Anda di halaman 1dari 5

Indonesia Sebagai Poros Maritim Dunia, Jangan Hanya Wacana

Indonesia merupakan Negara Kepulauan yang terbanyak di dunia dengan jumlah pulau
sekitar 7.204 dan memiliki wilayah lautan lebih luas dibandingkan dengan wilayah daratan
yang mencapai sekitar 70%.
Dengan cakupan wilayah laut yang sangat luas ini, tentunya Indonesia dikenal sebagai Negara
impian atau surganya dunia karena menyimpan banyak sekali kekayaan alam yang tidak dapat
ditemukan di Negara lainnya.
Indonesia dapat memanfaatkan kekayaan alam di laut untuk meningkatkan
perekonomian dan juga untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia. Karena wilayah laut pasti
memiliki beragam sumber daya alam yang sangat potensial dan dapat memberikan hasil yang
sangat luar biasa.
Sumber daya alam yang dapat diperbarui seperti ikan yang merupakan sebagai sumber
protein penting bagi masyarakat Indonesia dan diperkirakan terdapat lebih dari 2.500 jenis, 76
persen terumbu karang dunia terdapat di Indonesia, bintang laut, rumput laut, hutan mangrove
yang menyimpan 6,5 juta ton ikan, dan lain-lain.
Selain itu, terdapat sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui seperti gas bumi,
minyak bumi, mineral, serta tambang.Dengan melihat potensi sumber daya alam di lautan
Indonesia, Jokowi menegaskan bahwa ia akan bertekad menjadikan Indonesia sebagai Poros
Maritim Dunia. Pernyataan Jokowi tersebut tidaklah main-main, Jokowi sangat serius
menjadikan Indonesia sebagai Poros Maritim.
Dalam mewujudkan mimpinya itu Jokowi langsung membentuk Kementerian baru
dalam kabinetnya yaitu Kementerian Koordinator Bidang Maritim yang dulu dijabat oleh Rizal
Ramli dan kemudian digantikan oleh Luhut Binsar Panjaitan yang akan bekerja sama dengan
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang dijabat oleh Susi Pudjiastuti.
Dengan adanya Kementerian Bidang Maritim yang bekerja sama dengan Kementerian
Kelautan dan Perikanan, Jokowi akan merencanakan agenda pembangunan yang difokuskan
pada 5 Pilar Poros Maritim yang disampaikan Presiden dalam KTT-EAS.
Antara lain membangun kembali budaya maritim Indonesia; menjaga sumberdaya laut
dan menciptakan kedaulatan pangan laut dengan menempatkan nelayan pada pilar utamanya.
yang ketiga adalah memberi prioritas pada infrastruktur dan konektivitas maritim dengan
membangun tol laut, industri perkapalan, pariwisata maritim, dan lain-lainnya; menerapkan
diplomasi maritim dengan cara peningkatan kerja sama di bidang maritim dan upaya
menangani konflik di laut seperti pelanggaran kedaulatan, sengketa wilayah, pencurian ikan,
perompakan, dan pencemaran laut dan yang terakhir adalah membangun kekuatan kemaritiman
sebagai bentuk tanggung jawab menjaga keselamatan pelayaran maupun keamanan maritim di
laut Indonesia.
Namun sampai saat ini, masih banyak kalangan termasuk masyarakat maritim, belum
paham apa definisi atau wujud Indonesia Menjadi Poros Maritim Dunia ciita-cita Presiden
Joko Widodo menjadikan Indonesia poros maritim dunia merupakan suatu keniscayaan yang
bisa dilakukan. Namun demikian, pada praktiknya langkah pemerintah untuk menjadikan
Indonesia ke arah tersebut masih setengah hati.
Mantan Deputi Tim Transisi Jokowi-JK Hasto Kristyanto mengatakan bahwa motivasi
utama Jokowi mencetuskan gagasan Poros Maritim Dunia adalah ingin menjadikan Indonesia
memiliki peran strategis terkait politik luar negeri kita dengan menggunakan seluruh alur
pelayaran dunia yang melalui jalur strategis di Indonesia sebagai pendekatan diplomasi. Hal
ini menandakan bahwa pemerintahan Jokowi-JK sadar bahwa masa depan dunia ada di Pasifik
dan Indonesia siap menyambutnya dengan mempersiapkan diri menjadi poros maritim dunia.
Namun konsep belum jelas demikian pro dan kontra seputar gagasan doktrin ini masih
menjadi topik hangat baik, dari kalangan praktisi maupun dari kalangan akademisi di bidang
kemaritiman dan kelautan. Hal ini dikarenakan masih banyak yang belum jelas dan kurangnya
sosialisasi dari gagasan tersebut.
Hal pertama yang menjadi pertanyaan adalah masalah definisi, apa yang dimaksud
poros maritim dunia? Apakah dengan menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia maka
segala aktivitas kemaritiman dan kelautan (perdagangan, pengembangan riset dan tekonologi)
nantinya akan berkiblat pada Indonesia? Sehingga Indonesia memegang peran penting dalam
pengambilan kebijakan kemaritiman dan kelautan dunia?
Kalau benar hal tersebut yang dimaksud, maka mau tidak mau segala potensi ekonomi
dalam bidang maritim dan kelautan harus didorong semaksimal mungkin agar mampu
berkontribusi secara signifikan dalam memutar roda ekonomi Indonesia.
Hal kedua yang patut dipertanyakan adalah bagaimana konsep Poros Maritim Dunia?
Apa langkah-langkah yang harus ditempuh? Seperti diuraikan dalam paragraf awal, bahwa
Indonesia memiliki banyak potensi maritim dan kelautan. Lantas akan berfokus ke mana
konsep poros maritim dunia tersebut? Apakah akan digarap semuanya? Tentu tidak realistis
untuk menggarap semua sektor maritim dan kelautan dalam jangka 5 tahun ke depan ini
(mengingat kecilnya APBN). Dan tentu tidak lucu jika agenda yang dikerjakan nanti bersifat
sporadis dan tanpa road map atau blue print yang realistis
Berbicara mengenai bagaimana konsep Poros Maritim Dunia, sebaiknya pemerintah
lebih dulu menyosialisasikan mengenai perbedaan konsep Indonesia sebagai negara kepulauan,
kelautan dan maritim. Terminologi kepulauan, kelautan dan maritim adalah tiga hal yang
secara filosofi berbeda dan otomatis akan memiliki derivasi yang berbeda pula dalam
implementasi kebijakan. Pemahaman baik mengenai perbedaan ketiganya akan memberikan
dampak baik pula dalam pengambilan kebijakan dan sinkronisasi aktivitas kegiatan dalam
pembangunan Indonesia.
Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia pertama, Sarwono
Kusumaatmadja, pernah menyampaikan tentang konsep Indonesia sebagai negara Maritim,
Kelautan dan Kepulauan. Terminologi Kelautan adalah segala hal yang berkaitan dengan
sumberdaya alam yang dianugerahkan (given) oleh Tuhan YME kepada kita sebagai penduduk
Nusantara. Sumber daya perikanan dan biota laut lainnya, hidrokarbon dilaut, terumbu karang
dan marine renewable energy (OTEC, arus pasang surut, gelombang & solar) adalah derivasi
dari terminologi Kelautan.
Sedangkan terminologi Kepulauan adalah segala hal yang berkorealasi dengan letak
geografis dan kondisi fisik Indonesia. Topik mengenai toponimi (identifikasi pulau), batas-
batas wilayah, kondisi seabed bathyimetry, dan lain-lainnya adalah masuk dalam kategori
Kepulauan.
Dan yang terakhir terminologi Maritim adalah segala aktivitas manusia di laut untuk
memenuhi kebutuhan ekonominya. Industri maritim (galangan kapal, Engineering-
Procurement-Construction-Installation atau EPCI), pelayaran, rekayasa instrumentasi kelautan
dan lain-lainnya adalah topik utama dalam terminologi Maritim. Dari ketiga terminologi
tersebut, ada sektor-sektor yang masuk dalam kategori wilayah irisan (intersection area) dari
dua terminologi atau bahkan dari ketiga-tiganya.
Menjadi tugas Menko Maritim untuk mendefinisikan dan menjabarkan sektor-sektor
apa saja yang masuk dalam kategori wilayah irisantersebut (daerah A, B, C dan D pada gambar
dibawah). Hal ini penting agar tidak terjadi tumpang tindih kebijakan dan menghindari ego
sektoral dari masing-masing lembaga pemerintah. Dampak positif dari pemahaman yang benar
akan hal ini adalah penggunaan dana yang efisien dan pembangunan kelautan lebih terstruktur
dan sistematis.
Suatu perencanaan yang baik, tentu memiliki indikator-indikator sebagai patokan
keberhasilan. Nah, pertanyaannya adalah indikator apa saja yang akan digunakan sebagai
patokan keberhasilan gagasan/doktrin ini? Kapan Indonesia dikatakan sudah berhasil mencapai
targer sebagai Poros Maritim Dunia? Apakah nanti kalau kita sudah bisa membuat kapal selam
sendiri, lantas kita dikatakan sudah menjadi poros maritim dunia? Tentu akan sangat menarik
membayangkan bagaimana wajah kemaritiman dan kelautan Indonesia kelak ketika kita sudah
pada titik sebagai Poros Maritim Dunia.
Pertanyaan kritis berikutnya adalah apakah sudah ada estimasi berapa anggaran yang
dibutuhkan untuk mewujudkan cita-cita sebagai poros maritim dunia? Kementerian mana saja
yang perlu mendapat kucuran dana berlebih untuk menggarap agenda-agenda kemaritiman dan
kelautan?
Pertanyaan ini menjadi penting mengingat saat ini saja (RAPBN 2015) pendapatan
Indonesia masih berkutat di angka Rp1.793,6 triliun dan belanja negara sebesar Rp2.039,5
triliun, dengan defisit anggaran mencapai Rp245,9 triliun atau 2,21 persen terhadap PDB
(Kompas online, Senin, 29 September 2014). Gagasan besar ini akan menjadi pepesan kosong
jika tidak ditopang dengan pendanaan yang kuat. Namun tentunya masyarakat berharap
pemerintah Jokowi-JK tidak menambah hutang baru untuk mewujudkan cita-cita sebagai poros
maritim dunia.
Beberapa hal perlu diperhatikan terlepas dari berbagai pertanyaan seputar konsep,
langkah-langkah yang harus ditempuh dan anggaran yang diperlukan, ada beberapa hal yang
harus diperhatikan bagi para pemangku kebijakan terkait demi tercapainya cita-cita sebagai
poros maritim dunia.
Identifikasi potensi hal pertama yang harus menjadi perhatian adalah identifikasi
potensi yang lebih komprehensif (tidak parsial atau terpisah-pisah dan tersebar di berbagai
instansi) dan akurat.
Sebagai contoh, sampai saat ini informasi mengenai berapa potensi perikanan yang benar dan
akurat, masih menjadi tanda tanya. Masing-masing lembaga terkadang memiliki data berbeda-
beda. Belum lagi data tentang potensi sumber energi hidrokarbon di lepas pantai yang masih
simpang siur. Masih banyak lokasi yang terindikasi memiliki cadangan minyak (terutama di
laut dalam Indonesia bagian timur) yang belum dieksplor (apalagi dieksploitasi).
Kecenderungan yang terjadi saat ini, seolah-olah banyak pihak menganggap bahwa
potensi laut Indonesia hanyalah sumber daya perikanan. Padahal ada sumber-sumber energi
hidrokarbon dan energi baru dan terbarukan yang masih menunggu untuk digali dan
dimanfaatkan.
Identifikasi permasalahan yang menghambat hal kedua yang penting untuk
diperhatikan adalah identifikasi permasalahan yang menghambat dan bagaimana solusi
penanggulangannya.
Kendala di Sektor Maritim Beberapa hal yang masih menjadi kendala antara lain
minimnya kajian tentang karakteristik fisik, kimia dan biologi dari laut indonesia secara
keseluruhan.
Oleh karena itu sampai saat ini, dalam desain struktur bangunan laut (baik yang floating
atau pun yang fixed structure), masih menggunakan standard theoretical wave spectrum yang
tersedia. Hal ini dirasa kurang tepat karena proses analisa standard wave spectrum tersebut
dilakukan di perairan lain di luar wilayah perairan Indonesia, sehingga timbul kekhawatiran
bahwa desain bangunan laut yang selama ini dibuat di Indonesia adalah overdesign yang
mengakibatkan overestimate terhadap biaya total proyek.
Sedangkan kendala lainnya antara lain minimnya kajian tentang berapa infrastruktur
yang dibutuhkan (kapal penumpang, kapal kargo dan kapal untuk offshore operation lainnya).
Birokrasi perizinan yang panjang dan mahal untuk pembuatan kapal menyebabkan banyak
pihak lebih memilih membuat kapal di luar negeri; Kontrak karya offshore migas yang tidak
menguntungkan indonesia; Belum adanya terobosan untuk membuat kapal penumpang antar
pulau yang murah dan cepat dengan kapasitas besar; dan Revitalisasi galangan kapal PT. PAL
di Surabaya.
Kalau kita kilas balik ke masa lalu, nenek moyang bangsa Indonesia pernah menjadi
negara maritim yang kuat dan disegani di masa lalu. Agus Sunyoto, dalam bukunya Atlas
Walisongo menyebutkan bahwa pada akhir abad ke-3 Masehi bangsa Nusantara sudah mampu
berlayar sampai ke Nanking, Tiongkok, dengan menggunakan kapal-kapal besar yang
panjangnya 200 kaki (65 meter), dan tingginya 20-30 kaki (7-10 meter) dan mampu dimuati
600-700 orang ditambah muatan seberat 10.000 hou.
Bahkan pada masa jayanya Kerjaan Sriwijaya dan Majapahit mampu menguasai hampir
seluruh wilayah Asia Tenggara. Hal ini dapat terjadi karena dua Kerajaan Nusantara tersebut
memiliki armada maritim yang kuat dan tangguh. Tentu tidak berlebihan jikalau kita sebagai
generasi penerus Nusantara memimpikan kejayaan nenek moyangnya kembali di masa modern
ini.
Gagal mewujudkan gagasan besar Poros Maritim Dunia artinya kita sebagai bangsa
gagal memanfaatkan potensi sendiri dan artinya kita gagal menunjukkan kepada dunia akan
jati diri kita sebagai Bangsa Maritim.