Anda di halaman 1dari 12

Perbandingan Efektifitas Tepid Sponging dan Plester Kompres dalam

Menurunkan Suhu Tubuh pada Anak Usia Balita yang Mengalami Demam di
Puskesmas Salaman 1 Kabupaten Magelang

Tito Yunita Syltami Bardu**)

**) Mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan STIKES Ngudi Waluyo 2014

ABSTRAK

Tepid sponging dan plester kompres merupakan penatalaksanaan non


farmakologis yang dapat diberikan kepada balita yang mengalami demam. Tepid
sponging menggunakan waslap lembab yang hangat sebagai media pemindahan
panas, sedangkan plester kompres menggunakan hidrogel sebagai media pemindahan
panas. tubuh. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui perbandingan
efektivitas plester kompres dan tepid sponging dalam menurunkan suhu tubuh pada
anak balita yang mengalami demam di Puskesmas Salaman 1 Kabupaten Magelang
Penelitian ini menggunakan rancangan non equivalent contrl group design.
Banyaknya sampel yang digunakan dalam penelitan ini adalah 15 balita pada masing
masing perlakuan yang dipilih dengan cara purposive sampling pada tanggal 10
15 Februari 2014. Penelitian ini dilakukan selama 20 menit pada masing masing
perlakuan dengan meletakkan waslap hangat dan plester kompres pada area frontal,
aksila dan inguinal.
Ada perbedaan penurunan suhu tubuh antara pemberian tepid sponging dan
plester kompres dalam menurunkan suhu tubuh pada anak usia balita yang
mengalami demam di Puskesmas Salaman 1 Kabupaten Magelang, dengan p-value
0.002 ( : 0.05) jumlah selisih penurunan suhu tubuh 0.41C.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut maka dapat disimpulkan bahwa tepid
sponging lebih efektif menurunkan suhu tubuh anak usia balita yang mengalami
demam dibandingkan dengan plester kompres. Disarankan kepada keluarga dan
instansi untuk dapat mengaplikasikan metode tepid sponging untuk menurunkan suhu
tubuh pada balita yang mengalami demam.

Kata kunci : Suhu tubuh, demam, tepid sponging, plester kompres


The Comparison of the Effectiveness of Tepid Sponging and Fever Patch in
Lowering Body Temperature of Chuldren Under-Five with Fever in Salaman 1
Health Center Magelang

ABSTRACT

Tepid sponging and compress plaster are the non-pharmacological


management that can be given to the under-five years children with fever. Tepid
sponging by a damp and warm washcloth is used as the heat transfer medium, while
the fever patch by using hydrogels. The purpose of this study is to find the
comparison of effectiveness of tepid sponging and compress plaster in lowering body
temperature on the under-five years of age children with fever at Salaman 1 Health
Center Magelang Regency.
This study used the non-equivalent control group design. The samples used in
this study were 30 infants in which there were 15 children in each treatment that
selected by using accidental sampling technique during 10 to 15 February 2014 at 10
-15 February 2014. This study doing for 20 minutes both of them, and give the mois
and warm clothing and the fever patch on the frontal, aksila and inguinal area.
The results of analysis by using independent t-test obtained the p-value of
0.002, which 0.05, so that there is a difference in lowering body temperature
between tepid sponging and fever patch on the children under five with fever at
Salaman 1 health center Magelang, with the average of body temperature before and
after provided by treatment are 38.14 C, 38.06C, 37.05C and 37.46C,
respectively. Decreasing of the temperature are 1.08 C for the tepid sponging and
0.60C for the fever patch
Based on these results of this study,tepid sponging is more effectiveness than
fever patch for decreasing temperature of body child under five. It is recommended
to family and the related instances to apply the tepid sponging method to reduce body
temperature in the under-five years of age children with fever.

Keywords : Body temperature, Fever, Tepid sponging, Compress plaster


PENDAHULUAN Pada dasarnya ketika terjadi peningkatan suhu
tubuh ringan sampai 39C merangsang produksi sel
Suhu adalah perbedaan antara jumlah panas yang
darah putih sehingga akan menambah sistem
dihasilkan tubuh dengan jumlah panas yang hilang ke
lingkungan luar. Mekanisme kontrol suhu inti (suhu imunitas tubuh. Peningkatan suhu akan menurunkan
dalam jaringan) tetap konstan walaupun suhu permukaan konsentrasi besi dalam darah sehingga menekan
berubah sesuai aliran darah ke kulit dan jumlah panas pertumbuhan bakteri. Meskipun demam juga
yang hilang ke lingkungan luar. Karena perubahan memiliki manfaat dalam tubuh, namun kebanyakan
tersebut, suhu normal pada manusia dimana jaringan dan orang tua merasa takut dan panik saat anak
sel tubuh akan berfungsi secara optimal berkisar dari mengalami demam. Kepanikan orang tua di
36,5 37,5 C (Potter & Perry, 2009). Uraian di atas karenakan ketidaktahuan dan ketidakmampuan
cukup menjelaskan bahwa ketika terjadi perubahan suhu mereka menangani anak yang demam.
tubuh, seperti suhu tubuh menurun kurang dari 36,5C
yang disebut dengan hipotermia ataupun naik lebih dari Penanganan demam terbagi menjadi dua
37,5C yang disebut dengan hipertermi atau demam. tindakan yaitu tindakan farmakologis dan non
farmakologis. Tindakan farmakologis yaitu tindakan
Di Brazil, dari seluruh kunjungan ke fasilitas
pemberian obat sebagai penurun demam atau yang
kesehatan anak, terdapat sekitar 19% sampai 30%
sering disebut dengan antipiretik. Tindakan non
anak di periksa karena menderita demam {Alves &
farmakologis adalah tindakan penurunan demam
Almeida dalam Setiawati (2008)}. Penelitian yang
dengan menggunakan terapi fisik seperti
dilakukan di Kuwait {Jalil, Jumah, & Al-Baghli
menempatkan anak di ruang bersuhu dan
dalam Setiawati (2008)} menunjukkan bahwa
bersirkulasi baik, mengganti pakaian anak dengan
sebagian besar anak usia 3 bulan sampai 36 bulan
pakaian yang tipis dan menyerap keringat,
megalami serangan demam rata rata 6 kali
memberikan hidrasi yang adekuat, dan memberikan
pertahun. Penelitian Suprapti (2008)
kompres (Saito, 2013). Pemberian kompres
mengungkapkan bahwa kejadian demam yang
merupakan tindakan mandiri yang dapat dilakukan
dihubungkan dengan infeksi mencapai 29 52%,
oleh perawat.
demam dengan keganasan 11 20%, 4% dengan
penyakit metabolik dan 11 12% dengan penyakit Kompres adalah salah satu metode fisik untuk
lain. menurunkan suhu tubuh bila mengalami demam.
Salah satu metode kompres yang sering digunakan
Peningkatan suhu tubuh pada balita sangat
adalah pemberian tepid sponging (kompres hangat).
berpengaruh terhadap fisiologis organ tubuhnya,
Tepid sponging merupakan tindakan untuk
karena luas permukaan tubuh relatif kecil
menurunkan suhu tubuh saat demam yaitu dengan
dibandingkan pada orang dewasa, menyebabkan
merendam anak di dalam air hangat, mengelap
ketidakseimbangan organ tubuhnya. Selain itu pada
sekujur tubuh dengan air hangat menggunakan
balita belum terjadi kematangan mekanisme pengaturan
suhu sehingga dapat terjadi perubahan suhu tubuh yang waslap, dan dengan mengompres pada bagian tubuh
drastis terhadap lingkungan. Kegawatan yang dapat tertentu yang memiliki pembuluh darah besar.
terjadi ketika demam tidak segera di atasi dan suhu Penelitian yang dilakukan Setiawati (2008)
tubuh meningkat terlalu tinggi yaitu dapat mengungkapkan bahwa rata rata penurunan suhu
menyebabkan dehidrasi, letargi, penurunan nafsu tubuh saat mendapatkan terapi tepid sponging
makan sehingga asupan nutrisi berkurang, dan adalah 0,97C dalam waktu 60 menit.
kejang yang mengancam kelangsungan hidup anak Selain dengan tepid sponging dan pemberian
(Nelson, 2000). antipiretik, penurunan demam dapat dilakukan
menggunakan kompres hidrogel yang sering di Magelang, dan didapatkan data bahwa di
sebut plester kompres. Plester hidrogel penurun Puskesmas Salaman 1 kejadian demam pada balita
demam dimaksudkan sebagai terapi pendukung atau lebih tinggi daripada kejadian demam pada bayi
pertolongan pertama untuk menurunkan suhu tubuh maupun kelompok usia lain. Tahun 2012 kejadian
saat terjadi demam. balita demam mencapai 775, dan pada tahun 2013
sampai dengan bulan September kejadian demam
Tindakan tepid sponging dan plester kompres mencapai angka 829 balita. Data tersebut
merupakan terapi penurunan demam yang dapat menunjukkan terjadi peningkatan balita yang
dilakukan dengan mudah, baik oleh perawat mengalami demam,maka berdasarkan data tersebut
maupun masyarakat. Masing masing terapi peneliti akan melakukan tindakan tepid sponging
memiliki keunggulan dan kekurangan masing dan plester kompres di Puskesmas Salaman 1
masing. Kabupaten Magelang.
Tepid sponging adalah intervensi keperawatan Banyak kejadian demam yang terjadi pada
yang sudah lama di aplikasikan oleh perawat. Tepid balita dan orang tua ataupun keluarga belum
sponging di anjurkan untuk menurunkan demam mengetahui cara penanganan yang tepat. Sebagai
karena dapat menurunkan suhu tubuh melalui perawat yang profesional harus dapat melakukan
evaporasi, tepid sponging juga menyebabkan terapi secara mandiri, seperti pemberian terapi tepid
vasodilatasi pembuluh darah sehingga pori pori sponging. Selain tepid sponging, sekarang sudah
kulit akan membuka dan mempermudah terdapat juga terapi penurunan panas dengan
pengeluaran panas sehingga akan terjadi perubahan menggunakan plester kompres yang di anggap lebih
suhu tubuh (Corrard, 2001) praktis dan nyaman dalam penggunaannya. Namun
Plester kompres merupakan plester hidrogel untuk keefektifan penurunan panasnya belum dapat
yang dapat menurunkan suhu tubuh melalui di pastikan bahwa metode plester kompres akan
evaporasi. Adanya kandungan air yang besar dalam lebih efektif menurunkan demam dari pada cara
struktur hidrogel dapat dimanfaatkan untuk tepid sponging. Tepid sponging maupun plester
menurunkan demam melalui mekanisme kompres memiliki keunggulan dan kekurangan
penyerapan panas dari tubuh dan mentransfer panas masing masing. Maka penulis tertarik untuk
tersebut ke molekul air, kemudian menurunkan meneliti bagaimana perbandingan efektifitas
suhu tubuh Penurunan suhu demam dapat terjadi penggunaan tepid sponging dan plester kompres
karena air memiliki kapasitas panas penguapan yang dalam menurunkan suhu tubuh anak usia balita
cukup besar yaitu sekitar 0,6 kilokalori per gram yang mengalami demam.
(Darwis,2010). Banyak kejadian demam yang terjadi pada
Hasil penelitian sebelumnya mengenai tepid balita dan orang tua ataupun keluarga belum
sponging terdapat penurunan suhu tubuh rata rata mengetahui cara penanganan yang tepat. Sebagai
sebanyak 1.4C setelah 30 menit, sedangkan plester perawat yang profesional harus dapat melakukan
kompres sudah pernah dilakukan penelitiaan terapi secara mandiri, seperti pemberian terapi tepid
mengenai efektivitas dalam menurunkan suhu tepid sponging. Selain tepid sponging, sekarang sudah
water dari 40C menjadi 37C dalam waktu 12 terdapat juga terapi penurunan panas dengan
menit. menggunakan plester kompres yang di anggap lebih
praktis dan nyaman dalam penggunaannya. Namun
Peneliti telah melakukan studi pendahuluan untuk keefektifan penurunan panasnya belum dapat
yang dilakukan di Puskesmas Salaman 1 Kabupaten di pastikan bahwa metode plester kompres akan
lebih efektif menurunkan demam dari pada cara Magelang. Penelitian ini dilakukan pada tanggal 10
tepid sponging. Tepid sponging maupun plester 15 Februari 2014.
kompres memiliki keunggulan dan kekurangan
masing masing. Maka penulis tertarik untuk
meneliti bagaimana perbandingan efektifitas 4. Alat pengumpulan data
penggunaan tepid sponging dan plester kompres Dalam penelitian ini digunakan alat-alat untuk
dalam menurunkan suhu tubuh anak usia balita mengumpulkan data yaitu thermometer yang di
yang mengalami demam. gunakan dalam penelitian ini adalah termometer
digital yang di letakkan pada aksila pasien dan
METODE PENELITIAN
lembar obsevasi.
1. Desain Penelitian
5. Analisa
Desain penelitian yang digunakan dalam a. Univariat
penelitian ini adalah quasi eksperiment design Bentuk analisis univariat untuk data numerik
dengan rancangan non equivalent control group berdistribusi normal ukuran pemusatannya
design dimana pengelompokan anggota sampel yaitu mean dan standar deviasi (SD) sebagai
pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol ( ukuran penyebaran.
pembanding ) tidak dilakukan secara random atau b. Bivariat
acak (Notoatmodjo, 2010). Penelitian ini dilakukan Uji normalitas menggunakan Shapiro wilk.
untuk mengetahui perbandingan efektifitas dalam Data berdistribusi normal sehingga uji
hal ini adalah penurunan suhu tubuh pada anak usia homogenitas menggunakan independent t
balita yang mengalami demam sebelum di berikan test dan uji hipotesis menggunakan paired t
terapi tepid sponging dan plester kompres dengan test dan independent t-test
setelah diberikan terapi tepid sponging dan plester
kompres HASIL PENELITIAN

Pretest Perlakuan Postest 1. Analisa univariat

Kel. Eksperimental (1) O1 Tabel 5.1 Uji Analisis suhu tubuh sebelum
X1 O2
dan setelah di berikan tepid sponging dan plester
Kel. Eksperimental (2) O3 X2 O4 kompres

Kelomp Variabel n Mean Sd Min Max


ok
Tepid 15 38.14 0.39 37.60 38.80
2. Populasi dan sampel sponging
Pre Test
Plester 15 38.06 0.36 37.60 38.80
jumlah sampel untuk kelompok perlakuan Kompres
plester kompres maupun kelompok perlakuan tepid Tepid 15 37.05 0.34 36.40 37.50
PostTes Sponging
sponging adalah sejumlah 15 responden, sehingga t Plester 15 37.46 0.30 37.00 38.00
total seluruh sampel adalah sejumlah 30 orang. Kompres
Sumber : dari data yang diolah
3. Waktu dan tempat penelitian
Tabel di atas menunjukkan rata rata suhu
Peneliti mengambil tempat penelitian di tubuh sebelum dilakukan plester kompres adalah
Wilayah Kerja Puskesmas Salaman 1 Kabupaten 38.08C dengan standar deviasi 0.36 dan rata rata
suhu tubuh setelah dilakukan plester kompres
adalah 37.46C dengan standar deviasi 0.30. Rata mekanisme kehilangan panas untuk
rata suhu tubuh sebelum dilakukan plester kompres mengimbangi produksi panas yang berlebihan.
adalah 38.14C dengan standar deviasi 0.39 dan rata Anak balita yang mengalami demam di
rata suhu tubuh setelah dilakukan tepid sponging Puskesmas Salaman 1 rata rata disertai dengan
adalah 37.05C dengan standar deviasi 0.34. batuk serta flu dimana batuk dan flu dapat
terjadi karena adanya virus atau bakteri yang
2. Analisa bivariat masuk ke dalam tubuh manusia karena
Tabel 5.5. Perbedaan suhu tubuh setelah diberikan terjadinya penurunan sistem imun.
tepid sponging dan plester kompres
Sesuai dengan teori Potter&Perry 2010
Variab Kelompo bahwa demam terjadi akibat perubahan titik
n Mean Sd t p-value
el k pengaturan hipotalamus. Pirogen, seperti bakteri
Suhu Tepid 15 1.09 0.34 3.429 0.002
Tubuh Sponging atau virus meningkatkan suhu tubuh. Pirogen
Plester bertindak sebagai antigen yang memicu respons
Kompres 15 0.60 0.30
sistem imun. Hipotalamus akan meningkatkan
Sumber : dari data yang diolah
titik pengaturan dan tubuh akan menghasilkan
Hasil perhitungan di atas menunjukkan bahwa serta menyimpan panas. Untuk mencapai titik
nilai t hitung adalah 3.429 sedangkan nilai t-tabel adalah pengaturan baru tersebut dibutuhkan waktu
2.048 serta nilai p-value adalah 0.002 dengan 0.05, beberapa jam. Selama periode ini, individu
sehingga terdapat perbedaan penurunan suhu tubuh pada tersebut akan menggigil dan merasa kedinginan
anak usia balita di setelah dilakukan tepid sponging dan
walaupun suhu tubuhnya meningkat.
plester kompres. Nilai beda suhu tubuh rata - rata setelah
dilakuakan tepid sponging dan plester kompres adalah Fase dingin akan menghilang jika titik
0.48C sehingga tepid sponging lebih efektif dalam pengaturan baru telah tercapai. Selama fase
menurunkan suhu tubuh pada anak usia balita yang
berikutnya, dingin akan hilang dan individu
mengalami demam di Puskesmas Salaman 1 Kabupaten
tersebut merasa hangat dan kering. Jika titik
Magelang.
pengaturan telah diperbaiki, atau pirogen
PEMBAHASAN dimusnahkan, maka fase ketiga dari episode
febris akan terjadi. Titik pengaturan hipotalamus
1. Suhu tubuh sebelum dilakukan tepid akan turun, sehingga respon kehilangan panas
sponging dan plester kompres pada anak usia dimulai. Kulit menjadi hangat dan merah karena
balita yang mengalami demam di Puskesmas vasodilatasi. Diaforesis membantu kehilangan
Salaman 1 Kabupaten Magelang panas melalui evaporasi. Saat demam
Hasil penelitian bahwa distribusi frekuensi menghilang maka fase demam menjadi afebris.
suhu tubuh anak sebelum dilakukan tepid Penggunaan tepid sponging dan plester kompres
sponging dan plester kompres rata rata dalam menurunkan demam pada anak usia
terdapat pada suhu 38.14 dan 38.06C . Rata balita, membantu kehilangan panas melalui
rata suhu tubuh tersebut di dapatkan dari 30 proses evaporasi.
balita yang mengalami demam di Puskesmas Evaporasi adalah transfer energi panas saat
Salaman 1 Kabupaten Magelang yang berjenis cairan berubah menjadi gas (Asmadi, 2008).
kelamin laki laki maupun perempuan. Tubuh kehilangan panas secara kontinyu
Peningkatan suhu tubuh pada anak usia melalui evaporasi. Sekitar 600 900 cc air tiap
balita terjadi karena ketidakmampuan harinya menguap dari kulit dan paru paru
sehingga terjadi kehilangan air dan panas. sehingga terjadi kehilangan air dan panas.
Tubuh menambah evaporasi melalui perspirasi Tubuh menambah evaporasi melalui perspirasi
(berkeringat). Saat suhu tubuh meningkat, (berkeringat). Saat suhu tubuh meningkat,
hipotalamus anterior memberikan sinyal kepada hipotalamus anterior memberikan sinyal kepada
kelenjar keringat untuk melepaskan keringat kelenjar keringat untuk melepaskan keringat
melalui saluran kecil pada permukaan kulit. melalui saluran kecil pada permukaan kulit.
Keringat akan mengalami evaporasi, sehingga Keringat akan mengalami evaporasi, sehingga
terjadi kehilangan panas (Potter & Perry, 2009). terjadi kehilangan panas (Potter & Perry, 2009).

Sesuai dengan teori Potter&Perry 2010 2. Perbedaan penurunan suhu tubuh setelah
bahwa demam terjadi akibat perubahan titik dilakukan tepid sponging dan plester
pengaturan hipotalamus. Pirogen, seperti bakteri kompres pada anak balita yang mengalami
atau virus meningkatkan suhu tubuh. Pirogen demam
bertindak sebagai antigen yang memicu respons
sistem imun. Hipotalamus akan meningkatkan Hasil penelitian yang di dapatkan pada 15
titik pengaturan dan tubuh akan menghasilkan anak balita yang mengalami demam di
serta menyimpan panas. Untuk mencapai titik Puskesmas Salaman 1 Kabupaten Magelang
pengaturan baru tersebut dibutuhkan waktu didapatkan rata rata suhu tubuh sebelum
beberapa jam. Selama periode ini, individu diberikan tepid sponging 38.14C, rata rata
tersebut akan menggigil dan merasa kedinginan suhu tubuh setelah diberikan tepid sponging
walaupun suhu tubuhnya meningkat. adalah 37.05C, dan rata rata jumlah
penurunan suhu tubuh adalah 1.08C.
Fase dingin akan menghilang jika titik
pengaturan baru telah tercapai. Selama fase Hasil penelitian yang di dapatkan pada 15
berikutnya, dingin akan hilang dan individu anak balita yang mengalami demam di
tersebut merasa hangat dan kering. Jika titik Puskesmas Salaman 1 Kabupaten Magelang
pengaturan telah diperbaiki, atau pirogen didapatkan rata rata suhu tubuh sebelum
dimusnahkan, maka fase ketiga dari episode diberikan plester kompres 38.06C, rata rata
febris akan terjadi. Titik pengaturan hipotalamus suhu tubuh setelah diberikan plester kompres
akan turun, sehingga respon kehilangan panas adalah 37.46C, dan rata rata jumlah
dimulai. Kulit menjadi hangat dan merah karena penurunan suhu tubuh adalah 0.60C.
vasodilatasi. Diaforesis membantu kehilangan Hasil perhitungan menggunakan uji
panas melalui evaporasi. Saat demam independent t-test dan di dapatkan hasil p-value
menghilang maka fase demam menjadi afebris. 0.002 dengan (0.05) menunjukkan bahwa ada
Penggunaan tepid sponging dan plester kompres perbedaan suhu tubuh pada anak usia balita
dalam menurunkan demam pada anak usia yang mengalami demam setelah diberikan tepid
balita, membantu kehilangan panas melalui sponging dan plester kompres.
proses evaporasi.
Tepid sponging dan plester kompres
Evaporasi adalah transfer energi panas saat menurunkan demam dengan kehilangan panas
cairan berubah menjadi gas (Asmadi, 2008). secara evaporasi. Tepid sponging menggunakan
Tubuh kehilangan panas secara kontinyu air hangat sebagai perantara evaporasi,
melalui evaporasi. Sekitar 600 900 cc air tiap sedangkan plester kompres dengan
harinya menguap dari kulit dan paru paru
menggunakan hidrogel sebagai perantara fisik dengan cara transfer panas yang diberikan
evaporasi. melalui tepid sponging sehingga menyebabkan
zat cair, padat dan gas memuai ke segala arah.
Rata rata penurunan suhu tubuh pada Efek kimia pemberian tepid sponging yaitu
perlakuan tepid sponging 1.09C sedangkan meningkatkan metabolisme sel tubuh. Efek
plester kompres 0.60C sehingga tepid sponging biologis yang dapat terjadi ketika diberikan
lebih efektif menurunkan suhu tubuh karena tepid sponging adalah peningkatan sirkulasi
tepid sponging memberikan efek yang lebih luas darah dan peningkatan tekanan kapiler. Tekanan
pada tubuh manusia dibandingkan dengan O2 dan CO2 di dalam darah akan meningkat
plester kompres yang hanya berefek pada satu sedangkan pH darah akan mengalami
titik saja. penurunan.
Tepid sponging dalam penelitian ini Menurut Potter & Perry 2005, kompres
dilakukan dengan teknik kompres blok hangat pada area tubuh akan memberikan sinyal
menggunakan waslap lembab hangat yang ke hipotalamus melalui sumsum tulang
kemudian diletakkan pada area frontal, aksila belakang karena pemberian air hangat pada area
dan inguinal dalam waktu 20 menit. Waslap tubuh akan memberikan sinyal ke hipotalamus
lembab hangat yang diletakkan pada area kulit melalui sumsum tulang belakang. Ketika
dapat memvasodilatasi pembuluh darah reseptor yang peka terhadap panas di
sehingga aliran darah menjadi lancar. Kulit hipotalamus di rangsang, sitem efektor
memiliki banyak pembuluh darah, ketika mengeluarkan sinyal yang untuk memulai
demam kemudian diberikan tepid sponging berkeringat dan vasodilatasi perifer. Perubahan
panas dari darah berpindah melalui dinding ukuran pembuluh darah di atur oleh pusat
pembuluh darah, ke permukaan kulit, dan hilang vasomotor pada medula oblongata dari tangkai
ke lingkungan melalui mekanisme kehilangan otak, dibawah pengaruh hipotalmik bagian
panas. Proses tersebut yang dapat menyebabkan anterior sehingga terjadi vasodilatasi.
kehilangan panas pada anak usia balita yang Vasodilatasi ini menyebabkan pembuangan atau
mengalami demam dengan perlakuan tepid kehilangan energi atau panas melalui kulit
sponging. meningkat (Potter & Perry, 2005).
Tepid sponging merupakan sebuah teknik Pemberian tepid sponging dalam
kompres hangat yang menggunakan teknik penelitian ini selama 20 menit, sesuai dengan
kompres blok pada pembuluh darah supervisial waktu yang dapat menunjukkan efek pemberian
dengan teknik seka (Corrard , 2001). Efek tepid sponging. Menurut Kozier dalam Suprapti
pemberian tepid sponging antara lain dapat (2008) mengungkapkan bahwa panas
membuat vasodilatasi pembuluh darah, mempunyai efek yang berbeda dalam tubuh,
vasodilatasi pori pori kulit, reduksi viskositas efek tersebut juga tergantung dari lamanya
darah, peningkatan metabolisme dan pemberian panas. Pemberian panas 15 30
menstimulasi impuls melalui reseptor kulit yang menit memiliki efek vasodilatasi pembuluh
dikirim pada hipotalamus posterior untu darah sehingga terjadi peningkatan aliran darah.
menurunkan panas tubuh {Kozier dalam Peningkatan aliran darah akan menurunkan
Suprapti (2008)}. Menurut Hegner (2003) efek viskositas darah dan metabolisme lokal karena
dari tepid sponging dapat dibagi menjadi tiga, aliran darah membawa oksigen ke jaringan.
aitu efek secara fisik, kimia dan biologis. Efek
Hasil penelitian ini sesuai dengan hasil terasa sejuk pada saat pemakaian, dapat melekat
penelitian yang dilakukan oleh Bartolomeus dengan baik pada daerah luka dan tidak
pada tahun 2012 mengenai pengaruh kompres menimbulkan jaringan parut pada bekas luka.
tepid sponge hangat terhadap penurunan suhu
tubuh pada anak umur 1 10 tahun dengan Berdasarkan sifat-sifat hidrogel tersebut
hipertermia di RSUD Tugurejo Semarang terutama kandungan air yang sangat tinggi,
didapatkan hasil bahwa ada pengaruh kompres maka hidrogel dapat dikembangkan menjadi
tepid sponge terhadap penurunan suhu tubuh produk yang disebut plester penurun demam.
pada pasien hipertermi dengan rerata perubahan Prinsip kerja plester hidrogel adalah
suhu tubuh sebesar 1.4C. mengabsopsi energi dari daerah demam lalu
mentransfer energi tersebut kepada molekul air
Rata rata penurunan suhu tubuh setelah yang ada pada hidrogel sehingga terjadi
diberikan tepid sponging pada penelitian ini penurunan suhu demam melalui penguapan.
dan penelitian sebelumnya sama karena cara Penurunan suhu demam dapat terjadi karena air
melakukan perlakuan sama yaitu dengan mempunyai kapasitas panas penguapan yang
meletakkan waslap hangat pada area frontal, cukup besar yaitu sekitar 0,6 kilokalori per
aksila dan inguinal. Selisih rata rata penurunan gram.
suhu tubuh pada penelitian ini dan penelitian
sebelumnya dapat dikarenakan perbedaan 3. Keterbatasan
jumlah sampel dan lama pemberian perlakuan Penelitian ini mengalami beberapa kendala
tepid sponging yaitu selama 30 menit. untuk mengatasi faktor faktor lain yang dapat
Metode pemberian plester kompres mempengaruhi suhu tubuh seperti cuaca,
dengan meletakkan plester kompres pada area pakaian yang di pakai dan aktivitas responden.
aksila, inguinal dan area temporal dimana area KESIMPULAN DAN SARAN
tersebut mewakili area yang memiliki perspirasi
tinggi. Cara kehilangan panas dengan 1. Kesimpulan
menggunakan plester kompres yaitu melalui
a. Rata rata suhu tubuh anak yang mengalami
proses evaporasi. Plester hidrogel menggunakan demam sebelum dan sesudah di berikan tepid
bahan hidrogel sebagai media penyerapan sponging masing masing adalah 38.06C dan
panas. Darmawan Darwis dkk. (1995) dan 37.46C
Darmawan Darwis (2008) telah berhasil b. Rata rata suhu tubuh anak yang mengalami
mensintesis hidrogel dari polimer hidrofilik demam sebelum dan sesudah di berikan plester
polivinil pirolidon (PVP) menggunakan radiasi kompres masing masing adalah 38.14C dan
gamma atau berkas elektron untuk digunakan 37.05C
sebagai pembalut luka. Karakterisasi terhadap c. Ada perbedaan suhu tubuh setelah diberikan
sifat-sifat fisiko-kimia, mekanik, mikrobiologi, terapi tepid sponging pada anak balita yang
mengalami demam
sterilitas serta toksisitas telah dilakukan. Hasil
d. Ada perbedaan suhu tubuh setelah diberikan
yang diperoleh menunjukkan bahwa hidrogel
terapi plester kompres pada anak balita yang
memiliki sifat sebagai berikut, kandungan air mengalami demam
sekitar 80-90%, bersifat steril, dapat e. Ada perbedaan suhu tubuh pada anak usia balita
mengabsorbsi air, lunak, tidak toksis, yang mengalami demam antara pemberian tepid
mempunyai kemampuan untuk penyembuhan sponging dan plester kompres dengan jumlah
luka, kuat namun cukup elastik, nyaman dan penurunan rata rata suhu tubuh masing
masing setelah diberilkan tepid sponging dan Darwis, D. Uji Praklinis Pembalut Luka Hidrogel
plester kompres adalah 1.09C dan 0.60C Berbasis PVP Steril Iradiasi
2. Saran Menggunakan Tikus Putih : Evaluasi
a. Bagi orang tua Iritasi dan Sensitisasi, Jurnal Ilmiah
Aplikasi Isotop dan Radiasi, 4 [1], 53-61
Orang tua yang memiliki anak usia balita (2010)
hendaknya dapat melakukan tepid sponging Darwis dkk. Daya Absorbsi Hidrogel
secara mandiri ketika anak mengalami demam Polivinilpirolidon (PVP) Hasil Iradiasi
sebelum diberikan obat penurun panas. Gamma Terhadap Air dan Pelarut
Organik, Risalah Pertemuan Ilmiah
b. Bagi Puskesmas Aplikasi Isotop dan Radiasi, Jakarta, 13
15 Desember 1994, Badan TTenaga
Tim medis hendaknya juga menyarankan Atom Nasional, Jakarta, 129 136 [1995]
pada pasien untuk melakukan tepid sponging Dorland. 2006. Kamus Saku Kedokteran. Jakarta :
selain memberikan obat kepada pasien tersebut. EGC
Sebaiknya tim medis juga mengajarkan Harrison. 2003. Prinsip Prinsip Ilmu Penyakit
bagaimana cara melakukan tepid sponging Dalam. Jakarta : EGC
sehingga pasien dapat melakukannya secara
Hegner, B. 2003. Asisten Keperawatan : Suatu
Pendekatan Proses Keperawatan. Jakarta
mandiri dirumah.
: EGC
c. Peneliti Selanjutnya
John, W. 2000. Diagnosis Fisik alih bahasa Henny
Peneliti selanjutnya agar dapat meneliti Lukmanto. Jakarta : EGC
faktor lain yang berkaitan dengan penurunan
Johnson, dkk. 2005. Prosedur Perawatan di Rumah
Pedoman untuk Perawat. Jakarta : EGC
suhu tubuh seperti lingkungan, pakaian, usia,
Karina Indah Permatasari. 2013. Perbedaan
stress, kadar hormon, serta aktivitas saat
Efektifitas Kompres Air Hangat dan
seseorang mengalami demam.
Kompres Air Biasa terhadap Penurunan
DAFTAR PUSTAKA Suhu Tubuh pada Anak dengan Demam
di RSUD Tugurejo Semarang
Abdul, S. 2013. Jadi Dokter untuk Anak Sendiri.
From : www.
Jogjakarta : Kata Hati depdiknas.go.id/jurnal/37/kompres air
Anggraeni. 2010. Pengantar Epidemiologi. Jakarta : hangat.htm diakses pada tanggal 10
EGC Desember 2013
Arikunto, S. 2006. Prosedur Penelitian. Jakarta : Kozier. 2009. Buku Ajar Praktik Keperawatan
JKPKKR. Klinis. Edisi 5. Jakarta : EGC
Asmadi. 2008. Teknik Prosedural Keperawatan Muaris, H. 2006. Sarapan Sehat Untuk Anak Balita.
Konsep dan Aplikasi Kebutuhan Dasar Jakarta : Gramedia Pustaka Utama
Klien. Jakarta : Salemba Medika Nafisa, A. 2013. Ilmu Dasar Keperawatan.
Aziz, A. 2013. Pengantar Ilmu Kesehatan Anak Jogjakarta : Citra Pustaka
untuk Pendidikan Kebidanan. Jakarta : Nelson, dkk. 2000. Ilmu Kesehatan Anak. Edisi 15.
Salemba Medika Jakarta : EGC
Bartolomeus. 2012. Pengaruh Kompres Tepid Notoatmodjo,S. 2010. Metodologi Penelitian
Sponge Hangat terhadap Penurunan Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta
Suhu Tubuh pada Anak Umur 1 10 Potter, Perry. 2009. Fundamental Keperawatan.
tahun dengan Hipertermia di RSUD Edisi 7. Jakarta : Salemba Medika
Tugurejo Semarang Potter, Perry. 2005. Fundamental Keperawatan.
Corrard, F. 2001. Ways to reduce fever : new luke Jakarta : Salemba Medika
warm water baths still indicated? Arch Purwanti. 2008. Pengaruh Kompres Hangat
pediatric. 9 (3).311-315 terhadap Perubahan Suhu Tubuh pada
Pasien Anak Hipertermia di Ruang
Rawat Inap RSUD dr. Moewardi Darwis dkk. Daya Absorbsi Hidrogel
Surakarta Polivinilpirolidon (PVP) Hasil Iradiasi
Retrieved.June10,2009,from://:rac.uii.ac.i Gamma Terhadap Air dan Pelarut
d/server/document/Public/200805255102 Organik, Risalah Pertemuan Ilmiah
42 Aplikasi Isotop dan Radiasi, Jakarta, 13
Rudolph, dkk. 2006. Buku Ajar Pediatrik. Volume 15 Desember 1994, Badan TTenaga
1. Jakarta : EGC Atom Nasional, Jakarta, 129 136 [1995]
Saito, M. 2013. Mukjizat Suhu Tubuh. Jakarta : PT
Gramedia
Setiawati, Tia. 2008. Pengaruh Tepid Sponge. Dorland. 2006. Kamus Saku Kedokteran. Jakarta :
Jakarta : Fakultas Ilmu Kedokteran EGC
Universitas Indonesia Harrison. 2003. Prinsip Prinsip Ilmu Penyakit
Sofwan, Rudianto. 2010. Cara Tepat Atasi Demam Dalam. Jakarta : EGC
pada Anak. Jakarta : PT Bhuana Ilmu Hegner, B. 2003. Asisten Keperawatan : Suatu
Populer Pendekatan Proses Keperawatan. Jakarta
Suprapti. 2008. Perbedaan Pengaruh Kompres : EGC
Hangat dengan Kompres Dingin John, W. 2000. Diagnosis Fisik alih bahasa Henny
terhadap Penurunan Suhu Tubuh pada Lukmanto. Jakarta : EGC
Pasien Anak karena Infeksi di RSUD Johnson, dkk. 2005. Prosedur Perawatan di Rumah
Djojonegoro Temanggung Pedoman untuk Perawat. Jakarta : EGC
http://digilib.unimus.ac.id/ Karina Indah Permatasari. 2013. Perbedaan
Wong, Donna L. 2009. Buku ajar keperawatan Efektifitas Kompres Air Hangat dan
pediatrik. Edisi 6. Jakarta : EGC Kompres Air Biasa terhadap Penurunan
Abdul, S. 2013. Jadi Dokter untuk Anak Sendiri. Suhu Tubuh pada Anak dengan Demam
Jogjakarta : Kata Hati di RSUD Tugurejo Semarang
Anggraeni. 2010. Pengantar Epidemiologi. Jakarta : From : www.
EGC depdiknas.go.id/jurnal/37/kompres air
Arikunto, S. 2006. Prosedur Penelitian. Jakarta : hangat.htm diakses pada tanggal 10
JKPKKR. Desember 2013
Asmadi. 2008. Teknik Prosedural Keperawatan Kozier. 2009. Buku Ajar Praktik Keperawatan
Konsep dan Aplikasi Kebutuhan Dasar Klinis. Edisi 5. Jakarta : EGC
Klien. Jakarta : Salemba Medika Muaris, H. 2006. Sarapan Sehat Untuk Anak Balita.
Aziz, A. 2013. Pengantar Ilmu Kesehatan Anak Jakarta : Gramedia Pustaka Utama
untuk Pendidikan Kebidanan. Jakarta : Nafisa, A. 2013. Ilmu Dasar Keperawatan.
Salemba Medika Jogjakarta : Citra Pustaka
Bartolomeus. 2012. Pengaruh Kompres Tepid Nelson, dkk. 2000. Ilmu Kesehatan Anak. Edisi 15.
Sponge Hangat terhadap Penurunan Jakarta : EGC
Suhu Tubuh pada Anak Umur 1 10 Notoatmodjo,S. 2010. Metodologi Penelitian
tahun dengan Hipertermia di RSUD Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta
Tugurejo Semarang Potter, Perry. 2009. Fundamental Keperawatan.
Corrard, F. 2001. Ways to reduce fever : new luke Edisi 7. Jakarta : Salemba Medika
warm water baths still indicated? Arch Potter, Perry. 2005. Fundamental Keperawatan.
pediatric. 9 (3).311-315 Jakarta : Salemba Medika
Darwis, D. Uji Praklinis Pembalut Luka Hidrogel Purwanti. 2008. Pengaruh Kompres Hangat
Berbasis PVP Steril Iradiasi terhadap Perubahan Suhu Tubuh pada
Menggunakan Tikus Putih : Evaluasi Pasien Anak Hipertermia di Ruang
Iritasi dan Sensitisasi, Jurnal Ilmiah Rawat Inap RSUD dr. Moewardi
Aplikasi Isotop dan Radiasi, 4 [1], 53-61 Surakarta
(2010)
Retrieved.June10,2009,from://:rac.uii.ac.i
d/server/document/Public/200805255102
42
Rudolph, dkk. 2006. Buku Ajar Pediatrik. Volume
1. Jakarta : EGC
Saito, M. 2013. Mukjizat Suhu Tubuh. Jakarta : PT
Gramedia
Setiawati, Tia. 2008. Pengaruh Tepid Sponge.
Jakarta : Fakultas Ilmu Kedokteran
Universitas Indonesia

Sofwan, Rudianto. 2010. Cara Tepat Atasi Demam


pada Anak. Jakarta : PT Bhuana Ilmu
Populer
Suprapti. 2008. Perbedaan Pengaruh Kompres
Hangat dengan Kompres Dingin
terhadap Penurunan Suhu Tubuh pada
Pasien Anak karena Infeksi di RSUD
Djojonegoro Temanggung
http://digilib.unimus.ac.id/
Wong, Donna L. 2009. Buku ajar keperawatan
pediatrik. Edisi 6. Jakarta : EGC