Anda di halaman 1dari 129

GAMBARAN PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP PROFESI PERAWAT DI WILAYAH KELURAHAN PISANGAN

Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Keperawatan (S.Kep) OLEH : ANDIKA PUJIASTUTI
Skripsi
Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan
Memperoleh Gelar Sarjana Keperawatan (S.Kep)
OLEH :
ANDIKA PUJIASTUTI FAHRIATI
NIM : 1111104000026

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

1436 H / 2015 M

LEMBAR PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa :

1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan
1. Skripsi
ini
merupakan
hasil
karya
asli
saya
yang
diajukan
untuk
memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar Stara I Keperawatan
di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri
(UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya
cantumkan
sesuai
dengan
ketentuan
yang
berlaku
di
Fakultas
Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif
Hidayatullah Jakarta.
3. Jika di kemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya asli
saya atau merupakan jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia
menerima
sanksi
yang
berlaku
di
Fakultas
Kedokteran
dan
Ilmu
Kesehatan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

Jakarta, Juli 2015

Andika Pujiastuti Fahriati

ii

PERNYATAAN PERSETUJUAN Skripsi dengan Judul GAMBARAN PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP PROFESI PERAWAT DI WILAYAH KELURAHAN
PERNYATAAN PERSETUJUAN
Skripsi dengan Judul
GAMBARAN PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP
PROFESI PERAWAT DI WILAYAH KELURAHAN
PISANGAN
Telah disetujui dan diperiksa oleh pembimbing skripsi
Program Studi Ilmu Keperawatan
Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
Disusun Oleh :
ANDIKA PUJIASTUTI FAHRIATI
NIM 1111104000026
Pembimbing 1
Pembimbing II
Ita Yuanita, S.Kp, M.Kep
NIP: 19700122 200801 2 005
Maftuhah, M.Kep, Ph.D
NIP: 19680808 200604 2 001
iii
LEMBAR PENGESAHAN Skripsi dengan Judul GAMBARAN PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP PROFESI PERAWAT DI WILAYAH KELURAHAN
LEMBAR PENGESAHAN
Skripsi dengan Judul
GAMBARAN PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP PROFESI
PERAWAT DI WILAYAH KELURAHAN PISANGAN
Telah disusun dan dipertahankan dihadapan penguji oleh :
Andika Pujiastuti
NIM : 1111104000026
Pembimbing I
Pembimbing II
Ita Yuanita, S.Kp, M.Kep
NIP. 19700122 200801 2 005
Maftuhah, S.Kp, M.Kep, Ph.D
NIP. 19680808 200604 2 001
Penguji I
Penguji II
Ns.Eni Nur’aini Agustini,S.Kep,M.Sc
NIP. 19800802 200604 2 001
Maftuhah, S.Kp, M.Kep, Ph.D
NIP. 19680808 200604 2 001
Penguji III
Ita Yuanita, S.Kp, M.Kep
NIP. 19700122 200801 2 005
iv
LEMBAR PENGESAHAN Skripsi dengan Judul GAMBARAN PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP PROFESI PERAWAT DI WILAYAH KELURAHAN
LEMBAR PENGESAHAN
Skripsi dengan Judul
GAMBARAN PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP PROFESI
PERAWAT DI WILAYAH KELURAHAN PISANGAN
Telah disusun dan dipertahankan dihadapan penguji oleh :
Andika Pujiastuti
NIM : 1111104000026
Mengetahui,
Ketua Program Studi Ilmu Keperawatan
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Maulina Handayani, S.Kp, M.Sc
NIP. 19790210 200501 2 002
Dekan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Dr. H. Arif Sumantri, S.KM., M.Kes
NIP. 19650808 1988 03 1002
v

FACULTY OF MEDICINE AND HEALTH SCIENCES SCHOOL OF NURSING SAYARIF HIDAYATULLAH STATE ISLAMIC UNIVERSITY OF JAKARTA

Undergraduate Thesis, July 2015 Andika Pujiastuti Fahriati, NIM : 1111104000026 Description of People’s Perception for
Undergraduate Thesis, July 2015
Andika Pujiastuti Fahriati, NIM : 1111104000026
Description of People’s Perception for Nurses Profession at Pisangan Village
xvi + 76 pages + 12 tables + 2 schemes + 1 figures + 3 attachements
ABSTRACK
The nursing profession has autonomy within the authority and responsibility in
every action taken. Given action is an integral part of health care. Positive
perceptions about the nursing profession will increase public interest to visit
health care institutions.This research aims to describe the public perception of the
nursing profession. This type of research is quantitative descriptive design with
cross sectional approach.The samples were 106 residents in the Village Pisangan
Ciputat with purposive sampling technique. Quantitative data were obtained
through questionnaire of Caring Nurse Patient Interaction Scale (CNPI) with
modification (16 items) with measure of sampling adequacy (MSA) 0,931. The
results showed that 63.2% of respondents have a positive perception of the
nursing profession, 59.4% of respondents have a positive perception of the caring
profession of nursing and 56.6% had a positive perception of the function of the
nursing profession. Based health services at hospitals, health centers, and clinics,
society have a positive perception of the nursing profession in the amount of
53%, 53.2% and 72%, caring nurse by 60.8%, 62.5% and 63.6%, while for
independent and dependent functions of nurses in hospitals had the largest
percentage is 72.5% and 92.2%. There by the public has a positive perception of
the
nursing profession, caring and function of nurses. Researchers suggested that
the
nursing profession has always adopted a caring and professional function so

as to achieve the goal of optimal nursing care.

Keywords : Perception, nursing profession References : 53 (years 1997 2014)

vi

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

Skripsi, Juli 2015 Andika Pujiastuti Fahriati, NIM : 1111104000026 Gambaran Persepsi Masyarakat terhadap Profesi Perawat
Skripsi, Juli 2015
Andika Pujiastuti Fahriati, NIM : 1111104000026
Gambaran Persepsi Masyarakat terhadap Profesi Perawat di Wilayah
Kelurahan Pisangan
xvi + 76 halaman + 12 tabel + 2 bagan + 1 gambar + 3 lampiran
ABSTRAK

Profesi keperawatan mempunyai otonomi dalam kewenangan dan tanggung jawab pada setiap tindakan yang dilakukan.Tindakan yang diberikan merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan. Persepsi positif tentang profesi perawat akan meningkatkan minat masyarakat berkunjung ke instansi pelayanan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran persepsi masyarakat terhadap profesi perawat. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan desain deskritif dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian adalah 106 warga di Kelurahan Pisangan Ciputat dengan teknik purposive sampling.Pengambilan data kuantitatif diadopsi dari kuesioner CNPI (16 pernyataan) dengan Measure of Sampling Adequacy (MSA) 0,931.Hasil penelitian menunjukkan bahwa 63,2% responden memiliki persepsi positif terhadap profesi perawat, 59,4% responden memiliki persepsi positif terhadap caring profesi perawat dan 56,6% memiliki persepsi positif terhadap fungsi profesi perawat. Berdasarkan pelayanan kesehatan di RS, Puskesmas, dan Klinik mayarakat memiliki persepsi positif terhadap profesi perawat yaitu sebesar 53%,53,2% dan 72%, caring perawat sebesar 60,8%, 62,5% dan 63,6% sedangkan untuk fungsi independen dan dependen perawat di rumah sakit memiliki persentase terbesar yaitu 72,5% dan 92,2%. Dengan demikian masyarakat memiliki persepsi yang positif terhadap profesi perawat, caring dan fungsi perawat. Peneliti menyarankan agar profesi perawat selalu menerapkan sikap caring dan fungsi profesi sehingga dapat tercapainya tujuan pelayanan keperawatan yang optimal.

Kata Kunci : Persepsi, Profesi Perawat,

Referensi :53 (tahun 1997 2014)

vii

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama

:

ANDIKA PUJIASTUTI FAHRIATI

Tempat, tanggal Lahir

:

Tangerang, 10 Mei 1992

Jenis Kelamin : Perempuan Agama : Islam Status : Belum Menikah Alamat : Jl. Tampak
Jenis Kelamin
:
Perempuan
Agama
:
Islam
Status
:
Belum Menikah
Alamat
:
Jl. Tampak Siring 1 No. 1 Rt 002/015,
Perum
II, Kota Tangerang
HP
:
+6281289224351 dan +628979559288
E-mail
:
andikapujiastuti10@gmail.com
Fakultas / Jurusan
:
Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan/
Program Studi Ilmu Keperawatan
PENDIDIKAN
1. TK Islam Gunung Jati Tangerang
1996 – 1998
2. Sekolah Dasar Islam Al-Istiqomah Tangerang
1998 – 2004
3. Sekolah Menengah Pertama Negeri 19 Kota Tangerang
2004 – 2007
4. Sekolah Menengah Atas Negeri 5 Kota Tangerang
2007 – 2010
5. Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
2011 – sekarang

ORGANISASI

1. Karya Ilmiah Remaja SMP

2007 2008

2. BEM PSIK

2012 2013

3. BEM PSIK

2013 2014

viii

KATA PENGANTAR

Segala puji hanya milik Allah Subhanahuwata’ala, kita memuji, meminta pertolongan dan memohon pengampunan kepada-Nya,
Segala puji hanya milik Allah Subhanahuwata’ala, kita memuji, meminta
pertolongan dan memohon pengampunan kepada-Nya, dan kitaberlindung kepada
Allah dari keburukan diri dan kejahatan amal perbuatankita.Atas berkat rahmat,
karunia,
dan
ridha-Nya
penulis
dapat
menyelesaikan
skripsi
yang
berjudul
“Gambaran Persepsi Masyarakat Terhadap Profesi Perawat di Wilayah
Kelurahan Pisangan”. Sholawat serta salam juga selalu tercurahkan kepada Nabi
Muhammad SAW.
Penulis telah berusaha untuk menyajikan suatu tulisan ilmiah yangrapi dan
sistematik sehingga mudah dipahami oleh pembaca.Penulismenyadari bahwa
penyajian skripsi ini jauh dari sempurna. Oleh karena itu, segala kritikdan saran
yang berguna untuk menyempurnakan skripsi ini akan penulisterima dengan hati
terbuka dan rasa terima kasih.
Sesungguhnya banyak pihak yang telah memberikan dorongan danbantuan
yang tak terhingga nilainya hingga skripsi ini dapat penulisselesaikan tepat pada
waktunya. Penulis ingin mengucapkan terima kasihkepada:

1.

Ibu saya, Hj. Atijah yang telah mendidik, mencurahkan semua kasih

sayang tiada tara, mendo’akan keberhasilan penulis, serta memberikan

bantuan

baik

moril

maupun

materil

kepada

penulis

selama

proses

menyelesaikan proposal skripsiini. Tak lupa, Kakakku Andriyani, serta

Adikku, Arfan , dan seluruh keluargaku yang selalu memberikan semangat

tanpa pamrih.

ix

2.

Dr. H. Arif Sumantri, S.KM., M.Ke, selaku dekan Fakultas Kedokteran

dan Ilmu Kesehatan, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif

Hidayatullah Jakarta.

3. Maulina Handayani, S.Kp, M.Sc, selaku Ketua Program Studi dan Ernawati, S.Kp, M.Kep, Sp.KMB, selaku
3.
Maulina
Handayani,
S.Kp,
M.Sc,
selaku
Ketua
Program
Studi
dan
Ernawati, S.Kp, M.Kep, Sp.KMB, selaku Sekretaris Program Studi Ilmu
Keperawatan
Fakultas
Kedokteran
dan
Ilmu
Kesehatan
UIN
Syarif
Hidayatullah Jakarta.
4.
Ibu Ita Yuanita,S.Kp, M.Kep. dan Ibu Maftuhah, Ph.D selaku Dosen
Pembimbing,
terima
kasih
sebesar-besarnya
untuk
beliau
yang
telah
meluangkan waktu serta memberi arahan dan bimbingan dengan sabar
kepada penulis selama proses pembuatan skripsi ini.
5.
Ibu Nia Damiati, S.Kp, MSN. selaku Dosen Pembimbing Akademik,
terima kasih sebesar-besarnya untuk beliau yang telah membimbing dan
memberi motivasi selama 4 tahun duduk di bangku kuliah.
6.
Bapak / Ibu dosen Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Islam
Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah memberikan bekal ilmu
pengetahuan kepada penulis serta seluruh staf dan karyawan di lingkungan
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

7. Seluruh warga Kelurahan Pisangan yang bersedia menjadi responden

dalam penelitian ini.

8. Sahabat tercinta, Ilyati, Dayang, Audy, Dewi dan Trisna yang selalu

menyemangati, menghibur, membantu serta memberi refrensi terbaik bagi

penelitian

ini

dan

terkhusus

untuk

x

Arief

Rachmanto

yang

selalu

memotivasi, menemani serta memberi arahan terbaik demi terselesainya

penelitian ini

9. Teman-teman PSIK 2011,yang telah berjuang bersama selama 4 tahun di

bangku kuliah ini dan memotivasi dalam mencapai cita -cita. Pada akhirnya penulis menyadari sepenuhnya bahwa
bangku kuliah ini dan memotivasi dalam mencapai cita -cita.
Pada akhirnya penulis menyadari sepenuhnya bahwa tulisan ini masihjauh dari
sempurna, namun penulis harapkan semoga tulisan ini dapatbermanfaat bagi yang
memerlukannya.
Ciputat, Juli 2015
Andika Pujiastuti Fahriati

xi

DAFTAR ISI

Halaman

Halaman Judul Pernyataan Keaslian Karya Pernyataan Persetujuan Lembar Pengesahan Abstrack Abstrak Daftar Riwayat Hidup Kata Pengantar Daftar Isi Daftar Singkatan Daftar Tabel Daftar Gambar Daftar Bagan Daftar Lampiran

i

ii iii iv vi vii viii ix xii xv xvi xvii xviii xix BAB I
ii
iii
iv
vi
vii
viii
ix
xii
xv
xvi
xvii
xviii
xix
BAB I PENDAHULUAN
A.
1
B.
6
C.
7
D.
7
E.
F.
Latar Belakang
Rumusan Masalah
Pertanyaan Penelitian
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
Ruang Lingkup Penelitian
8
9

BAB II TINJAUAN TEORI

A. Persepsi

10

1. Definisi Persepsi

10

2. Macam macam Persepsi

11

3. Faktor

yang Mempengaruhi Persepsi

12

4. Proses Terjadinya Persepsi

16

B. Profesi Perawat

18

1.

Pengertian Profesi Perawat

18

xii

2.

Karakteristik Profesi

19

3. Caring Perawat

4. Peran Profesi Perawat

5.

22

26

28

Fungsi Profesi Perawat

6. Tanggung Jawab Perawat Terhadap Pasien 30 C. Penelitian Terkait 31 D. Kerangka Teori 33
6.
Tanggung Jawab Perawat Terhadap Pasien
30
C. Penelitian Terkait
31
D. Kerangka Teori
33
BAB III KERANGKA KONSEP, DAN DEFINISI OPERASIONAL
A. Kerangka Konsep
34
B. Definisi Operasional
35
BAB IV METODOLOGI PENELITIAN
A. Desain Penelitian
41
B. Tempat dan Waktu Penelitian
41
C. Populasi dan Sample
41
D. Instrumen Penelitian
43
E. Uji Validitas dan Reabilitas
47
1. Uji Validitas Instrumen
47
2. Uji Reabilitas
49
F. Langkah – langkah Pengumpulan Data
49
G. Pengelolaan data
51
H. Analisis Data
52
I. Etika Penelitian
52

BAB V HASIL PENELITIAN

A. Karakteritik Responden

54

1. Usia

54

2. Jenis Kelamin, Suku Bangsa, Pendidikan, Pekerjaan dan Pelayanan

Kesehatan yang Digunakan

55

B. Persepsi

56

1. Gambaran Persepsi Masyarakat terhadap Profesi Perawat

56

2. Persepsi Masyarakat terhadap Caring dan Fungsi Perawat

59

xiii

BAB VI PEMBAHASAN

A.

Karakteritik Responden

63

1.

Karakteristik Responden Berdasarkan Usia

63

2. Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin, Suku Bangsa, Pendidikan, Pekerjaan, dan Pelayanan Kesehatan yang
2. Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin, Suku Bangsa,
Pendidikan, Pekerjaan, dan Pelayanan Kesehatan yang Digunakan
64
B. Persepsi Masyarakat terhadap Profesi Perawat
66
C. Persepsi Masyarakat terhadap Caring dan Fungsi Profesi Perawat
68
D. Keterbatasan Penelitian
73
BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
74
B. Saran
75
Daftar Pustaka
Lampiran

xiv

DAFTAR SINGKATAN

Pusdatin

: Pusat Data Informasi

Puskesmas

: Pusat Kesehatan Masyarakat

RS : Rumah Sakit RN : Register Nurse ANA : American Nurses Association WHO :
RS
: Rumah Sakit
RN
: Register Nurse
ANA
: American Nurses Association
WHO
: World Health Organitation
PPNI
: Persatuan Perawat Nasional Indonesia
AIPNI
: Asosiasi Pendidikan Ners Indonesia
UU
: Undang – undang
RW
: Rukun Warga
MSA
: Measure of Sampling Adequacy
KMO
: Keiser – Meyers – Oklin
SE
: Standar Error
SD
: Sekolah Dasar
SMP
: Sekolah Menengah Pertama
SMA
: Sekolah Menengah Atas
PNS
: Pegawai Negeri Sipil

xv

DAFTAR BAGAN

Halaman

2.1

Kerangka Teori

33

3.1 Kerangka Konsep 34
3.1 Kerangka Konsep
34

xvi

DAFTAR GAMBAR

Halaman

5.1

Distribusi Persepsi Masyarakat terhadap Profesi Perawat di Wilayah Kelurahan Pisangan Bulan Mei 2015

58

Halaman 5.1 Distribusi Persepsi Masyarakat terhadap Profesi Perawat di Wilayah Kelurahan Pisangan Bulan Mei 2015 58

xvii

DAFTAR TABEL

Halaman

3.1

Definisi Operasional

33

4.1 Kisi – kisi Kuesioner Penelitian 45 4.2 Bobot Nilai 46 4.3 Distribusi Statistik Responden
4.1
Kisi – kisi Kuesioner Penelitian
45
4.2
Bobot Nilai
46
4.3
Distribusi Statistik Responden pada Variabel Persepsi
Masyarakat terhadap Profesi Perawat di Wilayah Kelurahan
Pisangan Bulan Mei 2015
46
5.1
Skor Mean Responden Menurut Usia di Wilayah Kelurahan
Pisangan Mei 2015 (n = 106)
54
5.2
Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin,
Suku Bangsa, Pendidikan, Pekerjaan dan Pelayanan
Kesehatan yang Digunakan di Wilayah Kelurahan Pisangan
55
5.3
Hasil Faktor Analisis Item Kuesioner (n=106)
56
5.4
Distribusi Frekuensi Persepsi Masyarakat terhadap Profesi
Perawat di Wilayah Kelurahan Pisangan Bulan Mei 2015
58
5.5
Distribusi Statistik Responden pada Variabel Persepsi
Masyarakat terhadap Caring dan Fungsi Perawat di Wilayah
Kelurahan Pisangan Bulan Mei 2015
59
5.6
Distribusi Frekuensi Persepsi Masyarakat terhadap Caring
dan Fungsi Profesi Perawat di Wilayah Kelurahan Pisangan
Bulan Mei 2015
59
5.7
Distribusi Frekuensi Persepsi Masyarakat terhadap Profesi
Perawat, Caringdan Fungsi Profesi Perawat Berdasarkan
Pelayanan Kesehatan yang Digunakan
60

5.8 Gambaran Skor Mean Persepsi Masyarakat terhadap Profesi Perawat pada setiap Item Pernyataan

61

xviii

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1

Kuesioner Penelitian

Lampiran 2

Hasil Olah SPSS

Lampiran 3 Rekapitulasi Jawaban Responden
Lampiran 3
Rekapitulasi Jawaban Responden

xix

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Indonesia adalah salah satu Negara yang memiliki jumlah perawat terbanyak dibandingkan tenaga kesehatan lain. Berdasarkan
Indonesia adalah salah satu Negara yang memiliki jumlah perawat
terbanyak dibandingkan tenaga kesehatan lain. Berdasarkan Pusat Data
dan Informasi (Pusdatin) Kementerian Kesehatan RI Tahun 2010, perawat
di Indonesia berjumlah 160.074 orang. Jumlah yang cukup banyak dengan
lahan kerja yang memadai. Lahan kerja perawat di Indonesia sangat luas,
tidak hanya di dalam negeri namun dapat juga di luar negeri. Perawat juga
dapat bekerja di instansi pemerintah maupun swasta. Rumah Sakit, Pusat
Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) dan klinik adalah contoh area kerja
perawat yang sering dijumpai.
Profesi keperawatan merupakan profesi yang penting dalam bidang
kesehatan, karena perawat mengetahui kondisi pasien selama 24 jam
penuh. Tugas perawat juga langsung bersentuhan dengan pasien, seperti
memenuhi kebutuhan dasar berupa kebersihan diri, nutrisi, keamanan,
kenyamanan, keseimbangan cairan, istirahat dan tidur, serta eliminasi

(buang air besar dan buang air kecil) . Jam kerja perawat yang terbagi

menjadi

tiga

shift

per

hari

membuat

perawat

di

rumah

sakit

lebih

mengetahui kondisi pasien dibandingkan dengan tenaga kesehatan lain.

Asuhan keperawatan yang diberikan perawat pun bersifat holistic (utuh)

meliputi biologis, psikologis, sosial, dan spiritual pasien (Potter & Perry,

2005)

1

2

Profesi keperawatan mempunyai otonomi dalam kewenangan dan

tanggung jawab pada setiap tindakan yang dilakukan serta adanya kode

etik dalam bekerjanya kemudian juga berorientasi pada pelayanan dengan

melalui pemberian asuhan keperawatan kepada individu, kelompok atau masyarakat. (Hidayat, 2007). Pelayanan
melalui pemberian asuhan keperawatan kepada individu, kelompok atau
masyarakat.
(Hidayat,
2007).
Pelayanan
keperawatan
yang
diberikan
tersebut haruslah mampu memenuhi kebutuhan dan tuntutan masyarakat
akan
pelayanan
kesehatan
yang
professional.
Bentuk
pelayanan
keperawatan professional pada dasarnya memberi penekanan pada kualitas
dan akuntabilitas dari pelayanan keperawatan yang diberikan kepada
masyarakat (Potter & Perry, 2005).
Pelayanan keperawatan merupakan bagian integral dari pelayanan
kesehatan, yang ikut berperan dalam upaya penyembuhan penyakit dan
pemulihan
kesehatan.
Perawat
professional
bertanggung
jawab
dan
mengemban tanggung gugat untuk membuat keputusan dan mengambil
langkah-langkah tentang asuhan keperawatan yang diberikan. Perawat
harus memahami dan mampu menerapkan pelayanan keperawatan sesuai
dengan filosofi yang dianut. Pada dasarnya dalam pelayanan keperawatan

yang berkualitas ada tiga pokok penting, antara lain : pendekatan sikap

berkaitan dengan kepedulian pada pasien, upaya untuk melayani dengan

tindakan terbaik, serta tujuan untuk memuaskan pasien yang berorientasi

pada standar pelayanan (Sumijatun, 2011).

Profesionalisme dalam keperawatan bertujuan untuk menjamin

kualitas asuhan keperawatan yang diberikan kepada masyarakat. Sehingga

adanya

kepercayaan

yang

dapat

diterima

oleh

masyarakat

terhadap

3

perawat. Profesionalisme perawat juga dapat menunjukan bahwa perawat

berperan penting dalam penyembuhan pasien, mengurangi kecemasan

pasien, serta kontribusi perawat juga dapat meningkatkan motivasi untuk

sembuh pada pasien. Hal inipun berkaitan bahwa professional perawat menjadi unsur penting dalam upaya peningkatan
sembuh pada pasien. Hal inipun berkaitan bahwa professional perawat
menjadi unsur penting dalam upaya peningkatan status kesehatan pasien
(Novrita, 2004).
Upaya
peningkatan
profesionalisme
perawat
dapat
dilakukan
dengan diterapkannya standar pendidikan keperawatan bagi perawat yang
berada di rumah sakit serta standar praktek keperawatan dalam pemberian
asuhan keperawatan kepada pasien. Saat ini di Indonesia, pendidikan
keperawatan untuk mempersiapkan perawat professional telah bergesar ke
pendidikan
tinggi,
baik
itu
D-III
keperawatan
atau
program
S-I
keperawatan yang berlokasi di Universitas. Pendidikan tinggi bagi calon
perawat
professional
meletakkan
pengetahuan
dasar
ilmiah
dan
pengetahuan
ilmiah
keperawatan
yang
kuat
disamping
memberikan
kemampuan keterampilan klinik (Saragih, 2004).
Pengetahuan ilmiah dan keterampilan klinik yang dimiliki oleh

perawat

dapat

menentukan

kualitas

dari

asuhan

keperawatan

yang

diberikan kepada pasien dan keluarganya. Penilitian yang dilakukan oleh

College of Registered Nurses of Nova Scotia (2012) di Nova Scotia

Skotlandia menunjukan bahwa hampir semua responden (93%) merasa

sangat puas dan puas dengan perawatan yang diterima dari Register Nurse

(RN) serta sebagian besar pasien (89%) menilai perawatan yang diterima

dari

Register

Nurse

(RN)

sangat

baik

dan

menilai

perawat

sangat

4

penyayang.

Penilitian

ini

menunjukan

bahwa

profesionalisme

tenaga

keperawatan berkaitan erat dengan kualitas pelayanan kesehatan yang

diterima oleh rumah sakit kepada masyarakat.

Profesionalisme tenaga keperawatan menjadi sorotan di masyarakat, karena berpengaruh erat pada kualitas
Profesionalisme
tenaga
keperawatan
menjadi
sorotan
di
masyarakat,
karena
berpengaruh
erat
pada
kualitas
pelayanan
untuk
meningkatkan
dan
memelihara
kesehatan,
mencegah
dan
mengobati
penyakit serta memulihkan kesehatan perorangan, kelompok dan atau
masyarakat. Namun, pelayanan
keperawatan (asuhan keperawatan) yang
diselenggarakan oleh rumah sakit masih belum memuaskan masyarakat.
Menurut
Agus
(2008)
dalam
penelitiannya,
pasien
mengungkapkan
kualitas pelayanan yang diterima masih rendah sehingga kepuasan yang
dirasakan
pasien
juga
masih
rendah.
Hal
ini
berkaitan
dengan
keperawatan, sikap perawat terhadap pasien, kenyamanan pasien, sistem
pengelolaan pelayanan/asuhan keperawatan serta belum terciptanya sistem
pembinaan kehidupan profesional dalam profesi keperawatan. Hal tersebut
merupakan tantangan bagi profesi keperawatan dalam mewujudkan asuhan
keperawatan profesional, seperti yang menjadi tuntutan masyarakat yaitu

peningkatan pelayanan kesehatan di instansi kesehatan.

Seorang perawat profesional membutuhkan sebuah kerja keras dalam

mengatasi berbagai tantangan dan tuntutan. Hal ini dikarenakan pencitraan

perawat yang sudah menjadi doktrin yang melekat kuat

melalui

pemberitaan

di

media

massa

yang

terkadang

di masyarakat

buruk,

seperti

sombong, judes, tidak ramah, kurang berpendidikan serta dianggap hanya

menjadi pembantu dokter yang tidak mempunyai kemandirian. Seperti

5

itulah citra perawat yang ditampilkan dalam media massa Indonesia.

Persepsi tentang perawat dalam media massa tersebut merupakan sebagian

dari persepsi yang berkembang di tengah masyarakat (Mugianti, 2009).

Studi pendahuluan telah dilakukan peneliti terhadap beberapa warga di wilayah Kelurahan Pisangan mengenai persepsi mereka
Studi pendahuluan telah dilakukan peneliti terhadap beberapa warga
di wilayah Kelurahan Pisangan mengenai persepsi mereka terhadap profesi
perawat. Studi pendahuluan dilakukan dengan sistem wawancara yang
dilakukan pada 10 orang warga yang telah menerima pelayanan kesehatan
di rumah sakit. Persepsi yang berkembang di masyarakat mengenai profesi
perawat beragam, 4 dari 10 orang warga mengatakan bahwa perawat
adalah
pembantu
dokter,
pekerjaan
yang
melelahkan,
tidak
ramah,
pekerjaan
yang
berbahaya,
sikap
yang
acuh,
dan
tidak
memberikan
informasi yang jelas. Sedangkan 6 dari 10 orang warga mengatakan
perawat
merupakan
profesi
yang
mulia,
pekerjaan
yang
menuntut
kesabaran, bersikap baik dan ramah terhadap pasien serta keluarga, penuh
kasih sayang, berpakaian rapih, sopan, ramah, dan peduli terhadap pasien
serta keluarga.
Masyarakat sebagai pasien dalam penerima pelayanan kesehatan

yang diberikan oleh perawat menjadi salah satu tolak ukur mutu dari

pelayanan yang diberikan perawat. Persepsi yang diberikan masyarakat

oleh perawat dapat menjadi gambaran mengenai profesi perawat (Indriati,

2009). Persepsi masyarakat dapat berbeda di setiap wilayah. Persepsi

positif masyarakat terhadap profesi perawat dapat meningkatkan minat

masyarakat

untuk

berkunjung

berobat

ke

instansi

Rumah

Sakit

dan

menimbulkan respon yang tenang pada pasien yang menjalani pengobatan.

6

Hal ini sekaligus menciptakan citra perawat yang baik di masyarakat,

sehingga dapat meningkatkan kualitas pelayanan keperawatan. Sementara

persepsi negatif masyarakat menunjukan pelayanan keperawatan yang

masih kurang optimal dan tidak memuaskan, yang menimbulkan perasaan tidak senang dan dapat menurunkan minat
masih kurang optimal dan tidak memuaskan, yang menimbulkan perasaan
tidak senang dan dapat menurunkan minat masyarakat untuk melakukan
pengobatan . Sehingga gambaran persepsi masyarakat terhadap profesi
perawat perlu diketahui untuk dapat meningkatkan kualitas pelayanan
yang
diinginkan
masyarakat,
sehingga
masyarakat
mendapatkan
manfaatnya (Rosyadi, 2008).
B. Rumusan Masalah
Profesi keperawatan mempunyai otonomi dalam kewenangan dan
tanggung jawab pada setiap tindakan yang dilakukan serta adanya kode
etik dalam bekerjanya. Perawat juga mempunyai peran dalam pemenuhan
kebutuhan dasar manusia berupa kebersihan diri, makan, minum, istirahat
dan tidur, serta eliminasi (buang air besar dan buang air kecil), selain itu
perawat juga mempunyai peran dalam meningkatkan kualitas kesehatan
pasien karena perawat yang mengetahui kondisi pasien selama 24 jam

(Potter & Perry, 2005).

Penerapan peran yang optimal dapat menciptakan persepsi positif di

masyarakat. Persepsi positif tentang profesi perawat akan memberikan

gambaran mengenai kinerja perawat berdasarkan perannya sehingga dapat

meningkatkan

minat

masyarakat

berkunjung

ke

instansi

pelayanan

kesehatan.

Sedangkan

persepsi

negatif

terhadap

profesi

perawat

7

menunjukan kurang percayanya dan kurang puas terhadap pelayanan

keperawatan yang diberikan oleh profesi keperawatan yang apabila kondisi

ini

tidak

ditindaklanjuti

akan

menurunkan

minat

masyarakat

untuk

melakukan kunjungan ke Rumah Sakit atau Instansi Kesehatan lainnya. Sehingga perawat berkontribusi besar dalam
melakukan kunjungan ke Rumah Sakit atau Instansi Kesehatan lainnya.
Sehingga perawat berkontribusi besar dalam peningkatan mutu pelayanan
kesehatan di instansi kesehatan (Rosyadi, 2008). Berdasarkan uraian di
atas maka peneliti tertarik melakukan penelitian mengenai
gambaran
persepsi masyarakat terhadap profesi perawat.
C. Pertanyaan Penelitian
1. Bagaimana gambaran persepsi masyarakat terhadap profesi perawat ?
2. Bagaimana gambaran karakteristik responden?
3. Bagaimana gambaran persepsi masyarakat terhadap caring perawat ?
4. Bagaimana gambaran persepsi masyarakat terhadap fungsi perawat?
5. Bagaimana gambaran persepsi masyarakat terhadap profesi perawat,
caring, dan fungsi perawat di rumah sakit, puskesmas, dan klinik?
D. Tujuan Penelitian
a. Tujuan Umum

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran persepsi

masyarakat terhadap profesi perawat.

b. Tujuan Khusus

1. Mendapatkan gambaran karakteristik responden meliputi usia, jenis

kelamin,

pekerjaan,

pendidikan,

kesehatan yang digunakan.

suku

bangsa

dan

pelayanan

8

2. Mendapatkan

gambaran

persepsi

masyarakat

terhadap

caring

perawat.

3. Mendapatkan

gambaran

persepsi

masyarakat

terhadap

fungsi

perawat 4. Mendapatkan gambaran persepsi masyarakat terhadap profesi perawat, caring, dan fungsi di rumah sakit,
perawat
4. Mendapatkan
gambaran
persepsi
masyarakat
terhadap
profesi
perawat, caring, dan fungsi di rumah sakit, puskesmas, dan klinik
E. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi :
1. Instansi Pelayanan Kesehatan
Dapat
menjadi
bahan
masukan
bagi
pihak
instansi
pelayanan
kesahatan ( rumah sakit, puskesmas dan klinik) dalam mengevaluasi
kinerja
perawat
dalam
rangka
peningkatan
kualitas
pelayanan
keperawatan.
2. Pendidikan Keperawatan
Penelitian ini dapat bermanfaat untuk menambah pengetahuan
mengenai profesi perawat bagi para mahasiswa calon perawat profesional
sebelum memasuki lingkungan kerja.

3. Peneliti

Dapat

menambah

pengetahuan

peneliti

mengenai

gambaran

persepsi masyarakat terhadap profesi perawat.

4. Penelitian selanjutnya

Penelitian ini juga dapat dikembangkan lagi dengan menggunakan

penelitian kualitatif untuk mendapatkan makna yang lebih mendalam

terkait persepsi masyarakat tentang profesi keperawatan.

9

F. Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian

ini

dilakukan

oleh

mahasiswa

Program

Studi

Ilmu

Keperawatan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah yang bertujuan untuk mengetahui
Keperawatan
Fakultas
Kedokteran
dan
Ilmu
Kesehatan
UIN
Syarif
Hidayatullah
yang
bertujuan
untuk
mengetahui
gambaran
persepsi
masyarakat tentang profesi keperawatan. Penelitian ini bersifat kuantitatif
dengan
desain
deskriptif.
Pengumpulan
data
menggunakan
instrumen
penelitian berupa kuesioner. Subjek yang diteliti adalah masyarakat di
wilayah Keluraha Pisangan yang telah menerima pelayanan kesehatan di
rumah sakit maupun puskesmas.

BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Persepsi 1. Definisi Persepsi Persepsi adalah proses pengorganisasian, penginterpretasian terhadap rangsang yang
A. Persepsi
1. Definisi Persepsi
Persepsi
adalah
proses
pengorganisasian,
penginterpretasian
terhadap rangsang yang diterima oleh organisme atau individu sehingga
merupakan sesuatu yang berarti dan merupakan aktivitas yang intergrated
dalam diri individu. Persepsi adalah proses kognitif yang dialami oleh
setiap orang didalam memahami informasi tentang lingkungannya, baik
lewat penglihatan, pendengaran, penghayatan, perasaan, dan penciuman.
(Toha, 2008)
Sunaryo (2004)
juga menyampaikan hal yang senada, persepsi
ialah daya mengenal barang, kualitas atau hubungan, dan perbedaan antara
hal
ini
merupakan
proses
mengamati,
mengetahui,
atau
mengartikan
setelah
pancaindranya
mendapatkan
rangsangan.
Sehingga
individu
mampu
mengetahui,
mengartikan,
dan
menghayati
tentang
hal
yang
diamati, baik yang ada di luar maupun dalam diri individu.

Persepsi

baik

positif

maupun

negatif

ibarat

file

yang

sudah

tersimpan rapi di dalam alam pikiran bawah sadar kita. File itu akan segera

muncul

ketika

ada

stimulus

yang

memicunya,

ada

kejadian

yang

membukanya. Persepsi merupakan hasil kerja otak dalam memahami atau

menilai suatu hal yang terjadi di sekitarnya (Waidi, 2006)

10

11

2. Macam-macam Persepsi

Mulyana (2005) membagi persepsi menjadi dua yaitu persepsi

terhadap objek (lingkungan fisik) dan persepsi terhadap manusia. Persepsi

terhadap manusia lebih sulit dan kompleks, karena manusia bersifat dinamis. Persepsi terhadap manusia sering
terhadap manusia lebih
sulit dan kompleks, karena manusia bersifat
dinamis.
Persepsi
terhadap
manusia
sering dijumpai
persepsi
sosial,
meskipun kadang-kadang manusia disebut juga objek. Perbedaan kedua
tersebut
yaitu
: Pertama,
persepsi
terhadap
objek
melalui
lambang-
lambang
fisik,
sedangkan
persepsi
terhadap
orang
melalui
lambang-
lambang verbal dan non verbal. Orang lebih aktif daripada kebanyakan
objek
dan
lebih
sulit
diramalkan.
Kedua,
persepsi
terhadap
objek
menanggapi
sifat-sifat
luar,
sedangkan
persepsi
terhadap
orang
menanggapi sifat-sifat luar dan dalam (perasaan, motif, harapan dan
sebagainya). Kebanyakan objek tidak mempersepsi anda ketika anda
mempersepsi objek itu, akan tetapi orang mempersepsi anda pada saat
anda mempersepsi mereka, dengan kata lain persepsi terhadap manusia
bersifat interaktif.
Menurut Sunaryo (2004) ada dua macam persepsi, yaitu yang

pertama External perception, yaitu persepsi yang terjadi karena adanya

rangsang

yang

datang

dari

luar

diri

individu.

Selanjutnya

ada

Self-

perception, yaitu persepsi yang terjadi karena adanya rangsang yang

berasal dari dalam diri individu. Dalam hal ini yang menjadi objek adalah

dirinya sendiri.

12

3. Faktor yang Mempengaruhi Persepsi

Menurut Krech dan Crutchfield (1975) dalam Sobur (2003) faktor

– faktor yang mempengaruhi persepsi individu ada empat, yaitu : a. Faktor Fungsional Faktor fungsional
– faktor yang mempengaruhi persepsi individu ada empat, yaitu :
a. Faktor Fungsional
Faktor fungsional dihasilkan dari kebutuhan, kegembiraan (suasana
hati), pelayanan yang diterima, dan pengalaman masa lalu seseorang
individu. Faktor ini cenderung bersifat subjektif dan internal individu.
Pada dasarnya persepsi sendiri tidak ditentukan oleh jenis atau bentuk
stimulus, tetapi tergantung pada karakter orang yang memberikan
respon terhadap stimulus tersebut. Dengan demikian, persepsi bersifat
selektif fungsional, maka seseorang yang mempersepsi sesuatu akan
memberikan tekanan sesuai dengan tujuan orang tersebut.
b. Faktor Struktural
Faktor-faktor struktural berarti bahwa faktor-faktor tersebut timbul
atau
dihasilkan
dari
bentuk
stimuli
dan
efek-efek
netral
yang
ditimbulkan dari sistem saraf individu. Faktor ini lebih kearah biologis
tubuh, menurut psikolog Gestalt, bila mempersepsi sesuatu manusia

cenderung

mempersepsikan

sebagai

suatu

keseluruhan,

meskipun

stimulus yang diterima tidak lengkap, penginterpretasinya tetap secara

konsisten dengan rangkaian stimulus yang dipersepsi. Hal tersebut

yang

menyebabkan

seseorang

cenderung

mengelompokkan

orang,

benda, ataupun peristiwa sejenis dan memisahkannya dari kelompok

lain yang tidak serupa.

13

c. Faktor Situasional

Faktor ini banyak berkaitan dengan bahasa nonverbal. Persepsi harus

dilihat secara kontekstual yang berarti situasi dimana persepsi tersebut

timbul, harus mendapat perhatian. Situasi merupakan faktor yang turut berperan dalam proses pembentukan persespsi
timbul, harus mendapat perhatian. Situasi merupakan faktor yang turut
berperan dalam proses pembentukan persespsi seseorang.
d. Faktor Personal
Faktor ini tediri atas pengalaman, sosial budaya, pengetahuan, harapan,
motivasi dan kepribadian individu.
Tidak terlalu berbeda dengan apa yang dikemukakan oleh Krech
dan Crutchfield dalam Sobur, Tiara (2007) menyatakan bahwa yang
mempengaruhi pembentukan persepsi seseorang adalah :
a. Frame
of
Reference,
yaitu
kerangka
pengetahuan
yang
dimiliki
seseorang, dimana hal ini dipengaruhi dari pendidikan, buku bacaan,
penelitian dan motivasi.
b. Frame
of
experience,
yaitu
berdasarkan
pengalaman
yang
telah
dialami individu yang tidak terlepas dari keadaan lingkungan sekitar,
seperti sosial budaya, kelas sosial, dan determinan situasional.

Sedangakan Toha (2008) membagi menjadi dua faktor-faktor yang

mempengaruhi yaitu Faktor Internal dan Faktor Eksternal.

a. Faktor Internal , yaitu hal-hal yang mempengaruhi persepsi berupa

faktor-faktor

yang

terdapat

dalam

diri

beberapa hal antara lain :

individu,

yang

mencakup

14

1)

Fisiologis.

Informasi

masuk

melalui

alat

indera,

selanjutnya

informasi

yang

diperoleh

ini

akan

mempengaruhi

dan

melengkapi usaha untuk memberikan arti terhadap lingkungan

sekitarnya. Kapasitas indera untuk mempersepsi pada tiap orang berbeda-beda sehingga interpretasi terhadap lingkungan
sekitarnya. Kapasitas indera untuk mempersepsi pada tiap orang
berbeda-beda sehingga interpretasi terhadap lingkungan
juga
dapat berbeda.
2)
Perhatian.
Individu
memerlukan
sejumlah
energi
yang
dikeluarkan
untuk
memperhatikan
atau
memfokuskan
pada
bentuk fisik dan fasilitas mental yang ada pada suatu obyek.
Energi tiap orang berbeda-beda sehingga perhatian seseorang
terhadap obyek juga berbeda dan hal ini akan mempengaruhi
persepsi terhadap suatu obyek.
3)
Minat. Persepsi terhadap suatu obyek bervariasi tergantung pada
seberapa
banyak
energi
atau
perceptual
vigilance
yang
digerakkan untuk mempersepsi. Perceptual vigilance merupakan
kecenderungan seseorang untuk memperhatikan tipe tertentu dari
stimulus atau dapat dikatakan sebagai minat.
4)
Kebutuhan yang searah. Faktor ini dapat dilihat dari bagaimana

kuatnya seseorang individu mencari obyek-obyek atau pesan

yang dapat memberikan jawaban sesuai dengan dirinya.

5)

Pengalaman dan ingatan. Pengalaman dapat dikatakan tergantung

pada ingatan dalam arti sejauh mana seseorang dapat mengingat

kejadian-kejadian

lampau

dalam pengertian luas.

untuk

mengetahui

suatu

rangsang

15

6)

Suasana hati. Keadaan emosi mempengaruhi perilaku seseorang,

mood

ini

menunjukkan bagaimana perasaan

seseorang pada

waktu tertentu yang dapat mempengaruhi bagaimana seseorang

dalam menerima, bereaksi dan mengingat. b. Faktor Eksternal yang mempengaruhi persepsi, merupakan karakteristik dari
dalam menerima, bereaksi dan mengingat.
b. Faktor Eksternal yang mempengaruhi persepsi, merupakan karakteristik
dari lingkungan dan obyek-obyek yang terlibat didalamnya. Elemen-
elemen tersebut dapat mengubah sudut pandang seseorang terhadap
dunia
sekitarnya
dan
mempengaruhi
bagaimana
seseorang
merasakannya atau menerimanya. Sementara itu faktor-faktor eksternal
yang mempengaruhi persepsi adalah :
1)
Ukuran dan penempatan dari obyek atau stimulus. Faktor ini
menyatakan bahwa semakin besarnya hubungan suatu obyek,
maka
semakin
mudah
untuk
dipahami.
Bentuk
ini
akan
mempengaruhi persepsi individu dan dengan melihat bentuk
ukuran suatu obyek individu akan mudah untuk perhatian pada
gilirannya membentuk persepsi.
2)
Warna dari obyek-obyek. Obyek-obyek yang mempunyai cahaya

lebih banyak, akan lebih mudah dipahami dibandingkan dengan

yang sedikit.

3)

Keunikan

dan

kekontrasan

stimulus.

Stimulus

luar

yang

penampilannya dengan

latarbelakang dan sekelilingnya

yang

sama sekali di luar sangkaan individu yang lain akan banyak

menarik perhatian.

16

4)

Intensitas dan kekuatan dari stimulus. Stimulus dari luar akan

memberi

makna

lebih

bila

lebih

sering

diperhatikan

dibandingkan dengan yang hanya sekali dilihat. Kekuatan dari

stimulus merupakan daya dari suatu obyek yang bisa mempengaruhi persepsi. 5) Motion atau gerakan. Individu
stimulus
merupakan
daya
dari
suatu
obyek
yang
bisa
mempengaruhi persepsi.
5)
Motion
atau
gerakan.
Individu
akan
banyak
memberikan
perhatian
terhadap
obyek
yang
memberikan
gerakan
dalam
jangkauan pandangan dibandingkan obyek yang diam.
4. Proses Terjadinya Persepsi
Seperti yang telah diterangkan bahwa persepsi adalah suatu proses
penerimaan, pemilihan, pengorganisasian, serta pemberian arti terhadap
rangsang yang diterima. Proses pembentukan persepsi terdiri dari tiga
tahapan menurut Devito (2007) dalam Nugroho (2013), yaitu :
a. Stimulation.
Stimulation, tahap dimana individu menerima informasi
atau stimuli melalui inderanya. Pada tahap ini terjadi seleksi
sehingga ada stimulus yang diabaikan dan tidak diabaikan.

b. Organization

Organization,

tahap

dimana

individu

mengelola

informasi yang dipilih oleh indera mereka, terjadi proses di

otak sebagai pusat kesadaran sehingga individu menyadari apa

yang dilihat, atau apa yang didengar, atau apa yang diraba.

17

c.

Interpretation-Evaluation

Merupakan tahap dimana individu menerjemahkan atau

menafsirkan informasi yang masuk melalui alat indra manusia.

Penafsiran sebuah informasi melibatkan beberapa aspek yaitu pengalaman masa lalu individu, nilai yang dianut tiap
Penafsiran sebuah informasi melibatkan beberapa aspek yaitu
pengalaman masa lalu individu, nilai yang dianut tiap individu,
harapan individu dan lain sebagainya. Kemudian muncullah
respon sebagai akibat dari persepsi dapat diambil oleh individu
dalam berbagai macam bentuk.
Sedangkan
Toha
(2008)
juga
menerangkan
mengenai
proses
terjadinya persepsi didasarkan pada beberapa tahap. Proses tersebut tidak
hanya sampai pada tahap penerimaan tetapi hal ini akan mempengaruhi
pada perilaku individu yang akan dipilih sesuai dengan
rangsang yang
diterima
dari
lingkungannya.
Setiap
objek
disekitar
individu
adalah
stimulus. Kemudian stimulus ini akan diserap semua informasi dan yang
terdengar dan terlihat sudah terdaftar dalam diri seseorang. Hal ini berupa
proses registrasi dimana akan ada mekanisme fisik berupa penginderaan
dan
persarafan
seseorang
yang
terpengaruh
sehingga
berdampak
kemampuan fisik untuk mendengar dan melihat. Setelah terdaftarnya

seluruh

informasi

maka

akan

ada

proses

Interpretasi.

Interpretasi

merupakan suatu aspek kognitif dari persepsi yang sangat penting yaitu

proses memberikan arti kepada stimulus yang diterimanya. Proses ini

bergantung pada cara pendalaman, motivasi, dan kepribadian seseorang,

sehingga interpretasi terhadap sesuatu informasi yang sama kan berbeda

antara satu dengan yang lainnya.

18

Dengan demikian, proses terjadinya persepsi dimulai dari proses

penerimaan

stimulus

melalui

penginderaan,

penyeleksian

terhadap

stimulus yang lebih menarik atau dibutuhkan, mengelolah stimulus melalui

proses berfikir, kemudian ditafsirkan sebagai suatu penilaian dasar terhadap suatu objek, yang diakhiri
proses
berfikir,
kemudian
ditafsirkan
sebagai
suatu
penilaian
dasar
terhadap
suatu
objek,
yang
diakhiri
dengan
adanya sikap
kita
yang
ditunjukkan berdasarkan persepsi yang telah terbentuk.
B. Profesi Perawat
1. Pengertian Profesi Perawat
Profesi adalah suatu pekerjaan yang memerlukan pendidikan yang
lama dan menyangkut keterampilan intelektual. Sedangkan pengertian
secara umum telah diterima, profesi adalah suatu pekerjaan yang ditujukan
untuk kepentingan masyarakat dan bukan untuk kepentingan golongan
atau
kelompok
tertentu.
Berarti
profesi
sangat
mementingkan
kesejahteraan orang lain. Sedangkan Profesional adalah seseorang yang
memiliki kompetensi dalam suatu pekerjaan tertentu (Kusnanto.2004.).
Seorang professional bertindak secara konsensius, paham dan mengerti
apa yang dilakukannya dan bertanggung jawab terhadap dirinya dan orang

lain (Potter & Perry, 2005).

Pada tahun 1965, Communittee on Education ANA menegaskan

definisi keperawatan secara utuh dan menitikberatkan pada peran mandiri

keperawatan sebagai profesi :

19

“Keperawatan merupakan profesi yang membantu dan memberikan

pelayanan

individu.

yang berkontribusi pada kesehatan dan kesejahteraan

Keperewatan merupakan konsekuensi penting bagi individu yang menerima pelayanan ; profesi ini memenuhi kebutuhan yang
Keperewatan merupakan konsekuensi penting bagi individu yang
menerima pelayanan ; profesi ini memenuhi kebutuhan yang tidak
dapat
dipenuhi
oleh
seseorang,
keluarga
atau
kelompok
di
komunitas”
Pada Lokakarya Nasional tentang keperawatan yang dilaksanakan di
Jakarta pada bulan Januari 1983, telah disepakati pengertian keperawatan
sebagai berikut :
“Keperawatan adalah suatu bentuk pelayanan professional
yang
merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan, didasarkan
pada ilmu dan kiat keperawatan, berbentuk pelayanan bio-psiko-
sosial-spiritual
yang
komprehensif,
ditujukan
pada
individu,
keluarga dan masyarakat baik sakit maupun sehat yang mencakup
seluruh proses kehidupan manusia.”
2. Karakteristik Profesi

Suatu pekerjaan bisa dikatakan profesi jika mempunyai ciri dan

karakteristik tertentu. Profesi memiliki karakteristik utama sebagai berikut

(Potter & Perry, 2005):

a.

Suatu

profesi

memerlukan

pendidikan

lanjut

dari

demikian juga landasan dasarnya.

anggotanya,

20

Sebagai suatu profesi, keperawatan menuntut anggota yang ada di

dalamnya

memiliki

pendidikan

yang

penting.

Persatuan

Perawat

Nasional Indonesia (PPNI) dan Asosiasi Pendidikan Ners Indonesia

(AIPNI) menjelaskan mengenai pendidikan keperawatan di Indonesia. Pendidikan keperawatan di indonesia mengacu kepada
(AIPNI)
menjelaskan
mengenai
pendidikan
keperawatan
di
Indonesia. Pendidikan keperawatan di indonesia mengacu kepada UU
No.
20
tahun
2003
tentang
Sistem
Pendidikan
Nasional.
Jenis
pendidikan keperawatan di Indonesia mencakup:
1) Pendidikan Vokasional;
yaitu jenis pendidikan diploma sesuai dengan jenjangnya
untuk memiliki keahlian ilmu terapan keperawatan yang
diakui oleh pemerintah Republik Indonesia.
2) Pendidikan Akademik;
yaitu pendidikan tinggi program sarjana dan pasca sarjana
yang
diarahkan
terutama
pada
penguasaan
disiplin
ilmu
pengetahuan tertentu
3) Pendidikan Profesi;
yaitu
pendidikan
tinggi
setelah
program
sarjana
yang
mempersiapkan
peserta
didik
untuk
memiliki
pekerjaan

dengan persyaratan keahlian khusus

b. Suatu profesi memiliki kerangka pengetahuan teoritis yang mengarah

pada keterampilan, kemampuan, dan norma norma tertentu.

Keperawatan telah memperlihatkan diri sebagaiprofesi, pengetahuan

keperawatan telah dikembangkan melalui teori-teori keperawatan.

Model teori memberikan kerangka kerja bagi kurikulum dan praktik

21

klinis

keperawatan.

Teori

keperawatan

juga

penelitian

yang

meningkatkan

dasar

ilmiah

mendorong

kea

rah

untuk

praktik.

Teori

merupakan jalan untuk memahami realitas dan dalam arti umum,

dalam seluruh praktik perawat menggunakan teori yang telah mereka pelajari. c. Suatu profesi memberikan pelayanan
dalam seluruh praktik perawat menggunakan teori yang telah mereka
pelajari.
c. Suatu profesi memberikan pelayanan tertentu.
Keperawatan selalu merupakan profesi yang melayani, sekalipun di
masa lampau, pelayanan yang diberikan dipandang sebagai pekerjaan
tanpa pamrih. Sekarang ini, keperawatan menjadi komponen vital dan
sangat diperlukan bagi system pemberian perawatan kesehatan.
d. Anggota
dari
suatu
profesi
memiliki
otonomi
untuk
membuat
keputusan dan melakukan tindakan.
Otonomi berarti sesorang secara rasional memiliki kemandirian dan
pengaturan
diri
dalam
membuat
keputusan
dan
praktik.
Dengan
meningkatnya otonomi maka meningkat pula tanggung gugat dan
tanggung jawab. Tangggung gugat berarti perawat bertanggung jawab
secara
professional
dan
hokum
akan
tipe
dan
kualitas
asuhan
keperawatan yang diberikannya. Perawatan bertanggung jawab untuk

memperdalam keterampilan dan pengetahuannya dalam melakukan

asuhan keperawatan.

e. Profesi sebagai satu kesatuan memiliki kode etik untuk melakukan

praktik keperawatan.

Keperawatan memiliki kode etik yang menyebutkan prinsip prinsip

dari fungsi keperawatan. Kode etik untuk menuntun anggota profesi

22

dalam menjalan aktifitas profesionalnya serta melindungi masyarakat

dari intervensi/tindakan yang tidak etis dan mengabaikan nilai-nilai

moral; dan melindungi perawat dari tuntunan masyarakat. Terdapat

beberapa prinsip etik dalam pelayanan kesehatan dan keperawatan, yaitu autonomy / penentu pilihan, nonmaleficence (do
beberapa prinsip etik dalam pelayanan kesehatan dan keperawatan,
yaitu autonomy / penentu pilihan, nonmaleficence (do no harm),
beneficience (do good),
justice (perlakuakn adil). Keempat prinsip
tersebut harus senantiasa menjadi pertimbangan dalam pengambilan
keputusan terutama yang menyangkut dilemma etis.
Karakter-karakter
diatas
memperjelas
bahwa
perawat
merupaka
profesi dan sudah semestinya perawat menampilakn karakter-karakter
tersebut
didalam
memberikan
pelayanan
keperawatan
kepada
klien.
Karakter-karakter
dari
profesi
harus
benar-benar
dalam
diri
seorang
perawat.
Dengan
terinternalisasinya
karakter
diharapkan
cermin
profesionalitas dari profesi termanifestasikan kedalam tatanan pelayanan
keperawatan sehingga yang pada akhirnya mempunyai implikasi asuhan
yang diberikan dapat berkualitas dan memberikan kepuasan baik kepada
diri sendiri, perawat maupun klien sebagai penerima jasa pelayanan.
3. Caring Perawat

Seorang perawat harus dapat melayani pasien dengan sepenuh hati.

Sebagai seorang perawat harus dapat memahami masalah yang dihadapi

oleh klien, selain itu seorang perawat dapat berpenampilan menarik. Untuk

itu seorang perawat memerlukan kemampuan untuk memperhatikan orang

lain, ketrampilan intelektual, teknikal dan interpersonal yang tercermin

dalam perilaku caring atau kasih sayang (Dwidiyanti, 2007).

23

Perilaku caring sangatlah penting untuk keperawatan. Perilaku

peduli adalah fokus pemersatu untuk praktek keperawatan. Caring secara

umum dapat diartikan sebagai suatu kemampuan untuk berdedikasi bagi

orang lain, pengawasan dengan waspada, menunjukkan perhatian, perasaan empati pada orang lain dan perasaan cinta
orang
lain,
pengawasan
dengan
waspada,
menunjukkan
perhatian,
perasaan empati pada orang lain dan perasaan cinta atau menyayangi yang
merupakan kehendak keperawatan. Selain itu, caring mempengaruhi cara
berpikir
seseorang,
perasaan
dan
perbuatan
seseorang.
Caring
juga
mempelajari berbagai macam philosofi dan etis perspekti
Filosofi
Watson
(1979)
tentang
asuhan
keperawatan
mengemukakan bahwa caring merupakan inti dari keperawatan. Dalam hal
ini, caring merupakan perwujudan dari semua faktor yang digunakan
perawat dalam memberikan pelayanan kesehatan pada klien. Watson
menjelaskan dalam struktur asuhan keperawatan 10 carative factor :
a. Pembentukan nilai humanistic – altruistic system
Asuhan kepertawatan berdasarkan pada nilai-nilai kemanusiaan
(humanistic) dan perilaku mementingkan kepentingan orang
lain
dari
pada
diri
sendiri
(altruistic).
Hal
ini
dapat

dikembangkan dengan memahami nilai nilai yang ada pada

diri sendiri, keyakinan, interaksi dengan bermacam macam

kultur, serta pengalaman pribadi.

b. Faith Hope (Kepercayaan harapan)

Hal yang penting dalam carative dan curative proses. Perawat

menekankan

penggunaan

obat

untuk

curative

dan

juga

membantu pasien dalam melakukan alternative pengobatan

24

yang

lain

seperti

meditasi,

relaksasi,

spiritual

demi

meningkatkan kesembuhan dan kesejahteraan klien.

c. pengembangan sensitifitas untuk diri sendiri dan untuk orang

lain sebagai perawat perlu mengembahkan sensitifitas diri pribadi dan pada orang lain dalam pemberian pelayanan
lain
sebagai perawat perlu mengembahkan sensitifitas diri pribadi
dan
pada
orang
lain
dalam
pemberian
pelayanan
asuhan
keperawatan,
karena
pikiran
dan
emosi
seseorang
adalah
jendela jiwa.
d. Membangun hubungan helping – trust
Ciri
hubungan
ini
adalah
harmoni,
empati
dan
hangat.
Hubungan yang harmoni terbuka dan jujur tidak dibuat – buat.
Empati adalah perawat berusaha untuk merasakan apa yang
dirasakan klien, hangat dimana kita menerima orang lain secara
positif.
e. pengekspresian
Menerima
perasaan
baik
positif
maupun
negatif
ekpresi
meningkatkan
kesadaran,
perasaan
mempengaruhi
pikiran dan perilaku, dan hal ini perlu untuk dipertimbangkan

dan memelihara hubungan.

f. Menggunakan metode pemecahan masalah

dalam pengambilan keputusan

yang sistematik

Watson percaya bahwa tanpa penggunaan metode pemecahan

masalah yang sistematik dan praktek yang efektif merupakan

sebuah

kebetulan,

sembrono,

atau

berbahaya.

Metode

25

pemecahan

masalah

yang

ilmiah

merupakan

metode

yang

memberikan control dan prediksi serta membolehkan koreksi.

g. Peningkatan belajar mengajar interpersonal

Merupakan faktor dimana seseorang berusaha mengontrol kesehatan mereka setelah mendapatkan informasi – informasi
Merupakan
faktor
dimana
seseorang
berusaha
mengontrol
kesehatan mereka setelah mendapatkan informasi – informasi
dan
alternative
pengobatan.
Dalam
pemberian
pelayanan
asuhan keperawatan, perawat memfokuskan pada proses belajar
sama banyaknya dengan proses mengajar.
h. Menyediakan
dukungan,
melindungi
dan
memperbaiki
lingkungan mental, fisik, sosiokultural dan spiritual.
Perawat
memberikan
dukungan
situasional,
membantu
seseorang
mengembangkan
persepsi
yang
lebih
akurat,
membantu
informasi
sehingga
pasien
menanggualangi
masalahnya. Perawat juga harus memberikan perasaan nyaman,
keleluasaan pribadi, aman kepada pasien.
i. Membantu memenuhi kebutuhan manusia
Urutan kebutuhan menurut Watson hampir serupa dengan
hirarki kebutuhan menurut Maslow, yaitu :

1)

Kebutuhan biofisikal (lower order needs)

Kebutuhan untuk makanan dan cairan, Kebutuhan untuk

eliminasi, Kebutuhan

untuk hidup.

ventilasi.

Merupakan

kebutuhan

26

2)

Kebutuhan psikofisikal (higher order needs)

Kebutuhan untuk aktifitas dan tidak aktif, Kebutuhan

seksualitas. Merupakan kebutuhan fungsional

3) Kebutuhan psikososial (higher order needs) Kebutuhan untuk berprestasi, Kebutuhan untuk ikut menjadi anggota
3)
Kebutuhan psikososial (higher order needs)
Kebutuhan
untuk
berprestasi, Kebutuhan
untuk
ikut
menjadi
anggota
suatu
perkumpulan.
Merupakan
kebutuhan untuk integrasi
4)
Kebutuhan
intrapersonal-interpersonal
(higher
order
needs)
Kebutuhan untuk aktualisasi diri. Merupakan kebutuhan
untuk pengembangan.
j. Menghargai kekuatan eksistensial – phenomenological.
Phenomenology adalah jalan untuk mengerti seseorang dari
penampilannya. Faktor ini membantu seseorang untuk mengerti
kehidupan, sakit dan kematian. Membantu seseorang untuk
menentukan
kekuatan
atau
keberanian
untuk
menghadapi
kehidupan atau kematian.
4. Peran Profesi Perawat

Peran

perawat

kini

tidak

hanya

memberikan

perawatan

dan

kenyamanan, peran perawat menjadi lebih luas dengan penekanan pada

peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit, juga memandang klien

secara komperhensif (Potter & Perry, 2005).

a.

Care

Giver,

yaitu

perawat

sebagai

pemberi

asuhan

keperawatan. Pemberian asuhan keperawatan yang langsung

27

diberikan kepada pasien, pada berbagai tatanan pelayanan

kesehatan dengan menggunakan proses keperawatan mulai dari

pengkajian, penegakan diagnosis, perencanaan, implementasi,

dan evaluasi. Peran care giver menuntut perawat untuk memberi kenyamanan dan rasa aman bagi klien,
dan
evaluasi.
Peran
care giver
menuntut
perawat
untuk
memberi kenyamanan dan rasa aman bagi klien, melindungi
hak
dan
kewajiban
klien
agar
tetap
terlaksana
dengan
seimbang, memfasilitasi klien dengan anggota tim kesehatan
lainnya, dan berusaha mengembalikan kesehatan klien.
b. Client
Advocate,
yaitu
perawat
sebagai
pembela
untuk
melindungi
klien.
Sebagai
pelindun,
perawat
membantu
mempertahankan
lingkungan
yang
aman
bagi
klien
dan
mengambil tindakan untuk mencegah terjadinya kecelakaan
dan
melindungi
klien
dari
kemungkinan
efek
yang
tidak
diinginkan dari suatu tindakan diagnostic atau pengobatan.
c. Counsellor,
yaitu
perawat
sebagai
pemberi
bimbingan
/
konseling klien. Perawat melakukan konseling keperawatan
sebagai usaha memecahkan masalah secara efektif dengan
menyediakan informasi, mendengar secara objektif, memberi

dukungan, member asuhan dan

memandu klien menggali

permasalahan

dan

memilih

pemecahan

masalah

yang

dikerjakan (Depkes, 2004).

d. Educator,

yaitu

bertangguang

perawat

jawab

sebagai

dalam

pendidik

klien.

Perawat

memberikan

pendidikan

kesehatan/perawatan kepada pasien, keluarga dan masyarakat.

28

e. Collaborator dan Coordinator. Perawat sebagai collaborator

yaitu perawat dituntut untuk dapat bekerja sama dengan tenaga

kesehatan

lain.

Sedangkan

perawat

sebagai

coordinator,

perawat dapat memanfaatkan sumber-sumber dan potensi klien. Perawat juga dapat mengkoordinir seluruh kegiatan upaya
perawat
dapat
memanfaatkan
sumber-sumber
dan
potensi
klien. Perawat juga dapat mengkoordinir seluruh kegiatan
upaya kesehatan dalam mencapai tujuan kesehatan melalui
kerjasam
dengan
tim
kesehatan
lainnya,
sehingga
tercipta
keterpaduan dalam system pelayanan kesehatan.
f. Change Agent dan
Peneliti, sebagai pembaru
yang selalu
dituntut
untuk
mengadakan
perubahan-perubahan.
Perawat
melakukan
penelitian
keperawatan
untuk
mengembangkan
ilmu dan praktek keperawatan serta ikut berperan secara aktif
dalam kegiatan penelitian di bidang kesehatan.
g. Role Model, perawat harus dapat memberikan contoh yang
baik
dalam
bidang
kesehatan
kepada
individu,
keluarga,
kelompok dan masyarakat tentang bagaiana tata cara hidup
sehat yang dapat ditiru dan dicontoh oleh masyarakat.
5.
Fungsi Profesi Perawat

Virginia Henderson dalam pernyataan singkatnya mengatakan :

“Fungsi unik dari keperawatan adalah membantu individu, baik

sehat maupun sakit, yang ditampilkan dengan melakukan kegiatan

yang berkaitan dengan kesehatan, penyembuhan suatu penyakit,

ataupun untuk memberikan kematian yang damai di mana klien

dapat melakukannya tanpa dibantu”

29

Sedangkan fungsi Perawat dalam memberikan asuhan keperawatan

adalah sebagai berikut :

a. Fungsi Independent Membantu individu, keluarga dan masyarakat baik sakit maupun sehat dalam melaksanakan kegiatan
a. Fungsi Independent
Membantu individu, keluarga dan masyarakat baik sakit maupun
sehat dalam melaksanakan kegiatan yang menunjang kesehatan
atau penyembuhan atau menghadapi kematian. Fungsi mandiri dan
tidak
tergantung
pada
orang
lain,
dimana
perawat
dalam
melaksanakan tugasnya dilakukan secara sendiri dengan keputusan
sendiri
dalam
melakukan
tindakan
dalam
rangka
memenuhi
kebutuhan dasar manusia seperti pemenuhan kebutuhan fisiologis
(pemenuhan kebutuhan oksigenasi, pemenuhan kebutuhan cairan
dan
elektrolit,
pemenuhan
kebutuhan
nutrisi,
pemenuhan
kebutuhan aktifitas dan istrahat), pemenuhan kebutuhan keamanan
dan
kenyamanan,
pemenuhan
cinta
mencintai,
pemenuhan
kebutuhan harga diri dan aktualisasi diri.
b. Fungsi Dependen
Merupakan
fungsi perawat dalam
melaksanakan kegiatan atas

pesan atau instruksi dari perawat lain. Sehingga sebagian tindakan

pelimpahan tugas yang di berikan. Hal ini biasanya dilakukan oleh

perawat spesialis kepada perawat umum atau dari perawat primer

ke perawat pelaksana.

c. Fungsi Interdependen

Fungsi ini dilakukan dalam kelompok tim yang bersifat saling

ketergantungan di antara tim satu dengan yang lainnya. Fungsi ini

30

dapat terjadi apabila bentuk pelayanan membutuhkan kerja sama

tim dalam pemberian pelayanan seperti dalam memberikan asuhan

keperawatan pada penderita yang mempunyai penyakit kompleks.

Keadaan ini tidak dapat diatasi dengan tim perawat saja melainkan juga dari dokter ataupun yang
Keadaan ini tidak dapat diatasi dengan tim perawat saja melainkan
juga dari dokter ataupun yang lainnya
6. Tanggung Jawab Perawat Terhadap Pasien
PPNI sebagai organisasi tertinggi perawat menjelaskan mengenai
tanggung jawab perawat khusunya terhadap pasien dalam memberikan
asuhan keperawatan dijelaskan sebagai berikut :
a. Perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan menghargai
harkat
dan
martabat
manusia,
keunikan
klien,
dan
tidak
terpengaruh oleh pertimbangan kebangsaan, kesukuan, warna
kulit, umur, jenis kelamin, aliran politik, dan agama yang dianut
serta kedudukan social.
b. Perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan senantiasa
memelihara suasana lingkungan yang menghormati nilai-nilai
budaya, adat istiadat dan kelangsungan hidup beragama dari
klien.

c. Tanggung jawab utama perawat adalah kepada mereka yang

membutuhkan asuhan keperawatan.

d. Perawat

wajib

merahasiakan

segala

sesuatu

yang

diketahui

sehubungan dengan tugas yang dipercayakan kepadanya kecuali

jika diperlukan oleh berwenang sesuai dengan ketentuan hukum

yang berlaku.

31

C. Penelitian Terkait

a. Persepsi Masyarakat tentang Peran Perawat

Syifa

(2012)

melakukan

penelitain

yang

berjudul

Gambaran

Persepsi Masyarakat tentang Peran Perawat Puskesmas di Kelurahan Bintara Kota Bekasi Tahun 2012. Penelitian ini
Persepsi Masyarakat tentang Peran Perawat Puskesmas di Kelurahan
Bintara Kota Bekasi Tahun 2012. Penelitian ini menggunakan metode
penelitian
deskriptif
sederhana
dengan
pendekatan
cross
sectional.
Pengambilan
data
dilakukan
menggunakan
kuesioner
kepada
96
pengunjung
puskes
di
Kelurahan
Bintara
dengan
teknik
purposive
sampling. Hasil Penelitian mwnunjukan bahwa sebanyak 52,2% responden
memiliki
persepso
positif
tentang
peran
perawat
secara
keseluruhan.
Sedangkan
yang
memiliki
persepsi
yang
negative
sebanyak
44,8%.
Persepsi masyarakat cenderung positif terhadap masing – masing peran
perawat dengan jumlah persepsi postif tertinggi terdapat pada peran
sebagai panutan (66,7%), dan persepsi positif terendah pada peran sebagai
konselor (54,2%)
b. Persepsi Pasien terhadap Perilaku Caring Perawat
Manurung dan Ceryah Mey (2011) melakukan penilitian dengan
judul Persepsi Pasien Terhadap Perilaku Caring Perawat di Ruang Rawat

Inap Rumah Sakit. Desain penelitian

yang digunakan adalah potong

lintang. Populasi penelitian adalah pasien yang dirawat di Rumah Sakit

IMC

Bintaro.

Teknik

pengambilan

sampel

adalah

simple

random

sampling, jumlah sampel dari perhitungan adalah 93 responden, dan

instrumen

penelitian

adalah

kuesioner,

kuesioner

telah

dilakukan

uji

validitas dan realibilitas. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa pasien

32

memiliki persepsi positif terhadap perilaku caring perawat (61,3%), dan

pasien merasakan kebutuhan caring selama dirawat cukup tinggi (55,9%).

Pasien

yang dirawat sebagian besar dapat menerima kondisi dirinya

dengan baik selama dirawat (71%) serta menyatakan perilaku caring perawat selama memberikan pelayanan adalah baik
dengan baik selama dirawat (71%) serta menyatakan perilaku caring
perawat selama memberikan pelayanan adalah baik (75,2%).
c. Persepsi Masyarakat terhadap Registered Nurses
College of Registered Nurses of Nova Scotia (2012) melakukan
penelitian dengan judul Public Perception Survey of Registered Nurses
and Nurse Practitioners in Nova Scotia. Penelitian ini mengguanakan
desain deskriptif metode penggambilan data menggunakan kuesioner.
Teknik pengambilan sample dengan random sapling dari 400 warga yang
tinggal di Nova Scotia. Hasil dari penilitian ini yaitu 93% responden
menyatakan sangat puas atau puas dengan pelayanan yang diberikan oleh
perawat. 89% menilai bahwa perawat sangat penyayang, dan 62% menilai
perawat sangat penuh kasih. Lebih dari 80% menyatakan bahwa perawat
memperlakukan
pasien
dengan
hormat,
menghormati
privasi
pasien,
membuat pasien merasa aman, selalu menjelaskan apa yang akan terjadi
dalam hal perawatan yang diberikan dengan cara yang mudah dipahami

dan mengajukan pertanyaan tentang riwayat kesehatan pasien.

33

D. Kerangka Teori

Masyarakat Persepsi Pengalaman masa lalu Profesi Perawat Tanggung Jawab terhadap Pasien (PPNI, 2015) Peran Perawat
Masyarakat
Persepsi
Pengalaman masa
lalu
Profesi Perawat
Tanggung Jawab
terhadap Pasien
(PPNI, 2015)
Peran Perawat :
Fungsi Perawat :
Perilaku Caring :
 Care Giver
 Independen
humanistic –altruistic
 Client Advocate
Faith – Hope
 Dependen
 Counsellor
a.
 Interdependen
 Educator
Pengembangan
sensitifitas
(Perry & Potter,
 Collaborator dan
b.
helping – trust
2005)
coordinator
c.
Pengekspresian
 Change Agent
perasaan
baik
positif
 Role Mode
maupun negative
(Perry & Potter,2005)
d.
Menggunakan metode
pemecahan masalah
e.
Peningkatan
belajar
mengajar interpersonal
f.
Dukungan,melindungi
dan
memperbaiki
lingkungan
g.
memenuhi kebutuhan
manusia
h.
eksistensial
phenomenological
Keterangan :
(Asmadi, 2010 & Perry &
Potter, 2005)
variable yang diteliti
:
:

variabel yang tidak ditelitiPerry & Potter, 2005) variable yang diteliti : : Bagan 2.1 Sumber : (Sobur,2003) ; (Perry

Bagan 2.1 Sumber : (Sobur,2003) ; (Perry dan Potter,2005) ; (Asmadi, 2010) ; (PPNI, 2015)

BAB III

KERANGKA KONSEP, DAN DEFINISI OPERASIONAL

A. Kerangka Konsep Berdasarkan uraian kerangka teori yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya, maka dapat
A. Kerangka Konsep
Berdasarkan
uraian
kerangka
teori
yang
telah
dijelaskan
pada
bab
sebelumnya, maka dapat dirumuskan kerangka konsep untuk penelitian ini
sebagai landasan keilmuan dan penjelasan terhadap variable yang diteliti.
Komponen yang akan diuraikan di kerangka konsep di bawah ini adalah
persepsi masyarakat terhadap profesi perawat meliputi perilaku perawat /
caring dan fungsi perawat.
Persepsi masyarakat terhadap profesi
perawat :
- Perilaku perawat / caring
- Fungsi perawat

Bagan 3.1 Kerangka Konsep “Gambaran Persepsi Masyarakat Terhadap Profesi Perawat”

34

35 B. Definisi Operasional Tabel 3.1 Definisi Operasional No Variabel Definisi Alat Ukur Cara Ukur
35
B.
Definisi Operasional
Tabel 3.1 Definisi Operasional
No
Variabel
Definisi
Alat Ukur
Cara Ukur
Hasil Ukur
Skala
1.
Usia
Lama hidup
responden yang
telah dilalui,
ditentukan sejak
lahir sampai hari
ulang tahun
terakhir saat
mengisi
kuesioner
penelitian ini
Kuesioner
Angket
Continues
Nominal
2.
Jenis
Status Gender
Kuesioner
1. laki- laki
Nominal
Kelamin
responden yang
2. perempuan
dibawa sejak
lahir
3.
Suku
Kelompok etnik
Kuesioner
1. Jawa
Nominal
Bangsa
responden
2. Sunda
3. Betawi
4. Batak
5.
Minang
6. Lainnya
4.
Pendidikan
Tingkat
Kuesioner
1. SD
Ordinal
pendidikan
2. SMP
36 formal terakhir 3. SMA yang pernah 4. Diploma / Sarjana diikuti reponden sampai tamat
36
formal terakhir
3. SMA
yang pernah
4. Diploma / Sarjana
diikuti reponden
sampai tamat
5. Pekerjaan
Jenis Mata
Kuesioner
1.Tidak bekerja
Nominal
pencaharian
2.
PNS
responden saat
3.
Pegawai swasta
pengambilan
4.
Wiraswasta
data
5.
Buruh
6.
Lainnya
6. Pengalaman
Rawat di RS
Pengalaman
Kuesioner
0
: Tidak
Nominal
seseorang
menerima
1
: Ya
pelayanan
kesehatan di
rumah sakit
7. Pelayanan
Pelayanan
Kuesioner
1.
Rumah Sakit
Ordinal
Kesehatan
Kesehatan yang
2.
Puskesmas
yang
pernah
3.
Klinik Umum / Praktek Dokter
digunakan
digunakan oleh
responden
37 8. Persepsi Pandangan Kuesioner Kelompok persepsi perawat dengan kategori : Ordinal terhadap Masyarakat
37
8.
Persepsi
Pandangan
Kuesioner
Kelompok persepsi perawat
dengan kategori :
Ordinal
terhadap
Masyarakat
Menggunakan skala
Likert dengan nilai :
profesi
terhadap profesi
- Sangat setuju : 4
1.
Positif (skor jawaban ≥ mean,
perawat
keperawatan di
- Setuju : 3
51,38)
pelayanan
- Tidak setuju : 2
2.
Negatif (skor jawaban <
kesehatan
- Sangat tidak setuju : 1
mean, 51,38)
(Rumah Sakit,
Puskesmas, dan
Klinik)
Kelompok persepsi berdasarkan
pelayanan kesehatan dengan
kategori :
Rumah sakit :
1.
Positif (skor jawaban ≥ mean,
49,43)
2.
Negatif (skor jawaban <
mean,49,43)
Puskesmas :
1.
Positif (skor jawaban ≥ mean,
50,34)
2.
Negatif (skor jawaban <
mean,50,34)
Klinik :
1.
Positif (skor jawaban ≥ mean,
53,32)
2.
Negatif (skor jawaban <
mean,53,32)
38 9. Persepsi Pandangan Kuesioner terhadap masyarakat Kelompok persepsi perawat dengan kategori : Caring
38
9.
Persepsi
Pandangan
Kuesioner
terhadap
masyarakat
Kelompok persepsi perawat
dengan kategori :
Caring
terhadap caring
Menggunakan skala
Likert dengan nilai
- Sangat setuju : 4
Ordinal
1.
Positif (skor jawaban ≥ mean,
Perawat
perawat di
- Setuju : 3
34,35 )
pelayanan
- Tidak setuju : 2
2.
Negatif (skor jawaban <
kesehatan
- Sangat tidak setuju : 1
(Rumah Sakit,
Puskesmas, dan
Klinik)
mean, 34,35 )
Kelompok persepsi berdasarkan
pelayanan kesehatan dengan
kategori :
Rumah sakit :
1.
Positif (skor jawaban ≥ mean,
33,76)
2.
Negatif (skor jawaban <
mean, 33,76)
Puskesmas :
1.
Positif (skor jawaban ≥ mean,
34,41)
3.
Negatif (skor jawaban <
mean,34,41)
Klinik :
1.
Positif (skor jawaban ≥ mean,
35,45)
2.
Negatif (skor jawaban <
mean, 35,45)
39 10 Fungsi Pandangan Kuesioner Ordinal Profesi masyarakat Menggunakan skala Likert dengan nilai : Kelompok
39
10
Fungsi
Pandangan
Kuesioner
Ordinal
Profesi
masyarakat
Menggunakan skala
Likert dengan nilai :
Kelompok persepsi perawat
dengan kategori :
Perawat
terhadap fungsi
- Sangat setuju : 4
1. Positif (skor jawaban ≥ mean,
perawat di
- Setuju : 3
16,30)
pelayanan
- Tidak setuju : 2
2. Negatif (skor jawaban <
kesehatan
- Sangat tidak setuju : 1
(Rumah Sakit,
Puskesmas, dan
Klinik)
mean, 16,30)
Kelompok persepsi fungsi
independen berdasarkan
pelayanan kesehatan dengan
kategori :
Rumah sakit :
1.
Positif (skor jawaban ≥
mean,12,64)
2.
Negatif (skor jawaban <
mean, 12,64)
Puskesmas :
1.
Positif (skor jawaban ≥ mean,
12,88)
2.
Negatif (skor jawaban <
mean, 12,88)
Klinik :
1.
Positif (skor jawaban ≥ mean,
13,64)
2.
Negatif (skor jawaban <
mean, 13,64)
Kelompok persepsi fungsi
dependen berdasarkan pelayanan
kesehatan dengan kategori :
Rumah sakit :
40 1. Positif (skor jawaban ≥ mean,3,02) 2. Negatif (skor jawaban < mean, 3,02) Puskesmas
40
1.
Positif (skor jawaban ≥
mean,3,02)
2.
Negatif (skor jawaban <
mean, 3,02)
Puskesmas :
1.
Positif (skor jawaban ≥ mean,
3,06)
2.
Negatif (skor jawaban <
mean, 3,06)
Klinik :
1.
Positif (skor jawaban ≥ mean,
3,23)
2.
Negatif (skor jawaban <
mean, 3,23)

BAB IV

METODOLOGI PENILITIAN

A. Desain Penilitian Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain deskritif dengan pendekatan cross
A. Desain Penilitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain deskritif
dengan pendekatan cross sectional. Penelitian ini bertujuan mendapatkan
gambaran tentang persepsi masyarakat tentang profesi perawat melalui alat
ukur kuesioner yang akan diberikan kepada responden.
B. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada bulan April sampai Juni 2015 di Wilayah
Kelurahan Pisangan, Kecamatan Ciputat Timur Tangerang Selatan. Peneliti
memilih di wilayah Kelurahan Pisangan karena sesuai dengan hasil studi
pendahuluan, peneliti menemukan fenomena terkait masalah yang diangkat
dan belum adanya penelitian yang sama sebelumnya di wilayah Kelurahan
Pisangan.
C. Populasi dan Sampel
Populasi merupakan keseluruhan objek penelitian sedangkan sampel
adalah
objek
yang
diteliti
dan
dianggap
mewakili
seluruh
populasi

(Notoatmojo,2010). Populasi dalam penelitian ini adalah dewasa pria dan

wanita yang pernah menerima pelayanan kesehatan di rumah sakit.

Sampel adalah bagian dari populasi, yang diambil dengan cara-cara

tertentu dan ciri-cirinya diselidiki atau diukur (Hastono, 2006). Pengambilan

sampel dalam penelitian ini menggunakan metode purposive sampling atau

sampling aksidental. Purposive sampling adalah suatu teknik penetapan

sampel dengan cara memilih sampel diantara populasi sesuai dengan yang

41

42

dikehendaki peneliti (tujuan atau masalah dalam penelitian) (Nursalam,

2007).

Sampel pada penelitian ini adalah warga di kelurahan Pisangan yang

telah menerima pelayanan kesehatan baik Rumah Sakit, Puskesmas, atau Klinik umum dan berkontak langsung dengan
telah menerima pelayanan kesehatan baik Rumah Sakit, Puskesmas, atau
Klinik umum dan berkontak langsung dengan perawat. Sampel diambil di
17 RW dari 18 RW yang ada di Kelurahan Pisangan, dari masing – masing
RW tersebut peneliti menyebarkan kuesioner dengan mengunjungi beberapa
rumah warga. Pengambilan sampel mengacu pada kriteria inklusi dan
kriteria eksklusi yang ditetapkan oleh peneliti.
Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Dewasa pria dan wanita yang pernah menerima pelayanan kesehatan.
2. Pernah berinteraksi dengan perawat.
3. Bersedia menjadi responden dengan menandatangani surat persetujuan
atau informed consent yang diberikan.
Kriteria eksklusi :
1. Masyarakat yang tidak bisa membaca dan menulis
2. Masyarakat yang sedang sakit dan catat fisik
Pada penelitian ini populasi tidak diketahui jumlahnya, maka jumlah

sample diambil dengan data proporsi yang sesungguhnya tidak diketahui

besarnya, maka rumus samplenya adalah (Lemeshow, 1997) :

n = Z 2 1-α/2 .P(1-P)

d 2

43

Keterangan :

n

Z

1-α/2

= jumlah sample minimum

= nilai standar dari distribusi dengan tingkat kepercayaan

95% = 1,96 P = proporsi suatu kasus tertentu terhadap suat populasi. Bila tidak diketahui
95% = 1,96
P
= proporsi suatu kasus tertentu terhadap suat populasi.
Bila tidak diketahui proporsinya ditetapkan 50%.
d
=
derajat
penyimpangan
terhadap
populasi
yang
diinginkan : 10% (0,1) , 5% (0,05), 1% (0,01)
n
= (1,96) 2 . 0,5 (1-0,5)
(0,1) 2
n
= 96,04 atau dibulatkan menjadi 96 orang
Dari rumus sample diatas, maka diperoleh jumlah sample sebesar 96
orang responden. Besar sample kemudian ditambah untuk mengantisipasi
kemungkinan drop out dengan rumus :
n’ = [1/(1-f)] x n
keterangan :
n’ = jumlah sample penelitian
f = estimasi drop out = 10%

n’ = [1/(1-10%)] x 96

n’ = 105,644 dibulatkan menjadi 106 orang responden

Maka, total sample dalam penelitian ini adalah 106 responden.

D. Instrumen Penelitian

Instrumen

penelitian

adalah

semua

alat

yang

digunakan

untuk

mengumpulkan,

memeriksa,

menyelidiki

suatu

masalah,

atau

mengumpulkam, mengolah, menganalisa dan menyajikan data data secara

44

sistematis serta objektif dengan tujuan memecahkan suatu persoalan atau

menguji

suatu

hipotesis

(Saryono,

2011).

Instrument

penelitian

yang

digunakan untuk pengambilan data adalah dengan menggunakan kuesioner.

Kuesioner adalah daftar pertanyaan yang telah disusun untuk memperoleh data sesuai yang diinginkan peneliti. Kuesioner
Kuesioner adalah daftar pertanyaan yang telah disusun untuk memperoleh
data sesuai yang diinginkan peneliti. Kuesioner yang digunakan adalah
kuesioner tertutup atau close enden item yang mana jawaban dari kuesioner
tersebut
telah
disediakan,
sehingga
responden
diberi
kebebasan
untuk
memilih jawaban tentang kebenaran suatu pernyataan (Budiarto, 2005).
Kesioner dalam penelitian in terdiri dari dua bagian, yaitu
1. kuesioner bagian I yang berupa pertanyaan tentang data demografi yang
berjumlah enam item pertanyaan terbuka dan mengisi dengan cara
mencontreng. Pertanyaan tersebut mengenai usia, jenis kelamin, suku
bangsa, pendidikan, pekerjaan, dan pernah dirawat di rumah sakit
2. Kuesioner bagian II berisi mengenai pernyataan untuk mengetahui
persepsi masyarakat terhadap profesi perawat. Pengukuran persepsi
terhadap caring profesi perawat menggunakan Caring Nurse-Patient
Interaction Scale (CNPI-70) (CNPI-23) diadopsi dari Sylvie Cossette
(2005)
yang
kemudian
peneliti
modifikasi
kembali
dengan
hanya

mengambil beberapa pernyataan. Jumlah pernyataan mengenai persepsi

caring profesi perawat adalah 11 pernyataan. Sedangkan mengenai

fungsi profesi perawat, peneliti mengembangkan dari Potter dan Perry

(2005). Jumlah penyataan mengenai fungsi profesi perawat adalah 5

pernyataan, sehingga total pernyataan pada kuesioner bagian II ini

sebanyak 16 pernyataan. Hasil ini telah dilakukan uji validitas dan

45

reabilitas oleh peneliti dengan menggunakan metode faktor analisis

kepada 30 responden di wilayah Kelurahan Pisangan.

Tabel 4.1 Kisi kisi Kuesioner Penilitian

Profesi Perawat Pernyataan Positif / Favorable Jumlah 1. Caring 16, 19, 22, 23, 24, 27,
Profesi Perawat
Pernyataan Positif /
Favorable
Jumlah
1. Caring
16, 19, 22, 23, 24, 27,
28, 31, 33, 35, 36, 38,
dan 39
11
2. Fungsi Perawat
25, 26, 28, 30, dan 37
5
Jumlah
16
Pernyataan-pernyataan yang dibuat untuk memperoleh data tentang
gambaran persepsi masyarakat terhadap profesi perawat ini dalam bentuk
skala Likert dengan memberi bobot pada setiap jawaban.
Instrumen
gambaran persepsi ini menggunakan skala 1-4, dengan kategori:
a. Sangat
Setuju
(SS)
yang
berarti
sangat
sesuai/sangat
memadai/sangat tinggi.
b. Setuju (S) yang berarti sesuai/memadai/tinggi.
c. Tidak Satuju (TR) yang berarti tidak sesuai/tidak memadai.
d. Sangat Tidak Setuju (STS) yang berarti sangat tidak sesuai/sangat
tidak memadai.

dipilih

Perolehan skor dari item-item berdasarkan dari jawaban

yang

sesuai

dengan

jenis

pernyataan

yaitu

pernyataan

positive

/

favorable. Skor yang dipilih dapat dilihat dalam tabel 4.2.

46

Tabel 4.2 Bobot Nilai

Pernyataan SS S TS STS Positive / 4 3 2 1 Favorable Perhitungan statistik persepsi
Pernyataan
SS
S
TS
STS
Positive /
4
3
2
1
Favorable
Perhitungan
statistik
persepsi
total
responden
tentang
profesi
perawat di wilayah keluruhan Pisangan dapat dilihat pada tabel berikut
ini
Tabel 4.3
Distribusi Statistik Responden pada Variabel Persepsi Masyarakat
terhadap Profesi Perawat di Wilayah Kelurahan Pisangan Bulan Mei
2015
Kategori
Perhitungan Statistik
Mean
Median
SD
Minimal
Maksimal
Skewness
Standar
error
Profesi
51,38
51
4.788
40
60
-0,326
0,235
Perawat
Hasil
tabel
4.3
merupakan
hasil
statistik
dari
persepsi
total
masyarakat. Peneliti menggunakan cut of point untuk mengkategorikan
persepsi responden. Persepsi positif apabila total skor yang diperoleh ≥
cut of point, persepsi negative apabila total skor yang diperoleh < cut of

point. Cut of point diperoleh dengan menghitung nilai tengah dari total

skor

responden.

Cut

of

point

menggunakan

mean

apabila

data

terdistribusi

normal

dan

menggunakan

median

apabila

data

tidak

terdistribusi

normal.

Penentuan

data

terdistribusi

normal

atau

tidak

diketahui

dengan

membagi

skewness

dengan

standar

error.

Data

terdistribusi normal apabila hasil bagi skewness dengan standar error

2.

47

Hasil pembagian skewness terhadap standar error pada peneilitian

untuk kategori profesi perawat adalah 1,387. Dari pembagian tersebut

diketahui bahwa data penelitian ini terdistribusi normal, sehingga cut of

point pada penelitian ini menggunakan mean. Oleh karena itu, persepsi positif terhadap profesi perawat apabila
point pada penelitian ini menggunakan mean. Oleh karena itu, persepsi
positif terhadap profesi perawat apabila total skor yang diperoleh ≥
51,38, dan persepsi negatif apabila total skor yang diperoleh ≤ 51,38.
E. Uji Validitas dan Reabilitas
1. Uji Validitas Instrumen
Validitas
merupakan
apa
yang
seharusnya
diukur.
Sebuah
instrumen dikatakan valid jika instrumen itu mampu mengukur apa-
apa yang seharusnya diukur menurut situasi dan kondisi tertentu
(Setiadi, 2007). Bila semua pernyataan itu mempunyai korelasi yang
bermakna maka semua penyataan yang ada pada kuesioner ini telah
mengukur konsep yang kita ukur (Notomatmojo, 2010).
Metode yang digunakan pada pengujian validitas instrumen
menggunakan teknik uji validitas dengan pendekatan faktor analisis.
Faktor analisis adalah alat analisis statistik yang dipergunakan untuk
mereduksi faktor – faktor yang memperngaruhi suatu variable menjadi

beberapa set indikator saja tanpa kehilangan informasi yang berarti

(Polit,

2001).

sejumlah

faktor

Analisis

faktor

digunakan

yang

relatif

kecil

yang

untuk

dapat

mengidentifikasi

digunakan

untuk

menjelaskan sejumlah besar variabel yang saling berhubungan. Prinsip

utama analisis faktor adalah korelasi, maka pengujian seluruh matrik

korelasi yang diukur dengan besaran Bartlett Test of Sphericity atau

48

Measure of Sampling Adequacy (MSA) yang mengharuskan adanya

korelasi yang signifikan diantara paling sedikit beberapa variabel

(>0,5). Untuk melihat korelasi antar item dalam kuesioner dipakai

rumus Pearson’s Product Moment Correlation yang terintergrasi dalam faktor analisis. Peneliti melakukan uji
rumus Pearson’s Product Moment
Correlation
yang terintergrasi
dalam faktor analisis.
Peneliti melakukan uji validitas kepada 30 warga RW 009 di
kelurahan
Pisangan
pada
tanggal
29
April
2015
yang
dijaga
identitasnya
untuk
mengantisipasi
tercampurnya
responden
uji
validitas dan responden penelitian. Uji validitas dilakukan peneliti
dengan mengunjungi ke beberapa rumah warga di RW 009 dan
menyebarkan kuesioner.
Penelitian ini menggunakan software komputer untuk membantu
dalam analisis faktor dan melihat korelasi antar item. Dari hasil uji
instrumen, didapatkan dari 39 pernyataan terdapat 20 item pernyataan
yang valid dan terbentuk 2 faktor dengan nilai measure of sampling
(MSA) 0,872 dan berdasarkan hasil statistik 19 pernyataan yang tidak
valid yaitu item nomer 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 11, 12, 15, 17, 18, 19, 20,
21, 29, 31, dan 32
dikarenakan memiliki nilai factor loading < 0,5

sehingga 19 pernyataan tersebut dieliminasi karena pernyataan yang

lain sudah mewakili indikator penelitian.

2. Uji Realibilitas

Setelah mengukur validitas, peneliti perlu mengukur realibilitas

instrumen. Reliabilitas merupakan indeks yang menunjukkan sejauh

mana suatu alat pengukur dapat dipercaya atau dapat diandalkan. Hal

49

ini menunjukkan sejauh mana hasil pengukuran itu tetap konsisten bila

dilakukan pengukuran dua kali atau lebih terhadap gejala yang sama

dengan menggunakan alat ukur yang sama (Saryono, 2011). Uji yang

digunakan dengan uji Cronbach’s alpha. Cronbach’s alpha secara simultan akan membandingkan skala setiap item yang
digunakan dengan uji Cronbach’s alpha. Cronbach’s alpha secara
simultan akan membandingkan skala setiap item yang satu dengan yang
lainnya. Instrumen dikatakan reabilitas apabila memiliki Cronbach’s
alpha > 0,60 (Hidayat, 2007). Penelitian ini menggunakan software
computer
untuk
membantu
dalam
analisis
reabilitas
setiap
item
pernyataan. Penelitian ini menggunakan software computer.
Hasil
uji
reabilitas
pada
instrument
dari
dua
faktor
yang
terbentuk memiliki nilai reabiitas 0,961 dan 0,891. Pada penelitian ini
kevalidan
dan
reabilitas
instrument
akan
dilakukan
analisis
dan
pengukuran kembali pada BAB V.
F. Langkah-Langkah Pengumpulan Data
1. Setelah
proposal
penelitian
disetujui
oleh
penguji,
peneliti
mengajukan surat permohonan ijin penelitian ke Fakultas Kedokteran
dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Peneliti menyerahkan surat permohonan ijin penelitian kepada Kepala

Kelurahan

Pisangan

sebagai

surat

pengantar

untuk

melakukan

penelitian di Wilayah Kelurahan Pisangan.

 

3. Peneliti

melakukan

uji

validitas

dan

reabilitas

untuk

kuesioner.

Pengujian instrumen dilakukan di RW 009 wilayah Kelurah Pisangan,

dilakukan

pada

30

warga

di

wilayah

RW

tersebut.

Peneliti

menyebarkan kuesioner dengan mendatangi beberapa rumah warga

50

yang sesuai dengan criteria inklusi dari penelitian. Setelah instrumen

dinyatakan valid dan reliabel, peneliti mulai mengumpulkan data di

Kelurahan Pisangan.

4. Peneliti menggunakan teknik purposive sampling dalam mengumpulkan sampel yang berada di daerah Kelurahan Pisangan
4. Peneliti
menggunakan
teknik
purposive
sampling
dalam
mengumpulkan sampel yang berada di daerah Kelurahan Pisangan
dengan criteria inklusi yang sesuai dengan penilitian dijadikan sampel.
Peneliti mendatangi beberapa rumah warga di Kelurahan Pisangan,
RW yang dituju peniliti adalah 17 RW dari 18 RW yang ada di
kelurahan
Pisangan,
peneliti
menyebarkan
kuesioner
dengan
mendatangi beberapa rumah warga.
5. Setelah mendapatkan calon responden sesuai dengan kriteria yang
telah ditentukan, peneliti melakukan informed consent terhadap calon
responden. Jika calon responden bersedia menjadi responden, mereka
dapat membaca lembar persetujuan kemudian menandatanganinya.
6. Setelah responden menandatangani lembar persetujuan, responden
selanjutnya diberikan penjelasan mengenai cara pengisian kuesioner
dan responden dianjurkan bertanya apabila ada pertanyaan ataupun
pernyataan yang kurang jelas.

7. Waktu pengisian kuesioner selama kurang lebih 15 menit untuk

masing-masing responden.

8. Responden

diharapkan

menjawab

seluruh

pertanyaan

di

dalam

kuesioner. Setelah responden selesai, lembar kuesioner dikembalikan

kepada peneliti.

51

9. Kuesioner yang telah diisi selanjutnya diolah dan dianalisa oleh

peneliti.

G.

Pengelolaan Data Terdapat beberapa langkah-langkah dalam proses pengolahan data

yang harus dilakukan, yaitu: 1. Editing adalah upaya untuk memeriksa kembali kebenaran data yang diperoleh
yang harus dilakukan, yaitu:
1. Editing adalah upaya untuk memeriksa kembali kebenaran data yang
diperoleh atau dikumpulkan. Editing dapat dilakukan pada tahap
pengumpulan data atau setelah data terkumpul.
2. Coding
merupakan
kegiatan
pemberian
kode
numerik
(angka)
terhadap data yang terdiri atas beberapa kategori. Pemberian kode ini
sangat
penting
bila
pengolahan
dan
analisis
data
menggunakan
komputer. Biasanya dalam pemberian kode dibuat juga daftar kode
dan artinya dalam satu buku (code book) untuk memudahkan kembali
melihat lokasi dan arti suatu kode dari suatu variable.
3. Entry data adalah kegiatan memasukkan data yang telah dikumpulkan
ke dalam master tabel atau data base komputer, kemudian membuat
distribusi frekuensi sederhana atau bisa juga dengan membuat table
kontigensi.

4. Processing dimana semua data yang telah dimasukkan diproses agar

dapat dianalisi. Processing data dilakukan dengan cara memasukan

data dari kuesioner ke dalam program komputer pengolahan data

dengan menggunakn program statistik di komputer.

5. Cleaning data, yaitu merupakan proses pembersihan data, langkah ini

merupakan kegiatan pengecekan kembali data yang telah dimasukkan

ke dalam kompuet. Apabila ditemukan kekeliruan dalam memasukkan

52

data dapat segera diperbaiki sehingga nilainya sesuai dengan data

yang peneliti peroleh.

H. Analisis Data

Penelitian ini menggunakan analisis univariat untuk mengetahui gambaran persepsi masyarakat. Analisis univariat
Penelitian
ini
menggunakan
analisis
univariat
untuk
mengetahui
gambaran
persepsi
masyarakat.
Analisis
univariat
digunakan
untuk
mendeskripsikan setiap karakteristik masing – masing variable yang diteliti.
Karakteristik
responden
meliputi
usia,
jenis
kelamin,
suku
bangsa,
pendidikan, pekerjaan, dan pernah dirawat di rumah sakit. Variable persepsi
tentang profesi perawat meliputi caring profesi perawat, dan fungsi profesi
perawat.
I. Etika Penelitian
Beberapa prinsip penelitian pada manusia yang harus dipahami oleh
peneliti (Hidayat, 2007):
1. Prinsip manfaat
Segala bentuk penelitian yang dilakukan peneliti diharapkan dapat
dimanfaatkan
untuk
kepentingan
manusia.
Prinsip
ini
ditegakkan
dengan membebaskan, tidak memberikan atau menimbulkan kekerasan
pada manusia, tidak menjadikan manusia untuk dieksploitasi.

2. Prinsip menghormati manusia

Manusia memiliki hak dan merupakan makhluk yang mulia yang harus

dihormati. Manusia berhak menentukan pilihan antara bersedia atau

tidak untuk diikutsertakan menjadi subjek penelitian.

53

3. Prinsip keadilan

Prinsip ini dilakukan untuk menjunjung tinggi keadilan manusia seperti

dengan menghargai hak menjaga privasi manusia.

4. Tanpa nama (Anonimity) Merupakan masalah etika dalam penelitian keperawatan dengan cara tidak memberikan nama
4. Tanpa nama (Anonimity)
Merupakan masalah etika dalam penelitian keperawatan dengan cara
tidak memberikan nama responden pada lembar alat ukur dan hanya
menuliskan kode pada lembar pengumpulan data.

BAB V

Hasil Penelitian

Bab ini akan memaparkan secara lengkap hasil penelitian persepsi masyarakat terhadap profesi perawat di wilayah
Bab
ini
akan
memaparkan
secara
lengkap
hasil
penelitian
persepsi
masyarakat terhadap profesi perawat di wilayah Kelurahan Pisangan Tangerang
Selatan. Penelitian ini dilaksanakan selama 2 bulan dari bualn April sampai Mei
2015. Pembagian kuesioner dilakukan di wilayah Kelurahan Pisanganj Tangerang
Selatan. Peneliti menyebarkan 106 kuesioner di wilayah Kelurahan pisangan
Tangerang Selatan, pembagian kuesioner sesuai dengan kriteria inklusi penilitan.
A. Karakteristik Responden
Peneliti
menyebarkan
kuesioner
kepada
106
warga
di
Kelurahan
Pisangan. Pada penelitian ini, karakteristik responden yang dianalisis adalah
sebagai berikut :
1. Usia
Pengelompokan responden berdasarkan kategori usia digambarkan
pada table 5.1 berikut :
Table 5.1
Skor Mean Responden Menurut Usia di Wilayah Kelurahan
Pisangan Mei 2015 (n=106)
 

N

Min

Max

Mean

Std.

 

Deviation

Usia Valid N (Listwise)

106

26

55

41.89

7.101

106

Data pada Tabel 5.1 di atas terlihat bahwa dari 106 responden,

umur terendah adalah

26 tahun, dan umur tertinggi yaitu 55 tahun,

dengan nilai mean 41,89 dan Std. Deviation sebesar 7,101.

54

55

2. Jenis Kelamin, Suku Bangsa, Pendidikan, Pekerjaan dan Pelayanan

Kesehatan yang Digunakan

Pengelompokan karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin,

suku bangsa, pendidikan, pekerjaan dan pelayanan kesehatan yang digunakan di wilayah Kelurahan Pisangan sebagai
suku
bangsa,
pendidikan,
pekerjaan
dan
pelayanan
kesehatan
yang
digunakan di wilayah Kelurahan Pisangan sebagai berikut :
Tabel 5.2
Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin, Suku
Bangsa, Pendidikan, Pekerjaan dan Pelayanan Kesehatan yang
Digunakan di Wilayah Kelurahan Pisangan
Karakteristik Responden
Frekuensi
Persentase (%)
Jenis Kelamin
Laki – laki
Perempuan
Suku Bangsa
Jawa
Sunda
Betawi
Batak
Minang
Pendidikan
SD
SMP
SMA
Diploma / Sarjana
Pekerjaan
Tidak Bekerja
PNS
Pegawai Swasta
Wiraswasta
Buruh
Pelayanan Kesehatan
Rumah Sakit
Puskesmas
Klinik Umum
30
28,3
76
71,7
35
33,0
25
23,6
23
21,7
9
8,5
14
13,2
2
1,9
5
4,7
23
21,7
76
71,7
14
13,2
41
38,7
26
24,5
23
21,7
2
1,9
51
48,1
33
31,1
22
20,8
Total
106
100

Berdasarkan tabel 5.2, didapatkan mayoritas responden berjenis

kelamin perempuan sebanyak 76 orang (71,7%), dan bersuku jawa

sebanyak 35 orang (33,%). Sedengakan mayoritas responden memiliki

pendidikan terakahir sebagai Diploma / Sarjana yaitu sebanyak 76 orang

56

B.

orang

(38,7%).

Pelayanan

kesehatan

yang

responden yaitu Rumah Sakit (48,1%).

Persepsi

sering

digunakan

oleh

1. Persepsi Masyarakat Terhadap Profesi Perawat Hasil faktor analisis item kuesioner digambarkan pada tabel 5.3
1. Persepsi Masyarakat Terhadap Profesi Perawat
Hasil faktor analisis item kuesioner digambarkan pada tabel 5.3 :
Tabel 5.3
Hasil Faktor Analisis Item Kuesioner (n=106)
Faktor
No
KMO /
Alpha
Item Variabel
1
2
Item
MSA
Cronbach’s
Sebelum meninggalkan
24
ruangan, perawat memeriksa
kembali apakah saya telah
mendapatkan semua yang
diperlukan
0,959
-0,222
22
Perawat membantu saya agar
merasa nyaman
0,888
-0,215
39
Apa yang dilakukan perawat
terhadap saya, banyak
berasal dari inisiatif perawat
sendir
0,887
-0,048
19
Perawat berbicara dengan
bahasa yang dimengerti oleh
saya
0,776
-0,043
35
Perawat bertindak cepat
dalam melakukan pelayanan
kesehatan
0,758
0,035
0,931
23
Perawat menghormati privasi
saya
0,948
0,731
0,186
38
Perawat terampil dalam
melakukan tindakan
memasang infus kepada saya
0,591
0,301
36
Perawat memberikan
informasi tentang manfaat
obat yang diberikan kepada
saya
0,584
0,347
27
Perawat memberikan obat
sesuai yang telah
dijadwalkan
0,532
0,426
33
Perawat mendampingi saya
ketika dokter memeriksa
saya
0,512
0,487
16
Perawat memberikan solusi
pada masalah yang saya
alami
0,438
0,410

57

26 Perawat memonitor kondisi kesehatan saya dengan hati - hati dan teliti -0,194 0,958 28
26
Perawat memonitor kondisi
kesehatan saya dengan hati -
hati dan teliti
-0,194
0,958
28
Perawat membuat saya
menjadi lebih tenang dalam
menghadapi kondisi saya
0,009
0,926
30
Perawat menganjurkan saya
untuk selalu berdoa sesuai
agama saya
-0,236
0,926
0,887
25
Perawat membantu saya
dalam hal makan dan minum
saat saya tidak mampu
melakukannya
0,044
0,784
37
Perawat memberikan
informasi tentang efek
samping obat yang diberikan
kepada saya.
0,118
0,710
: Caring Profesi Perawat (24,22,39,19,35,23,38,36,27,33,16)
: Fungsi Profesi Perawat (26,28,30,25,37)
Peneliti mengidentifikasi kembali item pernyataan kuesioner untuk
pengukuran
persepsi
masyarakat
terhadap
profesi
perawat
dengan
menggunakan metode faktor analisis untuk melihat nilai KMO / MSA,
faktor yang dapat terbentuk, nilai factor loading per-item pernyataan, dan
nilai Alpha Cronbach’s per faktor yangterbentuk.
Pada tabel 5.3, didapatkan nilai KMO / Measure of Sampling
Adequacy (MSA) 0,931 dan terbentuk dua faktor yaitu faktor caring
profesi perawat dan fungsi profesi perawat. Dua faktor yang terbentuk

yaitu nomor item

24, 22,

39,

19,

35, 23,

38,

36,

27,

33, dan

16

membentuk faktor caring profesi perawat, nomor item 26, 28, 30, 25, dan

37 membentuk faktor fungsi profesi perawat. Masing masing faktor

mempunyai nilai Alpha Cronbach’s sebesar 0,946 untuk faktor caring

profesi perawat dan 0,887 untuk faktor fungsi profesi perawat.

58

Peneliti mengeluarkan item pernyataan 9, 10, 13 dan 14 karena

dianggap tidak valid, keempat item tersebut menunjukkan nilai Corrected

Item - Total Correlation

0,030, 0,267, 0,257, dan 0,283.

Sehingga

kuesioner memiliki 16 item pernyataan yang sudah mewakili komponen persepsi masyarakat terhadap profesi perawat.
kuesioner memiliki 16 item pernyataan yang sudah mewakili komponen
persepsi masyarakat terhadap profesi perawat.
Distribusi frekuensi persepsi masyarakat terhadap
profesi perawat
di wilayah Kelurahan Pisangan dapat dilihat pada tabel 5.4 berikut :
Tabel 5.4
Distribusi Frekuensi Persepsi Masyarakat terhadap Profesi Perawat di
Wilayah Kelurahan Pisangan Bulan Mei 2015
Persepsi
Frekuensi
Persen (%)
Negatif
39
36,8
Positif
67
63,2
Total
106
100.0
100%
90%
80%
63,2%
70%
60%
50%
36,8%
40%
30%
20%
10%
0%
Positif
Negatif

Gambar 5.1 Distribusi Persepsi Masyarakat terhadap Profesi Perawat di Wilayah Kelurahan Pisangan Bulan Mei 2015

Hasil di atas menunjukan bahwa mayoritas masyarakat di wilayah

Kelurahan Pisangan memiliki persepsi positif terhadap profesi perawat

(63,2%) dan yang memiliki persepsi negatif terhadap profesi perawat

sebesar 36,8%. Selisih antara persepsi positif dan negatif yaitu sebesar

26% untuk persepsi positif.

59

2. Persepsi Masyarakat terhadap Caring dan Fungsi Profesi Perawat

Perhitungan statistik persepsi total responden tentang caring dan

fungsi

perawat di wilayah keluruhan Pisangan dapat dilihat pada tabel

berikut ini Tabel 5.5 Distribusi Statistik Responden pada Variabel Persepsi Masyarakat terhadap Caring dan Fungsi
berikut ini
Tabel 5.5
Distribusi Statistik Responden pada Variabel Persepsi Masyarakat
terhadap Caring dan Fungsi Perawat di Wilayah Kelurahan Pisangan
Bulan Mei 2015
Kategori
Perhitungan Statistik
Mean
Median
SD
Minimal
Maksimal
Skewness
Standar
error
Caring
34,35
37
7,567
17
44
-0,182
0,235
Fungsi
16,30
16
3,025
8
20
-0,342
0,235
Distribusi
Frekuensi
Persepsi
masyarakat
terhadap
caring
dan
fungsi profesi perawat di wilayah Kelurahan Pisangan dapat dilihat pada
tabel 5.6 berikut
Tabel 5.6
Distribusi Frekuensi Persepsi Masyarakat terhadap Caring dan Fungsi
Profesi Perawat di Wilayah Kelurahan Pisangan Bulan Mei 2015
Kategori
Frekuensi
Persen
Caring
Positif
63
59,4%
Negatif
43
40,6%

Fungsi Perawat

Positif

60

56,6%

Negatif

46

43,4%

Berdasarkan tabel 5.6, dapat dilihat bahwa mayoritas respon di

wilayah Kelurahan Pisangan mempunyai persepsi positif terhadap

Caring yaitu sebanyak 63 orang (59,4 %), dan fungsi profesi perawat

sebanyak 60 orang (56,6 %).

60

Peneliti melihat gambaran persepsi masyarakat terhadap profesi

perawat,

caring

profesi