Anda di halaman 1dari 18

Kelompok II

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Dengan semakin meningkatnya pembangunan di Negara kita, bertambah besar pulalah dana yang diperlukan untuk pengadaan barang/jasa pemerintah, baik dana yang berasal dari dalam negeri, maupun luar negeri. Hal ini memerlukan perhatian dan penanganan yang sungguh-sungguh dari Pengguna mengakibatkan kerugian bagi negara. Kerugian tersebut antara lain, akan diperolehnya barang yang keliru, kurang baik kualitasnya, kurang sesuai kuantitasnya, kurang terpenuhi persyaratan teknis lainnya, terlambatnya pelaksanaan pengadaan serta penyerahan barang/jasa yang diperlukan, sehingga tertundanya pemanfaatan barang/jasa yang diperlukan, terhambatnya tingkat daya serap dana. Bahkan untuk berbantuan luar negeri semakin besarnya beban biaya yang harus ditanggung oleh pemerintah (dengan adanya kewajiban untuk membayar bunga dan commitment fee).

Selanjutnya pengadaan tersebut dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya, apabila pihak pengguna maupun penyedia harus berpedoman pada filosofi pengadaan, tunduk pada etika dan norma pengadaan yang berlaku, mengikuti prinsip-prinsip, dan metode, serta prosedur pengadaan yang baik (sound practices). Pengadaan barang/jasa pemerintah yang dibiayai dengan APBN/APBD dapat dilaksanakan dengan efektif dan efisien dengan prinsip-prinsip persaingan yang sehat, transparan, terbuka dan perlakuan yang adil bagi semua pihak, sehingga hasilnya dapat dipertanggungjawabkan baik dari segi fisik, keuangan maupun manfaatnya bagi kelancaran tugas pemerintah dan pelayanan masyarakat. Karena pemerintah selaku pengguna barang/jasa membutuhkan barang/jasa untuk meningkatkan pelayanan publik atas dasar pemikiran yang logis dan sistematis, mengikuti prinsip dan etika yang berlaku, berdasarkan metoda dan proses pengadaan yang berlaku.

Alasan pengadaan barang/jasa pada instansi pemerintah adalah tugas pokok keberadaan instansi pemerintah bukan untuk menghasilkan barang/jasa yang bertujuan

1 | E K O N O M I

&

K E W I R A U S A H A A N

S I P I L

Kelompok II

profit oriented, tetapi lebih bersifat memberikan pelayanan kepada masyarakat. Untuk itu, pemerintah membutuhkan barang/jasa dalam rangka meningkatkan pelayanan publik atas dasar pemikiran yang logis dan sistematis, mengikuti prinsip dan etika serta berdasarkan metode dan proses pengadaan yang berlaku

1.2 Rumusan Masalah

1. Apakah yang dimaksud dengan Jasa Pengadaan Barang?

2. Apa saja unsur-unsur pada suatu Jasa Pengadaan Barang?

3. Apa saja prinsip-prinsip yang mendasari pada suatu Pengadaan Barang?

4. Bagaimana klasifikasi tentang jenis-jenis Jasa Pengadaan Barang?

5. Bagaimana mekanisme pada pelaksanaan kegiatan Pengadaan Barang?

6. Apa saja hak dan kewajiban perusahaan pengadaan barang?

7. Apa tujuan pelaksanaan pengadaan barang?

8. Apa saja ruang lingkup pengadaan barang?

9. Apa landasan hukum yang mengatur pada Jasa Pengadaan Barang?

10. Siapa saja pihak yang terkait dalam Jasa Pengadaan Barang?

2 | E K O N O M I

&

K E W I R A U S A H A A N

S I P I L

Kelompok II

BAB II PEMBAHASAN

2.1. Jasa Pengadaan Barang

Pengadaan barang/jasa merupakan serangkaian kegiatan untuk mendapatkan barang/jasa dengan kriteria tepat harga, tepat (sesuai) kualitas, tepat kuantitas (volume), rekanan dan cara pengadaan yang tepat, dan kesepakatan lainnya sesuai dengan perjanjian yang dilakukan sehingga pengguna dapat memanfaatkan barang/jasa dimaksud.

Untuk mendapatkan barang/jasa dimaksud terdapat prinsip dasar yang harus dipedomani. Prinsip dalam pengadaan barang/jasa adalah efisien, efektif, terbuka dan bersaing, transparan, adil dan tidak diskriminatif, serta akuntabel. Oleh karena itu, prinsip dasar menjadi dasar hukum bagi para pihak (penyedia dan pengguna), dan apabila tidak mengikuti prinsip dasar dimaksud akan berhadapan dengan penegak hukum.

2.2. Unsur Pengadaan Barang

2.2.1. Barang Merupakan istilah yang digunakan untuk menyebut benda, baik dalam bentuk

bahan baku, setengah jadi, maupun barang jadi yang menjadi objek dari pengadaan barang pemerintah. Dalam hal ini barang yang dimaksud adalah objek yang akan dibutuhkan oleh konsumen, dan akan disediakan oleh penyedia barang.

2.2.2. Jasa Salah satu unsur non materiil yang berbentuk pelayanan. Dalam pengadaan barang Jasa terbagi menjadi Jasa Konsultasi, Jasa Pemborongan dan Jasa lainnya.

3 | E K O N O M I

&

K E W I R A U S A H A A N

S I P I L

Kelompok II

2.2.3. Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Merupakan pemilik pekerjaan yang bertanggung jawab atas pelaksaan proses pengadaan barang dan jasa pemerintah,yang diangkat oleh Pengguna Anggara/ Kuasa Pengguna Anggaran.

2.2.4. Penyedia Barang dan Jasa Adalah perusahaan maupun badan usaha perseorangan yang menyediakan barang/jasa yang akan dibutuhkan oleh konsumen. Dan berikut adalah kriteria yang harus dipenuhi oleh Penyedia Barang dan Jasa :

1. Memiliki keahlian,kemampuan manajerial dan teknis yang memadai, berpengalaman yang sesuai dengan persyaratan yang diminta oleh instansi yang memberikan proyek pengadaan barang/jasa.

2. Memenuhi aturan menjalankan usaha seperti yang ditentukan oleh perundang-undangan menyangkut bentuk dan legalitas usaha.

3. Mempunyai kapasitas hukum untuk menandatangani kontrak untuk proyek yang akan dikerjakan.

4. Bebas dari keadaan pailit, pengawasan pengadilan maupun memiliki direksi yang tidak dalam proses hukum.

5. Memenuhi kewajiban sebagain wajib pajak pada tahun sebelumnya yang dibuktikan dengan pelampiran SPT dan SSP tahun terakhir.

6. Pernah menangani proyek pengadaan barang/jasa untuk institusi swasta maupun pemerintah dalam kurun waktu 4 tahun terakhir. Poin ini termasuk pengalaman subkontrak pengadaan barang/jasa.

7. Memiliki alamat tetap dan dapat dijangkau dengan pos

8. Tidak masuk daftar hitam penyedia barang/jasa

2.3. Prinsip Pengadaan Barang Pengadan barang/jasa pemerintah menerapkan prinsip-prinsip dasar merupakan hal mendasar yang harus menjadi acuan, pedoman dan harus dijalankan dalam Pengadaann Barang/Jasa. Di samping itu, terkandung filosofi bahwa Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah adalah upaya untuk mendapatkan barang/jasa yang diinginkan dengan menggunakan pemikiran logis, sistematis, mengikuti norma dan etika yang berlaku berdasarkan metode dan proses pengadaan yang baku. Adapun prinsip-prinsip dasar pengadaan barang/jasa pemerintah adalah

4 | E K O N O M I

&

K E W I R A U S A H A A N

S I P I L

Kelompok II

2.3.1. Efisien

Efisien maksudnya adalah pengadaan barang/jasa harus diusahakan dengan menggunakan dana dan daya yang terbatas untuk mencapai sasaran yang ditetapkan dalam waktu sesingkat-singkatnya dan dapat dipertanggungjawabkan. Dengan istilah lain, efisien artinya dengan menggunakan sumber daya yang optimal dapat diperoleh barang/jasa dalam jumlah, kualitas, waktu sebagaimana yang direncanakan. Istilah efisiensi dalam pelaksanaannya tidak selalu diwujudkan dengan memperoleh harga barang/jasa yang termurah, karena di samping harga murah, perlu dipertimbangkan ketersediaan suku cadang, panjang umur dari barang yang

dibeli serta besarnya biaya operasional dan biaya pemeliharaan yang harus disediakan di kemudian hari. Langkah-langkah yang perlu dilakukan agar pengadaan barang/jasa supaya efisien adalah:

1. Penilaian kebutuhan, apakah suatu barang/jasa benar-benar diperlukan oleh suatu instansi pemerintah;

2. Penilaian metode pengadaan harus dilakukan secara tepat sesuai kondisi yang ada. Kesalahan pemilihan metode pengadaan dapat mengakibatkan pemborosan biaya dan waktu;

3. Survey harga pasar sehingga dapat dihasilkan HPS (Harga Perkiraan Sendiri) dengan harga yang wajar;

4. Evaluasi dan penilaian terhadap seluruh penawaran dengan memilih nilai value for money yang terbaik; dan

5. Dalam proses pemilihan penyedia barang/jasa harus diterapkan prinsip-prinsip dasar lainnya.

2.3.2. Efektif Efektif artinya dengan sumber daya yang tersedia diperoleh barang/jasa yang

mempunyai nilai manfaat setinggi-tingginya. Manfaat setinggi-tingginya dalam uraian di atas dapat berupa:

1. Kualitas terbaik;

2. Penyerahan tepat waktu;

3. Kuantiutas terpenuhi;

5 | E K O N O M I

&

K E W I R A U S A H A A N

S I P I L

Kelompok II

4. Mampu bersinergi dengan barang/jasa lainnya; dan

5. Terwujudnya dampak optimal terhadap keseluruhan pencapaian

kebijakan atau program. Dengan penerapan prinsip efektif maka pengadaan barang/jasa harus sesuai dengan kebutuhan yang telah ditetapkan dan dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya sesuai dengan sasaran yang ditetapkan.

2.3.3. Terbuka dan Bersaing

Terbuka dan bersaing artinya pengadaan barang/jasa harus terbuka bagi penyedia barang/jasa yang memenuhi persyaratan dan dilakukan melalui persaingan yang sehat di antara penyedia barang/jasa yang setara dan memenuhi

syarat/kriteria tertentu berdasarkan ketentuan dan prosedur yang jelas dan transparan.

Persaingan sehat merupakan prinsip dasar yang paling pokok karena pada dasarnya seluruh pengadaan barang dan jasa harus dilakukan berlandaskan persaingan yang sehat. Beberapa persyaratan agar persaingan sehat dapat diberlakukan:

1. PBJ harus transparan dan dapat diakses oleh seluruh calon peserta;

2. Kondisi yang memungkinkan masing-masing calon peserta mempu melakukan evaluasi diri berkaitan dengan tingkat kompetitipnya serta peluang untuk memenangkan persaingan;

3. Dalam setiap tahapan dari proses pengadaan harus mendorong terjadinya persaingan sehat;

4. Pengelola Pengadaan Barang/Jasa harus secara aktif menghilangkan hal- hal yang menghambat terjadinya persaingan yang sehat;

5. Dihindarkan terjadinya conflict of interest; dan

6. Ditegakkannya prinsip non diskriminatif secara ketat.

Prinsip terbuka adalah memberikan kesempatan kepada semua penyedia barang/jasa yang kompeten untuk mengikuti pengadaan. Persaingan sehat dan terbuka (open and efektive competition) adalah persaingan sehat akan dapat diwujudkan apabila Pengadaan Barang/Jasa yang dilakukan terbuka bagi seluruh calon penyedia barang/jasa yang mempunyai potensi untuk ikut dalam persaingan.

6 | E K O N O M I

&

K E W I R A U S A H A A N

S I P I L

Kelompok II

2.3.4. Transparan Transparan adalah pemberian informasi yang lengkap kepada seluruh calon

peserta yang disampaikan melalui media informasi yang dapat menjangkau seluas- luasnya dunia usaha yang diperkirakan akan ikut dalam proses pengadaan barang/jasa. Setelah informasi didapatkan oleh seluruh calon peserta, harus diberikan waktu yang cukup untuk mempersiapkan respon pengumuman tersebut. Beberapa hal yang perlu diperhatikan supaya Pengadaan Barang/Jasa transparan adalah:

1. Semua peraturan/kebijakan/aturan administrasi/prosedur dan praktek yang dilakukan (termasuk pemilihan metoda pengadaan) harus transparan kepada seluruh calon peserta;

2. Peluang dan kesempatan untuk ikut serta dalam proses pengadaan barang/jasa harus transparan;

3. Seluruh persyaratan yang diperlukan oleh calon peserta untuk mempersiapkan penawaran yang responsif harus dibuat transparan; dan

4. Kriteria dan tata cara evaluasi, tata cara penentuan pemenang harus transparan kepada seluruh calon peserta.

Jadi dalam transparan harus ada kegiatan-kegiatan:

1. Pengumuman yang luas dan terbuka;

2. Memberikan waktu yang cukup untuk mempersiapkan proposal/penawaran;

3. Menginformasikan secara terbuka seluruh persyaratan yang harus dipenuhi;

4. Memberikan informasi yang lengkap tentang tata cara penilaian penawaran.

Dengan demikian bahwa dalam transparan maka semua ketentuan dan

informasi mengenai pengadaan barang/jasa termasuk syarat teknis/administrasi pengadaan, tata cara evaluasi, hasil evaluasi, penetapan calon penyedia barang/jasa sifatnya terbuka bagi peserta penyedia barang/jasa yang berminat serta masyarakat luas pada umumnya.

2.3.5. Adil dan Tidak Diskriminatif

Adil/tidak diskriminatif maksudnya adalah pemberian perlakuan yang sama terhadap semua calon yang berminat sehingga terwujud adanya persaingan yang sehat dan tidak mengarah untuk memberikan keuntungan kepada pihak tertentu dengan dan atau alasan apapun.

7 | E K O N O M I

&

K E W I R A U S A H A A N

S I P I L

Kelompok II

Hal-hal yang harus diperhatikan supaya pengadaan barang/jasa berlaku adil dan tidak diskriminatif adalah:

1. Memperlakukan seluruh peserta dengan adil dan tidak memihak;

2.3.6.

2. Menghilangkan conflict of interest pejabat pengelola dalam pengadaan barang/jasa;

3. Pejabat pengelola dalam pengadaan barang/jasa dilarang menerima hadiah, fasilitas, keuntungan atau apapun yang patut diduga ada kaitannya dengan pengadaan yang sedang dilakukan;

4. Informasi yang diberikan harus akurat dan tidak boleh dimanfaatkan untuk keperluan pribadi;

5. Para petugas pengelola harus dibagi-bagi kewenangan dan tanggung jawabnya melalui sistem manajemen internal (ada control dan supervisi); dan

6. Adanya arsip dan pencatatan yang lengkap terhadap semua kegiatan.

Akuntabel

Akuntabel berarti harus mencapai sasaran baik fisik, keuangan maupun manfaat bagi kelancaran pelaksanaan tugas umum pemerintahan dan pelayanan masyarakat sesuai dengan prinsip-prinsip serta ketentuan yang berlaku dalam pengadaan barang dan jasa. Akuntabel merupakan pertanggungjawaban

pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa kepada para pihak yang terkait dan masyarakat berdasarkan etika, norma dan ketentuan peraturan yang berlaku. Beberapa hal yang harus diperhatikan sehingga Pengadaan Barang/Jasa akuntabel adalah:

1. Adanya arsip dan pencatatan yang lengkap;

2. Adanya suatu sistem pengawasan untuk menegakkan aturan-aturan;

3. Adanya mekanisme untuk mengevaluasi, mereview, meneliti dan mengambil tindakan terhadap protes dan keluhan yang dilakukan oleh peserta.

2.4. Klasifikasi Jenis Jasa Pengadaan Barang

2.4.1 Pengadaan Pekerjaan Konstruksi 1. Pelelangan Umum

8 | E K O N O M I

&

K E W I R A U S A H A A N

S I P I L

Kelompok II

Pada prinsipnya semua pemilihan penyedia pengadaan jasa konstruksi dilakukan melalui metode Pelelangan Umum

2. Pemilihan Langsung Untuk pekerjaan yang tidak kompleks dan bernilai paling tinggi rp. 200 juta

3. Pengadaan Langsung Untuk pekerjaan dengan ketentuan; merupakan kebutuhan operasioan K/D/L/I, teknologi sederhana, resiko kecil dan bernilai paling tinggi rp. 100 juta dapat dilakukan dengan cara Pengadaan Langsung.

4. Pelelangan Terbatas Apabila diyakini penyedianya terbatas dan pekerjaan kompleks maka dapat dilakukan dengan hanya mengundang peserta pengadaan yang diyakini mampu dengan cara Pelelangan Terbatas.

5. Penunjukan Langsung Pelelangan dilakukan secara langsung pada waktu dan tempat yang sama antara pihak penyedia dan owner konstruksi

2.4.2. Pengadaan Barang/Jasa Lainnya

1. Pelelangan Umum Pada prinsipnya semua pemilihan penyedia pengadaan barang/jasa lainnya dan juga pekerjaan konstruksi dilakukan dengan Pelelangan Umum.

2. Pelelangan Sederhana Untuk pengadaan barang/jasa yang tidak kompleks dan bernilai paling tinggi Rp. 200 juta.

3. Pengadaan Langsung Untuk pekerjaan yang merupakan kebutuhan operasioan K/D/L/I, teknologi sederhana, resiko kecil dan bernilai paling tinggi rp. 100 juta.

4. Penunjukan Langsung Pelelangan dilakukan secara langsung pada waktu dan tempat yang sama antara pihak penyedia dan customer

5. Kontes/Sayembara Sayembara adalah metode pemilihan Penyedia Jasa yang memperlombakan gagasan orisinal, kreatifitas dan inovasi tertentu yang harga/biayanya tidak dapat ditetapkan berdasarkan Harga Satuan. Sayembara digunakan untuk

9 | E K O N O M I

&

K E W I R A U S A H A A N

S I P I L

Kelompok II

pengadaan

Kontes adalah metode pemilihan Penyedia Barang yang memperlombakan Barang/benda tertentu yang tidak mempunyai harga pasar dan yang harga/biayanya tidak dapat ditetapkan berdasarkan Harga Satuan. Kontes digunakan untuk Pengadaan Barang.

Lainnya.

Jasa

2.4.3. Pengadaan Jasa Konsultansi

1. Seleksi Umum Semua pengadaan jasa konsultansi pada prinsipnya dengan Seleksi Umum.

2. Seleksi Sederhana Dapat dilakukan untuk pengadaan jasa konsultansi yang bersifat sederhana dan bernilaipaling tinggi Rp. 200 Juta.

3. Seleksi Langsung Nilai pekerjaan paling tinggi Rp. 50 Juta.

4. Penunjukan Langsung Merupakan metode pemilihan Penyedia Barang/Jasa dengan cara menunjuk langsung 1 (satu) Penyedia Barang/Jasa.

5. Sayembara Adalah metode pemilihan Penyedia Jasa yang memperlombakan gagasan orisinal, kreatifitas dan inovasi tertentu yang harga/biayanya tidak dapat ditetapkan berdasarkan Harga Satuan.

2.5. Peraturan dan Mekanisme Jasa Pengadaan Barang Pelaksanaan pengadaan barang dan jasa, banyak aturan-aturan yang berbeda untuk setiap jenis pengadaan. Sesuai dengan aturan, ada dua pelaksanaan pengadaan, yaitu dengan menggunakan penyedia barang/jasa atau dengan cara swakelola. Penyedia barang/jasa harus memenuhi ketentuan peraturan perundang- undangan untuk menjalankan usaha, seperti memiliki Surat Izin Usaha, memiliki keahlian, pengalaman, kemampuan teknis dan manajerial untuk menyediakan barang/jasa. Sedangkan swakelola adalah pekerjaan yang direncanakan, dikerjakan dan diawasi sendiri oleh institusi, di mana dalam pelaksanaannya dapat dilaksanakan oleh PPK, instansi pemerintah lain atau kelompok masyarakat/LSM penerima

10 | E K O N O M I

&

K E W I R A U S A H A A N

S I P I L

Kelompok II

hibah. Pekerjaan ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan teknis SDM pada institusi yang bersangkutan atau pekerjaan yang dari segi besaran, sifat, lokasi, atau pembiayaan tidak diminati oleh penyedia barang/jasa, dan lain-lain. Dalam beberapa kasus, peserta lelang sering merasa kecewa ketika didiskualifikasi dari kepesertaan lelang. Hal ini disebabkan, karena peserta tidak mengetahui mekanisme dan persyaratan yang mesti dipenuhi sesuai aturan yang berlaku. Bahkan, ketidaktahuan ini dapat berujung kecurangan yang dapat merugikan kita dalam kompetisi lelang. Karena itu, pengetahuan aturan dan hukum pengadaan barang/jasa mesti dikuasai oleh peserta lelang, baik perorangan maupun badan usaha. Semua peraturan dan mekanisme aturan ini dapat Anda temukan di dalam buku Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 70 Tahun 2012 tentang Perubahan Kedua atas Perpres RI No. 54 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah dan Penjelasannya. Isi dan tata letak buku terbitan Visi Media Pustaka ini sesuai dengan dokumen resmi dari sekretariat negara.

2.6. Hak dan kewajiban perusahaan pengadaan barang

Menyediakan data dan informasi yang diperlukan oleh penyedia barang dan/atau jasa untuk mempersiapkan penawaran teknis dan harga sesuai kebutuhan yang dituangkan dalam Kerangka Acuan Kerja (KAK) dan disampaikan kepada perusahaan penyedia barang dan/atau jasa

Melaksanakan kewajiban pembayaran atas barang dan/atau jasa yang telah diberikan oleh perusahaan penyedia barang dan/atau jasa sesuai dengan perjanjian dan tata cara pembayaran yang telah disepakati

Menjamin bahwa proposal yang diterimanya terkait keikutsertaan perusahaan penyedia barang dan/atau jasa ini tidak disebarluaskan ke pihak lainnya tanpa persetujuan perusahaan perusahaan penyedia barang dan/atau jasa terlebih dahulu, kecuali untuk paket penawaran harga dan teknis terpilih yang akan diperlukan dalam hal implementasi dan atau pekerjaan lanjutan sesuai dengan yang dimaksud dalam dokumen KAK.

11 | E K O N O M I

&

K E W I R A U S A H A A N

S I P I L

Kelompok II

2.7. Tujuan Pelaksanaan Pengadaan

Tujuan pelaksanaan pengadaan menurut Peraturan Presiden no. 70 Tahun 2012 tentang Pengadaan barang/jasa pemerintah bahwa:

a. meningkatkan efektifitas dan efisiensi pengadaan barang/jasa pemerintah

b. meningkatkan transparansi dan akuntabilitas dalam pengadaan barang/jasa pemerintah

c. memudahkan sourcing dalam memperoleh data dan informasi tentang barang/jasa dan penyedia barang/jasa

d. menjamin proses pengadaan barang/jasa pemerintah berjalan lebih cepat dan akurat

e. menjamin persamaan kesempatan, akses dan hak yang sama bagi para pihak pelaku pengadaan barang/jasa

f. menciptakan situasi yang kondusif agar terjadi persaingan yang sehat antar penyedia barang/jasa

g. menciptakan situasi yang kondusif bagi aparatur pemerintah dan menjamin terselenggaranya komunikasi online untuk mengurangi intensitas pertemuan langsungantara penyedia barang/jasa dengan panitia pengadaan dalam mendukung pemerintahanyang bersih dan bebas dari korupsi, kolusi dan nepotisme.

2.8. Ruang Lingkup Pengadaan barang/jasa yang pembiayaannya sebagian atau seluruhnya bersumber dari APBN/APBD, termasuk dari pinjaman/hibah dalam negeri yang diterima oleh pemerintah.

Pengadaan barang/jasa yang sebagian atau seluruhnya dibiayai dari Pinjaman/Hibah Luar Negeri (PHLN); jika ada perbedaan dengan cara kesepakatan tentang tata cara pengadaan.

2.9. Dasar Hukum

1. PP No. 29 Tahun 2000 tentang Penyelenggaraan Jasa Konstruksi

2. PP No. 59 Tahun 2010 tentang perubahan PP No. 29 Tahun 2000

3. Perpres No. 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

12 | E K O N O M I

&

K E W I R A U S A H A A N

S I P I L

Kelompok II

4. Perpres No. 35 Tahun 2011 tentang Perubahan ke 1 Perpres no. 54 Tahun 2010 5. Perpres No. 70 Tahun 2012 tentang Perubahan ke 2 Perpres no. 54 Tahun 2010 6. Perpres Nomor 106 tahun 2007 tentang Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

2.10. Pihak-pihak Terkait Pengadaan Barang/Jasa

2.10.1. Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran (PA/KPA)

Memiliki tugas pokok dan kewenangan sebagai berikut :

a) Perencanaan Umum

b) Pengendalian dan Monitoring anggaran

c) Menetapkan PPK, PP, PPHP, Tim teknis, dan Tim Juri.

d) Menetapkan Pemenang Pengadaan (Barang/Pek. Konstr/Jasa lainnya diatas Rp.100 M)

e) Jasa Konsultasi diatas 10 Milyar

f) Pelaporan Keuangan dan menyimpanan seluruh dokumen.

g) Menyelesaikan perselisihan pihak yang di angkat

2.10.2. Pejabat Pembuat Komitmen

Mempunyai tugas dan kewenangan sebagai berikut:

a) Mengusulkan perubahan Paket dan Jadwal

b) Perencanaan Teknis (Spek Teknis, HPS, Rancangan Kontrak)

c) Persiapan dan Penandatangan Kontrak

d) Pengendalian Pelaksanaan Kontrak.

e) Melaporkan kemajuan pekerjaan dan hambatannya

f) Melaporkan pelaksanaan dan menyerahkan hasil pekerjaan

g) Menyimpanan seluruh dokumen pelaksanaan

h) Menetapkan Tim Pendukung dan Tim ahli Pemberi Penjelasan

2.10.3. Unit Layanan Pengadaan

Mempunyai tugas dan kewenangan sebagai berikut:

a) Mengusulkan Perubahan Perencanaan Teknis.

b) Menyusun Rencana Pemilihan

c) Menetapkan Dokumen Pengadaan

d) Menetapkan Nilai Jaminan Penawaran

13 | E K O N O M I

&

K E W I R A U S A H A A N

S I P I L

Kelompok II

e) Menetapkan Tenaga Ahli

f) Melakukan Proses Pemilihan

g) Membuat laporan Proses dan hasil Pengadaan kepada Menteri/Kepala Daerah.

h) Membuat Pertanggung Jawaban atas Pelaksanaan kegiatan pengadaan kepada PA/KPA

2.10.4. Penyedia Barang dan Jasa Adalah badan usaha atau orang perseorangan yang menyediakan Barang/Pekerjaan Konstruksi/Jasa Konsultansi/ Jasa Lainnya Syarat Penyedia :

a) Memiliki ijin usaha; memiliki pengalaman/ kemampuan teknis ;

b) Memperoleh paling kurang satu pekerjaan dalam kurun waktu empat tahun terakhir (dikecualikan bagi yang baru berdiri kurang dari tiga tahun);

c) Memiliki sumber daya yang diperlukan dalam Pengadaan

d) Dalam hal kemitraan, harus mempunyai perjanjian kerja sama operasi

e) Memiliki kemampuan pada bidang/subbidang pekerjaan yang sesuai

f) Memiliki Kemampuan Dasar (KD) untuk usaha non-kecil untuk pekerjaan konstruksi dan jasa lainnya;

g) Memiliki Sisa kemampuan paket (SKP)

h) Tidak dalam pengawasan pengadilan, tidak pailit

i) Sebagai wajib pajak sudah memiliki NPWP, SPT tahunan dan laporan pajak 3 bulan terakhir

j) Secara hukum mempunyai kapasitas untuk mengikatkan diri pada Kontrak

k) Tidak masuk dalam Daftar Hitam

l) Memiliki alamat tetap dan jelas serta dapat dijangkau dengan jasa pengiriman; dan

m) Menandatangani Pakta Integritas

14 | E K O N O M I

&

K E W I R A U S A H A A N

S I P I L

Kelompok II

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan Berdasarkan pembahasan pada bab-bab sebelumnya, dapat disimpulkan beberapa poin antara lain:

a. Pengadaan barang/jasa merupakan serangkaian kegiatan untuk mendapatkan barang/jasa dengan kriteria tepat harga, tepat (sesuai) kualitas, tepat kuantitas (volume), rekanan dan cara pengadaan yang tepat, dan kesepakatan lainnya sesuai dengan perjanjian yang dilakukan sehingga pengguna dapat memanfaatkan barang/jasa dimaksud.

b. Unsur-unsur pengadaan barang dan jasa meliputi barang, jasa, pejabat pembuat komitmen, penyedia barang dan jasa.

c. Prinsip pengadaan barang dan jasa yaitu efisien, efektif, terbuka dan bersaing, transparan, adil dan tidak diskriminatif, dan akuntabel.

d. Klasifikasi atau jenis-jenis pengadaan barang dan jasa meliputi pengadaan pekerjaan konstruksi, pengadaan barang atau jasa lainnya, dan pengadaan jasa konsultasi,

f. Hak dan kewajiban perusahaan pengadaan barang antara lain:

Menyediakan data dan informasi yang diperlukan oleh penyedia barang dan/atau jasa untuk mempersiapkan penawaran teknis dan harga sesuai kebutuhan yang dituangkan dalam Kerangka Acuan Kerja (KAK) dan disampaikan kepada perusahaan penyedia barang dan/atau jasa

Melaksanakan kewajiban pembayaran atas barang dan/atau jasa yang telah diberikan oleh perusahaan penyedia barang dan/atau jasa sesuai dengan perjanjian dan tata cara pembayaran yang telah disepakati

e.
e.

15 | E K O N O M I

&

K E W I R A U S A H A A N

S I P I L

Kelompok II

Menjamin bahwa proposal yang diterimanya terkait keikutsertaan perusahaan penyedia barang dan/atau jasa ini tidak disebarluaskan ke pihak lainnya tanpa persetujuan perusahaan perusahaan penyedia barang dan/atujuan tau jasa terlebih dahulu, kecuali untuk paket penawaran harga dan teknis terpilih yang akan diperlukan dalam hal implementasi dan atau pekerjaan lanjutan sesuai dengan yang dimaksud dalam dokumen KAK.

g. Tujuan pelaksanaan pengadaan barang Tujuan pelaksanaan pengadaan menurut Peraturan Presiden no. 70 Tahun 2012 tentang Pengadaan barang/jasa pemerintah bahwa:

meningkatkan efektifitas dan efisiensi pengadaan barang/jasa pemerintah

meningkatkan transparansi dan akuntabilitas dalam pengadaan barang/jasa pemerintah

memudahkan sourcing dalam memperoleh data dan informasi tentang barang/jasa dan penyedia barang/jasa

menjamin proses pengadaan barang/jasa pemerintah berjalan lebih cepat dan akurat

menjamin persamaan kesempatan, akses dan hak yang sama bagi para pihak pelaku pengadaan barang/jasa

situasi yang kondusif agar terjadi persaingan yang sehat antar penyedia barang/jasa

menciptakan situasi yang kondusif bagi aparatur pemerintah dan menjamin terselenggaranya komunikasi online untuk mengurangi intensitas pertemuan langsungantara penyedia barang/jasa dengan panitia pengadaan dalam mendukung pemerintahanyang bersih dan bebas dari korupsi, kolusi dan nepotisme. h. Ruang lingkup pengadaan barang adalah pengadaan barang/jasa yang pembiayaannya sebagian atau seluruhnya bersumber dari APBN/APBD, termasuk dari pinjaman/hibah dalam negeri yang diterima oleh pemerintah. Pengadaan barang/jasa yang sebagian atau seluruhnya

16 | E K O N O M I

&

K E W I R A U S A H A A N

S I P I L

Kelompok II

dibiayai dari Pinjaman/Hibah Luar Negeri (PHLN); jika ada perbedaan dengan cara kesepakatan tentang tata cara pengadaan.

i. Landasan hukum yang mengatur tentang jasa pengadaan barang antara lain:

PP No. 29 Tahun 2000 tentang Penyelenggaraan Jasa Konstruksi

PP No. 59 Tahun 2010 tentang perubahan PP No. 29 Tahun 2000

Perpres No. 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

Perpres No. 35 Tahun 2011 tentang Perubahan ke 1 Perpres no. 54 Tahun 2010

Perpres No. 70 Tahun 2012 tentang Perubahan ke 2 Perpres no. 54 Tahun 2010Perpres Nomor 106 tahun 2007 tentang Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

j. Pihak-pihak yang terkait antara lain pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran (PA/KPA), pejabat pembuat komitmen, unit layanan pengadaan, dan penyedian barang dan jasa.

17 | E K O N O M I

&

K E W I R A U S A H A A N

S I P I L

Kelompok II

Daftar Pustaka

Sukirman,. 2003. Beton Aspal Campuran Panas. Grafika Mardi Yuana : Bandung.

18 | E K O N O M I

&

K E W I R A U S A H A A N

S I P I L