Anda di halaman 1dari 3

1.

Teori Geosinklin
Teori Geosinklin pertama sekali dikemukakan oleh James Hall setelah
mengamati Pegunungan Appalachian. Ia menemukan lapisan sedimen yang tebal
berumur sama dengan di dataran stabil dan fosil fosil laut dangkal. Hall
menyimpulkan semula pegunungan tersebut sebagai bagian kerak yang turun.
Ilmuwan lain, James Dana mengatakan bahwa Pegunungan Appalachian
terbentuk dari akumulasi sedimen benua yang dibawa ke laut dan mengeras menjadi
batuan sedimen. Akibat tekanan lateral, batuan sedimen di cekungan menjadi
pegunungan lipatan (Allaby, 2009). Dana mendefinisikan geosinklin sebagai
bagian Bumi yang menurun secara terus menerus akibat pembebanan sedimen
(Knopf, 1960). Dana membagi dua tahap pembentukan pegunungan berdasarkan
konsep geosinklin, yaitu : penurunan secara bertahap disertai akumulasi sedimen
sangat tebal dan pembentukan gunung dari proses perlipatan maupun patahan
akumulasi strata (Knopf, 1960)
Berbeda dari Hall dan Dana, Termier (dalam Knopf, 1960) mendefinisikan
geosinklin sebagai zona subduksi yang terakumulasi sedimen sangat tebal,
mengalami metamorfisme regional dan fase orogeni, hingga berubah menjadi
rangkaian pegunungan.
2. Teori Apungan Benua (Continental Drift)
Para ilmuwan, seperti Abraham Ortels (1596) dan Francis Bacon (1620)
berpendapat bahwa bumi semula bersatu, kemudian terpisah menjadi beberapa
bagian. Tahun 1858 Antonio Snider Pellegrini menemukan kesamaan fosil
tumbuhan di Eropa dan United States. Tahun 1908 Frank Bursley Taylor
mengemukakan bahwa Afrika dan Amerika pernah bersatu, serta benua perlahan
lahan bergerak ke arah selatan dari Arktik. Tahun 1912 Alfred Wegener
mempublikasikan bahwa kerak benua sebagai batuan yang lebih ringan mengapung
di atas material padat serta dapat bergerak. Pada mulanya kerak benua merupakan
satu massa besar (supercontinent) yang disebut Pangea, kemudian terpisah menjadi
beberapa benua (Allaby, 2009).
Pernyataan tersebut disertai dengan bukti kecocokan garis pantai,
kecocokan formasi batuan, kesamaan fosil organisme, kesamaan spesies di
beberapa tempat terpisah oleh laut yang tidak memungkinkan spesies tersebut
menyeberanginya. Selain itu, glacier pernah menutupi sebagian Australia, India,
Afrika, Amerika Selatan selama periode Permian. Hal tersebut bisa terjadi jika
benua benua tersebut bersatu di sekitar kutub Selatan (Allaby, 2009).
Wegener menamakan konsepnya sebagai continental displacement.
Tetapi konsep tersebut dianggap lemah karena tidak mampu menjelaskan
bagaimana massa benua bergerak. Ilmuwan lain, Alexander du Toit, memiliki
persamaan konsep dengan Wegener, yang dikenal dengan konsep continental
drift . Ia menyatakan terdapat dua massa benua yang sangat besar yaitu Laurasia
dan Gondwanaland. Du Toit juga tidak mampu menjelaskan mekanisme pergerakan
massa benua tersebut (Allaby, 2009)
3. Pemekaran Lantai Samudera (Sea Floor Spreading)
Tahun 1961, Robert S. Dietz dan Harry Hess (1962) mengemukakan istilah
sea floor spreading setelah dilakukan pengamatan terhadap lantai samudera.
Ditemukannya batuan berumur lebih muda di lantai samudera daripada di kerak
benua memberi gambaran bahwa bumi tidak statis. Arus konveksi mengakibatkan
lantai samudera di satu sisi bergerak menjauhi mid ocean ridge, sementara
terbentuk lantai samudera yang baru di dekat mid ocean ridge akibat pendinginan
material material lelehan yang naik dari mantel (Allaby, 2009).
4. Tektonik Lempeng
Penemuan bukti adanya pemekaran lantai samudera dan dipelajarinya
kembali teori Wegener membuka pandangan tentang teori tektonik lempeng.
Berdasarkan teori Tektonik Lempeng, kerak terpecah menjadi beberapa bagian
yang disebut lempeng (Allaby, 2009) dan arus konveksi di dalam mantel
mengakibatkan lempeng bergerak relatif satu sama lain. Interaksi antar lempeng
akan membentuk batas batas lempeng, yaitu : batas divergen, konvergen, dan
transform (Condie, 1997) serta menghasilkan rangkaian pegunungan, gempabumi,
dan erupsi gunung api (Thompson & Turk, tahun tidak diketahui).
Di batas divergen kedua lempeng bergerak saling menjauh (Allaby, 2009).
Pemekaran lantai samudera terjadi di batas tersebut. Ketika kedua lempeng
bergerak relatif menjauh, magma naik ke permukaan Bumi, mendingin dan
membentuk kerak yang baru. Pembentukan kerak baru di suatu tempat tidak
mengubah ukuran bumi menjadi lebih besar, sebab akan ada lantai samudera di
bagian lain yang menghilang karena subduksi ke dalam mantel (Allaby, 2009).
Tempat terjadinya subduksi dikenal dengan batas konvergen.
Di batas konvergen, kedua lempeng saling bergerak mendekat dan dapat
terjadi antara lempeng benua dan samudera, antara dua lempeng samudera dan
antara dua lempeng benua. Perbedaan densitas lempeng samudera dan lempeng
benua mengakibatkan lempeng samudera yang lebih berat menunjam ke bawah
lempeng benua (Thompson & Turk, tahun tidak diketahui). Sepanjang zona
penunjaman dikenal sebagai zona Benioff, yaitu daerah pusat gempabumi (Condie,
1997). Di daerah subduksi juga terjadi aktivitas vulkanisme. Pergerakan dua
lempeng samudera mengakibatkan terjadi subduksi di bawah lempeng yang lebih
ringan. Sedangkan pergerakan dua lempeng benua akan saling bertabrakan dan
membentuk rangkaian pegunungan yang besar (Thompson & Turk, tahun tidak
diketahui).
Di batas transform, kedua lempeng bergerak berlawanan secara horizontal
tanpa disertai pembentukan kerak baru atau penghancuran kerak.

DAFTAR PUSTAKA
Allaby, M. 2009. EARTH SCIENCE : A Scientific History of The Solid Earth. New
York : Facts On File, Inc.
Condie, K.C. 1997. Plate Tectonics and Crustal Evolution. Oxford : Butterworth-
Heinemann.
Knopf, A. 1960. Analysis of Some Recent Geosynclinal Theory. American Journal
of Science: Bradley Volume, Vol. 258 A, P. 126 136.
(http://earth.geology.yale.edu), diakses tanggal 25 Agustus 2017.
Thompson dan Turk. tidak diketahui. Introduction to Physical Geology.