Anda di halaman 1dari 42

ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA Tn.

R DENGAN
MASALAH HIPERTENSI DI DESA PENGHULU
KECAMATAN MARABAHAN
BARITO KUALA

Diajukan Sebagai Salah Satu Tugas


PROFESI NERS STAGE KOMUNITAS dan KEPERAWATAN KELUARGA

Disusun Oleh :
LUTHFI RUSADI AHMAD
NPM: 14149011253 AS1

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH


BANJARMASIN
2014/2015
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Hipertensi merupakan masalah kesehatan yang cukup dominan di Negara-
negara maju. Di Indonesia prevalensi untuk menderita hipertensi masih
rendah persentasinya. Walaupun demikian bukan berarti ancaman penyakit
hipertensi diabaikan begitu saja. Bagi masyarakat golongan atas hipertensi
benar-benar menjadi momok yang menakutkan ( Sri rahayu: 2000)

Hipertensi di negara maju seperti Amerika Serikat rata-rata 20 % .penyakit


hipertensi merupakan penyakit nomor satu di Amerika Serikat. Dinegara
Indonesia rata-rata 6-15%. Presentasi ini mungkin masih tinggi karena jumlah
anak mungkin masih tinggi karena jumlah anak dibawah 15 tahun di Negara
Indonesia lebih kurang 15 % dari populasi ( Rahayu : 2000)

Hipertensi merupakan factor resiko, primer yang menyebabkan penyakit


jantung dan stroke. Hipertensi disebut juga The Shilent Diasease karena tidak
di temukan tanda tanda fisik yang dilihat oleh fisik ( Gede Yasmin : 2002)

Untuk menghindari perlu pengamatan secara dini. Hipertensi sering


ditemukan pada usia lanjut/ tua kira-kira 65 tahun ke atas ( sri rahayu: 2000)

Untuk mencegah komplikasi diatas sangat diperlukan perawatan dan


pengawasan yang baik. Banyak kasus penderita dan kematian akibat
openyakitkardiovaskular dapat dicegah jika seseorang merubah perilaku
kebiasaan nyang kurang sehat dalam mengkonsumsi makanan yang
menyebabkan hipertensi, selalu berolah raga secara teratur serta merubah
kebiasaan hidup lainya yang dapat mencetus terjadinya penyakit hipertensi
seperti meroko, minum-minuman beralkohol. Adapun factor diet kebiasaan
makanan yang mempengaruhi tekan darah yang mempengaruhi tekanan darah
yang meliputi cara mempertahankan berat badan ideal (Dr. Wendra Ali
2000).

B. TUJUAN
1. Tujuan Umum
Penulis mampu menerapkan pola pikir ilmiah dalam melaksanakan
asuhan keperawatan keluarga Tn. R di Rt 01 Desa Penghulu, dengan
penyakit Hipertensi.

2. Tujuan khusus
Tujuan khusus dari penulisan ini agar penulis mampu :
a. Mengumpulkan data keluarga Tn. R dengan penyakit Hipertensi
b. Menganalisa data yang telah dikumpulkan.
c. Merumuskan masalah kesehatan keluarga.
d. Menentukan prioritas masalah kesehatan keluarga
e. Menentukan diagnosa keperawatan
f. Menentukan rencana tindakan keperawatan
g. Melaksanakan tindakan keperawatan
h. Mengevaluasi hasil tindakan keperawatan
i. Mendokomentasikan hasil asuhan keperawatan.
BAB II
LAPORAN PENDAHULUAN
HIPERTENSI

A. Definisi
Hipertensi didefinisikan sebagai tekanan darah persisten dimana tekanan
darah sistoliknya diatas 140 mmHg dan tekanan diastoliknya diatas 90 mmHg.
Pada populasi manula, hipertensi didefinisikan sebagai tekanan sistolik 160
mmHg, dan tekanan diastolic 90 mmHg. Hipertensi merupakan penyebab utama
gagal jantung, stroke, & gagal ginjal.

Gangguan emosi, obesitas, konsumsi alcohol yang berlebihan, dan


rangsangan kopi yang berlebihan, tembakau, obat-obatan yang merangsang
dapat berperan disini, tapi penyakit ini sangat dipengaruhi factor keturunan.
Tingginya tekanan darah yang lama tentu saja akan merusak pembuluh darah di
seluruh tubuh, yang paling jelas pada mata, jantung, ginjal, dan otak. Maka
konsekuensi pada hipertensi yang lama tidak terkontrol adalah gangguan
penglihatan, oklusi koroner, gagal ginjal, & stroke.Selain itu jantung membesar
karena dipaksa meningkatkan beban kerja saat memompa melawan tingginya
tekanan darah.Hipertrofi ini dapat diperiksa dengan EKG atau rontgen
thorak.Peningkatan tahanan perifer yang dikontrol pada tingkat arteriola adalah
dasar penyebab tingginya tekanan darah.Penyebab tingginya tahanan tersebut
belum banyak diketahui. Tetapi obat-obatan ditujukan untuk menurunkan
tahanan perifer untuk menurunkan tekanan darah & mengurangi stress pada
system vaskuler.

B. ETIOLOGI
Berdasarkan Penyebabnya Hipertensi dibagi dalam 2 Golongan yaitu :
1. Hipertensi primer / essensial
Merupakan hipertensi yang penyebabnya tidak diketahui, biasanya
berhubungan dengan faktor keturunan dan lingkungan.
2. Hipertensi sekunder
Merupakan hipertensi yang penyebabnya dapat diketahui secara pasti, seperti
gangguan pembuluh darah dan penyakit ginjal.

a. Faktor Pencetus terjadinya Hipertensi


1. Obesitas / kegemukan
2. Kebiasaan merokok
3. Minuman beralkohol
4. Penyakit kencing manis dan jantung
5. Wanita yang tidak menstruasi
6. Stress
7. Kurang olah raga
8. Diet yang tidak seimbang, makanan berlemak dan tinggi kolesterol

b. Tanda dan gejala:


Sakit kepala dan pusing
Nyeri kepala berputar
Rasa berat di tengkuk
Marah/emosi tidak stabil
Mata berkunang kunang
Telinga berdengung
Sukar tidur
Kesemutan
Kesulitan bicara
Rasa mual / muntah

C. PATOFISIOLOGI
Mekanisme yang mengontrol kontriksi dan relaksasi pembuluh darah terletak
dipusat vasomotor, pada medulla di otak.Dari pusat vasomotor ini bermula jaras
saraf simpatis, yang berlanjut ke bawah ke korda spinalis dan keluar dari
kolumna medulla spinalis ke ganglia simpatis di toraks dan
abdomen.Rangsangan pusat vasomotor dihantarkan dalam bentuk impuls yang
bergerak ke bawah melalui system saraf simpatis ke ganglia simpatis. Pada titik
ini, neuron preganglion melepaskan asetilkolin, yang akan merangsang serabut
saraf pasca ganglion ke pembuluh darah, dimana dengan dilepaskannya
norepinefrin mengakibatkan konstriksi pembuluh darah. Berbagai factor seperti
kecemasan dan ketakutan dapat mempengaruhi respon pembulih darah terhadap
rangsang vasokonstriktor. Individu dengan hipertensi sangat sensitive terhadap
norepinefrin, meskipun tidak diketahui dengan jelas mengapa hal tersebut bisa
terjadi.
Pada saat bersamaan dimana system saraf simpatis merangsang pembuluh
darah sebagai respon rangsang emosi, kelenjar adrenal juga terangsang,
mengakibatkan tambahan aktivitas vasokonstriksi. Medulla adrenal mensekresi
epinefrin, yang menyebabkan vasokonstriksi. Korteks adrenal mensekresi
kortisol dan steroid lainnya, yang dapat memperkuat respon vasokonstriktor
pembuluh darah.Vasokontriksi yang mengakibatkan penurunan aliran darah ke
ginjal, meyebabkan pelepasan renin.Renin merangsang pembentukan angiotensin
I yang kemudian diubah menjadi angiotensin II, suatu vasokonstriktor kuat, yang
pada gilirannya merangsang sekresi aldosteron oleh korteks adrenal.Hormone ini
menyebabkan retensi natrium dan air oleh tubulus ginjal, menyebabkan
peningkatan volume intravaskuler.Semua factor tersebut cenderung mencetuskan
keadaan hipertensi.
D. PATHWAY

E. KLASIFIKASI

Kategori Sistolik (mmHg) Diastolik


(mmHg)
Optimal < 120 dan < 80
Normal < 130 dan < 85
Normal tinggi 130 139 atau 85 89
Hipertensi derajat 1 140 159 atau 90 99
derajat 2 160 179 atau 100 109
derajat 3 180 110
Keterangan: Klasifikasi hipertensi bagi yang berumur 18 th keatas.
Hipertensi sistolik terisolasi didefinisikan sebagai tekanan sistolik 140 mmHg
atau lebih dan tekanan diastoliknya di bawah 90 mmHg.

Tekanan darah pertama kali (mmHg) Observsi yang


dianjurkan

Sistolik Diastolik
< 130 < 85 Pemeriksaan ulang dalam 2
th
130 139 85 89 Pemeriksaan ulang dalam 1 th
140 159 90 99 Dipastikan dalam 2 th
160 179 100 109 Evaluasi dalam 1 th
180 110 Evaluasi segera/dalam 1
minggu,
tergantung situasi klinis.
Keterangan: Rekomendasi untuk observasi lebih lanjut setelah pengukuran
tekanan darah pertama kali.
F. Manifestasi Klinis
Pada pemeriksaan fisik mungkin tidak dijumpai kelainan apapun
selain tekanan darah yang tinggi, tetapi dapat pula ditemukan perubahan
pada retina seperti: perdarahan, eksudat (kumpulan cairan), penyempitan
pembuluh darah, dan pada kasus berat edema pupil dapat terjadi (edema
pada diskus optikus). Gejala pada orang hipertensi biasanya menunjukkan
gejala vaskuler, dengan manifestasi yang khas sesuai system organ yang
divaskularisasi oleh system organ yang bersangkutan.Penyakit arteri
koroner dengan angina adalah gejala yang sering menyertai
hipertensi.Hipertrofi ventrikel kiri terjadi sebagai respon peningkatan beban
kerja ventrikel saat dipaksa berkontraksi melawan tekanan sistemik yang
meningkat.Apabila jantung tidak lagi mampu menahan peningkatan beban
kerja, maka dapat terjadi gagal jantung kiri.
Perubahan patologis pada ginjal dapat bermanifestasi seperti nokturia
(peningkatan urinasi pada malam hari) dan azotemia (peningkatan nitrogen
urea darah (BUN) dan kreatinin).Keterlibatan pembuluh darah otak dapat
mengakibatkan stroke atau serangan iskemik transien yang termanifestasi
sebagai paralysis sementara pada satu sisi (hemiplegi) atau gangguan tajam
penglihatan.

Faktor risiko utama Kerusakan organ target


Merokok Penyakit jantung:
Dislipidemia *Hipertrofi ventrikel kiri
DM *Angina/riwayat AMI
Umur diatas 60 th *Riwayat revaskularisasi koroner.
*Gagal jantung
Jenis kelamin (pria & wanita Stroke & serangan iskemik selintas
pasca menopause)
Riwayat penyakit kardiovaskuler Nefropati
dalam keluarga.
Wanita < 65 th atau pria < 55 th. Penyakit arteri perifer, retinopati.
Keterangan: Faktor risiko kardiovaskuler dan kerusakan organ target pada
pasien hipertensi.
G. Penatalaksanaan
Tujuan tiap program penanganan bagi setiap pasien adalah mencegah
terjadinya morbiditas dan mortalitas penyerta dengan mencapai dan
mempertahankan tekanan darah dibawah 140/90 mmHg.Efektifitas setiap
program ditentukan oleh derajat hipertensi, komplikasi, biaya perawatan, dan
kualtas hidup sehubungan dengan terapi.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pendekatan nonfarmakologis termasuk:
penurunan berat badan, pembatasan alcohol, natrium, tembakau, latihan dan
relaksasi merupakan intervensi wajib yang harus dilakukan pada setiap terapi
antihipertensi. Apabila penderita ringan berada dalam resiko tinggi (pria,
perokok) atau bila tekanan darah diastoliknya menetap diatas 85 atau 95 mmHg
dan sistoliknya di atas 130 139 mmHg, maka perlu dimulai terapi obat-obatan.
Derajat Kelompok resiko A Kelompok risiko B Kelompok Risiko C
hipertensi (Tak ada factor (Minimal 1 faktor (Kerusakan organ
(mmHg). resiko, tak ada risiko, tak termasuk target dan atau
kerusakan organ diabetes, tak ada diabetes, dengan
target). kerusakan organ atau tanpe factor
target). risiko lain).
Normal tinggi Perubahan gaya Perubahan gaya Terapi obat
(130139/85 hidup hidup
89) Perubahan gaya Perubahan gaya Terapi obat
Derajat 1 hidup (sampai 12 hidup (sampai 6
(140-159/90- bulan) bulan).
99) Terapi obat Terapi obat Terapi obat

Derajat 2&3
(160/ 100)
Keterangan: Stratifikasi risiko dan pengobatan hipertensi.

H. Cara Pencegahan
Ada beberapa cara untuk menghindari dari penyakit hipertensi ini, antara lain :
Capai Dan Pertahankan Berat Badan Ideal
Pola makan sehat bertujuan untuk menurunkan dan mempertahankan berat
badan ideal, sehingga dianjurkan untuk menyeimbangkan asupan kalori dengan
kebutuhan energi total dengan membatasi konsumsi makanan yang mengandung
kalori tinggi dan atau makanan yang kandungan gula dan lemaknya tinggi.
Disamping itu, agar melakukan aktifitas fisik yang cukup untuk mencapai
kebugaran jasmani yang baik.
i.Capai Dan Pertahankan Kadar Kolesterol
Lemak jenuh adalah penentuan utama peningkatan kadar kolesterol, sehingga
dianjurkan untuk menurunkan asupan lemak jenuh < 10% asupan total energi
dengan membatasi asupan makanan kaya asam lemak jenuh (susu tinggi
lemak dan produknya, daging berlemak serta minyak kelapa). Pada orang
dengan kadar kolesterol LDL tinggi atau dengan penyakit kardiovaskuler,
lemak jenuhnya harus lebih rendah (< 7% total energi).
ii.Pertahankan Tekanan Darah Normal
Asupan garam (Natrium Chlorida) dapat meningkatkan tekanan darah.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa rata-rata penurunan asupan natrium
+ 1,8 gram/hari dapat menurunkan tekanan darah sistolik 4 mmHg dan
diastolik 2 mmHg pada penderita hipertensi dan penurunan lebih sedikit pada
individu dengan tekanan darah normal. Respons perubahan asupan garam
terhadap tekanan darah bervariasi diantara individu yang dipengaruhi oleh
faktor genetik dan juga faktor usia. Disarankan asupan garam < 6 gram sehari
atau kurang dari 1 sendok teh penuh. Dari berbagai penelitian, terbukti bahwa
kenaikan berat badan dapat meningkatkan tekanan darah dan terjadinya
hipertensi, walaupun pada program penurunan berat badan. Penurunan
tekanan darah dapat terjadi sebelum tercapai berat badan yang diinginkan.
Penurunan sistolik dan diastolik rata-rata per kg penurunan berat badan
adalah 1,6 / 1,1 mmHg. Sehingga dianjurkan untuk selalu menjaga berat
badan normal, untuk menghindari terjadinya hipertensi. Dianjurkan untuk
tidak mengkonsumsi alkohol atau bahan makanan yang mengandung alkohol
karena dapat meningkatkan tekanan darah. Disamping itu alkohol juga dapat
menyebabkan kecanduan. Dari penelitian-penelitian klinis memperlihatkan
pemberian suplemen kalium dapat menurunkan tekanan darah. Dengan
suplementasi diet kalium 60-120 mmol/hari dapat menurunkan tekanan darah
sistolik dan diastolik 4,4 dan 2,5 mmHg pada penderita hipertensi dan 1,8
serta 1,0 mmHg pada orang normal. Diet kaya kalium juga dihubungkan
dengan penurunan risiko stroke. Asupan diet kalium, Mg dan kalsium
sebaiknya bersumber pada bahan makanan alami. Pemberian suplemen harus
dikonsultasikan ke dokter terlebih dahulu.
iii.Hentikan Minum Alkohol Dan Berhentilah Merokok
iv.Meningkatkan Aktivitas Fisik Aerobik (30-45 Menit/Hari)

RENCANA ASUHAN KEPERWATAN

1.9.1 Penurunan curah jantung berhubungan dengan :


Peningkatan afterload, vasokontriksi
Iskemia miokardia
Hipertrofi/rigiditas (kekakuan) ventricular

Intervensi :
Mandiri :
a. Pantau tekanan darah. Ukur pada kedua tangan untuk evaluasi awal.
Gunakan ukuran manset yang tepat dan tehnik yang akurat
b. Catat keberadaan, kualitas denyutan sentral dan perifer
c. Auskultasi tonus jantung dan bunyi nafas
d. Amati warna kulit, kelembaban, suhu dan masa pengisian kapiler
e. Catat edema umum atau tertentu
f. Berikan lingkungan nyaman, tenang dan kurangi aktivitas keributan
lingkungan
g. Pertahankan pembatasan aktivitas seperti istirahat ditempat tidur atau
kursi dan bantu pasien dalam melakukan aktivitas perawatan diri
sesuai kebutuhan
h. Lakukan tindakan-tindakan yang nyaman seperti pijatan punggung dan
leher, meninggikan kepoala ditempat tidur
i. Anjurkan tehnik relaksasi dan panduan imajinasi aktivitas pengalihan
j. Pantau respon terhadap obat untuk mengontrol tekanan darah
Kolaborasi :
Berikan obat-obat sesuai indikasi, cointoh :
a. Diuretik tiazid mis. Klorotiazid (diuril) hidrok lorotiazid (esidrix/
hidroDIURIL); bendroflumentiazid (NATURETIN).
b. Diuretik loop, mis. Furusemid (l;asik) asam ewtakrinic (edecrin);
bumetanid (burmex).
c. Iretik hemat kalium, spinolakton (aldaktone); triamterene (direnium);
amilioride (midamor).
d. Ihibitor simpatis mis. Propanolol (inderalk); metoprolol (lopressor)
atenolol (tenormin); nadolol (corgard) metildopa (aldomet); reserpine
(serpasil); klonidin (catapres).
e. Aodilator mis. Minokasidil (loniten) hidralazin (apresoline); bloker
saluran kalsium, mis. Nifedipin (peocardia)verapamil(calan).
f. Agen-agen anti adrenergik -1 bloker prazosin (minipres); tetazosin
hitrin).
g. Blokewr nuron adrenergic: guanadrel (hiloree): quanetidin
(ismelin)reserpin (serpasil).
h. Inhibitor adrenergic yang bekerja secara sentral: klonidin ; (catapres)
guanabenz (wytension) metaldopa (aldomet); Vasodilator kerja
langsung : hidralazin (Apresoline) minoksidil; (linoten)
i. Vasodilator oral yang bekerja langsung :diagzosid (hiperstat);
nitropusid; (nipride, Nitopress).
j. Bloker ganglion mis. Guanetidin (ismelin); trimetapan (arfonad); ACE
inhibitor , mis. Kaptropil (capoten)
k. Berikan pembatasan cairan dan diet natrium sesuai indikasi.
l. Berikan pembatasan cairan dan diit natrium sesuai indikasi.
m. Siapkan pembedahan bila ada indikasi

1.9.2 Intoleransi Aktivitas berhubungan dengan :


Ketidakseimbangan antara suplay dan kebutuhan oksigen
Intervensi :
Mandiri :
a. Kaji respon pasien terhadap aktivitas, perhatikan frekuensi nadi lebih
dari 80 kali permenit diatas frekuensi istirahat; peningkatan TD yang
nyata selama atau sesudah aktivitas tekanan sistolik meningkat 40
mmHg atau tekanan diastoliknya meningkat 20 mmHg; dispnea atau
nyeri dada keletihan dan kelemahan yang berlebihan, diaforesis;
pusing atau pingsan.
b. Insuksikan pasien tentang tehnik penghematan energi, missal
menggunakan kursi saat mandi duduk saat menyisir rambut atau
menyikat gigi, melakukan aktivitas dengan perlahan.
c. Berikan dorongan untuk melakukan aktivitas atau perawatan diri
bertahap jika dapai ditoleransi. Berikan bantuan sesuai kebutuhan.

1.9.3 Nyeri (Akut), sakit kepala berhubungan dengan :


Penimgkatan tekanan vaskuler serebral
Intervensi :
Mandiri :
a. Mempertahan kan tiorah baring selama fase akut
b. Memberikaan tindakan nonfarmakologis untuk menghilangkan sakit
kepala mis. Kompres dingin pada dahi dan pijat punggung dan leher,
tenang, redupkan lampu kamar, tehnik relaksasi, panduan imajinasi,
distraksi dan aktivitas waktu senggang
c. Hilangkan aktivitas vasokontriksi yang dapat meningkatkan sakit
kepala mis. Mengejan saat BAB, batuk panjang, membungkuk
d. Bantu pasien dalam ambulasi sesuai kebutuhan
e. Berikan cairan atau makanan lunak, perawatan mulut yang teratur,
bila terjadi perdarahan hidung, kompres hidung telah dilakuakan
untuk menghentikan perdarahan
Kolaborasi :
a. Berikan sesuai indikasi :
b. Analgesik
c. Antiansietas mis. Lorazepqam (ativan) diazepam (valium)
1.9.4 Nutrisi perubahan lebih dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
:
Masukan berlebihan sehubungan dengan kebutuhan metabolic
Pola hidup monoton
Keyakinan budaya
Intervensi :
Mandiri
a. Kaji pemahaman pasien tentang hubungan langsung antara hipertensi
dan kegemukan
b. Bicarakan pentingbya menurunkan masukan kalori dan batasi
masukan lemak, garam dan gula sesuai dengan indikasi
c. Tetapka keinginan pasien untuk menurunkan berat badan
d. Kaji ulang masukan kalori harian dan pilihan diit
e. Tetapkan rencana penurunan berat badan yang realistic dengan
pasien mis. Penurunan berat badan 0.5 kg perminggu
f. Dorong pasien unruk mempertahankan masukan makanan harian
termasuk dimana makan dilakukan dan lingkungan dan perasaan
sekitar saat makanan dimakan
g. Instruksikan dan Bantu memilih makanan yang tepat, hindari
makanan dengan kejenuhan lemak tinggi (mentega, keju, telur,
eskrim, daging) dan kolesterol (daging berlemak, kuning telur,
produk kalengan jeroan)
Kolaborasi :
Rujuk ke ahli gizi sesuai indikasi

1.9.5 Koping, individual, Inefektif berhubungan dengan :


Krisis situasional
Perubahan hidup beragam
Relaksasi tidak adekuat
Sistem pendukung tidak adekuat
Nutrisi buruk
Harapan yang tak pernah terpenuhi
Kerja berlebihan
Persepsi tak realistic
Metode koping tak efektif
Intervensi :
Mandiri :
a. Kaji keefektivan stategi kopingdengan observasi perilaku mis.
Kemampuan menyatakan persaan dan perhatian, keinginan berpartisipasi
dalam rencana pengobatan
b. Catat laporan gangguan tidur, peningkatan keletihan, kerusakan
konsentrasi, peka rangsang, penurunan toleransi sakit kepala,
ketidakmampuan mengatasi masalah
c. Bantu pasien untuk mengidentifikasi stressor spesifik dan kemungkinan
stategi untuk mengatasinya
d. Libatkan pasien dalam perencanaan perawatan dan beri dorongan
partisipasi maksimum dalam rencana pengobatan
e. Dorong pasien untuk mengevaluasi prioritas, tanyakan pertanyaan seperti
Apa yang anda lakukan merupakan apa yang anda inginkan ?
f. Bantu pasien untuk mengidentivikasi dan mulai merencanakan perubahan
hidup yang perlu. Bantu untuk menyesuaikan ketimbang membatalkan
tujuan diri atau keluarga.

1.9.6 Kurang pengteahuan ( kebutuhan belajar), mengenai kondisi,


rencana pengobatan berhubungan dengan
Kurang pengetahuan atau daya ingat
Misinterpretasi informasi
Keterbatasan kognitif
Menyangkal diagnosa
Intervensi :
Mandiri
a. Kaji kesiapan dan hambatan dalam belajar. Termasuk orang terdekat
b. Tetapkan dan nyatakan batas TD normal. Jelaskan tentang hipertensi
dan efeknya pada jantung, pembuluh darah, ginjal dan otak
c. Hindari mengatakan tekanan darah normal dan gunakan nistilah
terkontrol dengan baik saat menggambarkan TD pasien dalam batas
yang diinginkan
d. Bantu pasein dalam mengidentivikasi factor-faktor resiko
kardiovaskuler yang dapat diubah missal obesitas; diet tinggi ;lemak
jenuh; dan kolesterol; pola hidup monotoin; merokok dan minum
alcohol (lebih dari 60 cc/hari dengan teratur) pola hidup penuh stress
e. Atasi masalah dengan pasienb untuk mengidentivikasi cara dimana
perubahan gaya hidup yang tepat dapat dibuat untuk mengurangi
factor-faktor diatas
f. Bahas pentingya menghentikan merokok dan Bantu pasien dalam
membuat rencana untuk berhenti merokok
g. Beri penguatan pentingya kerjasama dalam regimen pengobatan dan
perjanjian tindak lanjut
h. Instruksikan dan tehnik pemantauan TD mandiri. Evaluasi
pendengaran ketajaman, penglihatan, dan keterampilan manual serta
koordinasi pasien
i. Bantu pasien untuk mengembangkan jadwal yang sederhana,
memudahkan untuk mempertahankan minum obat

KONSEP KELUARGA
A. Definisi
Keluarga adalah sekumpulan dua orang atau lebih yang hidup bersama
melalui ikatan perkawinan dan kedekatan emosi yang masing-masing
mengidentifikasi diri sebagai bagian dari keluarga (Ekasari, 2000).

Bailon, 1978 (dalam Achjar, 2010) berpendapat bahwa keluarga sebagai dua
atau lebih individu yang berhubungan karena hubungan darah, ikatan
perkawinan atau adopsi, hidup dalam satu rumah tangga, berinteraksi satu sama
lain dalam peranannya dan menciptakan serta mempertahankan budaya.
Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakay terdiri atas kepala keluarga,
serta beberapa orang yang berkumpul dan tinggal dalam satu atap dalam keadaan
saling ketergantungan (Depkes, 1988).

Keluarga adalah dua orang atau lebih yang dibentuk berdasarkan ikatan
perkawinan yang sah, mampu memenuhi kebutuhan hidup spiritual dan material
yang layak, bertakwa kepada Tuhan, memiliki hbungan yang selaras dan
seimbang antara anggota keluarga dan masyarakat serta lingkungannya.
(Menurut BKKBN, 1999).

B. Ciri-Ciri Keluarga
Ada beberapa ciri-ciri keluarga menurut Nasrul Effendi (2007) sebagai berikut:
a. Diikat dalam satu perkawinan
b. Ada ikatan batin.
c. Ada tanggung jawab masing anggota
d. Ada pengambilan keputusa
e. Kerjasama di antara anggota keluarga
f. Komunikasi interaksi antar anggota keluarga

C. Tipe dan Bentuk Keluarga


Bentuk-bentuk keluarga antara lain: (Zaidin Ali, 2009: 6-7)
a. Keluarga Inti (Nuclear Family)
Keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan anak-anak.
b. Keluarga Besar (Ekstended Family)
Adalah keluarga inti di tambah dengan sanak saudara, misal: nenek, kakek,
keponakan, saudara sepupu, paman, bibi, dan sebagainya.
c. Single parent family
Adalah satu keluarga yang di kepalai oleh satu kepala keluarga dan hidup
bersama dengan anak-anak yang masih bergantung kepadanya.
d. Nuclear dyed
Adalah keluarga yang terdiri dari sepasang suami istri tanpa anak, tinggal
dalam satu rumah yang sama.
e. Blended Family
Adalah suatu keluarga yang terbentuk dari perkawinan pasangan, yang
masing-masing pernah menikah dan membawa anak hasil perkawinan
terdahulu.
f. Three Generation Family
Adalah keluarga yang terdiri dari tiga generasi, yaitu kakek, nenek, bapak,
ibu dan anak-anak dalam satu rumah.
g. Single adult living alone
Adalah bentuk keluarga yang hanya terdiri dari satu orang dewasa yang
hidup dalam rumahnya.
h. Middle age atau Elderly Couple Adalah keluarga yang terdiri dari sepasang
suami istri paruh baya.

Tipe keluarga non tradisional


a. Keluarga dengan orang tua yang mempunyai anak tetapi tidak menikah
(biasanya terdiri dari ibu dan anaknya).
b. Pasangan suami istri yang tidak menikah dan telah mempunyai anak
c. Keluarga gay/ lesbian adalah pasangan yang berjenis kelamin sama hidup
bersama sebagai pasangan yang menikah
d. Keluarga kemuni adalah rumah tangga yang terdiri dari lebih satu pasangan
monogamy dengan anak-anak, secara bersama menggunakan fasilitas,
sumber dan mempunyai pengalaman yang sama.

D. Tahap Tumbuh Kembang Keluarga


Tahap dan siklus tumbuh kembang keluarga menurut Duval 1985 dan Friedman
1998, ada 8 tahap tumbuh kembang keluarga, yaitu :
a. Tahap I: Keluarga Pemula Keluarga pemula merujuk pada pasangan
menikah/tahap pernikahan.
Tugas perkembangan keluarga saat ini adalah membangun perkawinan yang
saling memuaskan, menghubungkan jaringan persaudaraan secara harmonis,
merencanakan keluarga berencana.
b. Tahap II: Keluarga sedang mengasuh anak (anak tertua bayi sampai umur
30 bulan)
Tugas perkembangan keluarga pada tahap II, yaitu membentuk keluarga
muda sebagai sebuah unit, mempertahankan hubungan perkawinan yang
memuaskan, memperluas persahabatan dengan keluarga besar dengan
menambahkan peran orang tua kakek dan nenek dan mensosialisasikan
dengan lingkungan keluarga besar masing-masing pasangan.

c. Tahap III: Keluarga dengan anak usia pra sekolah (anak tertua berumur 2-6
tahun.
Tugas perkembangan keluarga pada tahap III, yaitu memenuhi kebutuhan
anggota keluarga, mensosialisasikan anak, mengintegrasikan anak yang baru
sementara tetap memenuhi kebutuhan anak yang lainnya, mempertahankan
hubungan yang sehat dalam keluarga dan luar keluarga, menanamkan nilai
dan norma kehidupan, mulai mengenalkan kultur keluarga, menanamkan
keyakinan beragama, memenuhi kebutuhan bermain anak.

d. Tahap IV: Keluarga dengan anak usia sekolah (anak tertua usia 6-13 tahun)
Tugas perkembangan keluarga tahap IV, yaitu mensosialisasikan anak
termasuk meningkatkan prestasi sekolah dan mengembangkan hubungan
dengan teman sebaya, mempertahankan hubungan perkawinan yang
memuaskan, memenuhi kebutuhan kesehatan fisik anggota keluarga,
membiasakan belajar teratur, memperhatikan anak saat menyelesaikan tugas
sekolah.

e. Tahap V : Keluarga dengan anak remaja (anak tertua umur 13-20 tahun)
Tugas perkembangan keluarga pada tahap V, yaitu menyeimbangkan
kebebasan dengan tanggung jawab ketika remaja menjadi dewasa dan
mandiri, memfokuskan kembali hubungan perkawinan, berkomunikasi
secara terbuka antara orang tua dan anak-anak, memberikan perhatian,
memberikan kebebasan dalam batasan tanggung jawab, mempertahankan
komunikasi terbuka dua arah.
f. Tahap VI: Keluarga yang melepas anak usia dewasa muda (mencakup anak
pertama sampai anak terakhir yang meninggalkan rumah)
Tahap ini adalah tahap keluarga melepas anak dewasa muda dengan tugas
perkembangan keluarga antara lain : memperluas siklus keluarga dengan
memasukkan anggota keluarga baru yang didapat dari hasil pernikahan
anak-anaknya, melanjutkan untuk memperbaharui dan menyelesaikan
kembali hubungan perkawinan, membantu orang tua lanjut usia dan sakit-
sakitan dari suami dan istri.

g. Tahap VII: Orang tua usia pertengahan (tanpa jabatan atau pensiunan)
Tahap keluarga pertengahan dimulai ketika anak terakhir meninggalkan
rumah dan berakhir atau kematian salah satu pasangan. Tahap ini juga
dimulai ketika orang tua memasuki usia 45-55 tahun dan berakhir pada saat
pasangan pensiun. Tugas perkembangannya adalah menyediakan
lingkungan yang sehat, mempertahankan hubungan yang memuaskan dan
penuh arah dengan lansia dan anak-anak, memperoleh hubungna
perkawinan yang kokoh.

h. Tahap VIII: Keluarga dalam tahap pensiunan dan lansia


Dimulai dengan salah satu atau kedua pasangan memasuki masa pensiun
terutama berlangsung hingga salah satu pasangan meninggal dan berakhir
dengan pasangan lain meninggal. Tugas perkembangan keluarga adalah
mempertahankan pengaturan hidup yang memuaskan, menyesuaikan
terhadap pendapatan yang menurun, mempertahankan hubungan
perkawinan, menyesuaikan diri terhadap kehilangan pasangan dan
mempertahankan ikatan keluarga antara generasi.

E. Fungsi Keluarga
Fungsi keluarga merupakan hasil atau konsekuensi dari struktur keluarga atau
sesuatu tentang apa yang dilakukan oleh keluarganya : Fungsi keluarga menurut
Friedman (1998) dalam Setiawati dan Darmawan (2005), yaitu:
a. Fungsi afektif
Fungsi afektif merupakan fungsi keluarga dalam memenuhi kebutuhan
pemeliharaan kepribadian anggota keluarga.
b. Fungsi sosialisasi
Fungsi sosialisasi bercermin dalam melakukan pembinaan sosialisasi pada
anak, membentuk nilai dan norma yang diyakini anak, memberikan batasan
perilaku yang boleh dan tidak boleh pada anak, meneruskan nilai-nilai
budaya anak.
c. Fungsi perawatan kesehatan
Fungsi perawatan kesehatan keluarga merupakan fungsi keluarga dalam
melindungi keamanan dan kesehatan seluruh anggota keluarga serta
menjamin pemenuhan kebutuhan perkembangan fisik, mental, dan spiritual,
dengan cara memelihara dan merawat anggota keluarga serta mengenali
kondisi sakit tiap anggota keluarga.
d. Fungsi ekonomi
Fungsi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan keluarga seperti sandang,
pangan, dan papan, dan kebutuhan lainnya melalui keefektifan sumber daya
keluarga.
e. Fungsi biologis
Fungsi biologis bukan hanya ditujukan untuk meneruskn keturunan tetapi
untuk memelihara dan membesarkan anak untuk kelanjutan generasi
selanjutnya.
f. Fungsi psikologis
Fungsi psikologis terlihat bagaimana keluarga memberikan kasih saying dan
rasa aman/ memberikan perhatian diantara anggota keluarga, membina
pendewasaan kepribadian anggota keluarga dan memberikan identitas
keluarga.
g. Fungsi pendidikan
Fungsi pendidikan diberikan keluarga dalam rangka memberikan
pengetahuan, keterampilan membentuk perilaku anak, mempersiapkan anak
untuk kehidupan dewasa mendidik anak sesuai dengan tingkatan
perkembangannya.
F. Tugas Keluarga Dalam Bidang Kesehatan
Friedman (2002) membagi 5 peran kesehatan dalam keluarga yaitu:
a. Mengenal gangguan perkembangan kesehatan tiap anggotanya
b. Mengambil keputusan untuk melakukan tindakan yang tepat
c. Menberikan keperawatan kepada anggota keluarganya yang sakit, dan yang
tidak dapat membantu dirinya sendiri karena cacat atau usianya yang terlalu
muda.
d. Mempertahankan suasana di rumah yang menguntungjan kesehatan dan
perkembangan kepribadian anggota keluarga.;/span>
e. Mempertahankan hubungan kepribadian anggota keluarga dan lembaga-
lembaga kesehatan, yang menunjukan pemanfaatan dengan baik fasilitas-
fasilitas kesehatan yang ada.

Asuhan Keperawatan Keluarga

1. Pengkajian
a. Identitas kepala keluarga
b. Komposisi keluarga
Komposisi keluarga biasanya nama, jenis kelamin, hubungan dengan kk,
dan imunisasi bagi balita dan disertai genogram keluarga tersebut
c. Tipe keluarga
Tipe keluarga beserta kendala atau masalah yang terjadi dengan jenis tipe
keluarga tersebut
d. Suku bangsa (etnis)
Latar belakang etnis keluarga atau anggota keluarga, tempat tinggal
keluarga, dan kegiatan keagamaan
e. Agama dan kepercayaan
Apakah anggota keluarga berbeda dalam praktek keyakinan beragama
mereka
f. Status social ekonomi
Status social ekonomi keluarga ditentukan berdasarkan tingkat
kesejahteraan keluarga. Aktifitas rekreasi keluarga Menonton tv bersama,
kadang pergi sekeluarga untuk makan bakso , dll.

2. Riwayat Dan Tahap Perkembangan Keluarga


a. Tahap perkembangan keluarga saat ini
Tahap perkembangan keluarga adalah mengkaji keluarga berdasarkan tahap
perkembangan keluarga berdasarkan duvall
b. Tahap perkembangan keluarga yang belu terpenuhi
Tahap ini ditentukan sampai dimana perkembangan keluarga saat ini dan
tahap apa yang belum dilakukan oleh keluarga serta kendalanya
c. Riwayat kesehatan inti
Yang meliputi riwayat penyakit keturunan, riwayat kesehatan masing-
masinganggota dan sumber pelayanan yang digunakan keluarga
d. Riwayat kesehatan keluarga sebelumnya
Disini diuraikan riwayat kepala keluarga sebelum membentuk
keluargasampai saat ini

3. Data Lingkungan
a. Karakteristik rumah
b. Karakteristik tetangga dan komunitas tempat tinggal yang lebih luas
c. Mobilitas geografis keluarga, Ditentukan dengan kebiasaan keluarga
berpindah tempat,
d. Perkumpulan keluarga dan interaksi dengan masyarakat
e. System pendukung keluarga, yang termasuk system pendukung keluarga
adalah jumlah anggota keluarga yang sehat

4. Struktur Keluarga
a. Struktur peran
b. Peran masing masing anggaota keluarga baik secara formal maupun
informal, model peran keluarga, konflik dalam pengaturan keluarga
c. Nilai dan norma keluarga
d. Nilai dan norma yang dianut keluarga yang berhubungan dengan kesehatan
e. Pola komunikasi keluarga
Cara komunikasi antar anggota keluarga, bahasa, frekuensi dan kualitas
komunikasi
f. Strukur kekuatan keluarga
Kemampuan anggota keluarga dalam mengendalikan dan mempengaruhi
orang lain untuk mengubah perilakunya.

5. Fungsi keluarga
a. Ekonomi
b. Fungsi mendapatkan status social
c. Funsi pendidikan
d. Fungsi sosialisasi
e. Fungsi perawatan kesehatan
1. Mengenal masalah kesehatan
2. Mengambil keputusan mengenai tindakan kesehatan yang tepat
3. Merawat anggota keluarga yang sakit
4. Memelihara, memodifikasi lingkungan keluarga yang sehat
5. Menggunakan fasilitas kesehatan atau pelayanan kesehatan di
masyaraka
6. Fungsi religious, Menjelaskan tentang kegiatan keagamaan yang
dipelajari dan dijalankan oleh keluarga yang berhubungan dengan
kesehatan

No. Kriteria Skala Bobot Pembenaran


1. Sifat masalah 3 1 Bila lansia tidak segera diatasi akan
ancaman membahayakan lansia, karena
kesehatan setiap hari lansia tinggal dirumah
tanpa ada pengawasan
2 Kemungkinan 2 2 Penyediaan sarana mudah dan
masalah dapat murah untuk dapat. (missal sandal
diubah:Mudah karet, keset). Perubahan bias
dilaksanakan, missal lantai yang
licin
3 Potensial 3 1 Keluarga mempunyai kesibukan
masalah untuk yang cukup tinggi, tetapi merawat
diubah:cukup orang tuamerupakan tugas dan
pengabdian seorang anak. Lagi pula
mencegah lebih mudah dan lebih
murah dari pada mengobati.
4 d. Menonjolnya 2 1 Keluarga merasa keadaan tersebut
masalah; sudah berlangsung lama dan lansia
masalah tidak tidak pernah jatuh yang
dirasakan oleh menimbulkan masalah.
keluarga

Skoring
Rumus : skor x bobot
Angka tertinggi
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN
KELUARGA

I. Identitas Keluarga.
A. Kepala Keluarga.
1. Nama : Tn. D
2. Umur : 51 thn
3. Pendidikan : STM
4. Pekerjaan : Wiraswasta
5. Agama : Islam
6. Suku : Banjar
7. Alamat : Desa Penghulu
B. Klien
1. Nama : Tn. D
2. Umur : 51 thn
3. Pendidikan : STM
4. Pekerjaan : Petani
5. Agama : Islam
6. Suku : Banjar
7. Alamat : Desa Penghulu
C. Daftar Anggota Keluarga.

No Nama Umur L/P Agama Pendidikan Pekerjaan Hub. Klg

1 Tn. R 51 L Islam STM Wiraswasta KK


2 Ny. S 42 P Islam SMK Penjahit Istri
3 An. M 18 P Islam SMA Siswa Anak
4 An. D 15 P Islam SMP Siswa Anak
-
5 Ny. F 71 P Islam - Nenek

Tipe keluarga
Keluarga Tn. R terdiri dari istri ,dan anak yang tinggal 1 rumah yaitu Nuclear
Family.
1. Hubungan dalam keluarga
Hubungan dalam keluarga terlihat harmonis, komunikasi berjalan dengan
baik.
2. Pengambil keputusan
Pola pengambilan keputusan di dalam keluarga Tn. R biasanya dilakukan
berdasarkan keputusan kepala keluarga, dan untuk masalah tertentu,
pengambilan keputusan dengan musyawarah.

D. Sosial Ekonomi
1. Pendapatan dan Pengeluaran
Pendapatan keluarga dalam sekitar 3.000.000, pengeluaran keluarga
hanya untuk makan seahari-hari dan keperluan lainnya, dan masih
seimbang dengan pendapatan kelurga.
2. Sosial
Hubungan keluarga dengan masyarakat baik, bahkan di lingkungan
rumah mayoritas kerabat dekat. Tn. R cukup aktif dalam kegiatan
masyarakat.
E. Pola Kebiasaan Keluarga
1. Nutrisi
Keluarga Tn. R memiliki kebiasaan makan 3 x sehari dengan waktu yang
cukup teratur, dengan makanan pokok nasi ditambah lauk pauk dan
sayur, atau tahu tempe, lauk perpaduan antara ikan segar dan ikan asin.
2. Personal Hygiene
Keluarga ini mandi 2 x sehari yaitu pagi dan sore hari dengan memakai
sabun dan air sungai, gosok gigi 2 x sehari dengan menggunakan pasta
gigi, kebersihan anggota keluarga cukup.
3. Pola Rekreasi dan Hiburan
Hanya menonton tv dan mengobrol di sela waktu senggang.
4. Kebutuhan Istirahat dan Tidur Keluarga
Lama tidur malam dalam sehari 6 - 7 jam, sedangkan pada siang hari Tn.
R jarang tidak tidur siang, Tn. R mengatakan tidur malam nyenyak dan
hanya terbangun bila ingin BAK
5. Pola Komunikasi Keluarga
Pola komunikasi yang digunakan oleh keluarga ini adalah saling terbuka
dan berinteraksi dengan masyarakat disekitar rumahnya dengan
menggunakan bahasa Banjar.

F. Data Keadaan Lingkungan


1. Karakteristik Rumah
Rumah yang ditempati milik sendiri dengan ukuran 8 x 6 M bertingkat
yang terdiri dari 1 ruang tamu yang merangkap jadi ruang keluarga, 3
kamar tidur semuanya mempunyai jendela, 1 dapur merangkap jadi ruang
makan , dinding rumah terbuat dari kayu dan lantai rumah terbuat dari
papan. kamar mandi dan WC berada didalam rumah. Penerangan pada
malam hari menggunakan listrik. Halaman rumah tampak bersih dan
banyak tanaman. Alat transportasi keluarga adalah sepeda motor.
Ruang Tamu Kamar

Kamar dapur

WC

Keterangan :
= Pintu
= Jendela

2. Sanitasi Lingkungan
a. Sumber Air Minum.
Air minum berasal dari air mineral yang di beli. Air yang digunakan
untuk minum dimasak sampai mendidih.
b. Sumber Air Untuk Mencuci.
Air yang digunakan untuk mencuci adalah air sungai.
c. Pembuangan Air Limbah.
Pembuangan air limbah biasanya dibawah rumah dengan genagan.
d. Kebiasaan mengelola air minum.
Air minum selalu dimasak sampai mendidih.
e. Pembuangan kotoran BAB / BAK.
Keluarga ini memiliki kakus / WC yang berada di rumah dan WC
berada disungai dengan jamban cemplung.
f. Jarak pembuangan kotoran dengan sumber air minum.
Keluarga dan masyarakat disekitar rumah Tn. R biasanya membuang
sampah dan di sungai sedangkan sumber air minum adalah air
ledeng.
g. Kebiasaan membuang sampah.
Keluarga ini membuang sampah ke TPA, dirumah hanya ditampung
dengan kresek.
h. Letak kandang ternak keluarga.
Keluarga ini tidak memeliki hewan peliharaan.
i. Pemanfaatan pekarangan rumah.
Pekarangan rumah tidak ada
.
3. Sarana Kesehatan
Tempat meminta pertolongan kesehatan yaitu di Puskesdes yang ada di
RT 3 berjarak 500 meter, dan Puskesmas yang ada di kota marabahan.
4. Riwayat dan Tahap Perkembangan
a. Tahap perkembangan keluarga saat ini
Saat ini keluarga Tn. R pada tahap keluarga yang melepas anak
dewasa muda.
b. Tahap perkembangan keluarga terpenuhi
Masih belum terpenuhi karena anak pertamanya belum menikah
sedangkan usianya adalah 18 tahun.
c. Riwayat kesehatan keluarga inti
Riwayat kesehatan saat ini keluarga Tn. R kurang baik, dikarenakan
Tn. R menderita penyakit Hipertensi.
d. Riwayat kesehatan sebelumnya
Tn. R menderita hipertensi sejak 3 tahun yang lalu, namun sambil
dalam pengobatan namun kurang teratur sehingga Hipertensinya
masih ada hingga saat ini.
G. Fungsi Keluarga
1. Fungsi Apektif
Keluarga rukun dalam berumah tangga dan sangat perhatian antar anggota
keluarga.
2. Fungsi Sosialisasi
Keluarga selalu mengajarkan hidup bermasyarakat dengan baik, dengan
tetangga selalu ramah, keluarga juga aktif dalam kegiatan masyarakat.
3. Fungsi Reproduksi
Keluarga tidak ikut Kb karena tidak dalam usia subur lagi.
4. Fungsi Ekonomi
Pendapatan keluarga cukup untuk kebutuhan sehari-hari dan biaya sekolah
anakanya.
5. Fungsi Perawatan Kesehatan
Keluarga tidak mengetahui apa saja makan yang dihindari untuk penyakit
hipertensi, Tn. R jarang ke Puskesdes karena merasa sehat namun Tn, D
sebenarnya menderita Hipertensi.
H. Pemeriksaan Fisik
1. Pemeriksaan fisik umum (TTV) Tn. R tanggal 02 september 2015
Kesadaran CM,
TTV: TD: 170/100 mmHg
N: 73 x/m
R: 22 x/m,
2. Pemeriksaan fisik khusus
a. Kulit.
Warna kulit sawo matang, turgor mulai keriput, tidak ada lesi dan
kelainan pada kulit, kulit teraba hangat.
b. Kepala dan Leher.
Bentuk simetris, tidak ada trauma pada kepala dan leher, pergerakan
baik, tidak ada pembesaran vena jugularis pada leher, kebersihan
cukup, kx dapat menggerakkan kepala ke segala arah. Klien sering
mengeluh sakit kepala dan tegang pada leher bagian belakang.
c. Penglihatan dan Mata.
Struktur mata simetris, tidak terdapat peradangan dan pendarahan,
sklera tidak ikterik, fungsi penglihatan mulai menurun, kx tidak
menggunakan alat bantu penglihatan.
d. Penciuman dan Hidung.
Struktur hidung tampak simetris, hidung tampak bersih, fungsi
penciuman cukup baik, dan tidak ada perdangan pada hidung.
e. Mulut dan Gigi.
Kebersihan mulut cukup baik, gigi masih cukup baik, banyak gigi yg
berlubang, fungsi pengunyahan dan menelan baik.
f. Dada dan Pernafasan.
Bentuk dada simetris, tidak ada nyeri tekan saat di palpasi, frekuensi
nafas 22 x/m.
g. Abdomen.
Bentuk simetris, tidak ada nyeri tekan pada abdomen.
h. Ekstrimitas Atas dan Bawah.
Tidak terdapat keterbatasan gerak pada ekstrimitas atas maupun
bawah.
I. Harapan Keluarga
Keluarga sangat berharap sembuh dari penyakit yang diderita dan mendapat
pengobatan gratis dari puskesmas.

1. Hipertensi

Masalah Kesehatan Dan


Data
Keperawatan
Tn. R mengatakan Masalah Kesehatan :
sering sakit kepala dan Tn. R menderita penyakit Hipertensi
tegang pada tengkuk. . Masalah Keperawatan :
Tn. R mengatakan tinggi Ketidak mampuan keluarga
tensinya pernah sampai mengenal adanya masalah
180 berhubungan dengan tanda, gejala
TTV : TD : 170/100 dan penyebab hipertensi.
mmHg Ketidakmampuan keluarga merawat
Keluarga klien suka yang sakit berhubungan dengan
mengkonsumsi ikan kurangnya pengetahuan tentang
asin. prosedur perawatan
Ketidakmampuan keluarga
memodifikasi lingkungan B.D
kurang pengetahuan tentang makan
yang harus dihindari.

A. Hipertensi.

No Kriteria Perhitungan Skor Pembenaran

1 Sifat masalah : 3x1/3 1 Masalah sudah terjadi


Actual harus segera di
tanggulangi agar tidak
berlanjut

2 Kemungkinan 1 x2/2 1 Masalah hanya dapat di


masalah dapat atasi secara bertahap
diubah

3 Potensial 3x1/3 1 Masalah mudah di cegah


masalah untuk
diubah

4 Menonjolnya 2x1/2 1 Keluarga merasa ada


masalah masalah dan perlu di
tanggulangi segera
Total skor 4
Masalah :
1. Anggota keluarga menderita Hipertensi dengan skor 4 .
Rencana Intervensi Keperawatan Keluarga Pada Keluarga Tn. D

Tujuan Evaluasi
Masalah Masalah Tujuan Jangka
No Jangka Kriteri Intervensi
Kesehatan Keperawatan Pendek Standar
Panjang a
1 Tn. R menderita 1) Ketidak 1) . Keluarga 1) Setelah 4 kali Respon 1) Keluarga dapat 1) Kaji
penyakit mampuan dapat pertemuan Verbal menjelaskan pengetahuan
Hipertensi keluarga mengenal diharapkan dan kembali tentang keluarga
mengenal masalah keluarga psikom tanda, gejala, tentang tanda,
adanya hipertensi mengetahui otor penyebab, serta gejala,
masalah yang tanda, gejala keluarg akibat lanjut penyebab, serta
berhubungan dialami dan penyebab a dari penyakit akibat lanjut
dengan tanda, keluarga serta akibat Hipertensi dari hipertensi.
gejala dan lanjut dari 2) Menjelaskan
penyebab hipertensi kepada
hipertensi 2) Keluarga dapat keluarga
melakukan tentang akibat
perawatan lanjut dari
anggota hipertensi.
keluarga yang 3) Berikan pujian
sakit dengan kepada
benar keluarga
3) Keluarga mulai
Ketidakmamp Keluarga mengurangi 2) Keluarga dapat 1) Kaji
uan keluarga mengenal asupan makan menjelaskan pengetahuan
merawat yang pengetahuan yang serta dapat keluarga
sakit untuk meningkatkan melakukan tentang tehnik
berhubungan melakukan terjadinya ht perawatan perawatan dan
dengan perawatan. sederhana, pengobatan.
kurangnya sehingga TD 2) Diskusikan
pengetahuan normal menjai dengan
tentang di bawah keluarga
prosedur 160/90 mmHg tentang
perawatan perawatn dan
pengobatan
sederhana,jelas
kan juga
pentinya olah
raga, diet dan
kontrol dengan
rutin.
3) Beri pujian
tentang
melakukan
perawatan
keluarga.
Implementasi Dan Evaluasi

No Tanggal Implementasi Evaluasi Paraf

1 02
Septemb 1) Mengkaji Tanggal
er 2015 pengetahuan keluarga 19 Oktober 2012
Jam tentang tanda, gejala, Jam 10.45
10.00 penyebab, serta akibat S :
lanjut dari hipertensi. Keluarga Tn. R dapat
2) Mendiskusikan mengerti tentang
dengan keluarga pengertian, tanda dan
tentang perawatan dan gejala Hipertensi.
pengobatan
sederhana, jelaskan O :
juga pentinya olah Keluarga tampak
raga, diet dan kontrol mengerti dengan apa
dengan rutin. yang dijelaskan
3) Memberi pujian A :
tentang melakukan Masalah teratasi
perawatan keluarga. sebagian
P :
Intervensi dilanjutkan

2. 02 1) Mengkaji Tanggal
septembe pengetahuan keluarga 19 Oktober 2012
r 2015 tentang tanda, gejala, Jam 14.00
Jam penyebab, serta akibat S :
13.00 lanjut dari hipertensi. Keluarga Tn. A dapat
2) Mendiskusikan mengerti tentang
dengan keluarga pengertian, tanda dan
tentang perawatan dan gejala, penyebab
pengobatan akibat Hipertensi,
sederhana, jelaskan dpat menyebutkan
juga pentinya olah sebagian pantangan
raga, diet dan kontrol makan bagi orang
dengan rutin. hipertensi .
3) Memberi pujian O :
tentang melakukan Keluarga tampak
perawatan keluarga. mengerti dengan apa
yang dijelaskan
A :
Masalah teratasi
P :
Intervensi dihentikan.
BAB IV
DAFTAR PUSTAKA

Guyton, Arthur C, Fisiologi manusia dan mekanisme penyakit, EGC Penerbit buku
kedokteran, Jakarta, 2007.
Brunner and Suddarth.2002. Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : EGC
Doengoes ( 2000 ). Asuhan Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : EGC
Smith T. 2005. Tekanan Darah Tinggi. Cetakan V. Arcan.Jakarta
Soeparman, Ilmu Penyakit Dalam, UI Press, Jakarta, 2004.
Sobel, B. J. M. D. and George L. Bakris, M . D . FACP. 2009 . Pedoman KLinis
diagnosa dan Terapi Hipertensi. Penerbit Hipokrates