Anda di halaman 1dari 7

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Istilah vitamine atau vitamin mula-mula diutarakn oleh seorang ahli kimia Polandia
bernama Frank, bahwa zat penangkal beri-beri yang larut dalam air itu suatu amina yang sangat
vital, dan dari kata terebut lahirlah istilah viitamine dan yang kemudian menjadi vitamin. Kini
vitammin dikenal sebagi suatu kelompok senyawa organik yang tidak termasuk dalam golngan
protein,karbohidrat dan lemak dan terdapat dalam jumlah kecil dalam makanan namun
perananya sangat penting bagi tubuh manusia. Pada umumnya vitamin di bagi ke dalam dua
kelompok yaitu, vitamin yang llarut dlam lemak seperti vitamin A,D,E, dan K serta vitamin
yang larut dalam air seperti vitamin C dan vitamin B.

Vitamin C atau asam askorbat adalah vitamin yang mudah larut dalam air. Vitamin C dapat
terbentuk sebagai asam L-askorbat dan asam L-dehidroaskorbat yang mana keduaya memilki
keaktifan sebagai vitamin C. Sumber vitamin C adalah buah-buahan seperti jeruk, jambu biji,
manggam dan lain-lain. Selain itu juga terdapat pada sayuran terutama yang berdaun hijau.
Pada buah yang segar ( tidak masak ) kkandungan vitain C lebih tinggi dibandingkan dengan
buah yang dalam keadaan masak. Untuk mengetahui kandungan vitamin C dapat dilakukan
dengan 2,6 D ( Na-dikhlorofenol ) dn titrasi iodin.

Pada praktikum kali ini

Sampelnya apa ?
1.2 Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum ini adalah :
1. Untuk mengetahui metode penentuan kadar vitamin C pada bahan pangan
2. Untuk mengetahui kadar vitamin C pada bahan pangan
1.3 Manfaat
Adapun manfaat dari praktikum ini adalah :
1. Setiap mahasiswa dapat mengetahui cara penentuan adar vitamin C dalam suatu bahan
pangan
2. Setiap mahaiswa dapat mempegaruhi kadar vitamin C yang ada dalam suatu bahan
pangan.
BAB II
TINJAUN PUSTAKA

2.1 Vitamin C
Vitamin C atau asam askorbat merupakan senyawa organik derivat heksosa yang
mempunyai berat molekul 178 dengan rumus molekul C6H8O6, titik cairnya 190-192oC,
bersifat larut dalam air, sedikit larut dalam aseton dan alkohol yang mempunyai berat
molekul rendah, dengan logam membentuk garam, tidak larut dalam lemak, mudah
teroksidasi dalam keadaan larutan, terutama pada kondisi basa, ada katalisator Fe dan Cu,
enzim askorbat oksidase, sinar serta suhu tinggi, peka terhadap panas, stabil dalam kondisi
asam (pH rendah) dan kondisi kristal kering, berbentuk kristal warna putih, reduktor kuat,
rasanya masam, mudah teroksidasi menjadi asam dehidroaskorbat tetapi mudah tereduksi
menjadi asam askorbat kembali, dan tidak berbau. (Krisno,dkk , 2001) Vitamin C (C6H8O6)
merupakan master of nutrient.
Macam-macam bahan makanan yang menjadi sumber vitamin C yakni hati, ginjal,
sayur-sayuran dan buah-buahan segar terutama jeruk baik yang masih dalam bentuk buah
asli maupun sudah berupa minuman segar. Asupan gizi rata-rata sehari sekitar 30 sampai
100 mg vitamin C yang dianjurkan untuk orang dewasa. Namun, terdapat variasi kebutuhan
dalam individu yang berbeda . Salah satu fungsi vitamin C adalah sebagai antioksidan.
Beberapa zat dalam makanan, didalam tubuh dihancurkan atau dirusak jika mengalami
oksidasi. Sering kali, zat tersebut dihindari dari oksidasi dengan menambahkan antioksidan.
Suatu antioksidan adalah zat yang dapat melindungi zat lain dari oksidasi dimana dirinya
sendiri yang teroksidasi. Vitamin C, karena memiliki daya antioksidan, sering ditambahkan
pada makanan untuk mencegah perubahan oksidatif . Fungsi utama vitamin C juga berkaitan
dengan sintesis kolagen. Kolagen adalah sejenis protein yang merupakan salah satu
komponen utama dari jaringan ikat, tulang-tulang rawan, matriks tulang, dentin, lapisan
endotelium pembuluh darah dan lain-lain. Vitamin C ini bertindak sebagai ko-enzim atau
ko-faktor pada proses hidroksilasi, baik secara aktif maupun sebagai zat reduktor. Vitamin
C sangat esensial dalam proses hidroksilasi proline dan lisin, yakni dua jenis asam amino
yang merupakan komponen utama dari kolagen. Vitamin C juga berperan dalam proses
penyembuhan luka.

2.2 Sampel
BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Alat
Adapun alat-alat yang digunakan adalah :
1. Lumpang
2. Corong
3. Kertas saring
4. Labu erlenmeyer
5. Gelas ukur
6. Gelas beaker
7. Pipet tetes
8. Timbangan analiltik
9. Biuret
10. Pipet Volume
11. Boult/ pompa
12. Labu takar

3.2 Bahan
Adapun bahan-bahan yang digunakan adlah :
1. Aquades
2. Amilum
3. NaOH
4. Iodin
5. Smpel ?

3.3 Prosedur Kerja

Sampel 10 g

Diencerkan dengan aquades sampai 250 ml

Disaring

Filtrat diambil sebanyak 10 ml

Dititrasi dengan iodine hingga berubah warna


menjadi biru muda

Ditambahkan amilum (2 ml)


Perhitungan
Mg vitamin C = ml tittrasi x 0,88 x P
Sampel ( mg )

P = Pengenceran
1 ml iodium 0,01 N = 0,88 mg asam askorbat
BAB IV
PEMBAHASAN

Sampel jeruk diperas terlebih dahulu untuk diambil airnya kemudian ditimbang
sebanyak 10 gram dengan menggunakan gelas bekker. Sampel jeruk yang sudah ditimbang
kemudian diencerkan dengan aquades sampai 100 ml. Pengenceran dilakukan untuk
menurunnya kadar kepekatan atau tingkat konsentrasi dari senyawa yang dilarutkan atau
diencerkan. Sampel yang sudah diencerkan, disaring dan diambil filtratnya sebanyak 10 ml.
Penyaringan dilakukan agar bulir-bulir jeruk maupun benda-benda padat lainnya tidak ikut
pada filtrate. Sampel kemudian ditambahkan amilum sebanyak 2 ml. Amilum ditambahkan
sebelum titrasi berfungsi sebagai indikator yang memperjelas perubahan warna menjadi biru
muda saat akhir titrasi. Sampel kemudian dititrasi dengan iodine. Akhir titrasi ditunjukkan
perubahan warna sampel menjadi biru muda.
BAB V
PENUTUP