengan mesin bor, jumlah Pubang dan diameter serta kedalaman
galian harus sesuai dengan rencana.
5. Masukkan pipa PVC yang telah dilubangi lcedalam luhang bor secara bertahap.
6. Isi rongga antara lubang pengeboran dan casing PVC dengan koral gundu
7. Buat saluran pembuangan air dari hasil dewdtering.
LUBANG HASlL BOR PlPA CASING PVC
SlAP DIPASANG PIPA / DIMASUKKAN
CASING PVC DALAM SUMUR

8. Pasang dan operasikan pompa Konstruksi sumur


submersible secara otomatis ke Dewatering
dalam casing PVC d e n g a n
MANOMETER PUMP
mengatur:
a. Rangkaian pompa
submersible dengan pipa
!galvanis
b. Letak manometer, stop kran,
check v d v e (untuk
mengetahtri dan mengatur
cekananldebit air ).
c. Letak w d t e ~Ievd controp
elektrode (untuk mengatur
tinggi rendahnya permukaan
air di dalam sumur sebagai MPA Dl CEK TlAP 3 MINGGU
pengamanan pompa). TUK MEMBERSIHKAN LUMPUR
d. Letak panel lrontrol dan
instalasi listrik.
9. Merek-merek pompa d f ~ d t e r i ~ ~
yang sering digunakan Torishima,
Ehara, dlI.
D.2.2.1. METODE PELAKSANAAN TEMPORARY STEEL SHEET

TEMPORARY STEEL SHEET PILE

ALAT: RAHAN:
- Crawler C ~ d n f&pasitas 35145 Ton - Sheet Pike
- Vibro Hnmmer 60 KVa - Kawat Las
- Genset 250 KVa - Material Bantu, dl!.
- MesinLa5
- Manual Kazrol
- Theodolit
- Alat Bantu, dll.
METODE PELAKSANAAN
1. Lakukan perhitungan analisis untuk
mengecek kedalaman sheet pi/? yang
tertanam berdasarkan .type sheet pile yang
dipakai dan data tanah hasil soil investi-
area gallan gation. (Cek Perhitungan).
2. Pengukuran area pemancangan sheer pile
dengan menggunakan theodoiite.
3. Lakukan penumpukkan sheet pile sedekat
mungkin dengan tokasi pernancangan
II Lokasi Direksi Keet
II sehingga dapat dijangkau Iangsung oleh
Pintu P~ntu
Masuk Keluar Crawler Crane, sehingga penggunaan
Crane Service dapat diminimalkan.

4. Untuk mendapatkan hasil pemancangan


yang lurus dapat dilakukan dengan
pemasangan Guide Wall terlebih dahulu.
5. Lakukan pernancangan s h ~ e pile
t sesuai urutan yang telah ditentukan dcngan menggunalcan
Crawler Crane 35145 Ton + Kbro lidmmer 60 KVa dan Genset 250 KVa.
I'"astika11prmarlcangan pertama tegak lurus, lcarena ha1 itu akan berpengaruh terhadap
kc~egakansheet pike herikutnya. Pemancangan hanya sampai elevasi + 1 .OO m' di atas level
rencana, karena cnnnccting antar sheet pile dapat rnengakibatkan s h ~ epile
t yang telah terpancang
ambIas sewaktu pcmancangan sheet pile dilakubn disebeIahnya.

Serclah I 0- I 5 sheet pile pemancangan dapar 7


dilanjutlcan sampai elevasi rencana dan
pemancangan dapat dilanjutkan sesuai
urutan yang sama.
Hal yang h ~ r u smendapat perharian:
U Kecenderungan sl~eetpile selalu mi ring
l e xah pcmancangan (memhencuk kipas)
akibat getaran vihro & pernancangall
@.q-**pll
9-
ridak tegalc lurus, ha1 ini dapat diacasi
dengan alar banru katrol untuk menasik
sheet pile menjadi lurus setelah selesai
pemancangan.
U Jika herdasaskan perhitungan konstruksi
0.2.3. METODE PELAKSANAAM DINDING PENAHAN TANAH
DENGAN SISTEM SOLDIER PILE
ALAT:

Alac bor terdiri dari crawler crane, auger dnn


kelly
Alat ukur rheodolit dan waterpass
, -
-. - Patok-patok untuk tanda penguk~iran
.y-*
. -
-5 <
Pompa submersible untuk pengecoran
bentoni tc
Pipa tremie untuk pengccoran

-
-:-
-- - - -- -- *
untuk membersihkan lurnpur dan
kotoran dari lubang bor

BAHAN :
3 Campuran bentonite, air dan semen (bentonite adalah canah lempung (chy) denga11 kadar
montmorillonite yang tinggi).
U Resi beton
O A d u b n beton
URUTAN PELAKSANAAN BENTONITE PILE

CASING

1 Bor tanah 2. Pasang caslng 3 Bersihkan 4. Masukkan cagrng B, kntonlte


sampal & terus d~bor lubang dengan campuran sslesa~dicor
kedalaman 3 m. sarnpal elevas~ bucket d a r ~ benton~te &
rencana. koloran % semen.
lurnpur
METODE PELAKSANAAN
URUTAN PEKERJAAN (tampak atas)

1. Pengeboran untuk Bentonite Pile

2. Pengecoran Bentonite.

----

3. Pengeboran Concrete Pile. Dilaksanakan setelah pengecoran bentonite dl


sebelahnya berumur lebih kurang 3 hari.

10 cm:. as concrete pile


- as bentonite pile

4. Pengecoran Concrete Bored Pile.


,Bored pile

URUTAN PELAKSANAAN BORED PILE

CASING
r

1 Bortanah 2 Pasang casrng 3 Bersrhkan 4 Masukkan besl 5 Pengemran 6 Cabut 7 Concrete


sampal & terus dlbor lubang dengan tulangan yang beton dengan casrng bored ple
kedalaman 3 rn sampal elevas~ bucket darl telah d~mklt tremie. selesa~d ~ m r
rencana. kotoran b
lumpur
0.2.4.METODE PELAKSANAAN DJAPHRAGM WALL

- Excavating Crane (Crawler Crane T 00 Ton)


- Excavating Clampshell Grab 8 Ton
- Bentonite Mixing Unit
- Bentonite re-Cycling Unit 100 m3lhr
- Bentonite Storage 30-60 rn3
- Service Crane (Crawler Crane GO Ton)
- Various Pump and Tremie Pipes for re-
Cycling (Submersible Pump 3"-6")
- Construction Joinc Warer Stop (CWS) Form
PELAKSANAAN DIAPHRAGM WALL - Excavator PC 200
- Dump truck
- Generator Set 1 50 KVA
- Welding Machine
- Theodolite & wrer Pass
- Dan lain-lain

METODE PELAKSANAAN

1. Pekerjaan pcrsiapan meliputi: rnobilisasi alat,


cleaniag dan grubbing, pengukuran, dll.
2. Pernbuatan guide wall sebagai panduan
u n t u k kelurusan dan platform alat
pengeboran dinding diafragma, konsrruksi
seperri tampilan di bawah.

d 9 ~e-l Grpund Level


3. Adapun urutan pelaksanaan Diafragm Wall adalah sebagai berikut:

Gallan pertama Gallan k ~ d u a Galran ketlga Pengeluaran benton~te


Primary Panel Pr~maryPanel Primary Panel gallan & pemberslhan
dgn bentonite baru
5 6 7
1- m m u

Pemasangan CWS Pengecoran beton


Joint & Pcrnbesian Primary Panel selesai

Gallan ertama Gallan kedua Pembon karan


Adjoining guccessive Adjo~n~n cws %rnt
Panel (sebelum beton Successrve 8anel Form
mengeras)
11

Pemasangan CWS Pengecoran


Form pembeslan dan successive panel
pengecoran, setelah selesal dllanlutkan
pernbers~hanbentonrte galian SISI sebelahnya
D.2.5. METODE PELAKSANAAN PONDASI DALAM
D.2.5.1. Pondasi Tiang Pancang Precast Beton

be or equ

A. PERSLAPAN
Penentuan alat pancang yang digunakan: Peralatan pancang yang dipakai harm mempunyai
efisiensi dan energi yang memadai.
Catatan:
Tabel di atas rnemberikan relcomendasi secara umum untuk diesel hammer.
Pernilihan jenis hammer secara tepat harus memperhitungkan panjang tiang, daya
dukung tiang, dan kondisi tanah.
Rcncanakan set tiang finaI: Untuk menentukan pads kedalaman mana pemancangan tiang
dapat dihentikan, berdasarkan data tanah dan dara jumlah pukulan terakhir (final set)
Rencanakan urutan pemancangan dengan pertiinbangan kemudahan manuver alat. Lokasi
scok material ditemparkan sedekat rnungkin dengan lokasi pemancangannya.
Tentukan lerak ritik pancang dengan rheodolit dan tandai dengan patok.
B. PROSES PEMNCANGAN
1. Alar pancang ditempatkan sedcmikian rupa sehingga as hnmmer jatuh pada patok titik pancang
yang telah ditentukan.
2 . Tiang diangkat pada titik angkat yang telah disediakan pada setiap tiang.
3. Tiang didirikan di samping d~ivingl e d d a n kepala tiang dipasang pada helmet yang telah dilapisi
b y u sebagai pelilldung dan pegangan kepala tiang.
4. Ujung bawah tiang didudukhn secara cermat di atas patok pancang yang telah ditentukan.
5. Penyetelan vertikaI tiang dilakukan dengan mengatur panjang backsty sambil diperiksa dengan
waterpass sehingga diperoleh posisi yang betul-becul vertikal.
6. Sebtlum pemancangan dirnulai, bagian bawah tiang diklem dengan cenrer gate pada dasar
driving had agar posisi tiang tidak hergeser selama pemancangan, terutama untuk tiang batang
pertama.
7. Pemancangan dimulai dengan mengailgkat dan menjatuhkan hnmmcr secara herkesinambungan
ke aras helmet yang terpasang di atas kepala tiang.

LJRUTAN PEMANCANGAN
8. Pemancangan dapat dihentikan sementara untuk penyambungan batang berikutnya bila level
kepala tiang telah mencapai level muka tanah sedangkan level tanah keras yang diharapkan
belum tercapai.
Proses penyambungan tiang:
a. Tiang diangkat dan kepala tiang dipasang pada helmet seperti yang dilakukan pada batang
pertama.
b. Ujung bawah tiang didudukkan di atas kepala tiang yang pertama sedemikian sehingga
sisi-sisi pelat sambung kedua tiang telah berimpit dan menempel menjadi satu.
c. Penyambungan dilakukan dengan pengelasan penuh di sekelilingpertemuan kedua pelat ujung.
d. Tempat sambungan las dilapisi dengan anti karat.

9 Selesai penyambungan, pemancangan dapat dilanjutkan seperti yang dilakukan pada batang
pertama. Penyambungan dapat diulangi sampai mencapai kedalaman tanah keras yang ditentukan.

10. Pemancangan tiang dapat dihentikan (selesai) bila ujung bawah tiang telah mencapai lapisan
tanah kerasljinal set yang ditentukan.

11. Pemotongan tiang pancang pada cut offlevel yang ditentukan sesuai shop drawing.

C. QUALITY CONTROL

1. Kondisi Fisik Tiang:


a. Seluruh permukaan tiang tidak rusak atau retak.
b. Umur beton telah memenuhi syarat.
c. Kepala tiang tidak boleh mengalami keretakan selama pemancangan.

2. Toleransi:
Vertikalitas tiang diperiksa secara periodik selama proses pemancangan berlangsung. Penyimpangan
arah vertikal dibatasi tidak lebih dari 1 : 75 dan penyimpangan arah horisontal dibatasi tidak
lebih dari 75 mm

3. Penetrasi:
Tiang sebelum dipancang harus diberi tanda pada setiap setengah meter di sepanjang tiang
untuk mendeteksi penetrasi per setengah meter. Dicatat jumlah pukulan untuk penetrasi setiap
setengah meter.

4. Final set:
Pemancangan baru dapat dihentikan apabila telah dicapai final set sesuai
perhitungan.
0.2.5.2.PONDASI BORED PILE
TAHAPAN PEKERJAAN

ALAT KERJA
PEKERJAAN PERSIAPAN
Mobilisasi Peralatan
Set up Mesin Bor
Persiapan Keranjang

-" -- -..-. - - . - A . -- -- -.,"-.-.---mL -_ .

1 PEKERJAAN DEMOBlLlSASl 1
7

METODE PELAKSANAAN
I. PROSES PENGEBORAN
PROSES PENGEBORAN
1. Menggunakan mesin bor Soilmec R412
kapasitas 40.00 meter, pengeboran dirnulai
$engaa menggunakan auger d e n g a n
diameter sedikit besar. Untitk kemudian J, P?
memasang casing sementara (bila
diperlukan) sepanjang malrsimum 4.00
meter. Casifig sementara ini dibutuhkan
u n t u k meng-hindari r u n t u h n y a r a n a h
r
I'

\I
!:1 '?\,b&
!
8
:
k >'

permukaan di sekcliling Iubang bor.


2. Pengcboran dilanjurhn menggunakan m e r "\
C .
.If
atau bwcket tergantung pada jenis dan
r
. . 1;._ ,
-.
-%

.1
keadaan tanah yang ditemukan sementara . .,-- . %
.." ., -v. ., -.a > --.. -% I u- 2 -* .. -x .,,UY

1redaIaman scrta jenis tanah yang keIuar


dicarat secara teratur s a ~ n p a irnencapai
lredalaman yang ditent~lkan.
3. Rila dinding lubang bor runtuh, maka
dihutuhkan pengisian air dalam lubang bor
selama proses pengcboran dilaksanakan.
PROSES PEMBERSIHAN LUBAHG 11. PROSES PEMBERSIHAN LUBANG
Setelah kedalaman yang diinginlran tercapai,
maka prose? pembersihan dasar lubang dirnulai
dengan menggunakan cleaning huckct. Bahan
yang dikeluarkan dan rebalnya harus dicacar.
Proses dii~langbeberapa kali sampai dasar
lubang dalam keadaan relatif bersih.

111. PROSES PENGECORAN BETON


1. Begiru selesai pembersihan dasar lubang
kemudian dilaksanakan pemasangan
keranjang besi beron disusul pernasangan
pipa trernie. Panjang, juinlah dan mutu besi
heron dibuat sesuai spesifikasi teknis.
2. Rila di dalam luhang terdapat volume air
yang c u k u p banyak dan deras ~ n a k a
pengecoran dilaksanakan meldui pipa tremie
yang d i t u t u p pada ujung bawahnya,
menggunakan ~ l abajat yang dina~nakanend
phte atau dengall menggimakanpkasticfiam
sebagai pemisah antara beton dan air.
3. Pipa o~mzedipasangsepanjang lubang yang
PROSES PEMASUKAN dibor dengan ujungnya herrumpu pada dasar
KERANJANG BESl BETO'N luhang.
Beton Readymix dengan slump 16 f 2 cm
retarder 4 jam dituangkan ke dalam tremie

\
%
I\
\
hingga pipa tersebuc tcrisi penuh. Pipa lalu
ditarik sehingga endpkate rerlapas dan
AX>

beron rnengalir. Reton dituangkan lagi ke


dalam pipa ~ c n a i edan dengan dernikian

P?_ ,,T7/
{'A

m-
pengecoran
perrnukaan beton ciang
mencapai
dilanjutkan
ketinggian

dalam beton. Bila pipa twmie tcrlampau


panjang maka pipa &wait dengan panjang
hingga

masing-masing potongan antara 1 - 6 meter


yang
diinginkdn. Selama pengecoran herlailgsung
ujung bawah pipa trrmie harus terbenarn di

harus d i a n ~ k adan
t di~otong.
4. Casing lalu dicabut ~erlahan-lahandan
pengukuran tcrakhir dilakulran terhadap
beton untuk memeriksa apnkah ketinggian PROSES PEMASANGAN TREMIE &
perrnukaan beton berada di atas rencana PEHGECORAN
dasar pocr setinggi k 1 m e t e r unrlik
rnenjamin m u t u hcton yang baik pads
elevasi dasarpoer.
Apabila perlu, cdring sementara di cor
beton sa~npaipenuh sehingga ketinggian
permukaan beton yang diinginkan tercapai.
Bilamana tidak ada air di dalarn lubang
bor, pengecoran beton dilakulcan dcngan
pipa tremie pendek (51 m) dan corong saja.
Pipa tremie pendek ini berfungsi agar heton
yang dituangkan jaruh ditengah-tengah
lubang.
PROSES PE'FIGANGKATAN TREMllE
PROSES PENGECORAN

PEMGECORAN
D.2.5.3. PONDASI FRANK1 PILE
METODE PELAKSANAAN
PONDASI TJANG PANCANG FRANK1
LANGWH 1 I. Pipa baja d e n s a n u j u n g bawah terbuka,
CASING 10 - PEMASUKAN BATu KORAL dileralclcan di atas tanah tepat pada titik (patok)
sEsAGA' SUMBAT
HAMMER 3.2 TON -- tiang. Ratu koral lalu diinasulrknn lie alarn pipa
Yh, yang kosong itu dengan menggunakan suacu
alar yang d inamakan skip seringgi kurang lebih
0,6 - I ,O meter di dalam pipa. Koral dipadatkan
dengan turnbukan p a l u l d ~ ~hammer
p di dnlam
pipa sehingga rnelekat menjadi suatu sumbat
SFLEE-NTWK SWMBAT
CASING 10 -15 M
pads u j u n g pipa. PaEu p e n u m b u k (drop
hfimmer) berbobot lebih kurang 3,2 ton.

',---.
RING R SO CM BESI P i 22 (POLOS)

2. Pemancangan pipa besi dilakilkan dengan cara menumbuk sumhat koral pada ujung pipa sehingga
mencapai kedajaman Tang diingin kan. Kedalaman pemancangan ditentukan rnelalui data yang
diycroleh dari penyelidi!mn tanah dan kalmdering p d a setiap titik. Pcmancangan dihentikan apabila
penurunan pipa tidak lebih dari 30 m m dalam 10 pukulan, dengan tinggi jatuh palu setinggi 1,2O
metcr per pukulan.

LANGKAH 2:

3 PENUMBUKAN SUMBAT
DENGAN M M M E R
3. Setelah mencapai kcdalamail yang diharaphn,
pipa ditahan dengan slinR dan sumhat lroral
CASING 10 - 15.M.. .
yang t e r d a p t di dalam pipa d i p k u l hingga
lepas dan keluar dari pipa. Reron kcring lalu
diisikan sedikir demi sedikic ke dalam pipa
HAMMER 3.2 TON untulr pembuaran pernbesaran (bulb) atau
MUKA TANAH
enlarged base.
4. Volume beton yang digunakan dalam
P.
SPEET SPLEET UMTUK SUMBAT

/ CA3ING.l.-15 M pemhuatan bulb disesuailran dengan kekerasan


tanah da11 pads urnumnya adalah antara 0,14
, R l N G E SO CM m' (satu skip) hinSga 0,84 rnr (enam skip).
BES1 E 2 2
(POLOS) Jumlah pukulan p d a satu skip (0,14 mi) beton
teralrhir harus ridak kurang dari 40 kali dcngan tinggi jatuh palu minimum 4,s meter arau hingga
energi yang sama tercapai.
5 . Kerailjang besi terdiri dari 6 besi utama diameter 22 m m yang dililit spiral diameter 8 m m jarak
20 cm untulr seIilruh panjang tiang Franki.
Keranjang besi tersebut lalu dimasukan ke dalam pipa dan merupakan pembesian dari riang
pondasi. Keranjang besi dibuat sepanjang riang sendiri dengan ta~nbahan 0,90 meter stek untuk
rnasuk kc dalam POETuntuk pen yambungan, maka or~er-lappingbesi utama adalah 4 90 cm. Pada
ujung keranjang hcsi dan pada sarnbungan dilas tirik agar lebih kuat.
6. Tiang Franki Ialu dibuat dengan rnengecor beton sedikit demi sedilut Ire dalam pipa disertai dengan
pamadatan sarnbil pipa sedikit d e n i sedikit dicabut. Recon yang digunakan dalam petlgecoran
adalah deilgan mutu K-225 clan fakctor air semen tidak lebih dari 0,40 dan slump berlrisa~antara 0-
2,50 crn. Pengecoran becon diakhirj dengan penambahan setinggi lebih kurang 30 cm - 50 cm
agar beton pada ketinggian yang diinginkan terjainin haik dail keras.
7. Susunan carnpuran beton yang berdasarkan v o l ~ ~ muntuk
e tiang Franki adalah I : 2 '1, : 3 '1,
Per mctar kubik heron:
Semen = 345.00 kg
Pasir = 0,62 rn'
Split 213 = 0,90 mi
Air = 134,OO l i t e r
Tiang Franki yang selesai dilakscsanalran harus tahan memikul beban kerja sebesar 130 ton

LANGKAH 3 :

PENUMBUKAN SUMBAT
SAMPAI TANAH KERAS
m LANGKAH 3B :

SUMBAT DlPUKUL SAMPAI


KELUAR DARl PlPA
SKlP (0.14 M3)
TUANGKAN SPL
-
4 6 SKlP

MLlKA TANAH

SPLEET UNTUK SUMBAT


CASING A0 - 15M

ELEVASI TANAH KERAS


RINGESO CIM
BESIE22 (POLOS)
.. BULB

LANGKAH 4 :

PEMBUATAN BULB BETON


11 h (ENLARGE BASE)
SKlP (0.74 M3)
ADWKAN BETOM KERING

MUKA TANAH
HAMMER 3,2 TON -
d
-
CASING 10 15 M

SPLEET:
n
ELEVASI TAMAH KERAS
I-
+--- BULB
LANGKAH 5 :
PEMASUKAN
KERANJANG BESl

KERANSANG BESl
BESl 6 D 22 (ULIR)
SENGKANG D8 15 -

MUKA

ADUKAN BETON KERING


ELEVASI TANAH

PENGECORAN BETON

SKIP (0.14 M3)


TUANGKAN SPLEET 4-6 SKlP

-4
ADUKAN BETON K-225 Y

MUKA PANAH

KERANJANG BESl
BESl6 D 22 (ULIR)
SENGKANGD8 15 -
ADWKAN BETON KERAS

ELEVASI TANAH K
PEKERJAAN TlANG FRANK! SELESAI

-
CASING 10 15 M

HAMMER 3,2 TON

MU
N TANAH
EMENT

ELEVASI TANAH KE

PERALATAN PEMANCANGAN

CASING 10 - 15

HAMMER 3,2 TON

RING Q 50 CM

CASING 10 -15 M
7

D 50 CM BESI D 22 (POLOS)

203
0.2.6. METODE PELAKSANAAN PONDASI BATU KALl
PERSIAPAN
Rencanakan urutan penggalian, urutan
pemasangan p o n d x i b a t u kali, ternpat
penimbunan tanah hasil galian semenrara,
sebelurn diangkut keluar dari site, juga cempat
penimbunan sementara batu-batu kali tersebut
sebelum dipasang.
PEMBUATAN GALIAN
Siapkan alat-alat yang diperlulran.
MenggaIi tanah dengan ukuran lebas sama
dengan lebar pondasi bagian bawah dengan
kedalaman yang disyararkan.
. u .
PONDASI BATU KALl
MenggaIi sisi-sisi miringnya, sehinSga
diperoleh sudut kemiringan yang cepat.
Ruang tanah sisa gaIian ke ternpat yang telah
ditentukan.
Cek posisi, lebar, kddaman, dan l~eerapianya,
. .

URUGAN PASlR
Pasir urug diratakan pada dasar galian dan
disiram air untuk mendapatkan kelembaban
yang optimum untuk pernadatan.
Padatkan pasir u r u g tersebut dengan
memakai alat stdT?Tp.fr.
Jika diperlukan ulangi langkah I dan 2
sehingga didapat tebal pasir urug seperti yang
direncanakan
PASANGAN PONDASI
* Pasang patok banru untuk memasang proGI I
I I
(2 patok untuk tiap profrl). Profil dipasang 1
'---
I
Rencana Galian Pondasi
pada setiap rrjung lajur fondasi.
Pasang bilah bantu dacar pada kedua patok,
setinggi profil.
Bekas Galia
Pasang profil benar-benar regak lurus dan
bidang atas profil datar. Usahakan titik
tengah profil tepat pada cengah-tengah galian .Tianf.Bauwplank
yang direncanakan dan bidang atas profil Galian untuk Pondas~
sesuai peil fondasi.
-..Profil Pondasi ,
.... --.. - .. ...
Ikat ~ r o f i ltersebut ~ a d abilah datar yang
dipasang antara 2 patok dan juga dipaku agar
lebih kuat.
Pasang patok sokong, miring pada tebing
galian pondasi dan ikarkan dengan profrl,
sehingga menjadi kuac dan kokoh.
Cek ketegakanlposisi profrl dan ukuran-
ukurannya, perbaiki jika ada yang tidak
tepar, demikian juga peilnya.

PASANQAM PONDASI

Paku (tanda titik as pasangan)


Papan Bangunan 7
J
\ /------
Cat/meni (tanda titik as pasangan)

b = lebar pasangan bagian atas


I3 = lebarpasanganbagianbawah
t = Tinggi pasangan tegak muka (rollag)
T = Tinggi pasangan pondasi
h = Tinggi lantai dari muka tanah
H = Kedalaman galian tanah

PROFIL UNTUK PONDASI BATU KALl


PASANGAN PONDASI BATU KALI

1. Siapkan semua alac dan bahan yang dibutuhkan.


2. Pasang benang pada sisi luar prof;] untuk seriap beda tinggi 25 cm dari permukaan urugan pasir.
3. Siapkan adukan untuk melekatkan batu-batu tersebut.
4. Susun batu-batu di atas lapisan pasir urug tanpa adukan (anlzstumping)dengan tinggi 20 cm dan
isikan pasir dalarn celah-celah batu tersebut sehingga tak ada rongga antar-baru kemudian siramIah
pasangan hatu kosong tersebut dengan air.
5. Naikkan benang pada 25 cm berikutnya dan pasang batu kali dengan adukan, sesuai ketinggian
benang. Usahakan bidang luar pasangan tersebut sata.
6. Sediakan ternpar untilk lubang-lubang stek kolom clan keperluan-keperIuan lain.
7. Cor srek-srek kolom tersebuc clan rapikan pondasinya.
8. Setelah pasangan mengeras, bagian pinggirlski pondasi diurug kembali.

PONDASI YANG TELAH SELESAl


--

D.2.7. METODE PELAKSANAAN PONDASI PELAT JALUR

METODE PELAKSANAAN
PONDASI PELAT JALUR

GAL1 TANAH BERPEDOMAN BOUWPUNKDAN S W D R A W / N G

GAL1 TANAH BEWEDOMAN BOlJWFLANKDAN SHOP DRAWING


PADATKAN DASAR GALIAN DENGAN STMPER
TEBAR DAN PADATKAN UPISAN PASIR URUG
PASANG SCREED
PASANG BEKESTING BATAKOIKAYU
PASANG PENULAMGAN, BETON DECHNG DAN KAKI AYAM
PASANG STEK YANG DIPERLUKAN UNTUK PEECERJAAN LAIN
BERSIHKAN DAERAH YANG AKAN DICOR DENGAN COMPRESSOR
COR BETON DAN PADATKAN DENGAN VIBRATOR
CURINGIPERAWATAN BETON
BUKUREFERENSF
UMTUK KONTRAKTOR GEDUNG
BANGUNAN DAN SIPIC

POT. A-A L: 160CM POT. B-8 L : 160 CM ,q


SK4L41: 25 3
Contoh desain pondasi plat

Pemadatan tanah dasar dengan Stamper Kondisi tanah dasar pondasi setelah
dipadatkan
D.2.8. METODE PELAKSANAAN PEMASANGAN BEKISTING
BATACO PUTIH UNTUK POER & SLOOF

1 DENAH RENCANA POER & SLOOF I


Batas Galian Bataco Putih

1 1 1 1 I I I 1 I

-
I I 1 I 1
- 1 1 1 1 1 I I I I I I

11111 Poer -
Poer 1 1 1 1 1

I I I I
- 1 1 1 1

DENAH POER & SLOOF

METODE PELAKSANAAN PEMASANGAN BEKISTING POER & SLOOF BATACO


PUTIH
1. Pembuatan tanda-tanda yang menyatakan as-as atau level dengan menggunakan cat warna yang
jelas dan tahan lama.
2. Pekerjaan galian dilakukan dengan menggunakan Backhoe untuk ruangan yang memungkinkan
dan dengan tenaga manusia untuk ruang-ruang yang sempit.
3. Pekerjaan galian dilakukan sesuai gambar rencana dan dilakukan pengukuran dengan menggunakan
watelpass sampai pada elevasi yang diinginkan.
4. Setelah pekerjaan galian poer & sloof kemudian dilanjutkan dengan pekerjaan urugan pasir dan
lantai kerja untuk dudukan poer &sloof sesuai dengan elevasi rencana.
5. Buat profil pada tiap sudut atau tempat yang teIah ditentukan. ProfII dibuat dari kayu kaso yang
berfungsi sehagai patokan ketegakan pasangan bataco, sehingga profil harus benar-benar tegak.
6. Profil-~rofildiberi tanda setiap ketebalan bataco dan adukan, hiasan~adigunakan pensillspidol
untuk menandai psofi1 tersebut.
7. Pasang benang untuk setiap lapis {atau tiap dua lapis) dari profil ke profil untuk mengontrol
keIurusan pasangan.
8. Pasang bataco putih sesuai dengan profil yang telah terpasang.
9. Cek kerataan bidang pernasangan dengan jidar serta posisi pasangan bataco apakah sesuai garnbar
kerja atau belum.

POTONGAN SLOOF

Catatan :
Jika tinggi pasangan bataco > 1 meter, malra
pasangan bataco tersebut
Harus menggunakan sloof dan kolom praktis.
D.2.9. METODE PELAKSANAAN PEMASANGAN BEKISTING
KAYU UNTUK POER & SLOOF

Kaso

\ Poer 1 Sloof Poer

-3 Kaso
DENAH BEKISTING POER & SLOOF

1 . Pernbuatan tanda-tanda yang menyacakan as-as atau level dengan menggunakan cat warna yang
jelas dan tahan lama.
2. Pekerjaan galian dilakukan dengan menggunakan Back Hoe untuk ruangan yang memungkinkan
dan dengan tenaga manusia untuk ruang-ruang yang sempit.
3. kkerjaan galian dilakukan sesuai garnbar rencana dan dilakukan pengukuran dengan menggunakan
waterpass sampai pada elevasi yang diinginkan.
4. Setelah pekerjaan gaiian pow & skoof kemudian dilanjutkan dengan pekerjaan urugan pasir dan
lantai kerja untuk dudukanpoer &sloof sesuai dengan elevasi rencana.
-Plywood
r: Kaso

Kaso - Kaso

POTONGAN A - A
\ Lantai Kerja

_I

-- Kaso

PANEL BEKISTING

5. Membuat panel bekisting yang disesuaikan dengan ukuranpaer &sloof di lokasi fabrikasi.
6. Oleskan minyak belusting pada permukaan panel hingga rata.
7. Pasang panel bekisting pada lokasi masing-masing, sambungan antar-panel harus rapar.
8. Panel bekisting harus diberi pengaku dari kaso pada sisi luar panel dan pada bagian atas panel
diberi kaso juga agar benar benar tegak.
9. Cek kelurusan bekiscing dengan tarikan benang.
D.2.10. METODE PELAKSANAAN STRUKTUR ATAS
D.2.10.1 METODE PELAKSANAAN PEKERJAAN KOCOM

BEKfSTlNG KOLOM

.PANEL

RANGKA

SABUWWALLER

CORRECT INCORRECT
A B

BENAR SALAH PAKAI LIST

SABUK WALLER

A= MENTRANSFER GAYA YANG


BESAR KARENA BIDA'NG
KONTAK KEClL DENGAN SABUK

NARROW FACE HAS H I G H


C R U S H I N G STRESS
LOWER STRESS
ON WIDER F A C E
B= BIDANG KONTAK BESAR
A B

P A C K E R BEAM

DFBERI HORIZONTAL
PACKERS UNTUK
MtKA IA
SABUK BESl YANG KEClL
SISTEM KLEM

DOUBLE WALERS

CLAMP F I X E D TO FORM

BEAM

PART ELEVATION
ALERS ENABLE QUICK INSTALLATION
AND STRIPPING OF BAR-TIES

DOUBLE WALERS SINGLE WALER.


MUDAH DIBONGKAR UTK KOLOM KEClL
BlDANG KONTAK BESAR BlDANG KONTAK KECIL

JENIS KLEM

Kayu Peri Baja


1e
-LYWOOD PHENOL FILM 12 M M
KEPALA KOLOM
FORM TIE

SABUK KOLOM

PlPA SUPPORT
BUKUREFERENSI BANGUNAN
UNTUK KONTRAKTOR DAN SIPIL
GEDUNG

BEKISTINQ dan KEPALA KOLOM


I A
-H
(-- m

1
COR DIBAWAH 8ALOK

I
BOPJGKARBADANKOLOM

LANGKAH 1 :
BEKlSTlNG KOLOM
DAN KEPALA KOLOM
DIPASANG BERSAMA-

PENGECORAN DILAKU-
KAN SAMPAI ELEVASI
BODEMAN TERENDAH

LANGKAH 2 :
BEKlSTllNG KOLOM
DIBONGKAR DENGAN
KEPALA KOLOM MASIH
TERPASANG UNTUK
.., LANGWH BERIKUTNYA
-
W HI
-
UYG,."nz

LANGKAH 1 LANGKAH 2
- -
BEKlSTlNG
KEPALAAN KOLOM

8AWT 114"

SlKU A 50 50 5

GIRDER FT-270

I
GIRDER GT-270

DETAlL SAMBUNGAN BEKISTING KOLOM DAN KEPALAAN KOLOM

BEKlSTlNG KOLOM 800X800


SSRZ 961121

Laoo-'i600 1
FRONT VIEW
BEKISTING KOLOM 400x400

Lo-1.60. J
FRONT VIEW
............

Top View Column PLYWOOD CORNER


DETAIL
<
Girder menumpu
girder lainnya
rn

m.
-
I
\
Tidak Rapat

BETUL
D.2.10.2. METODE PELAKSANAAN PEKERJAAN DINDING

Prosedur Perhitungan bekisting dinding

Beban -ARangka Panel 1


" Jarak Rangka
I

E Form tie Sabuk


Jarak Formtie

POLA PEMBEBANAM DINDING


PRESSURE AQAINT FORM
I H C R E A S E S WITH DEPTH

PRESSURE

OEFC!CllOH W l S H
C O N C R E I E LEYFL - -...
16 AT 1
-

- 3"
PROGRESSIVELY
IHCREASING
DEFLECTION

Tekanan beton pada dinding Lendutan dinding bekisting

-1'
LIME OF AYOROSIATIC
PRESSURE

Setting beton Tekanan beton pada Tekanan beton pada


Mengurangi tekanan Pengecoran yg lambat Pengecoran yg cepat
Perhitungan Beban
Tekanan beton berbeda-beda tergantung dari kecepatan
dan Tinggi pengecoran

Untuk mencari tekanan


maksimum,elemen-elemen
yang diperlukan adalah:

.KEEPATAN COR BETON

TINGGI BETON

B E R A T JEWS BETON

FIGURE 4.05 - DROPPING CONCRETE


* PANJANG DINDING

lx I l y (Momen Inersia) - cm4 i


Memen kelernbaman terhadap suatu sumbu garis
Zx 1 Zy (Momen h w a n ) - cm"
Momen perlawanan yang dirimbulkan oleh gaya dalam jika baIok dilenturhn sampal tercapai keregangan
ijin tertinggi diserat rerluar.
E (Modulus Elastisitas) - kg/cm2
Nilai yang menunjukan anrara Tegangan dan Regangan dalarn kondisi elastis.
f b (Tegangan h n m r Izin) - kgEcm2
Tegangan lentur maksimum yang diperbolehbn terjadi pada s t r u k t ~ ~maceria1
r
G b (Tegangan Lentur Terjadi) - kg/cm2
Mmax
Tepngan lentus yang terjacli pada suatu struktur material nilainya ditentukan dari :
+
8 (Defleksi Izin) - crn
DeflcksilIenturan maksimal yang diijinkan terjadi pada suatri struktural material daIam ha1 ini pada buku
ini diretapkan sebesar : a,3 cm.
6 (Defleksi Maksimum) - cm
Defleksillenduran yang terjadi pada struktur material akibar bcban yang bekerja. Nilainya ditentukan dari:
3ALL
384EI
w = beban merata yang bekcrja pada struktur material
II. PERHITUNGAN FORMWORK DINDING
METODA TABULASI A. PERHITUNGAN BEBAN
Kecepatan pengecoran 15 m/h
Concrete Head (H) 2,2 meter
Tekanan beton dapat dicari dengan tabel sbb Tabel 1. Panjang dinding 6 m > 3m
Tekanan Beton untuk Struktur Bekisting Dinding Berat Jenis Beton (Wo) 2,4 ton/m3

Keterangan :
Wo = 2.4 tonlrn3

Untuk tinggi H = 2,2 m ( baris antara 2,00 & 2,25) dan kecepatan pengecoran 15 m/h
dan panjang dinding > 3 m didapat tekanan beton = 4,80 tonlm2
B. CEK PANEL (JARAK BALOK VERTIKAL)
Tekanan Beton P = 4,8 tonlm2
Dipakai Plywood tebal t = 1,5 cm
Posisi pemasangan Melintang arah serat

Jarak balok vertikal dapat dicari dengan Tabel 2. sebagai berikut ini.
Tabel 2 .

Tabel Jarak Ealok Vertikal (CM)

untuk Berbagai Jenis Plywood pada Eekisring Dinding

I 10.0 11 2 1 -47 15.18


I 25.95 18.97 I 29.75 2 1 -75
Dari tabel 2 tersebut, untuk : Didapat iarak balok vertikal :

Plywood 1,5 cm Dipakai Jarak balok vertikal :


Melintang Arah Serat L = 20 cm < 22,56 cm (OK)
C. CEK BALOK VERTIKAL
( MENENTUKAN JARAK BALOK HORISONTAL )

K e y u K las : 111
T e g a o g a n Lentur
M o d u l u s Elrstis E . 8.E+04 k g l c m 2

M o m e n Incrsra 143 cm4


M o m e n Law r n

54 44 38 1 34 3I 29 27 25 24
9.0 II 52 43 37 / 33 30 - 28 26 25 23
9.5 I 51 41 36 I 32 29 27 25 24 23
10.0 0 49 40 35 1 31 29 26 25 23 22
BEKlSTlNG DINDING (WALL FORM)
BERDASARKAN SABUK BEKISTlNG DINDING
TERDIRI DARI:
mVERTIKAL WALLER rnMORIZONTAL VVALLER
WALERP W h H BETWEEM

=pola pembebanan

WALL WING SYSTEMS (SISTEM PENGIKAT DINDING)

SYSTEM PENGIKAT DINDING DIBAGI 3 GRUP:

'HE-BOLTS:
MENGlKAT RANGKA BEKlSTlNG DEMGAN DRAT

ROTATION OFT
PtYwooa FORM FACE
TIE ROD SCREWS

READ FOR TIE ROD

HE-BOLTS PADA BEKlSTING BAJA HE-BOLTS PADA BEKlSTlNG KAYU


MENGIKAT TIE

AIR DAPAT KELUAR MELALUI LUBANG BOLT

PLYWOOD FPRMFACE

WASHER --IT.

FOI;MWORK
FRA~NG

POSlTlONlNG SPIKES

FORM FACES

FORMFACES

THROUGH-TIES
GAYA TARIK DISALURKAN HANYA MELALUI r-7
TIE RODIKAWAT

TWISTED WIRE KOOP

CARA LAMA

MENGGUNAKAN KAWAT SEBAGAI PENGGANTI TIE


ROD
SERING DIGUNAKAN DINDING BERHUBUNGAN
TANAH

MENGGUNAKAN PlPA PLASTIK

TIC CONE FITS DAPAT MENGURANGI OVERTIGHTENING

TIE ROD BlSA DIGUNAKAN LAG1

PLASTIC TUBE

---PLYWOOD FORMFACE
INSTALLATION OF WALL TlES

+ I
URUTAN PEMASANGAM:

2 1 2 3
I"PASANGBEKlSTlNG S A W
SFSE,FORM TIE DAN KONUS

2.PASANG BEKlSTlNG SlSl


ERECT ONE SIDE ERECT OTHER COMPLETE MNNYA
OF FORMS & SIDE OF FORMS HE-BOLT
TlES & CONES
3.PASANG HE-BOLTS

SHE-BOLTS

ERECT BOTH INSERT COMPLETE COMPLETE


FORMS SHE-BOL FROM SHE-BOLTS
ONE SlDE

2.PASANG SHE-BOLTS DARl SATU SSlSI

3.PASAMG WING NUT 18r WASHERS


RUKUREFERENSI
UNTUK KONTRAKTOR
BANGUNAN
GEDUNG
DAN SIPIL

- E 1
ERECT OME SIDE
OF FORMS &
CONES 8 TUBES
2
ERECT OTHER
SIDE OF FORMS
INSERT BAR-TIES
3
COMPLETE
BAR-TIES

RETRACTED

4 .PASANG SALAH S A W RANGW BEKISTING,KONUS


KONDUIT& BAR-TiES

3.PASANG WASHER & WINGNUT

HAL-HAL YANG PERLV DEPERHATIKAN DALAM


PENEMPATAN WALLER :

DINDING MEMANJANG KE ARAH VERTIKAL

COR TAHAP 1 CUR TAHAP ll


r WALERS

MINIMAL ADA DUA FORM TIE


OVERLAPPING KE BAWAH
UNTUK MENGAPIT WALLER
PBOTTOM WALLER
POSlSl BOlTOM WALLER POSlSl BOTTOM WALLER
YANG TlDAK TEPAT YANG TEPAT

I' WERTIGHTENING SHE-BOLTS TENDS


m BEND FORMS IWARPS

I
BAJl MENJAGA SEKlSTlNG
TIOAK MEROSOT

WALLER MENGAPIT
RANGKA PANEL BAWAH

KlCKERS (SEPATU DINDING BETON)

FUNGSI KICKERS:
s
VI

n:
W
WALL FORMS a oMENJAGA KONSISTENSI KELURUSAN
:~5
:
ee DINDINE
g; 'MENJAGA KONSlSTENSl LEBAR
2 DINDING
u C)
0F
:5 *TEMPAT OVERLAPPING BEKlSTlNG KE-
ARAH VERTIKAL
.(..-. +L
FACES OF KICKER ALfCN
KlCKR CONTROLS-.
M O T H OF WALL I 1 WALL FORMS

KICKERS MEMBUAT RAPAT SAMBUNGAN


SEHlNGGA AIR SEMEN TlDAK KELUAR
RElNFORCEMEHT
REIHFORCEMENT

KICKER FORM

#
,' TIE.DOWH P E G 4'

*KICKERS Dl TEPl RONDASl


*KICKERS DI TENGAH PONDASI BRIDGING BEAM HANGERS
1

BRIDGING B E A M

- K I C K E R FORMS

-. - \

'KICKERS PADA PONDASI DALAM


(diberi bracing utk menahan gerakan
'KICKERS DENGAN KEMlRlNGAN Kesamping bekisting kickers)

KICKERS JUGA DIGUNAKAN UNf UK MEMUlt


PADA LEVEL YANG SAMA
KICKERS BUILT TO

KICKERS PADA PONDASI MIRING DIBUAT BEDA LEVEL UNTUK


MEMUDAHKAN BEKISTING ATASNYA

SECTION
KICKERLESS (TANPA SEPATU)

WALL FORM

*BOCORNYA AIR SEMEN

*KELURUSAN DlNDlNG

I' LOW DENSITY RIGID


PLASTIC FOAM INFILL
I
L KAYU UNTUK MENJAGA KE-
LURUSAN DlNDlNG

I . BUSA(SEJEN1SNYA) UNTUK
MENCEGAHKEBOCORAN

DETAIL-DETAIL UNTUK MENJAGA KELURUSAN DlNDlNG


ADJUSTMENTCONES S T E E L 'HE' BOLT CONES G I V E ADJUSTMENT

*MENGGUNAKAN KONUS 'OR"

konus ditutup utk rnencegah


kebocoran

w STEEL BAR S T E E L FLAT

*MENGGUNAKAN PLAT *MENGGUNAKAN BESl

WALL F O R M

ECCENTRlC OtSK.3 FIXED TO


EXPANDlWD ANCHORS
IN THE SLAB
GALVANISED S T E E L A N G L E
S H O T SET T O SLAB

*MENGGUNAKAN SlKU *MENGGUNAKAN BETON *MENGGUNAKAN BESl


DEKING
HORlZONTAL KICKERS
HORIZONTAL KICKERS DlBUTUHKAN PADA SUDUT DINDING
UNTUK MENJAGA KELURUSAN

BEAM BOLTED TO WACERS

TIE

(bars not qhown]


FOOTING STARTER BARS

*HORfZONTALKICKERS PADA *KOMSTRUKSI BEKFSTING


SUDUT PENDING HORIZONTAL KICKERS

KICKERLESS PADA BALOK TEPl

*DIGUNAKAN ANGKUR YANG


DICOR BERSAMA BALOK

*J1KA DIGUNAKAN HE-BOLT


ATAU BAR TIE TIDAK PERLU
PEWLATAN TAMBAHAN UNTUK
PACKE
MELURUSKAN BEKlSTlNG DALAM

PERLU PERHATIAN SUPAYA AIR SEMEN


TIDAK KELUAR
WACAUPUN HORIZONTAL KICKERS TELAH ADA ,SANGAT
BERGUNA BEKlSTlNG DINDING DlKLEWl PADA YANG
DINDING YANG TELAH DlCOR

WALERS NOT SHOWN

O V E ~ ~ ~ ~ N I I I G
-MENAHAN ANGFN DARl SEGALA ARAH

*MENAHAN BTNTURAN PADA SAAT


PENGECORAN,BIASANYA BENTURAN
SLING CWNEIBUCKET
-
mMEMBANTV VERTIKAL BEKlSTlNG ATAS
a, 4
qD DENEAN MENG -ADJUST PIPE SUPPORT
SlNGLE FACED FORM OVERTURNING
BATAS COR DINDING

..
FORMFACE VIBRATOR
G NOT SHOWN

WALERS

STOPEND -h

PLYWOOD DEFLECTS
.... ...-

WALL TIES NOT 5 H O w n >

Air semen keluar dari stop

DETAIL-DETAIL STOP END

WEDGES , *DIBERI BAJl PADA STOP END


UNTUKMENAHANTEKANAN
PLAN BETON DIPERKUAT DGN FORMTIE
STOPEND

WEDGE

ELEVATION
'--

VIEW SHOWN CUT


I
AWAY FOR C L A R I T Y
,
d
STOPEND--
I
yl
.
- ...R I M = ST.,p
*DIBERI PLYWOOD PAPA STOPEND
UNTUK MENAHAN TEKANAN
4- <

r=-q - EXTRA WINO


::::z
%Y:
BETON DIPERKUAT DGN FORMTIE
- F . - -
I' -
S T U D AT STOPEND - B A R TIE
FORMFACE SHOWN C U T AWAY

WEDGE BLOC *DAPAT DIGUNAWN SUPPORT


WEDGE B L O C K S A G A I N S T
UNTUK MENAHAM STOP END
WALL S T A R T E R B A
JlKA FORM TIE TIDAK DAPAT
DIGUNAKAN

' ' WALL KICKER


FOOTING

BAR-TIE-THRU'
END S T U D
VERTICAL W A L E R -
*DIGUNAKAN WALLER ,FORMTIE
YG DIKAIT PADA FORMTIE
WALL TIE DlNDlbJG

BAR-TIE-ROD S H O R T WALEAS
H O O K E D TO ST,,a
WALL STOPEND

-SlKA ADA WATERSTOP PADA


DINDING DIGUNAKAN DUA
PACKERSTUD
BATANG KaYU UNTUK MENG-
KLEM KAYU

BIASANYA PADA DINDING ADA TULANGAN MEMANJANG YG


MENEMBUS STOP END, UNTUK MEMUDAHKAN PEMBONGKAMN Dl
GUNAKAN PANEL :
SAW CUT ON LINE OF HOLES
,SPLIT STOP-END
*PANEL DIBOR DULU ,KEMUDIAN
DlPOTONG

eDIGUNAKAN POTONGAN KAYU


KEClt UNTUK MEMEGANG PANEL
CLEATS HOLD STOP TOGETHER
BUKUREFERENS!
UNTUK KONTRAKTOR GEDUNG
BANGUNAN DAM SIPIL

- C A M LAIN MENGGWNAKAN
EDGE DISTANCE EQUAL T O
N N0
'"'ED
METAL ' x p ~ ~
STOPEND u ~ u METAL UNTUK STOPEND
CLEATS FIXED
TO FORMFACE +METAL BIASANYA TIOAK
DIBONGKAR SETELAH COR

UNTUK SAMBUNGAN DINDING KASUSNYA SAMA DENGAPE STOPENP


AKAN TERJAPI LENDISTAN
PREVIOUS POUR
PLYWOOD D E F L E C T S
I 1

:.I, P R E V I O U S POUR

i' /
EXTRA PACKING S T U D S STOP PLYWOOD D E F L E C

Diberi stud kayu(packer stud)

MENJAGA BATAS COR ATAS


SCREE? B O A R 0
*METODA YANE SEDERMANA
----- UNTUK MENJAGA LEVEL ATAS
POUR
cMEMBER1KAN PERMUKAN YANG
KASAR

*DIPASANG SFKU PADA BEKlSTlNG

POUR *MENGGHASiLKAN PERMUKAAN ATAS


ANGLE F I X E D
YANG LEBlH RAP1
JIKA MERUPAKAN SAMBUNGAN COR DAPAT DtGUNAKAN DfTAIL
SEBAGAl BERIKUT:

I. I
S T R A I G H T LINE REQUIRED SHAPE
SCREE0,BOARD
SUPPORT BATTEN

SECTION O F WALL
LL P O U R

XED

- REINFORCEMENT

*DIGUNAKAN KAYU 25 X 25 MM *DIGUNAKAN KEYFORM (PM)


DIPAKU PADA BEKISTING DtPAKU PADA KAYU DlATAS

*SCREED BOARD POSISINYA


DITENGAH-TENGAH KAY U
25 x 25 M M

SPARRING & OPENING


PERDlRl DARI UKURAN KEClL UNTUK PlPA DAN KONDUIT
SAMPAI DENGAN UKURAN BESAR SEPERTI BUKAAN UNTUK
PINTU.DALAM SEGALA KASWS PERLU DIPERHATIKAN:

INTERNAL BLOCKING
I
-AKURASI DALAM UKURAN & POSlSl

-KEKUATAN CUKUP UNTUK MENAHAN


TEKANAN BETON

FORM FACES CAN ROTATE ABOUT ONE


END AFTER BLOCKING IS REMOVED

UNTUK BUKAAM KOTAK DAPAT DIGUNAKAN SEPERTI DIGAMBAR


DIATAS.INTERNAL BLOCKING MENJAGA UKURAN BUKAAN.
'BONGKARAN DlMULAI DARl
' . INTERBLOK1NG

'FORMWORK LUAR DIPUTAR DAM


Dl BONGKAR

UNTUK BUKAAN BESAR SEPERTl PlNTU DAPAT DIGUNAKAN


CARA YG SAMA
Kayu dipotong

FORM

Diberi gap 3rnm untuk rnampermudah


pembongkaran

FABRIKASI
FABRIKASI PANEL BEKlSJlNG PERLU DIPERHATIKAN:

TOP PLATE
PLYWooQ SnEE*5
I
,
,
L*P OF ADJACENT S H E E T 3
-.,-

BDITOV P L A T E BUTT J O I N T SHEErS AT STUD

'PADA SAAT PAKU PANEL *TRIPLEX DIPASAHG OVERLAPPING


TK-KAYU JANGAN MEMBUAT
LENDUTAN .
- -.
-- - - - --7
I p- C L OF TIE RODS

I F R U M S PLACED FACE.TO-FACE
FOR D R I L L I N G T I E R O D H O L E S

I
I
-.I
i

'SAMBUNGAN ANTARA DUA UNTUK MEJAMIN LUBANG FORM TIE


PANEL BEKISTING,MINIMUM SEGARIS PEMBORAN DILAKUKAN SEPERTl
KAYU UKURAH 50MM DIATAS
ERECTION
FORMS LEAN ON POLES *DIBUAT RAK KHUSUS UNTUK
MEMPERMUDAHPENGANGKATAN

*MENCEGAH KERUSAKANAKIBAT
INJAKAN

TIMBER POLES SET IN GROUND


*MENCEGAH PENMNARAN MTAHARI
SECARA LANGSUNG

SUPAYA PANEL TlDAK BERUBAH BENTUK TERUTAMA PADA SAAT


PENGANGKATAN DlBERl PLAT PLYWOOD SEBAGAI PENGKAKU

*PADA TENGAH-TENGAH PANEL * PADA SUDUT PANEL

A LINGS

*UNTUK PANEL YANG PANJANG


COMPRESSION HOOK UNTUK PENGANGKATAN DI-
FORM WEIGHT FORM WEIGHT PASANG PADA 60% PANJANG
PANEL
A B O ~ O * OF 4
LEGHTH

DETAIL-DETAIL HOOK UNTUK PENGANGKATAN:


LIFTING EYE
LIFTING EYES MADE FROM STEEL FLAT HOISTING SLING

BOLTS TO STUD
TO A L L STUDS
BOLT TO STUD
ANGLE CLEAT
AND NUT
( COACHSCREWS
COACH SREWS TO FIX WALERS
-10 FIX WALLERS
SCREW FIX
PLYWOOD
TO STUDS
SCREW FIX - - CONTINUOUSLY
PLYWOOD THREADEDROD
TO STUDS
DETAIL-DETAIL KONSTRUKSI

XI i *TONSOLAN PUA SfSl


PILASTERS P R O J E C T I N G F R O M B O T H WALL F A C E S

*TONJOLAN SATU SlSl

'1-
PILASTERS ON ONLY OWE WALL F A C E

STUD 4 WALER
I
I
w W

*DETAIL F.WORK UNTUK DlNDtNG *DETAIL F.WORK UNTUK DIND1HG


DENGAN KOLOM KECIL DENGAN UOLOM BESAR

JIKA KOLOM DAPAT DICOR PADA TAHAP KEDUA ,PEKERJAAN


DAPAT DILAKSANAKAN LEBlH MUDAH
STRUTTING BETWEEN S l O P E H D l

d *
STUD AT S l O P F Y D

PILASTER PouaEo
IN G A P 1N WALL

WALER

IE

I * I I
WALER STUD

.TAHAP II,KOLOM DUA SlSl *TAHAP I, KOLOM SATU SlSl


DETAIL UNTUK DlNDlNG YG SAMA TEBALNYA

W E ' BOLT TIES PACKERFORM


+- h

_L
BOLT TlES

MENGUNAKAN DUA RANGKA *METHODA YANG LEBIH SEDERHANA


UNIT BEKlSTlNG TANPA MERUSAK PANEL BEKlSTlNG
UTAMA

DETAIL DlNDlMG TRAPESIUM

,- --
I
1 STUDS

ALIGN WALERS

'IC CONE ON SLOPING FACE

mBAIK MENGGUNAKAN SI STEM BAR TIE

'MENGGUNAKAN BAJl UTK MELURUSKAN WALLERS


BEKlSTlNG SUDUT LUAR

*UNTUK MENGURANGI
AIR SEMEN KEttJAR KELUARNYA AIR SEMEN
RANGKA DtBUAT SEPERTE
GAMBAR DIATAS(SPT KOLOM.)

SECARA BASIC IKATAN SUDUT SEPERTI GAMBAR BAWAH

DEtAPAN DETAIL IKATAN BEKlSTlNG SUDUT LUAR

INNER FORMWORK AND 4- WALER


TIES NOT SHOWN

.--%PACKER ANGLE BEARING PLATE mTHPA,-KER


WALERS LAPPED AT CORNER CHECKED 3NTO WALER

IKATAN-2
4L
INNER FORMWORK AND
T I E S NOT snowa

\I I 1
INNER FORMWORK AND
TIE LOCATED BETWEEN WALERS TlES NOT S H O W N

EXTEND AND
LAP JOIST BOLT vERT'C'L

L
STEEL AMGLE CLEAT NOTCHED INTO WACERS

IKATAN-3

PROP
4
4
f INNER FORMWORK AND
TlES NOT S H O W N

' VERTICAL LEDGER

INNER F O R M W O A K 3
TlES NOT SHOWN
I N N E R FORMWORK

JOIST

' CAPPED WALERS

, -" HOOKEO T O -
VERTICAL W A L E R S WALL WEDGE , V E R T I C A L LEDGER
AT CORNER

IKATAN -7 IKATAN -8

-\ BAR TIE

1HMER FDRBWOR
.CANTILEVER LEBlH PANJANG
TlES H O T SnOWH

*BAR-TIES BIASANYA TERBAIK

=DISERI BAJl UTK DUDUKAU WINGNUTS


A L I G M E H T WEDGES F I X E D 70 W A L E R S

DINDING MENYUDUT
SUDUT DACAM

BAT TEKANAN BET


SUDUT D A U M BEKlSTlNG
KAN MERAPAT

FORMWORK A T
UNTIED CORNER

PLYWOOU
COMPRESSED FOAM TAPE. SEAL EDGE

ANGLE FIXED
TO O N E FORM

=--
GAP FOR TIGHTENIHG

*DF&ERI PLAT SlKU MIN 1.2MM *DIBERI BUSA


*MUDAH DIBONGKAR *ADA GAP ANTARA RANGKA

DINDING DENGAN PENYEKAT

*DIBUTWHKAN KICKERSISEJENISNYA
UNTUK MENGONTROL BOTTOM

eD1BERI BRACING DlTENGAH


KETINGGIAN DINDING UNTUK
MENGONTROL VERTIKAL
STUD DINDING
BEKISTING SATU SlSl
PADA BEKlSTlNG DWA SISf, TEKANAN BETON DAPAT
DlKESlMBANGAN MELALUI IKATAN FORMTIE SATU SlSl
TERHADAP SlSF LAIN.TEKANAN BETON TlDAK MEMPENGARWHI
STABILITAS BEKISTING.
OVERTURNING
PADA BEKISTING SATU SlSl TlDAK ADA
- 2~
Wfl+ STABllfTAS SEHINGGA PERLU:

-DIBRACING

----
\--
_ -DIANGKUR
BOLTED WEDGE

l F ho
SINGLE FACED FORM OVERTURNING

B = TEKANAN BETON
C =REAKSI GAYA MELAWAN SLlNDlNG sOlelLhlF

D&F=MOMEN MELAWAN GULfNG E CONVENTIO~NALSINGLE FACED FORM

CARA KONVESIONAL

UNTUK PEMAKAIAN BERULANG-ULANG KALl DAPAT DIEUNAKAN


BEKISTING BAJA SUPAYA LEBIH EKONOMlS

CHANNELS A S JOISTS

DIANGKUR PADA
KONSTRUKSI YG
LAIN,MISALNYA
DASAR KOLOM
ROP TO HOLOFAST
STEEL BEAM

BEARING PAD

PRlNSlP KERJANYA SAMA DENGAN CARA KONVENSlONAL


Dl DEPAN
JIKA BEKlSTlNG DlANGKUR SlSl SEBELAH DALAM
BETON DENGAN MENGUNAKAN SLING YANG BEKERJA
SEBAGAI GAYA fARIK,AKAN TIMBUL AKSI UPLIFT PADA

vd;EMF
BEKlSTlNG
- DOWNWARD
A= BEKlSTlNG

B -- B= GAYA BETON

- C= GAYA YG MENAHAM GAYA


h HORIZONTAL BETON

F= GAYA MELAWAN GERAKAN


SEKlSTlNG KE-BAWAH
\.
\,, WALL F O R M S

GLE BEARING

INCL1FIED AUGERED
ES

B E A R I N G STRlP

UNTUK PENGECORAN DINDING KE ARAH VERTIKAL, BETON


SEBELUMNYA DAPAT DIGUNAKAN UNTUK MENGANGKUR
SLING

GERAKAN KE BAWAH BEKlSTlNG


DITAHAN OLEH OLEH TARIKAN
ANGKUR HORIZONTAL TERHADAP
BETON YANG MENIMBULKAN
GESEKAN BETON DENGAN
BEKtSTING

BAJI BER'FUNGSI UMTUK


MENGATUR NAlK TURUNNYA
BEKlSTlNG
$1 F O R M W O R R

UNTUK DINDING DAM ,GAYA TEKAN


BETQN DI TAHAH PENGAN
MENGUNAKAN BEBAN (KENTLEDGE)

S I A V L E FACED SLOPING FORMWORM

ROCK aNcnou UNTUK DINDING YANG SEMPIT UNTllK


J=nl PENGECORAN DAPAT DIGUNAKN ANGKUR
C
DEPTH TO SUI ALER HORIZONTAL UNf UK MENAHAN TEKANAN
ANCHOR

w BETON

TIE awl! .nNCI.OR FROM


PREVIOUS POUR

DETAIL DlNDlNG DENGAN KONSOL PENDEK

Lubang udara

'HE BOLT TIES


Plat tebal min 1.6mm
I
FORMWORK TO RAUHCH

I
*KONSOt PADA DINDING
SCREW
STIFFENING LIP TO T O P

FOLDED
METAL

WALER

EXTRA N I H G HUT TO
CLLMP P14TE TO WAS1
bTUD

*KONSOL DICOR TERPISAH


DENGAN DlNDlNG
AKSES PANEL PADA UMUMNYA BETON DlCOR DARl ATAS
AKSES PANEL DIBUAT UNTUK MENGECOR
DAN MEMADATKAN BETON DlSEBABKAN
-- -$
'WIHOOWS' IN WALL FORM
ANTARA LAIN:

- RAPATNYA TULANGAN DINDING


- TlPISUYA DlNDlNG BETON

EXTRA WALERS
FOR 'WIHOOWS'
BAR-TIE HOOK BOLT
7:-
1

AKSES PANEL PADA UMUMNYA


-7

I,
--- .- .. .
TERLETAK PADA TENGAH-TENGAH
DlNDlNG

AKSES PLATFORM
UNTUK MENGCOR DAN MEMADATKAN BETON, DIBUTUHKAN AKSES YANG
MEMADAI UNTUK PEKERJA DAN PERALATAN. DAPAT MENGGUNAKAN
SCAFFOLDING DlSlSl DINDING ATAU MENGGUNAKAN PLATFORM
DIGANDENG DENGAN PANEL DINDING.

~~
h,!
S E E L BRACKET BOLWO
70 STUDS AND TOP WALER
TOVEUTICAL WACERS

HORIZONTAL WALLER & PLATFORM VERTIKAL WALLER & PLATFORM


D.2.10.3. METODE PELAKSANAAM PEKERJAAN BALOK

PADA UMUMNYA TERDlRl DARl DUA TYPE:

* BALOK T

* BALOK t

TEE BEAMS
UKURAN LEBAR DAN
TlNGGlNYA BERVARIASI.

RANGKA BEKfSTING HARUS MEMENUHI :

* STABILITY
TlGA TAHAPAN
STRENGTH RELAKSANAAN

.SERVICEABILITY

GAYA VERTIKAL GAYA YANG BERKERJA:

HORIZONTAL

GAYA HORIZONTAL BETON


249
-
TOTAL GAYA HORIZONTAL YAITU:
* /A&-
* BEBAN KONSTRldKSl

BEBAN KEJUT

DlPlSTRlBUSlKAN KE BRACWG
KE SISTEM FORM WORK KESELURUHAN

AKIBAT PROSES PENGECQRAN AKAN TIMBUL EKSENTRlSlTAS YANG


MENYEBABKAN TIDAK STABILMYA FORM WORK (DIHINDARI)
U R I F T FAILURE
-OGRESS OF FOUR

..

.SINGLE SUPPORT 'BALOK LEBlH LEBAR DARl LEBAR SUPPOR J

SUSUNAN PEFWNCAH YANG DIREKOMENDASIKAN

CONCRETE PROGRESS PENGECORAN


BEAM FORM 1

1 SUPPORTS

-l

*TIDAK ADA EKSENTRISITAS

*BEBAN Dl SlSl DIND'ING SELALU Dl DALAM SUPPORT


..* P A I M SlSl DINDING YANG MLNDUKUNG BEBAN DARI
SOFFIT FORM BEAM
FORM -' SOFFIT FORM
.
BENTANG P L A T YANG BESAR, MENIMBULKAN
I.ENI3UTA'AN PADA BODEMAhr BALOK. UN'I"UK MENGU-
- 3 - M N G I BEBAN PADA SlSI IIINDING DAPAT DILAKUKAN
SERAGAI BERIKUT:

1-

A\
14,
1
r aEan r o w suwonn --+"

+F
SOFFIT FORM SUPWRIS

l i
P O U BEBAN PADA PLAT 8 BALOK
THESE SPANS TO BE KEPT SHORT
--'r

yL5
<- < 4 ?

r1. r==T
-F"'

! /j
I !I
1.L

II I 'i
-
i
Flgurs 7 09 MINbMISE THE LOADS ON TFlE BEAM SIDES
11 1.
REDfRECTING THE LOAD PATH

MEMlNlMALKAN BEBAN PADA LANGSUNG KEKAK'


SlSl DINDING SUPPORT

DETAIL-DETAIL KONSTRUKSl
BODEMAN BALOK
DUA ASPEK YG SlGNlFIKAN PADA
RODEMAN BALOK:

---- LEBAR BODEMAN


A M H KANGKA BODEMAN
BANYAK TEXT ROOKS HANYA MENUN-
JUKAN DETAJI. HODEMAN BALOK HANYA
SELEBAR BALOK BETON SEPERTI GAMBAR
DI SAMPING.
KELIHATAN BERSIH DAN MUDAH 'TETAPI
NARROW BASED BEAM FORM ADA BEBERAPA 'KEKURANGAN:

- SULIT PEMASANGAN BRACING


AKSES KERJA BURUK MENGU'RANGI PRODUKTIVITAS
PLYWOOD DIPOTONG UKURAN KECIL MENGURANGI FREKUENSI PEMAKAIAN AKIBATNYA
h4ENALMRAJ-l R l AYA
BUKUREFERENSI
UNTUK KONTRAKTOR GEDUNF
BANGUNAN DAN SIPIL

PLYWOOD FULL WIDTH


.AREA KERJA LUAS

*TIDAK MEMOTONG PLYWOOD

N TEKANAM BETON
QAN GAYA DARl STUT DINDING

!4
w w

WIDE BASED BEAM


FORM WORK

PLATE TO RESIST SPREADERFORBRACES STUT MIRING DIPAKU PADA


-=-'
CONCRETE PRESSURES
, -
I- -I BALOK MEMANJANG

MEMAHAN TEKAMAN BETON


DAN MEMBANTU KELURUSAN
BETON
BRACES TO BEAM SIDES

DOUBLE JOISTS UNDER

I
AKIEAT TEKANAN BETON
O ~PLYWOOD OF BEAMBASE
D E F L E G ~ OF

MENGAKIBATKAN AIR SEMEN KELUAR


DEFLECTION

t
FMMING TO CONTRO PLVWOOD
BEKISTING DINDING BALOK

BRACES NOT SHOWN


FLOOR CENTRES
1 TOP PLATE GAP CLOSURE GAP
++--- ANGLE - Tp

HERE

ALERNATIVE
CORNER

PLAT MENGCINAKAN MULTl SPAN DETAIL BEKISTING PLAT DAN BALOK

BALQK TINGGI (DEEP BEAMS)

TIES

v
d l -

I 2 3
THE CHANGING FORCES AT THE BASE

DEEP BEAMS WITH TWO ROWS OF TIES

BALOK DGN DUA TIE RODS


STABILITAS BALOK TEPl (GEDUNG BERTINGKAT)

PROP TO STABILIZE CAKTILEVER


.-
_ ,

I-

\<,

STABLE ONLY AFTER


CONCRETING
1
WHOLE ASSEMBLY
CAN OVERTURN

TO CONCRETE

POTONGAN BALOK TEPI SUPPORT Dl UJUNG CANTILEVER ALTERNATIVE SUPPORT

DETAf L-DETAIL BALOK TEPl

fe+ SPREADER BEAM

AHCHORED TO SLAB

**CHOR CAST
INTO SLAB
D.2.10.4. METODE PELAKSANAAN PEKERJAAN LANTAF

BEBAM

VERTICAL LOADS HORIZONTAL LOADS


MOUNDED CONCRETE
IMPACT j".$-.;t;. >'-
r "
.-
r .
<-. ,+,-
-j.:
;, .K '
1
Z

-BERAT SENDlRl *. *; " #


, ,,./a::;--, , ANGIN
I
AKTlY lTAS >
, * AKTIVITAS
WETON KEJUT
*MATERIAL WATER
*BETOON NUMPUK I HORIZONTAL LOADS:

PADA SAAT COR WIND


CONSTRUCTION ACTIVITY
BEBAN KEJUT IMPACT

BEKISTtNG PLAT KONVENSIONAL

PLYWOOD
!
PLYWOOD

RANGKA PLYWOOD

BALOK KAYU

PIPE SUPPORT

PAPAN
PLYWOOD

DIPOLA

JARAK BALOK DIATUR


SESWAl PANJANG PLYWOOD
i

1Z PLYWOOD DlPAKU PADA


- 1 - 1
RANGKA
1 I
; I' 1 --v--1 G
i' - l
I
LAP OF ADJACENT ROWS OF SHEETS

-
Figure 6.13 LAPPING OF PLYWOOD SHEETS

BALOWRANGKA PEUDUKUNG

PADA UMUMNYA LEBAR BALOK SETENGAH DARl TtNGGl BALOK,


MINIMUM 45MM

*DFREKOMENDASI (STRUCTURAL STABILITY):

*MINIMUM LEBAR 45MM

*LEIBAR 45MM,TlNGGI TlDAK LEBlH


90 M M

*LEEAR 70 MM,TIHGGI TlDAK LEBlM


I 9 0 MAR

LAFTING OF PLYWOOD SHEETS


BALOK PEMDUKUNG RANGKA

PLYWCKIDWEB
DlRANGKAl MENJAPI BENTUK 1

BALOK KAYU

BEARS L ~ P U ~ U DIS ECCEWRICALLY L o m e n


< ?
i
WIDTH OF FORhl P
3 - -_

--- -- *
LA

"-'
A

I I -
F O R W O R K SUPPORT
.U' HEeiO Is CDnCENTRICblLY LOADED
EEhRCR OH SUQWRT CENTRELINES
BEAKERS LAP LEF7 TO RlGHT B

BALOK OVERLAPPING
DOUBLE BALO'K

PONDAStlPENDUKUlNG SUPPORT

SUPPORT YANG MEMIKUL BEBAN AKAN DITERUSKAN KE TANAH


ATAU BETON

PROPOFFRAME PROP OR FRAME

SPREADER TIM%ER
BLlNOlNG SLAB

* ' x . F , * a
SOFT GROUND \ I
I
PUNCHING SHEAR FAILURE

ROTATION NOT
LIMITED
LIMITED

ECCENTRlClIT

--
UNEVEN SLAB .\ EARTH
ROCK
PROP BENDS SLAB
.. -. .
.........
,.
-& . ...T......- - .- .. . -, -
, , ,

L,
. . . . . . .C I. . . -.-...-.-..-..,d: . '

BACKFILL

W E N LOAOEO. THE THIN SOLEPLATE FLEXES ON SOFT GROUND

AOJUSTABLE SCREWJRCK

>A
NAILED m BEARERS

SOLEPLATE SECTION
BEARER-SIZE
TIMBERS
SOIEPWLTE - 'ITIWFWRFAYP

--
ELEVATION

HESSIAN BAG OF
TO LEDGER

ROUGH UNEVEN G R O U ~ D' '


SECTION

LEDGER

" ". *
>

I I
BAGS OF CONCRETE ARE LOCATED UNDER PROPS
ELEVATION

LEDGER
T
rC'I
ADJUSTABLE 'U" HEAD
PROP SYSTEMS
Prop Systems
7 CApPLn=E FLAT PLATE
SCREW JACK

PIN AND CHAIN 1" 1


ADJU-I-NUT SCAFFOLD TUBE
I HANDLE

if <
OUTER

BASE PLATE
FOOTPLATE WITH
SPlGOT INTO TUBE

u 'PI' HEAD
FIN PLATE
BEARER

- CAP PLATE

----SPIGOT INTO f UBE

L
F -,SCAFFOLD TUBE
SCAFFOLD TUBE

BRACING PROPS

HORIZONTAL TUBE TIE

ALL BRACES AND TIES FIXED I


BRACING SFTS '
AT ALL PASSINGS HORIZONTALTIE TUBE

LOKASI BRACING
BRACING PADA SUPPORT
PROSEDVR ERECTION RANGKA PlPA SUPPORT

BRACINGSETS ASSEMBLED AND HOlgTED

SISTEM FRAME/BEATY SCAFOLDING

4WUSTABLE 'U' HEAD

BRACING OM BOTH
- SIDESOF ALLFRAMES

'JACK

4- GOHNECTOU

SATU SET B E A T t SCRMIJACK

DUA SET FRAME DISUSUN


ARAH VERTlKAL

JENISJUKURAN FRAME
PROSEDUR ERECTSON BEATY
SCALFOLDING

8 FRAMED AND BRACED CORE

PROSEDUR ERECTiON BEATY


SCALFOLDING KOMBlNASl
SUPORT

JOIST SPAN 2 JO!ST SPANS J O I S T SPAN


$- 1 I 4- - - 4 9

u - -
DO NOT STACK MATERIALS HERE
-----+

STEEL FIXER
rh4 FORMWORKER
DETAIL KONSTRUKSI

DINDFNG YANG MENOUKUNG PLAT

BEARERCENTRAL

-A-.

BEARER

BEARER J M T
PACKER

JOISTS

. ,

PACKER PACKER

TOP PLATE
EDGE FORM
, EDGE FORM

FORMANCE

1 .* , Y .
., , ;./,/
- .' '.:',..
, . ...
EDGE FORM
k. . , R E B 4 E FORM
SAMBUNGAN COR

,CONCRETE Wlq,

E R M E GAP REIMFOUCEMEW

BATTEN KEY

B M E

SHORT BLOCKS -

SLOTlEDPLYWOCm
EDGE FORM

PLAT YANG BERBEDA LEVEL


BWCEOTIE
BRRIGlMG B E W
TIE-MYIYII STEW EOOE FORM

LUBANG PLAT
CORNERS IAWED FOR EASE OF STRIPPING CAST IRON MANHOLE F W M E DEE FORM TO
SUPPORTED OH NAILS IlYSlDE 0 7 fRRME

W W CUTS
PENEBAIAN PLAT

WIDE SHALLOW BEAM BEARER JOIST


I

...
200 mm OR LESS
A 1 BEARER
b JOYST
DROPHEAD TO FLAT SLAB
--PROP

200 mm OR LESS
B
STEP IN SLAB

t-.
CONTINUOUS
PACKER
BEARER 1 TO
ALIGN BEARERS 1
PEMBONGKARAN BEKfSTlNG PLAT
PROP CPP IS PART SUPPORTS REMAIN
OF THE FORMWORK UNTIL SECOPE FORMS REMOVEI) 1. PIACE NEW
I FACK PRO?
STRIPPING STAGE

C
MARK 2. REMOVE
1 2 3 POSITION BACKPROP
& PLYWOOD
FORMWORK FRAMING
LOWERED AND 1 2 3
REMOVED

TANPA MENGGANGGU SUPPORT DENGAN BANTUAN SUPPORT

FORMS IN ALL FORMS RESHORES


PLACE STRIPPED IN PLACE

DENGAN SHORING KEMBAtl


MULTl SPANIHORY BEAM
BANYAK DIGUNAKAN

-- MUDAH
DIBONGKAR
EKONOMIS
CEPAT

PEMBONGKARAN MULTl SPAN

1. LONGGARKPIN MULTl SPAN DAN PlPA


2. BONG'KAR PLYWOOD
3. BONGKAR PlPA
4. BONG'KAR MANGER
RANGKA PlPA
0.2.10.5. METODE PELAKSANAAN 'PEKERJAAN TANGGA

TANGGA A -A i 3500

0
POTONGAN TANEGA B -B

plywood 15
DETAIL 1 (ANAK TANGGA)
D.2.10.6. METODE PENGECORAN DAN PEMADATAN BETON

PLACING METHODS (PENGECORAN)

METODA APLIKASI KEUNTUNGANIKERUGIAN


KOMENTAR

Talang Jika kerjaan di bawah truk Langsung dari truk


Ideal untuk slab jdan, retaining Beton jatuh jangan lebih 2 rn,
wall yang rendah, dll. tanpa alat bantu

Gerobak corl Cocok untuk proyek kecillrurnah Mernbutuhkan tenaga kerja


Sekop yang banyak
Pengecoran lambat (1-1,5 rn3/h)
Kolorn, plat
Maksirnurn jarak 50 rn
Dibutuhkan jalan yang baik

Crane Cocok untuk mass concrete Harus ada persediaan sesuai kapasitas
Dapat digunakan, jika tidak bisa Terbatasltergantung ukuran
menggunakan pornpa Bucket/kapasitas crane

Pornpa dan pipa Fleksibel, dapat didistribusi ke Membutuhkan ruang


arah vertikal dan horizontal pengecoran yang luis
Output tinggi
Distribusi kontinyu
Membutuhkan tenaga kerja kecil
Susah untuk bagian rnenurun

Tahapan Pengecoran

Siapkan checklist untuk pengecoran.


Tentukan elevasi dan batas batas pengecoran dengan menggunakan waterpass.
Bersihkan lokasi cor dengan menggunakan kompresor.
Tes slump, buat kubus beton.
Tuangkan adukan beton dari alat angkut menuju bekisting, pada pekerjaan tangga dimulai
dari anak tangga terbawah.
Padatkan beton dengan alat vibrator.
Ratakan permukaan beton dengan alat garuk cor dan jidar.
1 3. Ratakan ujung atas
1. Pengisian kerucut
2. Pemampatan dengan
menusv k lapisan beton
!? fl
t- /

4 . Bersihkan 6. Ukur slump/


dan alasi i penurunan yang terjadi
5. T e k a n pegangan
dan pindahkan

Untuk meghindari segreasi selama


pengecoran disegala tempat:
Beton dicor secara vertikal dan
w

-- I I . .a
sz+> I
I sedekat mungkin dengan posisi
- -9.-
pengecoran
-h%k:. - Y'

- -- ..
.-.x..-
%
4
-. * *
+ ---
-

Beton jangan dialirkan menuju


posisi pengecoran, tetapi beton
I -. dipindahkan.
*

- =l
Y
PEMADATAN BETON
F- - . . %sL.. , ,-.--

MENGELUARKAN UDARA
YANG TERJEBAK Dl
y DALAM BETON
PROCESS: 1.iquefication a SCESS: The ~nplusionof * BETON SEGAR
t:onCrete which enlr;~ p p e dair
llows it to slu~ MENGANDUNG 5%-20%
n d till the forn
to 5 seconrgs IE' Ito 13 5150095 UDARA TERJEBAK

PROSES:
I.MENGKONSOLIDASIKAN PARTIKEL AGGREGAT SAIMPAI
RATA PADA LEVEL ATAS (3-5 DETIK)
2. MENGELWARKAN UDARA TERJEBAK (7-15 DETIK)

Gambar Penempatan Vibratos Pada Gundukan

Cara yang salah

Cara yang benar


Posisi ke 2
h d' ,
- Posisi ke l
CARAPEMADATAN

NOT.: Mudmum drCnh D-VaOm2Wnm


U r :rmrc.Ion vlb- u
. ~ ~ ) ~ t a&no~mnwrrtnrotlon
t
. I c l W % y d d m r
D *WO.nm
UU tnvnawton vmrrtorr to
~ ~ c r m mno-
the a md r
v l m r a t f n g .cnrcr m nnnn

DlCOR LAPIS BERLAPIS.

UNTUK KOLOMIDINDING 30 CM PERLAPIS

- a
J Place concrete
a little away
from t h e domer

With Immersion vibrator,


. } move concrete into the
corner and up the form face

F i g u r e 8.5. c o m p a c t i o n a t s t o p a n d s a n d in l n c l l n e d f o r m s

Void Form First layer placed and compected


Second an subsequent placement
made from one side only.
Concrete induced t o flow under
the void former by action of
Immersion vibrator
Void form
When concrete reaches the same
level on each side of the former,
concrete placement and compaction
can proceed normally

Similar tecnique t o that above,


used for encasing steel beems.
Concrete placed and compacted
from one side until equalised
either side of beam

TEKNIK PENGECORAN PADA BAG-IAN SUDUTlPlPAlBAJA


TEKNIK PENGECORAN KOLOMIDINDING

i 1 i
CORRECT CORRECT CORRECT CORRECT
When placing from chutes and When placing with crane and When placing with a concrets Long uncontrolleddrops cause
barrows, discharge concrete into bucket, use a flexible drop chule pump, sodend the hose to the secregation as the concrete strikes
a hopper leading to a light, connected to a collector cone bottom of the foim and withdraw\\ againts the forms and aggregates
flxible drop chule. which is permanently alached to as the form is filled. ricochet of reinforcement. Mortar
the bucket frame. is lso lelt on the form faces and
reinforcement.

Placing techniques for walls and collumns


PERAWATAM BETON (CURING)
ulan dari adukan tinggi +I- 5 cm
Genangan air

1. Setelah beton agak mengering, pasang adukan pada sekeliling beton lantai yang akan
digenangi air dengan tinggi adukan +/- 5 cm.
2. Biarkan adukan sarnpai keringl keras.
3 . Aliril genangi permukaan beton lantai d e n p air kerja menggunakan pompa dan slang air.
4. Lakukan penyirarnan atau penggenangan permukaan lantai beton secara teratur
5 . Kontrol genangan air jangan sampai kering
6. Jika terjadi hujan maka tidak perlu diadakan pekerjaan penyirarnan beton lantai

Contoh : perawatan beton


dengan memakal curing
Contoh : perawatan corn ounds
alto. rengan mema*ai
e'
"aP"9 7
D.2.11. METODE PELAKSANAAN PEKERJAAN FINISHING
D.2.11.1. METODE PEMASANGAN KUSEN ALUMINIUM

METODE PELAKSANAAN
PEKERJAAN PEMASANGAN KUSEN PINTU I JENDELA ALUMINIUM

A PERAMTAN YANG DIGUNAKAN :

1. BAJI KARET l KAYU


2. BOR
3. OBENG

B. BAHAN YANG DIGUNAKAN :

I . KUSEN ALUMINIUM
2. DAUN PINTU l JENDELA ( SETELAH
DIPASANG KACA )
3. FISCHER
4. SKRUP
5. MORTAR I SEMEN / SEALANT
5. VASELINE I ISOLASI KERTAS I PLASTIK

C. PELAKSANAAN :
I . PASANG KUSEN PINTU I JENDELA ALUMINIUM PADA
LOKASX YANG D I T E N T U U N ( SESUAI TYPE YANG ADA ),
SESUAIKAN LUBANG KUSEN DENGAN UKURAN KUSEN
( SELISIH LUBANG 1 CM ).
2. MASUKKAN KUSEN YANG SLAP DIPASANG E LUBANG TEMBOK D E N W BANTUAN BAJI
JSARET I KAYU.

3. ATUR KEDUDUKAN KUSEN


DENGAN BAJI KARET I KAYU.

4 STEL KELURUSAN I KEDUDUKAN


KUSEN TERHADAP TEMBOK I DINDING.
5. LUBANGI TEMBOKIDINDING MELALUI
LUBANG KUSEN DENGAN BOR , UNTUK
TEMPAT SKRUE
I

6. MASUKKAN FISCHER KE DALAM


LUBANG BOR.

8. PASANG DAUN PINTUIJENDELA


(SETELAH-DIPASANG KACA ) KE DALAM
KUSEN.
Aksesoris STEL PERLENGKAPAN SERTA
(RODAIREL, ENGSEL , KUNCI DLL).

9. FINISH TEMBOK JDlNDING DENGAN


MORTAR/SEMEN/SEALANT.
(PENGISIAN PADA CELAH ANTARA
KUSEN DAN TEMBOK I DINDING ).
10. UNTUK MENGHINDARI CACAT PADA
PROFILPROFIL ALUMINIUM YANG
TTELAH TERPASANG, MAKA BERI
PELINDUNG : 4
SEJENIS VASELINE I ISOLASI KERTASI 1
PLASTXK PADA TEMPAT YANG RAWAN
GORESAN.
PELAKSANAAN
PEKERJAAN PEMASANGAN
KUSEN PINTUIJENDELA ALUMINIUM

1. PEMASANGAN JENDELA
SLIDING

, -.

2. DAUN JENDELA DlBUKA


TERLEBIM DAHULU

3. DAUN JENDELA DIBUKA


TERLEBI'H DAHULU.

4. K'USEN SlAP DlPASANG &


PENGUKURAN LUBANG JENDELA
DlSESUAlKAN 'DENGAN UKURAN
JENDELA.
CONTOH:
LEBAR JENDELA = W
LEBAR LUBANG TEMBOK = W + 1 C
5. KUSEN YANG SlAP DIPASANG
DIMASUKKAN KELUBANG TEMBOK
YANG TELAH SESUAI.

6. KUSEN DIPASANG KE TEMBOK,


OENGAN MENGGUNAKAN BAJl
KARET 1 KAYU ( UNTUK PENG -
GANJAL ).

8. SETELAH LURUS, LUBANGI TEMBOK


DENGAN BOR MELALUI LUBANG Dl
KUSEN JENOELA YAMG TELAH SlAP
DARl PABRIK.
9. MASUKKAN FISCHER KEDALAM
LUBANG TERSEBUT.

10. KENCANGKAN FISCHER DENGAN


OBENG (SCREW DRIVER).

1 SETELAH DAUN JENDELA DIPASANG KACA , DIPASANG KE KUSEN YANG


TELAH TERPASANG Dl TEMBOK.
~ U K UREFERENSI
UNTUK BANGUNAN
KONTRAKTOR GEDUNG
DAN SIPIL

-I 12. UNTUK MEMPERLANCAR JALANNYA DAUN


JENDELA Dl KUSEN , MAKA RODA DISTEL
f ERLEBlH DAHULU (MELALUI LUBANG
YANG TERSEDIA PADA DAUN JENDELA).

13. KUNCl DISTEL.

14.PARTS DISTEL SUPAYA TlDAK BlSA


DIBUKA DARI LUAR.

15. FlNISHING DENGAN MENGGUNAKAN


MORTARISEMEN I SEALANT.
lPENGlSlAN PADA CELAH ANTARA b
D.2.11.2. METODE PEMASANGAN KUSEN KAYU

METODE PELAKSANAAN PEKERJAAN PEMASANGAN KUSEN KAYU

A. ALAT YANG DIGUNAKAN :


1. METERAN MINIMAL 2 M
2. LOT
3. WATERPASS
4. PALU
B. BAHAN YANG DIGUNAKAN:
1. KUSEN
KUSEN TELAH DIBUAT DI WORKSHOP SESUAI
UKURAN DALAM GAMBAR KERJA.

2.KAYU 315 CM & 416 CM


( UNTUK SKURJPENYANGGA SEMENTARA ).

3.PAKU
4.PAPAN

C. PELAKSANAAN :
1.SEBELUM KUSEN PINTU 1 JENDELA KAYU DIPASANG CEK:
A. SUDAH BETULKAH UKURAN TINGGI & LEBAR KUSEN ?
B. APAKAH TERDAPAT CACAT ATAU TIDAK ?
C. SPONENG:
C1. SUDAH SESUAIKAH
UKURAN SPONENG Balok lantai
DENGAN RENCANA
DAUN PINTUI 991 ,4i/. Ambang atas
JENDELA ? C' "'r-1

E - *-.-
CV
L, -
3mm--/l+2 mm
=L-
dL-
i

T
E
E 3 m m S f2 m m
c3

Ketinggian disesuaikan dengan

Neutllocis 5 ketinggian plint


C2. UNTUK KUSEN GENDONG :
SUDAH BETULKAH LETAK SPONENG BUKAAN DAUN PINTU DENGAN DAUN
JENDELA I KACA MAT1 ?

I
Sponeng jendela

kaca mati

C3. BAGAIMANA SUDUT SPONENG, APAKAH SUDAH 90 DERAJAT ?

C4 SUDAH ADAKAH SPONENG TALI AIR /TALI KAPUR TIANGNYA ?

Tali air -,
Sudut sponeng
7

Tali kapur tian

D PERIKSA ANGKUR :
* APAKAH MATERIAL YANG DIGUNAKAN SUDAH BENAR ?
* APAKAH POSISI ANGKUR PADA TIANG KUSEN SUDAH BENAR ?

0
E
15 cm
Angkur
+t
0
N

dia. 10

Drat Skrup
E
0
V)
r

E. APAKAH KETINGGIAN KUSEN PINTU SUDAH DIPERHITUNGKAN TERHADAP


KETINGGIAN NEUT I LOCIS ?

Ketinggian disesuaikan dengan


-
ketinggian plint
Neutllocis

2. JIKA SUDAH OKEY SEMUA, UKUR POSISI KUSEN DI LOKASI YANG AKAN
DIPASANG SESUAI GAMBAR KERJA.

3. PASANG KUSEN PINTU / JENDELA KAYU PADA LOKASI SESUAI UKURAN YANG
TELAH DITENTUKAN, DENGAN BANTUAN SKUR / PENYANGGA SEMENTARA.
( SKUR / PENYANGGA JANGAN DIMATIKAN TERLEBIH DAHULU )
DAHULU )
4. PASANG KUSEN SESUAI SHOP DRAWING DENGAN DASAR ELEVASI & ABSIS I
ORDINAT PINJAMAN.
5. PASANG 2 BUAH LOT UNTUK MENGECEK POSISI I KEVERTIKALAN MASING -
MASING AMBANG SAMPING, APAKAH BETUL - BETUL TEGAK LURUS?
6. BILA POSISI & ELEVASI SUDAH BETUL, SKUR 1 PE - NYANGGA SEMENTARA
DIMATIKAN UNTUK MENG -HINDARI KUSEN BERUBAH POSISI & ELEVASI.
7. PASANG BATU BATA PENJEPIT PADA TEPI KUSEN.
8. PASANG BEKISTING PADA MASING - MASING POSISI ANGKUR, KEMUDIAN COR
PADA MASING - MASING ANGKUR KUSEN.
9. PASANG 2 BUAH LOT UNTUK MENGETAHUI POSISI KUSEN APAKAH BETUL-
BETUL TEGAK LURUS.
10. PASANG BATU BATA SEKITAR KUSEN YANG TERSISA.
11.COR BALOK LANTAI DAN NEUT I LOCIS.
Am bang atas

KUSEN DIPASAMG BERDASARKAN ELEVASI 8


ABSlS I ORDINAT PINJAMAN

KUSEN TYPE 2

TAMPAK SAMPIMG TAMPAK SAMPING


KUSEN TYPE I KUSEN TYPE 2
D.2.11.3. METODE PELAKSANAAN PLESTERAN DINDING

A. PERALATAN YANG DIGUNAKAN:


1. METERAN
2. JIDAR ALUMINIUM
3. ROSKAM KAYU
4. ROSKAM BESI
5. KERTAS SEMEN
6. BENANG

B. BAHAN YANG DIGUNAKAN:


1. TRIPLEK
2. KAWAT AYAM (JIKA PLESTERAN LEBIH DARI 3 C M )
3. AIR
4. SEMEN

C. PELAKSANAAN:
1. PASANG BATU BATAIBATACO SESUAI SHOP DRAWING.
2. BASAHI PERMUKAAN PASANGAN BATA I BATA DENGAN AIR SAMPAI BASAH SECARA
MERATA (CURING).
3. PASANG TARIKAN BENANG VERTIKAL DAN HORIZONTAL UNTUK CAPLAKAN

-
KEPALAAN DAN CEK TARIKAN BENANG.
4. SETELAH KEPALAAN TERPASANG TENTUKAN HOLD POINT KE 1 :
ACCEPTANCE CRITERIA
a. INSTALASI M I E SESUAI KOORDINAT TITIK M 1 E
SHOP DRAWING HARUS TEPAT

b. KETEBALAN KEPALAAN
SESUAI SPESIFIKASI
- KETEBALAN 1,5 - 3 CM

c. CEK VERTIKALNYA
SHOP DRAWING
- VERTIKAL & HORIZONTAL
LURUS DAN RATA
( HARUS LOT )

5. KEMUDIAN TENTUKAN HOLD POINT KE 2 :


ACCEPTANCE CRITERIA
A. KERATAAN PERMUKAAN
PLESTERAN

B. POSISI O U T LET M I E - DENGAN JIDAR ALUMUNIUM


L = 2 W DEVIASI f 1 MM

HARUS SESUAI SHOP DRAWING


HOLD POINT 1 E)SETELAH KEPAlAAN TERPASANG
A
CEK KOORDINAT
TlTlK M I E
7
CEK LOT

v -
HOLD POINT 2 ,

HOLD POINT 2 E> 1


SETELAH MERATAWN PLESTERAN

CEK KERATAAN
PLESTERAN

PESTER PLESTER

I
!
!
I
I nii rh
I
HOLD POINT 2 -3 SETELAH MERATAKAN PLESTERAN

CEK KERATAAN
PLESTERAN

FINISH ACIAN

A. FOTO PEMKSANAAN PEKERJAAN


PLESTERAN DINDING

1. PASANG BATU BATNBATACO


SESUAI SHOP DRAWING
I2
2. SIRAM PERMUKAAN BATA I BATACO DENGAN AIR SAMPAI BASAH SECARA MERATA
( CURING ).
3. BUAT ADUKAN UNTUK KAMPROTAN DENGAN PERBANDINGAN I PC : 2 PS.
4. LAKUKAN KAMPROTM PADA BIDANG YANG TELAH DICURING DENGAN
JARAK LEMPARAN f 50 CM DAM PERMUKAAN YANG DIKAMPROT DENGAN
KETEBALAN 15 - 20 MM.
5 . SETELAH BIDANQ YANG DIKAMPROT KIUNG, LAKUKAN PENYIRAMAN (CURING)
SELAMA 3 HART ; PAGI, SUNG & SORE.

6 . SE'lYELAH ITU MULAILAH MEMBUAT CAPLAKAN DENGAN ADUKAN 1 PC : 3 PS.


7. BUAT KEPAJAAN DENGAN KETEBALAN 15 MM.
8. LANJUTKAN DENGAN PENYIRAMAN JIKA K E P A W TELAH MENGERING.
9. PASTIKAN BIDANG YANG AKAN DIPLESTER TELAH DICURING.
10. BUAT ADUKAN I. PC : 3 PS, GUNAKAN PASIR YANG DIAYAK (HALUS).
11. LAKUKAN PLESTERAN PADA BIDANG - BIDANG YANG TELAH ADA KEPALAANNYA
SAMPAI SELESAI SELURUH PERMUKAAN PADA 1 ZONE DENGAN CARA
DILEMPAR DART J A M K f 50 CM.
12. GUNAKAN JIDAR UNTUK MERATAKAN PERMUKAAN SESUAI DENGAN
KEPALAAN.

I 13. SAAT PLESTERAN SETENGAH KERING ,


GUNAKAN ROSKAM UNTUK
MENGGOSOK PERMUKAAN DINDING
SAMPAI HALUS DAN RATA.

1.4. LANJUTKAN DENGAN CURING SELAMA 7


HARI : PAGI, SIANG DAN SORE SAMPAI
-
PERMUKAAN PLESTERAN BENAR BENAR
BASAH SELURUHNYA.
15. SETELAH CUKUP USIA CURING, KERINGKAN BIDANG TERSEBUT SELAMA 1 HARI.
16. HALUSKAN P E R M U W N DINDING DENGAN AMPLAS HALUS.
17. PLAMIR BIDANG - BTDANG PLESTERAN YANG TELAH KERING DENGAN
MENGGUNAKAN PLAMIR BUATAN PABRIK ( BOY0 ).
18. LAKUKAN SEBANYAK 3 LAPIS ( TIGA KALr PELAKSANAAN ) SAMPAI DINDING
BENAR - BENAR RATA DAN HALUS.

B. HASIL AKHIR
PLESTERAN DINDING YANG BAIK
HASIL AKHIR PLESTERAN YANG EAIK RATA DAN HALUS
D.2.11.4. METODE PENGECATAN DINDING

xVTEPI

'
KUSEN
DlBERl LAKBAN

i
- 1
DINDIMG
YANG DlCAT
A. PERALATAN YANG DIGUNAKA~Y:
1 KERTAS SEMEN I KORAN
2. LAKBAN
3. AMPLAS
4. ROL
5. W A S
6. SKRAP
7. KAIN LAP
B. BAHAN YANG DIGUNAKAN :
1. PLAMUR . f
2. CAT DINDING L:-- E
,M,
CAT

C. PELAKSANAAN :
1. BERSIHKAN PERMUKAAN DINDING DARI DEBU, KOTORAN DAN BEKAS
PERCIKAN PLESTERAN DENGAN KAIN LAP
2. LINDUNGI BAHAN - BAHAN I PEKERJAAN LAIN YANG BERBATASAN DENGAN
DINDING YANG AKAN DICAT DENGAN KERTAS SEMEN I KORAN DAN
LAKBAN.
3. GUNAKAN SKRAP UNTUK MEMPERBAIKI BAGLAN -3AGLAN DINDING YANG
RETAK 8r. KURANG RATA DENGAN PLAMUR, KEMUDIAN T U N G G U SAMPAI
KElUNG.
4. HALUSKAN PLAMUR YANG TELAH KERING DENGAN AMPLAS HINGGA RATA.
5. C E K , APAKAH PERMUKAAN DINDING SUDAH RATA !
6. JIKA PERMUKAAN SUDAH RATA, MAKA LAKUKAN PENGECATAN DASAR
DENGAN ALAT ROL PADA BIDANG YANG LUAS 8t DENGAN KWAS UNTUK
BIDANG YANG SEMPIT ( SULIT ).
7. JIKA CAT DASAR TERSEBUT SUDAH KERING, LAKUKAN 1)ENGECATAN
FINISH YANG PERTAMA.
+
8. JIKA CAT FINISH YANG P E R T M SUDAH KERING, LAKUKAN PENGECATAN
FINISH YANG KEDUA I TERAKHIR ( JUMLAH PELAPISAN CAT SESUAI
DENGAN SPESIFIKASI ).
9. C E K , APAKAH PENGECATAN FINISH YANG KEDUA l TERAKHIR ITU SUDAH
RATA ?
10. APABILA SUDAHRATA, BERSIHKAN CAT - CAT YANG MENGOTORI B A M N -
BAHAN I PEKERJAAN LAIN YANG S ~ A R U S N Y ATIDAK TERKENA CAT DENGAN
KAIN LAP.
HASIL PENGECATAN DINDING YANG BAIK

PERMUKAAN
RATA I

D. HASIL AKHIR :
HASIL AKHIR PENGECATAN DINDING YANG BAIK ADALAH SEBAGAI BERIKUT:
1. PERMUKAAN RATA.
2. TIDAK MENGENAI BIDANG LAIN.
3. TIDAK MENGELUPAS.
D.2.11.5. METODE PEMASANGAN DINDING KERAMl K
A. PLANNING
I. SHOP DRAWING :
a. MENENTUKAN SISA POTONGAN KERAMIK HARUS L 113 BADAN KERAMIK.
b. MENENTUKAN NAD KERAMIK DINDING 8r. LANTAI AGARBERTEMU & NAD
KERAMIK SERAGAM.
c. MENENTUKAN SUPAYA PEREMPATAN KERAMIK BERTEMU.
d. MENENTUKAN POSTS1 DINDING BATA.
e. MENENTUKAN TATA LETAK SANITAIR & FIXTURE : HARUS DIPEREMPATAN
1 TENGAH BADAN KERAMIK.
f. MENENTUKAN TXTIK AWAL PEMASANGAN KERAh4IK.

11. PERHITUNGAN RESOURCES ( S UMBER DAYA ) :


a. BAHARr Y m G D I G U N A W :
- KERAMIK.
- SEMEN PC.
- AIR.
- ADDITIVE.
b. ALAT YANG D I G U N A W :
1. JTDAR ALUMINIUM.
2. BAK AIR ( EMBER ).
3. TEMPAT DUDUKAN 1 TATAKAN KERAMIK.
4. BENANG ATAU SENAR.
5. PALU WWT.
6. PLASTIC CROSS ATAU TILE SPACER.
7. WATEWASS.
8. BUSA 1 SPON
3. KAIN I LAP BASAH.
c. TENAGA KERJA :
MENENTUKAN TENAGA KERJA YANG DIBUTUHKAN
SESUAI JADWAL DAN VOLUME PEKERJAAN.
B. PELAKSANAAN :
I . SETELAH PASANGAN BATU BATA, INSTALASI AIR & LISTRIK SELESAI, DIMULAl
MARKING UNTUK BATAS PEMASANGAN KERAMIK.
2. PASANGAN BATA DIPLESTER TANPA ACIAN, DENGAN KETEBALAN f 2 CM,
DIAMKAN SELAMA 1 x 24 JAM SEHINGGA PLESTERAN MENJADI KUAT.
3. SORTIR KERAMIK AGAR MENGHASILKAN KESERAGAMAN : :
- UKURAN I DIMENSI.
- PRESISI. Jidar Aluminium
- WARNA.
4. RENDAM KERAMIK YANG AKAN
DIPASANG K E D W BAK AIR (
EMBER) S E M I JAM.

5. KERAMIK DLANGINKAN DENGAN


CARA DILETAKAN PADA TEMPAT
DUDUKAN I TATAKAN KERAMIK,
SETELAH PROSES PERENDAMAN.

6. BASAHI PASANGAN DINDING


YANG AKAN DIPASANG KERAMIK
DENGAN AIR.

7. PASANG BENANG / SENAR UNTUK


KEPALAAN, DAN BENANG / SENAR
TERSEBUT HARUS DICEK SECARA
TEMPAT DUDUKAN ITATAKAN KERAMIK PERIODIK BAIK KEKENCANGAN
MAUPUN ELEVASINYA.

8. CEK LEBAR NAD DAN HINDART


LAS - LASAN.

9. PASANG PEREKAT LATTCRETE +


SEMEN ( ACIAN I AIR + SEMEN
PADA PERMUKAAN DINDING.
..,-..--"-.~
-mw-, 4G '.-,.- ,-.."
..s
1O.BERI ACIAN PADA S E L U R U h
OlPASANG KERAMIK
PERMUKAAN SISJ BELAKANG
KERAMIK.

11.TEMPELKAN KERAMIK PADA


POSISINYA.

12.SETELAH ITU KETUK KERAMIK


YANG DITEMPEL TERSEBUT
DENGAN PALU KARET AGAR
MERATA.
13.ATUR JARAK NAD DENGAN LEBAR SESUAI GAMBAR KERJA, SUl'AYA UKURAN
NAD BlSA S E R A W & RAP1 DIHARUSKAN MENGGUNAKAN PLASTIC CROSS
SEBAGAI PENGATUR JARAK NAD TAN DA " + " ) ATAU DENGAN TILE SPACER.
1 4. CEK KERATAAN PASANGAN KERAMIK DENGAN WATER PASS.
15. BERSIHKAN PERMUKAAN KERAMIK YANG TELAH TERPASANG DENGAN KAIN /
LAP BASAH.

16. LAKUKAN PENGECEKAN NAD DARI LATICRETE MENGGUNAKAN MATERIAL


GROUTING NAD DENGAN ALAT BUSAISPON.
17.SETELAH KERJNG BERSIHKAN SEKITAR PASANGAN K E W I K DAN PERMUKAAN
KERAMIK DENGAN KAIN I LAP BASAH.
BUKUREFERENSI BANGUNAN
UNTUK KONTRAKTOR DAN SIPIL
GEDUNG

PELAKSANAAN
PEKERJAAN DINDING KERAMIK

I
1. PASANG KEPALAAN KERAMIK ARAH
HORIZONTAL
m u
2. PASANG KEPALAAN KERAMIK ARAH
HORIZONTAL DAN VERTIKAL

4. AGAR PERMUKAAN PASANGAN RATA,


KERAMIK DIKETUK DENGAN PALU KARET

3. PASANG PEREKAT LATICRETE +


SEMEN ( ACIAN I AIR + SEMEN )
PADA PERMUKAAN DINDING

5. HASIL PEMASANGAN DINDING KERAMlK


D.2.11.6. METODE PEMASAMGAN DIMDING MARMEWGRANIT
(SISTEM BASAH)
A. PERALATAN YANG DIGUNAKAN:
1. SENDOK SPESI 1 5. BATU GERINDA
2. EMBER 16. AMPLAS HALUS
3. CANGKUL 17. MESIN POLES MARMEWGRANIT
4. SEKOP (UNTUK MENGJSILAPKAN
5. BENANG PERMUKAAN).
6. SIKU - SIKU
7. WATERPASS
8. ROL METER
3. UNTING - UNTING
10.KAIN LAP
11. PAKU
12. PALU
13. TANG
14. CAPE
15. PAKU BETON
1 6 . W S E T ( W T TEMBOK PAKU BETON j

B. BAHAN YANG DIGUNAKAN :


1 MARMERIGRANIT
2 . SEMEN PC
3. PASXR
4. AIR
5. BAHAN COR NAD (AFAGROUT,
IBAGRUOT AFAFIK DAN LAIN-
MARMER I GRANIT DIGELAR Dl LANTAI LAIN WARNA SESUAI RENCANA).
6. KAWAT ANGKUR KUNlNGAN
DLAMETER 0,2 CM.
7. BUBUK PENGKILAPIBATU KUNING
(UNTUK MENGKILAPKAN
PERMUKAAN).

C. PELAKSANAAN:
1. SIAPKAN PERAUTAN DAN
BAHAN-BAHAN YANG AKAN
DIGUNAKAN.
2. PAHAMI GAMBAR KERJA, POLA
PEMASANGAN DAN LAIN-LAIN.
3. GELAR MARMERIGRANIT SELUAS
PENANDAAN IN1 MENGGUNAKAN ISOLASI,
DINDING SESUAI DENGAN POLA
SETELAH MARMER IGRANlT TERPASANG
YANG ADA PADA GAMBAR
ISOLASI BARU DILEPAS. SHOPDM WING.
BUKU
REFERENSI
UNlUK KONTRAKTOR
BANGUNAN
GEDUNG
DAN SIPIL

4. SELEKSJ UKURAN, WARWA, ARAH


SERAT, DAN CACAT-CACAT PERMA-
NEN MARMEWGRANIT.
5 . MARKING ATAU TANDAl MARMEFU I
GRANIT SESUAI POSISI DAN ARAH
SERAT. PEENANDAAN IN1 MENGGU-
NAKAN ISOLASI, SETELAH MARMERl
GRANIT TERPASANG ISOLASI BARU
DILEPAS.
6. MARKING DAN TANDAI LETAK
ANGKUR DENGAN PAKU PADA PEMASANGAN PAKU
DINDING YANG AKAN DIPASANG
MARMERIGRANIT.
7. LUBANGI MARMERIG RANIT UNTUK DUDUKAN KAWAT ANG KUR.

PEMBUATAN DUDUKAN ANGKUR

CONTOH BENTUK KAWAT ANGKUR


8. PASANG BENANG ARAH HORISONTAL DAN VERTIKAL PADA DINDING SESUAI
ELEVASI PADA SHOPDM WING. KEDUDUKAN BENANG ANTARA HORISONTAL
DAN VERTIKAL HARUS SIKU DAN DATAR, CEK KEDATARAN BENANG DENGAN
WATERPASS.
BENANG VERTIKAL

BENANG
HORlZONTAL

PAKU

PEMASANGAN BENANG ARAH HORIZONTAL & VERTIKAL

9. PASANG KAWAT ANGKUR ARAH MELINTANGIHORISONTAL. PADA DINDING SESUAI


MRKTNG DENGAN BANTUAN PAKU.

BENANG VERTIKAL

KAWAT ANGKUR
MELINTANG

I PAKU 1
PEMASANGAN KAWAT ANGKUR MELINTANG
A44RKTNG DENGAN BANTUAN PAKU.

BENANG VERTIKAL

KAWAT BANTU
PENAHAN
BENANG

LUBANG ANGKUR

KAWAT ANGKUR
MELINTANG

-\
LANDASANKAYU \ KAWAT ANGKUR
SEMENTARA MELINTANG

3ETAIL A
PEMASANGAN KAWAT PENAHAN SEMENTARA

r
I 0. PASANG ALAT BANTU KAWAT PENAHAN SEMENTARA.

BENANG VERTIKAL

KAWAT BANTU
PENAH AN
SEMENTARA

KAWAT ANGKUR
7 -
L

MELlNTANG

L.iNDASAN KAYU AWAT ANGKUR


SEMENTARA MELINTANG

DETAIL B
PEMASANGAN KAWAT ANGKUR
1I. PASANG KAWAT ANGKUR SESUAI KEDUDUKAN.
12. PASANG MARMEWGRANIT PADA POSISINYA DENGAN BANT-UAN ANGKUR MAT1
DAN ANGKUR SEMENTARA. ARAH PEMASANGAN DIMULAI OAR1 BAWAH DAN

r BENANG VERTlKAL

HORIZONTAL

LANDASAN K A Y
SEMENTARA
ARAH PEMASANGAN MARMER / GRANIT
KEDUDUELW MARMEWGRANIT HARUS SESUAl DENGAN WAKTU PENGGELARAN.

I 3 . IS1 SPESl SECARA HAT1 - HATI AGAR KEDUDUKANNYA


TIDAK BERUBAH, DAN
SEBELUM SPESI KEMNGIMENG ERAS LEPAS KAWAT BANTU SEMENTARA -
' BENAM' "'"' KAL

L, ~+yr
AClAN

-SEMENTARA
LANDASAN KAYU
BENANG
HORIZONTAL

KAWAT ANGKUR
MELINTANG

PENGlSlAN SPESI
DILEPAS.

WATERPASS

KAWAT
ANGKUR BENANG
HORIZONTAL

.I
-.

KAWAT ANGKUR
LANDASAN KAYU MELINTANG
SEMENTARA

PENGECEKAN KEDATARAN DENGAN WATERPASS

14. CEK KERATAAN PERMUKAAN MARMEWGRANIT DEN GAN WATERPASS.

PEMGlSlAM NAD
15. IS1SELA NAD DENGAN BAHAN PENGISI YANG TELAH DISETUJUI.
16. BERSIHKAN PERMUKAAN MARMEWGRANIT YANG TERPASANG DENGAN
KAIN LAP BASAH.

- LAP BASAH

DINDING MARMER R. RECEPSIONIST

DINDING MARMER R. LOBBY LIFT


L
DlNDlNG PlNTU R. TANGGA
KEBAKARAN DlLAPlS DENGAM
GRANlT

DlNDlNG PlNTU R. LIFT DlLAPlS


DENGAN GRANlT .
D.2.11.7. METODE PEMASANGAN DINDING MARMEWGRANIT
(SISTEM KERING)

A. PERALATAN YANG DIGUNAKAN:


I. SENDOK SPESI 14.MESIN BOWDYNA BOLT
2. EMBER 15. BATU GERINDA
3. BENANG 16. AMPLAS HALUS
4. SIKU - SIKU 17. MESIN POLES MARMEWGRANIT
5. WATERPASS (UNTUK MENGKILAPKAN
6. ROL METER PERMUKAAN).
7. UNTING - UNTING 18.MESIN LAS.
8. KAIN LAP
9. PAKU
10. PALU
I I.TANG
12. CAPE
13. PAKU BETON

B. BAHAN YANG DIGUNAKAN:


1 MARMEWGRANIT
2. AIR
MARMER I GRANIT DIGELAR Dl LANTAI 3. BAHAN COR NAD (AFAGROUI;
IBAGRU03: AFAFIK DAN LAIN-
W N WARNA SESUAI RENCANA).
4. BUBUK PENGKILAT
BATU KUNING
5 . BESI SIKUlBRAKET

I C. PELAKSANAAN:
1. SIAPKAN PERALATAN DAN
C BAHAN-BAHAN YANG AKAN
DIGUNAKAN.
2. PAHAMI GAMBAR KERJA, POIA
PEMASANGAN DAN LAIN-LAIN.
PENANDAAN IN1 MENGGUNAKAN ISOLASI,
3. GELAR MARMEWGRANIT SELUAS
SETELAH MARMER I GRANIT TERPASANG DINDING SESUAI DENGAN POLA
ISOLASI BARU DfLEPAS. YANG ADA PADA GAMBAR
4. SELEICSI UKURAN, WARNA, ARAH SERAT, DAN CACAT-CACAT PERMANEN MARMEW
GRANIT.
5. MARKING ATAU TANDAI MARMEW GRANIT SESUAI POSISI DAN ARAH SERAT.
PENANDAAN IN1 MENGGUNAKAN ISOIASI, SETELAH MAEtMEW G W I T T E R P M G
ISOLASI BARU DILEPAS.
6. MARKING DAN TANDAI LETAK ANGKUR DENGAN PAKU PADA DINDING
YANG AKAN DIPASANG MARMERIGRANIT.
7. PASANG BENANG ARAH HONSONTAL DAN VERTIKAL PADA DINDING SESUAI
ELEVASI PADA SHOPDRAWING. KEDUDUKAN BENANG ANTARA HORISONTAL
DAN VERTIKAL W U S SIKU DAN DATm CEK KEDATARAN BENANG DENGAN
WATERPASS.

HORIZONTAL

+AKu

PEMASANGAN BENANG ARAH HORlZONTAL & VERTI WL

8. PASANG RANGKA TEMPAT DUDUKAN BRACKET PADA DINDING SESUAI MARKING.


100) A fop slab: anchors and supports
1 INTERIOR SILL OR STOOL
D.2.11.8. METODE PEMASANGAN LANTAI KERAMIK

A. PLANNING
I. SHOPDRAWNG : 11. PERHITUNGAN RESOURCES
a. MENENTUKAN SISA POTONGAN (SUMBER DAYA):
KERAMIK HARUS 1 112 BADAN a. BAHARr YANG D I G U N A M :
KERAMIK. - KERAMIK.
b. MENENTUKAN NAD KERAMIK - SEMEN PC,
DINDING DAN LANTAI AGAR - AIR.
BERTEMU DAN NAD KERAMIK - ADDITIVE.
SERAGAM. b. ALAT YAI\IG DIGUNAiUN :
c. MENENTUKAN SUPAYA 1. JIDAR ALUMINIUM.
PEREMPATAN KERAMIK BERTEMU 2. BAK AIR ( EMBER ).
d. MENENTUKAN TATA LETAK 3. TEMPAT DUDUKAN 1
SANITAIR DAN FIXTURE : HARUS TATAKAN KE W I K .
DIPEREMPATAN 1 TENGAH 4. BENANG ATAU SENAR.
BADAN KERAMIK. 5 . PALU KARET.
e. MENENTU.KAN TITIK AWAL 6. SENDOK SPESI.
PEMASANGAN KERAMIK. 7. WATERPASS.
f. MENENTUKAN W A N T I O N JOINT 8. SEKOl?
MINIMAL SETIAP LUASAN 12 MZ- 9. BUSAlSPON
16 MZ. 10. KAINILAP BASAH.
c. TENAGA JCERIA:
MENENTUKAN TENAGA KERJA
YANG DIBUTUHKAN SESUAI
SKEJUL DAN VOLUME
PEKERJAAN.
B. PELAKSANAAN :
1. SIAPKAN PERALATAN DAN B A W - B A H A N YANG AKAN DIGUNAKAN.
2. PAHAMI GAMBAR KERJA, POLA PEMASANGAN, DAN LAIN - LAIN.
3. SORTIR KERAMIK AGAR MENGHASILKAN KESERAGAMAN:
- UKURANIDIMENSI.
- PRESISI. Jidar Aluminium
- WARNA.
4. RENDAM KERAMIK YANG AKAN
DIPASANG KEDALAM BAK' AIR
(EMBER) S E M 1. JAM.

CONTOH : BAK AIR

5 . KERAMIK DIANGINKAN DENGAN


CARA DILETAKAN PADA TEMPAT
DUDUKANITATAKAN KERAMIK,
SETELAH PROSES PERENDAMAN.

TEMPAT DUDUKAN I TATAKAM KERAMIK

6. TENTUKAN GARIS DASAR PASANGAN SERTA PEZL DARI LANTAI .PENENTUAN


PEIL IN1 UNTUK SELURUH KESATUAN.
7. PASANG BENANG ARAH HORISONTAL DAN VERTlKAL PADA LANTAI SESUAI
ELEVASI PADA SHOPDR4 WING. KEDUDUKAN BENANG DATAR DAN
SlKU APABILA DINDING YANG ADA ADALAH DINDING KERAMIK, MAKA
KEDUDUKAN NAD LANTAI HARUS DISESUAIKAN DENGAN YANG ADA PADA
DINDING.

BENANG HORIZONTAL
8. PASANG KERAMIK SEBAGAI PASANGAN KEPALAAN, SEPANJANG GARIS DASAR
YANG TELAH TERPASANG.

BENANG HORIZONTAL

9. CEK KESlKUAN KERAMIK DENGAN BESI SIKU DAN KERATAAN ELEVASI


K E W I K DENGAN WATERPASS.

BENANG HORl

10. IS1BAGIANlDAERAH PERMUKAAN LANTAI YANG W N N Y A DENGAN ADUKANI


SPESI.
11. SETELAH ITU PASANG KERAMIK BERIKUTNYA SESUAi POSISINYA SAMPAI
SELESAI, USAHAKAN SUPAYA TIDAK ADA LAS - LASAN.
UNFUK KONTWTOR BANGUNAN
BuKU REFERENSI GEDUNG
DAN SIPIL

12. JIKA KERAMIK SUDAH TEWASANG SEMUA, KETUK PERMUKAAN KERAMIK


DENGAN PALU KARET W U K MENDATARKANlMERATAKAN PERMUKAAN
KERAMIK SUPAYA TIDAK RUSAWCACAT.
13. SETELAH ITU CEK JdZRATAAN ELEVASI KERAMIK DENGAN WATEWASS.
14. BERSIHKAN PERMUKAAN PASANGAN KERAMIK YANG TELAH TERPASANG
DENGAN KAINIMP BASAH SAMPAI BERSIH.

PASANGAN
KERAMIK

MENGHINDARI NAlKNYA LANTAI (MENGGELEMBUNGNYA LANTAI)


15. UNTUK
MAKA BUATLAH DELATASI.
POTONGAN A - A

/ 7KERAMIK 3 0 x 3 0 CM

-DELATASI STYROFOAM
(IOMMI

PLAT BETON

IG.KEMUDLAN SIAPKAN ISIANIBA'HAN COR NAD PADA BAKAIR (EMBER) DAN


ADUKLAH HINGGA RATA.

17.SETELAH ADUKAN RATA, IS1 SELA-SELA NAD DENGm BAHAN COR NAD
DENGAN MENGGUNAKAN SENDOK SPESI ( SEKOP ). PENGISTAN NAD
DILAKUKAN APABILA KEDUDUKAN KERAMIK TEMH KUAT ATAU SPESI
TELAH KERING.
18.KEMUDLAN RAPIKAN NAD TERSEBUT DENGAN CAPE.

PASANGAN
KERAMIK

NAD KERAMIK
19. D W K A N DAN TUNGGU SAMPAI NAD TERSEBUT BENAR -BENAR KERING.
20. SETELAH KERING, BERSIHKAN P E R M U W PASANGAN KERAMIK YANG
SUDAH DIPASANG NAD DAM SISA-SISA BAHAN COR NAD DENGAN
MENGGUNAKAN KGINIJAP BASAH SAMPAI BERSIH.

\-- PASANGAN KERAMlK


PELAKSANAAN
PEKERJAAN LANTAI KERAMIK

I.SORTIR KERAMIK PADA


KEDUA SISINYA.

2. SORTIR KERAMIK PADA


KEDUA SISINYA.
1 3. PASANG BENANG ACUAN.

4. HAMPARKAN LEM KERAMIK. ii

6. PASANG KEPALAAN KERAMIK


ARAH HORISONTAL.
7. KEPALAAN KERAMIK ARAH
HORISONTAL TERPASANG.

8. CHECK KERATAAN DENGAN I


WATERPASS DAN ATUR NAD
KERAMIK.

9. PASANG KEPALAAH KERAMIK ARAH


VERTIKAL.

10. CHECK KERATAAN KERAMIK


DENGAM WATERPASS.
PT. HUTAMA KARYA (Persero)
Off ice: JI. Letjend Haryono MT Kav. 8 Cawang
Jakarta 13340, Indonesia
Tel. 6221 8 193708 Fax. 6221 8196107
E-mail: pthk@hutama-karya.com
Website: www-hutarna-karya.com
Produk: General Contractor

, ;/', k

-
,
,-
-
- > ' ; ' , < A

:L<:%'
'*', "= ..
.$<= -- ?.T. HUfAMA KARYA (PERSERO)
,
,
JI. Letjend. Haryono MT Kav. 8 cawang
,,
.. , Jakarta 13340, Indonesia
> . Telp. 62-21-8193708 Fax. 62-21-8196107
Website : wwwhutama-karya.com
E-mail : pthkahutama-karya.co~
PT. TOTAL BANGUN PERSADA
Office: JI. Letjen S. Parman 106 Jakarta 11440
Tel. 6221 5606429,5666999Fax. 6221 5663069
Email: totalbp@rad.net.id
Website: www.totalbp.com
Produk: General Contractor
PT. BRANTAS ABl PRAYA (persero)
Office: JI. Dl Panjaitan Kav 14 Jakarta 13340
Tel. 021 8516290 (hunting) Fax. 021 8516095
E-mail: abiOOO@idola.net.id
Produk: General Contractor
PT. NlNDYA KARYA (Persero)
Office: JI. Letjen. Haryono MT.
Kav. 22 Jakarta Timur (13630)
Tel. 62218093276 Fax.6221 8093105
E-mail: nindyakarya@pu.go.id
Produk: Konstruksi, Properly, Penambangan,
Perdagangan Umum, Aneka Usaha

PT. .NINDYA KARYA (PERSERO)


Profesional, lnovatif, Harmonis
Kantor Pusat : Jl. Letjend. Haryono MT. Kav 22 Jakarta Timur (13830)
Telp. (02t) 8093276, Fax. (021) 8093105, E-mail : nindyakaryaapu-go+id
II.
PASANG KERAMIK YANG LAINNYA.

12.PASANG KERAMlK BERIKUTNYA.

13.ATUR JARAK NAD.


1. HASlL AKHlR PEMASANGAN LANTAI KERAMIK

I
TAl l AID

NAD KERAMIK RATA


'& LEBARNYA SAMA

2. HASlL AKHIR PEMASANGAN LANTAI KERAMIK TOILET

NAD KERAMIK DINDING


& LANTAI BERTEMU

NAD KERAMIK
SERAGAM
D.2.11.9. METODE PEMASANGAN LANTAI MARMERIGRANIT
(SISTEM BASAH)

A. PERALATAN YANG DIGUNAKAN :


13. MESIN POLES MARMERIGRANIT
1. SENDOK SPESI (UNTUK MENGKILAPKAN
2. EMBER PERMUKAAN ).
3. CANGKUL 14. GERGAJIIGERINDA BETON.
4. SEKOP
5 BENANG
6 . SIKU - SIKU
7. WATERPASS
8 ROL METER
9. KAIN LAP
10. PALU KARET
11. PALU BESI
12. AMPLAS HALUS

B. BAHAN YANG DIGUNAKAN:


3. APABILA MARMERIGRANIT
1. UBIN MARMERIGRANIT DIPASANG PADA :
2. SEMEN PC a. LANTAI BIASA (DIATAS PASIR
3. PASIR URUG), KEPADATAN DAN KE-
4. AIR DATARAN PASIR URUG HARUS
5. BAHAN COR NAD (MAGROUT, SESUAI RENCANA.
IBAGRUOI: MAFIK DAN LAIN - LAIN b. LANTAI BETON (DIATAS PASIR
WARNA SESUAI RENCANA ). URUG), PERMUKAAN LANTAI
6 . BUBUK PENGKILAPIBATU KUNING DIBERSIHKAN DAN DISIRAM
(UNTUK MENGKILAPKAN DENGAN AIR.
PERMUKAAN). 4. TENTUKAN GARIS DASAR PA-
SANGAN SERTA PEZL DARI LANTAI.
C. PELAKSANAAN: PENENTUAN PEIL IN1 UNTUK
SELURUH KESATUAN.
1. SIAPKAN PERALATAN DAN BAHAN -
BAHAN YANG AKAN DIGUNAKAN.
2. PAHAMI GAMBAR KERJA, POLA
PEMASANGAN DAN LAIN - W N .
BUKUREFERENSI
UNTUK KONTRAKTOR DAN SIPIL
GEOUND
BANGUNAN

, BENANG GARlS DASAR

BENANG GARlS DASAR PEMASANGAN

KEDUDUKAN BENANG HARUS DATAR DAN SIKU.APAB1LA DINDING YANG ADA


ADALAH DINDING MARMEWGRANIT, MAKA KEDUDUKAN NAD LANTAI HARUS
DISESUAIKAN DENGAN YANG ADA PADA DINDING.

>. PASANG MARMERIGRANIT SEBAGAI PASANGAN KEPALA, SEPANJANG GARIS


DASAR YANG TELAH TERPASANG.

KEPALAAN MARMER I GRANlT


6 . UNTUK MARMEWGRANIT YANG TIDAK SAMA DIMENSINYA, DIPOTONGl
DIGERTNDA DENGAN ALAT POTONG GERGAJIIGERINDA MARMEWGRANIT.
7. CEK KEDATARANNYA DENGAN WATERPASS UNTUK SETIAP PEMASANGAN MARMEW
GRANIT.
8. GUNAKAN PAW KARET UNTUK MENDATARKANJMERATAKAN AGAR PERMUKAAN
MARMEWGRANIT TIDAK RUSAWCACAT

PENGECEKAN KEDATARAN DENGAN WATERPASS


9. LANJUTKAN PEMASANGAN MARME W GRANIT DENGAN PERTOLONGAN BENANG,
DAN LAKUKAN PENGECEKAN DENGAN WATERPASS SETIAP MEMASANG SEBUAH
MARME WGRANIT.
10.151 SELA-SELA NAD DENGAN BAHAN COR NAD. PENGISTAN NAD DILAKUKAN
APAB1L.A KEDUDUKAN MARMERlGRANIT TELAH KUAT ATAU SPESI TELAH
KERXNG.
1l.BERSXHKAN PERMUKAAN MARMEWGRANIT DART SISA - SXSA BAHAN COR NAD
DENGAN MENGGUNAKAN KAIN LAP SAMPAI BERSIH.
12. POLES PERMUKAAN MARMERlGRANIT DENGAN BUBUK PENGIULAP DENGAN
MENGGUNAKAN M ESIN POLES MARMERIGRANIT.

MENGKILAPKAN PERMUKAAN DENGAN MESlN POLES

- PERMUKAAN
BEKAS
POTONGAN
13. UNTUK MENGKILAPKAN PERMUKAAN MARMER / GRANIT BEKAS POTONGAN (
DAERAH PINGGULAN ):
- GOSOK DAERAH BEKAS GERGAJI DENGAN BATU GERINDA SAMPAI HALUS.
- SETELAH DIGOSOK DENGAN BATU GERINDA HALUSKAN DENGAN AMPLAS
YANG W U S .
- UNTUK MENGKIWKAN GOSOK PERMUKAAN DENGAN BATU KUNING.
14. APABILA MARh4ER / GRANIT DIPASANG PADA LANTAI LUAR, MAKA PERLU DIBERI
LAPISAN POLYMER COATING.

LANTAI GRANIT R. RESEPSIONIST

POLA LANTAI GRANIT R. LOBBY

LANTAI GRANlT R. TANGGA

POLA LANTAI GRANIT


R. LOBBY LIFT
0.2.11 .lo. METODE PELAKSANAAN PEKERJAAN SCREED
LANTAI

A. PERALATAN YANG DIGUNAKAN : 11. LIFT : UNTUK MENAIKAN


1. SELANG AIR. MORTAR (BANGUNAN
2. WATERPASS. BERTINGKAT
3. SAPU. KAPASITAS 1 TON ).
4. COMPRESSOR. 12. GEROBAK : UNTUK
5. PAKU. MENGANGKUT
6. BENANG NYLON I SENAR. MORTAR (DUA RODA).
7. METERAN. 13. SENDOK TEMBOK
8. JIDAR ALUMINIUM. 14. DRUM AIR
9. ROSKAM KAYU. 15. EMBER ADUKAN
10. MOLEN : UNTUK MENGADUK B. BAHAN YANG DIGUNAKAN :
MORTAR KAPASITAS 1. PASIR PASANG 1 EXTRA BETON.
MINIMUM 150 LITER. 2. SEMEN ( PC ).
3. AIR.

C. PELAKSANAAN :
1. BUAT MARKING UNTUK ELEVASI SCREED DENGAN SELANG AIR1 WATERPASS.
2. BERSIHKAN PERMUKAAN LANTAI DARI DEBU DAN PUING DENGAN SAPUI
COMPRESSOR.
3. SIRAM PERMUKAAN LANTAI DENGAN AIR SAMPAI LEMBAB.
4. PASANG BENANG PADA JALUR KEPALAAN. (ELEVASI SESUAI DENGAN MARKING )
5. TENTUKAN TEBAL SCREED LANTAI SESUAI DENGAN JENIS FINISHING LANTAI.

TEBAL
TEBAL SCREED
FINISHING
LANTAI

6. BUAT CAPLAAN PADA JALUR KEPALAAN DENGAN JARAK 1,5 S/D 2 M , ELEVASI
SESUAI BENANG. PADA BAGIAN ATAS CAPLAAN DIBERI TRIPLEK 5 X 5 CM.
7 . IS1 A D U U N DENGAN CAMPURAN 1 : 4 DIANTARA CAPLAAN, ELEVASI SESUAI
BENANG.
8. DEMIKXANSETERUSNYA UNTUK JALUR KGPALAAN YANG LAIN DENGAN JARAK
ANTAR KEPALAAN 1,5 M S/D 2 M SEJAJAR KEPALAAN PERTAMA..

KEPALAAN JlDAR
ALUMINIUM
9. IS1 ADUKAN DENGAN CAMPURAN 1 : 4 DIANTARA 2 KEI'ALRAN. DAN RATAWN
DENGAN JlDAR ATSJMINIUM, LALU HALUSKAN DENGAN ROSKAM KAYU.
1O.ACI P E R M U W N BIDANG SCREED SETELAH UMUR SCREED 2 - 3 HARI (KHUSUS
FINISHlNG LANTAl KERAMIK, PERMUKAAN SCREED TIDAK PERLU DI ACX TETAPI
DI KASARKAN j.
D.2.11.11. METODE PELAKSANAAN EXPANSION JOINT

A. DETAIL EXPANSION
JOINT
JARAK DAR1 KOLOM KE KOLOM DIBAGI DUA.

KOLOM

2. POTONGAN MEMANJANG

FINISHING
KERAMIK
r PLAT BETON

I
EXPANSION JOINT
r SILICON SEALANT

4. DETAIL B 5. DETAIL C

STYROFOAM

ONCRETE SLAB
B. EXPANSION JOINT

2. EXPANSION JOINT ARAH


HORIZONTAL & VERTIKAL

1. EX~ANSIONJOINT ARAH
HORlfONTAL

-
C . MACAM - MACAM EXPANSION JOlNT
1. JOlNT ALIGMENT TO STRUCTURAL MOVEMENT JOlNT

BOND BREAKER TAPE 7 BOND BREAKER TAPE


SEALANT
METAL ANGLE METAL ANGLE

GROUT - GROUT
ADHE
LEVELtNG
BED
LEVE

MECHANICAL

BACK UP MATERIAL
STRUKTURAL
MOVEMENT JOINT
- e
MECHANICAL
N G (as
necessary )

BACK UP MATERIAL
STRUKTURAL
MOVEMENT JOINT
2. PREFABRICATED JOINT WITH REINFORCEMENT
EDGES AND CAPPINGOVER STRUCTURAL
MOVEMENT JOINT

FLwlBLE INSERT /-- FLEXIBLE INSERT


7

STRUKTURAL / \ STRUKTURAL
MOVEMENT JOINT
MOVEMENT JOINT II

3. FLEXIBLE JOINT IN BED, WITH OR WITHOUT


SEPARATING LAYER

SEALANT k SEALANT

1 :/- (I

fql
II
II

ADHESIVE

SEPARATING
L
1 SEPARATING
( OPTIO
( OPTIONAL-)

-e7
BACK UP MATERIAL BACK UP MATERIAL
4. FLEXIBLE JOIN WITH REINFORCEMENT EDGES

FLEXIBLE INSERT FLEXIBLE INSERT


METAL ANGLE METAL ANGLE

BACK UP MATERIAL
/ II

\ BACK UP MATERIAL

5. FLEXIBLE JOINT IN BED, WITH OR WITHOUT


SEPARATING LAYER

NEOPRENE BONDED TO NEOPRENE BONDED TO


NON FERROUS METAL NON FERROUS METAL
OR RIGID P

TO
D

PLASTICS STRIPS PLASTICS STRIPS


6. FLEXIBLE JOINT IN BED, WITH OR WITHOUT
SEPARATING LAYER

NON COMPRESSIBLE
PERFORMANCE PERFORMANCE STRIP

A D H E S ~
BED

CONCRETE
BASE

7. FLOOR JOINT - 8. FLOOR JOINT - SKIRTING


VERTICAL COVE

CERAMIC TlLE -CERAMIC TILE


4

- SKIRTING
( OPTIONAL )
SEALANT

- FILLER - FILLER
D.2.11.12. METODE PEMASANGAN WATERPROOFING. TYPE
BITHUTENE

eBELu
A. ALAT YANG DIGUNAKAN :
METODE PELAKSANAAN PEKERJAAN 1. SIKAT.
WATERPROOFING MEMBRANE 2. SAPU.
TYPE BITHUTENE 3. CAPE.
FLOW CHART WATERPROOFING :
B. BAHAN YANG DIGUNAKAN :
1. WATERPROOFING MEMBRANE.
PEMBERSIHAN 2. BAHAN PRIMER COATING.
LOWS1 DARI DEBU &
KOTORAN LAIN WATERPROOFING

3. ACMN
4. ScREED.HALUS.
CEK KEBERSIHAN BOCOR 5. KAWAT AYAM.
PERENDAMAN
1 X 24 JAM

LABUR PERMUKMN
DENGANPRIMER C. PELAGANAAN :
COATING
TUTUP SEREED LAMAI 1. BERSIHKAN LOKASI YANG AKAN

& SELESAI
DIPASANG DARI KOTORAN DAN
DEBU SERTA SISA ADUKAN
MENGGUNAKAN SIKAT, SAPU
DAN W E .
2. LABUR PERMUKAAN 1 BIDANG
YANG AKAN DIPASANG DENGAN
GAMBAR KERJA WATERPROOFING :
PRIMER COATING SECARA
MERATA, JUGA BIDANG DINDING
NAIK & 20 CM DARI FINISHING
LANTAI.
3. CEK LABURAN PRIMER COATING.
4. PASANG WATERPROOFING
BITHUTENE MEMBRANE
PRIMER COATING
SECARA MERATA MULAI DARI
DINDING TERTAUH DENGAN
OVERLAP f 10 CM.
5. CEK PEMASANGAN
WATERPROOFING MEMBRANE.

6. TEST PENGGENANGAN SELAMA 1 x 24 JAM ( 1 HARI ).


7 . SCREED PENUTUP WATERPROOFING :
a. UNTUK TOILET, LANGSUNG DITUTUP SCREED DENGANTEBAL 2 - 5 CM.
b. UNTUK GUTTER, SEBELUM PENUTUPAN SCREED DIPASANG KAWAT AYAM
MENGIKUTI ALUR PEMASANGAN, KETEBALAN SCREED 2 - 3 CM DAN DI-
FINISH ACIAN HALUS.
D.2.11.13. METODE PEMASANGAN WATERPROOFING
MEMBRANE
A. ALAT YANG DIGUNAKAN :
1. SAPU.
2. PISAU.
3. METERAN.
4. KUAS.
5. KUAS ROL KECIL.
6. SIPATAN l TALI PEMBERI TANDA.

B. BAHAN YANG DIGUNAKAN :


1. PRIMER DICAMPUR DENGAN BENSIN (SAMPAI DAPAT DIKUASKAN).
2. MASTING IBITL7MSTI0.
3. LAPISAN WATERPROOFING (BITUTHENE), DENGAN SPLSIFIKASI SEBAGAI BEFUKUT:
L = 1,00 M
P = 20 M, 25 M ATAU 30 M
T = 1,50 MM

C. PELAKSANAAN :-
LANGKAH I : P E M B E , R S I W
SYARAT : BERSIH DAN KOTORAN BEBAS DEBU LOKASI DALAM KEADAAN KERING
DAN HALUS

METODE KERJA :
1. Rapihn semua permukaan Lantai dm Dinding yang akan dipasang Waterproofing.
2. Permukaan harus rata, bebas dari lubang dan tonjolan, kemudian bersihkan dari debu, minyak dan
kotoran lainnya.
3. Hindarkan sudut siku dengan membuat segitiga pengisi 2 -3 un.

LANGKAH 2 : PELABURAN PRIMER


METODE KERJA:
1 . Oleskan Primer dengan Kuas atau Rol tipis - tipis pada bidang yang akan dipasang Waterproofing.
2. Pemakaian 1 liter Primer dapat menghasilkan 4 7 m2 bidang kerja.
3. Primer dibiarkan hingga mengering ( 2 1 jam bila keadaan cuaca cerah ) .
PT. WIJAYA KARYA
Head Office: JI. Dl. Panjaitan Kav. 9 Jakarta 13340
Tel, 6221 8192808,850840,85085650
Fax. 6221 8191235,8199713
E-mail: adwijayaa wi ka.co.idWebsite: www.wi ka.co.id
Produk: General Contractor

Head Offlce:JI. Dl. Panjaitan Kav. 9 Jakatta 13340


Tel. 6221 8192808, 850840,85085650 Fax. 6221 8191235, 8199713
E-ma]: adwijaya9wika.co.id Website: www.wika.co.id
PT. WASKlTA KARYA
Office: JI. Biru Laut X Kav. No. 10
Cawang, Jakarta 13340
Tel. 6221 8508510 Fax. 6221 8508506
Email: waskita Bwaskita.co.id
Website: waskita.co.id
Produk: General Contractor

aut X Kav. No. ~u


PT. ISTAKA KARYA (Persero)
Office: Graha lskandarsyah Lt. 9 JI. lskandarsyah Raya No.
66 Kebayoran Baru, Jakarta 12160
Tel. 6221 725 8686 Fax. 6221 7258787
E-mail: istaka@istaka.net Websiie: www.istaka.net
Produk: Konstruksi, Re kayasa dan Perdagangan.

PT. ISTAKA KARYA (Persero)


KONSTRUKSI, REKAYASA DAN P E ~ O A N Q A N
I
Office:
Graha lskandarsyah Lt. 9
JI. lskandarsyah Raya No. 66
Kebayoran Baru, Jakarta 121
Tel. 6221 725 8688 Fax. 6221
E-mail: istaka@istaka.net
Webslte: ww.istaka.net ,;
PT. ADHl KARYA (persero)
Head office:
JI. Raya Pasar Minggu Km. 18 Jakarta 12510
Tel. 6221 7975312 Fax. 6221 7975311
E-mail: adhinet Qadhi-karya.com ' -
Website: www.adhi-karya.com
Produk: General Contractor

ADHI KARYA

To be come the partner of choice in the civil


constructionand process engineering business
....

I
LANGKAH 3 : PEMASANGAN WATERPROOFING
METODE KERJA :

1 . Pasang terlebih dahulu lapis Watwpmq%g pada bagim sudur: ruang untuk rnernudahkan pemasangan
bagian datar.
2. Pemasangan dimulai dari titik terendah ( drain ).
3. Lapis Watet;broo$ng diternFd dengan cara melepas lapisan Kerras Silicon.
4. Tempelkan pada bidang yang sudah diprimer.
5 . Pada penyarnbungan Waterproofing berikutnya, diharuskan memberi overhp 10 crn ( tepat garis
putih yang terdapt di kanan dan .kiri WatqrooJing Mmhram.

$ 10 CM OVERLAP

6 . Untuk mendapatkan h a i l yang merara, Kertas Siliwn dibukasedikic demi sedikit dan ditempelkan
sambil ditekan serta digosok dengan Kain Pel atau Handroller, terutama pada bagian sudur dan
lekukan - lekukan ssrta sambungan.
7. Pemasangan Bitu Msrric (Mmtic ) pada ternpat yang kritis :
Untuk pengamanan sambungan di tempat yang kritis ( titik percemuan, drain dan lain - lain ),
maka perlu dilapis dengan bahm sernacam Jkm ( Mastic ) secukupnya.

METODE KERJA :
- Sambungan yang digunakan biasanya terputus -putus agar dapat mengikuti bentuk permukaan
yang akan dilapis Watmproofing dan dapat menyatu dengan primer yang dikuaskan.
- Oleskan M& pada sambungan hingga rata dengan lebar + 3 - 4 cm. Biarkan hingga Mastic
dalam keadaan kering ( + 2 jam ).

DRAIN
ADUKAN PELINDUNG
Minimal 25 MM

LAPISAN
WATERPROOFING

.-
GB. PENGOLESAM MASTIC PADA SAMBUNGAN

8. Serelah selesai sebagian arau seluruh pekerjaan HAL - HAL YANG PERW DIPERHATIKAN
pemasangan Wampmojng,diadakan tes rendam o PEMASANGAN WATERPROOFING PADA
( Flood Test ) selama 24 jam / 1 hari dengan W A R MANDI :
Air setinggi 5 cm. 1. Pasangan Keramik pada Dinding agar
9. Karena Waterpmoj~gMewzbwne tidak tahan dipasang terlebih dahulu, dimana disisakan
terhadap Sinar Ultra Violet ( Panas Matahari), setinggi + 25 crn dari Lantai kemudian
maka setelah pemasangan jangan dibiarkan dibagian tersebut diplester tipis.
terbuka selama lebih dari 24 jam. 2. Lantai Beton Kamar Mandi dibuat 3
10. Setelah dipastikan pemasangan tidak bocor, cm lebih redah dari Lantai Luar.
maka ditutup kembali dengan Plesteran o PEMASANGAN WATERPROOFING PADA
pelindung dengan campuran l PC : 3 PS BASEMENT :
tebal 1,5 - 2,5 cm. I. Permukaan Air harus dijaga 1 dikontrol
11.Jika dikehendaki untuk Bak Air, Kolam atau dengan cara Dew~m'ng( apabila Muka A r
Atap dapat di pasang dengan Keramik. Tanah lebih tinggi dari Lantai. Basement ).
2. Pekerjaan Dewatering harus mulai dari saat
Galian, Lantai Kerja sampai selesai
pekerjaan Warerproojng pada Dinding.
3. Pekerjaan pelindungnya mernakai pasangan
Bata atau Plesteran.
D.2.11.14. METODE PELAKSANAAN COR NAD

A. ALAT YANG DIGUNAKAN :


1. BUSAI SPON BASAH ATAU KAIN I LAP
BASAI-I.
2. BUSA I SPON KERAS ATAU KARET
HITAM TEBAL 1.5 CM.
3. SIKAT KAWAT.
4. KAWAT YANG DXTEKUK MEMBENTUK
SETENGAH LING U R A N
BERDIAMETER 2 X LEBAR NAD
ATAU DENGAN MEMAKAI KEPALA
PAKU YANG SESUAI UKURANNYA.
5 . SKRAl?
r Kawat dia 2 6. SAPU.
7. EMBER DAN GAMING.

B PELAKSANAAN :
I. TENTUKAN LAHAN KERAMIK YANG
SUDAH BERUMUR 3 SID 4 HARI &
\n TENTUKAN LAHAN YANG AKAN
DIJERJAKAN, SESUAIKAN DENGAN
KAPASITAS TUKANG PER HARI.
2. KOREK LUBANG ALUR NAD KERAMIK
DENGAN SIKAT KAWAT SAMPAI
r Kavu atau S E D W KETEBALAN K E W I K

-
ATAU 5 SID 10 MM.
3. SAPU / BERSIHKAN ALUR LUBANG
NAD & P E R M U M KERAMIK DART
KOTORAN DAN SPESI.
Plat 4. SIRAM ALUR LUBANG NAD
Seng KERAMIK DENGAN AIR DAN
BIARKAN DALAM BEBERAPA MENIT
5. TUANG ADONAN SEMEN ACIAN
PADA ALUR LUBANG NAD
KESELURUH PERMUKAAN LANTAI
KERAMIK YANG LUASANNYA TELAH
DITENTUKAN DENGAN TAHAPAN
PER 3 X 3 METER.
6 . ARAHKAN ATAU ALIRKAN ADONAN
TERSEBUT TEPAT KE MASING -
MASING ALUR NAD.
7. TEKAN ADONAN ACIAN YANG SUDAH SETENGAH KERING
PADA POSISI DI ATAS MASING - MASING ALUR NAD,
SUPAYA MERESAP KE C E M NAD DAN PADAT.
8. BERSIHKAN SISASlSA ADONAN SEMEN PADA PERMUKAAN
KERAMIK TERSEBUT DENGAN BUSA l SPON BASAH ATAU
K N N / U P BASAH.
9. RATAKAN ALUR NAD DENGAN PERMUKAAN KERAMIK, DE -
NGAN CARA MENEKAN MEMAKAI ALAT BUSA / SPON KERAS
ATAU JL4RET HITAM TEBAL 1.5 CM.
10. CEKUNGKAN ALUR NAD TERSEBUT DENGAN ALAT KAWAT
YANG SUDAH DITEKUK MEMBENTUK SETENGAH LINGKARAN
BERDLAMETER 2 X LEBAR NAD ATAU DENGAN MEMAKAI
KEPALA PAKU YANG SESUAI UKURANNYA.
11. RAPIHKAN PINGGIR KERAMIK DENGAN MEMAKAl SKRAP,
JANGAN SAMPAI TERTUTUP DENGAN ISIAN NAD.

r 2. SETELAH ITU SAPU l BERSIHKAN SELURUH PERMUKAAN


KERAMIK YANG TELAH DIISI NAD.

kawat

spesi

Detail A

r Kawat dia 2mm

FOTO COR NAD KERAMIK

GAMBAR ALAT
PEMBENTUKAN NAD
D.2.11.15. METODE PEMASANGAN PLAFOND GYPSUM
A. PERAEATAN YANG DIGUNAKAN :
1. ROL METER - HANGER
2. BENANG - CWP A D f l S T R ex, BORAT. W E 223)
3. SCREW DRIVRIt 4. STEEL HOLLOW
4. CEILING NEl' 1 LAKKAN 5 . WALL ENGLF PROFTI, 1, 20 x 20 MM
5. WAlE1U)ASS J MOULDINGPROFJL W
6. AMPLAS 6. TOP CROSS RAIL ATAU RANGKA
7. HAND SANDER UTAMA( ex. BOWL TYPE 201 )
8. GRIT PAPER 1501 120 7. FURING CHANEL ATAU RANGKh
9. KUAS PEMBAGI ( ex. BOJ.iAL TYPE 204 )
1O.ROL CAT 8. LOCMNG CLIP ( cx. BORAL TYPE
210 1
B. BAHAN YRNG DIGUNAKAN : 9. SKRUP CEJLJNG
1. PANEL U P S U M 10. IflJJEl? TAPE
2. PAKU KAIT / PENGGANTUNG 1 I. COMPO UNIT
3 . ROD ( PENGGANTUNG RANGKA 12. CAT
PLAFOND ) : 13. PLAMUR

C. PELAKSANAAN :
FLOW CHART PEMASANGAN PLAFOND GYPSUM

1 _ h PASANG PANE{ GYPSUM

,i_T_i,
hlARKlNG ELEVRSl & TITK PENGGANTUNG

<-. --
/*"'
- -
..,.,,
CEK ELEVASI &
JARAK R T K
. -.
"'-
'" ,-. .-,,. TlDAK
.-...
+

t
*
, = 1 RATAKAN SAMBUNGAN GYPSUM
I

I I
PASANG PEMGGANTUPIG DAN PANGKR TFPl

>,
,
.P- ...-
CEK PO5151
ELEVh51 &
JhMK
_ TIOAK
PERBAlKl
-- .-.- .

/ MfLlNTANG Pr OlAGOMAt SEBAGAI AEUAN


i f L N A S I & KE1URWSAN PLAFOND

,
PERBAlKl
I
-- t
+ * < ^ - -
*-..
CFK ELEVASI &
JARAK
I

- ' ----- -> I


1. TENTWKAN / MARKING ELEVASl
PLAFOND DAN BUAT GARIS SIPATAN
. PADA DINDING & AS SUMKU RLJANG
- A N SERTA TITIK- TITIK PAKU
KAIT PADA M N G I T -LANGIT
DENGAN JARAK SESUAI SHOP
DRAWING.
2. PASANG PAKU KAIT. TEMBAKAN
PAKU - PAKU KAIT PADA MARKING
TITIK -TITrK YANG TEIAH ADA 600
x 1200 MM.

3. PASANG PENGGANTUNG M N G K A
PLAFOND (ROD) YANG TERDlRI
DARI HANGER DAN c u p ADJUSTER
( ex. BORAL TYPE 223 ), DENGAN
POSISI TEGAK - LURUS.
4. PASANG RANGKA TEPI (STEEL
HOLLOW) DAN WALL ANGLE PROFIL
L 20 x 20 MM ATAU MOULDING
'

PROEIL W SEBAGAI LIST TEPI


TEPAT PADA SIPATAN MARKING
ELEVASI PLAEOND.

5. TENTUKAN JARAK PENEMPATAN


KAIT PENGGANTUNG.
6. PASANG TARIKAN BENANG SERAGAI
PEDOMAN PENENTU KELURUSAN
DAN KETINGGIAN RANGKA PLA -
FOND.

7. PASANG RANGKA UTAMA J TOP


CROSS RAIL (ex.BORAL TYPE 20 1 )
DENGAN ] A U K 1200 MM.
8. PASANG RANGKA I'EMBAGI I
FURING CHARM ( ex.BORAL TYPE
204 ) DENGAN JARAK 600 MM
MENGG UNAKAN LOCKING CLIP (ex.
BORAL TYPE 21 0 ). I
- CEK ELEVASI DAN JARAK RANGKA
PLAEOND.
- CEK SPARING, DUCTING, DAN
PEWENGKAPAN MEKANTKAL
ELEKTRIKAL LAINNYA.
9. PASANG DAN KENCANGKAN CLIP/
ROD.
10. PASANG PANEL GYPSUM PADA
RANGKA DENGAN SEKRUP CEILING
MENGGUNAKAN SCREW DRIVER
DENGAN JARAK 60 CM DAN SETIAP
SAMRUNGAN HAKUS TEPAT PADA
RANGKA.
1I. CEK KEMPIHAN DAN KERATAAN
BlDANG PLAFOND DENGAN
MENGGUNAKAN WATERPASS.

1 2. PEWTAAN SAMBUNGAN JjU FOND DENGAN MENGGUNAKAN CEJLING NET


LAKBAN.
I 3. KEMU UIAN DITUTUP DENGAN PAPER TAPE DAN COMPOUND CEILfNG.
1 4. SETELAH JTU DIAMPLAS.
15. FINISH PElUMUKAAN PLAFOND GYPSUM TERSERUT DENGAN CAT*
a. RATAKAN I ' E R M U W N PLAFON GYPSUM MENGGUNAKAN PLAMUR SAMPAI
TERLIHAT RATA DAN LURUS.
b. HALUSKAN DENGAN AMPLAS SAMPAI RATA DAN RENAR - BENAR HALUS.
c. CAT SELUltUH P E R M U W N PI.AFOND SECARA MERATA DENGAN KUAS
UNTUK RAGIAN TEPI DAN SUDUT, SERTA ROL CAT UNTUK BIDANG LUAS.

PERTEMUAN ANTAR PANEL GYPSUM


METODE PEMASANGAN COMPOUND

1. LAKUKAN PELAPISAN PADA PERTEMUAN BIDANG PANEL DENGAN COMPOUNL).


2. LANJ UTKAN DENGAN PENEMPELAN PAPER TAPE PADA LAPISAN C:OMIJOUND.
3. LAPISKAN KEMRALI COMPOUND MENIMPA PAPER TAPE.
4. TVNGGU SAMT'AI KERING.
5. KEMUDIAN HACUSKAN PERMUKAAN DENGRN HAND SANDER DAN GRIT PAPER

PELAKSANMN
PEMASANGAN PLAFOND GYPSUM
-
-w---- ' -- --
-- - > 7

1. PENGGANTUNG PADA RANGKA PL4FOND GYPL$UM


I
c
-

4- --

2. BATAS SAMRUNGAN PANEL GYPSUM


DENGAN COMPOUND

3. lNSTALAS1 M I E DIATAS PLAFOND


GYPSUM

-
I G I TI-:L~:I

4. LIST PROFYL JL4W PADA PLAFOND


I ~ c l . ~ nT;I[>I

GYPSUM

5 . LIST PROFIL KAYU PADA PLAFOND


GYPSUM
D.2.11.16. METODE PEMASANGAN PLAFOND PLYWOOD

A. PEMLATAN YANG 'DTGUNAKAN :


1. ROLL METER (ME'J'ERAN)
2. STEGER KERJA
3. MESXN POLES KAYU
4. BENANG NYLON
5. WATERPASS
6. SIKU HESI
7. GEICGAJI
- BENANG
8. AMPIAS BTASA (KASAR & HALUS) NYLON

9. PAKU
10. PALU RESI
11. KAlN 1,AP

B. BAHnN YANG DIGUNAKAN :


1 . PLYWOOD TEBAL 6 MM
UKURAN DISESUAIKAN DENGAN PEMASANGAN BENANG NYLON

KEBUTUHAN
JENIS KAYU : ICAYU KAMPER
2. PLYWOOD TEBAL 6 MM
JENIS KAW : K A W ICAMPER (DIOVEN)
DAN LURUS
UKURPIN : 5 / 7 CM DAN 5 1 10 CM
C. PELAKSANAAN :
I . BUAT MARKING ELEVASI, AS DAN JARAK PENG - GANTUNG RANGKA PLAFOND
SESUAr DENGAN SHOI'DRAWING.
( UNTUK MENENTUKAN KETINGGIAN PLAFOND ).
2 PASXNG RENANG NYLON QUA SISI DAN SEJAJAR SEBAGAl PEDOMAN KELURUSAN &
KETINGGIAN
RANGKA, SESUAI ELEVASX YANG TELAH DXBUAT. PEMASANGAN BENANG NYLON
3. PASANG INSTALASI TERLERTH DAHULU SERELUM MEMASANG RANGKA PLAFOND.
4. PASANG RANGKA PLAFOND (YANG T E U H DIHALUSKAN, DIMENT & DIPOTONG)
SESUAI MARKING YANG TELAH DIBUAT.
5. PERIKSA KELURUSAN DAN KERATAAN RANGKA
MENGGUNAKAN WATERPASS & S K U BESI.
6. POTONG PANEL PLAFOND PLYWOOD DENGAN GERGAJI SESUAl SHOP DRAWING.
7. I-IALUSKAN REKAS POTONGAN PLYWOOD DENGAN AMPLAS.
8. PASANG PANEL PLAFOND PLYWOOD TERSEBUT
DENGAN MENGATUR :
- KELLJRUSAN & KERAPATAN NAD PLAFOND
- ICERATAAN PLAFOND
PEMASANGAN PLAFOND
DIMULAI DARI TEPI
( MENGIKUTl GAMBAR KERJA ) DAN
DIPERKUAl* DENGAN PAKU YANG DIKETOK
DENGAN I'AI,U BESI

PLYWOOD -

9. CEK KERATMN PERMUKAAN


PLAFOND YANG SUDAH JADI DENGAN
WATERPASS, PEMASANGAN PLAFOND PLYWOOD

10. RAPlKAN & HALUSECAN P E R M U W N


PLAFOND PLYWOOD YANG TELAH
TERPASANG DENGAN AMPZAS SAMPA1
RA'I'A I LICIN.
1I . BERSZHKAN PERMUUIAN YANG
TELAH DIhiI'LAS DENGAN KAXN LAP

PENGECEKAN KERATAAN PERMUKAAN


PLAFOND

PLAFOND PLYWOOD PADA


ATAP MIRING

PLAFOND PLYWOOD PADA


ATAP MIRING
-
D.2.11.17. METODE PEMASANGAN LAVATORYMASTAFEL

1 GAMBAR SETING

TX 103 LC

2. PERSIAPAN TlTlK AIR BERSIH DAN AIR KOTOR


Tebal Counter 30-50 mm
Bila Counter bukan dari
3. CARA MEMASANG SPOUT TYPE TX 103 LC

4. CARA MEMASANG SET PlPA

packing

Nut f

slip washer '

5. CARA MEMASANG HANDLE TYPE


TX 103 LC

Note: index H di kiri


index L di kanan
6. CARA MEMASANG SlPHONlWASTE BODY

packing segitiga

packing

Body
packing

7. CARA MEMASANG HANGER TYPE


hanger TL 830 GV 1
scr.1

8. CARA MEMASANG SCREW


TYPE TL 830 GV 1
9. CARA MEMASANG KICK BOX

lock nut
nut

$3
- kick boxLpakk;.*
/I

-center lift rod stopper harus kena sampai body


10. C A M MEMASANG LIFT ROD
12. CARA MEMASANG SIPHONE1 VALVE PIPE TYPE THX
1A-3

kalau terialu

13. CEK KEBOCORAN


PT. DHARMA SUBUR SATYA
Office: JI. RS. Fatmawati No. 1 B-C,
Pondok Labu, Jakarta 12450, Indonesia
Tel. (6221) 7508376,7508377, 7696636,7696637
Fax. (6221) 7508380 E-mail: dharmasubur@cbn.net.id
Website: www.dharrnasubur.com
Produk: Marine Civil Construction Contractor

PT. DHARMA SUBUR SATYA


Piling bare wlrn Hidro Hammer IHC $90
a SATYA

Marine Civil
- Construction
ME y Terminals, Merak, Banten Contractor

Bakauheni ratv Terminals, Bnkauhenl, Lampunn

~ e n yof KUFPEC (Indonesia) Ltd., BuIa. Seram


PT. TROCON INDAH PERKASA
Office: Majapahit Permai Blok B, No. 120-121
JI. Majapahit No. 18-22, Jakarta 10160
Tel. 6221 3850157 (hunting) Fax. 6221 34831225
E-mail: trocon 8 biz.net.id
Produk: Foundation Specialist, Rental Equipment

P.T. TROCON INDAH P E W k


General Conlraclor L Foundation Speclalist

FOUNDATION
SPECIALIST
Rental

Ofllce:
Majapahit Perrnai Blok B, No. 120-121 ,
JI. Majapahit No. j8-22,Jakarta 1016Q
Tel.(6221~W.OIW(hunting~
Fax (E2ZJ) 34#-2=
PT. VSL
Office:
Tel: 021 5700786 Fax: 021 573121 7
E-mail: vslin Bvslin.co.id
website: http:l/www.vsI-intl.com
Produk: Specialist Contractor; Post-Tensioning,Launching, Heavy
Lifting, Box Jacking, Retaining Earth, Slipiorming, Climbforming, tie
Back, RocklSoil Anchors, Structural repair and Strengthenina

I
Post-Tensioning,
Launching, Heavy
Lifting, Box
Jacking, Retaining
Earth,
Slipforming,
Climbforming, tie
Sack, RocklSoil
b
Anchors,
Structural repair
and Strengthening
I
P
MACCAFERRI lNDONESlA PT.
Office: Plaza Aminta #204 JI. TB Simatupang Kav. 10 12310,
Jakarta INDONESIA Tel. 6221 750655 Fax. 6221 7506553
Email: mi 6 maccaferri-asia.com
Produk: Geotechnical products:
Gabions, RenoMattress, Terramesh System (gabion reinforced
soil), Rockfall Netting, RoadMesh (aspalt pavement reinforced).
MacTex Geotextile (woven & nonwoven), MacGrid (geogrid), etc.

m
Environmental
sld~mm
W g J
A
Wher the grass regrows we
were there
J
D

Supply full range of high quality


Geotechnical ~roduets
D.2.11.18. METODE PEMASANGAN URlNOlR

1. GAMBAR SETING

2. PERSIAPAN TlTlK AIR BERSIH I Dltutup plug PF 112

& AIR KOTOR

Minimal 20 mm
Harm ditutup rupaya

3 PERSIAPAN MEMASANG
FLANGE

' r.2
4 CARA MEMASANG FLANGE TYPE T 64 BW

/;g 8%.

/I
I(/ /

1 :
I
Tekan sampab menempel
dl Flange

5. CARA MEMASANG INLET SPUD TYPE T 62-16 1

Bod" Rubber Packing Nut

Skirt packing\
t .- I 3-j
!.- I/

Slip ring washer 1

,' ,
Gambar Prmasanaan ',k'

W a n e body
pasang packing &n
6. URUTAN PEMASANGAN kmungkan ~ u t .
SPUD
1. Masukkan body. 3. ~ l l prinp washer I I
7. C A M MEMASANG HANGER TYPE T 9 RA

PASANG HANGER PADA KETlNGGlAN 820 MM A'


DARl LANTAI KE WOOD SCREW PALING BAWAH
S

I
Wood Screw '1' ,,
1. PasangWood Screw ke 2. Atur ketinggian. 3. Screw kanan dan kiri _
sisi center. dipasang.

8. CARA MEMASANG HANGER


TYPE T 9 RA

Penyetelan ke atas Penyetelan ke bawah

,.-.k

Diberi pengganjal
untuk menyesuaikan
sudut hanger
dengan urinal.

9. CARA MEMASANG SEAL GASKET ,

Sebelum dipasang seal


gasket, benihkan lebih dahulu 1,: :,
I
tempatnya.

'Seal gasket Ieblh mudah


dl psang bila dipanaskan lebih
10. CARA MEMASANG BODY URINAL

!
.*t."=
Patal heal tape
:'*.'* 11.CARA MEMASANG FLUSH
/ :
i:?,fiy?
!\ ;, r!
c - '

I
VALVE TYPE T 60 P
Inlet ' I

Sllp warher >-I,*/


Rubber Packlnn ' i '

..'w
/' BUKA STOP VALVE DENEAN .'k
12. PEMERIKSAAN KEBOCORAN
OEIENG MINUS (- )
Mu. l E L " M A M AIR
SESUAI KEQUTUHAN I
a,
I

J"Ed-
I-?
I '

!
1.1 , LOKASI KEBOCORAN :
BILA TERJAOl KEBOCORAN
CHECK KELEHGKAPAN PAR1
DAN PASANG KEMEALI
DENGAN LEBlH KUAT

.'
D.2.11.19. METODE PEMASANGAN CLOSET

Closet yang dimaksud disini


adalah Closet Duduk.
Metode pemasangan dan 2. PERSIAPAN TITIK AIR BERSIH & AIR KOTOR
urutan pelaksanaan pe-
masangan closet ini disusun
dalam bentuk urut2an
gambar skematis seperti pada
gamabar2 berikut ini:
1. GAMBAR SETTING
CLOSET

3. CARA MEMASANG SEAL G A S E T


TYPE T 830 W 100
4. CARA MEMASANG TANK TRlM
TYPE TX 214 C
PlPA AIR BE RSlH -
/"lTUTUP
VU 100 DlTUTUP
PLASTIK AGAR

GASKET
1

DIPOTONG SAMPAI TINGGI


PERMUKAANNYA40 MM
5. CARA MEMASANG HANDLE LEVER
TYPETH 425 - 2 8 V 11

LOW TANK BALL TAP 6. CARA MEMASANG BODY TYPE CW 668 J


I 1

' I

.
WASHER
NUT
SPINDLE
LEVER
&" HANDLE LEVER
WASHER

LOCK NUT- _ - -<?


7
BODY
*&
:' LOCK -4
m. .NUT
PACKING
INDEX

\ *-
:'"

CAP

\
/
I
1
*.I, 7. CARA MEMASANG TANK1
TYPE SW 668 J

BODY

,.-'
, \

vu 100 .'
CARA MEMASANG STOP
VALW TYPE TS 251 F

,BOLT

-
*

R U B B E R PACKING
SLIP WASHER '

- RUBBER PACKING

10. CLOSET CW 668 J J SW 668 J


TERPASANG

PETUNJUK
PEMASANGANHARUS
SELhLU TERPASANG
PADA BODY
D.2.11.20. METODE PEMASANGAN GENTENG METAL

A. UMUM : B. PERHITUNGAN JARAK RENG :

1. Dalam ha1 penggunaan kaso dan reng 1. Jika atap diakhiri listplank kayu, maka
p e m a s a.n p genteng
.
metal "rainbow" tidak perhitungan reng dimulai dari bawah dengan
berbeda dari pemasangan gentcng lainnya. overlap yang diinginkan (disarankan 7 cm)
2. Perbedaan prinsip adalah pemasangan sehingga jarak reng pertama dari listplank
genteng di mulai dari atas ke arah bawah. adalah 36,5 - 7 = 29,5 cm.
3. Perakitan antara genteng yang satu dengan 2. Jika akhir atap diakhiri dengan talang datar,
lainnya menggunahn paku anti h r a t . maka perhitungan reng dirnzllai dari atas.
4. Mengikuti bentuk atap dengan rnudah h n a
terhuat dari galvanil carnpuran aluminium
yang fleksibel.
5. Walaupun terbuat dari metaI tetapi sangat 1. Pemasangan genteng dimulai dari atas agar
ringan yaitu 116 berat genteng beton + 7 jarak genteng tetap pada posisinya.
h i m z , sehingga dapat dipasang dengan sudut 2. Pemakuan genteng pertama pada lekukan
12' sampai dengan 90'. atas. Untuk yang kedua dan selanjutnya pada
pertemuan atau sambungan 4 buah genteng.
3. Lakukan pemasangan wallfhshing.
4. Kemudian lakukan pemasangan nok atas
persegi.

B.1. ATAP DIAKHIlU LISTPLANK K A W B.2. ATAP DIAKHIRI TALANG DATAR

C. 1. PEMASANGAN GENTENG D A N ATAS C.2. PEMAKUAN GENTENG


D.2.11.21. METODE PEMASANGAN RAILING TANGGA KAYU
DAN BESl
PELAKSANAAN:

1. Marking As & Elevasi untuk posisi 8. Sambung Railing Horizontal untuk Trap
Railing Tangga sesuai Gambar Kerja. berikutnya.
9. Ratakan & haluskan sambungan serta
2, Tentukan let& Tiang Railing sesuai bersihkan Railing Tangga yang telah
Gambar Kerja. terpasang.
3. Pasang Tiang Railing ~ a d aawal Trap
Tangga & pada Bordes Lantai atasnya.
4. Tarik Benang antara kedua Tiang Railing.
5. Pasang Tiang Railing sesuai jarak yang
telah ditentukan.
6. Matikan dudukan Tiang Railing. BORDES
DINDING
7. Pasang Railing Horizontal dengan
menumpu pada Tiang.

TENTUKAN AS
TlANG TANGGA

I I ,

TRAP TANGGA

- Cek ketegakan Tiang, kemudian matikan


dengan Dynabolt.
- Dan agar diperhatikan Sistem Joint
bagian bawah ( Plat Tangga dengan Cover
Plat ).

1 TlANG RAILING

PLAT
DUDUKAN
-b TIANG RAILING

1
/ b TRAP TANGGA
J
-
D.2.11.22. METODE PELAKSANAAN PRECAST MEJA DAPUR

.
PLYWOOD 18 MM
BALOKYIO 600 600
K E M I K DlsAClK PELAKSANAAN PEKERJAAN
N4T KARDUS
EOI 800
P R f CAST MEJA DAPUR
=7 - : ; I - -*\a
, - -&?

=.- I 1-
FL -h
600 600 3 P E N I J A Y C A N SPL51 S E B A G I I
PELdP15 KERhl.llK

4. PASANG RESI YANG TE- 5. DILAKUKAN PENGECORAN


LAH DTRAKIT DI LUAR

---
*
f %, >
"2~!
-

;I
* <
P\-. -- a

1
X
I

w I;
6 PENGECORAN SELESAI 7. I'AbANG PHLWST KITCHEN
SINK ( MEJA DAPUR ) SEESUAI
LOKASI YANG ADA
BUKUREFERENSI

-
---
UNTUK KONTRAKTOR

-
PENGUAT

BALOK 5/10

POTONGAN-A
1."
GEDUNG
BANGUNAN

9
DAN SIPIL

POTONGAN MEMANJANG
PLYWOOD SBG

POTONGAN MELINTANG

---
w-1s
KERAMIK
SISI KANAN ADA
KERAMIK

S1S1 KlRl ADA

L*r
r*rn
S

-
-h"d*nul

-. -
-w*

-"=,-
ChTAThN

*
W DRAHRNG

-"-

-
-
z -
= :
:=-
lOCM(Fash1 3 r
I,
1 1 1

-1
1.
LY.
"YE.-
"&-*.--
C L .
9 10-150 w m
urn
' m Y
OBNAHPRKASTMHABl3ON
-:.:m - I n - 1 -
m

.,
3. I".
1
I
--- '"
50-*-m

8. GAMBAR SHOP DRAWING PRECAST MEJA DAPUR


D.2.11.23. METODE PELAKSANAAM PEKERJAAN TOPI
JENDELA

A. KONDlSl AWAL :

TAMPIAS AIR HUJAN


MENYUSUP MELALUI
CELAH SEALANT

6. RENCANA TINDAK LANJUT -

AIR HUJAN YANG


MENYUSUP MELALUI
CELAH SEALANT
DITAHAM DENGAN 4
TONJOLAN ADUKAN

KETERANGAN :
- Fabrikasi Aluminium dilakukan di Workshop.
- Opmiag disiapkan dengan bantuan Md.
- Opening bagian bawah dibuat Precart.
- Opming disiapkan sarnpai Cat Dasar.
- Pada saat pemasangan Aluminium, Opening
disiapkan sampai Finish,
C. METODE PELAKSANAAN :

n-
STEK TlAP - Fabrikasi dilakukan di workshop
J A W K 30 CM - Opening diisi.

BEKlSTlNG I \ POTONGAN WIREMESH

TONJOLAN l TANGGULAN

- - - -

PEMASANGAN PRECAST

BEKlSTlNG- BALOK
.. .
PRAKTIS

VENT BLOCK

PASANGAN BATA
-
=
I.)
D.2.11.24. METODE PELAKSANAAN PRECAST TALI AIR

F
"
I'
/
/
1I. .
F /

!> I
.,

SYSTEM PRECAST ' >\.

UMUM
Proyck Tnfrastruktur -*-& +

Bendungan Wonotejo -
Tulungapng sebagian
terdiri dari bangunan-
bangunan pendukung
ukuran kecil, finishing
plesteran dinding pada
bangunan rersebut diberi
1;9LT AIR
+
Pada b e h p a
an dengan pelaksanaan 1
di&m+pisau a
cutter yang kemudian
difhish kern& diperoleh 4
hasil akhir dari tali
air yang KURANG Tali Air LURUS clan RAP1 hanya tercapai 4-1- 70%
MEMUASKAN.
Team Proyek akhirnya mencoba rnembuat inovasi denp membuat tali air dari P M U S 3 :
Dasar pemikiran : rn
/@ -
Mengurangi faktor
>d\kesalahan tenaga
ya
%%
k,nrja
-Penggunaan alat
cutter secu kupnya

- Suara bising &


berdebu

CE7AKAN TALI AIR PRECAST

URUTAN KERJA :
+ Mernpersiapkan cetakan precast

Lem putih. L7*-


* Chipping pasangan bata untuk posisi tali !T--.
pw,, %
$\

air dengan kedalaman +/- 1 cm


Pasang tali air precast dengan p a h dan
pengisian dengan mortar dengan tarikan
b e n a n ~arah vertikal dan horizontal. Tali 1
Pelaksanaan pelcerjaan plesteram.
I
PT. FRANKlPlLE INDONESIA
Office: Pusat Perkantoran Graha Kencana Blok EK.
JI. Raya Perjuangan No. 88, Kebon Jeruk Jakarta 11530
Tel. 53660778 Fax. 53660779 -5325987
E-mail: franki @ indo.net.id Website: www-frankipile.co.id
Produk: Deep Foundation, Retaining Wall,
Ground Improvement

Ground lmproven

Tarnan Kantor Qraha A


JI. Ngagel No. 178-183
-
TeI, 031 5014943 501
Fax. 031 5014B43
PT.BAUER PRATAMA 1MDONESlA
Jakarta Office: Cilandak Commercial Estate Building
t 10 NGW JI. Cilandak KKO Raya, Jakarta 12560
Tel. 6221 7803865 (hunting ) Fax: 6221 7824183
E-mail: bauerina8 indosat.net.id
Produk: Bored piles, Post Grouted Bored Piles,
Secant Pile Wall, Diaphragm Wall, etc.

Pf W E R PRATAllllA I IWNECIA
INTERNATlONAL FOUNDATION SPECIAUST

Specialization :

Bored piles
Post Grouted Bored Piles
Secant Pile Wall
--:?q!g Diaphragm Wall

I
:
. <'
Vibro Compaction
Dynamic Compaction
Pile Loading Tesi

h L
Jakarta Of :
Clandak Commercial Estate
Building 110 NGW J t Cilandak
KKO Raya, Jakarta 12560
Phone : +62 (21) 7803885
(hunting ) Fax: +62 (21) 7824153
E-mail : bauerinaaindasat,net.id
PT. STAHLINDO NUSANTARA
Office:
JI. Jelambar Jaya l l No. 76 Jakarta 11460, Indonesia
Tel. 6221 566 5738,565 2987 Fax. 6221 566 5738
Produk: Building Supplies & Contract Services

Jl. Jelambar Jaya Jt No. 7B


I -
Jakarta 11460, Indonesia
Tel. (6221) 566 5738,566 29.8
1
Fax, (6221)566 57'2
W. INTERWORLD STEEL MILLS INDONESIA
Offlm: JI, P, Jayakarta 131 A144.45 Jakarta 10730, Indonesia
Tm1.6221 6307070,0008118 Fax. 8221 8302615,6390830
Produk: Plan Bars. Deformed Ban,Steel Blllets, Equal-angle
Bars, Channerl Bars,

\ 7 *<-

a n w o ~ ~STBBL
u M ~ L SINDON [A
$41, P, JayaItarta 1Sl bl44-46 Jakarta 10730, hdo~,,a
B1 H O ' W , SOW118 F a 6221 4W28tP1, B M
~ o l g Jl.Muam
~ h Bgfil (Huh) No. t2 Jakatta 14440, North Jakarta, tndwresla.
I'~ b l . BBB 5152,661 2589, BBO 2824. &9 1448. F~x. 6221 Bet 2682
swa &take, Tangwnl 1. 10, Tangeramg, Indonesia,
,m PA.- mmm* -a* c.-
Cara Pemasangan.
Ciping pas batu bata
pada bidang yang akan
dipasang
Precast -
Bidang yang
Akan lebih mudah bila pasangan Akan dipasang
bata ditonjolkan ke bagian dalam, Pre Cast
Kernudian bidang yang menonjol
dikepras.

d a l yang perlu diperhatikan adalah pada sambungan precast dan plesteran baru
D.2.11.25. METODE PELAKSANAAN PRECAST CONSOLE

" PRECAST CONSOLE " SEBAGAI


ALTERNATIF STRUKTUR ATAP TRITISAN

Melihat dari design jnishing luar gedung, tampak


bahwa unsur Etnik & Tradisionil sangat ditonjolkan
sehingga dalam pekerjaan strukturnya harus diren-
canakan dan dilaksanakan secermar mungkin.
Secara umum Konstruksi Beron Konsol rersebut
sederhma, namun karena jumlah Konsol yang cu-
kup banyak clan penuh dengan profil, maka penger-
jaannya tidak bisa sesederhana yang dibayangkm
karena disinilah kesan Arsitektur Bangunan di-
tonjolkan. Adapun dari beberapa M i pengalaman
pengerjaan beron konsol, sering terjadi kesalah-
an-kesalahan s e b a p berikut :

Benruk yang ridak seragam.


Pemasangan Bekkting yang rumir.
Ujung - ujung Konsol yang ridak segaris.
Beton Konsol ngolet, gripis, ngeplint, dan sebagainya.

Untuk mengatasi kesuiitan - kesulitan


diatas, maka Tim Proyek sepakat
membuat Beton Konsol dengan casa
Becmt. Karena berat per unit Konsol
sekitar 250 kg, sehingga untuk
penyetelannya cukup mengguhakan
Tackle. U n t u k memudahkan
pengangkatannya, Konsol Recast ini
di produksi di masing - masing
lancai.

Sedangkan cetakan (Bekirting)


PRECAST CONSOLE Konsol Precast ini menggunakm
FiberRhs dengan sistem ditelakupkan
dan dikunci d e n p Baut agar lebih
TAMP. SAMPING
Praktis. Sistern ]oint antara
Konsol Precut dengan Kolom
Beton adalah dengan mengk;utkan Siku yang ditanamkan di Konsol h e c f i t ke Stek Besi yang
sudah tertanm p d a kolom.
1
Urutan Pengerjaan Konsol Precast
tersebut adalah sebagai berikut :

I. Pada saat pengecoran KoIom,


maka pada sisi luar diberi stek
untuk rnengkaitkan Konsol Btcmt.
Besi yang digunakan untuk stek
adalah diameter 16 mm, dibeng-
kokkan masuk ke dalam Kolom
sampai keluar mepet dengan Be-
kisting Kolom yang mana t& di-
tentukan elevasinya, clan disela-sela-
nya diberi Styr@am serebal Se-
limut Beton.

'embesian Konsul Precast 2. Mempersiapkan penulangan unruk


Konsol Precast termasuk juga Besi
Siku 70.70.7 untuk kaitnya.

3. Mempersiapkan CetakantBekistingdariFibregh dilantai yang ada KonsoI Beronnya, kemudian mencetak


Konsol Precast Beton tersebut.

4. Setelah sehari Bekisting dibongkar dan dilanjutkan untuk yang lainnya, demikian seterusnya.

Konsol Precast yang sudah dibuka


di curing dengan Cornpon Anrisol
(Sika), dan setelah umur 7 hari
baru bisa diangkat untuk dipa-
sangkan.
Rngangkatan Konsol Precast ini
dengan mengguna-kan Tack15 clan
Kaki Tiga (T+od ) , pengerjaannya
dengan hati - hati sampai kedua
Besi Siku terkait pada Angkur Stek
yang di Kolom.
Kemudian mengatur posisi Kon-
sol agar kedudukannya benar-benar
presisi clan lot pada elevasi yang
dikehendaki. Jadi ujung konsol
yang satu dengan yang lain bisa
segaris.
8. Setelah kedudukan Konsol sudah
benar, angkur yang terkait dilas dan bagian lain yang masih terbuka ditutup untuk selmjutnya
diisi dengan grouting agar pada joint ada perkuatan.
9. Demikian seterusnya untuk penyetelan Konsol Precast lainnya.
MANFAAT PENGGUNAAN PRECAST
CONSOLE :

Tidak mengganggu Proses Bekisting


maupun Cor Kolom.
* Proses finishingnya relatif lebih cepat
clan lebih mudah.
* Hasilnya lebih seragam.

PROBLEM SAAT PEMASANGAN PRE-


U S T CONSOLE :

*
Banyaknya profil pada Becmt meng-
akibatkan sulirnya proses pembukaan
Bekistiq (harus hati - hati agar tidak
pecahlgumpil di ujung-ujung profilnya).
Waktu pengewran Konsol, pemasangan Angkur u pads Konsol harus benar - benar lot As &
segaris vertikal untuk rnempermudah penyerelan.

KEUNGGULAN PENGGUNAAN PRE-


CAST CONSOLE :

* Bentuk Konsol dijamin bisa seragam.


* Beton Konsol tidak gripis, melintir
dan lain lain.
* Ujung Konsol bisa segaris, kasena
., -
&c>myd bukan dari BtkIsti~~gn~a
seperti jika sistern Cor In - situ.
* Proses produksinya ridak tergantung
dari kegiamn yang lain.

KELEMAHAN PENGGUNAAN PRE-

*
I CAST CONSOLE :

Memedukan d a t bantu tersendiri ( Tack.& ) untuk pemasangannya.


Karena berat Konsol tersebut + 250 kg, maka penyeteian pada Kolom srrukturnya agak sdit.
Adanya Cetakan khusus ( Behisting} dari Fdbreghn unruk proses pembuatannya.
D.2.11.26. METODE PELAKSANAAN PEKERJAAN LISTPLANK-
PRECAST

BEKESTlNG
TAU AIR

bNQKUR
DUDUKAN

UMUK
LOEAIG
ANGKAT
,
I
PRECPST

BEKrnG

COR
PRECrn

BEKISTING, PEMBESIAN & PEMGECORAN

P R E C h m SIAP
DIANGKUT

LOR,

...-
PENGANGKUTAN PRECAST
BUKU U M U K KONTRAKTOR
REFERENSI BANGUMAN DAN SIPIL
GEDUNG

TRECK -
CHYN
BLOCK -
PENGANGKATAN PRECAST

TRECK

w
m u
EWCK

7mK
4NOK4T
PRECRST

SETELAH ERECTION

TAMPAK SAMPING KANAN

TAMPAK SAMPING KANAM


METODE PELAKSANAAN PRECAST LISPLANK
ATAP
* URUTAN PELAKSANAAN :

A. PERSIAPAN
B. PELAKSANAAN L4NThI KERJA
LANTAI KERJA &
C. ALAT BANTU I BEKlSTlNG PRECAST
PENOL FlLM 18 MM BEESTING

___1
PENOL FlLM 18 M BEKESTIW
DlNOlWG
I
WLOK 6/32 BEKESTIW DlNDlMG

-
TAHPAK ATAS

PEMBESIAN PRECAST
LISPLANK
ANGKUR TlTlK
ANGKAT

ANOKUR LAS 0 18

BESr d 8 - 150
PENOL FlLM 18 MM

r
lI I
GABUS UNTUK SPARING

T BEKESTtNG PLAT
FOTO DINDAK R W A H
DEffiAN BETUN PRECAST

D M D I m DEffiAN
BETOlV PRECAST
e
PNQKUR mlK ANOWT PRECAST d 16

PEMASANGAN TRASS
TAMBAHAN

W U L TMS
LANGKAH KERTA : TAMBAHAN

Pabrikasi dibawah dilanmi dua


Dibawa dengan Lori untulr &pasang Di Konsul
Atap
Tras rnenggunakan Besi d 22 silang Besi D 13
Alat bantu Chain Block, TaBd , Mini Crane
Dan Lori.

5.b PEMASANGAN PRECAST


D.2.11.29. METODE PELAKSANAAN PRECAST PANEL GRC
SUN SCREEN
A. PERALATAN YANG DIGUNAKAN . TAMPAK ATAS

1. GENSET
2. MIXER ( PENGADUK A D U m )
3. ALAT SEMPROT DUA LUBANG
4. PERALATAN RINGAN -
POTOMGAN A A

B. BAHAN YANG DTGUNAKAN :

1. FORMWORK :

- KArU
- PLYWOOD t = 12 rnm
- MIKA
- PAKU
- LILIN MAINAN ATAU SETARA
- MINYAK BEKISTING ATAU SETARA
2. GRC :

- PASIR
- SEMEN 1 BEKlSTlNG
- FIBER
- AIR
- LEM BETON ATAU
SAMBUNGAN DIISI
SETARA LlLlN MAINAN
/ MIKA t = 1 mm
C. PELAKSANAAN :
1. RANGKAIIPASANG
PANEL BEKISTING
SESUAI GAMBAR
RENCANA.

. LAPIS1 BEKISTING
TERSEBUT DENGAN
MIKA, DITEMPEL
DENGAN LEM PLY-
WOOD.

3. PADA SAMBUNGAN MIKA DIISI DENGAN LILIN MAINAN DAN DIRATAKAN


DENGAN SKRAP

4. BUAT PANEL BEKTSTING DAM PLYWOOD DAN KAYU SESUAI GAMBAR


RENCANA.
BUKUREFERENSI
UNTUK KONTRAKTOR GEDUNG
BANGUNAN DAN SIPIC

5. SEBELUM DISEMPROT
GRC, BEKISTING DIPOLES
DENGAN MlNYAK
BEKTS TING.
AYAK PASIR, KEMUDIAN
CAMPUR DENGAN SE-
MEN DENGAN UKURAN 1
: I DAN AIR KEDALAM
MIXER. LAPISAN 2 sld 4 ( MORTAR + FIBRE)

ADUK SAMPAl RATA,


KEMUDMN SEMPROTKAN
MOR
ADUKAN TERSEBUT
UNTUK LAPISAN PERTAMA. FIBRE

8. PADA MPISAN KE 2 S/D 4


SEMPROT DENGAN
ADUKAN SEMEN DAN PASIR BERSAMAAN DENGAN SERBUK FIBER.

9. SETIAP HABIS -PEWEMPROTAN, DIPADATKAN PER LAPIS DENGAN ROL


( SETARA ROL CAT }.
10. PADA LAPISAN KE 5 HANYA DISEMPROT DENGAN ADUKAN SEMEN DAN
PASIR UNTUK FINISHING, SEHINGGA MENCAPAl KETEBALAN 8 MM S/D 10
MM.

11. MRA- KIRA ADUKAN


PEMADATAN TlAP LAPIS
W P I R MENGERING,
PERMUKAAN DIGOSOK
DENGAN SKRAP UNTUK
FIMSHING AKHIR

12. KURANG LEBIH 24 JAM


BEKISTING DZLEPAS DAN
PERMUKAAN YANG
KURANG SEMPURNA DAM
HASIL PANEL GRC
DIPERBAIKI DENGAN
ADUKAN SEMEN DAN LEM FINISHING
BETON.

13. PANEL GRC SIAP


DIPASANG SETELAH
UMUR KIRA-KIRA f 7
HAM.
PELAKSANAAN PEKERJAAN
PANEL GRC SUN SCREEN
PT IDEA UNGGUL PRACETAK

AYAKAN PASIR KWARSA RNGADUKAN PASTA SUJRY

%RAT FIBEA Y A W SLRIAH AIAT MIXER UNTUK


MPOTDNG E M B U A T PASTA m Y

ENfEMPROTAN PADA
PEMBENTUKAN P A N L

PROSES PEMBLWUKAN PANEL FAWN MATERIAL UNTUK PROSES


DENGAN MENGGUNAKhN KUAS FIHISHiNG

PROSES FINISHING AKHlR TEMPI. .


. ,.at4
MATERIAL SEBELWM DlKlR lM
D.2.12. METODE PELAKSANAAN PEKERJAAN MEKANIKAL
ELEKTRIKAL
D.2.12.1. METODE PEMASANGAN FIRE ALARM

* MATERIAL Blok Diagram Fire Alarm


Peralatan utarnafire
alarm
Detectorspeaker
Kabel instalasi
Konduit
terminal box
Material bantu

* PERALATAN
Tang, Obeng dl1
Waterpass
Kunci pas

Urutan Pelaksanaan Pemasangan Detector:


1 Marking plafon dengan kapur 1 spidol
2 Tarik kabel instalasi ke luar plafon
3 Pasang Detector & sambung kabel instalasinya
4 Kencangkan Detector dengan sekrup Urutan Pelaksanaan
1 Pemasangan instalasi konduit
5 Lindungi detector dari kotoran cat & debu
2 Pemasangan kabel instalasi fire alarm
3 Pemasangan Instalasi rak kabel
4 Pernasangan terminal box
5 Pernasangan detector
6 Pemasangan peralatan utarna

I Pipa konduit 1
plat lantai
t
D.2.12.2. METODE PEMASANGAN INSTALASI TELEPON

Material Peralatan
PABX Tang, Obeng dl1
Pesawat Telepon Waterpdss
O a t h Telepon Kunci pas
Kabei insralasi
Konduit
Terminal box
Material bantu

Urutan Pelaksanaan
Pemasangan Instalasi Konduit
Pernasangan KabeI Instalasi Telepon
Pemasangan Instalasi Rak KabeI
Rmasangan Zrminal Box
Pemasangan Oatfct Telepon
Pemasangan Peralacan Utama

Blok Diagram Telepon


Peralatan Utama Telepon

1 TBT
'
1

---+ Kabel power


+ Kabel Data
+ Kabel Extension
+ Kabel Sal. Langsung
PT MEGAH BANGUM BAJA SEMESTA
Office & Workshop:
JI. Manis No. 9, Zona lndustri Manis
Jatake, Tangerang
Tel. 5918591,5918592 Fax. 5918593
Produk: Structural Steel Fabrication and Erection
PT INASA WAHANA LESTARI
Off ice: JI. Peta Selatan No. 88 Kalideres, Jakarta Barat 11 840
Tel. 619981,6195868,6 198432,5402792
Fax. 6199103,6198208
E-mail: inasajkt@hotmait.com
Produk: *Steel Construction*Special Fabrication
General Construction*MateriaIHandling Fabrication Equipment
*Civil Work (Concrete Struciure)*Sanblasting + Painting

PT INASA WAHANA LES'I'ARI

a I
.;
rekan Anda dalam pembangunan
Steel Construction
Special Fabrication
General Construction
Material Handling Fabrication Equipment
* Civil Work (Concrete
PT JAGAT BAJA PRIMA UTAMA
Office: Total Building 10th fl.
JI. Letjen. S Parman 106A, Jakarta 11440
Tel. 021 5680550 {hunting) Fax. 5680551
E-mail: jagatcos @cbn.net.id
Produk: Structural Steel Fabrication and Construction

1
OffiCe: Total Buildir
JI. ~etjen,!~Parmar
Tel. (021) 5680550 (huliting) Fw.568055
E-mail: jwatcos Bcbn
PT. G ELAR GATRALARAS
Office: Gedung SENATAMA Room 201
JI. Raya Kwitang No. 8 Jakarta Pusat
Tel. 021 31 54884,3154887 Fax. 021 3154884
E-mail: ggl598centrin.net.id
Produk: Steel Specialist & Expert
METODE PEMASANGAN SOUND SYSTEM

Blok Diagram Tata Suara Blok Diagram Tata Suara


Peralatan Public Address
Materid
Peralatan Utama Sound System
I - Speaker
Kabel Instalasi
Konduit
Terminal Box
Material bantu
Peralatan
Tang,Obeng, dl1
Watevass
h c i pas
Peralatan C
R 0

Urutan Pelaksanaan Pemasangan Ceiliag Speaker


Mmka'ngphjh dengan kapur 1 spidol
Urutan Pelahmaan Lubangi plafond sesuai marking untuk akustik
Pemasangan inscalasi konduit koordinasikan dengan rangka plafond
Pemasangan insdasi kabel round system Pasang ceiling speaku & sambung kabel instalasinya
- instdasi rak kabel
Rmasangan Kencangkan speaker dengan disekrupkan pada cell-
Pemasangan terminal box irrg
Pemasangan C~ilingSpeaker Lindungi speaker dengan masking tape untuk
Pemasangm Horn Speder mencegah kotoran & debu
Pemasangan wall Speaker
Pemasangan Volume kontrol
Pemasangan Peralatan utama

/ plat lantai

- \ Ceiling speaker
\ Ceiling gypsum
Urutan Pelaksanaan
Pemasangn Horn Speaker
1 . Marking & tandai lokasi horn speaker
2. Buat pondasi speaker lengkap angkurnya
3. Pasang tiang speaker
4. Pasang horn speaker & sambung
il~stalasinya
5 . Lindungi speaker dari kotoran cat & debu
SOUND SYSTEM SCHEDULE DIAGRAM SRPS-2
Il01 10 S a l t

SOUND SYSTEM SCHEDULE DIAGRAM SRPS-3


MJT m scur

PVC CONDUIT

FLEXIBLE CONDUIT

CEILING SPEAKER 3 W A l T
D.2.12.4. METODE PEMASANGAN CCTV

Material

mMonitor
Gmm
Kabel instalasi
Konduit
Terminal Box
Material bantu

Tang, Obeng, dl1


' Wate'pan
Bending konduit

Urutan Pelaksanaan

I . Pemasangan instalasi konduit


2. Pemasangan instalasi kabel CCTV
3. Pemasangan instalasi rak kabeI
4. Pemasangan t e r m i d box
5. Pernasangan peralatan CCTV

Urutan Pelaksanaan Pewangan CCTV

1 Marking lokasi penempatan TV monitor dan Carnerd


2 Pasang TI/ Monitor
3 Pasang Camera
D.2.12.5.. METODE PEMASANGAN MASTER CLOCK

MASTER CLOCK

Material
Master Clock
Shvt chck
Kabel insralasi
Konduit
terminal box
Material banru

Peralatan
Tang, Obeng dU
wdt'pms
Bending konduit

Urutan ~elaksanaan
Pemasangan instalasi konduit
Pemasangan instalasi kabel
mdster clock
Pemasangan instalasi rak
kabel
Pemasangan terminal box
master Pemasangan master clock dan
slave slave cbck

Urutan Pelaksanaan Pemasangan Shve Clock


I. Marki~gdinding dengan kapur / spidol
2. Pasang shve clock dengan cara digantung pada paku ramser
3. Hubungkan 30 slave clock dengan 1 wifiter clock
D.2.12.6. METODE PEMASANGAN RADIO KOMUNlKASl

. ....

Material
Tower Antena
Antena
Repeater
knrmitter
HT
Peralatan
Kunci Pas
Tang, Obeng, dl1

Urutan Pelaksanaan
Marking lokasi tower antena
Dirikan tower antena
Pasang penangkal petir & lampu tanda
Pasang antena
Pasang 6ox repeater dibagian bawah antena
Pasang instalasi radio komunlkasi
Pasang tmnsmitter & Accessories-nya diruang kontrol
Lakukan pernograman
DETAIL 2

I WBlLE RADIO
COMMUNICAION

MOBILE UNIT
(AMBULANCE)
D.2.12.7. METODE PEMASANGAN FlRE FIGHTING
A. Material

Pompa - pornpa
Valve
Pipa Gip/black steel
Hydrant box & Accessories
Hydrant Piklar
Shmese Connection
H a d Sp rinkjer
, Fire Extinguisher
Material bantu
Blok Diagram Pemadam Kebakaran
0. Peralatan
m a i n las
gerinda tangan
bor duduk & bor tangan
take1
kunci pipa, kunci pas, dsb

C. Urutan Pelaksanaan
C .1. Pemasangan Pipa Indoor

1. Mark%~g jalur pipa sesuai shop draw


ing dan koordinasikan dengan jalur.
pekerjaan lain s e ~ e r t jalur
i pipa AC,
Plam bin& Fay Cable dll.
2. Potong pipa sesuai ukuran
kebutuhan.

3. Lapisan pipa Bhck Sred (GIP jika &an di cat seluruh pipa) dengan cat dasar (zincromate).
4. Setelah dicat dasar lapisi pipa dengan car merah.
5. Pasang gantungan maupun support pipa sesuai hasil marking.
6. Pasang pipa GIPlBlack Steel sesuai ukuran pada shopdrawing,penyambung pipa diameter kurang
dari 2,5 inchi dengan drat dan diameter 2,5 inchi ke atas dengan Ias.
7. Gunakan benang & watqmss untuk mengukur kelurusan pipa.
8. Lakukan pekerjaan pengecatan untuk daerah sambungan pipa.
9. Lakukan test tekan pipa dengan tekanan sesuai spesifikasi yang berlaku.
10. Untuk pemasangan pipa dropper fire sprinkler harus dikoordinasikandahulu dengan pekerjaan plafon
(arsitek) dan pekerjaan ME lainnya.
11. Lakukan test tekan ulang jika pipa dropper telah terpasang.
1. Mdrking jalur pipa.
2. Gali jalur pipa dengan kedalaman sesuai
elevasinya.
3. Sambung pipa di atas galian.
4. Lapisi pipa dengan zincromat.
5. Lakukan test tekan pipa dengan tekanan
sesuai spesifikasi teknis yang berlaku.
6. Beri lapisan pasir pada dasar gdian.
INSTALASI PlPA
7. Turunkan pipa ke dalam galian. SPRINKLER
8. Lapis kembali galian dengan pasir.
9. Urug galian.

C.3. Pernasangan Hydrant Box Indoor


INSTALASI PIPA SPRINKLER
1. Marking lokasi penempatan hydrant box
dengan ketinggian bagian aras 150 cm. C.4. Pernasangan Hydrant Box Outdoup; Pillar dan
2. Bobok dinding bata sesuai ukuran marking. Siamese Connection
3. Pasang hydrant box pada posisinya.
4. Pasang instdasi pipa yang menuju hydrant HYDRANT BOX
box.
5. Lindungi hydrant box dari kotoran clan cat. 1. Marking lokasi penempatan hydrant box.
6. Accessories hydrant dipasang setelah kondisi 2. Buat pondasi hydranr box
proyek aman. 3. Pasang hydrant box pada posisinya.
4. Lindungi
-
hydrant:
.
box dari kotoran dan cat.
5. Accessories hydrant dipasang setelah kondisi
HYDRANT PILLAR proyek aman.
1. Marking lokasi penempatan Hydrant pillar &
Siamese connection
2. Gali lokasi marking dan jalur pipa yang C.5. Pemasangan H e d Sprinkbr
menuju ke posisinya. 1. Pemasangan dropper dilakukan jika plafon celah
3. Sarnbung instalasi pipa yang menuju ke lokasi terpasang
H'drant Pillar maupun Siamese connection. 2. Gunakan seal tape untuk penyambungan sprin-
4. Pasang Hydrant pillar dan Siamese connec- kler ke pipa dropper.
tion. 3. Lindungi Head sprinkhr dari kotoran dan car.

C.6. Pemasangan Pompa

1. Marking lokasi penempatan pompa. 6. Atur pressure switch pompa sebagai berikut
2. Buat pondasi pompa, perhatikan kelurusan & - Pompa jockT On posisi 8,5 Bar
rata pondasi. Ofposisi 9 Bar
3. Pasang instalasi pemipaan r u n g pompa terkbih - Electric Pump On posisi 7 Bar
dahulu. Of manual
4. Pasang Pompa dan vdve-udue nya. - Diesel Pump On posisi 6 Bar
5 . Sambung instalasi daya ke pornpa. Offmanual
7. Lakukan running test pompa.
C.7. Test Fire Fighting

TEST HYDRANT

1. Tutup seluruh kran pada hydrant box dan hydrant pillar.


2. Siapkan selang pemadam sesuai ukurannya.
3. Posisikan pengatur pompa pada auto
4. Buka valve pada hydrant box maupun hydrant pillar

TEST SPRINKLER

1. Buka Valve pada instahi $re sprinkler.


2. Siapkan operator penutup valve pada lantailzona yang akan ditest.
3. Posisikan pengatur pompa pada auto.
4. Panasi head sprinkler dengan api.
5. Setelah sprinkfer pecah dan test dinyatakan OK, segera tutup valve pada instalasi yang menuju daerah
test
6. Ganti head sprinkler yang pecah dengan yang baru.
D.2.12.8. METODE PEMASANGAN AC CENTRAL

A. Material

1. Chiller
2. AHUIFCU
3. BJLS
4. Pipa Gipl Bhck Steel
5. Pipa PVC
6 . Bahan isolasi
7. Dn$;Eer dan griII
8. Material bantu
) POMPA
CHILLER

1 . Mesin las
2. Gerinda tangan
3. Bor duduk & bor tangan
4. Gunting seng
1NSTALASI
5. Take1 DUCTING AC
6. Kunci pas, obeng, tang dsb CENTRAL

C. 1. Pemasangan Ducting

Buat cutting List ukuran ducting & jsn'ng-nya yang akan dipasang
Cetak ducring sesuai cutting list yang diminta (di workshop)
Buat fitting ( dhow 1 percabangan } duccing
Pasang isolasi ducting dengan g h s woll dan alskminiaw foil
5. Marking j d u r dacting
6. Pasang gantungan Lcting dengan ketinggian sesuai elevasinya
7. Pasang ductlng
8. Test kebocoran ducting dengan sinar lampu saat malam hari
3. Pasang isolasi pada sambungan ducking
C.2. Pemasangan Pipa Chihr

PIPA INDOOR

1. marking jaIur pipa


2. pasang gantungan pipa dengan ketinggian
sesuai dwasinya
3. pasang pipa pada gantungannya
4. smbung pipa d e n p n las
5 , rest pipa dengan compwsor
6. pasang isolasi pipa per satuan panjangnya

Blok Diagram Tata Udara PIPA OUTDOOR

1 , marking j d u r pipa
2. gali jalur pipa dengan kedalaman sesuai
elevasinya
3. sambung pipa di atas galian
4. Iakukan test tekan pipa
5. pasang isoIasi pipa
6. beri lapisan pasir pada dasar galian
7. rurunkan pipa ke dalam galian
8. lapis kembdi galian dengan pasir

C.4. Pemasangan Chiller

1. marking pondasi che'hr


1. markkg lokasi penempatan AHUlFCU
2. buat pondasi chilIer
2. pasang gantungan
3. letakkan chiller pada pondasinya
3. pasang AHUlFCU
4. pasang spring rnounring chikker
4. pasang karet mounti~sg dan kencangkan
5. sambung instalasi pipa chiller Iengkap dengan
bautnya
wlvmya
5. sambung pipa chiller & draint serta ducting
6. sambung instalasi listriknya
ke unit
6. pasang insralasi listriknya
C.5. Pemasangan Pompa Chiller

1. marking pondasi pompa chiilfr


2. buat pondasi pompa chihr
3. lerakkan pompa chiller pada pondasinya
4. pasang mounting chi&
5 , sambung instalasi pipa ke pompa chiller
Iengkap dgn vakuenY~
6. sarnbung instalasi Iistriknya
D.2.12.9. METODE PEMASANGAN AC SPLIT

A. Material

Indoor Unit
Outdor Unit
BJLS
pipa copper
pips PVC
bahan isolasi
d z f i e r dan p'kk
material bantu

mesin Ias
gerinda tangan
bor duduk & bor tangan
gunting seng
take1
kunci pas, obeng, tang dsb

mdmr unn
II
C.1. remasangan Ducting I 1 unn I
1 . Buat cutting list ukuran ducting &
jthng-nya yang akan dipasang
2. Cetak dum'ng sesuai cutting list yang
diminta (di workhop) ducting
3. Buarfitting ( elbow / percabangan )
ducring
4. Pasang isolasi ducring dengan ghs
wall & duminium foil
5 . Mmking j alur ducting
6. Pasang gantungan ducting dengan ketinggian sesuai eIevasinya
7. Pasang h c t i ~ g
8. Test kebocoran dakcting dengan sinar lampu saat malam hari
3. Pasang isolasi pada sarnbungan ducti~g
C.2. Pemasangan Pipa Rejhgerant

1 . Marking pipa / rak pipa


2. Pasang gantungan rak pipa dengan ketinggian sesuai elevasinya
3. Pasang rak pipa ( untuk satu jalur lebih dari 2 pipa)
4. Pasang isolasi pipa copper per satuan panjangnya
5. Pasang pipa pada rak / gantungannya
6. Sambung pipa dengan las tembaga
7. Test pipa dengan compresor
8. Rapikan isolasi pipa

C.3. Pemasangan Indoor Unit

1. Marking lokasi penempatan indoor unit


2. Pasang gantungan
3. Pasang indoor unit
4. Pasang karet mounting dan kencangkan bautnya
5. Sambung pipa copper dan ducting ke unit
6. Pasang instalasi listrikn~a

C.4. Pemasangan Outdoor unit


1. Marking pondasi outdoor unit
2. Buat pondasi outdoor unit
3. Pasang dinabolt pada pondasi
4. Pasang outdoor unit lengkap dengan mountingnya
5. Sambung pipa ke outdoor unit
6. Sambung instahi listriknya
D.2.12.10. METODE PEMASANGAN INSTALAS1 AIR BERSIH

INSTALAS1 AIR BERSIH

Yang dirnaksud Instalasi air bersih disini


adalah :
a) Sarana pipa unruk menyalurkan air bersih
dari sumur pornpaldeep welklke pemakaian
langsung atau kt: bak pcoampung (reser-
voir) meldui pompa distribusi.
b) Sarana pipa dari reservoir ke tiap-tiap titik
pemabian (krm, w r e s sanituy) dengan
sistim gravitasi atau dilengkapi pompa
boster bila tekanan air diperlukan lebih
besar dari tekanan gravitasi.

A. Material

Pompa-Pompa (delivery,distribacsi, booster)


Tangki Resetvoir (&paritas masing-masing dafesuaikan dg. Kebutuhan 1
Pipa Galvdnized (GIP) class medium
Pipa PVC (class AW, VP}, Pipa ABS
W v c (Gate valve, check uukve, maimed, flmMbIe,
conaection, f i s t vdbe).

Fitting Gaianized (tee, elbow,


7 reducxr, socket, flame, dll)
Fitting PVC (it:ekbow redacm
socket, &me, do
Fitting A0S (tee, ebow redace
socket, @me, dll)
Material Bantu (lem PVC, seal
1 tape, pmggmtung, cbmp,
I

Mesin Las
Gerinda Tangan
Bor Duduk & Bor Tangan
Take1
Kunci Pipa, Kunci Pas
Mesin Senai
8lok Diagram Air Bersih Shafi
Vekanikal

a. Marking jalur pipa sesuai shop drawing dan koordinasikan dengan jalur pekerjaan lain seperti jalur pipa
AC, Air Kotor, Fire Fighting,Zay CabL dll.
b. Potong pipa sesuai ukuran kebutuhan.
c. Lapisi pipa Gip (jika akan di cat seluruh I daerah Expose) dengan cat dasar (zincrumate).
d. Setelah dicat dasar lapisi pipa dengan cat {warna sesuai spesifikasi teknis).
e. Pasang gantungan maupun support pipa sesuai hasil marking.
f. Pasang pipa GIP sesuai ukuran pada shop draaua'ng, penyambungan pipa diameter kurang dari 2,5 ichi
dengan drat dm diameter 2,5 inchi ke atas dengari Ias.
g. Gunakan benang dan warerpas untuk mengukur kelurusan pipa.
h. Lakukan pekerjaan pengecacan untuk daerah sambungan pipa.
i. Lakukan rets tekan pipa dengan tekanan sesuai spesifikasi yang berlaku.
j. Unruk pernasangan pipa di dinding, harus dikoordinasikan dahulu dengan pekerjaan kerarnik(arsitek)
dan sunitmy
k. Lakukan test tekan ulang jika pipa di dinding telah terpasang.
PT BHIRAWA STEEL
Office: JI. Margomulyo 6, Surabaya 60186
Phone: 6231 7491719 (hunting): 749 1721;
749 1722: 749 1625 Fax: 6231 7491720
Email: bhir-sby@indo.net.id
Produk: Round Bars, Deformed Bars, Angle Bars,
Flat Bars, Forging Flat Bars, Black Shafting Bars
PT. SPANBETONDEK ADMARA
Office: JI. K.H. Wahid Hasyirn 133 K,
Jakarta Pusat 10240
Tel. 021 337160,3101 394,31906542,31906855
Fax. 021 31 42863 E-mail: spanbeton6 centrin.net.id
Produk: Lantai Beton Pracetak Pratekan Berongga
(Precast Prestressed Hollow Core Slab)

office:
JI. K.H. Wahid
Hasyim
733 K,
Jakatta Pusat 1021
Tel: 021 337168,
31 01394,3190654:
31908855
PT BETON PERKASA WIJAKSANA
Office: Jt. Penjernihan No 40 Jakarta 10210
Phone: 6221 5712644 Fax: 6221 5712633
Email: beton@cbn.net.id
Produk : VARlO GT 24, GRV Articulated Wale, KG
Climbing System, Automatic Climbing System,
PD 8 Shoring System, Scaffolding

I-- - _-

A is the most reliable products


F*
> .
AIVm61"W
W h L I I H l l g

& services in formwork & - .

scaffolding
1983.. .

dl. Penjefihan No 40 Jakarta 10210


Phone :+62-215712644 J.'
L F ~ x : +62-21 571 2633 - +. i
+ Email : beton@cbn.net.id . .
-&?urabaya . - I-

aya Surabaya Malang Km 49-50 Pandaan


ne :*62-343630 039 , .
: *62-343635 026 ;- A

: beton_pdn@telkorn.net *:

ng
Mangkang (Walisonga) Km 35 Semaran
: : +02-24 866 3648
*62-21866 3648
$etonsmg@telkom.net

..
...j"st send :.
your project "

C
requirement, '

,next is our
PT. PUTRACIPTA JAYASENTOSA
Office: J1. K.S. Tubun No. 81 Jakarta 11 410
Tef "62215485718 - 5485719 Fax. (6221) 5303537
Pabrik: Zona lndustri Cikupa JI. Telaga Mas I No. 3
(JI. Raya Serang Km 17) Cikupa Tangerang 15710
Tel. 6221 5962355 Fax. 6221 5962159
Produk: Bekisting

. , , ,
, ,
, .
. , ,
. . : ViPFax(6
-; ;-
, ,
,. - i Pabrik: Z* M&&i
, . . . , J b T ~ ~ t ~ ~ ' 3 { J I , & p % a n g ~ r n
. -
,
-
- >
, le aq3Xf-g rsH?i
, . I . T43f. { m > w ! % F ~@@?I)
. 5962159
- ; t , ,

BEKISTING -
.
,

.
-
.
,

,
.
1
,- ,
.. "
,

.
,. .," ,
.
, - , "
,
,,
,
- ,

,
,
. .:.
,.
- ,
I
(2.2. Pemasangan &pa &&or:

a. Marking jalur pipa.


b. GaIi jalur pipa dengan kedalaman sesuai
elevasinya.
c. Sambung pipa di atas galian.
d. Lapisi pipa dengan zincrornate.
e. Lakukan test tekan pipa dengan tekanan
sesuai spesifikasi teknis yang berlaku.
f. Beri Iapisan pasir pada dasar galian.
g. Turunkan pipa ke dalam &an.
h. Lapis kernbali galian d e n p pasir.
i. Urug gdian.

C.3. Pemasangan Valve

a. Check lokasi penempatan value (apakah spaceljarak antar pipa yang telah disiapkan telah sesuai dengan
lebar value?)
b. Siapkan value dengan j5hng.t-nya
c. Pasang valve.
d. Lakukan test tekan vilve pada instalasi cersebut.

C.4. Pemasangan Pompa:

a. Marking lo kasi penempatan pornpa.


b. Buat pondasi pornpa, perhatikm kelurusan dan rata pond as^.
c. Rsang instalasi pemipaan ruang pompa terlebih dahulu.
d. Pasang Pompa dan value-va/venya.
e. Sambung imtalari daya ke pompa.
L Untuk pompa transfer automatisasi menggunakan water /eve/ control (biasanya menggunakan elektroda)
g. Pengaturan pompa booster dengan pressure switch sebagai berikur
Pada posisi tekanan instalasi 2.5 Bar pompa I (kesatu) ON
- Jika rekanan kernbali ke 3 Bar
pompa Off.
Namun jika tekanan terus turun
hinggga posisi 1.5 Bar
pompa kedua ON
Jika tekanan naik Iagi hingga 2
Bar pompa kedua Off
Pompa kesatu dan kedua seialu
bergantian posisi (alternated
pardho
h. Lakukan running test pompa.
D.2.12.11. METODE PEMASANGAN INSTALAS1 AIR KOTOR

Untuk instalasi air kocor, biasanya


langsung rnelalui buangm dari closet dan ter-
minal, sdangkan untuk air buangan adalah
sisa air buangan melalui wastafe1, bak cuci
clan @or dmin (pernbuangan pada lantai) yang
mengalir secara gravitasi dari masing-masing
genimr menuju bak penarnpungan (septic tank,

--
STP).

Untuk American Stanhrd biasanya pipa air


kotor dm pipa air buangm dipisahkan, akan
terapi sist i i japanS t a d r d digabung rnenjadi
saru.

Yang perlu diperhatikan ddam pemasangannya addah :


Untuk air kotor dibuat dengan kerniringan (* 1)'
Uiruk air buangan dibuar dengan kerniringan (k l'/$ Masing-
masing pipa air kotor & air buangan harus dilengkapipettmp
{saluran leher angsa) untuk mencegah bau.

Material yang digunakan

Porn pa Buangan (Sewage h m p }


Pipa PVC (class AWID)
Blok Diagram Air Kotor
w
Pipa Clut Iron (cip}
Fitting PVC (e[bow,tee, socket, re-
dwmj
Fitting Cast Iron (elbow, tee, socket,
reducer)
Eive Cast Iron (chrck valve, gdtt
valve,fimt uakvej
1 , ~asemsnt I
.
INSTALASI PlPA VENTILASI I INSTALASI PlPA
Instalasi ini berfungsi untuk AIR KOTOR
mengfiubungkan I menyalurkan udara
yang terjebak pada pipa air kotor I

maupun pipa air buangan sehingga air I*


bisa berjalan dengan lancar. I

Yang perlu diperhatikan addah bahwa


pipa tersebut disambung pada pipa air
kotor I air buangan h t ~ ~pipa
posisi
tersebut dan disalurkan pada daerah
yang tertinggi (kc a t q l diatas phfind]
dilengkapi dengan vent m ~ .
D.2.12.12. METODE PEMASANGAN SANITARY
-

Material

Material sani~tary:
Closet
Wmhtafil
Urinoir
dll. '

Material bantu

Material Sanitary
I1 B. Peralatan
kunci pipa,
kunci pas, dsb

C. Urutan Pelaksanaan

a) Mdrking lokasi penempatan bath tub


dan pipa pembuangan
b) Pasang pondasi untuk dudukan h t h
tarb dengan baca merak
c) Pasang pipa pembuangan lengkap
dengan U-trupnyd
d) Pasang bath &&
e) Check dengan wate'pass dari segala
sisi agar bath tub tidak miring
C.2. Pemasangan Closet Duduk

Saarlnn a l m buangan

X dan Y dlsesualkan
dengan eype closet

k h s l flsher

C.2. Pemasangan Closet Duduk mberian silicon disekltar


,ringplpa
1. Marking lokasi titik bor di
lantai
2. Lubangi lantai dengan bor ,
,
beton sesuai ukuran jsher
3. Pasang fiber.

C.3. Pemasangan Closet Jongkok

C.3. Pemasangan Closet Jongkok


X dan Y disesuaikan
dengan type closet
X dan Y disesuaikan dengan type
closet
1. Marking Ilokasi penempatan
closet
2. Buat dudukan closet dari bata
merah
3. Pasang closet jongkok
D.2.12.13. METODE PEMASANGAN KONDUIT OUTBOW

Material
Konduit PVC I Steel
Tee Dos, Sock dan klem konduit
Fisha

Bending Konduit
Bor Tangan
Tang, Obeng dl1
Benang
Cat, Kapur & Spidol

Pernasangan Konduit Outbow

1 Plat Lantai bersih dari bekisting


2 Marking Jalur lnscalasi
3 Tandai Lokasi Klem
4 Bor Lokasi Nem
5 Paskg Konduit
D.2.12.14. METODE PEMASANGAM KONDUIT INBOW

Material

konduit PVC I Steel


tee dm,Sock
kawac bendrat
paku

Palu
Tang, Obeng dIl
Bmdlvlg kondui t
Benang
Cat, kapur dan Spidol

Pemasangan konduit ddam plat lantai (Inbow)

1. Marking jalur instaiasi


2. Tandai lokasi tee dos
3. Wire mtsh Layer 1
4. Pasang Konduit
5. Wire mesh hyer 2
6. Ikat konduit pada layer 2

Pemasangan konduit dalam plat lantai (lnbow )


-

* I
la er ke dua

3
wire mesh layer 1

wire mesh layer 2


0.2.12.15. METODE PEMASANGAN KABEL TRAY
DAN LADDER

MATERIAL

Kabel Tray
Kabel M r
Gantungan
&be1 NYA
Fitting clan Jointing

Pemasangan Kabel Tray

1. Plar Lantai bersih dari bekisting


2. Mdrking Jalur Kabd tray
Kunci Pas
3. Tandai lokasi gantungan
Tang, Obeng 4. Bar lubang untuk dinaset gantungan
Bor Tangan
Kapur Tulis

Pernasangan Kabel Tray

I. Plar Lantai bersih dari


bsbing
2, Markfng Jdur Kabel tray
3, Tandai lokasi gantungan
4. Bor lubang untuk dinaset
ganrungn
5. Pasang gantungan
6 . Pasang tray
7. Hubungkan tray satu dengan
yang lain dengan kabel NYA
2,5 mrn

URUTAN P W A N A A N
KABEL TRAY

Marking jdur tray sesuai shopdrdwing, tandai lokasi pengeboran untuk gantungan
Bor lokasi gantungan
Pasang gantungan tray sesuai dengan ketinggian yang diminta
Tray dengan Iebar 100 cm ke atas harm dipasang support pad? tiap balok struktur atasnya
Rsang kabel tray
Pada setiap sambungan pasang penghubung grounding dengan kabel NYA 2,5 mm.
URUTAN PELAKSANAAN
ISABEL LADDER

Marking j alur ladder sesuai shopdrawiq, tandai lokasi


pengeboran unrdz gantungan
Bor iokasi gantunganlmpport
Pasang gantunganisuppo~Iadder
Pasang kabel ladder
Pada setip sarnbungan pasang penghubung pounding dengan
kabel NYA 2,5 mm.
D.2.12.16. METODE PEMASANGAN INSTALASI LlSTRlK

MATERIAL

Kabel NYA / NYM 1


NYFBGY
Las Dop

PIERALATAN

* Kawat Pancingan
Tang, Obeng ----
Jarak a n ~ ;
---
..,...... -
........ .. ---....
. .
Lakban Kertas 8r. Spidol konduit 10 cm
..:.. -r5:. ......... .
..-. ........
........ . .
. .

URUTAN PELAKSANAAN
INSTALASI INDOOR
Masukkan kawat pancingan kc dalarn pipa konduit sesuai
groupnya
Tarik kabcl dengall bantuan kawat pancinpn tersebur
Tandai kabel sesuai group dengar1 lakban Ik spidol
Sambungan kabel hany;~boleh pads tee alos dan dengan lac dop
Merger kabel yang telah terpasang

URUTAN PEUKSANAAN
I N S T U S 1 OUTDOOR

Mmking jalur instalasi


Tandai lokasi tiang lamp^^
* Cali jalur yang telah di-mrrtrki~g
Gelar kabel NYFRGY s e s ~ ~ ukuran
ai pada shop
drdeuing sesuai groupnya
Tirnbun dengan pasir
Urug galian dengan tanah kemhali
SHOP DRAWING

CABLE NVA

FLEXIBLE CONDUIT

SHOP DRAWING

/- PVC r SLAB
/-. TEE DOOS
-
D.2.12.17. METODE PEMASANGAM KABEL

MATERIAL
Pemasangan Kabel padaTray
Kabel Powcr
1. Tray telah terpasang rapi
Kabel s b n 2. Potong kabel sesuai ukuran dengan panjang
KaLel ties dilebihkanl meter

3. Tarik kabel diatas tray


PERALATAN
Tang, Obeng
Tali
Tang pre 4. lkat kabel pada tray
tiap jarak 1 meter

URUTAN PELAKSANAAN

Kabel pada pay:

Pasrikan lebar tray cukup untuk jurnlah kabel yang akan dipasang
Potong kabel dengan panjang dilebihkan 1 meter dari kebutuhan
Tarik kabel satu per satu dengan urutan dari pinggir
Gunakan kabel ties sebagai pengikat kabel dengan jarak 1 meter
Kabel siap disambung dengan panel

Kabel pada hdder:

Pasrikan lebar U r cukup untuk jumlah kabel yang akan dipasang


Porong kabd dengan panjang dilebihkan 1 meter dari kebutuhan
Tarik kabel satu per satu d e n p n urutan dari
pinggir
Gunakan tali jika kabel akan dipasang uc?+tikak
Gunakan kabel ties sebagai pengikat kabel dengan
jarak I meter
KabeI siap disambung dengan panel
METODE PEMASANGAN PANEL

Material

Panel
Dynabolt
Bahan pondasi

Perdatan

Bor Tangan
Kunci Pas, Obeng dl1
Watupasi

Pemasangan Panel Free Standing


Pemasangan Panel Free Standing

I. Pastikan Pondasi Panel telah dibuat benar


2. Marking lokasi penempatan panel
3. Bor lubang Dynabolt
4. Letakan panel diatas pondasi
5. Kencangkan baut Dynabolt

Pemasangan Panel Semi lnbow

Pemasangan Panel Semi Inbaw:

1 . Marking lokasi panel dengan


ketinggan rata atas 180 cm
2. Bobok dinding bata
3. Pasang Dynabolt
4. Pasang panel jika dinding sekeliling
relah dipkster l
Pemasangan Panel Wall Mounted

1. Marking lokasi panel dengan ketinggian rata atas 180 cm


2. Pasang Dyrzabolt
3. Pasang Panel
D.2.12.19. METODE PEMASANGAN TRANSFORMER

MATERIAL

Transformator
Bzsi siku 5 cm
Bahan pondasi

PERALATAN

Tang, Obeng
Kunci pas
Bor tangan

URUTAN PELAKSANAAN

Buat pondasi transformator sesuai shopdruwing, masing-masing sisi


dilebihkan lebar 20 cm
Letakkan transformator diatas pondasi
Ganjd roda .tmnsformrstor dengan besi siku 5 cm
Pasang grounding transformator
D2.12.20. METODE PEMASANGAN GENSET

Material

Genset
Spring Mountiflg
Sikencer
Tangki Solar
Pompa Solar
Exb~tiwtR.rdafor
Fitting I/aIve dan Gantungan

Fork L$t Pipa Gip


Dongkrak
Bor Tangan
Kunci Pas, Obcng dl1
Pernasangan Genset Balok

Pernasangan Genset

1 . Pasrikan Pondasi Genset Telah


dibuat benar
2. Marking lokasi penempatan
spring mounting
3. Bor lokasi penempatan spring
mounting
4. Lerakan Genset di atas pond
5 . Gunakan dongkrak unt
pernasangan spring mounting
- -

6. %ap Di- i n d dengan accessu-


ries-nya
PT KARYA BETON SUDHlRA MUTU & SERVIS
Kantor Pusat: JI. Danau Sunter Selatan Bbk 05 -
No. 1 & 5 Jakarta.
Tel. 65307001,65307002 Fax. 65307003,65306980
Produk: Beton Siap Pakai

Jakarta

Selatan Blok 05 No. 1 & 5


Tel. 65307001, 65307002 WUIrnB
Fax. 65307003, 65306980
Puri Kernbangang: JI. .. .
Luar Barat Puri Kernbangan Menvediakan:
Jakarta Barat.
Tet. 9255798,9255797
Fax. 9255798
D a d a ~Kosambi: JI. Salembaran
Beton Siap Pakai
Jati 6 . 9 Kecamatan Kosarnbi
Tangerang
Tel. (021) 55933327, 55933328,
Fax. 021) 55933328

Karawang: Jl. Klari Km. 7,


Sukaresmi, Karawang ..
,7:*-p*z
Tel. (0267) 432645 - ,
*.;.,...<&:
;

Fax. (0267)432645

Yogyalrarta: JI. Solo Krn. 12


Cupuwatu, Purwomarlani
Tromol Pos 02 Kalasan
Tel. (0274) 496706, 497272
Fax. (0274) 496706

Bati: JI. Uluwatu Desa Jimbaran


(Sebelah SLB) Denpasar Bali
Tel. (0361) 701343, 701639
F a . (0361) 701639
PT. ClPTA MORTAR UTAMA
Office: MM2100 lndusiri Town, JI. Sumbawa Blok F1.l
Cibitung, Bekasi 17520, Indonesia.
Tel.6221 8981140 (hunting) Fax. 6221 8981139
E-mail: mortar8cbn.net.id
Produk: Adukan Semen lnstan

'1 MORTAR UTAMA"


.-

3litas dan
ADHIMIX PRECAST INDONESIA
Head office: JI. lskandarsyah Raya No. 3,
Kebayoran Baru Jakarta Selatan 12160 Indonesia
Tel. (6221) 9210066 (hunting) Fax. (6221) 7268669
E-mail: beton@adhimix.famili.com
Website: www.adhimixprecast.com
Produk: Beton Precast: Girder, Pre Slab, Tiang
Pancang dan Sistem untuk Ruko dan Rusun

,,HIH~X PRECAST
/ 'NDONESIA

Beton Prg
I ast: - ,
, ,
<- <;.;,

- . * '.. A
,..
. ,,,
, - . ..;$
Girder
- .- . .

Pre Slab . .

Tiang Pancanq
dan Sistem unl
Rusun

JL lskandarsyah Ra do. 3,Kebayoran Baru


Jakarta Selatan 121 ndonesia
Tel. (6221) 7210066 ~nting)
Fax. (6221) 72686E
E-mail: betonaadhii
Websiie: www,adhi
ARTHAMIX
Head office:
Cipinang Muara Raya No. 59 Jakarta Timur
Telepon: (021) 819 3948
e-mail: artha01@cbn.net,id
Produk: Beton Siap Cor

Head ofice:
Cipinang Muara Raya No. 59 Jakarta Timur
Te!epn: fQ21)819 3948
. e-mail: arthaO?@chn.net.id

Plant I:
s 57,Jakarta Vlara
Jt. Yos S u d ~ Kav
Telegan: (021) 6583 4763,6583 4764,
6583 47&3

Plant It:
JI. Raya Rawa Buntu,
BSD Serpong Tsrngsrang 15318
Telepon: (021) 7% DBB3;*25 7368
=aksimili: (024 ) 756 '0668
Pemasangan Accessories Genset

Pernasangan Accessories Genset

I. Pastikan Posisi Genset Telah rara


2. Pasang a m w t o r
3. Pasang FLexible duct
4. Pasang Dutting B]LS
U/ penghubung ke attenuator
5. Pasang Grikk atten ridtor
6. Pasang Sikencer k e t
7. Pasang pernipaan exhaust
8. Pasang tan& solar
9. Pasang pemipaan bahan bakar
10.Pasang Pompa dan Vdve-vrtb
D.2.12.21. METODE PEMASANGAN BUSDUCT

Material

Waterpass
Tang, Obeng dl1
Benang l kawat baja

Urutan Pelahanam
-
SHOP DRAWING

Bw dwt Vertical I Horizontal

1. Marking jalur penempatan bus duct


2. Rsang bracket dengan jarak max 2 meter dan tidak kurang 30 cm dari sambungan
3. Check kondisi afokato~.bus dact dengan merger test
4. ksang bw duct dan accessorits-nya
5. Lakukan penutupan pada riap sambungan
6. Test bus dact dengan tegangan 2,5 kTfrequenry 45-65 Hz selama 60 detik.
METODE
PELAKSANAAM

D.2.12.22. ,METODE PEMASANGAN GROUNDING PANEL

Material

Kabel BC
Plat rernbaga
Isolator
Copper Rod
Mur baut

Bor Tangan
Tang, Obeng dl1
Gergaji besi

grounding ruang panel

~
L BC I Plat tembaga
ke pantekan
grounding

Ututan Pelaksanaan

Dengm Plat Ternbag / Kabel BC

1. Marking j jaur grounding, jas& mtar isolator 50 crn & tinggi 30 cm dari lmtai
2. Pasang isohrot-, pnakan Dynabok 8 m m
3. Rsang plat tembaga memutar ruang panel hingga bak kontrol p u n d i n g -
4. Sarnbungkan antar plat tembaga dengan joinking dari dahan ternbaga
D.2.t 2.23. METODE PEMASAMGAN ARMATURE

Urutan Pelaksanaan
TL resseced mounted PPI konUun

Peralatan
P Tang, Obeng dl1 1 Urutan Pelaksanaan

TL recessed mounted

TL celllng mounted
Mmki~gplafon dengan kapur i spidol
Lubangi plafon sesuai marking, untuk akustik
koordinasikan dg rangka plafon
Pasang kawat gantungan
Pasang lampu dengan melepas kap lampu
Kencangkan kawat gantungan
Sarnbung ke instalasi
Pemasangan TL setelah kondisi ~ r o ~ eaman
k dari
pencurian

Urutan Pelahanaan

* Mdrking plafon dengan kapur / spidol, dan pasang kawat


gantungan
Lampu taman & jalan * Tarik kabel instalasi & kawat gantungan ke luar plafon
* Pasang lampu jika plafon telah finish
* Gunakan skrup untuk pengikar lampu
* Sambung ke instalasi

Urutan Pelaksanaan

h p u taman & jalan

Marking posisi lampu


Buat pondasi riang lampu
Dirikan tiang larnpu
Pasang lampu pada tiangnya
Sanlbung 1 instalasi
D.2.12.24. METODE PEMASANGAN SAKLAR
DAN STOP KONTAK

Pemasangan saklar & Stop kontak


Material

Saklac
Stop kontak
Grid switch

'Bor Tangan
Tang, Obeng dl1
Waqass

Marking jalur konduit pada dinding


Bobok dinding bata, jangan lupa
gunakan cutter
Pasang konduit dan inbow dos:
Tunggu sarnpai dinding plester akhir
Sarnbungkan saklar, stop konrak
dengan inscalasinya
Pasang saklar & stop kontak, gunakan
waterpau agar rata
D2.12.25. METODE PEMASANGAN PENANGKAL PETlR

MATERIAL PERALATAN

: , :Z 3 + Konduit DVC Grounding test


Trang Penangkal Petir Tang, obeog, gergaji besi
Kabel CoaxiaIJBC/NYY Bendkg konduit
Coppo Rod
Hmd Penangkal Petir

Urutan Pelaksanaan 1 . Tentukan lokasi grounding

i
Iokasi pantekan 2. Pantek groaknding dengan capper
tA\V/h\VIA\VIA\VIA\VIA\VIA\VIA\VIR\VI~\VIA\VIA\VIA\V~I rod
3. Buat bak kontrol
4. Rangkai p a n g k a l perir dan
Iampu pada tiang penangkal
petir
5 . Pasang Rnangkal Rcir pada
lokasi sesuai gambar
6. Tarik kabel & sambung dengan
pantelcan
7. Finkh arsitektur
0.3. Metode Pelaksanaan Pekerjaan Pelabuhan Laut

PENDAHULUAN
Pracetak sebagai metode konstruksi mulai banyak digunakan. Hal ini karena beberapa keuntungan
yang ada seperti kecepatan dan kemudahan dalam pelaksanaan serta kontrol kualitas yang lebih
terjamin. Untuk konstruksi yang akan dibangun dalam waktu yang relatif singkat, maka pracetak
merupakan salah satu alternatif solusi yang dapat digunakan untuk menyelesaikannya.
Sebagai material konstruksi, pembuatan pracetak bisa dibuat di lapangan dengan kontrol kualitas
yang lebih terjamin.Sebagai metode konstruksi, pracetak bukan lagi sebagai sesuatu hal yang sulit
dilaksanakan.
Beton pracetak merupakan suatu alternatif metode pelaksanaan pembangunan Dermaga yang dapat
mempercepat waktu pelaksanaan serta mendapatkan kualitas hasil yang lebih baik dibandingkan
dengan sistem konvensional yang selama ini dilakukan. Pelaksanaan bangunan dengan sistem
pracetak tidak boleh mengurangi kekuatan, kekakuan, dan daktilitas serta stabilitas bangunan itu
sendiri dalam menerima beban gravitasi dan beban gempa.

DEFINISI BE TON PRACETAK


a. Menurut Plant cast Precast and Presetressed:
Beton Pracetak (Precast Concrete) adalah beton yang dicetak di beberapa lokasi (baik di lingkungan
proyek maupun di pabrik-pabrik yang pada akhirnya dipasang pada posisinya dengan suatu sistem
sambungan sehingga rangkaian elemen demi elemen beton pracetak menjadi satu kesatuan yang
utuh sebagai suatu struktur.

b. Menurut SKSNI T-15-1991-03 (pasal3.9.1):


Beton pracetak adalah komponen beton yang dicor di tempat yang bukan merupakan posisi akhir
dalam suatu struktur.

BETON PRACETAK SEBA.GAIMATERL4L KONSTRUKSI DAN SEBAGAI METODE


KONSTRUKSI
Beton Pracetak bisa sebagai metode konstruksi dan material konstruksi.
Beton Pracetak diproduksi di bawah kontrol kualitas yang lebih terjamin dalam pelaksanaanrrya.
Kekuatan beton yang dipakai sekitar 4000 sampai 6000 psi dan dengan kekuatan lebih tinggi. Disukai
untuk menjamin kemudahan dan rata-rata produksi yang tinggi dalam pelaksanaannya.
Bentuk-bentuk yang digunakan adalah kualitas yang lebih baik daripada yang biasanya digunakan
pada beton cor di tempat (cast in situ). Beton cor di tempat memerlukan lebih banyak bekisting dan
minimal dalam pemakaian ulang maksimal 10 kali, sedangkan untuk beton Pracetak bekisting kayu
ataujberghs bisa dipakai sampai 50 kali dengan sedikit perbaikan.
Sebagai metode konstruksi, beton pracetak bisa sangat mengurangi total waktu pelaksanaan Proyek
konstruksi sejak unit-unit atau komponen-komponen pracetak disiapkan, sementara fase-fase atau
item pekerjaan lain seiring dengan itu juga dilaksanakan.
TRANSPORTASI KOMPONEN PRACETAK
Pengangkutan elernen pracetak dari lokasi fabrikasi sampai pada posisi terakhir elemen pracetak
tersebut akan dipasang minimal harus rnempertimbangkan:
Berapa lama waktu yang diperlukan untuk mencapai lokasi.
Jadwal pemasangan elemen pracetak sesuai jadwal rencana.
Alternatif jalan lain yang dilewati seandainya ada salah satu jalan terjadi hambatan
Daya tampung lokasi di proyek dalarn rnenerima pengiriman elemen pracetak.
Kemarnpuan crane dalarn rnengangkat elernen pracetak.
Kejelian dalarn pernberian tanda lokasi di rnana elemen pracetak akan ditempatkan sehingga
kecil kernungkinan terjadi kesalahan pemasangan

PEMASANGAN ELEMEN PRACETAK


Dalarn pemasangan elemen pracetak ke lokasi posisi terakhirnya, beberapa ha1 yang harus
diperhatikan adalah :
Site P h n
Peralatan
Siklus Pemasangan
Tenaga Kerja

SITE PLAN
Dalarn pernasangan elernen pracetak sangat penting untuk rnengetahui site plan dari proyek yang
akan dikerjakan. Dengan siteplan yang ada rnaka akan dapat diperoleh hal-hal sebagai berikut:
Dapat direncanakan penernpatan posisi crane di lokasi proyek sehingga dapat difungsikan
semaksirnal rnungkin dalarn pengoperasiannya untuk pernasangan elemen-elemen pracetak ke
posisi terakhirnya.
Dapat direncanakan tempat penurnpukan elemen pracetak yang mernudahkan pengaturannya.

PERALATAN
Dalarn penggunaan elernen pracetak, yang perlu menjadi pertirnbangan adalah:
Berapa Crane yang diperlukan dalarn suatu proyek agar dapat digunakan sernaksimal mungkin.
Berapa Radius perputaran crane.
Berapa kapasitas angkat rnaksimal dari crane.
Peralatan pembantu serta jumlah kebutuhan guna rnendukung siklus pernasangan elemen
pracetak seperti truk, tongkang, dan lain sebagainya.

SIKLUS PEMASANGAN
Secara garis besar siklus pernasangan dari elemen-elemen pracetak dapat dijabarkan sebagai berikut:
Pengecoran elemen poer
Pernasangan elernen balok
Pemasangan elernen pelat
Pengecoran over topping
TENAGA -
Dengan menggunakan sistem pracetak, tenaga kerja yang dip& menjadi Iebih sedikit d i b a n d i n g h
dengan penggunaan sistem konvensional (cor di tempat). Justru yang patut menjadi perhatian
dalam hal ini adalah koordinasi dari tenaga yang ada guna menjamin kelmcaran pergerakan ekemen
pracetak di lapangan sarnpai pada pemasangan ke posisi terakhirnya dalam struktur.

BEBERAPA TIPE ELEMEN PRACETAJS


Untuk proyek-proyek Dermaga, beberapa
elemen yang dapat dibuat pracetalr addah
stbagai berikut:
Poer Precr~t
Balok Precm
Hakfskdb precast
Plank Fmder Precast
Do@hin
hmtem P r c c ~ ~ t

POER PRACETAK
Pada bagian dalam poer digunakan hwac
ayam sebagai bekisting sehingga permukaan
I u
yang terbentuk setelah dicor menjadi kasar. POER PRACETAK
Hal ini dilakukan agar pada saat cor In situ
untuk pengisian poer, kemonolitan beton
terjaga
Daiam kenyataannya konstruksi ini
harnpir sebagian selalu berada di daerah
pasang surut sehingga terendam air laut.
Uncuk menyiasati ha1 tersebut, maka
didesainlah pocr precast guna
mendapatkan produk beton yang masif
yang dicetak di darat sehingga terhindar
dari air pasang pada saat pengecoran.
Konstrubinya terap seperti desain awal,
hanya dalarn pengecorannya dibuat ddam
2 rahap, yairu tahapan perrama addah
pemuatan poer precast itu sendiri, dan
tahap kedua adalah pengecoran joint
antara tiang pancang porr yang akan dicor
secara in situ
POER PRACETAK Adapun syarat-syarat yang harus dipenuhi
dalam ha1 ini adalah :
Dimensi tetap (sesuai desain awai).
Pembesian tetap (sesuai desain awal)
Dinding precast dibuat dengan rebal
"lebih kecil" dari daerah runtuh selimut
beton dalam ceori keruntuhan kolom.
Tingkat pengasan dinding bagian dalam
precat yang akan diwr in siw minimal
5 mm.
Tidak keropos.
Kebersihan dalam joint
Dilakukan penambahan lekaran beton
lama dengan beton baru dengan boding
:..,I-::;
agent.
POTMSGANA-A

ALUR PEMBUATAN PRECAST I


Suruh
Buruh
Baja tulangan I Segrnen ceraKar
Vat bantu

Beton decking
Alat bantu
Pengeman beton pad; an silinder betox a
Cetakan elerne h * k - z &
7 7> :,tZ

..
:
5, :
,

e
ELEMEN PRACETAK
MANFAAT DAN MASALAH YANG TlMBUL SAAT PELAKSANAAN

Manfaac Penggunaan Pocr Precast untuk proyek Dermaga adalah sebagai berikut:

Elemen Poer dicetali di darat sehingga terhindar dari pasang surut air .
Lubang pada dasar poer dibuat sehingga mqmudahkan pemasangan ke atas tiang pancang di laut
MASALAH yang sering timbul saar pelaksanaan:
Pada bagian dalampompracerak jika pemasangan kawat ayam kurang kuat akan sering menimbulkan
beton yang menggelembung setelah pengecoran
Terjadinya.Hony Comb pada dinding luarprecdst karena kurang sernpurnanya penggetaran sewakru
pengecoran.
Lokasi stokprecmt yang kurang luas sehingga menyulitkan pengaturan.
BUKUREFERENS! BANGUNAN
UNTUK KONTHAKTOR DAN SIPIL
GEDUNG

B a O K PRACETAK
Untuk Balok Praceiak (PrecastBeam) umumnya ada 2 macam yang dapat dipakai, yaitu:

Balok berpenampang ben tuk persegi (Rectanphr Bedms).


Keuntungan dari jenis ini adalah sewaktu pabrikasi Iebih mudah dengan bekisting yang Iebih
ekonomis d m tidak perlu memperhitungh tulangan akibat cor sewaktu pelaksanaan. Dengan
artian bahwa desain awal dapat langsung digunakan.
Balok berpenampang bentuk U ( U-Shd Beams)
Keuntungan dari jenis ini adalah lebih ringan sehingga dapat digun&n pada bentang yang panjang
dan penyambungan pada joint lebih monolit.

Dalam perencanaan pembuatan balok pracetak, hal-ha1 yang harus diperhatikan adalah:
Perhitungan kekuatan dm kekakuan balokprfcast pada saat pengangkatan dan hadiingserta pada
saat balok precast menerima beban dari pelatprecast yang menumpu di atasnya.
Analisisjoint pada pertemuan balok danpoer sehingga syarac daktilitasjoint tetap terpenuhi biasanya
dengan menambah sengkang pada ujung balok.
Panjang penyduran tulangan tekan di daerah joint.
Balok precast ini nantinya akan berfungsi seperti balok komposit di mana balok merupakan gabung-
an dari balok pracecak dengan ovabopping yang dicor di atas plat pracetak.
Pada saat sebelum komposit, balnk berbentuk persegi dan memikul beban gravitasi seIama
pelaksanaan pemasangan pelat pracecak dan pengecoran o~~ertopping.
Kontrol terhadap guling perlu ditinjau selama peIaksanaan pemasangan plat pracetak.
Setelah komposit, balok berbentukT, karena pelat menjadi monolit dengan bdok.
SASARAN KUALITAS BALOK BETON PREaST:

D SIMPANGAN DIMENSI +I- 5 MM


D TIDAK KEROPOS
D TIDAK GERIPIS
D PLIN MAKS 5 MM
L l PENGASARAN SAMBUNGAN BETON MIN 5 MM
O SAMBUNGAN BERSIH DAN MEMENUHI SYARAT JOIN1

I SIMPANGAN
DlMENSl +1- 5 mm

PABRlKASl POER PRECAST SECARA


BERSAMAAN MENJAMIN DIMENSI
YANG AKURAT
BUKUREFEREMSI
UNTUK KONTWKTOR
BANGUNAN DAN SIPIL
GEDUNG

1 UKURAN KWANTITATIF YANG DISYARAK4N:

1)CHEK UKURP,N WMEMSI PANEL BEKlSTlNG


-\
1)PANJANG, LEBAR DAN TlNOGl MISTING i
---6
1 PENYETEM

STMILITAS BEKfSTlNGS E W KESELURUHAN


(TIOAK GOYANG, MUMTsR )
JARAK BETON OEKlNG DAN PEMBESIANMYA :---I$%,--.,- -

SIMPANGAM DlMENSl +I- 5 mrn


MENYEBABKAN :
- LEBlH
ERECTION
MUDAH MELAKSANAKAN

- LEAKAN
VELlNG SETELAH BALOK TERPASANG
TERJAMIN

- MEMUDAHKAN PEMASANGAN PLAT PRECAST HKuRASI TINC~C~I


SISTEM BEKlSTlNG

- BEKlSTlNG TlDAK BOCOR


- SISTEM BAJl I PRESSING PADA
TEMBlRlNG DENGAN BODEMAN

- END STOP UNTUK STEK TULANGAN

SLUMP BETON

- CEMENT CONTAIN
- F.A.S +I-10
- HOMOGEN
VIBRATING
- UKURAN VIBRATOR :
- 2,5 INCH>1 M3 ITUANG
- 1,25 INCH DAERAH TlPlS
- FREKWENSI GETAR I MENlT

BETON PADAT
*TIDAK ADA HONEY COMB I
GELEMBUNG UDARA
*HOMOGEN

TlDAK GERlPlS
-- AIR
SUDUT BALOK TAJAM
SEMEN TlDAK KELUAR
PT. WIJAYA KARYA BETON
Office: JI. Dl. Panjaitan Kav. 3 -4 Jakarta 13340
Tet. 6221 8508640;8508650; 8192808
Fax. 6221 85903872
E-mail: marketing8wikabeton.co.id
Produk: Sheet Piles, Girders, Sleepers, etc.

@BET:ilN
, .
-, .
PT WIJAYA KIRYA BETON

Electrical Con-
crete Poles

Telecommunica-
tion Concrete
Poles

CatenatyConcrete
Poles

Prestressed
Triangular Con- I
crete Piles

Flat Type Con-


crete Piles

Concrete Box
Girders
I -
PC GIRDER8 ConcreteVoided
Slabs

I -
PC SLEEPERS
PT. SIHAR INDAH PERKASA
Office: JI. Raya Dupak 25A Surabaya
Tel. 031 5452268 (hunting) Fax. 031 5312651
E-mail: sip Bsinar-indah.com
Website: www.sinar-indah.com
Produk: Distributor Semen Gresik Curah dan Zak
General Trade & Supplier
PT. JAYA READYMIX
Office: Graha Mobisel 5th floor, JI.Mampang
Prapatan No. 139 Jakarta 12720 Indonesia
Td. 6221 7971153,7971190, Fax. 6221 7971090
E-mail: jayamixO idola.m. id
Produk: Readymix, Beton Instan,etc.

A
P PT Jaya Readymix
Group of Company
PT. Jaya Readpix adalah Penrsahean R m i x Concrete yang pertama dan terbesar di Indon&a. Karni berdtri
sejak tahun 1972 h q telah mempunyal20 batching phnt ymg tersebar di kota-kota dl Pulau Jawa serta ratw
armada truck mk' mg slap melaymi proyek mda.
Dengan pengalaman yang telah kaml rnlliki, .Am
%mislap membanhr dan berpartisipasi &lam
r m k anda.
rrns tan-
'1,(,,<;!.
>
-

1 Jaya Kerb adalah salah saw dMsi yang


memberikan pelayanan pembuatan kanstin
mt-mrus, k m i d a ~ a membuat
t segala bentuk
dan ukuran kanstln karena menggunakan
a w n yang 1-g
l dikerfakandi Iokasi-
aya Quarry melakukan penambangan dan
:rushing untuk batu splll yang kaml gursakan
sehingga mutunya dapat dijaga dan konslsten.
,,,p,ny~

-
selain dari produk madymix
concrete yang tehh dikend, h i juga
pmduk b m n d n plaster
seita acian dalam kernasan W n g yang
dikend dengan Instan.

Rbcla
PT. Rocla Persada Indonesia, klni telah bergabung dalam group
.t
perusahaan Boral International Pty. LW yang mrupakan lnduk dari PT. Jaya
Readymii
Pmduk produk b m u t u yang dihasilkan W3perl-i Reinforeed concrete
pipe, U dkhe% Box whm, Plecast concrete access &mbms, Fittiq~
Precast concrete head waH dan Pleasure pipes.

Gtaha MoMsel5th floor, Jl.Mrnpang Pmptan No. 139


JakarEa 12720 Indwresia
Tel. 6221 ~7l153,7971190,Fax. 6221 7971090
E-mail:jayamix0 W c o . i d
PT. PIONEER BETON INDUSTRI
Office: Wisma Pondok lndah Suite 103 JI. Sutan
lskandar Muda V TA, Pondok Indah Jakarta 1231 0
Tel. 6221 7697368 (hunting) Fax. 6221 7697378
Produk: Beton Cor
MANFMT DAN MASALAH YANG TIMBUL SAAT P E L A S A N A N
Manfaat Penggunaan Balok Precast untuk proy& Dermaga adalah sebagai berikut:
+ Elemen Poer dicetak di darat sehingga terhindar dari pasang surut air.
Setelah pemakaian bekktig tembiring dan landasan dapat menjadi lapuk sehingga sudut balok
menjadi geripis.
MasaIah yang sering timbul saat pelaksanaan:
Terjadinya Honey Comb pada dinding luar prccmt karena kurang sempurnanya penggetaran
sewaktu pengecoran.
Lokasi stok precast yang kurang besar sehingga menyulitkan pengacuran.
Setelah pemakaian berulang heisting tembiring dan landasan menjadi lapuk sehingga sudut
balok menjadi geripis.

a SYARAT JOINT PRECAST:


- TlNGKAT PENGASARAN MIN. 5 MM
3
B
E
- ADANYA "FRESH CONCRETE" YANG @
MENGHUBUNGKAN ANTAR PRECAST 1
h
PERENCANAAN SAMBUNGAN VOINT)
Sambungan uoint) yang dipakai adalah sambungan basah (topping)yang relatif mudah pelaksanaannya
jika dibandingkan dengan sambungan kering (nun topping) seperti mechanical connection dan welding
connection yang cukup kompleks.
R Untuk sambungan basah dalam joint, diberikan tulangan yang dihitung berdasarkan panjang
penyaluran, sambungan lewatan, dowel yang dijangkarkan di daerah pertemuan tersebut.
R Selain itu juga dilakukan perhitungan geser friksi, yaitu geser beton yang berbeda umurnya antara
beton pracetak beton topping.

Dalam pelaksanaan konstruksi beton pracetak, sebuah sambungan yang baik selalu ditinjau dari
segi praktis dan ekonomis. Selain itu, juga perlu ditinjau serviceability,kekuatan, dan produksi. Faktor
kekuatan khususnya harus dipenuhi oleh suatu sambungan karena sambungan harus menahan gaya-
gaya yang dihasilkan oleh beberapa macam beban.

Selain itu, detail sarnbungan antar- komponen pracetak memegang peranan penting dalam menjamin
suatu bangunan berespons menjadi satu kesatuan di saat terjadi gempa kuat. Sambungan antar elemen
beton pracetak tersebut harus mempunyai cukup kekuatan, kekakuan, dan dapat memberikan
kebutuhan daktilitas yang disyaratkan selama terjadi gempa besar dengan waktu ulang 200 tahun.
Baik sambungan cor setempat maupun sambungan grouting sudah banyak dipergunakan sebagai salah
satu pemecahan masalah dalam mendesain konstruksi pracetak yang setara dengan konstruksi cor
setempat

KRITERIA PERENCANAAN SAMBUNGAN


Kekuatan
Suatu sambungan harus mempunyai kekuatan
untuk menahan gaya-gaya yang diterapkan
sepanjang umur dari sambungan.
Daktilitas
Daktilitas sering didefinisikan sebagai
kemampuan relatif struktur untuk
menampung deformasi yang besar tanpa
mengalami runtuh. Untuk material struktur,
daktilitas diukur dengan total deformasi yang
terjadi saat leleh awal terhadap leleh batas
(ultimatefailure).
Perhitungan Joint
Rencana sambungan antara balok dan poer
Gambar Perhitungan join dihitung berdasarkan SK SNI T-15-199 1-03
pasal 3.14.6 tentang joint rangka. Gaya-gaya
yang timbul pada sambungan antara balok dan
poer dapat digambarkan sbb;
PELAT PRACETAK
Sistem pelat yang dipakai adalah solid slab, yaitu gabungan antara pelat pracetak (halfshbprecast)
dengan plat cor in situ yang akan rnembentuk suatu aksi kornposit
Perencanaan pelat pracetak dikerjakan melalui 2 fase perencanaan, yaitu:
Metode pracetak, yaitu fase daripada perencanaan beton pracetak itu sendiri sebelurn beton
tersebut dipasang dan dirakit menjadi satu kesatuan dengan elemen struktur lainnya.
Pengecoran overtopping dari pelat lantai setelah elemen pelat lantai pracetak tersebut dipasang
(pengecoran di atas pelat pracetak) pada akhir penempatannya. Diharapkan dengan pengecoran
overtoppingtersebut beberapa elernen pelat yang dirakit dapat rnenjadi satu kesatuan yang rnonolit
Dengan perencanaan elernen pelat menggunakan elemen pelat pracetak, maka dalam
pelaksanaannya anggapan bahwa kekakuan antara pelat dan baloknya tidak sekaku seperti dalarn
perencanaan. Oleh karena itu perletakan pelat pada keernpat sisinya diasumsikan sebagai jepit
elastis.

Pada perencanaan permodelannya dan analisis pelat terbagi dalam:


Pelat pracetak sebelum kornposit, perletakannya bebas. Jadi pelat pracetak tersebut direncanakan
rnenggunakan tulangan lapangan saja. Kontrol terhadap kekuatan dan kekakuan tetap
diperhitungkan. 'setelah pelat pracetak dipasang di atas balok, perletakannya tetap bebas.
H Kemudian setelah dicor overtopping, yaitu setelah kornposit, maka perletakannya jepit-jepit.
Jadi di sini perhitungan tulangan terjadi pada daerah tumpuan dan lapangan. Untuk tulangan
tumpuan dipasang pada topping, sedangkan tulangan lapangannya dibandingkan dengan tulangan
lapangan sebelum komposit.
H Perhitungan shear connector perlu dilakukan sesuai dengan prinsip under reinforced yang
mengharuskan bahwa daerah tekan pada penampang pelat komposit masih rnampu mernikul
regangan yang terjadi (sebelum terjadi retak pada beton) pada saat tulangan tarik mengalami
regangan lelehnya. Dengan kata lain tegangan yang terjadi saat itu harus mampu dipikul oleh
seluruh penampang.
H Shear connector berfungsi sebagai sengkang pengikat antar-elemen pelat pracetak dengan elemen
cor in situ. Shear connector harus mampu mentransfer gaya-gaya dalarn yang bekerja pada
permukaan antara kedua elemen, sehingga kedua elemen tersebut dapat berfungsi menjadi satu
elemen komposit dalam memikul beban.
H Perhitungan titik angkat pelat pracetak juga perlu dilakukan dengan menganggap pelat sebagai
balok sederhana sehingga pada saat diangkat beban yang bekerja adalah berat sendiri ditambah
beban hidup (dianggap 2 pekerja berdiri di atasnya).
0 SASARAN KUALITAS PEKERJAAN
SUB PREGAST DAN CASTIN SITU
PANJANG, LEBAR, DAN KETEBA'LAN MAMPU MENAHAN LENDUTAN OLEh
BERAT SENDIRI
KEMIRINGAN GRADIEN YANG DISYARATKAN DENGAN SISTEM PAPAN CATUR
PERATAAN DAN KASUTAN MERATA
TEKSTUR DAN X I J R GARISAN SERAGAM

PENGASARAN
SAMBUNGAN BETON
MIN 5 rnm
- Gunakan "plastic stop map" dengan
bergerigi 7 sampai dengan 10 rnm
- Hindarkan air semen yang bedebihan
di permukaan
i PANJANG, LEBAR DAN KETEBALAN
MAMPU MENAHAN LENDUTAN
OLEH BERAT SENDlRl
- KETEBALAN MINIMUM 12 CM
UNTUK BENTANG +I- 4 X 5 M2

- ... . . . ... .. . . .

HOMOGEN BETON
......-.-. ...---. .-. .......-

- KETAHANAN TERHADAP LENDUTAN


AKIBAT TlDAK ADA SUPPORT DARl
BAWAH DERMAGA
- TlTlK AMGKAT YANG BERIMBANG

- PELETAKAN SECARA PERLAHAN TANP


KEJUT MENGHlNDARl RETAK

s -
'Tt""" - C L
.r.G

sP. t
KEMIRlNGAN GRADIEN
YANG DISYARATKAN

- CANAL
-
PEMASANGAN RELAT
C.40.40.4

- ClPPlNG BlBlR CAST IN SlTU


YAMG LAMA

- PlPA PARALON UNTUK BLOCK OUT

- SASARAN KUALITATIF YANG DIHARAPKAN :


*
=* CHEK LEVEL PELAT PRECAST
INSTAL UPPER REBAR SLAB
' 3 CHEK LEVEL UPPER REBAR
E lE*
E PEMBESIAN
LEVELLING
RELAXS
':*l NSTAL RELAXS "T" >* CANAL "C"
" INSTAL RELAXS CANAL C.40.40.3 CONCRETING

v.. TOP. SLAB


- - -- - ..-.-

Ed - C. 40.40.3
LAS LEVEL l l
-

PEW?
- WECAST
t . " ~ 2- >,,; <.,....,
: --*&:& ..
- PASANG TENDA COR
- BERSIHKAN AREAL DAN BASAHI
DAERAH COR

- PERSIAPKAN PANEL-PANEL KAYU


YANG MUDAH DlDEMOLlS

- BETON DITUANG, VIBRATOR,


DlRATAKAN DENGAN JIDAR,
DlKASUTlBAD FLOW
- PANEL-PANEL DlDEMOLlSASl
PER SEGMENT

METODE PENGECORAN
PAPAN CATUR
- Pasang relaks kiri-kanan zone
I keliling
- Pengecoran Hari "1" Zone 1

- Pasang relak penutup ujung-


ujung Zone I1
- Pengecoran Hari "2" Zone I1
- Dan seterusnya.

POTONGAN
- KASUTAN SAMPAI RATA,
HlNDARl NAIKNYA AIR SEMEN
a YANG BERLEBIHAN
- ANGKAT P1PASETENGAH
SAAT BETON
PARALON PADA
KERING

- LAKUKAN
MODIFIKASI
PENGGARISAN DENGAN
SAMPUL STOP MAP
PLASTlK
- -.. . .

CAST IN SlTU FINISHING CANSTEEN PRECAST

CAST IN SlTU Ill


,"

PRECASTCANSTEEN
*'

BALOK

I
TlANG PANCANG
a SYARAT BERSIH :
- BEBAS DARl KOTORAN

- AIR SEMEN DIPERMUKAAN


TlDAK TERLALU TEBAL
.: 4.
SYARAT JOINT PRECAST :
- TIMGKAT PENGASARAN MlN. 5 MM -.pL=L- +-
.,

%*:!
*
:--
.-
.. - -
_-I
2
-.. -

- ADANYA FREST CONCRETE YANG


MENGHUBUNGKAN ANTAR PRECAST

--....-..-

PLANK FENDER S iLAH Dl INSTALI

KEUNTUNGAN BETON PRACETAK


Kualitas komponen beton pracetak yang diproduksi di bawah kondisi koncrol kualitas yang ideal akan
mempunyai beberapa keuntungan sebagai berikut:

.E Penyediaannya mudah (ReadyAvaiZibiEity)


Penyediaan beton pracetak dapat diiakukan dengan mudah terutama untuk produksi masal
disesuaikan dengan jadwd pemasangan selama pemesanan masih di bawah kapasitas produksi
maksimum
-E Ekonomis (Economy)
Secara keseluruhan penggunaan pracetak mempunyai keuntungan biaya pelaksanaan rendah dan
dapat dilakukan penghematan biaya yang lain. Mahalnya tenaga kkcrja di lapangan dapat dikurangi
sehingga dapat menbemat biaya pelaksanaan.
mi- Kualitas yang lebih baik (Qualitycontro4
Dalam produksinya bcton pracetak lebih mudah dilakukan kontrol kualitas disesuaikan dengan
spesifikasi yang direncanakan, dalam pelaksanaannya kontrol kualitas merupakan program utama
untuk standar tinggi dari fabrikasi
-1- Kecepatan Konstruksi (Speed of Construction)
Konstruksi beton pracetak akan sangat menghemat waktu peiaksanaan.
mi- Transmisi kegaduhan rendah ( Low nohe ~sramzsmission)
Karena kegiatan elemen sudah banyak dilaksanakan di lokasi pabrikasi, maka di lokasi proyek
tinggd pemasangannya saja, sehingga tingkat kegaduhan akan sangat berkurang jika dibandingkan
dengan cara konvensional
D.4. METODE PELAKSANAAN PERKERASAN KAKU
ALAT & BAHAN YANG DIPERGUNAKAN
Alat utama yang dipergunakan adalah concrete paver. Ada banyak jenis alat paver sesuai dengan
perkembangan teknologi, alat ini pun berkembang semakin canggih dan serba otomatis, namun
juga menuntut keterampilan yang tinggi bagi operator-operatornya, maupun tim kerja yang ada.
Demikian juga dengan jenis beton yang harus disediakan agak berbeda dengan metode
terdahulu. Beton yang digunakan harus sangat diperhatikan penanganannya untuk alat-alat yang
modern tersebut.
Masing-masing alat tersebut mempunyai kelebihan dan kekurangannya.
Pada tulisan ini akan dijelaskan Metode Perkerasan Kaku dengan menggunakan alat-alat
konvensional (lama). Situasi lingkungan dan tim kerja yang ada saat ini menjadikan penggunaan
alat-alat lama tersebut justeru menghasilkan kualitas yang lebih baik.

ALAT & BAHAN YANG DIPERGUNAKAN

Paver Grover
Spreader Acuan Besi
Concrete Vibrator Cutter Beton
Jidar Aluminium Sprayer ul Curing Compound
Trowel Genset
Theodolite & Water Pass Lampu-lampu Penerangan
"9 0 TAHAPAN PEKERJAAN

INSTALL BEHSTING
Bekisring untuk ~ekerjaanini sebaiknya
terbuat dari b a i dan harus dalam kondisi
baik (tidak kotor, lurus & kokoh). Pada alat
pcsver lama, bekisting ini terpisah dari re1
dudukan alat.

I Pemasangan bekisting dilakukan setelah


diadakan pengukuran uncuk rnenentukan
1 ~ o s i sbekisting
i secara benar dengan meng-

L Ld
gunakan theodolit (time surveyor). ~asrikan
bahahwa kedudukan bekisting benar-benar
INSTALL BEKlSTlNG kokoh, lurus, dan rata pada permukaannya
serta rnempunyai elwasi yang benar sesuai
rencana (shop drawing), pastikan lagi elevasi apabila pada daerah tikungan.
Mutu hasil &ir permukaan jalan beton sangatlah tergantung dari pekerjaan bekisting ini.Tidak
menutup kemungkinan pada beberapa lokasi perlu diadakan penambahan dan pernbobokan
permukaan lean concrete ahbat ketidakrataan lean concrete. Pada kejadian ini pastikan bahwa elevasi
atas bekisting tepat sesuai elevasi rencana.

O INSTALL REL KEDUDUKAN


ALAT
Re1 dipasang untuk mendudukkan alat
paver maupun s p r e d r di atasnya. Pasti-
kan agar re1 berdiri kokoh & tidak goyang,
karena re1 ini biasanya berdiri di am m a h
di luar kan concrett yang telah kita siapkan
(lebar > lebar jalan).
Kegagalan pernasangan re1 yang baik
akan menyebabkan pavu dapat terguling
I

1
atau macet (tidak bisa berjalan). Bila ha1
tersebut terjadi saat pelaksanaan akan
membuat pelaksanaan kacau, karena ...-

umur setting bcon yang terbatas. lNSTALL REL DUDUKAN ALAT


Pada paver-paver keluaran baru sering
re1 ini dibuat menyatu dengan bektsting.
Bila hal ini dipakai, pasrikan benar bahwa re1 tersebut kokoh dan tidak goyang dalam toIeransi 1 rnm
(untuk kondisi di mana keterampilan tenaga yang ada kurang baik, sebaiknya cara tersebut jangan
dilakukan.
Nat.yang dirnaksud di sini addah alatpaver
. .
- : . ~ekerjaanini meliputi: Pemindahan alat,
pengangkatan p a w dm spreader ke aras re1
dudukan alat, pengecekan mesin, test jalan
puvu dan res bekerjanya alat.
Putikan alatpavu tersebut dapac berjalan
dari ujung ke ujung lainnya tanpa harn-
batan.Amati dudukan rel, rerutama pada
sambungan rel, cermati bila ada pergerakan
re1 saat dibebani alat.Segera perbaiki ke-
INSTALL ALAT dudukan re1 bila terdapar gerakan agar men-
jamin pekerjaan penghamparan berjalan
lancar.

Lembaran plastik dihamparhn di acas


ledn concrete sebagai das beton peke-
rasan kaku.
Profil kayu dipasang di bawah dowel
dengan malrsud membuat ~erlemahan
di joint, sehingga pada saat kernbang
susut, retak yang terjadi hanya pada
lokasi yang sudah ada penulangannya
(dowfl).
Dowel dipasang di setiap jarak 5 rn
sebagai rulangan yang bekerja saar
beron kembang susut. Dowel tersebut
terbuar dafi besi polos @ 25 mm dan
diolesi gernuk dan ditutup PVC agar INSTALL PLASTIK, PROFIL SlKU & DOWEL
beton dapat bergerak (tidak terikat oleh
besi tulangan).
Ada 2 (dua) jenis dowelyang, dipasang
dowel mernanjang dengan @ 25
mm dari besi polos dan dowel rnelin-
tang dengan besi ulir $ 19 mm.
Q HAULING & POURING BETON

Secelah bekistin~,lembaran ~lasrik,dan alat-


V

I alat telah siap, penuangan beton dapat di-


laksanakan .
Beton dituangkan perlahan-lahan sampai
diperkirakan cukup untuk suatu area tertentu
sampai ketebalan yang direncanakan.

-
Beton kemudian dihamparkan dan di-
sebarkan. Saat penuangan beton diperhatikan
pula cuaca, suhu lingkungan, karena yang
1 digunakan $lump-nya sangat rendah (& 5 cm).
Cuaca disarankan cerah, tidak hujan. Daii
HAULING & POURING pengalaman untuk rnenghindari retak rambut
permukaan, penuangan sebaiknya dilakukan
saat malam hari (rerutama untuk daerah seperti
Jakarta).
Perhatikan ~ u l alat-alat
a penunjang kerja malam seperti lampu yang cukup, genset, dll. Di saat
musim penghujan perhatikan pula jaian kerja untuk menghindari CoIdJoint,karena kesinambungan
suplai beton sangat diperlukan sampai batas akhir pengecoran.

O SPREADING - 1

Setelah beton diambil dari agitator, beton perlu


diratakan ke seluruh lebar jam. Untuk peracaan awal
dapat dilakukan dengan alat spreader. Ini
dimaksudkan agar pelaksanaan~amenjadi lebih
cepat karena alat tersebut dapat mengerjakan dalam
volume besar.
Untuk tempat-tempar rerrentu yang volumenya
lebih kecil dapat dilakukan dengan tenaga orang
dengan menggunakan cangkul atau sekop.Demihan
seterusnya sampai seluruh bidang dipenuhi dengan
beton.

SPREADING
* VIBRATING
I Ada 2 (dua) tahapan fibrating pada pekerjaan ini:

I Pertarna, penggetaran permukaan yang dilakukan


dengan dat pave?:
Kedua, untuk menjamin kepadatan perlu juga di-
lakukan penggetaran dengan concrerc vihmtor.
I
Sebaiknya menggunakan ekecw'c vibrator dari jenis high
frequency. Sediakan 2 alat electric vibrator ini agar
kepadacan beton dipenuhi. Pada alac modern vibwtor
ini langsung terpasang di bawah alatpauer yang bekerja
bersarnaan saatprzuer bekerja.

VIBRATING

* SPREADING - 2
Peralaran kedua ini dimaksudkan uncuk ,
I
mendaptkan cebal rnaupun perrnukaan I
yang lebih teliti. Hal ini dimaksudkan agar
nanci saat jnishing permukaan beton yang I

I
dihasilkan benar-benar rata.
Perataan kedua ini dilakukan dengan alat
paver. ALat ini terdapar di bawahpatw yang
bergerak maju dan mundur.Sering di-
temukan beton kurang tebal dengan range
1-5 cm, Apabila ha1 tersebut terjadi,
tambahkan beton cair dengan sekop dan
setelah itu diratakan lagi. KeterampiIan
operator paver dalam ha1 ini sangat di-
I I----

perlukan. SPREADING 2
* TROWELLING- (dengan dat paver)
Selain dapar merarakan dan menggetarkan, paver
dapat juga melakukan perataan layaknya alar
trowek. Alat ini terdapat di belakang paver. Se-
waktu melakukan hngsinya, dat ini bergeser ke
kiri clan kanan dengan bertumpu pada acuanl
bekisting.
Hasil yang didapatkan adalah ~ e r m u k a a n
beton yang telah menjadi rata dengan cebal sesuai
dengan rencana, namun kehalusan permukaan
1 beton beIum didapatkan.
TROWELING 1 (DENGAN ALAT PAVER)
Apabila masih terdapat rongga (biasanya hanya
0,5 - 1 cm saja), rongga tersebut ditambal dengan
a d u h n beton kernudian alatpaver meratakan lagi dengan bergeser ke kiri dan ke kanan.

* PEKERJAAN JIDAR
Pekerjaan ini merupakan penyempurnaan
~ekerjaant ~ o w e l k i ndengan
~ paver, hanya saja
dengan jidar ini woweIking dapat dilakukan dengm

I
lebih teliti lagi.
Akurasi perbedaan tebal permukaan dapat
dilakukan hingga < 0,5 mm. Hal ini juga dapat
dilakukan dengan tes larnpu. Bila masih ada
bapngan rongga, maka rongga tersebut dapar
d i h i l q k a n dengan lebih sempurna.
Hasil permukaan beton sudah dapat terlihat
,- - -
jauh Iebih halus.

*
1 PEKERJAANJIDAR 40 CM DAN
PENYEMPURNAAN KERATAAN
PERMUKAAN
Pekerjaan ini dilakukan sekali lagi untuk menguji
kerataan permukaan beton. Teknik ini sebenarnya
yang bahkan pada
~ e n ~ e r n b a n g adila~angan,
n
dat yang modernpun tidak dilakukan.
Pekerjaan ini dilakukan dengan "mengetok"
jidar aluminium diatas permukaan beton dengan
acuan bekisting dipinggir kiri dan kanan. Itulah
sebabnya kelurusan, kekokoban dan kebosihzn
PEKERJAAN JIDAR 40 CM ~ermukaanbekisring sangac di~erhatikan.
BUKURE PER ENS^ UFITUK KONTRAKTOR GEDUNG
BANGUNAN DAN SIPIL

Pengetokan dilaksanakan setiap jarak 40 cm.


Hasil ketokan dapat rnendeteksi permukaan yang
masih bergelombang dengan lebih teliti lagi. Apabila
ditemukan indikasi adanya permukaan ber-
gelombang, dapat ditambahkan adukan beton yang
telah diarnbil213 split-nya (karena gelombang sangat
tipis).Kemudian diratakan lagi dengan alat trowel
khusus (seperti alat uncuk plester namun lebih
panjang). Setelah selesai diratakan perlu di-check
sekali lagi dengan jidar aluminium tersebut (biasanya
hasil sudah sempurna)

PENYEMPURMAAN KERATAAN PERMUKAAN

PEKERJAAN TROWELL-2 & TROWELL


HALUS
Sambil menunggu becon ietting' (proses
mengeras) pekerjaan penghatusan ~errnukaan
terus dilakukan. M&n lama beton akan mulai
mengeras. Pada saat (perhraan) beton hampir
mengeras, trowell hakus dapat dilaksanakan.
Hasil trowel halus ini akan sangat bagus dengan
permukaan kelihatan ram dan rnengkilap.

a GROOVING & PENYEMPURNAAN


Pekerjaan grooving atau pemberian texture
permukaan ini merupakan pekerjaan yang
menuntut kesabaran & kerrarnpilan yang
tinggi. Tidak semua tenaga tukang dapat

GROOVING PEKERJAAN TROWEL


melakukan ini, karakter yang dipilih biasanya
berkarakter sahr, tehten, tidcak mu& blah &jenuh.
Ia juga harus mengenal tingkat kekerasan beton,
kartna beton yang sudah terlalu keras (kelamaan)
tidak dapat dibentuk texture-nya acaupun kalau
dapat hanya < 2 mrn dan tidak memenuhi kriteria
yang mensyaratkan min 3 mm.
Pada beton yang sudah terianjur
mengeras, penggunaan tekanan pada alat grooving
malah akan mengakibatkan tercungkiinya split
beton dan berakibat fatal pada kerapihan
permukaan beron.
Beton yang belum mengeras juga kurang baik
bila dilaksanakan goouiag, karena akan terialu
lembek hingga texture cidak akan cerlihat rapih.
Berdasarkan pengalaman dan percobaan-
percobam yang diIakukan dilapangan, didapatkan
alat grooving yang paling efektif seperti pada
gambar. Kadang-kadang masih didapatkan garis
texture kurang rapih, hal ini masih dapar diatasi
dengan perapihan texture dengan paku atau kawat,
namun retap dilakukan oleh tenaga yang trampil
dan sabar.

* CURING COMPOUND
Pekerjaan ini dilakukan untuk rnelindungi
beton dari retak-retak rambut akibat terlalu
cepatnya susut beton.
Hal ini harus lebih diperhatikan bila pelak-
sanaannya dilakukan di siang hari acau udara
yang sangat cerah.
Bahan yang digunakan dapat berupa produk-
produk perawatan beron yang banyak
dipasaran. Adapun penyemprotannya setelah
C CURING COMPOUND
p o u i ~ saat
g beton masih belum mengeras.
PEKERJAAN TENDA PEL1NDUNG
Tenda ini diperlukan untuk perawatan beton dan I
berguna untuk;
Mengurangi terldu cepatnya penguapan pada
permukaan beton
Melindungi dari pekerja yang Mu-lalang
Melindungi dari benda-benda jacuh atau
binatang
Melindungi bila riba-tiba hujan datang

PEKERJAAN TENDA PELINDUNG

CURING dengan KARUNG sld 7 HAM

Untuk perawatan beton setelah umur 1 std 7


hari, perawatan diteruskan dengan menutup
permukaan beton dengan karung goni yang

F
dibasahkan atau bisa juga dengan geotmtikc non
wovcn yang dibasahkan secara periodik.
Hal ini juga untuk mencegah retak rampur
beton akibat susut yang terlalu cepat.

CURING DENGAN KARUNG (sld 7 hari)


CUTTING (sld Jam ke 18)
Pemotongan beton perlu dilakukan pada
joint-joint yang telah dibuat atau diberi tanda
(pada posisi tulangan Dowell).
Pemotongan dilakukan dengan mesin
pemotong khusw (CUHU beton) yang digerakkan
dengan mesin. Pemotongan dilaksanakan
sedemikian rupa pada saat beton masih cukup
lunak namun belum keras sekali atau kira-hra
jam ke 12 sld jam ke 18.
Beron yang terialu Iunak bila dipotong akan
I
menyebabkan 'kumpiK tetapi beton yang cerlalu
keras juga menyulitkan pernotongan serta akan
boros pemakaian pisau cuner-nya.
I
Kedalaman potong beton f 5 cm.
PEKERJAAN JOINT SEALANT

PEKERJAANJOINT SEALANT

Setelah beton dipotong, Iubang hasil potongam perlu diisi dengan joint sealant, yang merupakan
campuran karet dan aspal.
Pengisian scrskant sedemihan rupa hingga mernenuhi seluruh lubang yang telah dipocong.

[mix design concrete class PI:

Maximum Size of
Coarse Aggregate (mm) 25

Slump (cm) 5 +1
Water Cement Ratio WIC (%) 40,O

Water Content W (Kg/m3) 160

Cement Content C (Kglm3)

Fine Aggregate S (Kglm3) 79 1


I
Coarse Agregate G (Kglm3) 1,077
o
-.
D.5. Metode Pelaksanaan Pekerjaan Konstruksi Jembatan

Bagian-bagian struktur utama dari konstruksi jembatan adalah:


1. Struktur Pondasi, baik untuk struktur abutment ataupun untuk struktur pilar. Struktur pondasi
jembatan pada umumnya adalah struktur pondasi dalam, bisa merupakan pondasi tiang pancang
ataupun pondasi tiang bor
2. Struktur Abutment, yaitu struktur dudukan lantai / balok jernbatan sisi tepi
3. Struktur Pilar, yaitu struktur dudukan lantai I balok jembatan di sisi tengah
4. Struktur lantai Jembatan
5. Srruktur kabel , bila konstruksi jembacan adalah merupakan konstruksi jembatan kabel (cable
stayed bridge atau suspension bridge)
6. Struktur Oprit, yaitu tanah timbunan di sisi-sisi tepi jenlbacan yang akan menghubungkan elevasi
lantai jembacan dan elevasi jalan sebelum dan sesudah konstruksi jembatan.

Dalam periode saat ini konstruksi jembatan terus mengalami rekayasa meroda dalam rangka
menyesuaikan target bentang dan cipe konstruksi yang bervariant, berikut adalah cipe-ripe jembatan
yang umum digunakan untuk variant bentangan tertentu sbb:

Bagian metoda konstruksi terpenting dalam konstruksi jembatan adalah proses erection lantai jembatan,
dimana banyak metoda dimungkinkan untuk melakukan erection cersebut.

Adapun metoda erection dari pada lantai jembatan juga sangat bervariasi dail sangat ditentukan oleh
banyak p e r t i m b q a n , antara lain:
Kondisi rnedan, apakah struktur jernbatan terletak diatas permukaan air (sungaillaut) atau di atas
daratan.
Tipe alat yang telah dimilih, dimana setiap pelaksana proyek harus mempertimbangkan jenis-jenis
alat angkat yang telah dirniliki yang tentunya akan berakibat kepada biaya konstruksi yang cfisien
Kondisi access menuju ke lokasi proyek , tipe alar berat apa saja yang dimungkinkan untuk
melewatinya.
Perrimbangan lalu lintas lama, dimana selama masa konstruksi lalulintas yang telah ada ridak dapat
terhenti, sehingga ada tuntutan penggunaan tipe alat tertentu untuk mengatasinya.
Tipe material dan struktur jernbatan yang digunakan, apakah baja atau beton.
Pertimbangan waktu pelaksanaan, dirnana pada umumnya bila masa waktu konstruksi pendek
rnaka sistem precast atau prefab harus digunakan.
Dl1

Bentang optimum
No. Tipe Jembatan yang ekonomis
( meter)

1 Beton Bertulang

1. Gelegar utama berupa balok Sampai 30 Penampang berbentuk segi empat


diatas 2 tumpuan (masif atau berlubang), bentuk huruf T, I
dan lain-lain.

2. 30 - 50 -30 - 50 m+l

ni==im
Gelegar utama berupa balok
diatas beberapa tumpuan
atau dengan cantilever.

-30 - 50 m+I

p = =
Gelegar beton bertulang tidak dapat
dilaksanakan secara segmental

II. Beton Pratekan


Kabel prestess
I. Gelegar utama berupa balok 20 - 50
diatas 2 tumpuan

2. Gelegar utama berupa balok 50 - 850


di atas beberapa tumpuan Pile head

3. Gelegar utama berupa balok 80 - 300


segmental dengan post
tension prestressing

4. Gelegar utama berupa 100 - 300


konstruksi busur (arc bridge)
Bentang optimum
No. Tipe Jembatan yang ekonomis Keterangan
(meter)

Ill. Konstruksi baja

1. Gelegar utama berupa balok Sarnpai 30


diatas 2 turnpuan.

2. Gelegar utama berupa balok 30 - 50


diatas beberapa tumpuan. Rangka baja
1
3. Konstruksi utarna berupa 40 - 300
rangka baja

Bentang utama
I I

Busur rangka baja


4. Konstruksi utarna berupa 200 - 500
busur rangka baja

N Cable Stayed Bridge 200 - 500 Sekarang sudah mencapai panjang


(Jembatan yang ditopang bentang utarna 890 m
dengan kabel rnutu tinggi)

V. Suspension Bridge Diatas 500 Sekarang sudah mencapai panjang


(Jembatan gantung) bentang utama - 4000 m
Berikut addah beberapa tipe metoda erection lantai jembatan yang umumnya digunakan untuk berbagai
konstruksi jembatan yang mana sistem pre stressing saat ini sudah cenderung diteraphn pada lantai
tipe-tipe jembatan ini:

Sistem Perancah
Sisrem ini digunakan bila struktur lantai jembatan berada diatas daratan, dan dcidak adanya hngsi
yang diharnbat (pada lokasi daratan tsb, mis l d u Iintas,dll} karena pemasangan perancah.
Sistern perancah ini juga dimanfaatkan untuk sistem beton cor dirempat (cast in place). Berikuc hal-
ha1 yang menjadi pertimbangan bila sistem ini digunakan:
Keuntungan:
+ Minirnnya alat angkat berat (service crane atau gantry) yang diperlukan, mengingat pengecoran
yang diiakukan adalah ditempat.
Lebih rninimnya biaya erection ahbat tidak terlibatnya alar angakat berat, khuususnya bila tipe ini
telah dimiliki (heavy duty shoring).

Kerugian:
Produktivitas yang realtif rendah, karena poekerjaan cor ditempat menuntur waktu yang lebih
lama untuk proses persiapan {formwork dan perancah) dan proses setting beron.
Menuntut tipe tanah yang harus baik, dan bila tanah yang ada untuk dudukan perancah kurang
baik maka akan berakibat pada perlunya struktur pondasi khusus (luasan telapak yang lebar atau
penggunaan pondasi dalarn) .

Perancah

Sistern Service Crane


Sistem ini digunakan bila konstruksi beton balok jembatan adalah berupa konsrruksi precast, juga bila
access bawah jembatan dimungkinkan bagi pergerakan alat tersebut dan juga supply bagi pengiriman
girder

Berikut hal-ha1 yang menjadi pertimbangan bila sistem ini digunakan:


Keunrungan:
Produktivitas erection yang tinggi
Tidak terpengaruh kepada ripe tanah yang ada di bawah lantai jembatan (sebatas mampu dilewati
untuk menuver alat berat)

Kerugian:
Umumnya penggunaan alat berat sepcrri ini menuntut biaya tinggi mengingat biaya sewa crane
dengan kapasitas angkat tinggi adalah relative mahal.
PerIunya access road yang memadai untuk memobilisasi service crane

Diperlukannya alar-alat rambahan seperti hainya boogie dan extra service crane di lahan srock girder

Sistem Launching Truss


Sistem ini digunakan bila konstruksi beton balok jembatan adalah berupa konsrruksi precast, juga bila
access bawah jembatan tidak dimungkinkan sama sekali digunakan sebagai access alar berat.
Berikur hal-ha1 yang rnenjadi perchbangan biia sistem ini digunakan:
Keuntungan:
Tidak terpengaruh lrepada kondisi dibawah lantai jembatan (katakanlah sepenuhnya sungai)

Kerugian:
Umumnya penggunaan alat berat seperti ini juga menunrut biaya tinggi
Diperlukan sistem boohng alat yang memadai mengingat tipe alat ini belum dimiliki banyak oleh
sub kontraktor erection.
Produktivitas relatif lebih rendah dibandingkan sistem service crane, dimana perlu waktu extra
untuk erection truss dan sistem angkat dan menempatkan girder.
Launching truss
.. a

Sistem Penggunaan Counter Weight dan Link-Set

Untuk konstruksi jembatan rangka baja, maka sistem pengguna'an alat angkat (baik service crane yang
mungkin diletakkan diatas ponron atau konvensional gantry adalah cara paling umum digunakan
untuk mengangkar dan memasang batang per batang baja di posisinya.
Sisrem counrer weight akan diperlukan yang biasanya diambil dari konstruksi rangka baja yang
belum dipasang ditambah dengan extra beban, agar erection dengan sistern cantilever dapat dilakukan.
Penggunaan "link set" juga dapat dilakukan untuk menghubungkan satu span rangka yang sudah
jadi sebagai konstruksi counrer weight bagi konstruksi rangka di span selanjutnya. Untuk jelasnya
lihat garnbar-garnbar di bawah ini

Counter Gantry

Sistem Launching
Gantry

Untuk konstruksi jem-


batan dimana lantai jem-
batannya berupa struk-
tur beton precast seg-
mental-box, maka peng-
gunaan alat launching
Counter
gantry umumnya dapat
digunakan, dimana sis-
tern ini mempunyai
kccctail erection tinggi
yang didukung sistem
feeding segmental dari
sisi belakang alat (tidak
dari bawah, karena per-
timbangan lalu lintas
Sistem Traveller arau Heavy Gantry

Sistem Traveler umumnya digunakan untuk tipe jembatan Balance Box Cantilever, kh.ususnya unruk
lantai jembatan dengan beton cor ditempat. Bila pada tipe jernbatan tipe ini menggunakan beton
precast box segmental, maka sistem slat angkat gantry haws digunakan
Sistem kedua alat angkat ini juga digunakan unruk konstruksi jembatan Kabel, khususnya untuk tipe
stay cable, maka erection deck juga memanfaatkan struktur kabel sebagai tumpuan baru sebelum
nanrinya sistem traveler (bila beton addah cast in place) arau heavy gantry (bila beton adalah precast)
akan maju ke segrnen berikutnya.

Sistem "feeding" dari precast girder umumnya dilakukan dari sisi bawah dengan menggunakan
konstruksi ponton. Hal terpenring daiarn sistem erection lantai jernbaran pada tipe konstruksi jembatan
ini adalah "Konsep Balancing" yaitu keseimbangan posisi kabel (sisi arah Iaut dan arah darac) sehingga
menjamin piiar I pylon dalam kondisi mengalami pembebanan yang seirnbang.

Bila sisi darar lantai jembatan benar-bcnar diatas dararan dengan struktur tanah yang baik, maka
sistem perancah juga dapat dipergunakan untuk erection lantai jembatan
JGta bisa perhatikan pada prnbar berikut ini.
D. 6. METODE PELAKSANAAN PEKERJAAN BENDUNGAN
IRlGASl DAN SALURAN IRlGASl
D. 6.1. METODE PELAKSANAAM PEKERJAAN BENDUNGAN
IRIGASl

Sebagai contoh tinjau Proyek Bendung Batang Hari


Bendung Batang Hari merupakan bendung untuk keperluan irigasi dengan karekteristik:

Lebar Bendung 180 m.


Tipe Bendung Beron.
Perubahan tinggi air dari permukaan air sebelum ada bendung 12 m.
Fungsi utama adalah Pengairan Ligasi.
Masa Pembangunan selama 40 bulan.

Bendung Batang Hari terletak pada posisi sungai berada. Untuk itu pembuatan bendungan dimulai
dengan pembuatan Di~ellrzonChannel (saluran pengalihan) yang dibangun di sebelah kanan sungai.

Secara skematis posisi pekerjaan bendung adaiah seperti tampak pada sket hyout berikut:

Pekerjaan dimulai dengan mengerjakan Diversion Work dengan meng& tanah dan pembuatan
tanggui untuk mengalihkan aliran sungai. Setelah aliran sungai dialihkan, lokasi bendung dapat
dikeringkan melalui proses dewatering.

1. DIVERSION WORKS
1. DIVERSION WORK
2. FIXED WEIR
3. MOVABLE WEIR, APRON
AND FISH WAY
4. RETAININGWALL
5. BOAT AND BUS TERMINAL
6. SEDIMEN TRAP AND INTAKE

dangunan bendung terdiri dari bendung gerak (movabkeweir) dan bendung tetap (f;cdweir),kemudian
ada bangunan pengambilan air (intake)dan sduran pengendapan lumpur (sediment map). Sedangkan
agar tidak merusak ekosistem dbuat jembatanltangga ikan {&b way) sehingga ikan dari hilir
(downs~~eum) dapat bermutasi ke hulu ( u p s ~ e m z. )

LAYOUT PLAN

1. DIVERSION WORK
2. FIXED WEIR
3. MOVABLE WEIR, APRON :
AND FISH WAY
4. RETAINING WALL I
5. BOAT AND BUS TERMINAL i
6. SEDIMEN TRAP AND INTAKE
7. CLOSING DIKE AND APPUR-
TENANCES

Layout Phn secara garis besar dikelompokkan dalam 3 (tiga) bagian:


Bagian Utama adalah Bendung Tetap dm Bendung Gerak serta Dinding Penahan Tanah (wtlaining
wall).
Bagian Irigasi adalah intdke dan sediment trap.
Bagian Pdengkap berupafib wdj bzar a d boat m i n a l , access mad clan bangunan penunjang lainnya.

Setelah semua kelompok bangunan diselwaikan, baru aliran air dikembalikan ke jalur semula,
yaitu melalui bendung gerak dan bendung tetap.
FRONT VIEW WEIR FROM
DOWN STREAM BATANGHARI RIVER

Dalarn gambar di atas dapat diuraikan bahwa bagian utama bendung terdiri dari:
Bendung Tetap ; terdiri dari fondasi, tubuh bendung, stifling basin, dan pilar untuk jembatan.
Bendung Gerak; terdiri dari fondasi, tubuh bendung, apron, stillingb&n, clan pintu Cgate),s e d a n g h
di atasnya terdapat ruang hoist (hoist mom).
R~~sakningWalk atau dinding penahan tanah untuk membentuk aliran sungai terdapat di sebelah
kiri dm kanan bendung.

Pekerjaan bendung dimulai dengan pekerjaan galian tanah dengan menggunakan excavabor dan
hasil galian diangkut oleh dump truck untuk dibuang ke disposal area atau di simpan sebagai stock
untuk material timbunan sesuai dengan jenis dm spesifikasi tanah.
SeteIah galian tanah menemui lapisan ranah keras, perlu dilakukan pekerjaan galian batu (rock acdva-
tdon).

Dalam ha! ini dipilih metode drilLing and bhtizg, yaitu pada permukaan bacuan dibuat poia
blastiag. Kemudian dibuat Iubang dengan rock drill (cradhr rock drikhr) atau canal driIIing untuk diisi
sejumlah bahan peledak (dynumibe) dan detonator sebagai pemicunya.

Setelah dilakukan peledakan, hasil galian dikumpulkan dengan excauator dan diangkut oleh dump
m c k ke disposal area.

Galian batuan dengan blasting (peledakan) biasanya sulit untuk membentuk dasar galian yang rapi
sesuai rock line excavation yang ada di shopdrawiig
Selanjutnya digunakan giant breaker yang dipasangkan pada excdvator untuk membentuk dan
merapikan galian batuan

\;-I ., ,.;& Line i


To Disposal
$1
i , , 'V -
! , .

Sebelum pekerjaan beton fondasi bendung dimulai, pekrjaan yang hams dilakukan add&finhhing
permukaan batuan dengan membersihkan semua loose waartrialdan menutup permukaan dengan sphh
grouting.

Splarhgro~tin~adalah
campuran semen pasir dan air yang disiramkan ke permukaan batuan.
SEQUENCE OF THE WORKS AT WEIR

1. Excavation Works lor Foundation ?. Concrete Works


c
- Soil Excavation - Normal Concrete
- Rock Excavation by Blasting - Steel Fiber Concrete
- R m k Excavation by Giant Breaker - Pler Concrete covered by Steel Fiber Concrete
- Finishing by Manpower - Column Hoist Room
- Cleaning and Splash Grouting 3. Bridge
- Access Bridge
- Operation Bridge
4. Back filling and Apron Excavation

, , -. . .
. ' ..
.- 1
. .
.
., . ,
.-
.> ... . > '