Anda di halaman 1dari 13

A.

Topik
Pengamatan Sel Kelamin

B. Tujuan
Adapun tujuan dalam pratikum ini adalah sebagai berikut.
1. Mampu mengenal struktur morfologi spermatozoid dan sel telur beberapa
hewan vertebrata.
2. Mengamati perbedaan sel kelamin yang diambil dari bagian-bagian sistem
reproduksi yang berbeda.

C. Teori Dasar
Sel kelamin (gamet) merupakan hasil proses gametogenesis. Gamet jantan
disebut spermatozoid, dan gamet betina disebut sel telur. Spermatozoa
diproduksi didalam tubulus seminiferus testis. Spermatozoid vertebrata terdiri
atas bagian kepala, leher, bagian tengah dan ekor yang berupa flagel panjang.
Sperma hewan-hewan yang berbeda, berbeda pula dalam ukuran, bentuk dan
mobilitasnya. Bentuk spermatozoid adalah spesifik spesies, perbedaannya
terutama terlatak pada bentuk kepalanya, yaitu dari bulat pipih sampai panjang
lancip (Nusantari, 2012).
Sperma adalah sel yang diproduksi oleh organ kelamin jantan dan bertugas
membawa informasi genetik jantan ke sel telur dalam tubuh betina.
Spermatozoa secara struktur telah teradaptasi untuk melaksanakan dua fungsi
utamanya yaitu menghantarkan satu set gen haploidnya ke telur dan
mengaktifkan program perkembangan dalam sel telur (Guyton, 2006).
Kepala spermatozoa bentuknya bervariasi. Isinya adalah inti (di dalamnya
terkandung material genetik) haploid yang berupa kantong berisi sekresi-
sekresi enzim hidrolitik. Spermatozoa yang kontak dengan telur, isi
akrosomnya dikeluarkan secara eksositosis yang disebut dengan reaksi
akrosom (Tenzer, 2003). Ekor sperma terdiri atas tiga bagian yaitu middle
piece, principal piece dan end piece. Ekor ini berfungsi untuk pergerakan
menuju sel telur. Ekor yang motil itu pada dasarnya sama seperti flagellum
memiliki struktur axoneme yang terdiri atas mikrotubul pusat yang dikelilingi
oleh sembilan doblet mikrotubul yang berjarak sama satu dengan yang lainnya.
Daya yang dihasilkan mesin ini memutar ekor bagaikan baling-baling dan
memungkinkan sperma meluncur dengan cepat. Keberadan mesin pendorong
ini tentunya membutuhkan bahan bakar yang paling produktif yaitu gula
fruktosa yang telah tersedia dalam bentuk cairan yang melingkupi sperma
(Bachtiar, 2003).
Pada amphibia sperma dari testis akan disalurkan melalui saluran
reproduksi dengan lintasan dari testis menuju duktus efferens, duktus
mesonefros dan sebelum memasuki kloaka duktus mesonefros mengalami
pelebaran membentuk vesikula seminalis, yang berfungsi untuk menyimpan
sperma sementara (Tenzer, dkk, 2014).
Kelas aves jantan menyalurkan spermanya dari testis menuju duktus
efferens, epididymis, kemudian duktus deferens dan berakhir pada kloaka
(Tenzer, dkk, 2014).
Sel telur diproduksi di dalam ovarium. Perkembangan sel telur terjadi di
dalam folikelfolikel telur. Folikel telur yang matang akan mengalami ovulasi,
sel telur yang dilepaskan dari ovarium akan masuk ke dalam oviduk. Seperti
sel yang lain, sel telur dilengkapi dengan membrane sel yang disebut
plasmalemma atau oolema. Untuk melindungi sitoplasma, inti, yolk, dan
organelorganel dalam sel. Disamping oolema, kebanyakan sel telur dikelilingi
oleh membranemembrane telur. Membrane telur yang disekresi oleh sel telur
sendiri, disebut membrane telur primer. Membrane vitelin yang mengelilingi
oolema termasuk membrane telur primer. Membrane telur yang disekresi oleh
selsel folikel disebut membrane telur sekunder, misalnya zona pelusida yang
terletak disebelah luar membrane vitelin (Guyton, 2006).
Pada hewan amphibi betina disebelah kranial ovarium dijumpai jaringan
lemak berwarna kuning jingga (corpus adiposum). Ovarium dan corpus
adiposum berasal dari plica genitalis yang masing-masing dari pars gonalis dan
pars progonalis. Ovarium terdapat didalam alat penggantungnya yaitu
esovarium. Duktus muler pada amphibia berkembang menjadi sepasang
oviduct yang berupa saluran panjang dan berkelok, tidak berhubungan
langsung dengan ovarium. Ujung anterior oviduct yang berbentuk corong
(infundibulum), dengan lubangnya yang disebut ostium abdominal untuk
menangkap sel-sel telur yang diovulasikan oleh ovarium. Oviduct mengandung
banyak kelenjar yang untuk mensekresikan lendir (jelly) sebagai selubung
telur. Bagian posterior oviduct membesar membentuk uterus, untuk
menyimpan telur sebelum pemijahan. Saluran reproduksi bermuara di bagian
dorsal, yaitu pada kloaka (Tenzer, dkk, 2014).

D. Alat dan Bahan


a. Alat
1. Alat seksi
2. Papan seksi
3. Gelas arloji
4. Gelas kimia 100 ml
5. Pengaduk
6. Pipet tetes
7. Kaca pembesar
8. Mikroskop
9. Kaca benda
10. Kaca penutup
b. Bahan
1. Katak (Rana sp.) jantan
2. Katak (Rana sp.) betina
3. Merpati jantan
4. Merpati betina
5. Larutan NaCl

E. Prosedur
a. Pengamatan Sel Telur Katak (Rana sp.) Betina

Disiapkan katak (Rana sp.) betina

Katak betina dimatikan dengan metode single pith

Dibedah bagian ventralnya

Dihilangkan organ visceralnya

Diamati keseluruhan bagian-bagian alat reproduksi


Diambil bagian ovariumnya

Ovarium diletakkan pada kaca arloji dan ditambahkan garam fisiologis


0,7% secukupnya
Ovarium dipotong-potong, sel telur dipisah-pisahkan
Beberapa tetes suspensi sel telur katak betina diletakkan diatas kaca
benda, kemudian ditutup menggunakan kaca penutup sambil ditekan
perlahan
Kaca benda diletakkan di meja preparat mikroskop, kemudian diamati
dengan perbesaran 40 x 10
Digambar sel telur (oosit) yang terlihat dan diidentifikasi
Dicatat
Hasil
b. Pengamatan Spermatozoid Katak (Rana sp.) Jantan

Disiapkan katak (Rana sp.) jantan

Katak jantan dimatikan dengan metode single pith

Dibedah bagian ventralnya

Dihilangkan organ visceralnya


Diamati keseluruhan bagian-bagian alat reproduksi

Diambil bagian testisnya


Dibersihkan dari jaringan lemak yang menempel dan dicuci menggunakan
garam fisiologis 0,9%
Testis diletakkan pada gelas arloji dan ditambahkan garam fisiologis
secukupnya
Testis diiris-iris sambil ditambah garam fisiologis hingga terbentuk
suspensi
Beberapa tetes suspensi testis diletakkan diatas kaca benda, kemudian
ditutup menggunakan kaca penutup
Kaca benda diletakkan di meja preparat mikroskop, kemudian diamati
Kaca benda diletakkan di meja preparat mikroskop, kemudian diamati
dengan perbesaran 40 x 10
Digambar sperma yang terlihat dan diidentifikasi
Dicatat
Prosedur yang telah dilakukan sebelumnya dilakukan kembali dengan
Hasil dan suspensi vas defrens
menggunakan suspensi epididimis
c. Pengamatan Sel Spermatozoid Merpati (Columba livia) Jantan

Disiapkan merpati (Columba livia) jantan

Merpati jantan dimatikan dengan metode disembelih

Dibersihkan dari bulu-bulu dan dibedah bagian ventralnya


Dihilangkan organ visceralnya
Diamati keseluruhan bagian-bagian alat reproduksi

Diambil bagian testisnya


Dibersihkan dari jaringan lemak yang menempel dan dicuci menggunakan
garam fisiologis 0,9%
Testis diletakkan pada gelas arloji dan ditambahkan garam fisiologis
secukupnya
Testis diiris-iris sambil ditambah garam fisiologis hingga terbentuk
suspensi
Beberapa tetes suspensi testis diletakkan diatas kaca benda, kemudian
ditutup menggunakan kaca penutup
Kaca benda diletakkan di meja preparat mikroskop, kemudian diamati

Kaca benda diletakkan di meja preparat mikroskop, kemudian diamati


dengan perbesaran 40 x 10
Digambar sperma yang terlihat dan diidentifikasi

Dicatat

Prosedur yang telah dilakukan sebelumnya dilakukan kembali dengan


Hasil dan suspensi vas deferens
menggunakan suspensi epididimis

F. Hasil dan Analisis Pengamatan


a. Data Pengamatan
No. Gambar Literatur Gambar Pengamatan Keterangan
1. a. Ovarium
b. Oviduk
c. Kloaka

Gambar 1. Katak (Rana sp.)


Betina (organ reproduksi)
2 a. Testis
Gambar 2. Organ Reproduksi b. Vas
Merpati (Columba livia) deferens
Jantan c. Kloaka

c
No Gambar Keterangan Ciri-ciri
1 a. Oosit Sel telur dilengkapi
c
b. Membran dengan membrane sel
b vitelin yang
c. Sitoplasma disebutplasmolema atau
a
oolema untuk
melindungi sitoplsma,
inti, yolk dan organel-
organel dalam sel.
Gambar 3. Sel Telur Katak (Rana Pada sel telur katak ini
sp.) Betina dari Suspensi Ovarium terdapat pigmen
Perbesaran 40 x 10 berwarna gelap
kehitaman.
2 a. Kepala Morfologi sperma pada
sperma burung merpati
memiliki kepala yang
berbentuk silinder
memanjang/ panjang
lancip tetapi belum
motil dan memiliki ekor
yang lebih pendek yang
a
berada pada testis.
Gambar 4. Spermatozoa dari
Suspensi Testis Merpati
Perbesaran 40 x 10
3 a. Kepala Morfologi sperma pada
Sperma burung merpati pada
b. Ekor epididymis memiliki
sperma kepala yang berbentuk
silinder memanjang/
b panjang lancip dan
memiliki ekor yang
a
panjang, mempunyai
motilitas dan mampu
membuahi sel telur

Gambar 5. Spermatozoa dari


Suspensi Epididimis Merpati
Perbesaran 40 x 10
Pada praktikum kali ini adalah melakukan pengamatan sel kelamin dari
berbagai hewan. Dilakukannya praktikum ini bertujuan untuk mengenal
morfologi spermatozoid dan sel telur beberapa hewan vertebrat, yang kedua
bertujuan dapat mengamati perbedaan sel kelamin yang diambil dari bagian-
bagian sistem reproduksi yang berbeda. Dalam praktikum ini dilakukan
pengamatan terhadap katak (Rana sp.) jantan dan betina, serta merpati jantan
(Columba livia). Dilakukan dengan metode pengamatan dibawah mikroskop,
sebelumnya hewan amatan dimatikan terlebih dahulu, kemudian dibedah dan
dihilangkan organ viseralnya, diamati kelengkapan organ reproduksinya,
selanjutnya diambil alat reproduksinya untuk kemudian dibuat suspense yang
mengandung sel telur dan juga sperma.
Berdasarkan pengamatan yang kami lakukan, katak betina memiliki organ
reproduksi berupa sepasang ovarium beserta organ asesoris yang berupa
sepasang oviduk, kloaka, lubang kloaka. Sel kelamin betina (sel telur) dapat
diperoleh dengan mengiris sedikit bagian dari ovarium katak kemudian
dijadikan suspensi menggunakan garam fisiologis dan selanjutnya diamati
dibawah mikroskop stereo. Sel telur katak berbentuk bulat kecil-kecil dengan
berbagai warna yang menunjukkan singkat perkembangan sel telur tersebut.
sel telur katak ini dikelilingi sel-sel folikel. Pada sel telur yang masih muda
diperolah gambaran bulat kecil-kecil berwarna putih, selanjutnya sel telur
tersebut mangalami perubahan warna seiring berjalannya waktu, hingga pada
gambar diperoleh gambar sel telur dengan satu sisi berwarna hitam dan sisi
yang lainnya berwarna putih. Sisi sel telur yang berwarna hitam atau gelap
merupakan kutub animal,sedangkan sisi sel telur yang berwarna putih atau
terang merupakan kutub vegetal. Nantinya setelah mengalami pembuahan oleh
spermatozoa, sel telur yang telah dibuahi akan mengalami pembelahan
holoblastik dari kutub animal ke kutub vegetal. Sel telur pada katak betina
(Rana sp.) ini termasuk dalam tipe sel telur telolesital, dimana sel telur
memiliki banyak yolk yang tersebar tak merata dan banyak tertimbun pada
kutub vegetal. Untuk mengamati oositnya, diambil satu sel telur yang
dikelilingi sel-sel folikel dari suspense, kemudian diletakkan pada kaca benda
dan ditutup kaca penutup dan dipencet perlahan agar oositnya keluar. Ini sama
dengan mengovulasikan oosit secara paksa agar dapat melihat inti dari oosit.
Ketika dilakukan pengamatan, tampak oosit yang keluar ini disertai dengan
membrane vitelin, inti tampak jelas ditengah yang dikelilingi sitoplasma,
tampak juga pigment yang memberikan warna gelap.
Pengamatan juga dilakukan pada katak jantan. Sistem reproduksi katak
jantan tersusun atas kelenjar gonad (testis), saluran reproduksi (ductus wolfii
atau mesonephridicus), vesikulaseminalis, serta ditemukan pula badan lemak
(korpus adiposum) dalam sistem reproduksi katak jantan. Tetapi pada
pengamatan katak jantan, tidak telihat testisnya atau belum berkembang karena
umur katak yang kami bedah masih terlalu muda sehingga pengamatan untuk
morfologi sperma dan motilitas spermanya tidak bisa dilanjutkan
Pada aves, kami menggunakan burung merpati (Columba livia). Pertama
kami mengamati saluran reproduksinya. Saluran reproduksi burung merpati
jantan terdiri dari sepasang testis, epididimis, duktus deferens, dan organ
kopulasi pada kloaka. Kami juga mengambil sampel sel sperma pada testis
burung merpati tersebut. Struktur morfologi sperma dari burung merpati adalah
memiliki kepala berbentuk silinder kecil memanjang seperti panjang lancip
dengan ekor yang panjang. Sperma pada burung merpati yang kita amati pada
testis belum motil, tampak sperma diam seperti telah mati. Namun, setelah
dilakukan pengamatan dari suspense epididymis merpati jantan, tampak
terdapat spermatozoa yang bergerak-gerak.

G. Pembahasan dan Diskusi


Sel kelamin (gamet) merupakan hasil proses gametogenesis. Gamet jantan
disebut spermatozoid, dan gamet betina disebut sel telur. Spermatozoa
diproduksi didalam tubulus seminiferus testis. Spermatozoid vertebrata terdiri
atas bagian kepala, leher, bagian tengah dan ekor yang berupa flagel panjang.
Sperma hewan-hewan yang berbeda, berbeda pula dalam ukuran, bentuk dan
mobilitasnya. Bentuk spermatozoid adalah spesifik spesies, perbedaannya
terutama terlatak pada bentuk kepalanya, yaitu dari bulat pipih sampai panjang
lancip (Nusantari, 2012). Sel telur diproduksi di dalam ovarium. Perkembangan
sel telur terjadi di dalam folikelfolikel telur. Folikel telur yang matang akan
mengalami ovulasi, sel telur yang dilepaskan dari ovarium akan masuk ke
dalam oviduk (Guyton, 2006).
Pada praktikum struktur perkembangan hewan kali ini kami melakukan
pengamatan terhadap sel kelamin katak (Rana sp.) jantan maupun betina dan
merpati (Columba livia) jantan. Untuk yang pertama dilakukan pengamatan
terhadap katak jantan dan betina. Dalam beberapa kelompok hanya terdapat
satu kelompok yang mendapatkan katak jantan, sedangkan kelompok yang lain
mendapatkan katak betina untuk diamati. Kemudian pada pertemuan
selanjutnya baru dilakukan pengematan terhadap merpati jantan.
Pada praktikum ini, kelompok kami mendapatkan katak betina sebagai
bahan amatan. Berdasarkan pengamatan yang kami lakukan, katak betina
memiliki organ reproduksi berupa sepasang ovarium beserta organ asesoris
yang berupa sepasang oviduk, dan kloaka. Pada sistem reproduksi katak betina
juga ditemukan adanya korpus adiposum didekat ovarium. Ovarium pada katak
terlihat jelas dan dominan setelah dilakukan pembedahan pada abdomen katak
betina. Katak membentuk sel telur (sel telur) di dalam ovarium, sehingga
didalam ovarium dapat ditemukan berbagai fase perkembangan sel telur katak
betina. Kemudian sel telur dikeluarkan melalui saluran reproduksi (oviduk)
yang berwarna kekuningan berlekuk-lekuk menuju kloaka untuk selanjutnya
dikeluarkan pada lingkungan eksternal untuk dibuahi oleh permatozoa (Tenzer,
2003).
Sel kelamin betina (sel telur) dapat diperoleh dengan mengiris sedikit
bagian dari ovarium katak kemudian dijadikan suspensi menggunakan garam
fisiologis dan selanjutnya diamati dibawah mikroskop stereo. Sel telur katak
berbentuk bulat kecil-kecil dengan berbagai warna yang menunjukkan singkat
perkembangan sel telur tersebut. Pada sel telur yang masih muda diperolah
gambaran bulat kecil-kecil berwarna putih, selanjutnya sel telur tersebut
mangalami perubahan warna seiring berjalannya waktu, hingga pada gambar
diperoleh gambar sel telur dengan satu sisi berwarna hitam dan sisi yang
lainnya berwarna putih. Sisi sel telur yang dikeliingi sel folikel yang berwarna
hitam atau gelap merupakan kutub animal, sedangkan sisi sel telur yang
berwarna putih atau terang merupakan kutub vegetal. Nantinya setelah
mengalami pembuahan oleh spermatozoa, sel telur yang telah dibuahi akan
mengalami pembelahan holoblastik dari kutub animal ke kutub vegetal. Sel
telur pada katak betina (Rana sp.) ini termasuk dalam tipe sel telurtelolesital,
dimana sel telur memiliki banyak yolk yang tersebar tak merata dan banyak
tertimbun pada kutub vegetal. Hal ini sesuai dengan teori, sel telur atau ovum
dapat dibedakan menurut jumlah kuning telurnya (yolk) dan sebaran kuning
telur yang ada di dalam sitoplasma. Tipe telur amfibi adalah telolesital yaitu
tipe telur yang jumlah yolknya agak banyak (lebih banyak daripada isolesital)
dan penyebarannya tidak merata, yolk terkumpul di wilayah kutub vegetal
sehingga di wilayah kutub anima menandung lebih banyak
ooplasma/sitoplasma (Sukra, 2000).
Dengan memencet sel telur yang dikelilingi sel-sel folikel pada kaca benda
ini memaksakan oosit untuk keluar dari folikel, sehingga tampak oosit keluar.
dari pengamatan terlihat oosit keluar dan tampak jelas terdapat nucleus dan
disekeliling terdapat sitoplasma, selain itu juga nampak terdapat pigment yang
menyebabkan warna gelap pada sel telur. Hal tersebut telah sesuai dengan teori
yang menyatakan, setiap ovum yang keluar akan dilapisi selaput telur
(membrane vitelin). Sebelumnya ovum katak yang telah matang dan berjumlah
sepsang akan ditampung oleh suatu corong. Perjalanan ovun dilanjutkan
melalui oviduk (Campbell, 2002). Menurut Guyton (2006), sel telur dilengkapi
dengn membrane sel yang disebut plasmalema atau oolema untuk melindungi
sitoplasma, inti, yolk, dan organel-organel dalam sel. Disamping oolema,
kebanyakan sel telur dikelilingi oleh membrane-membran telur yang disekresi
oleh sel telur sendiri disebut membrane telur primer. Membrane telur yang
mengelilingi oolema termasuk membrane telur primer. Membrane telur yang
disekresi oleh sel-sel folikel disebut membrane telur sekunder, misalnya zona
pelusida yang letaknya disebelah luar membrane vitelin.membran telur yang
dikeluarkan oviduk dan uterus disebut membrane tersier.
Pengamatan sel kelamin juga dilakukan pada katak jantan (Rana sp.) dan
merpati (Columba livia) jantan untuk mengetahui morfologi spermatozoid dan
motilitas sperma dari setiap bagian-bagian sistem reproduksi.
Spermatozoa diproduksi didalam tubulus seminiferus testis. Spermatozoid
vertebrata terdiri atas bagian kepala, leher, bagian tengah dan ekor yang berupa
flagel panjang. Sperma hewan-hewan yang berbeda, berbeda pula dalam
ukuran, bentuk dan mobilitasnya. Bentuk spermatozoid adalah spesifik spesies,
perbedaannya terutama terlatak pada bentuk kepalanya, yaitu dari bulat pipih
sampai panjang lancip (Nusantari, 2012). Kepala spermatozoa bentuknya
bervariasi. Isinya adalah inti (di dalamnya terkandung material genetik) haploid
yang berupa kantong berisi sekresi-sekresi enzim hidrolitik. Ekor sperma
terdiri atas tiga bagian yaitu middle piece, principal piece dan end piece
(Bachtiar, 2003).
Praktikum selanjutnya dilakukan pengamatan sel kelamin terhadap katak
(Rana sp.) jantan. Ketika dilakukan praktikum, kondisi dari katak jantan
diindikasikan masih terlalu muda sehingga testis (alat reproduksi) belum
terlihat secara anatomis maupun morfologis. Testis dari katak tersebut masih
sangat kecil karena belum berkembang dengan baik sehingga belum terlihat.
Hal ini menyebabkan kami tidak dapat mengamati spermatozoa, sehingga
pengamatan untuk morfologi sperma dan motilitas spermanya tidak bisa
dilanjutkan. Katak jantan memproduksi sperma di dalam testis, tepatnya berada
di dalam lobus-lobus pada tubulus seminiferus. Sistem reproduksi katak (Rana
sp.) jantan tersusun atas kelenjar gonad(testis), selanjutnya sperma dikeluarkan
dari testis menuju saluran reproduksi duktus efferens, duktus mesonefros dan
selanjutnya dikeluarkan melalui kloaka (Tenzer, dkk, 2014).
Berdasarkan teori, bentuk bagian kepala sperma katak lonjong. Katak
merupakan hewan yang tidak memiliki epididymis, sehingga testis menjadi
tempat perkembangan serta maturasi sperma. Jadi pada katak sperma yang
dikeluarkan dari testis merupakan sperma yang matang, mempunyai motilitas
dan mempunyai kemampuan untuk membuahi sel telur (Tenzer, 2003).
Pada aves, kami menggunakan burung merpati (Columba livia). Pertama
kami mengamati saluran reproduksinya. Saluran reproduksi burung merpati
jantan terdiri dari sepasang testis, epididimis, duktus deferens, dan organ
kopulasi pada kloaka. Kami juga mengambil sampel sel sperma pada testis
burung merpati tersebut. Struktur morfologi sperma dari burung merpati adalah
memiliki kepala berbentuk silinder kecil sedikit melengkung memanjang,
seperti panjang lancip dengan ekornya yang panjang. Sperma pada burung
merpati yang kita amati pada testis belum motil, tampak sperma diam seperti
telah mati. Namun, setelah dilakukan pengamatan dari suspense epididymis
merpati jantan, tampak terdapat spermatozoa yang bergerak-gerak. Hasil
pengamatan tersebut telah sesuai dengan teori, bahwa kelompok kelas aves
sperma akan disalurkan dari testis menuju duktus efferens, epididymis, duktus
deferens dan berakhir pada kloaka (Tenzer, 2014). Pada hewan-hewan yang
memiliki epididymis, sperma yang berada didalam tubulus seminiferous atau
yang dikeluarkan dari testis belum motil, motilitasnya baru diperoleh setelah
mengalami aktivasi atau pematangan fisiologia didalam epididymis.
Spermatozoa dapat disimpan dalam epididymis dan vas deferens selama
beberapa hari sampai beberapa bulan (Tenzer, 2003).
Alat kelamin betina bagian dalam terdiri atas ovarium (indung telur),
oviduk (tuba fallopii), rahim (uterus), dan vagina. Ovarium berjumlah sepasang
yang terletak di rongga perut kanan dan kiri. Di dalam ovarium terdapat
folikel-folikel. Tiap folikel terdapat satu sel telur. Folikel ini berfungsi
menyediakan nutrisi dan melindungi perkembangan sel telur. Sehingga sel telur
pada hewan vertebrata pasti memiliki sel folikel untuk menyediakan nutrisi dan
melindungi sel telur (oosit). Dalam oogenesis sel germa berkembang di dalam
folikel folikel telur (Tenzer, 2003).
Sebelum dioviposisikan sel telu aves harus dilengkapi dengn selaput
cangkang dan cangkang kapur, hal ini bertujuan agar bagian dalam telur
terlindungi. Cangkang telur berfungi sebagai pelindung utama telur. Bagian
cangkang telur memiliki pori-pori untuk keluar-masuknya udara. Membran
cangkang merupakan selaput tipis di dalam cangkang telur. Pada salah satu
ujung telur, selaput ini tidak menempel pada cangkang sehingga membentuk
rongga udara.
.
H. Kesimpulan
1. Struktur morfologi dari sel telur katak (Rana sp.) betina adalah berbentuk
bulat degan warna keabu-abuan dan ad sisi berwarna lebih gelap. Oosit
berada didalam folikel, dan ketika dikeluarkan secara paksa dengan cara
dipencet tampak terdapat membrane yang membatasinya yaitu membrane
vitelin. Sedangkan struktur morfologi spermatozoa katak (Rana sp.) jantan
berdasarkan referensi kepala spermatozoa berbentuk lonjong pipih dan ekor
yang panjang. Untuk spermatozoa merpati (Columba livia) jantan kepala
spermatozoa berbentuk silindris kecil sedikit melengkung memanjang
seperti panjang lancip dengan ekor panjang.
2. Pada katak (Rana sp.) betina, sel telur yang berada di ovarium masih
mengandung oosit, dalam artian oosit masih berada dalam folikel ketika
ada di ovarium. Dan tampak ada dua warna yaitu kelabu dan ada bagian
yang lebih gelap, serta bergerombol. Untuk spermatozoa katak (Rana sp.)
jantan, berdasarkan referensi sperma yang keluar dari testis adalah sperma
yang telah matang dan memiliki motilitas. Sedangkan untuk spermatozoa
merpati (Columba livia) dari testis tampak belum memiliki motilitas,
berbeda dari spermatozoa yang telah sampai epididymis yang tampak motil
(aktif bergerak) dengan bentukan yang telah sempurna yaitu panjang lancip
dengan ekor yang panjang.
I. Jawaban Evaluasi
1. Sebutkan tempat penyimpanan sperma sebelum dikeluarkan dari tubuh
hewan:
a. Katak
b. Merpati
2. Jelaskan susunan folikel-folikel telur dalam ovarium merpati!
3. Bagaimanakah perbedaan sel telur aves pada saat diovulasikan dan pada
saat dioviposisikan?
Jawab:
1. a. Pada katak, sebelum dikeluarkan dari tubuh, sperma disimpan pada
testis. Karena katak tidak memliki epididymis. Sehina testis menjadi
tempat perkembangan serta matursi sperma hingga sperma akan
dikeluarkan yang dalam keadaan matang.
b.Pada merpati, sebelum dikeluarkan dari tubuh, sperma disimpan pada
epididymis dan vas deferens selama beberapa hari sampai beberapa bulan.
Karena merpati termasuk hewan yang memiliki saluran reproduksi yang
telah maju yaitu dari testis, terdapat duktus efferens, epididymis, duktus
deferens, dan berakhir pada kloaka.
2. Susunan folikel telur dalam ovarium merpati:
a. Yolk, sebagai cadangan makanan bagi perkembangan embrio
b. Kalaza, sebagai pelindung embrio dari goncangan
c. Albumen, sebagai cadangan makanan
d. Cangkang telur, sebagai pelindung mekanik dari perubahan lingkungan
3. Sel telur pada saat diovulasikan yaitu sel telur yang dihasilkan belum
memiliki membran pelindung berupa selaput dan cangkang yang terbuat
dari bahan zat kapur, sedangkan pada saat dioviposisikan sudah terbentuk
cangkang dan membran.

Datar Pustaka
Bachtiar, Imam. 2003. Reproduksi Seksual Karang Scleractinia: Telaah Pustaka.
Jurnal Biota. Vol VIII. No. 3. Hal 131 134. Mataram.
Guyton & Hall. 2006. Textbook of Medical Physiology. Philadelphia: Elsevier
Saunders.
Guyton, A.C., dan Hall, J.E. 2008. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 11.
Jakarta: EGC.
Nusantari. 2012. Kajian Miskonsepsi Genetika dan Perbaikannya Melalui
Perubahan Struktur Didaktik Bahan Ajar Genetika Berpendekatan Konsep
di Perguruan Tinggi. Disertasi tidak diterbitkan. Malang: Program
Pascasarjana Universitas Malang.
Sukra, Yuhara. 2000. Wawasan Ilmu Pengetahuan Embrio: Benih Masa Depan.
Jakarta: Direktorat Jendral Departemen Pendidikan Nasional.
Tenzer, Amy. 2003. Bahan Ajar: Struktur Hewan II. Malang: Dirjen Dikti.
Tenzer, Amy, dkk. 2014. Struktur Perkembangan Hewan (SPH 1) (Bagian 2).
Malang: Jurusan Biologi, FMIPA UM.